:D /masang senyum lebar kayak orang idiot/ Sorry bray, saya lama banget update-nya, ya? Nyaris sebulan. Tapi saya punya alasan sendiri, yakni kesibukan di salah satu kegiatan perkuliahan saya yang bener-bener ga bisa saya tinggal. But no worries, ini update-an Absurdities buat kalian semua :D
Tidak seperti yang Annesia Saraswati duga dan bayangkan, kabar bahwa Hetalia High meraih juara kedua dalam kompetisi debat nasional se-SMA Amerika Serikat, disambut dengan jauh lebih gembira daripada kabar bahwa mereka telah lolos ke kualifikasi final.
Tepat keesokan harinya setelah sore itu pengumuman hasil final dikeluarkan, Nesia mendapati bahwa saat ia sampai gerbang, ia telah melihat sebuah baliho besar terpampang di gedung utama kompleks A yang bertuliskan kalimat "SELAMAT KEPADA HETALIA HIGH: RUNNER-UP DALAM KOMPETISI DEBAT NASIONAL SE-SMA AMERIKA SERIKAT". Beberapa karangan bunga terdapat di area lobi, beserta dengan X-Banner yang bertuliskan ucapan yang sama. Dan ketika Nesia sampai di kelas, beberapa teman sekelasnya seketika menyambutnya dan mengucapkan selamat kepadanya. Menanyakan bagaimana perasaannya, apa yang akan dilakukannya bersama dengan kelompoknya, bagaimana caranya mereka bisa menang, kapan kompetisi selanjutnya diadakan, dan berbagai pertanyaan memberondong Nesia saat ia terduduk di bangkunya, dikelilingi oleh beberapa temannya.
Saat ia ke klub Radio juga, ia datang disambut dengan tebaran confetti di udara di sekelilingnya, dan tiupan terompet dari Senior Tiino. Mei Lian, Senior Francis, Senior Tiino, dan beberapa teman se-klubnya, datang saat ia ke ruang H-Radio saat periode istirahat. Bahkan Senior Francis telah mempersiapkan perayaan kecil-kecilan saat itu, yakni dengan menyiapkan beberapa makanan delivery dan memutar musik untuk membuat suasana makin meriah. Begitu asyiknya mereka dengan perayaan kecil-kecilan itu, sehingga mereka terpaksa dan tidak sadar, telah melewatkan satu periode pelajaran pasca istirahat.
Maria dan Chau tentu saja juga termasuk dalam mereka yang merayakan kabar baik tersebut. Bahkan pada saat kemarin—saat Nesia baru mendapat kabar dari Senior Alred dan gadis itu sampai di apartemennya. Malamnya, Maria langsung memasak makan malam spesial untuk mereka untuk merayakannya. Bahkan Lovino Vargas dan Antonio Carriedo mereka undang untuk datang dan turut merayakan semua hal tersebut bersama-sama, hingga pukul sebelas malam, setelah mereka merasa lelah dan memutuskan untuk mengakhiri semuanya.
Dan Nesia telah menghubungi keluarga di Indonesia via video-call dengan laptop-nya. Rasa rindu untuk melihat wajah Ayah, Ibu, dan adiknya, di layar laptopnya, tidak sebanding dengan melihat ekspresi senang dan bangga dari mereka ketika mendengar kabar tersebut darinya. Belum lagi dengan semua kalimat yang menunjukkan perasaan yang sama: bangga. Apalagi beasiswa yang didapat, membuat Nesia merasa dirinya untuk pertama kalinya, berguna juga bagi finansial kedua orang tuanya. Dan Nesia tertawa kecil ketika adiknya berkata bahwa saat ia SMA nanti, ia akan mendaftar di Hetalia High dan turut meneruskan langkahnya—membawa Hetalia High pada juara pertama.
Mengingat semua itu, Nesia merasa bahwa semua berjalan seperti mimpi.
Terasa begitu lama saat ia berada di dalamnya, namun saat ia terbangun, ia sadar bahwa semua terasa begitu cepat.
Terlalu cepat untuk berakhir saat itu juga.
Axis Power Hetalia © Hidekaz Himaruya
Picture © Sakurazaka Ohime
I just own the plot of the story and I don't gain any commercial advantages by publishing this fic.
Warning: AU, Human Name, High School, OC, OoC yang mendewa, (highly possible) crack pairs, (a lil') Nesia-centric, but no Mary Sue/Gary Stu I assure you :D totally absurd.
Pairing: Anda bisa menebak sendiri mana yang main pairing, dan mana yang sekedar hints dan fans service :p
Ini murni dari pemikiran saya. Maaf jika kebetulan ada kesamaan ide karena setting gakuen sangat banyak di FHI. Itu tidak disengaja :D
Long Live FHI and Say NO to Plagiarism! Mari berkarya dengan hati dan imajinasi :D
Maju FHI!
Happy reading :D
Perayaan dengan pihak sekolah dilakukan dua hari kemudian, dengan datang ke makan malam di villa Kepala Sekolah, yang dihadiri oleh beberapa guru (termasuk Madame Jeanne), kelompok Nesia, beberapa teman OSIS dan klub Koran dan Majalah Sekolah, serta tak ketinggalan, mantan perwakilan Hetalia High yang lain, yakni kelompok Senior Herdevary. Berbagai hidangan lezat disiapkan, dimana Senior Alfred segera menyantapnya tanpa sungkan—dan mendapat teguran keras dari Senior Arthur Kirkland yang (lagi-lagi) mengkritik table-mannernya.
Melihat Senior Alfred yang tampak begitu bahagia, riang, lengkap dengan sifat happy-go-lucky miliknya yang biasa, membuat Nesia merasakan beban moral yang ia tanggung, sedikit berkurang. Jujur, ia merasa lega ketika melihat Alfred tampak begitu bahagia dan puas dengan semua ini—dengan hasil final.
