Tanpa banyak bicara, happy reading:D


Hari yang paling ditunggu oleh seluruh civitas akademika Hetalia High, akhirnya datang juga.

Sebuah event megah dan besar yang dimiliki oleh sekolah tersebut di tiap tahunnya. Sebuah peringatan akan resmi berdirinya sekolah tercinta yang kini melambungkan namanya di tataran dunia. Menjadi momen yang paling dinantikan karena semarak yang ditawarkannya. Keindahan yang disuguhkannya. Dan kemewahan yang menjadi ciri khasnya.

Meski sering mendapat kritikan dari beberapa pihak akan sifat hedonist yang selalu ditunjukkan dalam event ini, namun tak dapat dipungkiri bahwa event ini justru menjadi ajang yang paling mampu menimbulkan semangat terutama dari kalangan para murid. Kemewahan dan kemegahan yang ditawarkan, meskipun sering dikritik karena dinilai pemborosan untuk hal yang kurang berguna, tetapi nyatanya bisa diterima bahkan dengan senang hati oleh sebagian besar civitas akademika. Para panitia bekerja keras untuk menyiapkan semuanya—sebaik mungkin, sesempurna mungkin, tak peduli akan pengorbanan biaya dan waktu yang harus mereka tanggung bersama.

Bahkan, Hetalia Anniversary menjadi salah satu event yang termasuk dalam kategori populer dalam kalangan masyarakat Carolina Utara.

Semarak yang diciptakan bisa terasa hingga menembus gerbang Hetalia High yang menjulang dengan tinggi dan kokohnya. Warna kerlap-kerlip lampu seolah hendak menantang indahnya kerlipan bintang pada langit musim panas. Gempa gempita memekakan telinga, namun justru membuat suasana euforia demikian terasa. Dekorasi yang tertebar dan terpasang di sana-sini, seolah menyulap institusi pendidikan ini menjadi kerajaan atau istana. Para manusia yang hadir seolah melengkapi semarak suasana yang tercipta. Para wanita yang tampak anggun sekali dengan balutan gaun yang seolah menjadikan tiap dari mereka bagaikan ratu pesta. Para lelaki dengan jas dan tuxedo yang membuat mereka menjelma dari remaja SMA ingusan, tampak seperti gentleman dari kalangan bangsawan.

Ini tidak membual atau omong kosong—tetapi itulah yang menjadi tradisi dan bahkan identitas, dari sekolah tercinta.

Yap, Hetalia Anniversary siap menyulap malam ini menjadi salah satu malam terindah bagi kalian.

-oOo-

Axis Power Hetalia © Hidekaz Himaruya

Picture © Sakurazaka Ohime

I just own the plot of the story and I don't gain any commercial advantages by publishing this fic.

Warning: AU, Human Name, High School, OC, OoC yang mendewa, (highly possible) crack pairs, (a lil') Nesia-centric, but no Mary Sue/Gary Stu I assure you :D totally absurd.

Pairing: Anda bisa menebak sendiri mana yang main pairing, dan mana yang sekedar hints dan fans service :p

Ini murni dari pemikiran saya. Maaf jika kebetulan ada kesamaan ide karena setting gakuen sangat banyak di FHI. Itu tidak disengaja :D

Long Live FHI and Say NO to Plagiarism! Mari berkarya dengan hati dan imajinasi :D

Maju FHI!

-oOo-

Berbeda dengan ekspresi terkejut sekaligus kagum yang ditunjukkan oleh Chau dan Maria, Annesia Saraswati justru memberikan ringisan garing dan pandangan yang aneh pada refleksi dirinya yang tampak di kaca.

Berbeda sekali dengan image dan karakter plain, not-so-much-different-or-special, dan sedikit tomboy (seperti komentar Chau padanya tadi—hhh), kini gadis yang ada di refleksi kaca itu seolah adalah karakter lain yang… Nesia rasa, sama sekali bukan dirinya.

Ia kini melihat dirinya terbalut dengan sebuah gaun yang saat itu dibelinya bersama Lily—ralat, terpaksa dibelinya karena desakan Lily. Sebuah gaun putih, strapless tanpa lengan, yang menjuntai hingga menyentuh lantai. Bagian bawah gaun tersebut berbentuk pick up skirt yang membuatnya terlihat bertingkat. Dengan sebuah pita berwarna soft pink yang dijadikan sebagai ikat pinggang—yang ujungnya terikat rapi dengan membentuk simpul berupa pita besar di sisi pinggang kanan. Kain tafetta yang menjadi bahan dasar gaun tersebut, terasa nyaman, namun di saat yang sama membuat Nesia harus menghela napas ketika merasakan beban yang menggandoli seluruh tubuhnya—pakaian itu memiliki berat 1.5 kg, Demi Tuhan! (1)

Gaun yang terasa membuat Nesia merasa cukup terbebani, baik dalam artian beratnya ataupun ribetnya nanti jika ia harus berjalan tanpa harus mengangkat roknya, itu seolah bukan siksaan terakhir baginya. Namun masih ada lagi, yakni sepatu berwarna soft pink yang memiliki heels setinggi 5 cm yang dipakainya. 5. Senti. Meter…. Nesia harap bahwa ia tidak akan terselip atau lebih parah, terjatuh saat berjalan atau, God Forbid, berdansa nantinya! Sempat ia ingin mengenakan wedges-nya yang biasa, tetapi protesan Maria (yang malam ini seolah menjadi penata rias pribadinya) mengatakan dengan tegas dan yakin akan sebuah teori bahwa, "Wanita itu akan tampak lebih seksi jika memakai heels, tauk!". Padahal juga heels yang membuatnya "seksi" itu juga tak akan banyak kelihatan karena panjang gaun yang menutupi nyaris seluruh bagian tubuh bawahnya.

Dan sebagai sentuhan terakhir, Nesia memakai liontin emas putih pemberian Ibundanya, yang selalu ia pakai saat ada momen-momen spesial (?) seperti ini. Kalung yang terakhir kali ia pakai saat ia pergi ke festival komunitas Jepang bersama Antonio saat itu. Dan untuk malam ini saja, ia membiarkan Maria menancapkan dua buah anting bermata putih di kedua telinganya.

Nah, dengan dandanan demikian, wajar saja jika gadis itu merasa bahwa ia kini tengah melihat orang lain yang tahu-tahu, berdiri di depan cermin di kamarnya.

Soal make-up, adalah Chau yang menjalankan tugas (yang ia klaim sendiri) tersebut. Tidak banyak yang ia gunakan, hanya sapuan tipis beberapa alat make-up yang Nesia kurang paham apa nama dan gunanya. Yang jelas, ia harap bahwa ia tidak tampak konyol dan out-of-place saat tiba di lokasi nanti. Rambutnya tertata dengan manis, terimakasih atas bakat Chau yang sepertinya memiliki potensi untuk menjadi hair stylist. Bagian samping kiri kepala terkepang rapi dan melingkar membentuk seperti bando di kepala Nesia. Ujung dari kepangan tersebut bersatu dengan seluruh sisa rambutnya dan terikat rapi dengan bentuk menyamping—tersandar dan menjuntai rapi melintasi pundaknya yang terbuka. Bahkan, Chau sempat menyematkan satu jepitan perak-glittering berbentuk simpul pita, di sisi kanan kepalanya.

Uh…

Rasanya ia sudah pesimis duluan mengenai tanggapan teman-temannya nanti saat melihatnya. Lovino, Lily, Senior Alfred, Senior Tiino…

'Aku pasti akan jadi bahan tertawaan dalam jangka waktu lama'

Uh. Belum-belum rasanya ia sudah ingin pulang saja—sekalipun ia sama sekali belum beranjak bahkan dari kamarnya.

Rasanya malu sekali jika harus tampil all out (seperti desakan Maria dan Chau) seperti ini. Hhh… entah kenapa, justru Chau dan Maria sangat semangat sekali dalam hal ini daripada Nesia sendiri.

Bunyi bel apartemennya terdengar saat jarum jam baru menunjukkan pukul tujuh kurang lima belas menit—membuat Nesia paham akan siapa yang sekarang tengah berdiri di depan pintu apartemennya.

