Guys, sorry banget telat update :'D #datang dengan airmata penyesalan# Seingat saya, ini updatean terlama ya? Sorry. Tapi saya janji, chapter depan ga bakal nunggu selama ini buat update kok :D Thanks so much anyway untuk kesediaan membaca dan review :)
Warning: Chapter ini deskrip bejibun
"Menurutmu bagaimana dengan yang ini?"
Suara tirai yang tergeser membuka itu mengalihkan perhatian sang gadis yang sebelumnya sibuk mengamati pajangan berbagai macam korsase yang terdapat di samping tempat duduknya. kepala dengan helai hitam yang terkuncir kuda tersebut menoleh ke arah sumber suara, dan sebuah senyuman lebar tampak di bibirnya ketika memandang apa yang ada di depannya—Lily Zwingli dengan sebuah gaun biru muda. Bagian bawah berbentuk rok bertingkat dan sebuah pita berwarna putih yang terikat manis di belakang pinggang. Bagian lengan memanjang hingga ke siku, dengan ujung yang sedikit menggelembung. Sebuah wedges putih tampak melingkupi kedua telapak kakinya yang mungil.
"Wow," helaan napas terdengar bersama dengan ungkapan kekaguman itu, "Apakah aku tengah melihat Cinderella?"
Sedangkan si Lady aristokrat tampak tersipu, namun memberi pandangan tidak setuju ke arah temannya, "Apakah itu sebuah sindiran?"
"Sindiran?" terdengar heran dan sedikit geli, "Beneran, Lily. Dari keempat gaun yang sebelumnya sudah kau coba di dressing room, semuanya tampak cocok—hei, ini salahmu sendiri yang memiliki aura Putri yang begitu kuat; gaun apapun yang kau pakai, pasti akan membuatmu mampu menjadi pusat perhatian di pesta nanti."
Gadis yang barusan disebut sebagai pemilik "aura Putri" tersebut tampaknya semakin tersanjung—meski ia berusaha menyembunyikannya dengan cara menundukkan kepalanya dan mulai berputar-putar kecil sehingga roknya terkembang indah—memandang refleksi penampilannya di kaca di dekatnya, "Kau terlalu berlebihan memujiku dari tadi, Nona Annesia Saraswati," Lily tersenyum sembari menunjuk gaun berwarna hijau muda yang masih dipakai Nesia, "Kau juga tampak manis sekali dengan gaun apapun yang kau pakai."
Tak acuh, Nesia mengibaskan sebelah tangannya, "Kau tahu, aku merasa bahwa diriku terlalu tomboy dan terlalu tak bisa diam, untuk pantas memakai pakaian seperti ini—aku akan melepas pakaian ini dan tidak jadi membelinya," melirik ke pangkuannya, Nesia memandang sejenak akan gaun hijau muda yang membalut tubuhnya.
Hhh… terlalu fairytale-like untuk gadis yang terlalu plain sepertinya—menurutnya.
"Hei, kenapa pesimis begitu?" gumam Lily sembari melepas sepatunya, untuk mencoba sepasang sepatu lain yang sudah dipersiapkan sebelumnya, "Kau tahu, Hetalia Anniversary adalah event besar yang hanya terjadi setahun sekali. Tidak ada salahnya untuk tampil beda, 'kan?"
Nesia melirik Lily dengan tatapan geli, "'Tampil beda' katamu? Ah! Rupanya kau ingin tampil beda, Lily? Untuk siapa hayooo~"
Ketika melihat wajah putih itu merona sembari dengan bibir yang sedikit merengut, Nesia tergelak sembari semakin meningkatkan intensitas godaannya, "Apakah ini ada hubungannya dengan seseorang yang akan menjadi pasanganmu di pesta dansa nanti? Siapa? Siapa?"
"Nes! Jangan mengalihkan topik!" ketara sekali jika putri bungsu Zwingli tersebut tengah merasa kikuk, terbukti dengan semakin meronanya wajah mungil tersebut, "Apapun, sehabis ini kita pilih gaun yang terbaik untukmu. Titik."
"Hei, acara belanja ini 'kan bukan aku yang mengajak," protes Nesia ringan, lantas sebuah ringisan lebar kembali mampir di bibir tersebut, "Lagipula, aku juga tidak mengharapkan untuk tampil beda di depan Emil Steillson nantinya, 'kok."
BRESH!
Tak pernah Nesia menyangka bahwa semuda itu membuat Lily tampak memamerkan rona seekstrem itu di wajahnya, bersama dengan kedua matanya yang menyipit antara malu dan terganggu, ke arah Nesia.
"N-Nesia, apa yang kau bicara—" menghela napas kecil, Lily tampak pasrah, lantas berbalik dan kembali menuju dressing room, sebelum menggerutu kecil, "Kau selalu bercanda jika kita berbicara serius. Apapun, kita tidak akan pulang sebelum kau memperoleh gaun untuk Hetalia Anniversary nantinya."
Tertawa, Nesia tak bisa menahan dirinya untuk menyeletuk ringan, "Hati-hati lho, kalau aku kelewat cantik, nanti Emil bisa jatuh cinta padaku!"
Gadis itu hanya meringis ketika dengan kasar karena mungkin jengkel bercampur malu, Lily kembali menggeser tutup tirai dressing room yang dimasukinya.
Tetapi hanya sesaat.
Karena ringisan itu meluntur begitu tirai tersebut sempurna tertutup, seolah itu adalah momen yang tepat untuk menatapkan tatapan sayu dua bola mata itu agar tidak terlihat oleh sang sahabat, atau bahkan, dunia.
'Gaun terbaik apanya…'
Semakin mendekat ke hari Hetalia Anniversary, Annesia semakin tidak menemukan alasan yang tepat untuk membuatnya bersemangat menyambut kedatangan momen tersebut.
Entah kenapa semuanya sama sekali tidak terasa spesial.
-oOo-
Axis Power Hetalia © Hidekaz Himaruya
Picture © Sakurazaka Ohime
I just own the plot of the story and I don't gain any commercial advantages by publishing this fic.
Warning: AU, Human Name, High School, OC, OoC yang mendewa, (highly possible) crack pairs, (a lil') Nesia-centric, but no Mary Sue/Gary Stu I assure you :D totally absurd.
Pairing: Anda bisa menebak sendiri mana yang main pairing, dan mana yang sekedar hints dan fans service :p
Ini murni dari pemikiran saya. Maaf jika kebetulan ada kesamaan ide karena setting gakuen sangat banyak di FHI. Itu tidak disengaja :D
Long Live FHI and Say NO to Plagiarism! Mari berkarya dengan hati dan imajinasi :D
Maju FHI!
