Hey, dude. Belakangan RL saya tidak begitu ribet, jadi sesuai dengan teori (?) yang saya ciptakan sendiri, saya update fic ini dengan sangat cepat sesuai dengan cepatnya pertumbuhan angka review yang saya dapet :'D Thanks!


Tidak ada hari yang paling membekukan selain hari-hari ketika musim dingin datang.

Musim tersebut menandai berakhirnya masa di mana pohon kehilangan dedaunannya yang layu mengering. Rontoknya dedaunan di musim gugur telah tergantikan dengan melayangnya butiran-butiran kristal es dari langit. Melayang lirih di udara dengan tampak begitu ringan, terombang-ambing oleh angin, lantas jatuh menutupi apapun yang disentuhnya, dengan warna putih lembutnya. Pohon, atap rumah, jalan, dan semua hal tampak lebih monoton dengan warna putih akibat tumpukan benda bernama salju. Langit yang kelabu di musim gugur, seolah tidak membaik ketika musim dingin datang dan membuat bahkan rasanya sulit mendapatkan sinar matahari di kala pagi. Pengaruh pemanasan global sepertinya berdampak pada munculnya fenomena populer yang bernama perubahan iklim—di saat musim dingin seperti ini pun, hujan terkadang datang mengguyur.

Dingin sekali. Sungguh. Bagi orang yang tidak terbiasa, musim dingin bisa menjadi siksaan—sekalipun pemandangan akan turun dan melayangnya salju bisa menjadi poin plus tersendiri bagi musim ini ketimbang musim yang lain. Jika musim gugur membuat sebagian orang tidak ingin keluar rumah, maka musim dingin bisa membuat sebagian orang bahkan ingin berubah menjadi mamalia tertentu yang berhibernasi selama musim dingin tersebut berlangsung. Tidur. Bergulung selimut. Selamanya. Selama-lamanya—seandainya anatomi manusia sama dengan tupai misalnya.

Oleh sebab itulah, Annesia Saraswati ingin memanfaatkan liburan musim dingin ini untuk berdiam diri di kamar saja. Sempat ia ingin kembali ke Indonesia—meskipun di sana tengah musim hujan, setidaknya ia tidak harus memakai pakaian tebal dan berat bahkan jika ingin pergi ke toko sebelah saja! Tetapi Senior Alfred memintanya untuk tetap berada di AS, karena alasan yang sama juga, kompetisi belum berakhir dan sewaktu-waktu kehadiran Nesia pasti dibutuhkan. Dan tentu saja, Nesia tidak memiliki alasan untuk menolaknya.

Pengennya Nesia sih, selama liburan ini mereka tidak ada diskusi kelompok, sehingga ia bisa berdiam diri di apartemennya. Oke, ia akui bahwa ia senang menatap salju, tetapi ia lebih senang lagi jika ia memandangnya dari dalam ruangan yang hangat. Karena saat musim dingin baru dimulai saja, tubuhnya sudah merasa K.O. dan ia harus beristirahat selama seminggu penuh di apartemen. Oke, jadilah, seminggu waktu liburannya ia habiskan untuk beristirahat—bukan hal yang menjadi soal juga, sih, karena toh ia nyaman-nyaman saja gelundang-gelundung di ranjangnya yang empuk dan selimutnya yang hangat.

Tetapi rencananya untuk bersantai total dengan hibernasi seperti itu harus ia kesampingkan. Pertama, karena sebentar lagi menjelang Natal. Chau pulang ke Vietnam (gadis itu dengan semangat berangkat di hari pertama kuliahnya libur), meninggalkan Nesia, dengan Maria yang masih memiliki shift kerja di liburan musim dingin ini. Artinya apa? Dengan hanya dua orang saja, maka persiapan penyambutan Natal hanya dilakukan dengan mereka saja. Artinya apa? Hanya mereka berdua yang membersihkan apartemen, menyiapkan dekorasi, dan memasak makan malam saat perayaan malam Natal nanti. Artinya apa? Berat. Capek. Sulit istirahat. Apalagi Maria berjanji bahwa ia akan mengundang beberapa rekan kerjanya saat malam Natal nanti…

Artinya apa? Nesia rasanya ingin mati saja. Natal tahun ini sepertinya adalah Natal pertama yang harus ia lewati tanpa keluarga. Sedih!

Dan alasan kedua mengapa rencananya gagal adalah terkait kompetisi debat—alasan yang sama, tetapi yang selalu tak bisa ia sangkal. Seperti biasanya, Senior Alfred merupakan pihak yang paling bersemangat—dari awal. Ia selalu melakukan semua dengan menggebu-gebu, dengan serius, dengan teliti. Bahkan ia tidak memberikan waktu santai-santai kepada teman sekelompoknya bahkan di liburan musim dingin ini. Research ini itu, laporan ini itu, bimbingan dengan guru ini itu, diskusi ini itu, dan sebagainya. Tetapi rasanya berbeda. Jika dahulu Nesia akan giat mengikuti kegiatan bersama kelompoknya, maka sekarang rasanya…

Rasanya sekarang ia bahkan enggan sekali untuk membuka pesan dari Alfred di HPnya—takut jikalau isinya adalah undangan diskusi bersama.

Bukan, bukan Alfred yang menjadi sumber keengganan Nesia. Juga bukan karena Nesia sudah merasa bosan dan malas dengan kompetisi itu. Juga bukan sepenuhnya karena hawa musim dingin yang membuatnya malas menyeret kakinya keluar dari pintu apartemennya.

Tetapi karena sebab lain.

"UUURRRGGGHH!" geraman itu terdengar bersama dengan wajahnya yang tertutupi dengan kasar oleh sebuah guling putih.

Ah, kenapa bayangan pada malam seminggu yang lalu dengan Arthur Kirkland tidak pernah lekang, bahkan hingga sekarang.

Menyebalkan.


Axis Power Hetalia © Hidekaz Himaruya

Picture © Sakurazaka Ohime

I just own the plot of the story and I don't gain any commercial advantages by publishing this fic.

Warning: AU, Human Name, High School, OC, OoC yang mendewa, (highly possible) crack pairs, (a lil') Nesia-centric, but no Mary Sue/Gary Stu I assure you :D totally absurd.

Pairing: Anda bisa menebak sendiri mana yang main pairing, dan mana yang sekedar hints dan fans service :p

Ini murni dari pemikiran saya. Maaf jika kebetulan ada kesamaan ide karena setting gakuen sangat banyak di FHI. Itu tidak disengaja :D

Long Live FHI and Say NO to Plagiarism! Mari berkarya dengan hati dan imajinasi :D

Maju FHI!

