Jongin menahan tawanya. Ia menutup mulutnya rapat-rapat, memfokuskan kedua matanya untuk memandangi sohibnya.
Bukan, bukan Sehun, tapi Chanyeol.
Jongin mendekati Chanyeol yang sudah bermuka masam sejak dari rumah dan mulai berbisik-bisik padanya.
"Yeol, kau disuruh membawakan tasnya juga ketika berangkat?"
Chanyeol hanya memutar mata.
"Aku tidak percaya dengan ini," Jongin cekikikan pelan, "pantas saja si albino itu langsung taubat jadi siswa berandalan, selama dua minggu dia menjabat sebagai asisten Baekhyun."
"Bukan itu yang jadi masalahnya," sela Chanyeol dengan muka bertambah masam.
"Lha terus apa?"
"Rumahku dengan rumahnya itu ternyata berdekatan, sangat berdekatan, hanya berjarak empat baris rumah."
"Keren, pasti kau senang sekali ya."
"Senang ndasmu, aku sengsara!"
.
.
.
Classmeeting
Pairing: Chanbaek / Baekyeol
Genre: Romance, Friendship
Shonen-ai / BL / AU / OOC / School-life
.
Sorry for typo(s)
Garis miring sebagai flashback
.
.
.
.
.
"Yah, midget, kembalikan buku komikku sekarang."
Baekhyun melirik ke samping. Menatap Chanyeol yang sedang berdiri di samping mejanya.
"Tidak jika kau tidak memperbaiki cara pengucapanmu." Kata Baekhyun acuh.
Chanyeol memutar mata, "Ayolah, aku hanya meminta buku komikku."
Baekhyun menoleh, lengkap dengan tatapan tajamnya. "Lagipula dilarang membawa buku komik tahu!" peringat Baekhyun.
Chanyeol mendengus tertahan, "Peraturannya adalah diperbolehkan membawa buku komik, tetapi maksimal satu buku komik."
Baekhyun menuding tepat di depan hidung Chanyeol. "Ngaca dulu dong! Tanganku sudah gatal untuk menggeledah tasmu dan menemukan barang bukti bahwa kau membawa tiga buku komik ke sekolah."
Chanyeol nyengir tanpa dosa. Kemudian dengan gerakan secepat cahaya, ia membekap mulut Baekhyun. "Ssssttt! Pelan-pelan dong bicaranya, nanti aku ketahuan sama yang lain."
Baekhyun poker face selama hampir dua menit.
Kemudian ia menghempaskan tangan Chanyeol dari mulutnya, "Dasar idiot, ada juga kau seharusnya takut karena yang mengetahui hal ini adalah aku si ketua dewan!" Baekhyun mulai berasap.
"Oh, iya, aku lupa." Celetuk Chanyeol. Sekali lagi, tanpa dosa.
Baekhyun memilih untuk mengabaikan spesies aneh di sampingnya dan mengetik proposalnya yang sempat tertunda. Chanyeol menghela napas. Memang sepertinya dia harus mau menjatuhkan harga diri di depan si ketua dewan ini. Mana tadi pagi Baekhyun benar-benar datang ke rumahnya.
Rusak sudah pagi yang indah untuk Chanyeol.
.
Chanyeol baru saja selesai memakai seragamnya—mengabaikan fakta bahwa dasinya masih tergantung tak terikat di lehernya—dan menyambar tas di atas meja belajar. Tepat ketika suara ibunya terdengar di luar pintu kamarnya.
"Chanyeol, kau kedatangan tamu."
Chanyeol diam karena masih loading. Ia masih memasang wajah kantuk.
"Katanya teman sekolahmu, dia bilang kalian akan berangkat ke sekolah bersama. Cepat turun ke bawah dan jangan membuatnya menunggu lama, ibu turun duluan, ya." Kemudian terdengar suara langkah kaki yang menjauh dari depan pintu kamar Chanyeol.
Chanyeol masih loading.
Biasa, otaknya memang masih dalam mode 'avira' yang sudah ketinggalan jaman itu. Ia mengulang perkataan ibunya dalam pikiran yang kini modenya sudah naik satu level, pakai 'smadav'.
...
Nyonya Park—ibunya Chanyeol—sedang menuangkan air teh ke dalam tiga cangkir. Kemudian mencampur gula dengan takaran yang sama diketiga cangkir tersebut. Ia meminum salah satunya, memastikan bahwa rasa manisnya pas.
Tepat ketika suara gaduh datang dari lantai atas—kamar Chanyeol.
Nyonya Park nyaris tersedak tehnya. Ia segera keluar dari dapur dan melihat Chanyeol sudah terengah-engah sampai diundakan terakhir tangga.
"Chanyeol? Kok buru-buru? Ini belum terlambat kok." Kata ibunya.
Chanyeol mengatur napasnya sebelum menatap ibunya, "Bu, jangan bilang kalau tamuku itu—"
"Dia ada di ruang tamu, mungkin saja juga terganggu dengan suara berisikmu itu."
Chanyeol menahan napas, ia berjalan menuju ruang tamu. Melihat seseorang duduk di sofa. Rambut cokelat gelap, memakai seragam dengan sangat rapi, kacamata onyx, pendek, unyu...
Chanyeol menggelengkan kepalanya.
Apa-apaan kata terakhir itu, Byun Baekhyun sama sekali tidak unyu!
Sangkalnya kemudian di dalam hati. Biasa, jaim.
Orang yang dipandangi tentu saja mengetahui keberadaannya. Baekhyun mengangkat wajah dari buku yang tadinya ia baca.
