Sorry telat update :') Semoga kalian tidak terbiasa dengan kebiasaan saya yang suka telat update ini T.T
Pesta dibuka dengan kehadiran dua orang MC yang tampil di stage utama di depan sana. Satu perempuan dengan gaun satin long dress berwarna merah, dengan satu pemuda yang memakai setelan jas, kemeja, lengkap dengan celana dan sepatu pantoefelnya. Kedua MC tentu tidak asing lagi bagi para sivitas Hetalia High. Terutama adalah sang MC pria—Tiino Väinämöinen, yang merupakan Ketua H-Radio sekarang, menggantikan Francis Bonnefoy yang sudah lulus. Tidak hanya bagi sivitas Hetalia High, namun beberapa undangan bahkan mengenal Tiino dengan baik—terimakasih pada profesinya sebagai penyiar sebuah program di salah satu channel televisi.
Sambutan awal hanya disampaikan oleh Kepala Sekolah dan Wakil Ketua OSIS—dikarenakan sang Ketua OSIS, menurut para MC, tidak bisa menghadiri Anniversary malam ini. Hanya sebentar Kepala Sekolah memberi sambutan, sebelum acara pertama dibuka dengan penampilan Klub Musik yang menampilkan keahlian dan kepiawaian mereka dalam menciptakan karya. Menyanyikan Mars Hetalia High dengan begitu merdunya, mereka semua tampak begitu memukau dan tak ayal, sebutan sebagai salah satu Klub Musik terbaik, dipegang mereka.
Memandang penampilan di depannya dengan senyum, Annesia Saraswati terduduk di salah satu kursi bersama dengan Lovino Vargas di sebelahnya.
Harusnya, di depan sana, ada Antonio Carriedo. Harusnya, pemuda itu kini tengah tampil di barisan depan dan menunjukkan kepiawaiannya—menunjukkan alasan mengapa Nesia begitu bangga menjadi sahabatnya.
Harusnya kini, sahabatnya tersebut tengah bernyanyi merdu sembari memetik senar gitarnya dengan lihai.
Meski sedikit kecewa karena sahabatnya—salah seorang anggota kebanggaan Klub Musik—tidak tampil, tetapi Nesia tetap puas dengan itu. Senior Bella Van Hardt hadir di sana, memakai gaun dan dandanan sedemikian rupa yang semakin membuat Nesia memuji kecantikannya—dan dalam hati, Nesia menjadi tak heran jika Antonio sangat mencintai Senior mereka, sekaligus pianis handal di Klub Musik tersebut.
-oOo-
Axis Power Hetalia © Hidekaz Himaruya
Picture © Sakurazaka Ohime
I just own the plot of the story and I don't gain any commercial advantages by publishing this fic.
Warning: AU, Human Name, High School, OC, OoC yang mendewa, (highly possible) crack pairs, (a lil') Nesia-centric, but no Mary Sue/Gary Stu I assure you :D totally absurd.
Pairing: Anda bisa menebak sendiri mana yang main pairing, dan mana yang sekedar hints dan fans service :p
Ini murni dari pemikiran saya. Maaf jika kebetulan ada kesamaan ide karena setting gakuen sangat banyak di FHI. Itu tidak disengaja :D
Long Live FHI and Say NO to Plagiarism! Mari berkarya dengan hati dan imajinasi :D
Maju FHI!
-oOo-
Momen yang paling ditunggu-tunggu oleh para murid Hetalia High akhirnya datang juga. Pesta Dansa—sebuah acara yang memberikan banyak harapan dan kebahagiaan bagi para penantinya, terutama para remaja wanita. Tentu saja, mereka dandan habis-habisan seperti sekarang ini 'kan dengan tujuan untuk menjadi 'Cinderella' yang akan berdansa dengan 'Pangeran'nya.
Alunan musik waltz terdengar begitu merdu—termainkan secara LIVE oleh anggota Klub Musik di panggung sana. Suasana benar-benar mirip dengan Pesta Dansa yang populer hadir di imajinasi para remaja—waltz, gaun, lampu kristal, dekorasi mewah, dan kerlap-kerlip lampu yang indah. Di menit-menit awal saja sudah banyak pasangan atau partner yang turun ke dance floor—sebut saja Mei Lian dan Kiku, Senior Alfred dan Senior Natalia, dan Senior Elizaveta dan Senior Gilbert. Dan demi apa Nesia melihat Lily Zwingli yang juga ada di lantai dansa di sana, bersama dengan seorang pemuda berambut salju yang kemudian Nesia ingat sebagai adik dari Senior Andrew Scholte. Nesia menyeringai kecil ketika menatap Lily yang berdansa sembari terus tertunduk dengan wajah yang begitu tersipu.
Sedangkan Nesia sendiri? Ia sekarang sedang duduk di suatu sofa sembari menikmati jus yang diambilnya. Ia perlu beristirahat saja setelah menghabiskan beberapa menit untuk berdansa bersama dengan Senior Alfred, lalu Senior Francis—yang mana tentu saja, berdansa dengan dua orang penuh energi itu sedikit menguras energi Nesia ketika ia sulit menyeimbangkan langkah dansa kedua partner dansanya itu. Apalagi dengan gaun berat dan heels yang cukup merepotkan ini…
Ah, ngomong-ngomong soal partner… dimana Lovino? Entah kenapa malam ini Nesia sering terpisah dengan pemuda itu dan justru berseliweran kesana-kemari seorang diri begini.
"Kenapa tidak berdansa?"
Nesia menoleh ke sumber suara dan di iris hitam kecoklatannya seketika terpantul bayangan seorang pemuda berambut pirang dan beriris hijau. Satu pemuda yang rasanya sudah lama sekali Nesia tak berurusan apapun dengannya.
"S-Senior Zwingli?" ah, bahkan menyebut namanya saja Nesia tidak bisa tanpa tergagap. Habisnya, wajahnya masih tampak seseram dan sedingin yang terakhir Nesia lihat sih.
Kecuali adalah semburat merah samar yang tampak di wajah pemuda itu saja, sih, yang tampak membedakannya dari wajah Vash Zwingli yang terakhir kali Nesia lihat waktu entah kapan itu.
"Um… Aku sudah berdansa tadi. Hanya saja, aku ingin istirahat sebentar saja. Ahahaha," Nesia menggaruk tengkuknya, merasa kikuk sendiri berbicara dengan Senior yang ia tidak begitu akrab dengannya.
Tanpa merespon lebih jauh lagi, Vash terduduk di sofa pula, tepat di samping Nesia. Membuat gadis itu tampak semakin kikuk saja karena wajar saja, ia tidak begitu akrab dengan Senior yang satu ini. Apalagi juga mereka memiliki 'kenangan' tertentu yang juga tidak mudah dilupakan—tragedi MOS waktu itu…
Pandangan Nesia menyendu ketika mengingatnya. MOS. Kenapa semua hal sekarang bisa dengan mudah mengingatkannya pada Arthur Kirkland? Wajar saja, karena bukankah karena pemuda beralis tebal itu juga Nesia dahulu terpaksa 'menyatakan cinta' kepada Vash Zwingli dan membuat semua orang salah paham?
Uh.
"Ngomong-ngomong, kau datang bersama dengan siapa, Senior?" tanya Nesia memecah keheningan yang sebentar terjadi di antara mereka. Bukannya apa, hanya saja gadis itu tidak mau terus-menerus menampakkan wajah mellow-nya tiap pikiran tentang Arthur singgah di kepalanya.
"Dengan Lily," Ah, sudah dapat Nesia duga sih, "Tapi sekarang kau lihat? Dia bersama dengan bocah ingusan adik dari Scholte itu…" Vash melengkungkan bibirnya ke bawah sembari menyipitkan pandangannya ketika menatap ke suatu arah.
Arah di mana Lily dan Emil tampak masih tengah berdansa dengan anggunnya.
"Oh…" Nesia mengangguk-angguk, "Tapi mereka tampak manis, Senior," Nesia tersenyum kecil.
Vash terdengar mendecak, "Darimananya tampak manis? Buah tak jatuh jauh dari pohon. Bocah Steillson itu pasti juga bersikap dingin dan sarkastis layaknya Kakaknya."
Hampir saja Nesia menggunakan kalimat yang sama untuk menyindir Vash Zwingli—sebelum ia putuskan untuk tidak jadi mengucapkannya. Ini pertama kalinya mereka ngobrol akrab seperti ini, masak Nesia harus bersikap kurang ajar?
