Epilog One

Ada tiga hal yang selama ini paling membuatku berdebar dan gugup. Pertama, saat aku tanpa sengaja memecahkan guci berharga yang dibeli Ayahku, dahulu waktu aku masih berumur tujuh tahun. Kedua, setiap aku menanti hasil nilai semester dan tidak mengharapkan ada angka C lebih dari satu di semua mata pelajaran atau mata kuliah. Dan ketiga, adalah saat ini.

Saat ini di mana aku terduduk di depan cermin yang berukuran lebih besar dari tubuhku. Cermin bening dengan pinggiran kayu berwarna seputih gaun yang kupakai. Cermin yang menampilkan refleksi seorang wanita dengan helai hitam yang tertata sedemikian rupa. Hiasan bunga-bunga kecil tersemat di antaranya. Make -up tipis terpakaikan di wajahnya. Sarung tangan putih di kedua tangannya yang berkali-kali tampak mengepal dan meremas gaun yang dipakainya Gaun putih polos yang menjuntai hingga lantai, namun menampakkan sebagian daerah bahunya.

Dan berkali-kali aku berpikir dan bertanya pada diriku sendiri saat melihat refleksi wanita itu.

'Apakah itu diriku? Wanita itu diriku? Yang benar saja!'

Atau,

'Apakah aku sudah cantik?'

Atau,

'Bagaimana jika nanti ada yang berjalan tidak beres?'

Atau,

'Sialan. Aku gugup sekali.'

Dan banyak pemikiran lain yang justru membuatku semakin gugup. Rasanya semakin ingin berlari dan kabur saja daripada nanti aku mengacaukan semuanya.

Habisnya… siapa yang tidak akan gugup setengah mati jika menghadapi hari ini? Hari yang bagiku dan inginku, hanya akan kualami sekali seumur hidup ini?

Aku agak tomboi. Aku agak bar-bar. Aku serampangan dan terkadang sangat tidak ladylike. Aku bahkan masih di tahun ketiga masa kuliahku dan baru berumur 21 tahun…

Apakah baik-baik saja?

Apakah aku dan Arthur sehabis ini akan benar-benar resmi menikah dan kami akan baik-baik saja?

Uh.

Rasanya aku ingin menangis saja.

-oOo-

Axis Power Hetalia © Hidekaz Himaruya

Picture © Sakurazaka Ohime

I just own the plot of the story and I don't gain any commercial advantages by publishing this fic.

Warning: AU, Human Name, High School, OC, OoC yang mendewa, (highly possible) crack pairs, (a lil') Nesia-centric, but no Mary Sue/Gary Stu I assure you :D totally absurd.

Pairing: Anda bisa menebak sendiri mana yang main pairing, dan mana yang sekedar hints dan fans service :p

Ini murni dari pemikiran saya. Maaf jika kebetulan ada kesamaan ide karena setting gakuen sangat banyak di FHI. Itu tidak disengaja :D

Long Live FHI and Say NO to Plagiarism! Mari berkarya dengan hati dan imajinasi :D

Maju FHI!

-oOo-

Sekalipun gugup dan rasanya ingin kabur, namun tak bisa kupungkiri bahwa aku bahagia. Tentu saja, siapa yang tidak bahagia di salah satu hari terpenting dalam hidup siapapun ini? Menikah tentu menjadi impian banyak orang, bukan? Dan dua bulan lalu, Arthur datang ke apartemenku, terduduk di sofa dan lantas menaruh sebuah kotak biru beludru di meja depan sofa. Dan dengan tidak romantisnya, ia hanya berujar cepat, "Menikahlah denganku—kau tahu hanya aku yang mencintaimu di dunia ini."

Yang alhasil, aku malah melemparnya dengan sendok karena berpikir bahwa ia terlalu kelewat dalam becanda.

Namun ternyata ia serius, karena untuk selanjutnya wajahnya tampak merona panas. Ia terbata-bata dalam menjelaskan maksudnya, sesekali kedua emerald yang selalu kukagumi itu menatapku dengan pandangan antara kesal dan malu.

