Pada dasarnya, nyaris semua murid memiliki pribadi ekstrovert. Antonimnya adalah introvert. Ekstrovert adalah dominan dan introvert adalah minoritas. Bisa dikatakan, hanya limabelas persen dari seratus persen jumlah murid di dalam suatu kelompok atau organisasi yang memiliki pribadi introvert.

Introvert, bisa juga didefinisikan dalam paham yang lebih mudah dimengerti menjadi—pendiam, penyendiri, tidak pandai bersosialisasi, dan slogan Demi-Neptunus-Saya-Benci-Keramaian. Sementara ekstrovert, didefinisikan dalam paham yang lebih mudah dimengerti menjadi—pecicilan, sosialisasi impulsif, nggak tahan berdiam diri, Ayo-Hangout-Bareng-Sembilan-Orang-Satu-Mobil-Juga-Hayuk-Didempet-Ajah-Kayak-Kaleng-Sarden.

Dan siswa macam Jongdae, Joonmyeon, Chanyeol, Jongin, dan Sehun itu termasuk ekstrovert.

Salah satu fakta yang mendukung adalah kejadian sebelas hari yang lalu. Ketika Joonmyeon memakai sepatu baru. Sepatu warrior—hitam-putih tentu saja, sekolah mereka melarang sepatu berwarna iridescent bak gambar pelangi di dinding Taman Kanak-Kanak—mengkilap dengan silaunya seperti ban motor yang baru saja dioleskan Kit.

Jongin yang pertama kali melihatnya langsung mengucek mata sesaat—saking silaunya. Kemudian ia menunjuk dengan semangat berlebih. "Lihat! Sepatu wakil ketua OSIS kita baru!"

"Kenalan yuk!" kompor Jongdae—sekbid dua OSIS—yang dari lahir sudah memiliki wajah plus sifat troll.

Dan karena hal itu, sinar dari sepatu warrior Joonmyeon pun padam, digantikan dengan noda debu dan cetakan tapak sepatu. Hasil kerja dari siswa macam Jongin dan Jongdae—padahal saat itu mereka berdua tidak saling kenal tapi sudah kompak duluan. Menit berikutnya, sosok Sehun datang dengan tas baru. Dan mau tak mau, ia harus menjadi korban kedua.

"Lihat! Tas Sehun si kulit zombie, juga baru!"

"Kenalan yuk!"

Dengan naasnya tas baru itu diambil paksa dan dilempar-lempar seperti permainan bola voli oleh si muka troll dan si hidung minim—oh maaf, turunkan katana (mirip samurai) itu dari kening saya. Dan keesokan harinya, Jongin dan Jongdae sudah mejeng di dekat gerbang sekolah untuk mencari korban lagi.

Soal sepatu pun dialami oleh Chanyeol. Nasibnya tak jauh dari Joonmyeon yang kemarin juga kena imbas. Tapi tiba-tiba, kali ini si wakil ketua OSIS datang dengan situasi baru. Berangkat bersama dengan sang gebetan—Yixing. Berjalan dempet, bahu dengan bahu. Saling melempar senyuman manis bak orang yang baru pacaran—padahal pacaran juga engga. Seolah-olah dunia hanya milik berdua. Oh, glitter memang menambah kesan seseorang yang sedang jatuh cinta.

Maka Jongin dan Jongdae pun segera menutup mata mereka dengan merana.

"MATAKU! MATA BERHARGAKU TERNODAI! AAAARGH MY EYES~!" tangis Jongdae dengan komikal.

"SAKIT! MATA TAMPANKU TERASA DITUSUK GARPUUUUH!" Jongin ikut-ikutan menangis komikal.

Oh, biarkanlah jomblo-jomblo itu tertusuk-tusuk duri mawar imajiner di sekeliling hati mereka karena iri. Jongdae jeduk-jeduk kepala ke pohon terdekat sementara Jongin pukul-pukul lapangan dengan ekspresi merana, seolah ada lampu sorot imajiner yang menyinarinya. Setelah Joonmyeon dan Yixing kabur mengamankan diri dari dua orang-freak-troll yang menangis komikal dan gegulingan di lapangan sekolah, tersisa sang ketua OSIS yang baru datang pagi itu.

