Errr… saya tidak tahu, apakah 'RL yang menjadi rumit' itu kini menjadi lame excuse terhadap keleletan update fic ini T.T Tapi ciyus miappah enelan, RL semakin rempong (?) dan inipun, saya korupsi waktu nge-jurnal dan nge-paper buat ngasih update ini untuk kalian :'D Hug me? /dor/

Trus juga saya mau ngasih makasih dan cinta (?) untuk Maruki Shitoichi yang udah sukarela (?) ngebikinin fanart dari salah satu adegan di chapter 23 fic ini :D Go check her profile, guys and find her dA site to see it :) Kesan fluffnya kena banget kok. Keren dwech! /4thumbsup/

Lophe lophe muachmuach /dor lagi/


Sore itu Hetalia High tampak begitu lengang. Maklum, bel pulang sekolah telah berbunyi semenjak satu setengah jam yang lalu. Terdapat beberapa murid yang masih bertahan di sekolah tentunya. Entah itu untuk kegiatan klub atau apa. Lapangan depan kompleks gedung A tampak terisi oleh beberapa murid yang sekedar duduk-duduk di pinggir lapangan, atau berjalan menyebranginya untuk mencapai gerbang sekolah.

Termasuk siswi yang memakai mantel berwarna soft pink tersebut.

Memandang ke atas, ia sedikit menghela napas kecil ketika menyadari betapa kelamnya langit di atas sana. Butiran-butiran salju melayang pelan dari hamparan yang luas tersebut, dan beberapa mendarat di ujung hidungnya, kepalanya, dan permukaan pakaiannya.

Annesia Saraswati merasa bahwa ia begitu rindu akan sinar hangat mentari musim panas yang sudah lama tidak menyapa.


Axis Power Hetalia © Hidekaz Himaruya

Picture © Sakurazaka Ohime

I just own the plot of the story and I don't gain any commercial advantages by publishing this fic.

Warning: AU, Human Name, High School, OC, OoC yang mendewa, (highly possible) crack pairs, (a lil') Nesia-centric, but no Mary Sue/Gary Stu I assure you :D totally absurd.

Pairing: Anda bisa menebak sendiri mana yang main pairing, dan mana yang sekedar hints dan fans service :p

Ini murni dari pemikiran saya. Maaf jika kebetulan ada kesamaan ide karena setting gakuen sangat banyak di FHI. Itu tidak disengaja :D

Long Live FHI and Say NO to Plagiarism! Mari berkarya dengan hati dan imajinasi :D

Maju FHI!

Happy reading


Lovino Vargas lagi-lagi tidak turut menemani perjalanan pulangnya. Bukan sebuah hal yang membuat Nesia keberatan juga, sih. Karena gadis itu maklum bahwa Hetalia Anniversary akan datang sebentar lagi—sudah menjadi kewajiban Klub Botani untuk tak hanya menjamin persiapan makanan, tetapi juga persiapan dekorasi taman dan interior gedung. Lagipula juga, semenjak kepergian Feliciano dari Green Brooklyn, Lovino lebih sering berkunjung ke kediaman Kakeknya—alasannya sih karena ada urusan keluarga. Dan apapun itu, Nesia hanya bisa bersyukur dan berharap semoga, apapun permasalahan keluarga yang dialami sahabatnya, akan segera terselesaikan.

Kedua kaki yang berbalut boots hitam itu melangkah melintasi lapangan lebar kompleks gedung A Hetalia High. Diperhatikannya keadaan sekitar, di mana masih terdapat beberapa murid yang ada di sana—tak peduli hawa dingin salju yang turun. Ada yang berbincang di pinggir lapangan, bermain-main dengan bola basket, atau berjalan melintasi lapangan ini, seperti dirinya.

Melihat semua itu, Nesia jadi berpikir bahwa sudah nyaris setahun ia menjadi murid sekolah elit tersebut. Waktu yang cukup lama, tetapi juga terasa cukup singkat pula dengan begitu banyak hal yang terjadi. Rasanya… seperti baru kemarin saja ia pertama melihat gedung ini dan terpesona akan keindahan dan kemegahannya. Seperti gedung sekolah-sekolah elit di novel-novel—bahkan awalnya ia mengira bahwa Hetalia High adalah istana, bukan sekolah.

Dan rasanya seperti baru kemarin saja ia menjalani hari pertama MOS…

"Sepertinya sore ini, akhirnya, kita mampu pulang bersama, Nes."

Tahu-tahu ia tidak sendirian lagi. Tanpa perlu menoleh, ia sudah tahu siapa pemilik suara yang baru saja didengarnya. Oleh sebab itu, ia hanya memberi senyuman kecil ketika menoleh dan mendapati Antonio Carriedo tengah berjalan di sampingnya.

Tersenyum lebar menampilkan giginya yang putih dan rata. Emerald yang bersinar memberi kehangatan yang tak akan pernah mampu diberikan musim dingin pada dunia. Helai coklat ikal berantakan yang selalu membuat Nesia berandai akan kelembutannya jika ia mendapatkan kesempatan untuk menyisirkan jemarinya—

Menepis pemikiran tersebut, gadis itu menghela napas sembari memasang senyum heran—berupaya agar Antonio tidak merasa curiga akan dirinya yang beberapa saat telah memandangi dirinya, "Kau tidak membawa motormu?"

Percakapan mengenai apapun, tidak jadi soal selama bisa mengalihkan pikirannya dari semua angan dan impiannya akan pemuda tersebut.

"Nah, tak peduli betapa aku mencintai motorku itu, tetapi aku lebih mencintai kesehatan diriku yang mungkin bisa terancam jika aku terlalu mengandalkan mesin untuk berpindah tempat, 'kan?" diakhiri dengan tawa lirih Antonio dan senyuman kecil Nesia.

Lantas keadaan kembali menghening.

Nesia menggenggam erat kedua tali ranselnya sembari menunduk menatap tanah lapangan yang ditapaki kedua kakinya.

Memang, kedatangan Antonio waktu itu ke apartemennya bisa sedikit mengurangi tensi yang ada di antaranya dan pemuda itu. Soal Lovino, Nesia tidak begitu tahu karena selain ia tidak pernah melihat Lovino bersama Antonio lagi, juga karena Lovino akan selalu memasang wajah terganggu setiap Nesia mengangkat obrolan mengenai Antonio.

Antonio sudah meminta maaf, mengakui apapun kesalahannya—sekalipun Nesia tidak akan pernah mau mengatakan secara lisan dan langsung akan sebab yang sebenarnya. Pemuda itu benar-benar tulus dan jujur akan perasaan bersalah dan rindunya—karena semenjak kedatangannya ke apartemen Nesia waktu itu, ia sudah beberapa kali memperbaiki semuanya. Mengembalikan semuanya—meski tidak benar-benar seperti dahulu, setidaknya "nyaris" seperti dahulu. Mengirim pesan, telepon, mengunjungi kelas Nesia beberapa kali, berkunjung ke apartemen Nesia, dan sekarang, pulang bersama.