"Aku juga ingin bahwa aku becanda, tetapi tidak, aku serius—" ia menatap tajam kepadaku, "Jangan melihatku seolah-olah aku ini alien. Sudahlah, ayo menikah saja. Toh cepat atau lambat kita akan menikah—tentu saja, siapa lagi yang mau menikahimu selain diriku?"

Well, aku jujur waktu itu aku tak percaya bercampur terharu bercampur bahagia bercampur ingin melempar tubuh Arthur keluar dari jendela apartemenku karena kesal.

"Apa masalahnya? Nikah muda itu keren, tahu? Toh aku juga sudah bekerja," itulah jawabannya saat aku menanyakan apa dia serius, sedangkan aku masih 21 tahun dan dia 22.

Well, kami berdua masih sangat muda. Kami bahkan belum lulus kuliah, meski Arthur sudah bekerja di salah satu kantor tempatnya magang sebelumnya, namun tetap saja…

Kami masih sangat muda.

Namun entah apa yang membuatku saat itu menganggukkan kepala dan mengatakan 'ya'. Entah mengapa saat itu aku meneteskan air mata terharu—berubah menjadi gadis yang sangat cengeng. Entah apa yang membuatku waktu itu merasa begitu bahagia hingga rasanya aku rela mati. Entah apa pula yang membuatku waktu itu merasa bahwa aku sangat, sangat, dan sangat mencintai pemuda itu—Arthur Kirkland milikku.

Aku pasti benar-benar sangat mencintainya.

Sangat mencintainya, hingga aku tak ragu lagi bahwa hanya dengan dirinyalah aku ingin beruban dan menjadi tua.

-oOo-

Keyakinan itu, bahwa aku sangat mencintainya seolah tak ada lagi manusia lain yang bisa mencintai diriku, semakin menguat tatkala aku melihatnya berdiri di depan altar sana.

Ya, dia. Pemuda berjas sehitam celana yang dipakainya. Helai pirangnya yang untuk hari ini saja, tampak tersisir lebih rapi, meski masih terlihat sedikit berantakan. Pemuda beralis tebal dan beriris emeraldemerald indah yang selalu ingin kutatap kemarin, hari ini, dan selamanya.

Dan tidak seperti ekspresi dingin dan jutek yang ia pasang biasanya, kali ini ada satu senyum yang terlukis di bibirnya sana.

Senyuman yang pada saat itu juga, membuatku terheran bagaimana pemuda yang dahulu kudaulat sebagai laki-laki terjelek di dunia, sekarang bisa menjadi terlihat demikian tampan.

Sangat tampan, hingga rasanya aku tersipu dan malu sendiri saat ditatapnya.

Alunan wedding march melantun, seolah menjadi satu-satunya suara yang terdengar di dalam sana. Semua manusia yang ada berdiri. Tersenyum, seperti turut bahagia atas kebahagiaan yang akan aku dan Arthur dapatkan.

Namun aku tahu, aku tidak memedulikan semua itu. Aku tahu, Arthur juga tidak memedulikan semua itu.

Yang kami pedulikan hanya satu sama lain. Menatap satu sama lain. Aku yang berjalan pelan di apitan lengan Ayahku. Meniti karpet merah yang seolah menjadi jejak perjalanan hidupku. Jejak perjalanan yang pada akhirnya akan membawaku pada ujung akhir sekaligus awal yang indah—Arthur yang berdiri dan menantiku di sana.

Di setiap langkah yang kuambil, aku teringat semuanya. Setiap langkah yang kubuat, seolah bagaikan tombol remot yang menampilkan kilasan semua hal yang kini berputar di kepalaku.

Langkah pertama.

Aku mengingat bagaimana kami bertemu dahulu saat SMA. Dia yang bertampang judes dan sangat membuatku marah.

Langkah kedua.

Takdir mempertemukan kami lagi melalui Olimpiade Debat. Dia masih sangat membuatku marah dan membencinya.

