DIS: Sorry telat update. Baru selesai UTS nih, cuy! Dan murid SMA/SMP/SD udah pada ujian, ya? Saya doain semoga lancar dan dapat hasil terbaik. Amin :D Dan semangat pula untuk menempuh ujian masuk Universitas. Hm… ada ga ya, dari kalian yang bakal jadi junior saya? Ntar saya ajakin dan kenalin ke temen-temen Radio yang super rempong deh. Ayey!

Oh ya, saya sempat dibikinin fanart/mini doujin oleh Wiwitaku terkait salah satu adegan di chapter yang lalu. Saya ucapkan terimakasih atas kejutannya yang menyenangkan—membuatkan fanart untuk fic seabal dan sealay ini… membuat saya merasa jauh lebih senang ketimbang dahulu saya dapetin gebetan saya putus dari pacarnya /plak/. Saya tidak tahu apakah Wiwitaku mengijinkan saya untuk mempublish fanart itu, jadi jika ada yang ingin liat, PM saja dia :D

Terimakasih.


Guidance:

Kompleks gedung A: Tempat di mana para murid kelas 1, dan sebagian kelas 2, belajar secara formal

Kompleks gedung B: Tempat di mana para murid kelas 3 belajar secara formal

Kompleks gedung C: Tempat di mana para murid kelas 2 belajar secara formal

Character:

Nesia, Antonio, Lovino, Lily, Feliciano, Mei: kelas 1

Arthur, Alfred, Tiino, Vash: Kelas 2

Francis, Gilbert, Elizaveta, Bella, Andrew, Ludwig, dan karakter2 lain: kelas 3

Chau dan Maria: Excluded

Semoga membantu :D


Tidak begitu banyak orang yang tampak pada hari itu. Tidak begitu mengherankan juga, sih, karena musim gugur yang dingin sedikit memberikan disinsentif bagi siapapun untuk meninggalkan nyamannya perlindungan rumah dengan perapian yang menyala hangat. Apalagi untuk pergi ke tempat seperti ini.

Wahana ice skating ini memang tidak begitu besar, tetapi dengan jumlah pengunjung yang tidak begitu banyak, menjadikan tempat ini tampak begitu luas dan lengang. Hadir sebagai salah satu fitur hiburan indoor di salah satu pusat perbelanjaan di pusat kota, jika cuaca di luar lebih hangat atau panas, wahana ini merupakan tempat yang sering dikunjungi, terutama sebelum atau sesudah berbelanja.

Namun keadaan sepi itu sama sekali tidak merugikan, sih, bagi Annesia Saraswati. Malah menguntungkan, jika boleh jujur. Selain ia bisa leluasa meluncur kesana-kemari tanpa perlu khawatir untuk menabrak orang lain, juga karena kondisi yang tidak terlalu bising membuat suasana relaksasi ini terasa lebih nyaman. Lebih ngena. Apalagi gedung pusat perbelanjaan itu juga tengah lumayan lengang. Malah tadi banyak Nesia lihat beberapa toko yang tampak kosong melompong tiada pengunjung.

Hm, kalian bertanya, apa yang tengah dilakukan gadis itu di salah satu pusat perbelanjaan di pusat kota, pada hari Minggu pagi yang dingin itu?

"Here we goooo!" cetusnya setengah berteriak, ketika ia meluncur dengan cepat di atas permukaan es di area ice skating tersebut.

Ya. Untuk pertama kalinya semenjak ia menginjakkan kaki di Carolina Utara, ia menikmati waktu liburannya.

Apalagi wahana pertama yang dikunjunginya adalah ice skating—olahraga nomor satu yang sekaligus menjadi hobinya, selain Karate.

Rasanya ia tidak bisa lebih gembira dari sekarang.


Axis Power Hetalia © Hidekaz Himaruya

Picture © Sakurazaka Ohime

I just own the plot of the story and I don't gain any commercial advantages by publishing this fic.

Warning: AU, Human Name, High School, OC, OoC yang mendewa, (highly possible) crack pairs, (a lil') Nesia-centric, but no Mary Sue/Gary Stu I assure you :D totally absurd.

Pairing: Anda bisa menebak sendiri mana yang main pairing, dan mana yang sekedar hints dan fans service :p

Ini murni dari pemikiran saya. Maaf jika kebetulan ada kesamaan ide karena setting gakuen sangat banyak di FHI. Itu tidak disengaja :D

Long Live FHI and Say NO to Plagiarism! Mari berkarya dengan hati dan imajinasi :D

Maju FHI!

Happy reading


Entah apa yang terjadi, Nesia sesungguhnya belum mengerti hingga sekarang ini. Yang ia tahu, kemarin malam ia tertidur lelap setelah sebelumnya menggosok giginya dan membaca doa syukur kepada Tuhan atas berkahNya hari itu. Ia berniat untuk bangun siang—ayolah, siapa yang sudi bangun pagi-pagi buta saat libur sekolah? Tetapi nyatanya Chau datang ke kamarnya pada saat jam digital Nesia baru menunjukkan pukul delapan pagi, dan tentu saja, Nesia masih terlelap dalam alam mimpi. Setelah separuh terbangun karena Chau yang rasanya tidak bisa berhenti menepuk-nepuk pipi dan bahu Nesia, Chau mengatakan satu hal yang nyaris membuat Nesia yakin bahwa ia masih berada di alam mimpinya.

"Ada teman-temanmu datang, tuh."

Tentu saja, Lovino Vargas dan Antonio Carriedo adalah dua orang pertama yang langsung berada di pikiran Nesia. Tetapi Nesia segera mengenyahkan dugaan tersebut, mengingat betapa Lovino bagaikan mati suri jika hari libur, dan daripada mengunjungi Nesia, Antonio pasti menggunakan waktu senggang ini untuk mengunjungi Senior Bella.

Uh.

Mood Nesia langsung menjadi sangat buruk bahkan saat hari masih terbilang pagi.

Dan betapa terkejut, syok, tidak percaya, kaget, dan semua perasaan yang wajar dirasakan ketika mendapat kenyataan yang tidak pernah terduga dan disangka, Nesia mendapati daftar orang-orang yang justru tak pernah dibayangkannya akan terduduk di sofa ruang tamu apartemennya.

Arthur Kirkland, Alfred Jones… b-bahkan terdapat satu orang lagi yang tidak Nesia tahu siapa dia, tetapi pernah ia lihat saat MOS dahulu.

Pertanyaan yang langsung nancap di otak Nesia begitu melihat para 'tamu tak diundangnya' itu adalah: DEMI LAPISAN OZON YANG SEMAKIN MELEBAR, NGAPAIN ITU ORANG-ORANG DATANG KE APARTEMENNYA DI PAGI-PAGI BEGINI?!

Absurd… Ya Tuhan, semua ini rasanya ABSURD!

Nesia yakin bahwa hari itu bukan ulang tahunnya—lagian jika iya, darimana ketiga orang itu tahu? Dan juga Nesia yakin sekali bahwa kelompok kompetisi mereka tidak memiliki agenda diskusi pada hari ini, apalagi di APARTEMEN NESIA! Dan apapula itu ada makhluk alis menyebalkan itu?

Uh. Jadi déjà vu dengan malam di mana dia sekarat akibat tumpukan alkohol di perutnya itu, dan Nesia menolongnya, Nesia merawatnya, dan pada akhirnya semua pengorbanan Nesia seolah terludahi dan terinjak-injak tanpa mendapat bahkan terima fucking kasih!

Seolah menyadari Nesia yang hanya berdiri terbengong di ambang pintu kamarnya tanpa mampu mengucapkan bahkan kata 'Hai' atau 'Selamat pagi', Senior Alfred melambai padanya dan tertawa lebar, "Hai, Nes. Baru bangun? Cepat mandi dan berganti pakaian. Kita akan pergi bersama. Kau tahu, menghabiskan akhir pekan."

Dan Nesia tidak ingat bagaimana ia akhirnya keluar dari apartemen dengan mantel ungu ber-hoodie aksen bulu warna putih, kemeja berwarna merah muda, dan celana jeans biru gelap. Tak lupa dengan boots semata kaki berwarna coklat muda yang senada dengan tas selempangnya. Sebuah syal rajut berwarna abu-abu tebal, tampak melilit hangat lehernya—membuat kepalanya yang mungil seolah tenggelam di baliknya.

Nesia tak ingat bagaimana ia akhirnya memakai semua pakaian dan aksesoris itu.

Yang jelas, ia pada akhirnya turut pergi bersama 'rombongan tak terduga' itu. Alfred Jones tampak begitu riang dan gembira—seperti tipikal sifatnya yang biasa. Memakai sebuah jaket hitam yang merangkapi sebuah kaus putih, beserta celana jeans abu-abu dan sepatu kets yang senada. Dan barulah Nesia tahu dan sadar, setelah diberitahu oleh Alfred, bahwa satu orang asing di antara mereka adalah Natalia Arlovskaya, salah satu dari Komite Disiplin saat MOS dahulu. Seorang gadis yang cantik dengan iris violet dan surai peraknya. Berekspresi dingin dan datar—namun justru membuat Nesia iri akan keanggunannya, dapat dilihat dari betapa cantiknya Natalia dengan sundress bercorak floral dengan sweeter hijau tua, syal hijau muda, dan wages putih.

