Hei, saya ada waktu senggang nih. Dan langsung ngetik cepet dan jadi deh :D Ga sempet reread, sih. So, maklum yak, kalau typo bertebaran :D Oh ya, sori chapter kemarin ga ada balasan review. Dan karenanya, jangan lewatkan balasan review di chapter ini yang spesial (?) kayak kehadiran saya di dunia yang fana ini /bleh


Begitu cepatnya waktu berlalu.

Rasanya seperti baru kemarin saja, hawa dingin salju tergantikan oleh hangatnya musim semi. Dan kini, tahu-tahu musim panas telah tiba—menggantikan musim semi yang rasanya begitu singkat. Hujan masih sesekali turun mengguyur, langit sesekali masih tampak mendung—meski tidak seekstrem saat musim semi atau musim gugur. Tetapi yang paling membuat nyaman adalah sinar matahari yang melimpah, seolah menyemangati dunia untuk terus melanjutkan aktivitasnya.

Begitu cepatnya waktu berlalu—ya, betapa cepatnya.

Seiring dengan tergantinya musim semi dengan musim panas, begitu pula dengan kehidupan manusia. Terkadang, tidak bisa kita rasakan atau sadari akan banyaknya hal yang tercipta dalam waktu yang demikian singkat atau lamanya. Terkadang semua terasa baru terjadi kemarin, dan tahu-tahu kini semua telah berubah.

Begitulah yang sekarang terasakan dan terpikirkan oleh Annesia Saraswati, ketika ia mendongak menatap langit biru di atas balkon apartemennya.

Satu tahun berlalu semenjak ia menginjakkan kaki dan memulai kehidupannya di Amerika Serikat ini.

Hal baik, hal buruk, menyenangkan, menyedihkan, semuanya berkumpul menjadi satu membentuk rangkaian memori akan masa lalu.

-oOo-

Axis Power Hetalia © Hidekaz Himaruya

Picture © Sakurazaka Ohime

I just own the plot of the story and I don't gain any commercial advantages by publishing this fic.

Warning: AU, Human Name, High School, OC, OoC yang mendewa, (highly possible) crack pairs, (a lil') Nesia-centric, but no Mary Sue/Gary Stu I assure you :D totally absurd.

Pairing: Anda bisa menebak sendiri mana yang main pairing, dan mana yang sekedar hints dan fans service :p

Ini murni dari pemikiran saya. Maaf jika kebetulan ada kesamaan ide karena setting gakuen sangat banyak di FHI. Itu tidak disengaja :D

Long Live FHI and Say NO to Plagiarism! Mari berkarya dengan hati dan imajinasi :D

Maju FHI!

-oOo-

Di liburan musim panas ini, tidak hanya ia menempuh usia barunya yang mencapai angka 16 tahun, tetapi ia juga akan menginjak masa-masa kehidupannya sebagai senior tingkat dua di sekolah tercinta, Hetalia High.

Terkadang Nesia berpikir bahwa rasanya semua ini sulit ia percayai. Siapa yang sangka ia sudah menempuh waktu setahun dengan demikian terasa cepatnya? Siapa yang sangka ia bisa hidup mandiri di negeri asing selama setahun ini? Siapa sangka begitu banyak orang asing yang ia jumpai dan berteman dengannya? Siapa sangka pula jika begitu banyak memori dan kenangan manis yang ingin ia simpan selalu di benaknya?

Murid kelas tiga sudah dinyatakan lulus sejak beberapa minggu yang lalu—secara resmi mereka bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, yakni universitas. Murid kelas satu sepertinya, resmi menjalani tahun pertama sebagai seorang senior, yakni kelas dua. Pendaftaran murid baru telah dibuka dan proses seleksi sudah dilakukan. Terdapat tiga ratus lebih murid yang diterima baik dari AS atau belahan bumi yang lain—kembali mengingatkan Nesia akan keragaman kultur yang dikandung oleh sekolah tercinta.

Selama liburan musim panas, pada masa itulah murid baru akan digembleng oleh para senior yang mendaftar dalam open recruitment Komite Disiplin. Sedangkan para murid kelas dua selain mereka yang telah mendaftar sebagai panitia atau KomDis untuk MOS tahun ini, dilarang masuk dan dipersilahkan menikmati liburan. Sempat Nesia ditawari oleh beberapa teman untuk turut bergabung, namun gadis itu menolak ketika mempertimbangkan bahwa ia tidak cukup percaya diri untuk memasang ekspresi galak nan judes kepada para juniornya.

Juniornya… yang saat MOS nanti, pasti sangat mengingatkannya pada kehidupan awalnya di Hetalia High.

Nesia masih ingat saat-saat itu—sangat ingat dan betul-betul terekam jelas dalam memorinya.

Ia masih ingat saat itu, saat musim panas. Matahari bersinar cukup cerah—sama seperti saat ini. Ia dengan bangga akan seragam Hetalia yang dipakainya. Ia yang berangkat dengan semangat. Ia yang pertama kali mengenal Antonio Carriedo akibat keabsurdan hari pertama MOS. Ia yang mengenal Arthur Kirkland dengan kesan yang amat buruk dari Nesia terhadap pemuda itu. Ia yang dipermalukan bersama Antonio di tengah taman, ia yang menyanyikan lagu cinta untuk Senior Zwingli, lalu saat ia mengenal Lovino Vargas yang menolongnya terkait hitungan dalam pembagian kelompok Wawasan Wiyata Mandala. Saat acara berkemah, saat hari KBM dimulai dan ia mengenal Klub Radio yang membawanya dekat dengan para rekan sesama klubnya.

Dan semuanya. Semuanya—tak bisa ia lupakan. Tak bisa ia bayang dan pikirkan akan betapa banyaknya yang telah terjadi hanya dalam waktu 12 bulan.

Begitu banyak—hingga rasanya Nesia bisa menulis novel dengan semua itu.

-oOo-

Tidak banyak yang Nesia lakukan saat liburan musim panas. Ia sempat pulang ke Indonesia selama seminggu saja, lantas kembali ke AS karena ia perlu mempersiapkan semua hal untuk menyambut tahun ajaran barunya. Lagipula juga Hetalia High Anniversary makin mendekati hari H plus, klub Radio-nya juga perlu mempersiapkan segala hal untuk menyambut recruitment anggota baru dari para newbie Hetalia High.

Ia sedikit merasa kesepian juga ketika tidak ada ketiga sahabatnya yang bisa diajaknya untuk berlibur bersama. Lovino Vargassibuk dengan persiapan dan kegiatan MOS—ajaib, ketika pemuda itu menyerah menghadapi bujukan Senior Alfred yang memaksanya ikut menjadi anggota KomDis. Katanya sih, wajah dan ekspresi Lovino cukup pantas dan klop banget untuk dimanfaatkan memojokkan mental para murid baru. Mungkin karena kesal dan ingin membuat Alfred berhenti menganggunya, Lovino akhirnya bersedia—sebuah hal yang cukup mengejutkan bagi Nesia dan Antonio, dan membuat kedua sahabatnya itu tertawa ngakak membayangkan MOS yang dipenuhi kalimat 'berwarna' dari Lovino.

Sedangkan Antonio sendiri, menggunakan liburannya kali ini untuk pulang ke kampung halaman, yakni Spanyol. Selain katanya saat itu hawa dan cuaca di Spanyol sedang bagus-bagusnya, juga karena desakan Kakek (Ayah dari Ayah Antonio) yang mengatakan bahwa ia ingin melihat putra, menantu, dan cucu tunggalnya. Meski merasa sedikit iri karena Antonio bisa berkumpul dengan keluarga, tetapi Nesia tersenyum lebar saat melepas kepergian pemuda itu di bandara, bersama dengan Lovino. Karena selain Antonio berjanji akan membawakan oleh-oleh, juga karena Nesia ingin agar pemuda itu menenangkan sedikit hatinya dan merasa gembira, walau hanya selama liburan musim panas ini, dan berhenti meresahkan Senior Bella.

Well, tidak dalam artian Nesia cemburu—tidak. Gadis itu sudah yakin sepenuhnya bahwa ia sudah bisa moved on dari perasaannya terhadap sahabatnya itu. Perasaan yang tidak pernah ia sampaikan dan tidak pernah diketahui oleh Antonio, biarlah semua itu menjadi bagian dari masa lalunya. Terkubur dalam memorinya. Karena yang jelas, semua tidak seperti yang dahulu.

Tidak ada lagi perasaan gugup ketika berada di dekat pemuda itu. Tidak ada jutaan sayap kupu-kupu yang terasa menggelitik perutnya tiap menatap kedua emerald itu. Tidak ada lagi debaran jantung yang menguat tiap mengingat senyumnya, tawanya.

Semua sudah berganti—berlalu seperti empat musim yang telah ia lewati.

Yang jelas, kini, di mata Nesia, Antonio adalah sahabat yang sangat berarti baginya, bersama dengan Lovino. Dan Nesia berharap, selalu berharap bahwa kedua sahabatnya tersebut mampu memperoleh apa yang terbaik bagi mereka.

Jika Lovino sibuk dengan MOS dan Antonio tengah pergi ke Spanyol, maka Lily Zwingli juga tidak turut meramaikan suasana liburan musim panas Nesia karena gadis itu tengah pergi ke California untuk mengunjungi salah satu keluarganya di sana. Sempat Lily mengajak Nesia untuk turut serta—sekalian mendekatkan Nesia dengan Vash atau misi bodoh lain semacam itu—tetapi Nesia cukup tahu diri untuk tidak numpang liburan dengan segerombol keluarga asing yang pastinya, akan membuatnya nanti merasa bagaikan alien tersesat di Bumi.

Dan hari ini adalah hari membosankan lainnya, yang sudah terjadi padanya.

Nesia menghempaskan tubuhnya ke ranjangnya, lantas menatap ke arah atap kamarnya yang berwarna soft cream. Musim panas di Carolina Utara adalah saat yang menyenangkan untuk dipakai liburan. Hangatnya mentari, ramainya dan hidupnya kehidupan, angin yang berhembus sejuk—cocok sekali dipakai untuk melakukan aktivitas di luar. Dan Nesia akan melakukan aktivitas di luar tersebut seandainya ia tidak merasa demikian terasingkan dan kesepian.