Ia ikut merasa senang ketika menyadari, mungkin, Senior Alfred mampu meraih salah satu keinginan dan cita-cita terbesarnya, saat ia di SMA.
Sehari sebelumnya, sesuai dengan keperluan dan aturan, mereka datang kembali ke Florida demi menerima penghargaan resmi dari Perwakilan Menteri Pendidikan AS. Sambutan dari Kementerian Pendidikan, Gubernur Florida sebagai host state, serta sambutan dari guru pembimbing dan perwakilan kelompok dari tiap pemenang, dilakukan (dimana Hetalia High diwakili oleh Madame Jeanne dan Arthur Kirkland). Beberapa perwakilan media massa terdapat di sana pula—siap menjadikan semua ini sebagai salah satu berita yang akan mereka informasikan kepada masyarakat.
Dan sebagai penghargaan, selain mendapat trofi, medali, dan sertifikat pemenang, mereka juga memperoleh sejumlah uang tunai, beasiswa hingga lulus program S1 di Universitas AS manapun, serta dana untuk memperbaiki atau menambah fasilitas tertentu di sekolah mereka—sekalipun tampaknya hadiah yang terakhir ini tidak begitu diperlukan, mengingat Hetalia High yang berstatus "lebih dari cukup—sepertinya".
-oOo-
Hari ini adalah tepat seminggu setelah pengumuman pemenang itu diberitahukan.
Seminggu sudah dilaluinya tanpa diskusi. Seminggu tanpa laporan kelompok, tanpa bimbingan, tanpa kompetisi… Seminggu tanpa sms dari Senior Alfred yang mengundangnya dalam pertemuan kelompok. Seminggu sudah hidupnya berjalan seperti kebanyakan murid SMA lainnya—pelajaran dan klub.
Rasanya… hidupnya terasa sedikit aneh dengan absennya semua hal itu.
Dan jujur, ia merindukan masa-masa itu.
Ia rindu untuk kembali berdiskusi. Ia rindu untuk berdebat dalam kompetisi. Ia rindu mendapat bimbingan dari Madame Jeanne. Ia rindu membuat laporan kelompok, mencari data, dan sebagainya. Ia rindu dengan tawa riang Senior Alfred—semua tingkah konyol, oblivious, dan sedikit idiot darinya. Bahkan, hell—ia tidak menyangka jika ia juga merindukan Senior Arthur Kirkland. Kritikan pedasnya, seringai sinisnya, tatapan tajamnya, makian, hinaan, bentakan, dan semua hal yang sangat Nesia benci darinya—dahulu.
Betapa semua hal telah berubah dari apa yang ia duga. Mungkin tidak akan aneh jika ia merindukan Alfred—pemuda itu benar-benar baik dan peduli padanya. Tetapi apa? Nesia bahkan tidak pernah bahkan bermimpi sekalipun bahkan akan datang suatu hari di mana ia merindukan Arthur Kirkland, orang yang Nesia pikir kemusnahannya dari dunia ini, akan memberikan kedamaian bagi umat manusia.
Mungkin sekarang kedua Seniornya tersebut sudah sibuk dengan kegiatan masing-masing—Senior Alfred di Klub Drama, dan Senior Arthur dengan semua kesibukan OSIS-nya.
Nesia memejamkan kedua matanya dan menggeleng-geleng keras—begitu desperet untuk melupakan pikiran-pikiran absurd yang telah beberapa hari ini menggalaukan batinnya.
"Sudah, Nes. Lupakan! Lupakan!" gumamnya pelan sembari masih terpejam dan berjalan pelan di lorong saat itu, demi menuju lokernya, "Apa untungnya kamu mengingatnya terus seperti—"
"Mengingat siapa, nih?"
Nesia membuka mata, dan—"GAH!" seketika langkah Nesia terhenti, sembari sebelah tangannya menebah dadanya, ketika ia mendapati seseorang berada di tikungan lorong yang dilaluinya. Bukan sembarang orang, karena orang itu juga merupakan salah satu orang yang tiga detik yang lalu berada di pikirannya, "Se-Senior A-Arthur?"
Meringis garing bercampur terkejut, Nesia merasa bahwa betapa semua ini terasa seperti drama…
Sedangkan Arthur menatap heran pada juniornya tersebut, "Kenapa kagetmu berlebihan begitu? Kau seperti melihat setan saja, tahu?"
Dan Nesia hanya tertawa lirih sembari segera memperbaiki sikap tololnya barusan, "A-aku hanya—" sial, kenapa ia jadi terdengar makin tolol dengan suara gagapnya itu? "M-maksudku, aku hanya kaget. Lagipula kau, kenapa berada di tikungan lorong begini?"
"Kenapa? Toh tidak ada larangan untuk berdiri di sini," Arthur mengarahkan pandangannya ke arah belakang Nesia, "Tumben sendiiri? Mana tuh, guardian setiamu?"
"Guardian?"
Arthur memutar bola mata, "Lovino Vargas."
"Dia ada urusan klub dan aku tidak suka kau berkata-kata sesinis itu tentang sahabatku," bibir Nesia melengkung ke bawah, tanda tidak suka.
Dan semakin tidak suka ketika Arthur tampak mendengus lirih dan menahan tawa sinis yang ingin keluar, "'Rite."
'Geez, orang ini kenapa, sih?' Pikir Nesia jengah.
Menghela napas, Nesia melambaikan sebelah tangannya, sebelum berucap, "K-kalau begitu, aku pergi dulu. Sampai jum—"
"Tunggu."
Nesia terdiam, menunggu Arthur untuk kembali bersuara. Namun beberapa detik hanya dihabiskan oleh keterdiaman Arthur, ketika pemuda itu sedikit menunduk. Pandangan emerald-nya tampak terlempar ke kiri dan ke kanan, seperti tengah mencari kata yang tepat untuk terucap.
Dan yang paling membuat pandangan Nesia sedikit betah menatap adalah rona tipis di wajah putih tersebut.
