DIS: Hei :D /langsung ditampol/ Maaf update telat. Ada alasan tertentu mengapa saya tidak bisa update cepet. Dan saya takut, untuk beberapa waktu ke depan saya juga belum bisa update cepet. Tapi jangan khawatir, saya janji, saya tidak akan meninggalkan fiksi ini. Aha. So, keep reading and reviewing :Dv Maaf kalau banyak typo, ga sempet reread T.T
Selamat membaca~
Ujian akhir semester genap akan berlangsung seminggu setelah ujian akhir bagi para murid kelas tiga selesai. Bersamaan dengan menjelangnya tahun ajaran baru, dunia juga bersiap menyambut datangnya musim semi yang menggantikan dinginnya musim dingin. Salju berhenti tertumpah dari langit yang kelabu, sekarang tergantikan oleh cerahnya mentari yang bersinar di kanvas sana—mencairkan sisa-sisa tumpukan salju di tiap benda yang dilingkupinya. Bunga kembali bermekaran, udara kembali segar, burung kembali berkicau, alam kembali semarak.
Ciri khas musim semi yang melambangkan suka cita.
Mendapatkan pemikiran tersebut, Annesia Saraswati tersenyum kecil sembari menatap refleksi dirinya di kaca besar di kamarnya. Seragam lengkap Hetalia High, telah terpakai rapi di tubuhnya, plus dengan tas selempang merah muda yang menggantung di sebelah bahunya.
"Hei, Senior Annesia. Tinggal beberapa minggu lagi, kau akan menjadi siswi tingkat dua di Hetalia High," ujarnya diakhiri dengan anggukan mantap kepalanya.
Yosh.
Semoga para murid kelas tiga bisa menyelesaikan ujian akhir dengan lancar, plus juga, semoga ia bisa naik kelas dengan nilai yang tidak memalukan keluarganya.
-oOo-
Axis Power Hetalia © Hidekaz Himaruya
Picture © Sakurazaka Ohime
I just own the plot of the story and I don't gain any commercial advantages by publishing this fic.
Warning: AU, Human Name, High School, OC, OoC yang mendewa, (highly possible) crack pairs, (a lil') Nesia-centric, but no Mary Sue/Gary Stu I assure you :D totally absurd.
Pairing: Anda bisa menebak sendiri mana yang main pairing, dan mana yang sekedar hints dan fans service :p
Ini murni dari pemikiran saya. Maaf jika kebetulan ada kesamaan ide karena setting gakuen sangat banyak di FHI. Itu tidak disengaja :D
Long Live FHI and Say NO to Plagiarism! Mari berkarya dengan hati dan imajinasi :D
Maju FHI!
-oOo-
Nyatanya ucapan optimis itu membuahkan hasil yang tidak seberapa ketika ujian akhir itu terlalui oleh Nesia. Memang tidak sepenuhnya meleset total. Ia cukup senang sekali ketika mendengar bahwa para murid kelas tiga Hetalia High, cukup mampu dalam menyelesaikan ujian akhirnya. Senior Francis yang sama sekali tak menunjukkan aura depresi mulai dari hari pertama hingga hari terakhir, Senior Andrew Scholte yang bahkan Nesia bisa yakin bahwa pemuda asal Norwegia itu mampu menyelesaikan soal dengan mudah (kata Senior Tiino sih, Andrew termasuk salah satu murid pandai di kelasnya), bahkan Senior Gilbert yang langsung menggelar pesta kecil-kecilan di rumahnya untuk merayakan selesainya ujian akhir dengan teriakan, "Man, kau tidak percaya betapa aku rasanya ingin tidur saja daripada mengerjakan soal-soal itu! Hah! Aku sangat awesome, 'kan?"
"Kau ingin tidur karena otakmu sudah berasap tak mampu memikirkan jawaban?" cibir Senior Elizaveta waktu itu, yang langsung dapat makian kasar dari sahabat masa kecilnya, Gilbert.
"Bitch, jika aku termasuk dalam salah satu murid dengan hasil nilai terbaik nantinya, kau harus berlutut dan mengakui kehebatanku!"
Memang sih, Nesia tidak hadir dalam pesta itu—karena selain bisa membayangkan seperti apa jadinya 'pesta yang diselenggarakan Senior Gilbert', juga karena ia sedikit canggung merayakan sebuah pesta yang dihadiri oleh sebagian besar murid kelas tiga. Nesia mengetahui semua itu dari cerita Senior Tiino yang diceritain oleh Senior Andrew.
Mendengarnya, Nesia merasa bahwa dirinya turut senang. Memang keputusan akan hasil perjuangan para kakak kelasnya, belum ada. Tetapi Nesia yakin bahwa mereka akan mendapatkan yang terbaik nantinya.
Sedih juga, karena membayangkan bahwa ia sebentar lagi akan berpisah dari beberapa Senior yang ia anggap cukup dekat dengannya. Sebut saja Senior Francis, yang telah memutuskan untuk melanjutkan studinya di sekolah memasak di Perancis. Katanya ia ingin meneruskan usaha restoran keluarganya—sekalian menjaga adik kandungnya yang baru datang dari Monaco untuk tinggal bersamanya di Perancis nanti. Ya, Senior Perancis berasal dari keluarga yang tidak bisa dibilang cukup beruntung—perceraian kedua orangtuanya membawanya untuk tinggal bersama Ayahnya di AS dan adiknya bersama Ibunya di Monaco.
"Kami akan merindukanmu, Senior," ujar Nesia sungguh-sungguh, yang disetujui oleh Mei Lian melalui sebuah anggukan kecil.
Francis tersenyum, "Aku tahu, semua orang pasti akan merindukanku," kenarsisannya itu justru membuat sebelah ujung mata Mei berkedut, disertai tawa gugup dari Senior Tiino, "Tapi, hei. Aku belum resmi lulus dari sini—masih menunggu hasil. Dan, jika ada yang paling kurindukan dari masa SMA-ku di Hetalia High, itu adalah kalian, keluarga H-Radio."
Sumpah, Nesia yakin bahwa jika mereka tengah berada dalam suasana yang lebih normal seperti biasanya, maka ia akan sedikit ngeri dan aneh juga ketika mendengar ucapan Francis yang sama sekali tidak terdengar 'seperti Francis Bonnefoy' tersebut.
Senior Andrew, Senior Ludwig, Senior Bella, Senior Gilbert, Senior Elizaveta, dan semua Senior tingkat akhir yang dikenalnya, sebentar lagi akan meninggalkan sekolah tercinta. Mengembangkan sayap lebih lebar, terbang jauh lebih tinggi ke dunia yang luas dan lebar. Membawa nama almamater tercinta, mengejar cita-cita. Berjalan di jalan masing-masing, menuju tujuan masing-masing.
Nesia menghela napas lirih ketika berpikir seperti itu.
Rasanya… rasanya sedikit aneh, ketika membayangkan semua itu. Mereka yang saling berpisah. Mereka yang sebelumnya menjadi teman, kini harus kembali berada di jalan masing-masing. Mereka yang saling bersahabat, harus mengucapkan kalimat 'sampai jumpa' atau bahkan 'selamat tinggal' ketika cita-cita dipertaruhkan. Masa tiga tahun bersama, harus terakhiri saat itu juga. Ada yang masih bertahan di AS, ada yang pindah ke kota lain, bahkan, ke negara lain.
Jauh. Tak mudah terjangkau seperti jika mereka berada di lindungan langit yang sama.
Antonio Fernandez Carriedo, lelaki yang ia kenal saat hari pertama MOS melalui sebuah ketidaksengajaan yang absurd. Lovino Vargas, pemuda berdarah Italia yang membelanya dengan lantang saat hari MOS pertama pula. Lily Zwingli, gadis dengan senyum manis dan seorang aristokrat, yang menjadi temannya, sekaligus panutan dalam bertata krama.
Akankah suatu saat nanti, setelah mereka lulus dari sekolah ini, semua hal hanya akan sekedar menjadi memori?
