Saya update cepet karena kalian kasih supportnya juga cepet. Haha. Liat nih, saya ngetik chapter ini ampe 9,4k! Warning! Mohon jangan tepar T.T

Oh ya, salah satu reader, Wiwitaku, telah berbaik hati untuk membuatkan gambar Annesia Saraswati saat memakai gaunnya di Anniversary chapter lalu. Gambarnya keren, 90 persen mirip dengan bayangan saya saat deskripsiin Nesia :'D Saya merasa terharu, karena fic abal ini ternyata mampu menarik beberapa readers untuk bikinin fanart dan doujin. Saya udah dapetin dua doujin dan empat fanart dari beberapa reader yang baik hati buat bikinin :'D I'm feel so loved. Thank youuuu :*

Ini link fanart Annesia memakai gaun di Anniversary: w w w .ngomik. k om/ art work/ annesi a-sa raswati -2/ 616 56/u ser

Hilangkan spasi dan ganti 'k om' menjadi 'com' yaaaa…. Thanks buat Wiwitaku dan semua artists yang udah pernah bikinin fanart dan doujin :'D Saya jadi pengen nikahin kalian #oioi


Helaan napas berat terhembus dari mulut gadis berdarah Melayu tersebut. Annesia Saraswati sudah menghabiskan lima belas menit waktunya untuk terbaring menelungkup di atas ranjang kamarnya. Pandangan matanya tampak sayu menatap ponselnya. Di layarnya terpampang foto dirinya bersama dengan sahabatnya, Antonio Carriedo dan Lovino Vargas yang terpotret saat pesta barbeque keluarga Carriedo beberapa bulan yang lalu.

Di pikirannya sedari tadi berkelebat bayangan akan kejadian dua minggu yang lalu. Ketika ia tanpa sengaja bertemu dengan Antonio dan Lovino di kantin sekolah. Bukan sebuah hal yang biasa, karena pada waktu itu, Nesia tengah bersama dengan Senior Arthur Kirkland. Tentu saja, kedua temannya tampak terkejut ketika mendapati sahabat gadis mereka tampak demikian dekat dengan orang yang selama ini sepertinya tak bisa membuatnya merasa tidak marah.

Dan begitu Nesia pertama kali mendaratkan pandangan pada Lovino, iris hitam kecoklatannya seketika memberi pandangan sayu.

Lovino yang selama ini begitu baik padanya, namun kini bahkan untuk pertama kalinya, tidak memberikan pandangannya ke arah Nesia.

Di detik itu juga, hati Nesia seketika tercubit oleh perasaan bersalah, akan kesalahan yang sebenarnya tak pernah ia tahu apa.

Lovino tak banyak bicara, sepanjang waktu hanya Nesia, Antonio, dan sesekali pula, Arthur yang mengisi obrolan di antara mereka. Lovino terus saja menunduk dan tampak sibuk dengan ponselnya. Namun siapapun tahu bahwa pemuda itu tampak tengah menahan kesal—jelas dari rahangnya yang terkatup rapat dan kedua matanya yang menyipit kesal.

Dan puncaknya adalah ketika Arthur telah pamit untuk kembali dahulu ke kelas, dan Antonio menanyakan kepada Nesia akan mengapa gadis itu hari itu terlihat akrab sekali dengan Senior mereka, Nesia dengan sedikit ragu dan malu-malu, menjawab dengan rona tipis di kedua pipi dan telinganya, "A-Aku tahu ini mungkin terdengar tidak masuk akal—tapi…," ia mengusap leher belakangnya dan nyengir kuda dengan gugup, "A-Aku dan Senior Arthur… b-berpacaran…"

Tepat setelah itu, Lovino berdiri dari kursinya secara tiba-tiba hingga menimbulkan derakan piring dan gelas yang masih ada di meja yang tak sengaja tersenggol tubuhnya ketika ia berdiri. Bahkan tanpa mengucap apa-apa, pemuda itu segera berbalik dan hendak melangkah pergi. Secara refleks, sebelah tangan Nesia terulur dan memegang lengan Lovino, menahan pemuda itu untuk pergi. Nesia bertanya apakah Lovino baik-baik saja.

Dan betapa sakit hati Nesia ketika jawaban Lovino terucapkan dengan nada geram, "Aku ada urusan."

Bahkan pemuda itu mengibaskan pelan tangan Nesia dari lengannya, tanpa menoleh sedikitpun pada gadis yang saat itu tampak terpana oleh kasarnya nada ucapan yang Lovino gunakan untuknya.

"Kenapa Lovi?" Antonio turut angkat bicara, "Nesia baru saja memberitahu kita akan kabar bahagia untuknya. Tidakkah kita mendengarkan apa yang ingin ia ucapkan?"

Rahang itu semakin merapat, "…Aku tidak ada waktu…"

Pandangan Nesia semakin bersorot terluka. Karena, tidakkah selama ini Lovino selalu memiliki waktu untuknya? Untuk apapun yang ingin Nesia ceritakan padanya?

Dan nada dingin itu… Nada seolah tak peduli itu…

Dan sorot penuh luka dari mata Lovino bahkan mampu Nesia lihat, sekalipun pemuda itu tidak tengah menatapnya. Seolah menghindar untuk menatapnya.

Lovino memejamkan mata, lantas membukanya kembali setelah menghela napas berat, "Jangan ganggu aku lagi—"

"Lovi—"

"Kubilang tinggalkan aku sendiri!"

Refleks Nesia menghentikan ucapannya dan melepas pegangan tangannya pada lengan Lovino ketika bentakan keras itu terdengar oleh telinganya.

Gadis itu semakin memandang tidak mengerti bercampur terkejut ke arah sahabatnya. Antonio yang melihatnya juga tak kalah kagetnya, ketika untuk pertama kalinya mendapati sahabatnya tersebut berbicara kasar seperti itu kepada sahabat perempuannya.

Hanya saja, bedanya, Antonio mungkin tidak merasakan sakit yang perlahan-lahan membuat memenuhi perasaan Nesia.

Bentakan itu… Tatapan terluka itu… Sikap dingin itu…

Dan Nesia pada akhirnya hanya mampu berdiri. Terdiam. Menatap pada punggung lebar yang semakin menjauh darinya itu.

Dan menahan perasaan sesak yang hinggap di dadanya agar tidak menimbulkan setetespun air mata.

Perasaan sesak yang selalu ia rasakan tiap ia mengingatnya. Seperti sekarang ini, sekalipun kejadian itu sudah dua minggu berlangsung lamanya. Dan semenjak itu, seolah-olah Lovino benar-benar menarik diri darinya. Pemuda itu sudah jarang pulang sekolah bersamanya, dengan alasan bahwa ia ada urusan di rumah Kakeknya. Setiap berangkat sekolahpun sering kali Lovino sengaja berangkat jauh lebih pagi daripadanya, membuat Nesia harus melangkah ke sekolah sendiri—atau kalau tidak Arthur menelponnya dan menawarkan jasa untuk berangkat bersama dengan mobilnya.

Sekalipun demikian, rasanya aneh. Kehadiran Arthur, sekalipun sekarang mereka memiliki hubungan lebih dari teman, seakan-akan tak bisa mengobati lubang besar di hatinya akibat sikap dingin sahabatnya, Lovino.

Tidak pernah bisa.

Nesia kembali menghela napas, lantas memeluk ponselnya itu di dadanya. Seakan ingin memeluk kedua orang pemuda yang ada di gambar di layar ponselnya.

Sahabat yang berharga sekali untuknya—jauh lebih berharga dari apapun juga.

Dan tak akan terganti, oleh apapun itu.

"Ya Tuhan, aku harap semua baik-baik saja dan kami mampu kembali bersama-sama," gumam Nesia tulus sembari memejamkan kedua matanya.

Ya, semoga baik-baik saja. Karena toh, ini bukanlah pertama kali mereka bertengkar dan bersikap dingin terhadap satu sama lain. Tapi Nesia yakin, mereka pasti bisa melewatinya.

Kelopak Nesia kembali membuka, dan pandangannya tanpa sengaja mengarah pada jam digital di meja di samping ranjangnya.

05.55 p.m.

Gadis itu menghela napas, mencoba menenangkan perasaannya.

Lebih baik sekarang ia bangkit berdiri, mandi, dan mulai mempersiapkan segala hal.

Nesia tersenyum kecil ketika membayangkan apa yang akan dilakukannya. Hanya membayangkannya saja semua keresahannya sejenak mampu terkurangi, meski tidak habis dan akan kembali lagi ia rasakan nanti.

Yap, hanya dengan membayangkan bahwa satu jam lagi Arthur akan datang menjemputnya di apartemennya ini saja, sudah membuatnya demikian antusias dan bahagia.

-oOo-

Axis Power Hetalia © Hidekaz Himaruya

Picture © Sakurazaka Ohime

I just own the plot of the story and I don't gain any commercial advantages by publishing this fic.

Warning: AU, Human Name, High School, OC, OoC yang mendewa, (highly possible) crack pairs, (a lil') Nesia-centric, but no Mary Sue/Gary Stu I assure you :D totally absurd.

Pairing: Anda bisa menebak sendiri mana yang main pairing, dan mana yang sekedar hints dan fans service :p

Ini murni dari pemikiran saya. Maaf jika kebetulan ada kesamaan ide karena setting gakuen sangat banyak di FHI. Itu tidak disengaja :D

Long Live FHI and Say NO to Plagiarism! Mari berkarya dengan hati dan imajinasi :D

Maju FHI!

-oOo-

Kedua bibir itu membentuk lengkungan kecil dengan dua pipi yang bersemu hangat, ketika dengan pelan dan tampak canggung, Arthur menggamit tangannya lantas mengarahkan telapak tangannya ke dua bibir pemuda itu.

"Suatu kehormatan bagiku mampu membawamu pergi malam ini bersamaku."

Ucapan lirih yang disertai dengan tatapan lembut bercampur jenaka dari Arthur itu, mau tak mau memperparah rona di wajah Nesia. Gadis itu tersenyum sembari berusaha menahan tawa geli yang rasanya ingin terlontar.

Wajar saja, sekalipun mereka telah dua minggu resmi menjadi sepasang kekasih, namun Nesia belum bisa membiasakan diri dengan semua ini. Terutama terkait Arthur, pemuda yang sejak dua minggu lalu seolah menjadi pribadi yang lain. Sikapnya jauh lebih lembut. Kata-katanya manis, bahkan terkadang romantis. Caranya menatap Nesia, caranya menggenggam tangan Nesia, dan caranya sesekali mengambil ciuman curian dari Nesia.