"Oh, ya? Tapi seru juga lho, lihat Lily bisa bersama dengan orang lain begini," Nesia tersenyum lebar.
"Dia tidak membutuhkan orang lain selama ada aku."
"Kenapa? Banyak orang yang mau berteman dengannya, kok."
"Mereka hanya memanfaatkannya—Lily itu gadis naif dan polos, tahu?"
"Ah, tidak juga," Nesia tersenyum kecil, "Mungkin Senior sekali dua kali harus rela Lily dekat dengan orang lain dan lihatlah, dia bisa tahu apa yang terbaik baginya dan menjaga dirinya sendiri."
Vash terdiam tanpa merespon bagaimanapun. Bahkan pemuda itu tidak menatap ke arah Nesia yang masih tersenyum kecil padanya.
Suasana canggung dan tidak enak menggantung di antara mereka. Membuat Nesia seketika menyadari apa yang barusan dia ucapkan. Mungkin saja kalimat yang terlontar dari bibirnya tanpa sengaja menyinggung perasaan Senior Vash Zwingli, meski Nesia sama sekali tak bermaksud untuk demikian.
"Um…," senyum Nesia meluntur, tergantikan oleh tatapan penuh rasa penyesalannya, "A-Aku tidak bermaksud mengguruimu. Aku minta maaf, hanya saja—maksudku—"
"Tak apa," Vash tersenyum kecil, "Mungkin kau benar juga… Mungkin aku terlalu overprotective—belum bisa menerima kenyataan bahwa adikku telah tumbuh dewasa dan bukan lagi Lily kecil yang terus perlu kujaga…," kalimat selanjutnya menghilang seiring dengan semakin melirihnya suara Vash. Nesia bisa melihat pandangan sendu itu, ekspresi stoic yang kali ini terlepas dari aura dinginnya dan justru terganti oleh perasaan sendunya.
Nesia semakin merasa bersalah.
"Lily beruntung memiliki Kakak sepertimu," ujar Nesia jujur, tanpa maksud menghibur. Ia tersenyum kecil ke arah Vash yang belum menatapnya juga, "Kau sangat menyayanginya—siapapun tahu dan bisa lihat itu."
Vash hanya tersenyum kecil lagi, meskipun masih tampak ragu. Ia menoleh dan menatap ke arah Nesia, "Ba-bagaimana denganmu?"
"Huh?"
"Partnermu untuk datang kemari… Apakah Carriedo?" tanya Vash yang membuat Nesia menduga bahwa pemuda itu masih memakan 'bualan Arthur' saat MOS dahulu terkait Nesia dan Antonio.
Nesia menggeleng, "Aku datang bersama dengan Lovino—tapi ga tahu dia dimana sekarang," ujar Nesia sembari mengedarkan pandangannya ke sekitar, mencoba mencari helai auburn familiar yang belum juga didapatkannya.
Ekspresi Vash tampak terlihat tidak suka, "Dia meninggalkanmu sendirian seperti ini tanpa kau tahu dia dimana?"
Nesia meringis garing ketika mendapati ekspresi Vash. Dalam hati gadis itu berpikir apakah ia baru saja berbuat salah hingga Senior Vash tampak marah seperti ini?
"M-Mungkin dia bersama keluarganya… Aku tadi melihat Kakeknya datang kemari, soalnya."
"Tetap saja, itu bukan jadi alasan untuk meninggalkan seorang gadis di pesta yang ramai begini," ujar Vash yang masih tampak gusar—entah mengapa, pikir Nesia—yang tampak baik dalam nada atau tatapannya, "Bagaimana jika ada yang ingin berbuat jahat padamu?"
Nesia memandang Vash dengan perasaan antara tidak mengerti dan heran, "Kejadian buruk apa yang bisa terjadi di sini? Mereka semua civitas Hetalia High, dan mereka teman-temanku juga."
"Itu tidak me-nol-kan kemungkinan sesuatu yang buruk bisa terjadi," ujar Vash tegas dan tak mau kalah, meski Nesia sama sekali belum mampu mengerti apa yang dikatakan Senior setingkat di atasnya ini dan mengapa pemuda itu tiba-tiba marah demikian.
"…Lovino sebentar lagi akan datang, aku yakin," ujar Nesia mengalah pada akhirnya.
Lagi, kesunyian melingkupi mereka berdua ketika tak ada lagi obrolan. Vash orang yang pendiam, sedangkan Nesia pribadi yang hanya diam ketika ia tidur atau pingsan. Oleh sebab itu, Nesia merasa sedikit canggung dengan semua ini. Namun pemuda itu tampaknya enggan pergi dan masih betah terduduk di samping Nesia—turut mengamati dansa yang ada di depan sana.
Pada akhirnya, kesunyian itu terpecah oleh dehaman dari Vash. Membuat Nesia menoleh dan mendapati bahwa lagi, wajah pemuda itu tampak memerah. Tak hanya itu, sikapnya tampak demikian gugup—terlihat dari pandangannya yang terlempar ke kiri dan ke kanan, seolah mencari kata yang tepat untuk ia ucapkan.
"Kenapa, Senior?" tanya Nesia menyuarakan keheranannya. Alih-alih tenang, Vash justru tampak sedikit terkejut dengan suara Nesia. Tampak semakin gugup.
Dan ia menjawab, tanpa memandang ke arah Nesia, "A-Aku berpikir…," Vash memejamkan mata, lantas menghela napas, seperti ingin menenangkan dirinya sendiri. Beberapa saat kemudian, ia kembali membuka matanya, lantas menatap Nesia.
Hijau bertabrakan dengan hitam kecoklatan.
"B-B-Bolehkah aku menjadi partner ketiga untuk dansamu—"
"Annesia, maaf lama membuatmu menunggu."
Ucapan Vash Zwingli terputus ketika suara baru datang terdengar dan menyelanya. Mendengarnya, baik Vash dan Nesia menoleh ke sumber suara. Dan keduanya mendapati Lovino berdiri di dekat mereka.
Berdiri, dengan pandangan sedikit menyipit terganggu ke arah Senior yang terduduk tepat di samping partner sekaligus sahabatnya.
"Lovino," sapa gadis itu sembari tersenyum lebar—merasa lega akhirnya sahabatnya itu datang dan membebaskannya dari kecanggungan yang membuatnya merasa tidak nyaman ketika bersama dengan pemuda pendiam dan irit bicara layaknya Senior Vash.
Jika Nesia tampak berbinar menatap kedatangan Lovino, maka Vash Zwingli menampakkan ekspresi yang umum ia pakai jika ia siap mengancam untuk menembak seseorang dengan senjata koleksinya.
Sekali lagi melempar tatapan tajam ke Vash, Lovino segera menatap ke arah Nesia.
Begitu memandang gadis itu, semua ekspresi tidak ramah itu terganti total. Tersingkirkan secara sempurna. Berubah menjadi ekspresi yang umum dan selalu Lovino tampakkan ketika ia menatap gadis yang menjadi sahabatnya—gadis yang ada di depannya.
Dengan pandangan seolah-olah tak ada hal lain yang akan membuatnya mengalihkan pandang selain dua iris hitam kecoklatan tersebut.
"Nes, would you care to spend some of your time dancing with me?"
Ketika Nesia tertawa geli dan tanpa ragu mengangguk dan menyambut uluran tangan Lovino, Vash Zwingli justru menghela napas besar dan sedikit kasar.
Mengalihkan pandang dari pasangan di sampingnya.
Dan membiarkan apapun yang ingin ia ucapkan sebelumnya, tak pernah terucap.
Selamanya.
-oOo-
Alunan musik waltz masih terdengar mengalun lembut dari anggota Klub Musik di depan sana. Sudah dua puluh lima menit acara dansa ini berlangsung, namun tampaknya tiada yang merasa lelah. Pasangan demi pasangan silih berganti masuk dan keluar dari lantai dansa. Saling memeluk, saling menatap, tersenyum, tertawa, berbincang, dan menyamakan langkah seiring dengan alunan melodi yang terdengar di kedua telinga mereka.
Sudah nyaris dua menit Nesia menjalani dansanya yang ketiga. Jika Alfred dan Francis berdansa dengan juniornya ini secara sedikit energik dan banyak berbincang ngalor-ngidul dan tertawa akan hal-hal yang tidak jelas, maka dansa dengan Lovino ini justru kebalikan dari itu semua.
