"Giant, ambilkan pulpenku," Baekhyun berhenti menulis, menatap Chanyeol dengan wajah datarnya.
Chanyeol mendongak—karena duduk lesehan di samping meja Baekhyun lagi seperti kemarin—dari buku komik di tangannya. "Dimana?" tanyanya sambil menyelipkan satu jari di halaman komik yang ia baca agar halamannya tidak hilang ketika ia menutupnya.
Baekhyun menunjuk kursi yang ada di depan mejanya. "Itu, jatuh ke kolong kursi."
"Baik," Chanyeol mengulurkan tangan dan meraihnya.
Baekhyun menutup telinganya sesaat dengan ekspresi menahan frustasi. "Bisa kau suruh murid sekelas diam dengan suara om-om milikmu? Aku tidak bisa berkonsentrasi."
Chanyeol berdecak pelan, berusaha menabahkan diri sendiri. Ia meletakkan pulpen Baekhyun di atas meja. "Iya, sebentar. Nah, ini pulpenmu."
Baekhyun segera menyambarnya dan melanjutkan tulisannya. "Makasih. Hei, bisa panggilkan wakil ketua OSIS? Kau tahu Joonmyeon kan, dia ada di kelas 11-B."
Chanyeol menutup komiknya, "Iya, sebentar—"
Baekhyun mengangkat wajahnya, menatap Chanyeol lagi—masih dengan raut wajah sedatar parutan keju khasnya. "Eh, ya, sekalian suruh Joonmyeon membawa daftar murid yang sudah dicatat untuk tampil saat pensi."
"Aku mau menyuruh murid sekelas diam dulu—"
"Juga nanti di kelas 11-B kan ada Luhan, aku juga mau kau sekalian panggilkan dia." Kepalanya kembali menunduk, fokus pada tulisan tangannya di atas buku—entah buku apa itu.
Chanyeol sekali lagi berusaha menabahkan diri dengan tugas yang diberikan Baekhyun secara sambung-menyambung seperti gerbong kereta. Otaknya merekam semua suruhan Baekhyun tadi. "Tugas yang sebelumnya belum aku—"
"Terus kalau ada sekbid lain yang belum menyerahkan daftar murid untuk manggung saat pensi, sekalian bantu Joonmyeon menagihnya ke sekbid-sekbid lain, ya." Sela Baekhyun.
Chanyeol meletakkan satu tangannya di kepala, pusing mendadak. "Midget, satu-satu dong kalau nyuruh—"
"Kau juga harus panggilkan ketua bendahara OSIS ya, namanya Do Kyungsoo, dia ada di kelas—"
"SEBENTAR DULU, MIDGET! BISA PELAN-PELAN NGGAK?! Kaki dan tanganku cuma dua!" habis sudah kesabaran Chanyeol.
Pada akhirnya, Chanyeol tak perlu berteriak menyuruh para murid untuk diam. Karena dengan teriakan frustasinya tadi, kelas menjadi hening. Terkecuali Baekhyun yang memang dari tadi sudah cuek bebek.
.
.
.
.
Classmeeting
Pairing: Chanbaek / Baekyeol
Genre: Romance, Friendship
Shonen-ai / BL / AU / OOC / School-life
.
Sorry for typo(s)
.
.
.
.
.
"Begitu ya,"
Joonmyeon mengangguk singkat, "Lagi pula besok baru pengumpulan daftar yang paling terakhir, kan? Atur saja dulu yang sudah ada."
Baekhyun menatap selembar kertas polio di hadapannya, dijepit ke papan jalan miliknya. "Apa boleh buat," Baekhyun menghela napas, "kalau begitu, besok aku akan sangat sibuk."
Joonmyeon tersenyum, "Tenang saja, aku yang akan mengawasi penataan panggung besok. Jadi kau hanya mengurus daftar murid dan penyusunan acaranya, sekbid enam akan membantumu."
Baekhyun mengangkat kacamata onyx-nya ke atas, tangan lainnya digunakan untuk memijat pelan pangkal hidung. "Tetap saja, menyusun acara itu justru sulit. Kita harus membandingan penampilan yang akan ditampilkan oleh setiap kelas dan mengurutkan yang mana yang cocok menjadi pembuka dan mana yang cocok jadi penutup. Omong-omong sekretaris kita sudah masuk?" tanyanya pada Joonmyeon dan Luhan yang berdiri di samping mejanya.
"Sudah," jawab Joonmyeon, "jangan tanya aku tahu dari mana."
Luhan tersenyum dengan maksud terselubung. "Kutebak, kau berangkat sekolah dengannya tadi pagi."
Joonmyeon terihat gelagapan.
"Bagaimana keadaan kekasihmu itu—Zhang Yixing sekretaris kita?" tambah Baekhyun yang membuat Joonmyeon mendelik ke arahnya karena menggunakan kata 'kekasih'. Faktanya, seorang Zhang Yixing masih berstatus 'gebetan' Joonmyeon.