Entah kemana perginya sosok senior yang menjengkelkan, menyebalkan, judes, nyinyir, dan rasanya tak bisa hidup tanpa harus membuat Nesia marah setiap harinya dulu itu….

Jadi wajar saja jika Nesia merasa antara bahagia, tersanjung, sekaligus geli. Tentu saja, ia juga adalah gadis remaja. Siapa sih wanita yang tak suka diperlakukan istimewa seperti ini? Sikap Arthur membuatnya merasa bagaikan Cinderella—meski perilaku jahil dan menyebalkan itu terkadang juga hadir… Dan juga, perubahan sikap yang terlalu mendadak ini membuat Nesia merasa konyol dan lucu sendiri tiap mendapati perilaku Arthur. Bahkan saat kencan pertama mereka saat itu, Nesia otomatis mengeluarkan tawanya ketika mendapati Arthur memberinya setangkai mawar merah segar.

"K-kenapa?!" bentak Arthur dengan wajah memerah antara malu dan tersinggung, "Apa ada yang lucu dari mawar pemberianku?"

Meski demikian, Nesia merasa begitu tersanjung dan menyimpan mawar pertama dari Arthur itu, ke dalam vas di meja kamarnya.

Seperti malam ini, tiap mereka bertemu untuk menghabiskan waktu bersama, sosok menyebalkan Arthur seolah menjelma menjadi seorang gentleman yang memperlakukan pasangannya dengan penuh cinta. Bagaimana emerald itu tampak sedikit berbinar begitu ia melihat Nesia sudah hadir di tempat mereka berjanji bertemu. Bagaimana senyum itu terkembang dari bibirnya ketika mendapati Nesia telah berada di dekatnya. Bagaimana sikapnya yang langsung membungkuk, menggamit dan mencium telapak tangan Nesia, membuat gadis itu sontak merasa jiwanya terbang bahkan melintasi langit ketujuh di atas sana.

Sebagai seorang senior, Arthur memang tampak menjengkelkan.

Tetapi, sebagai kekasih…

Ah, rasanya Nesia selalu malu sendiri tiap menyebut pemuda itu dengan predikat intim demikian.

Bahkan terkadang ia masih belum bisa percaya bahwa seperti inilah takdir merangkai hidupnya. Ia masih ingat betapa dahulu tak ada yang paling ingin ia lakukan di dunia ini selain membunuh dan mengkanibal Arthur, namun kini justru tak ada hal lain yang membuatnya merasa jauh lebih bahagia daripada saat bersama pemuda itu.

Lucu, 'kan? Ironis, 'kan?

Karena nyatanya kini Nesia sangat mencintai pemuda itu.

Sangat.

"Katakan, drama romansa mana yang habis kau tonton dan adegannya baru kau praktekkan tadi?" tanya Nesia geli selesai Arthur membungkuk dan mengecup singkat telapak tangannya.

Arthur tersenyum kecil dengan wajah yang sedikit merona, "Itu adalah hal yang wajib dilakukan tiap gentleman kepada pasangannya," pemuda itu membuka pintu depan dari mobil silver yang dibawanya malam ini, "Masuklah."

Nesia hanya melirik Arthur geli sebentar, namun lantas menduduki kursi di samping kursi kemudi dari mobil Arthur. Ah… bahkan Nesia masih ingat, dahulu Arthur sempat mewanti-wantinya agar tidak menyentuhkan bahkan ujung jemarinya pada mobil mewah ini…

"Kita bisa saja 'kan, keluar dengan mobilmu yang lain atau bahkan jalan kaki? Mobil ini terlalu mewah…" gumam Nesia saat Arthur baru menduduki kursi kemudi.

Melirik Nesia, Arthur berujar seheran tatapan matanya, "Biasanya para cewek justru akan pamer ke teman-temannya jika ia diajak kencan dengan mobil mewah kekasihnya…"

Nesia tertawa, lantas mengendikkan bahu, "Aku tidak suka perhatian orang lain dan aku jamin, mobilmu ini akan membuat kita diperhatikan orang-orang begitu kita keluar nantinya."

"Bagus deh," ujar Arthur sembari mulai memajukan mobilnya, "Dengan begitu mereka tahu bahwa mereka tidak memiliki kesempatan romansa dengan kita."

Ah. Satu lagi. Sejak dua minggu lalu, Arthur berubah dan terdengar seperti laki-laki tua yang sangat posesif.

Namun Nesia tidak pernah mempermasalahkannya. Malah terkadang, gadis itu justru merasa tersanjung dan jadi ketagihan untuk membuat Arthur cemburu—terutama jika menyangkut Antonio. Seperti kejadian tepat tiga hari yang lalu, saat Nesia menceritakan pada Arthur akan betapa baiknya keluarga Antonio pada Nesia dan Lovino selama ini.

"Ibunya selalu membuatkan kami churros tiap kami bertandang. Beliau cantik sekali, dan aku tahu jadi tahu darimana Antonio memperoleh warna emerald matanya… Belum lagi dengan Ayahnya, yang santun tetapi juga terkadang jenaka. Mungkin dari Beliaulah Antonio mewarisi sikap happy-go-lucky miliknya itu. Ah, bahkan mereka sebentar lagi akan mengadakan pesta barbeque dan aku diundang. Antonio menawarkan diri untuk menjemputku—"

Dan kalimat selanjutnya tak pernah terucapkan oleh Nesia ketika Arthur dengan tiba-tiba, sedikit menolehkan kepala gadis itu untuk kemudian mengunci bibirnya dengan sebuah ciuman.

Singkat, namun sukses membuat Nesia merasa lupa akan apa yang ingin diucapkannya.

"Tiap kau menyebut nama Carriedo, maka aku akan menciummu untuk membuatmu terdiam," ujar Arthur dengan pandangan tak suka dan serius, yang juga tampak dalam nada suaranya, "Berhentilah bicara tentang dia."

Selesai terdiam dan melampaui shock-nya, Nesia berucap dengan terbata, "… T-tapi aku hanya bercerita soal sahabatku. Antonio—"

CUP.

"Se-Senior, Antonio dan aku tidak—"

CUP.

Dan barulah Nesia terdiam, dengan wajah merona panas, ketika Arthur menyudahi ciuman singkat ketiga mereka malam itu.

"Apakah kau begitu ingin kucium hingga terus menyebut nama pemuda itu?"

Ah, mengingat semua itu, wajah Nesia otomatis merona. Tanpa sadar tangannya meraba dan menyentuh pelan bibirnya, mengingat tiap sensasi dan rasa yang ia dapatkan tiap mendapatkan sentuhan itu di bibirnya.

Lembut.

Seolah mengandung aliran listrik kecil dan menggetarkan perasaannya.

"Apapun yang sedang kau lamunkan, kuharap aku ada dan termasuk di dalamnya."

Suara Arthur sontak membuyarkan lamunan Nesia. Kontan saja gadis itu merasa kikuk dan malu. Apakah Arthur tadi berbicara dan Nesia tidak mendengarkan?

"Aku tidak melamun," bantah Nesia. Gadis itu tidak tahu apa yang harus ia lakukan jika Arthur sampai tahu bahwa ia baru saja melamunkan ciuman-ciuman yang pernah pemuda itu berikan kepadanya.

Mau mati Nesia jika Arthur menggodanya habis-habisan sampai kiamat nanti?

"Aku hanya ada sedikit pikiran…" ujar Nesia lirih mencoba mencari alasan.

Sejenak Arthur tidak merespon. Pemuda itu masih memfokuskan diri mengemudikan mobilnya. Jalanan malam itu lumayan ramai, maklum, hari esok adalah hari libur kerja. Namun, meski pandangan emerald itu terfokus pada jalanan di depannya, siapapun bisa melihat bahwa pemuda itu tengah mengulas hal lain di pikirannya.

"…Kau tahu, ini bukan kesalahanmu."

Sontak saja Nesia menatap Arthur dan memberi pemuda itu pandangan heran dan tak mengerti, "…Kesalahan?" tanya Nesia memastikan dan tak yakin.

Pemuda berambut pirang itu menghela napas, sebelum berujar pelan, "Vargas… Dia, 'kan, yang tengah kau pikirkan?"

Beberapa saat raut heran tak kunjung pudar dari tatapan si gadis berdarah Melayu. Semakin tidak mengerti karena kini, tiba-tiba Arthur menarik Lovino dalam pembicaraan mereka. Namun hanya sesaat, karena di detik kemudian, rasa heran itu pudar ketika Nesia mampu menarik benang merah dalam pembicaraan ini.

Dan sorot yang diberikan mata hitam kecoklatan itu tampak sedikit sayu ketika ia kembali mengarahkan pandangan ke jalan di depannya.

Lovino…

Meski Arthur salah menebak bahwa Lovino lah yang barusan menjadi objek pikiran Nesia, namun tak ayal, mau tak mau sekarang Nesia benar-benar kembali kepikiran akan sahabatnya.

Sahabat yang akhir-akhir ini menjauh darinya. Sahabat yang mata coklatnya sudah jarang lagi ia tatap. Sahabat yang tidak mau menghabiskan bahkan waktu beberapa menit bersamanya.

Sahabat yang seolah-olah menganggap Nesia sebagai orang terakhir di dunia yang ingin dijumpainya.

Kembali, Nesia merasa sesak ketika ia merasakan sesuatu seolah tengah mencengkeram erat hatinya.

"Aku tahu dia adalah sahabat terbaikmu…," ujar Arthur kembali setelah kesunyian melanda mobil tersebut, "Tetapi, dia merupakan pemuda yang sudah dewasa—dia tahu apa yang terbaik dan dia hanya membutuhkan waktu untuk berpikir."

Menghela napas, Nesia semakin menyandarkan diri ke sandaran kursi mobil Arthur. Entah mengapa suasana moodnya tiba-tiba menyendu begini setelah sebelumnya ia merasa antusias dan bahagia. Setiap mengingat Lovino…

"Dia tidak pernah semarah ini padaku," ujar Nesia lirih seolah pada dirinya sendiri. Kentara sekali ada rasa luka yang tersirat dalam tiap nada yang mengiringi ucapannya, "Aku tidak tahu—Aku tidak mengerti, Senior. Aku bahkan tidak diberinya kesempatan untuk berbicara dan meminta maaf atas kesalahan apapun yang sudah kuperbuat dan membuatnya terluka."