Langkah ketiga.

Arthur, yang meski tidak secara terang-terangan dan terkesan gengsi, selalu ada di saat aku terluka oleh perasaan tak terbalasku pada Antonio.

Langkah keempat.

Aku yang senantiasa menerima telepon di H-Radio dari penelpon misterius yang baru belakangan ini saja aku tahu bahwa dia adalah Arthur.

Langkah kelima.

Aku masih ingat saat aku mulai melihatnya secara berbeda. Dan aku masih ingat, saat aku merasa begitu sedih dan merindukannya tatkala ia mengikuti seminar di Oxford selama sebulan.

Langkah keenam.

Ciuman pertamaku, sekaligus ciuman pertama dalam hubungan kami, yang terjadi di bawah hujan di halaman sekolah.

Langkah ketujuh.

Masa-masa manis yang kami lewati bersama, sekaligus semua pertengkaran yang pernah kami hadapi. Ah, bahkan kami sempat mengalami Perang Dingin terhadap satu sama lain dan aku terpikir untuk memutuskan hubungan ini.

Sebelum aku berubah pikiran tatkala Arthur pada pertengahan malam mengetuk apartemenku, lantas menubrukku dan memelukku dengan erat seraya memintaku untuk tetap bersamanya.

Langkah kedelapan.

Teringat lagi saat ia dengan tidak romantisnya melamarku.

Langkah kesembilan.

Aku berhenti melangkah, dan saat kami bertatapan dari jarak dekat, rasanya aku bisa melihat masa depanku terpantul dari dua iris jernihnya.

Belum apa-apa aku rasanya sudah ingin menangis.

Ayah menepuk pundak Arthur, lantas 'memasrahkanku' padanya dengan cara meletakkan tanganku di tangan Arthur.

Aku menggenggam erat lengannya dan kami berbalik untuk kemudian menghadap ke arah pendeta.

Ya Tuhan, sebentar lagi aku akan memiliki hidup baru. Bersama dengan laki-laki yang amat kucintai. Nesia, remaja serampangan itu kini sudah menjadi wanita yang akan menjadi seorang istri…

Entah mengapa aku merasa bangga dan terharu pada diriku sendiri.

Saat Pendeta mengutarakan kalimat sumpah, sama sekali tak ada keraguan dalam nada yang digunakan Arthur tatkala ia berucap, "Tentu saja aku bersedia. Itu retoris sekali."

Aku ingin menangis sekaligus tertawa.

Dan saat giliranku, aku berucap, "Aku bersedia," dan tanpa mampu kutahan, akhirnya setetes air mata terjatuh dari sebelah mataku.

Aku cengeng sekali.

"Aku bersedia. Seribu kali, aku bersedia."

Dan hanya satu yang saling aku dan Arthur ucapkan terhadap satu sama lain sebelum kami mengakhiri semuanya dengan sebuah ciuman,

"Aku mencintaimu."

Semua bersorak. Semua hadirin bertepuk tangan. Confetti terjatuh di sekeliling kami. Namun aku tidak mempedulikan semua itu. Dan aku tahu, Arthur juga tidak.

Aku berharap hidup kami bersama untuk selanjutnya tidaklah penuh absurditas seperti bagaimana kami bertemu dan mengenal pada awalnya.

-oOo-

Beberapa jam kemudian, semua rasa haru, fluff, mellow, menye-menye, dan nge-drama yang kurasakan sejak matahari terbit itu kini menghilang entah kemana. Di sinilah aku berada, berdiri di depan kaca wastafel kamar mandi setelah membersihkan riasan dan mengganti gaun pengantin dengan… errrr… aku menjadi ragu menyebut kain yang menutup tubuhku ini, sebagai gaun tidur atau piyama. Aku bahkan tidak yakin jika kata 'menutup' adalah kata tepat untuk mendeskripsikan fungsi pakaian ini. Terlalu banyak yang terlihat…

Dan sungguh aku bahkan malu sendiri saat menatap refleksiku di cermin.