"Oh, kau baru bangun ternyata." Katanya pelan.
Chanyeol segera mengarahkan jari telunjuk kanannya, tepat menuding di depan kacamata onyx si lawan bicara. "Kau! Kenapa datang kesini?!"
"Jangan pakai suara keras, ini masih pagi tahu, suara om-om milikmu itu mengganggu pendengaranku. Menumpuk polusi suara saja," Baekhyun menutup buku yang dibacanya, "lagipula aku kesini untuk mengambil kembali sepatuku. Dimana kau simpan sepatuku?"
Chanyeol melipat kedua tangannya di depan dada dengan wajah bahagia, "Coba saja kau cari sendiri."
Baekhyun menekuk alis, "Kau mau hukumanmu ditambah, ya? Menjadi asistenku itu sudah lebih ringan dibanding hukuman lainnya."
"Ringan, matamu! Aku lebih memilih hukuman yang lain daripada harus menjadi asistenmu!"
"Oh? Kau minta tambah hukuman lain? Kalau begitu, kau jadi wasit saja ya. Lomba hari ini olahraga badminton, kau mengerti cara permainannya kan?" Baekhyun bertanya dengan sinis, sengaja ceritanya.
"Jangan bersikap seolah kau menganggapku tidak tahu apa-apa tentang olahraga." Kata Chanyeol, merasa direndahkan.
Kemudian terdengar samar-samar suara langkah kaki. Nyonya Park membawa nampan yang di atasnya terdapat dua cangkir berisi teh. Juga sepiring roti tawar yang di atasnya terdapat olesan selai kacang. Ia meletakkan nampan itu di atas meja kayu di depan sofa.
"Nah, Baekhyun, ini teh untukmu. Dan Chanyeol, cepat sarapan." Kata Nyonya Park.
Chanyeol menyambar rotinya dan segera memakannya cepat-cepat. Kedua matanya melirik sinis ke arah Baekhyun. Ia duduk di pinggir sofa sambil memakai sepatunya.
"Kalian berdua harus cepat-cepat berangkat ke sekolah, kan?"
Baekhyun meletakkan kembali cangkir teh setelah meminum tiga perempat dari isinya. "Iya, Bibi. Terima kasih tehnya,"
Nyonya Park tersenyum ke arah Baekhyun, kemudian matanya beralih kepada putranya. "Chanyeol, dasimu masih belum terikat."
"Aku bisa pasang sendiri—"
"Biasanya juga ibu yang pasang, kan?" Nyonya Park mengikat dasi itu.
Baekhyun melirik Chanyeol sesaat sebelum memalingkan wajah ke samping, dengan tangan yang membekap mulut. Bersusah payah ia menahan tawa.
"Urh, terima kasih, Bu. Aku berangkat," kata Chanyeol sambil menyampirkan tasnya ke bahu.
Baekhyun segera berdiri, "Tunggu sebentar, Chanyeol. Kembalikan dulu sepatuku,"
Chanyeol membatu seketika.
Nyonya Park mengernyitkan dahi, "Sepatu?" kemudian kedua matanya beralih menatap punggung tegap putranya, "apa maksudnya, Chanyeol?"
Chanyeol memutar badan dengan kaku, "Eh, itu—"
"Kemarin dia mengambil sebelah sepatuku, Bibi. Makanya aku datang kesini untuk mengambilnya." Sela Baekhyun cepat-cepat.
Nyonya Park memicingkan kedua matanya, "Sifat jahilmu itu masih saja belum hilang? Kembalikan sepatunya sekarang juga, Chanyeol."
Chanyeol mengangguk cepat dua kali. Ia berjalan cepat menuju kamarnya.
Nyonya Park menghembuskan napas, "Maaf ya, Baekhyun. Nanti, Bibi akan menceramahinya setelah sepulang sekolah."
"Eh, ya, tidak apa-apa."
Sepasang hazel milik Baekhyun menemukan tas hitam milik Chanyeol. Keisengan muncul di otaknya ketika Nyonya Park kembali ke dapur. Jika kemarin Chanyeol merampas miliknya. Maka kini ganti Baekhyun yang merampas milik Chanyeol.
.
"Jangan menganggapku tidak ada, cepat kembalikan buku komikku."
"Berisik,"
"Kembalikan sekarang, midget."
"Kubilang, perbaiki dulu cara pengucapanmu, giant." Baekhyun menarik kerah seragam Chanyeol ke bawah, membuatnya merunduk agar Baekhyun dapat berbisik di telinganya. "Perbaiki sekarang atau kau mau kubocorkan sebuah peristiwa yang... unik tentang dirimu. Seorang siswa berandalan sekolah ternyata masih dipakaikan dasi oleh ibunya, sungguh manja." Kemudian Baekhyun melepaskan tangannya.
Chanyeol meneguk ludah. Diam-diam mengumpat.
Chanyeol mulai berlutut di samping meja Baekhyun, dengan kedua tangan yang disatukan seolah memohon. "Bisakah hamba meminta kembali buku komik tercinta? Hamba tidak bisa hidup tanpa komik—"
Sebuah buku mendarat tepat di wajah dramatisnya.
"Najis, nggak usah sok dramatis. Yang kumaksud memperbaiki cara pengucapan itu kau hanya perlu menambahkan kata tolong agar lebih sopan. Bukan sok alim seperti itu."
Chanyeol menyingkirkan buku—yang rupanya komik tercintah—dari wajahnya. "Jangan lempar-lempar komik kesayanganku, dong! Ini komik, bukan tip-x anak sekolahan yang dilempar-lempar!" Kemudian dengan wajah berbinar ia mencium cover sang buku.
