Kamu masih inget aku? Itu loh, yang kemarin nancapin bendera cinta di tanah hatimu~ #diusirpakedupa

Anyway, saya dapet 2 Fanart lagi nih! Iyey! Horeeee~~ Kali ini merupakan karya dari "mei anna aihina". Makasih banyak. Makasih banyak! :* Ini link-nya:

1) ht tp s: (doublegaring) w w w . facebook . kom (garing) photo. php? fbid (samde) 644121045648396&set (samde) a. 298477790212725. 69824. 100001515192413&type (samde) 1&relevant (undercross) count (samde) 1
2) ht tp s: (doublegaring) w w w. facebook. kom (garing) photo. php? fbid (samde) 644118695648631&set (samde) a. 298477790212725. 69824. 100001515192413&type (samde) 1&relevant (undercross) count (samde) 1

nb: garing (garis miring), samde (sama dengan), 'k' dari kom diganti 'c', spasi juga ilangin.

Gambarnya keren, sumpaaahhh Qaqaaaa~ intip deh!

Okay! Met Baca! Oh ya, prepare yourself for the upcoming surprise! XD Chapter ini penuh dengan UKNes!

-oOo-

"Jujur!"

"Oh, oke. Apakah saat liburan sekolah selanjutnya kau akan pulang ke Indonesia dan mengajakku?"

"Tidak karena kupikir aku tidak akan pulang ke Indonesia dulu."

Sementara sang gadis memberikan cengiran lebarnya, sang pemilik bola emerald menatap kesal ke arahnya. Namun si pemuda mengarahkan tangannya kembali ke bolpoin yang ada di meja di depannya, sembari menggumam, "Well, tak apa. Lagipula negerimu sangat panas, sumpek," ia menatap kekasihnya yang mulai memberikan death glare ke arahnya, "Plus, orang tuamu mungkin bisa kena syok berat saat tahu putrinya pulang dengan membawa pemuda tampan dan classy sepertiku."

Annesia Saraswati hanya mendecak kesal dan memutar bola matanya. Sedangkan Arthur Kirkland tertawa lirih, kemudian memutar bolpoin dan putaran itu terhenti dengan ujung bolpoin yang menghadap kembali ke arah Nesia. Pemuda itumenarik sebelah sudut bibirnya dan cukup dengan itu saja, Nesia menelan ludah dan tahu bahwa apapun yang akan dipilihnya, akan membawa petaka baginya.

"Jujur, Nes?" tanya Arthur, menyangga dagunya dengan sebelah tangannya.

Terlalu curiga dengan gelagat Arthur, maka Nesia segera menggeleng dan berkata, "Tantangan!" ia hanya takut jika pemuda itu bertanya sesuatu yang TIDAK MUNGKIN akan dijawab oleh Nesia.

"Oh, great!" Arthur tersenyum kecil ke arah Nesia—satu senyuman, bukan seringai, tertentu yang jarang diperlihatkannya, namun selalu sukses membuat paras Nesia memanas, "Kalau begitu, akhir pekan nanti berkunjunglah ke rumahku."

Nesia menyipitkan pandangannya, seolah hendak membaca apapun yang tengah ada di pikiran Arthur. Well, biasanya tantangan tidak akan sesimpel dan semudah itu 'kan?

Arthur mengendikkan bahu, "Jangan berpikir macam-macam. Aku hanya sedang malas keluar dan kebetulan pelayanku sedang pergi ke kota kecilnya. Intinya: aku butuh tukang masak."

Kampret!

"Kupikir murid tingkat akhir sepertimu perlu banyak waktu sendiri untuk belajar menghadapi ujian akhir kelulusan?" cibir Nesia.

"Tidak seperti kebanyakan orang, aku justru tidak bisa fokus jika suasana terlalu sepi dan sunyi," Arthur mengendikkan sebelah bahunya, tapi Nesia lebih tahu bahwa pemuda itu hanya memiliki harga diri kelewat tinggi untuk mengatakan yang sebenarnya.

Kini Nesia yang memegang bolpoin dan memutarnya. Beberapa saat kemudian, ujung bolpoin terhenti tepat mengarah ke Arthur.

Kini giliran sang gadis Melayu yang menyeringai.

"Tantangan!" ujar Arthur tanpa ragu. Well, pilihan yang sesuai dengan perkiraan Nesia mengingat Arthur yang sepertinya lebih memilih mati daripada mengatakan kejujuran yang melukai harga dirinya.

"Oh kuharap kau tak menyesal," Nesia turut menumpukan dagunya ke sebelah telapak tangannya, "Kau lihat di sana?"

Telunjuknya mengarah ke sisi lain dari kantin sekolah. Arthur mengikuti pandangan, dan tampak bahwa kemungkinan besar telunjuk Nesia mengarah pada sekumpulan murid laki-laki yang terduduk dan menikmati makan siang bersama.

"Kenapa dengan mereka?"

Nesia menyeringai lebar, lantas berkata, "Tantangan untukmu, Arthur Kirkland, adalah kau ke sana dan cium salah satu dari murid lelaki itu."

Arthur memandang Nesia dengan pandangan yang seolah ia tengah menimbangkan apakah ia harus segera menelpon rumah sakit jiwa terdekat atau tidak.

"Ayo! Lakukan! Gentlemen must complete their challenges!"

Hanya satu yang Arthur katakan setelah terdiam beberapa saat, "Kau mau mati sekarang, Saraswati?"

-oOo-

-oOo-

Axis Power Hetalia © Hidekaz Himaruya

Picture © Sakurazaka Ohime

I just own the plot of the story and I don't gain any commercial advantages by publishing this fic.

Warning: AU, Human Name, High School, OC, OoC yang mendewa, (highly possible) crack pairs, (a lil') Nesia-centric, but no Mary Sue/Gary Stu I assure you :D totally absurd.