Dan Arthur?

Tampak sedikit semi-kasual, pemuda itu memakai kemeja putih lengan panjang, sweeter coklat muda tanpa lengan, celana jeans hitam, dan sepatu coklat tua. Well, terlepas dari penampilannya, pemuda itu bahkan sama sekali tidak melihat Nesia. Entahlah. Peduli apa. Mungkin pemuda itu malu dan baru sadar bahwa ia adalah orang terkejam dan termenyebalkan di dunia. Menjilat ludahnya sendiri dengan datang ke apartemen Nesia setelah dahulu mengatakan apartemen Nesia… apa? Kotor dan sumpek?

Hih.

"Kita akan bersenang-senang sepanjang hari ini, Nes!" itulah yang diucapkan Alfred saat Nesia menanyakan kemanakah mereka akan pergi.

Dan Nesia memilih untuk menurut.

Duduk terdiam di jok depan, di kursi sebelah kursi kemudi. Tepat di sebelah Arthur Kirkland yang tampak fokus menyetir Ford hitam metaliknya. O jangan salah sangka. Bukannya Nesia yang mau untuk duduk di sebelah Arthur, hanya saja Alfred yang bersihkukuh untuk duduk di jok belakang setelah Senior Arlovskaya terlebih dahulu duduk di sana.

Meskipun sepanjang perjalanan Alfred dan Natalia tampak seperti anjing dan kucing, tetapi… Nesia tidak dapat menahan perasaannya yang mengatakan bahwa Alfred tampak seperti menyimpan hal spesial untuk gadis yang Nesia dengar, berdarah Eropa Timur itu. Nesia bahkan terkikik geli ketika melihat mereka bagaikan sepasang suami istri yang sudah menikah lama—ribut teruuuusss, di mana Natalia sering menyumpah-nyumpah dan memberi ancaman ini itu, dan Alfred yang tetap berhaha-hihi ria seperti seorang yang oblivious dan idiot, persis seperti kata Natalia.

Sedikit banyak, sepanjang perjalanan ke-hanya-mereka-yang-tahu-mana, Nesia hanya terdiam. Duduk di sebelah sang Pangeran Es aka Arthur Kirkland, membuat seorang yang cerewet seperti Nesia akhirnya terdiam juga. Habisnya, Alfred tampak sibuk dengan 'perang kecil-kecilannya' dengan Senior Natalia, sih. Arthur sendiri hanya terdiam, sesekali mengatai Alfred jika pemuda itu terlalu ribut. Atau kalau tidak, si alis itu turut bersenandung kecil mengiringi lagu yang diputar melalui DVD player mobil itu.

Bukannya Nesia tak mencoba untuk mengajak berbicara. Akan tetapi, setiap gadis itu berucap, respon yang didapatinya justru membuatnya memilih untuk bungkam saja daripada sakit hati.

Dan pada akhirnya, dari semua tujuan yang Nesia bayangkan, akhirnya mereka memilih wahana ice skating sebagai destinasi pertama 'liburan' mereka.

Alfred bilang, "Aku juga tidak tahu kenapa kita harus ke sini dari semua tempat hangat yang bisa dikunjungi. Tetapi Arthur tadi memaksa sekali untuk mengunjungi tempat ini pertama kali."

Yang direspon oleh bentakan dari Arthur, "Dasar idiot! Kalau tidak mau ya pulang saja sana. Kau ini, sudah bagus kuberi tumpangan gratis," yang mana kalimat terakhirnya, menohok tak hanya Alfred, tetapi juga Nesia (dan mungkin juga Natalia) sebagai 'penumpang gratis' itu.

Nesia sih senang-senang saja. Ice skating adalah tempat yang sering dan sangat suka dikunjunginya saat ada di Indonesia dahulu. Meski tidak sepandai para pesenam seluncur es, tetapi gadis itu mampu melakukan satu-dua teknik seluncur es. Dan ia lebih bahagia lagi ketika mendapati bahwa wahana ice skating pada pagi itu tidak begitu ramai, hanya ada enam-tujuh orang yang berada di dalamnya.

Nesia dan Alfred, seperti remaja dengan masa kecil kurang bahagia, langsung berteriak semangat menikmati olahraga tersebut. Perasaan senang terpancar jelas di ekspresi mereka. Tertawa. Berteriak semangat. Berhaha-hihi ria.

Berbeda sekali dengan dua orang lainnya. Senior Natalia yang tampak bersedekap tangan di pinggiran area, dan Arthur yang tampak berpegang kuat pada pembatas pinggiran area dengan ekspresi seolah-olah ia tengah mendapat sebuah ancaman teror.

"Ada apa, Senior?" Nesia, sebagai junior yang baik hati, tentu saja segera meluncur menghampiri Arthur.

Arthur tampak terkejut, lantas segera membentak Nesia dengan wajah memerah, "Ngapain kau di sini? Pergi sana."

Geez.

"Kau tidak ingin menikmati wahana yang kau sendiri tawarkan ke kami?" tanya Nesia heran.

"Bukan urusanmu," Arthur menghembuskan napas keras sembari membuang muka ke samping. Membuat Nesia rasanya ingin sekali menonjok muka congkak itu.

"Ahahaha," Alfred tahu-tahu sudah berada di samping mereka. Pemuda itu melakukan gerakan meluncur kecil dari kanan ke kiri, sembari berkata dengan riang, "Atau kau jangan-jangan tidak bisa ice skating, Arthur?"

Alfred langsung kena gaplok tepat di kepala, oleh Arthur. Wajah sang British tampak memerah, bersama dengan ia yang langsung menghardik kesal, "A-apa kau bilang? Jangan bicara sembarangan, ya! Kau pikir aku akan mengajak kalian ke tempat di mana aku tidak bisa menikmatinya?!"

Alfred tampak merengut sembari mengusap-usap kecil kepalanya, "Kau 'kan tidak perlu memukulku," lantas senyuman lebar kembali tersemat di bibirnya, "Kalau begitu, ayo buktikan! Ayo meluncur~"

"A-aku—" Arthur seperti urung berkata. Lantas pemuda itu kembali membuang muka, "Aku tiba-tiba merasa tidak enak badan—Bloody Fuck!"

Arthur lantas memaki antara kaget dan kesal, ketika Alfred tiba-tiba mendorong punggungnya. Pemuda beralis tebal itu jelas kehilangan keseimbangan, dan sedikit meluncur ke arah depan.

Dan untung saja, Nesia dengan sigap menolongnya sebelum pemuda itu memalukan dirinya sendiri dengan jatuh mencium permukaan es.

"Ahahahaha! Kau memang tidak bisa! Kau memang tidak bisa~" tawa Alfred riang, lantas berlalu, meluncur ke arah Natalia yang masih terdiam beberapa jauh dari mereka. Dan sebelum Arthur sempat melepas sepatu skating-nya dan melemparnya ke kepala pemuda American sejati itu.

"Kau tak apa-apa, Senior?"

Suara Nesia sepertinya kembali menyadarkan Arthur. Pemuda itu menoleh, dan menatap bahwa kini gadis itu masih memeluk tubuhnya—ingat, Nesia tadi melakukan hal itu secara refleks, menolong Arthur sebelum pemuda itu terjatuh.

"O-oh, ya, aku tak apa," gumam Arthur sembari kembali menegakkan tubuhnya. Sedikit kembali oleng dan Nesia kembali memeganginya. Namun pemuda itu segera melepaskan pegangan Nesia ketika ia telah mampu berdiri tegak.

"Apa kau benar-benar tidak bisa bermain ice skating?" tanya Nesia kepo. Dan gadis itu sepertinya tahu jawabannya ketika Arthur hanya terdiam dengan rona tipis di kedua pipinya. Menghela napas, Nesia berujar lirih, "Harusnya kau kan tidak mengajak kami ke sini."

"Cih. Terserah aku, dong. Yang bawa mobil juga siapa," gumam Arthur lirih. Membuat sebelah ujung mata Nesia, berkedut keki.

Orang ini, sungguh, harga dirinya kelewat tinggi sekali.

Nesia melirik ke arah Alfred dan Natalia, di mana di sana tampak Alfred yang tengah menyeret paksa Natalia untuk turut meluncur bersamanya. Dilihatnya Alfred yang tertawa-tawa ria, dan Natalia yang memasang ekspresi seperti siap membantai Alfred di saat itu juga.

Tersenyum lebar, Nesia kembali menatap Arthur, "Ayo, ikutlah bersenang-senang bersama kami."

"Tidak mau."

"Harus mau."

"Sejak kapan kau jadi Ibuku?"

"Sejak sekarang."

"…Amit-amit—tu-tunggu! Apa yang kau la-lakukan?" protes Arthur ketika Nesia tiba-tiba menggamit paksa kedua telapak tangannya.