Baekhyun poker face ditempat.
"Kalau besok kau masih membawa lebih dari satu komik jahanammu itu, aku akan membakarnya." Ancam Baekhyun.
"Tolong ya, komikku ini komik dengan rate yang aman, sesuai dengan umur, midget."
"Tapi tetap saja melanggar peraturan, giant bodoh."
Baekhyun melanjutkan mengetik proposal. Sementara Chanyeol duduk lesehan di samping meja Baekhyun—bukannya ia tiba-tiba jadi bersifat merakyat, bukan, sama sekali bukan. Ia hanya berjaga-jaga siapa tahu orang pendek di sebelahnya mulai menyuruhnya untuk melakukan sesuatu.
"Baekhyun, kau dicari oleh wakil ketua OSIS. Dia menunggumu di depan kelas," ucap salah seorang siswi yang baru saja masuk ke kelas.
Baekhyun mengangguk sebagai jawaban dan menggumamkan kata terima kasih. Kemudian ia bangkit dari kursi dan segera menuju keluar kelas.
Jongin—yang sedari tadi melakukan rutinitasnya sebelum bel masuk alias tidur—tiba-tiba saja mengangkat kepalanya dari meja. Ia duduk tegak ketika melihat siluet Baekhyun menghilang dibalik pintu kelas. Ia menepuk bahu Chanyeol, yang kebetulan si pemilik bahu masih duduk lesehan.
"Chanyeol,"
"Hm?" tanyanya singkat, malas bicara karena ia sedang mengencani komiknya.
"Mau tidak balas dendam ke Baekhyun?"
"Maksudnya?"
"Balas dendam karena dia sudah menyita buku komikmu. Sampai-sampai kau harus berlutut seperti tadi,"
Ini anak kalo tidur matanya kebuka atau apa ya. Kok bisa tahu. —Batin Chanyeol bingung. "Eh, ya, balas dendam seperti apa dulu?"
"Uhm.. seperti yang pernah dilakukan Sehun barangkali?"
Sehun yang sedang membenamkan wajah di atas lipatan tangan merasa terpanggil. "Jangan sebut-sebut namaku, kalau ngefans ya bilang."
Jongin pura-pura tuli. "Itu lhoo, yang dia menumpahkan fanta ke kertas proposal satu semester yang lalu. Ingat tidak?"
Chanyeol mengangguk paham, "Yah, otakmu dipenuhi rencana-rencana khas siswa berandalan. Eh nggak juga sih, menurutku itu lebih mirip rencana-rencana khas cewek pemes yang punya dendam kesumat sama cewek kutu buku gara-gara rebutan cowok." Chanyeol pasang muka datar, "Tapi aku malas, nanti aku kena damprat olehnya lagi. Aku sudah cukup menderita menjadi budak berkedok hukuman menjadi asistennya."
Jongin memutar bola mata. Dengan gaya bicara khas syaiton menghasut manusia agar tidak melaksakan kewajiban salat lima waktu, ia melanjutkan, "Justru itu, kau balas dendam karena dia sudah menjadikanmu asistennya. Bukankah kau ingin melihatnya sengsara?"
"Jangan menambah bebanku, kalau kau mau, kau saja sana yang melakukannya. Aku tidak menyetujui apalagi ikut-ikutan." Kata Chanyeol, kemudian kepalanya bersandar di kaki meja Baekhyun.
Jongin cemberut di tempat. Ia melirik pintu kelas yang masih senantiasa tertutup. Dengan gerakan kilat ia duduk di kursi Baekhyun dan melihat-lihat beberapa kertas proposal yang sudah di-print. Dengan seringaian licik, ia membuka tutup spidol yang entah sejak kapan itu spidol bisa ada di tangannya—hanya dia dan Tuhan yang tahu—dan segera melakukan perombakan di kertas itu.
Waullohualam. Kun fayakun. Jadi maka jadilah.
Semikro detik kemudian Jongin sudah kembali ke tempat duduknya dan melanjutkan rutinitasnya—eits, salah, maksudnya melanjutkan aktingnya.
Karena sekarang tidur itu hanya akting.
Dasar murid durhaka.
Baekhyun masuk ke kelas bersama seseorang di belakangnya—Kim Joonmyeon si wakil ketua OSIS. Orang yang paling tidak bisa marah, karena setiap dia marah yang ada malah membuat orang lain tertawa. Baekhyun mengernyit dalam-dalam ketika melihat perubahan kertas proposal yang sudah diprint olehnya kemarin. Dengan aura membunuh ia melirik ke sekeliling kelas.
"Siapa..." tangannya mengepal, "..yang sudah menyentuh kertas-kertas proposalku?" kemudian ia tersenyum manis dalam artian iblis.
Sehun langsung mengangkat kedua tangannya dan mengibaskannya, "Pokoknya aku tidak ikut-ikutan. Tapi aku mendengar ada rencana licik dari salah satu murid disini."
Baekhyun melirik tajam ke arah Chanyeol—yang lagi-lagi masih tidak paham situasi karena sibuk berpacaran dengan komik. Sampai kemudian Chanyeol menyadari ada hawa tak enak di sekelilingnya.
"Apa? Kenapa melihatku begitu?" tanyanya kepada Baekhyun.
"Kau menyentuh kertas proposalku?"
"Tidak. Tapi aku tahu siapa," kemudian jari telunjuk kanan Chanyeol mengarah pada tersangka dengan santainya.
