Di chapter ini deskripnya banyak sekali. Tapi disarankan baca agar mengerti jalan cerita :* Anyway, ini 8k+ lhoooo


Kualifikasi tingkat region dari kompetisi debat nasional AS yang telah berlangsung, menandakan akan ternyata, betapa lamanya sudah waktu telah berjalan. Membuat Annesia Saraswati terkadang merasa terheran sendiri ketika waktu telah berjalan demikian lama, hingga ia merasa tidak menyangka bahwa ia telah dan sanggup melalui semua itu.

Entah karena keberuntungan semata atau memang kualitas kelompok dan guru pembimbingnya cukup bagus, Hetalia High mampu menembus dan lolos sebagai perwakilan dari Utara dalam kompetisi debat ini. Sekolah tersebut tidak hanya mewakili region tersebut, tetapi juga mewakili Carolina Utara, untuk kemudian melangkah ke kualifikasi akhir, yakni final. Hanya fakta bahwa Hetalia High lolos dalam kualifikasi tingkat regional saja, merupakan suatu kebanggaan yang tak terkira. Apalagi ditambah dengan lolosnya mereka sebagai sang perwakilan regional AS Utara, sama dengan kalah dan gagalnya SMA Jeferson sebagai perwakilan AS Utara. Meskipun SMA nomor satu tersebut dikalahkan oleh salah satu perwakilan New Orleans, tetapi telah menjadi suatu kebanggaan dan keajaiban tersendiri bagi Hetalia High untuk mampu lolos ke final dan meninggalkan SMA Jeferson yang notabene merupakan saingan terberat sekaligus mantan juara kompetisi tahun lalu.

Betapa kabar manis tersebut membuat nama Hetalia High semakin mencuat di jajaran daftar sekolah elit dan berprospek tinggi, di AS dan dunia internasional. Tak hanya Madame Jeanne, sebagai guru pembimbing resmi, yang merasa begitu bangga, tetapi bahkan Kepala Sekolah Hetalia High mengundang makan malam kepada Kelompok Nesia, beberapa perwakilan guru, Madame Jeanne, dan perwakilan pemerintah Carolina Utara sendiri.

Nesia tidak pernah membayangkan bahwa ia telah membuat suatu torehan sejarah manis di awal kehidupan SMA-nya. Tidak hanya ia telah pernah duduk di salah satu restoran kelas tinggi bersama dengan orang-orang penting, namun juga kini ia seolah mendadak populer dengan banyaknya teman-temannya yang mengirim ucapan selamat padanya. Para senior, para teman seangkatan, bahkan teman-teman di Indonesia yang mendapat kabar dari keluarganya, semuanya mengirim selamat. Dan bahkan, Willem Van Hardt mengiriminya e-mail setelah pemuda itu mendapat kabar dari Senior Bella yang diberitahu langsung oleh Antonio Carriedo.

Antonio…

Pemuda itu masih seceria dan seramah saat pertama kali Nesia mengenalnya. Senyumnya yang hangat, tatapan matanya yang seterang batu kristal. Ia masih menjadi pemuda yang menjadi maskot Klub Musik, berkat keahlian gitar dan suaranya. Siapa yang tak mengenal Antonio? Bahkan berkatnya, Klub Musik Hetalia beberapa kali diundang dalam acara-acara luar, seperti oleh pihak pemerintah lokal, perayaan di sekolah lain, dan kabarnya malah ingin mengikuti kompetisi jingle suatu produk perusahaan terkemuka, tahun depan. Antonio begitu populer tak hanya bagi teman-teman perempuan, tetapi juga teman laki-laki yang senang bergaul dengannya—terimakasih juga pada bakat sepak bolanya yang tidak bisa diremehkan. Meski demikian, ia juga merupakan pemuda yang menjadi sahabat Nesia. Pulang bersama. Sesekali berkunjung ke kediaman satu sama lain—tak sekali dua kali Nesia dapati dirinya ditraktir ke restoran milik Ibunya.

Dan pemuda itu juga merupakan seseorang yang masih begitu mencintai Senior Bella Van Hardt.

Mengingat hal itu, Nesia tidak tahu apa yang harus ia pikirkan. Semakin hari, ia lihat dan sadari bahwa sahabatnya semakin dekat dengan senior tingkat akhir tersebut. Semakin terlihat bahagia—seolah hidup mereka akan baik-baik saja tanpa orang lain selama mereka memiliki satu sama lain. Tak jarang sekarang jika Antonio lebih sering membawa motornya ke sekolah, sekedar untuk mengantar Senior Bella pulang ke rumah atau pergi kemanapun sepulang sekolah. Pernah pula Nesia lihat pemuda itu menaiki mobil Senior Bella jika pemuda itu tidak membawa motor. Bahkan tak jarang juga jika Nesia sering mendapati HP-nya berisi sms dari Antonio yang bercerita akan apapun yang telah terjadi atau dilakukannya dengan Senior Bella. Tak jarang pula pemuda itu menghabiskan pulsa teleponnya sekedar untuk bercerita mengenai gadis yang dicintainya. Alasannya sih, karena menurut Antonio, hanya Nesia yang mengetahui semua ini—hanya pada Nesia-lah pemuda itu menceritakan semua.

Antonio tampak dan terdengar begitu bahagia.

Sepertinya semua berjalan baik-baik dan lancar-lancar saja. Jika begini terus, Nesia yakin jika tak lama lagi, pemuda itu akan mampu mengklaim Senior Bella sebagai kekasihnya—bukannya terus terlibat dalam hubungan tak jelas seperti itu.

Memang, mengingat semua itu, rasa sakit itu masih ada. Tentu saja. Toh perasaan luka tidak akan hilang secepat ia jatuh hati pada pemuda itu. Apalagi saat Nesia menerima dan membalas sms berisi curhatan Antonio tentang Bella, atau menanggapi ucapannya di telepon, rasa sakit itu masih ada. Ia masih menyukai senyuman itu. Ia masih mencintai tatapan mata itu. Ia, terkadang, masih berharap jika seandainya ia berada pada posisi Senior Bella.

Tetapi, setidaknya, Nesia sudah memutuskan bahwa ia berhenti.

Ia tidak akan memupuk perasaan itu, tetapi juga tidak akan langsung membunuhnya. Ia tidak lagi bermimpi dan berharap terlalu muluk, meskipun luka itu masih belum bisa disembuhkan. Ia akan memaksakan kedua matanya untuk melihat kebahagiaan Antonio. Ia akan memaksa telinganya untuk mendengar semua ungkapan perasaan suka cita dari pemuda itu. Ia akan memaksakan mulutnya untuk tersenyum, tertawa, dan menanggapi semua ucapannya. Dan ia akan memaksakan hatinya untuk menerima.

Menerima… karena tidak ada lagi yang bisa ia lakukan selain itu. Toh ia tidak mau seperti orang desperet dan menyedihkan yang akan terus-menerus menangisi orang yang dicintainya. Cintanya memang bertepuk sebelah tangan—Antonio jelas sekali tidak memiliki perasaan spesial apapun padanya selain perasaan sebagai sahabat. Kasihnya memang tak bersambut, dan ia tidak mau terus memupuk perasaan itu dan terus berharap hingga hatinya semakin terluka dan kecewa.

Terkadang orang bilang bahwa waktu bisa menyembuhkan semuanya.

Dan Nesia sungguh berharap bahwa pepatah itu benar adanya.

Sekalipun Antonio tidak akan pernah menjadi seperti yang ia harapkan—kekasihnya, tetapi setidaknya Antonio telah menjadi seorang sahabat yang begitu baik dan setia kepadanya.

Ya.

Impian dan harapannya akan Antonio, berhenti sampai di sini saja.

Ia tidak akan lagi meniup api perasaan itu agar semakin berkobar, tetapi ia juga tidak akan menyiramnya dengan air agar api itu terbunuh seketika.

Ia hanya berharap, jika ia diam, maka api itu akan semakin mengecil, dan semakin mengecil.

Hingga semoga, akhirnya padam.

-oOo-

Axis Power Hetalia © Hidekaz Himaruya

Picture © Sakurazaka Ohime

I just own the plot of the story and I don't gain any commercial advantages by publishing this fic.

Warning: AU, Human Name, High School, OC, OoC yang mendewa, (highly possible) crack pairs, (a lil') Nesia-centric, but no Mary Sue/Gary Stu I assure you :D totally absurd.

Pairing: Anda bisa menebak sendiri mana yang main pairing, dan mana yang sekedar hints dan fans service :p

Ini murni dari pemikiran saya. Maaf jika kebetulan ada kesamaan ide karena setting gakuen sangat banyak di FHI. Itu tidak disengaja :D

Long Live FHI and Say NO to Plagiarism! Mari berkarya dengan hati dan imajinasi :D

Maju FHI!

-oOo-

Hubungan Nesia dengan Lovino Vargas juga tidak banyak berubah. Ia masihlah menjadi sahabat yang paling baik, paling setia, dan paling segalanya bagi Nesia. Semenjak mengetahui kisah keluarga Lovino dan hubungan pemuda itu dengan keluarganya, Nesia bertekad untuk turut menjadi sahabat yang lebih baik, bagi pemuda itu. Ia ingin melakukan segala cara agar Lovino mampu terbebas dari apa-yang-Nesia-duga-sebagai inferiority complex yang dimiliki pemuda tersebut.