Gadis itu tersenyum, sembari terus menarik perlahan-lahan tubuh Arthur melalui gamitan sepasang tangan mereka, "Mengajakmu menikmati olahraga kesukaanku."

Sedikit demi sedikit, Nesia menarik Arthur yang juga masih protes dan tampak gugup dan cemas dan tidak percaya diri dan apalah arti ekspresi kelabakan itu. Yang jelas, perlahan-lahan, Arthur berpindah posisi—bergerak dengan luncuran kecil sepatu seluncurnya. Sedangkan Nesia menarik Arthur dari arah depan, sembari perlahan demi perlahan, bergerak ke belakang.

"Tidak apa-apa, Senior," ujar Nesia sembari tertawa lebar, "Gerakkan kedua kakimu. Ini sangat menyenangkan!"

"Ti-tidak mau. Le-lepaskan, dasar cewek!" ujar Arthur yang membuat Nesia merasa geli. Karena bersamaan dengan berucap demikian, Nesia rasakan Arthur justru semakin menggenggam erat dan kuat kedua telapak tangan Nesia.

"Ayo, kau pasti bisa. Kau tidak akan jatuh, aku akan memegangimu!" Nesia tertawa.

"Lepaskan!" Arthur masih sibuk menatap kedua kakinya dan berusaha menyeimbangkan tubuhnya untuk tetap berdiri tegak.

"Kalau kulepaskan sekarang, kau akan jatuh lho."

"Ck! Ini salahmu!"

Nesia makin tergelak, "Makanya, kau harus bisa. Ayolah. Aku akan tetap memegangi tanganmu."

Meski bersikap demikian tsundere, namun perlahan-lahan Arthur menggerakkan kedua kakinya. Memang tidak mudah. Berkali-kali ia kehilangan keseimbangannya, di mana saat itu terjadi, Nesia segera menghambur ke arahnya dan memeluknya. Lantas gadis itu kembali memegangi kedua tangan Arthur, sebagai bantuan penyangga keseimbangan pemuda itu.

Arthur tampak begitu cemas dan tak yakin, namun di saat yang sama, juga tampak penasaran. Kedua matanya terus menatap ke kedua kakinya yang perlahan-lahan melangkah ringan di permukaan es. Wajahnya tampak begitu memerah—pasti karena demam yang tadi dikatakannya, pikir Nesia.

Secara perlahan-lahan, Nesia melepaskan pegangan tangannya—tanpa Arthur sadari karena pemuda itu tampak begitu terfokus menatap kedua kakinya. Perlahan, Nesia menjauh beberapa jarak di depan Arthur.

Dan sebuah senyuman kecil tersemat di bibirnya saat menatap bahwa, perlahan tapi pasti, Arthur mampu menggerakkan kedua kakinya dengan lancar. Meskipun belum bisa dikatakan meluncur—karena hanya sebatas berjalan tertatih di atas permukaan es—, tapi itu sebuah perkembangan, 'kan?

"Lihat? Kau bisa melakukannya," ujar Nesia sembari menepukkan sekali kedua telapak tangannya.

Arthur mendongak dan pemuda itu nampak terkejut—seperti baru menyadari bahwa ia tengah berjalan dan berdiri tanpa sokongan kedua tangan Nesia.

Lantas pemuda itu tampak menghela napas berat, "Tentu saja. Ternyata tidak sesulit yang kubayangkan—mudah sekali. Aku yakin bisa melakukan teknik-teknik berat dari olahraga ini hanya dalam waktu beberapa jam saja."

Dan senyum Nesia meluntur bersama dengan kedutan keki ujung matanya. Lantas gadis itu kembali mengingat bahwa pemuda di depannya ini tidak akan mau mengakui kelemahannya bahkan sampai ia mati. Dan seolah akan benar-benar mati jika ia mengucapkan barang satu kata terimakasih.

"Lagipula—"

"Hei, Dude! Kau sudah bisa meluncur, ya?"

Dan Alfred datang. Dari arah belakang Arthur. Dengan suara ceria dan riangnya. Niatnya sih ingin memberikan salam a la pertemanan para laki-laki—yakni, menepuk punggung. Tetapi sepertinya terlalu kuat, menghantam punggung dari Arthur yang tak hanya terkaget mendengar teriakannya, tetapi juga tidak siap untuk kehilangan keseimbangannya.

Dan… Brukh!

Nesia hanya tertawa membayangkan betapa rasanya Arthur merasakan batang hidungnya membeku saat itu juga, ketika wajah itu mencium permukaan es dengan tidak begitu elitnya.

-oOo-

Setelah dari wahana ice skating, Nesia kira mereka akan segera pulang. Pada pukul 12 siang, ternyata, mobil Arthur meluncur ke arah yang justru berlawanan dengan arah di mana mereka datang. Dan sepertinya pemuda itu benar-benar tengah kesal dengan Alfred, hingga ia sempat langsung menjalankan mobilnya bahkan sebelum Alfred masuk ke jok belakang. Meski merasa geli, Nesia memaksa Arthur untuk berhenti—sekalipun Natalia sepertinya tampak lega dengan tindakan Arthur yang meninggalkan Alfred itu. Dan Senior Alfred berlari tergopoh-gopoh menempuh jarak sekitar 200 meter untuk mencapai mobil Arthur yang berhenti di depan sana.

Perjalanan kembali berlanjut, di mana sebagian besar diisi oleh perang kata-kata makian dan hinaan antara Arthur dan Alfred. Natalia tampak terdiam menatap ke arah luar jendela mobil dengan pandangan datarnya. Sedangkan Nesia juga tampak tidak menghiraukan pertengkaran itu. Gadis itu menatap pemandangan di luar sana. Bagaimana pemandangan silih berganti dari gedung-gedung bertingkat, menjadi perlahan-lahan berubah menjadi seperti pedesaan, kemudian gedung-gedung bertingkat lagi, kemudian sawah, ladang, kebun, dan seterusnya silih berganti.

Udara musim gugur yang dingin, tidak membuat kondisi di luar tampak buruk. Indah. Sungguh indah. Dan Nesia menyesal kenapa baru sekarang ia menyempatkan diri untuk menikmati liburan dengan berjelajah seperti ini.

Carolina Utara sepertinya tempat yang menyediakan begitu banyak tempat yang mampu menyegarkan mata.

Beberapa saat kemudian, gadis itu sedikit terheran ketika mobil Arthur melintasi sebuah papan di pinggir jalan yang intinya menyatakan bahwa mereka telah sampai di Kota Durham. Tetapi, Nesia tidak begitu heran ketika beberapa saat kemudian, tempat tujuan mereka yang kedua adalah Taman Sarah Duke.

Nesia selama ini hanya mengetahui dari website resmi situs pariwisata tersebut, itupun juga gadis itu tahu setelah ia membaca-baca mengenai informasi dari Duke University saat di Indonesia dahulu. Dan melihat gambarnya saja, Nesia sudah langsung memberikan tatapan mupeng dan berandai-andai seandainya ia berada di sana.

Dan siapa sangka, jika hari ini, di hari Minggu pagi ini, gadis itu menginjakkan kedua kakinya di Taman yang terkenal itu. Bukan mimpi—setelah ia meyakinkan dirinya sendiri dengan diam-diam mencubit keras punggung sebelah telapak tangannya. Ini nyata—kini, Nesia, secara fisik, berada di area Taman Sarah Duke. Benar-benar berada di sana.

Dan maaf saja, Nesia lupa untuk menjaga manner-nya ketika ia tanpa sadar sedikit mengangakan mulutnya sembari kepalanya yang menoleh ke sana dan ke mari.

Taman Sarah Duke sangat luas—catat: sangat luas. Mencakup sekitar 55 hektar, taman tersebut tampak begitu rindang, indah, nyaman, segar, dan apalah namanya sifat yang mampu membuatmu merasa tenang dan damai. Banyak pathway atau jalur bagi para pengunjung untuk berjalan-jalan santai menikmati area taman. Pohon, bunga, semak, rumput, dan berbagai jenis tanaman, tampak tumbuh di sana-sini, meskipun terdapat beberapa yang sudah mulai terlihat layu karena pengaruh musim gugur. Tetapi masih banyak kok, bebungaan yang tampak mekar, pohon yang tampak begitu rindang, dan semak yang tampak begitu lebat.

Beberapa jenis satwa juga terdapat di sana. Bebek-bebek berbulu putih atau kuning, tampak berenang-renang santai di kolam sana. Burung-burung aneka warna dan spesies, yang berterbangan di sana-sini, lantas hinggap di pohon ini dan itu. Kupu-kupu aneka ukuran dan warna. Bahkan Nesia melihat beberapa kelinci yang meloncat-loncat di area rumput di sana.

Intinya, serasa berada di surga—tidak, ini tidak lebay. Tapi memang, taman itu indah sekali. Sungguh.

