Saya update lagi hore. Oh ya, sekarang tanggal 3 Agustus 2014 jam 11.13 pm. Berarti beberapa jam lagi ada yang mulai masuk sekolah lagi/kuliah ya? Selamat yuah! #sunbathing di pantai sambil pake kacamata #libur masih satu minggu lagi
Enjoy!
Mantel berwarna coklat muda itu adalah barang terakhir yang ia masukkan dalam salah satu dari tiga koper besar tersebut. Dua koper telah terisi dengan beberapa benda, yang mana kebanyakan adalah pakaian dan aksesorisnya. Belum menangkat saja, ia sudah tahu bahwa ketiga koper itu pasti terasa berat. Belum lagi dengan beberapa box besar yang sudah terisi oleh barang-barang dan keperluannya yang lain, yang untungnya, box-box tersebut cukup diangkut dengan jasa pengiriman udara saja.
Ia menghela napas dan menatap ke sekelilingnya, mencari-cari benda apa yang kira-kira belum ia kemasi. Kamarnya tampak kosong melompong, hanya terdapat ranjang beserta kasur dan bantal, lemari, bed desk, serta meja belajar dan kursi. Meski demikian, ia hanya ingin memastikan bahwa ia tidak meninggalkan satu barangpun yang ia perlukan atau ia inginkan. Karena wajar saja, Inggris-Amerika 'kan jaraknya jauh. Tidak mungkin ia dengan mudah mengambil barangnya lagi ke sini jika ada yang tertinggal.
Setelah yakin bahwa semua keperluannya sudah ia simpan dalam koper atau box, ia bangkit menuju ke arah jendela kamar yang terbuka. Korden yang biasa menutupinya telah ia simpan di dalam salah satu box yang tertumpuk di sudut kamarnya.
Begitu ia sampai di tepi jendela kamar, seketika ia bisa merasakan hawa sejuk angin musim dingin menerpa wajahnya. Kedua telapak tangannya menggenggam tepian bawah jendela. Kepalanya mendongak, menjadikan langit kelabu tanpa salju menjadi objek utama tatapan matanya.
Ia tersenyum kecil dan merasa hatinya hangat dan jantungnya berdebar, tatkala di kanvas kelabu di atas sana itu, ia seolah bisa melihat wajah seseorang. Seorang pemuda dengan rambut pirang pasirnya. Dengan emerald cerahnya. Dengan alis tebalnya. Dan dengan seringai menjengkelkan yang hanya dia yang punya.
"Tunggu aku, Arthur," bisik Annesia, seolah pada angin yang berhembus, "Tunggu aku."
-oOo-
-oOo-
Axis Power Hetalia © Hidekaz Himaruya
Picture © Sakurazaka Ohime
I just own the plot of the story and I don't gain any commercial advantages by publishing this fic.
Warning: AU, Human Name, High School, OC, OoC yang mendewa, (highly possible) crack pairs, (a lil') Nesia-centric, but no Mary Sue/Gary Stu I assure you :D totally absurd.
Pairing: Anda bisa menebak sendiri mana yang main pairing, dan mana yang sekedar hints dan fans service :p
Ini murni dari pemikiran saya. Maaf jika kebetulan ada kesamaan ide karena setting gakuen sangat banyak di FHI. Itu tidak disengaja :D
Long Live FHI and Say NO to Plagiarism! Mari berkarya dengan hati dan imajinasi :D
Maju FHI!
-oOo-
Ibu, Ayah, dan adiknya sudah menunggunya di ruang depan saat Nesia turun dari tangga. Maria duduk bersama dengan mereka di sofa, sedangkan Namh sudah pindah dari apartemen ini sejak dua bulan sebelumnya. Gadis itu telah lulus kuliah, dan kini bekerja di sebuah kantor di kota lain.
Keluarga Nesia tiba di Brooklyn dua hari sebelumnya. Seingatnya, ini adalah ketiga kalinya mereka kesini sejak tiga tahun gadis itu menempuh pendidikan menengah atasnya di Hetalia High. Sejak dua hari yang lalu, keluarga Nesia menginap di apartemen putri mereka agar mereka bisa mengantarkan gadis itu ke Inggris untuk melanjutkan pendidikannya di sana.
Ya, dia sudah lulus sejak dua bulan lalu. Antara sedih dan bahagia juga. Sedih, karena bagaimanapun Green Brooklyn dan Hetalia High telah menjadi bagian dari hidupnya sejak tiga tahun silam. Banyak hal yang terjadi yang membuat kepergian ini terasa menyakitkan baginya. Sekolah, teman-teman, guru, Namh, Maria—bahkan ia akan rindu quiche yang biasa dibelinya di kafe terdekat apartemennya.
Namun ia sadar, ini adalah jalan yang bagaimanapun juga, harus ia hadapi dan ambil. Hidupnya harus berjalan, cita-citanya masih menanti. Ia memang harus berpisah dengan teman-temannya untuk mengejar harapan masing-masing. Tetapi kenangan yang ia miliki bersama mereka akan selalu ada mengikutinya kemanapun ia pergi.
Antonio memasuki universitas yang sama dengan Bella di kota lain. Sudah sejak sebulan yang lalu Nesia membantu pemuda itu membenahi dan menemaninya mengangkut barang-barangnya ke kediaman barunya bersama dengan Senior Bella. Mereka menyewa di salah satu apartemen sederhana dekat dengan kampus. Nesia masih ingat, betapa ia merasa turut bahagia saat melihat Senior Bella membantu meletakkan barang-barang Antonio ke kamar baru mereka. Mereka tampak bahagia, dan bisa dengan jelas Nesia lihat, tampak tengah sedang begitu jatuh cinta. Well, Antonio pemuda yang baik. Dia pantas bahagia seperti sekarang.
Sedangkan Lovino diterima di salah satu universitas swasta di kota lain pula. Nesia sudah tidak tahu banyak lagi mengenai pemuda itu. Selain karena hubungan mereka yang sudah merenggang, juga karena pemuda itu yang sudah tidak tinggal di apartemennya sejak lebih dari setahun sebelumnya. Lovino masih tidak menyapanya, bahkan sepertinya sudah tidak mempedulikannya. Meski perang dingin sepihak ini sudah berjalan lama, namun tetap saja tiap memikirkannya kembali, Nesia merasakan sakit dan rasa kehilangan yang tak terkira di hatinya.