Happy reading


Nesia tidak tahu harus bagaimana dan berbuat seperti apa. Rasanya ia ingin berteriak dan memukul sesuatu dengan kasar—tetapi apa atau siapa? Ia merasa dirinya pasti sudah gila, sudah tidak waras. Karena selama beberapa hari sebelumnya, ia bahkan tidak melewatkan satu haripun tanpa terbayang oleh satu orang yang justru selama ini menjadi kandidat pertama orang yang ingin dimutilasinya, jika ia adalah seorang psikopat.

Arthur Kirkland.

Menyebut nama itu dalam pikirannya saja, Nesia rasanya tidak tahu harus bagaimana. Oke, Arthur Kirkland memang masih menyebalkan. Ia masih sombong, sok, judes, belagu, suka nistain, dan semua sifat dan sikap yang selama ini sukses membuat Nesia yakin bahwa orang itu tidak bisa hidup tanpa membuat orang lain ingin mati saja. Tetapi jika biasanya Nesia menyikapi sikap setan Arthur itu dengan sikap setan Nesia pula (eye for eye, tooth for tooth!), maka kini Nesia bahkan tidak tahu lagi harus bagaimana bahkan jika ada Arthur di depannya.

Semua terasa membingungkan.

Peristiwa malam itu seolah menjadi kutukan yang membuat Nesia rasanya ingin bunuh diri saja. Ia tidak tahu mengapa peristiwa itu bisa terjadi—demi Tuhan, MENGAPA?! Apa yang dia pikirkan waktu itu? Apa dia sudah kelewat lelah hingga otaknya demikian bodoh? Apa waktu itu di matanya Arthur seolah berubah menjadi Orlando Bloom hingga Nesia bisa bersikap seperti itu?

Tidak heran jika Nesia masih kepikiran karena… k-karena, jika waktu itu Alfred tidak tiba-tiba terbangun, bisa saja 'kan, Nesia dan Arthur benar-benar telah berciuman—

HOEKH!

Membayangkannya saja Nesia rasanya ingin muntah. Mana mungkin banget 'kan, jika ciuman pertamanya harus dimiliki oleh orang yang justru ingin ia jadikan sebagai korban pertama jika ia nantinya berubah menjadi pembunuh?!

Hih!

Oleh sebab itu, wajar jika gadis itu selalu merasa jengkel dan marah pada dirinya sendiri yang kelewat gampang teringat peristiwa nista (baginya) itu. Ia gugup. Ia malu. Ia marah. Dan semua perasaan lain yang bercampur dan menjadikannya tidak tahu harus memilih perasaan yang mana. Harus bagaimana. Harus berperilaku seperti apa.

Karena, setelah itu, ia sangat merasa antipati jika bertemu dengan Arthur Kirkland. Jika dahulu hal itu dikarenakan ia takut harga dirinya didiskon untuk kesekian kalinya, tetapi kali ini karena alasan yang lain… Bahkan gadis itu sempat membolos kelompok diskusi beberapa kali. Mengambil jalur lain jika kebetulan pandangannya mendapati Arthur di jalan di depannya. Pura-pura tidak mengetahui keberadaannya. Dan semua sikap yang wajar diberikan seperti ketika orang tengah dikejar oleh penagih hutang—pengen kabur saja, gitu lho.

Seperti apa sikap Arthur Kirkland, Nesia juga tidak tahu. Dalam pikiran gadis itu sih, kemungkinannya ada tiga, (1) Arthur akan gugup, salting, nervous, dan apalah namanya, (2) Arthur akan semakin tsundere dan beringas memakinya, dan (3) Arthur akan menertawainya habis-habisan dan mengatakan bahwa 'Kau gampang banget dikerjain! Kau pikir aku beneran mau mencium gadis barbar sepertimu, hah? Hahahaha! Aku harap waktu itu aku merekam ekspresimu!' dan menyebarkan aib itu lewat media sekolah.

Dan entah kenapa, kemungkinan nomor tigalah yang menurut Nesia paling mungkin terjadi. Uh…

Karena simpel, tidak mungkin, 'kan, Arthur tiba-tiba beneran akan menciumnya seperti itu dengan dasar perasaan? Yuck. Menyejajarkan kata 'perasaan' dengan kata 'Arthur' itu seperti menyejajarkan kata 'setan' dengan kata 'surga', alias: tidak mungkin! Tidak pantas! Konyol! Orang menyebalkan dan tidak memiliki hati seperti itu mana mungkin mengenal apa yang dinamakan perasaan. Dan kalaupun punya, dari Hong Kong, Zimbabwe, Etiopia, orang seperti itu bisa memiliki perasaan pada Nesia? Kalaupun bisa, pasti perasaan itu jauh dari kata bagus.

Membayangkan Arthur yang selama ini selalu berbuat kejam kepadanya dan tiba-tiba melembek dan melembut pada Nesia, itu malah terasa mengerikan… Lagipula ini 'kan kehidupan nyata, bukan novel atau fiksi di mana sang antagonis bisa menjadi super-duper-eksta-eksekutif lembut hanya karena perasaan.

Jadi tidak mungkin, Arthur waktu itu hendak menciumnya dengan perasaan tulus. Pasti pemuda sialan dan licik itu memiliki tujuan jahat, keji, dan tidak berperikemanusiaan di balik sikapnya itu. Orang seperti itu pasti memanfaatkan tiap kesempatan yang ada untuk membuat Nesia merasa menjadi orang paling tidak berguna, pantas ditindas, dan eksistensi paling mubadzir di dunia.

Dan bodohnya, Nesia tidak tahu apa yang waktu itu ia pikir dan rasakan, hingga ia nyaris saja melepaskan keperawanan bibirnya pada orang yang justru menggunakan bibirnya sendiri untuk memberikan seringai merendahkan seperti itu.

Pasti waktu itu Arthur hanya berniat membuat lelucon konyol dengan mencuri first kiss seorang gadis, lantas menyebarkan aib itu, dan membuat Nesia jengkel setengah mati dan merasa ingin bunuh diri. Karena ayolah, bagi sebagian gadis (termasuk Nesia), ciuman pertama adalah hal yang indah dan patut diberikan pada orang yang 'sepantasnya'. Dan bagi orang selicik dan tidak punya hati seperti Arthur, tidak ada cara lain yang lebih ampuh dan bisa membuat seorang gadis menangis dan marah habis-habisan selain dicuri ciumannya.

Ya, pasti itu. Licik. Kejam. Sadis. Hih!

Sialan!

