Hore. Berhubung saya ada waktu luang, saya segera update fic ini :( Terimakasih atas kesediaan dan kesabarannya menunggu, teman-teman.
Kepala berhelai hitam terkuncir kuda itu untuk kesekian kalinya, menoleh dan menatap ke arah halaman utama kompleks A Hetalia High—tempat yang menjadi jalur keluar-masuk para murid kelas 1. Terdapat banyak murid yang tampak ada di sana, entah itu berjalan hendak keluar gerbang atau berdiri di halaman dan berbincang-bincang. Karena halaman seluas itu menjadi jalur masuk-keluar hanya para murid kelas 1, maka suasana tidak tampak begitu sesak dan ramai, malah terkesan lengang. Para pejalan kaki, pengendara motor, pengendara mobil atau sepeda, tampak berada di sana seperti pemandangan ketika berangkat, atau pulang sekolah seperti sekarang.
Tetapi, setelah beberapa lama ia berdiri di luar gerbang dan setelah sekian kalinya ia menengok ke arah halaman utama, ia tidak juga melihat apa yang tengah dicarinya.
Dan tak peduli pada raut tidak sabaran dan lelah dari Lovino Vargas yang berdiri di sampingnya, Annesia Saraswati tetap enggan untuk beranjak dari sana dan pulang, tanpa kehadiran Antonio Carriedo bersama mereka.
Axis Power Hetalia © Hidekaz Himaruya
Picture © Sakurazaka Ohime
I just own the plot of the story and I don't gain any commercial advantages by publishing this fic.
Warning: AU, Human Name, High School, OC, OoC yang mendewa, (highly possible) crack pairs, (a lil') Nesia-centric, but no Mary Sue/Gary Stu I assure you :D totally absurd.
Pairing: Anda bisa menebak sendiri mana yang main pairing, dan mana yang sekedar hints dan fans service :p
Ini murni dari pemikiran saya. Maaf jika kebetulan ada kesamaan ide karena setting gakuen sangat banyak di FHI. Itu tidak disengaja :D
Long Live FHI and Say NO to Plagiarism! Mari berkarya dengan hati dan imajinasi :D
Maju FHI!
"Ayolah, Nes," keluh Lovino untuk kesekian kalinya, pemuda itu mendekap tangan di dadanya. Beberapa kali ia terdengar mengutuk kesal hawa dingin dari salju yang turun di sekitar mereka, "Antonio tidak berpesan apapun pada kita. Untuk apa kita menunggu lebih lama lagi? Bagaimana jika ia tengah berkegiatan di klub atau lebih bagus, telah pulang lebih dulu?"
Nesia menggeleng pelan tanpa mengalihkan pandangan dari halaman utama, "Lovino, aku ingin sekali kita mampu pulang bersama-sama lagi seperti dahulu."
"Kita sudah… kira-kira dua kali pulang bersamanya seminggu ini."
"Tapi mungkin saja dia sekarang ingin kita menunggunya—"
"Annesia!"
Belum sempat Nesia menyelesaikan kalimatnya, ia terpaksa berhenti ketika ia merasakan kedua bahunya tercengkeram sedikit kuat, dan tubuhnya terbalikkan dengan paksa.
Untuk menatap terkejut pada Lovino yang menatap kedua matanya dengan ekspresi… jengah? Lelah? Atau… putus asa?
Nesia pikir pemuda itu akan marah padanya atau apa, dikarenakan kedua rahang Lovino tampak mengatup rapat dan ia menatap Nesia dengan pandangan yang… cukup sulit untuk Nesia artikan. Tetapi alih-alih kalimat marah, pemuda itu menghela napas berat, lantas sedikit melonggarkan cengkeraman kedua tangannya di pundak Nesia, "Kenapa harus menunggu lebih lama lagi? Kau bahkan tidak tahu jika ia ingin pulang bersama atau tidak."
Nesia terdiam dan memandang dengan sorot tidak mengerti.
Kenapa nada suara itu terdengar begitu muram—tidak. Terlebih, kenapa ekspresi itu terlihat seolah-olah Lovino tengah memikul beban yang berat? Apakah menunggu seorang teman adalah sesuatu yang membuatnya kesal?
"Lovi—"
Lagi, suara Nesia terhenti. Kali ini bukan karena ucapan Lovino. Tetapi karena suara lain. Suara sebuah mesin yang mengeluarkan bunyi dentinan yang terdengar cukup dekat di dekat mereka.
Otomatis menoleh, Lovino dan Nesia menatap bahwa terdapat sebuah motor berwarna hitam-merah yang berhenti tepat di sebelah mereka. Si pengendara mengenakan helmet hitam metalik dan jaket coklat tua yang merangkapi seragam atasnya. Tetapi, seandainya tidak ada seorang gadis berambut pirang di jok belakang motor itu, Nesia dan Lovino pasti akan membutuhkan waktu yang lebih lama untuk mampu mengetahui siapa pengendara motor itu.
Seandainya tidak melihat Senior Bella Van Hardt yang berada di boncengan motor itu, pastilah Nesia dan Lovino tidak segera sadar bahwa si pengendara motor tersebut adalah orang yang tengah mereka nanti kedatangannya, Antonio.
Nesia menelan ludah, dan pandangannya otomatis mengarah pada pinggang lelaki di depannya tersebut. Pinggang yang terlingkari oleh dua tangan berbalut mantel berwarna kuning pudar—terlingkari erat. Dan punggung tegap yang berada begitu dekat dengan badan bagian depan dari gadis yang kini memberi senyuman lebar kepada mereka.
"Hei, Nes, Lovi," Senior Bella melambaikan tangannya.
Nesia menghirup napas dalam-dalam, sebelum membalas sapaan itu dengan sebuah senyuman kecil. Sedangkan Lovino tengah memandang pasif pada dua orang di depannya, setelah meluruhkan kedua tangannya dari pundak Nesia.
"Nes, Lovi!" kaca helm itu terbuka, dan menampakkan sepasang zamrud yang memandang terkejut sekaligus heran ke arah mereka, "Kenapa kalian ada di sini?"
Kembali, Nesia menelan ludahnya. Kenapa ia berada di sini? Ya… kenapa ia berada di sini?
Menunggu Antonio? Begitu lama menunggu Antonio di tengah hawa dingin? Tanpa tahu apakah Antonio ingin pulang bersama? Dan kini, mendapati bahwa ternyata pemuda itu tak hanya membawa motornya sendiri, juga tengah membonceng Senior Bella?
"K-kami menunggu—"
"Seorang temanku," Lovino berujar sebelum Nesia mampu menyelesaikan kalimatnya, "Tetapi sepertinya dia sudah pulang dahulu atau apa."
Entah mengapa, Nesia merasa begitu lega dan bersyukur akibat ucapan Lovino. Gadis itu memutuskan untuk turut menceburkan diri dalam kebohongan tersebut.
Ia tidak mau terdengar dan tampak begitu menyedihkan jika ia harus jujur kepada Antonio.
"Y-ya. Itu benar, sepertinya dia tidak datang," Nesia memaksakan sebuah senyum kecil.