Ingin saja Nesia menangis.

Wajar saja. Lovino sudah ia anggap seperti saudara laki-lakinya sendiri yang menjaga dan mengurusnya di negeri orang ini. Pemuda yang selalu bersikap manis padanya. Pemuda yang tak pernah menolak jika Nesia memerlukan pertolongannya.

Pemuda yang selalu bersamanya…

Nesia sedikit terkejutkan ketika ia merasa sesuatu menyentuh jarinya. Pandangannya terarah pada jemari kanannya tertaruh pada space sisa kursi yang didudukinya. Dan ia melihat lima jari yang kini menyentuh jemari kanannya tersebut.

Jemari yang lebih besar. Lebih kuat.

Dan lebih hangat ketika terselip rapat di tiap ruas jemarinya yang lebih kurus dan berwarna sedikit lebih gelap.

Dialihkannya pandangannya dari jemarinya menuju pemilik jemari yang kini menggenggam erat tangannya—Arthur Kirkland. Meski tak menatap ke arah Nesia karena pemuda itu tengah sibuk memfokuskan diri pada jalanan di depannya, namun Nesia merasa bahwa pandangan Arthur menyiratkan bahwa pemuda itu mengetahui sesuatu yang Nesia tak tahu. Pemuda itu menyembunyikan sesuatu yang seharusnya ia katakan pada Nesia—entah apa itu.

"…Ada beberapa masalah yang lebih baik tak pernah terungkapkan," gumam Arthur lirih, namun cukup jelas didengar oleh kekasihnya, "Vargas hanya membutuhkan waktu—Tetapi apapun itu, apapun yang terjadi…," dan jemarinya semakin terselip ke sela-sela jemari Nesia. Menggenggamnya lembut, erat, "Aku akan senantiasa bersamamu, Nes."

Di saat-saat seperti inilah Nesia merasa bahwa hanya Arthur yang mampu melindunginya ketika ia merasa lemah. Di saat-saat seperti inilah Nesia merasa hangat dan nyaman oleh bahkan hanya mendengar suaranya.

Dan di saat-saat seperti inilah, Nesia sadar sepenuhnya akan betapa ia jatuh cinta pada sang pemuda Britania.

Arthur Kirkland miliknya.

Tersenyum kecil, Nesia membalas genggaman Arthur dengan balik meremas pelan jemari pemuda itu.

"Terimakasih, Senior. Terimakasih."

Padahal Arthur berbeda sama sekali dengan Antonio atau Willem. Tetapi kenapa Nesia sekarang merasa jatuh lebih dalam ketimbang saat ia tengah terbuai oleh perasaannya terhadap dua pemuda sebelumnya?

Tetapi tetap saja, Lovino adalah salah satu orang yang sangat berharga bagi Nesia.

Kehadiran Arthur Kirkland tak akan pernah bisa menebus perasaan kehilangan yang Nesia rasakan terharap sahabat terbaiknya.

-oOo-

Nesia tidak begitu terkejut ketika Arthur memberhentikan mobil silvernya di depan sebuah restoran outdoor yang terletak di tepi pantai. Bukan restoran sembarangan karena restoran itu termasuk salah satu restoran mewah yang ada di kota. Tidak seberapa besar, karena restoran itu memang dirancang agar hanya sedikit orang yang datang sehingga memberikan privasi yang luas bagi para pengunjungnya. Pantai yang terletak tepat di samping restoran, merupakan pemandangan yang spektakuler, apalagi saat malam hari di mana ombak putih tampak bergulung di lautan yang menghitam tanpa batas. Sekali lihat saja, Nesia sudah bisa menebak hanya mereka yang berdompet tebal yang akan sudi membuang-buang uang demi makan malam di tempat seperti ini.

Sempat Nesia memprotes dan mengajak Arthur untuk pergi ke tempat makan yang lain saja. Bukannya apa, hanya saja Nesia merasa harga dirinya masih terlalu tinggi untuk makan di restoran semewah ini secara gratis oleh kekasih yang bahkan baru dua minggu jalan bersamanya.

"Aku sudah menyewa salah satu meja untuk kita dan sudah kubayar lunas," Arthur memasang wajah kecewa, "Aku tak masalah pergi dari sini, hanya saja aku harus mengurangi uang jajanku selama seminggu karena mengamankan satu meja untuk kita malam ini."

Dan menatap Arthur berekspresi demikian, mau tak mau Nesia pada akhirnya mengalah.

Uh.

Kenapa Arthur masih bersikap menyebalkan dengan superiority complexnya itu?

Setelah memesan beberapa makanan pada waitress, Nesia terdiam dan mengarahkan pandangannya kembali ke arah lautan lepas di sampingnya. Pikirannya kembali melayang pada Lovino. Bagaimanapun, Nesia tidak bisa tenang jika demikian terus. Hatinya merasa sakit tiap mengingat semuanya.

Ucapan ketus Lovino. Pandangan pemuda itu yang seolah-olah menyimpan berjuta duka.

"Hidupmu pasti sering tidak tenang jika kau terus bersikap seperti itu pada orang lain," Arthur bersuara, membuat Nesia segera mengarahkan pandangan kepada pemuda di depannya. Kekasihnya tersebut tengah memandangnya dengan ekspresi khawatir bercampur heran, "Kau bahkan memikirkan pemuda lain saat bersamaku."

Menyadari bahwa Arthur dengan mudah menebak isi pemikirannya, Nesia hanya tersenyum kecil, "Maaf, tetapi Lovino adalah sahabat paling dekat denganku—bahkan ini pertama kalinya ia bersikap seperti ini padaku."

Arthur hanya terdiam, menunduk, lantas memfokuskan pandangan pada layar ponsel di mejanya. Entah apa yang dipikirkan pemuda itu, Nesia tak tahu. Hanya saja gadis itu merasa bahwa Arthur mengetahui sesuatu yang mana bisa menjelaskan semua ini—antara dirinya dan Lovino.

"Tetapi tetap saja…," Arthur bersuara setelah beberapa lama terdiam. Ia kembali mendongak, dan menatap Nesia dengan pandangan sedikit tidak suka, "Aku tidak ingin kau memikirkan yang lain saat bersamaku, Nes—termasuk itu sahabatmu."

Memandang geli, Nesia mencoba untuk menahan tawa, "Ayolah, Senior. Sejak kapan kau mulai bersikap overprotective layaknya orang tua seperti ini?"

"Aku hanya ingin memastikan bahwa kau milikku, itu saja," jujur Arthur, meski harus menahan rasa panas di wajahnya ketika harus berterus terang demikian.

Dan rona merah itu seolah menular ke wajah Nesia ketika gadis itu merasa hatinya terbuai mendengar kalimat yang barusan diucapkan kekasihnya. Memang, sangat terkesan di luar karakter Arthur, tetapi tiap gadis itu mendengar kalimat demikian, mau tak mau ia merasa tersanjung dan tersipu juga.

Well, siapa yang tak suka diperlakukan demikian oleh orang yang dicintai?

"Tapi Lovino hanya sahabatku—aku tidak mungkin memiliki perasaan apapun padanya," ujar Nesia, "Apa kau selalu bersikap seperti ini pada kekasih-kekasihmu yang dahulu, Senior?"

Arthur memandang heran, "Ini pertama kalinya aku tahu seorang gadis yang memulai pembicaraan mengenai mantan dari kekasihnya di tengah acara kencan."

Nesia tertawa lirih, lantas mengendikkan bahu, "Toh mereka hanya masa lalumu, 'kan? Sekarang kau 'kan bersamaku."

Menyeringai, Arthur memandang Nesia geli, "Sekarang lihat, siapa yang terdengar posesif seperti orang tua? Bagaimana denganmu, anyway? Apakah kau selalu bersikap seperti ini pada para mantan kekasihmu yang dahulu?"

Nesia menghela napas, lantas memandang ke arah lautan lepas di sana, "Jangan gunakan kata penunjuk pluralitas seperti 'para' begitu, Senior. Toh, aku Cuma pernah pacaran sekali saja."

Ya, dengan pemuda berkebangsaan Belanda yang bahkan akhir-akhir ini tak pernah ia ingat lagi, sebelum malam ini Arthur secara tidak langsung membuat Nesia harus membahas dan mengingatnya lagi.

Arthur terdiam dan hanya memandang Nesia. Merasa tak ada respon, gadis itu kembali menoleh ke pemuda berambut pirang tersebut. Mendapati Arthur yang menatap heran sekaligus tampak tak bisa berkata-kata, otomatis kedua pipi Nesia kembali merona ketika mulai menyadari apa yang kira-kira pemuda itu pikirkan, "A-Apa yang tengah kau tatap?" hardik Nesia lirih sembari sedikit merengut kesal.

Alih-alih takut, Arthur tertawa lirih sembari tak mengurangi rasa heran di pandangannya, "Aku hanya terkejut saja Nes, bahwa kau pernah berpacaran hanya sekali…"

Tanpa ragu, Nesia menendang kecil kaki Arthur dari bawah meja, "Kenapa kau tertawa? Apakah hanya pernah pacaran sekali di usiaku adalah hal yang aneh bagimu?"

"Tidak juga, sih," Arthur kembali menyeringai, mendapatkan kepuasan dan kesenangan sendiri tiap ia berhasil menggoda gadisnya dan membuat gadis itu tampak kesal dengan wajah merona demikian, "Tidak heran, kok, jika mengingat sikapmu yang barbar dan sama sekali tidak feminin demikian."

Rasanya Nesia ingin melempar gelas minumannya ke muka Arthur sekarang juga.

"Aku hanya pacaran sekali karena aku tipikal orang yang setia dan sulit jatuh cinta!" argumen Nesia bersih keras, membuat Arthur malah semakin memperlebar seringainya. Uh…, "Jadi kau itu harus bersyukur aku bisa jatuh cinta padamu dan mau menjadi kekasihmu!"

Arthur mendengus, "Apa? Seingatku bukan aku yang pertama kali mengungkapkan perasaan cinta. Lagipula kau yang harus bersyukur, seorang Ketua OSIS Hetalia High sekaligus anggota Keluarga Kirkland ini bisa jatuh cinta dan bersama denganmu."

