Hey, hallo. Apa kabar? :D Oke langsung aja. Saya udah tiga minggu lebih ga update fic ini dan menurut saya, itu udah cukup lama banget. Oke, meski fic ini udah jelas menjadikan UKNes sebagai pairing utama dan masa depan (?), tetapi banyak bertebaran hints-hints pairing lain if you squint! :D Sip! Cus!


Liburan musim panas berlalu dengan demikian cepat—Annesia Saraswati bersyukur. Karena ia rasanya bisa gila jika menghabiskan waktu terlalu lama untuk berdiam diri di apartemennya. Memang sih, tidak sepenuhnya, karena ia sesekali juga mengikuti rapat kepanitiaan Hetalia Anniversary dan urusan Klubnya. Tetapi tetap saja, sebagian besar waktunya ia habiskan dengan sama sekali tidak produktif. Sempat ia berpikir untuk mencari kerja part time—seperti di drama-drama atau film Barat yang ia tonton. Tetapi ia langsung kena nasehat panjang-lebar-tinggi dari Ayahnya karena Beliau merasa masih cukup sanggup membiayai kehidupan putrinya di negeri orang itu.

Oleh sebab itulah, Nesia hampir tidak bisa menahan keinginannya untuk tersenyum lebar ketika ia membuka mata di pagi hari hari pertama tahun ajaran baru. Perasaannya seperti remaja ababil saja—merasa senang karena semua serba baru. Kelas baru, pelajaran baru, teman baru, junior baru (Ya Tuhan, ia telah menjadi seorang Senior!)… Pokoknya serba baru deh. Karenanya, ia senantiasa bersenandung kecil selama ia melakukan aktivitas pagi rutinnya. Bahkan ia tak bisa mengekang keinginannya untuk tersenyum lebar-lebar ketika bercermin, dan menggumam lirih namun tegas, bahwa ia "Senior Annesia Saraswati, Selamat pagi!"

Ia rasanya tidak sabar mengetahui adik-adik kelasnya yang pastinya, imut-imut dan lucu-lucu (?). Tetapi yang paling membuatnya tidak sabar untuk segera sampai di sekolah adalah rasa rindu pada teman-temannya. Lily, Senior Tiino, Mei Lian, Senior Alfred, dan Senior Arthur KirklaaaaaaaaAntonio Carriedo.

Menelan ludah, Nesia memaksakan pikiran-pikiran absurd untuk berputar-putar di otaknya, untuk terhapus.

Iya, dirinya rindu Antonio—yang ia rindukan adalah Antonio. Pemuda itu 'kan baru balik dari Spanyol dua hari yang lalu—Nesia akan menagih janjinya untuk membawa oleh-oleh.

Iya. Pasti itu.

Gadis itu menghela napas berat.

Pagi-pagi jantungnya sudah berdebar tak karuan begini.

-oOo-

Axis Power Hetalia © Hidekaz Himaruya

Picture © Sakurazaka Ohime

I just own the plot of the story and I don't gain any commercial advantages by publishing this fic.

Warning: AU, Human Name, High School, OC, OoC yang mendewa, (highly possible) crack pairs, (a lil') Nesia-centric, but no Mary Sue/Gary Stu I assure you :D totally absurd.

Pairing: Anda bisa menebak sendiri mana yang main pairing, dan mana yang sekedar hints dan fans service :p

Ini murni dari pemikiran saya. Maaf jika kebetulan ada kesamaan ide karena setting gakuen sangat banyak di FHI. Itu tidak disengaja :D

Long Live FHI and Say NO to Plagiarism! Mari berkarya dengan hati dan imajinasi :D

Maju FHI!

-oOo-

Nesia nyaris melonjak senang dan gembira ketika mendapati Antonio berdiri di depan gerbang apartemennya—menunggu dirinya dan Lovino Vargas untuk berangkat sekolah bersama. Dan sepertinya Antonio juga merasakan hal yang sama ketika bertemu dengan kedua sahabatnya, karena pemuda itu langsung berteriak dan melambaikan tangan semangat di detik ia melihat sahabatnya keluar dari lobi apartemen—yang mana tingkahnya itu mendapat umpatan pelan dari Lovino.

Dan Nesia tidak berpikir dua kali untuk segera berlari dan menubruk pemuda itu—hingga pemuda beriris emerald itu sedikit terjajar ke belakang. Namun akhirnya Antonio hanya tertawa kecil sembari membalas pelukan Nesia dengan hangat.

Andai saja semuanya masih sama, pasti Nesia akan merasa degupan keras dan tak teratur di dadanya—seolah jantungnya hendak melompat keluar dari rusuknya.

Andai semua masih sama…

"Kenapa kau tidak membawa motormu, Bastardo?" ujar Lovino kasar sembari menarik Nesia hingga pelukan gadis itu di tubuh Antonio, terlepas.

"Oh, hai, Lovi~"

Belum sempat Antonio menyentuh Lovino dengan rentangan lebar kedua lengannya, pemuda itu harus meringis sakit ketika kena gaplok gratis di kepala dari Lovino.

"Aku ingin menghabiskan waktu pergi-pulang sekolah untuk ngobrol dengan kalian—aku kangen. Tetapi inikah yang kudapatkan darimu?" ujar Antonio memasang wajah cemberut ke arah Lovino yang memutar bola mata—tak acuh.

Nesia hanya tertawa kecil melihat tingkah tipikal kedua sahabatnya. Namun ia tahu dan paham betul bahwa sekalipun tampak demikian, mereka adalah dua sahabat yang dekat dan peduli terhadap satu sama lain.

Sepanjang perjalanan ke sekolah dihabiskan oleh mereka bertiga untuk mengobrol—well, hanya Antonio dan Nesia saja, sih, ketika Lovino lebih banyak terdiam dan hanya sesekali menyahut. Itupun berupa sindiran atau cibiran terhadap apapun yang dikatakan oleh Antonio. Tetapi tidak demikian dengan Nesia, karena gadis itu tampak begitu antusias berbicara pada Antonio yang berjalan di sampingnya. Mulai dari 'Apa kabar?', atau 'Bagaimana liburanmu di Spanyol? Wah, asyik banget pastinya bisa libur di tempat hangat seperti itu!' hingga 'Mana nih oleh-olehnya? Kau tidak lupa, 'kan? Awas, ya!' dan tentu saja, Nesia juga menceritakan liburan musim panasnya, baik saat ia ada di Indonesia (walau hanya sebentar) dan di Carolina Utara.

Pada akhirnya, Antonio memberi Nesia dan Lovino masing-masing satu gantungan kunci berbentuk mini stuffed-buffalo yang katanya ia beli di salah satu aksi Matador yang ia lihat (dimana Nesia menerimanya dengan senang hati karena boneka mini banteng itu terlalu imut untuk pantas menjadi banteng aksi matador, dan Lovino yang menggerutu pelan mengatakan bahwa ia tidak suka benda kecewekan demikian—dan pemuda itu berjanji akan membuangnya nanti). Serta sebuah hadiah kejutan untuk sahabatnya masing-masing: sebuah kaus putih dengan TTD salah satu personil One Direction untuk Nesia,

"…Oh. Tuhan. Ku."