Baekhyun melewati gerbang sekolah tanpa beban. Sampai beban itu sendiri yang menghampirinya ketika Jongin-Jongdae berhenti menangis komikal dan tertarik menjadikannya mangsa.

"Hei, lihat! Sepatu ketua dewan kesayangan kita baru! Kenalan yuk!"

Oh ralat, hanya Jongin yang tertarik. Jongdae masih sayang nyawa atau ia akan—

Tahu-tahu sebuah penggaris besi sudah berada tepat nol koma lima sentimeter di depan hidung Jongin. Baekhyun menutup matanya ketika tangan lainnya yang bebas membenarkan letak kacamata onyx yang sedikit menurun. Ia membuka mata dan langsung menatap super tajam.

"Pilih, death note atau hidungmu benar-benar kuhabiskan sekali tandas dengan penggaris besi?"

—mati. Jongdae belum mau mati, sungguh.


.

.

.

.

.

Classmeeting

Pairing: Chanbaek / Baekyeol

Genre: Romance, Friendship

Shonen-ai / BL / AU / OOC / School-life

.

Sorry for typo(s)

.

.

.

.


Kembali ke cerita hari ini, bukan sebelas hari yang lalu atau apalah itu. Sudah cukup flashback-nya.

Chanyeol mengerjapkan kedua matanya.

Entah untuk yang keberapa kali, ia benar-benar tidak ingat. Tapi, satu-satunya hal yang ia ingat hanyalah kenyataan bahwa ia sudah nyaris lima menit berdiri diam. Terjebak dengan posisinya sendiri. Meskipun ia tidak tahu apa posisi seperti ini bisa disebut dengan 'terjebak'.

"Jika kau masih berdiam diri di sana lebih lama, kita akan terlambat, dan kau akan kutinggal."

Kalimat pertama yang terucap oleh lawan bicaranya membuat Chanyeol ingin sekali kembali ke kamarnya kemudian mengecek kalender untuk melihat apakah tanggal hari ini adalah tanggal kiamat—berakhirnya dunia. Yang dimaksud kalimat pertama, benar-benar kalimat pertama. Tak ada sapaan 'hai' yang mengawali pembicaraan mereka.

"Aku serius."

Kalimat kedua, tetapi Chanyeol masih berdiam diri. Tidak bergerak sesenti pun, berkedip saja tidak. Baekhyun yang berada di depan pagar rumah Chanyeol nyaris mengira bahwa anak itu juga tidak bernapas.

Chanyeol berusaha mengingat apakah pagi ini matahari terbit dari timur atau dari barat. Kenapa rasanya hari ini seperti akhir hayat dunia.

"Ng... anu—itu, kau sehat, midget?"

"Wal'afiat."

Chanyeol meneguk ludah.

"Ayo berangkat. Terserah kau mau diam atau apa, aku jalan duluan."

Chanyeol bergerak mengikuti meskipun ragu. Yang mengganggunya sedari tadi hanyalah ekspresi Baekhyun. Sungguh.

.

.

.

.

.

Chanyeol berpikir bahwa ia tahu segalanya tentang Baekhyun. Segala-galanya. Hal-hal umum seperti sifat, sampai hal yang seharusnya menjadi rahasia seperti alasan dibalik senyum palsunya. Chanyeol, sekali lagi, berpikir bahwa ia tahu segalanya tentang Baekhyun.

Tapi baru saja pagi ini ia mendapati Baekhyun yang berdiri di depan pagar rumahnya, tanpa hujan angin tanpa badai petir apalagi banjir. Baekhyun berdiri di depan pagar rumahnya. Tolong digaris bawahi, berdiri di depan pagar rumahnya. Baekhyun datang dengan sikap yang seharusnya tetap biasa-biasa saja di mata Chanyeol.