Banyak terdapat pengunjung saat itu. Tampak berjalan santai, memfoto ini dan itu, terduduk atau berbaring santai di rerumputan, membaca buku, piknik dengan makanan dan tikar, atau bersantai di kedai atau kafe yang tersebar di sana. Anak-anak kecil yang dengan riang berlari-lari mengejar kupu-kupu yang terbang, atau duduk di pinggir kolam dan mengamati bebek yang berenang. Para kekasih yang tampak berduaan. Atau keluarga yang menikmati makan siang bersama. Bahkan Nesia melihat ada sepasang kekasih yang tengah melakukan foto pra wedding, di salah satu area taman tersebut.

Intinya, begitu semarak. Tenang. Tempat yang rasanya siap dan cocok untuk Nesia jadikan pelarian dari segala penat dan setres sekolahnya, nantinya.

"Hah! Harusnya kita ke sini pada waktu musim semi saja," gumam Alfred yang tampak berjalan santai di samping Natalia, "Kalau musim semi, akan ada tuh, konser atau bahkan pemutaran film di sini. Pasti seru," lantas pemuda itu menoleh pada Natalia, lantas tersenyum, "Ya gak, Nat?"

"Mati saja kau," balas Natalia datar sembari masih sibuk mengedarkan pandangannya.

"Senior Alfred, kau sering ke sini?" tanya Nesia penasaran saat melihat Alfred yang tampak memberikan ekspresi dan perilaku biasa saja terhadap semua 'pemandangan indah' yang mana Nesia membutuhkan waktu dua menit untuk teringat untuk menutup mulutnya yang menganga takjub.

Mereka kini tengah berjalan pelan-pelan di salah satu jalur taman. Karena jalur ini tidak begitu besar dan harus bersimpangan dengan orang lain pula, mereka berjalan beriringan. Di mana Alfred tampak 'menempelkan' diri pada Natalia, lalu Nesia berjalan di belakang mereka, dan terakhir, Arthur yang berada dua langkah di belakang sang gadis Indonesia.

"Haha!" Alfred tertawa, lantas mengacungkan jempolnya, "Tidak ada yang lebih mengerti Amerika Serikat daripada diriku!"

"Dasar idiot," gumam Arthur, mungkin masih kesal karena bahkan sampai sekarang, dia masih tampak memijit-mijit batang hidungnya.

"Apa yang ingin kau lihat di sini, katakan saja," Alfred tertawa, tak menghiraukan ucapan Arthur, "Taman? Fitur air? Bebek dan satwa lain? Shade gardens? Toko suvenir? Kedai? Kafe? Apa saja!"

"Bagaimana jika tunjukkan aku tempat untuk menguburmu hidup-hidup?" ujar Natalia dengan nada yang sepertinya menunjukkan betapa terganggunya gadis itu dengan semua celotehan Alfred.

"Oh? Ada! Tentu saja ada, Natty!" Alfred tertawa, lantas pemuda itu menempelkan sebelah telapak tangannya di dadanya sendiri, "Kuburkan aku di hatimu saja—Ow!"

Nesia hanya meringis garing bercampur kasihan ketika menatap sebelah telapak tangan Natalia memukul keras kepala berhelai pirang itu. Dalam hati Nesia merasa prihatin pada Senior Alfred yang sepertinya menjadi objek bullying fisik di hari ini.

Setelah menjelajahi lebih dari separuh area taman, dan setelah mengabadikan beberapa pemandangan dalam rekaman kamera ponselnya, Nesia memutuskan untuk beristirahat di salah satu bangku panjang yang terdapat tepat menghadap sebuah air mancur besar bertingkat. Semak dan bebungaan yang tumbuh di sekitar air mancur, beserta beberapa kumbang dan kupu-kupu yang beterbangan, menjadikan tak ada yang lebih mengasyikkan selain melepas lelah di sini.

Nesia merasakan bahwa ia tidak sendirian lagi di bangku panjang itu—ada seseorang yang baru saja terduduk di sebelahnya. Menoleh, kedua bola hitam kecoklatannya mendapati Arthur yang duduk, terdiam memandang ke arah air mancur yang mengeluarkan bunyi gemericik menyegarkan.

Nesia tersenyum kecil. Entah sejak kapan ia dapati bahwa hari ini, tidak seperti biasanya, ia dapati bahwa Arthur Kirkland bersikap sedikit lebih tolerable. Memang sih, sikapnya yang sok all mighty dan nada sinisnya masih melekat erat, tetapi setidaknya, sikap menyebalkan yang membuat harga diri siapapun tercabik, sedikit terkurangi hari ini.

Dan sepertinya, pemuda itu lebih banyak terdiam hari ini. Tentu saja kecuali saat dia merutuk dan memaki kesal Alfred di mobil sepanjang perjalanan menuju ke Taman Sarah Duke ini tadi.

"Aku hanya ingin kalian berdamai. Lihat, aku tahu bahwa kau sebenarnya baik, tidak seperti ucapan Arthur. Dan bagaimana jika Arthur sebenarnya juga baik, tidak seperti apa yang kau pikirkan tentang dia selama ini?"

Kembali terngiang ucapan Alfred sore hari dulu.

Mungkin, pada akhirnya, benar ucapan Alfred. Mungkin Senior Arthur tidak seburuk yang Nesia pikirkan selama ini—terlepas dari seluruh tindakannya yang memang patut membuat pemuda itu mendapat penghargaan sebagai orang paling menyebalkan sedunia. Mungkin, Senior Arthur memiliki sisi yang baik dan hangat juga, yang selama ini tidak pernah diketahuinya.

Seperti sekarang, Nesia rasanya masih belum bisa memercayai bahwa pemuda itu membiarkannya menumpang gratis di mobil mewahnya dan membawanya kesana-kemari.

Membuat hari Minggu nya terasa lebih menyenangkan—jauh lebih menyenangkan dari semua hari Minggu yang telah ia lewati di Carolina Utara ini.

"Ada yang salah dengan mukaku?" tiba-tiba Arthur melirik ke arah Nesia, membuat gadis itu tergugup—separuh terkejut dan separuh malu kepergok memandangi orang lain secara diam-diam begitu.

"Tidak," jawab Nesia, lantas tersenyum, "Hanya saja, aku heran, kenapa kita sekarang bisa akur seperti ini, ya? Hehehe."

Arthur mendengus geli, "PD sekali, sih. Baru saja aku berpikir bagaimana cara menceburkanmu ke kolam di depan sana."

O TUHAN!

Mencoba bersabar, Nesia mengalihkan topik pembicaraan, "Ngomong-ngomong, kenapa kalian bisa ke apartemenku? Maksudku, tahu darimana?"

"Kau lupa, dulu aku pernah mengantarmu sampai di depan apartemen waktu sore itu? Saat kau menangis dan terlihat seperti orang ingin bunuh diri, di jembatan saat itu?" Arthur menyeringai, "Lagian, apartemen biasa seperti itu pasti juga mudah diingat, kok."

Nesia langsung membuang muka dan mengerutkan dahinya dengan kesal, "Padahal baruuuu saja, kupikir bahwa kau adalah pribadi yang baik."

"Tentu saja. Kurang baik apa aku mengijinkanmu duduk di mobil Ford-ku. Kutebak deh, di Negerimu pasti tidak banyak yang memiliki mobil itu."

"Karena rakyat di Negeriku sibuk bekerja untuk perusahaan-perusahaan Negerimu yang berceceran di mana-mana."

"Berterimakasih lah, setidaknya kami membangun negerimu lewat investasi kami."

"Oh yeah," Nesia memutar bola mata, "Membangun kerusakan lingkungan kami, maksudmu?"

"Aturanmu saja yang terlalu longgar untuk mengatur bisnis di sana."

"Lihat?" Nesia melempar kedua tangannya ke udara, "Kita memang benar-benar tidak bisa akur, kau tahu?"

Dengan kesal, gadis itu beranjak dan menghampiri Senior Alfred yang tampak tengah berbaring santai di hamparan rumput tak jauh dari sana. Senior Natalia tampak terduduk tenang di sebelahnya, dengan kedua lutut yang ditekuk dan dagu yang terletakkan di atas tekukan lututnya.

Mengakhiri langkah terakhirnya dengan sedikit hentakan kecil karena kesal, Nesia segera bertanya dengan nada jengkel ke Alfred, "Senior Alfred, habis ini kita mau kemana, nih?"

Nesia harap sih, jawabannya adalah pulang. Karena selain hari sudah mulai sore, juga karena ia telah lelah fisik dan mental. Debat kecilnya dengan Arthur barusan seolah menjadi api yang melalap habis semua keindahan dan kedamaian taman ini.

Tetapi nyatanya, alih-alih pulang, Alfred mengajak mereka untuk mampir ke salah satu kedai yang ada di area taman. Pemuda itu mengeluh lapar dan sedang sangat menginginkan untuk memakan hamburger ukuran jumbo (di mana hal ini langsung direspon oleh ekspresi enek oleh ketiga rekannya) berserta cola dan satu pack kentang goreng. Dan pemuda itu mendapatkannya di salah satu kedai yang ada yang terdapat di dekat pintu keluar Taman. Sedangkan Nesia hanya memesan satu sandwich dan jus apel, Arthur yang menikmati satu cangkir teh hangatnya, dan Natalia yang cukup puas hanya dengan satu gelas latte hangatnya.