"Dia baik-baik saja, sudah keluar dari rumah sakit sekitar dua hari yang lalu. Karena dia orangnya inosen, aku harus sering-sering berada di dekatnya untuk memantau. Bisa saja hemofilianya kumat hanya karena terkena lemparan bola." Jelas Joonmyeon.
"Beruntung kita punya ketua yang mau mengambil alih tugas seseorang," Luhan menepuk-nepuk bahu Baekhyun dengan senyum cerah.
"Kasihan wakil sekretaris kalau mengerjakan tugas proposalnya sendirian, lagipula aku kan memang memiliki waktu luang." Ucap Baekhyun. "Jadi, bagaimana dengan pertandingan rugby untuk besok? Benar-benar dibatalkan?" tanyanya kepada Luhan.
"Iya, lagi pula kan sudah kau tulis di proposalmu. Dan pembina kesiswaan sudah memberi izin kita untuk mulai menata panggung besok. Sementara para murid akan membersihkan kelasnya masing-masing." Jawab Luhan.
Baekhyun mengangguk, "Nah, Kyungsoo, kau jadi menggunakan uang kas OSIS untuk konsumsi anggota OSIS besok dan lusa?"
Hening.
Baekhyun memfokuskan pandangannya menembus lensa kacamata. Ia mengernyit bingung. "Lho, Kyungsoo tidak ada disini?"
Luhan dan Joonmyeon menggeleng serentak. Tatapan tajam Baekhyun beralih pada sosok jangkung yang tengah tenggelam dalam komik. Dengan suara tegas, ia bertanya, "Hoi, giant, kau belum memanggil Kyungsoo?"
Chanyeol menutup komiknya, "Oh, ya, aku lupa. Kau tidak memberitahu kelasnya tadi."
Baekhyun menekuk alis, kesal. "Sembarangan, aku mau memberitahu kelasnya tapi kalimatku kau potong dengan teriakan." Chanyeol pura-pura bicara dengan komiknya. Dengan helaan napas sabar, Baekhyun melanjutkan, "dia ada di kelas 11-D. Makanya, lain kali jangan menyela ucapanku."
Chanyeol menggumam tak jelas dan keluar dari kelas dengan ogah-ogahan.
"Hei, Baek, memangnya kau tidak terlalu merepotkan anak itu? Kasihan, sepertinya kau terlalu banyak menyuruhnya." Kata Luhan ketika siluet Chanyeol menghilang di balik pintu kelas.
"Aku nggak peduli sama dia—"
"Sampai kapan kau menjadikannya ajudanmu? Dia kelihatan tertekan di bawahmu, apa iya dia bisa menuju jalan yang benar jika seperti itu?" sela Joonmyeon.
Baekhyun menatap kesal ke arah dua rekan kerjanya. Pertama, dia sudah diceramahi oleh Luhan. Kedua, kalimatnya disela begitu saja oleh Joonmyeon. Dan terakhir, dia diragukan oleh Joonmyeon. Sambil menghembuskan napas dan menopang kepalanya ke sebelah tangan, ia angkat bicara, "Kalian kan tahu sendiri aku tidak suka dengan siswa yang hobinya melanggar peraturan."
Tatapan matanya tertuju pada tulisan yang dibubuhkannya di buku, membacanya berulang-ulang tanpa masuk ke kepala. "Dan akhir-akhir ini dia menuruti perkataanku meskipun dibarengi dengan gerutuan kesal, dia juga sudah tidak main tangan dengan siswa lain, pelanggaran pun berhenti. Menyuruhnya seperti itu sebagai pengalihan dan dia harusnya kapok melanggar peraturan karena hukumanku." Tangannya bergerak memainkan pulpen di atas meja, "aku dipilih menjadi ketua OSIS karena pribadiku yang kelewat tegas, beberapa siswa berandalan juga sudah mulai menyerah karena meladeniku. Ujung-ujungnya mereka kembali ke jalan yang benar berkat aku."
Joonmyeon menghapus air mata imajiner di sudut matanya. "Aku sangat terharu dengan kalimatmu, ketua. Kau begitu perhatian dengan murid macam dia."
Luhan ikut menghapus air mata imajiner. Ia mencengkram kedua bahu Baekhyun dengan ekspresi terharu yang dibuat-buat, "Aku tersentuh dengan kata-katamu." Kemudian ekspresi wajahnya berubah menjadi senyuman jahil, "meskipun kau sebelumnya bilang kalau tidak peduli dengannya, tapi ternyata kau sangat peduli sampai melakukan hal sejauh ini. Dasar tsundere."
Cnut. Perempatan imajiner muncul di kepala Baekhyun. "Aku melakukannya karena tuntutan jabatan sebagai ketua OSIS, tahu!"
"Aku setuju denganmu, Luhan. Ketua dewan kita memang tsundere." Joonmyeon ikut-ikutan. Ia merangkul Luhan dengan ekspresi yang sangat menyebalkan di mata Baekhyun. "aku tidak menyangka kalau ketua suka dengan siswa berandalan macam Chanyeol."