Dan sepertinya, dugaan Nesia terbukti bahwa Arthur Kirkland hanya berniat mengerjainya. Karena ketika pertama kali mereka bertemu (di mana Nesia terpaksa datang berdiskusi karena Alfred yang sepertinya tidak lagi mentolerir ketidakhadirannya dengan alasan apapun), Arthur bersikap biasa saja.

Tahu 'biasa' saja di sini bagaimana? Menghina, memaki, berteriak, menyindir, mengatai, menyeringai merendahkan, mendiskon harga diri orang lain, dan semua sikap dan sifat 'biasa' Arthur di mata Nesia. Karena, pada suatu hari, ketika Nesia tidak tahan untuk menahan penasaran sekaligus rasa dongkolnya, gadis itu bertanya, "Apa yang akan kau lakukan saat itu?"

"… Apa maksudmu?" tentu ini adalah kalimat Arthur.

"Grrr... Kau! Kau me-mendekatkan wajahmu dan—dan memejamkan mata—mu!" O Tuhan! Nesia yakin bahwa saat itu ia rasanya ingin mencakar wajah Arthur karena kesal pada dirinya sendiri yang tergagap demikian.

"… Pfft!"

"KAU TERTAWA?!"

Sisipkan seringai merendahkan di sini, "Kau harusnya lihat wajahmu sendiri waktu itu! Hahaha! Konyol sekali! PD sekali kau berpikir aku berniat untuk melakukan apapun dengan wajah jelekmu itu! Hahahaha!"

Tuh 'kan!

"Geez! Haha. Harusnya waktu itu aku pasang kamera pengintai di mobil atau apa. Haha! Ya Tuhan! You've successfully become a bloody laughing stock for me! Haha—Ow!" dan berakhirlah percakapan itu dengan Arthur yang bersusah payah melepaskan cengkeraman kedua tangan di lehernya.

Nesia seolah telah kehilangan akal sehatnya untuk mampu menyadari bahwa ia tengah melakukan usaha pembunuhan di lorong sekolah.

Harusnya gadis itu tidak kaget mendapat jawaban seperti itu. Orang tidak punya hati yang menganggap ciuman adalah hal yang sepele… Lebih baik mati saja! Kejam sekali mengerjai hingga seperti itu!

Tetapi…

Dan entah kenapa, mendapati sikap Arthur yang seperti demikian, Nesia untuk pertama kalinya, justru bersyukur dalam hati. Meskipun rasanya ia siap menggorok leher pemuda itu karena Arthur telah mengerjainya dengan kelewat kejam dan sadis… Tetapi tidak ada yang berubah dari hubungan mereka—tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Bayangan akan situasi yang canggung, gugup, dan serba salah, kini terbukti tidak terjadi karena terpeliharanya hubungan 'anjing dan kucing' antara keduanya.

Dan juga, karena Nesia tengah berusaha untuk membangun imej Arthur yang baik di matanya—bagaimanapun, pemuda itu telah memberinya hari berkesan seminggu yang lalu bersama Alfred dan Natalia.

Arthur bukan pribadi yang begitu buruk—Nesia berusaha meyakininya.

-oOo-

Memasukkan kedua tangannya ke dalam saku mantel putihnya, tubuh Nesia sedikit bergetar kecil.

Tiada yang paling merepotkan selain berada di luar saat malam musim dingin. Udara sangat membekukan, hingga Nesia berpikir bahwa ia seperti hidup di puncak Gunung Himalaya. Lebay sih, tetapi ia hanya merasa dongkol, karena sudah memakai pakaian tebal (mantel, syal, sarung tangan, tutup telinga, boots, dan celana jeans) yang serba ribet dan berat itu, tetapi udara musim dingin seolah punya cara tersendiri untuk menyentuh kulitnya. Hidungnya memerah. Hembusan napasnya membentuk uap di depan hidung dan mulutnya.

Kini ia tengah dalam perjalanan kembali ke apartemen, sehabis ke rumah Alfred untuk berdiskusi kelompok. Seperti yang Nesia duga, Alfred merupakan seorang elit yang bahkan rumahnya saja seperti istana. Nesia tidak berlebihan—sungguh. Ia pikir pemuda itu tinggal di apartemen atau apa. Nyatanya tidak. Dan Nesia juga tidak pernah menyangka bahwa Alfred memiliki seorang adik bernama Matthew—seorang pemuda pendiam dan santun (berbeda dengan Alfred yang cekikak-cekikik begitu) yang bersekolah di salah satu SMA swasta lain. Pantas saja Nesia tidak pernah melihatnya di Hetalia High.

Diskusi malam itu membahas persiapan kualifikasi tingkat region, yang akan mereka hadapi. O ya, tentu saja. Kualifikasi tingkat negara bagian (state) telah berlangsung beberapa hari yang lalu (ya, saat liburan musim dingin. Tak heran Alfred tak mengijinkannya pulang ke Indonesia), dan seperti Dewi Fortuna kelewat baik hati pada mereka, Hetalia High berhasil merebut posisi sebagai salah satu dari dua perwakilan untuk Carolina Utara. Perwakilan yang lain tentu saja sang pemenang tahun lalu, yakni SMA Jefferson yang mendapatkan posisi tertinggi dari hasil penilaian kualifikasi tingkat state tersebut.

Dan betapa saat itu Nesia sangat gembira, hingga ia langsung memberitahu kabar bagus tersebut kepada teman-teman dekatnya dan keluarga di Indonesia. Gembira, tidak hanya karena ia menjadi bagian dari kelompok yang mewakili Carolina Utara dalam kompetisi Nasional, juga karena perannya saat debat berlangsung, sedikit meningkat daripada saat kualifikasi tingkat kota yang lalu. Meskipun ia sering juga memberi argumen yang sedikit salah atau ambigu, Alfred dan Arthur selalu menyokongnya sehingga mereka tidak kehilangan poin.

Herannya, entah bagaimana (Nesia bersyukur) debat itu berlangsung tanpa adanya Arthur yang memangkas harga diri Nesia di depan ratusan audience dan tiga juri, seperti saat kualifikasi tingkat kota.

Dan kemenangan Hetalia High untuk menembus kualifikasi tingkat region, dirayakan dengan pesta kecil-kecilan oleh Madame Jeanne, yang dihadiri tak hanya kelompok Nesia, tetapi juga beberapa perwakilan guru, serta Senior Herdevary, Senior Braginski, dan Senior Eduard Von Bock, serta beberapa perwakilan Klub Koran Hetalia High yang berniat meliput pesta kecil-kecilan tersebut.