Tetapi mau bagaimana lagi. Ibuku sendiri yang membelikan benda ini dan menyuruhku untuk memakainya sekarang. Oke, aku tidak begitu naif untuk tidak mengerti alasannya. Tetapi tetap saja… apakah harus dengan pakaian seperti ini?

Aku menggembungkan kedua pipi dan menghela napas. Bisa aku lihat wajahku memerah di cermin itu. Aku juga bisa merasakan detak jantungku yang menggila semenjak aku menuju ke kamar pengantinku. Semakin menggila saat aku melihat ranjang yang tertata sedemikian rupa dengan lilin wangi dan taburan mahkota mawar merah. Dan semakin menggila lagi saat aku menatap refleksiku di cermin sehabis mengenakan pakaian yang sekarang kukenakan ini.

Jujur, aku merasa takut. Tidak mengerti. Malu. Antusias. Penasaran. Ragu—Ah, aku tidak tahu lagi perasaan apa saja yang berkecamuk di hatiku.

Aku melirik ke arah pintu kamar mandi yang masih kukunci rapat. Mencoba menerka-nerka apakah aku harus keluar atau justru kuhabiskan saja malam pengantinku di dalam kamar mandi ini.

Aku memejamkan mata dan sedikit mengeluh. Lantas mencak-mencak kecil di lantai kamar mandi, merasa kesal dengan diriku sendiri yang tidak bisa PD saja melangkah keluar lantas melanjutkan hidup dengan damai dan bahagia.

Kegiatan mencak-mencak tidak jelasku terhenti saat telingaku mendengar suara ketukan di pintu kamar mandi.

Aku seketika menoleh dan menatap horor, seolah yang mengetuk pintu di sana adalah zombie, bukan suamiku sendiri.

"Hei, berhenti berdiri di depan wastafel dan keluarlah."

Apakah orang yang baru saja kunikahi adalah cenayang?

"Kita sudah lima tahun bersama, tentu aku tahu kebiasaanmu saat gugup. Berdiri di depan wastafel dan lama sekali di dalam."

Dia benar-benar cenayang, aku putuskan.

"A-A-Aku membersihkan wajah!" balasku kelewat keras, menunjukkan sisi lebayku tatkala gugup setengah mati.

"Memangnya apa yang tertempel di wajahmu hingga kau berada di sana lebih dari empat puluh menit?"

"Kalau kau tidak sabar ya sudah, tidur saja dahulu."

Oke, ucapanku yang barusan amat memalukan. Aku sendiri saja merasa wajahku memanas dan mengutuk diriku sendiri 'bodoh' berulang-ulang dalam hati.

"Apa kau bilang—" ia terdengar terkejut, "M-Maksudku, aku juga butuh kamar mandi itu. Apakah aku harus keluar mencari toilet lain untuk membersihkan wajah?"

Woah… inikah malam pertama? Penuh dengan pertengkaran? Sialan.

"Cepat keluar atau kudobrak."

Entah kemana semua rasa gugup, cemas, takut, dan malu yang kurasakan tadi. Dengan gemas aku menyahut jubah tidur pendekku lantas memakainya. Sempat kebingungan mencari tali ikat pinggangnya yang tidak bisa kutemukan, sebelum aku menyerah dan memutuskan untuk merapatkan jubahku secara manual alias dengan tanganku sendiri. Untuk kemudian melangkah dan membuka pintu.

Suamiku berdiri dengan tatapan tajam dan rona merah panas yang tampak jelas di wajah putihnya.

Ia hanya menatapku sejenak, sebelum memutuskan pandangan dan melangkah masuk ke kamar mandi.

Aku menghela napas.

Tiba-tiba jantungku kembali berdetak dengan demikian cepat. Apalagi saat mataku menatap ke arah ranjang di depanku yang masih penuh dengan taburan mahkota mawar yang harumnya bagaikan pengharum ruangan yang tercium di seluruh kamar ini.

Tiba-tiba aku menjadi mesum ketika semua bayangan apa yang akan kami lakukan di ranjang itu, terangkai di otakku.