Nesia lega dan bersyukur akan semua ini. Tak sekali dua kali ia mengharapkan semua kembali seperti dahulu—dan kini semua mulai membaik. Ia berusaha untuk belajar mengendalikan perasaannya, mengendalikan pemikirannya, dan ia tidak ingin kembali bersikap egois dan kejam yang membuat Antonio merasa begitu bersalah akan kesalahan yang tidak ia ketahui, sekaligus akan kesalahan yang sebenarnya, juga tidak bisa dilimpahkan kepadanya.

Perasaan tidak bisa dipaksakan, bukan?

Gadis itu menghela napas berat, hingga terbentuk kepulan uap tipis dari mulut dan hidungnya.

Tetapi tetap saja… rasa canggung ini masih ada. Begitu kuat. Begitu kentara, menggantung di udara sekitar mereka. Ia bahkan belum bisa berbicara dan tertawa normal tanpa harus merasakan jantungnya berdebar kuat tiap mendengar tawa riang dan melihat emerald yang hangat itu.

Dan sepertinya Antonio juga merasa demikian, terlihat dari diamnya pemuda itu mengiringi kebisuan Nesia.

Nesia tidak ingin sepanjang perjalanan pulang ini akan dihabiskan dengan kecanggungan seolah-olah mereka berdua adalah orang asing bagi satu sama lain.

Mungkin karena begitu terfokus dan tenggelam pada pemikiran masing-masing, keduanya sama sekali tidak sadar bahwa kini mereka tidak lagi melangkah beriringan. Langkah Antonio memang masih konstan, tetapi langkah Nesia yang tampak memelan dari sebelumnya, akibat sibuknya gadis itu dengan pemikirannya sendiri. Sehingga pemuda itu berjalan satu langkah di depan Nesia.

Dan karena Nesia tertunduk plus bersikap seolah jiwanya tidak sedang berada dalam tubuhnya, maka tidak heran jika akhirnya inilah yang terjadi.

BRUKH!

Sepatu Nesia tanpa sengaja menginjak ujung belakang sepatu Antonio, hingga pemuda itu terjatuh ndelosor dengan muka mencium aspal lapangan.

Otomatis, mereka seketika menjadi bahan tontonan sekaligus tertawaan dari beberapa murid yang ada di sana.

Seketika merasa gugup dan begitu bersalah, Nesia segera berlutut dan memegang sebelah lengan Antonio, membantu pemuda itu bangkit dari posisi memalukannya.

"Antonio—Ya Tuhan, maafkan aku. Aku tidak sengaja," ujar Nesia menyesal sembari menatap Antonio dengan tatapan khawatir.

Sedangkan Antonio tidak langsung bangkit, namun terduduk sembari menyentuh pelan hidung dan dahinya yang tampak tergores kecil dan berwarna merah. Ringisan sakit tampak di bibir itu.

Sungguh, Nesia merasa amat teramat sangat bersalah. Ia rasanya siap jika Antonio membentak atau menyalahkannya akan semua ini.

"Antonio—"

Belum sempat kalimatnya selesai terucap, gadis itu terhenti ketika ia merasa heran bercampur tidak mengerti saat matanya menatap bibir itu mengulum senyuman lebar.

Lantas tawa hangat mengalir pelan dari mulutnya.

"Hahahaha…" Antonio tertawa lirih, namun terdengar begitu dalam. Kedua matanya memandang geli ke arah kedua mata Nesia yang memandang terheran bercampur khawatir ke arahnya.

Apakah Antonio terjatuh cukup keras hingga otaknya sedikit bergeser…

"Tidakkah ini semua tampak familiar bagimu, Nes?" ujar Antonio di sela tawanya, membuat gadis itu semakin terlihat tak mengerti akan apa yang diucapkan Antonio. Entah apa yang ditertawakan pemuda itu hingga wajahnya tampak memerah geli demikian.

Menghela napas dalam-dalam, Antonio kembali berucap dengan senyuman yang masih tampak di bibirnya, "Di sini. Di lapangan ini. Sekarang kau sudah dua kali menginjak sepatuku dan membuatku terjatuh seperti ini, Nes."

Oh.

Dan barulah gadis itu tampak paham akan apa yang diucapkan Antonio.

Bayangan akan hari-hari MOS dahulu, kini kembali berputar di pikirannya. Semua keanehan berawal dari sana. Awal dari semua absurditas yang dialaminya di masa SMA-nya di Hetalia High.

MOS. Murid Baru. Hukuman.

Dan Antonio Carriedo.

"Pfft—" Dan pecahlah tawa yang tidak bisa ia tahan lagi.

Ia masih berlutut, Antonio masih terduduk. Tawa mereka yang mengalir hangat di sore musim dingin yang beku. Tak peduli beberapa mata dari murid lain yang memandang heran ke arah mereka.

Hanya satu yang Nesia ucapkan di sela-sela tawanya, setelah ia mengulurkan tangannya untuk membantu Antonio berdiri dari duduknya.

"It brings back some memories."

Dan perjalanan pulang sore itu, berlangsung tidak seburuk yang Nesia bayangkan.

-oOo-

Pemuda itu melangkah keluar dari lobi Barat dari apartemen yang ditempatinya. Sebelah tangannya tampak sibuk membenahkan kerah dari jumper berwarna merah yang ia gunakan. Udara di Minggu pagi ini cukup dingin—itulah alasannya kenapa ia terpaksa memakai pakaian serba tebal macam jumper dan syal yang dililitnya dengan lumayan asal dan tidak begitu rapi.

Bola berwarna emerald pudar itu menatap ke sekelilingnya, seolah mencari sesuatu. Pandangannya tampak melunak ketika mendapatkan apa yang dicarinya, tetapi hanya sedetik saja, karena di detik berikutnya emerald itu memberi tatapan seolah-olah ia tidak percaya, terkejut, bercampur heran akan apa yang dilihatnya.

Pada akhirnya, semua ekspresi itu tergantikan oleh bibirnya yang melengkung ke bawah bersama dengan kedua matanya yang sedikit menyipit, bersama dengan rahang yang terkatup keras.

Melangkah lebar-lebar, ia merasa mood-nya di Minggu pagi ini sudah terusak total oleh apa yang dilihatnya di sana.

"Oh! Ini dia datang! Hai, Lovi~" ucapan sekaligus sapaan gembira dan riang dari Antonio itu, membuat Nesia menoleh ke arah di mana pemuda itu memandang.

Senyum lebar tampak di bibir gadis itu mendapati Lovino melangkah ke arah mereka. Meskipun sedikit merasa heran bercampur tidak mengerti akan mengapa pemuda itu sudah memasang wajah kesal dan terganggu itu, di pagi hari seperti ini.

"Lovino! Hei!" Nesia menyapa ramah ketika pemuda itu telah sampai di sampingnya. Gadis itu lihat bahwa pemuda itu memberikan death glare gratis kepada Antonio yang masih tersenyum lebar lengkap dengan tawa kecilnya.