Menghirup napas dalam dan singkat, Nesia mengalihkan pandang dari wajah itu. Entah mengapa, ia merasa tidak nyaman jika terlalu lama menatap wajah itu dengan jarak tak lebih dari satu langkah . kakinya. Tetapi Nesia yakin bahwa hal itu dikarenakan ia hanya merasa aneh, tidak biasa, atau bahkan tergeli ketika menatap bahwa wajah dari pemuda sekejam itu ternyata bisa… tampak memerah juga.
Ya. Pasti hanya karena merasa aneh. Hanya merasa tidak biasa.
"W-Well?" sedikit merutuki suaranya yang terdengar mencicit tersebut, Nesia bersuara.
"A-Ah, 'rite," sepertinya suara Nesia tadi cukup mengejutkan Arthur, hingga ia terdengar begitu terkejut begitu. Arthur berdeham sekali, lantas mengucapkan sebuah kalimat yang membuat Nesia nyaris tidak memercayai pendengarannya sendiri, "A-aku berpikir… b-bagaimana—maksudku, sore hari musim dingin begini cukup dingin dan aku tahu sebuah kafe yang menyediakan latte yang enak sekali. J-jadi aku berpikir apakah kau m-mau untuk pergi kesana denganku? O-oh ini hanya… aku hanya ingin mentraktirmu untuk perayaan kemenangan kita di kompetisi. Itu saja."
-oOo-
Entah ini karena mereka sudah beberapa hari sama sekali tidak bertemu, atau karena musik yang berputar dari DVD di mobil itu cukup enak terdengar, Nesia merasakan kesunyian ini cukup dan terasa begitu berlebihan.
Ini bukanlah pertama kali ia duduk di dalam mobil Ford hitam milik Arthur. Ini juga bukan pertama kali ia terduduk di kursi samping kemudi.
Tetapi… entah mengapa, sekarang, sore ini, ia merasa bahwa semua ini terasa begitu baru baginya—hingga ia bahkan tidak mampu menemukan kata yang tepat untuk memulai pembicaraan santai untuk memecah kesunyian ini.
Suasana canggung cukup terasa menggantung tebal di udara sekitar mereka.
Dan sungguh, itu semua tidak nyaman bagi Nesia. Sangat tidak nyaman hingga rasanya ia sedikit kesulitan bahkan untuk mengambil pasokan oksigen di sekitarnya.
Sepanjang perjalanan, ia hanya menatap ke arah jendela di sampingnya—kedua matanya tampak mengamati pemandangan yang silih berganti di luar sana. Tetapi sekalipun demikian, bukanlah semua pemandangan itu yang tengah bergumul di otaknya, karena otak itu sendiri tengah sibuk brainstorming untuk mencari topik obrolan yang cukup asyik dan santai dan memecahkan kesunyian sialan yang cukup membuatnya canggung seperti ini.
Bahkan rasanya, saling lempat makian dan bentakan—seperti mereka yang biasanya—akan jauh lebih baik daripada hanya mendapatkan putaran musik DVD sebagai pengisi suasana seperti ini.
"H-Ha~ Saljunya cukup tebal, ya—"
Ucapan konyol, idiot, dan jelas terdengar desperet itu, terucapkan secara berbarengan dari mulut dua penghuni mobil mewah tersebut.
Dan terhenti secara bersamaan ketika mereka sama-sama menyadarinya.
Dan sungguh, Nesia tak akan heran jika Arthur menyadari betapa wajahnya rasanya terbakar saat itu juga.
Gadis itu segera menggembungkan pipinya sembari semakin mendelikkan wajahnya di jendela di sampingnya, berusaha memaksa rasa panas di wajahnya untuk mereda saat itu juga. Tetapi ketika telinganya mendengar sebuah suara tawa lirih dan tertahan, ia langsung menoleh ke arah samping dan mendapati Arthur Kirkland yang tengah menutup mulutnya dengan sebelah lengannya.
"Apa yang kau tertawakan?" maki Nesia kesal bercampur malu.
"Kita," jawab Arthur sembari menahan tawa, "Canggung sekali seperti orang asing?"
Ternyata pemuda itu juga merasa demikian? Nesia pikir hanya dirinya saja…
Mengalihkan pandang dengan cepat, Nesia menggerutu kesal, "S-siapa yang canggung? Aku hanya merasa… nyaman men-mendengar lagu ini!" elak Nesia, sembari kemudian, ia turut bersenandung kecil mengikuti irama lagu yang tengah mengalun dari DVD mobil.
Namun siapapun bisa menebak bahwa gadis itu hanya menyangkal saja, ketika apa yang disenandungkannya hanyalah "Nanananana" absurd tanpa kesinkronan dengan lirik dan nada lagu yang terputar.
Hhhh.
Dan sepertinya Arthur mampu menebak sesuatu yang begitu jelas demikian, "Oh, ya? Memang judul lagu ini apa dan dari siapa?"
Nesia tampak siap mencabut paksa DVD mini itu dari mobil dan melemparnya ke jalan raya, "Hah! Sudahlah! M-memangnya perlu ya, judul dan penyanyi diketahui agar seseorang bisa menikmati lagu?" elaknya terus ngeles, "Ngomong-ngomong, apa hadiah beasiswa dari kompetisi kemarin Senior ambil? Kau 'kan udah kaya tuh. Sumbangin aja deh."
Dalam hati Nesia bersorak pada dirinya sendiri yang mampu menutupi rasa tololnya plus, mendapatkan bahan obrolan baru yang kayaknya cukup asyik untuk diperbincangkan. Dan syukur pula ketika tampaknya Arthur mengikuti perubahan alur yang ada.
"Aku hanya akan mengambilnya sampai lulus SMA," jawab Arthur sembari masih fokus mengemudikan mobilnya.
"Hah? kau tidak akan kuliah?"
