Baekhyun rasanya sudah tidak memiliki harga diri lagi untuk bertatap muka dengan Chanyeol. Setelah pelecehan kemarin—padahal Chanyeol hanya menyentuh bibirnya dengan jari—Baekhyun ingin sekali menghajar si berandal itu dengan satu dua jurusnya. Tapi Chanyeol selalu berhasil menghindar.
"Midget," panggil Chanyeol dengan nada sok akrab.
Baekhyun tanpa mengangkat wajah sudah tahu kalau Chanyeol duduk di depan mejanya dengan kepalanya yang ditumpukan ke sebelah tangan.
"Hari ini pertandingan apa?"
"Basket, memangnya kenapa?"
Chanyeol menahan dirinya untuk tidak tersenyum lebar karena sudut bibirnya masih sakit. "Aku boleh ikut main, kan? Ikut sebagai perwakilan dari kelas kita."
Baekhyun mengangkat wajahnya dari buku ensiklopedia yang berada di tangannya. "Kenapa kau meminta izin padaku?"
"Tentu saja aku minta izin padamu, kau kan manager basket."
Baekhyun pura-pura bicara dengan angin untuk mengabaikan spesies di depannya.
Chanyeol cemberut. "Ayolah, kalau aku ikut main, kujamin kelas kita akan masuk ke babak final dan dapat juara dari seluruh kelas." Katanya menyombongkan diri. Meskipun berdasarkan fakta, Baekhyun tetap menganggapnya sombong.
Baekhyun menghela napas, "Baiklah, terserah kau saja, tapi—"
"YES! Aku ikut menjadi perwakilan kelas—aduh!"
Kepala Chanyeol baru saja menjadi korban dari pukulan buku ensiklopedia yang dibaca Baekhyun.
"Dengarkan aku dulu! Tapi kau boleh main di babak kedua saja, soalnya kalau bukan kau, ya Sehun yang menjadi senjata."
Chanyeol mengangguk, "Yang penting aku ikut main."
.
.
.
.
.
.
Classmeeting
Pairing: Chanbaek / Baekyeol
Genre: Romance, Friendship
Shonen-ai / BL / AU / OOC / School-life
.
Sorry for typo(s)
Garis miring sebagai flashback
.
.
.
.
.
.
.
Percaya tidak kalau Byun Baekhyun yang menjabat sebagai ketua OSIS itu ternyata juga memiliki jabatan sebagai manager basket?
Tidak percaya?
Artinya anda belum menyimak seluruh isi fanfic dari chapter sebelum-sebelumnya. Padahal sudah terlihat jelas bakat yang dimiliki Baekhyun untuk memimpin dan berolahraga—futsal atau basket atau bela diri. Bagaimana dia selalu berhasil menembak target yang sudah dikunci oleh mata. Sebelah sepatu dan gumpalan kertas di chapter sebelumnya itu menjadi bukti. Sepatu yang dilempar strike mengenai kepala Chanyeol. Dan gumpalan kertas yang dilempar strike masuk ke dalam tempat sampah.
Lihat? Tidak ada yang tahu kalau Baekhyun memang memiliki bakat terpendam sejak masih memiliki ari-ari.
.
"Sehuuuuunn!"
Sehun menghentikan langkah kakinya, "Buat apa teriak-teriak kalau orangnya persis di sebelahmu, Jongin?!"
Jongin menepuk-nepuk bahu Sehun, "Hush, jangan marah-marah begitu. Lagian kupanggil dari tadi bukannya menjawab malah hanya diam."
Kemudian mereka melangkah lagi melewati gerbang sekolah.
"Terserahlah, apa yang ingin kau katakan?"
"Masih sama seperti hari kemarin, siapa yang cocok menjadi manager klub basket?"
Sehun memasang sebelah headset di telinga kanannya. "Mana aku tahu, kita kan sudah ada ketua klub, untuk apa mencari manager segala? Menambah pekerjaan saja,"
Jongin menggeleng maklum beberapa kali, "Ck, kau tidak mengerti. Kalau klub kita tidak ada managernya, bisa-bisa klub basket dibubarkan secara paksa oleh anggota OSIS. Itu kan kebijakan baru. Mengerti tidak, sih?"
"Kalau begitu, kita harus mencari orang yang pandai olahraga." Komentar Sehun.
"Atau ketua kita saja yang menjadi manager? Lalu kita akan mengangkat diriku menjadi ketua yang baru," sambung Jongin sambil menepuk dirinya dengan mimik wajah bangga.
Sehun memasang wajah datar, "Lebih baik aku keluar dari klub saja, makasih."
Jongin memasang ekspresi terluka yang dibuat-buat. "Tega sekali..." kemudian tangannya bergerak mengusap dada, bersikap sok tabah masih dengan wajah 'my kokoro is hurt' bahasa kerennya sih gitu. Atau bahasa gaul sekarang, 'sakitnya tuh disini'.
Tiba-tiba headset yang berada di telinga Sehun ditarik oleh seseorang. "Tidak boleh memakai headset kecuali jam istirahat dan sudah pulang sekolah." Kemudian sosok itu berlalu mendahului mereka. Berjalan menuju ruang OSIS.
Sehun terdiam sebelum akhirnya memasukkan headset ke dalam saku blazernya. Di sampingnya, Jongin mengerjapkan mata beberapa kali. "Kau mematuhi begitu saja perintah Baekhyun si ketua dewan yang galak tapi berparas hawa itu?"
Sehun mengangguk, "Aku kapok kalau dapat hukuman lagi darinya."
Jongin terlihat memasang tampang berpikir sebelum menepuk punggung Sehun dengan keras.
BUGH
"Aku sudah tahu siapa yang cocok menjadi manager klub basket kita,"
Sehun memasang ekspresi terluka yang sesungguhnya, tidak dibuat-buat seperti Jongin tadi. "Nggak usah mukul-mukul juga kali," tangannya bergerak kebelakang, mengusap punggungnya beberapa kali.
