Andaikan membuat Karya Tulis Ilmiah dalam bentuk essay atau paper itu semudah menulis cerita fiksi. Fanfic 7k words = 1 hari beres! Essay 1k words = 7 hari beres jambakin rambut!
Saya ga sempet reread, jadi mohon jika ada miss/typos :'(
Liburan musim dingin telah berakhir. Begitu pula dengan Natal, yang telah datang beberapa hari yang lalu. Semua kini berjalan normal—same ol' same ol'. Aktivitas kembali berjalan. Sekolah, bekerja, dan semua kegiatan yang sebelumnya terkesampingkan dahulu dalam nyamannya liburan musim dingin dan hangat serta ceriahnya Natal.
Agak memberatkan, tentu saja. Seperti perasaan kebanyakan para pengenyam pendidikan, berakhirnya liburan sama dengan awalnya—tidak, terulangnya siksaan. Sekolah. Pelajaran. PR. Klub. Kompetisi… Padahal liburan musim dingin sangat menyenangkan dengan dihabiskannya sebagian besar waktu untuk tidur dan mempersiapkan pesta Natal. Bicara soal pesta Natal, tidak ada sesuatu yang spesial. Natal tahun ini benar-benar menjadi Natal pertama yang dihabiskan Annesia Saraswati tanpa keluarga—ia hanya melakukan video call dengan keluarganya via laptop. Ngenes… Dan Maria Santiago benar-benar mengundang beberapa orang temannya untuk datang ke apartemen mereka dan mengadakan makan malam, di mana setelah bergabung makan malam, Nesia langsung ngungsi ke apartemen Lovino Vargas karena tidak yakin bahwa dirinya mampu berbaur luwes dengan orang-orang yang berusaha sepuluh-belasan tahun lebih tua dari umurnya. Meskipun pada akhirnya ia tidak bisa bertemu Lovino (pemuda itu bilang bahwa ia tengah berada di rumah Kakeknya), namun Nesia bersyukur bahwa Lovino sangat baik hati untuk memberitahunya di mana ia menyimpan kunci apartemennya—agar Nesia bisa masuk.
Gadis itu juga mendapat kiriman pesan selamat Natal dari beberapa teman di Indonesia. Bahkan dari Senior Alfred pula. Nesia bahkan terkejut ketika mendapati terdapat pesan selamat Natal dari Senior Arthur Kirkland—meskipun ketika membaca isi pesannya yang sama persis dengan pesan Alfred, Nesia langsung yakin bahwa Kirkland hanya mem-forward tanpa perlu repot-repot merangkai kata dengan caranya sendiri. Setan itu… Lily Zwingli, Senior Francis. Senior Tiino, Mei Lian, Senior Herdevary, Senior Ivan, dan bahkan—Nesia tidak pernah menduga—Vash Zwingli, adalah daftar salah sekian dari beberapa orang yang mengirimi pesan kepadanya.
Dan Nesia tidak heran ketika sama sekali tidak terdapat nama Antonio Carriedo di daftar pengirim pesan Selamat Natal, yang ia terima baik di ponsel ataupun e-mail miliknya.
Axis Power Hetalia © Hidekaz Himaruya
I just own the plot of the story and I don't gain any commercial advantages by publishing this fic.
Warning: AU, Human Name, High School, OC, OoC yang mendewa, (highly possible) crack pairs, (a lil') Nesia-centric, but no Mary Sue/Gary Stu I assure you :D totally absurd.
Pairing: Anda bisa menebak sendiri mana yang main pairing, dan mana yang sekedar hints dan fans service :p
Ini murni dari pemikiran saya. Maaf jika kebetulan ada kesamaan ide karena setting gakuen sangat banyak di FHI. Itu tidak disengaja :D
Long Live FHI and Say NO to Plagiarism! Mari berkarya dengan hati dan imajinasi :D
Maju FHI!
Happy reading
Menghela napas berat, Nesia merenggangkan kedua tangannya ke udara. Merasa begitu capek fisiknya karena kegiatan sekolah hingga sesore ini, plus capek mental karena seharian otaknya dipaksa brainstorming menghadapi pelajaran-pelajaran yang mendewa: Matematika, Kimia, Filsafat. Belum lagi ia harus menghabiskan waktu dua jamnya di ruang wi-fi perpustakaan, guna berdiskusi dengan kelompoknya.
Capeeeekkk! Dan penderitaannya belum berakhir karena ia harus menggerakkan kedua kakinya untuk menempuh apartemennya.
Uh.
Ia mulai berpikir untuk membeli sepeda untuk pulang-pergi sekolah—tapi bagaimana dengan Lovino?
Suara dentinan mobil menghentikan gerakan Nesia merenggangkan kedua tangannya di udara. Tangannya masih terangkat, punggungnya sedikit tertegakkan, dan mulutnya membuka lebar hendak menguap kantuk.
Tetapi semua itu terhenti di tengah jalan ketika ia mendapati sebuah mobil berwarna silver, yang menuju pelan ke arahnya.
Dan Nesia segera memperbaiki manner-nya. Hal terakhir yang diinginkannya sekarang adalah dicap unlady-like oleh orang lain—siapapun yang berada di dalam mobil yang tampak mewah tersebut.
Ngomong-ngomong soal mobil itu, jendela bagian kemudi terbuka perlahan, menampakkan wajah seorang pemuda yang terduduk di kursi kemudi.
"Senior Arthur Kirkland?" Nesia bersyukur dalam hati ia telah memperbaiki sikap 'merenggangkan tubuh dan menguap lebar-lebar'-nya tadi. Semoga Arthur tidak melihat dan mendiskon harga dirinya bahkan di saat Nesia sudah merasa sangat lelah untuk hari ini.
"Hei," sapa Arthur pelan. Bibirnya tertarik kecil dan membuat senyum yang hasilnya, tampak kecut, terpaksa, dan seperti tidak ikhlas.
Maunya ini orang apa, sih…
Nesia tidak tahu harus merespon apa karena setelah berbicara 'hei' tersebut Arthur terdiam. Lagipula tatapan pemuda itu tampak mengarah pada dashboard mobilnya. Namun dari pandangannya yang tampak terlempar ke kiri dan ke kanan itu, Nesia sadar bahwa bukan dashboard itu yang tengah berada di pemikiran Arthur. Belum lagi dengan jemari kanannya yang tampak mengetuk-ketuk pelan setir mobilnya, membuat Nesia yakin bahwa pemuda itu tampak tengah berpikir sesuatu.
Seperti tengah merasa sangat ragu, dan berpikir keras untuk membuat suatu keputusan—entah apapun itu.
