Berhubung ada waktu luang plus review dari kalian sangat kece membahana, saya update ini deh :) Sorry jika miss/typos bertebaran. Saya udah reread, tapi ga begitu teliti :/


Guidance:

Kompleks gedung A: Tempat di mana para murid kelas 1, dan sebagian kelas 2, belajar secara formal

Kompleks gedung B: Tempat di mana para murid kelas 3 belajar secara formal

Kompleks gedung C: Tempat di mana para murid kelas 2 belajar secara formal

Character:

Nesia, Antonio, Lovino, Lily, Feliciano, Mei: kelas 1

Arthur, Alfred, Tiino, Vash: Kelas 2

Francis, Gilbert, Elizaveta, Bella, Andrew, Ludwig, dan karakter2 lain: kelas 3

Chau dan Maria: Excluded

Semoga membantu :D


Pandangan gadis itu luruh pada tanah yang ditapaki kedua kakinya yang berbalut boots berwana perak separuh tungkai kaki.

Pemandangan sore hari waktu itu begitu indah—sejujurnya. Langit yang berwarna kelabu dengan satu-dua garis warna jingga di balik awan-awan tebal, menandakan bahwa sang surya telah nyaris tenggelam di peraduannya. Barisan burung tampak membentuk koreografi tarian alam di atas langit sana—hitam, tampak sepadan dengan kelabunya kanvas di atas sana.

Sesekali angin dingin berhembus, menerbangkan dedaunan dari pepohonan yang masih bertahan. Berwarna kuning atau coklat, luruh dari ranting yang tampak mengering. Melayang lirih di udara. Terjatuh menyentuh tanah, lantas kembali tersapu oleh hembusan sapu alam.

Sejujurnya, sore itu sangatlah indah—jika Annesia Saraswati bisa sedikit mengangkat muka tertunduknya untuk menikmati suasana sekitar.


Axis Power Hetalia © Hidekaz Himaruya

Picture (c) Sakurazaka Ohime

I just own the plot of the story and I don't gain any commercial advantages by publishing this fic.

Warning: AU, Human Name, High School, OC, OoC yang mendewa, (highly possible) crack pairs, (a lil') Nesia-centric, but no Mary Sue/Gary Stu I assure you :D totally absurd.

Pairing: Anda bisa menebak sendiri mana yang main pairing, dan mana yang sekedar hints dan fans service :p

Ini murni dari pemikiran saya. Maaf jika kebetulan ada kesamaan ide karena setting gakuen sangat banyak di FHI. Itu tidak disengaja :D

Long Live FHI and Say NO to Plagiarism! Mari berkarya dengan hati dan imajinasi :D

Maju FHI!

Happy reading


"… Kau pernah bilang bawah musim gugur adalah musim kesukaanmu," bukan pertanyaan, melainkan sebuah pernyataan yang terucapkan pelan dari mulut Lovino Vargas yang berjalan pelan di sampingnya.

Memecah kesunyian yang mengiringi langkah mereka hingga beberapa menit ini. Karena Nesia sendiri, entah bagaimana, kehilangan semangatnya untuk bercerewet ria seperti biasanya.

Lagipula…

Entah sejak kapan terakhir kali Nesia menghabiskan waktu berangkat dan pulang bersama dengan pemuda lain beriris emerald dan tawa riangnya.

Selalu hanya ada Lovino.

Hanya Lovino.

"Tapi kukira tidak sedingin ini," sahut Nesia tanpa mengangkat wajahnya. Semakin dalam ia menelungsupkan kedua telapak tangannya pada saku mantel tebal berwana merahnya.

"Tetapi kau tetap bisa melihat banyaknya daun yang berguguran—bukankah itu alasanmu menyukai musim ini?" tanya Lovino menambahkan.

Nesia tersenyum lirih sembari merapikan poninya yang sedikit berantakan oleh hembusan angin, "Tetapi dingin. Aku suka melihat daun berguguran dari tempat yang hangat."

Sejenak, Lovino tampak terdiam. Namun pemuda itu kemudian berucap lirih, "Aku tahu tempat yang bagus untuk melihat daun berguguran. Juga nyaman..." menghela napas lirih, "Jika kau mau tentu saja."

Kesepuluh jemari Nesia mencengkeram bagian dalam saku mantelnya, sebelum ia berujar pelan, "Kalau begitu, harusnya saat-saat seperti itu dihabiskan dengan kita bertiga—dengan A-Antonio."

Bunyi gemerasak terdengar ketika sebelah kaki Nesia menginjak sekumpulan daun kering di jalan, "Dia sudah sangat jarang lagi bersama kita."

Nesia menggigit ujung bibirnya sendiri, sedikit menyesali dirinya yang entah kenapa, membawa-bawa nama Antonio Carriedo dalam perjalanan pulang kali ini.

Tidakkah cukup ia bersedih?

Tidakkah puas ia menangis?

Kapan ia bisa bangkit jika setiap saat hanya pemuda itu yang terpikirkan olehnya? Hanya namanya bergema di telinga Nesia. Hanya tawanya yang berulang-ulang terulas di pikirannya. Hanya suaranya.

Sekaligus, hanya setiap kalimat penyataan cinta tulusnya—pada gadis lain.

Padahal demi Tuhan, semuanya telah terjadi dua hari yang lalu.

Dua hari ia menangis. Dua hari ia merenung. Dua hari pula ia bersedih!

"… Mungkin dia tengah sibuk dengan kegiatan klubnya," respon Lovino terdengar lama, seolah pemuda itu menimbang-nimbang apa yang sebaiknya harus terucapkan.

Tetapi, pasti mereka juga sudah mengerti, bahwa bukan klub yang menjadi permasalahan bagi mereka. Terutama, bagi Nesia.

"… Lagipula, dia lebih sering membawa motornya, 'kan, daripada berjalan kaki bersama kita?" semakin mencicit suara Nesia bersama dengan semakin ia menundukkan wajahnya. Berharap agar poninya mampu menyembunyikan ekspresi apapun yang tergambar di sana.

Kedua tangannya mengepal dalam sakunya.

Bertahan, bertekad untuk bertahan.

Ini memang menyiksa, tetapi sudah berapa kali ia menangis dalam dua hari ini? Ia berharap bahwa air mata manusia mampu mengering—sehingga ia tak perlu tampak lemah oleh buliran seperti itu. Sekalipun hatinya sangat rapuh, setidaknya, matanya tak akan sembab. Ia tak akan terisak. Ia tak akan lagi menangis.

Dan mungkin, ia akan mampu bertahan lebih baik lagi.

Tetapi… rasanya…

Nesia menghela napas dalam-dalam untuk menangkan dirinya. Ia merasakan lagi pertanda ini.

Saat dadanya terasa amat sesak. Saat hatinya terasa amat berat. Ketika ia pikir ia ingin melepas semua dan tak menahannya.

WUUSSSHH…

Angin bertiup dengan agak kencang menerpa mereka—cukup kencang hingga membuat rambut mereka sedikit teracak oleh hembusannya.

Cukup kencang. Dan dingin.

"A-aduh, rambutku berantakan," suara parau itu terdengar kembali, bersama dengan satu telapak tangan yang merapikan poninya, "… Hiks… A-Aku jadi keli-lipan 'kan…hiks… Haha.."

Dan ia terisak tertahan.

Bahkan di tawa yang terdengar begitu serak dan terpaksa, isak itu jelas terdengar.

Tetapi, siapapun pasti mengerti dan paham bahwa orang tidak akan sampai terisak hanya karena angin yang berhembus kencang hingga membuat kelilipan oleh rambut yang berantakan.

Tidak.

Begitu juga dengan Lovino—mungkin.

Karena pemuda itu lantas tampak melirik pada gadis yang tertunduk dan berjalan di sampingnya, sebelum kemudian melepaskan lilitan syal dengan warna sesuai warna bendera kebanggan bangsa Italia, dari lehernya.