Bagaimanapun, Lovino adalah salah satu orang yang paling berharga baginya di hidupnya.
Namun terlepas dari rasa sedih dan kehilangan yang ia rasakan, namun kepergiannya ke Inggris di saat yang sama juga menghardikan rasa bahagia dan antusias bagi Nesia. Pertama, adalah karena dia kuliah di Brookes University, salah satu universitas yang cukup prestisius di sana. Meski keinginannya untuk kuliah di Oxford atau Cambridge tidak kesampaian, namun Nesia cukup puas dengan Brookes University. Terbayar sudah usaha keras dan doanya selama ini. Mengingat ia sadar bahwa dirinya tidak terlalu pintar, maka ia belajar siang dan malam untuk mampu diterima kuliah di sana.
Kedua, rasa bahagia dan antusiasnya tentu saja dikarenakan karena dia. Pemuda sinis, jutek, pengidap berat superiority complex akut tersebut. Mantan ketua OSIS Hetalia High dengan table manner dan gentleman-ism fetish miliknya itu. Arthur Kirkland. Kekasihnya.
Sudah setahun lebih pemuda itu berada di Inggris dan selama itu pula, Nesia tidak pernah melihat dan berbicara langsung dengannya tanpa harus melalui video ataupun telepon yang terjadi hanya beberapa kali saja sebulan. Maklum, Arthur pasti tengah sibuk dengan kehidupan kuliahnya dan Nesia juga sibuk dengan persiapan kelulusannya yang penuh dengan try out, les, pelajaran tambahan, dan sebagainya. Pemuda yang lama sekali tidak bisa ia peluk, tidak bisa ia genggam tangannya—setidaknya tidak di mimpi-mimpinya.
Dia juga yang menjadi salah satu alasan Nesia untuk melanjutkan pendidikan di negeri Pangeran William tersebut. Pemuda itu berjanji akan menjemputnya di Heathrow setibanya gadis itu disana nanti.
Rasanya Nesia tidak sabar untuk kembali melihat wajahnya. Memeluknya. Berbicara dengannya. Bahkan gadis itu rindu bertengkar dan disindir oleh pemuda itu.
"Maaf lama," ujar gadis itu sembari membenahi syalnya dan mengancing mantel merah hatinya. Ia menghampiri kedua orang tuanya dan Maria yang langsung menoleh ke arahnya.
"Apa yang membuatnya lama?" tanya sang Ibu menatap heran ke putrinya, "Pesawatmu berangkat satu jam lagi lho. Belum lagi perjalanan dari sini ke bandara 'kan lama." Seperti biasa, Ibu selalu saja mengkhawatirkan sesuatu secara berlebihan. Tapi Nesia tahu, itu tanda Beliau sangat peduli dan menyayanginya.
"Mbak dari dulu lemot," sang adik memakai bahasa Indonesia, sembari menjulurkan lidahnya, menghiraukan pelototan singkat dari Kakaknya ke arahnya.
"Aku hanya ingin sedikit lebih lama menikmati saat-saat terakhirku di kamarku," ujar Nesia, menghampiri mereka dengan tas tangan dan koper kecil yang dibawanya.
"Dasar kau ini," Maria tersenyum kecil.
Ayah menghela napas sembari menggeleng-gelengkan pelan kepalanya, "Sebaiknya kita cepat berangkat sekarang. Mungkin temanmu juga sudah menunggu di bandara."
Pasti yang dimaksud adalah Antonio dan Bella.
Beberapa saat kemudian mereka sudah berada di depan halaman apartemen. Maria membantu Nesia dan Ayahnya memasukkan dua koper gadis itu. Adik Nesia sedikit menggerutu karena hawa dingin salju, segera masuk ke dalam taksi.
"Well," Nesia menghela napas ketika telah memasukkan seluruh kopernya ke bagasi taksi. Ia menghadap ke arah Maria dan tersenyum kecil, "Kupikir, sekarang saatnya mengucapkan selamat tinggal?"
"Sampai jumpa," koreksi Maria, membalas senyum kecil Nesia, "Rasanya baru kemarin aku mengenalmu dan membantumu memindahkan barang-barang ke apartemen kita."
Nesia tertawa lirih, namun jelas ia rasakan rasa berat perpisahan ini di hatinya. Bagaimanapun Maria sudah seperti Kakak tertuanya, bahkan ibunya, di negeri orang ini. Selalu peduli dan selalu menjaganya.
"Terimakasih, Maria, atas semua bantuanmu pada Nesia selama ini," ujar Ibu, menggenggam kedua tangan Maria dan tersenyum, "Seperti cerita Nesia, kau adalah gadis yang sangat baik."
"Oh, terimakasih," ujar Maria, "Aku sudah menganggapnya seperti adikku sendiri."
"Terimakasih, Maria," Ayah ikut bersuara, "Kami meminta maaf jika Nesia pernah berbuat salah padamu."
Maria tertawa ringan, "Percayalah, putri Anda adalah gadis yang sangat baik," ia melirik Nesia, "Sekalipun terkadang keras kepala."
Nesia cemberut, "Hei!"
"Oh, ayolah! Kapan kita pergi?" teriak sang adik dari dalam taksi.
Ibu dan Ayah berpamitan pada Maria. Sang Ibu bahkan memeluk gadis itu dan sekali lagi mengucapkan terimakasih. Ketika kedua orang tuanya sudah berada di dalam taksi, Nesia masih mendiamkan diri di luar dan berhadapan dengan Maria.
"Sampai jumpa," ucap Nesia, sembari memeluk erat Maria. Erat. Ia bisa merasakan rasa ini—berat sekali meninggalkan seseorang yang selama ini menjadi salah satu yang terdekat denganmu. Apalagi ke tempat yang jauh.
"Oke," Maria balas memeluk, "Belajar yang rajin, oke? Maaf aku tidak bisa mengantarkanmu ke Bandara. Andai saja kerja shift pagi ini tidak kudapatkan…"
"Tak ada," Nesia menggeleng lirih, "Kita nanti saling e-mail dan telepon, oke?"
"Hm. Aku akan menunggu email atau telepon darimu yang mengabarkan pernikahanmu dengan Arthur."