"Kuliah-lah. Ngapain juga, kalo enggak?" respon Arthur, "Hanya saja, beasiswa hadiah itu 'kan hanya untuk di universitas di AS. Aku ingin melanjutkan pendidikanku di Inggris."
Eh?
"Inggris?"
Arthur mengangguk, "Hm. Sudah keinginanku sejak lama untuk bersekolah di sana. Aku sama sekali tidak tertarik untuk melanjutkan kuliah di AS."
"Oh…" hanya itu yang Nesia utarakan, sebelum ia berbalik dan kembali menghadap lurus ke depan—ke arah jalanan yang dipenuhi kendaraan manusia di sore hari yang bersalju.
Inggris… jauh sekali, ya?
-oOo-
Rasanya begitu nyaman ketika mendapati cairan hangat itu meluncur dari tenggorokannya, lantas ke daerah dadanya. Hawa dingin udara di luar yang begitu menusuk kulit—bahkan menembus mantel musim dinginnya, sedikit terkurangi dengan tak hanya minuman ini, namun juga kue hangat yang seperti baru dikeluarkan dari panggangan.
Benar kata Arthur bahwa kafe ini merupakan salah satu dari kafe terbaik yang ada di kota ini. Hidangan yang tersedia tak hanya memanjakan lidah, namun begitu cocok untuk disantap ketika sore terasa membekukan seperti sekarang. Belum lagi dengan dekorasi dan suasana home-feel seperti ini, membuat tak heran jika kafe ini lumayan ramai oleh pengunjung saat itu. Tak begitu besar sih, tetapi cukup mampu menyediakan rasa nyaman bagi para pengunjungnya.
Siapa sangka jika Arthur yang 'tasteless' seperti itu benar-benar benar, untuk kali ini.
"Enak?"
Menatap ke arah Arthur, Nesia hanya tersenyum kecil sembari mengangkat sebelah alisnya, "Tumben sekali kau peduli akan apa pendapatku tentang apa yang kumakan."
Dan wajah itu merona kembali, membuat tanpa sadar, Nesia semakin melebarkan senyumnya. Entah sejak kapan ia mendapati bahwa wajah tersipu—errr… merona dari Arthur, cukup menarik untuk dipandang kedua matanya.
"M-maksudku, ini 'kan aku yang traktir," Arthur membuang pandang ke arah jendela kafe, di sampingnya, sebelum mendengus geli, "Aku hanya tidak mau kau memaki dan mengataiku karena mentraktirmu makanan murahan."
Tertawa kecil, Nesia kembali menaruh cangkirnya di meja, "Aku hanya becanda, Senior. Tapi, enak kok. Sungguh. Terimakasih."
Tentu saja. Udah makanan enak, ditraktir pula. Kurang apa, coba? Dan ia berterimakasih pada apapun atau siapapun yang membuat hati Arthur berubah seputih hati malaikat pada sore hari ini, hingga melakukan semua ini untuknya.
Dan suasana kembali sepi—bagi mereka, karena secara umum, kafe itu lumayan ramai oleh para pengunjung lain dan para pelayan yang melayaninya.
Nesia membenci saat-saat seperti ini. Ia ingin agar Arthur memakinya—mengatakan hal mengesalkan padanya, apapun itu, sehingga gadis itu bisa membalasnya, meneriakinya, dan apapun yang mampu mengeluarkan mereka dari suasana sekaku dua orang asing yang baru bertemu ini…
Seperti 'orang asing'-kah?
Atau justru yang lain?
"A-Alfred sebenarnya ingin ikut, tetapi tidak jadi karena dia ada acara mendadak dengan Natalia."
"Oh ya? Acara apa?"
"Tidak tahu. Entahlah."
Dan percakapan kembali berakhir, dengan begitu canggungnya.
"Kau sering ke kafe ini, Senior?"
"Hm, terkadang ketika aku ingin melepas lelah."
"Pilihanmu bagus sekali—kafe ini cukup cozy dan hangat."
"Yeah.. tentu."
Dan kembali (lagi), berakhir dengan demikian canggungnya.
Membuat Nesia merasa frustasi tak hanya pada dirinya sendiri, tetapi juga Arthur Kirkland yang entah mengapa, tidak merespon tiap ucapannya dengan kalimat sinis dan nada judes, seperti yang biasa dilakukan pemuda itu padanya.
Mengapa sekarang pemuda itu terdiam? Malah berucap demikian biasa tanpa sederet kritikan dan makian? Mengapa pemuda itu sejauh ini, tidak melakukan apapun yang mengesalkan bagi Nesia? Kecuali sikap diam dan membuat semua terasa dan terlihat begitu tidak nyaman seperti ini, bagi Nesia.
Di saat-saat seperti ini, Nesia begitu merindukan perilaku anjing-dan-kucing di antara mereka.
Menelan ludah, Nesia memutuskan untuk cepat-cepat menghabiskan makanannya saja. Daripada seperti ini terus, bisa-bisa ia merasa gila beneran karena semua ketidaknyamanan ini. Lebih baik ia segera menyelesaikan semuanya secepatnya, lantas pulang kembali ke apartemennya.
Dan mungkin…
Mungkin keesokan harinya, mereka bisa kembali bersikap seperti biasa.
Oleh sebab itu, gadis itu cepat-cepat memotong dan menyendok kuenya, secara cepat-cepat. Lebih cepat ia makan, lebih cepat ia bisa pulang, dan lebih cepat pula semua ini akan berakhir.
Terlalu cepat hingga ia menimbulkan sedikit kebisingan akibat benturan pisau kue dan sendoknya di piring kecil itu. Dan terlalu cepat hingga ia sedikit terbatuk-batuk karena dipaksa menelan hidangan itu cepat-cepat.
Hingga tanpa sadar, Arthur menatap heran bercampur khawatir kepadanya.
Bentar deh, khawatir?
"O-oi, pelan-pelan."