Lovino Vargas.

"Lovino sudah datang," ujar Nesia sembari berbalik dan menyambar dompet kecil berwarna merah muda miliknya, yang tergeletak di ranjangnya.

"Tunggu, Nes!" perintah Chau sembari memeriksa tas make-up miliknya (dua tas make-up yang sumpah, berukuran cukup besar dan nyaris terisi penuh) untuk mencari sesuatu. Setelah sesuatu itu ia temukan, gadis berambut panjang yang terkuncir longgar itu segera berlari ke arah adik seapartemennya.

Dan Nesia tidak mempersiapkan diri ketika dengan sangat lihai dan cekatan, Chau memberikan sekujur tubuh Nesia beberapa semprot parfume yang ia pegang.

"Uhuk! Uhuk!" Nesia menyipitkan kedua matanya dan mengibas-kibaskan tangannya, "Apa-apaan, Chau?"

Dan gadis asal Vietnam itu hanya meringis sembari mengangkat jempolnya, "Nah, sekarang kau sudah siap untuk menjadi pusat perhatian malam ini—parfum itu kuperoleh dari temanku yang baru saja pulang dari Perancis, bisa bekerja bagaikan mantra cinta katanya."

Memutar bola mata, Nesia lantas tersenyum kecil. Lantas berbalik pergi, setelah berpamit pada Chau dan Maria yang entah kenapa, memandang kepergiannya dengan tatapan semangat dan penasaran dalam pandangan mereka.

Hhh.

Baru juga berjalan beberapa langkah dari kamarnya, Nesia rasanya sudah ingin menangis saja dan segera melepas gaun memberatkan ini dari tubuhnya. Langkahnya juga terlihat sedikit susah—terimakasih atas gaunnya yang panjang, berat (yang membuatnya harus berjalan dengan sedikit mengangkat roknya) dan juga heels yang dipakainya.

Begitu mencapai pintu, ia segera membukanya.

Dan benarlah dugaannya, Lovino Vargas kini tengah berdiri tepat di depannya.

Dan siapapun, termasuk Nesia, bisa mengatakan bahwa image remaja Lovino seolah malam ini tersulap menjadi seorang gentleman dari kalangan bangsawan Italia.

Berdiri dengan tubuhnya yang tegap dan tinggi, dengan tuxedo berwarna hitam yang terlihat sangat, catat: sangat, menunjukkan aura maskulin bagi lelaki manapun yang memakainya. Sebuah kemeja putih merangkapinya, dengan dua kancing atas yang terbuka, menampakkan kalung bertali hitam dengan ujung berbentuk huruf V dalam font Old English—mungkin itu inisial keluarganya. Sebuah celana berwarna hitam tampak rapi membalut kedua kakinya yang panjang, dengan sepasang sepatu semi formal berwarna hitam. Helai coklatnya yang biasanya tertata biasa, kini tampak jauh lebih rapi—membuat Nesia berpikir akan apakah pemuda itu sempat menggunakan gel atau tidak. Tentu saja, cuatan kriwil itu masih tampak dan menjadi ciri khas seorang keturunan Vargas.

Jika lupa bahwa Lovino adalah sahabatnya, maka Nesia pasti akan menjadikan Lovino sebagai cowok nomor satu yang paling ingin ia kenal dan ajak bicara saat Anniversary malam ini.

Merasa cukup terpukau oleh penampilan Lovino yang tidak seperti biasanya, Nesia sempat terdiam menatapnya. Pun Lovino yang sepertinya bahkan tidak sempat mengucapkan sapaan kepada gadis yang membuka pintu di depannya. Kedua mata yang saling menatap dengan pandangan yang sama-sama terkejut dan terpukau. Mulut yang setengah membuka—menandakan akan adanya lidah yang kelu tanpa kata.

Dan sepasang pipi yang perlahan-lahan, tampak sedikit memerah.

Meski dengan wajah yang tampak perlahan memanas demikian, pada akhirnya Lovino yang memecah keadaan statis antara mereka. Ia tersenyum, sebelum perlahan dan sangat cermat, membungkukkan sedikit badannya—

—sebelum tanpa keraguan sama sekali dalam gerak-geriknya ataupun tatapannya, menggamit tangan kanan Nesia, untuk kemudian menempelkannya pada bibirnya.

Membuat sensasi lembut itu bisa Nesia rasakan menyentuh kulit telapaknya.

Dan membiarkan gadis itu makin tersentak dan sedikit tersipu—

"You look so amazingly beautiful tonight."

—dan semakin tersipu ketika mendengar kalimat yang terucapkan dengan pelan, namun penuh kesungguhan tersebut.

Bagaikan suatu aksi yang dilancarkan oleh cassanova, namun selalu sukses menjadikan kalimat yang merupakan tipikal rayuan itu, rasanya bagaikan sebuah fakta.

"Terimakasih, Tuan Lovino," Nesia tersenyum, sembari separuh bercanda, menyilangkan kedua kakinya dan sedikit membungkukkan tubuh sembari mengangkat sedikit gaunnya—tipikal gesture yang diperlihatkan oleh lady pada umumnya, "Kau juga malam ini terlihat, dan berperilaku, demikian manis dan mengejutkan."

Dan Nesia berpikir akan apakah kata "manis" yang ia gunakan merupakan sebuah pukulan bagi harga diri Lovino, karena kini wajah pemuda tersebut tampak makin merona setelah mendengar pujian darinya.

Meski demikian, terdapat senyum yang terlukis di bibir tersebut.

Lovino lantas menegakkan tubuhnya sembari menekuk sebelah lengannya, "Shall I escort you now?"

"Well, terimakasih, Tuan," balas Nesia sembari tersenyum lebar, dan tanpa ragu memasukkan lengannya ke lingkaran lengan Lovino.

Dan mereka pun mulai berjalan.

"Apakah menurutmu aku pantas memakai semua ini?"

"… M-Maksudmu?"

"Tidakkah aku terlihat konyol dan tidak biasa? Gaun, heels…"

"Itu pakaian yang cocok bagi tiap perempuan untuk mempercantik penampilan mereka."

"Kau sama persis dengan Maria dan Chau, tahu? Belum apa-apa saja aku sudah capek karena beratnya gaun ini dan juga heels yang kugunakan—kuharap aku tidak terjatuh saat berjalan atau berdansa nanti."

"Ada cara untuk mengatasinya, kalau kau mau."

"Apa?"

"Aku akan menggendongmu."

"…."

"….Aku hanya becanda, kok."

"Pft! Aku tau, hanya saja ekspresimu saat kau mengatakannya, seolah-olah menunjukkan bahwa kau benar-benar berniat menggendongku," Nesia tertawa kecil, sebelum mengeratkan pegangannya pada lengan Lovino—heels sialan ini membuatnya seperti bayi yang baru belajar berjalan saja, "Aku tidak mau nanti tidak ada cewek yang melirik padamu gegara kau menggendong sahabatmu sendiri. Hehe."

"…Well… that's true…"

-oOo-

Begitu Lovino turun dari mobil (yang mana katanya, hanya untuk malam ini saja ia menelan harga dirinya untuk menggunakan mobilnya yang selama ini terdiam di garasi mansion Vargas) dan membukakan pintu mobil untuknya, Nesia merasa bahwa ia telah menjadi salah satu dari sekian banyak putri yang hadir dalam undangan pesta dansa kalangan istana.

Ia bahkan lupa untuk menutup mulutnya yang sedikit menganga, ketika memandang apa yang dilihatnya.

Hetalia Anniversary yang sepertinya, akan membuat pesta dansa Cinderella malu dan terlihat payah karenanya.

Sekalipun di Indonesia Nesia termasuk remaja yang berasal dari golongan yang cukup mampu, tetapi seumur-umur baru kali ini saja ia menghadiri event se…wow demikian.

Meriah. Megah. Berkelas. Dengan tentu saja, karakteristik dan suasana Baratnya.