Nesia memukul pelan pundak Maria dan melepaskan pelukannya. Namun gadis itu tertawa kecil, "Urusi saja dulu dirimu."
Sekali lagi mengucapkan salam perpisahan, Nesia memasuki taksi dan terduduk di samping sang adik yang berada antara dirinya dan Ibu. Menutup pintu taksi, untuk kemudian menurunkan jendelanya, Nesia berucap sedikit keras pada Maria, "Sampai jumpa, jaga dirimu baik-baik."
"Kau juga!"
Perlahan taksi itu mulai meluncur, namun Nesia tidak melepaskan pandangannya dari Maria, lantas ke gedung apartemen Green Brooklyn. Seiring taksi itu bergerak, semakin terlihat kecil Maria dan gedung ini. Dan seiring itu pula, semakin menjadi kenangan di otak Nesia mereka semua.
Rasanya mata Nesia perlahan mulai memanas.
"Aku tidak akan melupakan kalian semua," ucap Nesia lirih, memandang Maria dan gedung itu yang semakin mengecil, lantas menghilang di balik gedung yang lain.
-oOo-
Rasa sedih dan berat yang Nesia rasakan sementara terlupakan dan terganti oleh rasa terkejut saat ia sudah berada di bandara, dikarenakan dua hal. Pertama, sudah ada teman-temannya yang menunggu-nya di dekat ruang tunggu. Dan kedua, ketika melihat bahwa salah satu dari teman-teman yang menunggunya adalah Lovino Vargas, yang terduduk di samping Antonio yang tampak berdiri melambai ke Nesia, tepat di samping Bella.
Antonio segera memeluk erat Nesia begitu gadis itu sampai di dekatnya bersama dengan keluarganya.
"Aku tak percaya akan datang hari di mana aku harus berpisah denganmu, Nes," bisik pemuda itu.
Nesia hanya tersenyum kecil, sembari balas memeluk Antonio. Namun sejak awal, fokus pikiran dan sebagian besar pandangannya tertuju pada Lovino. Pemuda itu telah turut berdiri di samping Antonio, memandang ke arah Nesia dengan dua alisnya yang sedikit menurun.
Dan kembali, Nesia melihat sorot luka di kedua mata itu.
Gadis itu tiba-tiba merasakan rasa berat, sedih, dan kehilangan yang begitu dalam ketika kini ia berada di antara kedua sahabatnya. Dua pemuda yang sejak awal keberadaannya di Hetalia High, mengisi sebagian besar cerita hidupnya. Senantiasa bersamanya. Dua sahabat yang sangat ia sayangi dan pastinya, akan sangat ia rindukan nantinya.
"Aku juga tidak," ucap Nesia pelan dengan suara sedikit serak.
Ia juga tidak menyangka hari ini akan datang, secepat ini, sekalipun waktu tiga tahun telah terlewati.
Nesia melepaskan pelukan Antonio, lantas menatap pemuda itu sembari tersenyum lebar, "Hei, te-tetapi kita masih bisa terus berkirim email, 'kan?"
"Ah, tentu!" ucap Antonio riang, lantas kembali memeluk Nesia, "Jika sempat, saat liburan datanglah kemari, oke?"
Nesia melepas pelukan Antonio, "Kau juga."
"Sejak beberapa hari sebelumnya dia sudah sangat sedih dengan keberangkatanmu ini, Nes," Bella bersuara, setelah sebelumnya bersapa dan mengobrol singkat dengan Ayah dan Ibu Nesia. Sedangkan adik Nesia terduduk di kursi, tampak lelah hanya dengan perjalanan dari apartemen ke bandara.
"Senior," Nesia beralih memeluk Bella, "Aku juga akan merindukanmu."
"Aku juga. Karena kau tahu, Antonio pasti akan sangat kehilanganmu."
"Kau ingat saat pertama kali kita bertemu, Nes?" tanya Antonio, mengembalikan perhatian Nesia pada keluarganya yang tampak terduduk tak jauh dari mereka. Mungkin kedua orang tua Nesia mengerti, dan memberi privasi bagi putrinya untuk berbincang dengan teman-temannya.
"Ah, tentu," Nesia tertawa lirih, "Kita dikira berpacaran dan hampir berciuman. Sampai sekarang aku merasa konyol. Kau ingat saat membawaku ke festival yang diadakan para imigran Jepang?"
"Ah, yang aku kehilanganmu itu?"
"Ah, yang itu," Bella turut bersuara, "Aku bertemu dengan Antonio waktu itu. Dan aku bisa lihat dia sangat khawatir seperti orang kebakaran jenggot saat kau terpisah dengannya, Nes."
Beberapa saat dihabiskan oleh mereka dengan berbagi cerita. Berbagi kenangan bersama-sama. Tertawa, menyindir, merasa konyol, malu, dan sebagainya. Beberapa kali Antonio berusaha melibatkan Lovino, namun pemuda itu sedari tadi hanya diam saja dan berpura-pura sibuk dengan ponselnya.
Membuat Nesia semakin canggung, sekaligus sakit, karena melihat sikap Lovi yang masih terhadapnya.
Antonio berhenti tertawa tatkala menyadari pandangan Nesia yang mengarah ke arah Lovi. Pemuda berkebangsaan Spanyol itu menyendukan tatapan matanya, lantas mengarahkan kepalanya ke telinga Nesia dan berbisik.
"Aku memberitahunya keberangkatanmu dan memaksanya ikut kesini," ujar Antonio, "Aku tidak tahu apa yang terjadi antara kalian, tapi kupikir setidaknya dia harus mengucapkan sampai jumpa padamu."
Nesia sedikit menyendukan pandangannya.
Sedikit lebih dalam rasa sakit itu bertambah saat menyadari bahwa Lovino hadir di sini, hanya karena paksaan dari Antonio. Pemuda itu belum benar-benar mau melihat dan berbicara pada Nesia, sepertinya.
Antonio sekali lagi memeluk Nesia dengan erat, "Aku merindukanmu. Aku serius, aku akan merindukanmu."
"Aku juga, Antonio," balas Nesia, membalas rengkuhan pemuda itu.
Beberapa saat kemudian, setelah mengucapkan beberapa kalimat lagi, Bella dan Antonio melangkah pergi. Nesia memandangi keduanya. Terutama ke arah Antonio. Sahabatnya yang baik. Pemuda yang sempat menjadi cinta pertamanya di Amerika Serikat ini. Pemuda yang kini telah ia anggap seperti saudara, begitu dekat dan ia merasa sangat kehilangan dirinya.