Jongin berjalan duluan menuju tangga ke lantai dua. Bersiap ke kelas sebelum bel masuk berbunyi. Sehun cepat-cepat menyusul, "T-Tunggu sebentar, jangan bilang kalau orang yang kau maksud—"
"Ya, you know what I mean." Potong Jongin.
...
"Ada perlu apa kalian menggangguku setelah rapat OSIS?"
Sehun memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Sementara Jongin terlihat bersemangat di sampingnya. Mereka menemui Baekhyun di depan ruang OSIS setelah rapat OSIS berakhir di jam pulang sekolah. Baekhyun berdiri persis di depan pintu ruang OSIS yang sudah kosong itu, lengkap dengan tas di bahunya—bersiap untuk pulang.
"Ayo masuk ke klub basket!" kata Jongin kelewat semangat.
Baekhyun menghela napas, ia berjalan melewati kedua lawan bicaranya dengan wajah datar. "Nggak, makasih."
Sehun menepuk bahu Jongin, "Aku tahu cara mendapatkan perhatiannya."
"Kalau begitu cepat lakukan sebelum dia pergi."
Sehun melangkah ke depan Jongin. "Baekhyun," panggilnya.
Baekhyun berhenti melangkah dan berbalik. "Kalau permintaanmu masih sama—oh, ada Sehun rupanya."
"Dari tadi kau tidak melihatku, bos?"
"Maaf? Kupikir tadi hanya ada Jongin,"
Sehun berusaha untuk tidak pundung di pojokkan. Ia memiliki niat terselubung untuk balas dendam karena kejadian tadi pagi dimana Jongin menepuk punggungnya kelewat kencang. Dengan pikiran nista, ia menjalankan rencana liciknya. Ia menunjuk Jongin yang berdiri di belakangnya dengan ibu jari, "Anak ini—Jongin ingin melakukan perbuatan mesum padamu." Katanya enteng dengan wajah tanpa dosa.
BUGH
Baekhyun menepuk tangannya untuk membersihkan debu imajiner di telapak tangannya kemudian menjentikkan jari, "Strike." Katanya singkat.
Tas biru gelap milik Baekhyun tergeletak di samping Jongin yang sudah berbaring sekarat di lantai. Baekhyun baru saja melempar tasnya dengan strike ke wajah Jongin. Dan kebetulan tasnya cukup berat—biasanya lebih enteng—karena tambahan buku ensiklopedia dan novel Harry Potter yang dibawa oleh Baekhyun.
Yeah, karma itu memang ada. Akabane Karma contohnya—oh maaf, salah fandom.
Sehun berbalik dan menatap Jongin yang sekarat itu dengan rahang bawah yang jatuh. "Kurasa kemampuan olahraga Baekhyun tidak perlu diuji." Gumamnya. Tangannya bergerak mengambil tas Baekhyun di samping Jongin.
Jongin bangun dengan perlahan sambil mengusap hidungnya yang menerima rasa sakit paling besar dibanding bagian wajahnya yang lain. "Memangnya aku ini alat pengukur, hah?!" teriaknya tidak terima.
Baekhyun mengangkat satu alisnya, "Sebenarnya ada apa sih?"
Sehun menoleh ke arah Baekhyun kembali. "Itu, Baekhyun, kau mau tidak bergabung ke klub basket? Kami membutuhkan manager basket." Tangannya menyerahkan tas biru gelap itu kembali pada pemiliknya.
Baekhyun menerimanya dan menyampirkannya di bahu. "Cari orang lain saja sana," Baekhyun sudah siap berbalik jika saja Sehun tidak berlari ke depannya dan merentangkan tangan. Menghalangi jalannya.
"Tunggu dulu!" Sehun bersikeras, "Kemampuan olahraga yang dimiliki olehmu itu sangat bagus jika disalurkan, sangat cocok untuk menembak bola basket ke dalam keranjang. Tidak baik memendam bakat seperti itu."
"Aku tidak akan tersogok oleh kalimatmu, sekarang cepat minggir."
"Ayolah, bos, klub basket pasti akan unggul jika kau bergabung."
Baekhyun menggeleng tegas, "Aku tidak minat, lagi pula pekerjaanku itu sudah banyak karena tugas sebagai ketua OSIS. Aku malas menjabat kedudukan tinggi lagi,"
Jongin yang sudah lebih baik berjalan menghampiri mereka. Ia melempar tatapan membunuh kepada Sehun sebelum beralih menatap si ketua dewan. "Meskipun kau hanya mencantumkan nama saja?"
Baekhyun menatap dengan tajam. "Aku ini ketua dewan, Jongin. Jangan main curang atau klub basket akan kububarkan."
Jongin mengibaskan kedua tangannya, "Eh, tidak, tidak. Aku hanya bercanda." Kemudian ia memasang wajah memelas yang dibuat-buat, "Hamba mohon, tuan, maukah tuan menjadi manager klub basket hamba? Hitung-hitung untuk sebagai sedekah kepada orang yang membutuhkan."
Baekhyun poker face. Kemudian ia menunjuk wajah datarnya, "Kalian lihat wajahku, kan?"
Sehun dan Jongin mengangguk dua kali melihat wajah sedatar parutan keju milik Baekhyun, meskipun tidak mengerti apa maksudnya.
"Apakah wajahku ini menampakkan raut wajah peduli dengan masalah kalian?"
Jongin cemberut di tempat. Sehun menghela napas panjang kemudian menyatukan kedua tangannya, berpose memohon. "Kumohon, tolong klub basket kami, Baekhyun." Dan ini—mungkin saja—pertama kalinya Sehun memasang wajah selain wajah datar khas dirinya.
Baekhyun memicingkan kedua matanya. Tapi akhirnya ia menghembuskan napas dengan panjang. Ia menatap wajah memelas Sehun. "Haaah, ya baiklah, baik. Aku akan menjadi manager basket, aku tidak bisa mengatakan 'tidak' jika melihat sorot matamu, Sehun. Lagipula aku juga sedang tidak mengikuti klub apapun."