Mereka belum berbicara mengenai apapun semenjak mereka menginjakkan kaki di lantai dansa ini. Hanya terdiam dan berdansa. Sebelah tangan Nesia di pundak Lovino, dan sebelah tangan Lovino berada di pinggang Nesia. Memeluknya erat dan membawanya mendekat ke arah tubuhnya. Membuat Nesia bisa mencium jelas aroma mint segar yang menguar dari tubuh di depannya ini. Sedangkan satu lagi tangan mereka tampak saling menggenggam dan bertautan. Erat. Apalagi beberapa detik yang lalu Lovino mengeratkan pegangan itu dengan cara menyelipkan jemarinya ke jemari Nesia yang lebih kurus dari miliknya.
Entah mengapa Lovino saat ini terasa dan tampak begitu asing bagi Nesia. Tak hanya pemuda itu yang terdiam saja, namun juga semuanya. Baru sekarang Nesia dapati lebarnya pundak itu yang terasa di bawah telapak tangannya. Baru kali ini pula Nesia merasakan kuatnya lengan itu ketika melingkari pinggangnya.
Dan… apakah pernah ia merasakan kehangatan yang ia rasakan sekarang menguar dari tubuh lelaki yang mendekapnya ini?
Sedikit merasa kikuk juga, bagi Nesia dengan semua ini. Apalagi ketika ia mendapati bagaimana Lovino menatapnya—memandangnya lekat-lekat. Seolah tak ada hal lain di sekitar pemuda itu dan di dunia ini yang lebih menarik lagi untuk dipandang. Kedua bola itu tampak sedikit berkerlip—mungkin efek lampu yang menggantung di atas mereka? Bibir tipis itu senantiasa mengulum senyum, membuat Nesia merasa penasaran akan apa yang ada di pikiran pemuda itu hingga terus tampak tersenyum demikian.
Dan wajah Lovino tampak memerah—semerah tomat yang Nesia tahu menjadi makanan kesukaan pemuda yang sama.
"H-Hei," ujar Nesia memecah keheningan di antara mereka. Mereka masih bergerak dan berdansa bersama dengan partner dansa yang lainnya.
Lovino tampak terkesiap, "A-Ah, ya?"
Tersenyum geli melihat ekspresi terkejut dan gugup sahabatnya, Nesia bertanya, "Kau kenapa sih? Jangan diam saja, ah. Rasanya aneh, tahu?"
Bertambahlah tingkat kemerahan yang tampak jelas di wajah dan telinga itu—seolah kalimat Nesia barusan telah membuatnya merasa malu akan sesuatu.
Lovino berdeham, lantas menghela napas dan menunduk. Entah kenapa pemuda itu kini tampak menanggung beban yang amat berat demikian, "…mungkin, itu karena aku tidak bisa lepas dari kekagumanku.. pa-padamu…"
Dan Lovino mengeratkan pelukannya di pinggang Nesia dan membuat gadis itu lebih merapat kepadanya—membuat Nesia sedikit meringis tidak nyaman mendapati betapa dekatnya kini jarak antara tubuh mereka berdua.
Nesia tersenyum miring, merasa aneh akan ucapan sahabatnya, "Apa yang kau ucapkan, Lovino?"
Lovino tampak kembali menghela napas, untuk kemudian mendongak dan menatap mata Nesia. Rona merah itu masih jelas di wajah kecoklatannya, ketika ia kembali berucap, "Kau tampak cantik sekali malam ini, Annesia," ujar Lovino lirih dan seolah berbisik, seolah ingin agar hanya Nesia yang mendengar kalimat yang baru saja terucap darinya.
Kalimat yang terdengar bagaikan terbisikkan dari lubuk hatinya.
Membuat Nesia semakin menatap heran dan tidak mengerti. Entah kenapa sahabatnya sekarang menjadi melankolis dan bersikap sedikit—ehem—lebih manis daripada biasanya, "Terimakasih?" ujar Nesia tak yakin, "Kau juga tampak tampan—"
Lovino menggeleng. Ditatapnya Nesia dengan pandangan yang seolah ingin meyakinkan gadis itu akan betapa tulusnya kata apapun yang akan ia ucapkan selanjutnya.
Pandangan sedemikian rupa seolah ia akan menyampaikan rahasia terbesar dan terindah yang tidak diketahui oleh dunia.
Oleh siapapun juga.
"Aku tidak bermaksud untuk memujimu—aku menyatakan apa yang kutahu," kembali Lovino berujar lirih, membuat Nesia bisa merasakan lagi hembusan nafas pemuda itu di wajahnya. Di telinganya.
Hangat.
"You're wonderfully beautiful—you have been and will always be."
Uh.
Sejujurnya, Nesia masih tidak mengerti dan merasa aneh dengan semua ini. Memang, Lovino selama ini bersikap begitu baik—selalu baik—dan senantiasa perhatian kepadanya. Jadi, bersikap manis seperti ini sejujurnya bukanlah hal yang tidak biasa Nesia dapatkan dari pemuda yang sama.
Hanya saja, entah kenapa Nesia merasakan bahwa sekarang ini berbeda. Bukan seperti Lovino yang biasanya. Tidak seperti Lovino Vargas yang ia tahu selama ini.
Dan ini, otomatis, membuatnya seketika merasa canggung dengan semuanya.
Lovino tampaknya menyadari apa yang dipikirkan gadis yang berada dalam pelukannya ini. Pemuda itu tampak tengah berpikir, seolah menimbang apakah ia ingin kembali berucap atau tidak.
Pada akhirnya, Lovino kembali memejamkan mata dan menghela napas perlahan-lahan. Seolah tengah membangun keberanian dan menguatkan kembali tekad yang perlahan meluntur—entah untuk apa.
"Apakah kau ingat, saat selesai kita mengantar Antonio di bandara…," ujar Lovino kembali setelah mereka terdiam beberapa lama, "Aku bilang aku ingin mengucapkan sesuatu padamu saat Pesta Dansa Hetalia Anniversary?"
Perlahan-lahan, Nesia mengingat apa yang diucapkan Lovino.
Gadis itu mengangguk, dan menatap Lovino penasaran, "Apa yang ingin kau katakan? Dan, kenapa harus sekarang?" tanya Nesia dengan rasa penasaran yang amat besar, baik terhadap ucapan Lovino, atau terhadap sikap pemuda itu yang terasa begitu berbeda malam ini.
"Aku sebenarnya sudah ingin mengatakan ini dari dahulu," ujar Lovino setelah terdiam beberapa lama, "Tapi, tak pernah urung. Jika bukan karena aku belum mampu, pasti karena ada hal lain yang mengganggu…" meski sekilas, pandangan pemuda itu tampak menahan kesal akan apapun yang sekarang teringat di pikirannya.
"Memangnya apa?" tanya Nesia dengan penasaran yang lebih, "Pasti penting sekali jika kau menunggu sampai sekarang untuk bisa mengucapkannya."
Sejenak, Lovino tampak menimbang-nimbang. Lagi. Berpikir apakah ia ingin melanjutkan atau justru berhenti. Rona di wajahnya belum luntur juga. Masih tampak panas dan memerah—seolah ia tengah mengalami ketidakpercayaan diri yang besar yang membuatnya malu seketika.
Ia lemparkan kembali pandangannya pada Nesia.
Dan ditatapnya iris hitam kecoklatan itu dengan seksama dan beberapa lama. Iris hitam kecoklatan yang memberinya pandangan heran dengan mata bulatnya.
Pemuda itu menghela napas, lagi, lantas menunduk.
Dan berucap lirih, "Aku merasa begitu malu mengucapkannya, Nes," keluh lirih pemuda itu. Terdengar lelah, terdengar begitu nyaris putus asa, "Jika pada orang lain aku mengucapkannya, mungkin tidak akan sebegini susahnya."
Nesia memandang heran bercampur prihatin. Wajar saja, suara Lovino terdengar lirih oleh keputusasaan yang mendera. Meski Nesia belum tahu apa yang terjadi dan apa maksud pemuda itu, namun Nesia kini tahu bahwa pemuda itu merasa malu. Merasa tidak percaya diri.
Oleh sebab yang hanya Tuhan dan Lovino tahu.
"Kau bisa mengucapkannya," ujar Nesia pelan, "Aku tidak akan marah," keengganan Lovino diartikan Nesia bahwa pemuda itu akan mengungkapkan rahasia yang tidak diketahui Nesia. Rahasia yang mengesalkan dan mungkin akan membuat Nesia marah.
Nesia pikir begitu.