"Senior Kirkland," Nesia hanya mengernyit heran ketika bahkan suara kecilnya barusan tampak memberikan efek cukup besar bagi Arthur yang tampak terlonjak kaget. Nesia tersenyum miring—merasa ragu juga untuk berbuat apa, "Kalau tidak ada yang kau sampaikan, aku ingin segera pu—"
"Oh, tidak. Tunggu," terdengar terburu-buru sekali, membuat Nesia merasa heran. Sepenting apakah? Kenapa tidak mengatakannya saat mereka berdiskusi tadi?
Gadis itu hanya menaikkan sebelah alisnya, menunggu kelanjutan ucapan Arthur.
"W-well… You see…," nyaris Nesia tidak bisa menangkap suara itu—terdengar begitu lirih, seolah Arthur sendiri juga ragu untuk mengucapkannya.
Arthur tidak segera melanjutkan ucapannya, hanya terdiam dengan pandangan seolah ia tengah memikirkan sesuatu. Membuat kesabaran Nesia makin menipis dan benar-benar akan meninggalkan pemuda itu saja jika ia tidak mendengar suara dehaman Arthur beberapa saat kemudian.
Pemuda itu tampak menunduk.
Dan Nesia bersumpah, ia mampu dengan jelas melihat bahwa wajah pemuda itu tampak memerah. Menunduk. Tersipu. Tergagap. Tampak ragu. Nesia langsung mengambil kesimpulan bahwa apapun yang ingin dibicarakan Arthur, itu adalah hal yang amat memalukan bagi pemuda itu.
Pastinya. Dan Nesia tak sabar untuk menertawainya habis-habisan!
Melihat Arthur tampak malu dan gugup seperti ini saja rasanya Nesia ingin merekamnya dan dijadikan sebagai alat blaik mail untuk Arthur di kemudian hari.
Haha.
Tetapi senyum tertahan dari Nesia yang membayangkan semua itu, perlahan meluntur ketika telinganya mendengar ucapan selanjutnya dari Arthur, "… W-would you like to go out with—ehem!—me tommorow night?"
Arthur yang tampak semakin merona dan terdengar cukup kesulitan mengatur katanya.
Dan Nesia langsung memasang wajah bengong dengan otak yang masih loading process.
"… Dengan siapa lagi?"
Arthur mengangkat wajahnya, dan memberi Nesia pandangan heran.
"Tak ada."
Nesia terbelalak, lantas menunjuk Arthur, kemudian menunjuk dirinya sendiri, "Hanya kau dan aku?" dan dehaman Arthur serta kembali tertunduknya kepala berhelai pirang itu, sudah menjadi jawaban bagi Nesia.
Ketika gadis itu bisa memproses apa yang diucapkan Arthur (sekalipun berkali-kali ia berpikir bahwa telinganya sudah berimajinasi absurd dan konyol), meski sulit dipercayai, Nesia hanya bertanya dengan lirih dan ragu, takut-takut jika ia salah dengar dan Arthur akan menertawai apa yang akan ditanyakannya, "… Maksudmu, kencan?"
Guh!
Arthur tampak tersedak—seolah-olah kata yang diucapkan dengan tenang, polos, dan netral dari Nesia itu berakibat fatal bagi jantung, dada, dan harga dirinya. Pemuda itu tampak tertawa lirih dan terdengar gugup, sebelum berkata, "Bu-bukan. Jangan seenaknya mengartikan ajakanku ini sebagai kencan—mana mungkin! A-aku hanya ingin membalas pertolonganmu dulu padaku—kau tahu, saat aku mabuk atau saat aku dikeroyok berandal… A-aku tidak ingin sampai mati nanti kau terus mengungkit-ungkit hal itu padaku," Arthur tertawa lirih kembali, "Jadi, ini semua demi ke-baikanku s-sendiri, ingat itu."
Nesia hanya merengut. Bukan karena ia kecewa bahwa ini bukan kencan (Hell, malah ia akan merasa dunia akan kiamat jika Arthur mengajaknya kencan!), tetapi karena ucapan dan sikap pemuda itu yang masih terdengar dan tampak mengesalkan bagi Nesia.
Meski pemikiran pertama gadis itu adalah langsung menolak tawaran Arthur, tetapi ia kembali mempertimbangkan bahwa, mungkin hal ini bisa memperbaiki hubungan mereka? Mereka sudah sekian lama bersama dan dekat karena kompetisi, sampai kapan ia dan Arthur mau menjadi musuh bebuyutan terus? Memperbaiki hubungan dan imej orang lain juga tidak masalah, 'kan?
Lagipula, Arthur akhir-akhir ini juga sering kali berbuat baik kepadanya.
Hh.
Menghela napas lirih, Nesia mengangguk pelan dan berucap, "Oke."
Arthur tampak terkejut—well, Nesia sendiri juga terkejut ketika ia mengeluarkan kalimat persetujuan itu. Pemuda itu tampak memerhatikan Nesia, seolah memastikan dari pandangan gadis itu. Selanjutnya, Arthur tampak menghela napas dan berucap, "Well then… Pukul tujuh, oke? Kita bertemu di depan minimarket dekat apartemenmu."
Nesia dalam hati memaki Arthur yang sama sekali tidak gentleman. Di mana-mana 'kan si cowok (apalagi jika cowok itu sebagai si pengajak) menjemput si cewek! Apalagi musim dingin pula.
Ih.
Namun Nesia malas untuk meributkan hal sepele seperti itu, dan memilih untuk membahas hal yang lain lebih sepele lagi, "Depan minimarket? Kau ingin mengajakku menemanimu berbelanja?"
Arthur mendesis terganggu, "Bukanlah. Hanya kita bertemu di sana saja supaya mudah."
Dan percakapan mereka itu diakhiri oleh sebuah 'Okeee okeee baiklah!' dari Nesia, sebelum Arthur mengucapkan sampai jumpa lantas kemudian mengemudikan mobilnya menuju arah yang berlawanan dengan arah perjalanan pulang Nesia.
Nesia menghela napas. Meskipun ia merasa belum mengerti akan apa yang terjadi, tetapi ia hanya harap bahwa semua ini bukanlah strategi lain Arthur untuk mengerjainya.
Awas saja kalau iya!
-oOo-
Manusia berencana, Tuhan yang menentukan. Tidakkah kita familiar dengan pepatah bijak tersebut?
Karena, meskipun Nesia telah berjanji pada Arthur untuk bersedia menemaninya ke-Tuhan-dan-Arthur-yang-tahu-mana, tetapi tepat satu jam sebelum waktu yang disepakati untuk bertemu, Nesia mendapati pintu apartemennya terketuk pelan.