"Kau suka, Nes?"

"Ngomong apa? Kyaaaa! Apa ini benar, Antonio? Apa ini asli? Apa ini asliiiiii?!"

"Tentu, Nes. Aku harus mempertaruhkan nyawaku ketika meminta TTD-nya saat mereka tur ke Barcelona. Kau tak, tahu, fans mereka sangatlah brutal—terutama yang perempuan. Fiuhh…"

"Antonioooo! Kau manis sekaliiii! You're awesome and I love you so much!" dan berakhir dengan pelukan erat.

Tentu saja, pernyataan cinta itu sekarang bermakna lain—tidak ada degupan, tidak ada rasa tergelitik di perutnya, tidak ada rona, tidak ada apapun.

Lagipula, pasti Nesia tidak akan semudah itu menyatakan cinta ke orang yang benar-benar dicintainya lebih dari sekedar sahabat, 'kan?

Oh ya, Antonio juga memberikan oleh-oleh khusus untuk Lovino, yakni bola sepak yang terdapat TTD seorang pemain sepak bola terkenal dari Italia. Katanya sih, "Bola sepak itu milik pamanku—ia mendapatkan TTD itu saat klub yang ia gabungi mendapatkan personal coaching sehari dengan pemain itu."

Meskipun Lovino menggerutu tak jelas (namun Nesia dengan terselip kata 'Bastardo' atau 'Murahan' atau 'Ga Peduli') tetapi baik Nesia atau Antonio tahu bahwa pemuda berdarah Italia itu sangat antusias pada apa yang didapatkannya.

Dan masih ada satu hadiah lagi—tapi bukan untuk Nesia ataupun Lovino. Dari wajah Antonio yang sedikit merona hangat, Nesia bisa dengan mudah menebak siapa penerima hadiah terakhir darinya. Benar saja, Antonio berencana akan segera pergi ke kota lain setelah sepulang sekolah nanti—menemui Senior Bella yang notabene telah menjadi Mahasiswi sebuah Universitas di luar Carolina Utara.

Mendengarnya, diam-diam Nesia merasa kagum pada sahabatnya. Sudah berapa tahun ya, sekarang Antonio menyukai Senior Bella? Ah, ya, 4 tahun. Demi Tuhan, 4 tahun! Bahkan jarak sepertinya tidak menjadi soal bagi pemuda itu—ia rela menempuh puluhan kilometer jika itu bisa membuatnya bertemu dengan orang yang dicintainya.

Senior Bella beruntung sekali.

Dan perbincangan masih terus berlanjut sepanjang sisa perjalanan ke sekolah. Musim panas di pagi hari benar-benar menyegarkan, tidak terlalu panas, namun juga sama sekali tidak dingin—hangat. Namun kali ini bahan obrolan adalah Lovino yang sedari tadi terdiam. (Sedikit) Dipaksa kedua temannya untuk menceritakan tak hanya pengalaman liburannya, tetapi juga pengalamannya menjadi anggota Komite Disiplin. Dan semua itu dijawab Lovino dengan gerutuan akan cerewetnya kedua sahabatnya di pagi hari ini, serta gerutuan karena adik-adik kelas mereka di tahun ini begitu merepotkan. Dan Lovino otomatis langsung kena godaan tiada akhir dari kedua temannya ketika Nesia mengatakan, "Aku dengar dari Senior Alfred bahwa kau sempat mendapatkan surat cinta dari salah seorang cewek adik kelas, ya? Cieeee…."

Dan dijawab Lovino dengan ketus bahwa, "Aku langsung membuangnya selesai membacanya—aku bahkan tidak tahu siapa dia—sudahlah! Berhenti menggodaku, sialan!"

Rasanya rileks sekali.

Tahun ajaran baru.

Semua hal serba baru—benar-benar baru dari awal ia menginjakkan kaki di Hetalia High—satu tahun yang lalu.

-oOo-

Bahkan pembagian kelaspun tidak lagi sama—semua dibagi ulang dan membuat kesan tahun ajaran baru, benar-benar baru.

Nesia menghela napas kecewa ketika ia mendapati dirinya tidak sekelas dengan kedua sahabatnya—Antonio berada di kelas tepat di sebelah kelasnya, sedangkan Lovino bahkan masih berada di ruangan kelas 2 di bagian gedung A (Nesia dan Antonio di gedung C). Namun setidaknya, Nesia mendapatkan beberapa nama familiar yang sekelas dengannya, seperti (O Tuhan!) Lily Zwingli dan Kiku Honda. Berasa seperti pengulangan kelompok MOS dulu saja.

Sesampai di kelas, gadis itu langsung berteriak senang ketika mendapati Lily Zwingli sudah terduduk manis di salah satu deret kursi. Guru belum datang, jadi suasana kelas lumayan ramai kala itu—apalagi hari pertama tahun ajaran baru seperti ini biasanya dimanfaatkan untuk menjadi ajang nostalgia pasca liburan—jadi maklum saja suasana seperti kapal pecah. Lily Zwingli tersenyum manis, seperti seorang lady aristokrat seperti dirinya. Nesia juga dengan gembira menyapa Kiku Honda yang terduduk di depan Lily bersama…

"Feliciano Vargas!" nyaris menganga syok Nesia ketika mendapati duplikat Lovino kini tengah terduduk di samping Kiku. Oke, tadi Nesia memang tidak tamat membaca siapa saja daftar teman sekelas barunya—gadis itu keburu merasa senang sendiri mendapati Lily dan Kiku sekelas dengannya.

Dan sekarang, ia sekelas dengan tak hanya sahabatnya, mantan rekan MOSnya, namun juga adik kembar dari sahabatnya.

Feliciano hanya tersenyum gembira mendapati Nesia dan langsung berlari memeluk Nesia erat—dimana gadis itu dengan senang hati membalasnya. Dan tak membutuhkan waktu lama bagi mereka berempat untuk akrab satu sama lain—terutama Lily yang sedikit malu-malu untuk dekat dengan orang asing baginya seperti Feliciano. Pertanyaan mengenai kabar, pengalaman liburan, hingga rencana-rencana dan resolusi di tahun ajaran baru ini, mereka lontarkan satu sama lain, sebelum obrolan mereka terpaksa terhenti ketika bel masuk berbunyi dan guru datang beberapa saat kemudian.