"Kau tahu apa yang selalu kurasakan?" tanya Lovino, masih dengan kepala sedikit menunduk dan tatapan yang mengarah pada jas yang ia pakai sendiri.
Nesia menggeleng pelan.
"Aku selalu merasakan ini…," Lovino menghela napas. Pandangannya tampak mengulas, seolah ia ingin menceritakan sesuatu yang senantiasa berada dan bermain-main dengan pikirannya, "Orang bilang kau akan merasakan ini saat kau tengah…," Lovino menelan ludah dengan paksa, "Jatuh cinta."
"Kau tengah mencintai seseorang?" tanya Nesia langsung melompat ke kesimpulan.
"Awalnya aku tidak yakin," jawab Lovino, "Kupikir ini semua hanya perasaan simpati padanya. Tidak lebih. Dan aku, awalnya, enggan untuk terus memikirkannya."
Nesia merasa sedikit terkejut karena baru sekarang Lovino mengobrol dengannya mengenai topik ini. Asmara—sesuatu yang selama ini hanya akan dibicarakan oleh Nesia dan Antonio saja.
Lovino…
Jatuh cinta?
"Tapi dia terus saja bermain-main di pikiranku, kau tahu? Saat apapun—seolah dia sudah ditempatkan Tuhan di pikiranku bahkan sejak aku lahir—aku tidak bisa berhenti. Asumsiku bahwa aku hanya merasa simpati, perlahan-lahan kuragukan ketika aku merasa ingin senantiasa melihatnya. Ingin mengetahui keadaannya. Ingin memastikan ia baik-baik saja. Dan aku selalu merasa tidak rela jika tahu atau melihat bahwa ia bersama dengan lelaki lain—siapapun itu."
Ah, ya, benar.
Bukankah itu pula dulu semua perasaan yang Nesia rasakan ketika ia merasa jatuh cinta pada Antonio? Betapa sering Nesia ingin melihat pemuda itu. Ingin mengetahui keadaannya. Dan merasa kesal dan begitu sakit ketika tahu bahwa cintanya bertepuk sebelah tangan ketika pemuda itu justru menaruh hati pada Senior Bella.
Ya.
Persis.
"Apapun yang dilakukannya selalu ingin kulihat. Apapun yang dikatakannya ingin sekali kudengar. Senyumnya tak pernah absen dalam pikiranku setiap aku hendak menutup lelah di malam hari. Dan aku senantiasa berpikir bahwa apakah di saat aku memikirkannya, aku juga tengah bermain-main di otak dan benaknya di saat yang sama."
Nesia tertegun mendengarnya.
Apa yang diucapkan Lovino sebenarnya bukanlah hal yang asing bagi Nesia. Nesia tahu. Nesia paham. Nesia mengerti, bahkan jika Lovino tidak memberi deskripsi.
Nesia tahu, bukan hanya karena dahulu ia pernah merasakannya.
Namun juga sekarang—sejak beberapa minggu terakhir ini. Di menit-menit yang lalu.
Bahkan di detik ini—semua gambaran Lovino Nesia rasakan jelas di hatinya. Bermain di otaknya.
Ya. Persis.
"Seolah tak ada kebahagiaan terbesar bagiku selain ketika melihatnya mencapai apa yang ia inginkan. Dan seolah tak ada penyesalan dan duka di hidupku ketika mendapati dia terluka. Andai aku memiliki kuasa, Nes, aku bahkan ingin memberinya bulan jika itu bisa membuatnya tertawa."
Nesia merasa sesak.
Nesia merasa pengap ketika mendengar ucapan Lovino. Tiap kata dari pemuda itu bagaikan mantera yang sedikit demi sedikit menampar kesadarannya. Bagaikan jimat yang perlahan-lahan membuka dirinya pada kenyataan.
Kenyataan yang tak pernah singgah di pikirannya, namun kini dihadapinya. Kenyataan yang mungkin tak pernah ia inginkan, namun kini justru hadir dalam hidupnya.
Semua perasaan ini…
Semua pemikiran ini…
"Di saat itulah, aku sadar bahwa aku sangat mencintainya."
Nesia memberhentikan gerakan berdansanya, tepat ketika Lovino selesai berucap demikian.
Ia tidak menatap wajah Lovino, bahkan Nesia tidak tahu pasti kemana arah pandangannya. Ia hanya tampak mengulas, tak peduli pada apapun di sekitarnya. Tak peduli pada wajah merona hangat dan begitu tersipu yang kini terpampang di wajah Lovino. Tak peduli pada pelukan Lovino yang makin erat melingkari pinggangnya. Tak acuh pada tautan jemari mereka. Bahkan Nesia tak ambil pusing ketika kini mereka menjadi satu-satunya pasangan yang berhenti menari di lantai dansa.
Tak peduli.
Hanya rasa sesak. Hanya rasa perih.
Semua perasaan yang gadis itu rasakan ketika kenyataan itu baru ia sadari. Penyesalan yang datang menyerbunya dalam sekali sentakan ketika semuanya kini seolah sudah terlambat. Kesadaran yang membuatnya sedikit tak percaya, namun terasa semakin benar seiring ia memutar pikirannya.
Tak pernah ia sangka.
Tak pernah ia duga.
Mengapa ia baru menyadarinya sekarang ketika semua rasa ini sudah terlebih dahulu ada di sana?
Bahkan Nesia tidak menyadari bahwa Lovino kini tersenyum menatapnya. Sebuah lengkungan paling indah yang pernah pemuda itu tampakkan pada orang lain—bahkan tidak kepada keluarganya.
Bahkan Nesia tidak mengetahui bahwa Lovino menatapnya sedemikian rupa, seolah ia akan mengucapkan sumpah paling indah yang bisa terucapkan oleh mulut manusia.
Tidak Nesia sadari suara Lovino yang berbisik lirih, seolah ia berbicara tidak untuk kedua telinga Nesia dengar, tetapi ia ingin berkata langsung pada hati gadis yang tengah ia peluk.
"Annesia, I have been and will always be falling in love with—"
"Aku mencintainya," bahkan Nesia tidak sadar jika kalimat itu terucapkan dari mulutnya. Bahkan ia tidak sadar ketika setets air mata terjatuh mengaliri pipinya, begitu ia menoleh dan menatap kedua mata Lovino dengan tatapan terluka.
Suaranya berbisik, bersama dengan keinginan untuk menahan luapan perasaan yang ingin ia lampiaskan pada matanya yang sudah tergenang.
"Aku mencintainya, Lovino," setetes lagi terjatuh, "Aku mencintai Arthur Kirkland."
Nesia tidak tahu bahwa pandangan Lovino berubah di detik itu juga.
Nesia tidak sadar bahwa ia baru saja membuat pengakuan akan perasaannya.
Gadis itu juga tidak menyadari bahwa pegangan erat Lovino di pinggangnya mengendur di detik itu pula.
Dan Annesia Saraswati tidak pernah, dan tak akan pernah tahu, bahwa ia sudah membungkam rapat mulut Lovino untuk berucap satu rahasia yang tak akan pernah didengar telinganya.
Terbungkam rapat.
Selamanya.
-oOo-
Nesia tidak pernah menyangka bahwa keputusannya untuk jauh dari Indonesia demi pendidikan di Hetalia High, akan membuat hidupnya penuh dengan drama.
Karena ayolah, siapa yang menyangka jika hidupnya di AS ini tampak begitu klasik layaknya plot cerita di kebanyakan novel atau drama remaja? Apa yang ia harapkan, justru tak pernah terjadi. Apa yang tak pernah ia bayangkan, justru kini menjadi kenyataan yang tak bisa lagi ia pungkiri.
Gadis itu menghela napas ketika tanpa sadar, jemarinya meraba foto yang dipegangnya, sendiri di kamarnya.
Foto dari pemuda yang sejak pertama kali Nesia melihatnya, selalu saja membuat gadis itu kesal. Apapun yang diucapkan Arthur, selalu membuat Nesia merasa naik darah, habis kesabaran, dan ingin menangis saja! Berbagai ingatan seliweran di pikiran Nesia kini. Pertama kali ia mendapati pandangan dingin Arthur yang tertuju padanya di hari pertama MOS. Tiap kelicikan Arthur saat MOS; terhadap Vash, di perkemahan, pengakuan cinta paksaan dengan Antonio… Hingga bagaimana mereka bertemu kembali saat penyeleksian peserta kompetisi debat—sebuah ajang yang menjadi awal pertengkaran mereka kembali, sekaligus awal bagi kedekatan mereka.