"Begitu…," ujar Antonio yang tampak tidak menaruh curiga.
"Kalau begitu, sebaiknya kalian segera pulang," Senior Bella menyahut, "Udara cukup dingin, kalian bisa terkena demam."
Nesia hanya mengangguk kikuk.
"Well, guys. Maaf aku kali ini tidak bisa pulang bersama kalian," ucap Antonio, "Ada sesuatu yang perlu kulakukan," kedua mata yang tampak berbinar itu seolah jelas menunjukkan bahwa bibir pemuda itu tengah mengulum sebuah senyuman lebar, sekalipun mulut itu tertutupi oleh helm.
Nesia hanya tersenyum kecil. Ia tidak perlu dan tidak ingin bertanya akan sesuatu apakah yang ingin dilakukan Antonio sekarang.
Tidakkah cukup jelas?
"Oke," ujar Lovino datar sembari mengangkat sedikit bahunya, bersikap tak acuh.
"Baiklah, kalau begitu kalian berhati-hati di jalan, ya. Sampai jumpa," ujar Antonio sembari melambai pelan.
Dua zambrud itu melirik ke belakang tubuhnya, ke arah Senior Bella, lantas kembali menatap Nesia dan Lovino dan memberi mereka sebuah kedipan. Seolah dengan tindakannya tersebut, ia ingin mengucapkan, "Wish me luck, okay?"
Lovino tampak menyipitkan kedua matanya, seolah terganggu. Dan Nesia hanya meringis lebar dan garing, sembari mengacungkan sebelah jempolnya.
Tidak tahu mengapa ia bertindak demikian. Dan lagipula, tidak seperti ia memiliki pilihan lain sebagai cara untuk merespon ucapan tersirat Antonio tersebut.
Just put a façade.
Setelah Senior Bella mengucapkan "Sampai jumpa dan hati-hati", motor itu kembali melaju. Memasuki jalanan dan bergabung bersama dengan kendaraan lainnya.
Memandang kendaraan itu yang membawa pergi dua orang yang menaikinya, Nesia seolah melihat pada peristiwa di suatu sore saat ia berada di posisi Senior Bella. Saat ia menaiki jok belakang motor itu. Saat ia merasakan deru mesinnya. Saat ia merasakan betapa cepat Antonio mengendarai motornya.
Saat kedua tangannya juga pernah memeluk pinggang itu dengan begitu erat.
"Ayo kita pergi."
Ucapan Lovino membuyarkan lamunan Nesia dan gadis itu segera menyejajari langkah Lovino yang telah lebih dahulu beranjak.
"Maafkan aku, Lovi," Nesia menunduk, "Aku yang memaksa untuk menunggunya lebih lama dan sekarang…"
"Tidak apa," respon Lovino datar, "Yang penting sekarang kita bisa beranjak dari sana."
Nesia mendongak dan tersenyum menatap sahabatnya, "Oh ya. Kenapa tadi kau berbohong soal alasan kita berdiri di depan gerbang?"
Tidak segera merespon, Lovino terdiam. Namun beberapa saat kemudian ia bersuara, "Aku hanya tidak mau membuat Bastardo itu besar kepala karena kita menungguinya seperti dia Presiden AS atau apa."
Nesia tertawa kecil mendengarnya, "Dasar kau ini."
Keadaan kembali sunyi ketika Lovino tidak merespon dan Nesia memutuskan untuk menggunakan kesunyian itu untuk berada dalam pemikirannya sendiri.
Kembali ia ingat peristiwa yang baru saja terjadi. Antonio yang berada di atas motornya dengan Senior Bella yang berada di jok belakang. Kedua tangan yang melingkari erat pinggang itu. Tubuh yang begitu berdekatan itu.
Ekspresi bahagia itu… kerlingan itu…
Nesia mengernyit heran. Tentu, ia merasa sakit. Ia masih merasa sakit memandang semua itu. Ia masih merasakan luka di hatinya akibat melihat semua itu.
Tetapi, ia pikir bahwa seharusnya, rasa sakit yang ia rasakan harusnya jauh lebih menyiksa dan lebih menyesakkan daripada yang sekarang ia rasakan. Harusnya lukanya lebih dalam dari ini. Harusnya ia begitu merasa kecewa. Bahkan mungkin, harusnya ia terisak, atau setidaknya, meneteskan air mata.
Tetapi… mengapa? Ia yakin bahwa dirinya masih mencintai Antonio. Ia masih mengharapkannya. Dan ia yakin bahwa Antonio masih menjadi satu-satunya nama yang ada di hatinya.
Tidakkah harusnya ia merasakan rasa pedih yang lebih tak terkira dari ini?
Bahkan tadi, herannya, ia masih sempat meringis dan mengacungkan jempol begitu kepada Antonio.
"Aku tidak ingin segera kembali ke apartemen."
Suara Lovino sukses mengalihkan pemikiran Nesia dari apa yang dipikirkannya. Gadis itu mendongak, dan menatap Lovino yang juga kini tengah berjalan sembari menatapnya.
Dan ia mampu melihat bahwa kedua pipi di depannya itu tampak sedikit merona—membuat Nesia yakin bahwa ia telah berbuat salah dengan memaksa Lovino terlalu lama menunggu Antonio, hingga kini ia tampak kedinginan begitu.
"Lovi, maa—" ucapan penyesalan Nesia terpotong oleh senyuman kecil Lovino, bersama dengan suaranya yang berucap,
"Maukah kau pergi ke suatu tempat denganku, Nes?"
-oOo-
Tak pernah habis pikir Nesia akan alasan mengapa, alih-alih kafe (seperti yang ia duga), Lovino justru membawanya ke sebuah wahana hiburan yang terletak di sebuah tempat yang mirip lapangan terbuka yang begitu luas.
Terdapat begitu banyak hal di sini, baik itu benda ataupun manusia. Tempat ini seperti sebuah objek hiburan umum yang kata Lovino, hadir setiap saat sebagai salah satu tourist site kota yang mereka tinggali. Terdapat berbagai wahana hiburan yang mirip dengan yang biasa Nesia temui di pasar malam di Indonesia, seperti merry-go-round, roda kincir yang besar dan menjulang tinggi, roller-coaster, dan semua wahana yang wajar terdapat di sebuah taman hiburan. Kalau di Indonesia sih… tempat ini sedikit banyak mirip dengan DuFan—semacam itu.
Tak peduli langit yang semakin menggelap dan udara yang semakin dingin, banyak manusia yang mengunjungi tempat ini. Ramai. Agak sesak. Tetapi juga tampak begitu semarak.
Well, tetapi bukan tempat ini yang membuat Nesia sedikit merasa gugup. Bukan keramaian di sini yang membuat gadis itu sesekali menoleh ke belakang, seperti ia tengah mencari sesuatu.
Sungguh, ia merasa bahwa ia dan Lovino tidak sendirian—maksudnya, seperti ada seseorang yang mengikuti mereka. Mungkin Nesia hanya paranoid. Tetapi tetap saja, ia tidak biasa seperti ini.