Nesia menghela napas dan berpikir apakah di universitasnya yang baru, ia bisa mendapatkan sebaik Antonio?
Saat tubuh Antonio dan Bella menghilang saat berbalik menuju ke lobi bandara sana, barulah Nesia menyadari bahwa Antonio pergi hanya dengan Bella. Dalam artian, Lovino masih ada bersamanya.
Ia menoleh, dan seketika mendapati Lovino menatap ke arahnya.
"Lovino…," Nesia tidak tahu apa yang harus ia katakan mengingat sudah hampir setahun lebih mereka seolah menjadi dua orang asing terhadap satu sama lain, "Terimakasih sudah datang ke sini," gadis itu tersenyum canggung.
Lovino terdiam, masih menatapnya. Dua alisnya menurun, dengan dua matanya yang sedikit menyipit. Bibirnya melengkung ke bawah. Pemuda itu tampak sangat muram.
Dan entah kenapa, terlihat demikian terluka.
"Maaf aku tidak memberitahumu sebelumnya," ucap Nesia, tertawa lirih untuk meredakan kecanggungannya, "Tetapi," Nesia menelan ludah, lantas tersenyum tulus kepada sahabatnya, "Aku senang kau datang kemari."
Lovino semakin menyipitkan mata, lantas menarik napas dalam-dalam.
"Kenapa kau harus pergi?"
Nesia tertegun.
Dari semua kalimat yang Nesia pikir akan diucapkan si pemuda, ia tidak pernah menyangka jika pertanyaan itulah yang akan diucapkan Lovino untuk pertama kalinya padanya di bandara ini—sekaligus pertanyaan yang didapatkan Nesia dari pemuda yang seingatnya terakhir kali berbicara padanya adalah lebih dari dua bulan yang lalu.
Apalagi mendengar suara yang terdengar tertekan itu. Sarat akan luka dan getir yang juga ditampakkan baik oleh kedua mata coklat mudanya.
"Aku diterima di Brookes," jawab Nesia, menjawab wajar dan menatap heran ke arah Lovino.
Dalam hati gadis itu tidak habis pikir, apa yang sebenarnya terjadi pada pemuda itu. Setelah setahun lebih memberikan perilaku dingin dan tak acuh, kenapa kini pemuda itu tiba-tiba memberikan pandangan terluka itu lagi padanya? Kenapa suaranya sarat oleh kesedihan?
"Kenapa di Brookes?"
"Aku….," ucapan Nesia terhenti saat ia tenggelam oleh rasa herannya. Ia tidak mengerti, namun sekaligus ia tidak ingin Lovino memasang wajah seperti itu di saat ini. Di saat dimana gadis itu akan pergi ke tempat jauh—ke lain benua dari sahabatnya itu. Ia ingin meninggalkan Amerika Serikat dengan kenangan yang indah, bukan dengan teka-teki dari Lovino yang senantiasa memberikan pandangan terluka demikian.
Benar kata Antonio, setidaknya Nesia harus mendapatkan ucapan sampai jumpa dari pemuda itu.
Setidaknya gadis itu harus memastikan bahwa mereka masih berteman.
"Di saat aku ingin melupakan semuanya…," Lovino masih menatap Nesia dalam saat menggumamkan kalimat itu, "Di saat aku ingin menerima semuanya, kau pergi seperti ini?"
"Aku tidak mengerti," tak bisa Nesia tahan ucapan itu. Tak bisa lagi ia sembunyikan kebingungan dan keheranan yang sudah setahun lebih ia simpan, terhadap pemuda itu, "Kenapa kau berbicara demikian? Melupakan apa? Menerima apa?"
"Aku ingin bersamamu," jawab Lovino tegas dan cepat, tanpa mengalihkan perhatiannya pada Nesia, "Aku tidak ingin kau pergi."
Kembali Nesia tertegun.
Semakin tertegun saat melihat pemuda itu tampak semakin terluka dan kecewa. Kedua rahangnya terkatup. Dua tangannya mengepal. Matanya semakin menyipit saat sudah tampak ada setitik air di sana.
"Jangan pergi," bisik pemuda itu dalam dengan suara yang mulai terdengar serak.
Kini tidak hanya lagi rasa bingung dan heran yang membungkam pikiran dan mulut Nesia. Ada rasa sedih yang amat dalam, yang kini juga menenggelamkan hatinya. Melihat Lovino begitu terluka, melihat pemuda itu tampak hampir meneteskan air mata…
Melihat pemuda itu memandangnya penuh permohonan.
Mendengar pemuda itu mengiba dan memohonnya untuk tetap tinggal.
"Nesia, sepuluh menit lagi pesawatmu berangkat," itu adalah suara Ayah dari tempat duduk beberapa jauh dari Nesia dan Lovino berdiri.
Nesia mendengarnya, namun ia tidak menoleh atau merespon Ayahnya. Sekarang yang menjadi pusat perhatian dan pikirannya hanyalah Lovino. Hanya pemuda itu.
Tanpa terasa, Nesia sudah duluan meneteskan airmata—entah kapan, gadis itu tidak sadar. Tahu-tahu ia merasa pipinya telah basah dan pandangannya buram.
Tahu-tahu ia merasa hatinya begitu sedih dan rasa kehilangan ini kembali datang.
"Lovi—"
Lovino kembali menarik tangannya, untuk kemudian ia tubrukkan gadis itu dengan tubuhnya. Kedua lengannya segera melingkar di sekeliling tubuh Nesia. Mendekap erat. Begitu erat, seolah kembali melarang Nesia untuk pergi, kali ini dengan bahasa tubuhnya. Kepala berhelai coklatnya ia sandarkan di pundak gadis itu.
Dan Nesia membalas pelukan itu dengan sama eratnya. Kedua lengannya melingkar di sekitar leher sahabatnya. Mendekap erat, sedikit berjinjit untuk menyeimbangkan tubuhnya dengan tubuh Lovi yang jauh lebih tinggi darinya.
Gadis itu kembali meneteskan air mata, namun tetap menahan isaknya.