Hari ini tidak ada rapat Radio, tidak ada pula rapat panitia publikasi untuk Hetalia Anniversary. Harinya hanya ia habiskan untuk menikmati serial kartun di TV, lantas membaca buku, lantas tiduran seperti orang tidak produktif sama sekali seperti ini. Baru saja tadi ia menerima telepon dari Antonio yang menceritakan kehidupannya di Spanyol—membuat Nesia iri setengah mati tak hanya akan bayangan betapa nyamannya cuaca di Spanyol, tetapi juga akan perasaan bahagia ketika berkumpul dengan keluarga.

Menghela napas hingga poninya tertiup kecil, gadis itu mengedarkan pandangannya ke sekitar kamar. Mencoba mencari sesuatu—apapun yang sekiranya menarik untuk dipandang, atau lebih bagus lagi, bisa dikerjakan dan membuatnya tidak sebegini merasa bosan.

Dan jatuhlah pandangannya pada sebuah benda yang berada di meja belajarnya.

Beberapa lama Nesia tampak termenung memandang benda tersebut. Tatapannya seolah menyatakan bahwa ada sesuatu yang tengah bergejolak di pikiran dan perasaan gadis itu. Pandangannya yang tampak mengulas tersebut seolah jelas menerangkan bahwa benda yang tengah ditatapnya, memiliki kesan tersendiri baginya—setidaknya, mengingatkannya pada sesuatu.

Bangkit dari posisi terbaringnya, ia melangkah menghampiri meja belajarnya.

Tangan kanannya terjulur, lantas mengambil benda tersebut. Didekatkannya benda tersebut dengan dirinya, agar ia mampu melihat lebih jelas.

Melihat lebih jelas dengan dua bola hitam kecoklatannya, akan tiga manusia yang tampak di lembaran memori tersebut.

Tiga manusia yang berdiri berdampingan. Satu gadis yang diapit oleh dua pemuda di masing-masing sisinya. Si pemuda di sebelah kanan tersenyum lebar dan berkacak pinggang, si gadis tersenyum lebar sembari sebelah tangannya merangkul pemuda barusan, dan pemuda yang lain bersedekap dada sembari seulas senyum kecil dan samar, tampak di bibirnya.

Dan sebuah piala terpegang oleh tangan si gadis, beserta medali yang terkalungkan di leher masing-masing orang itu.

Melihatnya, Nesia tersenyum dan berpikir akan kapankah foto itu terambil? Sebulan yang lalu? Dua bulan yang lalu? Atau lebih lama dari itu?

Rasanya baru kemarin saja ia merasa begitu bangga dan bahagia ketika mendapati berita kemenangan itu. Rasanya baru kemarin saja ia tertawa lebar saat menyentuh piala itu dan berfoto bersama dua orang rekannya…

Menelan ludah, pandangan gadis itu mengarah pada foto pemuda yang berdiri di sebelah kiri dari dirinya di foto tersebut.

Dan tanpa sadar, ujung jemari kanannya bergerak lantas menyentuh permukaan kaca pigura tersebut. Menyentuhnya pelan dan lembut, seolah takut jika ia bisa saja membuat kaca tersebut retak menjadi jutaan kepingan kecil.

Dalam hatinya, hanya satu yang ia tanya dan pikirkan.

Sedang apakah Senior Arthur di masa liburan musim panas ini?

-oOo-

Semakin dipikir, semakin tidak mengerti Nesia akan semua yang terjadi pada dirinya. Dahulu, ia bahkan sempat mencap dirinya sendiri sebagai orang tidak waras dan aneh. Berulangkali ia berusaha melupakan semua ini, berulang kali ia mencoba segala cara untuk berhenti memikirkan hal ini, tetapi sekalipun tiada usahanya yang membuahkan hasil.

Malahan, semakin ia berusaha dan ngotot untuk melupakan, maka akan semakin jelas semua ini terasa.

Semua—terkait antara dirinya dan Arthur Kirkland.

Ia masih ingat betapa ia membenci pemuda itu. Betapa rasanya tidak ada yang diinginkannya di dunia ini selain melihat Arthur pergi dan berhenti membuat Nesia merasa sebagai orang yang paling tidak berguna di dunia. Ia masih ingat betapa dirinya antipati terhadap apapun tentang pemuda itu. Setiap tingkahnya menyakiti hatinya, setiap kalimatnya melukai perasaannya. Bahkan hanya dengan tatapan sinisnya saja, Nesia sudah merasa harga dirinya terludahi dan terinjak-injak.

Ia masih ingat betul akan semua hal yang membuatnya rasanya bahkan tak cukup puas jika hanya dengan membunuh pemuda itu.

Benci. Marah. Kecewa. Sangat amat dan teramat benci. Seolah tiada yang lebih Nesia benci di AS ini, bahkan di dunia ini, selain kehadiran Arthur Kirkland dalam kehidupannya.

Namun masalahnya sekarang, entah sejak kapan, ia kini mulai melihat Arthur dalam sudut pandang yang berbeda.

Sedikit berbeda—bahkan mungkin saja, sangat berbeda.

Karena itulah, Nesia sempat merasakan dirinya sendiri sudah gila. Tidak waras. Aneh. Otak miring. Kesambet. Dan semua sifat yang intinya, menerangkan bahwa ia tidak sedang dalam kondisi warasnya.

Entah ini karena hubungan mereka sudah lebih membaik—jauh lebih membaik. Entah karena Arthur telah beberapa kali menunjukkan sikap baiknya pada Nesia. Entah karena mereka telah capai berperang terus-terusan atau apa. Yang jelas, sekarang… ah! Bahkan Nesia tidak bisa mengidentifikasikan dengan jelas dan tepat apa yang tengah dirasakannya.

Tetapi, yang jelas, semua ini, semua perasaan ini, bukanlah perasaan yang asing bagi Nesia. Bukan. Perasaan ini amatlah familiar—bahkan ia kenal. Pernah ia rasakan, dan kini, datang lagi padanya.

Tidakkah perasaan gugup ini sama dengan yang ia rasakan pada Antonio dahulu, tiap pemuda itu berada di dekatnya? Tidakkah debar jantungnya dulu juga segila ini ketika menatap kedua mata Antonio? Dan tidakkah ia merasakan kedua pipinya menghangat bahkan ketika mendengar namanya?

Dan sekarang, semua itu terasakan lagi. Jelas, sangat jelas Nesia rasakan lagi. Bagaikan sekuel dari kisahnya yang tertutup bersama Antonio Carriedo, kini perasaan itu berlanjut lagi.

Tidak, bukan berlanjut. Tetapi baru—perasaan yang baru karena kali ini, sepertinya bukan Antonio-lah sumber dari semua perasaan itu.

Kalau dipikir-pikir, tidak masuk akal juga jika Arthur menjadi sebab dari semua perasaan ini. Sama sekali tidak masuk akal—tidak mungkin bahkan hingga seribu tahun ke depan, mengingat betapa dahulu Nesia membenci pemuda itu hingga mendarah daging. Lebay, iya—tetapi maklum saja, Arthur demikian menjengkelkan dan membuat Nesia rela menjadi kanibal untuk melakukan adegan gore terhadap dirinya.

Namun sekarang?

Entah sejak kapan semua ini terjadi, Nesia juga tidak ingat dan tidak mengerti. Kapan tepatnya ia mulai memandang Arthur dari sudut yang berbeda. Kapan tepatnya hatinya terjungkir-balik dan mengubah semua perasaannya. Kapan tepatnya ia perlahan-lahan bisa melangkah kembali dan merelakan Antonio bersama Senior Bella—setidaknya, merelakan Antonio untuk memperjuangkan cintanya dengan Senior Bella. Dan kapan tepatnya…

Kapan tepatnya kedua matanya menemukan warna emerald lain yang nyatanya, kini tampak jauh lebih indah dari warna emerald seorang Antonio Carriedo yang dahulu begitu keranjingan ia menatapnya.

Dahulu ia begitu membenci bahkan muak akan kedua mata yang senantiasa memberi pandangan sinis kepadanya tersebut. Dahulu ia selalu merasa sakit saat kata-kata umpatan, hinaan, dan makian terucap dari kedua bibir itu. Betapa dahulu rambut pirang pasir itu didaulatnya sebagai rambut terjelek di dunia yang pernah ia temui. Dan betapa dahulu ia berpikir bahwa hati itu terbuat dari batu atau mungkin, terbuat dari api seperti setan, karena Nesia tidak bisa membayangkan seorang Arthur Kirkland yang bisa bertindak berperikemanusiaan.

Namun sekarang, ia bahkan menyerah dalam usahanya melupakan bayangan akan pemuda itu, dari benaknya.

Betapa ia melihat dan menyadari akan adanya keindahan tersendiri dalam warna emerald itu—yang selama ini tersimpan di balik tatapan sinisnya. Betapa ia merasa ada yang salah dengan detak jantungnya, ketika mendapati Arthur tersenyum kepadanya—sebuah perkembangan yang jauh lebih pesat karena kini, seringai dan rengutan itu jarang tampak di bibir itu. Dan betapa terkadang kedua pipinya merona panas ketika mendapati pemuda itu, ketika melihat pemuda itu, ketika mendengar namanya, ketika teringat akan semua masa yang dilaluinya.

Pertengkaran. Makian. Saling teriak. Permusuhan.

Dan momen-momen di mana Arthur bersikap begitu baik dan—uhuk!—manis kepadanya.

Semua terasa tidak wajar, aneh, tidak waras, tidak bisa diterima logika.

Arthur seharusnya bukanlah orang yang bisa membuat detak jantung Nesia menggila—bukan karena rasa takut atau marah, tetapi oleh rasa lain yang membuat gadis itu harus menunduk malu karenanya. Arthur seharusnya tidak mampu membuat gadis itu menahan napas ketika menatap kedua matanya. Arthur bukanlah tipe pemuda seperti Antonio yang ceria, atau Willem Van Hardt yang cukup dewasa. Arthur berbeda dengan dua pemuda yang pernah dicintai Nesia tersebut—sehingga seharusnya, Arthur bukanlah tipe pemuda yang terkadang, mampu memasuki mimpi Nesia.