Saat periode istirahat dimulai dengan tanda berbunyi nyaringnya bel sekolah, Nesia langsung tancap gas ke kompleks gedung B, tempat ruangan Klub Radio berada. Ia bersyukur ia ditempatkan di gedung C, karena jarak kelasnya dengan ruang klubnya, lebih mendingan ketimbang saat dulu ia kelas 1. Sesampai di sana, seperti biasa, ia langsung menyambut dan disambut gembira oleh rekan-rekannya (lama atau baru)—karena memang periode istirahat hari pertama masuk sekolah ini Klub Radio mengadakan rapat untuk persiapan Hetalia Anniversary dan proker-proker ke depannya. Senior Tiino bahkan membawa beberapa makanan dan oleh-oleh sepulang ia berlibur ke Finlandia, negara asalnya. Tetapi yang spesial kali ini adalah tidak hanya Nesia, Senior Tiino, Mei Lian, dan beberapa anggota lama lainnya yang hadir, tetapi juga terdapat 4 wajah baru di sana—tentu saja newbie yang telah bergabung bersama mereka. Salah satunya adalah seorang gadis manis yang berasal dari Kepulauan Wy (Nesia lupa dimana itu berada). Nesia merasa antusias akan bekerja sama selama setahun ke depan bersama dengan junior-junior yang sepertinya, asyik dan rame banget diajak ngobrol—biasanya kebanyakan newbie akan malu-malu dan segan ketika berhadapan dengan Senior, 'kan?

Selepas pulang sekolah, Nesia mampir ke Aula Utama Hetalia High. Iseng melihat perkembangan panitia dekorasi, plus sekalian menanyakan satu dua perihal mengenai publikasi, kepada salah satu SC acara yang katanya sih, tengah berada di Aula tersebut. Sesampainya di sana, gadis itu tidak bisa menahan rasa kagumnya ketika mendapati bahwa aula itu semakin tampak indah dan megah saja dengan yang terakhir kali ia lihat. Pastinya panitia dekorasi dan acara benar-benar mempersiapkan semua ini dengan total—tak heran Lovino saat liburan musim panas lalu tampak sibuk tak hanya dengan tugas KomDis-nya. Suasana meriah, glamour, dan semarak, tampak sekali di aula besar itu. Benar-benar dihias dan dirancang untuk memberikan kesan 'pesta'.

"Annesia!"

Kepala dengan helai terkuncir buntut kuda itu menoleh, dan mendapati Lovino yang berjalan ke arahnya, "Lovino? Kukira kau sudah pulang?"

"Anniversary tinggal 2 minggu lagi—tidak banyak waktu yang bisa membuat kami langsung pulang begitu bel berbunyi," ujar pemuda itu. Dari raut wajahnya, Nesia yakin bahwa Lovino merasa begitu capai dan lelah. Wajar sih, karena sepertinya, dari semua kepanitian, pasti yang paling repot adalah panitia acara, dekorasi, dan mungkin juga, peralatan. Apalagi di detik-detik terakhir seperti ini…

Gadis itu segera membuka ranselnya, dan mengeluarkan satu bungkus facial tissue dari dalam sana. Ia sodorkan ke arah Lovino, "Nih ambil. Kau berkeringat banyak sekali," senyumnya.

Lovino sedikit ragu untuk menerima—mungkin karena bungkus facial tissue itu bergambar burung imut Tweetty lengkap dengan Tasmania-nya—namun akhirnya ia ambil juga, sembari menggumamkan kata terimakasih.

Dan jelas, Nesia bisa melihat perubahan tekstur warna di wajah itu yang kini menampilkan semburat pudar berwarna merah.

Nesia merasa geli ketika membayangkan Lovino tersipu karena menggunakan facial tissue yang sangat kecewekan ini—ayolah, Lovino kan tipikal pemuda yang menjunjung tinggi 'men dignity' dan semacamnya.

"Kemana si Bastardo?" tanya Lovino ketika ia selesai membuang bekas tisu yang telah dipakainya, ke tempat sampah terdekat.

"Kau menanyakannnya? Tumben," ujar Nesia sembari tersenyum lebar, dan semakin lebar ketika mendapati kening Lovino berkedut kecil, "Tadi aku sempat bertemu dengannya, dan katanya ia harus pergi latihan bersama teman-teman se-Klubnya untuk persiapan penampilan di Anniversary nantinya."

"Aku hanya mendapat titipan salam dari salah satu junior cewek, pada si Bastardo itu," ujar Lovino mengendikkan bahu, "Selera cewek itu payah sekali."

Nesia tertawa kecil, "Sepertinya Antonio makin punya banyak fans, 'kan?"

Belum sempat Lovino menjawab, ketika terdengar sebuah teriakan yang menyebut nama gadis itu. Nesia dan Lovino menoleh ke sumber suara, dan mendapati Senior Alfred tengah melangkah lebar-lebar ke arah mereka berdua dari arah pintu depan aula.

Namun bukanlah Senior Alfred yang membuat Nesia otomatis menegakkan tubuhnya, dan tanpa sadar merapikan poninya.

Senior Arthur berjalan pelan di belakang pemuda pemakai jaket bomber tersebut.

"Nesiaaaaa!" dalam waktu singkat, Nesia sudah berada di pelukan erat si American sejati, "Apakabarapakabarapakabarapakabaaaarrrrr?"

Dan Nesia berterimakasih pada Lovino yang melepaskan pelukan Alfred dari Nesia, sembari berkata keras, "Kau berniat membunuhnya, Idiota?!"

Rasanya belum cukup takdir kejam pada Alfred yang kena bentak gratis dari juniornya sendiri, dan beberapa saat setelah Lovino berteriak demikian, pemuda berhelai pirang itu kena gaplok keras di kepala oleh seorang British yang memasang wajah kesal ke arahnya, "Git! Jaga perilakumu!"

"Ada apa dengan kalian berdua? Nesia saja tidak protes!" maki Alfred lirih, lantas meringis sakit sembari mengelus bagian kepalanya yang terasa agak benjol, "Sakit dududuh…."

Nesia hanya meringis garing ke arah Alfred, "Kabarku baik, Senior. Kau apa kabar?"

Dan Alfred otomatis mampu merubah ekspresinya menjadi super-duper ceria seperti dirinya yang biasa, "Ah! Kabar baik, Nes! Setelah kegiatan MOS selesai, aku kini harus fokus ke Summer Play dan Hetalia Anniversary! Nanti kau jangan lupa nonton pentas Klub Drama, ya!"

"Tentu," Nesia mengangguk, "Dan aku baru ingat kau juga termasuk menjadi salah satu KomDis saat MOS kemarin bersama Lovino. Benar 'kan, Lovi…" ucapan Nesia terhenti ketika ia menoleh dan mendapati Lovino yang tengah memberi tatapan menyipit ke arah depan.

Dan tidak membutuhkan seorang jenius untuk menebak ke arah mana death glare itu dilayangkan. Ke arah sepasang emerald yang kini juga memberi tatapan tak ubahnya ke arahnya.

Dalam batin Nesia ingin facepalm. Apa kejadian di restauran waktu itu masih tersisa di hati dan memori mereka?