Sadar atau tidak, penyakit jantung Baekhyun kambuh, memukul keras tulang rusuknya.
Luhan mengangguk mengiyakan, "Benar, akui saja kau memang peduli dengannya karena perasaanmu." Tangannya bergerak menepuk-nepuk bahu Baekhyun.
Baekhyun mulai berasap dengan wajah memerah, "Hoi! Pikiran kalian nyasar terlalu jauh! Sudah kubilang aku melakukannya karena tuntutan jabatan!"
"Dia menyanggah tapi wajahnya memerah." Ucap Luhan sambil menoleh ke arah Joonmyeon. "Ketua dewan kita benar-benar tsundere." Ucap Joonmyeon dan Luhan secara bersamaan.
Baekhyun sudah siap untuk melakukan satu dua jurusnya untuk penghapusan ingatan Joonmyeon dan Luhan. Tapi suara lembut seseorang mengalihkan fokusnya.
"Kau mencariku, Baekhyun?"
Oh, kayaknya suara kuyu ini familiar.
"Huh? Kyung? Oh, ya, aku mencarimu."
"Ehem, uhuk."
Deheman disertai batuk sengaja itu menarik perhatian Baekhyun dan tiga anggota OSIS di sekitarnya. Manik hazelnya jatuh pada Chanyeol. "Apa?" tanya Baekhyun.
Chanyeol membuka kembali komiknya kemudian menghalangi wajahnya dengan komik tersebut. "Kau belum mengucapkan sesuatu padaku,"
"Oh, itu. Terima kasih sudah memanggilkan Kyungsoo."
"Hm, sama-sama, midget."
Luhan segera berbisik dengan Joonmyeon, "Lihat, ketua bahkan berterima kasih dengan anak itu."
Joonmyeon membalasnya, "Benar, ini pemandangan langka."
"Hoi, aku bisa mendengarnya tahu." Ucap Baekhyun. Satu tangannya terangkat menutup sebelah wajah, "haaahh, kalian ini cewek tukang gosip ya? Lain kali kalau mau bisik-bisik pastikan suara kalian tidak terlalu keras."
Joonmyeon dan Luhan hanya haha-hehe tidak jelas. "Kalau begitu, kami duluan ke lapangan, ya. Sebentar lagi bel masuk, sampai nanti, ketua." Kemudian mereka pergi meninggalkan kelas 11-C.
Baekhyun mengalihkan pandangannya ke arah Kyungsso. "Nah, Kyungsoo, kau jadi menggunakan uang kas OSIS untuk konsumsi para anggota besok dan lusa?"
Kyungsoo mengangguk, "Aku sudah mempersiapkannya sejak kemarin."
Baekhyun tersenyum, "Kau ternyata bisa diandalkan juga ya, minus untuk menagih bayaran uang kas sih, sebenarnya."
Kyungsoo menggaruk kepalanya secara refleks karena malu, "Ha, maaf, ya. Kalau soal itu, aku harus meminta bantuanmu."
Baekhyun mengangguk maklum, "Kau kan orangnya terlalu polos dan kurang tegas. Wakil bendahara juga kurang tegas. Jadi, apa boleh buat. Tapi aku tidak masalah kok dengan itu."
Kyungsoo tersenyum, "Kudengar, besok kau akan sibuk karena harus menyusun acara."
"Tahu dari mana?"
"Firasat,"
Meskipun tampilannya polos dan kurang tegas, ternyata nalurinya sangat tajam. –inner Baekhyun beraksi.
"Baekhyun,"
"Uh, ya?"
Kyungsoo tersenyum manis dengan wajah kuyu-nya, "Berjuang dengan baik, ya."
Baekhyun termenung lima detik sebelum mengangguk dan tersenyum dengan wajah cerah. "Gracias."
Kemudian Kyungsoo beranjak dari kelas itu. Chanyeol diam-diam menyembulkan wajahnya dibalik komik yang menjadi penghalang, ia melirik Baekhyun dengan tautan alis. Mereka kok kelihatannya deket banget? Senyum Baekhyun sampai silau begitu.
.
.
.
.
.
.
Luhan dengan semangat berkobarnya menatap ketua dewan yang berdiri di hadapannya. "Aku tidak akan membiarkanmu menang. Aku adalah ketua sekbid empat bidang olahraga, aku tidak mungkin kalah darimu."
Entah kenapa, di mata Baekhyun, senyuman Luhan mirip senyuman Aomine Daiki dari fandom sebelah. Senyumnya kelewat nganu, memiliki arti terselubung.
Baekhyun masih dalam posisi bersidekap, check dengan wajah datar talenannya. "Terserah, aku nggak peduli mau menang atau kalah." tampang tidak peduli yang benar-benar meyakinkan.
Luhan menunjuk Baekhyun, dengan api imajiner di sekitar tubuhnya saking bersemangat. "Lihat saja, Baekhyun!"
Baekhyun memejamkan kedua mata lalu menutup sebelah wajahnya dengan satu tangan, "Berisik. Bikin malu saja," gumamnya sendiri.