Mampu membuat Nesia menerawang kembali ke masa lalu dan mengulas semua yang pernah terjadi di antara mereka berdua. Mampu membuat Nesia ingin menyapanya ketika bertemu. Mampu membuat Nesia ingin berlama-lama mengobrol dengannya. Mampu membuat Nesia bahkan rasanya rela untuk berdebat kembali dengannya.

Dan mampu membuat Nesia terkadang membayangkan sehalus apakah rambut itu ketika jemari Nesia tersisirkan ke—

PLAK.

Suara tamparan lirih itu terdengar ketika gadis itu mendaratkan pelan sebelah telapak tangannya pada sebelah pipinya. Bahkan ketika memegang pipinya, ia bisa merasakan suhu di wajahnya yang naik beberapa derajat. Hangat. Merona—sekalipun tanpa ia perlu melihat ke arah kaca.

Menghela napas, gadis itu kembali meletakkan pigura yang ia pegang, kembali ke atas permukaan meja belajarnya. Pigura yang mengabadikan momen di saat Hetalia High yang diwakili oleh kelompoknya, memenangkan posisi sebagai runner-up dalam kompetisi debat nasional, beberapa saat yang lalu.

Setelah menatap sekali lagi ke arah wajah Arthur Kirkland dalam foto itu, Nesia tersenyum kecil, sebelum ia berbalik dan menuju pintu kamarnya.

Rasanya ia ingin makan siang.

-oOo-

Acara makan siang yang awalnya Nesia rencanakan untuk ia lakukan cukup di dalam apartemennya, ternyata tidak demikian ketika ia mendapati ponselnya berbunyi. Sebuah nomor yang tidak tersimpan dalam memori ponselnya, nampang di layar ponsel. Membuat gadis itu sedikit bingung ketika menekan tombol 'yes' dan menempelkan ponsel itu ke telinganya.

"Halo? Ini siapa?"

"H-Hei. Menjengkelkan sekali kau b-bahkan tidak juga menyimpan nomorku, hah?"

Suara itu terdengar marah dan gugup. Dan tentu saja, hanya mendengar jenis suara itu, terutama nada yang sangat familiar itu, Nesia sudah bisa menebak siapa yang menelponnya sekarang ini.

Dan jelas, gadis itu jelas merasakan jantungnya melewatkan satu denyutan singkat yang membuat dadanya terasa sesak—ia merasa pasokan oksigen di udara sekitarnya seketika minus dan membuatnya kesulitan bernapas.

Membuatnya tak bisa berpikir jernih ketika ia sibuk merasakan wajahnya yang sedikit memanas.

Menelan ludah, Nesia merutuki suaranya yang turut tergagap ketika menyahut, "S-Senior Arthur," entah sejak kapan satu nama itu kini terasa begitu aneh dan tak biasa ketika meluncur dari pangkal lidahnya, "M-Maaf. Aku lupa—aku tidak ingat. Lagipula kita juga jarang berkomunikasi lewat ponsel, 'kan?"

Nesia menghirup napas dalam-dalam, merasa takut jika ia benar-benar terdengar kacau akibat suaranya yang tidak karuan barusan. Gadis itu tanpa sadar memegang dada atasnya, memejamkan kedua mata dan menghela napas dalam-dalam sembari berdoa agar apapun yang tengah terjadi pada jantungnya, segera berhenti.

Ia tidak ingin detaknya terlalu cepat seperti ini.

Ia takut jika Arthur mungkin bisa mendengarnya.

Arthur terdengar berdeham kecil, sebelum menjawab, "Well… memang. Tapi setidaknya kau harus menyimpannya saat terakhir kita berkomunikasi dulu—bukannya aku ingin nomorku ada di ponselmu atau apa, hanya saja rasanya tidak sopan jika kau terus-menerus menanyakan 'ini siapa' tiap kali aku menelponmu."

Nesia hanya tersenyum kecil, merasa geli akan sifat Arthur yang tidak berubah—tidak pernah sama sekali mau menurunkan harga dirinya, barang sedikit saja.

"Oke, habis ini akan kusimpan," sahut Nesia pelan, "Janji."

Terdengar Arthur menghela napas, "Baguslah."

Kesunyian berada di antara mereka setelah itu. Nesia terdiam, sembari menunggu apa yang akan diucapkan oleh Arthur. Dalam hati gadis itu tidak habis pikir akan alasan pemuda itu, tanpa diduga sama sekali, menelponnya demikian. Di saat liburan—seolah pemuda itu memang tidak ada kerjaan lain saja hingga menelpon Nesia.

Dan yang paling penting, untuk apa? Tidakkah kompetisi sudah berakhir?

Kesunyian ini sungguh tak nyaman bagi Nesia. Lama-lama ia bisa gila jika ia harus menahan debuman kuat di dadanya dan aliran darahnya yang entah sejak kapan, selalu terasa mengalir hangat tiap kali ia mengingat pemuda beralis tebal itu. Seperti saat ini. Entah sejak kapan, gadis itu tidak tahu. Ia bisa gila juga jika ia harus memikirkan kalimat apa yang harus diucapkannya untuk mengakhiri suasana canggung ini—padahal kapan dahulu ia merasa demikian canggung ketika bersama dengan Arthur? Kapan ia menjadi miskin kosakata yang bisa ia gunakan untuk berucap, ketika bersama pemuda itu? Dan kini, jangankan berucap nyeplos seperti 'Nesia yang dahulu'…

Untuk mengatur napasnya saja ia sudah berusaha keras.

Memikirnya, gadis itu menggigit sebelah ujung bibirnya dengan sebelah tangannya yang makin menggenggam ponselnya dengan keras.

Kenapa.

Kenapa dan ada apa dengannya?

Sejak kapan?

Dan…

Mengapa Arthur Kirkland?

"H-Hei, kau masih ada di sana?"

Ucapan Arthur sukses menerbangkan Nesia dari pikirannya. Gadis itu segera mengangguk pelan, meski ia tahu bahwa Arthur tidak mungkin melihatnya, "M-Maaf, Senior. Aku hanya sedang ada sedikit pikiran," ujar Nesia separuh bohong. Ia memang ada pikiran, tetapi sampai mati ia tidak akan mengakui bahwa Arthur lah objek dari pikirannya beberapa minggu terakhir ini.

Mau mati Nesia diketawain oleh pemuda itu habis-habisan?

"Apakah semuanya baik-baik saja?"

Jujur, menurut Nesia, Arthur bukanlah tipe orang yang akan mengatakan kalimat berindikasikan perhatian dan kekhawatiran seperti itu. Jadi, Nesia hanya meng-"Hah?" dengan pelan dan ragu sebagai jawabannya. Gadis itu hanya merasa bahwa telinganya sedang menipu dirinya sendiri.

Dan sepertinya, apa yang didengarnya benar adanya ketika ia mendengar Arthur menggeram kesal dan pelan, sebelum menjawab, "Aku tanya, apa semuanya baik-baik saja? Dan kumohon, bisakah kau langsung menjawab pertanyaanku tanpa membuatku harus mengulanginya?"

Nesia tersenyum kecil ketika ia merasa bahwa ia membayangkan Arthur yang tengah menatap kesal ke arahnya dengan wajah yang memerah.

Dan gadis itu menikmati perasaan hangat di dalam sini ketika mendapati bahwa Arthur secara tidak langsung, mengakui (meski dengan menghina-hina dan membentaknya pula) bahwa ia peduli akan Nesia.

"Oke-oke. Aku baik-baik saja, Senior," gadis itu tersenyum lebar, "Hanya sedikit pikiran saja—tapi aku baik-baik saja."

Ia sungguh jauh dari kata baik-baik saja ketika selama berminggu-minggu, begitu banyak hal yang ia rasakan dan pikirkan yang membuat dirinya merasa tidak baik-baik saja. Misalnya, mengapa ia justru merasa lega ketika ia mendengar dari Antonio bahwa hubungannya dengan Senior Bella semakin membaik saja? Atau sejak kapan pula ia selalu rajin memandangi potret dirinya bersama tim kompetisinya setiap malam sebelum ia memejamkan mata? Atau mengapa ada emerald lain yang berbeda dengan emerald seorang pemuda Spanyol, yang kerap menghantui tiap mimpinya?

Ia jauh dari kata baik-baik saja.

"Oh, b-begitu," ujar Arthur. Lantas pemuda itu terdengar berdeham pelan, "T-Tidakkah kau pikir kau perlu mencari hal lain untuk menyibukkan pikiranmu sejenak?"

Nesia mengangkat sebelah alisnya, "Menyibukkan pikiran sejenak?"

"Seperti makan siang."

"Ah," Nesia mengangguk, "Aku baru saja hendak makan siang—"

"M-Maksudku di luar," nada suara Arthur terdengar makin tergagap saja, "Aku kemarin mendapat info dari Francis akan satu masakan Asia yang enak dan kupikir… kau…."

Suara Arthur terdengar melirih, seperti pita suaranya tidak bekerja ketika kegugupan itu terdengar demikian kuat di tiap nada ucapannya.

Namun alih-alih meneruskan, Nesia dikejutkan ketika pemuda itu justru mendecak pelan, untuk kemudian bersuara dengan nada penat, "Sudahlah! Ada yang harus kukerjakan! Kututup telponnya!"

Hah?

"T-Tunggu—"

Klik.

Gadis itu hanya menggeram kesal sembari menatap layar ponselnya. Ia sama sekali tidak tahu jalan pikiran Arthur. Tiba-tiba marah, tiba-tiba gugup, tiba-tiba baik, dan tiba-tiba mengesalkan seperti ini! Apalagi?

Dan Nesia benar-benar menepati janjinya—ia menyimpan sederet angka pembentuk nomor ponsel Arthur, di ponselnya.

Menghela napas, gadis itu hanya memandang sederet nomor yang kini telah memiliki status sebagai 'Arthur Kirkland'.