Nesia semakin memasukkan kedua telapak tangannya dalam saku mantelnya, sembari tersenyum kecil. Ingatan saat itu sangatlah manis. Ia sekarang menjadi optimis bahwa mereka akan bisa menembus kualifikasi final. Memang sih, SMA Jeferson masih ada di sana dan menjadi rival yang mungkin akan bertemu lagi dengan mereka saat final, tetapi mengingat bahwa kini mereka sudah melangkah sejauh ini, rasanya tidak mungkin sekali jika harus berpesimis ria.

Hhh… Siapa yang menyangka jika kompetisi yang mana ia bergabung dengan sedikit 'maksa' dan kemudian 'terpaksa', akan mampu menjadi kenangan dan prestasi tersendiri baginya sebagai murid baru Hetalia High…

Nesia tersenyum ketika mengingat betapa dahulu ia sempat membuat Madame Jeanne dongkol karena ia memaksa dafta—

"Kau sudah gila, ya? Tersenyum sendiri seperti orang idiot begitu."

Seperempat karena terkejut, dan tiga perempat karena dongkol mendengar kalimat itu, Nesia menoleh. Dan pandangannya lantas menyipit heran bercampur kesal ketika mendapati Arthur Kirkland berjalan di sampingnya.

"Ngapain kau di situ?" semburnya judes, kelewat jengkel karena tak ada badai tak ada hujan, dikatai gila seperti tadi. Lagian pemuda itu seperti setan saja, tiba-tiba ada di sampingnya.

Menggok-gosokkan kedua telapak tangannya, lantas meniupnya, Arthur merespon tanpa memandang ke arah Nesia, "Sejak kapan aku harus ijin padamu untuk melewati jalan ini?"

Uh.

"Maksudku, kenapa kau berjalan kaki?" Nesia merengut, "Kemana tuh, mobil-mobilmu itu? Kupikir kau bahkan tidak akan bisa menempuh jarak bahkan satu meter tanpa bantuan mesin. Pfft!" Ah~ tidak ada yang lebih membahagiakan selain menistai Arthur…

"Kata orang yang iri padaku karena dia menempuh jarak bahkan berkilo-kilo meter dengan berjalan kaki atau naik kendaraan umum," Arthur mengendikkan bahu.

"AKU TIDAK IRI!" protes Nesia sembari dengan kesal, menghentakkan sebelah kakinya sekali, "Untuk apa aku iri menjadi orang yang menyumbang gas rumah kaca di atmosfer Bumi ini?"

"Pikiranmu sempit sekali," respon Arthur tanpa mengalihkan pandang dari depan, "Apa kau pikir orang yang memiliki mobil pasti tidak bertanggungjawab seperti itu?"

"Ha—ha!" Nesia tertawa maksa, "Ngomong soal tanggungjawab seperti kau ngerti saja."

"Apa maksudmu?" sebelah ujung mata Arthur tampak berkedut keki, "Penelitian membuktikan bahwa mengendarai kendaraan bermotor dengan konstan—tidak merem atau akselerasi mendadak, bisa mengurangi polutan yang dihasilkan mobil. Selain itu, dengan melakukan perawatan kendaraan yang teratur, selain menjaga daya tahan kendaraan, juga membuat kendaraan mampu mengeluarkan lebih sedikit polutan—karena kendaraan yang tidak mendapat perawatan teratur, bisa mengeluarkan gas polutan lima kali lebih banyak dari kendaraan yang mendapatkan perawatan teratur. Jadi, bagaimana bisa kau berpikir bahwa hanya karena aku memiliki banyak mobil, maka kau menilaiku sebagai orang yang tidak peduli akan lingkungan?"

Nesia menghela napas antara lelah karena tidak sedang berada dalam mood mendapat kuliah gratis mengenai preservasi lingkungan dari Arthur, juga kesal karena ia tidak menemukan kalimat balasan yang bisa membungkam mulut menyebalkan itu.

"Kau kenapa, sih?" gerutu Nesia, "Menganggap semuanya serius."

"Seperti kau tidak saja," Arthur menyeringai.

"Ih!" Nesia menyinyirkan judes bibirnya, "Lagipula, bukankah rumahmu tidak di daerah sekitar sini? Kau naik bus? Kenapa tidak menginap saja di rumah Senior Alfred, sih?"

"Ada tugas OSIS yang harus kukerjakan," balas Arthur singkat.

Lantas suasana kembali sunyi. Mereka hanya berjalan beriringan berdua, di mana keduanya sama-sama menatap lurus ke depan. Natal hadir masih seminggu lagi, tetapi kota sepertinya sudah tampak mempersiapkan diri dalam menyambutnya. Lampu kerlap-kerlip, pohon natal, lonceng, dan semua hal yang wajar dilihat saat Natal datang menjelang. Meski malam musim dingin terasa beku dan kosong oleh salju dan angin dingin, tetapi semua terlihat dan terasa menghangat hanya ketika memandang semarak persiapan Natal.

Aktivitas Nesia dalam mengamati sekitarnya terhenti, ketika ia mendengar suara dehaman. Namun gadis itu tetap tidak menoleh ke Arthur—sumber suara dehaman itu—dan mengarahkan pandangannya pada sebuah kafe yang terlihat begitu ramai oleh pengunjung dan ceria oleh hiasan Natal.

"...mana?"

"Hah?" merasa tidak mendengar jelas seluruh kalimat Arthur, gadis itu menoleh. Ditatapnya Arthur yang tampak tengah sedikit menaikkan syalnya hingga nyaris menutupi seluruh mulutnya.

Dan wajah pemuda itu tampak sedikit merona.

"Kau demam?" tanya Nesia.

"A-apa?"

"Wajahmu itu," Nesia menunjuk wajah Arthur, "Memerah. Kau demam? Haha! Dasar payah. Kebanyakan naik mobil sih, dipakai jalan kaki sebentar saja langsung K.O.! Haha!" Nesia tertawa geli, semakin geli ketika melihat rona di wajah itu sedikit menajam.

"Apa—," Arthur dengan cepat kembali mengalihkan pandang ke depan, "Wajar saja, 'kan? Dingin sekali. Kau saja yang berkulit badak hingga tidak merasakan dingin ini."

Uuurrrgghhh!

"Cih!" Nesia hanya mendecih sembari melipat kedua tangannya di dadanya. Dahinya mengerut dan matanya sedikit menyipit—menandai betapa ia merasa dongkol. Sudah dingin, keluar malam-malam, dapat teman seperjalanan satu saja kok kayak setan begitu!