Dalam hati, gadis itu jadi berpikir akan apakah masalah yang dimiliki Lovino terhadap Antonio? Dan jika memang ada masalah, apakah mereka sama sekali belum berupaya untuk memperbaikinya?

Bayangan akan sore hari itu kembali terulas. Antonio sepertinya telah melupakan pukulan Lovino waktu itu, tetapi Lovino sepertinya masih belum mampu melupakan permasalahan apapun yang tengah ada di antara mereka berdua.

"Pagi, Nes," dan dugaan Nesia terkonfirmasi ketika sapaan datar itu hanya tertujukan padanya.

Berdeham kecil, Nesia berbicara, "Jadi, hari ini kita akan pergi ke restoran milik keluarga Antonio," Nesia tersenyum sembari menatap Antonio, lantas kembali ke Lovino, "Antonio mengundang kita untuk datang ke sana—"

"Dan kukira kita akan pergi berdua kemanapun selain ke tempat itu?" Lovino tampak terkejut dan memandang tak percaya ke arah Nesia, "Kenapa kau tidak bilang sebelumnya bahwa kita akan pergi dengan Bastardo ini—"

"Karena jika kau tahu dari awal, kau pasti tidak akan ikut, ya, 'kan, Lovi?" Antonio sudah angkat bicara sebelum Nesia merespon protes sekaligus tuduhan Lovino kepadanya.

Ucapan Antonio seolah bagaikan bensin yang disiramkan pada api kemarahan Lovino. Karena begitu kalimat itu selesai terucapkan, Lovino menoleh dan memberinya tatapan paling mengerikan yang Nesia pikir, pernah diberikan oleh kedua mata Lovino pada orang lain.

"Jangan berpikir orang seperti memiliki hak apapun untuk berbicara dalam hal ini!" maki Lovino keras pada Antonio yang memberinya pandangan kecewa sekaligus tak mengerti kepadanya.

"Lovi, kau kenapa—"

"You sonova bitc—"

"Oke, Lovino, Antonio," potong Nesia jengah. Karena selain ia tidak mengerti masalah apa di antara mereka, juga karena mereka kini mulai jadi bahan tontonan dari beberapa orang yang ada di sekitar mereka, "Ini masih pagi. Kita berada di luar sini bukan untuk bertengkar."

"Salah siapa?" Lovino menatap Nesia dengan pandangan tidak terima jika turut disalahkan, "Aku tidak mau lagi berurusan dengan orang ini dan kini kau mengajakku pergi bersamanya? Like I'd give a shit to his fucking restaurant!"

"Aku tidak tahu apa masalahmu dengan Antonio," Nesia melempar kedua tangannya ke udara—jengah, "Tetapi dia sudah berniat baik untuk memperbaiki semua denganmu—dengan kita. Setidaknya kau menghargai usahanya," Nesia berusaha keras agar suaranya tidak terdengar seperti bentakan.

"Dan aku bahkan tidak tahu apa masalahmu denganku, Lovi," sambung Antonio. Perasaan terluka dan kecewa, sangat kental dalam suaranya, "Aku sudah mendatangimu dan meminta maaf—tetapi kau bahkan tidak pernah mengijinkanku masuk ke apartemenmu. Kau selalu menghindar. Jadi, aku meminta bantuan Nesia seperti ini…," Antonio seperti ingin mengucapkan sesuatu, namun tertelan kembali. Pemuda itu lantas menghela napas berat, sembari memasukkan kedua tangannya ke dalam saku mantel hijaunya, dan menunduk, "…Aku meminta maaf."

Nesia menatap bahwa Antonio tampak begitu menyesal—ekspresi dan nada penyesalan yang sama yang ia gunakan ketika ia mendatangi apartemennya malam itu. Menoleh ke arah Lovino, gadis itu lihat bahwa pemuda itu nampak memerhatikan Antonio. Nesia tahu bahwa pemuda itu pasti ingin mengucapkan makian dan bentakan lain sebagai balasan—akan tetapi sepertinya urung ia lakukan.

Hanya pandangannya yang menyipitlah, yang seolah menyatakan bahwa hatinya—mungkin—belum mampu sepenuhnya menerima pernyataan minta maaf dari Antonio.

Lovino menoleh ke arah Nesia, dan memberinya pandangan ragu bercampur menilai, ke arahnya. Pemuda itu tampak berpikir dan terdiam cukup lama, sebelum berucap, "Apakah kau baik-baik saja?"

Tentu saja sebuah pertanyaan yang tidak terduga oleh Nesia—juga Antonio. Karena ayolah, percakapan mereka sebelumnya mengenai Lovino dan Antonio. Antonio telah berucap kepadanya, dan jika Lovino mengucapkan sesuatu, harusnya itu ditujukan untuk merespon ucapan Antonio, 'kan?

Tetapi sepertinya Lovino terlihat tahu apa yang sedang dilakukannya. Tatapan pemuda itu tampak seserius nada yang mengiringi ucapannya.

Meski tidak mengerti, Nesia perlahan mengangguk dan berucap, "…T—tentu saja aku baik-baik saja. Apa maksudmu?"

Lovino tampak menghela napas berat-berat dan dalam, setelah sebelumnya tampak menimbang ucapan Nesia, "Fine."

"Fine?" ujar Nesia dan Antonio berbarengan.

"Baiklah aku akan ikut dengan kalian, Idiot!"

Senyuman lebar dan riang seketika tampak di bibir Antonio dan Nesia. Dan gadis itu memajukan langkah, sebelum lengannya yang dilindungi oleh lengan mantel putihnya, melingkari tubuh pemuda itu dan membawanya ke dalam rengkuhannya.

Nesia rasakan tubuh itu menegang—seolah merasa tidak siap dan tidak menyangka akan apa yang terjadi padanya. Mendapat pemikiran demikian, Nesia segera melepas pelukannya dan memundurkan langkahnya.

Mengamati wajah dari Lovino yang kini tampak begitu memerah.

"Terimakasih, Lovino," ujar Nesia tersenyum, "Kau tak tahu betapa aku merindukan saat-saat di mana kita bisa berkumpul bertiga seperti ini."

"…O-oke… Baiklah…," Lovino hanya menggumam setelah berdeham pelan. Rona di wajahnya masih tampak, meskipun telah sedikit memudar.

"Aku senang kau bisa memaafkanku, Lovi," ujar Antonio. Sebuah senyuman kecil namun tampak tulus, tersemat di bibirnya, "Rasanya aku bahkan sangat merindukan bentakan dan pelototan matamu padaku tiap kali aku mengganggumu," dan ia tertawa riang.

"Well, kau sudah mendapatkannya sekarang, Bastardo!"

Antonio tertawa, "Oke, sebaiknya kita pergi sekarang. Wajahmu memerah—pasti karena terlalu lama berdiri di luar sini—"

Lovino tampak segera mengusap wajahnya dengan sebelah telapak tangannya.