Gemerlap lampu yang bahkan sudah terlihat hanya dari gerbang sekolah. Hilir mudik kendaraan mewah yang melintasi parkiran dan halaman. Para manusia dengan penampilan yang tidak kalah dari para artis saat acara Grammy Awards. Tidak hanya lampu dan hiasan saja yang tampak mewah dan menyilaukan, tetapi juga para manusia yang hadir juga tampil sama berkelas dan "menyilaukan"-nya, seolah hendak menantang kilau bintang di langit musim panas malam itu.

Jika Nesia bukan murid sekolah ini, mana percaya ia bahwa event sekolah dan mereka yang hadir adalah kebanyakan para pengenyam pendidikan.

Terlalu mewah, bahkan hingga mencapai tahap hedonist jika boleh mengutip para pengkritiknya.

Uh.

Jika tadi Nesia merasa bahwa dandanannya ini terlalu berlebihan dan terlalu mewah, maka kini ia merasa sebagai gelandangan yang nyasar pada pesta orang kaya.

"Ayo kita masuk," suara Lovino terdengar, dan terespon oleh anggukan Nesia yang segera kembali menyelipkan tangannya pada lingkaran lengan kanan Lovino.

Nesia benar-benar berharap bahwa cara jalannya tidak tampak aneh dengan gaun dan heels yang dipakainya.

Menghirup napas dalam-dalam, Nesia berusaha untuk mengenyahkan rasa pesimis dalam dirinya dan mencoba untuk menikmati malam ini—seperti semua teman-temannya.

Kedua mata hitam kecoklatannya mengarah pada pintu masuk aula yang menjadi main venue dari Anniversary kali ini.

Entah mengapa, tiba-tiba ia berharap bahwa seseorang berambut pirang tertentu, ada dan menjadi satu dari sekian banyak orang yang hadir dan memenuhi aula di depannya sana.

Dan memikirkan hal demikian, membuatnya merasa jauh lebih berdebar ketimbang membayangkan jika seandainya ia jatuh memalukan karena heels dan gaunnya.

Jauh lebih mendebarkan.

-oOo-

Jelas sekali rasa kecewa itu demikian terasa, ketika apa yang diharapkan tidak ia temukan ketika ia telah mencapai dalam aula.

Sepanjang kedua matanya mengedarkan pandangan, banyak sekali warna pirang yang ia lihat.

Tetapi bukan…

Semua itu bukanlah pirang yang dicarinya—pirang jelek, warna pasir, jelek, tertata berantakan, jelek…

Menghela napas lirih, Nesia merasa jengkel pada dirinya sendiri. Dia tak habis pikir, sampai kapan dia terus saja memikirkan orang sialan itu? Toh juga belum tentu—bahkan tidak mungkin sampai kiamat, Arthur akan memikirkannya, kan?

Memangnya Nesia siapa baginya…

Bahkan saat-saat di mana ia harusnya bersenang-senang dan melepaskan segala permasalahan seperti sekarang, gadis itu bahkan tidak bisa melewatkan sedikit waktunya untuk tidak menghela napas berat khas orang yang tengah menderita.

Padahal sungguh, aula ini telah disulap sedemikian rupa hingga membuat semua orang tengah memasuki sebuah ball room istana kerajaan mewah. Dinding aula dicat sesuai dengan warna biru yang menjadi warna khas Hetalia High. Bentangan pita warna-warni tak hanya tampak menggantung di atap, namun juga tampak melilit beberapa tiang penyangga aula yang tampak megah dan tinggi menjulang. Lampu kristal yang megah dan bertingkat berada di tengah atap, berikut dengan beberapa lampu kristal kecil yang berjajar dari ujung atap yang satu ke ujung yang lain. Terdapat beberapa meja yang menyajikan hidangan, juga beberapa pelayan yang hilir mudik membawakan minuman ke para pihak yang datang. Terdapat sebuah stage di depan sana yang diduga akan menjadi tempat di mana beberapa penyanyi dan band undangan AS akan hadir, juga penampilan beberapa klub seperti Klub Musik. Beberapa tanaman hias tertaruh di beberapa sisi aula, menambah kesan asri di tengah suasana glamour yang tercipta. Dan banyak lagi, seakan tatanan dan suasana Hetalia Anniversary tidak akan pernah cukup dideskripsikan hanya lewat kata-kata.

Harusnya Nesia bisa lebih berfokus pada semua itu, bukannya menyibukkan pada satu orang tertentu yang sampai sejauh ini, belum dilihatnya.

'Apakah dia benar-benar belum kembali dari Inggris?'

"Apa ada yang kau pikirkan, Nes?"

Suara tersebut membuat Nesia kembali dari pikirannya—syukurlah. Ia menoleh ke arah sumber suara, Feliciano Vargas yang menatap heran kepadanya. Tidak hanya Feliciano saja, sih. Lovino, Kiku Honda, Mei Lian (yang kali ini, entah bagaimana bisa, menjadi pasangan—tidak, partner Kiku untuk datang ke Anniversary ini). Seperti Kakak kembarnya, Feli kali ini tampak seperti gentleman Italia. Tuxedo berwarna coklat muda yang senada dengan dasi yang dipakainya, lengkap dengan kemeja hitam yang merangkapinya. Celana panjang berwarna hitam dilengkapi dengan sepatu berwarna coklat. Sedangkan Kiku tampak memakai pakaian yang formal (hingga Nesia berpikir bahwa pemuda itu salah kostum): jas, rompi, dasi, kemeja, celana yang terseterika rapi, hingga sepatu pantoefel. Sedangkan Mei Lian tampak manis dengan gaun chiffon panjang berwarna ungu dan backless. Rambutnya yang panjang malam ini digelung rapi, dan menyisakan sedikit helai yang menjuntai pasrah di bahunya.

Semua malam ini tampak begitu tidak familiar—bagaimana bisa para remaja ingusan seperti mereka, yang biasanya selalu tampak dengan seragam formal Hetalia High, kini dalam selama bisa menjelma bagaikan Count dan Countess seperti ini?

"Uh… tidak," jawab Nesia sembari tersenyum kecil, "Aku hanya masih takjub dengan semua ini," ujarnya separuh bohong. Ia memang takjub dengan keindahan dan kemegahan yang jarang ia jumpai sebagai perayaan hari sekolah di SMA-SMA di negerinya, tetapi ia juga tidak mungkin 'kan, berterus terang bahwa ia tengah mencari dan memikirkan seseorang tertentu, bahkan sejak pertama kali ia menginjakkan kaki keluar dari mobil Lovino Vargas?

Uh.

Selain malu sangat, itu juga tidak masuk akal.

"Well, semua memang sangat menakjubkan malam ini," dukung Mei yang berdiri di dekat Kiku, "Bahkan Anniversary tahun ini lebih meriah dan lebih keren dari tahun kemarin."

"Siapa dulu dong, panitia acaranya ve~" ujar Feliciano menepuk dadanya bangga, sebuah gesture yang langsung mendapat cibiran kecil dari Kakak kembarnya yang berdiri di antara dirinya dan Nesia, "Tetapi tentu saja, Anniversary tahun ini juga memakan dana yang lebih besar dari tahun kemarin."

"Tidak apa sih, kalau kepuasan yang didapatkan juga seimbang," komentar Mei, lantas menyesap minuman yang dipegangnya.

"Ngomong-ngomong, siapa pasanganmu malam ini, Feli?" tanya Nesia menatap Feliciano yang sejauh ia lihat, tidak bersama dengan gadis manapun.

Terdengar dengusan Lovino, "Mungkin dia baru saja ditinggal pasangannya karena kepergok flirting dengan gadis lain."

"Ve~ Fratello," Feliciano memberikan pandangan protes ke Lovino, "Pasangan itu tidak penting. Malam ini yang penting adalah kebersamaan bersama dengan teman-teman kita, kan? Bersenang-senang ve~" pandangan Feliciano teralihkan menuju ke suatu arah—meja tempat hidangan, "Apalagi panitia konsumsi juga menyiapkan hidangan pasta yang enak dan beragam."