-oOo-
Memanfaatkan waktu istirahatnya yang cukup lowong—terimakasih pada newbie H-Radio yang otomatis 'meringankan' beban tugas para Senior H-Radio seperti Nesia—, sehabis rapat internal bersama para panitia publikasi Anniversary, Nesia lantas keluar dari ruangan rapat dan langsung menjadikan kantin sebagai tujuan pertama yang ingin ia tuju. Cacing di perutnya sempat konser akbar dengan demikian 'akbar' hingga ia merasa akan menjadi bahan tertawaan seminggu ke depan, oleh para panitia publikasi yang sempat mendengar 'konser' tersebut secara live, saat rapat tadi.
Berjalan, ia mengamati aula Hetalia High yang tampak berdiri megah dan mewah bahkan ketika dilihat dari jarak sejauh ini. Hiasan dan dekorasi sudah terpasang dengan demikian cantik dan megah—tinggal menambahkan sedikit beberapa sentuhan saja untuk membuat aula tersebut benar-benar seperti ruangan dansa layaknya dongeng Cinderella. Pengumuman dan promosi event juga sudah menyebar, berikut dengan undangan yang siap diantar pada orangtua/wali, atau beberapa alumni Hetalia High. Suasana pesta sudah demikian terasa, karena sudah sejak beberapa hari yang lalu hingga sekarang, Nesia tidak pernah melewatkan satu haripun di sekolah tanpa mendengar antusiasme para teman wanitanya akan pesta dansa yang akan mereka jalani.
Yah, layaknya di kebanyakan cerita dalam novel atau cerpen, ketika menjelang pesta, yang diributkan oleh para gadis juga berputar pada itu-itu saja: gaun, dandanan, model rambut, sepatu, belanja bersama, dan hal wajib yang tak boleh ketinggalan dalam setiap gosip: pasangan.
Nesia menghela napas.
Setiap mendengar obrolan antusias dari para teman perempuannya mengenai hal tersebut, tak ada yang bisa Nesia lakukan selain hanya mendengar dan pura-pura untuk turut merasa antusias. Ketika teman-temannya menanyainya akan siapa yang ia ajak sebagai partner-nya di pesta nanti, Lovino Vargas adalah nama yang ia sebut. Bukan apa, karena memang ia sudah berjanji pada Lovino untuk berangkat bersama dan menjadi pasangan—partner di pesta yang akan berlangsung empat hari ke depan.
Hanya saja masalahnya, kenapa Nesia sama sekali tidak merasakan antusiasme yang sama seperti teman-temannya?
Jangankan bersemangat untuk memilih gaun (layaknya Lily Zwingli dua hari yang lalu), bahkan ketika ia mendapatkan pertanyaan dari temannya akan siapa pasangannya, terkadang Nesia merasa ada sedikit keraguan untuk menjawab yang sebenarnya.
Ada keraguan untuk mengakui bahwa ia telah memilih Lovino sebagai pemuda yang akan membawanya ke pesta nantinya.
Sempat terpikir oleh Nesia bahwa hal itu ia rasakan karena ia masih belum benar-benar mampu untuk menyingkirkan Antonio Carriedo dari pikirannya, akan tetapi pemikiran tersebut seketika ia tepis ketika ia yakin bahwa akhir-akhir ini, ia merasa bahwa dirinya justru menjadi fansgirl pasangan Carriedo-Van Hardt.
Alih-alih menginginkan Antonio untuk menjadi pasangannya, Nesia bahkan sempat berteriak senang ketika Antonio memberitahunya bahwa ia sukses membawa Bella untuk menjadi pasangannya di pesta nanti—ia sukses mengalahkan Senior Ludwig Beilschmidt yang mungkin, dan pastinya, juga menawarkan tawaran yang sama pada Senior Bella.
"Mungkin aku tidak bersemangat karena memang dari awal aku tidak begitu menyukai pesta…," gumam Nesia ketika ia sudah merasa jengah memikirkan semuanya.
Lagipula, Lovino tidak buruk, kok. Pasangan 'kan bukan berarti pacar. Siapapun bisa juga berdansa dengan sahabat, atau Kakak, 'kan? Plus, Lovino adalah pemuda yang baik, gentle, dan Nesia akui, cukup tampan.
Gadis itu menghela napas, lantas menepuk kedua pipinya perlahan, "Ayolah, jangan menjadi remaja ababil yang bingung terus masalah cinta—cukup bagus kau bisa moved on dari Antonio, jangan galau lagi gegara kau tidak bisa pergi ke Anniversary bersama kekasihmu!"
"Nesia!"
Suara yang menyebut namanya tersebut, sukses membuyarkan pikiran galau Nesia. Gadis itu menoleh ke sumber suara, dan dilihatnya seorang pemuda berambut pirang yang tengah berjalan keluar dari gedung Sekretariat OSIS.
'OSIS…'
"Hei, Nes!" Senior Alfred kembali berseru ketika dilihatnya si junior yang justru tiba-tiba terbengong, seolah gadis itu tengah memandang sesuatu yang menerbangkan pikirannya kemana-mana.
"S-Senior Alfred," kembali tersadar, Nesia segera menghampiri Senior Alfred. Pemuda itu berjalan sedikit tergesa, bersama dengan dua tangannya yang mengangkat sebuah box besar yang sepertinya, terasa berat untuk diangkat—kelihatan dari ekspresi Senior Alfred yang tampak kelelahan tersebut. Dan otomatis, Nesia hendak membantu pemuda tersebut untuk mengangkat box tersebut, "Biar kubantu."
"Nah," Alfred menolak, dengan cara menjauhkan box itu dari jangkauan tangan Nesia. Sembari terus berjalan, pemuda itu berkata, "Apa jadinya jika hero sepertiku menerima pertolongan dari perempuan."
Yah, Nesia sudah menduga alasan itulah yang akan diucapkan oleh Alfred.
"Memangnya itu isinya apa, Senior?" tanya Nesia, "Kok sepertinya kau terburu-buru?"
"Untuk pertanyaan pertama, ini berisi beberapa peralatan untuk Summer Play yang kupinjam dari OSIS," jawab Alfred cepat. Sebentar ia berhenti untuk membenarkan pegangannya pada box di depan dadanya, "Dan untuk pertanyaan kedua, karena semua peralatan ini sedang ditunggu oleh anak-anak di klub Drama untuk latihan."
"Latihan?" tanya Nesia. Mendengar kata tersebut, secara otomatis, insting 'mbolang'nya teraktifkan dan ia lantas melupakan tujuannya untuk menuju ke arah kantin, "Kalian sekarang tengah latihan?"
"Yap."
"Bolehkah aku menonton?" pertanyaan yang tak berguna, sejujurnya, karena toh gadis itu sudah melangkahkan kakinya di samping Alfred.
Alfred tertawa kecil, "Meskipun sebenarnya aku ingin menjadikan ini sebagai kejutan, tapi okelah, karena kau junior yang cukup dekat denganku," ujar Alfred ringan, membuat Nesia menggumamkan kata terimakasih, "Hhhh… lagipula sebelum pergi, Arthur juga berpesan padaku untuk menjagamu, kok."