Bahkan hanya memandang nomornya begini saja, nama Arthur Kirkland berulang-ulang terlafalkan tak hanya di pikirannya, bahkan di ujung lidahnya beberapa saat kemudian.

Gadis itu menggeleng pelan—membuyarkan pemikiran yang lagi-lagi datang dan mengacaukan serta membingungkan perasaannya. Ia memutuskan untuk beranjak untuk makan siang saja—apapun untuk menyibukkan pikirannya, seperti ucapan Arthur. Tetapi baru saja ia bangkit dari sofa yang tadinya ia duduki, ia urung melangkah ketika merasakan ponselnya bergetar pelan.

Kali ini sms, dan dari nomor yang sama.

From: Arthur Kirkland

Kau ingin makan siang denganku? Jangan berpikir macam-macam, aku hanya tengah ingin makan makanan Asia. Dan tidak banyak orang Asia yang kukenal yang bisa kumintai pendapat akan rekomendasi makanan.

Dan tidakkah terkadang Arthur bisa menjadi demikian annoyingly cute?

-oOo-

Sepanjang Nesia mempersiapkan semuanya, gadis itu tidak bisa berhenti untuk merasa terheran akan dirinya sendiri. Tidak hanya lagi-lagi dadanya yang merasa sesak dan perutnya yang seperti merasakan sentuhan menggelitik jutaan sayap kupu-kupu, begitu selesai membaca undangan via sms dari Arthur, tetapi juga jemari yang sedikit bergetar bahkan ketika menuliskan kata "Tentu :D".

Tidak biasanya juga ia akan mempedulikan penampilannya ketika bertemu dengan Arthur—prinsipnya dahulu: tak peduli bagaimanapun penampilannya, Arthur tetap akan memandangnya seperti sampah. Dan Nesia tidak pernah mempermasalahkannya—setidaknya, sebelum sekarang, ketika ia telah tiga kali bolak-balik meneliti penampilannya di cermin.

Poni? Oke. Rambut? Terkuncir rapi. Jeans dan kaus? Bersih kok.

Entah kenapa sekarang ia tiba-tiba ingin memakai rok—tetapi buru-buru ia singkirkan pikirkan itu ketika berasumsi bahwa jangankan terpesona, Arthur bisa-bisa menertawai habis-habisan dirinya.

"Sejak kapan preman sekarang tampak anggun dan feminim?" seperti itulah kira-kira ucapan Arthur nantinya.

Uh.

.

.

T-Tunggu.

Apa tadi yang Nesia pikirkan?

Sejak kapan ia ingin membuat Arthur terpesona padanya?

.

.

Gadis itu sadar bahwa tidak akan ada gunanya ia terus berdiri dan menatap dirinya sendiri di pantulan cermin di kamarnya. Bisa-bisa pikirannya semakin aneh dan melayang kemana-mana. Oleh sebab itu, ia menghela napas dalam-dalam, lantas mengangguk mantap, sebelum keluar dari pintu kamarnya.

Dan sebelum saat ia membuka pintu depan, dan mendapati Lovino berdiri di depan sana. Sebelah tangan pemuda itu terjulur, seperti hendak menekan bel pintu apartemen—sebelum tindakannya itu terhenti karena pintu itu keburu membuka.

"Lovino?" tanya Nesia terheran mendapati pemuda itu, "Kau sudah pulang dari acara MOS-mu?"

Lovino menurunkan sebelah tangannya yang semula terjulur, untuk kemudian ia masukkan pada saku celananya, "Pertanyaan retoris karena jelas, sekarang aku berdiri di depanmu."

"Maksudku, kok tumben?" ujar Nesia tanpa menghiraukan kalimat sarkastis Lovino, "MOS biasanya 'kan berakhir sore?"

Lovino mengendikkan bahu, "Aku pulang dahulu."

"Kenapa?"

"Bosan."

Secara mental, Nesia hanya menepuk dahinya. Ia sudah menduga bahwa Lovino bukanlah tipikal orang yang akan menaruh integritas pada tanggungjawab organisasional atau semacamnya.

"Kau ini…"

"Itu bukan tujuanku kemari, Nes," ujar Lovino, lantas pemuda itu meneliti Nesia dari atas hingga ke bawah, "Tetapi sepertinya kau ingin keluar?"

"Ah, ya," menggaruk tengkuknya karena kikuk, Nesia menunduk dan berusaha menyembunyikan wajahnya yang kini kembali memanas, "A-Aku pergi makan siang."

Dan Nesia bersumpah bahwa sekalipun ia tengah menunduk, ia bisa merasakan kuat dan intensnya tatapan Lovino padanya—seolah-olah pemuda itu tengah memikirkan sesuatu, atau berusaha mencari sesuatu yang ingin diketahuinya dari sikap Nesia sekarang.

Setelah lama terdiam, dan sebelum Nesia terpaksa pamit dan mengatakan ia harus pergi, suara Lovino yang terdengar lirih namun tegas, berucap, "…Kebetulan. Aku juga tengah lapar. Kita pergi berdua saja?"

-oOo-

Tidak bisa Nesia memikirkan bagaimana ia bisa berada dalam situasi sekarang ini.

Oke, awalnya ia pikir kehadiran Lovino bersama dengan dirinya dan Arthur adalah cara yang baik bahkan brilian (menurut otaknya yang tidak bisa membayangkan bagaimana canggungnya jika ia bersama Arthur nantinya), untuk mengurangi kecanggungan di antara dirinya dan Arthur. Oleh sebab itu, gadis itu dengan senang hati menerima tawaran Lovino untuk makan siang bersama—tanpa memberitahukan pada pemuda itu bahwa Nesia sudah terlebih dahulu ada janji makan siang dengan orang lain.

Niatnya sih ingin memberi kejutan pada Lovino dan Arthur bahwa mereka akan makan bertiga layaknya teman akrab (semakin banyak orang, semakin ramai, 'kan?). Namun, baru menginjakkan kaki memasuki melewati pintu restoran masakan Asia yang di-sms-kan Arthur padanya, Lovino langsung melotot dan menggeram lirih pada Nesia begitu melihat Arthur Kirkland duduk di salah satu bangku di sana.

Apalagi ketika Nesia meringis lebar sembari melambai kuat-kuat ke arah Arthur, yang juga tengah memberi tatapan seolah-olah ia menatap hal terhoror yang pernah ada di seumur hidupnya.

"Jangan bilang kita akan makan siang dengan dia, Nes?" kentara sekali nada tidak percaya dalam suara Lovino, seperti pandangannya yang bersorot menuduh dan kecewa pada Nesia.

Sedangkan Nesia tidak mengerti dan—ehem!—sedikit merasa tidak suka Lovino berucap seperti itu tentang Arthur (dan inilah herannya, sejak kapan ia peduli dan terlebih, tidak suka akan pendapat buruk orang lain terhadap Arthur Kirkland?), "Kupikir akan jadi menarik jika kita makan bertiga bersama-sama—"

"Dan kau dari awal tahu bahwa kita akan makan bersamanya? Apa? Kau dan dia sudah berjanji makan siang bersama, Nes?"

Sungguh, Nesia tidak mengerti akan mengapa Lovino terdengar seperti menghakiminya demikian, "Iya dan aku juga ingin menerima tawaranmu untuk makan bersama, apa salahnya? Kita teman, 'kan?"

Lovino hanya terdiam. Sempat mulut itu membuka, seperti hendak berbicara dan membalas ucapan Nesia. Namun tak pernah kunjung terucap, karena selanjutnya, mulut itu terkatup rapat.

Dan entah ini perasaan Nesia saja atau apa, tetapi gadis itu melihat ada sedikit sorot luka di kedua mata itu.

Perasaan bersalah segera menyergap hati Nesia. Gadis itu menghela napas, kemudian berucap pelan, "Lovino, bukan maksudku—"

"Ayo kita duduk saja."

Dan itulah yang membuat Nesia berada pada kondisi dan situasi saat ini. Selama sepuluh menit, berada di kondisi dan situasi ini.

Kursi dan meja yang mereka tempati berada di ujung di dekat jendela kaca yang menghadap ke arah taman depan restauran. Sebuah wallpaper berwarna merah dengan ornamen keemasan, menghiasi tembok sekeliling mereka—menjadikan suasana ke-Asia-an, sangat terasa. Harum dan bau masakan terasa familiar di hidung, membuat rindu akan kampung halaman. Belum lagi dengan alunan merdu petikan senar harpa, membentuk nada-nada yang biasa terdengar menjadi ciri khas musik oriental. Harusnya, semua ini menjadi tempat yang nyaman untuk relaksasi sekaligus nostalgia akan rumah—meskipun restauran ini bukanlah restauran dengan masakan Indonesia, akan tetapi, setidaknya, Indonesia adalah bagian dari Asia.

Harusnya nyaman dan rileks, jika Nesia tidak merasa seperti tengah menghadiri makan siang dengan dua pemimpin Amerika dan Uni Soviet di masa Perang Dingin.

Ia terduduk diam di salah satu kursi di samping meja bundar yang mereka tempati. Lovino duduk di sebelah kirinya, sedangkan Arthur Kirkland terduduk di depannya. Beberapa hidangan telah tertaruh di meja mereka—tampak sangat menggiurkan untuk segera disantap. Tetapi, jika saja kedua pemuda itu mau sedikit saja membuka suara dan tidak tampak sibuk dengan kegiatan masing-masing demikian dan membuat semua ini terasa demikian canggung dan menyiksa, maka Nesia akan dengan senang hati melahap makannya dengan hati ringan.

Tapi nyatanya? Gadis itu bahkan tidak bisa menelan makannya tanpa harus merasa tenggorokannya tercekik akibat suasana kaku ini.

Entah apa yang terjadi—ia sungguh tidak tahu. Lovino pasti masih marah padanya, hingga pemuda itu asyik saja tertunduk dan menikmati hidangannya sendiri. Sedangkan Arthur menyamankan dirinya dengan satu cangkir tehnya—dan ketika Nesia sempat menanyakan apa ia tidak lapar dan ingin memesan lebih, pemuda itu hanya membalas dengan tampang dan nada judes, "Aku sudah kenyang."