Sehun—yang ditunjuk jadi kapten—menyuruh para pemain kelas 11-C untuk mendekat. Setelah lingkaran kecil terbentuk, Sehun segera melancarkan strategi. Menyusun pemain secara spesifik—itu juga dibantu oleh Baekhyun.
"Dan yang terakhir, Chanyeol, kau jadi kiper ya. Tubuhmu kan tinggi, otomatis tanganmu panjang, jadi bisa menghalau lawan yang akan mencetak gol." Ucap Sehun.
"Tapi aku nggak lihai di olahraga futsal, kalau basket sih jangan ditanya." Komen Chanyeol.
"Lebih mudahnya, pikirkan saja bahwa kau adalah Wakabayashi. Ingat, Wakabayashi." Tambah Baekhyun yang jiwa otaku-nya—sudah dikatakan di chap awal—bangkit secara mendadak, nostalgia anime Tsubasa ceritanya.
Chanyeol memutar mata, berlagak sok kesal, meskipun dia sedang menahan tawa karena sikap Baekhyun. "Terserah kau, midget."
Suara peluit dari wasit di pinggir lapangan menandakan dimulainya pertandingan futsal babak final antara kelas 11-C dan kelas 11-B. Baekhyun dan Luhan—yang kebetulan sama-sama ditempatkan di garis depan—saling melempar tatapan sengit dan sok hebat. Oh, bukan, sepertinya itu hanya Luhan. Karena Baekhyun masih awet dengan wajah talenannya.
Setelah duabelas menit terlewat, pertandingan futsal itu pun baru meraih skor dua banding satu. Kelas 11-B meraih skor dua dan kelas 11-C skor satu.
Baekhyun saat itu sedang berlari menerobos tim lawan sambil membawa bola. Sehun berlari jauh ke depannya, bermaksud untuk menerima operan bola. Kemudian Baekhyun mengopernya kepada Sehun ketika dua orang dari tim lawan menghadangnya.
Jongin—yang kebetulan menjadi pemain belakang—memandang Baekhyun dan Sehun dengan mata berbinar. "Kalau berhasil mencetak gol, kita bisa seri karena waktu tinggal tiga menit. Setelah itu dilakukan tendangan penalti."
Chanyeol yang tak jauh darinya segera membalas, "Jangan senang dulu, tim lawan kan punya Luhan. Selain ketua sekbid empat OSIS, dia juga menjadi ketua klub futsal setelah midget keluar dari klub."
Jongin menoleh ke belakang, "Midget? Maksudmu?"
"Oh, itu, ketua OSIS."
Baekhyun berada di posisi yang paling strategis ketika Sehun mengoper bola padanya.
Jongin yang sudah gregetan dari tadi pun berteriak ke arah Baekhyun, "Ayo, Baekhyun! Cepatlah mencetak gol! Ayo jebret bolanya!"
Chanyeol mengernyit, "Hah? Apaan itu kata 'jebret'?"
"Nggak tahu, asal ngomong aja tadi." Jongin nyengir.
Dengan sekali tendangan, bola sepak itu melesat secepat cahaya menuju gawang lawan. Peluit terdengar dan skor masing-masing menjadi dua, seri. Waktu yang tersisa berkurang menjadi satu menit lagi. Ketika Sehun kembali menyerang tim lawan dengan membawa bola, Luhan menghadangnya dan merebut bola dengan mudah. Sehun sempat terbengong selama enam detik sebelum menoleh ke belakang, menatap punggung Luhan.
"Pintar merebut bola, keren." Dan Sehun tersenyum sendiri.
Tahu-tahu backsound imajiner ost anime Tsubasa sudah berkumandang. Mengiringi Luhan yang berlari masuk ke daerah lawan dengan berapi-api—kelewat semangat.
Tanpa pikir panjang Jongin berlari ke depan untuk menghadangnya. Tapi belum sempat sampai ke posisi paling dekat gawang lawan, Luhan sudah menendang bola itu dengan sekuat tenaga.
Tendangan jarak jauh.
Chanyeol merentangkan tangannya, kedua mata fokus pada bola. Tapi sayang, ketika ia menyadari gerak bola itu menuju sudut kanan gawang—artinya bagian kiri dalam posisi Chanyeol—saat tangannya terulur sayangnya hanya ujung jari saja yang menyentuh bola itu. Ketika waktu sudah menunjukkan limabelas menit tanda berakhirnya pertandingan, skor yang tercetak adalah tiga banding dua. Dimenangkan oleh kelas 11-B.
Luhan berteriak senang di tempatnya, ia berlari menuju timnya dan melakukan selebrasi kemenangan dengan berlebihan—ini menurut pandangan Baekhyun. Anggota tim kelas 11-B yang lain mendekati Sehun dan Baekhyun yang berada di garis tengah lapangan.
"Yeah, kita kalah." Ucap Jongin.
Baekhyun menoleh ke arah Jongin, "Tidak, kita juara dua. Dan mereka juara pertama."