Pairing: Anda bisa menebak sendiri mana yang main pairing, dan mana yang sekedar hints dan fans service :p

Ini murni dari pemikiran saya. Maaf jika kebetulan ada kesamaan ide karena setting gakuen sangat banyak di FHI. Itu tidak disengaja :D

Long Live FHI and Say NO to Plagiarism! Mari berkarya dengan hati dan imajinasi :D

Maju FHI!

-oOo-

Melangkah keluar dari kamarnya, Nesia menyapa Namh yang saat itu tengah berbaring di sofa sembari melihat TV yang tengah menampilkan acara talk show.

Mata Namh tiba-tiba berbinar dan ia seketika bangkit dari posisi berbaringnya untuk duduk saat Nesia menyatakan kemana ia akan pergi, "Kau akan pergi ke rumah Arthur, pacarmu?"

Perasaan heran itu tampak oleh pandangan dan nada suara Nesia saat menjawab, "…Well—"

"Kyaaaaa!" Namh memeluk bantal sofa dengan erat dan memejamkan mata. Kedua kakinya menghentak-hentak di lantai dengan gemas, "My sweet little baby has grown up! Aku sangat senang~"

"Namh—"

"Oke, oke!" Namh menghentikan 'jingkrak-jingkrak'nya dan kembali menatap Nesia dengan tatapan antusias dari kedua bola hitamnya, "Semoga berhasil, oke!"

Apanya?

Gadis berdarah Vietnam itu segera menyambar ponselnya yang tertaruh di meja di depannya dan segera jemarinya tampak sibuk dengan tombol-tombol ponsel, "Aku harus memberitahu Maria bahwa kau malam ini tidak pulang dan kami tidak boleh menelponmu!"

Nesia merasa makin tersesat bingung, "Hey, apa yang—aku akan pulang tentu saja," ujarnya, sekalipun belum mengerti apa yang terjadi pada gadis empat tahun lebih tua darinya itu, "Dan kau boleh menelponku jika ada apa-apa—"

"Sudah, sudah," Namh mengibas-kibaskan tangannya, seolah menyuruh Nesia untuk segera hengkang dari pandangan matanya, "Denial is the clincher, oke? Hush, hush!"

Masih memandang heran, Nesia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya lirih, masih belum paham akan apa yang terjadi pada lawan bicaranya. Mengapa tampak begitu gembira jika Nesia pergi ke rumah Arthur? Mungkin Namh akan mengundang kekasihnya kemari dan sekarang ia kelewat senang saat tahu bahwa Nesia dan Maria tidak ada di apartment saat nanti Namh dan kekasihnya hanya berdua.

Menghela napas, Nesia berbalik dan kembali melangkah menuju ke arah pintu. Sejujurnya ia malas untuk pergi keluar dan memilih untuk menikmati sore ini layaknya orang pengangguran yang tidak produktif: berbaring di kasur atau menonton TV saja. Tetapi Arthur beberapa kali mengiriminya pesan dan menantang Nesia untuk menepati janji yang ia buat saat mereka bermain permainan konyol itu.

Well, lagipula toh ia hanya akan datang dan memasakkan makan malam saja. Apa yang harus ditakuti?

Menutup pintu depan, gadis itu urung melanjutkan langkah saat pandangannya terarah pada pintu yang berada tepat di sebelah pintu apartment-nya. Pintu dengan warna yang sama dengan miliknya. Tampak tertutup rapat. Pintu apartment milik Lovino Vargas—setidaknya, sampai tiga minggu yang lalu.

Pandangan gadis itu berubah sendu tatkala ia menyadari bahwa apartment itu tidak lagi berpenghuni. Ya, Lovino telah pindah kediaman, dan Nesia dengar dari Feliciano, pemuda itu kembali ke mansion keluarga Vargas. Berkumpul bersama dengan sang adik dan Ayah, bersama dengan keluarganya. Tentu, Nesia senang mendengarnya karena tak peduli seberapa kali dahulu Lovino menyangkal dan bersikap tak acuh pada keluarganya, namun Nesia tahu bahwa pemuda itu menyayangi mereka.

Tapi di saat yang sama, semenjak kepergian sahabatnya, rasanya ada yang berbeda tiap kali Nesia melewati lorong ini untuk menuju ke apartment-nya. Berbagai bayangan masa lalu saat Lovino masih ada di sana, berseliweran di otaknya. Sering kali ia tak bisa menahan matanya untuk tidak menatap pintu itu saat melewati lorong, atau balkon tetangganya itu ketika Nesia berdiri di balkon kamarnya sendiri. Saat pulang sekolah dan tidak bersama Arthur, rasanya perjalanan bertambah lama dan sepi karena ia harus sendiri.

Untuk alasan mengapa Lovino pindah, Nesia tidak sepenuhnya tahu. Toh ia dan Lovino sekarang jarang bersapa. Entah bagaimana Perang Dingin sepihak ini terjadi dan apa alasannya. Namun tiap memikirkannya, maka ingatan Nesia kembali ke peristiwa malam itu. Saat Lovino mengatakan beberapa kalimat yang ia tak tahu apa artinya. Saat Lovino tampak memberikan pandangan marah dan kecewa.

Saat Nesia mampu melihat jelas rasa sakit dan luka yang ada di kedua mata pemuda tersebut.

Apakah gara-gara itu? Tetapi, ada apa dan mengapa?

Nesia menghela napas dan mengalihkan tatapannya dari pintu apartment yang kosong tersebut. Tak peduli seberapa ia berpikir ia tidak mampu menjawab. Ia tidak mengerti. Pada akhirnya ia hanya selalu berkeyakinan bahwa Lovino tengah mendapat masalah dan butuh waktu untuk sendiri dan memikirkan semua.