Dan menudungkannya ke kepala Nesia hingga menutupi separuh wajah dari gadis itu. Kemudian melilitkan perlahan ujung syal itu, di leher Nesia.

Hanya Lovino dan Tuhan yang mengerti apa arti tatapan sayunya yang terarah pada gadis tersebut.

Gadis yang semakin jelas terdengar tengah terisak tersebut.

"… Dengan begini," ujar Lovino lirih, "Dengan begini, rambutmu tidak akan berantakan lagi, 'kan?" ujar Lovino pelan, "Kau bisa menggenggam tanganku jika anginnya makin kencang dan kau kedinginan."

Dan mereka kembali berjalan.

Terdiam.

Tanpa kata.

.

Sebelum perlahan tapi pasti, Lovino merasakan sebelah tangannya tergamit. Terlingkupi oleh jemari yang saling bertemu dengan ruas-ruas jemarinya.

Melingkarinya, dan membentuk satu simpul genggaman yang kuat.

Kuat.

Dan sedikit bergetar hebat, bersama dengan kepala yang semakin tertunduk dan bahu yang mulai tampak, meski samar, bergetar.

.

Meski tanpa ada suara yang terdengar, meskipun isak itu teredam, tetapi genggaman tangan yang bergetar itu seolah menyatakan semuanya.

Semuanya, meski tanpa ada lisan yang terucap.

Dan Lovino hanya membalasnya dengan gamitan yang hangat.

Bersama dengan rahangnya yang mengatup keras—seolah ingin menahan untuk tidak menghancurkan sesuatu sebagai objek pelampiasan perasaannya.

.

.

Suasana sepi itu terpecah oleh teriakan yang cukup keras—dari arah belakang mereka.

"Lovino! Annesia! Tunggu!"

Bicara soal 'objek pelampiasan'…

Tanpa menolehpun, Nesia tahu siapa yang kini tengah berada di belakang mereka. Langkah kaki siapa yang kini terdengar berlari menyusul mereka.

Suara yang amat ia kenal—terlalu amat ia kenal.

Yang dahulu selalu ingin didengarnya, tetapi sekarang sungguh ingin dihindarinya—setidaknya, untuk sekarang.

Untuk sekarang saja.

"Hei, tunggu!"

Benar saja.

Antonio berhasil menyusul langkah mereka, dan kini tampak berjalan di samping Nesia. Menoleh ke samping, ke arah Nesia, sembari berjalan, pemuda itu bertanya dengan napas tersengal-sengal, "Kalian kenapa? Tumben sekali tidak menungguku?"

Menunggu?

Sejak kapan kau ingin ditunggu? Mungkin itulah yang akan dikatakan Nesia jika ia mampu mengangkat wajahnya. Terimakasih pada syal Lovino yang menudunginya, Antonio tidak akan mampu melihat ekspresi Nesia yang seolah-olah menyatakan betapa gadis itu merasa marah sekaligus terluka.

Kenapa harus menambah perih?

Tidak bisakah Antonio membiarkannya sendiri? Kenapa harus mengikuti Nesia? Kenapa harus dan harus hadir di dekat Nesia di saat gadis itu tak ingin apapun selain menyendiri darinya?

Nesia merasakan pegangan Lovino di jemarinya mengerat.

"Lovino! Bukankah aku sudah mengirimu pesan bahwa hari ini aku ingin pulang bersama kalian?" tanya Antonio heran pada Lovino yang bahkan tidak menoleh atau memberikan pandangan sebelah mata, kepada kedatangan Antonio, "Kau membaca pesanku, 'kan?"

"Aku lupa," jawab Lovino singkat dan tanpa menoleh.

"Tapi—"

Cukup!

Nesia merasa tidak sanggup lagi.

Gadis itu mempercepat langkahnya, bahkan sedikit berlari. Tidak ada hal yang paling diinginkannya sekarang selain menghindar dari Antonio.

Tuhan… rasanya sakit sekali.

Sakit.

Nesia hanya ingin menenangkan diri. Hanya itu!

"Nes! Tunggu! Ada apa?" sebelah telapak tangan Antonio berhasil melingkari satu lengan Nesia.

"…pas," cicit Nesia sembari berusaha menghentakkan lengannya dari pegangan Antonio.

"Nes—"

"Lepas!"

Dan isak itu pecah sudah, bersamaan dengan Antonio yang membalik paksa tubuh Nesia untuk menghadap ke arahnya.

Tetapi, sebelum pemuda berdarah Spanyol tersebut mampu melihat semuanya, satu hantaman keras mendarat di wajahnya.

Cukup keras, hingga menimbulkan bunyi "bukh!" yang cukup terdengar jelas di sore waktu itu. Cukup keras, hingga membuat si objek hantaman, terjatuh duduk dengan kasar, di tanah.

Dan cukup keras, hingga membuat Lovino menghembuskan napas keras-keras sembari menunjukkan barisan giginya melalui kedua rahangnya yang terkatup keras. Dengan satu telapak tangannya yang masih mengepal kuat.

Mendengar suara pukulan, Nesia terkejut dan ingin mengangkat wajahnya yang tertunduk untuk melihat. Tetapi sebelum ia berhasil melakukan hal demikian, sebelum ia menampakkan wajahnya yang telah lusuh bersimbah air mata, sebuah gaya terasa menekan belakang kepalanya…

… dan membawa kepala itu ke dada Lovino yang tampak naik-turun dengan berat dan cepat-cepat.

Seolah dengan demikian, Lovino tak ingin Antonio mengetahui betapa rapuh dan porak-porandanya perasaan Nesia yang tergambar jelas di wajah dan ekspresinya.

Seolah dengan demikian, Lovino kembali menjadi tempat di mana Nesia memperoleh perlindungan.

Kenyamanan.

Perlindungan dari apapun yang mampu menyakitinya.

Seperti selama ini.

Selalu. Seperti selama ini.

"…Lovino…," suara Antonio terdengar begitu menyimpan perasaan yang campur aduk, di telinga Nesia. Antara kaget. Tidak percaya. Tidak mengerti.

Dalam dekapan Lovino, Nesia mampu mendengar jelas suara hembusan napas pemuda itu yang terhela kuat-kuat baik dari hidung dan mulutnya.

"Kau tahu, Antonio?" untuk pertama kali ini, Nesia mendengar Lovino menyebut Antonio dengan panggilan selain Bastardo, Bajingan, Brengsek, atau panggilan khas yang diberikan oleh Lovino pada orang lain, "Kau tahu… Sudah lama aku ingin memukulmu—seperti tadi."

"Lovi—"

"Lama. Aku ingin sudah sejak lama sekali."

Dan hanya satu kalimat terakhir yang terteriakan oleh Lovino, sebelum ia membawa Nesia yang masih berada dalam pelukan sebelah lengannya, kembali melangkah.

"Aku bersumpah aku akan membunuhmu jika kau bernyali melangkah barang sedikit saja, untuk mengikuti kami!"

Hanya menurut, itulah yang dilakukan Nesia.

Tak peduli seberapapun ia ingin kembali dan memeriksa apakah Antonio terluka.

Akan tetapi…

Lovino sudah bertindak sejauh ini. Entah kenapa ia melakukan semua ini—mungkin ia terlalu jengkel akan sikap Antonio yang sedikit 'memaksa' kepada Nesia tadi. Dan Lovino merupakan tipikal orang yang mudah terganggu.

Tetapi, sekalipun demikian, berapa sering Antonio 'mengganggu' pemuda itu? Dari hal yang dibiang becandaan hingga yang benar-benar serius menjengkelkan?

Dan baru kali ini saja, Nesia dapati sebuah hantaman keras melayang ke wajah lawan.