"—tetapi sebelum itu, ada yang ingin kuberikan padamu sebagai bentuk cintaku padamu Lovi~"

Nesia hanya memasang pandangan tak mengerti, dan Lovino yang memberi pandangan seolah ia siap mencabut batang pohon terdekat dan melemparnya ke kepala Antonio.

Antonio tampak meringis lebar, sebelum mengepalkan sebelah tangannya dan—

BUKH!

"Fuck!" umpatan itu terdengar bersama dengan suara hantaman kepalan tangan Antonio terhadap rahang Lovino. Pemuda berdarah Italia itu terjatuh terduduk, lantas meludahkan darah yang keluar dari sebelah ujung bibirnya.

"Lovino!" Nesia segera menghambur di sisi pemuda itu dan memegangi lengannya.

Nesia menatap khawatir pada Lovino yang memandang marah bercampur tidak mengerti, ke arah Antonio yang berdiri di depannya.

"The fuck was that, Asshole?!"

Antonio hanya meringis lebar—seolah ia sama sekali tidak merasa bersalah, sebelum berucap, "Maaf, teman. Aku hanya tak akan membiarkan apa yang kau berikan padaku tidak terbalas."

Lantas mengulurkan tangannya ke depan Lovino.

Antonio tertawa pelan. Nesia memandang tidak mengerti awalnya, lantas gadis itu seperti menyadari sesuatu dan kemudian turut bergabung tertawa dengan Antonio.

Meski awalnya tampak tidak mengerti, namun lambat tapi pasti, tawa kecil meluncur dari mulut sang Italian.

Dan ia menerima uluran tangan itu untuk membantunya berdiri.

Melihatnya, Nesia pikir tidak ada hari yang lebih membahagiakan selain kembali bersama dengan orang-orang yang disayanginya.

Semoga semua tetap berjalan baik-baik saja.

-oOo-

Tersenyum, Nesia memberhentikan langkahnya ketika ia telah sampai di dekat seorang pemuda yang tampak terduduk di bangku beton sebelah lapangan basket. Sebelah tangan gadis itu terulur tepat di depan wajah pemuda tersebut—memperlihatkan sebotol minuman isotonik yang digenggamnya. Sedangkan pemuda yang dimaksud sebelumnya tampak terduduk, menunduk dengan helaan napas berat dan cepat terhembus dari mulutnya. Keringat membasahi wajah dan seragam olahraganya—seolah menyatakan bahwa hawa pagi musim dingin sama sekali tak berefek apapun pada tubuhnya yang tampak kelelahan. Ia tampak memberikan ekspresi terkejut pada uluran tangan yang tampak di depan mukanya, lantas mendongak dan sedikit menyipit memandang si pemilik tangan.

Sebuah senyuman lebar bercampur letih, tampak di bibirnya, "Nesia."

Nesia tersenyum sembari semakin memajukan botol minuman isotonik di tangannya, "Ambillah, Antonio."

Tertawa kecil dan menggumamkan kata terima kasih, Antonio menerima botol minuman tersebut. Segera ditenggaknya isi dari botol itu—hingga beberapa saat kemudian ia telah menghabiskan nyaris separuh isinya dalam beberapa teguk saja.

Melihatnya, Nesia tersenyum kecil, lantas mendudukkan diri di space kosong di tempat duduk beton yang juga diduduki Antonio, "Bagaimana kau bisa berkeringat sebegini banyaknya di cuaca dingin seperti ini, sih?"

Sekali lagi mengucapkan kata terima kasih, Antonio menaruh botol minuman itu di space di sampingnya. Lantas ia tertawa kecil sembari mengusapkan sebelah lengannya pada sebelah pelipisnya. Keringat tampak jelas terdapat di dahi, pelipis, bahkan lengan dan leher pemuda itu. Membuat helai kecoklatannya tampak sedikit basah dan beberapa di antaranya menempel di dahi dan pelipisnya. Anehnya, meskipun biasanya pemandangan demikian tampak menjijikkan, tetapi bagi Nesia, melihat Antonio yang tampak berpeluh keringat di kulit kecoklatannya…

Tanpa sadar gadis itu menampar kecil pipinya sendiri sembari mengalihkan pandang ke depan. Ia menghela napas dalam-dalam—berusaha menenangkan debaran jantungnya dan meredam panas di kedua pipinya.

"Kau tak apa, Nes?" sepertinya tingkahnya tadi tidak terlewatkan oleh pandangan Antonio. Pemuda itu memberi ekspresi heran bercampur geli menatap temannya yang baru saja menampar sebelah pipinya sendiri.

"O-oh. Tak apa, Antonio. Tadi aku sepertinya…," Nesia menelan ludah, lantas tersenyum miring dan merasa tolol sendiri, "… ada lalat di pipiku."

Tentu saja Antonio tidak percaya—siapa yang akan mempercayai bualan sejelas itu? Tetapi pemuda itu hanya tersenyum lantas mengendikkan bahu, sepertinya tidak menganggap hal itu sebagai hal penting untuk diributkan.

Nesia berdeham pelan, "Kau baru saja mendapat pelajaran olahraga? Kenapa tidak segera ke ruang ganti?" melirik jam di lengan kirinya, gadis itu kembali menatap Antonio, "Sebentar lagi bel berakhirnya periode istirahat, akan berbunyi, lho."

"Nah, aku ingin beristirahat sebentar," Antonio menyibakkan beberapa helai rambutnya, di sekitar mata kanannya, "Tadi kami berlatih basket. Permainan yang lumayan seru dan panas. Kau lihat? Sekarang aku basah oleh keringat," pemuda itu kembali tertawa kecil, lantas menatap Nesia, "Kau sendiri? Kenapa sendirian? Kemana Lovino?"

Berpura-pura sedikit menekuk muka sebal, Nesia memukul pelan lengan Antonio, "Kau pikir dia siapa? Baby sitter-ku?" yang direspon oleh tawa geli Antonio, "Meski kami sekelas, tidak harus kemana-mana selalu bersama, 'kan? Lagipula dia lumayan sibuk di Klubnya. Kau tahu? Hetalia Anniversary…"

"Ah, ya," Antonio mengangguk-angguk kecil, "Klub-ku juga mempersiapkan diri untuk itu…"

Nesia tersenyum kecil menatap ekspresi Antonio yang tampak mengingat-ingat, "Dan kau akan menjadi highlight di malam puncak, begitu, Tuan Idola?" Nesia tertawa melihat Antonio menatapnya heran, lantas tersenyum kecil dan menggeleng pelan.

"Apaan, Nes. Kalau aku jadi idola, kau akan kuberi tarif untuk duduk sedekat ini denganku."

"Uh! Itu sangat menyakitkan," Nesia berpura-pura memasang ekspresi terluka.

Dan kemudian mereka tertawa bersama.

"Aku senang kita bisa kembali seperti ini, Nes," Antonio menghela napas dalam-dalam. Pandangannya tampak memberi tatapan mengulas pada lantai lapangan di dekat kakinya.