"Aku hanya tanya, gimana kabarmu dengannya?" Nesia mendengar Arthur kembali bersuara, "M-maksudku… dengan pemuda temanmu itu—something Carriedo—Aku tidak peduli."

YA TUHAN!

Sudah dingin, keluar malam-malam, dapat teman seperjalanan saja kok kayak setan begitu! Sekarang apa? Topik obrolan tiba-tiba mengarah pada hal yang sudah Nesia beri label 'super-duper-ekstra-eksekutif-angelic-sensitif-dan-tabu' seperti itu?!

Uuurrgghh!

"KENAPA TIBA-TIBA TENTANG HAL ITU?!" sembur Nesia judes meluapkan kekesalannya. Apa lagi ini? Trik dan strategi Arthur untuk membuatnya semakin kesal? Membuat malam dinginnya semakin membeku? Membuatnya rasanya ingin mati saja?

Kalau, ya, sukses deh! Nesia sekarang rasanya ingin terjun dari Golden Gate California!

Setan itu… Dia selalu berusaha membuatnya kesal dengan setiap cara yang bisa membuat orang lain kesal, termasuk mengungkit-ungkit terkait dengan cintanya yang tak terbalas.

'Cinta yang tak terbalas'…. Predikat itu saja sudah membuatnya merasa sebagai orang yang paling sial dan apes dan kasihan dan menyedihkan di dunia.

Uh.

"Sepertinya belum membaik, jika melihat dari caramu merespon ucapanku," Arthur menghela napas sembari mengendikkan bahu.

Hiiiiihhhh!

"APA PEDULIMU SIH!"

"Geez! Bisakah kau berbicara tanpa berteriak seperti itu?" Arthur menoleh kesal dan menutup sebelah telinganya yang berada di samping Nesia, "Kau membuatku terancam tuli permanen, tahu gak?!"

"SIAPA YANG TIDAK KESAL JIKA MEMBICARAKAN MASALAH PRIBADINYA, OUT OF NOWHERE FOR GOD'S SAKE!" Nesia kembali menghadap ke depan, sembari menggembungkan kedua pipinya dengan dahi yang mengerut kesal, "Jika ini caramu untuk membuatku kesal, selamat, kau benar-benar berhasil."

"… Aku benar-benar hanya bertanya," ujar Arthur setelah keadaan sunyi sejenak, "Karena kau tahu, beberapa kali aku mendapatimu menangis dan tampak kesal ka-karena… Hhh. Sudahlah."

Saat Nesia menangis di jembatan sore itu. Saat Nesia tampak terpaku di depan ruang Klub Musik. Saat gadis itu menangis pada saat hujan di malam itu. Saat Nesia terisak sendiri di atap sekolah waktu itu. Dan saat ia menangis tanpa suara menatap ke arah taman di mana Antonio Carriedo dan Senior Bella berduaan.

Tiba-tiba semua hal kembali terulas di ingatan Nesia. Jelas. Seolah semua terjadi baru beberapa saat yang lalu.

Dan rasanya… cukup aneh ketika mendapati Arthur Kirkland berada hampir di semua ingatannya tersebut.

"Mengapa kau peduli?" tanpa mampu Nesia cegah, mulutnya telah mengucapkan kata tersebut.

"Apa?"

Dekapan tangan Nesia di dadanya semakin menguat, "Mengapa kau peduli dengan semua itu? Denganku dan An—" rasanya sulit sekali mengucapkan nama itu tanpa merasakan sakit di dalam sini, "An—tonio."

Tidak seperti kau adalah orang yang memiliki simpati pada orang lain saja. Ingin Nesia mengucapkan kalimat tersebut, tetapi ia langsung menggigit lidahnya sendiri sebelum rangkaian kata itu terucap.

Beberapa saat Nesia tidak mendengar balasan dari Arthur. Hanya suara hembusan angin, deru mesin dan dentinan mobil, serta suara cengkerama orang-orang di sekitar, yang mengisi suasana. Nesia sudah berpikir bahwa Arthur tidak akan menjawab pertanyaannya barusan, sebelum akhirnya telinganya mendengar apa yang separuh ditunggunya, "Ngomong apa," nada Arthur terdengar menahan geli, "Kau 'kan partner dalam kompetisi. Kau tipe orang yang tidak bisa memisahkan perasaan dengan profesionalitas—kehidupan pribadimu bisa mengancam keberlangsungan kelompok kita. Bagaimana kau berpikir kau akan bisa bekerja secara efisien dan efektif jika kau terus melamun, menangis, melamun, menangis, entah sampai kapan."

Nesia menghela napas.

Jawaban yang sebenarnya sudah mampu ia terka. Orang pragmatis seperti Arthur sih, mana mungkin melakukan hal yang tidak menguntungkan baginya. Bersimpati pada orang lainpun ia lakukan dengan alasan beneficial seperti itu.

"Selain itu… Pfft!"

Nesia langsung melirik sangar ketika mendengar suara tawa tertahan itu. Dilihatnya Arthur yang tengah menyembunyikan mulutnya di balik lengannya, "Kisah cintamu itu bisa dijadikan lelucon yang paling menghibur, kau tahu? O men, it kills everytime I think about it! Haha—Ow!"

Dan baru kali ini Nesia berani melayangkan satu kepalan tangannya ke kepala berhelai pirang tersebut. Persetan sekalipun dia adalah Seniornya di sekolah.

Kali ini, mulut itu benar-benar kelewatan. Bersyukur saja Nesia hanya menjitak, tidak mendorong tubuh itu ke jalan dan disambar truk saja sekalian!

-oOo-

"Jadi, ceritakan padaku, kenapa kau menyukai Antonio?"

Nesia mengepalkan kedua telapak tangannya sembari menggigit ujung bibirnya. Dahinya mengerut, matanya menyipit, langkahnya sedikit menghentak-hentak. Terang saja gadis itu tampak demikian dongkol dan marah, karena pemuda sialan itu masih saja mengikutinya tak peduli ketika Nesia sudah mengambil langkah cepat-cepat.

Pemuda yang seolah menyamakan kisah cintanya dengan film Ice Age: pantas dijadikan bahan tertawaan! Ih!

"Apa urusanmu dan berhenti mengikutiku!" bentak Nesia kesal.

"PD sekali kau. Aku hanya ingin ke halte bus dan jalan ini adalah satu-satunya yang mengarah ke sana, I-di-ot!"

Geez! Tuhan!

"Lagipula, aku sangat penasaran kenapa kau begitu menyukai Carriedo? Apa karena dahulu aku 'menjodohkan' kalian saat MOS?"

Yeah, kenangan yang buruk.