Sehun tersenyum lega. Jongin bersorak dalam hati keras-keras, "Terima kasih, Baekhyun! Aku sayang padamu!" nyaris menghambur untuk memeluk Baekhyun.
Baekhyun dengan sigap menjaga jarak, sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Maaf, kita bukan mukhrim."
"Hng, Baekhyun, kita sama-sama cowok kok." Kata Jongin.
"Oh, kalo gitu, maaf kita nggak se-level."
Sekali lagi, Jongin memasang ekspresi terluka yang dibuat-buat dengan tangan menyentuh dada. Berpose 'my kokoro is hurt' alias 'sakitnya tuh disni'.
.
Yah, Baekhyun menjadi manager basket atas paksaan dua makhluk yin dan yang itu. Meskipun pada akhirnya ia menikmati perannya dan tidak begitu menyesali keputusannya.
Seperti hari kemarin, lapangan sekolah dibagi empat pertandingan. Luhan meniup peluit di pinggir lapangan dua—karena tugasnya menjadi wasit—menandakan dimulainya pertandingan babak final ronde kedua antara kelas 11-C melawan kelas 11-E. Kelas 11-C adalah kelas Baekhyun dkk. Dibabak pertama tadi, kelas mereka unggul empat poin karena lemparan three point yang sempurna dilakukan Baekhyun di menit terakhir dan satu lemparan lay up dilakukan Sehun di detik yang mepet dengan akhir pertandingan.
Baekhyun menoleh ke belakang, mendapati Chanyeol baru saja selesai melakukan pemanasan kecil-kecilan di samping tiang bendera, lengkap dengan seragam olahraga khusus dari klub basket. Berhubung lapangan dua dekat dengan tiang bendera.
"Giant, waktunya main, kau masuk sekarang ke lapangan menggantikanku."
Chanyeol tersenyum lebar, bodohnya dia lupa kalau memiliki luka di sudut bibirnya. Tangannya bergerak mengusap pelan sudut kiri bibir, "Uh, yeah, doa'kan aku menang, midget!"
"Aku mendoakan kelas kita," koreksi Baekhyun dengan wajah datar.
Chanyeol berlari masuk ke lapangan.
Sepuluh menit diberikan untuk babak kedua, lebih singkat dibanding babak pertama. Dimenit awal, pemain dari kelas 11-E kembali melakukan banyak pelanggaran. Entah itu menginjak garis, jump ball, mendorong pemain, atau menarik baju salah satu pemain dari kelas 11-C. Sayangnya, menginjak menit ketujuh, kelas 11-E berhasil menyusul tiga poin dan mereka jadi seri.
Dimenit kesembilan, Chanyeol melakukan block ketika lawan akan melakukan lay up, sialnya lengan kanannya terkena lemparan bola. Ia berdiam di tempat sambil memegangi lengan kanannya yang masih dibalut perban. Baekhyun di pinggir lapangan mengepalkan kedua tangannya, kesal sendiri karena Chanyeol begitu bodoh menggunakan lengan kanan untuk block.
"Jangan diam saja, giant! Dasar lemah, dasar payah!"
Chanyeol menoleh ke sumber suara. Melihat Baekhyun berseru dengan semangat di pinggir lapangan, sudah berganti seragam.
"Jangan dikalahkan dengan lengan kananmu itu! Cowok bukan, sih?!"
Chanyeol tersenyum tipis sebagai ganti cengiran bodohnya. Ia berlari, menyusul bola yang dipegang oleh lawan. Jantungnya memukul-mukul dengan keras tulang rusuknya, Chanyeol tidak mengerti dengan hal itu. Tapi ia menyukai debaran itu. Kaki panjangnya melangkah lebar dengan sangat mudah. Ia melakukan gerakan tipuan kemudian merebut bola, memutar balikkan keadaan.
Tigapuluh detik lagi pertandingan berakhir.
Sehun mengangkat satu tangannya, meminta bola dari Chanyeol tanpa suara atau dia akan menjadi sasaran. Chest past, bola diterima dengan sempurna oleh Sehun. Tetapi seseorang yang berstatus lawan berada tak jauh dari Sehun, akan melakukan block karena Sehun nyaris mendekati garis three point. Sehun melempar bolanya dengan over head kepada Jongin yang bebas tanpa pemain lawan menghalangi.
Duapuluh tiga detik lagi.
Tapi ketika Jongin baru men-dribble tiga langkah, dua pemain lawan menghalangi jalannya. Maka dari itu, Jongin melakukan pivot seratus delapanpuluh derajat dan melempar bolanya pada Chanyeol yang berada sedikit jauh di belakangnya. Setelah ia melempar bola, tubuhnya oleng ke samping dan jatuh karena dorongan sengaja dari tim lawan. Jongin hanya mendesis kesal sambil melempar tatapan tajam kepada si pelaku.
Enambelas detik lagi.
Chanyeol melesat ke garis three point yang memang jaraknya paling dekat dan lebih mudah dilakukan dibanding melakukan lay up. Satu pemain bertahan dari tim lawan yang tadinya berdiri di bawah ring mulai berlari ke arahnya, berniat melakukan block agar terjadi pelanggaran jump ball.
Sebelas detik lagi.
Tapi langkah pemain lawan itu terlalu cepat. Sehingga, Chanyeol belum sampai di garis three point dan membuat keuntungan bagi Chanyeol. Gerakan tipuan sekali dan ia melesat melewati lawan.
Lima detik lagi.
Kedua kakinya berada se-milimeter di belakang garis three point. Ia melempar bola, berharap tidak terjadi rebound.
Dua detik lagi.
Kemudian bola itu masuk ke dalam ring dengan gerakan cahaya. Sangat cepat.