Lovino begitu baik. Begitu mampu memberikan Nesia penenangan. Keyakinan akan adanya perlindungan baginya.

Sering Nesia berpikir satu hal, ketika ia menyadari dan merasakan semua sikap Lovino terhadapnya selama ini. Satu pemikiran yang kerap terlintas.

Andaikan saja perasaan bisa dipaksakan, maka Lovino pasti menjadi daftar orang pertama yang begitu ingin dicintainya.

Andai saja.

Jika demikian, mungkin semua bisa menjadi lebih baik.

Jauh lebih baik.

-oOo-

Semenjak sore itu, Nesia dapati hubungan antara dirinya, Lovino, dan Antonio, semakin memburuk. Jauh lebih buruk.

Jarak yang tercipta semakin melebar. Seperti ada pembatas yang memisahkan antara mereka bertiga—antara Nesia dan Lovino, dengan Antonio. Tidak hanya mereka sekarang, bahkan tidak pernah saling berangkat dan pulang bersama, namun juga ketika bertemu, terdapat kuasa yang membuat mereka seolah enggan menyapa satu sama lain. Jika pun mereka berhasil menyapa, maka yang terdengar hanyalah kalimat singkat dan basa-basi seperti 'Hai' atau sekedar senyuman kecil.

Seperti mereka adalah orang asing yang tidak saling mengenal.

Bahkan, seorang carefree dan easygoing seperti Antonio, lama-kelamaan juga menyadari bahwa ada yang tidak beres dengan mereka bertiga. Bahwa dirinya terjauhi. Bahwa dirinya seolah tidak diinginkan. Mungkin itulah alasan pemuda itu kehilangan aura ceria dan happy-go-lucky miliknya ketika berpapasan dengan kedua sahabatnya. Dan mungkin itu juga yang membuat pemuda itu berhenti mengirimi pesan kepada mereka berdua.

Dan hanya memberikan pandangan sendu dan tidak mengerti, setiap mata mereka tanpa sengaja bertemu dalam satu pandangan.

Hanya matalah yang bisa berbicara, ketika lisan terasa kelu untuk berucap.

Sungguh, bukan seperti ini akhir yang Nesia harapkan. Sama sekali bukan.

Tidak hanya ia merasa begitu rindu pada Antonio—entah sebagai orang yang mencintainya atau sebagai sahabatnya, tetapi juga rasa bersalah yang menderanya akibat rusaknya hubungan Antonio dengan Lovino. Sampai sekarang Nesia tidak mengerti kenapa Lovino tampak begitu marah dengan Antonio—bahkan memukul pemuda itu waktu itu. Dan setiap Nesia bertanya, Lovino hanya menjawab "Dia orang yang menyebalkan" yang mana tentu saja itu bukanlah jawaban yang sebenarnya—Nesia yakin.

Dan sekalipun Nesia kerap menyuruh Lovino meminta maaf pada Antonio, namun pemuda tersebut tidak pernah mau menurutinya. Entah mengapa—banyak hal yang Nesia tidak mengerti dari pemikiran pemuda berdarah Italia tersebut.

Praktis, hanyalah Lovino yang selalu berada di dekat Nesia. Hanya pemuda itu. Ketika kini Antonio tidak bersama mereka lagi, pemuda itu tetap menjadi teman Nesia tak hanya di apartemen, tetapi juga di kelas—di sekolah. Tetapi tetap saja, tanpa kehadiran Antonio, rasanya terdapat sesuatu yang hilang. Meski lisan Lovino tak pernah mengatakan, tetapi Nesia yakin bahwa pemuda itu juga merasakan hal yang demikian.

Meskipun mereka telah jarang, bahkan tidak pernah lagi, berbincang, namun itu bukanlah hal yang cukup untuk menyembuhkan semua luka.

Malah semakin pedih, ketika Nesia kerap mendapati Antonio bersama dengan Senior Bella. Sering pula gadis itu, diam-diam melihat betapa akrabnya mereka berdua. Bagaimana lembutnya pemuda itu memandang gadis yang dicintainya. Betapa berbedanya ekspresinya dengan yang ia pakai saat ia bersama dengan Nesia—dengan semua wanita selain Bella Van Hardt. Dan bagaimana Nesia merasa dirinya seperti makhluk menyedihkan yang mampu memandang semua dari kejauhan.

Sendiri.

Sepi.

Dengan perasaan yang ia pendam—bahkan tak pernah menyentuh pengetahuan dari yang terkasih.

Ya. Sekalipun telah lama sejak terakhir kali mereka saling berbicara, akan tetapi perasaan ini masih ada.

Semakin kuat dan terasa. Semakin sakit. Semakin rindu…

Orang bilang bahwa 'Cinta adalah ketika kita bahagia melihat orang yang kita cintai bahagia, sekalipun tidak bersama kita'. Ingin Nesia mempraktekkan pepatah klise namun populer di kalangan mereka yang patah hati itu, tetapi sungguh, rasanya sulit.

Sulit sekali—bahkan tidak mungkin.

Perasaan ini tak bisa ia hilangkan secepat ketika ia jatuh cinta kepadanya…

…tak peduli betapa Antonio tampak begitu bahagia ketika terdapat Senior Bella di sampingnya.

Seperti sekarang.

Kedua mata gadis itu tampak terpaku menatap satu arah di depan sana. Di daerah taman kompleks gedung B—tempat di mana gedung ruangan broadcasting H-Radio berada. Langkah gadis tersebut terhenti dalam perjalanannya menuju ruang H-Radio—tempat di mana ia akan menyerahkan laporan kegiatan klub bulan ini kepada Senior Francis.

Bukan sembarangan pemandangan yang Nesia lihat. Karena di salah satu gazebo itulah, dilihatnya dua orang manusia yang tengah asyik bercengkerama.

Bukan sembarang orang. Akan tetapi Antonio dan Senior Bella.

Tertawa. Bercakap. Tersenyum. Entah apa yang mereka bicarakan, Nesia tak mampu mendengar. Yang jelas, keduanya tampak bahagia.

Antonio tampak begitu bahagia.

Tawanya terlihat begitu lebar. Begitu riang—hingga ia mendongakkan kepalanya saking gelinya perasaannya. Tatapan matanya begitu jernih, semakin jernih ketika ia memandang seorang gadis yang terduduk di sampingnya. Berbicara padanya. Terkikik bersama.

Ekspresi yang diberikan pemuda itu seolah-olah mengatakan bahwa tak ada masalah apapun baginya, selama terdapat gadis berambut pirang itu di depannya.

Selama ada Senior Bella, maka hidupnya akan bahagi—

Tes.

Bahkan Nesia tidak sadar kapan tepatnya air mata itu terjatuh. Bahkan tahu-tahu, pandangannya telah buram oleh genangan air mata.

Perasaan ini lagi. Perasaan sakit ini lagi.

Ia ingin mengalihkan pandangan, akan tetapi seperti ada kuasa yang membuat kedua matanya tetap menatap mereka berdua. Kedua kakinya seolah terpaku di tempat—tidak mampu melangkah.

Menyedihkan, bukan? Di sini, di jarak jauh dari Antonio ini, ia melihat. Ia menatap. Ia berdiri terdiam.

Menangis. Terluka.

Sedangkan Antonio tertawa bahagia.

Nesia hanya…

PLUK.

Tahu-tahu, hanya warna birulah yang dilihat Nesia. Bersama dengan terciumnya aroma seperti fresh ocean, yang menguar di sekitarnya.

"Jangan berdiri di tengah jalan, kau menganggu orang-orang yang ingin melintas."

Suara Arthur Kirkland—Nesia tahu itu adalah suara Arthur Kirkland.