Mengenai keluarga Lovino, pernah Nesia dapati bahwa saat ia sekedar mengunjungi dan berdiam di apartemen Lovino, Feliciano datang bersama dengan seorang lelaki yang dari wajahnya, Nesia sudah bisa menebak bahwa orang itu adalah Kakek Lovino dan Feliciano. Seorang lelaki yang ceria dan begitu ramah—hingga Nesia meragukan kebenaran ucapan Lovino bahwa Kakek Vargas berbuat tidak adil pada cucunya. Saat itu Kakek Vargas dan Feliciano hanya datang berkunjung ke Lovino, sekedar menengok dan sepertinya, membujuk untuk ke sekian kalinya agar Lovino turut tinggal di rumah mereka—meski hal itu sepertinya berujung pada hal yang sama, penolakan.

Dan Nesia langsung mampu menerka bahwa Kakek Vargas adalah orang yang ceria, tetapi di saat yang sama sangat mesum dan ganjen ketika ia bertanya dengan riang ke arah Nesia akan, "Apakah kau Annesia Saraswati? Lovi sering bercerita pada Feli dan Feli bercerita padaku. Kau sangat manis, Nak. Bagaimana? Have you got laid by my grandsooOOW!" Nesia berterimakasih pada Lovino yang langsung mendorong Kakeknya hingga Kakek Vargas membentur tembok, dan langsung menyuruh Nesia untuk keluar dari apartemen "Sebelum orang mesum itu meracuni pemikiranmu, Nes."

Lily Zwingli adalah teman-beda-kelas-sekaligus-mantan-partner-kelompok -MOS bagi Nesia. Gadis manis, lugu, dan aristorakat, adik dari Vash Zwingli dan sepupu dari Roderich Edelstein—seorang siswa kelas 3 di sebuah sekolah lain yang terkenal akan seninya. Seperti dahulu, Lily yang meskipun pendiam dan terkadang pemalu itu, masih saja hobi melakukan match-maker antara Nesia dengan Kakaknya, atau dengan Arthur Kirkland.

Apalagi berita lolosnya kelompok Nesia menuju final kompetisi debat, membuat Lily berkata bahwa "Lihat? Kau dan Senior Arthur ditakdirkan bersama dan membawa keberuntungan bagi sekolah, Nes. Aku yakin." Yang mana hal itu direspon oleh senyum miring dan garing oleh Nesia. Dan sebagai balasan, akhir-akhir ini Nesia sering menggodai Lily dengan Emil Scholte, murid kelas 1 yang juga se-klub dengan Lily, sekaligus adik dari Senior Andrew Scholte.

Dan betapa Nesia ngakak dalam hati tiap melihat wajah Lily memerah tiap Nesia membicarakan mengenai pemuda berambut perak itu, pada Lily. Salah sendiri terus-terusan membicarakan Arthur Kirkland seolah-olah Nesia benar-benar ditakdirkan untuk bersama pemuda beralis tebal itu saja.

Memang, sih, sikap Arthur Kirkland, sejujurnya dan Nesia sadar, jauh lebih baik daripada saat awal-awal mereka bertemu—saat MOS dahulu. Nesia masih ingat betapa pemuda itu bagaikan setan yang selalu sukses membuat Nesia merasa hidup di neraka. Trik, kelicikan, hinaan, makian, bentakan, dan apalagi. Namun kini periode waktu sudah menginjak nyaris setahun sejak pertama kali mereka bertemu—dan terutama, nyaris 11 bulan sejak mereka resmi menjadi partner kompetisi. Meski Senior Arthur tidak atau belum bisa sebaik sikap Senior Alfred, Lovino, atau Antonio, tetapi setidaknya, satu kata yang pas mendeskripsikan sikap Arthur: mendingan.

Nesia ingat saat sore dulu Alfred pernah bilang bahwa "Dia bertanggungjawab, dan jika benar-benar dekat, dia bisa menjadi perhatian dan sangat protektif. Jangan merasa tersinggung atas semua ucapan dan tindakannya karena bukan hanya padamu saja dia bersikap seperti itu." Dan mungkin, sekarang Nesia bisa benar-benar mengerti kenapa Alfred bicara demikian. Mungkin karena mereka sudah cukup lama dekat sebagai partner kompetisi—bahkan mungkin, bisa dikatakan sebagai teman. Mungkin mereka berdua sudah memiliki waktu adaptasi yang cukup untuk terbiasa satu sama lain dan saling introspeksi diri.

Meski Arthur masih sering judes, masih sering sinis dan sering pula memaki, tetapi setidaknya, Nesia sudah terbiasa akan semua sikapnya itu. Alih-alih merasa dongkol mendewa seperti saat dahulu ia mengenalnya, gadis itu malah terkadang sengaja membuat Arthur lebih marah. Bahkan tak sekali dua kali Nesia bekerjasama dengan Alfred untuk membuat Arthur kesal, dan jika itu terjadi, Nesia hanya akan tertawa bersama Alfred melihat betapa merah murka wajah Arthur beserta sumpah serapah yang keluar.

Lagipula, kalau dipikir-pikir, Arthur juga sering sekali berbuat baik padanya. Tak jauh-jauh juga, deh. Saat ia membawa Nesia liburan bersama Alfred dan Natalia dulu. Dan juga hanya pemuda itu, sejauh ini dan entah bagaimana, yang mengetahui akan perasaannya terhadap Antonio—berkali-kali memergokinya merenung atau menangis karena Antonio. Dan Arthur, setahu Nesia dan Nesia yakin, tidak atau setidaknya, belum mengungkit-ungkit perkara hal itu jika kepada orang lain untuk membuat lelucon konyol dari kisah cinta Nesia. Semua itu, sudah membuat Nesia sadar bahwa Arthur sebenarnya adalah pribadi yang baik—hanya perlu waktu untuk membiasakan diri dengannya. Seperti Senior Alfred yang terbiasa dengan makian, jitakan, hinaan, dan perilaku kasar pemuda berdarah Britania tersebut.

Hanya perlu sabar dan membiasakan diri.

Lagipula, sebentar lagi, tinggal menunggu final, kompetisi akan berakhir. Kerjasama mereka akan terhenti. Tidak ada diskusi-diskusi lagi. Tidak ada proposal, tidak ada bimbingan, tidak ada laporan.

Mengingat semua itu, gadis itu menghela napas berat, "Tak terasa aku sudah nyaris setahun mengenal mereka semua."

Ya, waktu ternyata berjalan begitu cepat. Banyak hal yang terjadi.

Banyak hal yang telah dan sepertinya, akan berubah.

-oOo-

Momen yang dinantikan pun tiba tak lama dari selesainya kualifikasi tingkat region—hanya berselang dua minggu setelah itu, Kualifikasi Final Kompetisi Debat Nasional AS, diselenggarakan.

Bertempat di salah satu gedung pendidikan milik pemerintah Federal negara bagian Florida, final diselenggarakan selama sehari dengan empat peserta atau kelompok, yang masing-masing mewakili regionnya—AS Timur, AS Barat, AS Utara, dan AS Selatan. Empat kelompok yang masing-masing merupakan perwakilan dari sekolah prestisius yang akan masing-masing menghadapi babak demi babak kualifikasi final selama beberapa jam ke depan. Gedung mewah itu dihias sedemikian rupa—mewah, tetapi tidak terkesan berlebihan dan glamour, dengan tetap memperhatikan kesan formal dan edukasi di sana. Tidak hanya dihadiri oleh perwakilan dari Kementerian Pendidikan AS, tetapi juga dari Gubernur Florida, perwakilan guru dari masing-masing sekolah, hingga para akademisi umum lainnya sebagai audiences. Tak lupa juga diundang perwakilan dari beberapa majalah, koran, dan media massa di AS lainnya.

Melihat semua itu, melihat kesan formal dan serius itu, mau tak mau Nesia menelan ludah dengan cukup sulit—apalagi ketika ia melihat perwakilan Menteri Pendidikan yang terduduk di kursi VIP di sana.

Nesia hanya berharap bahwa ia tidak mengacaukan atau bertingkah atau berucap konyol apapun. Wajar saja, tekanan psikologis yang ia dapat lumayan besar menghadapi semua ini—semua yang benar-benar terasa dan tampak baru baginya ini.

"Kau termasuk dalam salah satu dari sekian gelintir murid SMA yang berhasil lolos ke final Kompetisi Prestisius ini," Nesia menoleh ketika merasakan pundaknya tertepuk pelan. Dilihatnya Arthur yang berdiri di sampingnya, dan menatapnya, "Meski bagiku kau tetap bodoh, nyatanya kau termasuk dalam salah satu dari sekian gelintir murid SMA tersebut. Tidak ada alasan bagimu untuk merasa minder atau terintimidasi dengan semua ini."

Menelan ludah kembali, Nesia hanya mengangguk pelan dan menghela napas.

Ya, Arthur Kirkland mungkin bisa bicara sesukanya karena ia mungkin terbiasa dengan semua ini—Ayahnya yang seorang Duta Besar pasti membuat pemuda itu tak asing dengan semua ini. Tetapi—uh!