Dan pertandingan berakhir. Dimenangkan oleh kelas 11-C yang unggul tiga poin. Baekhyun menghentakkan kakinya sekali kelewat semangat, ia menahan seruan kemenangannya yang ingin dikeluarkan lewat mulut sekeras mungkin, gengsi berlebihannya sedang kumat. Tapi sebagai gantinya, tepuk tangannya terdengar paling keras di antara tepuk tangan dari penonton yang lain.
Chanyeol baru saja selebrasi kemenangan berpelukan hangat dengan pemain lainnya. Ia menatap ke pinggir lapangan, memberi senyum tipis kepada Baekhyun meskipun ia lebih ingin tersenyum lebar tapi masih terhalangi luka. Baekhyun—secara refleks—membalas senyumannya.
Baekhyun duduk di pinggir lapangan, tanpa bersandar ke tiang bendera meskipun benda itu tepat berada di belakangnya. Chanyeol menghampirinya, duduk di sampingnya.
"Lihat, aku membawa kemenangan untuk kelas kita." Kata Chanyeol sambil membanggakan diri.
"Jauh-jauh sana, kau bau keringat tahu." Baekhyun merusak suasana dengan mendorong bahu Chanyeol menjauh dan melemparkan handuk kecil ke muka Chanyeol.
"Kayak sendirinya tidak bau keringat tadi," gumam Chanyeol. Ia meraih handuk kecil yang menyelimuti seluruh wajahnya kemudian menggunakannya untuk mengusap keringat di dahi dan lehernya. "Keringat hasil kerja keras, keren kan."
Baekhyun memutar mata.
Masih sempat saja ini anak membanggakan diri.
Chanyeol memperhatikan lapangan kembali, melihat pertandingan basket kelas lain. Sampai kemudian sebuah benda menempel di pipinya. Chanyeol menjauhkan wajahnya dan melihat benda itu. Botol minuman isotonik. Baekhyun menempelkan botol itu ke pipinya tadi.
"Minum nih, kalau nanti dehidrasi bisa repot."
Chanyeol terkekeh pelan. "Romantis sekali, kau memang perhatian padaku ya, midget." Tangannya bergerak meraih botol minuman itu dan meneguk isinya sampai sepertiga.
"Berisik,"
Chanyeol meluruskan kaki, "Kau sudah menyerahkan proposalnya?"
"Sejak kapan kau jadi peduli?"
Chanyeol menatapnya dengan tajam. "Jangan melempar pertanyaan sebelum kau menjawab pertanyaanku. Kebiasaan deh,"
Baekhyun memutar mata, jengah. "Iya, iya, tugasku yang itu sudah selesai. Dan sebaiknya kau ganti baju sekarang, aku mau memerintahmu jadi wasit lagi."
Chanyeol menekuk alis, "Kenapa aku lagi?"
"Kau mau hukumannya ditambah?"
"Kebiasaan lagi kan tuh, jawab dulu pertanyaanku."
"Pokoknya kau jadi wasit, sudah itu saja, cepat ganti baju."
Chanyeol menahan dirinya untuk melempar balasan. Ia bangkit dengan ogah-ogahan.
.
.
.
.
.
.
.
Baekhyun melirik ke arah dimana Chanyeol pergi tadi.
"Kemana perginya sih si tiang itu? Ganti baju kok lama banget, dia bukan cewek yang ribet dandan dulu, kan?" gerutu Baekhyun pelan. Masalahnya, Chanyeol belum kembali padahal limabelas menit sudah berlalu. "Atau jangan-jangan dia nyasar ke kantin dulu buat makan?" tanya Baekhyun kepada dirinya sendiri.
"Baekhyun!"
Baekhyun menoleh ke sumber suara. Mendapati ketua sekbid dua OSIS—seksi bidang keamanan dan ketertiban—berlari mendekati dirinya. Namanya Kim Jongdae.
"A-Aku.. mencarimu, dari tadi.." kata Jongdae putus-putus karena napasnya terengah.
"Bernapas dulu, Jongdae."
Jongdae menetralkan napasnya sebelum menatap Baekhyun dengan serius. "Kau tahu, ada siswa yang membuat keributan di depan mading dekat ruang OSIS."
Baekhyun diam dengan wajah loading selama sepuluh detik. "Huh? Sepertinya siswa berandalan mulai lepas kendali lagi, ya?"
Jongdae menarik lengannya, "Cepat ikut aku, sebelum wakil ketua mulai kewalahan."
"Joonmyeon ada disana?"
"Yeah, sedang mencoba memperbaiki situasi."
...
"Hentikan! Tenangkan diri kalian!"
Joonmyeon menengahi untuk yang kesekian kalinya. Ia sesekali memijat pangkal hidungnya, kesal sendiri. Berharap tidak ada guru yang melihat keributan ini atau dia dan ketua OSIS akan dipanggil oleh guru pembina kesiswaan.
Di samping kanannya berdiri Jongin yang sudah diamankan Chanyeol dan Sehun, meskipun sesekali Jongin masih memberontak. Di samping kirinya terdapat murid kelas 11-E, salah satu pemain basket tadi, yang juga sudah diamankan teman sekelasnya. Keributan itu memancing banyak mata, beberapa murid mulai saling berbisik-bisik atau tak segan mereka mendekat untuk melihat lebih jelas.
"Chanyeol lepaskan aku, biarkan aku memukulnya lagi." Geram Jongin.
Chanyeol melirik subjek yang dimaksud Jongin, terlihat di sana sebuah luka memar hasil pukulan pertama Jongin yang bersemayam di pipi. Chanyeol mengeratkan tangannya yang sedang mengunci tangan Jongin. "Hentikan, Jongin, tahan emosimu." Sedikit kewalahan dengan tenaga Jongin.
Sehun menghalangi pandangan Jongin, ia merentangkan tangannya untuk memisah sekaligus mencegah terjadinya main tangan lagi. "Duh, berhenti dong. Jangan seperti bocah, lagipula pertandingan tadi itu kan sudah selesai."