Baekhyun tersenyum manis, "Jongin, jangan pura-pura tidur, oh atau kau memang ingin tidur... selamanya?"
Jongin bergidik. Ia mengangkat wajahnya, "E-EH T-TUNGGU DULU—"
Suara lembut Joonmyeon tiba-tiba terdengar, memotong ucapan Jongin. "Duh, Baekhyun. Gimana nih? Proposalnya kan harus kita serahkan sekarang, guru pembina kesiswaan memberi waktu paling lambat sampai hari ini, kan?"
Baekhyun menolehkan kepalanya, "Percuma saja, masalahnya aku tidak membawa flashdisk sekarang. Dokumen proposal yang sudah selesai ada di flashdisk semua. Mana mungkin kalau mengetik ulang dan harus selesai hari ini,"
Dan Jongin sama sekali tidak merasa bersalah. Memang siswa berandalan sejati.
Joonmyeon menepuk-nepuk bahu si ketua dewan. "Tenang saja, biar aku yang menghadap guru pembina kesiswaan."
Baekhyun segera menggelengkan kepalanya, "Aku tidak bisa menyerahkan tanggung jawabku kepada orang lain," helaan napas yang begitu pasrah terdengar, "sudahlah, tidak apa-apa kok, aku saja yang menghadapnya."
Chanyeol entah kenapa diam-diam bertepuk tangan dalam hati. Ternyata ketua dewan murid yang suka menindas—dalam artian halal alias baik—begitu bertanggung jawab. Terselip rasa sedih ketika melihat raut wajah Baekhyun yang didominasi rasa sedih juga. Jarang-jarang Baekhyun memasang wajah seperti itu.
Suara bel masuk menggema di lorong lantai dua itu. Baekhyun sekali lagi menghela napas, memantapkan dirinya sendiri untuk segera pergi ke ruang guru.
"Perlu kutemani ke ruang guru?" tanya Joonmyeon.
Baekhyun menggeleng, "Aku sendiri saja, lebih baik kau urus pertandingan badminton duluan. Nanti aku menyusul."
Joonmyeon mengangguk patuh dan segera pergi dari ruang kelas. Siswa/i yang lain juga mulai meninggalkan ruang kelas. Tertinggallah empat orang disana. Persis seperti kemarin.
"Bos, kalau mau... aku bisa menemani—"
"Aku sendiri saja, Sehun, terima kasih atas penawarannya."
Baekhyun melirik Jongin dengan tajam, meskipun dia sendiri malas untuk memberi anak itu pelajaran. Yah, dibanting ke lantai bonus pelintiran di kedua lengan rasanya tidak buruk. Tapi Baekhyun benar-benar sedang malas. Ia frustasi sendiri memikirkan apa yang akan dikatakan guru pembina kesiswaan kepadanya. Chanyeol yang merasa sedikit—SEDIKIT—simpati dengan segera menutup komiknya. Ia berdiri tegak setelah Sehun dan Jongin meninggalkan kelas. Chanyeol langsung menyanggah narasi bahwa itu bukan bentuk kepedulian atau perhatian, ia hanya.. yah, merasa sedikit simpati saja.
Mana mungkin Chanyeol peduli pada Baekhyun.
"Ehm, kalau kau tidak keberatan—"
"Jangan sok peduli padaku,"
Chanyeol menahan dirinya untuk tidak memaki orang pendek di hadapannya. "Aku belum selesai bicara, kalau kau tidak keberatan aku akan menunggumu dengan damai aman tentram sentosa di samping tiang bendera lengkap dengan tasmu."
Baekhyun tersenyum palsu sepeti biasanya, ia menunduk dan memasukkan laptopnya ke dalam tas. "Yah, leluconmu lucu sekali. Aku akan pergi ke ruang guru sendiri—"
"Tidak." Chanyeol memotongnya, "aku akan menemanimu."
Uh, dasar Chanyeol labil.
Tangan Baekhyun berhenti bergerak merapikan kertas di atas mejanya.
"Jangan mengira aku peduli padamu atau apa, siapa tahu nanti kau menangis setelah diceramahi guru pembina kesiswaan. Kalau itu terjadi aku kan bisa mengabadikan momen itu dengan merekam atau memfotonya dengan ponselku." Sambung Chanyeol kemudian.
Baekhyun menaikkan satu alisnya, "Sebaiknya kau wujudkan saja leluconmu barusan—kalau kau akan menunggu di samping tiang bendera. Menurutku, jika aku datang sendiri akan lebih baik. Aku tidak ingin melempar kesalahan kepada orang lain." Kata Baekhyun dengan suara pelan. Sudah capek meladeni spesies di sampingnya itu. Kedua tangannya meremas kertas menjadi tak berbentuk, kertas proposalnya yang gagal.
Sudut bibir Chanyeol tanpa sadar bergerak melengkung ke bawah. Tidak senang atas respon Baekhyun. Ia mengharapkan omelan atau teriakan agar itu terdengar lebih baik, karena menurutnya Baekhyun tanpa omelan itu... sangat buruk, bukan Baekhyun banget. "Tapi itu kan bukan salahmu,"
Baekhyun melempar gumpalan kertas ke tempat sampah di sudut ruang kelas.
Shoot—strike!
Gumpalan kertas itu masuk dengan indah ke tempat sampah. Sungguh bakat olahraga yang sudah tidak dapat diremehkan.
"Pergi ke lapangan sana, sekalian jagain tiang bendera ya siapa tahu nanti tiang bendera kena sasaran lemparan, kasian tiangnya." Baekhyun berbalik dan berjalan duluan.