"Apa pentingnya alasanku menyukainya? Kau siapa? Ibuku?" sembur Nesia sarkastis, "Lagipula sekalipun kujelaskan, kau tidak akan mengerti, hei orang yang tak punya hati."

"Hei hei, apa maksudmu," Arthur melengkungkan bibirnya ke bawah, tanda tidak suka, "Tidak perlu menghinaku, oke? Aku hanya bertanya kenapa kau suka padanya? Ma—maksudku…" Arthur menunduk sedikit, lantas berdeham, "Kenapa bukan Lovino Vargas saja? Dari dulu 'kan dia setia sekali tuh, jadi pahlawanmu."

Nesia tidak menyukai nada menghina dan sarkastis yang terdapat dalam kalimat terakhir Arthur tersebut.

Menghela napas, Nesia memejamkan matanya. Berusaha membangun kesabaran untuk menghadapi pemuda yang tiba-tiba rempong seperti Ibu-Ibu penggosip saat arisan. Dan sepertinya pemuda itu tidak akan terdiam sebelum Nesia menuruti apa yang menjadi tuntutan keponya.

Hhh.

"Tentu saja aku menyukai Antonio—siapa yang tidak? Tanya saja para gadis yang lain. Dan soal Lovino… Dia seperti Kakak laki-laki yang tidak pernah aku punyai."

Nesia meraskan hatinya sedikit tenang ketika mengucapkan kalimat itu. Lovino yang selama ini begitu baik padanya—hingga rasanya akan banyak sekali kesulitan yang tak akan mampu ia hadapi jika tanpa pertolongan pemuda itu.

"Kenapa tidak suka? Tapi dia begitu baik padamu, 'kan?"

"Andai saja 'berbuat baik' adalah kategori yang cukup untuk membuat seseorang jatuh cinta."

Ya. Andai saja perasaan bisa diubah semudah membalikkan telapak tangan.

"Aku sendiri juga tidak tahu mengapa. Terkadang aku berpikir bahwa semua akan lebih baik jika aku menyukai Lovino saja," bahkan Nesia tidak menyadari ketika ia masih terus berucap tanpa Arthur menanyainya. Mulutnya seolah berbicara semua kata itu dengan lancar—seolah ia sudah mempersiapkan kata itu terangkai sejak dahulu dan ingin terucapkan pada suatu hari nanti.

Menghela napas, gadis itu kembali bersuara, "Kau tahu? Aku sendiri tidak tahu bagaimana aku bisa menyukai Antonio… Terkadang kau tidak membutuhkan alasan untuk menyukai seseorang, 'kan?" tersenyum kecil, sembari menatap ke depan dengan pandangan seolah-olah sang objek pembicaran hadir di depan sana, "Tetapi yang jelas, aku merasa hangat ketika menatap senyumnya. Merasa damai ketika mendengar suaranya. Merasa tenang ketika melihat matanya—O Tuhan! Tak ada yang lebih kusukai selain mata dan senyumnya. Dan yang jelas…," menghela napas dalam-dalam, "Aku selalu merasa berdebar dan gugup ketika berada di dekatnya."

Nesia kembali tersenyum kecil. Di otaknya kini terulas semua hal yang telah ia lewati bersama Antonio. Dari mulai mereka bertemu saat MOS—saat ia tak sengaja menginjak ujung belakang sepatu pemuda itu. Hingga mereka memulai KBM sebagai murid Hetalia High. Saat pulang sekolah bersama. Saat menghabiskan waktu bersama-sama di weekend malam. Saat mendapati ternyata pemuda itu mampu menarik perhatian dan rasa suka dari begitu banyak gadis dalam waktu singkat. Saat menghadiri festival komunitas imigran Jepang. Saat untuk pertama kalinya, Nesia mendapati pemuda itu mencium pipi Senior Bella Van Hardt di ruang Klub Musik saat itu.

Saat dengan mata kepalanya sendiri, ia melihat pernyataan cinta pada malam itu.

Dan saat dengan kedua telinganya sendiri, ia mendengar pengakuan langsung dari Antonio akan betapa pemuda itu mencintai Senior Bella, di apartemen Nesia waktu itu.

Hal yang baik dan buruk, semua menjadi satu. Meninggalkan sebuah perasaan yang bernama rindu ketika ia mulai menyadari, begitu lama mereka tidak saling bertemu. Kapan terakhir kali? Ah ya. Beberapa minggu yang lalu saat Antonio berusaha menanyakan kenapa Nesia menjauhinya, dan harus berakhir dengan hantaman keras Lovino di rahang pemuda itu.

Setelah itu tak ada. Antonio sepertinya juga telah menyerah. Bahkan Nesia dan Lovino tak pernah membahas hal yang sama—seolah terdapat pemahaman tak lisan bahwa hal itu hanya akan membuahkan luka bagi mereka. Mereka kembali menjalani hidup masing-masing. Bagaikan planet yang berputar pada porosnya—dekat satu sama lain, bertemu, menatap, tapi tidak pernah saling menyentuh.

Namun di saat yang sama seperti angin. Tidak terlihat, namun di saat yang sama mampu terasakan. Perasaan ini yang masih terasa di dalam hati. Masih berkobar.

Perasaan yang tidak akan bisa hilang semudah saat ia datang.

Nesia segera tersadar bahwa ia terdiam dan melamun cukup lama. Dan parahnya, ia kembali tersadar bahwa ia tidak sendiri. Ada Arthur di sampingnya. Dan hanya Tuhan yang tahu apa yang bisa dimanfaatkan oleh pemuda itu dari kondisi ini! Memfoto diam-diam ekspresi galau Nesia? Merekam semua suara dan pengakuannya lantas mempublikasikan ke media sekolah? Menertawainya lebih keras ketimbang saat orang melihat kartun komedi Tom and Jerry?

Mencoba untuk tidak menampakkan ekspresi dan aura mellow di depan Arthur, Nesia tertawa, "Hahaha! Ma—maksudku, kau tahu. Antonio memiliki semua hal yang tidak kau miliki—tidak. Bukan hanya kau. Tapi semua yang tidak dimiliki laki-laki selain dirinya!" jelas sekali jika tawanya terdengar begitu gugup dan sedikit kikuk, "Dia ganteng! Manis! Imut! Baik! Gentleman! Kyaaaa! Cinta! Cinta!"

Dan Nesia mendengar sebuah dengusan.

Menatap sangar, dia menoleh ke arah Arthur yang tampak menjulurkan lidahnya dengan ekspresi seolah-olah ia hendak muntah. Merasa tak hanya pengakuannya tercabik, tetapi juga pemuda itu secara tak langsung menghina Antonio, Nesia menggeram kesal, "Apa-apaan ekspresi itu?!"

