家族
KnB © Tadatoshi Fujimaki
Warning: Implied M-PREG, Out of Character-ness, full of a bundle of fluffy cotton candy, why so serious?
.
.
.
Bulan keempat kedatangan Taiga di keluarga kecil Akashi, Kouki dan Seijuurou masih panik setiap saat makhluk mungil itu mulai menangis. Di awal-awal, mereka memang dapat bernapas lega karena ada nyonya Furihata, dengan sengaja menginap di sana untuk mengajari Kouki cara mengurus bayi.
Terkadang, Kouki memberanikan diri meski tangannya bergetar, takut-takut menjatuhkan anaknya ke bawah. Dengan berhati-hati, Kouki akan meletakkan kepala bayi kecilnya di tangan kanannya yang melipat, pelan-pelan menggoyangkan Taiga sampai ia tertidur nyenyak.
Tapi biasanya itu akan memerlukan waktu lama.
Kouki tak tahu kenapa. Tiap kali Taiga digendong olehnya, ia sulit berhenti menangis. Meski berbagai lagu sudah Kouki lantunkan, tetap saja air mata itu tak mau berhenti mengalir. Tapi jika Satsuki atau Riko berkunjung ke rumahnya, Taiga akan mudah terlelap kalau mereka yang menenangkan. Bahkan, Mitobe juga pernah berhasil melakukannya. Kouki sekali bertanya, dan mereka hanya menjawab dengan senyuman simpul,
"Tenangkan dirimu dan jangan khawatir, bayi justru tidak nyaman kalau kau panik."
Kouki semakin tak tahu harus bagaimana. Justru itu lah masalahnya.
Seijuurou belum pernah menggendong Taiga kecil. Menurutnya, makhluk serapuh itu tak pantas disentuh oleh tangannya. Bisa hancur nanti. Sebenarnya, Seijuurou takut―Kouki yakin itu, walau alasan sesungguhnya, Kouki hanya ingin mencari rekan atas ketidakmampuannya mengurus Taiga.
Jika Taiga menangis dan hanya ada Seijuurou di dekatnya, pemuda bersurai magenta itu akan berlari mencari Kouki meminta bantuan. Pada bulan kelima, Kouki dapat mengatasi masalahnya. Ia menjadi lebih percaya diri merawat Taiga. Pelan-pelan digendongnya sampai Taiga nyenyak kembali. Tanpa Kouki sadari, di belakang Seijuurou teliti mengamati.
Tengah malam di suatu hari, Seijuurou terbangun dengan suara tangisan Taiga, padahal baru dua puluh menit yang lalu ia terlelap karena mengurus tugas yang menumpuk. Diliriknya Kouki di samping ranjang, tertidur pulas dan Seijuurou tak tega mengusiknya. Lagipula, Kouki juga baru tidur tak lama sebelum Seijuurou memasuki kamar, sibuk menenangkan Taiga yang tak berhenti mengamuk.
Berbekal pengetahuan seadanya dan pengalaman nihil namun kepercayaan diri yang luar biasa, Seijuurou melangkahkan kaki ke kamar Taiga di samping kamarnya. Dihembuskan napasnya lamat-lamat, ia merasa seperti masuk ke gedung pertunjukan bakat saja.
Taiga di sana, berbaring sambil menggeliat, wajahnya basah karena air mata, dengan pipi bulat yang memerah. Seijuurou memperhatikan sebentar, berpikir―sekarang apa? Ingat-ingat lagi apa yang Kouki biasanya lakukan atau di buku yang ia beli kemarin...
Oke, Seijuurou tahu. Dengan perlahan, Seijuurou membungkuk ke arah Taiga. Ia menyelipkan telapak tangan kanannya pada bagian leher dan kepala untuk menyangga. Seijuurou tak sadar ia menahan napasnya sepersekian detik barusan. Hal pertama yang ia rasakan ketika sarafnya menyentuh kulit Taiga adalah; lembut, seperti permen kapas. Dengan berhati-hati, Seijuurou menggunakan tangan kirinya untuk menopang tubuh bagian belakang Taiga sebelum ia rebahkan kepala bersurai merah itu pada lipatan sikunya.
Terus, bagaimana? Seijuurou berpikir keras. Ah, kenapa ini lebih memusingkan dibanding bermain shogi tiga ronde berturut-turut?