.
.
Eh?
.
.
Oke, suara Alfred barusan hanya berupa gumaman lirih, itupun terdengar bersamaan dengan suara beberapa siswa yang kebetulan ada di lorong saat periode istirahat waktu itu. Jadi, jangan salahkan Nesia jika gadis itu berpikir bahwa telinganya tengah membohonginya.
"Apa?" Nesia memandang Alfred terkejut, bercampur heran, "Apakah kau berbicara mengenai Senior Arthur Kirkland? Pergi? Kemana?"
Meski Nesia masih yakin bahwa apa yang didengarnya barusan hanyalah imajinasinya—bahwa, entah bagaimana bisa, telinganya mendengar nama Arthur terucapkan oleh Senior Alfred…
Tetapi tetap saja, ia bisa merasakan jantungnya yang sempat melewatkan satu degupan.
Singkat, sejenak.
Namun rasa cemas yang ditimbulkannya, bisa ia rasakan begitu kuat dan tidak sebentar.
Arthur pergi?
Dan saat Alfred menoleh dan memberi pandangan heran ke Nesia, barulah Nesia sadar bahwa apa yang didengarnya dari Alfred barusan bukanlah imajinasinya.
"Kupikir dia sudah memberitahumu?" bahkan Nesia tidak mampu menggeleng atau menganggukkan kepalanya untuk meresponnya, "Dua hari yang lalu, ia pergi ke Inggris untuk mengikuti konferensi internasional, di Universitas Oxford."
Di saat itulah, rasanya ada sesuatu yang jatuh dari dada Nesia, dan menghantam, kemudian mengendap keras di dasar perutnya.
Dan rasanya tidak mengenakkan.
Tidak hanya ia cukup terkejut oleh berita kepergian Arthur, namun yang lebih terasa di dalam sini adalah mengapa ia sama sekali tidak tahu? Mengapa ia tidak mendapat kabar?
Mengapa Senior Arthur tidak memberitahunya…
Nesia menghela napas sembari menggigit sebelah ujung bibirnya.
Ngomong apa… Tentu saja. Dia pikir dia siapa hingga Arthur pantas untuk merepotkan diri untuk memberitahukan keberangkatannya?
Arthur hanya menganggapnya sebagai gadis yang barbar, merepotkan, tidak sopan, unlady-like, menjengkelkan, membuatnya marah…
Dan terlebih, sepanjang perjalanan ke ruangan klub Drama, Nesia tak habis pikir akan kenapa ia justru merasa payah dan seburuk ini hanya karena mendapati bahwa Arthur pergi tanpa memberitahukan apapun padanya.
'Sungguh, apa yang sudah kau perbuat pada diriku akhir-akhir ini, Senior…'
-oOo-
"NATHAN! APA YANG KAU LAKUKAN?!"
"…"
"TOLONG, NATHAN! BERHENTI BERSIKAP SEPERTI ITU!"
"…Pergilah."
"MENEMBAKKAN PELURU KE KEPALAMU TIDAK AKAN MENJADI SOLUSI ATAS PERMASALAHANMU, NATH!"
"Aku harus menghancurkan otakku ini, Jim! Aku jengkel karena benda sialan di kepalaku ini tidak bisa berhenti memikirkan dan membayangkan Chelsea Bloomwood! Otak keparat ini lebih baik membusuk saja di neraka!"
"Kau pikir Nona Bloomwood akan bahagia bila melihat ini, Nath?!"
Terduduk di pinggiran mini stage yang dipakai anggota Klub Drama untuk latihan, pandangan Nesia mengarah pada dua orang pemuda yang kini tengah memberikan akting terbaiknya dalam memainkan perannya. Masing-masing pemuda tersebut memegang lembaran script yang mana mereka membacakan dialog masing-masing dari sana, lengkap dengan ekspresi yang menurut Nesia, tak kalah dengan pemain Opera profesional.
Meski selama lima menit Nesia sudah berusaha benar-benar menyimak dan memerhatikan, akan tetapi ia belum bisa membawa pikirannya untuk terfokus pada apa yang ada di depannya. Ia melihat, tetapi kedua matanya seolah melihat hal lain. Ia berpikir dan mencerna, tetapi rasa otaknya tengah mengulas hal lain. Ia mendengar, namun ia tidak mengerti.
Ia bahkan tidak mengerti akan jalan cerita drama ini—akan apa yang didialogkan, siapa nama pemeran dan tokoh, dan apa yang hendak diceritakan. Seolah semua yang didengarnya melintas dari telinga kanan dan keluar dari helaan napas mulutnya yang sesekali terdengar—tanpa sama sekali menyentuh otaknya.
"Dua hari yang lalu, ia pergi ke Inggris untuk mengikuti konferensi internasional, di Universitas Oxford."
Menggeram kesal, gadis itu menunduk, lantas mencengkeram kepalanya dengan kedua tangannya. Apapun yang dilakukannya, seolah sia-sia saja. Ia bahkan tidak bisa menikmati pertunjukkan latihan drama ini dengan baik, tanpa harus mengingat ucapan Senior Alfred. Ia tidak bisa melihat satu hal apapun tanpa harus wajah Arthur Kirkland, entah bagaimana, nyempil dan turut numpang di otaknya pada apapun yang dilihatnya.
Dan ia bahkan tidak bisa duduk tenang, damai, dan santai, tanpa harus merasa tersesat, lemah, dan kecewa seperti ini.
'Berhentilah, Nes! Senior Arthur hanya pergi ke Inggris, bukan ke alam baka hingga kau harus setress seperti ini!' begitulah ia berusaha menenangkan dirinya sendiri, 'Kenapa dari dahulu, kau tidak pernah membuat hidupku merasa tenang, Senior Arthur…'
Bahkan kini, ketidaktenangan itu mencapai tahap yang semakin ekstrem karena ketidaktenangan itu timbul dari sebab yang sebenarnya sepele: Arthur pergi ke Inggris!
Demi Tuhan, hanya ke Inggris! Wilayah yang hanya terpisah oleh Lautan Atlantik dengan Benua yang Nesia tempati sekarang ini!
"Apa yang terjadi di luar sana? Ada ribut-ribut, sepertinya."
"Sayang, hamburger-nya apakah sudah siap—eh? Ada apa, Sayang—"
"CUT!"
Teriakan 'CUT!' yang cukup keras itu cukup mengejutkan, tak hanya bagi Nesia yang kembali memberikan perhatiannya pada sekitar, tetapi juga bagi anggota Klub Drama yang lain. Mendongak, gadis itu mendapati bahwa kini, mini stage tidak lagi terdapat dua pemain, tetapi empat—Senior Alfred dan Senior Natalia (!) entah sejak kapan, telah bergabung dalam memainkan peran mereka.