"Maaf, aku tidak berhasil menangkap bolanya."
Sehun menepuk bahu Chanyeol simpati. "Seperti apa kata Baekhyun, kita tetap juara."
Kemudian mereka mendekati tim Luhan yang masih selebrasi gol dengan cara pelukan-maut-teletubbies-satu-tim. Diulang, pelukan-maut-teletubbies-satu-tim. Sekali lagi, menurut Baekhyun itu berlebihan.
"Hei, Lu," panggil Baekhyun.
Luhan menoleh ke belakang. Ketika mendapati Baekhyun—masih awet dengan wajah datar—ia melepaskan rangkulan satu timnya. Sambil mengangkat satu alis, ia menunjukkan wajah menunggu kalimat Baekhyun selanjutnya. Baekhyun masih tidak mengubah wajahnya yang sedatar talenan, tapi sedetik kemudian ia tersenyum cerah.
Tangannya terulur di udara, "Selamat, kelasmu memenangkan futsal."
Luhan ikut tersenyum cerah, jarang-jarang ia bisa melihat si ketua yang hobinya minim ekspresi tiba-tiba tersenyum cerah. Ia menyambut uluran tangan Baekhyun dengan sama hangatnya, "Terima kasih." Ucapan singkat terlontar dari bibirnya. Kemudian setiap pemain bersalaman tanda perdamaian setelah pertandingan tadi.
.
.
.
.
.
.
Baekhyun berjalan mendekati Chanyeol yang tengah duduk di depan tiang bendera sambil meminum air isotonik. "Giant," panggilnya.
Chanyeol menelan air dalam mulutnya, secepat mungkin menutup botol dan menoleh ke sumber suara. Ia mendapati Baekhyun dengan wajah pucatnya, "Apa?"
"Kau melihat ponselku?"
"Tidak,"
Baekhyun menggembungkan pipi, kesal karena ponselnya tidak ditemukan dan jawaban Chanyeol yang singkat. Dia merombak ekspresi menjadi datar, "Bantu aku mencarinya,"
"Kalau aku tidak mau?"
"Hukumanmu—"
"Ditambah, iya tahu, kau selalu mengancamku seperti itu."
Baekhyun menggerutu kesal karena kalimatnya disela. Chanyeol bangkit dari duduknya, satu tangannya masih menggenggam botol isotonik. Ia meregangkan tubuh sedikit karena beberapa bagian tubuhnya pegal akibat duduk terlalu lama. "Dimana terakhir kali kau meletakkannya?"
"Aku selalu menaruhnya di saku blazer, atau terkadang di dalam tas." Jawab Baekhyun. "Aku sudah menggeledah tas, saku blazer, saku celana, saku kemeja, tapi tetap tidak menemukannya." Kalimatnya terdengar sedikit panik. Ia memejamkan kedua mata dan menutup sebelah wajahnya dengan satu tangan. "Aku sudah lelah mencarinya,"
Chanyeol memandang Baekhyun dari atas ke bawah dan kembali lagi ke atas.
"Apa lihat-lihat?" ketus Baekhyun.
Satu tangan Chanyeol yang bebas menarik lengan seragam Baekhyun tanpa menyentuh lengannya, "Kau sudah ganti baju setelah pertandingan futsal tadi. Siapa tahu ponselmu tertinggal di ruang gan—"
"Baekhyun, aku menemukan ini di ruang ganti."
Baekhyun membalikkan badan, membuat pegangan Chanyeol di lengan seragamnya terlepas. Matanya dengan berbinar menatap barang yang dicari, "Ponselku, akhirnya... terima kasih—" Baekhyun mengangkat wajah, menatap siswa yang baik hati itu, "—Sehun."
Sehun tersenyum bak pahlawan. "Sama-sama, bos."
Tanpa sadar pegangan Chanyeol pada botol isotonik itu mengeras sampai sedikit meniruskan badan botol. Ingin sekali rasanya ia menumpahkan isi minuman isotoniknya di wajah Sehun yang sedang berlagak sok di depan Baekhyun.
Dan apa-apaan dengan tatapan berbinar yang Baekhyun tunjukkan pada Sehun?
Tangan Chanyeol yang bebas juga terkepal tanpa disadari olehnya. Innernya sibuk mengumpat untuk Sehun. Juga gerutuan sebuah pertanyaan yang diawali dengan kata 'apa'. Seperti, 'Apa maksudnya dengan mata berbinar itu?' juga 'Apa hebatnya Sehun sampai Baekhyun berterima kasih dengan ikhlas seperti itu?'.
Jauh di dalam dirinya, Chanyeol merasa tidak terima.
Dia tidak mengerti, selama empat hari ia menjalani hukuman dari Baekhyun dan disuruh-suruh, dijadikan asisten yang pada kenyataanya lebih mencondong ke arah budak, tapi tidak pernah menerima ucapan terima kasih seikhlas itu. Baekhyun memang mengucapkan terima kasih setelah peringatan darinya di hari pertama, tapi tidak pernah tuh dengan nada ikhlas bahagia dan mata berbinar.