Nesia hanya takut bahwa ia berbuat sebuah kesalahan sekecil apapun. Tak hanya hal itu akan memalukan sekolah, teman-teman, dan dirinya sendiri. Tetapi juga gadis itu ingat perkataan Madame Jeanne kemarin malam di hotel tempat mereka menginap, bahwa, "Kita sudah melangkah sejauh ini. Sebuah torehan perjuangan kita untuk Hetalia High. Kita berusaha keras—dan tidak akan berhenti sebelum final berakhir. Artinya, saya tidak akan memaafkan kesalahan sedikitpun jika kalian lalai sedikit saja."

Ucapan bernada serius ditambah dengan sorot mata tajam dan dingin itu, sudah cukup membuat Nesia rasanya kabur dari sana saja.

Selama beberapa jam ke depan, rangkaian acara di mulai. Mulai dari penyambutan perwakilan Menteri Pendidikan, lalu penyambutan Gubernur Florida sebagai host state, babak pertama, babak kedua, hingga babak ketiga. Lawan yang ada memang tidak bisa diremehkan—tentu saja, mereka merupakan perwakilan tunggal region masing-masing. Baik Arthur, Alfred, dan Nesia, menyampaikan posisi dan argumennya dengan sebaik mungkin. Memaparkan semua hal yang telah mereka teliti dan ketahui, baik dari fakta ataupun dari buku.

Dan Nesia seketika menghela napas penuh syukur ketika semua telah selesai dan ia melangkah keluar dari gedung tempat berlangsungnya kompetisi berlangsung. Setelah sejenak berfoto dengan seluruh kelompok peserta final beserta dengan perwakilan Menteri Pendidikan dan Gubernur Florida, Nesia dan semua perwakilan Hetalia High, kembali ke hotel tempat mereka menginap.

Kompetisi debat yang berakhir secara formal, nyatanya tidak berhenti sampai di situ ketika hingga saat makan malam tiba, Alfred, Arthur, dan Nesia saling berdebat—menyalahkan beberapa kesalahan mereka saat kompetisi, terhadap satu sama lain.

"Kau idiot atau apa? Saat babak kedua kau tidak mempertahankan argumen awalmu, malah menyetujui pendapat lawan!" maki Arthur kepada Alfred.

"Kenapa kau salahkan aku?" balas Alfred tidak terima, sembari menyeruput cola yang ia pesan, "Kalau kita tetap pertahankan argumen, kita malah kehilangan poin tahu? Jelas-jelas argumen kita bisa dibantah secara valid oleh lawan!"

"Senior Alfred benar, Senior Arthur," sela Nesia, "Lagipula kita juga beberapa kali berhasil mematahkan argumen lawan, 'kan? Aku yakin, poin kita lebih tinggi dari lawan."

"Tutup mulutmu, cewek. Aku yakin gara-gara kau, kita kehilangan beberapa poin di hal performance. Suaramu yang tergagap beberapa kali itu sangat menjengkelkan, tahu?"

Dan Madame Jeanne harus melerai mereka sebelum mereka saling lempar makanan ke wajah satu sama lain.

Saat sebelum menutup mata di kamar hotelnya malam itulah, semua pikiran itu terulas di otak dan benak Nesia. Betapa cepatnya waktu berlalu dan kini semua sudah berakhir. Kompetisi yang ingin sekali ia daftar, dan kompetisi yang sama pula yang membuatnya tersiksa dalam siksaan psikis Arthur Kirkland. Kompetisi yang membuatnya mengenal Senior Alfred—kompetisi yang membuatnya sangat dekat dengan dua Seniornya tersebut.

Apapun hasilnya dalam pengumuman di dua hari lagi, juara berapapun yang mampu mereka raih, Nesia hanya satu hal.

Ternyata ia tidak menyesali semua sedalam dan sebesar yang dahulu sempat ia yakini.

-oOo-

Keesokan harinya, setelah mereka semua kembali ke Carolina Utara dan kembali menjalani kegiatan KBM seperti biasanya di Hetalia High, saat pulang sekolah, Nesia mendapati Senior Arthur yang berdiri di depan kelasnya.

Membuat tak hanya gadis itu terheran (ada urusan apa lagi? Kompetisi sudah selesai, 'kan?), namun Lovino Vargas juga menaikkan sebelah alisnya ragu.

"H-hei," Arthur memberi sedikit senyuman yang di mata Nesia, sangat terlihat dipaksakan, "Aku mengundang—m-maksudku, OSIS memutuskan untuk membuat suatu perayaan kecil-kecilan atas selesainya final kompetisi kita," pemuda itu mengalihkan pandang dari kedua mata Nesia yang menatap heran kepadanya. Setelah berdeham lirih, ia melanjutkan, "I-ini perayaan tersendiri yang dihadiri oleh be-berapa anggota OSIS."

Sesungguhnya, kalimat Arthur tersebut terdengar wajar—hanya sebuah undangan biasa. Tetapi yang tidak wajar adalah, pertama: kenapa pemuda itu tampak begitu tidak mudah dalam bersikap? Padahal ia hanya mengundang saja—Nesia pikir dirinya bukanlah orang yang pantas membuat Arthur tampak gugup begitu hanya untuk menyampaikan undangan. Bukankah mereka sudah mengenal selama nyaris setahun ini?

Dan kedua: tumben sekali undangan ini disampaikan oleh Arthur, si Ketua OSIS, secara langsung? Pakai datang ke kelas pula…

Biasanya juga apa-apa Nesia tahu dari sms Senior Alfred.

Tidak menemukan alasan untuk menolak, Nesia berujar dengan santai dan tanpa pikir panjang, "Oke. Baiklah."

Arthur tampak menghela napas, lantas memberi senyum kecil—membuat Nesia tak habis pikir akan kenapa pemuda itu akhir-akhir ini sering tersenyum kepadanya—setidaknya, di hadapannya. Padahal dulu saja… hanya nyinyiran judes yang bisa dibentuk oleh lengkungan bibir itu.

"Tapi bisakah kita mengajak Lovino juga?" ujar Nesia menyadari bahwa Lovino ada bersama mereka. Tidak mungkin ia akan berpesta sedangkan Lovino mendengar semuanya dan tidak diundang, 'kan? Bagi jiwa ketimuran Nesia, itu tidak pantas. Lagipula, ia tidak enak meninggalkan Lovino untuk pulang se—

"Aku akan pulang saja."

Belum sempat Arthur menjawab pertanyaan Nesia, Lovino telah bersuara lebih dahulu. Nada suaranya yang terdengar tertekan seolah ia mengatakan hal yang paling dibencinya, membuat Nesia menoleh dan memastikan akan apakah pemuda itu baik-baik saja.

Pemuda itu menatap Arthur, dan sorot tatapan Lovino tampak seperti ada sesuatu yang membuat pemuda itu tiba-tiba merasa bad mood dan dongkol setengah mati—sangat amat dongkol setengah mati. Melihatnya, Nesia hanya berpikir akan kemungkinan Lovino turut membenci Arthur karena Nesia sadar, selama ia dahulu kesal gara-gara ulah Arthur, ia akan bercerita kepada Lovino. Mungkin saja gara-gara itu…

"Lovi—"

"Aku harus pergi. Ada yang harus kuurus. Well… have fun."

Dan pemuda itu segera melangkah cepat-cepat.

Tidak sebelum, Nesia lihat, bahunya menyenggol keras sebelah bahu Arthur Kirkland yang berdiri di depannya.

Dan Arthur Kirkland hanya mendengus keras, sebelum menatap Nesia dan berujar, "Kita pergi?"

-oOo-

"Padahal belum tahu pengumumannya, kenapa sudah merayakan pesta?" ujar Nesia separuh terheran dan separuh geli, ketika ia berada di dalam mobil Arthur yang tengah melaju menuju ke salah satu restoran yang kata Arthur, akan menjadi tempat bertemunya mereka dengan beberapa teman yang lain.

Iya, Nesia juga tidak menyangka jika mereka akan pergi ke restoran—ia kira perayaan 'kecil-kecilan' itu bertempat di Sekretariat OSIS atau apa. Lebih tidak menyangka lagi jika ternyata ia pergi ke restoran itu dengan mobil Arthur. Lebih tidak menyangka lagi jika Arthur mempersilahkannya untuk duduk di kursi samping kemudi. Dan paling tidak menyangka lagi jika Arthur tidak menggerutu kesal karena Nesia merepotkan atau numpang gratis di mobil mewahnya.

Justru Nesia pikir, pemuda itu tampak cukup diam selama perjalanan ini. Membuat Nesia menjadi merasa begitu canggung karena berpikir apakah keterdiaman Arthur ada hubungannya dengan Nesia yang menumpang gratis di mobilnya?

Uh…

"Ini usul Andrew," jawab Arthur sembari masih tampak fokus memandang ke jalanan, "Kupikir tidak masalah karena katanya, ini semua akan dibayarnya."

Senior Andrew yang pendiam dan hobi memberi pandangan datar itu?

"Dia baik sekali kalau begitu," ujar Nesia sembari tersenyum kecil.