Dan Nesia, sebagai sahabatnya, akan menghargai hal tersebut.

Gadis itu kembali melangkah dan menuju ke arah lift yang ada di persimpangan lorong sana. Memasuki lift yang terbuka, ia berpikir bahwa datang ke rumah Arthur bisa juga bermanfaat baginya. Pemuda itu senantiasa bisa saja mengalihkan pikiran Nesia dari hal-hal yang menganggunya, meskipun kebanyakan dilakukan pemuda itu dengan cara mengganggu dan membuat Nesia kesal padanya.

"Si sialan itu…," gumam Nesia sembari mendengus menahan tawa.

Begitu sampai di lantai dasar, gadis yang memakai jeans dan blus merah berangkap sweater abu-abu itu kembali melangkah, melintasi lobi dan halaman yang luas, untuk kemudian berdiri di samping jalan untuk menunggu taksi. Ia menghela napas dan merutuki Arthur kembali. Dimana-mana, tidakkah laki-laki SEHARUSNYA menjemput kekasihnya?

"Ah maaf, aku sedang memotong dahan pohon yang tumbang di belakang—kau tahu, no butlers right now," alasan yang bodoh dan konyol. Nesia tidak bisa menahan untuk memutar bola mata saat mengingatnya.

Pemikiran Nesia terusik ketika ia mendengar bunyi dentinan dari jarak yang dekat. Ia mengalihkan pandang ke sumber suara, dan ia dapati bahwa bunyi dentinan itu berasal dari motor Antonio Carriedo yang baru saja berhenti di depannya.

"Butuh tumpangan?" Antonio tersenyum setelah melepas helmetnya.

"Well, jok motormu sudah dipesan oleh orang lain, sih," Nesia memandang geli.

Antonio tertawa, "Kau benar. Aku akan menemui Bella."

Nesia tampak terkejut, "Oh, perkembangan baru? Sekarang kau memanggilnya tanpa embel-embel 'Senior'?"

Antonio tampak tersipu. Kentara dari kedua pipinya yang tampak sedikit bersemu, "Well, kau juga memanggil Senior Arthur tanpa embel-embel 'Senior'."

"Itu karena aku dan dia sudah bersama," jawab Nesia, tatapannya berubah menyelidik, "Apa ini artinya kau dan Senior Bella sudah bersama juga? Jika ya, aku jadi orang yang paling senang mendengarnya!"

Antonio menggeleng lirih, "Belum, tetapi kecenderungannya akan ke sana," jelasnya antusias, "Kami sangat dekat," lantas emeraldnya menatap penampilan Nesia, "Kau akan pergi kencan dengan Senior Arthur?"

"Tidak juga," jelas Nesia, merasa ragu juga akan jawabannya sendiri. Well, karena 'kencan' dalam hubungannya dengan Arthur lebih banyak diisi oleh debat, pertengkaran, hinaan, daripada hal-hal romantis yang Nesia yakin ada pada hubungan antara Antonio dan Bella.

"Kau harus segera pergi," ujar Antonio, "Habiskan sebanyak waktumu dengannya sebelum dia lulus dan pergi ke universitas," Antonio mendekatkan kepalanya ke telinga Nesia dan berbisik, "Aku tahu, pemuda seperti Senior Arthur pasti menjadi incaran gadis-gadis saat ia kuliah nanti."

Antonio kemudian berpamitan untuk pergi dan Nesia menatap punggungnya yang semakin menjauh. Memikirkan ucapan Antonio yang barusan didengarnya, untuk kemudian ia mendengus.

"Dunia pasti mendekati kiamat jika itu beneran terjadi."

Gumamannya terhenti ketika dari sudut matanya ia melihat benda berwarna kuning-oranye yang mendekat ke arahnya. Saat taksi itu berhenti di depannya, ia melangkah dan memasukinya.

"Mana ada cewek gila yang mau berpacaran dengan orang yang menolak menjemput kekasihnya dengan alasan bahwa ia tengah memotong dahan?" omelnya setelah terduduk di kursi dan taksi kembali melaju, "Ah, ya. Akulah cewek gila itu."

-oOo-

Hal yang paling konyol didapatkan oleh Nesia ketika ia sampai di rumah Arthur dan melihat bahwa pemuda itu berada di samping rumah. Tampak memanjat turun dari atas sebuah pohon tua yang berdiri kokoh dan rindang di sana. Satu gergaji mesin ada di dekat akar pohon yang menjulang di atas tanah. Dua buah dahan besar tergeletak di tanah, tampak baru terpotong.

Intinya: Ya, dia benar-benar sedang, atau baru saja selesai, memotong dahan pohon di rumahnya.

"Hei!" sapa Arthur ketika ia menapaki tanah dan menyadari bahwa ia tidak lagi sendirian. Dilihatnya Nesia yang baru saja memasuki gerbang rumahnya, dan kini tampak berdiri mematung menatapnya.

"K-kau benar-benar memotong dahan…," gumam Nesia seolah pada dirinya sendiri. Arthur, seorang pemuda elit, berkelas, dan tak bisa berpergian barang 1 km tanpa mobilnya, MAMPU memanjat pohon dan memotong dahan?

Mulanya tampak heran, namun kemudian Arthur memandang curiga, "Kau pikir aku membohongimu?"

Nesia hendak melontarkan suatu kalimat dari mulutnya sebelum niatnya itu terhenti saat ia menyadari sesuatu.

Arthur berdiri di depan sana hanya dengan celana jeans yang ujungnya ia gulung hingga di atas mata kaki. Hanya itu. Tanpa sendal. Dan tentu saja, tanpa kain apapun untuk menutup badan atasnya yang jelas Nesia lihat menampakkan titik keringat dan beberapa serpihan daun kecil yang menempel di sana.

Bresh! Rasanya tanpa melihat kacapun, Nesia tahu warna wajahnya pasti tengah menyaingi salah satu warna bendera bangsanya.