Nesia yang waktu itu tengah malas-malasan di sofa (untuk apa repot-repot bersiap diri selama berjam-jam hanya untuk pergi dengan Arthur Kirkland?) sembari membaca novel, menghentikan pekerjaannya tersebut dan sejenak berpikir akan siapakah yang tengah berdiri di depan pintu apartemennya. Chau dan Maria tidak termasuk, karena mereka pasti langsung masuk karena memiliki kunci cadangan, daripada mengetuk pintu seperti itu. Dan…
'Apa mungkin Arthur?' batin gadis itu sembari melirik ragu ke pintu, 'Masak, sih, dia sedesperet dan segila itu hingga datang ke sini? Mana ini masih satu jam lebih awal pula…'
Malas-malasan menyeret kedua kakinya ke arah pintu, Nesia dalam otaknya sudah siap merangkai kata-kata hinaan beserta makian kepada Arthur yang diyakininya kini berdiri di balik pintu apartemennya. Tetapi semua strategi perang verbal-nya tersebut langsung musnah begitu setelah ia membuka pintu, kedua bola hitam kecoklatannya langsung bertemu dengan sepasang emerald dalam satu pandangan lurus.
"Hei, Nes. Kuharap aku tidak menganggumu.'
Emerald itu bukanlah emerald Arthur Kirkland. Arthur tidak memiliki mata seindah dan sejernih itu. Arthur tidak memandangnya dengan pandangan sehangat itu.
Arthur, sekalipun, tidak pernah memberinya senyum secerah dan selebar itu.
Dan yang terpenting, apapun dari Arthur, tidak pernah membuat Nesia seolah lupa untuk menarik napas, bahkan ketika hanya melihat kedua mata itu.
Bukan Arthur—hanya satu orang.
Antonio Carriedo—nyaris meluncur nama lengkap itu dari mulut Nesia yang sedikit ternganga, sebelum gadis itu menelan ludah dan berujar sedikit tersenyum kikuk, "M-masuklah."
-oOo-
Dua kali.
Terhitung telah dua kali Antonio datang ke apartemennya dengan niat untuk berbicara secara pribadi pada Nesia. Yang pertama dahulu, pemuda itu berterus-terang akan perasaannya pada Senior Bella. Dan yang kali ini, malam ini, pemuda itu berterus-terang akan perasaannya sendiri kepada Nesia.
Uh oh. Bukan perasaan dalam arti romantis atau apa—sama sekali tidak, sayangnya. Antonio bukanlah tipe pemuda yang suka bermain kata dan perasaan—saat ia bilang bahwa ia mencintai Senior Bella, perasaan itu tidak berubah, bahkan sampai sekarang. Nesia bisa melihatnya dari tatapan pemuda tersebut. Jadi, tidak mungkin pemuda itu, setelah berkata-kata demikian puitis dan romantis tentang perasaannya pada Senior Bella, kini tiba-tiba datang dan mengatakan bahwa ia menyukai Nesia.
Akan tetapi, kalimat yang pertama kali diucapkannya setelah terduduk di sofa ruang tamu Nesia adalah, "Maafkan aku."
Sebuah kalimat permintaan maaf.
Mendengarnya, Nesia tidak begitu terkejut jika kalimat itulah yang akan terucap dari mulut Antonio. Praktis beberapa minggu mereka seolah menjadi orang asing yang tidak saling menyapa atau menghubungi satu sama lain. Tidak hanya mereka berdua, tetapi juga dengan Lovino. Jadi, tidak begitu heran jika sekarang Antonio datang ke apartemennya dan meminta maaf kepadanya—akan kesalahan apapun yang pemuda itu perbuat padanya.
"Meskipun, jujur, aku tidak mengerti kenapa kalian bersikap demikian padaku. Tetapi, kupikir, apapun kesalahanku, aku ingin meminta maaf pada kalian."
Pandangan Nesia melunak pada bantal sofa yang tengah dipeluknya. Antonio tampak juga tengah memandang dengan tatapan sendu ke arah lantai berlapis karpet abu-abu di dekat kakinya.
Tentu saja Antonio tidak akan tahu mengapa Nesia bersikap demikian menghindarinya—bahkan tampak seolah-olah gadis itu membencinya. Tentu saja pemuda itu tidak akan pernah mengerti.
Antonio tersenyum kecil, sembari jemari kanannya tanpa sadar bergerak ke arah rahangnya dan menyentuhnya pelan, "Dan aku yakin, kesalahanku pasti berat sekali hingga Lovino tampak begitu marah dan memukulku seperti itu."
Ingatan Nesia kembali pada kejadian sore itu. Ia masih bisa mengingat betapa kedua mata Lovino menyalang memberi tatapan marah pada Antonio. Dan kuatnya telapak tangan kanan yang mengepal dan beradu dengan rahang Antonio. Pertama kalinya Nesia melihat Lovino tampak demikian marah—benar-benar marah, bukan lagi jengkel atau kesal seperti ketika Antonio menganggunya atau bertindak menyebalkan baginya.
Dan jika boleh jujur, jika dipikir-pikir, sampai sekarang Nesia sama sekali tidak paham akan apa alasan Lovino begitu marah pada Antonio waktu itu. Hingga pemuda itu sanggup melayangkan satu hantaman keras pada Antonio saat itu.
Nesia tampak merenung memikirkan perasaannya sendiri. Kecewa. Tidak mengerti. Sakit hati. Rindu. Takut. Semua terasakan oleh hatinya hingga rasanya sulit menerka semua perasaan itu dari pandangan matanya yang tampak mengulas tersebut. Bahkan gadis itu juga tidak mengalihkan pandang dari objek semula—bantal sofa—ketika Antonio berujar satu kalimat yang membuat rasanya pertahanan dirinya roboh saat itu juga.
"Aku sangat merindukan kalian. Maafkan aku."
Tulus. Jujur. Dari hati yang paling dalam.
Dan benar. Pertahanan Nesia roboh saat itu juga ketika semua perasaan itu rasanya terlalu berat, terlalu berlebihan. Rasa lukanya. Cintanya. Persahabatannya. Rindunya. Semua terasa begitu berat, begitu tidak mampu lagi ia tahan. Senior Bella… Lovino… perasaan Antonio… perasaannya sendiri… semua bercampur menjadi satu dalam pikiran dan hatinya.
Hingga akhirnya, tak ada yang bisa ia lakukan selain membungkuk, lantas menekan wajahnya pada bantal sofa di pangkuannya, dengan bahu yang bergetar pelan.
Dan isakan yang teredam.
'Maafkan aku, Antonio. Maaf' andai saja lisannya bisa berujar lebih keras daripada suara isakannya.
'Maaf telah menjadi seorang yang egois. Maaf telah bersikap begitu kejam. Maaf telah membuatmu merasa seperti seorang pendosa besar. Maaf karena bahkan sampai sekarang, rasanya Tuhan tidak adil sekali ketika menakdirkanmu mencintai gadis lain sedangkan aku bahkan tidak tahu harus bagaimana jika kau tidak bersamaku!'