Ya, beginilah. Sekalipun mereka sudah memiliki ikatan hubungan yang lebih dekat, tetapi sikap bagaikan kucing dan anjing mereka tidak pernah luput. Terutama ketika Arthur mencari-cari gara-gara hanya untuk mendapatkan kepuasan melihat gadisnya marah—sampai pada tahap tertentu.

"Oh ya? Kenapa aku harus bangga?" tanya Nesia menantang, "Punya kekasih yang tidak ada sopan santun pada wanita… Jika hanya melihat status sosial keluarga, banyak murid Hetalia High yang juga sama, bahkan lebih terpandang darimu."

"Tapi hanya aku yang menyukaimu—mereka tidak."

"Kau pikir banyak wanita yang menyukaimu?"

"Tentu saja. Kau tak tahu betapa banyak dari mereka yang patah hati gara-gara kau menjadi kekasihku? Waspadalah, kau bisa kena teror mereka di sekolah."

"…Sumpah, pertama kali aku tahu orang yang senarsis dirimu, Senior," Nesia menatap tak percaya sekaligus geli, "Antonio yang jauh lebih populer darimu dalam hal apapun saja tidak senarsis ini."

Nesia pikir, ia sudah berbicara melewati batas ketika seringai Arthur perlahan meluntur. Sorot canda di matanya juga memudar begitu gadisnya menyebut nama sahabatnya yang lain—Antonio. Dan Nesia bukan gadis bodoh untuk tidak tahu apa alasan kekasihnya selalu memasang wajah masam dan tidak tertarik, tiap mereka membicarakan Antonio.

"Yeah… that prick that obliviously got your heart broken?" ada nada sinis dalam ucapan Arthur barusan.

Nesia menghela napas, entah kenapa ia kini jadi sedikit marah dan perasaan bersalah yang sempat terasa, perlahan menguap, "Jangan bicara buruk mengenai sahabatku—kau tahu, aku tidak suka."

"Maka jangan menyebut pemuda itu lagi di depanku, oke?"

"Kau tahu aku sudah tidak menyukainya—berulang kali aku bilang padamu. Kau kenapa? Aku tidak pernah marah tiap kali kau membahas mengenai para mantan kekasihmu," ujar Nesia tidak mengerti.

"Itu karena aku tidak pernah membicarakan mereka dengan nada dan tatapan antusias seolah-olah aku masih mengharapkan mereka!"

"Well, setidaknya Antonio pasti masih bisa menghormati kekasihnya yang membicarakan sahabatnya tanpa harus merasa cemburu seperti orang gila. Bahkan Willem, kekasihku dulu, tidak bersikap sepertimu tiap aku membicarakan pemuda lain kepadanya!"

Dan Arthur terdiam.

Pemuda itu hanya menatap Nesia dengan kedua matanya yang sedikit menajam. Mulutnya yang tadinya sudah terbuka, kini mengatup ketika seluruh kalimatnya kembali tertelan. Sedangkan Nesia turut terdiam dan balas menatap Arthur. Hanya saja pandangan kesal dan jengahnya perlahan memudar ketika kesadaran menerjang otaknya yang semula kalut.

Apa yang barusan ia katakan…

Sudah cukup ia tahu bahwa Arthur ternyata orang yang posesif. Bagaimana mungkin Nesia bisa lupa bahwa Arthur juga tipe yang tidak suka dibanding-bandingkan dengan orang lain, terutama dengan mereka yang pernah menempati hati Nesia?

Waiter pembawa pesanan mereka akhirnya datang. Bahkan sapaannya tidak terhiraukan oleh kedua tamunya ketika sang pria membuang muka dan mengarahkan pandangan ke laut, sedangkan si wanita menunduk dan menatap pangkuannya. Hanya bunyi piring dan peralatan makan yang terletakkan yang mengisi. Suara alunan musik yang terdengar halus mengiringi ombak pantai yang berdebur samar di kejauhan sana. Berikut suara dari pengunjung lain yang tidak terlalu ramai mengingat sedikitnya tamu yang datang.

Setelah waiter pergi, barulah Nesia memberanikan diri untuk berucap. Menelan ludah, gadis itu kembali mendongak dan menatap Arthur yang masih memandang pasif pada lautan di samping kirinya.

"S-Senior, maafkan aku—aku tidak bermaksud mengatakan hal seperti itu…," Nesia menggenggam telapak tangan Arthur yang tertaruh di meja, lantas meremasnya lembut, "Aku hanya marah karena kau tahu, aku tidak pernah menyukai orang lain, siapapun itu, berkata buruk tentang sahabatku."

Ketika Arthur masih terdiam, Nesia mengeratkan genggaman tangannya dan berujar lirih, "Aku hanya mencintaimu."

Itu adalah kalimat pamungkas yang selalu gadis itu gunakan ketika mereka tengah bertengkar dan Arthur mengacuhkannya. Bentuk ungkapan perasaannya yang tulus ia ucapkan tanpa ragu, meski harus sedikit menahan malu. Hanya sebagai usahanya untuk meyakinkan Arthur agar percaya bahwa apapun yang terjadi, Nesia memilihnya. Nesia bersamanya.

Hanya dia yang Nesia lihat.

Dan sukses, Arthur menolehkan pandangannya dan menatap Nesia. Ada semburat rona di wajah putih itu—yang hanya keluar jika pemuda itu merasa malu atau tersipu. Rona yang hanya ditunjukkan saat ia bersama dengan kekasihnya.

"Oke," kata pemuda itu akhirnya, "Asal sehabis makan ini, kau berdansa denganku."

Dan ketika melihat sebuah senyum kembali terlukis di bibir itu, tanpa sadar bibir Nesia membentuk lengkungan yang sama.

Rasanya ia seperti kecanduan untuk menatap senyum dari wajah kekasihnya.

-oOo-

Salah satu hal yang paling Nesia sukai dari Arthur adalah aroma laut bercampur teh yang senantiasa menguar dari tubuhnya dan mampu Nesia cium ketika ia berada di dekat pemuda itu. Seperti saat ini, selama telah dua menit mereka berdiri di tempat dansa, ia mampu mencium dengan jelas aroma kekasihnya. Maklum saja, mereka berdiri terlalu dekat, semakin dekat ketika beberapa saat yang lalu lengan kuat itu merapatkan tubuh ramping gadisnya untuk semakin merapat padanya. Awalnya dulu, Nesia sedikit risih dengan kontak tubuh secara intim ini, namun lama-lama ia sedikit bisa membiasakan diri. Lagipula, ia pikir berada di dekat Arthur itu menyenangkan dan ia menyukainya.

Entah sejak kapan ia merasa, tiap ia berada di dalam lindungan lengan Arthur, maka tak akan ada bahaya apapun yang mampu membuatnya takut.

"Hei," ujar Arthur lirih di antara langkah-langkah pelan dansa mereka. Kedua telapaknya berada di kedua pinggang ramping kekasihnya yang melingkarkan kedua tangannya di kedua pundak lebar Arthur, "Ayo kita ceritakan diri kita masing-masing."

Sorot heran dari pandangan Nesia berubah seolah-olah ia mampu melihat ada kemiringan sudut dari posisi otak kekasihnya.

"…Untuk apa?"

Kini giliran Arthur yang memberi pandangan seolah-olah ia berdansa dengan orang gila, "Kita pacaran, see? Wajar jika aku ingin mengetahui tentangmu dan kau tahu tentangku."

"Maksudku, kita sudah nyaris tiga minggu—pertanyaanmu seolah-olah kita baru mengenal saja."

"Memang apa yang kau tahu tentangku, coba?"

Terkadang, Nesia sungguh menyesali fakta bahwa kekasihnya begitu pandai berbicara—sangat pandai hingga sering kali membuat Nesia tak bisa membalas dan pada akhirnya menuruti apa perkataannya.

Arthur menyeringai, "Nah."

Nesia mendesis kecil bercampur malu. Ingin rasanya ia menginjak kaki Arthur dengan wedges yang tengah ia pakai sekarang, "Iiisshh! Cepat kau saja yang cerita!"

"Begini saja. Kau lihat para pengunjung restoran ini, 'kan?" pandangan Arthur bergulir ke sekeliling resturan. Lumayan nyaris terisi penuh kursi yang tersedia, "Tiap ada pasangan yang turun ke atau pergi dari lantai dansa, maka itu sebagai tanda siapa yang gantian bercerita. Misal aku tengah bercerita, dan ada pasangan yang turun untuk atau pergi selesai dansa, maka aku selesai dan giliran kau yang bercerita."

Kenapa harus seribet itu, sih?

"Tetapi kita berceritanya menunggu pertanyaan dari lawan. Jadi kita bercerita seolah-olah kita menjawab pertanyaan lawan. Apakah kau mengerti?"

"... Apakah di masa kecilmu dahulu kau kurang menghabiskan waktu untuk bermain?" tanya Nesia antara heran dan geli. Namun candaannya tersebut sukses menghantarkan semburat rona di wajah putih kekasihnya.

"A-Apa—j-jadi kau ngerti apa tidak?" tanya Arthur dengan nada menahan geram.

Nesia meringis. Terkadang ia berpikir bahwa mereka seolah-olah bukan pasangan kekasih. Habisnya, romantis sih romantis. Tetapi terkadang mereka bisa bertengkar dan saling menghina, seperti sekarang ini.

"Oke, oke. Jadi, siapa dulu?"

"Lady first."

"Oke, ceritakan mengenai mantan kekasihmu."

"… Sungguh, kau benar-benar gadis yang aneh," Arthur menatap seolah-olah di kepala Nesia telah tumbuh dua tanduk, "Mana ada cewek yang mau membahas mengenai mantan dari kekasihnya di saat tengah berdansa seperti ini?"

Nesia hanya tersenyum kecil dan mengendikkan bahu, "Aku hanya penasaran saja. Jangan khawatir, aku tidak akan cemburuan seperti dirimu."

Arthur mendengus, "…Entah kenapa kau semakin terdengar menyebalkan jika begitu."

Nesia tersenyum. Sebenarnya bukan pertama kali ini ia meminta Arthur menceritakan hal ini. Wajar saja, Nesia dari lahir kan sudah mengidap penyakit kepo dan penasaran tingkat akut. Namun Arthur tak pernah mau membahasnya. Padahal Nesia sudah menceritakan banyak hal mengenai Willem—meskipun saat ia menceritakan, Arthur seolah-olah memasukkan omongan Nesia ke telinga kiri dan mengeluarkannya dari telinga kanan.