Pemuda yang baru saja menutupi kepala Nesia dengan syal biru yang tadi dipakainya—hingga menutupi nyaris seluruh kepala dan wajah gadis itu. Membuat Nesia tidak mampu melihat apapun lagi, selain warna biru dari syal tersebut yang melingkupi wajahnya—melingkupi pemandangannya.

Tidak juga mampu melihat Antonio dan Senior Bella.

Pemuda yang turut memandang pada arah gazebo di taman dengan ekspresi hanya dia dan Tuhan yang tahu apa artinya.

Entah apa yang dilakukan Arthur Kirkland di sini dan bagaimana bisa pemuda itu tiba-tiba berada di belakangnya sekarang.

Yang jelas, gadis itu tidak menolak ketika Arthur sedikit menuntunnya untuk kembali melangkah.

Menjauh dari sana.

Tidak menolak, karena gadis itu sendiri tengah cukup sibuk untuk mengendalikan perasaan dan meredam tangisnya.

Tangis yang untuk kesekian kalinya, berusaha menyesak keluar.

-oOo-

"Apakah aku adalah seorang masokis?

Karena sekalipun kau berkali-kali melukai, aku tetap memandangmu.

Tanpa kau tahu, kau selalu melukaiku, membuatku merasa sangat tidak berguna dan payah.

Tanpa kau sadari, kau mencabik hatiku hingga menjadi kepingan kecil—tak bisa disatukan lagi.

Tetapi mengapa aku masih bertahan?

Cinta, andaikan aku memiliki kuasa untuk memutarbalikkan masa,

Tak ada yang akan kurubah.

Karena mencintai sedalam ini, tak akan pernah terulang lagi padaku bahkan hingga seribu tahun lamanya."

Nesia menghela napas.

Lagi-lagi surat misterius itu. Surat cinta misterius dari pengirim misterius untuk seseorang yang misterius—serba misterius. Ini adalah surat yang kesekian kalinya—baik ketika dibacakan olehnya, oleh Mei, oleh Senior Tiino, atau oleh anggota klub H-Radio lainnya.

Tetapi hingga sekarang, mereka masih belum memiliki petunjuk siapa pengirim surat cinta tersebut. Terdapat banyak spekulasi, tetapi tidak ada yang benar-benar pasti dan yakin. Saking penasarannya, Nesia bersama Mei Lian bahkan pernah mengintai di dekat kotak surat H-Radio untuk melihat siapa saja yang memasukkan surat ke sana. Tetapi pengirim surat yang datang, terlalu banyak hingga sulit menentukan siapa memasukkan surat yang mana.

Bagi Nesia, surat cinta misterius itu selalu sukses membuatnya galau—membuat sebagian besar anak H-Radio galau, termasuk Mei Lian juga. Karena selain puitis abis, juga sepertinya si penulis benar-benar tulus mencintai siapapun orang yang menjadi tujuan surat itu. Tulus. Setia. Begitu dalam.

Iri banget rasanya sama cewek atau cowok yang menjadi tujuan surat ini.

"Yah.. Sahabat…," ujar Nesia sembari menghela napas—belum keluar dari efek galau akibat surat misterius tadi, "Satu lagi surat misterius dari pengirim misterius, udah kubacakan tadi. Manis banget, 'kan? Bagiku, itu tidak terdengar chessy, malah sukses menunjukkan dalamnya perasaan si pengirim. Hm… semoga akan datang hari di mana si pengirim berbaik hati untuk memberikan identitasnya—setidaknya, memberikan petunjuk akan identitasnya. Dan tentu saja, Sahabat, mari kita berharap bahwa si pengirim akan segera mendapatkan orang yang dicintainya. Semangat!" Nesia mengepalkan sebelah telapaknya, di depan dada, "Abisnya.. bikin galau terus sih, bacain itu," ujarnya separuh mengeluh separuh becanda.

"Oke, sahabat. Sekarang adalah sesi sharing melalui telepon. Seperti biasa, di sesi ini, kalian bisa sharing langsung via telekomunikasi, dengan H-Radio. Di nomor yang biasanya, ya. Kalian bisa sharing apapun juga mulai dari yang galau kayak aku tadi, stress karena ulangan, atau tawarin aku tiket konser One Direction juga boleh. Haha. Yah… pokoknya silahkan tekan kombinasi nomor yang terhubung dengan H-Radio, dan nanti kita bisa saling ngobrol. Oh ya, tentu saja. Jangan terlalu ribet, ya. Waktu per-penelpon hanya sekitar 2 menit. Jadi, yang mau ngegosip atau rumpi soal arisan, tahan dulu. Kita ngobrolnya tatap muka aja setelah selesai sekolah. Haha. Oke, silahkan. Aku tunggu~" lanjut Nesia dengan nada yang terdengar ceria.

Ia harus bersikap profesional, tidak peduli apa suasana hatinya sebenarnya. Sekarang ia melaksanakan tugasnya sebagai penyiar H-Radio dan tidak mungkin 'kan, dia terdengar moody di telinga para pendengar?

Tidak lama setelah itu, Nesia mendapat penelpon pertamanya. Gadis itu segera menggeser fader mixer-nya dari bawah ke atas, sebelum menerima telepon yang masuk melalui hybrid telepon di depannya.

"Halo selamat pagi," sapanya cerah, "Boleh kutahu ini dari siapa?"

"Halo, kau tidak perlu tahu siapa aku, itu tidak penting," ujar suara itu dengan nada sedatar-datarnya tembok. Apalagi dengan kalimat seperti itu… Membuat Nesia mau tak mau langsung merinding dan berpikir apakah ia tengah mendapat telepon ancaman. Di tengah-tengah ia on air begini, demi Tuhan!

"I-iya," jawab Nesia dengan sedikit gugup. Dari nada suaranya, sepertinya si penelpon adalah seorang wanita. Dan jelas sekali, ia sepertinya bukan tipe yang suka hitting around the bush dan bercerewet ria seperti Nesia, "Apa kabar—"

"Aku tidak akan berlama-lama," potong suara itu dengan masih datar, "Aku hanya ingin menyampaikan kepada Alfred Jones untuk stop fucking mess with me, orang bodoh berotak hamburger! Dan juga untuk semua orang, jangan berani-beraninya untuk memanfaatkan atau membodohi Kakakku. Aku bersumpah akan mencincang tubuh kalian dan memberikannya pada anjing rumahku jika kalian berani melanggar ultimatumku, you darn bastards!"

Klik.

Sambungan terputus oleh si penelpon. Meninggalkan Nesia yang terdiam dan meringis antara sweatdropped dan ngeri—bahkan tanpa gadis itu sempat menanggapi. Nesia rasanya yakin sekali jika sekarang, bahkan kalimat si penelpon tadi cukup untuk membuat seluruh penghuni Hetalia High berada dalam perasaan seperti diteror oleh kalimat yang sepertinya wajar diucapkan oleh orang saiko.

Andaikan H-Radio bisa mensensor otomatis ucapan penelpon… Habisnya.. selain penuh umpatan, juga mengerikan gitu, sih.

Dan… apapula hubungannya semua ini dengan Senior Alfred?

Sedikit merasa kikuk dan canggung, Nesia berdeham lirih, "E-Ehem! I-iya, itu tadi dari No-Nona Misterius…" Nesia mengusap keringat dingin yang muncul di pelipisnya. Sial, ia jadi ikutan takut meski ia bukanlah Senior Alfred atau salah satu dari "darn bastards" itu… "S-sekarang, giliran penelpon kedua! Ya! Ayo! Yang berminat untuk sharing atau ngobrol, silahkan segera menyambungkan diri dengan saluran H-Radio~ Cuma tinggal 2 penelpon lagi, lho karena sebentar lagi aku akan mengakhiri sesi siaran ini karena sebentar lagi, periode istirahat sudah berakhir~" ujar Nesia memaksakan nada cerianya.