"Ah, iya! MOS!" ujar Alfred tanpa menyadari tensi-tensi yang menggantung tebal di sekitarnya, "Ada satu cerita yang menurutku unik yang—O Tuhan, nanti saja kuceritakan, aku harus pergi sekarang!"

"A-Apa—" Nesia tak kunjung meneruskan ucapannya ketika Senior Alfred telah berlalu. Gadis itu menoleh ke belakang dan mengikuti ke arah mana Alfred melangkah, dan ia langsung tersenyum geli ketika menyadari bahwa Senior tersebut kini tengah berbincang dengan seorang senior berambut platinum perak yang tengah menata tatanan sebuah tanaman bunga matahari, di ujung ruangan sana.

Siapa sangka Senior Natalia juga ikut kepanitiaan—

Ah, Nesia baru ingat akan sesuatu.

Gadis itu menoleh, dan ia pikir ia akan masih mendapati dua manusia di dekatnya itu masih beradu pandangan tajam. Akan tetapi ia salah ketika ia mendapati bahwa Lovino tengah berbicara dengan seseorang, di dekatnya, sedangkan Arthur tengah sibuk dengan tombol-tombol HP-nya.

Suasana aula yang ramai dan penuh panitia yang bekerja, membuatnya sedikit tidak terfokus dan menyadari apa yang terjadi di sekitarnya.

Berdeham pelan, gadis itu menguatkan batin, sebelum melangkah dan berdiri di dekat Arthur, yang seketika menegakkan kepalanya yang semula tertunduk, demi menatap Nesia.

Rasanya aneh sekali ketika Nesia harus berdeham beberapa kali.

"K-Kau salah satu SC panitia ini, 'kan?" tanyanya dengan suara mencicit. Dan ia merutuki dirinya sendiri ketika Arthur menaikkan sebelah alisnya—suasana aula yang gaduh mungkin membuat suaranya barusan tenggelam sempurna. Maka ia ulangi, kali ini lebih keras.

"Oh, iya. Tentu. Ada apa?" ujar Arthur sembari memasukkan ponselnya ke saku blazer-nya. Kini ia menghadapkan tubuhnya ke arah Nesia dan memberi perhatian sepenuhnya pada apa yang akan diucapkan gadis itu.

Dan uh…

Nesia harus menunduk dan berpura-pura tertarik pada sebuah bungkus permen kecil di dekat kakinya. Karena jika ia tetap nekat dan memandang langsung dua mata itu, maka ia pasti bisa menebak bahwa semua yang hendak ia ucapkan, akan menguap sempurna.

Dan ia tidak mau dikatai tolol dan idiot terus-terusan oleh Arthur.

"A-Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan perihal publikasi dan dokumentasi—"

"Annesia."

Nesia menoleh ke arah Lovino, begitu pula dengan Arthur , lengkap dengan pandangan tajamnya yang seolah otomatis terbentuk di dua mata itu, begitu menatap Lovino Vargas yang kini menatap ke arah sahabatnya.

"Lovi?"

"Aku harus pergi—ada sesuatu yang harus kubeli untuk dekorasi," ujar Lovino. Setelahnya, meski sedetik, ia melempar satu lirikan tajam ke arah Arthur, yang balas mendelik ke arahnya, "Apa kau ingin ikut—"

"Ada sesuatu yang harus ia bicarakan denganku selaku Standing Committee," sela Arthur yang sukses mendapatkan pandangan tajam lain dari juniornya, "Lagipula kau 'kan sudah ditemani temanmu. Tak ada alasan bagimu untuk ngotot memaksa Annesia untuk ikut denganmu, 'kan?"

Nesia bersumpah, katupan rahang kuat dari Lovino dan kepalan erat kedua tangannya, menunjukkan bahwa pemuda itu bisa saja tiap saat melempar satu pukulan ke rahang Arthur atau apa. Karena…

Bukankah ekspresi demikian pula yang Lovino tunjukkan dahulu saat ia memukul keras kepala Antonio, di sore sepulang waktu itu?

Dan Nesia bersyukur bahwa apa yang ia takutkan, tidaklah terbukti ketika Lovino hanya menghela napas berat sembari mengumpat lirih—apa yang terjadi dengannya, demi Tuhan, pikir Nesia—sebelum ia berbalik dan melangkah pergi bersama seorang siswa yang lansung terburu-buru mengekornya.

Nesia hanya menatap tak mengerti dan heran ke arah punggung yang terlihat semakin menjauh itu.

Terkadang ia sama sekali tak bisa memahami jalan pikiran Lovino—tak peduli sudah berapa dekat mereka sebagai sahabat. Terkadang pemuda itu bisa menjadi sangat manis dan baik, dan terkadang bisa tampak demikian marah tanpa ada sebab.

Dahulu ia marah dan bahkan, benci kepada Antonio—entah karena apa. Dan kini? Bahkan Lovino jarang berinteraksi dengan Senior Arthur!

Apa urusannya pemuda itu tidak menyukai Arthur?

"Hei."

Jentikan singkat jemari Arthur di depan mata Nesia, menyadarkan gadis itu dari pemikirannya sendiri. Ia kembali menoleh dan menatap Arthur, dan mendapati pemuda itu berbicara bahwa, "Apapun yang ingin kau bicarakan, kita bicarakan di luar, oke? Disini berisik."

-oOo-

"Kalau masalah ini, seharusnya kalian juga berkoordinasi dengan Panitia Acara dan Humas. Mereka juga terkait dengan hal-hal seperti ini—apa lagi Humas. Tugas mereka 'kan emang berhubungan dengan para stakeholder. Nanti aku akan coba minta tolong Alfred untuk membantu kalian melobi ulang tawaran kerjasama dengan channel Radio tersebut untuk turut mempromosikan event kita."

Sepanjang Arthur memberi penjelasan selama sepuluh menit ini, Nesia hanya menangkap satu-dua hal yang ia bisa cerna, dan menuliskannya ke note kecil yang ia pegang. Sedikit menyesal ia ketika ia tanpa pikir panjang, bertanya kepada Arthur akan semua ini. Dari lima empat orang SC yang ada, kenapa otaknya tanpa pikir panjang harus memilih Arthur untuk bertanya.

Tidak. Bukannya penjelasan Arthur ribet atau tidak jelas—justru kebalikannya, seandainya gadis itu bisa lebih fokus sedikit saja, pasti ia akan paham dan mengerti betul.

Tapi, jangan salahkan Nesia juga. Karena, bagaimana ia bisa mendengar suara Arthur lebih jelas ketika suara pemuda itupun harus bersaing dengan degupan jantungnya yang seolah hendak menjebol gendang telinganya?

Keras. Cepat.