Dan Senior Arthur Kirkland—
"Gah!" meninju pelan pelipisnya dan menggeleng-gelengkan kecil kepalanya, Nesia merasa konyol terhadap dirinya sendiri, "Apa yang kau pikirkan! Ayolah, bahkan ujian kenaikan kelas saja belum berlangsung! Dasar bodoh…"
Dan ia melupakan bahwa, meski hanya sejenak, Arthur berada di pemikiran absurdnya barusan.
-oOo-
Ujian kenaikan kelaspun pada akhirnya datang.
Para murid kelas tiga, tentu saja, sudah tidak lagi berada di sekolah dan hanya menunggu hasil plus tanda formal yang menyatakan bahwa mereka lulus dari sekolah tercinta. Sehingga, Hetalia High untuk sementara waktu sampai datangnya para murid baru, terisi hanya oleh para murid kelas 1 dan kelas 2 saja, yang kali ini, sibuk memfokuskan diri mereka pada ujian yang berlangsung.
Meski demikian, untuk beberapa murid, ujian ini bukanlah alasan untuk terlepas dari semua tanggungjawab dan kegiatan rutin non-kurikuler mereka. Kegiatan klub terutama, masih ada dan menunggu untuk dikerjakan dan diselesaikan. Terutama bagi mereka yang terlibat langsung dalam kegiatan persiapan Hetalia Anniversary yang berlangsung dalam waktu dekat ini. Klub Botani, Klub Musik, Klub Radio, Klub Koran dan Majalah, dan sebagainya, masih memiliki agenda ini dan itu. Tentu saja, inilah yang membuat para anggotanya merasa kalang kabut dalam menyeimbangkan antara prestasi akademik dengan tanggungjawab sebagai anggota klub. Dan mereka berkali-kali menyesalkan akan timing sialan antara Ujian dan Hetalia Anniversary, yang begitu berdekatan.
Hhh.
Begitu pula dengan Nesia. Klub Radio masih berjalan seperti biasanya—bahkan setelah Ketua Klub, Senior Francis, resmi tidak menjabat lagi karena selesai kegiatan akademiknya di sekolah ini meski belum secara formal. Tanggungjawab pemuda itu, oleh sebab itu, dilimpahkan kepada Senior Tiino (secara sepihak plus disetujui oleh Pembina Klub Hetalia High), dan diamini oleh Mei Lian, Nesia, dan anggota Klub lainnya. Hari-hari ujianpun mereka masih siaran ketika jeda periode—memberi semangat, optimisme, dan semua hal yang kiranya cocok dalam suasana 'perang' seperti ini.
"Jadi, kalian harus semangat, ya, Sahabat! Aku tahu banget kok, ujian itu seperti neraka. Apalagi untuk kalian yang masih ketanggungan tugas klub, double neraka. Apalagi juga untuk kalian yang udah ujian, tugas klub, plus ada masalah dengan pacar, tripple neraka dan rasanya ingin nyebur sekarang juga. Haha. Tapi yang kumaksudkan adalah—ini tidak akan berlangsung selamanya," dengan itu, Nesia juga berusaha meyakinkan dirinya sendiri. Tak peduli betapa besar rasa cintanya pada H-Radio, ia tidak mau jika disembur orangtuanya jika ketahuan nilainya terlihat melas, "Lihat ke sisi terang saja, guys!" Nesia tersenyum lebar, "Karena sebentar lagi, akan ada Hetalia Anniversaryyyyy! We're gonna rock the whole party, 'rite?!"
Untung saja hari ini Nesia hanya memiliki satu ujian saja—jadi ia bisa fokus dalam siaran tanpa memikirkan keharusan untuk belajar untuk periode kedua nanti, seperti Senior Tiino yang mungkin sekarang tengah mendekam di Perpustakaan.
"Sesi putar lagu sudah dilakukan, Sahabat! Dua lagu dari Rihanna, satu lagu dari Linkin Park, dan satu dari Adelle, sudah diputar. Harusnya kalau saat-saat gini, kalian muter lagu yang bikin semangat dong, bukan mellow dan galau gini. Haha, becanda. Oke, sekarang sesi pembacaan surat. Seperti biasanya, ada dua surat dari kotak surat H-Radio yang akan aku bacakan, plus satu surat dari e-mail. Semoga tidak ada yang salah memasukkan kertas contekan di kotak surat H-Radio. Haha."
Dan Nesia membacakan surat itu satu persatu. Ada yang mengeluh perkara repotnya hari-hari mereka di saat ujian begini. Ada juga yang menyampaikan rasa kangen pada beberapa Senior dari kelas tiga. Ada yang berbicara hal random semacam bagaimana kemarin ia harus antre panjang di minimarket saat ia hanya membeli satu botol fucking kecap. Dan ada pula yang terang-terangan mengundang murid lain untuk datang ke Hetalia Anniversary bersama.
Semua itu, membuat Nesia mengerutkan kening.
Hari ini juga. Ia tidak menyangka, bahwa hari ini juga, ia tidak mendapatkan surat itu.
Surat misterius yang dahulu, kerap sekali mengunjungi H-Radio untuk dibacakan oleh para penyiarnya. Surat yang berisikan kata-kata manis, puitis, dan mengindikasikan kekaguman tiada tara bagi siapapun tujuan surat itu sebenarnya. Surat yang bahkan sampai sekarang, belum diketahui siapa penulis dan tujuan surat itu.
Sudah beberapa minggu ini H-Radio tidak mendapat surat tersebut—sama sekali. Untuk pertama kalinya, baik Nesia ataupun penyiar H-Radio yang lain, tidak membacakan—tidak menemukan surat itu dalam kotak surat—baik surat yang akan dibacakan ataupun belum dibacakan. Bahkan mereka mengecek satu persatu e-mail yang masuk, tetapi tidak ada satupun e-mail yang berisikan kalimat yang sama. Kalimat yang familiar.
Kalimat yang menandakan besarnya perasaan indah yang dirasakan oleh penulisnya.
'Mungkin ia berhenti menulis karena ia sudah menyatakan perasaannya dan kini berpacaran dengan orang yang disukainya itu? Atau… justru sebaliknya? Ia sudah menyampaikan tetapi orang yang disukainya tidak membalas perasaannya dan ia jadi… putus… asa?'
Nesia menggeleng lirih.
Tidak mungkin. Dari kalimat-kalimat dalam surat itu, Nesia yakin bahwa penulisnya bukanlah tipe orang yang putus asa bahkan jika seandainya perasaannya hanya bertepuk sebelah tangan. Ia pasti akan memperjuangkan cintanya hingga titik akhir.
Ataukah ia sekarang menemukan cara lain yang lebih ampuh dan berguna untuk mengekspresikan perasaan cintanya, daripada hanya sekedar menulis dan mengirimkan surat cinta seperti ini?
Entah apa yang terjadi, tetapi Nesia sesungguhnya berharap bahwa penulis itu bisa menemukan akhir yang bahagia. Maklum, telah bersama dengan puluhan surat misterius itu yang 'diterima' H-Radio, membuat Nesia lama-lama merasa bahwa ia telah menjadi penggemar surat itu dan siapapun penulisnya. Dan ia selalu antusias sekali ketika membacakan surat itu—meresapi baik-baik tiap kalimat dan perasaan yang tertumpah dengan goresan tinta itu. Dan juga, ia selalu menyimpan tiap surat yang telah dibacakan, dalam suatu tempat dan berharap nanti ia bisa memberikannya pada si penulis, atau lebih baik lagi, pada orang yang disukai penulis itu.
Dan kini surat itu menghilang—entah karena apa.
Setelah sesi pembacaan surat selesai, maka dilanjutkan dengan sesi selanjutnya seperti biasa: sharing melalui telepon. Penelpon pertama adalah Senior Alfred yang menyatakan bahwa, "Hetalia High Anniversary adalah event yang keren. Tetapi kesenangan kita tidak berakhir sampai di situ karena tepat seminggu setelah Anniversary, siapkan diri kalian untuk Summer Play dari Klub Drama! We're gonna be ready to rock, guys!" tanpa memberikan ucapan sapaan pada Nesia, atau memberikan gadis itu memberikan kesempatan bahkan sekedar untuk menyapanya. Tahu-tahu sambungan terputus begitu saja.