Chanyeol segera meraih tas Baekhyun dan membawanya.
Langkah kaki Baekhyun terhenti sesaat. "Omong-omong, terima kasih sudah peduli padaku."
Sadar atau tidak, telinga Chanyeol memerah. Dasar tsundere.
.
.
.
.
.
.
Chanyeol menutup buku komik yang dibacanya ketika ada seseorang yang menghalau sinar matahari, membuat bayangan gelap di atas komiknya jadi tak bisa terbaca. Ketika ia mengangkat wajah, ia menemukan si ketua dewan, masih lengkap dengan wajah muramnya. Malah terlihat lebih suram dibanding di kelas tadi.
"Eh, sudah selesai urusannya?"
Baekhyun mengangguk singkat. Ia membuka tasnya dan mengeluarkan laptopnya tanpa menyuruh Chanyeol. Kemudian tangannya sudah sibuk mengetik proposal.
Chanyeol mendadak merasa ingin tahu yang berlebih. "Tumben tidak menyuruhku mengambilkan laptopmu seperti kemarin," pancingnya agar Baekhyun bicara.
"Seperti katamu kemarin, aku masih punya tangan."
Responnya tidak seperti harapan Chanyeol. Terselip sedikit rasa kecewa, Chanyeol sendiri tidak tahu kenapa. Ia menggeser dirinya untuk duduk di sebelah kanan Baekhyun. Kedua matanya fokus pada Microsoft Word di laptop Baekhyun. "Jadi, apa yang terjadi tadi? Kau dimarahi?"
Baekhyun menghembuskan napas panjang, "Yeah, dimarahi."
Chanyeol manggut-manggut.
"...dimarahi habis-habisan."
Seketika anggukannya berhenti. Chanyeol melirik orang pendek di sebelahnya selama semikro detik sebelum kembali pada layar datar laptop, istilah singkatnya mencuri pandang.
"Serius? Aku tidak pernah tahu kalau guru pembina kesiswaan segalak itu. Lalu apa lagi yang terjadi?"
"Dia memberiku waktu sampai besok sih, karena aku memberitahu bahwa data proposalnya masih ada di flashdisk-ku. Tapi tetap saja aku dimarahi habis-habisan. Juga beberapa sindiran seperti aku yang tidak bertanggung jawab, ceroboh dan kata-kata sekeluarganya."
Chanyeol entah kenapa merasa tidak terima. "Tunggu, memangnya apa yang kau katakan padanya? Maksudku, kau tidak mengatakan kalau kertas proposalmu dicoret-coret oleh siswa lain?"
Baekhyun menggelengkan kepalanya.
"Midget... sehat?"
"Wal'afiat."
"Bodoh, kenapa kau tidak memberitahu hal yang sebenarnya? Itu namanya kau melempar kesalahan orang lain kepada dirimu sendiri, bagaimana sih? Kau tidak mau melempar kesalahanmu kepada orang lain tapi kau menerima saja ketika diperlakukan seperti itu."
Baekhyun mengangkat bahu, "Aku tidak mau memperumit masalah. Yang penting aku masih diberi waktu untuk menyerahkan proposal."
"Tapi itu tidak adil!" sungut Chanyeol menegakkan keadilan. Tolong kasih tepuk tangan dulu. "Apa perlu aku saja yang membalas Jongin?"
"Ini keputusanku sendiri," kata Baekhyun. Kemudian ia menoleh ke arah Chanyeol, "lagipula kenapa kau yang repot?" Baekhyun kembali menatap laptopnya.
Chanyeol gelagapan sendiri. "EH, itu.. itu... kan aku hanya—"
"Terima kasih sudah membelaku,"
Chanyeol bungkam. Lagi-lagi telinganya memerah. "Aku sama sekali nggak membelamu—" tapi kemudian ia menghentikan ucapannya sendiri. Kedua matanya tidak sengaja melihat sekilas senyuman Baekhyun. Bukan senyum palsu.
Tidak tahu kenapa, tiba-tiba jantungnya memukul-mukul keras tulang rusuknya.
.
.
.
.
.
Joonmyeon merangkul bahu Baekhyun dengan akrab. "Kereeeennn! Ketua baru saja diomeli oleh guru,"
Baekhyun membuang wajah, "Nggak usah mendramatisir begitu. Lagipula ini kan bukan pertama kalinya aku dimarahi,"
Joonmyeon menggelengkan kepalanya, "Bukan pertama kali matamu, justru ini pertama kalinya kau dimarahi oleh guru pembina kesiswaan. Sebelum-sebelumnya paling-paling dimarahi kecil-kecilan oleh guru lain."
"Berisik,"
"Duh, iya-iya. Jangan ngambek dong, kalau begitu nanti malam kau nge-print proposalnya saja ya. Jangan lupa,"
"Tidak akan lupa, aku tidak mau masuk ke ruang guru esok hari tanpa membawa proposal." Kata Baekhyun. Kemudian ia berhenti melangkah. "Kalau begitu aku pulang dulu, sampai besok."
Joonmyeon segera membelokkan arah kakinya ke kanan, sementara Baekhyun ke kiri. "Dah ketua dewan, sampai besok."
Baekhyun melangkahkan kakinya dengan cepat. Ingin segera sampai di rumah untuk melanjutkan proposal yang sedikit lagi selesai. Jarak sekolah ke rumahnya memang bisa dibilang dekat, paling-paling menghabiskan waktu minimal sepuluh menit. Tergantung sih sebenarnya, kalau Baekhyun mampir ke kedai es krim atau ke taman atau ke kafe atau nyamperin abang-abang penjual balon gas—tolong abaikan ini—bisa saja dua puluh menit kemudian dia baru sampai di rumah.