Arthur terdengar mendengus geli, "Mungkin ini sekali seumur hidupnya dia berbuat begini. Orang pragmatis seperti itu…"

"You're the one to talk," sergah Nesia separuh bercanda, "Lagipula, dia menurutku cukup baik untuk merayakan semua ini dengan mengundang kita ke restoran yang katamu, mahal."

Arthur tertawa kecil dan sejenak—Nesia sedikit termangu mendengarnya.

Selama ini yang diketahui dan dilihat Nesia dari pemuda itu, paling bagus juga cuma senyuman. Itupun kalau tidak dipaksakan, juga senyuman miring atau senyum seringai licik.

Baru pertama kali ini ia mendengar mulut itu tertawa, meski kecil dan sejenak. Tetapi cukup membuat Nesia seolah mendapati keajaiban dunia—Arthur yang tertawa sesantai itu adalah hal yang tidak mungkin terjadi bahkan di otak orang gila, menurut Nesia selama ini.

"Percaya padaku, Andrew adalah keturunan seorang konglomerat dengan kekayaan yang berlebihan jika dipakai kedua orang tua, dirinya, dan adiknya saja. Mentraktir seperti ini pasti hanya menghabiskan sebagian kecil dari tabungannya," ujar Arthur.

Nesia hanya menelan ludah. Ia pikir Arthur adalah murid terkaya se-Hetalia High. Ternyata… ada yang lebih dari dia? Jika begini.. rasanya tidak aneh jika Nesia merasa seperti gelandangan di antara kumpulan borjuis.

-oOo-

Tak berapa lama, mereka telah sampai di tempat yang dituju. Setelah keluar dari mobil Arthur, Nesia merapikan syal dengan corak strips merah muda-putih yang meliliat hangat lehernya—maklum, salju masih turun dengan lumayan lebat. Ia tatap bangunan di depannya. Sebuah huruf yang sepertinya merangkai kata-kata dalam bahasa Perancis, yang terdapat di depan bangunan tersebut, membuat Nesia merasa yakin bahwa restoran ini menyajikan mayoritas hidangan Perancis.

Nesia menelan ludah.

Dan pasti mahal…

Melangkah bersebelahan dengan Arthur, akhirnya mereka mencapai bagian dalam restoran dan Nesia seketika langsung dapat mengenali di mana para teman-teman sekolahnya berada. Karena restoran ini pun tidak ada pengunjung lain selain mereka—atau memang karena Senior Andrew telah menyewa restoran ini, siapa tahu. Yang jelas, begitu Nesia melewati pintu masuk, ia sudah tersajikan oleh beberapa murid Hetalia yang membuat restoran itu tampak meriah, ramai, dan cukup… berisik dan kacau.

Senior Gilbert yang berteriak-teriak dengan sebuah gelas berisi minuman berbusa yang Nesia duga, seperti minuman keras. Senior Elizaveta yang terduduk menikmati makanannya. Senior Alfred yang tampak bernyanyi-nyanyi di panggung kecil restoran, dengan Senior Vash Zwingli yang tampak kesulitan melepaskan apitan lengan Senior Alfred di bahunya. Senior Andrew sendiri yang tampak terduduk anteng sembari sesekali menenggak minumannya. Senior Natalia yang duduk diam sembari memberi pandangan menyipit kesal pada Senior Alfred di depan sana. Senior Francis (tentu saja, Frenchman sejati seperti itu pasti akan ada di restoran Perancis ini), Senior Wang Yao, dan Senior yang Nesia ingat sebagai Mathias Kohler (1), tampak ribut dengan lomba makan cepat mereka—entah untuk apa. Dan Senior Bella Van Hardt yang tampak terkikik geli melihat mereka.

Tentu saja, Senior Bella, meskipun bukan anggota OSIS, tetapi cukup dekat dengan beberapa anggota OSIS, seperti Senior Gilbert yang merupakan Kakak dari Senior Ludwig, mantan—mungkin juga, masih, kekasih Senior Bella.

Dan Nesia menghela napas syukur ketika ia mendapati seorang murid kelas 1 di antara kumpulan senior tersebut—Lily Zwingli, yang pastinya, turut serta karena Kakaknya mengajaknya untuk datang ke sini.

"Maaf kami terlambat," ujar Arthur begitu ia sampai di salah satu meja yang dikerubungi teman-temannya. Beberapa teman duduk di beberapa meja lain, dan beberapa lagi nyaman dengan menggaje ria di panggung, seperti Senior Alfred dan Senior Vash.

"Hei, Nes, Arthur!" Senior Gilbert menyapa dengan suara dan wajahnya yang bisa ditebak bahwa ia sudah separuh mabuk berat, "Kalian benar-benar tidak bisa datang tepat waktu untuk hal yang menyenangkan seperti ini. Ga awesome tahu?"

PLAK.

Dan mendarat muluslah tamparan buku menu yang dipegang Senior Elizaveta, di kepala Senior Gilbert yang langsung mengumpat dan meringis kesakitan, "Diamlah! Bagaimana mungkin kau bisa mabuk seperti ini? Jangan harap aku mau mengantarmu pulang!" maki Senior Elizaveta kesal.

Nesia hanya meringis kikuk sembari menggaruk tengkuknya—merasa out of place di antara sekian banyak Senior dan pesta pora begini.

"Ayo, Nes, duduklah—" belum sempat Senior Andrew berucap, Nesia sudah memekik kaget ketika ia merasakan tubuhnya tertarik kuat dan secara tiba-tiba.

Dan tahu-tahu, ia mendapati dirinya berada di pangkuan Senior Francis yang tampaknya, meninggalkan sejenak lomba makan cepatnya.

"Hei, hei, hei. Tidak boleh ada yang berani memberi ucapan selamat dengan merayu Nesia, oke? Harus ijin dahulu padaku," ujar Senior Francis sembari mengeratkan pelukannya—membuat Nesia berusaha setengah mati terlepas dari jeratan pemuda tersebut, "Dia adalah junior terbaik di kluuOW!"

Bersamaan dengan bunyi 'BLETAK' yang cukup keras dan menyakitkan tersebut, Nesia merasa tubuhnya tertarik (lagi! Hhh…) dan membuatnya kembali berdiri. Kali ini, di sebelah Arthur Kirkland yang memegang sebelah lengannya, sembari memaki keras Francis, "Bloody wanker! Bisa-bisanya kau berbuat mesum begitu di tempat ini!"

Dan Francis hanya mengeluh sembari mengumpat dan mengatai Arthur semacam, "Dasar setan scone sialan…" lantas berujar dengan sedikit sensi kepada Arthur, "Aku sudah tidak memeluk Nesia. Kenapa kau masih memegangi lengannya?"

Yang direspon oleh Arthur yang segera melepas pegangannya pada lengan Nesia. Sedangkan gadis itu masih sibuk mengumpat kekurangajaran Senior Francis yang kini telah kembali ke aktivitas sebelumnya—lomba makan cepat.

"D-duduklah," ujar Arthur sembari menunjuk sebuah kursi kosong di sisi lain meja, tepat di sebelah Lily Zwingli yang saat Nesia menatapnya, memberi sebuah senyuman penuh arti kepada Nesia.

"Kenapa kau senyum terus begitu?" bisik Nesia kesal kepada Lily saat ia telah terduduk—merasa tak nyaman akan sahabatnya yang sepertinya mengetahui sebuah fakta dan rahasia yang penting di dunia.

Lily hanya tersenyum, sembari sejenak, melirik pada Arthur Kirkland yang terduduk di seberang sana. Dengan itu saja, Nesia sudah dapat menduga apa yang akan menjadi jawaban atas pertanyaannya.

Duh.

"Kau datang bersama dengan Senior Kirkland dan dia tadi memegang lenganmu," bisik Lily lirih. Sebetulnya tidak perlu berbisik karena sekalipun ia berbicara normal, suasana yang ramai dan ribut di sekitar mereka, pasti akan membuat suaranya sedikit teredam.

"Lantas apa masalahnya?" balas Nesia turut berbisik, "Dia hanya menjemputku dan dia hanya menyelamatkanku dari Senior Francis yang mesum itu!" Nesia melempar pelototan tajam pada Senior Francis yang masih asyik berhaha-hihi dan berteriak-teriak semangat di sela-sela lomba makannya.

"Tidak ada masalah, kok," Lily tersenyum lebar, "Justru bagus. Itu berarti sebuah perkembangan—kalian bertambah dekat," gadis berambut pirang itu menghela napas, lantas melirik ke arah Vash yang masih repot dengan ulah Senior Alfred, di panggung sana, "Meskipun itu berarti kau tidak akan jadi Kakak Iparku, sih, Nes."

Nesia hanya menggeram kesal, "Sudahlah, Lily. Apapun katamu," ujarnya dengan nada mengalah lelah, yang direspon oleh tawa kecil Lily.

Menuang sebuah teko kristal berisi apa yang Nesia duga dan yakini sebagai jus jeruk, ke dalam gelas kosong di mejanya, Nesia merasakan tepukan pelan di pundaknya. Ia menoleh sembari meletakkan kembali teko kristal tersebut, dan pandangannya seketika bertemu dengan sepasang emerald milik Senior Bella.