Ia hanya berharap bahwa siapapun penelpon berikutnya, memiliki kesadaran diri bahwa ucapannya akan disiarkan dan mampu didengar oleh seluruh penghuni Hetalia High. Dengan demikian, si penelpon itu mungkin bisa mempertimbangkan apakah ucapannya akan menimbulkan teror dan ketakutan masal seperti penelpon sebelumnya…

Uh.

"Halo, selamat pagi~ Boleh aku tahu ini siapa?" ujar Nesia menyapa setelah menekan tombol terima di hybrid telepon.

"Hei, Nes. Jangan pura-pura tidak mengenali suaraku. Ahahahaha~"

Familiar sekali…

"Senior… Alfred?" gumam Nesia tanpa sadar.

"Yup! Aku adalah Seniormu yang paling keren itu~"

Apa-apaan ini. Baru saja dia mendapat ancaman dan umpatan dari penelpon wanita tadi, sekarang nada suaranya tetap terdengar ceria begitu?

Alfred itu tidak memiliki rasa takut atau simpel, tidak memiliki kepekaan, sih?

"Tentu saja, Senior!" Nesia tertawa, "Tidak ada yang sekeren dan sehero dirimu, deh."

'Ya udahlah, ngalah aja,' pikir Nesia.

"Hahaha!" tawa khas Alfred terdengar, "Aku hanya mau mengucapkan sesuatu. Untuk penelpon sebelumnya."

Eh?

Senior Alfred mau membalas ancaman itu dengan ancaman?

Tanpa memberikan Nesia kesempatan untuk berbicara, Alfred segera menyambung, "Aku hanya ingin bilang, I love you too~ Hahaha!"

Krik banget deh.

Nesia memaksakan diri untuk tertawa, "Apa-apaan itu, Senior? Kau berniat menyatakan perasaanmu pada Nona tadi?" siapa sangka 'kan, jika Alfred memiliki perasaan istimewa pada seorang gadis. Selain karena Nesia menduga dia homo dengan Arthur, juga karena Nesia tidak pernah melihat atau mendengar tentang Alfred dan seorang gadis tuh.

"Hahaha! Aku hanya tahu bahwa dia sebenarnya sangat menggemariku, Nes," dasar orang ini…. "Lagipula aku sudah tahu siapa dirinya. Hahaha!"

"Iya deh…," mencoba mengalah dengan tingkat kenarsisan Senior Alfred yang sudah akut itu.

"Gotta go, Nes," ujar Alfred, "Ada yang harus kuurus, nih di Klub Drama. Oh ya, sekalian promo ya. Jangan lupa, Hetaliers—" itu adalah sebutan bagi para civitas akademika Hetalia High, Nesia tahu, "—Klub Drama akan menampilkan pertunjukkan di Spring Play. Sebentar lagi, sebentar lagi. Aku jamin drama ini akan awesome—aku sendiri yang menulis skenarionya. Hahaha! Dah~"

Klik.

Nesia menghela napas. Ada apa dengan para penelpon hari ini yang memutus sambungan secara sepihak demikian? Dan apa? Spring Play?

Nesia akan ingat untuk menghadiri pentas drama tersebut. Karena ia dengar bahwa Spring Play adalah saat di mana Klub Drama akan menunjukkan karya terbaik mereka. Hhh.. meskipun Nesia sebenarnya pengen melihat Senior Alfred berakting juga, sih.

"Itu tadi adalah sharing dari Senior Alfred, Sahabat," ujar Nesia 'mengudara' kembali, "Terdengar sangat bersemangat dan cheerful seperti biasanya, ya. berjuang untuk Senior Alfred dan teman-teman Klub Drama, dan pastinya, kami akan menantikan karya kalian di Spring Play. Bukan begitu, Sahabat?" Nesia melirik jam tangan di pergelangan tangan kirinya. Lima menit lagi… "Ya, Sahabat. Penelpon terakhir ditunggu. Kalian bisa ceritain unek-unek kalian, atau promosi juga kegiatan Klub, seperti Senior Alfred tadi. Strategi yang bagus, 'kan? Hehe. Atau niat nyatain cinta pada orang yang ditaksir? Haha. Tinggal lima menit lagi sebelum siaran hari ini diakhiri—O, thank goodness, udah ada telepon masuk, nih, Sahabat. Ya? Halo Selamat pagi~ Dengan siapa?"

"Ha-halo—ehem!" suara cowok, dan dari nadanya, jelas sekali bahwa dia tengah merasa gugup.

"Halo juga~" balas Nesia ceria, "Dengan Tuan?"

"B-begitu pentingkah untuk tahu siapa diriku?" nah, dia sekarang terdengar sedikit kesal… atau justru bertambah gugup?

Entahlah.

Tetapi… ini perasaan Nesia saja atau apa. Tetapi kok perasaan Nesia merasa familiar sekali dengan suara ini, ya?

Karena Nesia bukanlah tipe orang yang sungkan untuk mengekspresikan pendapatnya, maka gadis itu segera melontarkan isi pikirannya, "Apakah kita pernah bertemu? Kau terdengar sangat famili—"

"Tidak, tidak!" potong suara itu dengan cepat—terlalu cepat untuk sebuah jawaban yang normal, jujur, dan tidak mencurigakan, "Itu hanya perasaanmu saja. Sudahlah. Aku hanya ingin bertanya sesuatu. Tidak usah bertele-tele, deh."

Oke. Nesia memutuskan bahwa ia sama sekali tidak menyukai si penelpon yang terdengar menyebalkan itu.

"Oke, Tuan, maaf sekali. Hanya saja jika kau ingin menyampaikan sebuah berita atau pernyataan penting, perlu untuk kau sampaikan namamu agar pendengar bisa mengetahui kepada siapa mereka harus mengkonfirmasi berita penting tersebut," hih!

"Tidak perlu," jawabnya, "Aku hanya ingin bertanya sesuatu."

"Silahkan," Nesia mengangkat bahu—pertanda tak acuh, sekalipun si penelpon tak bisa melihat tindakannya tersebut.

"Ehem!" ia terdengar berdeham lagi. Apa sebegitu gugupnya? "M-menurutmu, bagaimana caranya untuk sembuh dari p—patah hati? Setidaknya untuk merasa terhibur dan lupa sejenak?"

Dan hanya satu yang Nesia langsung pikirkan setelah mendengar pertanyaan tersebut. 'Selain aku merasa familiar dengan suaranya… Kenapa pertanyaannya seolah menyindirku gitu, sih? Out of the blue, for God's sake!"

Patah hati.. patah hati. Kalau Nesia tahu, ia juga udah mempraktekkan dari jaman kapan tauk!

"Hei, kau masih ada, 'kan?" suara itu terdengar lagi ketika Nesia tanpa sadar hanya terdiam sembari tak hanya merutuki si penelpon, tetapi juga tengah meredam perasaannya yang kembali moody seperti ini.

"Tentu," Nesia segera menjawab, "Tetapi, untuk apa, nih? Apa ada seorang gadis yang baru saja menghancurkan hatimu~?" Nesia, separuh mencoba terdengar ceria dan separuh mencoba untuk kepo.

"Sudah jawab saja apa susahnya, sih. Sebentar lagi bel masuk berbunyi, nih," suaranya terdengar tidak sabaran.

Membuat Nesia otomatis sedikit dongkol. Ia 'kan tidak bisa merumuskan strategi dengan tepat dan berguna, dalam waktu singkat. Lagipula… sejak kapan ia dinilai sebagai dokter cinta begini, heh? Kalau Senior Francis yang sekarang siaran, pasti si brewok itu bisa langsung dapat ide dalam kejapan mata.

Lha, Nesia? Luka hatinya sendiri saja belum sembuh!

Uh.