Dan perasaan dibuntuti ini sudah ia rasakan sejak beberapa saat setelah mereka beranjak dari Hetalia High. Dan setiap ia menoleh ke belakang, ia tidak melihat seseorang atau sesuatu yang cukup mencurigakan untuk mampu menjadi alasan kegugupannya sekarang.
Memutuskan menepis pemikiran paranoidnya, gadis itu berucap, "Well, kupikir kau membawaku ke tempat manapun selain out door begini, Lovino," Nesia setengah menahan tawa, sembari menatap Lovino.
Pemuda itu mengangkat bahu, lantas berucap, "Besok libur dan aku tidak sedang ingin segera berada di apartemen," lantas menatap Nesia, "Kenapa? Jika kau keberatan berada di sini, aku bisa membawamu ke tempat lain."
Nesia tersenyum dan menatap heran ke Lovino, "Kau yang ingin pergi, kenapa jadi terserah padaku ingin kemana? Lagipula, tak apa. Aku belum mengunjungi tempat ini, hanya tahu dari brosur mengenai tempat wisata lokal di sini."
Dan Lovino tampak menghela napas dan tersenyum. Namun, senyumnya sedikit meluntur ketika ia mendapati Nesia, lagi-lagi, menoleh ke belakang tubuhnya sendiri dan tampak mencari-cari sesuatu, "Ada apa, Nes?"
"Oh, tidak apa-apa, Lovi," Nesia kembali menghadap Lovino. Sial, kenapa tiba-tiba ia merasa seperti menjadi selebriti dadakan yang punya stalker seperti ini… , "Well, kita akan kemana, nih?"
-oOo-
"Aku tidak pernah menyangka bahwa kau adalah tipe pemuda yang menyukai wahana seperti ini, Lovino."
Nesia tertawa kecil sembari sebelah telapak tangannya yang menempel pada jendela kaca dari roda kincir yang dinaikinya. Iya, roda kincir. Bukan pilihan yang sejujurnya Nesia duga akan dipilih Lovino. Bukannya keberatan, sih. Nesia justru tampak menikmatinya. Wahana raksasa dan berputar perlahan-lahan ini cukup menyajikannya pemandangan indah dari kotanya di malam hari. Kerlipan lampu. Salju yang turun dan melayang perlahan di udara. Semarak kehidupan malam di bawah sana.
Kedua matanya tak lepas memberi pandangan berbinar pada pemandangan di bawah sana. Dan ia akan semakin takjub ketika mereka sudah berada di puncak roda—sebuah posisi paling PW untuk menikmati pemandangan di bawah.
Nesia mengalihkan pandang dari pemandangan di luar 'gerbong' mereka, untuk kemudian menatap Lovino, "Tumben sekali kau mengajakku menaiki benda ini?"
Lovino memalingkan muka dan menatap pemandangan di luar jendela. Tetapi, dari jarak sedekat ini (karena gerbong mereka juga tidak begitu luas), Nesia mampu melihat semburat rona yang ada di pipi pemuda yang terduduk di depannya.
Perasaan ruangan ini cukup hangat, deh, daripada di luar tadi, pikir gadis itu terheran.
"M—melihat salju dari puncak roda kincir, pasti menyenangkan, 'kan?" ujar Lovino lirih dengan jawaban yang justru membuat Nesia merasa terheran.
Well, wajar. Karena jawaban yang cukup absurd itu sedikit tidak wajar jika harus terucap oleh orang 'seperti Lovino'.
"!"
Niat Nesia untuk merespon ucapan Lovino, putus ketika ia merasakan perasaan itu lagi. Perasaan seperti terdapat seseorang yang mengikuti dan memerhatikannya, tidak kunjung hilang. Bahkan setelah ia berada di ruang tertutup macam roda kincir ini. Gadis itu menoleh ke pemandang di bawah, tetapi tidak mungkin melihat jelas satu-dua orang yang mungkin membuntutinya karena dari ketinggian begini, manusia di bawah tampak begitu kerdil dan kecil. Lantas ia meneliti gerbong-gerbong lain yang sanggup dijangkau pandangan matanya, di roda kincir itu.
Apakah stalker itu menaiki salah satu gerbong itu?
Nesia menggelengkan kepalanya perlahan. Pasti ini hanya perasaannya saja. Tidak mungkin ada orang kurang kerjaan yang menguntitnya. Memangnya Nesia siapa? Paris Hilton? Pfft!
Mengalihkan pemikiran, ia kembali menatap ke arah jendela kaca di sebelahnya. Ternyata mereka sepertinya sampai di puncak roda kincir—posisi paling atas yang membuatnya seolah mampu melihat lebih jelas dan lebih leluasa akan hamparan kanvas kelabu yang meneteskan butiran kristal es dari sana. Kelabu dengan titik-titik putih yang melayang perlahan. Indah.
"Kau benar, Lovino," gumam gadis itu menatap ke arah luar, "Indah sekali."
Semakin tampak takjub saja dua bola hitam kecoklatan itu ketika memandang ke arah bawah. Dari posisi puncak, pemandangan di bawah semakin terlihat mempesona. Lampu-lampu kota yang mulai menyala. Kendaraan yang hilir mudik. Atap-atap bangunan yang tertumpuki salju. Para manusia yang tampak begitu kecil…
"Lovino, coba liha—"
Senyuman lebar Nesia meluntur ketika ia menolehkan kepalanya untuk kemudian menatap pemuda di depannya. Entah karena apa dan Nesia begitu penasaran, Lovino tampak begitu gelisah. Pandangannya terlempar ke kiri dan ke kanan, seolah-olah ia tengah menimang akan sebuah pilihan yang cukup sulit. Atau mungkin, ia tengah memikirkan sebuah kalimat yang tepat untuk terucap. Jika dipikir-pikir, memang sore ini Lovino sedikit tampak dan terasa aneh. Tidak hanya ia yang tiba-tiba mengajak ke tempat seperti ini, juga karena pemuda itu jauh lebih diam daripada biasanya.
Diam dan sudah berapa kali dalam sore ini Nesia dapat wajah kecoklatan itu tampak merona merah?
Bahkan kini sangat merona padam—seolah seluruh darahnya mengalir dan berputar-putar terus di kepala dan wajahnya. Dan kini Nesia yakin bahwa hal itu tidak mungkin karena pemuda itu tengah kedinginan—gerbong ini cukup hangat, menurut Nesia.
Pasti ada alasan lain yang membuat pemuda itu tampak demikian gugup dan… tersipu seperti itu?
"Lovino, ada apa?" lebih baik menyuarakan daripada berpikir dan penasaran setengah mati. Sejenak, Nesia kembali menatap ke beberapa gerbong yang mampu dijangkau pengelihatannya, ketika perasaan aneh itu kembali muncul.
Entah ini karena pengelihatannya membodohinya karena ia telah kelelahan, sejenak, walau tak sampai barang dua detik, ia melihat seseorang di salah satu gerbong.