Jauh lebih dekat, karena pengaruhnya juga tidaklah kecil.
Perasaan.
Nesia menghela napas sembari lamat-lamat menatap emerald dalam bingkai kaca itu.
Siapa sangka jika ia jatuh cinta pada pemuda itu? Siapa sangka jika Arthur bermain-main di pikiran dan hatinya, menggantikan Antonio yang semula berkuasa di sana? Siapa sangka?
Rasanya tidak mungkin dan belum mampu Nesia percaya. Karena ayolah, Arthur bukanlah tipe pemuda yang akan membuat Nesia jatuh cinta—pikirnya. Arthur berbeda dengan Antonio, atau Willem, dua orang pemuda yang pernah mengukirkan namanya di hati Nesia. Amatlah beda. Arthur tidaklah ceria seperti Antonio. Arthur tidaklah dewasa seperti Willem. Alih-alih demikian, yang bisa Arthur lakukan selama ini hanyalah membuat Nesia marah, marah, marah, dan marah!
Jadi, wajar saja, 'kan, jika semua ini tidak bisa dinalar oleh logika? Bagaimana bisa…
Dan baru sekarang Nesia menyadari semuanya. Baru sekarang gadis itu terbuka akan perasaan yang ada di hatinya. Mengapa tidak sebelumnya? Mengapa sulit baginya untuk menerka? Padahal dengan Antonio dahulu, ia tidak membutuhkan waktu lama untuk sadar bahwa ia tengah jatuh cinta.
Apakah ia terlambat menyadari karena tanpa sadar ia mengingkari kemungkinan jatuh cinta pada pemuda Britania? Karena sekali lagi, Arthur bukanlah Antonio atau Willem. Kemungkinan Nesia jatuh cinta padanya, seharusnya, bahkan mendekati nol.
Mungkinkah karena itu?
Hingga kini ia baru menyadari saat pemuda itu jauh. Saat Arthur berada di belahan bumi yang lain. Saat pemuda itu tidak berada dalam lindungan langit yang sama dengannya. Bahkan Nesia tak bisa menatapnya. Tak bisa menyapanya. Tak bisa berbicara dengannya.
Menghela napas dalam-dalam, Nesia mendongak. Ia merasa sesak. Begitu sesak atas semua yang baru saja diketahuinya. Atas semua yang baru saja disadarinya.
Sesak.
Ketika kini ia menyadari, betapa besar rasa rindunya pada sang pemilik surai pirang pasir dan bola emerald cerahnya.
Hampir semua hal mengingatkannya pada pemuda itu. Semua hal yang ditatapnya. Semua hal yang diingatnya, nyaris semuanya menghempaskannya pada ingatan mengenai Seniornya tersebut. Dan pasti, semua itu berujung pada semakin terasanya perasaan di dalam sini yang bergejolak di luar kendalinya.
Terkadang, sering Nesia habiskan hanya dengan menatap bingkai foto yang merekam dirinya, Alfred, dan Arthur saat penerimaan piala dan piagam kompetisi debat, dan bertanya dalam hati, sedang apakah Arthur saat ini di Inggris sana. Terkadang pula, Nesia sering menyentuh dan memandang lama-lama penutup telinga musim dingin yang dahulu, pernah dibelikan Arthur untuknya sehabis mereka menghabiskan waktu ke kota Durham bersama Alfred dan Natalia. Atau kalau tidak, maka tanpa sadar pandangannya akan mengarah ke Sekretariat OSIS dan berpikir kapankah Arthur akan datang lagi dan terlihat sibuk di 'kantor'nya itu. Atau jika tidak, maka Nesia membuka kembali semua berkas-berkas dan catatan kompetisi debatnya demi mengenang semua yang pernah tercipta di antara mereka, saat kompetisi itu berlangsung.
'Berlatih lebih keras, pemalas!'
'Salah DX'
'Bodoh! Bodoh! Bodoh! Gadis barbar yang bodoh! DX'
Dan berbagai kalimat umpatan dan hardikan yang bertebaran di kertas kompetisinya, dengan tinta merah, yang dituliskan Arthur tiap pemuda itu memeriksa hasil pekerjaan Nesia dan menemukan kesalahan di dalamnya.
Bahkan menatap kalimat menyebalkan itu saja membuat ada yang berdesir hangat di dalam sini…
Mata hitam kecoklatan itu melirik kalender duduk di meja kamarnya.
Bahkan nyaris dua bulan.
'Setidaknya beritahu aku bahwa kau akan pergi,' batin Nesia sembari menyipit, mencegah tetes air untuk kembali terjatuh dari matanya yang telah basah dan tergenang.
'Mungkin dengan begitu, rasa rindu ini lebih bisa sedikit kutahan.'
-oOo-
Musim panas telah berlalu, dan kini musim gugur kembali datang menyapa sang waktu. Sinar hangat mentari mulai berkurang karena kini mentari sudah mulai tampak malu-malu. Cerahnya awan sudah tertutupi oleh warna kelabu. Udara hangat telah terganti oleh gugurnya dedaunan yang mengiringi hembusan angin yang beku.
"Aku duluan, maaf, ada yang perlu kulakukan di rumah Kakek…"
Gerakan Nesia dalam memakai mantelnya, memelan ketika mendengar suara tersebut. Ia menoleh dan mendapati Lovino yang berdiri di sampingnya sembari memasukkan kedua tangannya di saku celananya.
Wajah itu memang mengarah pada Nesia, namun tidak dengan pandangan matanya.
"Oke, tak apa," Nesia tersenyum kecil, "Aku bisa pulang sendirian, kok."
Sejenak, Lovino tampak terdiam. Entah apa artinya ekspresi itu, mungkin antara terluka dan marah. Sampai akhirnya, pemuda itu menghela napas, lantas berbalik dan mengucapkan kalimat sampai jumpa pada Nesia.
Dengan suara pelan, seolah ia tidak berniat mengucapkannya.
Senyum Nesia meluntur seiring dengan semakin jauhnya punggung yang ditatapnya itu.
Lovino, sahabatnya. Gadis itu belum mengerti apa yang terjadi pada pemuda itu. Entah sejak kapan… mungkin di hari-hari berakhirnya Anniversary Hetalia. Sikap Lovino berubah menjadi tak biasa. Amat tak biasa hingga membuat Nesia tak berhenti memikirkan apakah kira-kira kesalahannya sehingga pemuda itu tampak demikian.
Lebih terdiam.
Dan meski tak terang-terangan, menjauh dari Nesia.
Nesia bisa merasakan itu semua.
Nesia menghela napas, lantas menukar sepatunya dengan boots semata kaki dan memasukkan flatsnya ke lokernya.
Sejujurnya, ia ingin menanyakan semua ini pada Lovino. Apa yang sudah terjadi. Adakah Nesia telah berbuat salah? Adakah sesuatu yang mengganggu pikiran pemuda itu? Namun tak pernah Nesia sampaikan semua itu. Karena kalau tidak waktu yang tidak memungkinkan, maka nyali Nesia yang menciut ketika Lovino memberi pandangan sedemikian rupa yang seolah hendak mengatakan kepada Nesia untuk tidak mencampuri urusannya.
Untuk pergi darinya.
Untuk membiarkannya sendiri saja.
Kembali, Nesia menghela napas. Merasa hatinya tercubit akan semua ini. Lovino adalah orang terdekatnya, sahabatnya. Bahkan ia sudah menganggap pemuda itu seperti saudaranya sendiri—saudara yang senantiasa bersama dan menjaganya di negeri orang ini, ketika keluarga kandungnya berada nun jauh di Indonesia. Jadi, ketika Lovino bersikap seperti ini, mau tak mau membuat Nesia terluka dan merasa amat bersalah akan kesalahan yang bahkan belum diketahuinya.
Tak pernah diketahuinya.
Pemikiran Nesia mengenai Lovino, terganggu ketika tanpa sengaja pandangan matanya tertumbuk pada sesuatu yang berada di lokernya. Sesuatu yang terletak di ujung lokernya, di belakang beberapa tumpukan bukunya.
Pandangannya tertegun.
Diambilnya benda itu. Sebuah kotak, tak besar. Hanya sebesar tangkupan kedua tangannya. Berwarna biru muda.
Nesia memandang kotak tersebut lama-lama, seolah berpikir. Namun beberapa detik kemudian, ia segera menutup dan mengunci lokernya, lantas berbalik dan pergi dari sana.