Arthur menghela napas, sebelum berujar lirih, "Aku pernah tiga kali berpacaran."

Untung saja Nesia saat itu tidak sedang memakai heels atau tengah meminum sesuatu. Karena, ia jamin ia akan terjatuh dari heels-nya atau memuncratkan minumannya begitu telinganya mendengar pengakuan kekasihnya.

Wajar saja Nesia terkejut. 3 kali?! Dengan orang berkepribadian menyebalkan seperti itu? Nesia saja pikir dirinya sendiri pasti satu-satunya pengecualian dari gadis di seluruh Bumi ini, yang bisa jatuh cinta pada Arthur.

"Apa? Jangan memandangku seolah-olah aku memberitahumu hal paling mustahil di dunia," sepertinya Arthur dengan mudah mampu menebak pikiran Nesia. Pemuda itu merengut dan memasang wajah sedikit tidak suka.

Nesia nyengir kuda, "…Siapa saja? Mereka juga murid Hetalia High?"

Arthur menggeleng pelan, "2 saat aku di SMP, dan satunya lagi di Inggris. Tapi aku tidak terlalu ingat, kami juga tidak lama menjalani hubungan."

Nesia tertawa lirih, "Pasti karena mereka sudah tidak tahan dengan sikap menjengkelkanmu ini."

"…Hei, aku bisa saja saat ini juga keluar dari restauran ini dan pulang dan meninggalkanmu disini sendiri, tahu?" ujar Arthur dengan ekspresi menahan geram.

Nesia menjulurkan lidah, "Tapi kau tidak akan melakukannya, 'kan? Kau 'kan mencintaiku."

Dalam hati, Nesia merasa begitu menyukai saat ia melihat wajah putih itu merona hangat. Seperti sekarang ini. Betapa mudahnya terkadang perasaan Arthur Kirkland mampu terbaca olehnya.

"Bagaimana dengan ciuman pertamamu?" tanya Nesia lebih jauh.

"Apa?"

"Ciuman pertamamu. Dengan siapa?" tanya Nesia, "Aku yakin pasti itu bukan denganku."

"Apa urusannya? Aku tidak mau menjawabnya."

"Heiiii… kau sudah tahu siapa pemilik ciuman pertamaku!" Nesia menunjuk dada Arthur dengan sedikit keras, lantas memasang wajah cemberut bercampur merona merah.

"Tanpa perlu kau beritahu akupun sudah tahu. Tidak sulit menebak gadis tomboy dan naif sepertimu apakah sudah memiliki ciuman pertamanya atau belum."

Ya Tuhan…

Meski Arthur pacarnya, namun tangan Nesia rasanya gatal sekali ingin mencakar wajah dan seringai menyebalkan itu saat itu juga.

"Sudah jawab saja apa susahnya!" ujar Nesia sedikit keras.

Arthur memandang Nesia dengan pandangan geli. Tampak gadis itu memelototinya dengan kedua matanya yang hitam dan bulat. Jangan lupa dengan bibirnya yang sedikit mengerucut kesal. Namun jelas, wajah putih kekuningan itu menyiratkan semburat merah segar di kedua pipinya.

"Ceritakan mengenai keluargamu."

Sorot kemarahan Nesia sedikit memudar, tergantikan oleh rasa heran akibat mendengar ucapan Arthur, "Kau belum menjawab pertanyaanku—"

"Giliranmu," telunjuk kanan Arthur menunjuk ke satu arah. Dan ketika Nesia mengikuti arah tunjukan itu, ia segera menyadari apa maksud Arthur.

Ada pasangan yang telah turun dari lantai dansa.

Sial.

"T-t-tapi kau belum menjawab—" Nesia mencoba nego, tetapi seringai menyebalkan Arthur sudah keburu membuatnya bungkam dan dongkol duluan.

"Kesepakatan tetap kesepakatan, Miss," ucap Arthur dengan seringai dan nada yang membuat Nesia kembali meragukan kewarasan psikisnya sehingga mampu mencintai dan berpacaran dengan pemuda seperti itu.

Uh.

"Apa yang ingin kau ketahui?" tanya Nesia dengan nada yang jelas tidak ikhlas. Wajar saja, pertanyaannya tadi cukup membuatnya penasaran dan akan Arthur jawab andai saja pasangan anonymous tadi secara tak langsung merusak harapannya dengan turun dari lantai dansa ini!

"Keluargamu."

"Tidak banyak yang perlu diketahui tentang keluargaku. Aku bukan berasal dari keluarga Bangsawan sepertimu, Sir Earl Kirkland," ucap Nesia dengan sedikit sinis.

"Kau tak perlu berucap sinis," kata Arthur sedikit tidak suka.

Pada akhirnya, Nesia terpaksa menuruti keinginan Arthur. Menceritakan banyak hal mengenai keluarganya di Indonesia. Bahwa ia merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Adik laki-lakinya yang masih berada di bangku sekolah dasar. Ayahnya yang seorang pengusaha dan Ibunya yang juga menjalankan usaha beliau sendiri. Teman-temannya di SMA dahulu. Bahkan ia juga sedikit-sedikit menyakutpautkan Willem—membuat Nesia dalam hati tertawa nista saat mendapati ekspresi Arthur yang menggelap seiring nama Willem terucap dari mulutnya.

"Your family sounds fun," komentar Arthur pada akhirnya, "Aku berpikir untuk pergi menemui mereka saat kau pulang berlibur nantinya."

Nesia nyaris tanpa sengaja menginjak kaki Arthur karena kehilangan keseimbangan tubuh dan langkah dansanya. Kontan saja, wajahnya bersemu begitu mendengar ucapan kekasihnya. Bukannya apa.

Hanya saja, jika Arthur pergi ke Indonesia dan menemui kedua orang tuanya…

Rasanya ia sudah bisa membayangkan berbagai macam godaan dan rentetan pertanyaan yang diajukan baik adik ataupun Ibunya.

Nesia seketika bersyukur ketika ada satu pasangan baru yang turun ke lantai dansa. Itu pertanda bahwa ia tidak harus merespon ucapan Arthur barusan dan kini giliran Arthur yang bercerita. Seolah balas dendam, Nesia menanyakan pula mengenai keluarga Arthur. Tidak seperti Nesia yang terkesan agak tsundere, Arthur menceritakan dengan lancar mengenai keluarganya. Bahwa ia lahir di keluarga inti yang besar: memiliki satu kakak laki-laki, satu kakak perempuan, dan satu adik laki-laki. Ayahnya bekerja sebagai seorang Diplomat Inggris, yang sekarang tugas di Kedubes Inggris untuk Amerika Serikat. Pun dengan Ibunya yang menjadi salah satu anggota di parlemen Inggris. Salah satu kakaknya sudah bekerja sebagai seorang dokter, sedangkan kakak lainnya masih kuliah. Adiknya sama seperti Nesia, baru menginjak sekolah dasar.

Sepanjang cerita, lama-lama Nesia mau tak mau merasa rendah diri juga di depan Arthur. Well, tidak bisa ia tolak fakta bahwa latar belakang sosial dan ekonomi antara mereka berdua cukup berbeda. Jauh.

Hhhh.

Pertanyaan demi pertanyaan dan jawaban demi jawaban terus terlontar secara bergantian seiring dengan pergi dan datangnya pasangan di lantai dansa ini. Beberapa lagu dansa sudah terputar dan Arthur serta Nesia masih berdiri di sini. Melangkah lirih. Memeluk. Bercerita. Tertawa. Tersenyum. Menyeringai. Melotot. Ingin mencakar…

Namun Nesia pikir, semua ini menyenangkan.

Apapun yang dilakukannya bersama Arthur, senantiasa membuatnya senang.

"Sekarang giliranku!" ujar Nesia antusias ketika ada pasangan yang turun dari lantai dansa, "Katakan, Senior, sejak kapan kau mulai mencintaiku?"

Arthur tidak segera menjawab. Ia hanya menatap Nesia dengan terkejut. Langkah dansa pemuda itu pun sempat terhenti walau sebentar.

"Apa?"

"Aku bertanya, sejak kapan kau mencintaiku?" tanya Nesia mengulangi pertanyaannya, "Bukannya apa. Hanya saja… dulu kau bersikap seolah-olah aku adalah orang yag paling ingin kau jadikan korban pertamamu seandainya nanti kau menjadi seorang pembunuh."

Nesia tidak tahu mengapa dan apa sulitnya menjawab pertanyaan itu, namun Arthur tampak terbungkam. Mulutnya membuka, seolah ingin mengatakan sesuatu. Namun pikiran dan logikanya seolah membuat semua kalimat itu kembali tertelan.

Dan mengapa harus blushing seperti itu? Apa menjawab pertanyaan Nesia barusan adalah hal yang memalukan harga dirinya?

"Hei?"

Arthur menghela napas besar, sebelum secara tiba-tiba, ia menghentikan langkah dansanya dan langsung berbalik dan turun dari lantai dansa.

"Ayo kita pulang. Kau tadi bilang kau tak ingin pulang kelewat larut malam, 'kan?"

Membuat Nesia terpaku dan diam menatapnya, seolah-olah ia baru saja berdansa dengan orang gila—orang sangat gila, dan kelewat menyebalkan.

"T-tapi Senior—"

"Aku mau pulang, lelah," Arthur berhenti melangkah, lantas menolehkan kepalanya ke Nesia yang masih berada di belakangnya. Ada seringai licik di bibir menyebalkan itu. Lagi, "Kau mau kuantar pulang ke apartemenmu atau kau mau menginap di rumahku?"

Beruntunglah di sini banyak orang. Kalau tidak, mungkin wedges Nesia yang cukup berat ini sudah melayang di kepala pirang itu.

-oOo-

Perjalanan pulang itu tidak terasa lama, malah terasa terlalu cepat bagi mereka yang tengah dilanda suka cita akan kehadiran satu sama lain. Tidak membutuhkan waktu lama bagi Arthur untuk mencapai depan gerbang apartemen Nesia.

"Aku antar kau ke dalam."