"A-A-Aku—" gadis itu dalam hati mengutuk dirinya sendiri yang mudah sekali dibaca layaknya sebuah buku, "Aku menaruh ini di dapurmu," ia sedikit mengangkat satu karton belanjaan berisi bahan makanan yang baru tadi ia beli.

Ia segera memalingkan muka dan tanpa menunggu respon Arthur, segera melangkah memasuki rumah dari kekasihnya yang kini memandang heran ke arahnya.

Tampak terheran, sebelum pemuda itu menyadari apa yang membuat gadisnya berperilaku demikian. Otomatis, semburat merah dari wajah Nesia seolah tertinggal dan kini menular ke wajah Arthur sendiri. Namun terlepas dari itu, sebuah seringai tipis ada di bibirnya.

Sedangkan Nesia, entah bagaimana, telah mampu menemukan jalan ke dapur Arthur dan sampai di sana. Ia segera meletakkan karton ke meja terdekat, lantas menghela napas besar dan menempelkan kedua telapak tangan ke kedua pipinya. Ia bisa merasakan betapa hangat wajahnya terasa.

Tak henti-hentinya ia merutuki dirinya sendiri yang bereaksi demikian lebay hanya karena melihat Arthur topless. Kembali ia terbayang apa yang dilihatnya tadi, dan otomatis ia rasakan debaran jantungnya seolah menggila di balik tulang rusuknya. Karena…

Karena bagaimanapun Nesia mau menyangkal hingga mati, tetapi tadi Arthur tampak demikian seksi, topless, berkeringat, tampak kelelahan—sangat seksi.

Merasa bahwa dirinya akan bertambah semakin mesum jika hanya bengong dan kembali mengingat hal nista itu, Nesia menghela napas dan menatap karton yang ada di depannya. Ia melirik ke arah jendela dapur dan dilihatnya hari semakin menuju ke arah petang. Lebih baik ia harus segera memasak.

Namun baru saja tangannya mengarah ke karton untuk mengambil buah yang hendak ia cuci, suara langkah kaki yang mendekat terdengar olehnya. Otomatis kepalanya menoleh ke sumber suara, dan ia dapati Arthur yang melangkah menuju dapur.

Bersama dengan wajahnya yang kembali merona, Nesia menyipitkan mata dan segera berbalik menuju ke arah wastafel.

"Kau akan memasak apa?" tanya Arthur, yang Nesia sangat sesali, kini berdiri cukup dekat di samping Nesia dan menatap buah yang sedang dicuci gadis tersebut, "Kau dulu pernah bilang kau bisa memasak beberapa masakan khas negerimu? Aku ingin mencoba."

Nesia merasa bahwa dirinya bisa gila jika ia terus-terusan mampu mendengar suara detak jantungnya yang bagai bunyi genderang, "B-Bisakah kau sedikit menjauh?" tanpa sadar Nesia menandakan perasaan gugupnya, "Aku perlu mencuci buah."

"Kenapa?" sahut Arthur terdengar heran, "Lagipula apa satu buah itu sebegitu kotor hingga kau menghabiskan waktu bermenit-menit?"

Damn him.

Menaruh buah di salah satu mangkuk yang ada, Nesia berbalik dan mengeluarkan bahan-bahan lain. Sekarang, daripada tersipu dan gugup, ia menjadi jengkel, "Maksudku, lihat. Kau pergilah dan mandi. Kau kotor sekali."

"Dan kau suka melihatku kotor begini," tanpa melihatpun, Nesia bisa membayangkan Arthur menyeringai padanya, "Wajahmu semerah apel itu, tahu?"

Seolah membenarkan tuduhan Arthur, Nesia tanpa sadar menempelkan kedua telapak tangannya ke kedua pipinya seakan ingin membuktikan ucapan kekasihnya. Saat ia mendengar suara tawa tertahan, ia tanpa sadar menoleh dan memberikan Arthur death glare terbaik yang bisa diberikannya di saat itu.

"Apanya yang lucu?" hardik Nesia kesal.

"Kau, tersipu," Arthur memandangnya geli, "Lagipula, kupikir sejak sekarang kau perlu membiasakan diri. Suatu saat nanti kau juga akan melihat lebih dari ini—"

Arthur tak sempat menuntaskan ucapannya saat sebuah wortel terlempar tepat ke arah dahinya, "Hei," pemuda itu mengguman protes dan mengelus dahinya, sedangkan objek protesannya tampak semakin menyipitkan pandangan ke arahnya.

Sang gadis menghela napas, memutar bola mata dan berpura-pura tampak lelah berdebat dengan kekasihnya. Sekalipun apa yang dirasakannya justru sebaliknya—kehadiran dan ucapan Arthur sama sekali tak membantu usahanya untuk menenangkan detakan jantungnya.

"Berhenti bicara nonsense, Arthur," maki Nesia kesal. Sebelah tangannya sudah menggenggam satu buah kentang dan siap ia lontarkan ke kepala pirang itu jika pemuda itu berani menggodanya lagi, "Pergilah jika kau benar-benar ingin makan malam."

"Oke, oke! Wow, kau benar-benar bar-bar," ujar Arthur, yang segera melangkah menghindar ketika melihat tangan Nesia yang menggenggam kentang semakin terangkat. Pemuda itu hanya mendengus geli, dan melangkah sembari berkata, "Jika perlu bantuan bilang saja, oke? Kau tahu, aku bisa memasakkanmu scone atau apa."

Di belakang punggung Arthur, Nesia memasang ekspresi seolah-olah ia ingin muntah.

Arthur benar-benar membuatnya kesal, dari dulu hingga sekarang. Bedanya, mungkin sekarang Nesia tanpa sadar suka jika dibuat pemuda itu kesal dan marah.