"A-Aku akan sangat merindukanmu, Lovi," bisik Nesia, memperkuat cengkeramannya di mantel bagian leher pemuda itu, "Kau adalah—"
"Diam," bisik Lovino dalam dan tertahan. Suaranya terdengar serak, "Kau akan pergi sepuluh menit lagi," pemuda itu mengeratkan pelukannya, "Diam, dan biarkan aku memelukmu untuk tujuh menit lagi."
Meski terheran, namun gadis itu menurut.
Mereka berpelukan. Berdiri, dengan mendekap erat satu sama lain. Orang-orang lalu lalang di sekitar mereka, tapi tidak ada yang peduli. Detik demi detik berjalan, tapi Lovino belum melonggarkan barang sedikitpun kukungan kedua lengannya di tubuh itu. Tidak peduli pada orang lain. Bahkan persetan pada keluarga Nesia yang memandang heran ke arah mereka berdua yang masih berpelukan dengan begitu erat.
Hingga akhirnya, setelah Ibu Nesia kembali memanggil nama putrinya dan mengingatkan keberangkatan pesawatnya, barulah Lovino menarik diri.
Pemuda itu menjauhkan diri satu langkah dari Nesia, sembari menundukkan kepalanya. Membuat sebagian wajahnya tertutupi oleh helai depan rambutnya.
Namun Nesia bisa lihat jelas bahwa kedua pipi itu tampak sedikit basah.
"Pergilah," ujar Lovi tanpa mengangkat wajahnya.
"Lovi—"
"Dammit! Pergilah, kau tidak tahu pesawatmu berangkat dua menit lagi?"
Nesia menggigit bibir bawahnya dan menatap sedih ke arah sahabatnya.
"Aku akan sangat merindukanmu, Lovino," ucap Nesia dengan tulus.
Lovino terdiam, namun pemuda itu kembali bersuara, "Aku harus segera pergi jadi—" tampak sedikit ragu dan bimbang, namun akhirnya ia kembali berucap.
"Sampai jumpa."
Dan Lovino segera berbalik dan melangkah tanpa memberi kesempatan bagi Nesia untuk merespon. Tanpa memberi kesempatan bagi gadis itu untuk melihat wajahnya. Tanpa mengucapkan apa-apa lagi.
Namun itu cukup bagi Nesia.
Hanya mendengar kalimat terakhir dari Lovino itu saja, sudah melegakan hatinya. Membuatnya tenang. Membuatnya yakin bahwa semua akan baik-baik saja.
'Sampai jumpa'. Tidakkah itu berarti mereka masih berteman? Itu berarti Lovino tidak membencinya—Lovino memaafkan kesalahan apapun yang pernah Nesia perbuat terhadapnya.
Gadis itu tersenyum kecil sembari menatap punggung berbalut mantel hitam Lovino yang semakin menjauh. Pemuda itu adalah sahabat terdekatnya. Salah satu teman pertamanya di sekolah. Pemuda yang selalu membantunya dan selalu ada untuknya dan mengerti dirinya di negeri ini. Lebih dari siapapun, bahkan Antonio, Maria, ataupun Namh.
Oleh sebab itu, dari semua orang, Lovino adalah alasan terbesar yang membuat dirinya merasakan perasaan kehilangan ketika harus pergi dari AS ini.
"Sampai jumpa, Lovino."
-oOo-
Mendudukkan diri di kursinya dalam pesawat, Nesia menyandarkan punggung dan kepalanya di sandaran kursi, kemudian menghela napas lega. Kursi sebelahnya masih kosong, sedangkan Ayah, Ibu, dan adiknya tampak telah terduduk di dua deret di depannya. Ya, nomor kursi yang didapatkannya memang berbeda dan terpisah dari dua keluarganya. Ini karena Senior Alfred. Pemuda itu meminta maaf karena tidak bisa mengantar kepergian Nesia, dan sebagai permintaan maaf katanya, pemuda itu menawarkan diri untuk membelikan tiket bagi Nesia. Meski Nesia bersihkeras bahwa ia bisa membelinya sendiri, tetapi pemuda itu dengan anehnya mengotot bahwa dia bisa membantu Nesia.
"Aku adalah hero. Dan hero akan selalu membantu temannya, apalagi jika aku berbuat salah!" tentu saja, 'salah' di sini maksudnya adalah tidak bisa mengantarkan Nesia ke bandara.
Childish dan aneh, tetapi itulah Senior Alfred. Oleh sebab itu, Nesia putuskan untuk mengalah dan menerima bantuannya.
Nesia tersenyum ketika mengingat itu. Teringat akan Alfred, mau tak mau pikiran Nesia teringat pula pada semua hal selama tiga tahun ini. Semua peristiwa, semua orang yang berada di dekatnya. Semua hal yang akan ia rindukan nantinya. Antonio, Lovino, Maria, Namh, Lily, dan semuanya.
Alasan mengapa Lovino bersikap seperti tadi, mengapa pemuda itu tampak demikian marah malam itu, dan mengapa pemuda itu menjauhi dan tak acuh pada Nesia selama setahun belakangan ini, Nesia tetap tidak mengerti. Namun gadis itu rasanya sudah tidak perlu memikirkan lagi. Lovino tidak membencinya dan masih ingin berjumpa dengan suatu saat nanti. Itu sudah cukup.
Biarlah semua rahasia pemuda itu tersimpan tanpa pernah diketahui oleh Nesia.
"I see. Seseorang tampaknya tengah begitu bahagia saat ini."
Senyuman Nesia luntur tatkala mendengar suara tepat di sebelahnya. Ia menoleh, dan seketika mendapati seseorang baru saja menduduki kursi sebelahnya yang semula kosong. Seorang lelaki, memakai mantel tebal berwarna biru tua dan syal hitam. Sebuah kacamata hitam menutupi kedua matanya. Tetapi seketika Nesia bisa mengenali laki-laki itu dari tiga hal: 1) rambut pirang pasir itu, 2) alis yang lumayan tebal yang tak tertutupi kacamata itu, dan 3) nada sinis dan jutek yang digunakan dalam kalimat laki-laki itu barusan.
Nesia terhenyak dan tampak demikian terkejut. Matanya melebar dan mulutnya sedikit membuka.
Laki-laki ini….
"Arthur?"
"Aa," jawab Arthur santai, sembari melepas kacamatanya dan menaruhnya di saku dalam mantelnya.