Dan ternyata, suara 'CUT!' tersebut berasal dari Senior Natalia yang kini memberikan death glare gratis kepada Senior Alfred yang memberikan wajah heran dan terkejut—sama seperti yang diberikan seluruh penghuni ruangan tersebut.
"Jangan berani-beraninya kau memanggilku dengan kata 'Sayang' yang menjijikkan itu," gumam Senior Natalia pelan, yang mana justru dari nada dan ekspresinya itulah, yang membuat Nesia yakin bahwa sebagian besar orang di sini tengah menghadapi tekanan di mental mereka.
"Eh? Kenapa? Kau 'kan istriku—" dan Alfred lantas mengangkat sebelah tangannya untuk melindungi diri, sebelum kepalanya kena gaplok oleh gulungan lembaran naskah Natalia, "—di drama ini, maksudnya."
"Tapi tidak ada kata 'Sayang' di naskah!"
"Itu hanya improvisasi, Nat—"
"Tetap saja, aku tidak suka kata yang membuatku ingin memotong lidahmu itu," sisipkan hawa dingin dan teror yang melanda seluruh ruangan ini, "Sudah cukup bagus aku bersedia turut main di drama konyol yang ditulis oleh orang konyol dan idiot sepertimu ini…"
Dan drama kembali dimulai—tidak sebelum kecanggungan yang mengerikan, sempat melanda seluruh ruangan. Bahkan pemeran 'Jim' dan 'Nathan' sempat beberapa kali salah membaca dialog, ketika pandangan mereka tak sengaja bertabrakan oleh tatapan dingin sang "istri penjual hamburger".
Ya, Alfred Jones, penjual Hamburger dan Natalia Arlovskaya, istri-tercinta-dalam-drama-nya.
Meski awalnya Nesia duga bahwa Alfred adalah sang tokoh utama dalam drama tersebut, namun nyatanya tidak. Pemuda yang mengaku sebagai Hero tersebut, alih-alih menjadi lead actor, justru mendapatkan peran yang sedikit absurd, namun justru sangat sesuai untuknya: pedagang hamburger yang mendapatkan jatah tampil tak lebih dari sepuluh menit!
Cukup mengejutkan…
Namun sepertinya Alfred sama sekali tak keberatan. Karena selain ia cukup sibuk dengan tugasnya sebagai penulis naskah (hingga ia tidak mau repot-repot ikut latihan akting dan menghapal dialog), peran sebagai pedagang hamburger menurutnya sudah cukup, "…menunjukkan dan mewakili identitasku sekali, sebagai pecinta hamburger! Ah, tak berat sama sekali. Aku tak kebagian banyak dialog juga". Dan tentu saja, alasan paling penting bagi Alfred untuk menerima perannya adalah karena, entah bagaimana bisa, Senior Natalia Arlovskaya turut ambil peran di drama tersebut sebagai istri dari sang pedagang hamburger.
Entah. Bagaimana. Bisa.
Hanya Alfred dan Tuhan dan para anggota Klub Drama yang tahu.
Dan pada akhirnya, Nesia menghabiskan sisa periode istirahatnya untuk menonton latihan para anggota Klub Drama tersebut. Hanya menonton, meski sampai akhirpun ia juga tidak mengerti apa yang barusan ia tonton—ia bahkan tidak alurnya sama sekali. Yang ia tahu adalah bahwa cerita dalam drama tersebut berujung pada happy ending antara laki-laki dan perempuan yang menjadi pemeran utama—sepertinya.
Lebih jauh lagi, ternyata bukan hanya cerita dalam drama itu saja yang tidak bisa ia ikuti dan pahami. Namun juga, otaknya seolah tengah mengalami kelumpuhan mendadak untuk mampu memproses materi pada sisa pelajaran hingga pulang sekolah. Lalai mencatat keterangan guru, tidak nyambung ketika diajak ngobrol oleh teman sebangkunya—Lily, dan lebih parah, tidak mampu menjawab pertanyaan 'hukuman' dari guru yang memergokinya melamun seperti orang bodoh di siang hari.
Nesia berpikir mungkin dirinya memang bodoh—terlalu bodoh untuk tidak mampu menyingkirkan pemuda berkebangsaan Inggris itu dari pikirannya.
Mungkin ia terlalu bodoh untuk tidak mengerti akan apa yang sebenarnya tengah terjadi pada dirinya—mengapa ia seperti ini? Mengapa Arthur? Bagaimana bisa? Dan semua pertanyaan yang tak bisa dijawab oleh orang bodoh seperti dirinya.
Atau…
Bukannya tidak mengerti, hanya saja belum menyadari?
Seharusnya, tidakkah semuanya sangat jelas?
Nama Arthur Kirkland yang tanpa sadar ia tulis di buku catatannya saat ia melamun di periode pelajaran terakhir di sekolah hari itu…
Tidakkah seharusnya ia sudah paham dan mengerti?
-oOo-
"Kau bohong!"
Kalimat bermakna penyangkalan itu, terucapkan dari mulut gadis berambut hitam itu bersama dengan kedua matanya yang menatap terkejut dan tidak percaya. Gerakan tangannya untuk memasukkan sebuah churros ke mulutnya, terhenti ketika ia mendengar kalimat yang diucapkan sahabatnya—
"Sepertinya aku tidak bisa ikut dalam Anniversary, guys. Dua hari lagi aku akan pergi ke Spanyol selama dua minggu karena ada suatu kepentingan keluarga,"—Antonio.
Tidak hanya Nesia, Lovino juga tampaknya terkejut dengan berita yang baru saja didengarnya. Saat itu, mereka bertiga berada dalam ruang tengah rumah Antonio untuk menghabiskan waktu bersama—seperti yang sering mereka lakukan dahulu. Meskipun akhir-akhir ini ritual itu sudah jarang dilakukan—terimakasih pada Antonio yang sering menghabiskan malamnya bersama mahasiswi cantik berdarah Belgia yang kini makin dekat dengannya. Sepertinya tinggal menunggu waktu saja untuk mendapat kabar bahwa mereka berdua telah melepas status lajangnya.
"Aku sendiri juga tidak percaya akan berita ini," Antonio menghela napas, sebelum kembali memakan churros yang khusus dimasakkan Ibunya bagi mereka bertiga, "Apa-apaan, Tuhan! Anniversary tinggal empat hari lagi!"
"Lantas bagaimana dengan penampilanmu dan Klub Musik?" tanya Lovino, "Jangan bilang kau akan meninggalkan semua tanggunganmu dan mengacaukan Anniversary, Bastardo."
"Iya, bagaimana dengan Klub Musik, Antonio?" sambung Nesia setelah ucapan Lovino mengingatkannya pada hal yang krusial tersebut, "Apalagi kudengar dari panitia Acara bahwa kau akan menjadi salah satu main performance di Anniversary nanti."