Lagipula, kalaupun ia berhasil dapat ide, apakah tidak akan terdengar cheesy dan murahan? Uh. Apalagi ini on air di mana seluruh warga Hetalia High bisa mendengar…

"Hei—"

"Oke-oke! Aku sedang berpikir, nih!" serga Nesia tanpa repot-repot menyembunyikan nada dongkol dan sedikit desperetnya.

Uh… apa, ya? Mau tak mau ia harus menjawabnya, 'kan? Uh… ia jadi terdengar hopeless begini..

Tetapi… bukankah sekarang ia juga tengah merasa patah hati? Ia juga merasa tengah terluka, 'kan? Bagaimana jika memposisikan dirinya sendiri?

Apa yang kira-kira bisa membuatnya kembali bahagia…

"Ehem!" Nesia berdeham, "Menurutku, cara yang paling ampuh adalah ya dengan mendapatkan orang yang membuat kita patah hati itu. Tidak usah munafik—kita bisa sembuh dari luka kita, paling cepet, jika kita bisa bersama dengan orang yang kita sukai, 'kan?" seandainya ia bisa bersama dengan Antonio… "Tetapi jika itu tidak memungkinkan…" pandangan gadis itu tampak menerawang, seperti memikirkan sesuatu, "Mungkin, lakukan hal yang menurutmu paling menyenangkan—membuat perasaanmu kembali bahagia. Seperti misalnya, ice skating, makan es krim dan coklat sebanyak-banyaknya, pergi berlibur, tidur sehingga tidak memikirkan apapun, atau simpel, cari cowok atau cewek baru yang bisa mengerti dirimu," oke, semua contoh itu juga merupakan pendapat pribadi dan preference bagi Nesia, sih.

Tetapi, itu tidak mudah dilakukan, 'kan?

"Tentu saja, semua itu tidak bisa menyembuhkan luka kita secara sekejap," ujar Nesia, lantas gadis itu tersenyum kecil, "Tetapi lebih baik 'kan, daripada tidak berusaha sama sekali?"

Benar kata orang, berbicara itu jauh lebih mudah daripada melakukan. Lebih memalukan lagi ketika si pembicara sendiri tidak mampu melakukan apa yang dibicarakannya.

Hhh.

Setelah si penelpon memutuskan sambungan teleponnya, siaran hari itu selesai dengan Nesia mengudarakan kata salam dan jargon H-Radio seperti biasanya, "Tetap semangat dan tebarkan cinta ke orang-orang sekitarmu~".

Untuk pertama kalinya, ia mengakhiri sesi siarannya denga helaan napas dalam dan perasaan yang begitu berat.

-oOo-

Dan datang ke diskusi kelompok kompetisinya saat pulang sekolah, malah semakin memperburuk suasana hati Nesia. Dari gadis itu rasanya ingin ngebantai orang, kini menjadikannya rasanya siap menjadi kanibal dan melakukan adegan gore pada saat itu juga.

Tidak perlu tanyakan alasannya apa. Kalian pasti tahu siapa satu-satunya orang yang membuat Nesia rasanya perlu untuk sering pergi ke gereja dan membuat pengakuan dosa.

Ya, Arthur 'alis' Kirkland.

Tidak hanya dia langsung menghardik Nesia karena gadis itu hanya terlambat satu fucking menit, tetapi juga data yang sudah susah payah diperoleh dan diolahnya, seketika di-flame habis-habisan oleh Arthur.

Entah orang itu punya hobi memaki orang atau memang ia akan segera mati jika sehari saja tidak memaki orang.

Keadaan semakin memburuk ketika Senior Alfred ijin tidak bisa hadir—lagi. Sekalipun sedikit merasa kesal karena hal itu berarti Nesia akan menghabiskan waktu hanya dengan Arthur, tetapi Nesia memaklumi Senior Alfred yang juga tengah sibuk mempersiapkan Spring Play.

Ia sadar, Spring Play bukanlah sembarangan pertunjukkan. Selain merupakan acara Klub Drama tiap tahun, juga akan dihadiri tak hanya seluruh civitas akademika Hetalia High, tetapi juga undangan untuk pihak luar—orang tua atau kerabat wali murid misalnya? bahkan Nesia dengar, Spring Play tahun kemarin malah dihadiri oleh Gubernur Carolina Utara. Dan Nesia dengar pula, Alfred malah berambisi untuk mendatangkan, jika bisa, perwakilan White House, untuk datang menghadirinya.

Sigh.

Jadi, Nesia tidak bisa menyalahkan Alfred juga jika pemuda itu tidak bisa meninggalkan kegiatan klubnya—dan membuatnya harus 'terdampar' di suasana buruk macam ketika ia harus bersama Arthur, seperti ini.

"Apa ini?" ujar Arthur keras sembari melingkari sebuah tabel di kertas sajian data, yang dibawa oleh Nesia, "Darimana kau bisa mengukur ini? Sampel yang kau pilih ini apa kau pikir cukup mewakili? Reliable? Dasar. Pernah bikin penelitian, ga, sih?"

Atau…

"Kau ini mengukur tingkat GDP atau pendapatan perkapita? Hhh. Kalau begini, sih, aku harus merombak semuanya sendiri."

Atau…

"Demi Tuhan," geram Arthur sembari dengan kasar, melingkari satu kalimat di kertas Nesia. Berkali-kali dilingkarinya, hingga Nesia rasanya tak heran jika kertas itu akan robek nantinya, "Apa ini? Bahasa Inggrismu tidak formal sekali. Kau pikir kita sedang apa? Menulis naskah novel?"

Dan banyak lagi. Banyak lagi. Terlalu banyak lagi.

Kertas yang sebelumnya tampak bersih dan rapih oleh ketikan Nesia, kini tampak banyak coretan di sana-sini, dengan tinta berwarna merah—seolah ingin mengatakan bahwa tulisan Nesia pantas untuk dibakar saja. Dari coretan tentang kritikan, pembenaran, hingga hal-hal yang membuat gadis itu rasanya ingin memakan mentah-mentah kertas itu saja seandainya ia sudah gila. Seperti tulisan 'Gadis bodoh DX'atau 'Idiot' atau 'Gadis pemalas' atau 'Gadis barbar' dan semua kalimat yang pada intinya sama: membuat Nesia merasa bahwa dirinya adalah makhluk yang paling tidak berguna dan mubadzir di dunia.

Dan saat itu, ingin rasanya Nesia berteriak keras, tak peduli jika ia harus mengorbankan kesehatan tenggorokannya.

Sedih banget sih. Udah patah hati gegara Antonio, kini ia merasa pengen banget bunuh diri gegara si monster alis itu. Ngenes!

Sebelah tangan gadis itu sudah terangkat, siap membanting kertas-kertas itu ke tanah, lantas menginjak-injaknya seolah ingin menginjak-injak muka dari orang yang paling ia sesali kehadirannya daripada fenomena pemanasan global. Namun, urung ia lakukan karena sadar bahwa mungkin saja ia membutuhkan beberapa "coretan" dari Arthur untuk laporan berikutnya.

Lagipula bukankah si Alis tadi menugasinya untuk membuat revisi dari ini?

Ih!

Memasukkan kertas itu pada tas selempangnya, Nesia kembali melangkah. Oh ya, kali ini ia pulang sendirian. Lovino tadi pamit tidak bisa menemaninya karena katanya, ada yang harus diurusnya bersama Feli di rumah Kakek mereka. Hhh. Sampai sekarang, kehidupan Lovino masih menjadi misteri bagi Nesia. Antara Lovino, Feliciano, dan keluarga mereka. Emang terdengar kepo, sih… Tetapi Nesia hanya penasaran saja.

Karena Lovino sendiri juga, sih, yang sering berkata dan bersikap seolah-olah ia menanggung sebuah beban yang berat. Jika pemuda itu jujur, Nesia bersedia membantu. Pasti. Akan tetapi, Lovino sepertinya bukan tipe yang mudah berterus-terang, sekalipun pada sahabat seperti Nesia.