"Uhuk! Uhuk!" Nesia tertawa kecil sembari mengibaskan sebelah telapak tangannya, "T-tidak apa, Senior. Aku hanya…" tidak mungkin ia bilang bahwa ia cepat-cepat ingin pulang, 'kan? Betapa tidak sopan dan tidak tahu diri setelah ditraktir semua ini… "Aku hanya… lapar! Iya! Haha. Duh, lapar banget, tadi siang belum makan siang, sih," dan kembali meringis layaknya idiot.
"K-kalau begitu, aku pesankan lagi—"
Dengan cepat Nesia menggerak-gerakkan kedua telapak tangannya, "T-tidak! Jangan!" yang ini saja belum habis… "M-maksudku… aku sudah nyaris kenyang nih. Hehehe," Nesia menelan ludah dan berharap bahwa aktingnya cukup meyakinkan. Habisnya, sepengalamannya, Arthur Kirkland adalah orang yang sangat sulit dibodohi—apalagi oleh orang seperti Nesia.
"Dan kau bebas dari laparmu hanya dengan tiga potong kue sekecil itu?"
Tuh, 'kan!
"M-maksudku—" di detik itu, otak Nesia sibuk brainstorming ria, "belum cukup kenyang—tapi, aku ingin makan lagi nanti saat makan malam di apartemen," dan kembali tertawa kikuk, "Hehehe… yah…"
Ketika mendapati bahwa Arthur tersenyum kecil, Nesia menelan ludah, untuk kemudian menunduk—berpura-pura kembali memakan sisa kue yang belum disantapnya.
Entah ini perasaannya saja atau memang otaknya sudah gila, tetapi senyum itu—
Untuk mengenyahkan pikiran aneh dan absurd tersebut, kembali Nesia memakan cepat-cepat makanannya. Ia harus segera pulang. Ia harus segera pergi dari sini. Ia harus segera mengakhiri semua ini sebelum—
Gerakan tangannya yang menyendok cepat-cepat kuenya, terhenti di udara ketika ia merasakan adanya sebuah gaya yang menahan alat geraknya tersebut.
Dan ia menatap sebuah telapak tangan yang lebih besar dari telapak tangannya sendiri, melingkari lengannya yang memegang sendok.
Tanpa melihat si pemilik telapak tangan tersebut, Nesia sudah tahu siapa yang memegangnya. Tentu saja—siapa lagi yang tengah berada cukup dekat dengannya saat itu.
"Berapa kali aku pernah mengkritik table-manner mu? Sekalipun kau lapar, seorang gadis sepertimu tidak pantas makan seperti babi begini."
Kalimat itu penuh dengan nada hinaan—tentu saja, siapa yang tidak terhina jika dikatai seperti babi demikian? Akhirnya kritikan pedas dan menyakitkan itu terucapkan dari mulut Arthur. Akhirnya Arthur berbicara seperti 'Arthur yang biasa' di mata Nesia. Akhirnya, apa yang dinantikan Nesia terjadi juga—hinaan yang cukup menyakitkan untuk mampu memulai kembali perperangan dan mengenyahkan semua rasa canggung ini.
Itupun jika sekarang gadis itu bisa merasakan sakit hati atas hinaan barusan. Itupun jika sekarang ada niat untuk membalas kalimat pedas itu dan memulai peperangan. Dan itupun jika suasana canggung ini bisa hilang hanya dengan semua itu.
Karena nyatanya, kini Nesia rasakan rasa canggung itu semakin terasa dan semakin tebal. Karena sekarang ia bahkan tidak merasakan sakit hati—tidak berpikir untuk merasakan sakit hati. Dan otaknya seolah tidak bekerja sama sekali untuk merangkai kata-kata yang lebih pedas dari 'makan seperti babi', untuk membalas ucapan itu.
Ketika apa yang ingin diucapkannya, seolah tertelan kembali melihat wajah yang tiba-tiba dan entah bagaimana, berada sangat dekat dengan wajahnya sendiri. Arthur Kirkland memegang sebelah lengannya, sembari menggeser tempat duduknya lebih dekat dengan kursi Nesia.
Dari jarak sedekat ini, ia bisa melihat warna emerald itu dengan lebih jelas. Ia bisa melihat tebalnya sepasang alis itu, dengan lebih jelas lagi. Ia bisa melihat beberapa helai yang terjatuh di dahi itu—membentuk poni kecil. Ia bisa melihat rambut pirang pasir dengan tatanan acak itu, dengan lebih jelas pula.
Dan ia bisa merasakan, entah kenapa, jantungnya seolah melewatkan satu denyutan.
"Lihat mukamu, persis seperti babi yang baru makan di lumpur—belepotan coklat seperti itu…"
Hinaan itu terucapkan lagi, namun Nesia cukup sulit untuk membuka suara, ketika ia mendapati sebelah tangan Arthur yang bebas, meraih kotak tisu, lantas menuju ke arah sekitar mulut dan pipi bawahnya.
Dan gadis itu langsung menurunkan pandangannya—sepatu flatnya sepertinya tiba-tiba menarik untuk dipandang—ketika ia merasakan sapuan lembut di daerah sekitar mulutnya.
Ia pikir bahwa dirinya terlalu banyak makan kue coklat dan menjadi keracunan, ketika merasakan jantungnya berdetak cepat disertai dengan wajahnya yang terasa memanas.
Sangat memanas.
Dan nafasnya nyaris tercekat di tenggorokan ketika merasakan bahwa helai yang menjadi ujung poninya, tersibakkan dan tersematkan di belakang telinganya.
Di saat itulah, ia mendongak, ingin bertanya dengan kesal akan 'Apa-apaan yang kau lakukan, Senior?!' ketika lagi-lagi, usahanya gagal.
Kedua bola matanya justru mendapati dua emerald itu memandangnya dengan tatapan yang begitu dalam—hingga membuat Nesia merasa cukup sulit untuk mengartikannya. Tampak termenung—seolah memikirkan, atau tidak berpikir apa-apa lagi selain apa yang tengah ditatapnya. Tampak terlupa akan seluruh yang ada di sekitarnya.