Tidak sembarang orang, karena melihat helai pirang di kepala orang itu, entah mengapa, pikiran Nesia langsung teringat pada Arthur Kirkland. Tetapi roda kincir kembali berputar perlahan dan menyebabkan gerbong yang ditatap Nesia berada di sudut yang mana Nesia tidak mampu melihatnya dari sudut gerbongnya sekarang kembali berhenti.
Secara mental, gadis itu menampar dirinya sendiri. Kenapa jadi tiba-tiba berpikir tentang Arthur? Tidak mungkin. Kurang kerjaan banget pastinya jika si alis itu pergi ke tempat seperti ini, 'kan? Orang sibuk dan sok kaya seperti itu…
Pasti orang tadi adalah orang lain. Ya.
"Nes?"
"O-oh! Lovino. Ya?" dan Nesia langsung mendapat pandangan heran dari Lovino yang sepertinya, memergokinya tidak memerhatikan dirinya, "M-maaf, Lovi. Apakah kau berbicara sesuatu padaku?" kembali Nesia melirik sejenak ke gerbong lain tadi, tetapi ia segera mengalihkan pandang dan memutuskan untuk mengenyahkan pikiran apapun yang sempat singgah di otaknya.
Lovino tampak memperhatikan Nesia, seperti berpikir akan sesuatu. Lantas pemuda itu menghela napas, dan menggelengkan kepalanya perlahan, "Kau tampak gugup dan sedikit-sedikit bertingkah seperti ada sesuatu yang mengganggumu."
Nesia hanya meringis lebar. Kelihatan sekali, ya?
"Aku juga hendak bertanya hal yang sama padamu," ujar Nesia, "Kau sedikit terlihat… bagaimana aku menyebutnya… gelisah?"
Dan tuduhan Nesia terbukti benar ketika setelah ia mengucapkan pertanyaannya, Lovino berdeham pelan, lantas kembali bertingkah seolah-olah ia tengah kelabakan akan sesuatu dan tak tahu harus bagaimana menghadapinya.
Wajah itu kembali merona.
"Lovino? Ada apa?" tanya Nesia pelan, tidak ingin terkesan memaksa sekalipun ia lumayan penasaran akan sikap sahabatnya.
Sejenak, respon yang didapatkannya adalah Lovino yang tampak menatapnya dari ujung matanya. Ekspresi pemuda itu seolah-olah ingin menimbang dan meyakinkan dirinya sendiri akan keputusan yang ingin ia ambil. Tetapi, beberapa saat kemudian, pemuda itu menghela napas sembari sedikit menunduk dan menyisirkan ke belakang jemarinya, pada rambut depannya.
"Baiklah."
Dari semua kata yang kiranya terucapkan, pemuda itu mengucapkan sesuatu yang justru semakin membuat Nesia merasa bingung, "'Baiklah'?" ulangnya.
Nesia semakin merasa heran ketika Lovino menangkat wajahnya, untuk kemudian menatap kedua matanya dalam satu pandangan lurus.
Tepat.
Zamrud bertemu dengan hitam kecoklatan.
"Ayahku adalah seorang single parent."
Krik.
Rasanya Nesia bisa mendengar suara jangkrik yang begitu jelas saat itu. Errr… dari semua kata yang mungkin dan cocok diucapkan Lovino saat ini, mengapa dia berupan hal yang sangat random begitu?
"I see…" jujur, merasa cukup heran, Nesia tidak tahu harus merespon apa lagi.
Lovino tersenyum kecil, "Ibu meninggal begitu melahirkanku dan Feliciano. Aku hanya dapat melihatnya melalui foto. Kata Ayah, sih, dia mirip sekali dengan Feliciano, sekalipun Feli adalah adik kembarku."
Nesia memutuskan untuk terdiam. Ia belum mengerti akan apa maksud Lovino bercerita mengenai keluarganya, secara tiba-tiba begini. Tetapi ia juga tidak keberatan untuk mendengarnya sekarang.
Lagipula, bukankah selama ini Lovino terkesan begitu menutupi perihal keluarganya?
Pandangan Lovino teralihkan, dari menatap kedua mata Nesia, untuk kemudian menatap ke arah lain—space di samping tempat duduk Nesia, sepertinya, "Aku dan Feli adalah murni berdarah Italia. Kakek pernah bergabung dalam organisasi ilegal di sana—bahkan menjabat sebagai posisi cukup penting. Dan Ibu adalah anak tunggalnya, jadi Kakek sangat menyayanginya. Kakek memutuskan untuk meninggalkan organisasinya ketika Ibu mengenal dan jatuh cinta pada Ayah, yang merupakan pewaris sebuah perusahaan terkemuka. Karena ingin agar aku dan Feli tumbuh di lingkungan yang lebih 'aman', dan juga Ayah yang memindahkan basis perusahaannya di AS, kami berimigrasi ke negara ini."
Sedikit tidak percaya pada telinganya sendiri ketika Nesia mendengar ucapan itu. Tanpa perlu bertanya, gadis itu sudah mampu menduga organisasi ilegal yang seperti apa yang dimaksud Lovino. Italia 'kan terkenal tidak hanya akan pasta, Venezia, dan Coloseum saja. Hanya saja, gadis itu tidak menyangka jika Lovino berasal dari keluarga yang pernah menjadi bagian dari organisasi demikian.
"Lantas, apa di sini kalian merasa aman?" tanya Nesia, "Maksudku, tidakkah organisasi itu mencari kalian hingga ke sini?"
"Kakekku, seperti yang kubilang, pernah memiliki posisi yang cukup penting dalam organisasi itu. Sehingga ia adalah orang yang memiliki pengaruh. Dan ketika ia memutuskan untuk keluar, ia tidak menemukan banyak hambatan."
"Bagaimana dengan musuh organisasi Kakekmu? Tidakkah kalian terincar oleh mereka?"
Sebuah seringai tampak di bibir itu, "Organisasi itu bersifat rahasia dan sangat menjaga baik kerahasiaan identitas tiap anggota yang mengikutinya."
"Oh…" gumam Nesia, lantas ia tersenyum, "Kakekmu pasti sangat menyayangi anak dan cucunya hingga rela meninggalkan organisasinya seperti itu."
Kepala bersurai coklat itu menoleh sehingga kedua mata itu menatap pada hamparan langit yang luas di atas sana. Roda kincir kembali berputar dan membuat gerbong mereka berada di sudut 135 derajat, "Kupikir juga begitu."
Mengerutkan kening, senyuman Nesia meluntur seiring dengan herannya gadis itu akan gumaman lirih yang baru saja didengarnya.
"Karena, ketika Ibu meninggal dan aku dan Feli telah lahir, Ayah dan Kakek merasa sangat terpukul akan kepergian Beliau," ujar Lovino lirih. Pandangannya mengarah pada langit di luar sana, dengan ekspresi dan nada seolah-olah ia tengah berbicara pada hal tak kasat mata, bukan kepada Nesia, "Dan sekalipun aku dan Feli adalah saudara kembar, tetapi seiring kami tumbuh, banyak perbedaan signifikan yang terdapat di antara kami berdua. Begitu banyak, hingga banyak pula hal yang bisa dibandingkan antara diriku dan adikku."