"Enak sekali menjadi dirimu yang lolos hingga ke final Kompetisi, Nes," ujar Senior Bella sembari tersenyum, lantas mendudukkan diri di kursi kosong sebelah Nesia.

Nesia mengulum senyum kecil, sembari mengalihkan pandang dari kedua mata Senior Bella. Diteguknya minuman yang baru dituangkannya ke gelasnya, "Terimakasih, Senior. Tetapi kita juga belum tahu hasilnya, 'kan?"

Nesa menghela napas.

Setiap berada di dekat atau melihat Senior Bella, rasanya ia tidak bisa bersikap dan bertingkah biasa. Ada saja hal yang mengingatkannya bahwa perempuan itu adalah satu-satunya orang sangat dicintai oleh Antonio. Saat menatap matanya, saat mendengar suaranya, saat melihat senyumnya—semuanya mengingatkan Nesia pada apa yang ia usahakan untuk benar-benar ia lupakan.

"Tetapi aku yakin, Nes, kalian bisa meraih juara pertama," ujar Bella tertawa pelan, "Antonio juga mengatakan hal demikian padaku. Dia sangat percaya padamu—kelompokmu."

Kembali tersenyum kecil, Nesia mengalihkan pandangan ke sekelilingnya. Senior Alfred yang masih berada di panggung, namun kini telah tergabungi oleh Senior Francis dan Senior Mathias yang seolah membentuk grup vokal absurd dan dadakan. Senior Vash yang menyendiri di meja lain yang sepi sembari memijit-mijit keningnya dengan aura frustasi. Senior Gilbert yang sudah meletakkan kepalanya di meja—seperti teler seketika. Senior Andrew yang berbicara sesuatu dengan Senior Elizaveta. Senior Natalia yang tampak sibuk dengan ponselnya, dan Senior Yao yang tampak berteriak-teriak dan memberi applause dan semangat, kepada penampilan absurd grup vokal di panggung itu. Dan Senior Arthur yang tengah menatapnya.

Eh?

Hanya sedetik Nesia mendapatinya, karena di detik berikutnya, pemuda itu tampak mengalihkan pandangan ke arah piringnya dan memotong steak yang ada di sana.

Melihatnya, Nesia jadi berpikir akan apa ada yang aneh dengan wajah atau dirinya hingga diperhatikan demikian? Gadis itu menunduk dan mengamati dirinya. Semua tampak baik dan normal-normal saja, kok…

"Nes?"

"Ah, ya?" merasa malu sendiri ketika Nesia mendapati dirinya tersadarkan oleh Senior Bella yang kembali menepuk pundaknya. Ditatapnya gadis itu dengan sebuah ringisan garing di wajahnya, dimana Senior Bella menatapnya dengan pandangan separuh geli dan terheran.

"Apa yang kau lamunkan?"

Nesia tertawa kikuk, sebelum berbicara, "T-tidak ada. Aku hanya… sedikit memikirkan hasil kompetisi, Senior. Maksudku, aku gugup sekali."

"Tapi kalian sudah berusaha keras, tidak ada waktu untuk merasa gugup atau tidak percaya diri," ujar Bella tersenyum, "Kami semua bangga sekali kita menembus final—hasil akhir nanti tidak masalah."

'Pasti menjadi masalah besar bagi kelompok kami dengan Madame Jeanne,' pikir Nesia lemas ketika mengingat ucapan mewanti-wanti dari Madame Jeanne.

"Lagipula, Broer juga sangat yakin jika kita akan menang."

Nah. Selain karena Antonio, ini pula yang menjadi alasan mengapa Nesia sangat merasa enggan jika berbicara dengan Bella.

"Katanya dia mengirimimu surat ucapan selamat melalui e-mail. Kau sudah terima?" tanya Bella yang direspon oleh ringisan garing dan putus asa, dari Nesia.

"S-sudah, sih. Tetapi aku belum sempat membalasnya—"

"Kau harus membalasnya," potong Bella serius, "Dia benar-benar turut merasa senang dengan kabar ini, lho, Nes."

Tertawa kecil dan terdengar sangat terpaksa, Nesia berujar, "Aku tahu, kok. Hanya saja, e-mail ucapan selamat yang kudapat tidak hanya dari dia, tetapi juga keluarga dan teman-temanku di Indonesia. Jadi…" Nesia memandang Bella sembari menelan ludah, lantas kembali meringis, "Membutuhkan waktu sedikit lama untuk membalas semua surat itu."

Dan Nesia sangat bersyukur ketika ia mendengar suara Senior Andrew, sebelum Senior Bella sempat berbicara kembali dan terus membicarakan Willem dan ujung-ujungnya nanti, pasti akan mengungkit masa lalu Nesia.

"GUYS, SEKARANG KITA HARUS MERAYAKAN DAN MENGUCAPKAN SELAMAT KEPADA ARTHUR, ALFRED, DAN ANNESIA, SERTA HETALIA HIGH, ATAS SELESAINYA FINAL KOMPETISI YANG BARU MEREKA JALANKAN!" Andrew mengangkat satu gelas berisi cairan berwarna merah jernih, ke udara, "Hh… aku harus mengucapkan hal ini dua kali karena sekarang Annesia dan Arthur telah datang," Sebuah senyuman kecil dan sangat samar, tersemat di bibir tipis itu, sebelum ia berteriak lantang sembari makin mengangkat gelasnya, "UNTUK HETALIA HIGH!"

Dan diikuti oleh yang lain, yang meneriakkan kalimat yang sama.

Dan suasana kembali hiruk pikuk—semakin malam, semakin hiruk pikuk hingga Nesia terheran akan mengapa pihak restoran baik-baik saja jika restorannya kini tampak seperti kapal pecah demikian. Ramai. Ribut. Bahkan Senior Francis dan Senior Alfred saling melempar beberapa makanan ke arah satu sama lain. Sudah banyak yang tampak kelelahan, bahkan Senior Gilbert masih pingsan dalam keadaan mabuknya.

Sebelum semuanya berakhir itulah, ia mendapatkan jawaban atas pertanyaannya dari Senior Elizaveta yang mengatakan bahwa, "Ini adalah salah satu restoran yang dimiliki oleh keluarga Bonnefoy, tentu saja itulah yang menjadi alasan mereka semua tidak malu-malu untuk bertingkah bar-bar demikian."

Oh.

Seharusnya Nesia bisa menduganya dari awal.

Malam itu, Nesia sampai pada apartemennya pada pukul sepuluh tiga puluh tujuh malam, berkat jasa Senior Andrew yang mengantarnya ke apartemen, dengan mobilnya. Itu dikarenakan Senior Arthur yang memintanya, dikarenakan Arthur harus mengantar dan menyeret Alfred yang separuh pingsan karena mabuk plus kelelahan, ke mansion Alfred.

Barulah sekarang Nesia berpikir akan mengapa Arthur cukup peduli padanya—cukup peduli dengan bagaimana cara Nesia pulang.

Dan Nesia menghela napas lega ketika mobil Andrew berhenti di depan gerbang apartemennya. Ia merasa begitu bersyukur telah terbebas dari suasana dan kondisi mencekam akibat Senior Andrew yang irit banget dalam merespon pembicaraan—mungkin karena sifatnya memang begitu atau karena merasa sangat lelah (terlihat dari beberapa kali pemuda itu tampak menahan uap kantuk).

Setelah mengucapkan terimakasih dan sampai jumpa, Nesia melangkah. Ketika ia sampai di kamarnya, gadis itu segera menghempaskan diri ke ranjang tanpa repot-repot dahulu melepas mantel, syal, atau seragamnya. Ia tersenyum kecil sembari menatap langit-langit dengan pandangan lelah.

Benar kata orang yang mengatakan bahwa masa SMA adalah masa remaja yang paling indah.

Dan siapa sangka jika di AS, di Hetalia High, di Carolina Utara, inilah ia merasakan masa-masa tersebut.

-oOo-

Hari penentuan itupun tiba—dengan begitu terasa cepatnya.

Membuka mata di pagi hari, hal pertama yang langsung dituju oleh pandangan mata Nesia adalah kalender di meja samping tempat tidurnya. Terutama pada angka yang terlingkari oleh garis merah.

Hari ini adalah hari pengumuman kompetisi. Dan mendapatkan kesadaran tersebut, Nesia seketika merasa dirinya disebu oleh berbagai macam perasaan—antusias, penasaran, dan yang paling utama: gugup dan takut.

Bagaimana jika mereka tidak juara? Bagaimana jika semuanya kacau? Lebih buruknya, bagaimana jika sebab kegagalan Hetalia High adalah ternyata karena kesalahan apapun yang mungkin diperbuatnya?

Uh. Ia bisa membayangkan pelototan Madame Jeanne dan makian Senior Arthur, saat itu juga.

Rasanya ia enggan sekali untuk beranjak dari ranjang dan memulai semua aktivitas rutinnya—terutama berangkat ke sekolah.