Dasar Senior Alfred…
Jika penelpon pertama aka Senior Alfred begitu to the point dan jelas sekali menerangkan siapa dirinya dan apa tujuannya, maka penelpon kedua yang didapatkan Nesia malah memerlukan waktu sekitar sepuluh detik bahkan untuk membalas 'Halo, Selamat pagi dari siapa ini~?' milik Nesia.
Entah penelpon itu memang tengah sibuk atau memang bersifat sangat pemalu?
"Halo?" ulang Nesia ketika merasa canggung suaranya terdengar on air tanpa terdapat balasan.
"O-oh, hai," dan jawaban yang diterima gadis itu hanyalah 'hai' singkat yang terdengar gugup tersebut.
Namun, bukanlah nada gugup itu yang membuat Nesia memicingkan mata dan merasa heran. Tetapi akan suara yang didengarnya…
"Kau penelpon misterius itu, 'kan?" ujar Nesia menyuarakan dugaannya.
"A-Apa—penelpon misterius apa maksudmu?" bisa mudah sekali ditebak bahwa pemilik suara ini tengah terkejut.
Nesia mengangguk sekalipun tidak ada yang bisa melihatnya, "Iya, penelpon yang beberapa kali menelpon H-Radio dan tidak pernah memberitahu siapa identitasnya, tak peduli berapa kali aku memintamu untuk berterus terang."
"W-well, buruk untukmu, kalau begitu karena sekarangpun, aku tidak ingin mengatakan siapa diriku."
"Hhhh," Nesia memutar bola mata, "Alright, Tuan Misterius. Tapi yakin deh, suatu saat, aku pasti akan mengetahui siapa dirimu. Karena sungguh, suaramu ini sangat terdengar familiar bagiku."
"Sudah kubilang, 'kan, kau tidak mengenalku!"
"Semakin kau mengatakan itu, semakin aku percaya bahwa kita saling mengenal."
"Apa—terserah. Aku sudah bilang bahwa kau tidak mengetahuiku."
Tidak hanya suara ini saja yang begitu terdengar familiar, tetapi juga sifat keras kepala itu juga rasanya… begitu dikenal baik oleh Nesia.
Tetapi siapa?
"Apa yang ingin kau katakan, Tuan?" tanya Nesia ketika tidak mendengar ucapan lebih jauh dari si penelpon.
Terdengar suara dehaman beberapa kali, membuat Nesia yakin bahwa apapun yang akan dikatakan penelpon ini, adalah hal yang memalukan, atau setidaknya, hal aneh yang membuatnya terdengar gugup begitu.
Benar saja dugaannya, ketika beberapa saat kemudian, penelpon itu berucap dengan nada gugup yang sangat kentara dari kalimatnya yang terputus-putus, "B-begini. Aku mau bertanya," berdeham lagi, "Ehem! S-seandainya… a-ada laki-laki yang ingin menyampaikan perasaannya padamu, k-k-kau ingin dia berbuat a-atau memberimu apa?"
Krik.
Selain terdengar cheesy, pertanyaan itu juga terdengar aneh karena ayolah, sejak kapan Nesia terkenal menjadi dokter cinta? Karena seingatnya, ini juga bukan pertama kalinya penelpon misterius ini menelpon H-Radio saat Nesia siaran dan menanyakan hal-hal aneh yang berbau perasaan. Rindu lah, patah hati lah, dan sekarang apa? Menyatakan perasaan kepada orang yang dicintai?
"Apakah ini orang yang sama yang dulu kau ingin sembuhkan rasa patah hatinya?" tanya Nesia separuh kepo juga separuh mengulur waktu untuk brain storming mencari jawaban.
"Y-yeah, seperti itu—tapi itu bukan inti dari pembicaraan kita."
Seandainya ada lelaki yang ingin menyampaikan perasaan kepada Nesia? Tentu saja, Nesia yakin bahwa 'perasaan' yang dimaksud di sini adalah perasaan cinta, atau setidaknya, kekaguman.
Apakah penelpon misterius ini adalah orang yang sama dengan penulis surat misterius itu? Gah! Kenapa banyak sekali remaja sekarang yang suka main rahasia-rahasiaan segala begini? Bukankah lebih baik jika semua diterangkan dengan to the point jika memang ingin mendapatkan orang yang diinginkan?
Menghela napas, Nesia menyahut perlahan, "Jika seandainya ada lelaki yang menyampaikan perasaan padaku…" Andai saja ia benar-benar mendapatkan seorang cowok yang melakukan pengakuan cinta padanya. Uh, "Aku tidak ingin dia melakukan apa-apa, asal aku bisa lihat kejujuran dan ketulusan baik dalam ucapan atau pandangan matanya, itu sudah cukup," Nesia tersenyum kecil membayangkan semua itu.
"… Itu saja? Kau tidak ingin hadiah atau apa gitu?"
Mengendikkan bahu, Nesia menyahut, "Ketulusan itu lebih penting daripada sekedar hadiah materi. Yah, tapi itu menurutku sih. Beda lagi kalau misalnya orang yang kau cintai itu ingin kau melakukan atau memberikan hal tertentu agar mendapatkan perhatiannya."
Suara itu terdengar tertawa pelan dan terdengar heran, "Kupikir, b-biasanya cewek suka jika dikasih mawar atau boneka atau kalung atau apa."
"Jangan menggeneralisasikan semua wanita dalam tipe itu," kening gadis itu mengkerut, "Tapi, kalau memang ingin terkesan romantis sih… mungkin aku ingin dia membuat kejutan saat aku datang ke sekolah. Saat aku melewati gerbang, aku disambut dengan sebuah baliho besar yang menjulur dari lantai teratas hingga bawah, bertuliskan 'Nesia I Love You' atau semacamnya. Lalu tertebar warna-warni confetti dan dan si cowok itu ada di atap dan berteriak hingga seluruh penjuru sekolah dengar 'Nesia, aku mencintaimu! Aku tidak bisa hidup tanpamu! Jadilah kekasihku!" oke, Nesia sendiri sadar bahwa omongannya terdengar begitu lebay, dan sinetron banget. Maklum sih, ia mendadak jadi kepikiran tentang salah satu adegan sinema remaja di negerinya dahulu, "Itu pasti akan menjadi confession yang paling romantis dan menyentuh~" gadis itu menangkupkan kedua tangan dan menyangga dagunya. Pandangan matanya terlihat memberi dreamy looking pada khayalan absurd apapun yang tengah ada di otaknya.
Dan beberapa detik, ia tidak mendengar respon dari si penelpon misterius.
"Hei? Kau masih ada di sana, 'kan?" tanya Nesia memastikan, setelah ia keluar dari romantisme norak di otaknya barusan.
"W-well, sorry. Aku hanya meyakinkan diriku untuk tidak muntah di sini setelah mendengar ucapanmu barusan," terdengar dengusan dari sana.
"Kau menghina nasehatku?" tanya Nesia dengan nada sedikit kesal.
Terdengar tawa lirih yang begitu merendahkan, "Ha—ha! Itu tadi nasehat? Untuk siapa? Siapa cowok yang mau melakukan hal norak dan memalukan seperti itu?"
"Hei Tuan. Kau bertanya pendapatku dan aku hanya menjawabnya!" ujar Nesia kesal ketika pendapatnya mendapat label 'norak' dan 'ga laku' dari si penelpon itu.
"Saranmu itu mustahil untuk kulakukan, tahu?! Baliho… confetti… atap… Kau menyuruhku melakukan hal semerendahkan itu bagi harga diri laki-laki manapun?!"
Geez… orang ini kenapa sih?
"Aku hanya memberimu nasehat dan pendapatku," nada Nesia terdengar keki sekali, "Kalau kau tidak terima, ya silahkan tanya pada yang lain atau pake caramu sendiri. Kenapa kau jadi sewot begini, sih?"