-oOo-
"Ini untukmu," ujar Nesia sembari menyodorkan benda di tangannya kepada pemuda yang terduduk di depannya. Seulas senyum lebar tampak di bibir gadis itu, seolah menyilahkan pemuda itu untuk segera mengambil apa yang disodorkan Nesia.
Sedangkan Antonio menatap heran pada benda berbentuk kotak berwarna biru muda tersebut. Ia baru saja kembali dari Spanyol tiga hari yang lalu—setelah ia melewatkan Anniversary dan semua kesempatan yang ditawarkan momen tersebut—dan ia pulang tanpa membawa satu suvenirpun pada sahabatnya—bukan sengaja, hanya saja kepulangan Antonio ke USA juga mendadak. Jadi, mengapa justru kini Nesia yang memberinya hadiah?
"Apa ini, Nes?" tanya Antonio sembari meletakkan gitarnya ke kursi di sampingnya. Ruang Klub Musik sepulang sekolah saat itu sepi, hanya terisi oleh Antonio dan seorang lelaki yang tampak masih asyik dengan permainan drumnya di sana.
"Lihat saja," ujar Nesia sembari makin memajukan sodoran tangannya, "Kau akan terkejut."
Antonio menaikkan sebelah alisnya sembari memandang geli ke arah sahabatnya, "Okeeee," ujarnya sembari menghela napas lirih, dan mengambil benda kotak tersebut.
Nesia mendudukkan diri di meja di samping kursi yang diduduki Antonio, "Ayo buka."
Antonio hanya tertawa kecil. Pandangan emeraldnya tampak sedikit berbinar, sepertinya merasa penasaran akan rahasia kecil yang dimainkan sahabatnya. Dibukanya penutup kotak tersebut. Dan saat melihat banyaknya tumpukan kertas di sana, kening itu sedikit mengerut dan pandangannya tampak jelas menyiratkan keheranan.
"Apa ini, Nes?"
"Ambil dan bacalah," ujar Nesia dengan nada antusias, yang justru membuat Antonio semakin menatap heran bercampur curiga kepadanya.
Namun pemuda itu tak berkata apa-apa lagi. Ia segera mengambil satu kertas yang tertumpuk paling atas. Sebuah kertas putih polos, namun ketika ia buka lipatannya, dipenuhi oleh tinta hitam yang membentuk rangkaian tulisan. Rangkaian kalimat.
Hanya butuh waktu empat detik bagi emerald itu membelalak dan mulut itu setengah membuka. Dan empat detik pula bagi Nesia untuk melembutkan pandangannya dan melebarkan senyumnya.
"I-Ini…," Antonio menatap kertas itu, membaca tulisan yang ada untuk kedua kalinya—seolah meyakinkan dirinya sendiri. Lantas ia mendongak dan ditatapnya Nesia di sampingnya, "Darimana kau dapat ini, Nes?"
Nesia memandang heran bercampur geli ke Antonio, "Ngomong apa? Tentu saja aku dapat. Aku 'kan salah satu penyiar H-Radio yang paling sering membacakan suratmu itu," ujar Nesia menunjuk kumpulan surat di kotak itu dengan dagunya.
Antonio menggeleng pelan, "Maksudku, tidakkah kalian membuangnya sehabis membaca?"
"Untuk apa?" tanya Nesia heran, "Itu surat yang paling kami nantikan. Paling kami kagumi. Dan aku berinisiatif untuk mengumpulkannya."
Antonio masih memandang tak mengerti ke arah sahabatnya, "Untuk apa?"
Sebuah senyuman lebar kembali hadir di bibir tipis itu, "Sudah kubilang, 'kan, aku sangat penasaran dan di saat yang sama, sangat mengagumi penulis surat-surat itu. Untuk itulah, aku bertekad mengumpulkannya dan nanti akan menyerahkan semua ini kembali pada penulisnya."
Antonio kembali menunduk, lantas menatap kotak penuh tumpukan surat di pangkuannya. Kepalanya menggeleng lirih, "Aku masih belum paham—"
"Aku ingin agar penulis itu mampu menyerahkan semua surat ini kepada orang yang menjadi sasaran surat ini," potong Nesia cepat, "Meski harusnya aku inginnya agar si objek suratlah yang menerima semua surat itu langsung dariku, tapi… yah," gadis itu menggaruk pelan tengkuknya, lantas meringis kecil, "Senior Bella kan sudah pindah dan kuliah di luar kota."
Pandangan dari emerald itu tampak menyendu, menatap tumpukan surat putih itu. Seolah pikirannya terbang ke masa lalu dan lupa akan sekitarnya. Nesia tahu pula, pasti surat itu membawa dan mewakili banyak kenangan. Banyak perasaan. Antara Antonio dan Senior Bella.
Sebuah senyuman lebar terukir di bibir itu. Senyuman khas dari seorang Antonio Fernandez Carriedo. Senyum happy-go-lucky yang menjadi trademark tersendiri untuknya.
Senyum yang bahkan sampai sekarang, masih begitu indah untuk dipandang siapapun juga.
"Terimakasih, Annesia," ujar Antonio tulus. Senyumnya begitu lebar, hingga kedua matanya tampak terpejam.
Tampak hangat.
"Kau begitu perhatian—aku bahkan tidak berpikir sebegitu jauh akan semua surat ini," Antonio menyentuhkan ujung jemarinya pada tumpukan surat, "Tapi kau, sudah menyimpan semua benda yang kukira sudah terbuang percuma."
"Aku hanya berharap kau dan Senior Bella bisa menemukan akhir yang bahagia," ucap Nesia setulus senyuman yang tampak di bibirnya, "Itu saja."
"Kau juga, Nes," kata Antonio sembari menatap sahabatnya tersebut dengan kesungguhan yang tampak pada pandangan emeraldnya, "Kau juga, temukan akhir bahagia di hidupmu, dengan siapapun itu."
Meski sebuah senyuman tampak di bibir Nesia demi merespon ucapan itu, namun tidak dengan hatinya.
Ah.
Hidupnya penuh drama. Bisakah ia mencapai kebahagiaan itu ketika semuanya sering kali berjalan di luar dugaan dan harapannya?
-oOo-
Setelah dari ruang Klub Musik, Nesia memutuskan untuk segera pulang. Karena toh tak ada yang harus ia urusi lagi di sekolah. H-Radio sedang tidak ada rapat klub dan ia sedang tidak berada dalam mood untuk nongkrong bersama dengan teman-teman klubnya di sana.
Gadis itu menghela napas ketika ia menyadari bahwa ia kini pulang sendiri. Tanpa Lovino, apalagi Antonio.
Apakah kini sudah ada jarak yang membentang di antara mereka bertiga? Rasanya…. Rasanya MOS baru berjalan kemarin saja dan mereka baru saja bertemu…
Gadis itu menghentikan langkah kakinya ketika ia sampai di halaman gedung A. Hanya tersisa jarak beberapa meter saja darinya untuk mampu mencapai gerbang di depan sana dan keluar. Namun alih-alih melangkah, Nesia justru berhenti dan tertegun ketika kini suatu kesadaran tiba-tiba hinggap di pikirannya.
Halaman gedung A.
Tempat ini.
Tidakkah di tempat ini MOS hari pertama dijalankan?
Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri, bersama dengan pandangan matanya yang mengedar ke sana dan ke mari. Halaman gedung A tampak nyaris sepi. Karena wajar saja, jam pulang sekolah sudah berjalan sejak satu jam yang lalu. Apalagi ditambah dengan mendung di atas sana yang siap menjadikan nyata ancamannya akan hujan yang kapan saja bisa turun deras.
Namun Nesia tak peduli dengan semua itu.
Halaman gedung A ini… menyimpan begitu banyak kenangan. Awal dari semua drama. Awal dari hidupnya yang penuh cerita. Suka. Duka. Bahagia. Teman. Sahabat. Lawan. Rindu. Benci. Cinta.
Degupan jantung Nesia sedikit lebih cepat terasa.
Ya, tidakkah di tempat ini pula pertama kalinya ia melihat pemuda itu? Sang Senior Komite Disiplin yang memandangnya dengan tatapan dingin itu? Yang mengsalahartikan hubungan Nesia dan Antonio, dan menjadikannya bahan lawakan? Di tempat inilah Nesia mengenalnya. Melihatnya.
Oh, bahkan Nesia masih ingat, di mana Arthur saat itu berdiri tegak dengan angkuhnya. Di sana, di tepi lapangan sebelah kiri itu.