Nesia hanya terisak pelan. Telinganya tidak mendengar apapun selain suara isakannya sendiri. Detak jarum jam di ruang tengah pun seolah mati—sunyi. Suasana yang begitu sepi. Seolah ia tengah berada dalam dunia asing di mana sama sekali tidak ada makhluk lain selain dirinya. Tidak ada apapun.
Ia benar-benar tenggelam dalam dunia yang ia ciptakan dari kubangan perasaan dan pemikirannya sendiri.
Benar.
Setidaknya, sebelum ia merasakan bahwa tubuhnya terlingkupi oleh sebuah kukungan hangat. Lembut. Erat. Seolah ingin mengatakan bahwa Nesia bukanlah satu-satunya orang yang tengah merasa kecewa. Nesia bukan satu-satunya yang merasa terluka. Ada orang lain yang merasakan hal yang sama. Seperti dirinya. Lukanya. Rindunya. Cintanya. Perasaannya.
Dengan pelukan itu, Antonio seolah ingin berujar bahwa ia masih di sana—di samping Nesia. Merasakan lukanya. Merasakan kekecewaannya.
Dan turut berduka bersamanya.
.
.
Selepas kepergian Antonio, Nesia langsung menuju kamar dan merebahkan dirinya. Meletakkan sebelah pipinya di atas bantal dengan tangan dan kaki yang terentang lebar. Kedua matanya tampak bersorot datar, memandang pigura duduk di nighstand miliknya yang memajang fotonya—dirinya yang tampak tersenyum lebar di depan gerbang Hetalia High. Foto yang terambil sesaat sebelum ia memasuki MOS Hetalia High.
MOS…
Hetalia High…
Dan kelopak mata itu terpejam sembari setetes air mata kembali menuruni pipinya.
Malam itu, Nesia melewatkan makan malamnya. Melewatkan panggilan Chau yang memintanya untuk membantunya mencari salah satu buku kuliahnya di kamarnya. Melewatkan waktu belajarnya dan mengerjakan PR untuk besok.
Dan tentu saja, melewatkan acara atau janji apapun yang ingin dilakukannya malam itu.
Bukan karena sengaja. Tidak. Hanya saja, Nesia bahkan tidak ingat, tidak memiliki waktu dan suasana hati yang cukup bagus untuk mengingat dan mempedulikan apapun selain perasaan dan pemikirannya sendiri.
Nesia hanya tidak ingat.
-oOo-
Pandangan gadis itu tampak bingung, menatap ke arah luar jendela kaca dari bus yang tengah dinaikinya. Sesekali matanya menatap pada layar HP-nya, lantas ke arah luar jendela kaca, lantas HP-nya lagi, lantas ke luar kaca lagi, dan begitu beberapa kali hingga rasanya ia kesal sendiri.
Bukan karena apa, hanya saja, ia takut jika ia akan tersesat. Karena, selain dengan modal sms Senior Alfred yang menyatakan sebuah alamat, Nesia sama sekali tidak tahu di mana tepatnya rumah Arthur Kirkland berada.
Ya. Kalian membaca kalimat di atas dengan tepat, kok. Rumah. Arthur Kirkland. Seperti mimpi saja memang, rasanya, menemui gadis yang biasanya akan mencekik leher pemuda berambut pirang itu, kini tampak duduk di dalam bus yang menelusuri jalanan yang kata Senior Alfred, akan mampu mengantarnya ke rumah Ketua OSIS Hetalia High tersebut.
Bukan—Nesia bukannya hendak melakukan pembunuhan berencana diam-diam di rumah Arthur (sekalipun rasanya itu adalah alasan nomor satu yang paling logis, jika Nesia sudi menuju rumah pemuda itu), akan tetapi adalah alasan lain yang justru sama sekali terdengar konyol, tidak masuk akal, gila, sinting, tidak waras, dan semua kata atau kalimat yang mewakili ketidakmungkinan.
'Hah? Kau tidak tahu, ya? Arthur 'kan tengah sakit sejak dua hari yang lalu. Kukira kau sudah diberitahu langsung olehnya.' Begitulah ucapan Alfred ketika Nesia merasa sangat heran ketika untuk pertama kalinya, ia datang ke diskusi kelompok tanpa melihat batang hidung Arthur yang sudah mengkerut siap melontarinya dengan kata-kata makian karena terlambat.
'Parah banget, deh, sakitnya. Kau harus menjenguknya, menurutku. Selain karena dia sendirian di mansion sebesar itu, juga karena kau adalah junior sekaligus partner kompetisi debat dengannya. Oke?' begitulah tadi penjelasan lebih lanjut yang diberikan Alfred tanpa Nesia minta, 'Aku sudah menjenguknya kemarin. Nanti malam aku akan datang lagi. Kau ke sana duluan saja setelah pulang sekolah,' dan diakhiri dengan kalimatnya yang seolah 'memerintah' Nesia tanpa memberi kesempatan bagi Nesia untuk mengeluarkan pendapatnya.
Dan lebih heran lagi, ketika tadi seusai bel pulang sekolah berbunyi, Nesia meminta maaf tidak bisa pulang bersama Lovino dan justru melangkah ke arah yang berlawanan dari arah yang biasa ia tempuh untuk menuju apartemennya.
'Aku ada urusan penting, Lovino,' inilah hal yang paling mengherankan ketika Nesia menyamakan kalimat 'menjenguk Arthur' dengan kalimat 'urusan penting'.
"Otakku pasti sudah tidak waras," gumam gadis itu sembari mengetuk-ketuk pelan pelipisnya. Mana ini dia tidak tahu di mana rumah pemuda itu pula… Modal alamat di sms Senior Alfred rasanya tidak cukup untuk menjadi jaminan bahwa ia tidak akan tersesat.
Langit sore tampak mendung dengan butiran kristal es yang melayang perlahan, ketika Nesia menjejakkan kakinya turun dari bus yang dinaikinya. Salju memang turun tidak lebat, tetapi angin yang sesekali berhembus lumayan memberikan rasa dingin hingga menimbulkan uap pada hembusan napas Nesia, juga orang-orang di sekitarnya.
Seperti kata Senior Alfred, Nesia harus melangkahkan kaki sekitar kurang lebih dua menit dari tempat pemberhentian bus, untuk mampu mencapai mansion Arthur. Dengan kaki berbalut boots coklat muda yang sewarna dengan mantelnya, Nesia perlahan melangkah sembari membagi pandangannya antara ponselnya yang berisikan sms dari Senior Alfred tentang alamat Arthur, juga keadaan sekelilingnya.