Wajah sedatar talenan—check. Seragam sangat rapi—check. Kacamata onyx—check.

Tapi Chanyeol tahu, ada sedikit bumbu yang terselip di air wajah Baekhyun kala itu. Jika boleh Chanyeol tebak, bumbu yang dimaksud adalah—entah... Chanyeol sendiri masih bingung dengan perkiraannya. Ia hanya menebak bahwa wajah Baekhyun lebih merujuk ke... rasa sedih? Tidak. Bukan itu yang tepat. Mungkin kata frustasi adalah kata yang paling cocok—setidaknya itu yang berhasil ia simpulkan.

Tapi Chanyeol sudah pernah melihat wajah frustasi Baekhyun. Mungkin kesimpulan pertamanya lebih cocok?

Meskipun Chanyeol juga sudah pernah melihat wajah sedih Baekhyun tanpa semangat hidup di hari dimana si ketua dewan itu baru saja dapat ceramah super gratis dari pembina kesiswaan.

Sekali lagi, Chanyeol tahu ada yang berbeda. Rasa sedih—atau frustasi—diekspresi yang Baekhyun perlihatkan padanya pagi ini terlihat lebih hampa.

Lamunan Chanyeol pecah ketika mendengar suara familiar persis di sampingnya.

"Kerja tuh yang benar, bisa membersihkan kaca jendela nggak sih?"

Oh, kalimat sakartis Baekhyun pun masih sama dengan kemarin-kemarin. Sekali lagi, Chanyeol tahu ada yang berbeda.

Chanyeol menolehkan kepalanya dan mendapati Baekhyun juga memandangnya, lengkap dengan ekspresi ketua dewan yang masih ia curigai sejak tadi pagi. Baekhyun mengalihkan wajahnya menuju kertas-kertas di pangkuannya, kembali fokus untuk menyusun daftar acara pensi. Chanyeol ingin sekali menanyakan bagaimana kabarnya, tapi melihat Baekhyun begitu sibuk membuat Chanyeol mengurungkan niatnya.

Chanyeol melanjutkan aktivitasnya membersihkan kaca jendela bagian luar kelas 3-A. Sementara Baekhyun tenggelam dengan kertas-kertasnya dan duduk di kursi kayu panjang yang ada di depan di setiap kelas tiga.

Seorang siswa menghampiri Baekhyun, wakil sekbid enam—Jung Daehyun. "Hai, ketua. Maaf telat, tadi aku membantu ketua sekbid enam mempersiapkan hiasan panggung."

Baekhyun tidak berkata apa-apa, ia hanya mengangguk sekali.

"Jadi, berapa banyak kelas yang mau menyumbangkan hiburan pensi?"

"Cukup banyak," Baekhyun memperlihatkan kertas-kertas di pangkuannya. "Siswa-siswi pasti akan bosan kalau acaranya kurang menarik, aku mengurutkan hiburan yang cukup menyenangkan di awal dan di akhir acara. Apa perlu juga kita selipkan di tengah urutan?"

Daehyun tanpa pikir panjang langsung mengiyakan. "Harus diselipkan juga, dong. Kalau di tengah acaranya membosankan, pasti mereka lebih memilih melarikan diri ke food court—kantin."

Baekhyun kembali menyatat urutan.

"Menurutku hasil urutanmu sampai tengah acara itu juga sudah prima. Mereka semua pasti akan menikmati pensi angkatan kita." Daehyun tersenyum lebar dengan modusnya, "kau memang ketua dewan yang sangaaaaaat bisa diandalkan." Plus kalimat godaan.

Chanyeol mencibir, mengikuti ulang kalimat akhir Daehyun dengan pelan dan nada mengejek. Diam-diam ia juga kesal dengan Daehyun seperti ia kesal dengan Sehun hari kemarin.

Baekhyun menyerahkan beberapa lembar kertas beserta papan jalan miliknya kepada Daehyun. "Kalau begitu, kau yang urus sisanya."