Nesia masih ingat semuanya. Kata-katanya. Pakaiannya saat itu. Ekspresinya. Tatapan dinginnya. Bahkan gadis itu masih ingat akan betapa kuat rasa bencinya saat itu pada pemuda yang sama.
Nesia mendongak ketika ia rasa bahwa kedua matanya mulai memanas. Tidak. Ia tidak ingin menangis lagi. Sampai kapan? Arthur tidak akan melihatnya juga, 'kan? Arthur tidak akan tahu juga, 'kan?
Ck. Bahkan ia menangis lebih banyak untuk pemuda itu ketimbang dahulu saat Nesia patah hati dan terluka oleh Antonio.
Langit terlihat kelabu terpandang oleh kedua mata Nesia. Tampak kelam. Membawa ancaman akan turunnya hujan yang deras, kapan saja. Semilir angin dingin khas musim dingin berhembus, terasa dingin menerpa tubuhnya yang berdiri diam layaknya patung di halaman yang luas tersebut.
Namun ia tidak peduli.
Nesia menyipitkan matanya ketika memandang langit kelabu di atas sana itu. Ini perasaannya saja atau memang awan kelabu itu perlahan-lahan tampak membentuk wajah dari pemuda yang tengah ia pikirkan sekarang dan waktu-waktu sebelumnya?
Tes.
Setetes air itu terasa menyentuh ujung hidung Nesia. Perlahan-lahan namun pasti, dari tetesan air itu turun dalam bentuk guyuran. Makin lama makin deras. Hujan musim gugur memang tidak boleh diremehkan. Dinginnya air terasa semakin parah dengan angin yang berhembus mengiringinya. Membekukan, seolah menjadi awal dari musim dingin yang sebentar lagi datang menjenglang.
Mata Nesia sedikit menyipit memandang air yang tumpah dari langit sana. Kepalanya masih mendongak, membiarkan hantaman tetes air hujan menerpa wajahnya. Sakit. Matanya terasa perih ketika ia paksa untuk menatap ke atas—ke arah guyuran hujan yang tampak seperti batangan jarum yang turun deras dari kanvas gelap di atas sana. Tak ia pedulikan pula sekujur tubuhnya yang basah kuyup—membuat mantelnya terasa berat dan syalnya terasa melekat di leher dan pundaknya.
Mungkin, dengan demikian, air hujan itu bisa menyegarkan kembali pikiran Nesia yang terasa semakin rumit.
Mungkin hujan bisa menyingkirkan hatinya dari semua perasaan yang membelit.
"Kau bodoh atau apa?"
Ah, bahkan sekarang hujan dan angin dingin yang menerpa tubuh Nesia membuatnya sedikit tidak waras. Karena ia baru saja bisa mendengar suara itu. Suara dari pemuda yang begitu jauh darinya, namun jauh lebih dekat daripada urat lehernya sendiri, di hati dan pikirannya.
"Tidak hanya kau akan basah, di tempat terbuka begini kau bisa gosong karena tersambar petir, tahu?"
Nesia tertegun.
Kenapa kedua telinganya terus mengimajinasikan suara itu? Bahkan kalimat yang didengarnya—diimajinasikannya—terasa sangatlah bagaikan kalimat yang hanya bisa diucapkan oleh pemuda itu.
Kasar. Merendahkan.
Namun bisa Nesia dapati kekhawatiran yang tersirat di sana.
"Dasar gadis bodoh."
Terasa berat Nesia untuk menolehkan kepalanya. Seakan takut, jika ia benar-benar berpaling, maka semuanya akan terasa buruk ketika ia tak mendapati siapapun yang berada di dekatnya dan berbicara dengannya.
Pasti akan terasa buruk ketika semua yang didengarnya tak lebih dari rekayasa pemikirannya.
Namun pada akhirnya, ia beranikan diri. Ditolehkan kepalanya ke sumber suara yang ia pikir adalah khayalannya semata. Rambutnya yang terkuncir kuda basah dan poninya menempel erat di dahinya. Kedua matanya memerah, campuran hujaman air hujan dan perasaan yang membuncah.
Dan ia menoleh.
Dan di balik tirai hujan yang mengguyur deras di depannya, ia melihatnya. Seseorang. Awalnya tak tampak jelas karena kaburnya pengelihatannya akibat tirai hujan dan air di pelupuk matanya.
Namun perlahan-lahan, semuanya menjelas.
Warna pirang pasir itu. Kulit pucat itu. Bibir yang terkatup rapat dan datar.
Dan warna emerald yang bahkan bisa jelas Nesia dapati sekalipun di hujan di sekelilingnya membuat semua tampak kabur dan mati.
Bergetar bibir Nesia ketika memaksakan nama itu terucap dari mulutnya, "S-Senior Arthur…" tak lebih dari sekedar bisikan, seolah ia tak berbicara pada siapapun selain dirinya sendiri. Seolah meyakinkan diri bahwa ia tidak tengah mengalami delusi.
Arthur Kirkland berdiri di depan sana?
Arthurkah yang berdiri di depan sana itu? Arthurkah pemuda yang tengah memakai mantel hijau tua dan jeans hitam itu? Arthurkah yang berdiri di bawah lindungan payung berwarna abu-abu itu? Arthurkah pemuda yang tengah menatapnya dengan raut kekhawatiran itu?
Berbagai pertanyaan bergiliran terlontar dari hati Nesia, namun gadis itu tak mampu menjawab semuanya.
Tidak bisa, ketika perlahan-lahan, semua perasaannya terasa membuncah dalam satu sentakan kuat di hatinya. Ketika semua rasa rindu itu bersatu di detik ini juga sehingga membuat dadanya terasa sesak. Membuat matanya benar-benar meneteskan air yang sedari tadi ia tahan untuk tidak tertumpah.
Dadanya terasa berusaha sekuat mungkin untuk menahan agar jantungnya tidak meledak akibat detaknya yang terlalu cepat.
"S-Senior—"
Nesia tak meneruskan kalimatnya itu, ketika kedua kakinya seolah bergerak sebelum otaknya mengerti dan melakukan perintah. Ia berlari. Menembus tirai hujan yang masih menghujam. Tak peduli pada apapun.
Dan ia dekap erat tubuh yang lebih besar daripada tubuhnya yang kecil itu.
Erat ia lingkarkan kedua tangannya di sekeliling tubuh berbalut mantel itu. Tak peduli jika ia menularkan basahnya dirinya ke tubuh Arthur yang masih kering. Tak peduli jika Arthur nanti memakinya serta mengejeknya ketika sekarang mendapati Nesia terisak kecil. Tak peduli jika ada orang lain yang melihat mereka. Tak peduli jika tubuh itu terasa sedikit menegang akibat pelukan yang tiba-tiba ia berikan padanya.
Tak peduli.
Ah. Apakah tubuh Arthur dari dulu bisa menguarkan hawa hangat ini?
"Hei, k-kenapa menangis?" tanya Arthur sembari memasang wajah terkejut bercampur khawatir ke arah gadis yang tengah memeluknya dengan erat.
Meski ragu dan tampak tidak mengerti, namun Arthur lingkarkan sebelah tangannya yang bebas dan tidak memegang gagang payung, ke arah pinggang kecil di depannya itu.
Terasa kecil daripada pinggangnya yang lebih lebar.
"B-Bagaimana aku tidak menangis!" bentak Nesia lirih, sembari berusaha menahan air matanya untuk mampu sedikit mereda, "Kau tidak bilang apa-apa dan pergi begitu saja! Dua bulan… Dua bulan kau pergi dan aku tidak tahu! Ke Inggris—itu tempat yang jauh!" Nesia menelan ludah, sembari tanpa sadar, kedua tangannya semakin melingkari erat tubuh di depannya.
Tak pernah ia sangka bahwa dada pemuda itu bisa terasa demikian lebar dan bidang saat ia sandarkan kepala kecilnya ini. Hangat.
Dan Nesia bisa mendengar jelas degup cepat dari organ pemompa darah Arthur di balik dada itu. Cepat, seolah berlomba dengan jantung Nesia sendiri yang degupnya terasa memekakkan telinganya.
"…Aku mengkhawatirkanmu…," bisik Nesia setelah terdiam lama, setetes air mata kembali jatuh bersama dengan luapan perasaannya yang masih saja membuncah, "…Aku merindukanmu…"
Sejenak, emerald itu tampak terkejut. Bagaikan waktu berhenti ketika Nesia mengucapkan kalimat itu.