Melangkah perlahan, gadis itu tampak menikmati sore itu. Suasana sore di musim gugur memang yang paling disukainya. Banyak daun berterbangan, alasan aneh dan cukup kekanakan untuk menyukai musim menjelang musim dingin ini. Tetapi wajar, sih. Karena di Indonesia 'kan daun berguguran hanya pada musim kemarau. Itupun panas banget pula.

Tetapi, waktu relaksasi Nesia sepertinya harus tertunda dahulu ketika ia mendengar seseorang memanggil namanya, sekali. Menoleh, Nesia menatap seorang gadis yang tampak berlari-lari kecil menyusulnya dari belakang.

Dan gadis itu adalah seniornya, Bella Van Hardt.

Entahlah, Nesia tidak tahu apakah harinya ini bisa menjadi lebih buruk dari sekarang.

"Nes! Hei. Kebetulan kau ada," sapa Bella dengan senyuman tersemat di bibir tipisnya. Membuat Nesia seketika tahu, mengapa Antonio begitu menyukai senyuman itu.

Cantik. Manis. Namun di saat yang sama, tetap terlihat anggun.

Dan yang tersemat di bibir Nesia hanyalah senyuman tipis dan terlihat begitu dipaksakan. Tanpa berbicara apa-apa lagi, gadis itu kembali melangkah.

Namun kali ini dengan kepala tertunduk lemah.

"Kenapa, Nes?" tanya Senior Bella, "Kau sepertinya sedang ada masalah?"

Hanyalah gelengan kecil yang menjadi respon Nesia. Tentu saja, Bella tidak akan mudah begitu percaya. Ekspresi sendu Nesia seolah sudah menyatakan jawaban yang sebenarnya.

Bella tampak menghirup napas dalam-dalam, sebelum menatap depan dan berujar lirih, "Hari ini aku tidak membawa mobil—jadi naik bus ketika sampai di halte depan sana," sepertinya Bella tampak menerima keputusan Nesia untuk terdiam, "Dan senang sekali ketika aku bertemu denganmu sekarang. Perjalananku ke halte bus tidak akan terasa sepi, 'kan?" Bella kembali tersenyum.

Nesia tidak tahu harus berbuat apa dan bagaimana. Apa yang harus ia tanggapi. Bagaimana. Apakah ia harus ikut berbincang santai sementara perasaannya jelas tengah begitu buruk? Apakah ia harus tersenyum dan tertawa trilili tralala sementara ia tahu, gadis yang berjalan di sampingnya adalah satu-satunya orang yang dicintai oleh Antonio? Apakah ia harus mengobrol layaknya teman akrab, sementara ia tahu, bahwa kini rasanya tidak ada yang ingin ia lakukan selain berlari cepat, mengunci diri di kamar, dan menangis sepuasnya?

Bella memang tidak bersalah—tiada yang bersalah, bahkan Antonio. Hanyalah takdir yang berkata—takdir yang memutuskan mereka seperti ini. Antonio yang mencintai Bella dan Nesia yang mencintai Antonio sedangkan Bella masih ragu akan perasaannya sendiri. Tidak ada yang salah.

Tetapi tetap saja, 'kan? Gadis di sampingnya ini yang secara tak langsung 'merebut' Antonio dari—Hhh. Nesia mulai terdengar posesif, kekanakan, dan tidak rasional.

Tetapi salahkah jika ia merasa cemburu? Salahkah jika ia merasa sakit hati dan sedikit benci? Sekalipun tak ada yang patut disalahkan dari semua ini?

"Boleh aku bercerita padamu?" suara Bella terdengar lagi, memutus pikiran Nesia akan perasaan dan sikap yang harus ia pilih. Tanpa menunggu respon Nesia yang tampak masih menunduk dan menyembunyikan separuh wajahnya dalam lingkaran syal di lehernya, Bella kembali melanjutkan, "Antonio memang tidak mengijinkanku untuk bercerita pada siapapun. Tetapi kupikir kau harus tahu."

Sepertinya terdengar serius.

Dan Antonio adalah topik obrolan terakhir yang ingin Nesia dengar sekarang ini.

"Entah kau sadar apa tidak, dia merasa sedih dengan hubungannya denganmu dan Lovino."

Nah.

Pandangan Bella tampak sendu menatap tanah yang ditapaki kedua kakinya, "Berkali-kali dia bercerita padaku soal ini. Dia tidak tahu apa yang tengah terjadi—tetapi dia merasa sepertinya dia telah berbuat sesuatu yang salah hingga membuat kalian seperti menjauhinya. Kau tahu? Aku tidak pernah melihat Antonio sedemikian sedih dan bingung."

"…."

"Dia bahkan pernah berkali-kali tidak konsentrasi dan fokus dalam latihan di Klub Musik."

Nesia menghirup napas dalam-dalam, lantas mengeluarkannya secara perlahan, "Aku tidak tahu. Bagaimana bisa tahu jika dia saja tidak pernah bersama kami," tangan Nesia mengepal ketika ia mendengar betapa sinisnya nada ucapannya barusan.

"Dia hanya merasa bingung—dia tidak mau melukai kalian lebih jauh," jawab Bella.

"Bukankah sebaiknya dia bicara langsung? Kenapa harus kau yang bicara padaku?" Nesia tahu, siapapun pasti menyadari bahwa terdapat kebencian yang mengiringi kalimatnya tadi.

Terkadang, memang hati dan perasaan mampu mengalahkan logika. Dan Nesia bukanlah tipe orang yang kuat mempertahankan rasionalitas ketika hati sudah berbicara.

"…Aku hanya tidak ingin melihatnya terus-terusan tampak sedih begitu," ujar Bella lirih setelah beberapa saat tampak terdiam.

"Kau menyukainya," lebih seperti pernyataan daripada pernyataan kalimat yang baru saja terlontar. Nesia menggigit lidahnya sendiri ketika tersadar akan apa yang baru saja dia ucapkan.

"Mungkin," dan Bella sepertinya tidak ragu untuk berterus-terang—untuk menaburkan garam lebih pada luka Nesia yang menganga, "Mungkin iya, mungkin tidak. Aku tidak yakin—aku terkadang memiliki pemikiran bahwa aku masih ingin kembali pada Ludwig."

Beraninya…

Beraninya dia bicara seperti itu. Bicara bahwa dia tidak yakin mencintai Antonio atau tidak… Bicara seolah-olah ia mengombang-ambingkan dan mempermainkan perasaan Antonio…

Beraninya dia bicara seperti itu di depan Nesia. Di depan Nesia yang rasanya siap melakukan apapun untuk menjadi dirinya—yang dicintai Antonio, yang tulus dan setia dicintai Antonio!

Ingin rasanya Nesia meneriakkan pemikiran tersebut dari benaknya. Meneriakkan kepada Bella akan betapa beruntungnya dia sebenarnya. Betapa keberuntungannya harus mengorbankan perasaan dan kebahagiaan Nesia. Dan betapa Bella memiliki semua yang Nesia harus hidup tanpa memilikinya. Semuanya!

Namun Nesia lebih tahu untuk menahan perasaannya. Menghirup napas dalam-dalam berusaha menahan gejolak marah dan benci yang sangat terasa di dadanya. Ia tahu ia kejam—egois. Tetapi siapakah yang bisa menyalahkan perasaan?