Nesia dan Mei Lian tertawa, sedangkan Kiku dan Lovino hanya tersenyum kecil.

"Oh ya? Pasangan tidak penting?" gumam Nesia, "Lantas, siapa yang saat rapat kepanitiaan ngotot banget agar para tamu dan peserta membawa pasangan masing-masing?" goda Nesia yang direspon oleh tawa kecil dari Kiku yang juga merupakan panitia acara bersama Feliciano.

"Sudahlah itu tidak penting, ve~. Yang penting adalah Kiku dan Mei Lian yang sekarang tampak serasi ve~ Aku tidak menyangka lho, jika Kiku bisa dan berani menggandeng satu gadis untuk diajak ke pesta," ujar Feliciano menjadikan pasangan KikuMei sebagai objek obrolan baru.

Mei Lian hanya meringis, sedangkan Kiku tampak berdeham sembari sedikit menunduk.

Namun rona tipis di kedua pipi mereka, seolah bisa terlihat jelas bahkan dalam keadaan gemerlap cahaya demikian.

"Ah~" Nesia mengedip jahil sembari menyenggol sikut Mei, "Kau jahat sekali. Kita sesama partner dalam Klub tapi kau tidak pernah memberitahuku apapun."

"Nesia-san, sudahlah," gumam Kiku, ketika Mei hanya tertawa kecil menanggapi godaan Nesia.

"Tapi, Feliciano," sambung Mei Lian, lantas menunjuk ke arah Nesia dan Lovino melalui gelas berisi minuman yang ia pegang, "Daripada kami, tidakkah mereka lebih pantas bahkan dinobatkan sebagai 'Sang Pasangan Pesta' malam ini? Mereka sangat terlihat serasi."

Mei Lian tertawa kecil, beserta Kiku yang mengangguk pelan menyetujui apa yang diucapkan partner-nya.

Dan siapapun bisa melihat bahwa sepertinya aliran darah seorang Lovino Vargas kini tengah memusat pada daerah wajahnya.

"Hahaha," Nesia tertawa lirih, sembari tanpa ragu, ia menyelipkan sebelah tangannya ke lengan Lovino, "Apakah kau iri pada kami? Makanya, lebih mesra dong dengan Kiku~"

Meskipun Nesia tersenyum lebar hingga menunjukkan deretan giginya yang rapi, namun siapapun bisa melihat bahwa seolah kedua telinga Lovino mengeluarkan asap karena ekstremnya rona merah di wajahnya.

Dan terlihat bahwa kedua ujung bibir Feliciano tertarik kecil sembari melembutkan pandangannya ke arah Kakak dan Sahabat satu kelasnya tersebut.

Lovino nampak berdeham sembari merapikan kerah kemejanya yang sebenarnya, sudah benar-benar rapi dari semula, "D-diam, kalian, sialan!" pelototnya garang pada Feliciano dan Mei yang meringis lebar, serta pada Kiku yang tersenyum kecil. Meski demikian, tanpa sadar ia justru mengeratkan jepitan lengannya ke lengan Nesia, "D-daripada bicara itu, lebih baik bicara mengenai acara malam ini—kudengar Panitia Acara mengundang satu penyanyi Hollywood ke Anniversary. Benarkah?"

"Yap," ujar Mei bangga sebagai anggota dari Panitia Humas yang notabene, memiliki tugas untuk melobi guest yang akan tampil di acara ini, "Meski sumpah, rasanya sulit banget mengontak dia. Maklum sih, artis sibuk."

"Dan terimakasih juga pada Panitia Publikasi dan Dokumentasi, sehingga Anniversary bisa terkenal dan diketahui oleh masyarakat luas seperti ini," ujar Nesia tak mau kalah membanggakan kepanitiaannya sendiri.

"Setidaknya tugas kalian tidak seberat ketika harus menghias aula sebesar ini—belum lagi dengan beberapa tempat lain yang juga dipakai sebagai venue acara ini," Lovino menghela napas, "Aku merasa tidak ingin ikut kepanitiaan lagi dalam setahun ke depan karena Anniversary merepotkan ini!"

Obrolan mereka terus berlanjut. Dari menyombongkan kepanitiaan masing-masing, hingga mengomentari orang-orang yang ada di sekitar mereka, atau dekorasi, makanan, dan semua hal yang berhubungan dengan Anniversary.

Rasanya, malam seperti inilah yang benar-benar menjadi malam terideal di sepanjang hidup Nesia di Amerika Serikat ini. Bukan karena mewah atau gegap gempitanya, namun karena kehangatan yang ia rasakan bersama dengan orang-orang terdekat yang dicintainya.

Meskipun kondisi ideal itu pasti akan semakin sempurna dengan kehadiran satu orang tertentu yang kini tak ada di sana…

-oOo-

Hanya diam di sofa di sudut ruangan, Nesia mengamati keadaan sekelilingnya. Lovino tidak bersamanya—pemuda itu tampak masih tengah berkumpul bersama Feliciano beserta Kakek Vargas yang beberapa waktu lalu juga pernah bertemu dengan Nesia di apartemen Lovino. Melihat semua itu, Nesia hanya tersenyum ketika memandang akan betapa hangatnya suasana keluarga yang tampak dari keluarga Vargas di sana. Dan semoga, Lovino juga telah mampu mengatasi permasalahannya dengan keluarganya—semoga malam ini memberi kebahagiaan yang besar bagi pemuda itu.

Hhh… andai saja sekarang Nesia juga bisa berkumpul bersama keluarganya…

"Ngapain sendirian, nih?"

Sapaan itu membuat Nesia menoleh dan ia seketika mendapati tiga orang yang berdiri di dekat sofa yang ia duduki.

"Senior Francis!" pekik Nesia gembira sekaligus terkejut ketika mendapati Senior yang sudah lama tidak ia jumpai lagi di sekolah—Francis, bersama para murid kelas 3, telah dinyatakan lulus beberapa minggu yang lalu.

Segera saja dan secara insting untuk meluapkan rasa suka citanya menjumpai Senior sekaligus mantan Ketua Klub-nya, Nesia maju dan hendak memeluk Francis yang juga secara insting (?) telah membuka kedua lengannya—

—sebelum Senior Gilbert Beildschmidt, yang juga datang bersama Senior Francis, merusak reuni (?) itu dengan tarikan kasar ke kerah belakang tuxedo Francis dan membentangkan sebelah tangannya yang lain di antara Nesia dan Francis.

"Oi, oi, jangan lakukan itu, Nes," ujar Gilbert, "Kau nyaris saja menjadikan dirimu sebagai korban pertama pelecehan Francis malam ini."

"Korban kedua," ralat Senior Elizaveta yang juga bersama mereka, "Tadi dia sempat melempar kedipan menjijikkan kepada salah satu guard muda yang ada di depan gerbang."

Nesia tertawa kecil sementara Francis berteriak "Hei!" tidak terima kepada Gilbert dan Elizaveta.

"Senior!" secara bergantian, Nesia memeluk Elizaveta dan Gilbert, "Aku juga sangat merindukan kalian," ujar Nesia tersenyum sembari menatap ketiga senior yang berdiri di depannya.

Ketiganya tampak begitu elegan dan tampak begitu dewasa—image 'senior' tampak jelas dari penampilan mereka yang tampak matang dan elegan. Francis dengan setelan kemeja dan tuxedo hitam yang selaras dengan warna celananya. Entah kenapa, malam ini Senior Francis tampak lebih "bling-bling" daripada ia yang biasanya. Bahkan satu tangkai mawar merah—entah untuk siapa—terselip di tuxedo pemuda tersebut.

Sedangkan Senior Gilbert malah malam ini, tampak lebih "dewasa" daripada ia yang biasanya tampak senantiasa "childish"dan rada serampangan. Entah mengapa, kini ia tampak lebih "gentleman" dengan tak hanya setelan kemeja putih dan jas serta celana biru tua yang dipakainya, tetapi juga… ah. Intinya, Nesia nyaris pangling terhadapnya. Mungkin karena sudah lama ia tidak bertemu dengan Gilbert—mungkin.