Nesia, sungguh, tidak menyukai akan nada yang digunakan Lovino. Suara itu terdengar lirih, dengan nada yang seolah-olah tiap kata yang terucap, mengandung racun yang menyakiti diri si pemilik suara.
"Feli yang ceria, ramah, mudah sekali tersenyum, mampu memiliki banyak teman, disukai banyak orang lain. Dan aku… hanya seorang pemurung dan pemarah yang selalu berkata kasar dan tidak pernah mampu melakukan satu hal apapun dengan baik. Semakin lama perbedaan itu semakin tampak dan tak hanya orang-orang saja yang menunjukkan perbedaan itu, tetapi juga Ayah dan Kakekku."
"Lovi…" ingin Nesia katakan bahwa semua itu tidak benar. Bahwa Lovino tidaklah inferior dari Feliciano. Bahwa, bagi Nesia, Lovino bahkan lebih baik dari Feliciano. Bahwa ia tidak suka mendenagr Lovino berbicara dengan nada dan ekspresi demikian…
Tetapi sebelum ia sempat mengucapkan semua itu, Lovino kembali berujar, "Seperti yang kubilang, Feliciano sangat mirip dengan Ibu. Kata Ayah dan Kakek, dalam hal senyum, tawa, dan sifatnya yang lain—Feli begitu mampu mengingatkan Ayah dan Kakek pada Ibu. Ia begitu dimanjakan karena ia menjadi anak yang baik dan penurut. Sedangkan aku lebih banyak mendapat hukuman karena sifat dan sikap nakalku—semua itu justru membuatku merasa marah dan aku menjadi lebih nakal lagi, lebih tidak patuh lagi, dan lebih marah lagi. Tetapi rasa marah dan kecewa itu tidak lebih besar ketimbang ada seseorang yang mengatakan hal seperti: Lihatlah adikmu. Kenapa kau tidak bisa mencoba untuk lebih sedikit menjadi seperti dirinya?"
Sekarang terungkaplah sebuah fakta yang menjadi alasan sikap Lovino terhadap Feliciano seperti yang Nesia pernah liat. Tahulah ia sekarang akan alasan Lovino sering berkata-kata sarkastis terhadap Feliciano, atau keluarga mereka.
Siapa sangka jika pemuda itu memiliki beban yang begitu berat? Nesia tak bisa membayangkan akan betapa sakit dan terlukanya dirinya jika harus dibanding-bandingkan dengan saudara sendiri, apalagi saudara kembar. Dan apalagi perbandingan itu membawa hasil kepada inferioritas pada dirinya dan superioritas pada saudara tersebut.
"Aku tahu Kakek dan Ayah menyayangiku," Lovino menghela napas, lantas mengendikkan bahu, "Tapi selalu ada hal atau perasaan yang membuatku berpikir bahwa Feliciano selalu lebih baik bagi mereka, daripada diriku. Untuk itulah, saat menginjak SMA, aku berpikir bahwa aku sudah cukup dewasa untuk tinggal di tempat yang terpisah dari mereka. Aku menyewa di Green Brooklyn. Kakek dan Ayah, juga Feli, memaksaku untuk tetap tinggal di mansion, tetapi aku menolak. Feli memutuskan untuk ikut karena alasannya, tidak ingin membiarkanku sendiri. Tetapi seperti yang kau tahu, dia sekarang sudah kembali ke mansion. Aku sempat ditawari Kakek dan Ayah untuk turut kembali tetapi…," Lovino terpejam, lantas menggeleng-gelengkan kepalanya, "Aku belum bisa dan belum ingin melakukannya."
"Tetapi kupikir Kakek dan Ayahmu menyayangimu, Lovi," ujar Nesia lirih dan hati-hati, takut jika ucapannya menyinggung perasaan pemuda tersebut, "Feliciano juga menyayangi dan menghormatimu sebagai Kakak."
"Aku tahu," ujar Lovino, kembali memandang ke arah luar jendela. Roda kincir kembali bergerak dan kini membuat gerbong mereka berada di sisi yang lebih ke bawah, "Tetapi perasaan inferior ini sangat melemahkan diriku. Sampai kapanpun aku tak akan bisa berhenti berpikir 'Mengapa Feli bisa seperti itu dan aku seperti ini? Tidakkah kita saudara kembar? Kenapa aku tidak bisa menjadi seperti dirinya?' tiap kali aku menatap adikku. Tak hanya itu, tetapi rekan kerja Ayah dan para karyawan di perusahaannya juga menilai bahwa Feliciano lebih cocok, mumpuni, dan bisa diterima sebagai penerus bisnis Ayah. Aku tidak peduli dengan warisan, hanya saja, dengan perkataan mereka, aku kembali merasa bahwa harga diriku sebagai putra sulung Vargas, dan juga sebagai Kakak dari adik kembarku, terludahi dengan tidak dipandang bahkan sebelah mata oleh mereka semua."
Nesia tidak tahu kapan tepatnya ia beranjak dari kursinya. Kedua kakinya yang terlindungi boots semata kaki berwarna hijau kebiruan, melangkah. Untuk kemudian ia mendapati dirinya terduduk di space sebelah Lovino.
Yang Nesia tahu adalah bahwa kemudian, ia membawa dan menarik tubuh Lovino untuk berada dalam lingkaran kedua tangannya.
Mendekapnya erat, dan tak ia lepaskan sekalipun ia rasakan bahwa tubuh itu menegang di detik ia menyentuhnya. Ia sandarkan kepalanya pada pundak lebar itu. Dan seketika indera penciumannya dipenuhi oleh aroma mint yang menguar jelas dan segar dari tubuh tersebut.
"Jangan berkata-kata seperti itu," pelukan itu menguat, "Karena sekalipun mereka berkata demikian, aku tidak ingin kau berubah menjadi seperti adikmu. Aku ingin kau tetap menjadi Lovino—dirimu."
Tidak ada kebohongan. Nesia yakin dan tahu bahwa tidak ada kebohongan dalam ucapannya. Ia bukan ingin menghibur Lovino—tidak. Ia hanya ingin menyatakan sebuah fakta, sebuah keyakinan dirinya sendiri. Lovino yang selama ini menenangkannya dengan caranya sendiri. Lovino yang selama ini berbuat dan bersikap begitu baik padanya. Lovino yang dibalik tatapan dingin dan kata-kata kasarnya, merupakan pribadi yang benar-benar peduli pada orang-orang yang berharga baginya.
Mungkin Lovino tidak bisa dan tidak akan mengakui sifatnya tersebut, tetapi Nesia yakin bahwa ia memang pribadi yang peduli. Ia peduli pada sahabatnya—ia menyayangi mereka. Ia sayang dan peduli pada Feliciano. Dan Nesia yakin, pemuda itu juga peduli pada keluarganya.
Lovino telah berbuat banyak kebaikan baginya—bagi Nesia. Tak pernah meninggalkannya. Selalu membelanya. Selalu ada di sana saat Nesia tidak tahu lagi harus bagaimana.