Dan Baekhyun sudah menyuruh Chanyeol untuk pulang duluan karena ia masih harus mengadakan rapat OSIS sebentar.
Baekhyun entah kenapa sedang malas menyiksa Chanyeol.
Sekali-sekali si tiang itu boleh lepas dari hukumannya. Setidaknya hanya untuk hari ini.
Lima menit berlalu dan Baekhyun memelankan langkah kakinya. Kedua matanya memicing tajam untuk melihat sesuatu di balik pohon akasia di pinggiran jalan. Baekhyun menoleh ke samping kanan dan kiri, terakhir ke belakang, yang ia lihat hanyalah jalanan yang sepi. Baekhyun yakin ia melihat sekilas siluet seseorang di balik pohon akasia yang berjarak delapan meter dari tempatnya berdiri. Dengan rasa penasaran—tumben-tumbennya ia sedang penasaran—kakinya melangkah pelan-pelan. Terlihat konyol karena mana mungkin dari jarak delapan meter suara langkah kaki akan terdengar.
Siluet itu terlihat lebih jelas dalam radius tiga meter. Seragam yang sama dengan yang dikenakan Baekhyun terlihat jelas. Baekhyun semakin penasaran. Langkah kakinya berhenti ketika jarak tinggal satu setengah meter.
"Urh, sial. Tulang pipi dan rahang mereka terbuat dari logam atau apa sih, keras banget."
Baekhyun dapat mendengar kalimat itu dengan jelas. Suara yang begitu familiar mengingatkan Baekhyun pada spesies menyebalkan yang ada di sekolah—
"Giant?"
—setidaknya Baekhyun tidak pernah menyebut kata 'seseorang' untuk Chanyeol. Ia selalu menggunakan kata 'spesies' untuknya. Lebih mudah diingat, menurutnya sih gitu. Antimainstream.
Dan benar saja, itu memang Chanyeol.
"Midget... kok ada disini? Stalker, ya?"
Baekhyun ingin sekali menggunakan satu dua jurusnya sekarang juga untuk menghajar spesies di hadapannya. "Stalker, matamu! Aku baru pulang sekolah tahu."
Dan Baekhyun menyadari ada yang berbeda darinya. Seragamnya sedikit acak-acakan, kedua lengan seragamnya digulung sampai siku sementara blazernya disampirkan ke bahu kanan. Lebam yang sedikit menonjol terlihat di sudut kiri bibir, rahang, tulang pipi, dan sudut kanan dahi. Jika dilihat lebih jelas, sudut kiri bibirnya malah seperti robek se-milimeter.
Oh, pasti habis tawuran lagi ini anak.
"Habis tawuran lagi sama siswa-siswa dari sekolah sebrang?" tanya Baekhyun to the point.
Chanyeol nyengir, tapi kemudian ia meringis sakit. Tangan kirinya terangkat untuk mengusap pelan lebam di sudut kiri bibir. "Lebih tepatnya aku dikeroyok. Lagian aku baru setengah jalan dari sekolah tiba-tiba mereka mencegatku dan mengajakku berkelahi,"
"Kenapa kau tidak menolak ajakan mereka saja?"
"Mereka menghalangi jalanku, makanya aku tidak bisa kabur kemana-mana. Dan yah beginilah hasilnya," Chanyeol menunjuk wajahnya sendiri dengan tangan kiri. Tangan kanan Chanyeol tersembunyi dibalik punggung. Sengaja disembunyikan.
Baekhyun yang memang memiliki mata yang tajam—terlalu tajam malah—tentu saja menyadarinya. Ia menarik lengan kanan Chanyeol keluar dari tamengnya—punggung—dan Chanyeol meresponnya dengan sedikit mengaduh. Dan terpampanglah tangan kanan Chanyeol yang tergores tipis sana-sini dan lebam yang samar di bawah pergelangan tangan. Terlihat jelas karena lengan seragamnya yang digulung.
"Ini apa lagi?" tanya Baekhyun penuh selidik.
"Yah... pokoknya hasil perkelahianku dengan mereka,"
"Kalau begitu, ayo pulang bareng saja sekalian." Baekhyun menarik kembali tangannya. Ia melepas tas yang sedang dikenakannya kemudian menyerahkannya pada Chanyeol, "Bawakan tasku."
Chanyeol memasang wajah kesal sekesal-kesalnya orang kesal. "Aku habis dikeroyok pun kau masih memperbudakku?"
"Hukuman tetap hukuman, giant."
Tolong, siapapun ingatkan Baekhyun tentang narasi jauh di atas sana yang tertulis;
Baekhyun entah kenapa sedang malas menyiksa Chanyeol.
Sekali-sekali si tiang itu boleh lepas dari hukumannya. Setidaknya hanya untuk hari ini.
Baiklah, tapi hukuman tetap hukuman.
.
.
.
.
.
.
.
"Pelan-pelan, midget. Kau pikir alkohol bertemu luka lebam itu tidak bereaksi sakit?" kata Chanyeol sarkastik.
Baekhyun menjauhkan kapas yang sudah basah karena alkohol dari tulang pipi Chanyeol. "Payah banget, kuat dikeroyok tapi disentuh alkohol aja begini. Cowok bukan, sih?"
Chanyeol menekuk alis kesal, "Ini juga masih lebih baik dibanding cowok yang mukanya sedih tanpa semangat hidup setelah diomeli guru—Aduh!"