Namun beberapa saat kemudian, seorang pelayan menghampiri meja mereka dengan membawa dua nampan, satu nampan yang berisikan es krim beraneka rasa dan tatanan, dan nampan yang lain berisikan hidangan coklat. Nesia menduga bahwa Alfred lah pemesan minuman dan makanan penuh lemak tersebut, tetapi betapa terkejutnya ketika pelayan itu mengatakan bahwa semua itu adalah pesanan dari Tuan Arthur Kirkland.

Sontak, pandangan mata Nesia dan Alfred (dan lirikan Natalia), mengarah pada Arthur. Well, siapa sangka jika sang British merupakan penyuka es krim dan coklat…

"Apa!" bentaknya judes dengan wajah memerah. Kelihatan gugup sekali ketika pemuda itu mengambil satu es krim yang tertata di sebuah gelas kecil, "Begitu aneh bagiku untuk menyukai makanan ini?"

Yang direspon oleh gelengan lemah, heran, dan mengalah, dari Alfred dan Nesia.

Acara makan kembali berlanjut. Alfred tampak semangat dan begitu menikmati hidangan cepat sajinya. Di mana Natalia tampak sibuk dengan ponselnya. Dan Nesia yang tampak tidak bisa terfokus untuk menikmati sandwich-nya, ketika matanya berkali-kali melirik diam-diam ke arah tumpukan es krim dan coklat di depannya.

Dan gadis itu bisa merasakan perutnya menggeliat. Cacing di perutnya seolah konser akbar, menuntut dirinya untuk mencicipi es krim dan coklat yang tampak lezat tersebut dan melupakan sandwich dan jus apelnya yang kini seolah bagaikan tampak seperti sampah. Rasanya tidak ada yang ingin ia lakukan selain menikmati hidangan tersebut—derita pecinta es krim dan coklat sepertinya, yang langsung melemah imannya ketika dihadapkan dengan godaan seperti itu.

Ia bisa saja membeli sendiri, tentu. Tetapi berapa biayanya? Kemarin malam ia sudah dinasehati Ayahnya panjang lebar karena menghabiskan jatah bulanannya bahkan hanya dalam waktu dua minggu saja.

Rasanya ia rela berpuasa selama seminggu ke depan, jika sekarang ia bisa menikmati kumpulan es krim dan coklat itu…

Seperti seorang yang mupeng liat makanan tetapi tidak dapat bahkan menyentuhnya, Nesia menjilat bibir bawahnya dengan tanpa sadar memperhatikan makanan itu lebih lama.

"Aku kenyang," suara Arthur seolah bagaikan halilintar yang menyambar telinga Nesia. Gadis itu begitu terkejut dan sungguh takut jika pemuda itu diam-diam memergokinya tengah memasang ekspresi bagaikan pengemis yang sudah tidak menemukan nasi selama tiga hari lamanya.

"Kenyang?" suara Alfred terdengar sedikit teredam oleh kunyahan hamburger, "Serius? Kau bahkan baru menyentuh satu gelas dari seluruh cup dan gelas es krimmu."

'Bahkan semua coklatmu masih utuh,' tambah Nesia dalam hati.

"Biar saja," jawab Arthur, "Ternyata es krim dan coklat di sini tidak enak."

"Lalu kenapa kau memesan sebanyak ini?" pandang Alfred heran.

"Urusan siapa? Uang siapa?"

"Ya sudahlah," Alfred mengendikkan bahu, sementara Arthur mendengus sembari melap mulut dengan serbetnya.

Membangun kepercayaan diri dan berdoa pada Tuhan untuk mengasihaninya, Nesia menengguk ludah, sebelum menoel-noel telapak tangan Arthur dengan telunjuk kirinya. Meringis lebar ketika Arthur memandangnya, Nesia berujar lirih, "Kau tidak mau semua ini?"

"Tidak."

"K-kalau begitu, boleh kumakan?" yeah… that sounds awfully pathetic. Tetapi mubadzir 'kan? Sayang banget 'kan, kalau dibuang begitu saja? Apalagi juga Arthur hanya menyentuh Cuma satu gelas es krim doang, kok.

Sejenak, Arthur tampak terdiam dan memandang seolah di kepala Nesia tumbuh dua buah tanduk. Tetapi pemuda itu lantas mengendikkan bahu dan bergumam, "Terserah."

Senyuman Nesia semakin melebar, "Benarkah?"

"Aku tidak akan mengelabuimu hanya untuk makanan tidak enak begitu."

"Asyik! Terimakasih!" Nesia segera mengambil satu cup es krim. Tetapi, sebelum memulai memakannya, gadis itu menoleh ke Arthur, "Tetapi, ini semua sudah kau bayar, 'kan?"

Hanya jaga-jaga saja. Dahulu Arthur 'kan pernah tuh, memesan banyak makanan di kantin sekolah, tetapi ternyata dengan uang Nesia lah semua itu harus dibayar. Uh.

"Kau pikir aku memanfaatkanmu untuk membayar semua itu?" gumam Arthur dengan tatapan terganggu.

Tidak seperti biasanya di mana Nesia langsung merasa keki dengan ucapan seperti itu, gadis itu justru tersenyum semakin lebar, "Terimakasih. Terimakasih. Aku makan, nih, ya?"

Rasanya begitu ajaib ketika Nesia mampu menghabiskan semua es krim dan coklat itu. Bahkan gadis itu sempat berlomba makan cepat dengan Alfred dan semua makanan cepat sajinya. Mereka terdengar ribut sendiri akibat suara kudapan Alfred dan seruputan colanya, juga tabrakan sendok dengan gelas es krim Nesia, juga suara Arthur yang sesekali memaki mereka sebagai remaja kekanakan dan berisik. Tetapi Nesia tidak peduli dengan semua itu—bahkan gadis itu hanya terkikik geli bersama Alfred ketika pengunjung yang terduduk di sebelah meja mereka, menyuruh mereka untuk tenang sedikit saja.

Yang jelas, perasaan Nesia begitu melambung. Udah mata terpuaskan dengan pemandangan indah, perut juga kenyang dengan sajian yang begitu mendewa lezatnya.

Heran sekali ketika Arthur tadi bilang bahwa es krim dan coklat itu sama sekali tidak lezat. Benar kata Senior Francis dahulu, pemuda British itu memiliki taste yang aneh—bahkan tasteless jika soal makanan dan kreativitas.

-oOo-

Setelah dari Taman Sarah Duke, mereka mampir sebentar ke sebuah kapel terkenal bernama sama, yakni Kapel Duke. Tidak terletak jauh dari Taman Sarah Duke, karena juga merupakan bagian dari Universitas Duke. Kapel itu menjulang tinggi—seperti bentuk lain dari gedung pencakar langit. Bangunan setinggi sekitar 64 meter itu, kata Senior Alfred merupakan gedung tertinggi di Durham. Arsitekturnya modern, tetapi memiliki kesan Gothic dengan bebatuan besar, puncak yang meruncing tajam, dan kubah yang unik. Di sepanjang jalam masuk terdapat jajaran pepohonan yang tampak begitu rindang.

Nesia bisa membayangkan bagaimana indahnya Kapel ini akan terlihat ketika malam hari. Seperti raksasa yang membuat semua yang disekitarnya tampak begitu kerdil.

Indah sekali.

Hanya sebentar mereka di sana, karena hari juga telah beranjak semakin sore. Perjalanan kembali berlanjut dengan mobil Arthur. Langit tampak menghitam dan angin berhembus makin kencang. Nesia kira mereka akan langsung pulang saja, tetapi lagi-lagi dugaan gadis itu keliru ketika Alfred memaksa Arthur untuk berhenti di salah satu mall yang terdapat di pinggiran kota Durham. Pemuda itu bilang bahwa ia ingin membeli sesuatu untuk perlengkapan Summer Play Klub Drama-nya. Saat ditanya dengan nada kesal oleh Arthur mengenai kenapa Alfred tidak mencari sendiri lain kali saja, American sejati itu hanya bilang bahwa, "Sekalian saja kenapa, sih?"

Sebenarnya, berbelanja juga bukanlah hobi Nesia. Gadis itu lebih suka melakukan kegiatan out door dan sight seeing daripada window shopping. Kebanyakan perlengkapan baju dan aksesorisnya juga dibelikan oleh Ibu atau teman-temannya. Karena jujur saja, Nesia akan mudah sekali merasa lelah dan bosan hanya dengan berjalan-jalan mengitari toko demi toko. Itulah mengapa dahulu teman-temannya sering mengkritiknya sebagai gadis yang sama sekali tidak feminim dan tidak paham mengenai 'nature to be a woman' bullshit semacam itu.

Masak jadi cewek kudu suka dan betah belanja?