Terlupa bahwa wajah mereka dekat dengan satu sama lain. Terlupa bahwa sebelah tangannya masih menggenggam lengan Nesia. Terlupa bahwa belum menghabiskan makanannya—bahkan ia hanya baru menengguk dua teguk latte hangatnya.
Dan Nesia berpikir apakah Arthur mampu mendengar detak jantungnya yang makin menggila—apakah Arthur tahu rumah sakit terdekat dimana Nesia mampu memeriksa jantungnya yang ia pikir, keracunan coklat yang telah banyak ia makan.
Nesia sangat bersyukur ketika suara bel di pintu masuk kafe, berbunyi ketika ada seorang pengunjung yang datang. Karena di saat itu juga, ia menarik dirinya dengan menggeser kursinya sedikit menjauh dari Arthur.
Dan sepertinya, Arthur juga demikian halnya—langsung menarik tangannya dari lengan Nesia dan kembali menggeser kursinya untuk sedikit jauh dari tempat duduk Nesia.
Di saat itu, Nesia memejamkan mata dan menghirup serta menghela napas dalam-dalam dan cepat-cepat. Berpura-pura mengambil tisu di meja dan mengusapkannya di mulutnya—sekalipun mulut itu telah bersih (terimakasih pada bantuan Arthur tadi). Ia hanya berpikir, mungkin saja tisu itu juga mampu membersihkan rona merah dari wajahnya yang terasa begitu memanas.
"A-Aku akan mengantarmu pulang jika kau sudah selesai," ucap Arthur sembari mengambil beberapa teguk dari gelas lattenya, "Hari juga s-sudah sore, 'kan?"
Nesia hanya mengangguk ketika ia masih belum mampu membuat mulutnya untuk mengucapkan sesuatu.
Dan perjalanan pulang kala itu jauh lebih buruk dari saat berangkat. Canggung. Aneh. Sunyi. Gugup. Tidak biasa. Dan begitu tidak nyaman. Membuat Nesia berpura-pura untuk tertidur karena lelah saja daripada ia harus terbangun dan memiliki beban mental untuk membuat topik obrolan yang sepertinya, tidak ada satupun yang menarik untuk dibahas.
Bahkan makian dan hinaan yang biasa mereka lakukan, sepertinya kali ini tidak begitu menarik untuk ingin ia berikan.
Arthur membangunkannya ketika mereka sampai di depan gerbang apartemennya. Dan Nesia segera turun setelah menyambar mantel dan tasnya di dekat kursi yang didudukinya.
Dan ia segera berlari memasuki halaman apartemennya.
Tanpa mengucapkan terimakasih—tanpa bahkan, menoleh dan memandang wajah Arthur terakhir kali sebelum ia beranjak dari mobil itu.
Dan malamnya, barulah Nesia mampu menyadari ketidaksopanannya dan kelalaiannya. Setelah meyakinkan dirinya sendiri, ia mengirim satu pesan singkat ke nomor dari orang yang sejak beberapa jam yang lalu, begitu nemplok di pikirannya.
"Terimakasih atas semuanya, Senior. Aku senang—makanannya enak :)"
Yang mana dibalas dengan kalimat singkat pula,
"I'm glad you are. That's great time."
Menatap layar ponselnya, Nesia hanya menghela napas dalam-dalam, lantas menggeram lirih sembari menjatuhkan diri ke ranjang empuknya.
Ada apa dengan dirinya hari ini?!
-oOo-
Mengedarkan pandangan ke sekelilingnya, Nesia sedikit merasa takjub ketika memandang aula utama Hetalia High yang terletak di kompleks gedung C, saat itu tampak begitu semakin memukau pandangan mata.
Periode istirahat saat itu, Lovino mengajaknya untuk turut serta bersamanya ke gedung aula. Gedung tersebut, seperti biasanya, akan menjadi salah satu dari beberapa tempat di mana Anniversary Hetalia High, akan berlangsung beberapa minggu lagi. Dan Lovino, sebagai anggota dari Klub Botani, turut andil dalam "proyek" periasan gedung aka dalam kepanitian dekorasi. Menyiapkan tanaman hias, menyiapkan buah-buahan, dan serta tentunya, merawat dan menghias taman utama agar siap dipakai pada saat hari H. Selain gedung aula yang nantinya berfungsi sebagai tempat di mana upacara penyambutan, ball room, sekaligus pesa penutupan yang dibintangi oleh seorang penyanyi muda yang tengah naik daun di AS, tempat lain yang digunakan adalah taman utama, halaman, dan beberapa tempat lainnya.
"Berapa tumbuhan yang kalian perlukan untuk merias tempat sebesar ini, Lovi?" gumam Nesia sembari masih berjalan pelan dan mengawasi sekitar. Di sekitarnya, terdapat beberapa murid lain yang sepertinya tergabung dalam kepanitiaan, tengah menyiapkan dan membahas ini dan itu.
"Banyak—aku tidak menghitungnya," ujar Lovino sembari berjalan di samping Nesia. Kedua tangannya tengah memeluk pot lumayan besar dengan sebuah tanaman hias berbunga merah muda, di atasnya, "Tapi persiapan merepotkan ini memakan waktu sekitar lima bulan penuh bagi kami untuk mendesain, menyiapkan, serta merawat tumbuh-tumbuhan aneh ini."
Nesia menoleh ke arah Lovino. Dan senyuman kecil tampak di bibirnya ketika ia mendapati pemuda itu tengah memberikan ekspresi kesal—pasti karena banyaknya tugas klub yang selama ini diembannya, "Mau kubantu membawa itu?"
"Tidak, lagipula sudah dekat."