Menggeleng-gelengkan kepala, aku beranjak dan menuju ke arah ponselku yang terletak di meja di samping tempat tidur. Ada beberapa pesan yang masuk yang pada intinya adalah sama: ucapan selamat atas pernihakanku. Dan beberapa bahkan bertuliskan kalimat-kalimat nakal yang memberiku 'nasehat' agar berbuat dan tidak berbuat apa pada malam ini.

Aku bisa-bisa gila dengan detakan jantungku sendiri.

Aku baru saja meletakkan kembali ponsel itu di meja, ketika suara pintu yang terbuka terdengar bagai ledakan meriam dan membuatku super duper terkejut. Entah mengapa aku menjadi demikian lebay dan mudah sekali terkejut, bahkan oleh suara detak jarum jam sekalipun.

Karena terkejut, aku otomatis segera menoleh ke sumber suara—pintu kamar mandi. Dan karenanya, tanpa sengaja tanganku menyenggol ponsel yang kuletakkan di meja, dan membuat benda itu terlempar dan jatuh di lantai berkarpet beberapa jauh di depanku sana.

Sial.

Tanpa memedulikan Arthur yang juga membelalakkan matanya menatapku menjatuhkan ponselku sendiri, aku secara otomatis bergerak maju hendak menuju ke arah HP-ku. Namun naas, karena terburu-buru aku tidak memerhatikan kursi yang ada di dekat meja dekat aku berdiri.

Aku tersandung, hendak terjatuh.

"Nesia!"

Namun untungnya, aku berhasil menahan tubuhku dengan dua telapak tangan dan kedua lututku yang kutekankan di lantai, sesaat sebelum aku benar-benar jatuh mencium lantai berkarpet kamar pengantinku, di malam pengantinku, di depan pengantinku pula.

Hhhh.

Aku benar-benar orang yang ceroboh dan memalukan.

"Ugh…"

Aku membuka mataku yang semula terpejam karena takut. Namun, semua rasa malu dan merasa bodoh itu seketika hilang tatkala aku menatap Arthur yang berhenti beberapa langkah dariku—seolah ia sebelumnya melangkah dan hendak menolongku, sebelum terhenti karena sesuatu.

Parasnya kembali memerah.

Aku terheran, menatapnya yang seolah termenung. Aku mengikuti arah pandangannya, menunduk, dan seketika aku tahu apa yang membuatnya demikian.

Aku tadi terjatuh. Otomatis kedua tanganku bergerak untuk melindungi diriku dan bertumpu pada lantai. Dan sebagai akibatnya…

Jubah tidurku yang tanpa ikat pinggang terbuka dan kini menampakkan pakaian dari Ibuku. Pakaian yang hanya menutup sedikit saja dari tubuhku. Pakaian yang karena posisi jongkokku ini, menampilkan dengan jelas belahan dadaku.

Aku tahu aku tidak seharusnya merasa malu karena menampakkan tubuhku begini di depan suamiku sendiri.

Namun tetap saja…

Aku segera terduduk, menundukkan kepala, dan secara insting merapatkan kembali dengan kedua tanganku. Entah bagaimana wajahku sekarang, karena aku merasa demikian malu dan merasa panas di sekujur wajahku.

"Ini."

Tahu-tahu di depanku sudah tersodorkan ponsel-sumber-petaka milikku. Aku memberanikan diri mendongak, dan seketika mendapati wajah Arthur di depanku.

Ia tersenyum kecil, meskipun rona merah itu belum hilang dari parasnya.

"Aku tahu kau malu dan gugup. Tapi—hei, kau pikir aku tidak?" ucapnya pelan, seolah memberiku penenangan dengan nada lirih yang digunakannya.

"Maafkan aku," aku kembali tertunduk.

Entah mengapa aku merasa bodoh dan nista. Berperilaku seperti ini seolah-olah hanya aku aku saja yang merasakan perasaan ini. Toh dia adalah suamiku, bukan orang asing atau tanpa ikatan denganku.