"Jujur saja, aku sebelumnya tidak pernah mengenal Antonio," ujar Bella lirih, seolah menggumam pada dirinya sendiri, "Tetapi, dia merupakan pribadi yang menyenangkan. Extrovert. Hanya dalam beberapa bulan saja aku mengetahui banyak tentangnya. Ayahnya yang berdarah Amerika-Prancis dan Ibunya yang berdarah Spanyol. Dia yang lebih banyak menghabiskan waktunya selama ini di Spanyol sebelum pindah ke AS pada saat dia baru memasuki SMP, karena Ayahnya yang berpindah tugas. Aku tahu bahkan sampai hal-hal kecil dan sensitif seperti dia yang mengaku sebagai seorang yang konservatif dan Republikan sejati," Bella mengendikkan bahu, lantas tertawa lirih, "Oleh sebab itulah, dia sempat merasa kesal pada Pemilu Presiden lalu yang dimenangkan oleh Demokrat."

"…."

"Dan aku juga tahu," Bella menghirup napas dalam-dalam, sebelum berujar, "Bahwa kau dan Lovino adalah teman pertamanya di Hetalia High—tidak. Teman pertamanya semenjak ia pindah dari Louisiana ke Carolina Utara ini. Dan ia tidak menyangka dan tidak siap jika harus kehilangan kalian secepat ini."

"…."

"Halte bus sudah dekat—sebentar lagi aku akan berbelok, jalurmu tetap lurus, 'kan? Green Brooklyn?" Bella tersenyum lebar, "Sebelum kita berpisah, aku hanya ingin menyampaikan satu hal."

Bella menghentikan langkahnya, sembari sebelah tangannya menahan lengan Nesia agar gadis itu tidak melangkah lebih jauh lagi.

Ditatapnya Nesia yang masih tampak tertunduk. Wajah memerah. Dan ekspresi yang tersembunyi di balik lingkaran syalnya.

"Aku masih ingat Antonio pernah berkata padaku akan satu hal."

Dan ucapan Bella selanjutnya terdengar bersama dengan hembusan angin musim gugur yang menyapa. Pelan. Lirih. Namun cukup membekukan.

"Ia bersedia melakukan apapun untuk tetap bersama kalian. Apapun. Sekalipun itu mengorbankan kebahagiaannya. Apapun—asal kalian memberikannya kesempatan untuk mengetahui apa yang harus ia lakukan."

Itulah kalimat yang terucapkan sebelum Bella pamit untuk kembali melangkah—berbelok dan mengambil jalur yang terpisah dari jalur menuju apartemen Nesia.

Namun Nesia belum beranjak. Jangankan beranjak, membalas ucapan sampai jumpa pun tidak. Ia bahkan belum merubah posisinya yang masih berdiri. Tertunduk. Rambut sedikit berantakan oleh angin. Wajah yang memerah.

Dan ekspresi yang tersembunyi di balik syalnya.

Angin sore musim gugur kembali berhembus. Lirih. Pelan. Namun cukup membekukan. Menerbangkan dedaunan yang kehilangan cahaya kehidupannya—tampak kering, menguning—coklat, dan mudah diombang-ambingkan.

Tubuh Nesia bergetar kecil. Namun bukan angin yang dingin itu yang membuatnya gemetaran. Yang membuat bahunya tampak sedikit naik turun. Membuat kedua tangannnya mengepal kuat.

Dan membuat tetesan air mata luruh di pipinya.

Bukan angin itu yang membuatnya terisak pelan di sore musim gugur yang sepi.

-oOo-

Next Chapter:

"Kita akan bersenang-senang sepanjang hari ini, Nes!"

.

"Ayo, kau pasti bisa. Kau tidak akan jatuh, aku akan memegangimu… Ayolah. Aku akan tetap memegangi tanganmu."

.

"Bagaimana jika tunjukkan aku tempat untuk menguburmu hidup-hidup?"

"Oh? Ada! Tentu saja ada, Natty! Kuburkan aku di hatimu saja—Ow!"

.

"Aku jamin, deh. Syal jenis ini lembut dan hangat banget. Cocok dipake saat musim dingin."

"O—oh. Begitu…"

"Apakah kau benar-benar tengah merasa tidak enak badan, Senior? Wajahmu memerah tuh,"

.

"Senior Arthur, terimakasih atas hari ini. Aku merasa senang sekali hari ini… Kau tidak seburuk yang kubayangkan."

-oOo-


Chapter depan adalah chapter yang mana saya paling enjoy mengetiknya :D Dan oh ya, saya lagi terhipnotis oleh lagu-lagunya The Script, terutama yang Six Degrees of Separation. Saat ngetik chapter ini, saya dengerin lagu itu. Meski rada ngerock sih, tapi artinya kena banget (?). Dan oh ya, soal rate-M, tenang saja, guys. Saya tidak akan pernah melupakan mengapa saya memberi rating M pada fic ini. Hanya saja untuk 'main dish' (?) nya perlu nunggu waktu yang lama; cukup lama. Mungkin dalam beberapa waktu dekat hanya 'a little snack' saja :D Hey, that counts, rite? Rate-M tidak harus melulu lemon, kan?

Well, now you've got my words.

Cukup ngegajenya. Ini balesan reviewnya :D


Aku cuma butuh waktu dua hari untuk baca chap 1-22/ Wohoooo! Keren gila, bray! Mau saya peluk, ga? /dor/ Terimakasih :D / Saya seneng liat Antonio patah hati/ Err... Kayaknya saya udah gagal menaikkan martabat Antonio di mata fansgirl-nya :O / Arthur aku cinta kamu/ How could you... I thought I was the only one for you! /nyinet / Biasanya gue males review/ Terimakasih sudah memberikan review pertamamu :'D /terharumendewa / Boleh minta Vash buat gue ga?/ Iya ambil aja /didoramaVash / Arthur lempar bole ke Nesia itu karena kesal atau cemburu?/ :x / Hurt-nya dapet/ :'D Makasih / Butuh Loviiiii/ Di chapter ini Lovi udah jadi main star, kan? / Nesia udahan dong nangisnya/ Nonono. Seperti kata Nesia, 'melupakan tidak bisa secepat saat jatuh cinta' :D Ayey! / Nyesek!/ /kasihobatasma /dor/ Makasih banyak :D / Antonio lamban banget deh/ He's too oblivious, alright :D / Antonio ternyata manly enough/ Saya ga tahu kamu niat muji atau nyindir dia :o / tsundere Arthur kerasa lebih luas, ya?/ Maksudnya? /blank / Saya bayangin jika kisah Nesia-Antonio terjadi pada saya/ Haha, janganlah (?) / USUK dong/ Fans service aja bray / Arthur bakal suka ama Nesia?/ Lol. Time will tell / Updatenya tepat pas ultahku!/ Really? Well, that's good and Happy late birth day :D / Antonio pehapeeeee/ Dia ga sengaja nge-php-in, kan? Orang nyadar Nesia suka aja kagak :/ / Adain adegan Antonio konfrontasi ama Ludwig/ Oh! :o / Kapan nih mbahas Mr. Sender-nya?/ Lol. Time will tell / Antonio ga peka banget sih!/ Maklum, pikiran dan hatinya kan udah terfokus pada satu orang :3 /ihemoticonnya! / LoviNes-nya lebih manis dari UKNes/ :D / DIS anak sastra/filsafat?/ Saya anak sehat :) Haha. No. Politik, kok :D / VashIndo dong/ Indo? Male!Indonesia?/ Ucapan Arthur di atas genteng meski skakitis, tapi manis/ Makasih, tapi, skakitis itu apa ya? :D Sarkastis? / Kenapa ga ada adegan Arthur maen bola?/ Soalnya itu kan diceritain dari PoV Nesia. Dan doi liatnya kan Antonio mulu dan ga nyadar kalau Arthur ternyata juga tanding lawan si Oyabun / Curhatan Antonio itu nyesek banget/ :'( / Ga nyangka Antonio udah suka Bella lama banget/ His feeling is just so sincere then :D


Jika faktor-faktor lain tetap dan sama, banyak dan cepatnya review kalian berbanding lurus dengan kecepatan update saya (Storm, 2013).


Terimakasih

DIS