Oh, are you jealous, Park?
Ketika Sehun sudah pergi, Chanyeol membuang wajahnya dan kembali duduk. Baekhyun memasukkan ponselnya ke dalam saku dan ikut duduk di samping Chanyeol.
"Sebentar lagi pembagian raport, ya." ucap Baekhyun, membuka obrolan. "Aku penasaran apakah aku naik kelas atau tidak."
"Sudah pasti naik kelas," sahut Chanyeol dengan rasa dongkol. Terkesan masih marah tak jelas dengan kejadian tadi.
Baekhyun menoleh, "Benar juga, aku kan pintar. Mungkin saja aku menjadi siswa dengan perolehan nilai tertinggi dan terbaik se-angkatan lagi seperti semester tiga lalu." Ucapnya, mulai menyombongkan diri—meskipun wajahnya tetap datar.
"Aku berharap tidak sekelas denganmu di kelas 12 nanti,"
Baekhyun tersinggung, "Apa maksudnya itu? Memangnya aku ini sebegitu menyebalkan kah bagimu?"
Chanyeol menoleh, mencoba meraih moodnya kembali. "Iya, sekalian melanggar peraturan lagi. Aku bisa mati kebosanan karena hanya membawa satu komik dan tidak menggunakan headset di jam-jam yang dilarang." Nada bercanda terdengar melekat.
Baekhyun menatapnya tajam, "Aku harus sering-sering patroli ke kelasmu kalau begitu."
Chanyeol tertawa keras, "Untuk apa? Saat itu kan kau sudah lepas jabatan, dan ketua OSIS pun diganti dengan adik kelas." Kemudian ia memandang Baekhyun dengan jenaka, "aku tidak sabar menantikan hari itu."
Baekhyun memalingkan wajah, kembali menatap lurus ke lapangan. "Kau menyebalkan," desis Baekhyun. Jauh dalam dirinya, lebih merasa kesal karena Chanyeol tidak mau sekelas dengannya. Ia menggeser tubuhnya, lagi-lagi membuat jarak satu meter di antara dirinya dan Chanyeol. Entah karena merasa kesal atau justru merasa kecewa.
"Tuh kan, mulai deh sombongnya. Kenapa duduknya jauhan begitu?"
"..."
"Baiklah, aku nggak akan membawa komik ke sekolah lebih dari satu."
"..."
"Aku juga nggak akan menggunakan headset di jam-jam yang dilarang."
"..."
"Masih marah? Hoi, jangan pura-pura bicara dengan angin!"
"Berisik."
"Hooooi, midget."
"..."
"Miiiidgeeet,"
"..."
"Baekhyunie,"
Baekhyun tersentak, menoleh ke arah Chanyeol dengan spontan. "Jangan panggil aku dengan nama itu!" serunya dengan wajah memerah.
"Makanya jangan mengabaikanku," kata Chanyeol, "tapi apa salahnya kalau aku memanggilmu begitu?" tambahnya.
"Geli tahu! Kesannya jadi sok akrab!" Baekhyun masih berseru dengan wajah memerah.
"Oh ya, tadi tuh pertama kalinya aku memanggil namamu, ya?"
YA! Dan kesannya jadi buruk karena panggilan itu membuatku jantungan. —Batin Baekhyun menjawab. Baekhyun duduk menyerong akhirnya, sekalian memunggungi Chanyeol. Ia mengangkat kedua tangannya untuk menyentuh dadanya. Dimana jantungnya lagi-lagi memukul keras dada kirinya. Berdetak kencang dan lagi-lagi penyebabnya adalah Chanyeol.
Tidak lucu kan kalau dia punya penyakit jantung di usia sekolahnya yang baru mau menginjak kelas tiga sekolah menengah atas.
Tunggu sebentar, jangan-jangan...
"Baekhyunie,"
Oh, sial, sial, sial! Berhenti memanggilku begitu!
"Kubilang, jangan memanggilku begitu!" Baekhyun menoleh untuk memandang Chanyeol dengan tajam, tangannya masih menyentuh dada, mencoba menetralkan detak jantungnya dengan sugesti.
"Makanya jangan sombong, gimana caraku untuk bicara denganmu kalau kau duduknya jauhan seperti itu?"
"Memangnya aku peduli?"
"Oi, wajahmu memerah kenapa?"
Baekhyun memalingkan wajah lagi, menepuk pipinya berkali-kali. Merutuk kata 'sial' dalam hati. "T-Tidak ada apa-apa. Mukaku biasa saja kok," jawabnya tanpa menoleh.
Chanyeol memiringkan kepalanya, mencuri pandang ke wajah Baekhyun yang hanya terlihat sedikit dari posisinya. "Jelas-jelas wajahmu itu memerah," Chanyeol menatapnya penuh selidik. "Oh, ya, dari tadi aku penasaran—" kini giliran Chanyeol yang memalingkan wajah, "—kenapa kau berterima kasih dengan sangat ikhlas kepada Sehun?"