Aku jadi berpikir jika aku bersikap terlalu berlebihan dan melukai perasaannya.

"A-Aku hanya gugup," aku akhirnya memilih untuk berterus terang.

Arthur terdengar mendengus, "Aku juga. Dan Ayahku juga bilang bahwa dulu Beliau juga saat menikah dengan Ibu."

"Ibuku juga bilang begitu…," ucapku, lantas mendongak menatapnya, "Malam pengantin rasanya seperti masuk ke kamp eksekusi-membuatku begitu gugup hingga rasanya aku bisa mati."

Aku tersenyum dan tertawa lirih.

"Kau tidak akan mati sebelum aku mati," Arthur berujar.

Aku menggeleng dan mengernyit, "Tidak. Aku dahulu yang akan mati."

"Tidak boleh. Kau tahu, aku tidak akan bisa hidup tanpamu."

"Kau pikir aku bisa?"

"Oh well, lebih baik saat tua nanti kita minum racun bersama-sama."

Dan kami pun tertawa lirih.

Entahlah, rasanya aku bisa sedikit mengatasi semua rasa gugup dan maluku tadi.

Tawaku terhenti tatkala aku menyadari Arthur terlebih dahulu mendiamkan diri. Emeraldnya menatapku—tepat di mataku hingga aku bisa melihat pantulan diriku sendiri di dua iris itu. Dan aku tidak bisa mengalihkan pandanganku dari jeratan dua emerald itu—seperti biasanya.

Aku bisa mendengar kesunyian yang memekakkan telingaku.

Aku hanya terdiam dan perlahan memejamkan mata tatkala kepala Arthur bergerak maju.

Beberapa saat kemudian aku kembali merasakan sentuhan bibirnya di bibirku. Bibir yang hangat. Bibir yang senantiasa sukses menghentikan sejenak napasku tiap kali aku merasakannya menempel di bibirku. Sukses membuat jantungku melewatkan satu denyutan dan membuat ragaku melemas.

Arthur memberiku kecupan-kecupan ringan. Dan di setiap kecupannya itu aku merasa diriku semakin terbawa. Entah kemana rasa gugup itu. Aku sekarang merasa begitu tenang, bahkan nyaman, sangat nyaman hingga aku tanpa sadar sudah mengalungkan kedua tanganku di sekitar pundaknya.

Dari kecupan-kecupan singkat dan kecil, suamiku semakin memiringkan kepalanya dan untuk kemudian menggigit pelan bibir bawahku. Tanpa ragu aku membuka mulut, dan di detik itulah lidah Arthur seketika terasa 'menggila' dan 'mengamuk' di dalam mulutku. Ia menciumku. Melumat bibirku dan seolah melahap wajahku sedemikian dalam bagai tak akan ada hari esok. Aku sedikit kewalahan mengimbanginya karena tidak pernah Arthur menciumku dengan demikian dalam, panas, dan terkesan menuntut dan menguasai.

Namun aku sama sekali tidak membencinya. Sangat berkebalikan, aku justru sangat menikmatinya.

Aku merasa jantungku menggila dan paru-paruku seolah hendak meledak setiap saat.

Aku bisa rasakan ikatan di rambutku terlepas, dan membuat helai hitam sepunggungku tergerai pasrah.

Dan di saat aku merasakan satu tangan yang menelungsup di balik jubahku dan menyentuh pinggangku itulah, aku seolah kehilangan diriku yang pemalu tatkala aku tiba-tiba merasa antusias dan tanpa sadar jemariku sudah bergerak sendiri dan dengan cepat-cepat membuka kancing kemeja putih yang dipakai oleh suamiku.

-oOo-

Aku tidak terlalu ingat apa yang selanjutnya terjadi. Aku sedang berada dalam perasaan memabukkan yang membuat semuanya berjalan begitu cepat tak kusadari. Aku tengah terbius, sangat terbius bagaikan aku tengah berada dalam ekstasi yang tak mau peduli pada apapun lagi selain diriku dan suamiku.