-oOo-

Makan malam romantis yang sewajarnya ada pada pasangan pada umumnya, tidak tampak sama sekali ketika waktu makan malam saat itu bagi Nesia terasa bagai 'makan malam sembari mendengar kuliah Arthur mengenai table manner'. Jadilah Nesia sama sekali tidak bisa menikmati makanan yang ia buat sendiri dengan tenang karena Arthur seperti nenek-nenek nyinyir yang mengomentari setiap tindakannya di meja makan. Berkali-kali Nesia merasa heran mengapa ia bisa bersama dengan orang tersebut.

Setelah ia dan Arthur bersama-sama mencuci perabotan makan dan masak, ia sudah berniat untuk segera pulang. Lagipula hari sudah cukup larut dan ia merasa lumayan lelah. Ia sudah memakai mantelnya ketika ia melangkah menuju ke kamar Arthur yang pintunya tampak terbuka. Setelah sampai di ambang pintu, ucapannya untuk berpamitan pada Arthur urung terucap tatkala ia melihat pemuda itu tampak termenung di tepi ranjangnya. Satu tumpukan tipis kertas putih tampak terpegang oleh kedua tangannya dan menjadi objek pandangan matanya. Tatapan pemuda itu yang tampak termenung bercampur ragu, membuat nurani kepo Nesia muncul ke permukaan.

"Hei," ujarnya pelan, membuat Arthur mendongak dan menatapnya, "Ini sudah malam, kupikir aku harus pulang."

Arthur melirik jam digital di meja di samping tempat tidurnya, "Masih pukul sembilan."

Nesia menyipitkan pandangan, "Di Indonesia, aku bisa dipancung Ayah jika pulang lebih dari jam delapan dari rumah laki-laki," omelnya, lantas mengarahkan pandangan ke kertas Arthur, "Ngomong-ngomong, itu apa?"

Sejenak Arthur kembali menatap kertas di tangannya, untuk kemudian menatap gadis di ambang pintu kamarnya, "Oh….," sedikit mengangkat tangan kanan yang memegang kertas, "Ini dari Oxford."

Kentara sekali kekasihnya tampak tertegun. Nesia terdiam sejanak, sebelum sebuah senyum lebar ia berikan bersama dengan suaranya yang terdengar, "Kau akan liburan ke Inggris? Kenapa tidak mengajakku?"

Arthur mendengus dan memandang geli, "Oxford University—kau tahu itulah maksudku."

Hanya sepersekian detik binar itu menghilang dari kedua bola hitamnya dan lengkungan itu pudar. Namun hanya sejenak, hingga mungkin Arthur tidak akan menyadarinya, "Oh, benarkah?" tanya Nesia yang tanpa sadar melangkah mendekati Arthur. Ia menunduk dan menatap ke arah kertas yang terpegang pemuda tersebut.

Logo terkenal Oxford University ada di kedua pojok atas dari kertas yang sepertinya merupakan surat.

"Itu…,"entah mengapa Nesia merasa sulit untuk mencari kata yang tepat terucap, "Kau ingin melanjutkan pendidikanmu di sana? Inggris?"

Entah bagaimana dengan Arthur, namun Nesia merasa bahwa ia tidak menyukai suasana yang tiba-tiba terasa canggung dan kaku ini. Arthur belum memberi respon dan Nesia seolah kehilangan kemampuan untuk menatap kedua mata kekasihnya untuk mendapat jawaban.

Suasana sunyi itu berlangsung untuk beberapa saat, sebelum suara lirih Arthur menjawab pertanyaan yang menggantung beberapa saat, "Lebih tepatnya, ini adalah surat penerimaan yang baru kudapat beberapa saat yang lalu," terdiam sejenak, "Aku akan kuliah di sana."

Harusnya itu kabar yang membahagiakan dan membagakan. Tetapi Nesia justru merasakan seketika ada yang terjatuh ke dasar perutnya.

Berat.

Bukan hal yang aneh sejujurnya. Arthur adalah pemuda yang pandai dan aktif dalam bidang akademis atau non-akademis. Lagipula, ia adalah warga Inggris. Jadi, tak heran jika ia ingin kuliah di negara asalnya dan diterima oleh salah satu universitas tersohor tersebut.

Tetapi entah mengapa dalam dada ini terasa penuh dan sesak.

"Hei, kenapa diam?" pegangan Arthur di lengannya menyentakkan Nesia dari pemikirannya. Gadis itu menunduk, dan menatap kedua emerald yang balik menatapnya.

Sebuah senyum kecil yang memiliki jutaan makna, tersemat di bibir si pemuda beralis tebal.

"Kau seharusnya tidak terkejut. Bukankah saat kita menang lomba debat dulu, aku sudah mengatakanmu bahwa aku akan meneruskan pendidikanku di Inggris?"

Senyum yang ada di bibir Nesia kentara sekali tampak canggung dan terpaksa, "Oh, ya? Aku lupa," ia mendudukkan diri di samping Arthur, lantas merebut kertas-kertas yang di pegang pemuda tersebut.

Benar-benar surat penerimaan dan dokumen-dokumen terkait yang menyertainya.

"Kau sudah mengkonfirmasi ke pihak Oxford?" tanya Nesia, sembari masih menatap surat tersebut, "M-mungkin mereka salah memilihmu? Atau sebenarnya ini adalah Arthur Kirkland yang lain?"

Arthur merebut surat tersebut. Kedua emeraldnya tampak sedikit memelototi Nesia, "Tentu saja ini untukku. Kau lihat, alamat yang tertulis di sini adalah alamat rumah ini," Arthur memandang surat tersebut, dan dari pandangan matanya, Nesia dapat melihat jelas kebanggaan yang ada di sana, "Aku susah payah mengikuti seleksi awal ini, tahu? Karena biaya kuliahnya akan lebih murah—bagaimanapun aku tidak ingin terlalu membebani kedua orang tuaku."