Jongin benar-benar geram. "Dia yang main curang! Sedikit-sedikit menyenggol bahu atau mendorong dengan sengaja sampai jatuh. Kalau tidak mengerti cara bermain basket lebih baik tidak usah ikut main!"
Subjek yang dimaksud ikut tersulut emosi. "Beraninya kau menghinaku!"
"Cara bermainmu itu kotor, brengsek!"
Joonmyeon menoleh ke arah Jongin. "Hei, perhatikan bahasamu! Tidak sopan!"
"Cukup! Hentikan!"
Suara yang cukup familiar dan terdengar begitu tegas muncul di balik kerumunan siswa/i yang menonton. Kerumunan itu terbelah dan memperlihatkan si ketua OSIS yang dipenuhi aura membunuh. Siap untuk meledak. Baekhyun berjalan ke depan diikuti Jongdae di belakangnya, menatap dua subjek pembuat onar dengan sangat tajam.
"Apa yang kalian pikirkan, sih?! Berapa umur kalian, hah?!"
Oh, yah... ini dia, neraka dunia berkedok amukan ketua OSIS. –Batin Sehun meringis.
"Masalah kecil seperti ini saja dibesar-besarkan. Kalian murid SMA bukan, sih?"
"Dia mulai duluan! Memukulku begitu saja tanpa alasan." Ucap murid dari kelas 11-E.
Jongin mendelik ke arahnya, "Tanpa alasan katamu? Otakmu itu tidak bisa digunakan untuk berpikir atau hanya berguna untuk tindakan negatif, hah?!"
"Kubilang, CUKUP!"
Baekhyun nyaris kehilangan kendali. Tangannya bergerak membenarkan letak kacamata di pangkal hidungnya. "Tidak akan ada gunanya menuduh siapa yang duluan. Kalian berdua tetap salah," telunjuk kanan Baekhyun mengarah pada murid kelas 11-E, "kau salah karena bermain kotor saat pertandingan basket berlangsung—" telunjuk kanannya berpindah ke Jongin, "—dan kau salah karena begitu tempramental sampai main tangan. Mendendam itu tidak baik, Jongin."
Kemudian hening. Jongin tak lagi memberontak. Para siswi juga sudah tidak berbisik-bisik, terlalu takut untuk mengeluarkan suara atau mereka akan kena damprat. Joonmyeon sendiri menghembuskan napas lega, akhirnya keributan itu berakhir—begitulah pikirannya. Tapi suara dingin Jongin yang memecah keheningan justru membuatnya menahan napas.
"Jangan menceramahiku, Baekhyun."
Beberapa di antara murid yang menonton menggelengkan kepala sambil membatin, jangan, jangan lakukan itu jika kau masih sayang nyawa. Bahkan Chanyeol sendiri juga berkomat-kamit tanpa suara—bodoh, bodoh, bodoh, apa yang anak ini lakukan, dia mengundang iblis keluar dari sangkarnya.
"Jangan bersikap sok benar, kau lihat sendiri permainan mereka tadi kan, ketua dewan?"
Baekhyun menoleh sepenuhnya ke arah Jongin. Dengan aura membunuh dan senyuman yang kalau diartikan menjadi, mau-dibunuh-dengan-cara-cepat-atau-cara-perlahan. Tapi Jongin sepertinya tidak mengerti situasi. Ia membalas tatapan Baekhyun dengan tatapan yang tak kalah tajamnya sampai menembus lensa kacamata si ketua OSIS.
"Ulangi," suara Baekhyun terdengar pelan.
Joonmyeon yang berdiri di sebrang Baekhyun merasa bingung. "Kau barusan bilang apa—"
"Tutup mulutmu, Joonmyeon."
Joonmyeon tak perlu diberitahu dua kali.
"Kubilang, ulangi, Tuan Kim yang tempramental."
Jongin hanya menggertakkan gigi, mengerti betul maksud Baekhyun.
Tatapannya beralih pada subjek yang masih menjadi sasarannya sejak awal. Si subjek tengah tersenyum meremehkan ke arah Jongin. "Kau—keparat—lepaskan aku Chanyeol! Aku muak melihat wajahnya!"
Chanyeol yang tidak siap akan Jongin yang kembali berontak, genggaman tangannya yang mengunci tangan Jongin pun terlepas begitu saja. Sehun maju selangkah bermaksud menghalangi Jongin, tapi belum sempat kakinya bergerak, ia sudah didorong ke samping oleh Jongin sampai menabrak Joonmyeon.
Kemudian kepalan tangan Jongin terangkat ke udara, memukul telak di rahang subjek.
Baekhyun bereaksi cepat, ia menyelipkan tangan kanannya ke depan Jongin dan menariknya mundur. Menahan tangan Jongin yang siap melayangkan pukulan kembali. Tangan kiri Baekhyun bergerak menangkap tangan Jongin yang satu lagi dan mengunci keduanya di punggung, sedikit memelintirnya agar Jongin berhenti. "Berhenti membuat keributan, Jongin!"
Jongin yang memang masih tersulut emosi pun menyentak kakinya ke belakang, menginjak kaki Baekhyun dengan keras. Refleks, Baekhyun mundur selangkah dan tanpa sadar melepas kedua tangan Jongin. Sikutnya secara tidak sengaja menohok keras dagu Baekhyun. Memukulnya tepat di dagu sampai mengatupkan rahang dengan keras dan lidahnya nyaris tergigit. Tengkorak kepalanya terasa terguncang dan bidang pengelihatannya tersimpang, memburam sesaat.
Secara perlahan, seperti dalam mode slow motion, kaki Baekhyun bergerak mundur dua langkah. Yang terjadi kemudian adalah Baekhyun jatuh terduduk. Sehun dan Chanyeol lah yang paling cepat bereaksi, mereka segera menolong, berlutut di samping kanan-kiri, menahan punggung Baekhyun yang oleng dan nyaris bertubrukan dengan lantai.