Namun itu hanya sejenak, sebelum kedua mata itu kembali melunak. Sebuah senyum tipis terkembang di bibirnya yang biasanya terkatup datar atau menyeringai merendahkan. Bersama dengan wajah putih pucatnya yang tampak merona hangat, seolah hujan dan angin dingin ini sama sekali tak berefek apapun untuk menenangkan kobaran di hatinya.
"Hei, Bodoh," bisik Arthur pelan di antara bunyi deras derai hujan, "Kau pikir summercourse cuma sehari dua hari?" kembali, Arthur tersenyum kecil menatap kepala hitam yang menempel di dadanya.
Menyipitkan matanya, Nesia masih terisak kecil, sekalipun tidak lagi sekeras semula, "…Aku tidak tahu," ujar Nesia lirih, "Tapi kau tidak memberitahuku—A-Aku tidak tahu—Kau—Inggris—lama sekali—" bahkan mengatur kalimatnya saja ia masih tidak mampu tanpa mengoceh tidak jelas seperti itu.
"Tentu saja. Makanya, ikutlah program-program di luar negeri. Jangan hanya berkutat di dalam sekolahmu saja."
Nesia memukulkan telapak tangannya ke arah dada Arthur, "Kau cukup membuatku ingin membunuhmu ketika kau pergi seperti maling begitu. Jangan buat aku semakin marah padamu," hardik Nesia lirih, lantas melepaskan pelukannya dan menjauh sedikit dari tubuh Arthur.
Tubuh yang sempat, walau sesaat tadi, memberikan kehangatan pada dirinya yang basah oleh air hujan dan semilir angin beku.
"Aku sudah datang jauh-jauh dari Bandara dan langsung ke sini," kata Arthur, lantas menunjuk dirinya sendiri, "Lihat, aku masih memakai pakaian yang kupakai dari Inggris untuk terbang ke sini."
Ah, ya. Nesia baru sadar bahwa pemuda itu tidak memakai seragam Hetalia High.
Arthur tampak tersadar akan apa yang baru saja ia ucapkan. Kontan saja, wajah pucat itu semakin memerah panas. Buru-buru ia palingkan muka, "B-Bukan berarti apa-apa—Aku tadi ada urusan OSIS dan kebetulan saja aku melihatmu—" ucapan Arthur terhenti, seolah ia tengah memikirkan sesuatu. Ketika emeraldnya bergulir ke arah gadis yang masih berdiri di depannya, pandangannya kembali menyendu. Wajahnya semakin memanas saja terasa. Kemudian, pemuda itu hanya menghela napas berat sembari kembali membuang pandangannya ke arah lain.
"… Oke, aku memang ingin bertemu denganmu," ucap Arthur lirih, seolah ia merasa demikian malu untuk mengucapkan kalimat itu. Tampak jakun itu bergerak ketika ludah itu tertelan paksa olehnya, "… Karena aku—a-aku juga merindukanmu."
Senyuman lebar terpasang di bibir Nesia ketika kedua telinganya mendengar kalimat tersebut. Apalagi mendapati wajah memerah Arthur—yang tidak ada bedanya dengan rona di wajah putih kekuningannya sendiri. Mendapati Senior yang dingin dan sedikit angkuh itu tampak tersipu dan gugup seperti itu…
Rasanya semua beban di hati dan pikiran Nesia terangkat begitu saja. Hilang di detik itu juga. Hingga ia tersenyum lebar-lebar layaknya seorang idiot seperti ini. Setetes air mata terjatuh lagi tanpa bahkan ia sadari. Hatinya membuncah. Perasaannya begitu bahagia.
Ketika ia tahu bahwa ternyata, Senior Arthur juga merindukannya.
"Aku senang," aku Nesia tanpa mampu ia cegah mulutnya untuk berucap, "Karena rinduku ternyata terbalaskan."
Arthur melirik Nesia dari ujung matanya dan didapatinya gadis itu tersenyum lebar. Iris hitam kecoklatannya tampak sedikit menyipit ketika bibirnya melengkung selebar itu—seolah tak ada hal di dunia ini sebelumnya yang mampu membuatnya tersenyum seperti itu.
Membuat pada akhirnya, lengkungan yang sama tercipta di bibir Arthur. Meski tidak selebar milik Nesia, namun cukup membuat Nesia sejenak terpukau ketika melihatnya. Karena setahu Nesia, bibir itu jarang sekali menunjukkan bentuk garis lain selain datar atau seringai merendahkan.
Namun kini…
Wajah Nesia terasa makin memanas.
Ah, apakah dari dahulu wajah Senior Arthur sudah tampak demikian tampan?
Nesia lupa pada sekelilingnya ketika pandangannya terpaku demi menatap pemuda di depannya. Bahkan ia tidak menyangka jika Arthur tidak lagi terdiam. Namun perlahan, melangkah mendekatinya.
Menghapus jarak selangkah di antara mereka.
Barulah gadis itu sadar akan apa yang telah dan akan terjadi ketika Arthur kembali meraihnya dalam pelukannya. Ketika pemuda itu menundukkan sembari sedikit memiringkan kepalanya. Ketika emerald itu separuh tersembunyi di balik kelopaknya.
Nesia tahu apa maksud semua ini. Gadis itu paham akan apa yang terjadi.
Namun ia tidak menolak ketika kelopaknya seolah memiliki logika sendiri untuk menutup dan menjadikan pandangannya menggelap akan sekitarnya. Debar jantungnya memompa semua darahnya untuk berpusat di wajahnya. Merasakan hangatnya napas Arthur yang terasa di wajahnya.
Dan di detik kemudian, merasakan sentuhan lembut itu di bibirnya.
Sentuhan yang pertama kali ia rasakan sepanjang hidupnya. Sentuhan yang sering membuatnya berandai-andai akan indahnya momen ketika ia merasakannya.
.
.
Inikah yang orang bilang sebagai indahnya ciuman pertama?
.
.
Hanya sekedar sentuhan antara bibir dan bibir—keduanya tidak bertindak lebih jauh dari itu ketika Arthur memutuskan untuk menarik kembali kepalanya.
Dan ketika keduanya membuka mata, bisa mereka dapati wajah keduanya yang seolah memanas parah.
"M-Maaf," ujar Arthur terburu ketika ia baru menyadari apa yang baru saja ia lakukan. Kepalanya tertunduk, seolah tengah menahan perasaan malu dan bersalahnya, "A-Aku tidak bermaksud—aku tidak berpikir—"
Nesia tertawa kecil, "K-Kuharap, perbuatan kita tadi tidak membuat Senior Alfred marah padaku dan padamu," gurau Nesia ringan.
Namun ketika ia lihat Arthur tidak kunjung kembali menatapnya dan masih tampak bersalah, gadis itu mendekat dan berjinjit, lantas menempelkan bibirnya pada sebelah pipi pucat pemuda itu.
Terasa dingin.
Cukup terkejut Arthur, karena pemuda itu sempat membeku ketika mendapati sentuhan di pipi kirinya. Pandangannya menatap tidak menyangka ke arah Nesia yang kini kembali berdiri normal—tanpa berjinjit—sembari memasang senyuman lagi kepadanya.
Dan sejenak, Arthur seperti tampak terpukau ketika menatap lama-lama kedua iris hitam kecoklatan itu.
Dan di detik kemudian, pemuda itu kembali menarik Nesia untuk berada di dekapannya. Menekan lembut kepala gadis itu untuk bersandar hanya di dadanya. Merengkuh tubuh mungil itu di dalam kukungan kedua lengannya yang lebih besar, lebih kuat, dan lebih hangat.
Membuat mereka kembali mampu mendengar dan merasakan kuatnya degupan jantung yang menjadi tanda perasaan yang belum terucapkan.
"Aku mencintaimu."
Perasaan cinta yang baru terbisikkan lirih oleh mulut Arthur tepat di telinga Nesia.
-oOo-
Bagi para penggemar UKNes, ayo bersoraklah dan pujilah saya dan seluruh keawesome-an saya! ;D Sorry, butuh waktu 36 chapter bagi saya untuk ngebikin mereka jadian dan Yeah, The British Eyebrow is the ONE who finally got Nesia's FIRST kiss! #ngek #ditamparpenggemar RomaNes
Sorry, chapter kali ini tidak ada balesan review karena semua kertas review-an udah Lovino bakar di perapian #efek cemburu + nelangsa karena gagal confess
Thank you~ See ya next chap!