Puji syukur ia bisa menulis dengan tangan gemetar dan wajah merona panas demikian—puji syukur ia masih bisa menangkap satu dua hal yang diutarakan pemuda itu. Itu saja sudah syukur. Apalagi dengan fakta bahwa mereka kini tengah berada di pinggir lapangan basket outdoor, tak jauh dari aula tempat mereka keluar tadi. Terduduk di atas lantai beraspal. Dan waktu yang sudah beranjak sore, menjadikan lapangan itu sepi—hanya terdapat beberapa orang saja. Itupun mereka hanya lalu-lalang.

Jadi, sanggup bertahan untuk waktu sepuluh menit, dengan kondisi yang demikian, sudah cukup hebat bagi Nesia yang merasa ingin pulang saja.

Entah sejak kapan ia merasakan kehadiran Arthur di dekatnya bisa membuatnya kacau demikian.

"B-Baiklah," bagus, bahkan kini ia tak bisa berbicara tanpa tergagap, "Aku akan bicarakan ini nanti pada Senior Tiino—"

"Dia Koor Panitia Publikasi?"

Nesia mengangguk, menyimpan notes dan bolpoinnya kembali ke dalam tas ranselnya, "Tapi sekarang dia ada jadwal siaran di TV, jadi dia titipkan tugas ini padaku."

Arthur tidak menjawab setelah itu. Pemuda itu tampak tetap fokus pada apa yang dilihatnya—apapun itu. Yang jelas ia tengah menatap ke arah lapangan yang masih kosong sembari terduduk bersila. Sesekali angin musim panas sore hari menerpa wajahnya—membuat helai pirang berantakan itu sedikit terayun karenanya.

Dan membuat, meski samar, Nesia mampu mencium wangi teh dan laut—

"Boleh aku bertanya hal lain, Senior?" tanya Nesia guna menghalau pemikiran absurd-nya barusan.

"O-Oh, ya, ada apa?" sepertinya tadi Arthur tengah melamun dan kini cukup terkejut oleh suara Nesia.

Gadis itu tampak mempertimbangkan ulang apa yang ingin ia ucapkan, sebelum ia meyakinkan dalam hati bahwa ia terlalu penasaran dan ingin tahu jawaban dari apa yang ingin ia tanyakan.

Menatap Arthur dengan pandangan seserius kedua matanya sanggup—yakni tanpa memikirkan apapun mengenai warna emerald itu atau betapa tinggi hidung itu jika dilihat dari samping seperti ini—, ia berucap, "Entah ini perasaanku saja atau bagaimana. Tetapi aku ingin tanya, ada apa sebenarnya denganmu dan Lovino?"

"Guh!"

Nesia hanya menatap tidak mengerti pada Arthur yang terdengar tersedak demikian—seolah-olah ia tak menyangka bahwa hal itulah yang akan juniornya tanyakan. Pemuda itu menoleh ragu ke arah Nesia, sebelum bertanya, "Apa maksudmu?"

"Kau dan dia, sejak di restauran saat itu, terlihat tidak akur—"

"Ngomong apa. Kami tidak dekat—bagaimana kau bisa mengukur tingkat keakraban dan kerukunan kami?"

"Tapi setidaknya, sebelum ini, dia selalu memiliki pandangan dan sikap netral terhadapmu."

"Memandang tajam, mengumpat, memaki, adalah kategori dari sikap netralnya?"

Nesia menyipitkan mata, otomatis sedikit merasa tersinggung akan ucapan Arthur terhadap sahabatnya, "Maksudku, sebelum ini, dia selalu memperlakukanmu sama dengan orang lain yang asing baginya—dan kumohon, tidak perlu berkata-kata sesinis itu padanya."

"Well," Arthur kembali mengarahkan pandangannya ke arah lapangan, "Kalau begitu, tidak ada yang salah di antara kami. Sikap netralnya itu menyebalkan dan sikapnya kemarin di restauran itu juga menyebalkan."

Nesia lebih tahu daripada berdebat dengan Arthur yang keras kepala—jadi ia memilih untuk tidak menghiraukan hinaan Arthur terhadap sifat sahabatnya. Gadis itu menghela napas, seraya merespon pelan, "Tetapi aku tahu betul Lovino. Dari sikapnya dan tatapannya tadi kepadamu, aku tahu bahwa setidaknya, dia tidak menyukaimu," Nesia melirik Arthur, "Dan kau juga tidak menyukainya—aku tahu. Aku tidak tahu apa yang kalian bicarakan lewat telepati atau pandangan sesama pria atau semacamnya, tetapi aku bisa tebak bahwa ada masalah di antara kalian—"

"Dia selalu memiliki masalah pada siapapun yang dekat denganmu."

"Eh?"

Pandangan gadis itu jelas menyiratkan kebingungan total akan apa yang diucapkan oleh Arthur. Kenapa tiba-tiba sekarang menyangkutpautkan dirinya?

"'Tidak suka pada siapapun yang dekat denganmu', maksudmu?" ulang Nesia meyakinkan, "Ini tidak ada hubungannya denganku—"

"Pfft!"

Nesia semakin tidak mengerti. Belum juga rasa herannya terpuaskan, ia kini justru tengah menatap Arthur yang menahan tawa dengan sebelah lengan yang menutupi mulutnya. Wajah pemuda itu tampak merona samar, seperti tengah merasa sangat geli akan apapun hal konyol dan absurd yang berada di pikirannya.

Dan Nesia sama sekali tidak menemukan hal konyol atau absurd apapun dari pembicaraan mereka barusan.

"Dasar bodoh," gumam Arthur sambil masih menahan tawa.

"Apa—"

"Masak kau benar-benar tidak tahu, sih? Tidak sadar sama sekali?" Arthur menoleh dan menatap Nesia dengan geli.

Dan dijawab oleh gelengan pelan dan pandangan bingung gadis itu.

"Bagus deh," ujar Arthur lirih dan tersenyum kecil, "Dengan begitu aku masih punya harapan."

Mulut Nesia sedikit menganga dan matanya semakin menyipit, seolah hendak mengatakan, 'Demi Tuhan, kau ini ngomong apa, sih?'. Karena jujur, ia benar-benar tidak paham dan kini, ia juga merasa kesal setengah mati karena sikap Arthur yang menyembunyikan sesuatu yang jelas-jelas diketahui oleh pemuda itu.

Dimana sesuatu itu bisa menjelaskan semua pertanyaan dan rasa heran Nesia.

"Apa yang kau bicarakan, Senior?" geram Nesia kesal, sembari memukulkan pelan ranselnya ke arah lengan Arthur di sampingnya.

"Kau akan tahu sendiri nantinya—mungkin," ujar Arthur mengendikkan bahu, "Tidak perlu pake kekerasan begini, oke?" ia kembali menahan hantaman ransel Nesia yang isinya lumayan berat itu, dari tubuhnya.

"Kalau kau tak mau jawab, nanti biar aku tanya Lovino sendiri saja."

"Silahkan, kalau dia punya nyali untuk menjawabnya."