Baekhyun menolehkan kepala, memandang Chanyeol yang kini justru tidak memandang balik. "Itu karena dia menemukan ponselku, apa salahnya?"
"Tapi... kau mengatakannya dengan sangat ikhlas, uh maksudku dengan mata berbinarmu itu..."
Baekhyun mengernyit, "Bicara yang jelas dong."
Chanyeol menarik napas dalam-dalam, kemudian dengan mantap ia menoleh. Balas memandang Baekhyun. "Kenapa ketika kau berterima kasih kepada Sehun harus dengan mata berbinar dan nada ikhlas? Tapi ketika kau berterima kasih kepadaku wajahmu datar seperti biasa."
"O-Oh?" Baekhyun terkesiap.
Chanyeol memutar ulang rekaman adegan dimana Baekhyun tersenyum hari ini di dalam otaknya. "Menurutku semua yang kau tunjukkan itu palsu."
Baekhyun terdiam.
"Kenapa kau selalu menunjukkan ekspresi palsu seperti itu?" tanya Chanyeol pada akhirnya. "Selama empat hari ini terus-terusan bersamamu, aku terlalu sering melihat wajah datarmu, dan menurutku itu lebih baik dibanding senyum palsu yang kau tunjukkan ke semua orang."
Baekhyun memandang ujung sepatunya, dimana kakinya tengah diluruskan. "Aku sudah diajarkan tata krama dengan ketat sejak umurku menginjak usia taman kanak-kanak. Ayahku sangat keras terhadap peraturan, dari peraturan yang paling mudah sampai rumit, ayahku sangat teliti." Kepalanya terangkat kemudian kembali menoleh ke lawan bicaranya, "Dan binar mataku ketika Sehun menemukan ponselku, dan senyumku ketika Kyungsoo menyemangatiku, juga senyumku ketika memberi selamat kepada Luhan, itu hanya bentuk tata krama. Tanda berterima kasih dan saling menghormati." Baekhyun mengatakannya dengan wajah datar khasnya.
"Jadi... hanya bentuk tata krama?"
Baekhyun mengangguk mengiyakan. "Aku tidak benar-benar bahagia, jadi senyum itu palsu. Aku lebih suka dengan wajah datarku, tidak peduli apakah orang-orang tidak nyaman dengan ekspresiku,"
"Ternyata pribadimu cukup bagus juga,"
"Kau pandai menilai orang lain," kata Baekhyun dengan nada jenaka.
"Tapi, kau benar-benar tersenyum dan tertawa ketika bersamaku semenjak hari pertama hukumanku."
Baekhyun mengalihkan wajahnya lagi, "Kau menyadarinya ya..."
Chanyeol lagi-lagi memiringkan kepalanya untuk mengintip sebagian wajah Baekhyun yang terlihat dari posisinya. "Apa kau pernah tersenyum seperti itu kepada orang lain selain aku?"
Baekhyun menggeleng ragu, "Entahlah, sepertinya sudah lama sekali aku tidak menunjukkannya kepada siapapun."
"Jadi, aku satu-satunya orang yang kau tunjukkan senyum aslimu itu?"
Baekhyun menggigit pipi dalamnya, bergumam tidak jelas.
Chanyeol tersenyum lebar, "Jujur, aku menyukainya."
Baekhyun menoleh sedikit, melirik melalui sudut matanya. Ia menangkap senyuman lebar Chanyeol yang membuat detakan jantungnya makin tidak karuan.
"Sangat menyukainya, itu artinya kau lebih terbuka kepadaku dibanding yang lain. Dan, apakah itu juga berarti kau benar-benar bahagia?"
Baekhyun kembali menggigit pipi dalamnya. "Hu-uhum," lagi-lagi hanya gumaman tak jelas yang keluar dari bibirnya.
Chanyeol ingin tertawa, tapi ia menahan dirinya. Dengan perubahan pada telinganya yang mulai memerah, ia menatap lurus ke lapangan. "Kalau begitu, jangan pernah tertutup denganku. Aku termasuk orang yang bisa kau percayai kok."
Baekhyun menoleh dengan cepat ke arah Chanyeol. Membuat bahu Chanyeol menegang karena kaget, buru-buru ia menambahkan, "B-Bukannya aku peduli padamu atau bentuk simpati yang lain." Chanyeol memberi jeda, aliran darah merambat naik dengan cepat ke wajahnya. "A-Aku cuma—yah, punya banyak waktu luang. Dan mungkin dengan mengobrol seperti ini bersamamu membuat rasa bosanku hilang."
Baekhyun masih diam. Chanyeol mulai menduga bahwa ia salah bicara dan seharusnya tidak mengatakan itu semua. Menunggu respon Baekhyun saat ini sama saja seperti menunggu hasil ulangan kenaikan kelas, bikin dag-dig-dug.
Diluar dugaanya, Baekhyun justru menatapnya dengan senyuman yang malah membuat jantungnya makin jumpalitan.