Dan memang, kurang lebih dua menit waktu yang dibutuhkan Nesia untuk sampai di sebuah rumah—mansion yang terletak di pinggir sebuah jalan kecil yang cukup lengang.
Ketika sms Senior Alfred bertuliskan kata mansion sebagai deskripsi hunian Arthur, Nesia sudah membayangkan akan sebuah rumah yang luas dan lebar, setidaknya seperti rumah Senior Alfred yang pernah sekali dikunjunginya dahulu. Akan tetapi, Nesia merasa dirinya antara terkejut dan tidak terkejut, ketika kini ia berdiri di depan sebuah gerbang yang menjulang tinggi, melindungi sebuah bangunan yang bahkan rasanya tampak lebih dari sekedar mansion.
Nesia dengan sedikit gugup, menelan ludah dengan begitu sulit. Ia tiba-tiba merasa begitu 'kecil' dan 'rendahan' berdiri di luar bangunan ini… Tidak heran juga sih, jika seperti inilah kediaman Arthur. Sikap dan perilaku sok bangsawan—dan memang, pemuda itu memang bangsawan—nya itu bisa menjadi petunjuk tersendiri akan status sosial dan ekonomi keluarganya sih. Tetapi… tidakkah ini berlebihan? Apalagi tadi Senior Alfred bilang bahwa pemuda itu tinggal sendiri di mansion sebesar ini?
Demi apa…
Uh. Rasanya Nesia bahkan tidak bisa menyangkal lagi ketika mengingat dahulu Arthur mengatai apartemennya dengan kata 'murahan' dan 'sumpek'.
Sempat merasa ragu untuk masuk, akan tetapi niatnya untuk kabur terhenti ketika seseorang keburu melihatnya berdiri terpaku seperti orang bego di depan pagar besi yang menjulang tinggi itu. Dari penampilannya, sepertinya lelaki itu adalah salah satu pelayan mansion ini, pikir Nesia. Dan Nesia terpaksa meringis garing dan makin tampak bodoh, ketika orang itu menghampirinya dan menanyakan apakah ada yang bisa diperbuat untuknya.
"A-anu…" bahkan dengan seseorang yang tampak seperti butler saja ia tampak demikian gugup, "Aku teman dari Arthur Kirkland. Apakah ia ada? Aku ingin—ehem!—menjenguknya," Nesia tersenyum lebar.
Dan saat dirinya berhasil melewati pagar besi itu dan mulai memasuki halaman mansion tersebut, kekaguman dan keterpukauan Nesia semakin menjadi saja, rasanya. Tidak hanya halaman ini tampak begitu luas (hingga rasanya bisa dibangun satu rumah baru dan luas di halaman tersebut), namun juga dihias dengan arsitektur sedemikian rupa yang rasanya membuat Nesia memasuki taman sebuah negeri dongeng—banyak tumbuhan, semak berbunga, rumput dan pepohonan, mengingatkannya pada Taman Utama Hetalia High yang indah. Dan saat dirinya memasuki mansion, rasanya ia lupa bahwa tujuannya kemari adalah untuk menjenguk Arthur, bukan sight seeing seperti ini.
Arsitektur yang klasik namun dengan beberapa sentuhan gaya modern di sana-sini. Pilar-pilar yang menjulang. Perabotan yang antik dan terlihat mahal—jelas mahal, hingga Nesia bahkan tidak berani berada kurang dari satu langkah darinya. Mansion yang luas—sangat luas hingga Nesia yakin dirinya pasti membutuhkan waktu beberapa lama untuk bisa menghapal mana arah ke ruangan ini dan mana arah ke ruangan itu.
Tetapi… sepi. Nyaris sepi tanpa suara, selain bunyi dari tapakan sepatunya dan sepatu pria yang berjalan di depannya—mengantarnya ke tempat Arthur—dan suara detak jarum jam di ruang tengah yang baru saja ia lewati.
Entah ruangan apa saja yang telah ia lewati. Entah berapa kali ia berbelok di sini dan berjalan lurus di sana. Entah berapa lorong dan berapa tangga yang telah ia lalui. Gadis itu sibuk menolehkan kepalanya kesana-kemari—sebuah keuntungan baginya bahwa lelaki itu berjalan di depannya, sehingga tidak memergoki sikap unlady-like yang kini dilakukannya.
Dan Nesia nyaris menabrak punggung lelaki itu, ketika lelaki itu berhenti di depan pintu sebuah ruangan. Menoleh, ia memberi Nesia sebuah senyum kecil nan ramah padanya, sebelum berkata, "Tuan Kirkland ada di dalam, Nona," sembari menunjuk pintu di depannya.
Dan Nesia menatap ragu, "'Di dalam'?"
"Ya, Beliau sedang terbaring di kamarnya. Anda bisa menjenguknya di dalam."
Mendengar kata 'kamar' saja membuat niat Nesia langsung menciut begitu saja. Rasanya ia tidak ingin jika memasuki kamar orang lain, apalagi jika orang lain itu adalah dari lawan jenisnya. Memang sih, Arthur sedang sakit, dan tidak mungkin jika ia berada di ruangan lain selain terbaring di kamar. Dan memang juga, karena sakit, Arthur tidak mungkin melakukan tindakan pelecehan kepadanya—semoga. Tetapi tetap saja…
Rasanya kok tidak sopan, ya?
"Apa sakitnya cukup parah?" tanya Nesia ragu, berharap jika jawabannya tidak, maka ia bisa membujuk si pelayan—oke, Nesia sekarang yakin bahwa orang itu adalah pelayan, terlihat dari penggunaan kata 'Tuan' ketika orang itu menyebut nama Arthur—untuk membujuk majikannya menemui tamu di luar kamarnya.
"Demamnya sempat mencapai tiga puluh sembilan derajat selsius," Uh! "Tetapi sekarang sepertinya sudah mendingan karena obat dari dokter pribadi yang tadi pagi baru memeriksanya."
"Apakah ia hanya demam?" entah kenapa Nesia bertanya lebih jauh. Dan yang penting, sejak kapan ia peduli akan kondisi kesehatan Arthur?
"Dokter bilang begitu," pelayan itu tersenyum kembali, "Dua hari yang lalu Tuan Kirkland pulang larut—entah dari mana. Dan keesokan harinya, ia terserang demam yang cukup tinggi."
Nesia terdiam dengan pandangan yang tampak seperti mengulas sesuatu.
Dua hari yang lalu…
Dua hari…
"Well then… Pukul tujuh, oke? Kita bertemu di depan minimarket dekat apartemenmu."
Tanpa sadar, bibir Nesia mengulum senyum miring bercampur gugup. Dalam hatinya, ia tengah melakukan penyangkalan kuat bahwa ingatannya tersebut memiliki hubungan apapun dengan sebab sakit parah Arthur saat ini.