Senior Natalia tidak turut masuk—ia bertahan di dalam mobil sembari melepas lelah. Alfred berjanji tidak akan lama dan segera kembali—sekedar janji, karena pemuda itu masih tampak ribet dan bingung sendiri ketika harus memilih beberapa benda yang akan digunakan sebagai properti dramanya. Masuk ke toko yang satu, keluar, lantas masuk ke toko yang lain, lantas keluar, lalu masuk ke toko lain lagi, dan demikian seterusnya hingga kiamat—rasanya.

Dan Nesia hanya mengekori pemuda itu. Ini seperti sebuah ironi dan tragedi kau tahu? Nesia yang tampak lemas, sedangkan Alfred yang tampak semangat seperti ini. Kini mereka tiba di sebuah toko yang hanya Tuhan yang tahu, ke berapa. Alfred tampak berbincang akan sesuatu pada pegawai toko tersebut—mungkin membicarakan apa yang tengah diinginkan oleh pemuda itu. Sedangkan Nesia bersandar pada dinding kaca toko sembari melipat kedua tangannya.

Sekedar iseng dan untuk menahan kantuk, gadis itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling toko. Tidak ada yang menarik perhatiannya, sih. Pakaian. Aksesoris. Tas. Dan beberapa manekin yang ada di sana. Sedikit terhibur gadis itu ketika sebuah lagu kesukaannya terputar dan mengalun dari speaker toko.

Tetapi, pandangan gadis itu segera terhenti di satu arah. Di bagian di mana banyak perlengkapan musim dingin, terpajang. Sebentar lagi musim dingin. Pasti akan jauh lebih dingin dari musim gugur ini. Dan perlengkapan musim dingin Nesia tidak begitu banyak.

M-mungkin membeli satu-dua perlengkapan tidak akan membuat Ayahnya marah, 'kan?

Gadis itu segera beranjak dan menghampiri objek pandangannya. Banyak perlengkapan yang ingin dibelinya—sejujurnya. Mantel. Boots. Sarung tangan. Syal. Topi. Tutup telinga. Jaket. Sweeter. Karena tidak mungkin membeli semua barang itu kecuali jika ia ingin kena omel lagi Ayahnya, gadis itu mengambil satu buah tutup telinga berwarna hijau-kebiruan yang terpajang di sana. Aksen bulunya terasa halus dan lembut saat Nesai menyentuhnya. Sebuah snowman tergambar di masing-masing permukaan luar tutup telinga tersebut.

Nesia mencoba memasang penutup telinga itu ke kepalanya. Dan gadis itu segera tersenyum kecil ketika ia merasakan kenyamanan yang terasa. Pastilah ini bisa memberikannya kehangatan padanya saat musim dingin tiba nanti. 13 dolar… harga yang pasti ditoleransi oleh Ayahnya.

Gadis itu melepas tutup telinga itu dan membawanya, beranjak dari sana. Berniat untuk membeli benda tersebut dan membawanya ke kasir. Namun saat ia berbalik, ia nyaris menabrak Arthur Kirkland yang entah sejak kapan, berdiri di belakangnya.

"Senior!" cetus Nesia terkaget, "Aku tidak tahu kau ada di belakangku."

Arthur hanya terdiam dan tidak merespon, masih melanjutkan apa yang dilakukannya. Berdiri di salah satu bagian yang memajang berbagai macam jenis syal. Sebelah tangannya memilah-milah kain syal, mengusap-usap jemarinya seolah merasakan kelembutannya, lantas beralih ke jenis kain yang lain.

"Kau ingin membeli syal?" tanya Nesia.

"Tidak, aku ingin membeli rok," jawaban yang sarkastis.

Nesia menghela napas, "Aku 'kan hanya bertanya."

"Pertanyaanmu itu retoris sekali. Jelaslah aku ingin membeli syal," ujar Arthur.

"Sebaiknya kau pilih saja yang berbahan pashmina, atau wol, atau katun, atau kain kasmir. Aku jamin, itu hangat sekali jika dipakai saat musim dingin," Nesia tersenyum lebar, "Soalnya dahulu aku pernah ada pelajaran Tata Busana saat SMP dan mendapat tugas untuk membuat syal handmade," tambahnya dengan tidak penting.

Arthur tampak terdiam. Ekspresinya seolah-olah ia tengah memikirkan sesuatu. Membuat Nesia seketika sadar bahwa pemuda itu sama sekali tidak memiliki ide akan apa yang baru saja ia katakan.

Sebelah tangan Nesia lantas memilah-milah pajangan syal yang ada. Setelah beberapa saat, gadis itu segera mengambil satu syal berwarna coklat muda dari pajangan sana, "Nih. Ini dari kain katun. Hangat, kok. Coraknya juga lucu," Nesia terkikik geli melihat gambaran Hello Kitty yang bertebaran di kain syal itu.

"M-Mana mungkin aku memakai syal seperti itu, sih," ujar Arthur dengan nada tersinggung.

Nesia menyerah, lantas mengambil kain syal yang lain, "Ini dari chiffon. Tidak begitu hangat, sih. Tipis gini… tapi lembut banget, lho—Eh, tapi ini lebih lucu, deh," gadis itu mengambil syal yang lain, berwarna merah muda, "Katun juga. Tapi warnanya cerah dan seger banget, ga, sih? Eh ini juga bagus," lantas mengambil yang lain lagi, "Hm, meski agak mahal sih karena dari kapas organik sepertinya. Tetapi lucu dan ramah lingkungan."

Dan Arthur hanya terdiam sementara Nesia mengambil-mengembalikan-mengambil syal-syal yang terpajang di sana. Entah sejak kapan gadis itu peduli akan apa yang akan dibeli dan dipakai oleh Arthur—orang yang selama ini tidak mempedulikan apapun selain bagaimana caranya menistai harga diri Nesia, untuk mampu bertahan hidup.

"Eh, ini bahannya dari pashmina," Nesia menarik satu syal berwarna merah hati, dari pajangan rak. Sebuah syal sulam dengan beberapa gambar snowman putih yang bertebaran di sana-sini, "Aku jamin, deh. Syal jenis ini lembut dan hangat banget. Cocok dipake saat musim dingin," ujar gadis itu sembari tersenyum lebar dan menyodorkan syal itu pada Arthur.

Tetapi, ketika Arthur hanya tampak terdiam memandang syal itu, Nesia memutuskan untuk bertindak sendiri.

Gadis itu mendekat hingga jarak antara keduanya bahkan tidak lebih dari dua jengkal tangannya. Dengan sedikit berjinjit, tanpa meminta ijin dari Arthur, Nesia segera memakaikan syal tersebut ke leher Arthur dengan style pemakaian a la fashion scarf.

Tanpa menyadari bahwa tubuh yang berhadapan dengannya terlihat sedikit menegang.

Mengurangi jarak di antara mereka, Nesia tersenyum sembari menatap Arthur, "Lihat? Cocok sekali denganmu," ucapnya.

"O-oh… begitu…" gumam Arthur lirih sembari menghela napas berat. Jemari tangannya tanpa sadar menyentuh lilitan syal tersebut di lehernya.

Nesia menaikkan sebelah alisnya, "Apakah kau benar-benar tengah merasa tidak enak badan, Senior? Wajahmu memerah tuh," Nesia kembali maju dan berniat menyentuhkan sebelah telapak tangannya ke dahi Arthur, tetapi segera ditepis oleh Arthur yang langsung berjalan menuju ke arah kasir.

Nesia hanya menatap heran, lantas menghela napas sembari mengendikkan bahu.

Dan Nesia mengucap syukur ketika setelah itu, mereka benar-benar pulang. Hari sudah gelap ketika mobil Arthur kembali meluncur di jalanan. Bahkan tetes demi tetes gerimis telah membasahi sekitar, membuat wiper mobil bergerak-gerak untuk menjernihkan pandangan sang pengendara. Berbeda dari sebelumnya, kali ini suasana mobil terasa lebih tenang. Senior Natalia yang memang tidak banyak bicara dan hanya menatap ke arah luar jendela mobil, Senior Alfred yang terdengar mendengkur lirih—tertidur dengan pulas di jok belakang dengan dua kantung belanjaan yang terdapat di sekitar kakinya. Nesia yang juga tengah menahan kantuknya, dan Arthur yang terdiam fokus menyetir mobil dengan sebelah tangannya, dengan tangan yang lain tampak menyangga pelipisnya—kelihatan sekali jika pemuda itu merasa lelah. Selain suara dengkuran lirih Alfred dan musik DVD yang mengalun lirih, tidak ada suara lain yang mengisi suasana yang bisa dibilang cukup sepi itu.

Natalia adalah pihak pertama yang sampai di kediamannya. Nesia dan Arthur mengucapkan selamat malam kepada gadis itu—di mana Nesia merasa bahwa waktu sehari ini ia habiskan tanpa mengenal siapa Natalia lebih jauh (demi Tuhan, gadis itu lebih menyeramkan daripada Arthur saat pemuda itu marah besar). Senior Alfred membuka mata dan menyempatkan diri untuk mengantarkan Natalia hingga ke pintu depan rumahnya—berlari-lari kecil sembari menudungkan mantelnya ke atas kepala mereka berdua.