Kebanggaan itu jelas tampak di mata itu, di nada suara itu. Seolah Oxford adalah mimpi terbesarnya, yang kini telah ia genggam setelah ia bersusah payah. Namun Nesia tak heran juga, bagaimanapun Arthur pantas untuk mendapatkannya. Arthur yang merupakan pribadi yang penuh dengan ambisi, pantas untuk mendapatkannya.

Sepertinya tak akan ada lagi yang bisa mencegahnya untuk meraih cita-citanya—tak ada yang patut dan seharusnya mencegahnya.

Seketika Nesia tahu perasaan apa yang tengah dirasakannya: takut.

"T-tapi…," ia mengambil napas dan memandang Arthur, "Kenapa di Inggris? Di Amerika ada Harvard, kau tahu?"

Mungkin yang ingin ditanyakannya adalah: kenapa ia harus pergi demikian jauh?

Nesia sadar pula, seseorang yang pergi jauh darinya adalah hal yang paling tak ia inginkan. Seseorang yang dekat dengannya. Seseorang yang begitu berarti baginya. Ini bukan hal yang pertama kali dan justru karena itulah semua terasa menyakitkan saat ini. Dahulu, ia juga mendapatkan hal ini. Saat Willem harus pergi saat Nesia baru saja merangkai mimpi. Saat pemuda itu harus kembali ke Belanda, jauh, jauh, darinya saat gadis itu tengah di tengah-tengah puncak rasa bahagia bersamanya.

Willem tak pernah kembali lagi padanya.

Dan sekarang itu hal tersebut akan terulang lagi padanya.

"Nesia…," Arthur menatap Nesia, namun apapun yang ia hendak ucapkan urung ia lontarkan.

"Inggris itu jauh," pada akhirnya Nesia menyuarakan apa yang ia pikir dan ia rasakan. Ia bahkan tak sadar jika suaranya mulai terdengar sedikit serak, "Dan aku belum tentu mampu menyusulmu ke sana."

Karena seperti Arthur, dia hanya gadis bar-bar yang bodoh. Ia tidak sepandai Arthur. Ia tak seaktif dalam berorganisasi seperti Arthur.

"D-Dan…,"

Ia hanya ingin mengatakan bahwa Arthur akan melupakannya.

Itu saja.

Namun ia tak memiliki kesempatan untuk mengucapkan itu ketika mulutnya terbungkam saat bibir Arthur menempel pada bibirnya. Awalnya merasa terkejut, namun perlahan Nesia menutup kedua matanya saat Arthur melumat lembut dan sejenak bibirnya.

"Please, don't," bisik Arthur ketika ia menyudahi ciuman itu dan membuat jarak tipis antara kedua bibir mereka. Dahi dan ujung hidung mereka menempel, napas saling bertubruk dan menerpa wajah lawan masing-masing, "Jangan buat aku semakin merasa sedih saat seharusnya aku sekarang merasa bahagia."

Menurunkan pandangan, Nesia seolah tidak memiliki nyali untuk balik menatap dua emerald yang memandang lekat ke arahnya.

"T-tapi kau—"

Kembali pagutan singkat itu ia rasakan. Kali ini kedua telapak Arthur berada di kedua sisi kepalanya dan menangkup dua pipinya. Terasa lembut dan hangat baginya.

"Bukan hanya kau," ujar Arthur saat ia kembali memutus ciuman singkat itu, "Aku juga merasakan apa yang kau rasakan. Aku juga takut, kau tahu?" satu senyuman kecil terulum oleh si pemuda, "Bagaimanapun bar-barnya dirimu, aku tahu bahwa bukan hanya aku saja yang tertarik padamu."

Saat Nesia tak merespon perkataan maupun candaan darinya, senyuman Arthur luntur. Dan kini, pandangannya kembali berubah seserius nada yang ia gunakan saat ia berucap selanjutnya.

"Aku tak akan melupakanmu," ucap Arthur, yang membuat kedua mata Nesia sontak menatapnya, "Kita bahagia dengan satu sama lain, tetapi kita juga memiliki hidup yang perlu kita perjuangkan," ia sedikit menekan lembut kedua telapak tangannya di kedua sisi kepala dan pipi Nesia, "Aku berjanji, aku akan memperthankan keduanya."

Gadis itu tampak seolah-olah ia mengalami amnesia terhadap seluruh kosakata yang selama ini diketahui olehnya.

"Asal kau juga melakukan hal yang sama untukku, tentu saja."

Arthur menempelkan bibirnya ke bibir kekasihnya, dan bersama dengan itu, ia bisikkan satu kalimat yang seingat Nesia hanya sekitar dua kali Arthur pernah ucapkan untuknya, "Karena aku mencintaimu."

Di saat itu juga, Nesia merasa seolah ada air hangat yang mengguyur tubuhnya dari dalam.

Hangat, dan nyaman.

"Aku juga mencintaimu," balas Nesia berbisik di bibir Arthur.

Dan Arthur menjawabnya dengan kembali mencium bibirnya. Sedikit ia tekan bibirnya ke bibir Nesia, untuk kemudian menggigit pelan bibir bawah kekasihnya. Seolah seketika paham, Nesia sedikit membuka mulutnya dan di detik itu juga, Arthur menggunakan lidahnya untuk mengeksplor rongga mulut Nesia. Bergumul dengan lidah yang lebih kecil darinya, menyatukan saliva, menyapu rahang dan gigi dari sang darah Melayu.

Ciuman yang semula inosen dan polos itu berlanjut ke tahap yang lebih tinggi saat Arthur semakin menekan kedua sisi kepala Nesia dan semakin memiringkan kepala pirangnya. Ia cium lebih dalam, lebih keras, hingga Nesia bisa mendengar bunyi decapan yang seolah bagai bunyi meriam di rumah yang sepi saat itu.