"A-Apa—M-maksudku, kau itu t-terdengar—Ck! Seleramu itu pasaran, c-c-cheesy, sappy—d-dan—Geez!"
Klik. Sambungan terputus.
Dan sumpah, Nesia rasanya menjadi kesal sendiri. Kenapa penelpon itu marah-marah begitu pada pendapat Nesia? Jika memang tidak ingin memakai pendapat Nesia, ya sudah, tak usah pakai, beres toh? Tak perlu harus terdengar marah, gugup, dan malu seperti itu.
Tidak seperti Nesia adalah orang yang menjadi sasaran pernyataan perasaan orang itu saja, 'kan?
Dan Nesia langsung mengakhiri siaran hari itu, ketika periode istirahat telah berakhir oleh dering bel masuk. Setelah mengucapkan salam dengan nada ceria lantas menon-aktifkan semua peralatan siarannya, gadis itu segera merapikan peralatan siarannya. Keluar dari Ruang Klub dan tak lupa menguncinya, ia berjalan perlahan menelusuri lorong dan menuju ke ruang loker murid. Karena ia tidak lagi mendapatkan ujian di periode kedua di hari ini, maka ia bisa langsung pulang.
Membuka lokernya, gadis itu mengganti sepatu flatnya dengan sneaker putih, lantas meletakkan beberapa buku dari tasnya dan dimasukkannya ke dalam loker.
Saat ia hendak kembali menutup pintu loker, gerakan tangannya terhenti ketika tatapannya terarah pada sebuah kotak kecil berwarna perak, yang terletakkan dalam sudut lokernya. Mengambil kotak itu perlahan, ia lantas membuka penutupnya.
Dan terlihatlah tumpukan benda-benda mirip kertas, yang tertata rapi di dalam kotak itu.
"Suatu saat…," menghela napas dalam-dalam, jemarinya membelai pelan kertas yang tertumpuk di bagian paling atas, "Suatu saat, kuharap aku bisa memberikan surat-surat ini kepada penulisnya, atau lebih baik lagi, kepada orang yang menjadi tujuan surat-surat ini."
Ia harap, saat mengembalikan surat-surat misterius tersebut, semua akan berada pada akhir yang indah.
-oOo-
Keesokan harinya, saat periode istirahat baru dimulai, Nesia melangkah keluar kelas. Sebelumnya Lovino menawarinya untuk ikut bersama ke aula utama Hetalia High untuk turut membantu dekorasi, tetapi gadis itu menolak dengan alasan bahwa ia ingin ke kantin saja. Sekalipun terdengar wajar, tetapi nyatanya Nesia terpaksa membohongi sahabatnya tersebut karena permintaan sahabatnya yang lain, yakni Antonio.
'Saat istirahat, tolong temui aku di ruang Klub Musik. Ada yang ingin kusampaikan padamu, berdua.'
Sms singkat itu meninggalkan rasa penasaran yang sangat kuat di hati Nesia. Tidak hanya terkesan misterius, tetapi juga tidak biasa ketika Antonio menolak untuk membawa serta siapapun, termasuk Lovino, sahabat mereka sendiri.
Memangnya apa yang ingin disampaikan pemuda itu pada Nesia?
Saat ia baru membuat tiga langkah pasca keluar dari pintu kelas, pandangan gadis itu mengarah ke arah halaman depan sekolah dan tanpa sengaja, pandangan matanya menatap ke suatu arah. Lebih tepatnya, ke seseorang.
Seseorang itu tengah berjalan melintasi halaman. Sebelah tangannya mengapit benda yang kelihatan seperti map berisi berkas-berkas. Pantoefel hitamnya tampak melangkah cepat-cepat, seperti ia tengah terkejar oleh waktu. Orang itu berambut pirang pasir, dengan gaya acak, tidak begitu tinggi, beralis tebal, dan memakai name tag dengan tulisan Arthur Kirkland.
Sebuah senyuman lebar terlukis di bibir Nesia dan entah bagaimana, ia spontan mendekat ke arah pembatas balkon di depan kelasnya. Tangan kanannya terangkat tinggi dan ia sedikit berlonjak.
Niatnya sih ingin meneriakkan nama pemuda itu—namun tak ada bahkan gumaman kecil keluar dari mulutnya. Tenggorokannya rasa tercekat—seluruh kalimat yang ingin diucapkannya seolah kena lampu merah tidak kasat mata di tenggorokannya. Macet. Berhenti. Keningnya bertaut bersama dengan dahinya yang sedikit mengerut. Lantas, perlahan, senyuman lebar di bibirnya perlahan memudar bersama dengan tangannya yang kembali luruh.
Tidak ada yang aneh sebenarnya. Arthur Kirkland masih tampak biasa. Seperti Arthur yang biasa dan selalu dan sama seperti Arthur yang selama ini ia kenal dan lihat. Tidak ada yang berubah.
Hanya saja…
Hal yang terasa begitu aneh adalah justru hal yang tidak kasat mata. Tidak bisa dijangkau oleh logika. Dan tersembunyi di dalam sini.
Karena, sejak kapan dan bagaimana bisa ia berekspresi segembira itu ketika menatap Arthur Kirkland?
Mengapa ia tersenyum selebar itu bahkan hanya ketika menatap pemuda itu berjalan di halaman yang notebene berada cukup jauh dari balkon ini? Mengapa ia ingin berteriak dan memanggil namanya hingga mengangkat tangannya tinggi-tinggi? Seolah-olah ia ingin Arthur menoleh dan menyadari keberadaannya?
Ludah itu tertelan dengan begitu sulitnya, di tenggorokannya.
Tidakkah perasaan ini cukup aneh?
Mengapa segembira ini? Mengapa sebahagia ini? Tidak sama dengan kegembiraan yang ia rasakan ketika menjumpai Senior Alfred atau temannya yang lain. Rasanya… kebahagiaan ini berbeda dengan yang ia rasakan terhadap teman, sahabat, bahkan keluarga.
Dan lebih aneh lagi ketika Arthur Kirkland, Senior penindas yang selama ini begitu diantipati oleh Nesia, justru menjadi sumber dari semua perasaan itu.
Perasaan ini…
Tidakkah familiar? Seperti yang ia rasakan terhadap—
Nesia mengalihkan pandang dari arah sebelumnya—Arthur yang melintasi halaman sekolah, demi meraih benda yang menyebabkan saku blazernya sedikit bergetar halus. Ditatapnya layar ponselnya yang berkedip dan menampilkan satu pesan singkat.
"Antonio," gumam gadis itu ketika membaca nama pengirim surat tersebut.
Gadis itu mendecak kesal pada dirinya sendiri karena nyaris melupakan apa tujuan dia keluar kelas pada periode istirahat ini. Bodoh.
Sudah berapa menit yang ia habiskan hanya untuk berdiri di balkon dan memandang ke arah halaman, dan membiarkan Antonio menunggunya di Klub Musik?
Mengapa pikirannya bisa demikian terpecah demikian!
-oOo-
Annesia bersyukur ketika ia telah berdiri di depan pintu yang resmi menjadi ruangan Klub Musik.
Semua pemikiran yang ia miliki sebelum ia berlari kesini, nyatanya tidak sesepele yang ia bayangkan. Pertanyaan-pertanyaan absurd itu terus saja berputar-putar di otaknya layaknya kaset rusak. Membuatnya bingung. Tidak tahu. Tidak mengerti. Merasa aneh. Tidak biasa.
Ada apa dengan dirinya sekarang ini, demi Tuhan!
Semakin ia melangkah, semakin ia merasa aneh pada dirinya sendiri. Semakin ia mempercepat langkah, justru bayangan akan dirinya yang begitu gembira ketika melihat Arthur, semakin jelas terulas di otaknya. Semakin ia berniat melupakan, perasaan ini justru semakin menggila.