Melihatnya, Nesia tersenyum dan tanpa sadar berucap, "Mereka tampak manis sekali, ya?"

"Kau tidak akan bilang begitu saat melihat Natalia mengacungkan sebuah pisau dan mengancam memotong leher si Idiot itu," Arthur menyahut lirih dengan nada lelah.

Nesia menoleh heran dan sedikit ngeri, "S-sebegitunya…"

"Hm. Itulah alasannya mengapa aku tidak bisa membiasakan diri dengan gadis itu. Menyeramkan, sih."

Informasi mengejutkan, eh? Arthur Kirkland takut sesuatu? Nesia pikir pemuda itu bahkan tidak takut pada Tuhan sekalipun.

"Tetapi Senior Alfred sepertinya tampak begitu menyukainya," Nesia tersenyum, "Sedikit heran juga sih, saat berpikir kenapa kau terlihat biasa-biasa saja."

"Apa urusannya? Kenal dengan Natalia saja tidak."

"Bukan begitu," Nesia menatap Arthur dengan serius, "Kau tidak cemburu, gitu, Senior Alfred menyukai orang lain?"

Dan ekspresi Arthur bisa digambarkan seperti ini: =A=

"… Kau masih memiliki asumsi bodoh dan gila itu, ya?" gumam Arthur dengan nada tertekan, seolah menahan untuk tidak membanting benda di sekitarnya.

Nesia mengendikkan bahu, "Kupikir kalian kelewat dekat dan kelewat mesra untuk bisa dibilang sahabat," gadis itu menjulurkan lidah.

"Geez…cuci tuh, otakmu!"

Nesia hanya tertawa.

Tidak berselang lama, Senior Alfred kembali memasuki jok belakang dengan keadaan separuh basah kuyup—membuat Arthur segera memaki kesal karena pemuda itu membasahi kursi mobilnya.

Setelahnya, mobil kembali berjalan dalam keadaan sunyi. Senior Alfred begitu cepat tertidur kembali—membuat Nesia yakin bahwa pemuda itu tengah merasa sangat lelah. Dan Nesia memutuskan untuk memecah kesunyian ini dengan membuka obrolan dengan Senior Arthur. Selain karena Nesia tidak mau tertidur di mobil orang, juga Nesia tidak ingin jika Arthur tetap mengantuk dan membuatnya kehilangan konsentrasi di tengah cuaca gerimis seperti ini dan membuat pada akhirnya, nyawa mereka dipertaruhkan.

Nesia berdehem lirih, sebelum berbicara, "Senior Arthur, terimakasih atas hari ini," ujarnya tulus sembari tersenyum. Dalam hati, Nesia tidak pernah membayangkan bahwa akan datang hari di mana ia mengucapkan terimakasih kepada Arthur yang tidak pernah ia bayangkan akan berbuat secuil kebaikan padanya sampai kapanpun.

"Aku merasa senang sekali hari ini," lanjutnya lirih sembari menghirup napas dalam-dalam.

Jujur kok. Meskipun melelahkan, tetapi itu sebanding dengan semua kesenangan yang sudah didapatkannya. Perasaannya kini terasa begitu ringan, pikirannya menjadi lebih terbuka, dan semua terasa menyegarkan—relaxing. Ini adalah pertama kalinya ia berlibur di Carolina Utara. Dan meskipun liburan pertamanya dihabiskan dengan daftar orang yang sama sekali tidak ia duga, tetapi perasaannya tetap melambung.

Senang.

Apalagi tadi Nesia sempat dengar dari Alfred bahwa Arthur-lah yang mengusulkan liburan ini. Dan pemuda itu pula yang membawa mereka ke apartemen Nesia dan menjemput gadis itu. Nesia yakin, semua yang telah dilakukan Arthur hari ini bisa membuat dirinya berubah pandangan mengenai pemuda itu. Siapa tahu ini sebagai awal langkah atau inisiatif Arthur untuk memperbaiki hubungan mereka? Yah. Siapa tahu. Jika ya, Nesia dengan senang hati menerima.

Lagipula, tidak ada salahnya untuk menambah teman baru, 'kan?

Sekarang gadis itu yakin, pemuda itu tidak seburuk yang ia bayangkan. Arthur bisa menjadi baik dan peduli—seperti kata Alfred. Hanya saja Nesia harus perlu merubah sikapnya untuk tidak mudah emosi dan tersinggung dan tersulut amarahnya—mungkin gadis itu bisa mencoba bersikap oblivious seperti Alfred? Meskipun itu tidak mudah, tetapi ia akan mengusahakannya.

Lagipula, tidak adil, 'kan, jika hanya Arthur yang berusaha memperbaiki semuanya sedangkan Nesia tidak melakukan apa-apa?

"Aku hanya sedang merasa bosan dan ingin liburan," jawab Arthur setelah pemuda itu tampak terdiam lama, "Alfred ingin mengajak Natalia—dan aku tidak mau menjadi kambing congek di antara mereka."

Nesia menahan tawa mendengar ucapan Arthur yang sangat kontras dari pernyataan Senior Alfred, "Jadi kau mengajakku untuk menjadi kambing congek bersamamu?"

"Sudahlah, diam saja kau."

Tertawa lirih, Nesia menyahut, "Seperti sebuah keajaiban, rasanya," gadis itu tersenyum sembari memberi pandangan seolah ia tengah mengulas sesuatu, "Karena… aku ingat sekali, baru dua hari yang lalu aku mendapat telepon saat siaran H-Radio mengenai cara untuk melupakan sejenak permasalahan. Dan hari ini, herannya, aku tiba-tiba mampu melakukan semua saran yang kusebut sendiri. Ice skating, makan es krim dan coklat, pergi berlibur…" Nesia menoleh ke Arthur, lantas tersenyum lebar, "Ajaib sekali, 'kan?"

Arthur tampak berdeham lirih, tetapi ia tetap terdiam, tanpa memberikan respon apapun pada Nesia.

Menyadari bahwa kalimatnya seolah dianggap angin lalu dan tidak penting, Nesia kembali berujar, "Kau tahu? Mungkin aku sudah salah sangka padamu selama ini."

"Tentu saja."

Sabar, Nes…

"Kau tidak seburuk yang kubayangkan."

"Aku tidak tahu harus merasa tersanjung atau justru terhina, dengan ucapanmu itu."

"Haha. Harus tersanjung, dong. Karena kini nilai dirimu di mataku naik beberapa persen."

Meski samar, tetapi Nesia mampu melihat Arthur tampak tengah menahan tawa, "… Kau benar-benar cerewet dan berisik sekali."

"Kau menyebalkan sekali," Nesia tertawa.

"Kau barbar dan tidak feminim sekali."

"Kau tidak gentleman sekali."

"Hei, tarik yang satu itu. Kurang gentle bagaimana aku mengajakmu kesana-kemari hari ini?"

"Dan kau tidak ikhlas sekali," Nesia tergelak, hingga ia mendongakkan kepalanya saking merasa gelinya.

Arthur tampak mendengus, "Dasar tidak tahu terimakasih."

"Dasar tidak tahu terimakasih," ulang Nesia terkikik, lantas menjulurkan lidahnya.

Mereka masih saling lempar hinaan satu sama lain, sesekali Nesia tertawa dan Arthur yang mendengus menahan geli. Puji syukur Alfred tidak terbangun oleh suara ribut mereka.

Tidak berapa lama, mobil Arthur berhenti tepat di depan Green Brooklyn yang mulai tampak sepi karena selain hari sudah larut, juga karena kondisi tengah gerimis. Sebelum turun dari mobil, Nesia mengeluarkan dompet dan menarik beberapa lembar dolar dari sana, "Ini, untuk tutup telinga tadi," ujar gadis itu, berniat mengganti dolar yang Arthur keluarkan untuk membayar tutup telinga yang dibeli Nesia.

Alasannya sih, sekalian saja dan juga, "Daripada nanti kau memakan tutup telinga itu karena tidak mampu membeli makanan untuk seminggu." Yang mana kalimat itu jelas sekali seolah ingin menyatakan bahwa 13 dolar adalah harga permen bagi Arthur dan harga biaya makan seminggu bagi Nesia.

"Bawa saja," ujar Arthur, "Kau pikir aku dirimu, menghargai uang hanya 13 dolar?"

Orang ini….

"Tapi aku tidak mau," Nesia bersihkeras, "Kau sudah membayar tiket ice skating, tiket Taman, bahkan mentraktirku makan es krim dan coklat sebanyak itu. Aku tidak mau jika harga diriku semakin minus di matamu."

"Apa bedanya, sih?" ujar Arthur, "Sudahlah, simpan saja."

"Tidak."

"Simpan."

"Tidak mau," Nesia menaruh lembaran dollar tersebut di dashboard mobil Arthur. Lantas gadis itu cepat berbalik dan hendak membuka pintu mobil, sebelum ia menoleh kembali ke arah Arthur ketika merasakan sebelah tangannya tertarik.

Dan ia mendapati Arthur yang menatapnya.