Tidak mungkin… tidak mungkin, 'kan, jika pemuda itu benar-benar datang malam itu? Menunggunya sampai larut malam? Di tengah cuaca bersalju?
Tidak mungkin…
Iya, pasti Arthur jatuh sakit karena alasan lain.
Termenung dan melakukan penyangkalan atas ancaman rasa bersalah, Nesia tidak menyadari bahwa kini ia telah sendiri—pelayan tersebut entah sejak kapan, telah pergi. Gadis itu menatap pintu berwarna putih dengan gagang keemasan di depannya.
Lantas, menelan ludah dengan gugup, ia mengetuk pintu pelan. Dua kali—pelan. Dan kemudian membukanya perlahan ketika terdengar sahutan lemah dari dalam.
Hal pertama yang dilihat oleh kedua mata Nesia adalah Arthur yang tampak memberinya sorot terkejut bercampur heran.
Terbaring dengan piyama berwarna putih di atas sebuah ranjang king size dengan bed cover bercorak Union Jack, Arthur Kirkland sepertinya tidak menduga akan memperoleh tamu yang sama sekali tidak dibayangkannya—mungkin juga, pikir Nesia, tidak diharapkannya. Well, Nesia sendiri juga belum bisa percaya bahwa ia benar-benar memasuki kamar (yang merupakan ruangan privat bagi semua orang) dari orang yang selama ini paling ia sesali di dunia.
Menutup pintu di belakangnya secara perlahan, Nesia menelan ludah, sebelum mengulum senyum kecil bercampur ragu, "Well… Aku dengar dari Senior Alfred bahwa kau sakit," ujarnya lirih sembari menatap Arthur.
Benaknya masih sibuk meyakinkan dirinya bahwa Arthur sakit bukan karenanya—bukan karena kebodohannya melupakan janji mereka dua hari yang lalu.
Tidak mungkin.
Arthur tampak terdiam lama dan hanya memandang Nesia, seolah berpikir akan sesuatu. Sebelum akhirnya ia menghela napas berat-berat dan sedikit susah payah menggerakkan tubuh lemahnya untuk terduduk dan bersandar di punggung kasur, "Yeah… Sudah agak mendingan."
Menelan ludah dengan sulit, kedua kaki Nesia yang beralaskan kaus kaki (boots-nya telah ia tanggalkan di rak depan), melangkah di atas karpet beludru berwarna soft blue, lantas mendudukkan diri di sebuah kursi di depan sebuah nighstand, di samping ranjang yang diduduki Arthur.
Dari jarak dekat begini, Nesia mampu melihat bahwa Arthur tampak begitu lemah. Napasnya tersengal-sengal dan beberapa kali suara batuk keluar dari mulutnya. Wajahnya tampak memerah hingga Nesia yakin bahwa tubuh pemuda itu pasti masih merasakan demam tinggi.
"Katanya demammu tinggi sekali, ya?" ucap Nesia menyuarakan pikirannya.
"T-tiga puluh sembilan derajat selsius, terakhir kali kulihat," jawab Arthur sembari menatap jendela kaca besar yang berfungsi sekaligus sebagai pintu ke arah balkon kamar. Langit sore masih tampak mendung, dan dari dalam kamar sini, Nesia mampu melihat bahwa salju masih turun dengan menghiasi udara di luar sana.
"Memangnya apa yang telah kau lakukan hingga sakit seperti ini?" desak Nesia—merupakan upaya desperetnya untuk keluar dari rasa bersalah yang semakin kuat menyergap dirinya.
Tidak mungkin bahwa ini semua karenanya. Tidak mungkin…
"Sudahlah," gumam Arthur di sela napasnya yang tersengal lemah, "Ini tidak begitu parah kok—"
"Tidak begitu parah apanya?" potong Nesia cepat. Kedua alisnya mengerut tidak mengerti, "Demammu tinggi sekali dan kau bilang itu tidak parah?"
"Sudah kubilang aku sudah baikan—"
"Itu tidak merubah fakta bahwa kau sakit keras!"
Arthur menoleh, dan ditatapnya Nesia dengan pandangan tidak mengerti, sembari menggumam, "Kau bicara seolah-olah aku memiliki penyakit kronis dan bisa membunuhku sa—"
"Tiga puluh sembilan derajat selsius bisa membunuh siapa saja, Senior!" ketiga kalinya Nesia memotong kalimat Arthur, "Kenapa kau bisa seperti ini? Gara-gara kau pulang terlalu larut dua hari yang lalu? Kenapa? Apa memangnya yang kau lakukan hingga kau membekukan dirimu sendiri di luar sana?"
Rentetan pertanyaan itu terlontar dalam sekali tarikan napas dari mulut gadis itu. Kedua matanya memandang lurus ke kedua mata Arthur yang tampak memandangnya dengan pandangan tidak mengerti.
Nesia sendiri tidak mengerti akan apa yang tengah dipikirkannya. Yang jelas, perasaan takut ini semakin menguat saja. Rasa bersalah yang telah hadir di hatinya. Dan rasa bersalah yang untuk pertama kalinya, ia rasakan untuk Arthur, orang yang selama ini justru membuatnya bangga ketika ia berhasil berbuat dosa padanya.
Hanya saja… Membayangkan bahwa Arthur menghabiskan berjam-jam di malam hari hingga pulang larut untuk menungguinya di depan minimarket, di tengah hawa dingin malam musim dingin, membuat Nesia merasa seperti orang paling kejam di dunia. Sekalipun ia sama sekali tidak sengaja melupakan janji itu, tetapi tetap saja…
Menghela napas dalam-dalam, gadis itu menunduk. Kedua tangannya mengepal di atas pangkuannya. Dengan lirih, ia berucap, "Maaf, aku tidak datang saat dua hari yang lalu. Aku—" Tidakkah terlalu kejam jika berterus-terang bahwa dia lupa? "—Aku tidak bermaksud. B-berapa hal menjadi sangat rumit—maksudku.. Aku ti-tidak menyangka—uh… ji-jika—"
"Dua hari yang lalu apa maksudmu?"
Kepala Nesia kontan mendongak saat ia mendengar suara Arthur. Ditatapnya Arthur dengan pandangan tidak mengerti, di mana pemuda itu membalas Nesia dengan sebuah tatapan sayu—lemah karena sakit dan napas yang tersengal berat.
Dengan ragu, Nesia merespon, "Du-dua hari lalu kau—"
"Dua hari lalu aku sibuk mengerjakan tugas OSIS di kediaman Andrew Scholte, si Sekretaris OSIS, hingga pulang larut malam," Arthur tertawa geli dan lemah, "Jadi, tidak ada hubungannya sama sekali denganmu."
Nesia makin mengkerutkan dahi tanda tidak mengerti.