Dan akhirnya, untuk memecahkan pemikiran dan perasaannya, ia harus segera sampai pada Antonio. Mendengarkan apapun yang akan pemuda itu katakan padanya. Mengatakan apapun untuk merespon ucapan Antonio. Apapun. Untuk membuatnya fokus. Untuk membuatnya memiliki fokus lain untuk diperhatikan oleh otak dan hatinya. Agar pikirannya cukup sibuk oleh permasalahan apapun yang dialami Antonio, sehingga ia bisa lupa dengan semua ini.
Untuk itulah, gadis itu melakukan lari sprint cepat-cepat agar segera sampai ke Klub Musik. Dan akibatnya, kini ia merasa nyawanya berada di ujung ubun-ubunnya.
Setelah mengatur napasnya sejenak, ia kembali menegakkan tubuhnya dari posisi bersangga lutut. Membuka pintu perlahan, kepalanya melongok ke dalam.
Dan tidak membutuhkan waktu lama baginya untuk melihat kumpulan surai coklat tua yang tumbuh di kepala dari tubuh yang terduduk membelakanginya.
"Antonio."
Sapaan Nesia terjawab oleh kebisuan ketika Antonio bahkan tidak menunjukkan perubahan dalam posisi duduknya—atau sekedar menolehkan kepalanya. Pemuda itu terlihat terduduk di kursi berwarna putih, dengan sebuah piano hitam metalik yang terdapat di depan kursi tersebut.
Tak perlu bertanya, Nesia tahu bahwa Antonio tidak sedang ingin memainkan piano tersebut. Keahlian bermusik pemuda itu bukanlah di instrumen musik raksasa itu, tetapi di instrumen bersenar yang ia petik dengan lihai oleh tangannya—gitar.
Menutup pintu kembali, Nesia melangkah maju ke arah Antonio. Lantas mendudukkan diri di kursi panjang yang terletak di sisi lain dari piano tersebut.
Dan betapa herannya Nesia ketika ia melihat wajah pemuda itu, ia disuguhi pemandangan seolah-olah di atas kepala sahabatnya tersebut, menggantung awan hitam kelam yang siap menurunkan hujan.
Dengan kata lain, tak ada yang dapat dilihat gadis itu selain ekspresi muram, sedih, dan duka.
Ada apa?
Apa hal yang cukup buruk hingga membuat seorang pemuda yang ceria, hangat, dan senantiasa memandang dunia seolah adalah taman bermain yang luas, kini nampak tengah menanggung beban berton-ton di pundaknya?
Nesia memutuskan terdiam—ia ingin menunggu Antonio yang memulai pembicaraan. Pemuda itu seperti tengah terlarut dalam pemikirannya sendiri. Pandangan emerald nya senantiasa mengarah pada tuts hitam dan putih dari instrumen di depannya. Sebelah tangan terpangku di pahanya, dan sebelah tangan yang lain terkulai di atas beberapa tuts tersebut. Namun Nesia yakin, Antonio menyadari kehadirannya. Mungkin pemuda itu tengah mempersiapkan hatinya untuk mengatakan sesuatu atau apa…
Jemari dengan kulit kecoklatan itu bergerak perlahan, menekan beberapa tuts dari piano itu. Membuat bunyian dan nada musik yang terdengar tidak signifikan. Tidak berirama. Tidak berdasar. Seolah-olah jemari itu menekan tuts itu secara asal dan sama sekali tidak peduli dengan nada yang dihasilkan oleh sentuhan jemarinya.
Hanya sejenak, hanya beberapa nada saja yang terdengar, sebelum jemari itu kembali berhenti dan kembali terkulai.
"Permainan pianoku jelek sekali, 'kan?"
Dari semua kata yang Nesia kira akan diucapkan oleh Antonio, gadis itu sungguh tidak menyangka jika kalimat itulah yang akan dikatakan pemuda itu. Nesia memandang tidak mengerti ke arah Antonio. Dan semakin tidak mengerti ketika dilihatnya Antonio tidak menoleh padanya.
Masih menatap tuts piano di depannya, seolah gumaman lirihnya tadi bukan untuk Nesia.
"Well," Nesia tersenyum kecil, "Piano 'kan memang bukan keahlianmu. Semua juga butuh proses belajar—"
"Nada yang kuciptakan sama sekali tidak enak didengar. Buruk. Aku tidak bisa memainkan piano ini. Nadanya buruk, tidak enak."
Kedua alis Nesia sedikit menurun ke bawah, merasa prihatin sekaligus tidak mengerti akan maksud ucapan Antonio. Oleh sebab itu, ia putuskan untuk terdiam dan menunggu kelanjutan ucapan Antonio. Karena ia tahu, pasti Antonio memanggilnya kemari bukan untuk bercerita bahwa ia merasa payah dalam hal memainkan alat musik bernama piano.
"Sudah berkali-kali aku mencoba memainkannya, tetapi tidak pernah bisa," kepala bersurai coklat itu menggeleng pelan, "Aku sendiri bahkan tidak menyukainya."
"Sejak kapan kau menyukai piano, Antonio?" tanya Nesia lirih. Karena setahu gadis itu, pemuda itu sangat mencintai keahliannya dalam bermain gitar. Dan setahu Nesia, ia tidak pernah melihat atau mendengar bahwa Antonio memiliki kesukaan baru pada instrumen musik yang lain.
"Aku tidak menyukai piano," kepala itu menggeleng, membuat Nesia semakin heran, "Aku hanya suka akan nada yang dihasilkannya."
"Nada?"
"Ya. Kau tahu? Aku suka mendengar suara petikan gitar, tetapi dalam saat-saat tertentu, aku sangat suka mendengar suara dentingan piano. Di saat-saat tertentu, aku bahkan rela menghentikan permainan gitarku hanya untuk mendengar dentingan piano."
"Jika memang itu yang kau mau, kau bisa menyuruh temanmu yang pandai bermain piano untuk mengajarimu—"
"Aku hanya suka mendengarnya. Aku tidak mau belajar memainkannya."
"Kau bisa meminta temanmu untuk memainkannya untukmu—"
"Dan aku hanya suka mendengar dentingan piano dari satu orang saja," kedua mata itu menyipit memandang tuts piano itu. Jakun itu bergerak kecil ketika ludah itu tertelan paksa, "Bella Van Hardt."
Semua sekarang terdengar dan tampak masuk akal, bagi Nesia.
Harusnya ia tahu satu-satunya alasan yang mampu membuat Antonio kehilangan keceriaannya. Harusnya ia ingat akan satu orang saja yang mampu menjungkirbalikkan sifat, sikap, dan seolah seluruh dunia sahabatnya. Harusnya ia ingat bahwa penderitaan apapun, tidak akan mampu membuat Antonio demikian terpuruk selain karena Senior Bella Van Hardt.
Dan rasanya, bahkan sebelum mulut itu melanjutkan ucapannya lebih jauh lagi, Nesia sudah mampu menduga apa saja yang akan didengar oleh telinganya.
Hanya melalui tatapan emerald yang tampak sendu itu, Nesia sudah mengetahui semuanya.
"Tetapi sekarang, aku tidak akan pernah mendengar nada itu lagi," kepala itu menggeleng lirih, "Rasanya aneh sekali, kau tahu? Saat masuk ke Ruang Klub dan tidak akan pernah mendengar nada yang sangat kusukai… lagi."
Nesia memilih untuk terdiam. Mengalihkan pandang untuk menatap pada tuts hitam dan putih, yang mana tangan Antonio masih terkulai lemas di atasnya.
"Senior Bella merupakan pianis andalan klub ini, lho," jelas sekali ada nada kebanggaan dalam suara itu. Bahkan tanpa melihatpun, Nesia bisa membayangkan adanya seulas senyum dan tatapan mengulas, di wajah kecoklatan milik sahabatnya itu, "Beberapa kali ia tampil dalam perlombaan, baik secara individu ataupun grup. Ia begitu lihai memainkan instrumen ini. Jemarinya bergerak tenang, santai, seolah memang jemari itu diciptakan untuk menciptakan nada terindah yang akan pernah kudengar. Kedua matanya akan menutup rileks, tenang, seolah ia tengah melihat not tak kasat mata di pikirannya, dan menuangkannya dalam alunan musiknya. Ia tak akan pernah gugup, atau grogi, bahkan ketika ia tampil di panggung dan disaksikan begitu banyak pasang mata."