"'Seperti ini'?"

Kembali menatap Nesia, pemuda itu berujar, "Ya. Seperti ini. Kita yang bersama. Tertawa. Semua hal yang menjadi bagian dari kita bersama—kau, aku, dan Lovino tentu saja."

Nesia mengangguk, "Aku juga, Antonio. Dan aku yakin, meskipun Lovi tidak akan pernah mau mengakuinya, tetapi dia juga senang akhirnya bisa berbaikan denganmu."

Antonio menanggapinya dengan sebuah senyuman dan angkatan bahu, "Bagaimana dengan klubmu?"

"Klub?"

"Kau tahu, persiapan Hetalia Anniversary."

"Ah. Seperti biasa—kami bersama dengan panitia Publikasi. Sekalian juga katanya Senior Tiino akan menjadi salah satu host di salah satu rangkaian acara Anniversary."

"Kau sendiri?"

Nesia mengibaskan sebelah telapak tangannya, "Pikiranku sudah sibuk dengan kompetisi. Akhirnya… sebentar lagi kualifikasi tingkat Region."

"Kelompok kalian telah bekerja dan tampil begitu baik, Nes," nada ucapan Antonio seserius tatapan matanya, "Aku yakin kalian bisa melewatinya hingga final," yang direspon oleh sebuah terimakasih dari teman gadisnya tersebut.

Menatap Antonio dengan pandangan heran, Nesia tampak berpikir akan sesuatu. Antonio yang tersadar, memberinya senyum miring pertanda heran, "Ada yang salah denganku?"

Kedua bola hitam kecoklatan itu sedikit lebih menyipit bersama dengan pandangannya yang seolah mencari-cari sesuatu dari pandangan emerald di depannya. Lantas, dengan sedikit ragu, ia berucap, "… Ada apa denganmu? Kupikir kau terlalu banyak… tersenyum hari ini?"

Pertanyaan bodoh sesungguhnya, Nesia baru menyadarinya sedetik kemudian. Senyuman bukanlah sebuah hal yang tidak wajar diberikan oleh pemuda itu—siapapun mengenal Antonio justru dari sifat happy-go-lucky miliknya yang terpancar dari ucapan, tatapan, dan tawa riangnya.

Tetapi kini berbeda. Entah bagaimana, Nesia hanya tahu bahwa ada yang berbeda.

Tatapan itu… Emerald itu seolah menunjukkan suasana hati yang begitu bahagia.

"Benarkah?" alih-alih langsung menjawab, Antonio merespon dengan pertanyaan lain, tentu saja, dengan senyumannya. Membuat Nesia semakin yakin bahwa pemuda itu tengah memiliki berita baik yang membuat suasana hatinya baik—lebih baik dari biasanya.

Ketika Nesia menganggukkan sekali kepalanya, pemuda itu masih terlihat bingung—tidak mengerti akan maksud sahabatnya. Tetapi, setelah tampak berpikir sebentar, ia seperti paham akan sesuatu.

Dan seketika sedikit menundukkan kepalanya, sembari menggaruk pelan sebelah pipinya.

Rona tipis di pipi kecoklatan itu, beserta tawanya yang kini terdengar lirih dan kikuk, membuat siapapun tahu bahwa pemuda itu tengah merasa gugup. Apapun yang ada di pikiran dan hatinya, adalah hal yang membuatnya malu—bahagia, tetapi malu.

Rasanya, Nesia antara terkejut dan tidak terkejut, ketika kalimat inilah yang menjadi jawaban pertanyaannya, "Mungkin, i-ini karena Senior Bella."

Seketika Nesia menarik napas dalam, lantas menghembuskannya.

Harusnya ia bisa menebaknya. Ia bisa menebak apa yang membuat Antonio begitu bahagia. Apa yang membuat pemuda itu tampak begitu malu—satu-satunya alasan yang membuat pemuda riang itu bisa menjadi begitu gugup.

Dan lagi, harusnya Nesia bisa membiasakan diri akan rasa sakit di dalam dada ini.

"S-Senior Bella?" Nesia juga tidak tahu, mengapa ia seolah-olah tertarik untuk mendengar lebih jauh.

Antonio mengangguk, "Kau tahu, hubunganku dengannya sudah membaik."

Membaik?

Ah, ya. Pasti pasca pernyataan cinta Antonio pada Senior Bella saat malam itu, membuat hubungan mereka sempat merenggang. Tetapi hanya sampai berapa lama? Karena tidak lama dari itu, Nesia berkali-kali melihat mereka tertawa bersama. Bercanda. Berbincang. Bahkan melihat mereka berpelukan layaknya sepasang kekasih, saat malam itu sepulangnya ia dari kediaman Senior Alfred!

Dengan mata kepalanya sendiri, ia melihat semua itu.

"B-begitu…" ia mengucapkan kata itu, tetapi ia tidak yakin bahwa ia sendiri mendengarnya.

Nesia tampak menelan ludah dengan sulit, lantas memberi sebuah senyum yang begitu terlihat dipaksakan, ketika Antonio menatap kedua matanya.

Melihat betapa indahnya emerald itu, Nesia hanya berharap bahwa senyuman palsunya, cukup mampu menyembunyikan perasaannya dari pengetahuan pemuda di depannya.

"Semuanya berjalan lancar—kurasa aku dan dia semakin dekat. Semoga," dan Antonio tersenyum lebar bersama dengan rona yang semakin jelas, tampak di kedua pipinya.

Dan Nesia hanya mampu mengalihkan pandang dari dua bola mata di depannya—apapun selain dua bola itu. Apapun selain rona merah itu. Apapun selain senyum itu. Dan apapun selain ekspresi bahagia itu.

Apapun untuk membuatnya sebisa mungkin, mengurangi rasa sakit yang kian terasa di dadanya.

Apapun.

"Kami sudah beberapa kali berkunjung ke kediaman masing-masing. Kedua orang tuaku tampaknya juga menyukainya—tentu saja. Ia cantik dan baik. Kami juga beberapa kali berkencan—keluar bersama untuk menghabiskan akhir pekan. Ya Tuhan, Nes. Betapa setiap saat aku pulang sehabis pergi bersamanya, setiap aku telah mencapai kamar, aku bersyukur pada Tuhan karena memberiku kesempatan untuk menikmati hari seperti demikian."

Bahkan kini, rasanya sulit sekali bibir Nesia untuk tertarik agar mampu membentuk satu senyuman kecil. Apalagi untuk mengucapkan sesuatu. Tidak segera bangkit dan berlari dari sana saja rasanya sudah menjadi prestasi tersendiri baginya.

"Meski kami belum bisa disebut pacaran karena…," nada suara itu terdengar begitu berat, lirih—seolah sang pemilik suara begitu enggan mengucapkannya. Ada rasa sakit di hatinya yang membuat entah kemana hilangnya nada ceria yang senantiasa menyertai kalimatnya sebelumnya, "Senior Ludwig… Senior Bella bilang bahwa hubungannya dengan Senior Ludwig masih sedikit rumit," menghela napas berat-berat, "Tapi kupikir, itu karena dia masih mencintainya."