Ia ingat betul bahwa tiga hari yang lalu Arthur benar-benar hendak mengajaknya keluar saat malam di hari berikutnya. Dan sekarang… sekarang pemuda itu bilang bahwa ia mengerjakan tugas OSIS di rumah Senior Scholte?
Ngigau, ya?
"T-tapi—k-kau—aku—" Nesia tampak cukup kesulitan untuk mencari kata yang tepat agar mampu mengingatkan kembali pikiran pemuda itu akan tawarannya beberapa hari yang lalu. Akan tetapi, gadis itu berhenti bicara ketika sebuah pemikiran singgah di otaknya.
Ada dua kemungkinan yang menjadi alasan mengapa Arthur seolah tidak ingat semuanya. Pertama, karena efek demam tinggi sehingga pikirannya kacau dan tidak ingat beberapa hal. Dan kedua: dari awal pemuda itu memang sengaja berniat mengerjai Nesia.
Strategi Arthur: Berpura-pura berbaik hati mengajak hang out berdua. Ketika Nesia datang, Arthur justru tidak datang. Ketika saat bertemu di sekolah Nesia bertanya kenapa, maka Arthur akan menertawai dan mengatainya dengan kalimat 'Kau benar-benar datang? For Christ's sake! Hahaha! Mikir ga sih, itu konyol banget! Mana mungkin banget aku mau pergi berdua saja denganmu! Tidak mungkin banget hingga seribu tahun ke depan. Hahahaha!'
Ih.
Sebelah ujung mata gadis itu otomatis berkedut keki ketika pemikiran itu singgah di otaknya. Meskipun itu masih pemikirannya, kok kedengarannya logis sekali, ya? Tangannya jadi rasanya gatal sekali ingin mencekik leher itu…
"Hei? Kau melamun?" Arthur melambaikan sekali sebelah telapak tangannya, di depan muka Nesia, di mana gadis itu segera menepis kasar tangan itu, "Hei, ingat, aku sedang sakit. Lembut dikit kenapa, sih?" gerutunya.
"Kau menjengkelkan," desis gadis itu kesal. Entah mengapa juga ia harus merasa kesal karena pemikiran yang belum tentu benar. Lagipula toh, tidak seperti ia benar-benar datang ke minimarket (tempat mereka berjanji bertemu) malam itu, 'kan?
Ia juga tidak rugi apa-apa, kok.
Mendapati Nesia yang tampak kesal, Arthur memberi pandangan bingung dan ragu. Namun sedetik kemudian, sebuah seringai kecil dan lemah tampak muncul di bibirnya yang pucat.
Meski kecil dan lemah, tetap saja itu seringai.
"Tapi kau peduli padaku."
Sorot mata Nesia langsung memberi Arthur tatapan yang seolah berkata, 'Apa?' dengan heran dan terkejutnya.
"Kau. Peduli. Padaku," mulut Arthur perlahan-lahan mengucapkan tiap suku kata dengan jelas. Dan diakhiri dengan sebuah seringai lemah. Lagi.
"A-apa?" kali ini Nesia benar-benar menyuarakan keheranannya, "Peduli? Padamu? Yang benar saja!" gadis itu tertawa lirih sembari mengibaskan sebelah tangannya.
"Benar. Kau datang kemari dan memberiku rentetan pertanyaan bernada khawatirmu barusan. Kau khawatir padaku."
Dan Nesia langsung berpikir bahwa rasa panas di wajahnya disebabkan karena ia masih marah dan jengkel akibat pemikirannya terhadap 'rencana busuk Arthur' dua hari yang lalu—bukan karena sebab lain.
"I-itu karena—" Nesia menelan ludah dengan cukup sulit, "Kompetisi! Iya, kompetisi. M-maksudku… Jika kau sakit, maka kerja kelompok kita akan terhambat demi kompetisi yang akan hadir beberapa minggu lagi—"
"Oh, ya?" dan Nesia tidak tahu mengapa ia merasa tidak nyaman dengan seringaian yang semakin lebar itu. Seringai yang seolah mengolok semua alasannya—yang seolah-olah mengatakan bahwa Arthur lebih tahu daripada Nesia sendiri, "Lantas apakah tadi aku bermimpi kau mengatakan kalimat permintaan maaf seolah-olah kau takut bahwa aku sakit karena kesalahanmu? Bukankah itu pertanda kau khawatir padaku?"
Blush.
Nesia masih berpikir bahwa wajahnya blushing karena ia marah—tentu saja, karena apa lagi? Bukan karena ia malu atau kikuk atau merasa benar-benar seperti idiot.
Terngiang lagi semua kalimat yang telah diucapkannya tadi. Terucapkan dengan tergesa-gesa. Diucapkan dengan nada yang mencerminkan kekhawatiran yang juga ditunjukkan oleh sorot matanya. Dan kalau gadis itu mau jujur pada diri sendiri, ia tadi juga sempat merasa takut—meskipun ketakutannya juga karena ancaman rasa bersalah yang datang menyergap.
Meski sadar bahwa apa yang diucapkan Arthur benar—bahwa, sayangnya, ia memang sempat mengkhawatirkan pemuda itu—tetapi sampai kiamat Nesia tidak akan mengakuinya sedikitpun. Ia tidak mau memberikan kalimat apapun yang bisa membuat harga diri Arthur yang udah setinggi khayangan itu, bisa lebih tinggi lagi hingga jebol dari atap khayangan.
"Dan sekarang wajahmu sekarang benar-benar memerah," Arthur terkekeh lemah, "Kenapa? Merasa tersipu?"
Uh.
Kalimat Arthur justru memperparah warna yang disebutkannya barusan, di wajah Nesia.
Dan Nesia rasanya tidak percaya bahkan dalam keadaan sakit, lemah, tersengal payah, dan demam seperti itu, pemuda itu masih memiliki tenaga dan keberanian untuk bersikap menjengkelkan seperti itu?
Puji Tuhan.
Bersyukurlah bahwa Nesia tidak mencekik leher itu dan membuat Arthur mati saja sekalian. Karena gadis itu hanya menghardik, "Berhenti berbicara non-sense, sialan!" dengan begitu tsundere-nya, sebelum menyambar tas dan mantelnya, lantas keluar dan menyisakan bantingan pintu kamar Arthur.
Tak repot-repot pula untuk pamit pada pemuda sialan tersebut.
Bahkan sepanjang perjalanan pulang, mulut itu masih menggerutu dan mengumpat kesal.
Dan dengan rona merah tipis yang mewarnai kulit wajahnya.
Akan tetapi, Nesia berpikir bahwa itu karena ia terlalu kesal dan marah. Atau mungkin karena hari semakin beranjak menuju petang, sehingga suhu udara menurun beberapa derajat.