Arthur mengakhiri ciuman itu tepat di saat Nesia merasakan paru-parunya meledak akibat defisit oksigen. Satu benang saliva tipis menghubungkan dua mulut mereka yang terengah dengan bibir yang merona dan tampak sedikit bengkak. Dua wajah memerah yang saling bertemu dalam jarak yang begitu dekat, napas panas yang saling menerpa wajah yang lain.

"Aku akan menunggumu," bisik Arthur lirih dan terengah, "Kau, datanglah ke Inggris. Aku akan menunggumu."

Dan Arthur kembali menciumnya sebelum Nesia sempat merespon. Namun kali ini, sedikit berbeda. Pemuda itu tidak hanya kembali melahap wajah kekasihnya, namun sebelah tangannya melepaskan sisi kepala Nesia untuk kemudian menyentuh lengan gadis itu dan sedikit mendorongnya hingga tubuh kekasihnya terjatuh berbaring di ranjang yang semula mereka duduki.

Sedangkan Nesia sepertinya tidak menyadari bahwa ia kini tidak lagi terduduk. Mungkin ia juga tidak menyadari bahwa Arthur telah menelungkup di atas tubuhnya di ranjang yang terasa semakin menghangat tersebut. Pemikiran gadis itu hanya sibuk dengan Arthur. Ciuman pemuda itu. Aroma teh bercampur laut yang memenuhi indra penciumannya. Dan detak jantungnya sendiri yang menggila. Bahkan gadis itu juga tidak sadar jika beberapa saat kemudian ia mengangkat kedua lengannya untuk kemudian ia lingkarkan di kedua bahu lebar dan leher dari kekasihnya. Satu tangan mencengkeram helai-helai bagian belakang kepala Arthur, sedangkan tangan yang lain mencengkeram erat kemeja biru gelap yang dipakai pemuda tersebut.

"Nnnhhh…," tanpa sengaja suara lenguhan itu lolos dari mulutnya yang bahkan masih tereksplor oleh Arthur. Gadis itu tak tahu, hanya saja ia merasa sangat nyaman. Di saat yang sama, ia merasa antusias dan sungguh menikmati apa yang tengah mereka lakukan.

"Dengarkan, aku, cinta," bisik Arthur saat melepaskan mulut Nesia, untuk kemudian ia arahkan bibirnya pada telinga gadis itu. Ia gigit pelan, lantas ia jilat seolah meminta maaf atas perilakunya.

Kembali, Nesia mengerang lirih. Jantungnya berdetak demikian keras hingga ia takut ia akan mati jika organ itu bekerja demikian cepat.

"T-tiap kau rindu," Arthur sepertinya juga tengah dalam keadaan yang sama, hanya saja ia tengah menahan keras apapun yang tengah ia rasakan. Hal itu tampak dari suaranya yang tertahan dan berkali-kali ludah itu tertelan paksa olehnya. Kembali ia mencium dan menjilat kecil kulit belakang telinga kekasihnya, sebelum berbisik, "Ingat—lah b-bahwa aku bersamamu."

"Arthur…," bisik Nesia sembari memeluk lebih erat pemuda itu, membuat tubuh yang lebih besar darinya itu jatuh menindihi tubuhnya dengan erat.

Bisa ia rasakan bahwa jantung pemuda itu juga berdetak demikian keras dan cepat.

Kini Arthur mengarahkan perhatian bibirnya ke arah rahang Nesia. Ia cium dengan lembut dan hati-hati, "Dan i-ingatlah…"

Nesia merasa tubuhnya mengalami keanehan. Sangat aneh dan tak pernah ia rasakan sebelumnya. Ia tidak tahu apa. Ia merasa antusias, bahagia, namun juga takut dan cemas.

Tangan Arthur tak lagi terdiam. Tangan kiri mengelus-elus pelan lengan kanan gadisnya, sedangkan tangan yang kanan sibuk menyapu pelan dan lembut pundak kiri Nesia yang sedikit terekspos karena blusnya yang sedikit melorot.

"Saat kau s-sedih," Arthur kembali berujar, yang mana kini perhatiannya teralih pada leher kekasihnya. Ia kecup, ia gigit sedemikian rupa hingga menimbulkan bercak merah di leher putih kekuningan tersebut, "Ingatlah bahwa aku berpanas untukmu."

"Ah-Arth—" tanpa sadar Nesia mendongakkan kepalanya, memberi akses lebih pada mulut kekasihnya untuk mengulangi tindakannya.

Arthur mencium dan hisap bercak merah itu, seolah meminta maaf. Lantas ia kembali membuat noda yang sama di bagian lain di leher, lantas ia cium dan hisap lagi. Ia buat lagi, ia hisap dan cium lagi. Demikian seterusnya, hingga membuat sang gadis sedikit menggeliat di bawah tubuhnya dan membenamkan jemarinya pada helai-helai pirang miliknya. Sedangkan sebelah tangan Nesia mencengkeram erat seprai putih tersebut, membuat ranjang yang semula rapih, kini tampak tak tertata.

Arthur semakin menciuminya, membuat leher Nesia menampakkan beberapa bercak merah yang menjadi pertanda bahwa gadis itu miliknya—hanya dia. Dan begitu banyak, karena Arthur memastikan bahwa nantinya gadis itu tidak akan bisa menutupinya, bahkan dengan syal sekalipun!

Kembali lenguhan yang kesekian kalinya itu lolos dari mulut Nesia bersama dengan satu kakinya yang sedikit menendang udara kosong di ujung ranjang, tatkala ia merasa terkejut saat merasakan sentuhan yang semula ia rasakan di lehernya, kini berpindah ke pundaknya. Entah sejak kapan Arthur membuka dua kancing teratas dari blus Nesia, karena kini Nesia merasakan hawa dingin AC pada daerah sekitar pundaknya.