Gerakan Arthur untuk membuka pintu kemudi terhenti ketika sebelah lengannya terpegang oleh Nesia. Ia menoleh dan mendapati gadis itu menggeleng pelan sembari tersenyum, "Tidak usah. Kau pulang saja langsung."

Bibir Arthur melengkung ke bawah, "That sounds very ungentlemanly. Aku akan mengantarmu."

Nesia memutar bola matanya, "Tidak seperti aku akan pergi ke kuburan atau sarang perampok, 'kan?" dalam hati, Nesia merasa geli akan sikap overprotective sekaligus kekhawatiran kekasihnya, "Pulanglah."

"Kau tidak suka jika kuantar?"

Hhh..

Kenapa terkadang sikap keras kepalanya itu demikian menjengkelkan, ya?

Nesia tidak tahu apa yang ia lakukan. Mungkin karena fisiknya yang cukup lelah. Mungkin karena otaknya yang sudah terlalu malas memikirkan kata-kata yang ia rangkai untuk meladeni Arthur. Mungkin karena kebetulan saja radio di mobil Arthur memutar lagu kelewat romantis dan menye-menye. Atau mungkin, simpel, ia sudah gila.

Nesia tidak tahu, bagaimana alih-alih dengan ucapan, ia mencoba merespon pertanyaan Arthur barusan dengan tindakan.

Ia mencondongkan tubuhnya sembari memejamkan kedua matanya.

Dan meski sekilas, ia tempelkan kedua bibirnya di dua bibir di depannya yang semula melengkung ke bawah tanda kecewa.

Hanya sekilas, karena Nesia segera kembali menarik kembali kepalanya. Membuka kembali kedua matanya, ia merasakan kedua pipinya terbakar parah ketika baru menyadari apa yang barusan ia lakukan.

Bukannya apa. Hanya saja, ini pertama kalinya ia bersikap agresif demikian terhadap Arthur.

Rasanya AMAT MALU dan ia ingin segera berlari ke tengah jalan dan menabrakkan dirinya dengan bus atau mobil yang lewat!

Ia hanya nyengir kuda ketika dilihatnya kedua emerald itu menatap terkejut ke arahnya. Dalam keremangan cahaya mobilpun, Nesia bisa melihat dua pipi pucat itu merona merah.

"…K-k-k—" sial! "Kau p-pulang ya?" ujar Nesia sembari terus meringis tolol. Ia hanya berharap bahwa apapun yang dipikirkan Arthur, tindakannya barusan tidak akan dimanfaatkan pemuda itu sebagai bahan godaan dan amit-amit, hinaan, pemuda itu terhadap Nesia nantinya.

Uh.

Alih-alih mengangguk atau apa, respon dari Arthur sungguh di luar dugaan Nesia. Gadis itu hanya memekik pelan ketika ia merasakan sebelah bahunya tercengkeram lembut oleh Arthur, sebelum pemuda itu menariknya sedikit cepat menuju arahnya. Sangat cepat, hingga Nesia terjungkal pelan dan menabrak dada dari Arthur yang segera melingkarkan kedua lengannya di sekeliling tubuh kecilnya.

Dan Arthur menciumnya.

Tidak mengerti apa yang terjadi, Nesia segera merilekskan dirinya kembali. Ia memejamkan mata dan mencengkeramkan kedua telapak kecilnya ke kemeja bagian depan dari kekasihnya. Sedikit mendongak untuk mengimbangi posisi Arthur yang menundukkan kepalanya. Dan merasakan bahwa pipinya merasa panas, seolah itu merupakan akibat dari detakan jantungnya yang berakselerasi cepat.

Tidak seperti biasanya, ciuman ini tidak berlangsung sesingkat ciuman-ciuman lain yang telah mereka lakukan. Tidak seperti biasanya, Arthur tidak segera menarik kembali kepalanya. Jangan demikian, pemuda itu bahkan tidak melonggarkan sedikitpun pelukan erat kedua lengannya di sekeliling tubuh Nesia. Bahkan Nesia rasakan, pemuda itu semakin menekankan bibirnya ke bibir Nesia.

Hangat. Lembut.

Nesia tidak pernah berpikir sebelumnya bahwa bibir seorang laki-laki bisa terasa demikian lembut saat menyentuh bibirnya.

Nesia secara refleks semakin erat memejamkan kedua matanya dan memekik pelan, ketika ia merasakan sesuatu yang basah menyentuh bibir bawahnya. Dan tak membutuhkan waktu lama baginya untuk menebak apakah itu ketika ia merasakan benda itu tiba-tiba menerobos memasuki kedua bibirnya yang tak sengaja ia buka saat ia memekik tadi.

Awalnya, Nesia ingin segera menarik diri—merasa takut akan perubahan sikap Arthur yang membuat semuanya terasa aneh bagi Nesia. Namun pelukan pemuda itu terlampau erat dan kuat seolah memberikan peluang nol baginya untuk lepas dari pelukannya.

Namun entah bagaimana dan mengapa, Nesia lama-lama justru membalas semuanya.

Lidah Arthur yang memasuki rongga mulutnya. Bermain-main dengan setiap pori di dalam mulutnya. Menyapu barisan gigi dan membelai kedua sisi pipi bagian dalamnya. Dan bergulat dengan lidah kecil Nesia yang bermain pasif dengannya.

Arthur seolah tengah melahap mukanya.

Hangat.

Lidah Arthur terasa hangat.

Entah bagaimana bisa, meski dengan ragu, namun Nesia pada akhirnya mampu menangkap permainan dan turut bertindak aktif. Ia juga mengecap ciuman itu dengan lebih dalam, lebih menyenangkan. Ia juga merasakan bagian dalam dari rongga mulut kekasihnya. Ia bisa merasakan bagaimana kerasnya gigi Arthur. Ia bahkan bisa merasakan aroma teh yang tadi diminum oleh kekasihnya.

Semua logika seolah hilang dan membisu saat itu juga.

Suasana yang terasa memanas sekalipun pendingin mobil masih ternyalakan. Jantung yang berdetak cepat, nafas yang tertahan karena hidung yang bertubrukan rapat. Suara-suara decapan sugestif yang jelas terdengar dan seolah secara tak lisan menyatakan betapa intim suasana dalam mobil itu tengah tercipta.

"Nnnhh…"

Ketika tanpa sengaja sebuah lenguhan rendah dan sugestif keluar dari mulut Nesia, saat itulah Arthur segera menarik kepalanya. Memutuskan ciuman dalam mereka. Membuat benang saliva tipis menghubungkan dua mulut mereka yang telah terpisah. Membuat dua pasang bibir itu tampak merona dan tampak seperti bengkak akibat perbuatan yang baru saja mereka lakukan.

Hanya helaan napas berat-berat yang menggantikan semua decapan sugestif yang tadi mengisi sunyi.

Dengan dua paras yang merona parah.

"Kita harus berhenti," Arthur berujar pelan sembari tersenyum lembut—salah satu senyuman yang jarang sekali ia tunjukkan. Sekaligus salah satu senyuman yang selalu membuat Nesia rasanya lupa untuk bernapas.

Mau tak mau, melihat senyuman itu, bibir Nesia melengkungkan lengkungan yang sama.

"Aku mencintaimu."

"You know I do too."

Nesia keluar dari mobil silver itu dan berdiri di depan pagar gerbang apartemennya. Meski terkesan cheesy dan norak, gadis itu kembali nyengir kuda dan melempar cium jauh kepada Arthur yang masih berada di balik kemudi mobil itu. Pemuda itu hanya tampak tertawa lirih, lantas menyuruh Nesia untuk segera masuk dan ia akan menunggu di dalam mobil sini hingga ia pastikan Nesia telah memasuki apartemennya.

Setelah mengucapkan selamat malam, gadis itu berbalik dan melangkah. Langkahnya terasa ringan, hingga ia melangkah dengan sedikit meloncat-loncat kecil dan riang. Terasa nyaman. Bahkan udara malam terasa segar—sama sekali tak berefek apapun terhadap panas di kedua pipi dan kobaran di hatinya.

Ah… ciuman tadi sepertinya akan membuatnya tetap terjaga hingga pagi nanti.

So good.

So beautiful.

Di saat-saat Arthur mampu menjadi manis dan romantis seperti inilah, Nesia bersyukur pada Tuhan bahwa Ia mempertemukan mereka.

Ia membuat mereka saling membenci dan menghina.

Dan pada akhirnya, Ia membuat mereka berdua saling berada pada cinta yang sangat dalam terhadap satu sama lainnya.

Sebelum ia berbelok memasuki lobi, Nesia kembali menoleh ke belakang. Sesuai janji Arthur, pemuda itu belum beranjak dan masih terdiam di dalam mobilnya sembari memandang Nesia. Mau tak mau, ada perasaan hangat yang hadir di dalam sini. Ia pikir, ia tengah dilanda kasmaran yang sangat besar hingga memandang Arthur dari jarak jauh begini saja sudah membuat darahnya berdesir hangat.

Sekali lagi tersenyum lebar, gadis itu melambaikan tangan sebagai salam terakhirnya malam ini untuk kekasihnya. Nesia tidak bisa melihat jelas respon Arthur, sehingga ia putuskan untuk meneruskan langkahnya. Hati dan moodnya kelewat senang dan bagus—bayangan akan ciuman yang baru saja didapatkannya tadi membuatnya seolah bagaikan remaja labil yang baru mengenal cinta pertama.

Senang. Antusias. Wajah merona merah.

Namun senyuman galau di wajah putih kekuningan itu tidak bertahan lama. Lengkungan itu perlahan meluntur ketika kedua mata hitam kecoklatannya menatap ke satu arah. Langkahnya perlahan memelan. Semua euforia yang tadi sempat terasa, kini sudah berkurang.

Lovino ada di depan sana. Disana, berdiri bersandar di salah satu tiang lobi apartemen. Bersedekap dada. Ber-jumper abu-abu.

Menatap Nesia. Datar. Tidak marah. Tidak terlihat bahagia pula.

Dan yang membuat Nesia sedikit mengangakan mulutnya dan menyipitkan kedua matanya adalah benda silinder kecil yang terjepit di antara kedua bibir Lovino.

Sejak kapan sahabat dekatnya itu dekat dan bahkan mengkonsumsi rokok?