Iya, pasti karena itu.
Saat ia telah turun dari bus di halte dan melanjutkan perjalanan pulang menuju ke apartemennya, kedua mata gadis itu tanpa sengaja menatap bangunan minimarket yang berdiri tepat di samping jalan yang biasa ia lalui menuju apartemen.
Menghela napas, gadis itu melangkah ke dalam dan membeli satu-dua barang. Pandangan matanya seolah mengulas sesuatu dan tengah berpikir keras, sebelum akhirnya ia menelan ludah dan memberanikan diri untuk bertanya pada Flo Neack, karyawati penjaga kasir yang tengah menghitung kembalian uang Nesia, mengenai, "Dua hari lalu apakah ada seorang pemuda yang berambut pirang yang berlama-lama berada di depan minimarket ini?"
Dan Flo menjawab, setelah berpikir sejenak seolah mengingat-ingat.
Sepanjang sisa perjalanan menuju apartemen, pikiran Nesia sama sekali tidak terlepas dari Arthur Kirkland.
Mengapa ia peduli pada pemuda itu? Mengapa ia sampai-sampai mampir ke minimarket dan membeli barang yang sebetulnya tidak terlalu ia butuhkan, hanya untuk mengorek info itu? Mengapa ia peduli akan kebenaran ucapan Arthur?
Mengapa ia harus peduli ketika kini ia tahu bahwa Arthur telah berbohong kepadanya?
Dan mengapa Arthur harus berbohong kepadanya?
"Ah, ya. Dia berdiri di depan sana sejak kira-kira pukul setengah tujuh malam dan hingga pukul sepuluh. Ia sempat menjadi bahan perhatian dan obrolan para pekerja di sini yang merasa geli melihat dengan perbuatan bodohnya tersebut."
Dan mengapa rasa bersalah itu langsung membesar di hatinya, begitu telinganya mendengar ucapan dari Flo Neack terhadap pertanyaan yang ia ajukan?
Menghela napas dalam-dalam, ia tak habis pikir mengapa semua hal menjadi tidak masuk akal seperti ini.
-oOo-
Next Chapter
"Di sini. Di lapangan ini. Sekarang kau sudah dua kali menginjak sepatuku dan membuatku terjatuh seperti ini, Nes."
.
"Jadi, hari ini kita akan pergi ke restoran milik keluarga Antonio. Antonio mengundang kita untuk datang ke sana—"
"Aku tidak mau lagi berurusan dengan orang ini dan kini kau mengajakku pergi bersamanya? Like I'd give a shit to his fucking restaurant!"
.
"… Ada apa denganmu? Kupikir kau terlalu banyak… tersenyum hari ini?"
"Mungkin, i-ini karena Senior Bella."
.
"Kenapa kau tidak memberitahu namamu? Sejak pertama kali kau menelpon dahulu, kau tidak mau mengakuinya. Tetapi.. aku merasa bahwa aku pernah mendengar suaramu—aku seperti mengenalmu… Ah! Jangan-jangan kau si pengirim surat misterius tersebut?!"
Terlalu awal untuk berekspektasi pada pairing akhir dari fic ini, karena saya adalah tipe orang yang suka kejutan dan suka kepo-in orang :D Jadi monggo, polling belum ditutup :*
Pojok review. Monggo~
Kapan update?/ Ini udah update. Sorry, bray :( /Kenapa di fic ini sering hujan?/ Karena saya sering galau /plak/ Ga ah. Karena emang settingnya kemarin-kemarin masih musim gugur. Dan tentunya, musim gugur di jaman pemanasan global (?) ini ga hanya soal daun yang rontok doang. Ingat bahwa setting fic ini adalah masa kontemporer ya /Arthur boong ya pada Nesia?/ Kalau saya kasih tahu, ga seru dong :p /Yang ngajak kencan itu Arthur/ Pengennya sih saya. Tapi karena ga mungkin buat nambah OC yang berpotensi membuat readers muntah, jadi saya pilih Arthur secara random dan asal. Hoho /dijejelinscone /Arthur lebih cocok jadi Kakak/ Hm... mungkin /shrug /Surat itu dari Lovino untuk Antonio ya? Ada SpaMano?/ Wakakak. Cuma kamu lho yang nebak dan mengaitkan Mr Sender itu dengan pairings malexmale. Plot twist banget deh :D /SpaBel manis/ Thanks :) /Tolong adain NetherPort/ Belum waktunya Netherland nongol :P /Kapan Nesia dan Lovi baikan ama Antonio?/ Nunggu saya mood buat bikin mereka baikan. Hoho /Hint UKSp mantap!/ YEAH! /jiwaUKSpkumat/ /Saya janji bakal rajin review/ Enelan Ciyus miappah? /udah lama ga ngalay/ /Kapan Lovi muncuulll?/ Biasanya yang jarang muncul itu justru akan memberi kejutan hoho /sokmisterius/ /Arthur baik tapi sadis/ :D /Cowok misterius itu Vash?/ Boleh boleh saja. Tebak terus dengan siapa aja juga boleh :3 /Nether ama Nesia ga bakal ketemu?/ Ketemu, tenang aja. Tapi tinggal tunggu waktu bray /Ini tinggal beberapa chapter lagi ya?/ Trust me. Still a LOOOONNNGGG way to go T.T /Kasihan ama Lovino yang di-brotherzone-in ama Nesia/ Brother is still better than just a FRIEND /dijaritengahiLovi/ Tapi seperti yang saya bilang, chapter Absurdities masih panjaaanggg. Jadi mungkin aja ada kejutan :p /Saya udah bikin doujin buat fic ini, tapi chapter ini (24) nge-php-in saya gegara Arthur yang kayaknya cuma mainin Nesia/ Ciyus? Tunjukkan doujinnya entar baru saya kasih UKNesia yang banyak $_$ /Kenapa Nesia sukanya mentok banget ama Antonio?/ Pertanyaan sama untuk saya ke kamu: Kenapa nama kamu nancep mentok banget di hati dan pikiran saya? :( /woiii!/
Betewe, ga kerasa udah chapter 26. God forbid, sepertinya Absurdities akan menjadi fic dengan chapter terpanjang di FHI T.T Fic dengan chapter terpanjang selama ini apa, ya?
Jika nantinya saya agak telat update dan kalian ingin menuntut (?) saya untuk update, coba PM atau logged-in review. Nanti saya balas. Susahnya kalau kalian pake anonymous, saya bingung ngasih taunya gimana T.T
Jika faktor-faktor lain tetap dan sama, banyak dan cepatnya review kalian berbanding lurus dengan kecepatan update saya (Storm, 2013).
Terimakasih. Viva La FHI
Salam Ironi di atas Ironi (?) :'(
DIS-iee /sokimut/