Antonio kembali menghela napas, sembari mengacak-acak kecil helai kecoklatannya. Baru kali ini Nesia melihat bahwa pemuda itu tampak demikian bingung dan merasa putus asa, "Aku tengah berusaha nego dengan panitia Acara dan Klub Musik… Lagipula masih banyak anggota Klub Musik yang kupikir mampu menggantikanku—"
"Kau gila, Antonio," Nesia menatap tak percaya, "Anniversary sudah empat hari lagi—"
"Apakah urusan keluargamu tidak bisa terselesaikan tanpa kehadiranmu, Bastardo?"
"Aku sudah menjelaskan semuanya pada Ayah dan Ibu tetapi tetap saja—Dio Mio, Nes, Lovi! Aku sendiri tidak tahu bagaimana semuanya harus menjadi begini rumit!"
"Dan kau sudah berhasil mengajak Senior Bella untuk berangkat bersama," ujar Nesia tanpa pikir panjang bahwa kalimatnya barusan mungkin menambah beban mental yang ditanggung sahabatnya.
Terbukti, ketika pundak Antonio semakin menurun lemas, "Yah… Mengapa aku harus melepas kesempatan yang bahkan lebih kutunggu daripada apapun di dunia ini…" kembali menghela napas, "Selain mengorbankan penampilanku di Anniversary, kini aku juga harus melepaskan kesempatan untuk berada di sana bersama dengan Bella—Hhh."
Melihat temannya yang tampaknya benar-benar merasa payah dan sedih, mau tak mau Nesia merasa tak enak juga. Sebagai sahabat Antonio, ia tahu betul betapa Antonio telah lama mencintai Senior Bella dengan begitu dalam. Dan pastinya, momen Anniversary yang berlangsung empat hari lagi, adalah momen yang pemuda itu tunggu. Tak ada yang lebih membahagiakan selain menghabiskan semalam dalam pesta bersama dengan orang yang dicintai, yang selama ini terpisah jarak dengan kita, 'kan?
"Bilang saja pada Bella bahwa kau tidak jadi ikut ke Anniversary, Bastardo," celetuk Lovino ringan, yang kemudian mendapatkan sikutan lumayan keras di pinggangnya, dari Nesia, "Apa?" protesnya, "Benar, 'kan? Jangan mendramatisir suasana—tidak seperti kau tidak akan mendapatkan kesempatan lain di kemudian hari, 'kan?"
Nesia menyinyirkan bibirnya ke arah Lovino, "Ih, Lovino! Kau tidak sensitif sekali," Nesia sedikit cemberut, "Kau bisa bicara semudah itu karena kau 'kan tidak pernah menyukai seseorang sedalam dan selama perasaan Antonio pada Senior Bella."
Terlihat Lovino telah membuka mulut untuk merespon, tetapi sepertinya urung. Pemuda itu kembali terbungkam, setelah sebelumnya menghela napas dalam dan kemudian memalingkan pandangannya dari gadis di depannya.
Dan Nesia mampu melihat pandangan itu lagi. Yang beberapa kali dahulu pernah dilihatnya terpancar dari kedua bola mata tersebut.
Seperti… terluka?
'Apakah ucapanku tadi cukup menyinggung perasaannya?'
Niat untuk meminta maaf ke Lovino, urung terucapkan ketika Antonio keburu berbicara, "Well, Lovi benar, Nes. Masih ada kesempatan lain bagiku," senyuman cerah itu kembali tampak di sana. Cerah, semangat. Mengingatkan Nesia bahwa senyuman itulah yang pertama kali dilihatnya saat bertemu dengan Antonio, saat MOS dahulu.
Senyuman itu pula, yang dahulu, membuatnya rasanya tak yakin bisa menemukan cinta lain dalam hidupnya selain dari Antonio Carriedo.
"Lagipula, kupikir Bella juga tidak akan keberatan—ia gadis yang baik jadi kupikir ia akan mengerti," lanjut Antonio.
Pandangan Nesia terlihat bingung ke arah Antonio, "…Lantas? Dia akan pergi sendiri ke Anniversary?"
"…Mungkin dengan Senior Ludwig Beilschmidt…," gumam Antonio pelan. Ada keraguan dan kecewa yang tersirat tak hanya dalam nada itu, tetapi juga pandangan yang semakin terlihat sayu tersebut, "T-tapi, itu tak jadi soal, 'kan? Mereka hanya pergi bersama, bukan berarti mereka akan berkencan," pemuda itu kembali tersenyum lebar, sebelum menunjuk Nesia dan Lovino dengan batangan churros yang kembali diambilnya, "Seperti kau dan Lovino. Kalian pergi bersama, tetapi bukan sebagai pasangan kekasih, 'kan?"
Mendengarnya, Nesia hanya tersenyum kecil, sebelum menangguk, "Semua akan baik-baik saja, Antonio."
Beruntunglah Antonio dan Nesia tidak menoleh ke pihak lain yang juga ada bersama mereka.
Karena di saat itu juga, katupan rahang dan kepalan tangan dari si pemuda Italia tampak begitu kuat bersama dengan kedua matanya yang semakin bersorot terluka.
-oOo-
"Begitu urusanmu selesai, langsung kembali, ya."
Dua hari kemudian, Nesia mendapati dirinya bersama dengan Lovino Vargas mengantar keberangkatan Antonio dan keluarga ke bandara. Beruntung jadwal pesawat yang akan ditumpangi keluarga Carriedo akan take off pada waktu sore hari—sehingga membuat Lovino dan Nesia sempat mengantarkan keberangkatan sahabatnya begitu mereka pulang sekolah. Sementara keluarga Carriedo duduk di bangku lain, ketiga murid Hetalia High tersebut berada di satu bangku panjang untuk menghabiskan beberapa menit yang tersisa sebelum pesawat yang membawa keluarga Carriedo ke Spanyol, akan segera tiba.
"Tentu saja," ujar Antonio ceria—tipikal nada yang diucapkan oleh orang happy-go-lucky sepertinya, "Kalian juga bersenang-senang, ya, di Anniversary nanti!"
"Tidak ada waktu lain yang menyenangkan selain waktu tanpa kehadiranmu, Bastardo," ujar Lovino pedas, namun alih-alih tersinggung, justru ucapannya itu membuat Antonio dan Nesia tertawa.
Dalam pikiran, mereka sepakat bahwa ucapan Lovino berarti 'Aku juga akan merindukanmu, Bastardo'—dalam arti sahabat, tentunya.
"Bagaimana dengan penampilan musikmu?" tanya Nesia.
"Mereka sudah mengurusnya, untungnya," Antonio meringis garing, sebelum mengelus pelan sebelah kepalanya, "Tidak sebelum beberapa anggota memukul kepalaku karena kesal…"
"Aku bahkan pasti membunuhmu jika termasuk dalam beberapa anggota itu, Bastardo."