Nesia menelan makanannya dengan cukup sulit, sebelum dengan kepalanya yang masih sedikit tertunduk, ia memberanikan melirik ke arah depan.

Ia berharap bahwa kehadiran Lovino bersama mereka akan mengurangi kecanggungan dan mungkin, bisa cukup mengalihkan pikiran Nesia dari detak jantungnya yang menggila, bahkan ketika pertama kali ia menemui Arthur di restauran ini.

Sudah berapa lama, ya, kira-kira terakhir mereka bertemu? Sebulan yang lalu, kah?

Rasanya begitu lama sekali.

Lama sekali hingga begitu banyak yang ingin Nesia tanyakan dan bincangkan.

Tetapi tidak bisa. Jangankan untuk mengobrol dan bersikap biasa layaknya mantan rekan kompetisi yang kini mengadakan 'reunian' kecil-kecilan, Nesia bahkan tidak bisa lama-lama menatap wajah itu tanpa harus takut Arthur memergokinya.

Mau ngomong apa Nesia nanti jika pemuda itu tahu wajahnya yang tengah merona?

Dan Nesia buru-buru kembali mengalihkan pandang ke arah makanannya, ketika sesuai dengan dugaan buruknya, Arthur melirik dan memergokinya. Gadis itu bersyukur bahwa ia belum memangkas poninya, karena kini, bagian dari surainya itu bisa menjadi tameng akan mukanya yang merona hangat.

Uh. Si Arthur apa punya mata ketiga di sisi lain tubuhnya, ya, ampe Nesia kepergok demikian?

"Hei."

Nesia menoleh ketika suara Lovino Vargas menyapa telinganya. Dipandangnya Lovino yang mengubah posisi duduknya hingga kini menghadapnya. Sebelah tangan pemuda itu terjulur untuk kemudian menyapukan tisu yang ia genggam, ke sekitar mulut Nesia. Dengan perlahan dan lembut.

"Kau harus memerhatikan kemana arah tanganmu menyendokkan makanan—belepotan begini jadinya," ujar pemuda itu pelan, membuat Nesia rasanya makin merasa malu karena secara tidak langsung dan mungkin secara tidak sadar, Lovino sama saja mengatakan 'Berhenti menatap Arthur layaknya seorang stalker seperti itu.'

"O-oh, aku tidak menyadari—"

"Tentu saja, table manner-nya payah sekali dari dulu," Arthur memotong ucapan Nesia dengan nada seketus tatapannya yang ia lempar pada pemuda berambut coklat yang ada di depannya, "Aku, tahu sekali bagaimana cara dia makan—belepotan begitu bukanlah hal aneh yang perlu dibesar-besarkan."

Nesia menatap tak percaya ke arah Arthur yang demikian tenangnya mengatainya seperti itu. Belum lagi dengan seringai di bibir itu dan tatapan menantang ke arah Lovino—seolah ia menunggu balasan atau reaksi tertentu dari pemuda itu.

"H-Hei, apa yang kau—" lagi-lagi, ucapan Nesia terpotong, kali ini oleh Lovino yang telah menggeser kursinya untuk semakin dekat ke arah Nesia.

"Well, itu bukan hal yang penting. Hal yang perlu dilakukan oleh seorang gentleman adalah memperingatkan, atau membantu, seorang lady membersihkan belepotan yang ada sekitar mulutnya."

"Lady?" ujar Arthur tertawa sinis, "Dimana?"

Uh!

Nesia hanya menyipitkan mata sebal ke arah Arthur.

"Annesia bukanlah seorang lady lemah yang banyak bermunculan di drama atau film Romance-mu, Italia Cassanova," sambung Arthur, semakin menyeringai saja ketika Lovino tampak menyipitkan kedua matanya, "Jika kau benar-benar mengenalnya, tidakkah kau tahu bahwa dia terlalu tomboy dan hyper untuk bisa disebut sebagai seorang Lady? Kau salah mempraktekkan teori gentleman-mu di sini, Italia."

Nesia, sungguh, merasa makin tidak mengerti akan apa yang terjadi antara dua orang ini. Sekarang mereka tidak hanya saling diam dan bersikap bagaikan tengah memiliki Perang Dingin terhadap satu sama lain, tetapi kini mereka sudah saling melempar hinaan dan sindiran.

Belum lagi dengan tatapan terganggu dari Lovino dan seringai merendahkan dari Arthur.

"Kau tidak berhak mengatai Annesia seperti itu, Arthur," ujar Lovino, yang kini merubah posisi duduknya untuk menghadap sepenuhnya ke arah Arthur, "Kau tidak—"

Arthur tertawa kecil sembari mengangkat kedua telapak tangannya, "Wow! Tenang, man. Aku hanya mengomentari perilakumu dan memberi pendapatku tentang sahabatmu. Tidak perlu bersikap tersinggung seperti itu, 'kan?"

Lovino tidak membantah, namun tatapan matanya yang tajam itu seolah mewakili semua niatnya untuk melakukan hal yang lebih keras daripada sekedar bantahan terhadap Arthur Kirkland.

Nesia tidak tahu harus bicara apa dan bagaimana bisa dirinya seolah menjadi objek pembicaran (atau pertengkaran?) dua pemuda itu. Yang jelas ia merasa tidak nyaman dengan semua ini. Awalnya memang, ia sangat senang bisa kembali bertemu dengan Arthur (out of the blue, setelah sekian lama), dan ia pikir mengajak Lovino adalah hal yang tepat.

Siapa sangka jika ia terjebak dalam situasi yang demikian mencekik tenggorokannya.

Baru beberapa menit mereka kembali sibuk dengan hidangan masing-masing, Nesia kembali mendongak terkejut ketika ia mendengar suara umpatan dan pekikan sakit dari Arthur Kirkland. Pemuda itu kini tengah meringis sakit sembari menatap kesal dan marah kepada Lovino yang menatap heran dan tak mengerti ke arahnya.

"Bloody git!" maki Arthur keras, "Apa yang kau lakukan, hah?"

"Apa yang kulakukan?" ulang Lovino tidak mengerti. Tatapannya seheran dengan nada yang ia ucapkan.

"Don't play dumb, sialan! Kau sengaja menginjak kakiku dengan keras di bawah meja, 'kan?" tuding Arthur menatap geram.

Kali ini, Nesia benar-benar merasa penat dan pengap.

Apa-apaan ini? Ia tengah makan siang bersama dengan dua anak TK?

Bibir Lovino melengkung ke bawah, sembari memberi Arthur tatapan tidak mengerti bercampur kecewa, "Hanya karena kita tadi memiliki perdebatan kecil, bukan berarti aku akan membalasmu dengan menginjak kakimu, Se-Ni-Or Arthur."

"Apa? Kau mau mengelak—"

"Hentikan!" Nesia memutuskan untuk menggeram pelan ketika ia sadar bahwa kini mereka tengah menjadi bahan tontonan beberapa dari pengunjung lain restauran tersebut. Ia menatap frustasi pada dua pemuda di depannya, "Ada apa dengan kalian? Tidak bisakah kalian diam dan kita makan dengan tenang?"

"Apa?" Arthur menatap tak percaya ke arah Nesia, "AKU diam dan makan dengan tenang tetapi dia—"

SPLASH!

Mulut Nesia sedikit menganga lebar ketika melihat kepala Arthur tiba-tiba tersiram oleh satu gelas cairan yang Nesia duga sebagai jus jeruk. Pemuda itu otomatis memejamkan kedua matanya saat merasakan sensasi dingin mengguyur tubuhnya dan—

PLUK

—sebagian dari semangkuk sup, memuntahkan isinya di kepala berhelai pirang itu.

B-bagaimana?

"Pfft!" Lovino menahan dengusan gelinya.

Nesia menoleh dan mendapati seorang pelayan restauran yang buru-buru bangkit dari posisi jatuhnya. Tampak oleh Nesia akan nampan yang terjatuh, memuntahkan semua isinya ke lantai (dan sebagian ke kepala Arthur) dengan mengenaskan dan berantakannya. Wajah pelayan itu tampak memerah karena malu, takut, dan gugup, serta buru-buru membungkuk-bungkuk ke arah Arthur yang masih memejamkan erat kedua matanya.

"T-Tuan, m-m-maafkan saya. Sa-saya tidak sengaja—saya tadi tersandung dan saya—"

BRAK!

Tanpa memperdulikan si pelayan yang menyampaikan penyesalan tulusnya, Arthur berdiri dengan tiba-tiba dan menggebrak meja dengan keras. Ia mencondongkan tubuhnya (beberapa potongan daging dan sayuran yang masih nangkring di kepalanya, runtuh ke lantai di sekitar tubuhnya ketika ia demikian), dan melotot geram ke arah Lovino yang kini menahan senyum gelinya, "Ini pasti ulahmu, 'kan?!" tuding Arthur sembari menarik kerah kemeja Lovino—memaksa pemuda itu untuk sedikit memajukan dirinya di atas kursi yang didudukinya.

"S-Senior Arthur—"

"Kenapa kau salahkan aku?" tanya Lovino tidak mengerti, "Jangan salahkan orang lain atas nasib sial yang kau terima."

"Pandai sekali kau bicara, Vargas!" maki Arthur sembari mempererat cengkeramannya, "Kau pasti sengaja menjulurkan kakimu hingga membuat pelayan itu tersandung dan menumpahkan hidangan yang ia bawa, kepadaku, 'kan?"

Lovino hanya mendengus sembari mendecak geli, "Sekarang siapa yang kebanyakan menonton drama picisan? O Arthur, kau tidak berpikir aku melakukan hal semurahan dan seklasik itu, 'kan?"

"Tapi kau tertawa! Kau merasa berhasil dalam usahamu, 'kan?!"

"Siapa yang tidak? Semua orang tertawa dan memandangmu geli. Kau lebih pintar dariku, 'kan? Jangan membasiskan teorimu pada hal sepele macam itu."