Mereka berhenti ketika sampai di salah jendela besar yang ada. Lovino, dengan sedikit kasar namun cukup hati-hati untuk tidak memecahkan pot itu, menaruh wadah tanaman tersebut di dinding dekat jendela.
Pemuda itu lantas menghela napas sembari menepuk-nepukkan kedua telapak tangannya untuk membersihkannya, "Kupikir dahulu klub ini adalah klub paling santai. Ayolah, apa yang kira-kira dilakukan oleh klub yang hanya mengurusi tanaman saja? Tetapi ternyata kami harus terlibat dalam kesialan sebesar ini…"
Tertawa kecil, Nesia sedikit menyikut pelan pinggang Lovino, "Hei, setidaknya kau suka 'kan, merawat tomat untuk dijadikan bahan makanan sekaligus tanaman penghias di Taman Utama?"
"Itulah satu-satunya alasan aku sampai sekarang masih bertahan dan tidak hengkang saja," Lovino mengendikkan bahu. Pemuda itu lantas menatap Nesia, "Bagaimana dengan dirimu? Anggota Penitia Publikasi?"
"Kata Senior Francis, kita mulai publikasi tiga minggu sebelum hari H—menunggu persiapan setidaknya matang 70 persen, sekaligus memberi kesempatan bagi kita untuk mempersiapkan semuanya," jawab Nesia, menyandarkan diri di tembok di belakangnya.
"Cukup santai sekali kepanitiaanmu, ya?" Lovino memberi senyuman miring kepada Nesia, lantas tampak sedikit meringis sakit ketika ia dua kali mendapat sikutan pelan di pinggangnya.
"Kau pikir mendesain poster, spanduk, surat undangan, dan lain-lain itu mudah?"
Lovino hanya tertawa kecil. Ia tampak membuka mulut—seperti hendak merespon ucapan Nesia dengan kata-kata tertentu, sebelum terhenti ketika terdapat seseorang yang memanggil namanya.
"Lovino, aku memerlukanmu sebentar untuk membicarakan sesuatu!"
Mungkin teman se-klub atau sekepanitiaan dengan Lovino? Pikir Nesia ketika melihat seorang murid yang melambaikan tangan dan berteriak pada Lovino. Sedangkan Lovino sendiri menggeram pelan sembari memejamkan mata dan bergumam lelah, "Tidakkah mereka membiarkan aku beristirahat barang fucking sejenak?"
Sedikit geli melihat Lovino dengan kelihatan jelas sekali, terpaksa saat menyeret kedua kakinya mendekat ke arah murid tersebut. Mereka tampak berbincang-bincang. Murid anonymous itu tampak menyeringai, sembari menunjuk ke suatu arah, dimana Lovino mengikuti tunjukan telunjuknya dengan tatapan datar dan impasif andalannya.
Kembali mengedarkan pandangan, Nesia kembali terpukau akan semuanya. Gedung aula yang tanpa dihias seperti inipun sudah tampak megah dengan langit-langit yang tinggi serta berbagai ukiran berseni tinggi baik di dinding, atap, ataupun bahkan, kaca jendelanya. Apalagi dihias seperti ini… kata Lovino dekorasi bahkan baru mencapai tiga puluh persen—tetapi demi apa, semua sudah tampak demikian bagus dan indahnya.
Entah seperti apa semua ini kelihatan saat telah mencapai seratus persen.
Di ujung ruangan sana, bahkan sudah terdapat sebuah piano yang tampak bersih dan tentu saja, mahal. Pasti di ujung sanalah nantinya grup musik orchestra akan memainkan peralatan musiknya. Dan piano itu, akan menjadi salah satu dari sekian banyak alat musik yang ada nantinya—yang akan dimainkan untuk menemai hangat dan manisnya pesta dansa—
Nesia mengernyitkan kening ketika pemikiran itu singgah di otaknya.
Pesta dansa? Berpasangan? Dan… dan ia baru ingat, sebagai anggota panitia publikasi seharusnya ia harus selalu ingat, bahwa tidak seperti tahun lalu, Anniversary Hetalia High di tahun ini, mengharuskan tiap tamu, khususnya para murid, untuk memiliki pasangan masing-masing terutama untuk diajak sebagai partner dansa. Entah itu teman, sahabat, saudara, atau kalau betah malu, orang tua juga tak apa.
Dan sebagai seorang yang single aka tidak punya pacar atau sekedar teman kencan, ditambah keluarga yang jauh dari AS ini, peraturan tersebut sangat memberatkan bagi Nesia. Sangat. Dan ia mengutuk kesal Panitia Acara yang memutuskan semua hal ini.
Pasti enak bagi yang sudah punya pacar atau gebetan—momen-momen seperti ini justru membahagiakan dan ditunggu-tunggu. sedangkan Nesia? Pacar tak punya, gebetan pun (baca: Antonio) juga kayaknya sudah punya orang lain yang diajaknya.
Uh.
"Nes?"
Panggilan tersebut membuat Nesia mengalihkan pandang dari piano yang menjadi objek tatapannya semula. Ditatapnya Lovino Vargas—sumber suara barusan, yang kini telah kembali berdiri di dekatnya.
"Urusanmu sudah selesai, Lovi?"
Kepala berhelai coklat tua itu mengangguk lirih, "Tidak begitu serius juga, sih…"
"Tidak serius? Memangnya apa? Keperluan dekorasi kah?"
"Nah," pemuda itu menggeleng. Kepala itu sejenak menunduk, sebelum ia berdeham lirih, "T-temanku tadi hanya mengatakan bahwa ada s-seorang cewek yang sepertinya ingin kuajak ke pesta dansa—" di detik itu juga, Nesia sedikit membelalak terkejut, "—Tetapi aku menolaknya, tentu saja. Kau tenang saja," jawab Lovino menambahkan dengan sedikit tergesa-gesa.
Membuat Nesia merubah ekspresi terkejutnya menjadi bingung, "Tentu saja aku tenang. Memangnya kenapa?"