Jadi, Nesia yakin bahwa pemuda itu tidak pantas untuk merasa rendah diri demikian.
"Dan aku percaya bahwa keluargamu menyayangimu—sebesar mereka menyayangi Feliciano."
Dan Nesia merasakan tubuh itu sedikit rileks dalam pelukannya.
Gadis itu tersenyum kecil, lantas semakin mengeratkan pelukannya. Sebelum ia rasakan bahwa terdapat satu telapak tangan yang menyentuh kedua tautan telapak tangannya.
Ketika ia menatapnya, ia mendapati kedua telapak tangannya yang tertaut akibat lengannya yang melingkari Lovino, kini tertutupi oleh sebuah telapak tangan lain yang lebih besar dari telapak tangannya. Lebih kuat dan hangat.
"Kau tahu…"
Ucapan itu membuat Nesia mendongak—meninggalkan bahu Lovino demi menatap pemuda itu. Kembali, kini rona kemerahan yang tadi menghilang, kini kembali hadir di wajah putih kecoklatan tersebut.
Dan lagi, ekspresi gugup itu kembali hadir—entah karena apa, menggantikan ekspresi sendu dan nostalgic yang sempat terpampang di wajahnya.
"Kau tahu…," rangkulan Nesia perlahan terlepaskan oleh Lovino. Pemuda itu sedikit mengubah posisi duduknya sehingga kini ia menghadap ke samping—ke arah Nesia yang berada di sebelahnya.
Jarak mereka begitu dekat, hingga Nesia bisa melihat jelas akan betapa wajah itu merona padam. Hingga ia bisa menatap dua bola itu yang tampak gelisah, namun di saat yang sama, terdapat sebuah keyakinan akan keputusan yang bulat. Dua zamrud yang menatapnya tepat di kedua mata Nesia, seolah mengijinkan Nesia untuk membaca isi jiwa dan hatinya.
Dan Nesia baru sadar bahwa kedua tangan mereka masih bergenggaman, ketika ia merasakan kedua telapak tangannya semakin teremas hangat.
Lembut.
"Kau tahu, apa tujuanku bercerita semua itu?" tanya Lovino.
Ekspresi dan nadanya yang terdengar serius demikian, membuat Nesia merasa terheran akan pertanyaan yang begitu mendadak sekaligus tak ia sangka. Dengan sedikit ragu, gadis itu berujar, "… Untuk menceritakan masalah yang menimpa—"
"Untuk kau tahu bahwa kau adalah orang pertama, sekaligus satu-satunya, yang aku percayai untuk mengetahui cerita ini dariku."
Eh?
"Tidak ada selain kau. Bahkan Antonio tidak tahu mengenai semua ini."
Nesia menelan ludah dengan cukup sulit. Ia merasa bahwa ada sesuatu hal penting yang akan terjadi, yang akan dilakukan atau dinyatakan oleh Lovino. Tatapan mata itu… nada suara itu… semua seolah menyatakan bahwa ada makna tertentu dari fakta bahwa ia menjadi satu-satunya orang yang mendapatkan privilege mengetahui kehidupan pribadi Lovino Vargas.
"Terimakasih," Nesia tidak tahu harus merespon bagaimana lagi, "Tetapi kenapa?"
Kembali Nesia lihat adanya keraguan dalam pandangan mata itu—hanya sekejap, sebelum tatapan itu kembali bersorot yakin dan mantab.
Dan genggaman itu terasa semakin menguat.
"Karena a-ada yang sejak dahulu, ingin kusampaikan padamu."
Jakun itu bergerak saat Lovino tampak menelan ludah dengan cukup sulit. Membuat Nesia tak habis pikir akan mudahnya suasana berubah. Dari suasana sendu menjadi suasana yang cukup membingungkan, sekaligus sedikit canggung bagi Nesia. Apalagi dengan Lovino yang tidak kunjung melanjutkan ucapannya dan hanya menatap dan menggenggam tangan Nesia. Merona padamnya pemuda itu membuat Nesia jadi berpikir akan fakta memalukan yang mungkin, agar segera diungkap Lovino kepadanya.
Pemuda itu sedikit menunduk, menghela napas, lantas merutuk kesal dan pelan, sebelum ia kembali mendongak dan menatap kedua mata Nesia.
Dan kali ini, tiada sorot dan nada keraguan dalam tatapan atau nada suara yang mengiringi kalimat yang akan terucap.
Kali ini, Nesia rasakan Lovino tak hanya menggenggam telapak tangannya, tetapi ia telah menyelipkan jemarinya ke sela-sela jemari tangan Nesia.
Membuat tautan itu lebih erat.
Akhirnya, Lovino dengan suara lirih, memecahkan kesunyian yang diciptakan oleh mereka berdua.
"Nesia, aku mencin—"
Terdapat bunyi yang cukup nyaring yang terdengar. Memutus seketika lanjutan ucapan Lovino ketika pemuda itu memutuskan untuk terbungkam. Bunyian itu berbunyi terus, disertai dengan sebuah getaran halus yang mampu Nesia rasakan berasal dari kantung mantelnya.
Meringis lebar seolah meminta ijin, Nesia melepaskan telapak tangannya dari genggaman Lovino untuk kemudian mengambil ponsel berwarna hitam metalik yang berada di pakaian hangatnya tersebut.
Kening gadis itu sedikit mengerut ketika mendapati sebuah nomor tidak dikenal yang kini mejeng di layar ponselnya.
"Ya, halo?" Nesia melirik Lovino dari ujung matanya, dan dilihatnya pemuda itu memandang ke arah luar jendela kaca sembari bersangga dagu.
Entah apa yang tengah ditatapnya hingga pemuda itu tampak memberi death glare seperti itu. Nesia tak habis pikir akan ada apa dengan Lovino hingga ia seperti tengah mengalami mood swing seperti itu: dari gugup, menjadi sedih, lalu ke gugup lagi, lantas sekarang ia seperti orang yang mengalami bad mood paling buruk sedunia.
"Don't yeah hallo me, gadis bodoh!" sebuah teriakan langsung menyerang telinga Nesia, membuat gadis itu mengernyit dan sedikit menjauhkan ponsel itu dari telinganya.
"M—maaf, tetapi siapa kau—"
"I see… kau belum memiliki nomor dari partner kompetisi-mu sendiri? Kau ini bodoh atau terlalu malas?!"
Partner kompetisi?
"S—Senior Arthur?"
"Seratus untuk perkembangan otakmu! Kau mau aku beri apa? Medali emas?"
Begitu kesal dan dongkolnya Nesia merasa hingga sekarang tak ada lagi yang ingin ia lakukan selain menjungkir roda kincir ini dan melemparnya ke arah kediaman Arthur—jika ia bisa.
"Kenapa kau marah-marah begitu?" cetus Nesia keras, "Salah siapa yang tidak pernah memberitahu nomor ponselmu. Dan… darimana juga kau tahu nomorku?"
"I—itu bukan hal penting dan poin dari pembicaraan yang ingin kusampaikan, bodoh!" teriak Arthur keras, "Kau, apa yang kau lakukan data sampel yang kuberikan padamu untuk kau kerjakan?"