Rasanya, Nesia bisa membayangkan semua itu.
Tidakkah Senior Bella terdengar begitu sempurna? Cantik. Baik hati. Pandai. Pintar dan lihai bermain piano pula.
Apa yang kira-kira menjadi kekurangan gadis itu, yang bisa ditemukan oleh Nesia?
Tidak ada?
"Dan aku akan selalu memintanya untuk memainkan satu dua lagu musik untukku. Aku akan duduk di sampingnya—memerhatikannya yang tampak asyik dengan permainan pianonya sendiri, seolah aku tidak kasat mata. Terkadang pula, kami melakukan duet. Dia dengan pianonya dan aku dengan atau tanpa gitar, dan menyanyi bersamanya," terdengar helaan napas dalam-dalam, "…Rasanya, aku tidak bisa mengingat saat-saat kebersamaan kami yang paling mengesankan dari itu—yang membuatku bersyukur bahwa aku terlahir di dunia dan menjadi salah satu dari sekian banyak orang, yang bertemu dengannya."
"…."
Antonio menghembuskan napas keras. Jemari tangan kanannya membelai permukaan beberapa tuts piano tersebut, "Tetapi kini, ia sudah lulus dan tidak akan berada di sini lagi. Tidak ada dia di ruang ini lagi. Tidak ada nada yang sama yang akan kudengar lagi."
"…."
"Dan tak akan ada yang pernah menggantikannya—tak peduli seberapa lebih baguspun permainannya dibandingkan dengan Senior Bella."
Menelan ludah, Nesia menoleh dan memberi sebuah senyum kecil kepada Antonio, "… Apa ini ada hubungannya dengan kelulusan Senior Bella?"
Nesia tidak terlalu terkejut ketika melihat anggukan Antonio sebagai jawaban dari pertanyaan retorisnya.
"Tidak hanya dia pergi dari sekolah ini, tidak hanya aku bakal sulit melihatnya lagi, tidak hanya dia akan memasuki universitas sebagai mahasiswi baru, cantik, pandai, dan pasti menarik perhatian mahasiswa senior di sana…," Nesia dapati sebelah telapak tangan Antonio mengepal bersama dengan suaranya yang melirih, "… Tetapi dia juga telah pindah ke luar kota, Nes. Dia tidak berada di sini lagi."
Sungguh, Nesia merasa sangat prihatin dengan sahabatnya tersebut. Nada, suara, tatapan, dan semua yang tampak dari diri Antonio sekarang terasa begitu jelas meneriakkan betapa pemuda itu merasa terluka atas kepergian Senior Bella.
Nesia paham. Karena pemuda itu melakukan segala cara untuk menemui Senior Bella—termasuk pindah ke Carolina Utara dan mendaftar di Hetalia High. Tetapi hanya setahun saja mereka bersama, sebelum kini pemuda itu harus berpisah kembali dengan orang yang amat dicintainya.
"Antonio…," Nesia ingin mengucapkan sesuatu—apapun untuk menghibur hati pemuda itu. Tetapi ia tidak berani mengucapkan kalimat hiburan jika ia tidak berada—tidak pernah berada dalam posisi Antonio.
Oke, dahulu ia memang pernah ditinggal pergi oleh Willem dan merasa sangat terluka. Tetapi setidaknya, Nesia tidak pernah melakukan segala cara hingga pergi menyusul Willem kemanapun pemuda itu berada. Mungkin, perasaan Nesia dahulu tidaklah sekuat perasaan sahabatnya terhadap Senior Bella.
Antonio menghirup napas dalam-dalam sembari memejamkan kedua matanya. Bibir pemuda itu tampak jelas terlihat memaksakan senyum kecil—sangat terlihat begitu ragu untuk menarik bibirnya dan membentuk sebuah lengkungan kecil di sana.
Entah apa yang pemuda itu pikirkan, Nesia tidak tahu. Yang jelas, gadis itu bisa melihat bahwa sedikit demi sedikit, ada sedikit ketenangan yang mampu terefleksikan dari wajah kecoklatan itu. Ada sedikit upaya pengurangan luka dan kesedihan di sana. Meski kecewa itu belum sembuh sepenuhnya—tetapi Nesia bisa melihat bahwa Antonio berusaha memberikan penenangan pada dirinya sendiri.
Nesia merasa menjadi sebagai seorang sahabat yang tidak berguna—selain mendengarkan, tidak ada yang bisa ia lakukan, berikan, atau ucapkan.
"It's okay…," gumam Antonio setelah menghela napas berat. Sebuah senyum kecil tampak di bibirnya, "It's okay. Semua ini hanya masalah jarak, bukan? Dia hanya pergi. Hanya soal jarak—ya, hanya soal jarak," pemuda itu terdiam sejenak sembari memandang piano di depannya. Tatapannya seolah mengulas sesuatu—mungkin mempertimbangkan kalimat yang baru saja terucapkan olehnya.
Lantas, pemuda itu menoleh pada Nesia, dan memberikan sebuah senyuman yang lebih lebar dari yang sebelumnya ia tampakkan, "Aku tidak akan menyerah, Nes. Ini hanya soal jarak. Tiga tahun bukanlah waktu yang sedikit bagi perjuanganku, untukku mampu menyerah di sini saja."
Dan jelas, sangat jelas Nesia bisa melihat tekad dan niat dalam tatapan emerald tersebut.
Bahwa Antonio tidak akan menyerah. Bahwa Antonio telah mencintai Bella demikian lama untuk pemuda itu mampu menyerah sekarang. Bahwa, mungkin, pemuda itu akan kembali mengejar dan mencari di manapun Seniornya tersebut berada.
Demi cintanya. Demi kasihnya.
Saat sebuah senyum kecil terulas di bibir Nesia, gadis itu berbisik dalam hatinya akan betapa Senior Bella menjadi wanita paling beruntung di dunia.
Dan Nesia harap, suatu saat nanti, Senior Bella akan mampu menyadari dan melihat betapa beruntungnya dirinya.
"Tentu saja, Antonio," senyum Nesia makin melebar, "Jika Julius Caesar bisa menemukan Cleopatra yang berbeda benua dengannya, mengapa kau tidak bisa menemukan Senior Bella yang berada dalam satu negara denganmu?"
Nesia rasakan kalimat itu terucapkan dengan begitu mudah dari mulutnya. Meluncur begitu saja dari lidahnya, seolah kata-kata itu berasal dari lubuk hatinya.
Hatinya…
Kedua alis gadis itu sedikit mengerut ketika sebuah pemikiran hadir di otaknya.
Hatinya… ada apa dengan hatinya?
Ia memang merasa sedih dan turut kecewa mendengar ungkapan duka dari Antonio. Ia sedih melihat pemuda itu murung. Ia terluka melihat pemuda itu seolah kehilangan bagian dari jiwanya untuk bertahan hidup. Sungguh, Nesia sedih dan terluka.
Akan tetapi… tidakkah aneh jika luka yang kini ia rasakan tidak sama dengan luka yang dahulu selalu ia rasakan?
Ia kini memang sedih, tetapi rasa sedih itu tidak cukup mampu membuat air mata menuruni kedua matanya. Ia memang terluka, tetapi rasa terluka itu tidak cukup kuat untuk berpikir bahwa hatinya terkoyak dan tercabik rata. Rasa sakit ini berbeda. Rasa luka ini tidak sama.
Kemana rasa nyeri itu?
Bukankah dahulu, ia seketika menangis bahkan ketika mendengar kalimat pertama ungkapan kasih sayang Antonio terhadap Bella? Tetapi kini, Nesia merasa heran pada dirinya sendiri bahwa ia masih bisa bertahan dan merasa baik-baik saja, bahkan ketika mendengar selama beberapa menit, semua ungkapan cinta, rindu, kasih, dan terluka dari Antonio terhadap Senior Bella?