"Senior Arthur, Lovino, hentikan!" Nesia melepas paksa pegangan Arthur di kerah kemeja Lovino, membuat Arthur menatap geram ke arah Lovino dan Lovino yang kembali terduduk tenang di kursinya, "Apa yang kalian perbuat, demi Tuhan!" wajah Nesia memerah karena merasa marah dan merasa malu. O Ayolah, sekarang bahkan tidak ada seorangpun di restauran itu, yang tidak tengah menatap ke arah mereka.

"Kenapa kau salahkan aku juga?" desis Arthur yang kali ini menatap marah ke arah Nesia, "Kau jelas-jelas tahu bahwa temanmu ini sengaja melakukan semua ini padaku!"

"Lovino TIDAK mungkin melakukan semua itu padamu!" tegas Nesia, "Hanya karena kau merasa tidak suka keberadaannya disini, tidak lantas membuatmu memiliki hak untuk menuduhnya demikian!"

"Kau pikir apa? Aku mengarang semua ini? Aku menginjak kakiku sendiri dan menjegal pelayan itu untuk menumpahkan makanan ke kepalaku sendiri?!"

"Tentu saja tidak. Mungkin pelayan itu memang tak sengaja terjatuh sendiri dan mungkin kau hanya cukup sebal kepada Lovino sehingga menuduhnya menginjak kakimu!"

O Tuhan, betapa kini mereka sukses memainkan opera gratis di depan puluhan pengunjung restauran yang KEBETULAN sekali, tengah ramai-ramainya di saat siang itu.

Arthur tidak menjawab, namun pemuda itu hanya diam menyipitkan mata kesal ke arah Nesia. Rahangnya terkatup rapat, seolah menahan diri untuk kembali berteriak dan membantah.

Dan saat melihat ada sorot terluka dan kecewa di mata itulah, Nesia baru menyadari akan apa yang barusan ia lakukan dan katakan.

Apa yang barusan ia lakukan…

Yang kini membuat adanya satu cubitan nyeri di dadanya, ketika melihat emerald itu berkilat terluka.

Terlambat untuk menyadarinya, karena Arthur tidak memberi kesempatan bagi Nesia untuk meminta maaf.

Pemuda itu menyambar jaketnya, lantas melangkah lebar-lebar keluar dari restauran itu.

Di saat itulah, ada rasa takut yang menyergap Nesia.

Begitu kuat, hingga ia tak mempedulikan panggilan Lovino yang menanyakan apakah ia baik-baik saja.

-oOo-

"Senior Arthur!"

Teriakan itu terdengar bersama dengan langkah larinya yang sedikit memelan ketika jarak antara dirinya dengan pemuda berbalut jaket hitam itu, telah terkurangi sampai tahap di mana ia rasa bisa ia hapus hanya dengan langkah normal kakinya.

Nesia dalam hati mengucap syukur pada Tuhan yang memberkatinya dengan kekuatan fisik yang cukup untuk membuatnya lari-lari selama beberapa menit. Juga berucap syukur karena ia cepat melangkah pergi ke luar restauran, sebelum Arthur sudah melangkah cukup jauh untuk mampu ia temukan jejaknya.

"Senior Arthur!" panggil Nesia lagi, masih dengan napas tersengal-sengal dan wajahnya yang memerah karena panas dan capek. Keringat mengaliri pelipisnya, menjadi hasil dari langkah larinya di tengah siang musim panas seperti ini.

Hanya dalam beberapa langkah saja, ia sudah bisa mensejajari Arthur—bahkan mendahului Arthur untuk kemudian berdiri di depan pemuda itu, menghadang pemuda itu untuk meneruskan langkahnya.

"Minggir."

"Tidak," Nesia berkelit dan kembali menghadang Arthur ketika pemuda itu memutar tubuhnya untuk lewat di samping Nesia.

"Apa urusanmu dan kubilang minggir!" bentak Arthur kesal sembari berusaha lagi, melewati samping Nesia—sebelum usahanya itu kembali gagal oleh keteguhan gadis itu untuk menghalang langkahnya.

"Kau tidak boleh pergi sebelum mendengar permintaan maafku," ujar Nesia.

Dan gadis itu menelan ludah dengan gugupnya ketika Arthur menatapnya tepat di kedua matanya, dengan pandangan marah. Ia bisa dengan jelas melihat rahang pemuda itu yang merapat kuat—seolah menahan luapan emosinya yang kini tengah bergejolak di dalam dadanya.

Dan masih, Nesia masih bisa melihat adanya luka dan kecewa di sorot mata itu. Membuat gadis itu otomatis memalingkan pandangan ke arah belakang Arthur—apapun untuk menghindari tatapan itu.

"Sejak kapan kau peduli padaku?" gumam Arthur lirih dan terdengar menuntut, "Sejak kapan kau peduli untuk meminta maaf kepadaku?"

Rasanya tercekat tenggorokan Nesia ketika mendengar pertanyaan itu terlontar.

Pertanyaan yang sama yang ia pikirkan sepanjang langkah larinya membawanya untuk mengejar Arthur. Pertanyaan yang sama yang berputar-putar di otaknya, namun sampai sekarang, tidak ia temukan jawabannya.

"Good!" maki Arthur lirih, "Sekarang kembalilah ke temanmu itu dan tinggalkan aku sendiri."

Nesia menggigit ujung bibirnya sendiri.

Ia sudah terbiasa menerima makian, bentakan, hinaan, dari Arthur. Bahkan tatapan marah dan geram pemuda itu sekarang ini bukanlah yang pertama kali ia dapatkan. Sering—kelewat sering.

Namun sekarang, rasanya ada sesuatu yang melepuh di dalam sini ketika mendengar nada marah itu. Ketika melihat pandangan geram itu. Ketika mendengar bentakan itu.

Asing—seolah ia tidak pernah terbiasa mendapatkannya.

Rasanya Nesia ingin melakukan apapun untuk tidak mendapatkan hal serupa dari pemuda itu.

Apapun.

"Tidak bisa," ujar Nesia setelah ia menelan ludah dengan sulitnya. Ia kembali menatap Arthur dengan tatapan setegas ucapannya, "Aku sudah menyuruh Lovino untuk pulang. Aku belum makan cukup banyak—aku masih lapar dan kau bahkan belum makan sama sekali."

Arthur tampak tersenyum miring dan lelah, "Itu tidak ada hubungannya—"

Nesia bahkan rasanya bisa melihat betapa meronanya wajahnya sekarang, ketika ia berucap, "Kita belum makan siang bersama, Senior—aku belum memberimu rekomendasi mengenai makanan Asia yang kusuka."

-oOo-

Melangkah keluar dari sebuah department store kecil di seberang jalan Taman, sebelah tangan Nesia menjinjing satu plastik putih berisi beberapa barang yang baru saja ia beli dari dalam gedung yang baru saja dimasukinya itu. Sedangkan di tangannya yang lain terjinjing satu plastik yang berisi dua kotak makanan yang sebelumnya baru saja ia beli di sebuah kedai jajanan yang berada di samping department store itu.

Ia menghela napas dan memfokuskan pandangannya ke arah depan.

Di sanalah tampak seorang pemuda yang tengah terduduk di bangku panjang di area taman. Pemandangan sore hari musim panas tampak tipikal, dengan beberapa orang lain yang juga berada di sekitar sana. Pohon yang berdiri tegak di samping pemuda itu, tampak rindang dengan rimbunnya dedaunan yang menghijau khas musim panas. Juga semua tanaman lain yang tampak terawat dan segar di bawah langit biru di sore musim panas.

Kembali menghela napas, gadis itu mengangguk—seolah ia tengah meyakinkan diri sendiri untuk merasa tenang. Semua akan baik-baik saja.

Hanya memerlukan tak lebih dari lima belas langkah baginya untuk sampai ke tempat tujuannya. Ia telah berdiri di samping si pemuda yang tampak tertunduk, menyangga kepalanya dengan sebelah telapak tangan yang menekan mukanya.

Tersenyum, Nesia mendudukkan diri di samping si pemuda—Arthur Kirkland. Diperhatikannya pemuda yang sepertinya belum menyadari kehadirannya—mungkin Arthur masih terlalu terlarut dalam pemikirannya sendiri hingga merasakan kehadiran orang lain di dekatnya saja tidak bisa. Kepala pemuda itu masih tampak basah, lembab, dan lengket akibat 'tragedi' yang baru saja menimpanya. Bahkan Nesia harus menahan tawa gelinya ketika melihat ada satu potong kecil daging rebus yang nyempil di antara helai pirang itu, juga beberapa benda kecil berwarna hijau yang Nesia duga sebagai sayuran. Dari jarak mereka, Nesia bisa menghirup samar-samar aroma menggiurkan dari sup khas China.

"Kepalamu perlu dibersihkan," ujar Nesia membuka pembicaraan.

Dan sukses, ketika beberapa detik kemudian, Arthur menarik telapak tangannya dari mukanya, untuk kemudian menghela napas berat, "Biar saja," jawabnya datar, "Akan kubersihkan sendiri nanti sesampai di rumah."

"Rumahmu masih jauh dari sini, 'kan? Kau tidak membawa mobil dan apakah kau berniat naik bus atau taksi dengan penampilanmu seperti itu?" komentar Nesia.

Arthur mengendikkan bahu, "Aku tidak peduli."

Mendengar jawaban cuek dan tak acuh demikian, Nesia melengkungkan bibirnya ke bawah, "Tapi orang lain peduli padamu," Nesia baru menyadari apa yang baru saja ia ucapkan ketika Arthur melirik ke arahnya dengan tatapan heran, buru-buru gadis itu menambahkan, "M-Maksudku, bau dari sup bercampur jus jeruk itu bukan kombinasi yang menyenangkan—kasihan orang-orang yang ada di dekatmu nantinya."

Uh.

Ia bisa merasakan pipinya yang memanas. Apalagi Arthur yang memandangnya dengan tatapan seolah-olah ia mengetahui apa yang tidak Nesia ketahui—apa yang Nesia pura-pura tidak mengetahui.

Mencoba menghindar, gadis itu segera menunduk dan sibuk membuka salah satu dari kantung plastik yang tadi dibawanya. Dari dalam sana, ia lantas mengambil satu dari empat botol berisi air mineral yang tadi dibelinya.

