家族

KnB © Tadatoshi Fujimaki

Warning: Implied M-PREG, Out of Character-ness, full of a bundle of fluffy cotton candy, why so serious?

.

.

.

"Ayo, Taiga, bilang ayah."

"Yhaa...yhaahh..."

Seijuurou tersenyum puas. Meski anaknya masih belum fasih berbicara, setidaknya ia senang karena namanya hampir disebut sempurna. Di sampingnya, Kouki menundukkan kepala pasrah, seakan mengaku kalah.

"Kalau kata ayah yang pertama ia ucapkan, aku menang, makan malam sebulan penuh harus sup tahu."

Kouki mendengus, bergumam pelan, "Memangnya kau pikir setiap hari kita makan apa?" Seijuurou hanya diam tak membalas. Kouki masih keras kepala tak mau suaminya semudah itu membuat Taiga memihak padanya. Mempunyai ide, ia bertepuk tangan pelan untuk mengalihkan perhatian Taiga yang asik menggigiti boneka harimaunya di tangan, sesekali tertawa gemas sambil memukul-mukul boneka itu ke karpet beludru putih gading tempatnya duduk. "Taiga, lihat sini sayang." Merasa dipanggil, Taiga menoleh mencari asal suara. Ia bersorak senang sambil melonjakkan badannya gembira sebelum merangkak ke arah Kouki, sesekali pekikan gemas meluncur mulus dari bibir mungilnya.

Belum sampai Taiga tiba di pangkuan papanya yang merentangkan tangan, ia tak sengaja melihat ayahnya mengeluarkan mainan bola basket kecil yang jika ditekan mengeluarkan suara. Mainan baru. Napas Taiga sontak memburu riang, bercampur penasaran dan suka dengan apa yang dipegang ayahnya. Lengan mungilnya membelok ke arah Seijuurou, berusaha menggapai mainan bola basket yang berada di tangannya.

"Kau curang, Sei," Kouki tak terima. Ia memutar otaknya dan menemukan benda lain yang sering dimainkan Taiga, mainan singa yang jika tuasnya diputar akan berjalan sambil mengaum. Taiga tak bisa menahan godaan benda ini.

Terkekeh, Seijuurou menimpali, "Terserah kalau kau sebut curang, Kouki, tapi bagiku ini adalah sebuah strategi."

Kouki terkapar di atas lantai. Benar-benar kalah. Taiga tak menolehkan kepalanya sedikitpun. Ia sakit hati. Jamur imajiner mulai tumbuh di tubuhnya, semakin banyak sebanding dengan semakin lamanya pengabaian yang Taiga berikan.

"Akui saja Kouki, aku selalu―"

"Iya, iya, kau selalu menang dan kau selalu benar karena kau absolut tak ada yang berani menghalangi jalanmu dan kau juga mutlak, tidak pernah kalah dan semua tunduk padamu dan tak ada yang boleh menatapmu rendah―padahal jelas-jelas ia lebih tinggi darimu," Kouki berlirih di kalimat terakhir, tapi Seijuurou mendengarnya cukup jelas.

"Sudah Kouki, jangan diteruskan lagi," suara datar Seijuurou justru membuat Kouki menahan senyum geli. "Aku punya firasat kau benar-benar akan menghinaku."

Mengerling jenaka, Kouki mengabaikan perintah Seijuurou, meski detak jantungnya mengkhianati sirat mata ingin menggoda suaminya itu. Heran, darimana ia bisa seberani ini mempermainkan seorang Akashi? "Kalau aku tidak mau, kau akan menghukumku, begitu?"

Seijuurou yang merasa ditantang menarik bibirnya menciptakan sebuah seringaian, "Oh, secara tidak langsung kau menyerahkan diri untuk dihukum, Kouki."

"Akan aku pertimbangkan tergantung apa hukumannya," Kouki semakin berani dengan tatapan Seijuurou.

Hening sejenak, sebelum pemuda berambut magenta itu melanjutkan, "Menurutmu disebut apa hukuman di dalam kamar nanti malam?"

Meski pipinya merona merah, Kouki belum menyerah, "A-aku ti-tidak tahu. Ke-kenapa ti-tidak perlihatkan saja padaku nanti?"

"Ah, Kouki... kau tidak tepat mengatakannya di depan Taiga, sayang."

Berbicara tentang Taiga, bayi berpipi gembil itu hanya menatap ayah dan papanya bolak-balik yang masih mengobrol, tak mengerti. Yang ia tahu kalau ayahnya sudah tersenyum mencurigakan begitu, pasti esok hari papanya lebih mudah lelah saat mengurusnya, membuatnya merengek karena tak bisa bermain selama mungkin dengan Kouki. Tak mau hal itu terjadi, Taiga, entah kerasukan makhluk apa, melempar bola basket yang sudah bercampur air liurnya ke arah Seijuurou, tepat di kening sang ayah.

Hening yang mencekam sampai bola jatuh dengan dramatis ke bawah.

"Baashhh...basshh―khet!" Taiga tertawa gembira sambil mengibaskan tangannya gemas.

"S-Sei! Taiga baru saja mengucapkan kata basket!" Kouki mendekati Taiga dan melesakkan hidungnya pada pipi anaknya itu, menghirup aroma bayi yang menenangkan pikirannya. "Katakan sekali lagi, sayang," pintanya.

"Baaashhhkhet...?"

"Aaaah! Taiga, kau pintar!"

Taiga memekik kaget tapi riang saat Kouki menciumi wajahnya berulang kali. Jemari kecilnya mendarat di pelipis Kouki dan meraba-raba di sana, tawanya belum hilang. Ia membiarkan papanya menguburkan kepala di perutnya dan mulai menciumi daerah itu. Taiga terbahak geli.

Di belakang, Seijuurou tak bergerak sama sekali. Ia membiarkan bola basket kecil itu menggelinding entah kemana―mungkin tidak akan ia cari lagi, juga mengabaikan air liur yang jatuh melalui keningnya ke atas karpet. Taiga justru malah memperburuk keadaan―sekarang dan papanya nanti.

"Kouki, itu anakmu."

"... umm, iya, Taiga memang anakku?"

Cih!

Anak dan papa sama saja.

.

.

.

おわり

(A/N: Maksudnya sama-sama oblivious alias polossshh :' saya nggak bisa nahan dua makhluk maji tenshi ini uuugggh *peluk cium Taiga*

Kinikama Hatake: Salam kenal juga! Hahaha. Taiga gede nanti merupakan musibah bersifat pribadi buat Akashi. Karena pertama kali dalam hidupnya, dia bener-bener direndahin hahaha *tewas disabet gunting* Makasih review-nya!

Haruka Nadia: Iya, seru ya... ngebuli Akashi emang seru : *tewas untuk yang kedua kalinya* Makasih review-nya!

Tomo: Mau gimana lagi, Mo, hati udah habis kesayat tragedi angsty ;u; Makasih review-nya!

Renren: Akhirnya kamu nongol juga! Pindah haluan karena fandom samping sepi hahaha. Makasih review-nya!

-nju)