"Apa maksudmu?"

"Nah, bukannya kau barusan bilang akan bertanya padanya langsung? Tanyakan saja apa maksudku."

"Hih!" Nesia hanya nyinyir judes, merasa benar-benar kesal. Jika memang Nesia terlibat dalam apapun masalah mereka berdua, kenapa Nesia tidak diberitahu? Mungkin Nesia bisa membantu, kek? Apa, kek!

Katanya jalan pikiran wanita adalah yang paling sulit diterka, tetapi nyatanya jalan pikiran laki-laki juga tak kalah mumet, ribet, dan mbulet!

"Kau sendiri bagaimana?"

Nesia tidak repot-repot menjawab, ia masih kesal. Lagian juga pertanyaan Arthur ambigu. 'Kau sendiri bagaimana' apanya?

"Maksudku…," Arthur berdeham, "Kau…," Arthur membentuk tanda kutip di udara dengan jemarinya, "…dan Carriedo."

Pertanyaan Arthur itu justru seolah menyiram bensin ke api kekesalan Nesia. Apa? Tadi ia sengaja menyembunyikan sesuatu antara dirinya, Nesia, dan Lovino. Dan kini pemuda itu memberinya pertanyaan sangat random? Out of the blue for Christ's sake?!

"Itu bukan urusanmu," ujar Nesia ketus.

"Aku tahu tentang kalian."

"Itu tidak lantas memberimu hak untuk bersikap kepo terhadap kehidupan personalku."

"Kehidupan cintamu yang bertepuk sebelah tangan maksudmu?"

Orang ini ga punya hati, ya, bicara seperti itu dengan nada wajar-wajar saja?

"Terimakasih sudah membuat moodku ke arah biru!"

"Sama-sama," Arthur mengendikkan bahu dan menyeringai kecil, "Tetapi, kalau dilihat dari kau akhir-akhir ini, sepertinya baik-baik saja."

Eh?

Nesia menajamkan pendengarannya. Tubuhnya otomatis menegang ketika mendengar ucapan Arthur barusan.

"Seidaknya kau tidak lagi tampak begitu gloomy seperti waktu-waktu dahulu—bahkan beberapa kali kulihat kau juga tampak terbiasa ketika melihat Carriedo dan Senior Bella beberapa waktu belakangan."

Hanya satu yang Nesia pikirkan sembari menatap Arthur yang masih memberikan pandangannya ke arah lapangan di depannya.

Darimana Arthur tahu semua itu? Kecuali Arthur bersikap cukup sotoy hingga dengan PD-nya berucap demikian, maka hanya ada satu jawaban.

Apakah pemuda itu memperhatikannya selama ini?

Mendapat pemikiran demikian, ada sesuatu yang berdesir di dalam sini. Seperti darahnya yang mengalir hangat melewati tubuhnya, lantas berkumpul dan memusat di kepala di daerah wajahnya. Karena Nesia merasa wajahnya sekarang terasa memanas dan tanpa perlu berkacapun, ia yakin bahwa kini ia tampak merona.

Senior Arthur memperhatikannya…

"Kau memperhatikanku?" ujar Nesia tanpa sadar menyuarakan pikirannya. Sedetik kemudian ia baru sadar apa yang telah ia ucapkan, ketika Arthur menoleh dan menatap terkejut ke arahnya.

"A-Apa—" dan warna merah di wajah pemuda itu mengingatkan Nesia pada warna pertama dari bendera Negerinya, "PD sekali kau. Aku hanya tidak sengaja dengar dari omongan Alfred—k-kau tahu si Idiot itu tahu segala hal—entah bagaimana caranya. D-dan soal Senior Bella, tentu aku tahu k-karena dia kan dulu juga anggota OSIS! Jadi jangan berpikir aku memperhatikanmu atau apa, ya!"

"Aku 'kan hanya bertanya," ketus Nesia, tanpa mampu menahan nada sedikit kecewa dan tersinggungnya, "Kau tidak perlu berlebihan begitu, juga."

Rasanya…

Rasanya ada sesuatu yang jatuh dengan keras di dasar perutnya ketika ia mendengar penyangkalan Arthur. Memang, sih, akan jadi aneh jika Arthur benar-benar memperhatikannya selama ini.

Tetapi, entah mengapa sekarang Nesia berharap bahwa—

Argh!

Stupid head with its stupid thoughts!

Keadaan kembali sunyi ketika Arthur tidak merespon. Ia kembali menatap ke arah lapangan, dan Nesia sibuk memelototi sepatunya—seolah-olah sepatu itu adalah sumber masalah dalam hidupnya. Waktu makin sore, matahari semakin ke arah Barat. Menyiratkan sinar kejinggaan pada apapun yang tersentuh oleh sinarnya. Sesekali angin sore berhembus, memberi hawa kesejukan setelah didera rasa gerah siang hari musim panas.

"H-Hei—"

"APA?!" sahut Nesia judes, membuat pemuda di sampingnya mengernyitkan mata dengan dahi yang berkedut kesal.

"Geez! Tak perlu membuatku nyaris mati karena serangan jantung, 'kan?" protes Arthur.

"Mati saja sana, dipikir aku peduli apa," gerutu Nesia lirih. Ia ingin pulang saja, sudah terlanjur sebal tak hanya pada Arthur dan semua rahasianya (oke, jika si setan itu tidak bicara bahwa Nesia terlibat dalam apapun masalah antara Arthur dan Lovino, mungkin Nesia tidak akan merasa sepenasaran dan sekesal ini! Uh!), juga terhadap dirinya sendiri yang masih saja, memiliki perasaan aneh terhadap apapun yang dimiliki Arthur, apapun yang diucapkan Arthur, dan apapun yang dilakukan Arthur.

Ia ingin pulang, tetapi baru saja Lovino sms dan menyuruh Nesia untuk menunggunya—ia ingin pulang bersama-sama. Dan pemuda itu berjanji akan segera sampai.

"Ya Tuhan," Arthur memutar bola mata, "Jangan bilang kau marah karena hal tadi? Sumpah, itu kenakan sekali, tahu?"

Nesia hanya mendecak dan menyinyirkan bibirnya, sembari kedua matanya menatap sebal ke arah lapangan di depannya—seolah-olah sumber dari semua kekesalannya adalah lapangan tak berdosa itu.

Terdengar lagi suara dehaman, terdengar amat dipaksakan. Dan tahu-tahu, di depan Nesia tersodor sebuah kertas berwarna putih.

Menaikkan sebelah alisnya dengan heran, Nesia mengalihkan pandang dari kertas di depannya ke arah siapa yang menyodorkannya. Arthur—siapa lagi.

Dan Nesia nyaris berpikir bahwa kulit Arthur telah benar-benar berganti pigmen warna, ketika menyadari semburat rona merah yang tampak jelas—kelewat jelas—di kulit yang warna awalnya putih tersebut.