"S-Sini, aku bantu bersihin," ujar Nesia tanpa memberanikan diri memandang kedua mata Arthur yang kini, menatap heran dan terkejut ke arahnya.

"Apa maksudmu?"

"Akan kubersihkan kepalamu," ujarnya ngotot abis, sembari entah karena kesal atau merasa malu sendiri, ia meraih kepala Arthur lantas memaksakan pemuda itu untuk menunduk.

Terang saja Arthur menolak, sembari menggeser dirinya untuk duduk lebih jauh dari gadis di sampingnya, "Hei, apa yang kau lakukan?"

Nesia merasa kesal setengah mati. Udah cukup ia repot merasa malu dan konyol akan dirinya sendiri bertingkah seperti ini, terhadap seorang Arthur Kirkland, dan kini pemuda itu membuat semuanya terasa rumit?

"Aku ingin membantumu membersihkan kepalamu!" tegas Nesia sekali lagi, "Kau mau nanti ada burung yang hinggap dan membuat sarang di kepalamu karena banyaknya sayuran dan daging yang nempel di sana?"

"Membersihkan kepalaku?" Arthur tersenyum merendahkan, "Dengan botol itu?"

.

.

Bunyi air yang terkucur dan terjatuh di tanah, terdengar samar di area taman di sore musim panas itu. Terlihat bangku panjang warna putih yang terletak persis di samping pohon oak yang teduh, terduduki oleh dua orang—laki-laki berjaket hitam dan perempuan berkaus biru muda. Si lelaki tampak terduduk, menunduk, dengan mencondongkan tubuhnya ke arah depan. Si perempuan terduduk dengan posisi menyamping—menghadap ke arah si pemuda. Dari sebuah botol berisi air mineral itulah, suara kucuran tadi terdengar.

Sungguh, sejak pertama kali Nesia menyentuhkan jemarinya ke helai pirang itu, batinnya sudah merasa tidak karuan. Sejak saat itu, hingga sekarang. Antara penasaran, takut, cemas, tidak mengerti, namun juga ingin. Dan ketika pertama kali ia menyentuhnya dengan ujung jemarinya, ia merasa ada sesuatu yang membuat sebagian napasnya tertarik paksa keluar—lemas.

Beruntunglah Arthur Kirkland tengah tertunduk, sehingga pemuda itu tidak akan mendapati betapa wajah gadis itu semerona langit sore yang tengah ada di atas kepala mereka. Meskipun tidak ada yang tahu pula bahwa pemuda itu justru tengah bersyukur bahwa helai-helai pirangnya yang tersibak dan terjatuh ke arah depan berkat siraman air itu, membuat seluruh mukanya tersembunyi rapi.

Berikut dengan ekspresinya. Berikut dengan rona yang tampak jelas di sana—andai saja ada yang mengetahuinya.

"A-Aku minta maaf atas apa yang kukatakan di restauran tadi, Senior," ujar Nesia membuka pembicaraan di tengah suasana sunyi yang justru membuatnya tidak nyaman. Dengan telaten dan hati-hati, ia masih menyiram perlahan-lahan helai pirang Arthur dengan air dari botol yang ia beli. Membasuhnya, sembari sesekali menyisirkan jemarinya di antara helai itu untuk membersihkan sisa-sisa sup yang mungkin masih tersemat.

Di saat itulah, ia begitu terkejut akan betapa halusnya helai pirang pasir yang dahulu didaulatnya sebagai warna paling jelek dan menyebalkan di dunia.

Arthur terdiam, dan Nesia memutuskan untuk kembali berucap, "Aku sungguh tidak bermaksud—aku hanya merasa malu karena kita menjadi tontonan begitu banyak orang," dengan sisiran jemarinya, gadis itu menyisihkan satu potong kecil apa yang tampak seperti irisan sawi, dari helai pirang itu.

Kembali, gadis itu menyiram perlahan dan hati-hati kepala Arthur, membuat tanah di dekat sepatu Arthur sudah demikian basah dan terdapat genangan air sebagai akibat dari kucuran air dari dalam botol Nesia. Ia pastikan agar air itu tidak menetes membasahi leher atau apapun selain helai milik sang British.

"Temanmu itu kenanakan sekali, kau tahu?" gumam Arthur lirih, namun jelas terdapat nada kesal di sana, "Aku tidak pernah, seumur hidupku, dipermalukan seperti ini."

"Aku tidak tahu apakah Lovino salah—"

"Kau masih menganggapku menuduhnya?"

"Oke, ini bukan terkait siapa yang salah siapa yang bukan—kalian berdua kekanakkan, jika aku boleh bicara," ujar Nesia jengah, merasa terlalu lelah untuk memulai perdebatan baru lagi, "Tetapi bagaimanapun, aku seharusnya tidak berkata-kata seperti itu padamu—aku meminta maaf, karena semua harus berakhir seperti ini."

Arthur menggumamkan sesuatu bersamaan dengan suara kucuran air yang lagi-lagi, terdengar. Nesia meminta Arthur untuk mengulangi ucapannya, namun pemuda itu menolak dan mengatakan ia tidak mengatakan apa-apa—sebuah kebohongan karena Nesia bersumpah ia mendengar Arthur bergumam.

Setelah merasa semua beres—dalam artian rambut Arthur kembali bersih dan berkurang jauh dari bau masakan China yang semula tercium tajam dari sana, pemuda itu kembali menegakkan tubuhnya. Ia geleng-gelengkan sedikit kepalanya, membuat beberapa air terciprat dari sana—beberapa menitik di wajah gadis di sampingnya.

Nesia hanya sedikit ternganga melihatnya hingga ia tidak berkedip ketika satu tetes air jatuh mengenai ujung hidungnya. Sedikit terfokus hingga ia tidak mendapati bahwa Arthur Kirkland kini menatap heran ke arahnya, namun lantas terdapat sebuah seringai di wajah putih itu.

Karena simpel saja, sih. Helai pirang itu, dalam kondisi basah demikian, makin tampak liar membingkai wajah itu. Beberapa tetes air yang masih ada di sana, tampak berkilau karena terpaan sinar matahari senja. Nyaris Nesia kembali mengulurkan jemarinya untuk menyentuh helai itu, jika ia tidak buru-buru mengalihkan pandang dan berpura-pura membuang dua botol yang kini telah kosong, ke tempat sampah di samping bangku panjang itu.

"Apakah ada sesuatu di wajahku, Nona? Kau tadi tampak begitu terfokus."

Dan ucapan Arthur barusan sama sekali tidak membantu gadis yang kini sibuk akan pemikirannya sendiri.

"B-Bicara apa, kau!" hardik Nesia dengan memasang wajah merengut kesal. Ia masih belum berani menoleh dan kembali menatap kedua mata yang pastinya, kini semakin menyeringai ke arahnya. Membayangkan itu, Nesia antara merasa malu dan merasa ingin merobek mulut menyebalkan itu saja, "Apa sup panas tadi benar-benar melelehkan otakmu hingga ngomong ngawur seperti ini—"

"Hei, hei, tak perlu marah," nada Arthur terdengar geli, "Aku hanya bertanya apa ada sesuatu di wajahku—jika tak ada, ya sudah."

Nesia membenci ketika Arthur mulai bertingkah dan berlagak demikian.

Gadis itu menghela napas berat, lantas untuk mengalihkan pembicaraan dan pikirannya, ia membuka bungkusan lain yang tadi dibawanya. Dikeluarkannya dua buah kotak dari sana, dan ia segera memberikan salah satunya ke Arthur, "Ini, kau belum makan siang, 'kan?"

Nesia tahu betul, tadi pemuda itu hanya memesan secangkir teh saja—itupun tidak habis karena 'malapetaka' itu keburu terjadi.

"Apa ini?" Arthur menerima kotak itu, lantas membukanya. Pandangannya jelas menyiratkan ketidaktahuan akan isi kotak tersebut—membuat Nesia tanpa sadar tersenyum lebar memandang ekspresi bingung dari Arthur.

"Itu namanya lumpia," Nesia tersenyum sembari membuka kotaknya sendiri yang ia pegang, lalu mengambil satu gorengan yang ada di dalamnya, "Jajanan ringan khas negeriku," dipandanginya gorengan itu dengan tatapan dreamy—seolah ia mendapatkan apa yang selama ini dirindukannya.

Jelas sekali Arthur nampak ragu ketika mengambil satu dari tiga potong gorengan yang ada di kotak miliknya. Dipandanginya sebentar, sebelum ia melirik gadis di sampingnya sebentar, dan sebelum akhirnya, ia menggigit pelan makanan ringannya.

"Meski ini tidak bisa juga dibilang menu yang pantas untuk makan siang," ujar Nesia setelah menelan gigitan lumpia yang dikunyahnya, "Tetapi lumayan untuk mengganjal perut yang lapar," gadis itu meringis lebar.

Arthur mengendikkan bahu, lalu menggigit lagi, "Lumayan enak."

Nesia hanya melirik nyinyir, "Tentu saja enak, Senior—akui saja. Ini jajanan kesukaanku, lho."

"Kau suka makan makanan berlemak begini?"

"Hei, jangan mulai," Nesia memperingatkan, "Aku sudah berbaik hati mentraktirmu—inilah rekomendasiku, kau sendiri 'kan yang meminta pendapatku."

"Darimana kau tahu ada yang menjual…"

"Lumpia."

"Apapun namanya, ini? Aku tidak tahu ada jajanan dari Indonesia di sekitar sini."

"Aku lumayan sering kemari. Si penjual, tak disangka, merupakan orang Indonesia asli—setidaknya, istrinya," Nesia melempar pandang pada kedai makanan kecil yang sedikit tampak tenggelam di antara gedung-gedung tinggi dan besar, di depan sana, "Tentu saja kau tidak tahu, matamu 'kan tercipta hanya untuk melihat semua yang serba classy dan glamour."