Di saat seperti inilah Nesia menyesali sifat oblivious Antonio. Nesia pikir sikap diam dan pasifnya sudah cukup mampu sebagai pertanda bahwa ia tidak ingin mendengar apapun lagi darinya. Selain karena tidak mau menambah luka di hatinya yang masih sedang ia coba sembuhkan, juga karena ia tidak ingin mendengar lebih jauh akan nada terluka dari Antonio. Ia tidak ingin melihat ekspresi kecewanya. Ia tidak ingin mendengar suara yang sarat akan perasaan sakit itu.

Ia masih mencintainya, dan sadar bahwa kemungkinan perasaannya tak akan pernah terbalas, ia tak ingin terus berandai-andai jika saja Antonio tahu bahwa ia mencintainya. Jika saja pemuda itu mengerti bahwa ada orang yang mencintainya—lebih dari Senior Bella yang mungkin mencintainya.

Berandai-andai jika saja Antonio tahu bahwa Nesia terluka karenanya, sekaligus turut merasakan luka yang dirasakan pemuda tersebut.

"Jadi, aku memutuskan untuk menjalani semuanya dengan perlahan-lahan," kini nada suaranya terdengar penuh harap. Jika Nesia berani sedikit saja menatap kedua mata itu, maka akan ia lihat adanya keyakinan dan tekad yang kuat, yang terpancar dari pandangan matanya, "Hubungan kami tak bisa dibilang pacaran, tetapi juga kelewat rumit untuk bisa dibilang bersahabat. Tetapi aku yakin, jika aku bersabar, jika aku tetap berusaha, aku pasti bisa membuatnya mencintaiku dan mendapatkannya."

Tidakkah ironis?

Pemuda sepertinya yang begitu memiliki banyak teman. Begitu populer karena tak hanya sikap dan sifatnya, tetapi juga bakatnya. Pemuda yang mampu menarik perhatian begitu banyak gadis.

Dan pemuda itu sekarang bertahan dalam hubungan tidak jelas dengan satu gadis. Terus berjuang dan tidak berhenti berharap pada satu gadis saja. Tak peduli betapa bisa ia mendapatkan lebih dari satu gadis lain jika ia mau—jika ia peduli.

"Kau sangat mencintainya."

Meskipun bisikan itu Nesia ucapkan tanpa nada bertanya, meskipun terdengar lirih, namun Antonio meresponnya dengan sebuah anggukan mantap dan senyuman lebar.

Seolah ucapan Nesia adalah pertanyaan retoris yang mana jawabannya sudah sangat jelas, bagi seluruh dunia.

"Tentu saja. Aku mencintainya."

-oOo-

"Untuk Seseorang,

Cukup aneh ketika berpikir bagaimana bisa satu waktu seolah menjadi awal sekaligus akhir bagi semua. Karena begitu pertama kali aku menatap kedua matamu, aku mampu melihat takdir apa yang akan di masa depanku. Kedua matamu menyatakan semua, bahkan sejak pertama kali aku melihat indah warnanya. Takdirku. Masa depanku. Semua keinginan dan cita-citaku.

Cukup aneh ketika dirimu selalu berada di pikiranku—berulang-ulang seperti layaknya sebuah melodi karya musik terindah. Konstan. Seperti sebuah mimpi kau hadir di hidupku—senantiasa menyanyikan nadamu terus dan terus, kepadaku. Mengetahui bahwa aku hidup di dunia yang sama denganku, terasa cukup bagiku untuk bersyukur pada Tuhan atas kebahagiaan ini.

Akan kuberikan hidupku padamu, di tanganmu. Akan kuberikan semua untukmu. Selamanya aku akan terus menunduk dan menangkupkan kedua tanganku. Memejamkan kedua mataku. Dan hanya namamulah yang aku sebut ketika aku meminta kebahagiaan dan ketenangan hidup kepada Tuhanku."

Sebisa mungkin, Nesia berusaha menahan geramannya. Sebelah tangannya memegang sebuah kertas dan sebelah tangan lagi mengepal. Sudah berapa kali Klub Radio menerima surat seperti ini, dan sudah berapa kali pula tak hanya dirinya, tetapi juga sebagian besar penyiar Klub Radio, merasa demikian penasaran akan siapa pengirim dan untuk siapa surat tersebut dikirim. Emang sih, terdengar kepo banget. Tetapi salah siapa? Surat ini terdengar begitu tulus dan dikirim rutin setiap setidaknya, seminggu dua kali. Plus, dikarenakan emang seperti sudah menjadi norma atau aturan tak tertulis bahwa anggota Klub Radio memang memiliki sikap kepo (1)

Dan mereka sampai sekarang tidak mendapatkan satu clue-pun, selain bahwa surat itu adalah surat cinta dari seseorang untuk orang lain yang begitu dikaguminya.

Hingga karena begitu kagum sekaligus penasarannya, Nesia meminta ijin kepada Senior Francis untuk menyimpan semua surat misterius itu. Dari surat pertama, hingga surat yang terakhir kali mereka bacakan. Dan berandai-andai, seandainya semua surat manis itu adalah untuknya—Mana mungkin.

"Demikianlah, Sahabat. Hari ini kita mendapatkan satu surat misterius lagi. Dan kayaknya sih, dari dan untuk orang yang sama. Seberapapun kami suka mendapatkan teka-teki seperti ini, tetapi kupikir sudah waktunya bagi si pengirim untuk berterus-terang akan siapa dirinya—setidaknya, untuk siapa suratnya ia tulis. Karena sayang sekali jika orang tujuan surat ini tidak mengetahui bahwa surat ini adalah untuknya. Kalau seandainya ini buatku sih, pasti langsung aku terima deh pernyataan cintamu. Hahaha. Tidak, maksudku, perasaanmu begitu tersampaikan dalam semua kalimatmu, hingga membuat kami, anggota Klub Radio, bedoa tulus akan akhir yang indah untukmu," Nesia menghela napas, diliriknya jam tangan di lengan kirinya. Sepuluh menit lagi. Dan saat ia melirik ke arah sofa, terlihat Senior Tiino masih berada di sana—mengetik sesuatu di laptopnya. Tugas mungkin?

"Ya, Sahabat. Sesi surat sudah kubacakan—dan surat misterius barusan adalah surat terakhir untuk hari ini. Tetapi jangan khawatir bagi kalian yang udah ngirim, tetapi belum dibacakan. Besok, surat kalian mungkin akan dibacakan oleh Mei Lian atau Senior Tiino. But rest assured, tidak akan ada satupun surat yang akan kami lewatkan. Oke?" Nesia tersenyum lebar, sembari mengacungkan sebelah jempolnya.