Maria dan Chau menyambutnya di ruang makan dengan senyuman lebar mereka, mengucapkan selamat pagi dan kalimat bahwa 'kami yakin, Hetalia High pasti menjadi juara, Nes' dengan ekspresi senangnya. Yang mana semua itu direspon oleh senyuman tipis bin kikuk dari 'adik bungsu' apartemen mereka. Tidak hanya Maria dan Chau, tetapi juga Lovino dan Antonio, yang pagi itu berangkat ke sekolah bersamanya, juga mengeluarkan kalimat-kalimat optimis bahwa Hetalia High tidak mungkin kalah. Bahkan Antonio sampai bilang dengan begitu yakin bahwa, "Hetalia High pasti juara pertama, Nes. Aku yakin! Gini deh, jika Hetalia High tidak juara pertama, maka kau akan kugendong saat pulang sekolah nanti, dari sekolah hingga apartemenmu!" yang diakhiri oleh tawa riang dan optimisnya.

Sedangkan Nesia yang merespon kalimat itu dengan senyum kikuk dengan wajah sedikit merona, maka Lovino meresponnya dengan dengusan dan sebuah kalimat, "Dasar orang idiot."

"Aww.. ayolah, Lovi~" Antonio langsung merangkul erat bahu Lovino dan berkata riang, "Kau setuju denganku, 'kan? Kau juga percaya bahwa Nesia menang, 'kan?"

Dan Antonio harus meringis kesakitan ketika Lovino menyikut perutnya dengan sedikit keras, demi melepaskan diri dari rangkulan erat Antonio.

Nesia hanya menatap pasrah pada semua itu—semua kalimat dan ekspresi optimis yang diberikan oleh teman-temannya. Padahal sungguh, ia merasa bahwa semua tidak akan berakhir seindah yang mereka harap dan bayangkan.

Perasaannya mengatakan bahwa semua tidak akan berakhir dengan begitu dan terlalu sempurna dan mulus, seperti kebanyakan cerita di novel atau film.

Sepanjang periode-periode awal pelajaran di Hetalia High, Nesia sama sekali tidak bisa menyingkirkan pemikiran dan perasaan gugup itu. Ia tidak bisa berkonsentrasi menerima pelajaran—beberapa kali ia kena damprat guru dikarenakan terlalu berada di pemikirannya sendiri. Beberapa kali ia berpikir, apakah yang dirasakan Senior Alfred dan Senior Arthur juga sama? Gugup seperti dirinya? Takut? Tidak percaya diri? Karena sampai sekarang, ia belum mendapat kabar apa-apa baik dari Madame Jeanne atau dari kedua mantan partner kompetisinya. Apalagi saat Nesia teringat akan semua ucapan Senior Alfred bahwa kompetisi ini adalah cita-citanya—ia begitu ingin lolos dalam kompetisi yang tahun lalu gagal diikutinya.

"Aku sangat ingin mengikuti kompetisi ini. Tahun lalu aku mengikutinya, tetapi gagal. Dan kuharap, aku sangat berharap, tahun ini keinginanku tersebut tercapai."

"Oleh sebab itu, mohon kerjasamanya untuk satu tahun ke depan, oke?"

"Alfred Jones, akhirnya, bisa lolos seleksi internal kompetisi debat! What an Hero…"

"Aku hanya ingin kalian berdamai. Lihat, aku tahu bahwa kau sebenarnya baik, tidak seperti ucapan Arthur. Dan bagaimana jika Arthur sebenarnya juga baik, tidak seperti apa yang kau pikirkan tentang dia selama ini?"

"Aku ingin tim kita mampu kerjasama dengan baik. Aku lelah melihat kalian bertengkar dan saling memaki. Kumohon, bisakah kau berusaha untuk memperbaiki hubunganmu dengannya? Ku. Mo. Hon."

Kalau dipikir-pikir, sejujurnya, mereka bisa melangkah sejauh ini berkat usaha keras dan niat kuat dari Senior Alfred. Nesia masih ingat betapa pemuda itu bahagia seolah menang judi milyaran di Las Vegas, saat mengetahui bahwa mereka lolos babak kualifikasi internal, dahulu. Betapa pemuda itu senantiasa tersenyum dan semangat tiap membicarakan mengenai kompetisi, bahkan saat berdiskusi. Ia selalu tampak bersungguh-sungguh dan tidak main-main. Memang, Arthur dan Nesia juga bahagia saat mengetahui mereka lolos dan mereka juga ingin menang dalam kompetisi ini, tetapi sifat bagaikan kucing dan anjing dari mereka, membuat niat dan kebahagiaan mereka menjadi inferior dibandingkan dengan kebahagiaan dan niat dari Senior Alfred.

Bahkan sudah berapa kali Alfred melakukan segala cara untuk mendamaikan partner kompetisinya?

Membayangkan semua itu, rasanya Nesia sungguh berharap bahwa mereka bisa memperoleh hasil yang terbaik. Ia ingin mereka juara—ia ingin Hetalia High mampu meraih puncak dalam kompetisi prestisius tersebut. Tidak hanya itu akan membuatnya bangga terhadap diri sendiri, dan juga teman-teman dan keluarganya akan bangga padanya. Tetapi yang lebih utama adalah, ia ingin agar Senior Alfred mampu mencapai cita-cita dan harapannya.

Ia ingin agar apa yang diusahakan begitu keras oleh Alfred, tidak sia-sia.

Karena jujur saja, Senior Alfred merupakan senior yang begitu baik dan peduli padanya—sekalipun terkadang bersikap dan berucap hal konyol yang kerap membuat Senior Arthur marah.

Dan ia nyaris berpikir bahwa pengumuman mungkin telah diundur dan tidak jadi diberikan hari ini, ketika hingga bel pulang sekolah berbunyi dan ia sudah menginjakkan kaki keluar gerbang bersama Antonio dan Lovino, Nesia belum mendapatkan kabar apapun dari siapapun.

Dan ia masih terlalu sangsi pada dirinya sendiri, untuk memberanikan diri menghubungi Arthur atau Alfred atau lebih buruk lagi, Madame Jeanne, terlebih dahulu.

"Hari belum berakhir. Mungkin pengumumannya baru keluar nanti malam."

Mungkin ekspresi khawatir cukup tergambar jelas dari wajah Nesia, hingga gadis itu mendengar Lovino berucap dengan nada prihatin itu, padanya.

"Lovi benar, Nes. Kau harus tetap optimis, oke? Belum apa-apa kau sudah memasang wajah sedih begitu," sambung Antonio yang berjalan di sisi lain Nesia. Pemuda itu bilang bahwa sore ini ia ingin pulang bersama dengan kedua sahabatnya tersebut, mumpung Senior Bella juga katanya tengah ada urusan yang cukup lama, dengan Klub Musik.

Terkadang Nesia berpikir bahwa Antonio dan Bella sudah benar-benar dekat dan tampak seperti sepasang kekasih sungguhan. Entah apa yang membuat mereka tidak segera meresmikan hubungan mereka dan tetap berada di area tidak jelas seperti ini.

Setidaknya, dengan mereka resmi berpacaran, maka mungkin saja Nesia bisa semakin mudah dalam menerima kenyataan dan berhenti berharap—tak peduli seberapa pupus sudah harapan itu sekarang.

Berdeham lirih dan merapikan syal yang dipakainya, Nesia berujar sembari menatap tanah yang ditapaki kakinya, "Ini… ini adalah kompetisi terbesar yang pernah kuikuti. Perjuangan kami cukup lama dan berat. Aku jadi…," ia mengeluarkan sebuah tawa kikuk dan gugup, sembari menggaruk tengkuknya lirih, "Agak tidak bisa bersikap biasa."

"Tenang saja, Nes. Kelompokmu sudah melaju hingga ke final, itu sudah menjadi sebuah kebanggan besar bagi kami, Hetalia High," ucap Lovino menatap Nesia dengan sungguh-sungguh, "Apapun hasil final, itu tidak akan berpengaruh banyak pada kebanggaan kita bahwa kau dan partner-mu, telah membawa nama sekolah kita di final."

"Hei, Lovi," sela Antonio dengan nada dan ekspresi sedikit tidak suka, "Sekalipun ucapanmu itu benar, tetapi itu terdengar sangat pesimis, kau tahu?"

"Apa yang kau—" sergah Lovino gusar, tetapi ucapannya terlanjur terpotong oleh Antonio yang berkata dengan riang kepada Nesia.

"Nes, tenang saja. Biasanya intuisiku tidak pernah mengelabuiku. Dan intuisiku sekarang mengatakan bahwa Hetalia High akan menjadi juara!" dan Antonio tertawa kecil sembari mengacak-acak puncak kepala Nesia, membuat gadis itu semakin menyembunyikan sebagian wajahnya di balik syal tenunnya.

Di satu sisi ia ingin agar Antonio berhenti melakukan semua ini dan membuat jantungnya berdetak lebih keras, tetapi di sisi lain ia menikmati perlakuannya dan rasa hangat di wajahnya ketika merasakan telapak itu menyentuh puncak kepal—

PLAK

—anya…

Sebelum telapak tangan itu tertampik dengan keras oleh telapak tangan Lovino sehingga menjauhkannya dari kepala Nesia.

Lovino hanya menatap Antonio garang dimana objek tatapan itu sendiri hanya tertawa kecil dengan pandangan tidak mengerti, bercampur dengan ringisan sakit yang keluar dari mulutnya.

"Intuisi bullshit, Bastardo," maki Lovino, "Kenapa kau tidak menggunakan intuisimu itu untuk menjadi tidak lebih idiot dari sekarang?"