Sedangkan Elizaveta tampak demikian anggun, cantik, menawan, elegan, dan semua sifat dan karakteristik "ladylike" yang diimpikan tiap wanita bangsawan. Dengan gaun satin hijau muda, strapless dan tanpa lengan, yang menjuntai, memperlihatkan lekuk tubuhnya yang indah dan membuat wanita manapun iri akannya. Belum lagi dengan helai auburn-nya yang malam ini, untuk pertama kalinya, tampak tersanggul rapih dengan jepitan bunga mawar merah di sebelah sisi kepalanya. Lehernya yang jenjang terhiasi oleh kalung bersama dengan anting manis di kedua telinganya. Dompet kecil berwarna senada dengan jepitan rambutnya, tampak tergenggam oleh sebelah tangannya.

Intinya, ketiga seniornya tersebut malam ini tampak… wow.

"Kalian tampak demikian mengesankan," ujar Nesia menyuarakan pikirannya.

Gilbert menyeringai, lantas menyisirkan jemarinya ke rambutnya, "Bumi tetap berputar karena aku yang awesome ini masih hidup di dunia ini, Nes—" dan langsung mengaduh sakit saat ia kena gaplok keras oleh Elizaveta.

"Kau hanya tampak awesome jika dan hanya jika kau diam dan tutup mulutmu tanpa mengklaim sepihak bahwa dirimu awesome," hardik Elizaveta, sembari terduduk di sofa.

"Hei, jaga mulutmu, cewek!" gerutu Gilbert sembari masih cemberut, terduduk di samping Elizaveta, "Aku yang awesome ini bisa meninggalkanmu di sini sendiri dan mencari cewek lain untuk menjadi pasanganku!"

"Hah! Oh ya?" tantang Elizaveta, "Coba saja. Lagipula aku bukan yang meminta untuk pergi bersama-sama."

"Apa maksudmu?" balas Gilbert tidak terima, "Aku bukan yang tampak tergesa-gesa dan menyuruhku untuk segera datang ke rumahnya dan menjemputnya untuk berangkat kemari."

"Aku bukan orang yang memberikanku bunga mawar saat pertama kali bertemu malam ini!"

"Aku bukan orang yang bilang bahwa aku tampak tampan malam ini!"

"Aku bukan—apa? Tampan? Siapa yang bilang tampan? Kau ini…"

Setelahnya Nesia tidak mau mendengar lagi keributan antara kedua seniornya—begitupula Francis yang tampaknya juga telah bosan dan memutar bola mata.

"Mereka tampak seperti pasangan suami istri yang sudah menikah lama, bukan?" bisik Francis.

Nesia melirik geli ke arah kedua seniornya yang masih tampak saling menghardik satu sama lain, "Mereka datang kemari sebagai pasangan?" ujarnya dengan nada heran sekaligus terkejut, "Seingatku dulu Senior Elizaveta pernah bilang bahwa dia memiliki pacar, tapi dia sekolah di sekolah lain?" lanjutnya sembari mengingat ucapan Elizaveta saat MOS yang dijalani Nesia dahulu.

Francis terduduk di sofa, "Katanya sih Roderich—pacarnya, tengah ada penampilan musik bersama dengan kelompok di les musiknya," lantas ia mengendikkan bahu, "Lagipula kudengar mereka sudah putus—tapi tidak tahu, sih, aku tidak peduli."

Nesia mengangguk-angguk. Ia kembali menatap Senior Elizaveta dan Senior Gilbert, lantas bergumam, "Padahal kupikir mereka cocok, lho jadi pasangan beneran."

"Kau bukan yang pertama kali bilang begitu," Francis menenggak sebuah minuman yang tertaruh di meja, "Tapi mereka selalu menolak—denial is the clincher."

Nesia tertawa dan mengangguk, "Omong-omong, kau sekarang kuliah di mana, Senior? Kau tahu, kami sangat merindukanmu di H-Radio."

Francis tertawa pelan, "Yah, aku tahu, aku memang mudah dirindukan orang lain, 'kan?" Nesia hanya meringis pelan dan memaklumi sifat narsis Seniornya tersebut, "Aku tidak tahu, sepertinya aku akan mendaftar di institute yang berhubungan dengan tata boga."

"Meneruskan usaha restauran keluargamu?" tanya Nesia yang direspon oleh anggukan Francis, "Kukira kau akan mendaftar di institut telemedia dan meneruskan bakatmu sebagai announcer."

"Nah, passion-ku lebih ke arah memasak, mon cher," Francis meneliti penampilan Nesia, "Ngomong-ngomong, kau tampak makin manis malam ini. Honhonhon~"

Dan tawa itu terdengar mengerikan.

"Hehe, aku datang bersama dengan Lovino," ujar Nesia mencari aman saja dengan menjadikan Lovino sebagai defense jika Francis berniat macam-macam, "Tapi, terimakasih. Kau juga mengesankan, Senior. Kau datang bersama dengan siapa? Oh ya, tadi aku sudah bertemu dengan Mei—Senior Tiino sepertinya masih sibuk untuk mempersiapkan perannya sebagai MC malam ini."

"Oh, Lovino…," Francis tampak mengingat-ingat, "Pemuda Italia itukah?" ketika Nesia mengangguk, Francis menghela napas, "Akhirnya dia berani mengambil tindakan juga."

Eh?

"Maksudnya?"

"Ah, tidak," Francis tertawa lebar, "Nanti kita kumpul dengan Mei Lian, Tiino, dan anak-anak H-Radio yang lain, oke? Berikan salam dari Kakak kalian ini yang sudah berpisah dengan kalian~"

"Oke!" Nesia mengacungkan jempol dengan semangat.

Beberapa saat kemudian, Elizaveta dan Gilbert tampaknya, entah bagaimana, sudah mengakhiri perselisihan (tidak penting) mereka dan kini tampak turut nimbrung dengan Francis dan Nesia. Candaan. Obrolan ringan. Tawa.

Setidaknya, untuk sekarang ini, Nesia bisa melupakan sejenak akan satu orang tertentu yang tidak hadir di sini, namun terus muncul di pikiran dan hatinya.

-oOo-

Beberapa saat kemudian, Gilbert dan Elizaveta pergi menemui salah satu teman mereka yang dahulu juga bergabung OSIS Hetalia High, bersama mereka. Lantas Francis juga pergi dan katanya hendak menemui pasangannya, sepertinya cewek lain dari luar sekolah. Oleh sebab itu, daripada menghabiskan waktunya sendiri—karena Lovino malah sekarang entah dimana, mungkin pergi ke suatu tempat bersama dengan keluarganya—Nesia memutuskan untuk juga pergi ke manapun, mungkin ada teman-teman atau Senior yang dikenalnya dan bisa diajaknya ngobrol untuk menghabiskan beberapa lama waktunya sekarang.

Gaun yang ia kenakan dan heels yang ia pakai, kini kembali dirutukinya ketika ia tidak bisa berjalan santai dan tenang tanpa harus sedikit mengangkat roknya. Beruntung saja ia tadi segera berpegang pada tembok ketika ia langkah kakinya sedikit terselip—dan ia berharap tidak ada seorangpun yang melihat kekonyolan tersebut.

Namun ternyata tantangan tersebut masih berlanjut. Ketika ia baru saja berbalik di sebuah lorong, langkah kakinya kembali tidak stabil. Dan sialnya, ia berdiri cukup jauh dari tembok untuk mampu berpegang—dan tidak ada benda lain yang bisa ia gunakan agar tidak terjatuh.

Ia sudah memekik pelan dan siap terjatuh dan menanggung malu setelahnya.

Namun, beberapa detik kemudian, ia tidak merasakan apa-apa. Ia tidak merasakan dinginnya lantai yang ia pikir akan ditimpa tubuhnya.

Ia tidak merasakan sakit apa-apa.

Justru, ia malah merasakan kehangatan yang tiba-tiba melingkupi dirinya.

"Ah, untung saja refleksku bagus. Apa yang harus kuperbuat pada diriku sendiri jika membiarkan melihat lady sepertimu jatuh di tempat dan kondisi begini?"