Gadis itu menyimpan surat misterius itu pada saku blazernya—nanti akan ia masukkan pada sebuah laci khusus di ruang Klub, tempat di mana ia menyimpan belasan surat lainnya. Mungkin saja, jika nantinya ia tahu dari dan untuk siapa surat itu dibuat, ia ingin mengembalikan semua surat itu kepada si pengirim, atau lebih baik lagi, kepada si penerima—agar ia tahu, betapa dalamnya perasaan si pengirim tersebut.

Lagipula, ia sedikit merasa tidak nyaman jika harus membuang surat itu (seperti surat yang lain) ketika selesai dibacakan.

"Dan kini, adalah sesi telepon. Silahkan bagi kalian yang ingin memberikan pengumuman apapun. Request lagu apapun untuk kami putar di akhir sesi. Menyampaikan salam pada seseorang, atau Cuma sekedar ngobrol dengan saya," Nesia tertawa pelan, sebelum kembali berucap, "Seperti biasa, kami hanya akan menerima tiga penelpon saja. Dan perhatikan durasi waktu—kami tidak ingin mendengar obrolan a la ibu-ibu arisan, tak peduli betapa menariknya bahasan tersebut. Haha. Ya, langsung saja. Hubungi kami di nomor yang biasanya. Sip?"

Tak berapa lama, Nesia sudah mendapatkan penelpon pertamanya.

"Halo, selamat pagi. Dengan siapa ini?" sapanya terdengar ceria.

"…H-hei."

Nesia tidak mampu untuk tidak mengangkat sebelah alisnya, ketika mendengar suara tersebut. Pertama, karena suara itu terdengar cukup gugup, juga kedua, karena suara tersebut terdengar sangat familiar baginya. Sebuah suara khas laki-laki… seperti pernah—tidak, sering didengarnya.

"Hei," balas Nesia sembari tersenyum, meskipun ia tahu bahwa penelpon tidak akan mampu melihatnya, "Apa kabar? Kau terdengar begitu gugup. Ada apa?"

Suara itu terdengar berdeham, membuat Nesia yakin bahwa si pemilik memang tampak tengah tidak nyaman dengan apapun yang terjadi padanya.

"Well, kabarku baik kurasa," sungguh, suara itu begitu familiar. Akan tetapi Nesia tidak—belum mampu untuk memutuskan siapa pemiliknya, "D-dan untuk apa aku tergugup? Aku tidak akan gu-gup dengan apapun. Jangan becanda," dan suara itu tertawa lirih dengan nada yang malah membuat Nesia semakin yakin bahwa siapapun pemilik suara ini, dia adalah orang yang begitu tsundere.

Memutuskan untuk tidak memperpanjang hal tidak penting tersebut, Nesia berucap, "Well, dengan siapa ini? Dan apa yang ingin kau sampaikan?"

"Kau tidak perlu tahu siapa diriku," ujar suara itu cepat, membuat Nesia semakin mengerutkan dahi bingung, "Maksudku, untuk apa? Tidak penting juga. Dan…," kembali, terdengar suara dehaman sebelum sebuah kalimat terucapkan dengan sedikit nada keraguan, "Aku ingin berterimakasih padamu at-atas saranmu waktu itu."

"Saran?"

"Ya. Kau ingat? Aku yang menanyakan cara untuk mengurangi luka akibat patah hati. Aku menelpon H-Radio beberapa hari yang lalu."

"M-menurutmu, bagaimana caranya untuk sembuh dari p-patah hati? Setidaknya untuk merasa terhibur dan lupa sejenak?"

"Mungkin, lakukan hal yang menurutmu paling menyenangkan—membuat perasaanmu kembali bahagia. Seperti misalnya, ice skating, makan es krim dan coklat sebanyak-banyaknya, pergi berlibur, tidur sehingga tidak memikirkan apapun, atau simpel, cari cowok atau cewek baru yang bisa mengerti dirimu."

Ulasan itu berputar di pikiran Nesia. Meski samar dan ia juga sedikit banyak lupa, tetapi ia yakin bahwa itulah yang dimaksud dalam pembicaraan penelpon kali ini. Gadis itu mengangguk-angguk kecil, sebelum tersenyum kecil. Selain karena sarannya (ternyata) cukup mampu membantu orang lain, juga karena ingatan tersebut otomatis mengantarkannya pada ingatan yang lain.

Berlibur pada hari Minggu pagi itu. Ice skating. Taman Sarah Duke… Penutup telinga… Senior Arthur Kirk

Gadis itu segera menggelengkan kepalanya kuat-kuat ketika pikiran itu mampir di otaknya. Selain karena ia membuang-buang waktu siarannya hanya dengan melamun seperti itu, juga karena, entah darimana dan bagaimana, nama Arthur seolah muncul begitu saja dalam pemikirannya. Kenapa tidak Senior Alfred atau Senior Arlovskaya? Mereka 'kan juga ikut waktu itu…

Berusaha kembali fokus, Nesia berujar dengan sedikit cepat, "S-sama-sama. Senang bisa membantumu," sial, sekarang dia yang terdengar begitu gugup, "Bagaimana keadaan orang itu? Apakah dia sudah kembali sembuh dari lukanya?"

"Hm. Sepertinya. Dia senang."

"Bagus," Nesia tertawa lebar, "Apa kau benar-benar melakukan semua cara yang kukatakan? Haha, aku merasa tersanjung, tetapi juga sedikit tidak memercayainya," yeah, karena waktu itu ia memikirkannya pun juga secara mendadak dan cenderung subjektif daripada objektif.

"Ya, tentu, untuk itulah aku berterimakasih padamu sekarang," ujar suara itu lagi.

"Sama-sama," ujar Nesia tulus. Tidak terdengar sahutan dari penelpon selama beberapa saat, membuat Nesia harus segera memecah kesunyian daripada mereka membuang-buang waktu siaran dan kesempatan bagi para penelpon selanjutnya, "Oh, ya, boleh kutanya sesuatu?"

Sepertinya suara Nesia yang memecah keheningan di antara mereka. cukup mengagetkan si penelpon, karena ia meresponnya dengan sedikit terbata dan jelas sekali rasa gugupnya masih ada, "O-oh apa? Right, kau ingin bertanya. W-well, apa?"

Orang itu tadi melamun, ya? Sampai terdengar terkejut begitu…

"Kenapa kau tidak memberitahu namamu? Sejak pertama kali kau menelpon dahulu, kau tidak mau mengakuinya. Tetapi.. aku merasa bahwa aku pernah mendengar suaramu—aku seperti mengenalmu…," Nesia tampak berpikir, lantas kemudian kedua matanya tampak sedikit membelalak, seolah ia menyadari sesuatu, "Ah! Jangan-jangan kau si pengirim surat misterius tersebut?!"

"A-apa? Surat—"

"Kau tidak mau memberitahu namamu dan kau tidak memberitahu pula siapa yang kau ingin sembuhkan luka hatinya!" tanpa memberi kesempatan bagi penelpon untuk berucap, Nesia melanjutkan ucapannya lantas menjentikkan jemarinya, seolah ia telah menjadi orang terjenius yang mampu memecahkan sebuah misteri besar, "Ya, pasti kau orangnya! Ayolah, kenapa kau tidak mengaku saja?"