Sejenak diliputi keheningan, bahkan semua sampai menahan napas.
Baekhyun menyentuh rahang bawahnya dengan tangan kanan sementara tangan kirinya menyangga tubuhnya sendiri, meskipun lengan Sehun di punggungnya dan lengan Chanyeol di sekitar bahunya juga masih menyangga dirinya. Matanya terpejam karena kunang-kunang memburamkan pengelihatannya. Membuat pikirannya tersimpang dan kepalanya berdenyut pusing.
Jongdae mendekat dan berlutut di samping Chanyeol. "Baekhyun, kau baik-baik saja?"
Joonmyeon yang juga panik ikut berlutut di samping Sehun. "Baekhyun, kau tidak apa-apa?" tanyanya cemas.
Jongin tentu sadar dengan perbuatannya kemudian membalikkan badan. Melihat ketua dewan yang memegangi rahang bawahnya dengan ekspresi menahan sakit. Seakan mendapatkan kesadaran diri sepenuhnya, ia menelan emosinya bulat-bulat.
"Baekhyun, aku minta maaf—"
"Oh, emosimu baru hilang sekarang, ya?" sela Sehun, sarkastik. "Kau itu—" tapi ucapannya terhenti dengan sentuhan di lengannya. Sehun menoleh ke arah Baekhyun yang menggelengkan kepalanya pelan. Akhirnya Sehun menutup mulut.
"Pukulan di dagu itu kan pusat rasa sakit dari tengkorak kepala," ujar Joonmyeon yang kebetulan salah satu murid di klub kesehatan.
Baekhyun menunduk kemudian bangkit dari lantai.
"Kau sudah bisa berdiri, Baek?" tanya Jongdae.
Baekhyun mengangguk singkat. Tangannya bergerak mengangkat kacamatanya sedikit ke atas kemudian tangan lainnya bergerak mengusap-usap matanya.
"Sebaiknya kalian semua kembali saja ke aktivitas masing-masing, jangan berkerumun disini..." Kalimatnya tertuju pada siswa/i yang menonton sedari tadi, "...karena hal ini bisa saja menarik perhatian para guru." Dan tangannya bergerak mengembalikan kacamatanya ke posisi normal.
Meskipun kepalanya tertunduk, suaranya terdengar jelas. Langsung masuk ke pikiran mereka tanpa masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Mereka akhirnya pergi dari sana secara enggan, masih ingin melihat kelanjutannya. Tapi tentu saja mereka sudah harus bersyukur karena tidak kena damprat dan diusir baik-baik oleh ketua OSIS.
Ketika kerumunan itu pecah dan hilang meninggalkan orang yang bersangkutan, Baekhyun berjalan mendekati Jongin yang berdiri diam, masih dengan kepala tertunduk.
"Padahal kau lolos dari omelan ketika merusak tugas proposalku, tapi nyatanya kau berbuat onar sampai mengundang perhatian, ya." Baekhyun menghembuskan napas, mengambil langkah untuk berbalik memunggungi Jongin.
"Oh ya, lebih baik bukan aku yang memberimu omelan."
Jongin mengernyit bingung.
Baekhyun bersiap untuk melangkah tapi kemudian langkahnya justru berputar ke arah sebaliknya. Melangkah kembali ke arah Jongin dan memukulnya tepat di sudut bibir sampai Jongin jatuh ke belakang karena tidak siap menerima pukulan.
Empat orang di belakang Baekhyun, yaitu sekbid dua OSIS dan wakil ketua serta Sehun dan Chanyeol tanpa sadar menjatuhkan rahang bawah mereka.
Sampai sepasang sepatu pantofel hitam mengkilat muncul di antara mereka. Joonmyeon yang menyadarinya pertama kali segera mengangkat wajah—karena posisinya masih berlutut—dan menemukan wajah yang sangat sangat sangat familiar.
Kemudian ia menelan ludah gugup.
Oh, this pieces of shit.
Itu guru pembina kesiswaan.
"Kalian tidak bosan membuat keributan, ya." pandangannya mengarah pada siswa berandalan yang tak lain adalah Jongin, Chanyeol, dan murid dari kelas 11-E yang sudah dihapal luar kepala karena terlalu sering masuk ruang BP. Kemudian pandangannya berbelok tajam ke arah Baekhyun, "Bahkan ketua OSIS pun ikut-ikutan memukul seseorang?"
Baekhyun menunduk lagi.
"Kalian semua pergi ke ruangan saya sekarang."
Helaan napas pasrah terdengar serentak.
.
.
.
.
Diam-diam Baekhyun tersenyum miring. Tidak ada yang menyadari seringaiannya karena kepalanya yang tertunduk dalam.
Ketika guru pembina kesiswaan berbalik dan yang lain mengikuti, Baekhyun yang berjalan paling belakang pun mendekat ke teman sekelasnya—terkecuali Jongin—dan anggota OSIS. Kemudian berbisik,
"Aku akan menjamin kalian berempat, dan tentu saja berlima denganku, keluar dengan selamat."
Joonmyeon menoleh ke belakang, diikuti Jongdae, Sehun dan Chanyeol. Tautan alis terbentuk tanda tak mengerti. Sementara Baekhyun masih urung mengangkat kepalanya.
.
.
.
.
.
.
.
Kali ini Baekhyun berjalan paling depan menuju tiang bendera untuk istirahat dan memantau jalannya pertandingan. Lengkap dengan empat orang mengikuti di belakangnya. Tak berhenti untuk mengucapkan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya.
"Auramu memang the best, Baek!" seru Joonmyeon.
"Aku tidak percaya kita berlima lolos dari omelan apalagi hukuman. My precious, hamba sungguh berterima kasih padamu. Aku sangat terharu," ucap Jongdae dengan air mata buayanya.