"Itu tandanya mereka kecewa sekali, Antonio," ujar Nesia, "Lantas siapa yang menggantikanmu?"
"Salah satu anggota Klub Musik juga. Tetapi juga, Bella sudah berjanji padaku bahwa dia mau menampilkan permainan pianonya, untuk turut mengisi keabsenan penampilanku saat Anniversary nanti."
Nesia tersenyum, "Kalau begitu pasti beres—permainan piano Senior Bella bagus sekali."
"Yap."
"Hei, aku baru sadar," ujar Nesia sembari tersenyum lebar hingga menampilkan deretan giginya, "Jika kau beneran jadi dengan Senior Bella, kalian nantinya bisa membentuk keluarga musisi yang manis sekali."
Ah.
Betapa mudahnya kalimat sederhana itu, untuk menyebarkan rona tipis di kedua pipi sang pemuda berambut ikal coklat tersebut.
"Ah, Nes, kenapa kau bicara begitu? Kau mau, nanti si Idiot ini membuat seluruh penumpang pesawat muntah?" cibir Lovino sadis sembari menunjuk wajah Antonio, "Lihatlah, aku jamin ekspresi lovesick yang ada di wajah tolol itu sekarang, tak akan terhapus bahkan selama beberapa jam ke depan."
"Hei, Loviiii," protes Antonio merasa tersinggung, namun di saat yang sama, sepertinya ia menikmatinya karena rona di kedua pipinya justru semakin menyebar parah.
Hanya beberapa menit kemudian setelah itu, jadwal keberangkatan tiba. Nesia dan Lovino menyampaikan salam keberangkatan bagi keluarga Carriedo. Dan tentu saja, sebelum melewati pintu boarding, Nesia menyempatkan diri untuk memeluk erat Antonio dan menyampaikan semoga apapun urusan pemuda itu di Spanyol, bisa terselesaikan dengan baik.
Tidak langsung pulang sekalipun seluruh keluarga Carriedo telah memasuki pintu boarding dan menuju pesawat, Nesia masih berdiri di tempatnya semula bersama dengan Lovino yang berada di sampingnya.
Dari kaca yang ada di depannya, Nesia mampu melihat pesawat berwarna putih yang pastinya akan membawa pergi Antonio untuk menuju tanah kelahiran sahabatnya tersebut.
Dan pandangan dari dua bola hitam kecoklatan itu perlahan-lahan, terlihat sayu.
'Apakah pesawat itu juga akan mendarat di Inggris?'
Dan mengapa hati kecil ini begitu ingin mengetahui kapan kedua mata ini bisa melihat wajah jelek, licik, dan alis tebal yang menyebalkan itu kembali?
.
.
"Ada yang ingin kusampaikan padamu saat Anniversary nanti, Nes," suara pelan dari Lovino tersebut mengalihkan perhatian Nesia dari pesawat yang tengah ditatapnya.
Ditatapnya Lovino yang memberi ekspresi tenang, tanpa mengalihkan perhatiannya dari pemandangan pesawat di refleksi kaca di depannya.
Tenang, namun Nesia bisa melihat jelas bahwa ada tekad dan niat yang kuat dalam kedua sorot mata tersebut.
"Apa? Kenapa tidak kau sampaikan sekarang?"
Alih-alih segera menjawab, kepala berhelai coklat tua itu menoleh sekilas ke arah Nesia—
—dengan bibir yang memberi sebuah senyum tipis ke arahnya. Tipis, namun pantas mendapatkan predikat sebagai senyuman cassanova layaknya yang diberikan para pria Italia pada umumnya.
"Tunggu saja saat Anniversary nanti," ujarnya singkat, sebelum berbalik untuk segera keluar dari bandara.
Dan Nesia masih mematung memikirkan semuanya—akan betapa tatapan, senyuman, dan kalimat dari Lovino Vargas, seolah mengisyaratkan adanya sebuah rahasia besar yang selama ini belum diketahuinya.
-oOo-
Semakin banyaknya hari yang datang silih berganti, maka Nesia perlahan menyadari bahwa perasaan itu menguat dan tak memberinya ruang untuk menyangkal lagi.
Ia sudah berusaha untuk menyangkal semuanya. Bahwa apa yang terjadi pada dirinya hanyalah omong kosong belaka—ada yang salah di otaknya hingga mempengaruhi kondisi psikisnya. Ia sudah berusaha melupakan semuanya—membuka mata lebar-lebar dan menghirup napas dalam-dalam, seolah dengan demikian, ia bisa kembali ke kenyataan dan melupakan dirinya yang terlalu terbuai dalam khayalannya belaka. Ia berusaha tertawa, ia berusaha tersenyum, ia berusaha semangat; berusaha menjadi seorang Annesia Saraswati yang dikenal banyak orang.
Ia berusaha—demi Tuhan, ia telah berusaha.
Namun pada akhirnya, semua usahanya tak membawanya pada apapun selain kepada kekosongan yang semakin ia rasakan dalam hatinya. Ia tidak tahu apa—yang jelas, ia merasakan adanya kehampaan di dalam sini. Seolah semuanya tidak berjalan sempurna. Semuanya tidak berlangsung semestinya—ada yang kurang, ada yang terlupa.
Dan apapun itu, sungguh tidak mengenakkan baginya.
Perasaan tak enak yang sering membuatnya melunturkan senyum yang ia awalnya ia pasang lebar-lebar. Membuatnya harus merasakan keanehan dalam tawa riang yang ia paksa keluarkan. Membuatnya sering menghela napas dalam-dalam—seolah berusaha mengeluarkan beban berat dari dalam dadanya. Dan membuatnya lebih sering lagi, melamun tanpa arah—ia melamun, tetapi tidak mengerti apa yang ia lamunkan. Hanya saja perasaan di dalam sini sering membuatnya tanpa sadar lebih lama terbengong dan mengacuhkan keadaan sekelilingnya.
Sempat ia pikir bahwa semua ini karena ia, diam-diam dan entah bagaimana bisa, merindukan kehadiran Antonio bersamanya. Maklum saja, mereka berdua bersahabat dengan demikian dekat—hingga mungkin, kepergian pemuda Spanyol tersebut membuat lubang besar di hatinya—pastinya. Nesia berpikir bahwa mungkin dan tanpa ia sadari, ia masih memiliki perasaan tersebut. Sisa dari perasaannya dahulu, yang memandang Antonio lebih dari sekedar seorang sahabat. Ia tidak menyadarinya selama ini dan hidup dalam kepalsuan yang ia ciptakan sendiri—berpura-pura menerima takdir yang membuat Antonio menempatkan Senior Bella pada posisi tertinggi di hatinya. Mungkin selama ini kepura-puraan itu berhasil, dan baru disadarinya saat perasaan rindu ini hadir dalam satu sentakan kuat ketika Antonio tak berada di sisinya seperti sekarang ini.