Namun anehnya, di dalam dirinya, ia sama sekali tidak merasa kedinginan.

"Satu lagi," ucap Arthur sembari menghirup aroma kekasihnya di lipatan antara leher dan pundaknya. Tangan kirinya mengelus-elus pinggang Nesia, sedangkan tangan kanannya menyelipkan jemarinya ke jemari dari tangan kiri kekasihnya.

Terselip erat, terselip rapat, seolah menjadi pertanda bahwa apapun yang terjadi, mereka akan senantiasa bersama.

"Arthur…," desah Nesia, merasa lemah, payah, dan basah oleh keringat yang membanjiri tubuhnya, "Arthur…"

Dan ia tidak melihat, bagaimana ada binar di emerald itu tiap kali Nesia mengucapkan namanya di saat itu.

Hanya nama Arthur.

Seolah berterima kasih, pemuda itu kembali menunduk, lantas menggigit kecil dan mengecup pundak kanan sangat kekasih. Menjadikan daerah itu menampakkan keadaan yang sama dengan leher sang gadis Melayu.

Setelahnya, Arthur mengarahkan kepalanya tepat di atas wajah Nesia. Dahi saling bertemu, hidung saling menyatu. Dan ketika mata Nesia balik memandangnya dengan mata yang sedikit berair dan tatapan yang sayu, pemuda itu membisikkan satu kalimat lain, "D-Dan saat ada pe-pemuda lain yang mendekatimu dan membuatmu bimbang," pemuda itu menelan ludah, lantas mengelus pipi kiri Nesia, "I-Ingatlah, cinta, bahwa aku menunggumu. Selalu menunggumu."

Dan kesimpulan dari semuanya diberikan Arthur melalui kecupan lembutnya pada bibir Nesia.

"Aku akan ingat," jawab Nesia lirih, dan membalas pagutan kekasihnya, "Aku akan ingat. Kau bersamaku, kau bernapas untukku, dan kau menungguku."

Nesia memeluk semakin erat tubuh pemuda itu dengan lingkaran kedua lengan rampingnya.

"Aku akan mengingatnya."

Arthur tersenyum—satu senyum yang langka dan sangat tak biasa bagi pemuda sinis seperti dirinya. Satu senyum yang membuat wajah Nesia selalu memerah tiap melihatnya, saat gadis itu menyadari paras tampan dari pemuda yang selama ini ia pikir menjadi orang paling buruk rupa sedunia.

Pemuda itu bergerak turun dari atas tubuh kekasihnya, lantas berbaring di sebelah Nesia dan memeluk gadis itu dengan erat dari samping.

Ia dekatkan kepala pirangnya ke kepala berhelai legam itu, "Tinggallah di sini malam ini," ujar Arthur, mengeratkan lingkaran tangannya pada pinggang kekasihnya, dan mengaitkan sebelah kakinya pada kedua kaki gadis yang sama—seolah-olah Nesiaadalah guling atau boneka yang biasa ia peluk saat ia melepas lelah.

Tentu saja ini adalah pengalaman baru bagi Nesia. Menginap di rumah seorang laki-laki—bahkan itu tak pernah terpikirkan olehnya sebelumnya. Jika ia berada di situasi selain saat itu, mungkin ia akan menendang selangkangan Arthur atau apa.

Tetapi saat ini, gadis itu hanya merasa dadanya penuh oleh rasa nyaman. Oleh kehangatan. Oleh ketenangan.

Oleh kebahagiaan.

"Mm," maka itulah yang menjadi jawabannya saat ia menyelipkan jemarinya ke jemari tangan kiri Arthur, lantas memejamkan kedua matanya.

Mungkin ia akan mengalami hal serupa: ditinggal pergi oleh orang yang begitu ia cintai. Pergi jauh—jauh darinya. Seperti saat ia bersama Willem dahulu.

Namun untuk kali ini, Nesia yakin bahwa ia akan mendapatkan akhir yang sama sekali berbeda.

Jauh lebih bahagia.

Happy ending, hanya untuknya.

.

.

.

"Hei, aku ingin bertanya padamu, Arthur."

"Hm?"

"Apakah kau penelpon misterius yang dulu sering menelpon H-Radio saat aku siaran? Well, Senior Alfred memberitahuku—"

"D-Darimana idiot itu—aku tidak tahu apa yang kau bicarakan. Sudahlah, aku mengantuk."

"?"

-oOo-

NO! Ini belum tamat. Dan NO! Nesia masih perawan! Arthur kan gentleman dan menghargai keinginan Nesia untuk nikah dalam keadaan suci lololol #apasih

Gimana suasana UKNes-nya? Semoga chapter ini mampu melegakan sedikit dahaga dan tuntutan pembaca akan adegan rate-M. Of course adegan di atas itu rate-M! #siaplemparparang. Tapi tenang aja, semua belum berakhir muehehehe #aduhmesum. Ayo, yang merasa selama ini rikues atau nanyain UKNes dan rate-M, wajib review! Kalau kagak, saya panggilin Suarez buat gigit pundak ente lho X3

Saya buktiin bahwa fic ini ga bakal discon! Hiatus mungkin, tapi discon? Hell no! Jadi, jangan kebakaran jenggot merindukan fic ini dan saya ya :* Ngapain nyari saya jauh2, kan saya ada di hatimu~

Oke, well, udahan. Thanks so much untuk yang udah review, alert, favorite, ngebaca doang, nge-stalking akun saya, nge-PM-in saya, dan menelpon saya bilang saya awesome dan mau kencan ama saya #yangterakhirhanyalahdelusi

Salam akukudupiye,

Dis.

Ps: ada yang mau bikinin doujin atau fanart lageh?