Ketika membuka mata, Nesia baru menyadari apa yang terjadi pada dirinya.

Senior Alfred, entah bagaimana, menjadi satu-satunya alasan mengapa Nesia tidak jadi merasakan sakit dan dinginnya tubuhnya jika terjatuh di lantai sekarang. Pemuda itu tadi, berada di dekat gadis itu dan secara refleks, segera melangkah ke arahnya dan memeganginya ketika Nesia hendak terjatuh.

"Senior!" pekik Nesia riang sembari memeluk erat Alfred, "Kau datang!"

Alfred memberikan tawa riangnya yang biasa, sembari menepuk-nepuk punggung Nesia, "Tentu, Nes. Tentu! Pesta semeriah dan sekeren ini tidak akan berarti tanpa kedatangan hero sepertiku!"

Nesia hanya meringis garing. Setelah lepas dari ocehan 'ke-awesome-an' Senior Gilbert, kini ia bertemu dengan orang lain yang menyatakan hal serupa, hanya saja memakai kata 'Hero' sebagai penunjuk superiority complex yang mungkin diidapnya.

"Tentu saja!" Nesia melepas pelukannya, lantas mengacungkan jempolnya, "Kau tampak seperti hero beneran malam ini!"

"Yap!" Alfred menangguk mantap, "Dan apakah aku juga akan menjadi hero yang memberimu ciuman malam ini?"

Eh?

Nesia merasa otaknya nge-blank mendadak ketika mendengar kalimat itu dari Alfred. Ia hanya menatap Alfred antara heran dan ragu. Karena setahu Nesia yang selama ini menjadi partner kompetisi dan orang yang pernah didaulat Alfred sebagai 'adik'-nya, ia tahu bahwa Alfred tidak seperti Senior Francis yang menebar gombalan dan rayuan pada sembarang cewek yang ia lihat.

Kenapa malam ini tiba-tiba…

Seperti menyadari kebingungan dan keraguan Nesia, Alfred hanya meringis lebar, lantas menunjuk ke atas.

Mengikuti arah telunjuk Alfred, Nesia seketika tahu akan apa dan mengapa Alfred berucap demikian.

Mereka kini, saat ini, tengah berada tepat di bawah mistletoe—kebetulan sekali.

Dan Nesia bukanlah gadis yang kelewat kuper untuk tidak tahu maksud dari tradisi menggantungkan mistletoe tersebut.

Memikirkannya, Nesia merasa ingin mencari dan memprotes orang yang memasang atau mengusulkan hadirnya benda seperti itu. Nesia bukanlah tipe gadis yang akan sudi memberikan uhukciumanpertamanyauhuk hanya gegara tradisi seperti itu.

Lagipula…

"T-t-t-tapi, S-Senior—," buru-buru Nesia berucap dan memandang Senior Alfred seolah meminta pemahaman, "Aku tidak bisa—aku tidak mau menuruti tradisi ini."

Alfred memasang wajah terkejut, lantas Nesia melihat adanya sorot terluka yang tampak dari kedua iris biru yang kini tampak melebar dan sedikit berkaca-kaca—salah satu jurus andalan Alfred yang ia gunakan saat ia ingin mendapatkan sesuatu yang sulit ia dapatkan, "Kau tidak mau mencium Seniormu ini?"

Uh.

Bagaimana menjelaskan pada orang Barat seperti dia…

"Bukan begitu, Senior," ujar Nesia jengah. Tidakkah Alfred akan berpikir bahwa Nesia terlalu berlebihan dan konyol jika ingin menyimpan ciuman pertamanya hanya untuk orang yang dicintainya? Well… menurut Nesia sih, kebanyakan orang Barat mungkin akan berpikiran seperti itu…

"D-disini banyak orang," akhirnya itulah yang Nesia gunakan sebagai alasan.

"Jika kau sudi berkeliling tempat ini, pasti kau akan menemukan satu-dua pasangan yang berciuman di tempat umum," ujar Alfred.

Uh.

Nesia rasanya ingin menangis saja.

"Senior—"

Ucapan Nesia otomatis terhenti saat ia terhenyak ketika Alfred mendekat dan memegang kedua sisi kepalanya dengan kedua telapak tangannya. Dan ia tidak sempat memikirkan apapun selain fakta bahwa tak hanya tubuh mereka saja yang berdiri makin dekat, namun kepala Alfred juga perlahan-lahan, tengah mengeliminasi jarak di antara mereka.

Dan kedua iris biru cerah itu tersembunyi di balik kelopak matanya yang telah tertutup.

Dan Nesia secara insting, memejamkan erat kedua matanya dan sedikit memundurkan kepalanya ketika usahanya untuk melepas pegangan Alfred di kedua sisi kepalanya, berakhir dengan kesia-siaan.

Tak berapa lama, ia merasakan hembusan napas Alfred menerpa wajahnya dan menandakan betapa dekat jarak antara kedua wajah mereka.

"Boo!"

Alih-alih sentuhan di bibirnya, ia justru mendengar bisikan tersebut secara tiba-tiba.

Segera saja, ia merasakan pemuda itu melepaskan kedua tangannya dari sisi kepalanya. Dan ketika Nesia perlahan membuka matanya, ia melihat Alfred telah mundur selangkah dan tertawa riang seperti ia yang biasanya.

Seperti Alfred yang idiot, bodoh, menjengkelkan, dan oblivious—persis ucapan Senior Kirkland saat mendeskripsikan pemuda tersebut.

Nesia hanya menghela napas dalam-dalam dan menahan dirinya untuk tidak menerjang Alfred dan mencekik leher pemuda itu pada saat ini juga.

"Hahahahaha," Alfred masih tertawa keras, "Tenang saja, Nes. Aku tidak akan beneran menciummu, kok!" lantas kembali tertawa.

Nesia menggeram, sebelum ia maju dan memukul gemas dada Alfred dengan kepalan tangannya, "Kau! Apa yang kau pikirkan, Senior!" protes Nesia sembari masih sedikit jengkel dan marah, "Kau menakutiku!"

Alfred masih tertawa sembari berusaha menghentikan pukulan kecil dari Nesia pada dirinya, "Hahaha! Oke! Oke! Maaf, oke?" lantas ia hanya tersenyum lebar ketika mendapati Nesia telah sedikit tenang, meski tidak mengurangi ekspresi jengkel dan kesalnya, "Aku hanya becanda, Nes. Lagipula, aku tidak mungkin menciummu. Selain karena aku takut Natalia tiba-tiba memergokiku dan nanti aku pulang hanya dengan organ dalamku, juga karena aku tidak mungkin mengingkari janjiku pada Arthur."

Hanya kalimat terakhir dari Alfred tersebut yang membuat Nesia merasakan jantungnya melewatkan satu degupan singkat.

"S-Senior Arthur?"

Bahkan kini mengucapkan namanya saja terasa demikian sulit tanpa harus tergagap demikian.

Alfred hanya tersenyum lebar, lantas berbalik dan mulai melangkah pelan, yang kemudian segera diikuti oleh Nesia, "Yap. Tidakkah aku pernah bilang bahwa sebelum pergi, dia memintaku untuk menjagamu?"

Eh?

Tidak pernah Nesia merasa dirinya sebegini terkejut, sekaligus penasaran.

Namun yang jelas, ia bisa merasakan kini jantungnya berdetak makin cepat. Namun dengan detakan yang nyaman. Dengan pacuan yang justru, membuatnya tenang.

"M-menjagaku?" Nesia tertawa lirih, berusaha sebisa mungkin untuk menyembunyikan nada antusias dan penasaran dari suaranya, "Mana mungkin S-Senior Arthur berpesan demikian—kau tahu, dia tidak begitu peduli padaku."

Gadis itu berpura-pura mengambil satu potong kue dari meja hidangan di dekatnya, lantas menggigitnya pelan.

Diam-diam, ia menghela napas ketika menyadari bahwa selama ini, hubungannya dengan Kirkland tidak begitu bagus hingga membuat pemuda itu mungkin akan berpesan demikian kepada Alfred.