Nesia menelan ludah. Entah mengapa kini ia merasa sedikit gugup bercampur takut. Jelas Lovino, sejak beberapa minggu yang lalu, seolah menjadi pribadi yang asing baginya. Dingin. Tak acuh. Tak pernah bahkan memandang sebelah mata lagi pada Nesia. Entah kemana kehangatan dan kedekatan mereka yang dahulu, hingga kini rasanya ada jurang pemisah lebar yang terbentang dan Nesia tak tahu bagaimana menyeberanginya.

Setiap langkah yang Nesia tempuh, pandangan pemuda itu tidak pernah lepas padanya. Seolah dengan cermat memerhatikannya dengan pandangan sedemikian rupa hingga Nesia merasa tak punya pilihan lain selain menundukkan kepalanya.

Pada akhirnya, ia paksakan senyum kaku ketika ia telah sampai di dekat pemuda itu—pemuda yang masih memandangnya datar tanpa sedikitpun membalas senyumnya.

"Hei," sapa Nesia sembari memperlebar senyumnya.

Lovino tidak menjawab dan tetap memandang Nesia.

"Aku tidak tahu jika kau berada di sini," Nesia tertawa lirih dan kikuk, "Kupikir kau sedang di rumah Kakekmu seperti biasa—"

"Bagaimana?" potong Lovino setelah mengapit rokok dari mulutnya, dengan jepitan telunjuk dan jari tengah kanannya.

Nesia memandang tak mengerti bercampur ragu, "Bagaimana apanya?"

Lovino tidak segera menjawab. Ia hanya tetap mempertahankan ekspresinya. Pandangan kedua mata coklatnya tak sedikitpun meninggalkan pandangan Nesia. Namun Nesia tahu, bahwa ada sesuatu yang tengah dipikirkan oleh pemuda berdarah Italia tersebut.

Tanpa mengalihkan pandangan dari Nesia, Lovino mengarahkan rokoknya kembali ke mulutnya. Menghisapnya sebentar, lantas mengepulkan asap penuh karbondioksida itu ke udara.

"Bagaimana? Kencanmu? Apakah kau bersenang-senang dengan dia?"

Jujur saja, Nesia tidak mengerti. Mungkin tadi Lovino sempat melihat Arthur mengantarkannya pulang, meski itu hanya sampai gerbang apartemen. Dan pertanyaan itupun rasanya normal ditanyakan sahabat kepada sahabatnya yang habis berkencan.

Tetapi cara Lovino berbicara dan caranya memandang Nesia, entah mengapa membuatnya terasa berbeda.

"Senior Arthur—yeah, aku senang bersamanya," jawab Nesia sekenanya.

Lovino tersenyum miring, dan kembali mengepulkan asap rokoknya, "Tentu saja. Dia kaya dan bisa membuatmu menjadi ratu semalam dan beribu malam berikutnya. Kau pasti senang bersamanya."

Baik cara Lovino menatap dan nada serta pilihan katanya, sama sekali begitu terasa tidak enak untuk Nesia dengar dan lihat.

"Apa maksudmu?"

Lovino mengendikkan kedua bahunya tak acuh, "Tak penting. Love's blind, apapun yang kukatakan pasti tak mampu lagi kau dengar."

Nesia menarik napas dalam-dalam dan menatap tak percaya bercampur sedikit tersinggung ke arah Lovino, "Aku datang kemari ingin menyapamu. Kita yang lama tidak saling berbicara… bukan agar aku mendengar kalimat sinismu mengenaiku ataupun Senior Arthur."

"See? Kau bahkan membelanya," Lovino memberi senyum sarkastis, "Cintamu bahkan membuatmu seolah amnesia terhadap semua perasaanmu terdahulu untuknya."

Nesia merasa begitu penat. Ia tidak tahu apa yang telah dan tengah terjadi pada Lovino dan mereka berdua. Ia baru pulang dan fisiknya cukup lelah. Bertengkar dengan sahabatnya seperti ini adalah keinginan terakhirnya.

"Apa masalahmu!" tanpa sadar Nesia mengeraskan suaranya, "Sejak beberapa minggu yang lalu kau seperti ini... Kau berubah! Kau seperti orang lain padaku—kau bahkan merokok—" Nesia menunjuk dengan penat batangan di tangan Lovino, "Aku merasa sangat bersalah… Aku datang kemari ingin meminta maaf padamu tetapi kau—"

Rasanya semua ini terasa berat bagi Nesia. Lovino sahabatnya—orang terdekat yang ia punya semenjak ia berada di negeri orang ini. Yang senantiasa berada di dekatnya. Yang selalu mendukungnya.

Tetapi kini…

"I miss you."

Ia hanya ingin Lovino Vargas—pemuda yang dahulu membelanya saat salah hitungan di waktu persiapan wawasan wiyata Mandala MOS.

"Aku akan melakukan apapun agar kau memaafkanku."

Pandangan Nesia adalah tulus. Sebuah perasaan hatinya yang ia coba sampaikan melalui pancaran kedua matanya.

Dan retaklah ekspresi datar yang sedari tadi menjadi satu-satunya hal yang bisa Nesia dapati di raut itu. Retaklah sorot hampa itu. Seiring dengan terucapnya kalimat Nesia tadi, perlahan-lahan ekspresi dingin itu meluntur.

Dan seiring ucapan Nesia pula, ekspresi baru ada di sana.

Sakit. Terluka. Kecewa.

Sorot yang Nesia lihat—selalu Nesia lihat dari Lovino Vargas tiap kali mereka berjumpa.

"…Kau tak bisa," nyaris berupa bisikan kalimat itu terdengar dari mulut Lovino yang membuka. Suaranya begitu dalam, begitu tertekan. Seolah-olah ia tengah melakukan yang terbaik yang ia bisa untuk menahan emosi apapun yang bergejolak di dadanya, "Ada sesuatu hal yang bisa kau lakukan untuk membuatku berhenti seperti ini…"

Dan kedua mata itu kembali tampak semakin getir, "Tapi kau tak bisa," jakun itu tampak bergerak ketika ludah itu tertelan paksa, "Kau tak ingin."

Begitu dalamnya suara itu terdengar. Betapa dalamnya pandangan itu menghujam kedua mata Nesia. Betapa lirih kalimat itu terucap seolah pemiliknya tengah merintih. Betapa semua itu membuat Nesia seakan merasa dirinya tertohok. Bisu. Terdiam.

Seolah-olah ia mengakui bahwa ia memang telah berbuat kesalahan demikian besar pada Lovino. Begitu besar hingga ia bisa merasakan jelas luka yang mengiringi ucapannya. Begitu besar kesalahannya hingga pandangan Lovino tak mampu menyembunyikan betapa getir perasaannya.

Besar.

"…Lovi aku—"

Lovino keburu berbalik dan melangkah pergi menjauh dari sana. Dari langkahnya, sangat jelas pemuda itu tampak ingin segera menjauh cepat-cepat dari sana. Begitu cepat dengan langkah lebar-lebar, hingga ia tidak menghiruakan Nesia yang otomatis melangkahkan kedua kakinya mengejarnya. Meneriaki namanya.

"Lovino!"

Dengan kasar, tanpa memberhentikan langkah, Lovino mengibaskan sebelah lengannya yang terpegang Nesia, "Lepas!"

Namun Nesia tidak akan menyerah. Ia kembali mendapatkan lengan Lovino, "Aku meminta maaf, Lovino! Aku tidak mengerti—"

"Of course you don't!" Lovino kembali mengibaskan lengannya dari Nesia. Ia memberhentikan langkahnya dan berbalik menatap Nesia dengan tajam, "You don't understand and you never have!"

"Itu karena kau tidak memberiku kesempatan untuk mendengarmu!" bantah Nesia.

"Terserah. Sekarang pergilah dan jangan mengangguku," Lovino mendengus dan kemudian kembali berbalik, namun Nesia kembali menghalangi langkahnya dengan berdiri di depannya.

"Ini karena aku peduli padamu, Lovino!" ucap Nesia tegas dengan pandangan menyipit menahan air mata. Semua rasanya membuatnya penat. Marah. Kecewa. Sedih, "Aku peduli padamu! Kau sahabatku—demi Tuhan aku sudah menganggapmu sebagai Kakakku—!"

Nesia tak bisa menyelesaikan kalimatnya ketika ia memekik pelan saat merasakan tubuhnya terdorong keras. Punggungnya membentur tembok di belakangnya dengan lumayan kasar. Ia memejamkan mata erat sebagai refleks dari rasa terkejutnya.

Dan saat ia membuka mata, ia mampu melihat bahwa Lovino berdiri di depannya. Berdiri terlalu dekat dengannya. Bahkan entah mengapa, pemuda itu mengunci pergerakan Nesia dengan cengkeraman kuat sebelah telapaknya pada kedua pergelangan tangan Nesia di belakang punggung gadis itu.

Mereka terlalu dekat—jarak terdekat yang pernah Nesia dapati antara dirinya dan Lovino.

Tiba-tiba saja, Nesia merasa takut.

Ia tak hanya mampu mencium jelas aroma pemuda itu, namun ia bahkan bisa merasakan jelas hembusan napas pemuda tersebut di wajahnya.

"Lovino…" lirih Nesia sembari menatap mata Lovino.

Kembali sorot itu ada di sana.

Sorot terluka yang terpancar dari pandangan kedua matanya yang sedikit menyipit. Perasaan kecewa yang bahkan tergambar jelas dari tiap garis ekspresi wajahnya. Perasaan getir. Sesak. Perasaan amarah dan kecewa yang ingin terlampiaskan, namun tertahan erat oleh bibir yang mengatup rapat tersebut, oleh rahang yang terkatup erat tersebut.

Seolah begitu banyak kalimat yang ingin terlontar. Begitu banyak ucapan yang ingin terdengarkan. Berjuta perasaan dan pikiran yang ingin ia teriakkan. Namun sepertinya lidah itu kelu. Tenggorokan itu kering. Semuanya tertelan kembali.

Nesia tahu semua itu.

Dan Nesia tak sempat memiliki waktu untuk berpikir apapun ketika ia merasa tiba-tiba was-was dan terkejut. Lovino memejamkan matanya. Lovino menunduk dan sedikit memiringkan sudut kepalanya.

Dan kepala itu perlahan, bergerak mendekati kepala Nesia.

Mencoba melepaskan diri namun sia-sia. Pegangan Lovino terlalu kuat bagi Nesia yang bertubuh lebih kecil dan lebih lemah. Hardikan lirih Nesia pun rasanya sampai pada telinga yang tuli.