Pemuda itu memberi Nesia sebuah senyum patah—antara gugup dan ragu. Yang mana hal itu juga diberikan oleh kedua matanya yang terlempar kesana-kemari, seolah ingin menatap apapun selain dua bola hitam kecoklatan yang menatap heran campur takjub ke arahnya.

Jika Nesia pernah menyaksikan keajaiban, maka apa yang dilihatnya kini adalah salah satunya.

Wajah merona Arthur. Tatapan yang tampak ragu itu. Senyum yang terlihat kikuk…

"A-A-Apa ini?" buru-buru Nesia menyahut surat itu. Sebuah upaya desperetnya untuk terjebak lama-lama dalam menatap pemuda di depannya—pemuda yang kini nampak… sangat tidak biasanya.

Bahkan Nesia rasanya sampai mati tidak pernah berpikir bahwa seorang Arthur yang berhati sekeras batu dan berdarah sedingin ular, bisa tampak demikian…

Ah. Sudahlah.

"I-Itu," berdeham lagi, "B-Bagaimana menurutmu?"

Dan Nesia, demi Tuhan, memaksakan otaknya untuk mencerna tiap kalimat demi kalimat yang tertera di kertas itu. Bahkan ia sampai pada tahap mengejanya layaknya anak TK, ketika apapun yang dibacanya, rasanya mental kembali dari kepalanya ketika kepala itu sendiri kini sibuk mengingat-ngingat memori akan pemandangan yang baru saja dilihatnya.

I've never been myself anymore ever since all of this started.

I deny everything—God, I've tried denying everything.

But they got the better of me.

I've stopped using my head since.

And I admited.

I gave in.

Menelan ludah, Nesia sedikit merasa tak yakin akan apa yang dibacanya. Ia yakin ini adalah puisi—atau setidaknya curahan seorang Arthur Kirkland. Tetapi di saat yang sama, ia juga tidak yakin bahwa Arthur Kirkland, seorang Arthur Kirkland, seorang Ketua OSIS, siswa tingkat akhir, SC Hetalia Anniversary, memiliki banyak waktu luang untuk bersajak-sajak ria demikian.

Apakah ini tugas salah satu mata pelajaran?

Tetapi mana mungkin. Kalau iya, untuk apa bertanya Nesia? Di mata Arthur, Nesia 'kan terlalu idiot untuk ditanyai macam-macam mengenai apapun yang berbau keilmuan dan pengetahuan.

Uh.

"W-Well, bagaimana men-menurutmu?" terdengar suara Arthur yang lirih dan tergagap.

Membuat Nesia rasanya semakin gugup ketika ia berpikir harus menjawab apa. Sepertinya Arthur benar-benar menaruh ekspektasi tinggi terhadap jawabannya, ya?

"Ini puisi, ya?" sambil meringis lebar dan menatap ke arah Arthur—

—yang kini memberi pandangan heran tingkat wahid, ke arah Nesia, "Tidakkah itu jelas?" dan diakhiri oleh lengkungan bibir ke bawah, seolah ia tengah merasa begitu kecewa akan pertanyaan Nesia.

"O-Oh! Maksudku, aku sudah menduganya! Haha!" dalam hati Nesia merasa jaws dropped tingkat akut mendengar pengakuan Arthur. Puisi dan Arthur? Gimana nyambungnya? "P-Pasti untuk Senior Alfred, ya!"

Oke, Nesia mengucapkan itu untuk sekedar becanda—for the sake of joke! Agar kecanggungan dan kegugupan yang ia rasakan bisa sedikit memudar. Tetapi ia benar-benar sedikit merasa menyesal ketika telah berbicara demikian. Karena kini, sikap gugup dan kikuk Arthur benar-benar hilang sempurna dan digantikan oleh raut sedikit kecewa.

"Alfred?" ulang Arthur memastikan.

Terlanjur basah, nyemplung aja sekalian, deh, "Aku tidak menyangka Senior bisa merangkai kata-kata sepuitis ini! Haha! Ini bodoh sekali!"

Dan raut kesal itu makin tampak.

"Ini buat Senior Alfred, 'kan? Atau cowok mana? Cheesy sekali, Senior!"

Dan makin tampak.

"Harusnya Senior Alfred yang memberikan ini padamu, bukan sebaliknya—Ah!"

SRAK!

Terdengar suara benda yang direbut, lantas sesuatu yang dirobek-robek dengan demikian cepat dan kuat-kuat.

Nesia hanya menatap terkejut ketika Arthur tiba-tiba menyahut kertas yang ia pegang, lantas meremasnya, lantas merobek-robeknya menjadi kepingan-kepingan kecil dan berhamburan tertiup angin.

Wajah Arthur terlihat memerah. Padam. Namun Nesia yakin, dari katupan rapat rahang itu, warna merah itu bukan karena malu atau gugup. Tetapi karena ia ingin mengkanibal Nesia hidup-hidup saat ini juga.

"Senior, kenapa—"

"To hell with you!" maki Arthur lirih, lantas tanpa memberi kesempatan, ia menyambar tasnya dan berdiri.

Lantas langsung berjalan cepat-cepat ke arah aula.

Sedangkan Nesia hanya menatap punggung berbalut blazer Hetalia High itu dengan pandangan antara menyesal dan bingung. Menyesal karena ia merasa sungguh tidak nyaman dengan kemarahan Arthur. Dan bingung karena,

sejak kapan Arthur menganggap serius—benar-benar serius hingga murka demikian—becandaannya? Ayolah, guyonan antara dirinya dan Alfred bukanlah hal baru. Meski dulu pemuda itu juga protes, tetapi ia tidak sampai mengumpat marah seperti itu.

Kenapa?

Kenapa untuk kali ini, Arthur benar-benar marah?

Dan Nesia akan benar-benar berdiri dan menyusul pemuda itu, meminta maaf, jika ia tidak mendapati Lovino Vargas yang muncul di sampingnya dan menanyakan, "Apa yang kau lakukan di sini? Kita pulang sekarang?"

-oOo-

Arthur: Hei, pembaca /tiba-tiba udah pasang wajah judes/

Lovino:… /tiba-tiba udah pasang wajah siap makan orang/

Arthur: Otak tomat! Setidaknya sapalah pembaca! /meledak/

Lovino: /sedekap tangan/ Aku tidak mau membaca ataupun membalas review yang merepotkan.

Arthur: Grrrr…. Eh, harusnya kau itu bersyukur udah diberi air time (?) tambahan di sini di tengah popularitasmu yang udah menurun di main story fic ini! Dasar!

Lovino: Setidaknya aku tidak maksa-maksa untuk kembali ada di review reply ini meski kemarin sudah mendapat bagian! /lirikArthurjudes/

Arthur: … /terpukau tidak percaya/ A-Aku tidak memaksa! Cih! Emang apa enaknya hadir di sini lagi dengan kau! Cuma bikin empet saja tahu, ga?