Tangannya memegang erat Taiga, namun tak sekencang hingga mampu meninggalkan bekas. Seijuurou mengangkat bayi mungilnya untuk didekatkan pada dadanya, membiarkan Taiga mendengar detak jantungnya yang lambat laun kembali konstan.
"Uhnn," seakan mengetahui keberadaan ayahnya, Taiga berhenti menangis. Kelopaknya membuka, memperlihatkan mata bengkak dengan iris senada. Bibir kecilnya menyunggingkan tawa kecil tanpa suara.
Seijuurou tersenyum, melihat anaknya begitu ... damai.
"Taiga," ucapnya, Taiga mengerjapkan matanya pelan-pelan, mencoba mengenali bayangan buram yang jatuh ke retinanya, mempelajari lekuk-lekuk wajah di depannya, berusaha mengingat sosok ayahnya. "Kau tahu bagaimana aku dan papamu pertama kali bertemu?"
Seijuurou mulai berkeliling ruangan sambil bercerita. "Suatu hari, aku melihatnya di lapangan basket, bermain dengan teman-temannya sambil tertawa. Dia, orang pertama yang aku lihat begitu polos, naif, dan sangat ... bahagia. Aku dituduh penguntit hanya karena ingin mengembalikan handuknya yang tertinggal di sana.
"Tiap kali mengajaknya berkenalan, dia sudah kabur duluan. Jujur, itu menyakitkan," tawa geli terbebas dari mulut Seijuurou. Di dekapannya, Taiga menguap. Seijuurou melanjutkan, "Tapi akhirnya mau menerimaku juga, meski sulit dan lama. Tak apa, lagipula perjuangan dan hasilnya sepadan. Kemudian, kami hidup bahagia selamanya," dikecupnya lembut pelipis bayi yang sudah setengah tidak sadar namun masih berusaha menahan kantuknya untuk mendengar lebih lama suara sang ayah. "Ini rahasia kita berdua saja, mengerti?"
"Uuhn," Taiga meracau tak jelas, tapi Seijuurou simpulkan sebagai pertanda ia paham apa yang baru saja dikatakan.
Sambil berjalan kembali dengan perlahan mendekati tempat tidur Taiga, Seijuurou menutup matanya, bergumam lirih, "Aku sangat mencintainya, sangat, sangat menyayanginya."
Dan Taiga tertidur lelap.
Tanpa Seijuurou sadari, Kouki ternyata bersembunyi di balik pintu, wajah memerah dan panas seperti saus tomat yang direbus. Berjingkat, ia kembali ke kamar, berpura-pura tidur agar Seijuurou tak tahu sedari tadi Kouki mendengar dongeng menjelang tidur yang memalukan itu.
.
.
.
おわり
(A/N: Saya sampai sekarang ga berani ngegendong bayi, trauma gara2 pernah salah gendong sampai bikin kepalanya keseleo dan takut nggak sengaja dilempar :'I baru bisa ngurus adek pas dia lebih dari satu tahun, minimal lehernya udah kuat, jadi nggak tahu itu cara megang bayinya bener atau enggak, masih trauma mamaaa!
cinta, okesip nanti saya coba bikin momen aokise dan kagakuro (sebenernya saya juga ngebet pengen bikin ini, sayang belum punya ide *ngeraung*). Makasih review-nya!
Anne Garbo, emang Kagami mah gemeshyin banget. Mau bayi, mau segede gitu juga emang gemesyin wkwkwk. Huahuahua, Furi gitu loh, singa aja takluk di depan dia. Masa ngegoda 'dikit' doang dia keder wkwkwk. Makasih review-nya!
URuRuBaek, iya pasti mereka bakal nongol (apalagi si Tetsu, dia hobi banget muncul tiba-tiba kayak hantu). Tunggu ya, saya kudu semedi di tengah gurun sahara dulu, biar dapet ide. Panggil nju aja, saya lebih suka Captain America daripada Thor wkwkwk. Makasih review-nya!
Nozoki0107, habisnya kapan lagi Akashi dinistain gitu, itung-itung kesempatan dan ngebalesin dendamnya chara kurobas yang dijahatin Akashi wkwkwk. Makasih review-nya!
rangeralone, arigachuuu~ iya saya mah semangat kok meski sekarang lagi mabok gegara mudik jauh juga wkwkwk. Makasih review-nya!
-nju)