Kenapa Arthur harus merasa khawatir padanya?

"Nah," Alfred menggeleng, sembari turut berhenti bersama Nesia dan mencicipi kue dari meja, "Yakin padaku. Dia sangat peduli padamu. Meski aku yakin dia tidak akan pernah mau merendahkan harga dirinya sedikit untuk mengatakannya, tetapi aku tahu, dia peduli dan khawatir padamu."

Ketika Alfred menatapnya sembari mengucapkan hal tersebut, Nesia berusaha mencari kebohongan yang mungkin bisa ia temukan dari tatapan kedua iris biru cerah di depannya tersebut. Ia ingin mencari sebuah kebenaran yang mungkin bisa terungkap.

Ia ingin memastikan bahwa Alfred tidak sekedar berbicara dan bercanda lagi—memberinya candaan yang demikian kejam karena kini, karena semua kalimat yang diucapkannya, Nesia tidak peduli lagi pada semua hal yang lain.

Tidak ada yang ia pedulikan selain Alfred—apa yang telah dan akan diucapkan pemuda itu padanya. Selain fakta yang baru saja diketahuinya. Selain apa yang baru saja didengarnya.

Dan selain harapan dan rasa bahagia, yang perlahan menyelimuti hatinya.

Nesia menghela napas dalam-dalam lantas memalingkan wajah. Seolah dengan demikian, ia ingin agar Alfred tidak mengetahui semburat cerah yang kini melapisi kedua pipinya.

Namun senyum itu tidak mampu ia sembunyikan, ketika bibirnya tetap saja sedikit tertarik kecil. Hanya senyuman kecil, namun bisa membuat siapapun tahu bahwa senyuman kecil itu mewakili hatinya yang tengah dilanda suka cita.

"Tidakkah dia bohong kepadamu?" tanya Nesia lirih—berusaha mencegah agar Alfred tidak mengetahui adanya perubahan baik dalam nada atau ekspresi wajahnya, "S-Senior Arthur dan aku… kami tidak pernah akur," terbayang terakhir kali mereka bertemu saat di pinggir lapangan di depan aula dahulu—saat Arthur memberinya surat, namun berakhir dengan marahnya dia saat Nesia membuat lelucon terhadap rangkaian kata yang telah dibuatnya.

Gadis itu kembali menghela napas, "Bahkan saat terakhir kami bertemu, juga tidak begitu bagus untuk diingat."

Alfred tampak memandang heran, namun kemudian pemuda itu hanya mengendikkan bahu, "Aku tidak pernah tahu apa yang telah terjadi pada kalian. Tapi beneran, sebelum pergi dia benar-benar berpesan padaku—"

"Kenapa dia tidak menemuiku sendiri saja?" potong Nesia, "Kenapa dia tidak memberitahuku akan kepergiannya? Kenapa dia harus memintamu untuk menjagaku? Kenapa dia tidak berpesan saja langsung pada diriku agar aku menjaga diriku sendiri?"

Siapapun yang mendengar rentetan pertanyaan dengan nada menuntut tersebut, akan segera tahu bahwa ada rasa kecewa yang kini bersarang di hati gadis bergaun putih tersebut. Termasuk Alfred, yang kini semakin tidak mengerti akan apa yang terjadi.

"…Aku tidak tahu," ujar Alfred setelah menimbang sejenak, "Mungkin dia tidak punya waktu?" buru-buru Alfred menambahkan ketika tidak ada respon dari gadis di depannya, "T-tapi jika kau mau, akan kuminta dia untuk menghubungimu dan memberitahumu jika dia pulang dan tiba di bandara—aku juga tidak tahu kapan dia akan pulang. Kita akan bersama-sama menjemputnya, oke?"

Nesia tampak memejamkan mata, lantas menghela napas dalam-dalam.

Sebisa mungkin ia redakan detak jantungnya yang kini menggila. Sebisa mungkin ia tahan rona merah di wajahnya. Sekuat mungkin ia akan kendalikan desiran halus darahnya yang mengalir di sekujur syarafnya.

Dan sebisa mungkin, ia ingin menahan imajinasi dan harapannya yang mungkin kini akan melambung tinggi. Terbang terlalu tinggi. Hingga ke tahap yang pasti akan memberinya sakit yang tak terkira, jika apa harapan itu tidak sesuai dengan realita yang hadir nantinya.

"Tidak usah, Senior," ujarnya pelan, lantas tersenyum kecil, "Aku tidak apa-apa—ini b-bukan suatu hal yang besar hingga kau harus melakukan semua itu."

Bagaimana jika ia kembali berharap terlalu tinggi? Bagaimana jika ia kembali menganggap semuanya secara berlebihan? Bagaimana jika hanya dia saja pihak yang merasa begini? Merasa cemas, merasa kecewa, merasa bingung, namun di saat yang sama juga merasakan rindu yang begitu dalam hingga hanya ketika mendengar namanya saja, ia merasa demikian payah?

Bagaimana jika semua itu hanya Nesia yang merasakan? Bagaimana jika Arthur tidak?

"A-Aku tidak apa-apa," ujarnya sembari tersenyum kecil, namun lemah, kepada Alfred yang memberinya tatapan heran sekaligus ragu akan kebenaran ucapannya.

Ya.

Bagaimana jika semua terulang lagi?

Bagaimana jika kisah yang sama dengan perasaannya dan Antonio, kini terjadi lagi dengan orang yang berbeda? Apa yang harus ia lakukan jika ia mengulangi kesalahan yang sama dan jatuh dalam lubang yang tak berbeda?

Selama ini Arthur begitu membencinya. Selama ini hubungan mereka tidak begitu baik terhadap satu sama lain. Selama ini, kenangan di antara mereka hanyalah teriakan, umpatan, perselisihan, pertengkaran. Dan juga, selama ini, Arthur menganggapnya tak lebih dari seorang gadis yang barbar, tidak feminin, menyebalkan, merepotkan, bodoh, jelek, kasar…

Dengan semua itu, maka apa yang membuatnya berharap terlalu tinggi akan akhir yang indah di antara mereka berdua?

-oOo-

(1) Saya merasa payah jika harus mendeskripsikan baju atau model fashion. Ini saja saya harus mencari referensi ke beberapa teman saya lho, buat deskripsi pakaian Nesia T_T /orangtastelesssoalfashion

-oOo-

Sekedar teaser buat chapter depan :D

"You're wonderfully beautiful—you have been and will always are."

.

"Apakah kau ingat, saat selesai kita mengantar Antonio di bandara… Aku bilang aku ingin mengucapkan sesuatu padamu saat Pesta Dansa Hetalia Anniversary?"

.

"Kau juga, Nes. Kau juga, temukan akhir bahagia di hidupmu, dengan siapapun itu."

.

"Aku mencintaimu."

Aha. The most awaited moment will be coming reaaaallyyy soon :D


Review Reply (Catat, plot apapun di sini, terpisah dari main story, okay?)

Arthur: … #tiba-tiba udah pasang wajah jutek abis

Antonio: Hola, amigos! #senyum lebar #inilah orang yang bikin Arthur pasang wajah kanibal

Nah, apa kabar? Aku senang karena kali ini, aku mendapatkan kesempatan membaca dan membalas review dari kalian untuk fic ini #kelewat seneng dapet airtime tambahan untuk menyadari hawa membunuh Arthur

Arthur: #natap sinis# Heran… kenapa Nesia bisa suka mentok ama orang kelewat hyper gitu… #ngegumam

Antonio: Nah, aku sekarang bersama dengan Senior Arthur, akan membacakan dan membalas surat kalian. Benar, 'kan, Arthur? #senyum lima watt

Arthur: #bibir ngerucut lima senti #cuekin, langsung baca review pertama, dan langsung darah tinggi dadakan saat baca isi review pertama# Untuk Yunjou, kemarin itu KESALAHAN! Oke? KESALAHAN yang TIDAK AKAN terulang kedua kalinya #membenci setengah mati adegan fans service VashNes

Antonio: Ah… #ingat sesuatu# VashNes, ya… Sejak dulu kupikir mereka serasi, kok #wajah inosen

Arthur: #pengen robek mulut Antonio yang oblivious# Teori gurumu itu tidak berlaku bagi saya, Yunjou. If I ever married her, I would absolutely treat her like a princess forever #readers: muntah

Antonio: #tersenyum lebar# Kau sepertinya suka sekali dengan Nesia, ya, Senior? Yah… dia emang manis, sih. Coba saja jika aku ga keduluan ketemu Senior Bella, pasti aku juga akan jatuh cinta padanya.