Lovino: Oh Tuhan! Inilah kenapa dari awal aku mau nolak ngebalas review chapter ini! /segera baca review sebelum Arthur ngebalas omongan/ dari Aya Harukawa, dia bilang bahwa di chapter kemarin banyak kalimat yang ga baku… /mikir sambil lihat kertas reviewan/

Arthur: Maklum, Nona Aya. Si DIS kan dulu UAN Bahasa Indonesia-nya lolos gegara nyogok ke pengawasnya /sebel diragukan kemampuannya dalam menulis puisi/ /melemparkan kekesalan pada DIS yang inosen dan tidak berdosa/

Lovino: /lempar lirikan terganggu ke Arthur/ babyHaniudaAmu, makanya, kalau review log-in dong. Review anonym terkadang emang ga nyampe. DAN APA? Ngarep si Alis itu pacaran sama Nesia?! /langsung robek sadis kertas review babyHaniudaAmu/ Next reviewer! /cooly/

Arthur: /merasa dongkol mampus/ Chezaria E., SUKA dan NGEFANS ya adegan romantis UKNES? /sengaja kerasin dan pamer nista ke Lovino/ Terimakasih. Dan tenang saja, SECEPATNYA kami akan jadian, kok! Time will tell!

Lovino: /melengos/ Hanya karena kau udah dikeramasin ama Nesia, bukan berarti kalian bakal jadian! /denial sampek mati/ Dan aku akan gunakan SEGALA cara untuk membuat kalian tidak jadian—seperti kau yang udah menggagalkanku buat confes waktu itu dengan cara nistamu! /masih dendam kesumat gegara tragically patah hati/

Arthur: E-emang apa yang udah kulakukan? /pura-pura bego/ Udahlah. Kunikohime Madoka Tanuki, bisakah Anda log-in? Saya jadi penasaran… /ga penting/ Hm, gimana kalau saya tahu Willem mantan Nesia? Biasa aja sih. Kan pas saya tahu soal itu, Nesia udah jadi milik saya /nyengir dan blushing nista tanpa malu/

Lovino: /rasanya pengen bunuh diri aja daripada hidup dengan kudeta hati (?)/ Untuk scarlet, jangan review dengan kalimat memuakkan seperti itu /tanpa sungkan ngehina reviewer/ Karena, catat: fic ini tidak mungkin berakhir dengan UKNes. Hah… bahkan rasanya aku lebih rela seandainya Nesia jadinya dengan Antonio saja…

Arthur: Git! /selalu sensi tiap denger nama Antonio—rival terberat cintanya (halah)/ Ga usah bawa-bawa otak tomat kedua itu! Orang oblivious kelewat bego yang udah bikin Nesia menderita selama dua puluhan chapter lebih! /selama ini ngitung dengan tepat jumlah hari Nesia menderita/ Mokakoshi, adegan R18? /blushing to the max/ I-I-I-I-Itu—itu—

Lovino: /dongkol + kelamaan nunggu Arthur kejang (?)/ kanon rizumu, apa? UKNes tampak manis? Tidak ingatkah kamu akan semua perilaku nista Arthur pada Nesia sebelumnya? Dan siapa yang memberi comfort pada Nesia tiap ia dongkol ama Arthur atau patah hati oleh Antonio? Siapa?! /mendramatisir suasana/

Arthur: Cinta itu tidak punya mata, Lovino /menyeringai menang/ Tsundere Neko, penelpon misterius itu bukan saya. S-sumpah deh! /gugup + blushing/

Lovino: /pura-pura mau muntah/ Ga tahu malu banget sih, udah jelas tapi masih aja nyangkal! Untuk Jong Aeolia, berhubung reviewnya panjang dan agak serius, udah dibalas ama DIS sendiri lewat PM. Yah, aku juga ga tahu balasannya apa. Yang jelas semoga semuanya udah diluruskan /ambigu/

Arthur: Untuk Anonim, Hidden, dan Cissy L., terimakasih udah nge-ship UKNes. Kami akan berusaha lebih giat lagi /apanya?/ Dan untuk Minri, oke. Terimakasih /awkward bingung balas apa/

Lovino: Sakurazaka Ohime, kamu tahu cirinya kalau DIS lagi galau? Fic nya pasti banyak deskripnya daripada dialog /berarti selama ini DIS galau terus?/ Aku dan Arthur tonjok-tonjokkan? Hey, fic ini sudah cukup dengan banyak adegan opera. Jangan sampai lebih opera dan nyinetron lagi dengan tonjokan hanya gegara cinta /halah/

Arthur: Noir-Avalarez, maaf kali ini tidak bisa mengabulkan permintaanmu karena aku sekarang justru membalas semua review ini bersama dengan dia /lirik Lovino dengan nista/

Lovino: /hela napas/ Ayolah, kau tidak berpikir bahwa aku senang berada di sini bersamamu, 'kan? /dapat deathglare dari Arthur/ /cuek/ Dan Noir, soal pesta dansa, sebentar lagi dan DIS tidak memberi spoiler akan sama siapa si Nesia ntar pergi.

Arthur: /diem/ /tapi berdoa dan ngarep dalam hatinya bahwa Nesia akan pergi bersamanya/ U-Untuk Kiriya Diciannove, te-terimakasih atas pujiannya /mendadak blushing keinget adegan chapter lalu/

Lovino: /otomatis nyolot/ INILAH KENAPA aku ogah banget balas review chapter ini /pelototi semua kertas reviewan yang 99 persen ngebahas UKNes/

Arthur: /lirik judes ke Lovino/ Oi, masa kejayaan RomaNes itu udah di awal-awal chapter dulu. Berhentilah berharap /sadis/ Dan untuk s.o.m.e.o.n.e. No gentlemen will ever want to be called cute! /tapi blushing/

Lovino: Eternal Patronus , satu kata buat Arthur: Sirik tanda tak mampu /masih kesel dikatain playboy di chapter kemaren/

Arthur: Hah! Sirik ama situ? Yang benar?! /padahal pengen nyakar aja wajah Lovino/ Ngapain aku sirik ama orang yang Cuma dianggap sahabat oleh Nesia? /MAK JLEB!/ HA-HA! Kasihan... Udah capek-capek perhatian dan jadi Hero, eh ujung-ujungnya cuma sahabatan! /ngehina tanpa perasaan/

Lovino: /speechless dan merasa dunianya hancur seketika/ /mafia mode: ACTIVATED AND MAX/ /Berniat melakukan adegan gore kepada Arthur/ Kau…

review reply ditutup di sini karena berlangsung adegan R18 (?)…

Review~ (bisa rikues siapa yang bakal balas review di chap depan. Misal, DIS ama Nesia atau DIS ama Antonio juga ndak papa :) )

Salam Kontroversi dan Kudeta Hati,

DISasisasi.