"Aku hanya ingin muntah mendengar kalimat-kalimat cheesy-mu tadi," ujar Arthur.

Nesia semakin merengut, tetapi beberapa saat kemudian, sebuah seringai tampak di mulutnya, "Kenapa kau sewot begitu? Jangan bilang kau juga suka pada Antonio dan cemburu karena dia dekat denganku?" tertawa, Nesia menyenggol pelan lengan Arthur dengan sikunya, "Hei, setialah pada Senior Alfred!"

Dan Nesia makin tergelak ketika mendapati bibir itu terlihat nyinyir.

"Ngomong-ngomong, aku masih menyimpan poto kalian, lho. Kusebarkan saja saat Hetalia High Anniversary nanti buat jadi photo cover di spanduk atau baliho," Nesia menjentikkan jemarinya seolah-olah ia bangga mendapat ide absurd tersebut.

Dan gadis itu segera berlari ketika Arthur memaki dan mengumpatnya, "Sini kubunuh kau, gadis sialan!"

Alih-alih takut, Nesia malah tertawa sembari semakin mempercepat larinya. Wajah Arthur Kirkland yang tampak beringas seperti itu justru terlihat menggelikan baginya. Karena, ayolah. Jarang sekali ia bisa membuat pemuda sinis itu tampak begitu marah oleh ucapannya—biasanya yang terjadi adalah kebalikannya, Nesia yang dengan kelewat gampang terpancing amarahnya bahkan ketika Arthur hanya menyeringai padanya.

Langkah kakinya yang berbalut boots semakin cepat, terdengar sedikit teredam oleh salju yang melapisi aspal yang ditapakinya. Helai rambutnya semakin berantakan oleh angin, begitu pula dengan napasnya yang makin menderu tak hanya karena dingin, juga karena lelah fisik dipakai berlari-lari begitu.

Nesia kembali menghadap ke depan sembari makin mempercepat larinya—bangga sekali ketika dahulu saat SMP, pelajaran olahraga dalam hal lari, ia mendapat nilai yang tak buruk juga.

"Hei! Berhenti kau dan hapus foto menjengkelkan itu dari ponselmu!"

Dan Nesia berhenti.

Tetapi, tentu saja, bukan karena teriakan Arthur yang terdengar begitu garang dan beringas, dan seperti benar-benar akan membantainya di jalan umum saat itu. Bukan teriakan Arthur yang membuat gadis itu seketika terpaku dengan kedua mata menatap ke depan.

Bahkan senyum di bibirnya kini, perlahan-lahan, meluntur…

… saat kedua bola hitamnya mendapati Antonio Carriedo dengan Senior Bella Van Hardt, yang berdiri di depan sebuah toko aksesoris di pinggir jalan sana.

Tak berapa jauh dari Nesia yang berdiam membeku—seolah terdapat badai di depannya yang siap memporak-porandakan jasmaninya.

Mereka terlihat berdiri berdekatan. Tidak, bukan berdekatan lagi. Tetapi sangat dekat. Bahkan terlihat jelas kedua tangan itu memeluk pinggang ramping itu, sedangkan pundak tegap itu tergelayuti oleh sepasang tangan putih. Kedua dahi yang saling bertemu. Dua pasang emerald yang saling menatap dari jarak dekat. Dua ujung hidung yang saling bersentuhan.

Dan sebuah tawa lirih yang terumbar, yang terdengar seperti sebuah tawa cemoohan di telinga Nesia yang bahkan tertutup oleh tutup telinganya.

Hiasan Natal di sekitar mereka… kerlap-kerlip lampu, indahnya pohon Natal, terbang lirihnya salju… semua seperti turut bergembira atas kebahagiaan yang terpancar jelas dari kedua pasang mata itu. Bahagia. Euforia. Dan semua perasaan yang melambangkan suka cita.

Jarak mereka memang tidak begitu jauh—tak lebih dari tiga langkah kaki orang dewasa—membuat Nesia mampu melihat semuanya dengan jelas, kelewat jelas hingga rasanya ia bisa membaca isi hati dan perasaan pemuda itu lewat tatapan matanya. Lewat pegangannya yang seolah tidak membiarkan gadis berambut pirang itu pergi.

Kelewat jelas, hingga Nesia tak sadar, kapan tepatnya air telah menggenangi kedua matanya. Kapan tepatnya kedua tangannya mengepal erat. Hawa dingin salju seolah sirna, dan yang ia rasakan justru panas dan sakit di dadanya yang terasa sesak—seolah oksigen di sekitarnya hilang. Kapan tepatnya tubuhnya mulai terasa bergetar kecil, hingga rasanya siapapun pasti tahu bahwa sebentar lagi, tubuh itu akan terjatuh bersimpuh ke tanah, jika tidak mendapatkan sesuatu untuk menyangga kedua lututnya yang terasa amat lemas.

Dan semua hal makin menjadi buruk ketika Antonio sepertinya menyadari bahwa ia tak lagi sendiri bersama orang yang dikasihinya—ada orang lain yang sepertinya tengah memerhatikan mereka. Semua semakin kacau ketika Nesia dapati pemuda itu menoleh, mengalihkan pandang dari kedua mata Bella…

Untuk menatapnya.

Kedua bola mata yang bertemu dalam satu pandangan lurus.

Heran bertemu dengan getir. Terkejut bertemu dengan nanar.

Dan saat kedua bola itu menatapnya tepat ke arah kedua matanya itulah, Nesia yakin bahwa ia tidak mampu menahan semuanya lagi.

Ia yakin isaknya akan pecah dan tangisnya akan luruh, saat itu juga—

BRUKH!

—sebelum sebuah gaya terasa di punggungnya, dan membuatnya terdorong keras hingga jatuh gedebuk terjerembab tidak elitnya—muka mencium permukaan aspal.

Dan di saat itulah, tangisnya pecah. Isaknya terdengar. Sedikit teredam oleh permukaan aspal. Tetapi, tentu saja, ia menangis bukan karena rasa sakit yang mendera wajahnya. Ia terisak bukan karena malu ketika beberapa orang (termasuk Antonio dan Bella) menatap heran, terkejut atau geli ke arahnya yang masih tersungkur di tanah.

Bukan.

Tidak mungkin seseorang menangis dan terisak seperti itu hanya karena terjatuh. Apalagi seorang remaja.