Nesia semakin terhenyak tatkala dugaannya ternyata benar.
"B-B-Bagaimana bisa—" saking terkejutnya gadis itu hingga tergagap demikian, "Maksudku, apa yang kau lakukan di sini?"
Arthur melirik Nesia dengan tatapan kesal, "Itukah caramu menyambut kedatangan kekasihmu yang tidak kau jumpai setahun lebih?"
Nesia tidak menjawab dan masih tampak seperti ikan yang terjerat kail. Tampak kesulitan berpikir atau berbicara.
Habisnya, siapa sangka…
Tanpa berkata apa-apa lagi, menghiraukan semua keterkejutan dan keheranannya, gadis itu segera melempar tubuhnya dan memeluk dengan erat pemuda itu. Erat, sangat erat, bagaikan Arthur adalah boneka kesayangannya yang telah lama hilang darinya. Kepalanya ia sandarkan pada satu lengan pemuda itu.
Seketika Nesia merasakan rindu yang menyeruak begitu dalam dan hebat. Rasa rindu yang selama ini pendam selama setahun lebih. Menginginkan perjumpaan dan pelukan seperti ini. Setahun lebih yang dilewatinya cukup puas hanya dengan e-mail, telepon, atau video yang sesekali saja terjadi. Rasa rindu yang hadir, yang terkadang diiringi dengan rasa takut, cemas, dan sedih.
Semua perasaan itu kini menyeruak jadi satu dalam hentakan yang kuat—sangat kuat hingga Nesia rasa dadanya penuh. Hingga ia tidak kuasa lagi menahan matanya untuk tidak mengeluarkan air.
Ia sangat rindu. Rindu pada pemuda ini. Rindu pada pemuda brengsek dan menjengkelkan ini.
Rindu pada Arthur Kirkland-nya.
Arthur hanya tersenyum kecil, lantas melingkarkan kedua tangannya ke sekeliling tubuh Nesia. Membuat gadis itu semakin erat memeluk tubuhnya, sekaligus membuat gadis itu merasa hangat dan nyaman tatkala tangan Arthur melingkari dirinya. Tatkala ia kembali merasakan kehangatan dan aroma pemuda itu yang sudah lama sekali tak ia rasakan lagi.
"Aku merindukanmu," bisik Nesia, mempekuat genggamannya pada kain mantel bagian pinggang dari Arthur yang masih ia peluk erat.
"Aku juga," balas Arthur, meletakkan sebelah pipinya ke atas kepala Nesia yang masih bersandar pada lengannya.
"Se-sejak kapan kau di sini?" tanya Nesia di sela isaknya, "Kau bilang kau a-akan menjemputku di Heathrow?"
"Aku bohong," jawab Arthur santai, membuat Nesia terheran mendengarnya, "Aku ingin mengejutkanmu dan mengantarmu sampai ke London."
"Kau tidak ada kuliah?"
"Kosong selama seminggu ke depan, karena penerimaan mahasiswa baru."
Isak tangis Nesia terhenti saat ia menyadari sesuatu. Ia mendongak, tanpa melepaskan pelukannya pada Arthur.
"Tunggu. B-Bagaimana kau bisa dapat tiket pesawat ini?" gadis itu memandang bingung Arthur melalui kedua matanya yang masih buram karena air mata, "Padahal aku baru memberitahumu aku naik pesawat apa, hari apa, dan jam berapa kan baru kemarin."
Dan tentunya, tiket pesawat pasti sudah habis jika Arthur membelinya baru hari kemarin.
"Ah, ya," Arthur seolah-olah mengingat sesuatu. Untuk kemudian satu seringai terbentuk di bibir itu—tipikal seringai yang membuat Nesia selalu ingin merobek mulut itu, "Aku belum berterimakasih pada Alfred atas pertolongannya padaku."
Alfred?
Seketika kesadaran menyentuh otak Nesia. Gadis itu melepaskan pelukannya, lantas mengusap air mata di kedua pipinya. Ia memandang Arthur dengan heran dan curiga, "K-kau yang menyuruh Senior Alfred menawarkan diri membelikanku tiket?"
Arthur tertawa kecil, namun terdengar menjengkelkan, sembari mengacak-acak kecil puncak kepala gadisnya, "Wah, semenjak kutinggal kemampuan analisismu makin bagus, ya."
Nesia menghela napas dan menyingkirkan tangan Arthur dari kepalanya, "Pantas saja Senior Alfred maksa banget," dia melirik nyinyir ke arah Arthur, "Dan pantes saja dia memilihkanku tiket dengan nomor duduk terpisah dari keluargaku."
"Oh, hampir lupa, keluargamu juga di sini," Arthur sedikit menjulurkan lehernya untuk menatap ke arah depan, "Sejak tadi aku ingin menghampiri dan menyapa mereka."
Kembali Nesia menoleh heran, "'Sejak tadi'?"
Arthur tiba-tiba tampak kesal. Pemuda itu melipat tangannya di dada, lantas bersandar ke kursinya, "Di bandara. Tidak hanya mereka saja yang kulihat, tapi kau dan teman-temanmu juga."
"Kau sudah ada di bandara?" Nesia kembali terkejut, "Aku tidak melihatmu—kau menguntitku?"
Arthur mendesis dan melirik semakin kesal, "Tidakkah seharusnya cewek merasa terharu karena cowoknya datang jauh-jauh dari Inggris, memberinya kejutan, mengantarkannya? Bukan malah dituduh sebagai penguntit."
Nesia meringis lebar, "Aku hanya terkejut saja kau ada sejak tadi di bandara. Seharusnya kau langsung menghampiri kami saja tadi."
Arthur mendengus, raut wajahnya makin tertekuk sebal, "Untuk apa? Kau sibuk pelukan dengan teman Italia-mu itu. Nanti aku mengganggu, lagi."
Nesia tersenyum, lantas menoel ujung hidung Arthur, "Kau cemburu?"
Arthur memutar bola mata, "Yang benar saja. Perlu waktu seribu tahun lagi bagi pemuda itu untuk mampu membuatku cemburu padanya," Arthur mendengus, "Aku hanya tidak suka dia memelukmu terlalu lama—maksudku, kau bisa tertinggal pesawatmu."