Bahkan… tidak seperti biasanya, Nesia tidak berpikir bahwa ia ingin mengobati luka Antonio dengan kehadirannya di sisinya dan menggantikan Senior Bella.
Tidak. Sama sekali tidak terbersit pikiran dan keinginan untuk itu—tidak seperti biasanya.
Dan lebih aneh lagi ketika gadis itu justru merasa lega ketika menatap bahwa Antonio memiliki tekad kuat untuk tidak terus terpuruk karena kepergian Senior Bella. Ada perasaan senang ketika mendengar bahwa perjuangan Antonio masih berlanjut untuk mendapatkan cintanya.
Alih-alih merasa sakit dan terluka, Nesia bahkan merasa rela.
Rela, seolah ia tidak mendapatkan kerugian apapun dari tekad dan niat Antonio untuk terus berharap pada Senior Bella.
"Apa yang kau pikirkan, Nes?"
Pertanyaan Antonio tersebut sukses mengantarkan Nesia kembali dari lamunannya. Gadis itu menatap Antonio dan memandang bahwa pemuda itu tengah memberi sorot heran kepadanya.
Argh! Pasti Antonio tadi mengucapkan sesuatu dan Nesia tidak mendengarnya.
Tersenyum kecil, Nesia berusaha menutupi perasaan malunya, "T-tidak. Aku hanya berpikir bahwa—kau sangat mencintai Senior Bella begitu lama dan terus memperjuangkannya," ujarnya separuh bohong. Tentu saja, ia melewatkan bagian di mana ia memikirkan perubahan hatinya terhadap pemuda di depannya.
"Ah," Antonio meringis kecil, "Ya, aku tidak bisa melihat gadis lain, sih. She's the woman worth the fight."
Nesia mengangguk ketika bayangan Senior Bella singgah di otaknya. Cantik, manis, pandai, baik, dan Nesia dengar, juga pandai memasak.
Seorang wanita yang rasanya, selamanya Nesia tidak pernah mampu menjadi sepertinya.
"Tapi aku yakin, kau akan bisa mendapatkannya," ujar Nesia sungguh-sungguh, "Tidakkah kalian begitu dekat? Maksudku, kalian seperti orang pacaran saja."
Tawa kikuk terdengar dari mulut itu, membuat Nesia memandang geli ke arah sahabatnya, "W-well… Kuharap juga begitu. Kuharap, perlahan-lahan, aku bisa menghapus Senior Ludwig dari pikiran dan hatinya."
"Awww…," becanda, Nesia menyenggol pelan lengan Antonio. Senyum gelinya semakin melebar ketika pemuda itu tampak makin kikuk dan gugup, "Tentu saja, Ksatria Carriedo. Sebentar lagi, kau akan bisa membawanya pergi bersama kuda putihmu."
Antonio tertawa, "Nes, please. Itu terdengar cheesy sekali."
Nesia tertawa kecil pula. Setelah terdiam, gadis itu menatap Antonio dengan tatapan seolah tengah mengulas sesuatu. Tatapannya yang begitu menelisik, ternyata membuat Antonio cukup heran juga ketika ditatap demikian oleh sahabatnya, "Ada apa, Nes?"
Tersadar, Nesia menghela napas sembari menggeleng-gelengkan kecil kepalanya. Ia mengalihkan pandang dari Antonio, "Tidak, hanya saja, memikirkanmu dan Senior Bella, aku teringat akan sebuah surat yang dahulu, rajin sekali menyambangi H-Radio."
Surat misterius.
"Surat?"
Mengangguk, Nesia melanjutkan, "Surat yang biasanya akan kami bacakan saat siaran. Isinya begitu manis, begitu puitis, seolah hanya dengan rangkaian kata itu, kami semua bisa turut merasakan apa yang dirasakan oleh si penulis."
"Apakah itu surat cinta?"
"Ya," Nesia menatap Antonio, "Seringkali kami membacakannya saat siaran. Masak kau tidak pernah dengar, sih?"
Antonio mengangguk, "Sesekali aku pernah mendengarnya."
"Manis sekali, 'kan? Romantis sekali, 'kan?" ujar Nesia menggebu-gebu, "Jadi, aku langsung terpikir oleh surat itu ketika memikirkanmu dengan Senior Bella. Karena… rasanya, kisahmu itu mirip dengan kisah si penulis surat itu," gadis itu mengendikkan bahu, "Bahkan mungkin kau bisa belajar dari si penulis untuk merangkai kalimat itu, untuk kau kirim pada Senior Bella."
Nesia menghela napas dengan ekspresi kecewa, "Itupun jika kami sudah tahu siapa pengirimnya, atau setidaknya, untuk siapa surat itu ditujukan."
"Jadi, kalian tidak tahu siapa pengirimnya?"
Nesia menggeleng, "Tidak peduli berapa kali kami berusaha mencari tahu dan bahkan meminta terang-terangan saat siaran, tapi tidak, kami tidak mengetahui siapa dia."
Antonio tertawa kecil, "Well, kalau begitu dia termasuk orang yang pandai menyembunyikan identitasnya."
"I bet," Nesia mendengus geli, "Tetapi, meski begitu, aku seolah telah menjadi fans-nya, kau tahu? Aku begitu menyukai tiap kalimat yang ia buat dan betapa tiap kalimat itu membuatku turut merasakan apa yang dia rasakan. Aku selalu menantikan kehadiran surat itu di kotak surat H-Radio—hah, bahkan aku pernah, saat siaran, memohon pada siapapun penulis surat itu, untuk mengatakan, setidaknya, memberikan petunjuk mengenai identitasnya."
"Wow," ujar Antonio bersama dengan helaan napasnya, "Benarkah?"
"Tentu," ujar Nesia serius, lantas menambahkan, "Aku sangat berharap bahwa si penulis bisa mendapatkan siapapun yang dicintainya itu. Setidaknya, orang yang dicintai itu sadar bahwa surat itu ditulis untuknya—ah! Aku mengharapkan akhir yang indah bagi mereka," gadis itu kembali menghela napas. Namun, semua ekspresi kagum dan dreamy-nya, langsung terganti oleh rasa heran ketika ia menyadari bahwa Antonio menatapnya dengan sebuah senyum kecilnya.
Senyum dan tatapan yang selama ini, hanya diberikan Antonio ketika ia mengetahui sesuatu yang tidak diketahui orang lain.
"Apa?" tanya Nesia menyuarakan keheranannya.
"Tidak," senyum Antonio melebar, "Hanya merasa tertarik melihat dan mendengarmu menceritakan kekagumanmu pada surat itu dan penulisnya."
Tentu saja Nesia tidak langsung percaya, tapi ia pikir tidak ada gunanya berdebat untuk sesuatu yang tidak begitu—
"Dan aku, sungguh-sungguh, tersanjung mendengar semua pujianmu barusan, Nes."
—penting.
Ekspresi Nesia jelas mengatakan bahwa ia semakin tidak mengerti akan ucapan Antonio, sedangkan Antonio sendiri malah memperlebar senyumannya—seolah ia tengah merasa geli akan ekspresi bingung dan tersesat Nesia.
"Tersanjung?"
"Ya, tersanjung. Aku tidak menyangka jika aku akan mendapatkan pujian."
"Apa hubungannya?"
"Kau tadi tengah membicarakanku."
"Hah?" demi Tuhan, Antonio bicara apa, sih? "Tapi aku membicarakan surat misterius dan kau bukan penulisnya—"
"Tidakkah kau sendiri yang bilang bahwa isi surat itu begitu bisa mewakili kisahku dengan Senior Bella, Nes?"
Sebentar…
Nesia merasa perlahan-lahan, bisa menemukan titik terang dan benang merah dari semua ini…
Antonio tersenyum kecil, lantas mengucapkan sesuatu yang membuat kedua mata Nesia berangsur-angsur melebar, "Seperti bulan yang tak benar-benar menyinari sang Bumi, begitulah diriku yang tak benar-benar mampu menyinarimu. Seperti mimpi kosong yang tak pernah menggapai realita, seperti itulah diriku yang tak pernah benar-benar mampu menyentuhmu. Seperti udara hampa, begitulah aku yang tidak benar-benar mampu terasa dan terlihat olehmu."