"Pesonamu di depan guru pembina kesiswaan memang sangat memikat, ya." kata Sehun.
"Sekaligus menipu," sambung Chanyeol.
Untuk yang terakhir, Baekhyun setengah menerima dan setengah tidak. Ia berbalik, sambil menuding Chanyeol tepat di depan hidungnya. "Aku tahu kau sangat berterima kasih padaku dengan pujianmu barusan, giant." Katanya sarkastik.
Joonmyeon dan Jongdae menepuk bahu Chanyeol seolah untuk mengingatkan agar dia berterima kasih dengan benar. Sehun menghela hanya napas, hapal betul bahwa Chanyeol memang sulit berbaik hati kepada Baekhyun.
"Aku sudah berbelas kasihan untuk menyelamatkanmu dari hukuman guru pembina kesiswaan dan itukah caramu membalas perbuatan muliaku?" tapi kalimatnya yang menyindir sama sekali tidak pas di wajahnya yang sedatar parutan keju tanpa hormon kesal.
Chanyeol menahan dirinya untuk tidak memutar mata, "Ya pada akhirnya aku memang harus berterima kasih,"
Baekhyun melanjutkan kembali langkahnya, setidaknya Chanyeol sudah bilang terima kasih meskipun ia yakin kalau itu setengah ikhlas. Tangannya merogoh saku blazer dan mengeluarkan pulpen beserta death note-nya. Mencatat nama Jongin dan murid dari kelas 11-E yang membuat keributan itu.
"Baekhyun, apa kau masih pusing? Kalau iya, biar aku saja yang urus pertandingannya dan kau istirahat di ruang kesehatan," tawar Joonmyeon.
Baekhyun menggeleng singkat. Tanpa menoleh, ia menjawab, "Masih sedikit pusing sih, sesekali juga pandanganku tersimpang. Tapi aku baik, aku akan istirahat ke tempat biasaku saja."
Tiga orang di antaranya mengernyit tak mengerti.
"Tiang bendera?" tebak Chanyeol.
Baekhyun mengangguk.
"Kalau begitu, aku yang urus pertandingan." Ucap Joonmyeon sambil menepuk bahu Baekhyun kemudian berlalu pergi.
"Aku juga akan menggantikan wasit di lapangan tiga," ucap Jongdae dan ikut berlalu bersama Joonmyeon.
Ketika sampai, seperti posisi tadi pagi, Baekhyun dan Chanyeol duduk bersebelahan. Sama-sama diam dan tidak minat untuk mengeluarkan suara. Sampai di menit ketiga, Chanyeol menarik perhatian Baekhyun dengan bertanya.
"Aku masih bingung dengan kalimatmu tadi, maksudnya apa ya?"
Baekhyun menatap Chanyeol dengan kerutan samar di dahinya, "Kalimat yang mana?"
"Yang kau ucapkan kepada Jongin tadi, kalau tidak salah, 'lebih baik bukan aku yang memberimu omelan'. Itu artinya apa?"
Baekhyun menahan tawanya, "Sebenarnya aku sudah menyadari kalau guru pembina kesiswaan ada di sekitar sana dan sedang memperhatikan sejak aku menyuruh murid-murid untuk bubar. Dan aku tahu kalau omelanku saja tidak akan membuat siswa berandalan jadi jera, karena itu aku memukul Jongin agar guru mendekat."
Chanyeol mengangkat satu alis. "Kau sengaja?"
Baekhyun mengangguk. "U-hum,"
Chanyeol menatap lurus-lurus ke arah Baekhyun, "Dasar licik," ucapnya dengan nada bercanda.
Baekhyun tersenyum singkat, "Tapi briliant, kan?"
Chanyeol meluruskan kakinya yang tadi duduk menyilang. "Yeah, aku tak bisa menolak, kuakui itu memang briliant. Sampai-sampai dari delapan orang yang bersangkutan tadi lima di antaranya lolos dari hukuman. Cara bicaramu saat menceritakan keributan tadi kepada guru terlihat sangat meyakinkan kalau kita berlima tidak salah."
Baekhyun tersenyum lagi kemudian ia tertawa pelan. Chanyeol menautkan alis melihatnya, "Kenapa kau tertawa? Ada yang lucu?"
Baekhyun meredakan tawanya dengan menutup mulutnya menggunakan punggung tangan, "Hanya terharu, karena akhirnya kau mau mengakui kehebatanku." Ucapnya dengan nada bercanda di awal dan nada senang di akhir. Kemudian ia tertawa pelan lagi.
Chanyeol tertegun dengan kalimat, senyuman asli dan tawa riang Baekhyun. Sekali lagi, Chanyeol tahu semua itu tidak palsu seperti kemarin-kemarin. Lagi-lagi, untuk yang kesekian kalinya, jantungnya memukul-mukul keras tulang rusuknya setiap ia melihat senyuman itu.
Baekhyun berusaha berucap dibalik tawanya yang mulai sulit dihentikan. "Biasanya kan kau selalu menolak. Aku tidak percaya akhirnya kau bicara seperti itu."
"Aku tidak percaya kau menantikan diriku untuk mengakuimu," goda Chanyeol dengan nada bercanda.
Baekhyun tidak sengaja tersedak angin. "Uhuk, apaan sih, dasar ge-er!" tapi kemudian Baekhyun tak bisa menahan tawanya. Tak bisa dipungkiri bahwa dia memang, yah—uhuk, menunggu Chanyeol untuk mengakuinya. Dan entah kenapa ketika Chanyeol sudah mengakuinya, rasa senang meluap-luap dalam dirinya begitu saja.
Secara perlahan tapi pasti, Chanyeol terhipnotis dengan tawa riang itu. Ia ikut tertawa pelan, mengabaikan sedikit rasa perih lukanya di sudut bibir. "Benar juga sih, lagian kita sifatnya terlalu bertolak belakang, seperti kutub magnet."