Nesia sudah membuka mulutnya untuk menyela, namun ucapannya terhenti ketika merasakan getaran di saku mantel biru mudanya. Telapak tangannya yang terbungkus sarung tangan, mengeluarkan ponsel—sumber getaran halus itu—dari dalam sana.

Dan ketika melihat nama Senior Alfred di layar ponselnya, semua kegugupan yang dirasakan Nesia seolah menjadi makin menggila.

"Halo?" ia usahakan nada suaranya tidak terdengar begitu gugup. Ia menatap ke arah Lovino dan Antonio, di mana kedua temannya tersebut tampak berhenti di tengah pertengkaran mereka, dan kini memberi perhatian kepadanya.

"Annesia! Oh Annesia! Apa kabar, adik kelasku~~" Nesia sedikit mengernyit ketika mendapat teriakan tersebut, dan sedikit menjauhkan ponselnya dari telinganya.

Ada apa dengan Senior Alfred yang tiba-tiba menelponnya dan menanyakan kabar padanya? Padahal baru juga tadi pagi mereka bertemu di kantin kompleks gedung A.

"Baik, Senior," ujar Nesia tanpa menyembunyikan keheranan dari suaranya, "Ada apa?"

Dan apa yang dikatakan Senior Alfred beberapa saat kemudian, membuat Nesia tanpa sadar mengeratkan genggamannya di ponselnya, sembari menelan ludah, "Nes, baru saja aku dari kantor guru karena Madame Jeanne menelponku. Dan katanya, pengumuman hasil final sudah keluar—Beliau baru saja mendapat surat resmi dari panitia kompetisi."

"Oh, ya?" sedikit terbata Nesia saat menanyakan hal itu. Meski tak melihat, namun gadis itu yakin bahwa Senior Alfred mengangguk demi merespon pertanyaan retorisnya.

"Beliau menyampaikan ini padaku untuk menyampaikan berita ini pada Arthur dan dirimu—sebentar lagi akan akan menemui Arthur. Dan rencananya, kita akan kembali ke Florida demi menerima penghargaan dan sebagainya."

"Penghargaan?" tanya Nesia ragu, "M-maksud Senior, kita juara pertama?"

Ya Tuhan, rasanya Nesia tidak pernah mengalami saat-saat mendebarkan dan dramatis layaknya sinetron begini, seumur hidupnya. Ia ingin agar Alfred segera berujar dan menjawab kalimatnya dan mengakhiri penderitaan batinnya yang tersiksa karena penasaran dan gugup ini.

Dan ia harap… apa yang akan ia dengar tidaklah mengecewakan.

"Hm, kita meraih juara," ucap Alfred. Sebenarnya itu adalah kabar bagus, jawaban yang positif. Karena mereka meraih juara di suatu kompetisi yang prestisius.

Tetapi entah mengapa nada suara Senior Alfred terdengar sedikit melirih dan kehilangan sedikit dari intensitas keceriaannya.

Apakah—

"Kita meraih juara dua, Nes. Juara pertama diraih oleh perwakilan dari Texas."

Sekarang semua telah jelas.

Mereka tidak menjadi juara pertama. Hanya menempati posisi kedua. Dan dari nada suara Alfred, Nesia ragu jika pemuda itu tengah becanda padanya—untuk apa?

Sedikit merasa sedih Nesia mendengarnya. Bagaimanapun, seperti yang lain, ia ingin memperoleh yang terbaik. Ia ingin Hetalia High berada di posisi pertama dalam kompetisi prestisius kali ini. Perjuangan mereka… harapan mereka…

Apakah semua ini karena kesalahannya? Mungkin waktu final ia terlalu gugup? Mungkin ada argumen yang tak mampu ia bantah? Mungkin ada pernyataannya yang keliru? Apakah semua ini gara-gara Nesia?

"Nes? Kau tak apa?"

"T-tidak apa-apa, Senior," Nesia menghela napas dalam-dalam sembari mencoba menenangkan batinnya dengan berpikir bahwa mereka cukup beruntung menjadi juara kedua, setidaknya tidak juara ketiga atau lebih buruk lagi, juara keempat.

Tetapi tetap saja…

Setelah berbincang sebentar mengenai persiapan perayaan dengan beberapa perwakilan guru dan rencana ke Florida, akhirnya percakapan via ponsel tersebut terakhiri. Nesia kembali memasukkan ponselnya dalam mantel biru mudanya, lantas menatap Antonio dan Lovino yang ternyata, memberikan pandangan heran dan penasaran kepadanya.

"…Kutebak, pengumumannya sudah keluar?" pertanyaan Lovino terdengar ragu, namun di saat yang sama juga yakin akan tebakannya.

"Itu tadi dari Senior Alfred, Nes?" kalimat ini terucapkan oleh Antonio.

Nesia mengangguk—menjawab baik pertanyaan dari Lovino dan dari Antonio, "Ya, pengumumannya sudah keluar, dan ya, itu tadi dari Senior Alfred."

Lovino tampak memandang Nesia dengan pandangan seperti memikirkan sesuatu. Gadis itu tampak menatap ke suatu arah, tetapi pemuda itu yakin bahwa apapun yang tengah ditatap Nesia, hal itu bukanlah yang tengah berada di pikiran gadis tersebut.

"… Dan hasilnya?" tanya Lovino.

Nesia menelan ludah, sebelum tersenyum kecil dan sedikit kaku. Sedikit berat juga menjawab pertanyaan tersebut—betapa ia merasa malu karena gagal membawa Hetalia High pada juara pertama kompetisi tersebut.

Gagal membawa kebanggaan terbesar bagi teman-temannya, keluarganya, guru, dan juga dirinya sendiri.

"Runner-up."

Sejenak hanya kesunyian yang tercipta. Nesia menunduk, semakin mneyembunyikan sebagian wajahnya di balik syal putih yang melilit hangat lehernya. Entah apa yang dipikirkan oleh Antonio dan Lovino—entah bagaimana ekspresi mereka.

Posisi runner-up terasa seperti pecundang—selain menjadi nomor satu, nomor lainnya adalah nomor bagi para pecundang, seingatnya itulah ucapan Senior Arthur dahulu ketika mereka bertekad untuk meraih juara pertama. Dan kini… kini ternyata mereka berada di posisi pecundang. Runner-up. Padahal di semua klasifikasi, mereka berhasil meraih juar apertama—hingga mereka sampai pada final.

Dan kini—

GREP.

"Selamat. Aku bangga menjadi seseorang yang deka—temanmu, Annesia Saraswati."

Bisikan dari Lovino tersebut membawa kehangatan bagi sebelah telinga Nesia, ketika napas pemuda itu menerpa di bagian tubuhnya tersebut. Dan kehangatan napas Lovino di telinganya, tidak sebanding dengan kehangatan yang didapatkan sekujur tubuhnya akibat pelukan dari pemuda yang sama.

Erat, dengan kedua lengan kuat tersebut yang melingkari tubuhnya.

"Aku bangga sekali menjadi temanmu. Selamat," kalimat tersebut terucapkan lagi, kali ini setelah Nesia merasa Lovino semakin mengeratkan pelukannya.

"Lovi—" Nesia sedikit mendorong tubuh Lovino, dan pemuda itu melonggarkan pelukannya dan menatap Nesia.

Sebuah senyuman kecil tampak di bibir yang biasa merengut tersebut. Dan belum sempat Lovino atau Nesia mengucapkan apapun, cetusan riang Antonio terdengar.

"Dios Mio, Nesia! Juara kedua!" dan Antonio membalik paksa tubuh Nesia—otomatis melepaskan pelukan Lovino di tubuh gadis itu. Ditatapnya Nesia dengan tatapan antusias dan sungguh-sungguh, "Juara kedua? Benarkah, Nes?"

"I-iya," sedikit kikuk juga Nesia mendapati kedua lengan Antonio yang memegang erat kedua bahunya. Belum lagi dengan jarak antara wajah mereka yang dekat…

"Hahaha! Selamat! Selamat! Selamat!" Antonio sedikit mengguncang-guncang bahu Nesia, "Kau—kelompokmu hebat sekali, Nes! Juara dua di kompetisi nasional seperti itu—Keren sekali, tahu?!"

Sebuah senyum miring tampak di bibir Nesia, "Kau tidak merasa kecewa karena kita hanya meraih juara dua?"

"Kecewa? Demi Tuhan hanya orang bodoh dan tidak tahu diri yang merasa kecewa dengan semua ini," kali ini Lovino yang menjawab.

"Lovi benar, Nes," senyum Antonio semakin melebar, "Hetalia High menjadi peringkat dua dari seluruh SMA di AS yang mengikuti kompetisi ini. S-E-L-U-R-U-H, Nes!"

Perlahan-lahan, sebuah senyuman kecil tampak di bibir Nesia.

Benar. Mereka juara dua. Nomor dua, dari puluhan—ratusan SMA di AS yang mengikuti kompetisi ini. Mereka runner-up dalam kompetisi yang mana nyaris seluruh SMA lainnya, gagal bahkan untuk meraih posisi mereka sekarang.