"Makasih, kau baik sekali."
Untuk pertama kalinya, kedua mata Baekhyun menyipit, memperlihatkan eye smile-nya kepada Chanyeol. Chanyeol melongo di tempat. Mendadak rasanya waktu berhenti, sinar matahari seolah menyorot Baekhyun, dan Chanyeol masih betah di wajah bodohnya. Inner-nya beraksi;
Makhluk macam apa di hadapanku ini ya leluhur—
—KOK SENYUMNYA MANIS BANGET, SILAU AAAAAA~!
Dan untuk pertama kalinya, Chanyeol tidak menyangkal bahwa senyuman Baekhyun itu manis. Dan Baekhyun terlihat makin unyu dengan eye smile itu. Seseorang tolong katupkan rahang bawah Chanyeol yang jatuh di udara itu. Juga, untuk pertama kalinya, Chanyeol bertanya-tanya dalam hati tentang apa statusnya di hadapan Baekhyun. Apa tetap antara ketua dewan dengan siswa berandalan. Atau bos dengan asisten. Atau antar teman sekelas. Atau antar siswa. Sekali lagi, untuk pertama kalinya, Chanyeol ingin status mereka berganti menjadi antar teman dekat. Diulang, teman dekat.
Chanyeol mulai ragu.
Sebenarnya, dia benar-benar simpati kepada Baekhyun. Ataukah karena memiliki waktu luang.
Atau justru karena dia...
...suka?
Chanyeol menyangkal lagi dalam hati. Dia mengeluarkan jurus ampuh untuk pikirannya, sugesti yang isinya terus mengulang kalimat bahwa itu semua karena ia memiliki waktu luang, bukan simpati, bukan peduli, bukan perasaan suka. Tapi selagi ia mensugesti, kata hati terdalamnya seolah menolak mentah-mentah.
"Besok tidak ada pertandingan, seluruh murid akan kerja bakti di kelas masing-masing."
Chanyeol tersentak dari pikirannya, ia memandang Baekhyun. "Oh? Lalu kenapa?"
Baekhyun menolehkan kepalanya, "Aku mau kau membantu anggota OSIS untuk membersihkan lapangan dan kelas 12, karena kakak kelas kita sudah lulus dan tidak datang lagi ke sekolah."
Chanyeol menyadari ada yang berbeda dari kalimat Baekhyun. Baekhyun mengatakan kata 'mau' bukan 'harus' yang artinya ia sedang menawarkan atau meminta bantuan Chanyeol meskipun bukan dengan kata tolong. Chanyeol dengan senyuman lebar bertanya, "Itu perintah atau tawaran?"
Baekhyun balas tersenyum tipis, "Kali ini adalah tawaran."
Chanyeol malas untuk menyangkalnya lagi. Dia membiarkan kata hatinya mensugesti pikirannya yang penuh logika dan ego. Mensugesti dengan kalimat yang cukup sakral pada awalnya.
.
.
.
.
'Midget unyu'
'Senyumnya manis'
'Aku menyukainya'
.
.
.
.
.
.
.
FINISH
a/n: Maafkanlah keterlambatan yang cukup lama ini ;;;;A;;;;
Asli, tadinya mau fast update. Tanggal 11 Juli mau dipublish tapi ternyata pulsa modem habis, super jahanam, serius. Terus pas mau isi pulsa, kepotong pulkam dan laptop saya tidak dibawa... syedih banget. Dan baru balik ke kota sendiri tanggal 26 Juli, sehari sebelum masuk sekolah. Tersiksaaaaaaa-
Oke, cukup curhatnya.
Review kalian selalu berhasil buat saya senyum-senyum sendiri dan pingin cepet-cepet ngetik lanjutan, lho. Makasih setulus dan sebesar-besarnya bagi yang sudah review di chap kemarin,
chancoolie, hunniehan, chanbaek1, yayahunnie, OCHA991004, GitaPark, Richa Byun926, parkchanyeol . chanyeol . 35, miixhan, ade park, Lala Maqfira (Hai, kak :D), ClraCBHS, Fione Maple (salam kenal juga:), baekyeolable, ericomizaki13, lolamoet, asdfghjkyu (engga kok, saya bukan anak osis, tapi sering dengerin curhatan mereka :'v), Amelia307, fhsilvertear, ariviavina6, yeolinbaek, bebe fujo (Baekhyun disini cowok, genrenya kan sho-ai :'v), Iyel, eunkyouw (lov u too /apaan), parkeurinn27, Aleyna614, HoshinoChanB, Chan Banana, BabyWolf Jonginnie'Kim, Byunsunghee21, dolenny1328, vietrona chan, masihanon (semangat mos-nya! dan jangan bosen dengan cerita ini :'v), littlechanbaek (Hai, kamu yang disana /apaan)
Dan semua yang sudah fav atau alert atau siders
Saya tjinta kalian semua~! Hoh ya, minal aidzin wal'faizin /telat
Terima kasih sudah membaca :)
review please?