Mungkin ia masih mencintai pemuda itu…
Lagipula, orang bilang bahwa melupakan pasti tidak semudah mencintai, 'kan?
Tetapi sepertinya tidak demikian, ketika lama kelamaan, bayangan Antonio sepertinya memudar—bahkan tidak lagi terlihat dalam setiap mimpi atau khayalannya.
Sama sekali tidak ada.
Justru wajah lain… paras yang lain.
Paras yang membuatnya sering mengkhayalkannya dalam bentukan awan di langit sana. Pandangan sengit yang justru kini ingin sekali ia lihat. Bibir yang sering nyinyir atau menyeringai sadis, namun kini sering membuatnya tersenyum sendiri membayangkan betapa konyol dan lucunya takdir sekarang berputar. Mulut yang sering membentaknya, menghinanya, memakinya, namun kini membuat gadis itu merindukan masa-masa perang kecil-kecilan antara mereka.
Nesia merindukannya.
Sudah berapa lama ia pergi? Tidak begitu lama, tetapi entah kenapa rasanya waktu sudah berlalu jauh sekali? Terlalu jauh, hingga terkadang Nesia begitu ingin segera mendapatkan hari di mana ia bisa melihatnya lagi. Melihatnya berada di ruang Ketua OSIS yang kini tampak selalu kosong—ruang ketua OSIS yang sering diperhatikannya, namun kini kosong tanpa empunya.
Sekarang, Nesia baru menyadari bahwa, entah sejak kapan, Arthur memiliki pengaruh yang besar dalam hidupnya.
Karena… Karena bagaimana mungkin kepergian pemuda itu, bahkan ketika baru menginjak hanya 5 hari, membuat semua terasa asing bagi gadis itu?
Memikirkan semua itu, Nesia kembali menghela napas, sembari dengan perlahan, membalik poto yang berada di nightstand di kamarnya—poto antara dirinya, Alfred, dan Arthur saat baru meraih posisi runner-up dalam kompetisi debat saat itu.
'Orang sialan itu… kenapa dia tidak bisa membiarkanku tenang sedikit saja…' satu tangan bergerak ke kepalanya untuk mencengkeram kecil helai hitamnya—perasaan frustasi ini begitu kuat ketika ia tidak mengerti mengapa ia menjadi seperti ini, 'Bahkan aku tidak bisa tidur tanpa sebelumnya melihat wajah jelekmu di foto itu.'
Apa hidupnya sudah demikian terbiasa dengan Arthur hingga semuanya terasa demikian aneh ketika pemuda itu tiada?
'Kenapa kau tidak memberitahuku akan kepergianmu?'
Padahal terakhir kali mereka bertemu, berakhir dengan tidak begitu baik ketika pemuda itu pergi dengan perasaan marah setelah Nesia menghina puisi yang diberikan pemuda itu untuknya.
'Kau membuatku jengkel pada diriku sendiri, tahu?!'
Dan pemuda itu rasanya semakin menjengkelkan saja ketika entah mengapa, nomor ponselnya tidak pernah berhasil Nesia hubungi lagi—suara operator selalu menjawabnya. Begitu pula dengan e-mail yang ia kirim yang sekalipun tidak mendapatkan balasan.
Apakah pemuda itu mati, hah?
Menghela napas besar, rasanya akhir-akhir ini Nesia merasakan seolah kapasitas paru-parunya mengerut untuk menampung oksigen dalam jumlah besar—cukup besar untuk tidak membuatnya merasa pengap dan sesak. Ia merebahkan dirinya di ranjangnya, berniat melepas lelah untuk hari tersebut.
Dan sebelum ia menutup mata, ia sempatkan kedua tangannya untuk menangkup di depan dadanya. Dengan gumaman yang lirih di malam hari, ia memohon, "Jika kehadirannya bisa membuatku mengerti akan semua hal aneh ini… maka datangkanlah dia kepadaku. Karena semua ini terlalu tidak masuk akal hingga aku tidak bisa memahami."
Hetalia Anniversary tinggal dua hari lagi. Hanya dua kali dua puluh empat jam sebelum perayaan paling megah dalam Hetalia High tersebut, digelar dalam tahun ini.
Dan kini ia menjadi berharap bahwa ia mampu melihatnya pada Anniversary.
Dua hari lagi…
'Sialan kau, Senior…'
Hanya dua hari lagi…
'…Aku bahkan tidak berharap sebegini kuat akan kedatangan Antonio, sahabatku sendiri, pada Anniversary nanti.'
-oOo-
Annesia : Halo, semuanya #senyum lebar# Udah lama tidak jumpa, ya?
Lily : DIS memiliki alasan untuk telat update selama sebulan lebih #senyum lembut ala aristokrat# Dan oh ya, kali ini aku akan menemani Annesia membalas review chapter lalu. Tidak hanya kami berdua, Kakakku juga akan turut membalas review kalian kali ini.
Vash : …. #menyipit antara kesal dan malu karena blushing# … A-aku akan membalas secara singkat saja… #menggumam#
Annesia : Tidak apa, Senior. Nyantai saja. Aku yakin, banyak pembaca yang merindukanmu mengingat kau jarang nampil di main story #senyum manis#
Vash : Ugh… #langsung buang muka dengan wajah kayak mau meledak#
Lily : #senyum maklum# Langsung saja, tempetahusambelkecap, soal UKNes… #melirih sambil lirik Vash yang langsung tampak ga nyantai# … Errr… iya, puisinya Senior Kirkland memang terdengar tidak biasa #memutuskan untuk mengalihkan topik dari UKNes#
Nesia : Bu-bukan tidak biasa, tapi jelek! Murahan! Absurd! #tapi blushing#
Vash : … aku baca review selanjutnya #ngomong dengan gigi gemeretuk# Buat Noir-Alvarez, maaf mengecewakan kamu tetapi Arthur Kirkland TIDAK ada di review kali ini! #udah nyiapin shotgun kalau-kalau Noir ngebantah# Berhubung akan buang-buang waktu karena isinya kurang lebih sama, semua reviewan yang bahas UKNes tidak akan dibahas di sini #ngomong dengan tegas dengan muka yang siap ngelakuin adegan Mortal Combat#
Lily : Kakak…
Nesia : ? #mau ngebantah, tapi udah keburu kejer liat ekspresi Vash# Um… untuk ManusiaPlanet, DIS menyampaikan terimakasih atas pujiannya #senyum lebar#... Errr #jadi bingung karena isi review ngebahas UKNes# Um…
Vash : #menatap heran, trus ngedeket# Emang isinya apa? #ngebaca# Oh… maaf. Tidak akan adegan sinetron seperti itu di fic yang udah penuh drama ini— #baru nyadar seberapa dekat dirinya dengan Nesia# #langsung narik diri# Maaf… aku hanya membantumu, Annesia.