Mungkin mereka tidak menjadi juara pertama—semua perjuangan kelompoknya tidak berakhir seindah dan seklise cerita-cerita di novel atau film. Mungkin ia belum mampu membuat kebanggaan lebih bagi keluarga dan sekolahnya. Mungkin cita-cita Senior Alfred untuk meraih juara pertama dalam kompetisi ini, tidak akan pernah terwujud—sebentar lagi Alfred akan menjadi siswa tingkat akhir dan kesempatannya untuk kembali mengikuti kompetisi, semakin kecil ketika dihadapkan dengan ujian akhir.

Tetapi yang jelas, mereka telah membuat langkah yang cukup baik di tahun ini. Mungkin tahun depan, murid Hetalia High yang lain akan menjadi perwakilan Hetalia High untuk meneruskan perjuangan kelompoknya. Mungkin semua ini, bisa menjadi pemacu semangat dan target Hetalia High di kompetisi berikutnya—yakni meraih juara pertama.

Lamunan Nesia berakhir ketika pandangannya mendapati bahwa Antonio, tiba-tiba membelakanginya, lantas berjongkok di depannya.

Baik Nesia ataupun Lovino, hanya memberi pandangan heran dan tidak mengerti akan apa yang tengah dilakukan sahabat mereka.

Masih berjongkok, Antonio menoleh ke belakang dan tersenyum lebar ke arah Nesia, "Sebagai perayaan, aku akan mentraktirmu sampai kau puas, di restoran manapun yang kau pilih. Tetapi sebelum itu…," sebelah tangan Antonio menepuk-nepuk punggungnya, "Aku harus memenuhi janjiku dahulu—yakni menggendongmu hingga sampai di apartemenmu."

"Hetalia High pasti juara pertama, Nes. Aku yakin! Gini deh, jika Hetalia High tidak juara pertama, maka kau akan kugendong saat pulang sekolah nanti, dari sekolah hingga apartemenmu!"

Ingatan itu kembali berputar di otak Nesia.

Dan kini, Nesia merasakan wajahnya tiba-tiba memanas—hangat di sore musim dingin yang beku. Menatap punggung lebar itu… menatap lengan kuat itu…

Dan terlebih, menatap dua emerald itu…

Antonio akan menggendongnya?

"Apa-apaan kau, Bastardo?" bentak Lovino keras dan kasar. Ditariknya paksa Antonio untuk berdiri, namun pemuda itu menolak keras untuk bangkit, "Kau bersikap memalukan seperti ini—kau pikir Nesia tidak bisa jalan sendiri, apa?!"

"Dia bisa, tetapi aku harus menepati janjiku, Lovino," ujar Antonio menjelaskan, "Aku seorang laki-laki, dan aku tidak boleh mengingkari janji yang kubuat sendiri."

"Tapi kau—"

"Nes, ayo. Naik sini," Antonio tidak mengacuhkan Lovino, justru kembali menengok ke belakang—ke arah Nesia, sembari kembali menepuk-nepuk kecil punggungnya.

Sedangkan Nesia saat itu merasa bahwa jantungnya bisa berhenti berdetak jika organ itu berdetak kelewat keras seperti sekarang. Ia heran mengapa organ tersebut tidak keluar dari rusuknya dengan detaknya yang demikian menggila.

Dan rasanya ia tidak heran jika dua pemuda di depannya mendengar detak jantungnya—atau mendengar derasnya desir darahnya.

Pada akhirnya, ia melakukannya.

Antonio yang menggendongnya. Ia yang menenggelamkan wajahnya di balik bahu itu—menghindari dunia untuk mampu melihat betapa merona wajah tersebut. Dan Lovino yang berjalan terdiam dengan menatap tajam ke arah depan, sembari sesekali mengumpat dan memaki pemuda yang berjalan di sampingnya. Salju turun perlahan di sekitar mereka—bagaikan butiran kecil kapas putih yang terombang-ambingkan oleh angin. Uap napas terhembus dari mulut dan hidung mereka. Dunia sekitar mereka tertutupi oleh kosong dan datarnya warna putih yang menyelimutinya.

Nesia tidak tahu apa saja yang diributkan oleh Antonio dan Lovino sepanjang perjalanan. Gadis itu bahkan hanya menjawab singkat dengan gelengan atau anggukan kepalanya jika ada yang bertanya. Ia tidak mengerti apapun. Tidak merasakan apapun. Hawa dingin di sore hari dengan salju yang turun di sekitar mereka.

Yang ia tahu adalah bahwa ia akan menyimpan baik-baik semua memori ini.

Hangatnya punggung lebar itu. Betapa nyamannya ia menyandarkan kepalanya di bahu itu. Betapa kuat kedua lengan itu menyangga tubuhnya. Betapa erat kedua tangannya melingkari leher itu. Betapa kuat aroma kayu manis, yang menguar dari tubuh yang dipeluknya erat tersebut.

Dan betapa, sungguh betapa ia berandai-andai jika waktu berhenti selamanya di saat itu.

Tak ada Lovino. Tak ada Hetalia High. Tak ada Maria dan Chau. Tak ada siapapun… dan tak ada Senior Bella.

Betapa Nesia berharap bahwa ia mampu membohongi dirinya sendiri bahwa punggung itu tercipta untuk menjadi sandaran tubuhnya. Leher itu tercipta untuk tempat lengannya memeluk. Bahu itu tercipta untuk menyembunyikan wajahnya ketika ia merasa begitu malu.

Dan berharap bahwa jantung itu tercipta dan berdetak hanya untuk dirinya.

-oOo-

Next Chapter

"Aku ingin melanjutkan pendidikanku di Inggris… Sudah keinginanku sejak lama untuk bersekolah di sana. Aku sama sekali tidak tertarik untuk melanjutkan kuliah di AS."

.

"M-maksudku, ini 'kan aku yang traktir. Aku hanya tidak mau kau memaki dan mengataiku karena mentraktirmu makanan murahan."

.

"Berapa kali aku pernah mengkritik table-manner mu? Sekalipun kau lapar, seorang gadis sepertimu tidak pantas makan seperti babi begini."

.

"Maksudku, apakah kau sudah punya pasangan untuk kau ajak nanti?"

"H-hehe… Y-yeah… aku belum memikirkannya—"

"A-aku juga belum. M-maksudku, mungkin kita bisa… pergi bersama?"

-oOo-


The bacot corner

Eaaa… Arthur lagi mengalami banyak hujatan nih yeee /sodok muka songong Arthur/ Dan sebaliknya, Lovino menuai banyak simpati dan teriakan fansgirling /lempar confetti ke Lovino/

Di sini SpaiNes ada lagi, meski juga masih one-sided :p Don't hate Oyabun, please. It's not his fault :') Saya juga sedikit sempilin PruHun, juga ada IceLiech (meski Cuma di deskrip, hoho). Yah, saya suka deskripsiin Norwe yang kayak anak juragan minyak di sini D:


Pojok review. Monggo~

Saya ngerti perasaan Lovino ke Feliciano/ Sorry to hear that :'( Hix hix /nangis ala anak alay/ /Perasaan yang mau gendong Nesia itu Antonio, ya?/ Kok tauuu? Karena kamu udah ngegendong hati akuuu yaaaa? /reader: najis!/ /Alasan Arthur konyol dan absurd banget/ :D /Saya akhir-akhir ini speechless, makanya ga review/ Bilang apa aja, Qaqaaaa. Tanya kabarku doang juga gug puw puw… :') /Ada beberapa typos/ Itu kelemahan saya di hidup ini, selain kamu /sigh/ /Lama sekali update-nya/ 1 Minggu sekali itu udah rekor lho D': /Nesia udah move on dari Antonio, ya?/ Hm… interpretasi sendiri aja, eaw /Jangan pernah hiatus/ Siap, Komandan! /Tau shingeki no kyojin?/ Memang kenapa, yawch? :D /Saya jadi makin benci Bella/ Noooo! /teriak ala-ala sinet/ /Vash mana nih?/ Ha? Di hati kamu. Masak ga nyadar? /jduesh!/ /PruHun?/ Ini udah. Monggo~ /Nesia masih ngeharap segitunya ama Antonio/ :x /Yang penting usaha, yah, Arthur yah?/ "Jika aku tak bisa memilikimu, Nesia, maka orang lain juga tidak! Huahaha!" (Arthur, 2013) /Update tiga kali sehari aja/ Emaaakkkk! /Ijin fave/ Boleh beudhtz! / review harusnya tulisannya=fangirls, curcol disini yak/ Wakakak, andaikan bisa saya edit itu tulisannya XD But, really, fansgirlings are perfectly fine with me :D /Romano dan saya lebih kece darimu/ Paan. Kata ibu saya, saya anak paling kece sedunia kok /Absurdities berapa chapter lagi?/ Paling lama… 15 chapter? :D /huk!//All is fair in love and war XD And love war have so many cunning tricks/ MANTAAAPPPHHH JAYAAAA! JADIIN QUOTE AH!


Jika faktor-faktor lain tetap dan sama, banyak dan cepatnya review kalian berbanding lurus dengan kecepatan update saya (Storm, 2013).

Makanya, yang jarang atau belum pernah review, review ya, Qaqaa /Alfredeyes(?)/


Thank you so much.

Fiva La FHI

Salam Yeyeye Lalalala (?)

DIS