Kami yang telah berada di atas tempat tidur. Dia yang berada di atas tubuhku yang terbaring di bawahnya. Aku yang entah sejak kapan kini telah menanggalkan seluruh pakaianku, sedangkan Arthur masih terlindungi dengan celana piyamanya. Aku yang sudah berkeringat, seolah-olah pendingin ruangan sama sekali tidak berefek apapun pada tubuhku yang terasa panas—dari luar dan dari dalam.

Dan aku yang hanya mampu memejamkan dan mendesah lirih tatkala merasakan sentuhannya, bibirnya, hidungnya, ataupun lidahnya. Pasti ini baru tak lama, tapi Arthur sudah membuatku rasanya kehilangan akal. Aku memeluk punggungnya yang terbuka, merentangkan kesepuluh jariku dan membelainya. Pandanganku memburam, namun mata emerald-nya seakan-akan menjadi satu titik fokus utama dari semua yang terlihat abu-abu bagiku.

Hanya dia yang kupedulikan. Hanya dia yang kucintai.

Detik demi detik berlalu dengan cepat sekaligus lambat bagiku. Kereta perasaan yang kami tunggangi bersama begitu membuatku terlupa pada semua. Sifat malu-maluku entah hilang kemana. Arthur sudah seperti penyihir kawakan yang bisa membuatku seolah bergantung pada belaskasihnya. Seperti ini bukan yang pertama kali untuknya—entahlah, aku tidak peduli dan tak sempat peduli.

Yang nyata, sekarang dia milikku. Arthur Kirkland milikku.

Desahan dan geraman bercampur menjadi satu. Derit ranjang seakan membungkam detak jarum dinding di ruangan. Peluh berbaur dengan napas yang beradu, ketika pada akhirnya semua pertahanan kami lepaskan dan Arthur membawaku pada puncak permainan kami yang tanpa sadar sudah kuantisipasi. Dia, yang menatapku tepat di mata dan membisikkan bahwa…

"Kau hanya akan melihat dan bersamaku hingga nanti, dimanapun, suka atau tidak."

… Sebelum kalimatnya tak sempat kurespon karena gigiku lebih cepat menggigit bibirku dan aku memejamkan mata, bersama dengan kedua tanganku yang mencengkeram pundak terbukanya, saat rasa sakit dan panas itu pertama kali mendera. Hanya sesaat, karena tak butuh waktu lama bagi 'penyihir' pirang itu untuk membuatku rasanya menjadi semakin gila. Semakin tak karuan. Rasionalitas yang mengabur total di dalam rendaman ekstasi yang ia berikan. Berkali-kali aku memanggil namanya, dan entah sudah berapa lama waktu yang kami lewatkan. Yang jelas semuanya bagikan roller-coaster, aku yang merasa telah di puncak tertinggi, lantas menuruni turunan yang terjal, dan kemudian Arthur membawaku kembali ke puncak yang sama dengan lebih hebat dan memabukkan.

Dan yang kuingat setelah semua itu, jam sudah menunjukkan pukul 03.41 a.m. ketika pada akhirnya aku benar-benar seakan sudah berada di titik terendahku setelah kami melakukan dua kali putaran.

… dasar, rasanya aku tak bisa dan tak ingin terbangun memikirkan bagaimana rasanya sakit yang kurasakan ketika nanti aku harus bangun dan berjalan.

Aku mendengus pelan memikirnya. Well, meski demikian, ini adalah malam terindah. Pertama kalinya untukku. Bersama orang yang kucintai. Aku yang sudah menjadi seorang istri. Seorang wanita. Bersama dengan seseorang yang kucintai dan sangat mencintaiku.

Apa akhir yang lebih bahagia dari ini yang pantas kuminta?

"Ngapain senyam-senyum sendiri? Mengingat-ingat semuanya, huh?"