Baekhyun menekan tulang pipi Chanyeol dengan keras. Sengaja ceritanya. "Masih lebih payah kau tahu!"
Kini mereka berada di rumah Baekhyun. Baekhyun sengaja menyeret Chanyeol masuk ke rumahnya dan mengobati luka lebam Chanyeol. Setidaknya, Baekhyun adalah orang yang peduli dan perhatian. Atau mungkin hanya merasa kasihan saja dengan Chanyeol. Bisa dibilang mengobati lukanya sebagai ganti karena Chanyeol sudah membawakan tasnya sampai rumah.
Baekhyun menghela napas, "Kenapa juga aku mau mengobati luka lebammu. Seharusnya kau berterima kasih padaku,"
Chanyeol tersenyum lebar dalam hati. "Iya, iya, terima kasih sudah peduli padaku. Meskipun kau galak dan menyebalkan, ternyata kau sangat memperhatikan orang lain, ya."
Baekhyun—entah kenapa—tiba-tiba saja merasa pipinya memanas. "Cara bicaramu itu biasa saja dong!" Baekhyun tiba-tiba sewot.
Chanyeol mengangkat satu alisnya, "Hah? Tadi itu sudah normal banget lho, memangnya apanya yang salah?"
"Cara bicaramu itu terlalu... terlalu baik untuk siswa berandalan sepertimu!"
Chanyeol menahan dirinya untuk tidak memutar mata. "Sepertinya aku melakukan apapun tetap salah ya dimatamu. Padahal aku sudah menjatuhkan harga diriku untuk mengucapkan terima kasih."
"Jangan mendramatisir," Baekhyun menutup luka lebam di sudut dahi dan tulang pipi Chanyeol dengan kain kassa yang sudah dibasahi alkohol. Ditempel dengan plester putih. "Nah, sudah selesai."
"Hei, rahang bawah dan sudut bibirku belum tersentuh alkohol."
"Obati saja sendiri," Baekhyun menyodorkan kapas.
Chanyeol cemberut sendiri. Ia meraih kapas dan segera menyentuhkannya pelan-pelan di sudut bibirnya. Baekhyun membereskan kapas dan alkohol di atas meja kayu kemudian menarik keluar kain kassa dari dalam kotak untuk membalut lengan kanan Chanyeol.
"Kemarikan lengan kananmu," perintah Baekhyun.
Chanyeol menurutinya, ia menukar tangan kirinya untuk mengobati lebam di sudut bibir dan tangan kanannya disodorkan ke arah Baekhyun. Baekhyun menggunakan cotton bud yang sudah tersentuh obat merah—betadine—kemudian mengoleskannya secara perlahan pada luka berbentuk goresan tipis, meskipun ada juga goresan yang sedikit dalam.
Setelah selesai, ia membalut lengan Chanyeol dengan hati-hati. "Lain kali aku tidak akan menyuruhmu pulang duluan deh," kata Baekhyun memecah keheningan.
Pandangan Chanyeol jatuh pada Baekhyun yang terfokus pada lengannya. "Kok gitu?"
"Nanti kau dikeroyok lagi," jawab Baekhyun. Entah kenapa ditebak dari kalimatnya terselip rasa khawatir.
Chanyeol mengerjap tiga kali, "Lha bukannya kalau pulang denganmu bisa-bisa kau juga terlibat?" Entah kenapa ditebak dari kalimatnya juga terselip rasa khawatir.
"Aku kan juga bisa memakai hapkidoku. Mungkin kalau tadi aku ada di sana, kau nggak akan lebam-lebam begini." Baekhyun membanggakan dirinya sendiri.
"Cih, sombong," Chanyeol memutar mata.
Baekhyun menahan tawanya. Ikatan terakhir kain kassa di lengan Chanyeol juga sudah selesai. "Nah, kau bisa pulang sekarang,"
"Ceritanya mengusir nih?"
"Kalau kau merasanya begitu sih ya terserah."
Chanyeol membuang kapas ke atas meja kayu bersama tumpukan kapas yang lain. Baekhyun tinggal melaksanakan sentuhan terakhir di rahang bawah Chanyeol. Tangannya bergerak mengambil plester di dalam kotak pertolongan pertama itu. Setelah menemukannya, ia membuka bungkusnya.
"Hadapkan wajahmu kesini,"
Chanyeol awalnya tidak mengerti, tapi ketika melihat plester di tangan Baekhyun, ia segera menurut.
"Angkat sedikit kepalamu, aku tidak bisa melihat goresannya."
Chanyeol menurut lagi.
Baekhyun memajukan wajahnya dan menemukan luka yang dicarinya. Ia menutup goresan kecil di rahang bawah Chanyeol. Chanyeol keringat dingin sendiri ketika merasakan hembusan napas hangat Baekhyun di area dagu ke bawah alias lehernya.
"Sip, sudah selesai semua."
Chanyeol beralih menatap Baekhyun, "Sekali lagi, terima kasih sudah mau mengobatiku."
Baekhyun hanya mengangkat bahu sebagai kata ganti 'tidak masalah'.
"Juga terima kasih sudah peduli padaku." Tambah Chanyeol.
Oh, shit. Kalimat itu lagi.
Teknik bumerang milik Chanyeol. Dan Baekhyun benci hal itu. Sadar tak sadar, wajahnya merona samar.
"Hoi, midget, wajahmu memerah lho."
Dan kali ini wajahnya benar-benar memerah yang sebelas duabelas sama uang seratus ribu rupiah, merah-merah pink gitu.