Dan Nesia pada akhirnya memejamkan kedua matanya erat dan menanti pasrah.

Takut.

Lovino membuatnya sangat takut.

.

.

Namun apa yang dikhawatirkannya tidak pernah terjadi. Ia tidak merasakan apapun menyentuh wajahnya—alih-alih bibirnya.

.

.

Membuka mata, Nesia menatap bahwa Lovino kembali sedikit menegakkan kepalanya—sekalipun belum menjauh dari kepala Nesia. Kedua matanya terpejam. Ekspresinya terlihat penat dan begitu putus asa.

Putus asa.

Dan Nesia baru menyadari bahwa Lovino telah melepaskan kedua tangannya. Kini pemuda itu mencengkeram bahu Nesia dengan tangan yang satu, dan tangan yang lain mengepal erat di permukaan tembok di samping Nesia.

Mata itu terpejam erat, seolah-olah berusaha menahan perasaan apapun yang tengah ia rasakan. Begitu erat, seolah-olah ia ingin meyakinkan dirinya bahwa semua ini tengah mimpi dan ia akan terbangun suatu saat nanti.

Hanya satu yang terucap dari mulut dan rahang yang terkatup rapat itu.

Terucap lirih—terbisikkan pelan.

"It hurts."

Betapa menyedihkannya—Nesia bisa merasakan kesedihan itu dari dua kata yang barusan terucapkan oleh Lovino. Lirih, seolah ia ingin agar Nesia saja yang tahu. Tertekan, seolah ia ingin menyatakan kebenaran dan kejujuran tanpa niat untuk mereka-reka.

"It has always hurt."

Kepalan tangan itu semakin mengepal erat di sisi tembok di samping kepala Nesia. Kepala berhelai coklat itu menunduk dalam. Pegangannya di bahu Nesia semakin menguat. Bahu itu melemas, seolah menanggung beban tak kasat mata yang amat berat.

"Sejak awal, semua ini terasa menyakitkan…. Sejak awal dahulu."

Ia tampak hancur.

Nesia hanya terpaku. Ia hanya terdiam. Ia hanya merenung.

Ia bahkan belum sempat berbicara apapun ketika Lovino menjauhkan tubuhnya dari tubuh Nesia. Ketika pemuda itu tanpa berbicara apapun, memalingkan wajahnya—seolah menyembunyikan ekspresi apapun yang ada, dari pengetahuan Nesia. Melangkah pergi. Melangkah menjauh.

Tanpa berbicara apapun lagi.

Ataupun memberikan Nesia kesempatan untuk mengucapkan apapun lagi.

-oOo-

Aduh, saya bikin Lovi galau dan ngenes banget disini -_-v


Annesia: Ha-Halo semuanyaaa… hehee…

Arthur: *berdeham* H-Hai.

(keduanya tampak memasang ekspresi seolah-olah mereka baru pulang dari Bulan Madu)

Annesia: …um… apa kabar kalian semua? Ahaha… aku kangen sekali sudah lama tidak membalas review kalian. Maaf sekali, tetapi sebenarnya aku benar-benar ingin—

Arthur: Sudahlah jangan banyak omong. Boros waktu, tauk! Lebih baik segera balas review saja!

Annesia: *melirik sewot dan dongkol*

Arthur: *menghela napas* sepertinya 90 persen review adalah pernyataan ucapan selamat kepada kita berdua, Nes. Bagaimana kalau kita rangkum saja?

Annesia: *melihat tumpukan kertas review* Sebaiknya begitu. Lagipula ini sudah mencapai 8,5k words. Aku khawatir pembaca tidak kuat jika jumlah kata chapter ini makin panjang jika kita makin lama banyak bicara *menghela napas* padahal aku ingin membalasnya satu-satu…

Arthur: *manfaatin kesempatan dan menggenggam sebelah tangan Nesia* Mereka pasti mengerti… It's okay *berdeham, kembali fokus ke review reply* Intinya, kami mengucapkan terimakasih pada semua readers dan reviewers yang turut bersuka cita pada perkembangan hubungan kami. Kami sungguh merasa tersanjung *senyum tulus*

Annesia: Itu benar :D Terimakasih semuanya. Hm, oh ya, Senior, banyak yang bilang bahwa adegan kita di chapter kemarin itu romantis dan manis lho *nyengir kuda dan blushing*

Arthur: Yang mana yang romantis dan manis? *tsun-tsun dere-dere* That was cool, not cute.

Annesia: …tentu saja saat kau menyatakan bahwa kau mencintaiku di bawah hujan di chapter lalu. Itu romantis tauk! *ngotot banget* Dasar ga peka dengan perasaan perempuan.

Arthur: Oh… tapi aku bukan yang pertama. Kau duluan yang menyatakan perasaanmu padaku dengan menangis dan lari lebay memelukku dan mengatakan bahwa kau merindukanku. See? *gaya seringai seolah minta mulutnya dirobek*

Annesia: *berkacak pinggang* Tapi aku tidak datang jauh-jauh dari Bandara setelah perjalanan England-USA hanya untuk menemui seseorang yang dirindukannya!

Arthur: A-Apa kau bilang— *hela napas berat, blushing* Percuma bicara denganmu. Dan untuk menjawab pertanyaan beberapa reviewer soal aku dan confessing via baliho…. Hahahaha *ketawa, lantas wajah kembali datar* No.

Annesia: Kenapaaaaa…. *dengan nada manja dan ayun-ayunkan sebelah lengan Arthur* Itu romantis banget! Para fans pasti suka dan bayangkan berapa banyak orang yang akan ngasih review di chapter saat kau melakukan confessing itu!

Arthur: *memandang risih* Otakmu dimana? Kau mau kita jadian ga sampai setengah tahun gara-gara aku mati bunuh diri sehabis melakukan hal memalukan demikian?

Annesia: *merengut dan nggerundel* Dasar ga romantis… Coba kalau Antonio atau Willem yang jadi kekasihku, pasti adegan seperti itu ga mustahil untuk terwujud.

Arthur: *otomatis death glare to the max* Kau mau mati?

Annesia: Hehehe… a-anyway. Kita membutuhkan waktu 36 chapter untuk bisa bersama seperti ini. Hhh… kasihan sekali DIS, karena dia kemarin ngasih tahu tangan dan otaknya sering keriting gegara menulis dan memikirkan bagaimana caranya agar kita bersatu.

Arthur: I like to take things slow and you were just too oblivious to realize everything from the start no matter what I did to make you realized!

Annesia: *senyum manis, lantas memeluk erat sebelah lengan Arthur* But in the end, I chose you *pasang ekspresi dan suara cute*

Arthur: *tanpa aba-aba jiwanya sudah meroket muterin jagat raya* E-ehem! A-a-ada yang usul bahwa chapter kemarin dijadikan doujin, Nes… I like the idea. Tapi sulit mendapatkan artist yang bisa melakukannya.

Annesia: Hm… itu benar. Pasti menarik dan keren jika ada yang bisa membuatkannya untuk kita dan para fans yang lain.

Arthur: *mengangguk* Aku ingin lihat gambar yang menunjukkan bagaimana ekspresimu saat aku menciummu.

Annesia: Mesum! *lirik sangar* Tapi Senior, selain pernyataan bahagia untuk kita, readers juga menyampaikan rasa simpati kepada Lovino dan Senior Zwingli.

Arthur: Mereka berlebihan. All is fair in love and war.

Annesia: *menatap tak percaya* Bagaimana mungkin aku bisa mencintai pemuda sepertimu… Aku hanya berharap bahwa Lovino bisa mendapatkan yang jauh lebih baik dariku. Begitu pula dengan Senior Zwingli. Hm.. .coba saja DIS membuat plot dimana Senior Zwingli berkesempatan dansa denganku. Atau Lovino berkesempatan menyatakan perasaannya padaku. Mungkin cerita berubah dan aku bisa bersama dengan salah satu diantara mereka, Senior :D

Arthur: Dan coba sejak awal kau bukan salah satu chara di cerita ini, pasti aku akan dipasangkan dengan chara perempuan lain *terlanjur kelewat dongkol*

Annesia: *merengut* kau tidak harus bilang begitu… a-anyway, aku heran, kenapa kemarin banyak yang mengira bahwa cerita ini sudah tamat dan tidak akan ada lagi chapter depan. Padahal jelas bahwa masih bersambung.

Arthur: Cerita ini belum tamat, apalagi tuntutan rating cerita ini belum terpenuhi juga, 'kan? *menyeringai mesum*

Annesia: *blushing parah* rating M kan bu-bukan hanya untuk adegan 'itu' saja! Kata-kata kotor kan juga termasuk—fic ini sudah memenuhinya.

Arthur: Aww… Nes. Bayangkan berapa banyak readers yang hatinya terpatahkan jika kau menghancurkan harapan mereka.

Annesia: K-kau berlebihan, Senior.

Arthur: Berhentilah bersikap tsundere. Nih, Nes, salah seorang reviewer bertanya. Apakah kita akan melakukan'nya' dengan lembut atau kasar? Apakah dengan cinta atau napsu? Kau mau yang mana, Nes?

Annesia: *wajah udah merah dan seolah-olah siap meledak*

Arthur: *dalam hati ketawa setan melihat pacarnya blushing parah* jika melihat dari sikapmu yang menye-menye sekaligus menjengkelkan… *deketin telinga Nesia, lantas berbisik dalam* you like it rough first and gentle in the end... right?

Annesia: D-diam, Senior! *melotot dengan masih blushing* Kau—aku berharap kekasihku adalah Lovi atau Willem atau Antonio! Dasar Mesum! *teriak tsundere, lantas berbalik dan pergi dengan langkah cepat-cepat*

Arthur: … *melongo* Dia tahu aku hanya becanda, 'kan? *menyeringai nista* She's liking it. Isn't it obvious?

(somehow, entah gimana, tiba-tiba sebuah sepatu melayang dan nampar secara eksotis kepala Arthur)

?: JUST SHUT THE FUCKING HELL UP ALREADY, YOU GODDAMN BASTARDO! *khas teriakan orang yang hatinya remuk tak berbentuk*

. Well? :D Thanks and See you~

Jangan lupa, kalau sempat tengok fanart Annesia karya Wiwitaku, ya :)

Fiva La FHI

Dance 'Awesomely' In Storm