Tepat. Menatap. Kedua matanya.

Hitam bertemu dengan emerald dalam satu pandangan.

Entah apa yang tengah dipikirkan atau hendak dikatakan Arthur, gadis itu tidak mengerti. Yang jelas, ia mendapati Arthur menatapnya. Sebelah tangannya tergenggam oleh telapak tangan itu. Ekspresi pemuda itu seperti berada antara ragu dan bingung—seperti tengah memutuskan dua pilihan yang cukup sulit.

Namun perlahan tapi pasti, Nesia dapati bahwa Arthur tidak lagi terdiam.

Kepalanya bergerak maju. Perlahan dan sedikit tersendat— tapi pasti, Nesia bisa lihat adanya keraguan di gerakan kepalanya itu. Genggaman tangan Arthur di tangannya terasa semakin menguat, seolah menahan Nesia untuk pergi dari sisinya. Dan gadis itu tidak tahu apa yang harus ia lakukan, ketika emerald itu mulai tampak sedikit demi sedikit, tersembunyi di balik kelopak matanya.

Nesia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Ia tidak mengerti. Ia tidak paham.

Ia bahkan tidak mengerti kenapa ia tidak segera mendorong Arthur, berbalik, dan keluar dari mobil pada saat itu juga.

Bahkan gadis itu tidak mengerti akan kenapa ia merasa gelisah—begitu gelisah. Mengapa rasanya jantungnya berdetak keras, sangat keras, ketika ia mendapati Arthur sedikit memiringkan kepalanya.

Dan Nesia tidak tahu setan apa yang berhasil menduduki kelopak matanya sehingga kelopak mata itu perlahan-lahan menutup, begitu jarak antara kepalanya dengan kepala berhelai pirang itu tidak lebih dari panjang jari telunjuknya.

"HOAAAAHHHMMM!"

Dan Nesia tahu bahwa ia harus mengucapkan syukur pada Tuhan yang membuat Senior Alfred menggeliat dan menguap lebar pada saat itu. Membuat uapan kantuk yang lirih itu, terdengar bagaikan halilintar yang memberi kejutan listrik jutaan volt pada Nesia—dan mungkin juga pada Arthur, karena pemuda itu langsung menarik diri dan menghempaskan tubuhnya pada sandaran kursi.

Helaan napas dalam dan berat-berat terhembus dari hidung dan mulut mereka. Puji syukur lampu mobil Arthur diredupkan atas permintaan Alfred tadi yang menyatakan tidak bisa tidur jika terlalu terang. Karena jika cahaya cukup terang, Alfred pasti akan mampu melihat betapa meronanya wajah dua orang di depannya itu.

"Eh? Sudah sampai di apartemenmu, Nes?" gumam Alfred sembari mengucek-ucek sebelah matanya, sembari memandang ke arah luar jendela. Gedung Green Brooklyn seketika tampak di depan sana.

Menghela napas dalam-dalam, Nesia segera menyahut cepat—terlalu cepat hingga ia terdengar seperti orang yang tengah begitu gugup, "I-iya. Aku sudah sampai. Ehehe—" bahkan tawanya terdengar payah begitu.

Tidak tahu harus bagaimana dan terlalu malu dan gugup, Nesia segera berbalik dan membuka pintu mobil. Setelah menyahut mantelnya dari sandaran kursi, gadis itu segera berujar, "Terimakasih atas hari ini. Hati-hati di jalan. Oke?"

BLAM.

Dan Nesia segera berlari menuju apartemennya. Tetapi bukanlah gerimis itulah yang membuatnya ingin berlari cepat untuk sampai di apartemennya. Bukan untuk berlindung dari hujan. Bahkan ia tak sempat memakai mantelnya yang hanya ia peluk dengan kedua tangannya, di dadanya.

Bukan gerimis itu.

Gadis itu hanya ingin mencari cara bagaimana meredakan degup jantungnya yang terasa menggila.

Dan malam itu, Nesia tertidur pulas karena kelelahan.

Tetapi, untuk pertama kalinya, entah bagaimana, wajah Antonio sama sekali bukanlah wajah terakhir yang ia bayang dan pikirkan sebelum ia memeluk alam mimpinya.

Bukan.


-oOo-

Next Chapter:

"Apa yang akan kau lakukan saat itu?"

"… Apa maksudmu?"

"Grrr... Kau! Kau me-mendekatkan wajahmu dan—dan memejamkan mata-mu!"

.

"Aku sangat penasaran kenapa kau begitu menyukai Carriedo? Apa karena dahulu aku 'menjodohkan' kalian saat MOS?... Kenapa bukan dengan Lovino? Dia 'kan selalu baik padamu."

.

"Kau tahu? Aku sendiri tidak tahu bagaimana aku bisa menyukai Antonio… Terkadang kau tidak membutuhkan alasan untuk menyukai seseorang, 'kan?"

-oOo-


Saya pengen menyisipkan AmeBelarus biar si Alfred ga beneran terus-terusan dikira homoan ama Arthur oleh Nesia :p Oke, saya menikmati momen2 mengetik chapter ini karena suasana liburannya ngalir terus ke kepala saya /mahasiswabebasUTS/


Pojok Review. Monggo~

Si penelpon misterius itu Arthur, ya?/ Ahaha. Gak tahu? Padahal menurut saya ga misterius-misterius juga sih :p Nanti saya kasih scene lagi soal dia deh /wink /Saya merasa kasihan pada Antonio/ Akhirnya! /tebarconfettibuatAntonioyangselaludicerca/ /Minta doa buat UN ya/ Sip :D Barusan saya ke dokter /salahwoi/ /Pairing BelaNesia menarik juga/ … /hanyabisaterdiamkarenamerasaabsurd/ /Saya penasaran akan siapa yang nelpon dan siapa yang ngirim surat/ Harusnya udah ketebak, sih. Jika diperhatikan dan dinalar baik-baik :p /LoviNes-nya manis/ Iya, saya kasih gula kualitas impor sih (?) /Hubungan Arthur dan Nesia bakal membaik, ya?/ We'll see /gamaukasihspoler/ /Bikin crossover aja jika Anda berminat/ Haha. Satu fandom aja udah bingung bikin plotnya ;_; /Aku ketinggalan banyak fic ini/ Really? Sorry banget. Inilah dilemma saya antara update cepet atau enggak /dilemmasepertimemilihantaraduahati/ /Ngarep terlalu tinggi itu pasti jatuhnya sakit banget, tapi ga papa kalau DIS mau ngulurin tangan padaku/ Anda tahu apa? Komen Anda adalah yang paling nggombal yang pernah saya dapat :D 'Get DIS' Heart'-Mission: 100% complete! /Makin galau aja ceritanya/ Tenang aja. Ga bakal lama. Bentar lagi kita akan kembali ke jalur normal :D /Makasih Lovi udah membalaskan dendamku pada Tonio/ D: /menataptakpercayaalaantagoniskepergoknamparprotag onis/ /Arthur tsundere banget/ :D /Mr. Sender itu Arthur atau Lovino?/ Saya pikir saya udah kasih clue yang cukup.. Tapi okelah, saya kasih lagi kapan2 (?) /UKNes masih sedikit banget/ Disini udah banjir UKNes /Ternyata Tonio jelly ama Lovino/ Lol /Aku ga bisa move on dari DIS/ Asik banget baca komenmu. Ajarin nggombal dong, situ akan saya ajarin ngalay /plak/ /Baca dari chap 1 tapi baru review sekarang/ Dan usahakan menjadikan review sebagai kebiasaan tiap abis baca ya :D /Lovino cemburu, ya?/ Ga, itu aslinya Lovino pengen segera sampe rumah karena kebelet ke toilet. Tapi Tonio datang dan memperlambat perjalanannya—jadinya Lovino frustasi dan mukul Tonio /plottwist/ /Aku ga nemuin typo/ /sujudsyukur/ Padahal itu reread-nya ga 100% lho /Akhirnya Nesia bakal seneng dan happy-happy-an/ Yay! /Nesia kok agak cengeng, ya?/ Maklum, dia udah ngarep setinggi langit dan belum lama tahu kalau si Oyabun udah kesengsem Bella. Well yeah, semua butuh proses /Lovino yang mafia mode keren!/ :D /Kapan update chap 24?/ Sekarang :p /Kapan nih Ludwig muncul?/ Berhubung dia bukan tokoh utama, kemunculannya belum saya tentukan :p /dor /Kok lama updatenya? Mati? Cepetan napa update-nya?/ -_- Saya ga mati, hanya masih tersesat untuk bisa kembali dari hatimu /plak/ Jika hidup saya hanya untuk bikin dan update fic ini, pasti saya akan update setiap hari, Qaqaaaa :*


Tolong perhatikan teori di bawah ini baik-baik :D

Jika faktor-faktor lain tetap dan sama, banyak dan cepatnya review kalian berbanding lurus dengan kecepatan update saya (Storm, 2013).


Terimakasih

DIS

Ps: Ada yang minat (lagi) untuk bikinin saya fanart? :D /Alfred's puppy eyes/