Jadi ini terkait kompetisi. Tetapi tumben sekali Arthur menelponnya dan tidak menunggu sampai mereka bertemu langsung.
Nesia menelan ludah dengan cukup sulit. Sepertinya kesalahan apapun yang sudah ia lakukan, cukup fatal hingga membuat orang gengsi macam Arthur rela menelponnya demikian.
"Errr… sudah aku kerjakan dan tadi pagi baru saja kuserahkan pada Senior Alfred, kok," nyali Nesia menciut meski ia belum tahu apa kesalahannya.
"Sungguh?" Arthur tertawa terdengar sarkastis, "Begitukah definisimu tentang kalimat 'sudah mengerjakan'? Aku dan Alfred tidak jadi menyerahkan laporan itu pada Madame Jeanne hanya karena bagian yang sudah kau kerjakan itu!"
Nesia mengingat-ingat akan pekerjaannya. Seingatnya semua sudah benar dan sudah sesuai dengan ptunjuk dari Alfred dan Arthur sendiri. Ia tidak tahu apa kesalahannya hingga Arthur bisa demikian marah seperti ini.
"T-tapi seingatku—"
"Katakan padaku bagaimana kau mengerjakannya."
"Apa?"
"Kau bodoh?"
Uh.
"M-maksudku, terlalu sudah dan terlalu ribet kalau kujelaskan lewat telepon. Lagipula aku juga belum tentu mengingat—"
"Kubilang jelaskan maka sekarang jelaskan!"
Nesia merasa seperti tengah mendapat telepon dari keponakan kecilnya yang merengek dan ngotot meminta diceritakan akan bagaimana kehidupan di AS sebenarnya.
"Dan jangan berani-beraninya kau putus sambungan telepon ini sebelum kuakhiri sendiri!" tambah Arthur judes dan demikian menyebalkan.
Nesia menghela napas. Tidak ada cara lain sepertinya. Arthur terdengar begitu marah dan terdapat sedikit rasa bersalah di hati Nesia akan apapun kesalahannya. Karena simpel saja, kesalahannya pasti besar jika Arthur menelponnya demikian. Arthur tidak akan menelponnya hanya untuk sekedar ngobrol dengannya juga, 'kan?
Sepanjang roda kincir berputar, Nesia terus berbicara dan sesekali berdebat dengan Arthur. Memang pemuda itu bilang 'jangan tutup telepon sebelum kututup sendiri', tetapi nyatanya rasanya sudah bermenit-menit mereka mengobrol—sudah Nesia duga, bahwa menjelaskan laporan akan terlalu ribet dan terlalu panjang jika melalui ponsel. Begitu lama pembicaraan mereka berlangsung hingga Nesia merasa telinganya cukup panas dan sedikit berdenging (terimakasih pada Arthur yang setia memberinya bentakan gratis sekali-dua kali).
Terus mengobrol hingga waktunya untuk menikmati roda kincir, habis, dan ia harus kembali turun dan menjejakkan kaki di tanah.
"Oke! Sekarang aku tidak mau tahu! Sekarang kau cepat kerjakan ulang pekerjaanmu dan kirim ke e-mail ku malam ini juga. Nanti akan kukirim alamat e-mail ku padamu!" daulat Arthur secara sepihak dengan nada yang menolak adanya bantahan.
"Tapi, Senior—"
"Sekarang juga! Kau ini, ya. Masih untuk kau kuberi kesempatan memperbaiki. S-e-k-a-r-a-n-g j-u-g-a!" kata Arthur mengeja kalimat terakhir yang diucapkannya.
Dan tanpa Nesia sempat meminta ijin atau bantahan, sambungan tertutup saat itu juga.
Gadis itu menatap layar ponselnya dan mengenggamnya erat, lantas memejamkan mata dan menggeram kesal seolah ia meyakinkan dirinya bahwa ia tidak harus membanting ponselnya hanya karena ia dongkol setengah mati pada orang yang baru saja menelponnya.
'Senior Arthur….'
Kembali memasukkan ponselnya ke mantelnya, Nesia menghela napas hingga terbentuk uap tebal dari hidung dan mulutnya. Karena begitu terfokus pada semua perintah Arthur dan terfokus untuk merasakan kesal dan jengkel di hatinya, gadis itu nyaris melangkah cepat-cepat dan menjauh dari sana jika ia tidak mendengar suara.
"Dari Arthur Kirkland?"
Oh.
Ya Tuhan, sebegitu lama dan tenggelamkah ia dalam perbincangannya dengan Arthur hingga ia nyaris melupakan orang yang membawanya ke sini, orang yang menemaninya di roda kincir?
"Yeah, Lovi," Nesia menatap Lovino. Dilihatnya pemuda itu melengkungkan bibir ke bawah dengan tatapan seolah ia tengah menatap hal yang menggatalkan hatinya, "Maaf aku tidak menghiraukanmu. Hanya saja Senior Arthur… ada hal penting terkait kompetisi yang tadi ia bicarakan," ujar Nesia mengungkapkan rasa bersalahnya.
Lovino hanya mendengus.
Namun Nesia mampu melihat bahwa kedua mata itu semakin menyipit dan mengatupkan kedua rahangnya—ekspresi yang pernah Nesia lihat ketika Lovino benar-benar merasa kesal dan marah.
Ekspresi yang dahulu diberikan pemuda itu pada Antonio sebelum ia mengayunkan hantaman ke rahang pemuda Spanyol tersebut.
Nesia menelan ludah. Apakah Lovino begitu marah karena ia telah mengacuhkannya?
"L-Lovi—" Nesia tertawa kikuk dan gugup, "Ngomong-ngomong, apa yang tadi ingin kau bicarakan? Kita bisa membicarakannya sekarang," yeah, tak apa. Tugas dari Kirkland bisa menunggu. Ia masih memiliki waktu sampai malam ini.
Lagipula pasti apapun yang ingin diucapkan Lovino tidak akan memakan waktu yang cukup lama, 'kan?
Lovino tampak menghela napas, lantas menggeleng lirih, "Kita pulang saja."
"Eh?" Nesia segera menyejajari langkah dari Lovino yang terlebih dahulu beranjak dari sana, "Kenapa? Sepertinya tadi kau ingin membicarakan hal penting."
"Lain kali saja. Lagipula kau harus mengerjakan tugas sekarang juga, 'kan?"
"Errr… tapi itu bisa menunggu, kok," Nesia memberi senyum lebar pada Lovino yang berjalan di sebelahnya.
"Sudahlah, lain kali saja. Lagipula hari juga sudah malam."
"O-oke…" gumam Nesia, memutuskan untuk berhenti memaksa. Lagipula ia cukup takut jika ia mengesalkan Lovino jika ia terus memaksa pemuda itu.
Habisnya… Lovino sekarang terlihat begitu kesal dan jengkel—Nesia tidak mau menambah lagi kejengkelan di hati pemuda itu, karena sebab apapun itu.