Baekhyun tersenyum, "Siapa bilang? Masih ada kok sedikit sifat kita yang sama, meskipun sebenarnya karena sifat itulah kita bertolak belakang."
Chanyeol diam, menunggu kalimat Baekhyun berlanjut.
"Seperti sifat kita yang suka membanggakan diri kepada orang-orang tertentu dan tidak mau kalah dalam berbicara."
Chanyeol menambahkan, "Seperti teknik bicara bumerangku?"
"Yeah," Baekhyun memutar mata singkat "aku benci itu." Kemudian tertawa pelan lagi secara bersamaan.
Tapi seperti menyadari sesuatu, Baekhyun menghentikan tawanya. "Tunggu, tadi kau bilang kita seperti kutub magnet?"
Chanyeol mengangguk, "Bertolak belakang, tentu saja kutub magnet."
Baekhyun yang memang pintar mengerti arti kalimat itu meskipun Chanyeol tidak mengerti arti kalimatnya sendiri. Kemudian Baekhyun membuang wajah karena ia merasakan wajahnya menghangat. Aliran darah merambat ke pipinya dengan cepat hingga bersemu samar.
Chanyeol menatap Baekhyun yang membuang wajah dengan raut wajah bingung. "Hei, kenapa jadi sombong begitu pakai buang wajah segala."
"T-Tidak, tidak ada apa-apa."
"Ada yang kau sembunyikan dariku?"
"Kubilang tidak ada apa-apa!"
"Tuh kan, nada bicaramu naik. Pasti ada yang kau sembunyikan,"
"D-Diamlah, giant."
"Beritahu aku,"
"Tidak mauuuu,"
Yah, Chanyeol. Otakmu itu sedikit lelet ya, kalah dari otak jenius Baekhyun. Baekhyun yang memang pintar—terbukti bahwa ia memiliki nilai tertinggi se-angkatan ketika kelas 10 di semester ganjil dan genap—berhasil mengartikan kata 'kutub magnet' yang membuatnya malu sendiri.
.
.
.
.
.
.
Kutub magnet yang bertolak belakang, pasti akan selalu menempel dibanding kutub magnet yang sama akan saling menolak dan menjauh.
Baekhyun menelan ludah dan menenangkan dirinya sendiri agar aliran darah tidak merambat naik ke pipinya.
Baekhyun dan Chanyeol yang bertolak belakang, pasti juga akan selalu menempel, huh?
Baekhyun menepuk pipinya tiga kali sebelum mencubit kecil. Pikiran itu justru menambah parah rona di wajahnya dan jantungnya yang tak mau berhenti berdenyut kesetanan.
Seonggok tangan berada di atas bahunya. Bahu Baekhyun menegang.
"Jangan mengacuhkanku, midget."
Baekhyun menyingkirkan tangan itu dari bahunya, "Jangan pegang-pegang! Jauh-jauh dariku sana!" Baekhyun menggeser dirinya, membuat jarak satu meter di antara dirinya dan Chanyeol.
Tanda tanya besar memenuhi kepala Chanyeol. "Lho, kenapa sih?" tangannya bergerak menarik kerah seragamnya sendiri untuk dicium, "apa aku masih bau keringat? Perasaan aku biasa-biasa saja,"
Uh, Chanyeol, otakmu lelet sekali heh.
.
.
.
.
.
.
.
.
FINISH
a/n: sumvah gagal banget buat adegan Jongin ga sengaja mukul Baekhyun. Tapi yasudahlah... dan kayaknya momen chanbaek hilang ya feel-nya? Uhuuuh..
Omong-omong itu bagian flashback dimana pemaksaan Jongin sama Sehun biar Baekhyun jadi manager, yang adegan Sehun bilang kalau Jongin mau melakukan hal mesum ke Baekhyun dapet dari salah satu episode anime Clannad. Clannad season 2 episode 1. Ancur gitu ya pemaksaannya :'v
Makasih setulus-tulusnya buat pembaca yang sudah review di chap kemarin,
Lolamoet, BabyWolf Jonginnie'Kim, ericomizaki13, ClraCBHS, Lala Maqfira, indrisaputri, ariviavina6, BaebyYeolliePB, hunniehan, sugarlight, Aleyna Park, dolenny1328, Anonymouseu, Iyel, Chan Banana, miixhan, anoncikiciw, yayahunnie, LeeEunin, GitaPark, fhsilvertear, OCHA991004, bie, dumbaekchan, Richa Byun926, Dhl, gia, anon, HoshinoChanB, baguettes, byobek, Amelia307, Cbees
Dan semua yang sudah fav atau alert atau siders
Oh ya, untuk yang nanya soal tulisan finish yang nganu itu, artinya berakhirnya hari ini. Selama belum ada tulisan end berarti fic ini masih berlanjut ya.
Untuk LeeEunin, penggambaran Baekhyun disini itu ya.. bayangin aja Baekhyun yang sekarang tapi warna rambutnya cokelat gelap terus pakai kacamata kayak di exo showtime episode 12 /duh baper kan disebut-sebut/
Untuk anon, saya mengerti betapa menumpuknya tugas yang diemban seorang ketua OSIS, hiks, terharu :') dan soal kenapa di fic ini yang ngetik proposalnya malah ketos dan bukan sekretaris? Di chap depan atau dua chap ke depan bakal terjawab. Eh tapi di sekolah saya malah sekbid sembilan sama sekretaris yang ngetik proposal. Sudah diupdate yo, nado saranghae mumumu /avaansih
Terus, untuk review dari pecintakomputer, maaf ya sebelumnya saya bawa-bawa aplikasi lama itu cuma untuk humor—padahal garing—dan sama sekali ga ada unsur mengejek aplikasi lama itu. Makasih lho sudah mau mengevaluasi.
Saya tjinta kalian semua~! Hoh ya, selamat tarawih ya, saya lagi ga tarawih nih :'v
Terima kasih sudah membaca :)
review please?