Aku menoleh ketika mendengar suara itu. Kedua iris hijaunya menatapku dengan geli dan menahan tawa. Entah ini karena aku lelah atau sudah terjerat pelet sang penyihir dengan terlalu dalam, tapi kok, melihat Arthur berbaring di sampingku dengan helai berantakan dan tubuh topless tertutupi separuh selimut dan berpeluh gitu, kok dia kelihatan ganteng ya? Aku hanya nyengir saja mendapat pemikiran tersebut.

"Oh begitu? Perlu kuulangi lagi? Kukira kau lelah." Sialnya, nyengirku baru saja disalahartikan olehnya dan ia menganggap bahwa aku mengkonfirmasi pertanyaannya sebelumnya.

Aku hanya mendelik singkat meski jelas terlihat pura-pura, kemudian menarik selimut untuk menutupi tubuh atasku yang mulai merasakan dinginnya pendingin ruangan, "Jika besok aku tak bisa berjalan dan lumpuh, aku akan menuntutmu."

Ia tergelak dengan menyebalkannya, "Well, itu justru membuktikan bahwa aku melakukan 'tugasku' dengan baik, kan?"

Tanpa sadar aku sedikit menyinyirkan bibirku, "Percaya diri sekali."

"Oh aku salah? Jadi, kau yang tadi terus menyebut namaku dan memohon padaku hanyalah khayalanku saja?"

Hhh.

Arthur dengan rasa percaya diri dan superioritasnya memang menjadi hal yang terkadang membuatku berpikir ulang bagaimana aku bisa mencintainya. Tak menjawab, dengan kesal aku menimpakan separuh badanku di atas badannya dengan cara tak bisa dibilang pelan. Meletakkan kepalaku dan separuh tubuhku di atasnya. Dengan kedua tanganku memeluk lengannya erat.

"Kau harus tidur begini sampai pagi. Tidak boleh bergerak. Biarin deh ngilu semua nanti, wekk," ujarku dengan sedikit kekanakkan, dan ia yang kudengar mendengus singkat (dan aku yakin dia memutarbola matanya meski tak bisa kulihat), namun melingkarkan sebelah lengannya di pinggangku.

Hanya hela napas dan detak jantungnya yang kudengar jelas di telingaku. Aku yang memejamkan mata, meresapi semuanya. Seakan-akan masih belum percaya bahwa di detik dan momen inilah aku berada. Bersama dengannya. Dan semua kilasan masa lalu kami sejak kami pertama kali bertemu hingga detik ini, seakan berputar cepat di balik pikiranku saat itu juga.

"Terasa sangat absurd sekali, tapi aku begitu mencintaimu," gumamku tanpa sadar.

"Aku tahu, Love," ia yang kukira sudah terlelap, menyahut perlahan sembari menunduk dan mendaratkan kecupan singkat di kepalaku yang bersandar di dadanya.

Jika semua kisahku dengan Arthur Kirkland adalah sebuah novel atau cerita fiksi, aku bersyukur bahwa inilah akhir dari cerita. Akhir yang bahagia. Terlepas dari semua keabsurdan yang ada, pada akhirnya toh kami yang awalnya saling membenci, justru merasa sangat jatuh cinta untuk selamanya.

Klise kan? Haha.

Epilog one: end

Ps: One more chapter to come. Do not complain about the bed-scene. I tried my best to make it more explicit but God, I was so ashamed and went all "AAAAARRRGHHH IT IS NOT MY WRITING! I AM STILL PURE! INNOCENT! NO NO!" then deleted and rewrote the lines :""""D I felt I could not force myself into writing a porn (yes, I'd like to call explicit sex scene is a porn) and this chapter is the best that I can afford. I hope it is not disappointing and worth the years you guys already spent waiting for it lalalallalalala~~~ :"D I think the scene is already suitable enough to be rated M for this story.

Ps 2: The next chapter will be coming in the next 3 years.

Ps 3: Please love me and forget me not.

Ps 4: For ps 2, it was just joking.

Ps 5: I really hope ps 4 is not a joke as well :"D

See you~ :*

-dis, would come back in 2020 (?)-