"Thanks atas kalimat sarkastisnya, Nona," gerutu Arthur lirih sembari menyahut satu dari dua botol air mineral, yang masih tersisa di kantung plastik di dekat Nesia. Dibuka tutupnya dan ia teguk beberapa kali isi dari botol itu, sebelum kembali berkutat dengan potongan kedua dari lumpia yang masih ia miliki.

Namun, sebelum Arthur sempat mengarahkan lumpia itu ke mulutnya, ia menoleh ketika ia merasakan bahwa gerak-geriknya diamati oleh orang lain—orang yang berada persis di sebelahnya. Benar saja, pemuda itu seketika menaikkan sebelah alisnya menatap Nesia yang memandang ke arahnya dengan senyum tipis di wajah gadis itu.

Seketika rona tipis tampak jelas di wajah putih pucat itu.

"A-Apa yang kau lihat?" gumam Arthur dengan tampak kesal, namun ekspresinya itu justru membuat gadis itu tersenyum makin lebar.

"Aku hanya merasa geli, kau telah menghabiskan semua daun bawangmu," ujar Nesia menahan geli, membuat Arthur memberinya pandangan yang seolah berkata 'Lalu kenapa?' "Oh, Senior, kau harus mencuci mulutmu dengan bersih setelah ini."

Dan gadis itu tergelak, membuat Arthur mengerutkan dahi bingung dan tidak mengerti. Tanpa sadar sebelah tangannya bergerak ke atas dan melap mulutnya sendiri—mungkin ia belepotan atau apa—tanpa menyadari bahwa bukan itu maksud dari ucapan Nesia.

"Sudah, sudah," ujar Nesia setelah ia meredam tawanya, "Makan lagi tuh, masih ada dua," ia menunjuk lumpia Arthur dengan dagunya, "Aku tidak mau membuang uangku dengan percuma."

Meski belum mengerti, sesudah itu, Arthur memakan lumpianya tanpa sedikitpun menyentuh daun bawang itu lagi. Meski ia tidak tahu, tetapi senyuman lebar gadis itu sepertinya menandakan bahwa daun bawang itu seolah makanan beracun yang seharusnya tak pernah ia sentuh.

Dan obrolan berlanjut. Mulai dari komentar sinis Arthur mengenai makanan yang dimakannya, pembelaan dari Nesia, hingga hal-hal ringan lain seperti menanyakan kabar dan apa saja yang mereka kerjakan selama liburan ini. Juga tak lupa, sedikit bernostalgia mengenai kegiatan kompetisi yang mereka jalani dulu—kompetisi yang membuat mereka bisa mengenal lebih dekat.

Yang membuat kini, di sore hari musim panas dengan langit yang berwarna jingga, di taman pinggiran kota, mereka terduduk berdampingan dan berbicara. Bercanda. Tertawa. Menghina. Menggeram kesal. Mengejek. Dan sebagainya.

Satu "momen-bersama-Senior-Arthur" yang paling damai dan menenangkan, yang pernah ada diingatan Annesia.

-oOo-

Annesia: Halo, semuanya :D

Arthur: Ga usah sok senyum gitu deh. Manis aja kagak!

Annesia: Haaa… Tapi kau suka, 'kan?

Arthur: *blush to the max* Ngawur banget sih! Kepalamu abis kesambar petir, ya, jadi sinting gitu!

Annesia: Biasa aja kali… -_-

Arthur: *hela napas* Hhh… anyway, si DIS nitip minta maaf ke kita kalau doi di chapter kemarin ga balas review kalian. Tahu alasannya apa? LUPA! Nah, silahkan bantai rame-rame Author seabsurd fiksinya ini. Maka, sebagai tanda penebusan dosanya, doi ngirim kita berdua buat balas review kalian. Hm, kayaknya chapter ini doang, sih. Dia 'kan author yang mood-nya musiman.

Annesia: Kenapa kau gitu sih, pada DIS? Dia kan udah baik hati menjadikanmu sebagai tokoh utama di fic ini! Hhh… betewe, dari babyHaniudaAmu. Dia katanya ga tahu ada polling nih, Thur *pasang muka sweatdropped parah di sini*

Arthur: *pegang kertas lain* Sama nih kayak Glassed Loner, ga tahu juga doi. Haha, mampus lu DIS. Ketahuan banget kalau profilmu jarang ada yang ngunjungin kayak kuburan! *langsung kena tendangan dari DIS yang maksa numpang lewat*

Annesia: *Cuma bisa geleng-geleng liat Arthur meregang nyawa* Yang jelas, polling udah ditutup dan bisa dilihat hasilnya. Hhh… sayang, hasilnya agak mengecewakan.

Arthur: Cih, dipikir aku bersyukur apa, ama hasilnya itu *bangkit dari abis sekarat* anyway… dari Aya Harukawa. Hei, Miss Aya, apa maksudmu? Kau pikir aku ga pandai ngegombal dan ngerayu cewek, hah?

Annesia: Mungkin Nona Aya pikir kamu ga biasa ngerayu dan ngegombal, tapi biasa dirayu dan digombalin *tertawa maniak*

Arthur: *death glare ke Nesia* Miss Aya, beneran, bukannya aku ga bisa nulis kalimat puitis. Hanya saja sayang banget jika semua itu kulakukan hanya untuk orang kayak gini! *nunjuk Nesia*

Annesia: *ignore* Noir-Alvarez, haha, makasih atas dukungannya. Saya akan berusaha untuk lebih baik lagi dalam berakting (?) :D Spoiler chapter? Iya, kata DIS kemarin doi ga sempet bikin spoiler.

Arthur: Bilang aja males. Hhh… dari PikaRisaa, sekali lagi, saya bisa aja nulis surat puitis kayak gitu, tapi untuk orang lain SELAIN dia! *nunjuk Nesia lagi* Iya, otak sinetron kayak dia sih emang lebay pikirannya. Maklum.

Annesia: Kenapa, ya, ga di cerita, ga di review-an, kau selalu ngeselin banget kalau ngomong? D: *dicuekin Arthur* Ih! Sakurazaka Ohime, kenapa ga nyangka kalau itu Antonio? Padahal muka Antonio dari awal kan emang cocok buat hal yang manis-manis (?) kayak puisi gitu *insert tatapan cinta di sini*

Arthur: *menjulurkan lidah dengan ekspresi mau muntah denger Nesia*. Cissy L, catat ya: SAMPAI. MATI. SAYA. TIDAK. AKAN. BUAT. PUISI. UNTUK. DIA! *tunjuk Nesia lagi* *insert petir menyambar-nyambar di sini*

Annesia: Chezaria E, udah mulai suka aku dipasangkan ama selain Nether? Boleh aja sih, selama itu dengan Antonio, atau Lovino :D

Arthur: *kayak siap makan orang* Dasar cewek dengan selera payah… *ngegumam* betewe, Miss Chezaria, pertanyaanmu itu retoris. Annesia tidak jadi daftar OSIS karena dia sendiri nyadar kali, kalau MANA MUNGKIN OSIS mau NAMPUNG orang kayak dia.

Annesia: *menghela napas sabar* Aku sudah sibuk dengan H-Radio, okay? Mokakoshi, Hah? Kapan aku pernah seneng liat si alis ini? Tatapanku hanya untuk Antonio *lope lope* Pesta dansa? Kayaknya masih lama.

Arthur: Hm, ini dari scarlet, dia katanya kecewa kalau surat dari si Carriedo ga dia tulis buat kamu, Nes *menyeringai* Itu artinya si Carriedo masih waras.

Annesia: *melototin Arthur* Hhh.. iya, mengecewakan. Padahal kan pasti manis banget kalau itu buatku *dreamy looking* Dan aku tidak merasakan getaran cinta untuk monster alis ini! *masang tampang jijik, tapi blushing* cintaku hanya untuk Prince Antonio! Si Penelpon misterius? Udah jelas BANGET lah itu siapa!

Arthur: Eh, emang aku mau juga kau jatuh cintai? *angry bird mode* A-Aku juga ga tahu siapa penelpon misterius itu… Ehem! Kunikohime Madoka Tanuki, kata DIS ntaran aja soal si Nether, belum tahu doi kapan nampilin dia. Anonim, sekali lagi, aku BISA BANGET bikin puisi, hanya saja MALES BANGET kalau buat cewek kayak gini! *lirik Nesia* Hm, biar saya yang mewakili saja, ya. DIS juga nitip salam. Happy Birthday buat kamu :)

Annesia: Ga usah senyum juga kali *natap ga suka* Minri, maaf updatenya lama . Hehe.

Arthur: Napa? Jeles ya? *senyum ngejek* ShadowGreen, emang apa bagusnya sih, si Lovino? Aku juga sering banget berbuat kebaikan buat gadis ini, kok! *nunjuk-nunjuk hidung Nesia* dan Hidden, saya suka Nesia dan Nesia suka saya? Kayaknya anda salah baca dan review fiksi, deh *tsundere mode: MAX*

Nesia: *tepis tangan Arthur dari muka* Emang ya, harusnya aku sama Antonio aja. Lovino juga ga papa deh! Ih! Lebih baik jadi perawan tua aja deh! *tapi blushing* kanon rizumu, saya sendiri juga belum tahu gender dari penulis skenario fic ini, DIS *mikir* kayaknya dia cowok…

Arthur: cewek lah! Jelas banget gitu! Hah, sudahlah. Darah tinggi dadakan aku jika terus-terusan balas review gini sama kamu, Nes *padahal aslinya seneng mampus*Tengkar terus!

Annesia: Dipikir aku suka? Hh. Sudahlah. Baiklah pembaca, sekian dulu. Kepanjangan ya? Kasih komentar kalian, balasan review kayak gini tetep lanjut atau enggak. Soalnya DIS khawatir kalau kalian udah bosen duluan.

Arthur: Kalau masih mau, chapter depan review dibalas lagi kayak gini. Tapi kayaknya gantian, ga hanya aku dan Nesia aja… *suara melirih*

Annesia: *menangkup tangan di dada* aku harap chapter depan aku bisa balas bareng dengan Antonio *lope lope*

Arthur: Ugh… Udahlah! Bye! Thanks and See ya next time! *langsung tutup acara tanpa nunggu Nesia*

Review~ :D

Salam Ulala,

DIS