"B-Berisik,"
Chanyeol tertawa dalam hati. Menganggap bahwa Baekhyun yang sedang malu tercampur gagap itu terlihat unyu di matanya. Seakan teringat narasi dari flashback, Chanyeol kembali menyanggah bahwa Baekhyun sama sekali tidak unyu.
Duh, Chanyeol kalo modus dalam hati sekalipun kok selalu diakhiri tsundere sih, hmph.
.
.
.
.
.
.
.
.
FINISH
a/n: Hari kedua yang ini sama sekali nggak ada pembahasan soal classmeet-nya ya. Aduuuh, agak melenceng dari plot aslinya. Tapi harap berharap ini nggak mengecewakan.
Makasih buat pembaca yang udah memberi pendapat lewat review di chap kemarin;
Iyel, fhsilvertear, Maple Fujoshi2309, BabyWolf Jonginnie'Kim, indrisaputri, BaebyYeolliePB, ariviavina6, oppayam, Lala Maqfira, yayahunnie, Anonymouseu, LeeEunin, cucumbernim, hunniehan, onenisa, Richa Byun926, lolamoet, sanyakie, GitaPark, ibyeoreul, byunnie, Guest, Dhl, baekhyunee, decb, guest, Matsuoka Rose, adeokta677
Juga semua yang sudah fav atau alert
Omake
"Hei, midget."
"Bisa tidak kau menyebut namaku dengan normal?"
"Malas ah, kalau aku memanggilmu dengan namamu kan tidak asik. Sudah banyak yang memanggilmu begitu, kan? Tapi.. kalau 'midget' hanya aku kan yang memanggilmu begitu?"
Baekhyun memutar mata, "Terserah kau, giant."
Chanyeol tiba-tiba memiliki niat macam-macam untuk Baekhyun. Chanyeol menggeser dirinya lebih dekat dengan Baekhyun yang sedang membereskan kotak P3K-nya. Dengan risih Baekhyun melirik Chanyeol, "Apa sih pakai dekat-dekat segala? Jauhan sedikit bisa tidak?"
Chanyeol hanya memasang cengiran bodohnya, tapi dia meringis lagi ketika merasakan perih di sudut bibirnya. "Kalau aku tidak mau?"
Baekhyun menutup kotak sambil menghela napas. "Kau ngomong apa sih? Pulang sana, lukamu kan sudah kuobati semua."
"Masih ada satu lagi yang belum diobati olehmu,"
Baekhyun menoleh dengan satu alis yang terangkat. "Hah? Memangnya ada yang terlewat ya?"
Chanyeol mengangguk dua kali. Ia mendekatkan wajahnya kemudian jari telunjuk kanannya terangkat menunjuk luka yang dimaksud. "Yang ini belum," dan yang dimaksudnya adalah sudut bibir.
"A-Apa sih, i-itu kan sudah kau obati."
"Ya aku mengobatinya sendiri, kan? Artinya ini belum termasuk semua luka yang sudah kau obati,"
Baekhyun berniat menggeser dirinya menjauh sampai ke ujung sofa. Tapi niatnya tidak jadi dilaksanakan ketika sebuah tangan mendorong bahu kanannya dengan keras. Tahu-tahu punggungnya sudah berbaring menyentuh sofa. Lengkap dengan kedua tangan Chanyeol di sisi kanan-kiri kepalanya.
"Bagaimana kalau kau mengobati luka di sudut bibirku ini dengan cara lain?" tiba-tiba saja suara Chanyeol terdengar lebih berat.
Baekhyun terkesiap, masih loading dengan wajah melongo.
"Bukan dengan alkohol atau obat merah, tapi..." dengan lancangnya tangan kanan Chanyeol terangkat, jemari besarnya berlabuh di dagu Baekhyun. Mengangkat dagu itu lebih ke atas dan ibu jarinya bergerak mengusap bibir bawah Baekhyun.
Baekhyun mulai tersadar sedikit demi sedikit. Ia menatap Chanyeol dengan horror. Wajahnya memerah.
Chanyeol merendahkan kepalanya ke sisi kepala Baekhyun. Bibirnya tepat berada di depan telinga Baekhyun. Dengan suara rendah, ia berbisik, "Jangan lupa dengan tugas proposalmu."
Baekhyun melebarkan matanya, ia mendorong bahu Chanyeol menjauh. Dan segera duduk tegak, "A-Apa... apa-apaan kau menyentuh bibirku dengan jarimu?! Itu pelecehan tahuuuuu! Mesum!"
Chanyeol menggigit bibir bawahnya, menahan tawa. "Pffftt! A-Astaga, coba kau berdiri di depan kaca sekarang, wajahmu memerah parah." Chanyeol tertawa keras setelahnya. Menertawakan bagaimana si ketua dewan itu tak berkutik di dalam kungkungannya tadi sungguh sangat lucu, ditambah wajah memerahnya.
Baekhyun mengepalkan tangannya, tapi kemudian ia melemaskan kedua tangannya sampai berbunyi nyaring. "Kau mau kuhajar ya...?"
Chanyeol segera bangkit dari sofa setelah sebelumnya menyambar tasnya. "Eh, haha, aku pulang duluan ya, midget. Sampai jumpa besok!" sempat tertawa garing sebelum berlari menuju pintu. Berniat untuk segera keluar dari rumah Baekhyun.
"JANGAN KABUR DARIKU, GIANT MESHUUUM!"
"AMPUNI AKU, MIDGET!"
.
Tolong abaikan saja omake ini...
.
.
.
Terima kasih sudah membaca :)
review please?