Dan Nesia hanya pasrah ketika sebelah tangannya tertarik ke atas. Kembali berdiri, ia hanya menunduk sembari menutupi mukanya dengan dua telapak tangannya. Bahunya yang terguncang. Isaknya yang masih terdengar.

Dan sebuah lengan yang terasa mendekapnya.

"Maaf, aku telah mendorongmu. Aku tidak sengaja—aku kehilangan kendali atas lariku," suara Arthur Kirkland terdengar lirih, "Pasti sakit sekali, ya, mukamu."

"Hiks—sakit…," kalimat itu terucap di sela isaknya, "Sakit. Sakit sekali."

Ia memang merasa sakit. Tetapi bukan di wajahnya, seperti kata Arthur, sakit itu terasa.

Ini jauh lebih sakit ketimbang mendapati wajahnya mencium aspal.

Jauh lebih sakit.

It's beyond hurt

Dan mereka kembali berjalan. Menghabiskan sisa perjalanan. Melewati Antonio dan Bella begitu saja.

Tanpa ada salah satu dari mereka yang mengucap sapa.

Sisa perjalanan berlangsung hanya dengan keheningan—tanpa obrolan seperti sebelumnya. Hanya isakan. Hanya perasaan luka. Kecewa. Tangis.

Bahkan gadis itu membiarkan ketika sepanjang perjalanan, sebelah langannya terpegangi erat oleh sebuah telapak tangan. Menuntunnya. Mengarahkannya. Karena pengelihatannya sendiri telah buram oleh air mata. Karena kepalanya terus tertunduk seolah menyembunyikan ekspresinya dari dunia.

Dan Nesia tidak sempat mengucapkan terimakasih ketika saat sampai di halaman apartemennya, gadis itu berlari cepat—melepaskan pegangan Arthur di lengannya. Berlari cepat memasuki apartemennya ketika ia rasanya tidak bisa menahan semua ini lebih lama lagi.

Ia tidak sempat bahkan mengucapkan terimakasih.

.

.

"Maaf, aku telah mendorongmu. Aku tidak sengaja—aku kehilangan kendali atas lariku. Pasti sakit sekali, ya, mukamu."

Sesaat sebelum ia terpejam karena lelah oleh tangis, kalimat itu terulas kembali. Membuat Nesia sedikit terheran karena jalan waktu itu cukup ramai oleh pejalan kaki dan lumayan sempit.

Bagaimana bisa seseorang kehilangan kendali dan tak bisa 'merem' larinya ketika banyak orang di jalan sesempit itu? Bisa saja 'kan, jika memang larinya tak bisa dikendalikan, pemuda itu menabrak orang lain (sebelum mencapai Nesia) dan membuat langkahnya terhenti….

Entah mengapa, rasanya Arthur seperti telah berbohong padanya.

-oOo-

Next Chapter:

"… W—would you like to go out with—ehem!—me tommorow night?"

"… Maksudmu, kencan?"

.

"Dan aku yakin, kesalahanku pasti berat sekali hingga Lovino tampak begitu marah dan memukulku seperti itu… Aku sangat merindukan kalian. Maafkan aku."

.

"Peduli? Padamu? Yang benar saja!"

"Benar. Kau datang kemari dan memberiku rentetan pertanyaan bernada khawatirmu barusan. Kau khawatir padaku."


Hayooo… siapa tuh yang ngajak kencan? Arthur-kah yang udah ada perkembangan dengan Nesia? Atau Lovino yang selama ini Cuma numpang lewat nama di tiap chapter? Atau justru Antonio yang ngajak akhirnya mengakhiri HTS-an dan mengajak kencan Senior Bella tercinta? Yak, silahkan pasang taruhannya! /dor

Apakah chapter kemarin Arthur dan Nesia emang akan cupcup? Atau justru seperti kata Arthur dan tebakan Nesia, itu hanya strategi (?) Arthur untuk mempertahankan posisinya sebagai orang paling nista dan terlaknat di pandangan Nesia? Hoho.


Pojok review. Monggo~

Mas tulip kapan muncul?/ Sekarang kan musim kemarah, jadi mas tulipnya hibernasi dulu karena ga ada kerjaan buat dagang tulip /Why are you, Alfred, disturb them with your hoaaam?!; Alfred bangun di saat yang ga tepat; Alfred lu gangguin aja!/ Save the best for the last :p /Udah baca dari chapter awal tapi baru review sekarang/ Sungguh teganya dirimu teganya teganya teganya teganya teganya /ampekiamat /Alfred gombalin Natalia; AmeBela ngegemesin; AmeBela imut/ Salah satu pair fave saya tuh :'D /Nesia lebih pantes jadi semenya Arthur/ Wakakak. Darimanenya? Orang Nesia aja tsundere akut begitu. /Arthur pengen cium Nesia!/ o_o yakin banget ya, Arthur mau ciuman ama Nesia? /dor /mematikanimajinasifansgirls/ Chap depan bakalan lebih sedikit ya words-nya?/ Ini udah 6k lho /Mempertahankan hatimu lebih susah daripada mendapatkan/ /tepartergombali/ /Cowok misterius itu Arthur, ya?/ Kenapa ga ada yang nebak kalau cowok misterius itu orang lain? Vash? Gilbert? Tiino? Andrew (Norway)? Atau kandidat paling mungkin, yakni: DIS? /Tempat wisata itu beneran ada?/ Yoi bray. Cek aja ke dokter (?) /Aku tebak pairing akhir dalam fic ini ialah UKNes, SpaBelgieRoma, dan AmeBela/ Fic ini akan berakhir dengan BelaNesiaBelgie ama USUK dan SpaMano /woi!/ /Kenapa Arthur sering mabuk dan terlihat menderita?/ …Hah? /ganyadarudahmenciptakanimagengeneskeArthur/ /Lovi mana? Switzerland mana?/ Masih demo mewakili korban Eyang Subur /dor/ /Alfred ga digaplok pipa Ivan tuh?/ Daripada digaplok, kayaknya Ivan justru bahkan rela jadi budak Alfred asal tuh cowok bisa jauhin doi dari Natalia deh :/ /Chapter seneng2 emang harus ada/ Yeah! /Di Bogor ga ada ice skating/ Di Bogor ada kamu udah cukup bagi hidup saya kok :')/Setting musim gugurnya terlalu lama/ Ini udah musim dingin. Haha /plak /


Jika faktor-faktor lain tetap dan sama, banyak dan cepatnya review kalian berbanding lurus dengan kecepatan update saya (Storm, 2013).

DEMI TUUU...HAAAANNN /gebrakmejadenganganyante


Muuchi

DIS Wiguna (?)