Lovino tampak terdiam dan memandang Nesia selama beberapa saat, sebelum pemuda itu menghela napas sedikit keras, "Aku hanya tidak mau kau berpikir aku menerima ajakan orang yang tidak aku sukai."
"Kau tidak menyukainya?" Nesia melempar pandangannya ke arah sekumpulan murid di suatu arah, "Yang mana cewek itu, Lovi? Yang mana? Apakah dia se-klub denganmu? Se-kepanitiaan?"
Lovino terdengar mendecak kesal, "Itu tidak penting—aku tidak suka dengan caranya. Jika ia ingin mengajakku, kenapa meminta bantuan orang lain menyampaikannya padaku?"
Nesia melirik Lovino dan tampak memberi pandangan yang seolah mengasihani ketidaksensitifan hati seorang lelaki seperti Lovino, "Pasti dia malu-lah, Lovi! Kau ini bagaimana? Hanya sedikit perempuan yang memiliki nyali besar untuk mengajak laki-laki dahulu. Ih."
"W-Well… bagaimana denganmu?"
"Kok jadi aku?"
"Maksudku, apakah kau sudah punya pasangan untuk kau ajak nanti?"
Pertanyaan yang sangat nge-jleb di hati Nesia.
Tertawa lirih dan gugup, Nesia hanya bersuara mencicit, "H-hehe… Y-yeah… aku belum memikirkannya—"
"Berarti kau belum punya?"
"Bisa dibilang begitu, sih," menggaruk tengkuknya pelan sembari menatap ke arah lantai beberapa jauh darinya, Nesia dalam hati kembali mengutuk para Panitia Acara.
"A-aku juga belum," Lovino berdeham kecil, "M-maksudku, mungkin kita bisa… pergi bersama?"
Nesia menatap ke arah Lovino, dan didapatinya pemuda itu menatap sungguh-sungguh ke arahnya. Tetapi bukan itu yang tampak paling mencolok menurut pandangan Nesia.
Adalah semburat merah yang seolah menyebar bagaikan virus, di wajah kecoklatan tersebut.
Apa Lovino tengah merasa kepanasan? Atau kedinginan?
"Kau bicara apa? Bagaimana dengan cewek yang mengajakmu tadi—"
"Sudah kubilang aku tidak mau pergi dengannya," sergah Lovino dengan nada sepenat tatapan matanya, "Aku bahkan tidak ingat siapa namanya."
"Tapi dia—"
"Kau mau atau tidak? Kau belum punya pasangan, 'kan?" Lovino terdengar begitu tidak sabaran.
Tidak. Tentu saja Nesia tidak punya—belum punya pasangan yang ingin ia ajak.
Tetapi mengapa… mengapa ia merasa seolah-olah bukan Lovino yang ingin ia ajak pergi bersama? Seolah-olah ada orang lain yang begitu ingin Nesia harapkan untuk mengajaknya pergi. Ia merasa ragu untuk menerima tawaran Lovino, seolah jika demikian, maka ia akan otomatis melewatkan kesempatannya untuk bersama orang itu.
Tetapi siapa?
Antonio kah?
"T-tentu aku mau!" cetus Nesia segera demi cepat-cepat menghilangkan pemikiran dan perasaan absurd yang tengah dimilikinya. Ditatapnya Lovino dengan seyakin mungkin, beserta sebuah senyuman lebar di bibirnya, "Aku mau, Lovino! Jadi, nanti datang bersamaku, ya?"
Saat melihat tatapan Lovino melembut dan sebuah senyum kecil tertera di bibir itu, Nesia harap apa yang dia rasakan sebelumnya adalah omong kosong.
Semua perasaannya barusan tidaklah benar.
Meski Lovino adalah sahabatnya, bukan pacarnya, tetapi tidak ada salahnya, kan, berdansa dan menghabiskan malam dengan sahabat dekatnya sendiri?
Sorry guys, no teaser this time.
Chapter depan adalah kejutan bagi kalian semua—err... bagi mayoritas dari kalian semua.
:D
Don't hate but love meee~~ :D
Pojok review. Monggo~
Kenapa ArthurNesia dikit?/ Di chapter ini UKNes udah saya obral habis-habisan :D /Willem kapan keluar?/ Keluar dari mana? :D /Saya akan terus mengikuti fic ini hingga tamat/ Amiiiinnnn. Kupegang janjimu! /nge-sinet /Nggak sanggup baca pojok reviewnya #numpang ngakakz qaqa#/ Makasih kalau anggap guyonan abal bin garing ini lucu… ahahaha /ketawa maksa/ /Ga tega baca one-sidednya Nesia dan Antonio/ T.T /Nesia ga bisa hanya Cuma dikasih hints, ya?/ :D /Kasihan Lovino/ Eaw nich /pukpuk Lovino/ /Saya baru balik dari hiatus dan tahu-tahu fic ini udah berchapter 2x lipat dari terakhir saya baca/ Ahahaha… Rajin-rajin mampir, jeung /Bagaimana Anda bisa update cepet?/ Saya juga bingung kenapa saya kerajinan update hingga 2 minggu sekali T.T /Saya senang Lovi gagal nembak Nesia/ :O Ati-ati digampar fans-nya Lovi lho /dor/ /Ada beberapa kalimat yang kurang pas/ Iya :D Thanks for pointing that out /Paling miris Lovino, ya? Udah ga bisa confess, liat Nesia ama Arthur dan Tonio pula/ /Ngakak/ /disambit tomat/ /Udah jamuran nih nunggu update-nya/ Sini, saya jadiin crispy (?)
Jika faktor-faktor lain tetap dan sama, banyak dan cepatnya review kalian berbanding lurus dengan kecepatan update saya (Storm, 2013).
Makanya, yang jarang atau belum pernah review, review ya, Qaqaa /Alfredeyes(?)/
Thank you so much.
Fiva La FHI
Salam Ulalaa~~
DIS