Namun wajah Arthur memerah padam, dan itu cukup bagi Nesia untuk tahu bahwa pemuda itu tengah berbohong.
Gadis itu hanya terdiam dan tersenyum, lantas kembali memeluk erat tubuh Arthur.
"Aku merindukanmu," ucapnya sekali lagi, "Aku mencintaimu."
Menghela napas, Arthur membalas pelukan Nesia dengan satu lengannya yang ia lingkarkan di pinggang gadis itu.
"Kau selalu bisa membolak-balikkan perasaanku," gumam Arthur, "Tadi aku begitu kesal seperti setan, sekarang aku begitu bahagia seperti orang gila."
-oOo-
Nesia tinggal di apartemen Arthur, hanya beda kamar, tentu saja. Kamarnya terletak lantai tepat di bawah lantai kamar Arthur. Pada awalnya dahulu saat berbincang di video, Arthur, entah serius atau becanda, menyarankan gadis itu untuk tinggal di kamarnya saja. Yang mana tentu saja sarannya itu segera mendapatkan penolakan mentah-mentah bonus predikat 'mesum' yang dilontarkan dari sang gadis yang wajahnya seketika merona.
Apartemen itu terletak di antara universitas Oxford dan Brookes. Sebenarnya awalnya Arthur menginap di asrama kampus, tetapi ia akhirnya memutuskan menyewa apartemen di antara Oxford dan Brookes tatkala tahu bahwa Nesia diterima di universitas itu. Awalnya Nesia menolak, karena tidak hanya gadis itu ingin apartemen yang jauh lebih dekat dengan kampusnya, juga karena Arthur pasti akan menempuh jarak yang sangat lebih jauh untuk ke kampusnya. Tentu saja, meski terletak di kota yang sama, Universitas Oxford dan Universitas Brookes kan terpisah lumayan jauh.
"Jangan PD duluan," komentar Arthur saat itu di telepon, "Aku hanya malas menempuh jarak jauh jika nanti aku harus menjemputmu kencan atau apa."
Di sinilah akhirnya Nesia berada. Di satu kamar apartemen minimalis dengan satu kamar, satu dapur merangkap meja makan, satu ruang TV, dan satu kamar mandi. Meski tidak sebesar apartemennya di Brooklyn, tetapi yang ini tidak buruk juga, pikir Nesia. Hanya perlu sedikit dekorasi dan hiasan, untuk membuat apartemen barunya ini lebih nyaman baginya.
Ia kini membantu pegawai jasa pengantar barang, untuk mengarahkan penempatan koper-koper dan box-box miliknya. Ibu berdiri dan mengarahkan satu pegawai yang tengah mengangkut dua box, dan menyuruhnya menempatkan boxes itu di ujung ruang TV. Adik sudah berbaring tidur di sofa. Pasti kelelahan karena perjalanan jauh yang baru saja ditempuhnya. Sedangkan Ayah tampak berbincang dengan Arthur.
Nesia tersenyum melihatnya. Ia sangat lega tatkala kedua orang tuanya memiliki pandangan baik terhadap Arthur. Dan ia juga sedikit jengkel tatkala mendapati Arthur selalu bersikap baik dan sopan. Terlihat sangat gentleman. Padahal mereka belum tahu saja bagaimana jika pemuda itu sudah kesal, judes, nyinyir, cerewet…
"Dia pemuda yang baik dan tampan, Ibu menyukainya."
Nesia menoleh, dan menatap Ibunya telah berdiri di sebelahnya, sembari memandang ke arah Arthur, "Aku sudah mendengar hal ini tiga kali dari Ibu sepanjang hari ini," jawab Nesia bosan, dengan menggunakan Bahasa Indonesia tentu saja.
Ibu tersenyum lebar dan tampak gembira, "Ibu hanya sangat terpesona padanya."
"Asal jangan katakan semua ini jika ia bisa mendengarnya," ujar Nesia, melirik ke arah Arthur, "Dia pasti tak akan bisa berhenti menyombongkan diri padaku hingga dua minggu lamanya."
Ibu tertawa kecil, lantas kemudian tersenyum. Namun pandangan Beliau tampak serius, membuat Nesia seketika tahu ada hal penting yang akan dikatakan oleh sang Ibu, "Tetapi Ibu serius, Nesia. Meskipun dia pacarmu dan dia pemuda yang baik dan Ibu menyukainya, tetapi itu bukan berarti Ibu membebaskan kalian untuk berbuat semau kalian."
Nesia tersenyum, "Ibu tak usah khawatir. Aku bisa menjaga diri, kok."
"Ibu hanya khawatir karena di sini kau sendiri," sang Ibu meremas pelan sebelah lengan putrinya, "Apalagi kalian berada di apartemen yang sama. Bukan hal yang mustahil jika hal yang tidak diinginkan terjadi. Kau harus jaga pribadi Timur kita ya, Nak?"
Mengangguk, Nesia memeluk Ibunya, "Ibu tak usah khawatir. Aku tahu Arthur bukan cowok seperti itu. Dia sangat menghormatiku, kok," lantas Nesia nyinyir, "Jika tidak, aku tidak segan-segan untuk menendangnya atau mencakar wajahnya."
Sang Ibu tertawa lirih, membelai lembut rambut putrinya, "Ibu percaya pada kalian," lantas beliau melepaskan pelukan dan berbalik, "Kita harus kembali bekerja. Masih banyak yang harus ditata."
Menuruti saran sang Ibu, Nesia berbalik dan menuju ke arah kamarnya. Beberapa box dan koper ada di sana. Sejenak, ia hanya berdiri dan diam menatap kamarnya yang hampir kosong, dan hanya terisi oleh kasur, bantal, lemari, dua meja dan satu kursi tersebut. Sebenarnya ia ingin segera berbenah, namun fisiknya masih terlalu lelah karena perjalanan panjang.
Gadis itu menghela napas, untuk kemudian melangkah dan memutuskan untuk menghempaskan diri di kasur yang empuk. Kembali ia menghela napas tatkala kasur itu terasa begitu nyaman bagi tubuhnya yang lelah.
Ia memejamkan mata, dan hampir tertidur, sebelum kedua matanya sontak kembali membuka tatkala merasakan hempasan kecil di kasur, untuk kemudian merasakan satu tangan yang memeluk pinggangnya dari belakang.