Kalimat itu…
"Cinta, andaikan aku memiliki kuasa untuk memutarbalikkan masa, tak ada yang akan kurubah. karena mencintai sedalam ini, tak akan pernah terulang lagi padaku bahkan hingga seribu tahun lamanya."
Semua kalimat itu…
"Cukup aneh ketika dirimu selalu berada di pikiranku—berulang-ulang seperti layaknya sebuah simfoni karya musik terindah. Konstan. Seperti sebuah mimpi kau hadir di hidupku—senantiasa menyanyikan melodimu terus dan terus, kepadaku. Mengetahui bahwa aku hidup di dunia yang sama denganku, terasa cukup bagiku untuk bersyukur pada Tuhan atas kebahagiaan ini."
Dan Nesia tidak pernah berpikir bahwa kedua matanya bisa lebih membelalak dari ini.
Ditatapnya kedua emerald di depannya yang tampak sedikit berkelip tertimpa sinar mentari dari jendela. Mulut gadis itu setengah membuka, kontras dengan lebarnya senyuman yang terpampang dari bibir di depannya.
"D-da-darimana kau tahu semua surat itu—apakah kau diam-diam mencatat dan menghapalkannya setelah H-Radio menyiarkannya?" tebak gadis itu dengan tebakan paling logis dan paling akal yang bisa dipikirkan otaknya.
Karena… karena tidak mungkin, 'kan, jika Antonio, dari semua orang, menjadi penulis surat misterius itu?
H-Haha…
Mendengar ucapan sahabatnya tersebut, Antonio mendengus geli, sebelum sebelah tangannya meraih kepala di depannya, lantas mengacak-acak kecil rambut hitam itu, "Hei, kau pikir aku begitu kurang kerjaan hingga menulis dan menghapal surat yang dibacakan H-Radio?"
"T-Tapi kau—"
"Hei, kenapa kau jadi ragu begini? Bukankah katamu kau selalu ingin tahu siapa penulis surat itu?" Antonio memasang ekspresi kecewa dan terluka—yang jelas pura-pura, "Apakah kau kecewa bahwa aku adalah idolamu?"
Nesia jelas belum bisa mengerti dan mempercayai semuanya—semua yang dikatakan oleh sahabatnya.
Tetapi tidak mungkin juga, 'kan, Antonio becanda? Lagipula darimana bisa ia bisa menghapal tepat begitu banyak bagian surat yang sudah pernah dibacakan Nesia—dan Nesia ingat betul beberapa bagian surat itu. Lagipula, benar kata Antonio, ia bukanlah tipe pemuda yang kurangkerjaan hingga menulis dan menghapal surat yang dibacakan H-Radio.
"J-Jadi…," Nesia menghela napas dan memandang Antonio, "Kau yang menulis semua surat itu?"
Adalah anggukan yang diterima Nesia sebagai jawaban atas pertanyaannya, "Yep. Kenapa? Tidak pernah terpikirkan bahwa penulis misterius tersebut adalah sahabatmu sendiri, ya?"
Tanpa sungkan-sungkan, Nesia menganggukkan kepalanya. Disingkirkannya secara halus sebelah tangan Antonio yang masih bertengger di pucuk kepalanya, "Aku hanya tidak menyangka kau bisa demikian pandai bermanis kata."
"Hei, sekalipun Lovino mungkin lebih jago merayu wanita, tetapi pemuda Spanyol tak kalah hebat dalam hal romansa, lho," Antonio tertawa lirih, "Tapi terimakasih banyak karena telah jujur akan betapa kau mengagumiku."
Separuh kesal karena merasa ditipu dan merasa bodoh akan dirinya sendiri, dan separuh karena becanda, Nesia memukul pelan sebelah lengan Antonio, "Kenapa kau tidak mengaku saja, sih, padaku? Kau tahu bahwa aku selalu penasaran akan siapa penulis surat tersebut."
"Bukannya aku tak percaya padamu, Nes, hanya saja aku takut jika mungkin Senior Bella tahu," jawab Antonio setelah menghela napas dalam-dalam.
Ah. Sekarang semua terasa sangat masuk akal.
"Kau menulis semua surat itu untuk Senior Bella?" tanya Nesia yang tanpa Antonio responpun, ia tahu apa jawabannya.
"Aku tidak bisa mengatakan secara langsung padanya semua rasa kagum dan cintaku—dia saat itu masih begitu mencintai Senior Ludwig, kau tahu? Jadi… yah, aku tuang saja lewat surat."
"Dan kau bahkan tidak memberikan petunjuk agar dia mengetahui bahwa surat itu untuknya?" bibir Nesia melengkung ke bawah, "Apa artinya semua itu jika demikian?"
"Aku hanya ingin menuangkan perasaanku—dia tidak tahu, tak masalah," Antonio tersenyum, lantas mengendikkan bahu, "Kalaupun aku ingin dia tahu, aku ingin dia tahu lewat mulutku sendiri secara langsung—tidak melalui surat yang dibacakan oleh orang lain seperti itu."
Nesia tersenyum, "Kau sedang begitu lovesick, kau tahu?"
"I really am," Antonio tertawa kecil, "Tapi sekarang, aku memutuskan untuk tidak mengirim surat lagi pada H-Radio dan kau tahu alasannya apa."
"Karena Senior Bella sudah lulus dan tidak ada lagi di sekolah ini?"
Dan helaan napas Antonio ditambah dengan tatapannya yang kembali sendu, cukup bagi Nesia untuk mendapatkan jawabannya.
Mengolah semua informasi ini di otaknya, Nesia merasa seharusnya dirinya tidak begitu terkejut dengan pengakuan Antonio ini. Isi surat itu… surat yang menandakan betapa dalam perasaan penulisnya, betapa lamanya rasa itu telah ada, betapa pemiliknya hanya mampu bertahan dan bertahan tanpa pernah mampu menggapainya. Tidakkah semua itu mirip dengan kisah sahabatnya sendiri?
Antonio yang menuliskan semua surat itu. Semua surat manis dan dalam itu, ditulis oleh Antonio. Untuk Senior Bella. Hanya untuk Senior Bella.
Betapa dalamnya perasaan itu…
Sebelah tangan gadis itu terjulur, menyentuh pundak itu pelan. Sebuah senyum tulus terbentuk di bibirnya, ketika emerald itu menatapnya, "Aku yakin, suatu saat nanti, kau akan mampu mengatakan semuanya padanya lewat mulutmu sendiri, dan membuat dia tahu betapa kau mencintainya."
Harapan Nesia masih sama.
Ia berharap penulis itu bisa memiliki akhir yang indah bersama dengan orang yang menjadi tujuan surat itu.
Dan kini, harapannya masih sama.
Ia berharap Antonio, pada akhirnya nanti, mampu memiliki kebahagiaan bersama dengan orang yang berada di pikirannya ketika menulis semua surat itu—Senior Bella.
Nesia, sungguh dan setulusnya, berharap.
DIS: Nah, itu maksudnya. Kejutan yang saya maksud adalah soal identitas si pengirim surat. Selama ini, sepanjang saya baca review, kebanyakan nebaknya kalau ga Romano ya UK. Entah mengapa saya senang (?). Dan sekali lagi, saya tidak bisa janji untuk update cepet T.T Ihave my own reasons, guys.
Oke, polling udah ditutup anyway. Pairing utama udah ditetapkan berdasarkan major voting. Dan kalian pasti udah bisa nebak apa :D Tapi ini tidak mengesampingkan side pairing lain ya :D /cium (?). Makasih atas partsipasinyaa
Oh ya, saya suka baca review kalian. Lebih suka lagi kalau yang punya akun, silahkan login. Ga usah malu ama saya yang cakep ini :D Ahaha
Tetep review ya, Kukuq…
Salam Ulalaa
DIS