Arthur: #pandangan mata berkata: WHUT?!# Ngomong apa… mana mungkin Nesia menyukai orang sepertimu #merasa menjadi orang paling menyedihkan sedunia#

Antonio: #mengendikkan bahu tak acuh# BigbangVIP, ahaha… ga nyangka ya, kalau yang nulis surat itu aku? #garuk tengkuk malu# Well

Arthur: Aku ga ngerti apa yang bisa bikin kau bangga dengan tulisan kayak gitu #ciri orang iri: cuma bisa ngehina#

Antonio: Aku juga tidak tahu… Tapi kata Nesia tulisanku bagus kok #senyum bangga

Arthur: #berharap megang pisau agar bisa ngegorok Antonio saat itu juga# Hah! Kau bangga dapat pujian dari orang yang ga ngerti seni seperti dia? #padahal sumpah, jeles abis!# Untuk Kiriya Diciannove, aku ga tahu apa yang akan dibicarakan oleh Vargas ke Nesia. Tetapi kuharap dugaanmu salah besar #berkata kelewat jujur

Antonio: Hhhh… kasihan Lovino. Somehow, aku berharap dia dan Nesia bisa bersatu. Dari dulu dia udah suka dan berkorban untuk Nesia sih…

Arthur: #pengen banget teriak depan muka Antonio: KAU PIKIR YANG MEMENDAM CINTA BERTEPUK SEBELAH TANGAN CUMA SI OTAK TOMAT KEDUA ITU, HAH?!# Untuk Wiwitaku, seperti yang saya bilang sebelumnya, VashNes itu kesalahan dan tidak akan terulang lagi, oke? Lagian si Vash cuma nyium pipi doang, kok. I can and surely will do more than kissing #nyeringai mesum dengan nistanya

Antonio: #merasa lebih waras, cuma bisa geleng-geleng# Madoka, terimakasih atas saran gaunnya, tetapi DIS sudah keburu nemu (?) ide lain untuk gaun Nesia. Dia tetep cantik, kok #senyum# mei anna hinna… hm… ide yang bagus. Eh, Senior, ini ada yang rikues kamu nyatain cinta pake baliho dan teriak-teriak kayak saran Nesia di radio waktu itu.

Arthur: #udah merinding duluan# Aku tidak ingat #cooly# D.N.A Girlz dan Orang Normal, well, VashNes is impossible, okay? Mereka tidak manis, tidak popular, tidak serasi, dan… ew. Apanya yang bisa dilihat dari Zwingli? Mukanya saja sudah seram, mana pake bawa senjata kemana-mana. Ah, dan pelit banget. Bisa kau bayangkan bagaimana jika VashNes kencan? Nesia yang bayarin? #ketawa ngakak #semangat dan puas banget nistain orang lain#

Antonio: ahahaha #Cuma ketawa kaku# Jong Aeolia, hei, jangan sampai mati, oke? #dibawa serius# Senior Arthur pasti akan balik, kok. Cuma ya itu… ga tahu kapan. Nah, untuk mengobati rindu kamu dan readers yang lain, makanya DIS nyuruh (?) Senior Arthur balik dari Inggris buat nampang di balesan review ini :D

Arthur: #karena menjadi rival cinta (?) terberatnya, somehow, apapun yang dikatakan dan dilakukan Antonio, sekalipun itu baik, terasa sangat menjengkelkan dan bikin dongkol Arthur# Ga usah sok akrab dengan readers, oke? Ga tahu malu, ya? Baru balas review sekali doang aja…

Antonio: #diam dan menatap tak mengerti#

Arthur: Ih… #gatel tangan dan gatel ati# tempemaeslogin, thanks ya, kamu udah ngeship UKNes! #merasa terharu ada yang ngebahas UKNes di tengah popularitas VashNes# JenIchi Kamine, fic ini tidak akan discontinue kok. Saya dan Nesia kan belum ngapa-ngapain #ambigu woi!

Antonio: Yuu Yurino, ah… terimakasih sudah menyukai SpaNes… #tiba-tiba merasakan aura kiamat datang dari sebelahnya# Errr… tetapi perasaan tidak bisa dipaksakan, kan? Dan Senior Bella… Well, I love her just the way she is.

Arthur: #DONGKOOOOOLLLLL #misuh-misuh ala rocker dalam hati ketika out of the blue, MASIH AJA ada yang ngebahas SpaNes #diam-diam menjadi SpaNes haters# Haniuda Hime, nih review kamu udah kubacain, terus kamu mau apa? #udah kebawa dongkol ama topik SpaNes meski Cuma sebiji dari sekian jumlah review

Antonio: #menatap tak mengerti# #diam aja daripada kena semprot# TsundereNeko, iya, Senior Arthur pasti balik, kok. Iya, kan, Senior? #mencoba meredakan ketegangan

Arthur: #gunung api meledak# IYALAH! KAU NYUMPAHIN AKU MATI APA, NGIRA AKU GA BALIK?! #ga nyante# untuk morathami, siniin tangan kamu. Kita tos #merasa lega karena nemu sesama haters VashNes# Cuma kamu yang tahu dan paham pandangan dan perasaan saya! #melebay

Antonio: #ketawa lirih karena kagok kena semprot# Untuk scarlett, yah.. sekarang kamu bisa lihat dengan JELAS gimana reaksi Senior Arthur atas insiden Nesia dan Senior Zwingli kemarin… #meski itu Cuma sebatas fans service, somehow Arthur udah merasa kayak dunianya kiamat#

Arthur: Chezaria E., sebenarnya teater itu bukan termasuk plot utama juga, kok #mati-matian nahan kesabaran# Terimakasih atas sarannya omong-omong #niat senyum, tapi yang keluar malah menakutkan

Antonio: Moku-chan, ah… soal itu… #keburu blushing dan ga bisa jawab# Ehem! Noir-Alvarez, saya juga ga tahu. Tetapi saya juga mikir yang sama, bahwa Lovino akan segera menyatakan perasaannya…

Arthur: #ketawa ngejek# Biarin aja, toh ga bakal diterima #PD mampus#

Antonio: Hm… kenapa ga diterima? Apa gara-gara Nesia belum bisa melupakan perasaannya padaku? #bertanya tulus karena penasaran#

Arthur: #angry meter jebol# KAU ANAK DARI WANITA *piip* BERANINYA KAU *piip* BERKATA SEPERTI *piip*! *piip* *piip* IBUMU *piip* KEPALA *piip*! INGAT *piip* YA, COWOK *piip* *piip* *piip* NESIA TIDAK *piip*! KAU *piip* PAHAM, ANAK WANITA *piip* *piip* *piip* *piip*?!

Antonio: #ngeblank karena otaknya abis dijejali kalimat berwarna dalam beberapa detik#

Arthur: INILAH KENAPA aku tidak mau repot-repot balas review di chapter ini! #pertama, karena bareng Antonio #kedua, banyak yang ngebahas VashNes# JAUH LEBIH PARAH ketimbang waktu dengan Lovino dulu! #banting kertas reviewan

Antonio: …. Errr… O-oke, pembaca. Sekian dahulu review reply kali ini #senyum garing dan awkward# #berbisik# dan DIS, plis, jangan taruh aku di sini lagi jika dengan Senior Arthur, oke? #berasa masuk kamp kemiliteran, kena semprot dari awal ampe akhir

Arthur: Udah selesai?! Bagus deh! #langsung ngacir

Antonio: A-Ahahahaha… O-oke…. Bye! :'D

Review ya :'D #ikutan nangis bareng Antonio#