Lily : #ketawa lirih liat Vash yang blushing dan gugup mampus#
Nesia : #ikut merasa kikuk karena awkward moment# Ti-tidak apa-apa, Senior. Terimakasih, anyway… Kunikohime Madoka Tanuki puisi Senior Arthur itu tidak berharga sama sekali dan plis, jangan diingetin lagi #padahal kemarin ga bisa tidur selama seminggu karena kebayang-bayang# Kata DIS, AmeBela hanya sebagai side pairing dan itupun ga banyak nongol.. Hhh… Padahal setuju, mereka imut banget.
Lily : Kamu dan Kakak juga terlihat imut, Nes #senyum dan ngomong santai seolah kalimatnya ga berpengaruh apa-apa ke Vash dan Nesia#
Vash : A-apa yang kau bicarakan, Lily? #muka merah dan telinga ngeluarin asap#
Nesia : #Cuma bisa ketawa awkward dan melototin Lily yang masih tertawa geli# JenIchi Kamine, DIS menyampaikan terimakasih banyak atas fanart, nya :D Dia sangat terharu sekali dan kami juga turut mengucapkan terimakasih sekali.
Vash : #membuang pandangan sembari merengut kesal karena dirinya ga pernah ngeksis di fanart Absurdities manapun#
Lily : #ngelirik Vash prihatin# Untuk Wiwitaku… Anda suka RomaNes… Ma-Maaf, tapi apakah Anda suka VashNes juga? #niat ngehibur Vash#
Nesia dan Vash : #melotot kaget# #plus darah Vash yang langsung kepompa ke wajahnya#
Vash : Li-Lily—
Lily : #tertawa# Hanya mengingatkan saja, kok, Kak, Nes. Adegan kalian pas waktu MOS dahulu sempat populer lho di kalangan pembaca :D
Nesia : #tepok jidat# kau belum melupakannya…. #jadi merasa kesel karena ingat gara-gara siapa ia harus nyanyi dan confes gitu ke Vash#
Vash : #rebut kertas review dari Lily# su-sudah, lanjut saja. Wiwitaku juga meminta agar deskripsinya diperpendek… Well, kau tahu sekarang. Chapter ini malah deskripnya makin ribet #nyalahin DIS buat mengalihkan topik#
Nesia : #merasa kikuk karena tahu Vash masih salah paham soal kejadian MOS# Ini semua gara-gara setan alis itu! #maki-maki Arthur yang ga nampil di sesi review# Hhhh… RikaKhairana, soal Anniv, segera. Sangat segera. Jadi, sabar, ya :D
Lily : Mokakoshi, DIS harus pindah fandom? #baca pesan DIS tadi sebelum kesini# Sepertinya belum waktunya #senyum#
Vash : Untuk Hidden dan para peminta adegan R-18, kalian tanya begitu lagi di review chapter2 depan, maka saya jamin kertas review kalian akan saya tembak sampai berasap dan ga akan bisa kebaca dan dibalas #padahal cuma ga rela ngebayangin Nesia di'gitu'in ama laki-laki lain#
Nesia : #menatap aneh liat Vash yang dari awal ga nyantai# Untuk scarlett, A-apa? Senior Arthur nembak aku? #ketawa kikuk dan ngibasin tangan# Ka-kalau yang kamu maksud laki-laki sih, aku mungkin masih percaya… #blushing dan denial dengan jelas#
Vash : #makin memelototi kertas reviewan# Kayaknya sekarang aku paham BANGET bagaimana perasaan Lovino ngebaca review di chapter lalu #lagi, 90 persen dari semua review ngebahas UKNes#
Lily : kanon rizumu, iya memang. Annesia memang SANGAT sulit menyadari jika ada orang yang menyukainya #lirik Vash#
Nesia: Memang siapa yang menyukai cewek kayak aku? #teringat cintanya yang bertepuk sebelah tangan pada Antonio#
Vash : #udah lama ga muncul di main story, sekali muncul langsung merasa nelangsa sepanjang sesi review ini# Kiriya Diciannove, terimakasih atas reviewnya #tanpa sungkan mengabaikan tulisan reviewer yang ngebahas UKNes# Dan D. N. A. Girlz, kenapa kalau aku, Lily, dan Nesia yang bales review? Protes? #melampiaskan kekesalan para reviewer#
Nesia : #senyum takut dan sweatdroped# Se-Senior… Ingat, kita harus menghormati reviewer. Untuk TsundereNeko, ah! Untungnya kamu lebih ngeship RomaNes daripada UKNes, ya! #tsundere akut# Dan untuk iridescent. blackpitch, kami suka jika fic ini ngeinspirasi kamu. Asal ambil baiknya, ya :D So-soal R-18… #mendadak gugup dan blushing setengah mampus#
Vash : #rasanya pengen di detik itu juga, mutilasi dan makan mentah-mentah cowok-cowok yang jadi kandidat terkuat beradegan R-18 dengan Nesia#
Lily : #menghela napas liat Kakaknya yang udah jarang nongol, cintanya ngenes pula# Untuk Megane-ssu, boleh dong :D Yang rajin kasih pendapat ya :) untuk morathami, akhirnya kamu berani logged in :D Soal rate… aku yakin DIS menentukannya karena ada alasan, kok :D
Vash : Kesimpulan yang aku dapat dari pengalamanku membalas semua review. Review-review Absurdities, sedikit banyak PASTI membahas dua hal: UKNES dan R-18! #muntab#
Nesia : #merasa malu selalu dibicarin dengan Arthur# A-Aku juga tidak tahu mengapa… Ehem! Berhubung tiap review sudah kami balas, maka kami akhiri sampai di sini saja :D
Lily : #senyum# Nesia, berhubung mungkin kami tidak bisa hadir di sesi review lagi ke depannya, apakah ada yang ingin kau sampaikan pada kami?
Nesia : Ah, iya. Terimakasih, Lily, Senior. Tetapi aku tetep berharap kalian bisa ada di sini lagi membalas review.
Vash : #kesalnya seketika meluap dan cupid-cupid kecil berterbangan dari dalam dadanya# Sa-sama-sama…
Lily : Cuma itu saja, Nes?
Nesia : #ga ngerti# Lantas?
Lily : #melempar lirikan ke kanan dan ke kiri dengan gugup dan ragu# #keringat dingin bermunculan#
Nesia dan Vash : ….
Lily : … Errr…
Nesia : Lily?
Lily : #memejam mata erat dan memohon ampun pada Tuhan# #membuka mata dan langsung menatap terkejut ke arah Vash# Kakak—
Nesia : #noleh ke arah Vash yang berdiri tepat di sampingnya#
Lily : NESIA MAAFKAN AKU! #dorong punggung Nesia ke arah Vash#
.
.
.
Terdengar bunyi 'cup' pelan di sini
Review~
Salam,
DIS