"Apa yang kau bicarakan? Surat apa? Aku tidak tahu—"

"Well, setidaknya sekarang aku mengerti bahwa si pengirim surat ternyata adalah seorang laki-laki," Nesia mengangguk-anggukkan kepalanya sembari menghela napas—secara mutlak tidak mendengar protes si penelpon.

"Bloody hell, sudah kubilang aku tidak mengerti apa yang tengah kau bicarakan!" si penelpon terdengar ngamuk-ngamuk.

"Tetapi kau—"

"TIDAK. Aku tidak menulis surat itu. Kau dengar aku," dan sepertinya serius. Suaranya yang terdengar bersungguh-sungguh itu membuat Nesia goyah akan keyakinannya barusan. Apalagi dengan sumpah serapah dan pilihan kalimat yang diucapkannya, membuat Nesia seketika menyadari bahwa terdapat satu hal yang membuat si penelpon itu bukanlah si pengirim surat misterius itu.

Si penelpon ini sepertinya bukan orang yang cukup romantis untuk mampu menulis surat seindah itu.

Menelan ludah, Nesia kembali berujar, "Oh. W-well… Maaf. Hanya saja ketidakmauanmu untuk mengungkap identitasmu, seperti si pengirim surat itu."

Terdengar suara dengusan, "Dasar, kau ini masih bodoh, rupanya?" mendengarnya, Nesia berpikir akan kenapa penelpon itu menggunakan kata 'masih' seolah-olah ia mengenal dan tahu betul bahwa (menurutnya) Nesia bodoh? Dan ucapan menyebalkan ini… "Masak kau menebak hanya karena alasan itu? Konyol sekali."

"Oke, aku sudah minta maaf padamu, 'kan?" Nesia tidak mampu menahan rasa kesalnya. Ayolah, ini on air dan seluruh penghuni sekolah mendengar dirinya dimaki sebagai orang bodoh demikian. Uh! "Lagipula, tetap saja. Sekalipun kau tidak mengakui siapa dirimu, aku tetap merasa bahwa suaramu terdengar sangat familiar—aku seperti mengenalmu—"

"TIDAK!" Nesia sedikit mengernyit ketika telinganya mendengar suara bentakan, "Kau salah. Aku bukan Arth—ehem! Aku bukan siapapun yang ada di pikiranmu. Oke?"

"T-tapi—"

"W-Well… aku ada keperluan, lagipula sebentar lagi akan masuk pelajaran. Oke. Sekali lagi terimakasih."

"Tunggu—"

Dan sambungan terputus oleh si penelpon.

Nesia hanya mampu menghela napas. Belum juga ia mengerti akan identitas atau setidaknya, petunjuk akan identitas pengirim surat. Dan kini apa? Penelpon misterius?

Tetapi…

Mendengar suaranya, mendengar pilihan katanya, mendengar nadanya saat berucap, mendengar sumpah serapahnya, dan caranya memaki Nesia dan membuat gadis itu merasa jengkel seperti tadi…

Sepertinya si penelpon itu tidak semisterius yang ia bayangkan. Setidaknya, ia mengetahui bahwa siapapun dirinya, Nesia mengenalnya dengan baik.


(1) Ini saya ambil dari anak Klub Radio di kampus saya. Meski saya bukan anggota, tetapi saya cukup akrab dengan mereka. Dan beneran ciyus miapah, mereka selain alay, lebay, rame, juga kepo banget kalau soal gosip. Dan tentu saja, cerewetnya minta ampun. So, sekarang kalian tahu darimana saya mendapatkan (asupan) sikap alay saya :Dv


Next Chapter

"Lovino, aku ingin sekali kita mampu pulang bersama-sama lagi seperti dahulu."

"Kenapa harus menunggu lebih lama lagi? Kau bahkan tidak tahu jika ia ingin pulang bersama atau tidak."

.

"Aku tidak pernah menyangka bahwa kau adalah tipe pemuda yang menyukai wahana seperti ini, Lovino."

"M—melihat salju dari puncak roda kincir, pasti menyenangkan, 'kan?"

.

"Untuk kau tahu bahwa kau adalah orang pertama, sekaligus satu-satunya, yang aku percayai untuk mengetahui cerita ini dariku.".

.

"Nesia, aku mencin—"


Nah, sapa tuh yang bilang 'lope-lope' ama Nesia? Lovino? Arthur? Atau Antonio yang out of the blue suka Nesia? Atau Vash yang ga pernah kedengeran lagi? Atau Nether yang jadi 'the forgotten ex'? Atau justru, DIS yang tiba-tiba meng-OC kan diri di fic ini dan mengambil peran utama? :D

Pojok review. Muwongguwoooo

Masih ada typo / Iya, Qaqaa. Dah jarang reread sih. Tetapi tenang aja, namamu tertulis di hatiku dengan EYD sempurna tanpa typo, kok :'D / Peradegan bisa dirasain/ Hehe, makaciiihhh / Mana Lovi?; Aku kangen Lovi; Munculin Lovi dong/ Noh! Di atas udah /lempar Lovi yang udah jamuran gegara jarang nongol/ / Minta slash pairing/ Oke, ntaran ada BelarusDISNBelgium kok :D / Semoga RL lancar/ Amiiinnnn. Makasih atas perhatiannya. Huiks / Antonio wasn't that bad because Nesia would not suffer that much until Arthur and Lovino came down and fall for her / Yeah! Itu beneeeeerrrrr beudhz! / Arthur tsundere banget/ :D / Update cepet, kalau enggak aku cium/ Wah, otak saya makin susah dapet inspirasi nih /dikepruk/ / Nesia itu, tsundere akut, polos, lugu, acuh kepekaan Nesia sebatas emosi dan hubungan sosial normal, untuk selanjutnya dia masih galau / Itu penggambaran karakter Annesia Saraswati yang sesuai dengan keinginan saya :D / Antonio di sini tukang PHP/ Idup doi juga ngenes bray! /FPA = Front Pembela Antonio/ / Arthur bener-bener saya banget/ Ngaps? / Saya login demi kamu/ Selain kamu login di FFn, kamu juga login di hatiku lho :'D / DIS kok ga alay lagi?/ Mangz aku pernah alay, yuach? Mza sich? Ngaps beudz aku yeyeye lalala? / Mr. Sender apa mungkin Nether?/ Mungkin aja. Apa sih yang enggak buat kamu / Lovi terlupakan/ Nah, di sini udah saya ingetin lagi :D


Jika faktor-faktor lain tetap dan sama, banyak dan cepatnya review kalian berbanding lurus dengan kecepatan update saya (Storm, 2013).

Makanya, yang jarang atau belum pernah review, review ya, Qaqaa /Alfredeyes(?)/


Thank you so much.

Fiva La FHI

Salam Yeyeye Lalalala (?)

DIS ketje buaday