"Ah, hanya ada satu kamar. Berarti kau harus berbagi tempat di ranjang ini jika aku ingin menginap."
Nesia menoleh dan ia sama sekali tidak terkejut saat mendapati wajah Arthur tepat di depannya. Pemuda itu turut tertidur tepat di sampingnya, di belakang punggung Nesia, dan memeluk gadis itu dengan satu tangannya.
Segera melepaskan diri, Nesia terduduk dan memelototi Arthur, "Apa yang kau lakukan?"
"Kau pikir hanya kau yang lelah?" Arthur berubah posisi menjadi terbaring, lantas menjadikan lipatan kedua tangannya sebagai bantal.
"M-maksudku, Ibu dan Ayah bisa melihat—"
"Ah, Ayah sedang membantu mengangkat beberapa sisa box dari mobil jasa pengantar barang, sedangkan Ibu sibuk membuka dan menatap isi satu box dekat dapur."
Nesia menatap Arthur heran.
Pemuda itu menoleh, "Ada apa?"
Nesia berucap ragu, "K…Kau memanggil mereka…'Ayah'? 'Ibu'?"
Arthur tampak tak mengerti, "Apakah salah? Mereka suatu saat nanti juga akan kupanggil begitu, 'kan?"
Kontan wajah Nesia bersemu panas tatkala menyadari maksud kalimat Arthur. Pemuda itu melihatnya, dan seketika menyeringai, membuat Nesia ingin sekali melempar koper yang berat di dekatnya, ke arah wajah Arthur.
Gadis itu segera berbalik, menuju koper yang ada di dekat pintu kamar. Semata-mata hanya agar ia mendapat kesibukan dan tidak meladeni Arthur dan segala ocehannya yang membuat tak hanya wajahnya memanas, tetapi juga jantungnya berdetak karuan.
'Sialan pemuda itu' umpat Nesia sembari membuka resleting kopernya.
Namun semua kekesalan dan rasa gugup yang ia rasakan untuk kekasihnya, seketika terhenti tatkala matanya memandang isi kopernya. Lebih tepatnya, memandang bagian yang ada di tumpukan paling atas dari isi kopernya.
Sebuah pigura berukuran sedang, dengan selembar foto. Foto tiga orang remaja, satu remaja wanita di tengah, dan dua remaja pria yang masing-masing berada di sisi kiri dan kanan dari si wanita.
Nesia mengambilnya, lantas memerhatikannya.
Gadis itu tampak tertegun, seperti mengingat-ingat sesuatu.
Ya, poto ini adalah poto dirinya, Antonio, dan Lovino yang diambil saat Ibu Antonio mengundang Nesia dan Lovino pada pesta barbeque di keluarga Carriedo. Dalam poto itu, mereka bertiga tampak bahagia. Lovino tersenyum, Nesia meringis, dan Antonio tertawa lebar.
Hati Nesia rasanya kembali tercubit.
Rasanya baru kemarin poto ini diambil, dan sekarang ia sudah berada di belahan lain Bumi dari kedua sahabatnya.
Belum apa-apa ia sudah merasa sangat rindu pada mereka.
"Belum satu hari dan kau sudah tampak ingin menangis begitu," tiba-tiba Arthur sudah berdiri di samping Nesia yang terduduk di lantai di dekat kopernya.
Tanpa mengalihkan pandang dari poto itu, Nesia menghela napas dan tertawa kecil, "Kau benar. Aku sudah sangat merindukan mereka."
Arthur terdiam dan memandang wajah gadis itu yang masih mengarah pada pigura di tangannya. Sejenak kemudian, pemuda itu sedikit membungkuk lantas menaruh satu telapak tangannya di pundak Nesia.
"Semua akan baik-baik saja," ucap pemuda itu, "Kalian punya hidup dan cita-cita masing-masing," pemuda itu melembutkan pandangannya ke arah Nesia, "Jangan menangis dan bersikap seolah-olah kau tidak bahagia di sini bersamaku."
Nesia menarik napas dalam, lantas mendongak. Ia tersenyum, menatap Arthur yang menunduk padanya sembari membungkukkan badan ke arah Nesia yang masih duduk di lantai.
Satu tangan Nesia terulur, menyentuh sebelah pipi pemuda itu, "Aku bahagia berada di sini bersamamu, Arthur. Tentu saja—aku hanya tidak percaya aku berada sejauh ini dari para sahabatku setelah tiga tahun kami lewati bersama."
Dan gadis itu membuktikan ucapannya dengan mengarahkan tangannya yang tidak memegang pigura, ke belakang kepala Arthur, lantas mendorong kepala itu untuk lebih menunduk mendekati kepalanya.
Bibir mereka kembali bersentuhan untuk pertama kalinya setelah sekian lama tidak bertemu. Nesia memejamkan mata dan mendongak, menyeimbangi Arthur yang masih berdiri dan membungkukkan dalam badannya demi meraih kepala gadis itu. Sedangkan tangan Nesia sibuk meremas lembut helai bagian belakang kepala Arthur, pemuda itu menangkupkan kedua tangannya di kedua sisi kepala dan pipi Nesia. Membuat ciuman mereka makin semakin mesra dan dalam.
Nesia tahu, ia memang bahagia dan sangat mencintai pemuda ini. Namun sahabat dan teman-temannya di AS juga menjadi bagian penting dalam hidupnya.
Dari pandangannya yang gelap karena pejaman matanya, Nesia seolah bisa melihat masa depannya, Arthur, Lovino, Antonio, dan teman-teman yang lain untuk ke depannya.
Masa depan yang indah, terlepas dari semua hal-hal dan peristiwa absurd yang mewarnai kehidupan tiga tahunnya di Hetalia High.
-oOo-
Ini ngetik dari siang ampe jam 11 malem lho. Hoho. Saya putuskan langsung update saja lah. Toh itung2 sebagai penebusan dosa karena udah lama banget hiatus #plok
Berhubung udah malem dan mata ini udah berat banget kayak diduduki (?) Pretty Asmara (?), maka bacotan penutup chapter ini sampai di sini aja ya.
Merci! Bonne nuit!
#berbaring mau tidur
#bangkit lagi
Oh ya review jangan lupa ya. Kalau kamu ga review tuh sakitnya di sini…. tau ga? #nunjuk dada
#kembali tepar
Salam ketjeh,
-dis-