Dalam benaknya, gadis itu mencoba menerka-nerka apa yang ingin diucapkan Lovino. Seingatnya tadi, pemuda itu bilang 'I lo—'.
I lo?
I lost? I lock? I lower? I look?
Hh.. begitu banyak kemungkinan.
Begitu sampai apartemen dan setelah ia membersihkan diri, Nesia langsung anteng terduduk di meja belajarnya dengan menghadap laptop yang menyimpan semua data sekolahnya. Ia buka dokumen-dokumen yang Arthur tuduhkan sebagai kesalahan dalam pekerjaannya.
Tetapi, setelah meneliti, mengerjakan ulang, dan memeriksa ulang pekerjaannya hingga nyaris pukul 2 pagi, Nesia tidak menemukan apapun kesalahan yang dituduhkan Arthur padanya.
Ia bahkan tidak mengerti apa dari pekerjaannya yang keliru.
Dan ketika keesokan harinya ia bertemu dengan Arthur di rumah Alfred saat pertemuan kelompok, Nesia menanyakan kebingungannya. Bahkan setelah mendengar ucapan Nesia, Alfred bilang ia tidak mengetahui apapun perkara yang dituduhkan Arthur pada gadis tersebut. Dan apa yang dijawab Arthur membuat Nesia nyaris menjambak rambut pemuda itu jika kedua tangannya tidak keburu dicekal oleh Alfred yang tidak ingin kedua temannya membuat isi rumahnya pecah karena perang kesekian kalinya.
"Oh, right. Setelah kupikir, kesalahan itu minor sekali dan tidak akan jadi soal. So yeah… Kita tetap akan gunakan hasil sebelumnya."
Nesia hanya mampu memohon ampun pada Tuhan akan apapun dosanya hingga ia kena sial dengan bertemu orang seperti itu. Ia memutuskan untuk diam, karena selain Alfred yang ketat menjaga perdamaian di antara mereka bertiga, juga karena Arthur yang tampak tidak begitu sehat kala itu.
Wajahnya memerah dengan beberapa kali ia terbersin—seperti orang kedinginan dan terkena flu. Membuat Nesia jadi berpikir apakah demam yang diderita pemuda itu sejak beberapa hari yang lalu, belum sembuh?
Tetapi perasaan kemarin-kemarin pas ketemu sudah baikan…
Arthur tampak terbersin, lantas mengeluarkan sapu tangan dari saku jaketnya. Dan Nesia melihat sesuatu lain yang keluar dari saku jaket itu, dan terjatuh di lantai. Saat Arthur pamit untuk mengambil air minum di dapur Alfred, Nesia mengambil sesuatu yang tampak seperti kertas kecil tersebut.
Dan tahulah ia bahwa itu kertas—sebuah tiket akan sebuah wahana hiburan.
Roda kincir, dengan tanggal tepat pada hari kemarin.
Sebelum Arthur kembali, Nesia sudah buru-buru meletakkan lagi kertas itu di tempatnya terjatuh semula. Lantas kembali mengalihkan perhatiannya pada laptopnya.
Dalam benaknya, ia berpikir akan kemungkinan Arthur berada di tempat yang sama, dan di waktu yang sama, dengan Nesia dan Lovino, di sore kemarin.
Dan apakah Arthur Kirkland ada hubungannya dengan perasaan terbuntuti yang sempat ia rasakan kemarin?
Gadis itu mendengus geli dan menggeleng pelan.
Mana mungkin pemuda itu melakukan hal kurang kerjaan seperti itu, 'kan?
-oOo-
Next Chapter
"Tak terasa aku sudah nyaris setahun mengenal mereka semua."
.
"Aku mengundang—m-maksudku, OSIS memutuskan untuk membuat suatu perayaan kecil-kecilan atas selesainya final kompetisi kita."
.
"GUYS, SEKARANG KITA HARUS MERAYAKAN DAN MENGUCAPKAN SELAMAT KEPADA ARTHUR, ALFRED, DAN ANNESIA, SERTA HETALIA HIGH, ATAS SELESAINYA FINAL KOMPETISI YANG BARU MEREKA JALANKAN!"
.
"Hetalia High pasti juara pertama, Nes. Aku yakin! Gini deh, jika Hetalia High tidak juara pertama, maka kau akan kugendong saat pulang sekolah nanti, dari sekolah hingga apartemenmu!"
.
"Nes, baru saja aku dari kantor guru karena Madame Jeanne menelponku. Dan katanya, pengumuman hasil final sudah keluar—Beliau baru saja mendapat surat resmi dari panitia kompetisi."
-oOo-
Nah. Bagi para penggemar RomaNes, saya sudah menyajikan momen khusus mereka ini untuk kalian semua. Praise me, puhlease /plakjduesh!
Bagi penggemar Romano pula, saya udah jelasin nih misteri (?) di balik keluarga Romano dan sebab Romano sering judes ke adiknya. Hoho /jduakh/
Pojok review. Monggo~
Arthur gagap tsundere/ Baru sekarang saya denger istilah itu :D /catet catet catet/ / Jangan bilang yang mau confess itu Vash/ Saya ga bilang kok /pasang muka inosen/ / Apa yang nulis surat itu Nether?/ … /silent/ / Jangan lama-lama update, ya/ Sumpah, saya pengen banget malah jika bisa update tiga kali sehari kayak orang minum obat D': /Words-nya diperbanyak, ya/ Eaaa Qaqaaa /Aku bakal baca ampe tamat/ B-b-benarkah? :'D /stuttering lebayly/ /Aku tahu si penelpon itu siapa/ Sumpah, itu bukan saya! /siapa yang bilang elu woi!/ /Aku paham dirimu sebagai sesama mahasiswa/ Hiks! /Hidup Mahasiswa!/ /alay-mu meningkat drastis/ /sujud syukur kayak abis menang award/ /Panggil kamu apa nih?/ Nama pendeknya DIS. Namapanjangnya bisa DISambit, DISiram, DISkotik, terserah :D /orang ini ga pernah serius kalau soal identitas/ /krisis identitas/ /Aku jadi suka Arthur/ Kapan sukanya ama saya? :( / Kapan Nether muncul?/ /berlalu sambil siul2/ /Nesia kok ga pernah sakit meski berkali-kali keujanan?/ Pernaaahhhh. Coba cek chapter2 yang waktu dia dibonceng ama Tonio dan bayangin ciuman itu /Arthur di telepon bilang patah hati? Dia patah hati kenapa?/ -,- Please, don't make me state the obvious… /Ada SpaMano nyempil/ :D /Antara Arthie dan Lovi, siapa yang di-php-in Nesia?/ Kita lihat 10-13 chapter lagi :D /huk!/
Jika faktor-faktor lain tetap dan sama, banyak dan cepatnya review kalian berbanding lurus dengan kecepatan update saya (Storm, 2013).
Review = Mood & Inspiration Booster
Logged in Review: Makin Mood, Inspiration, and Alay (?) Booster :D
Thank you so much.
Fiva La FHI
Salam Yeyeye Lalalala (?)
DIS-andra cintamu (?)