Daehyun mengacungkan jempol dan senyum merekahnya. "Siap, ketua. Kalau begitu aku pergi dulu, mau mencari tempat yang lebih adem. Lumayan kan bisa sekalian cuci mata melihat-lihat adik kelas kita yang lewat." Dan diakhiri dengan kedipan sebelah mata. Ia bangkit dan mulai berjalan pergi.

Baekhyun membuat suara muntah imajiner. "Jangan pedo begitu, Daehyun. Kasihan adik kelas kita, masa depan mereka akan jatuh jika mau denganmu."

Daehyun menoleh dengan ekspresi terluka yang setengah dibuat-buat—karena, asli, ucapan Baekhyun menusuk hati. "Wow, kau tega sekali..." kemudian melanjutkan langkahnya yang terhenti.

Chanyeol menyelesaikan kaca jendela terakhir dengan cepat sebelum mencuci tangannya di wastafel di depan kelas 3-A—setiap kelas tiga memiliki wastafel di depan kelas mereka—dan menghampiri Baekhyun. Duduk di sampingnya sampai sikunya yang terekspos—karena blazernya dibuka dan lengan seragamnya digulung sampai atas siku—menyenggol siku Baekhyun.

"Mau bermain Truth or Dare?" tawar Chanyeol.

Baekhyun menoleh, "Untuk apa? Lebih baik bersih-bersih kelas, ruang OSIS saja belum dibersihkan." Baekhyun sudah siap bangkit dari kursi.

Chanyeol menahan lengannya, "Hanya sebentar saja, 'kay? Lagipula ada anggota OSIS yang lain, memangnya mereka menganggur?"

Baekhyun mencibir tanpa suara sebelum menyutujuinya. Chanyeol menjelaskan bahwa mereka harus bermain batu-gunting-kertas terlebih dahulu dan yang kalah akan diberi tantangan Truth or Dare.

Baekhyun menyembunyikan kepalan tangannya dibalik punggung, berpikir apa yang akan ia keluarkan. Dan ia ingat satu hal yang pernah dikatakan Jongdae ketika mereka bermain hal ini juga. Bahwa laki-laki umumnya selalu mengeluarkan—

"Batu, gunting, kertas!"

Baekhyun kertas dan Chanyeol batu.

—batu. Karena bagi Jongdae sendiri, mengeluarkan batu untuk pertama kali adalah ciri khas.

"Truth or Dare, giant?" Baekhyun berkata dengan nada mengejek.

Chanyeol merutuki dirinya sendiri—kenapa aku tidak bisa menang pertama kali, sialan. "Truth,"jawab Chanyeol setengah hati.

Tiba-tiba Baekhyun memberinya tatapan setajam silet. "Kenapa sejak tadi pagi tatapanmu mengintimidasiku?"

"Ha?"

"Kenapa kau melihatku seperti itu? Memangnya aku punya salah apa padamu?"

Banyak, banyaaaaaaakk banget! Kalo dosamu padaku itu bisa diibaratkan uang receh, sudah dapat lima kotak amal penuh! –Batin Chanyeol berlebihan. Tentu saja ia tidak berani mengungkapkannya secara lisan. "Aku akan memberitahumu, tapi setelah aku memberimu tantangan Truth or Dare."

"Apa-apaan—"

"Serius, kalau perlu serius level aljabar. Aku benar-benar akan mengatakannya setelah kau kalah batu-gunting-kertas."

"Tidak bisa begitu—"

"Tentu bisa, kan aku yang membuat peraturan."

"Itu namanya keputusan sepihak—"

"Siapa juga yang meminta persetujuanmu—"

Chanyeol merasakan sesuatu menghantam pipinya. Kemudian ia menyadari bahwa Baekhyun menepuk pipinya keras dan kedua tangannya masih berada di kedua sisi pipi Chanyeol—menangkupnya.

"Dengar, ya." tatapan tajamnya mengarah tepat menusuk manik mata Chanyeol, per-hurufnya ditekan kuat-kuat, "aku nggak suka kalau ada orang yang memotong kalimatku. Kecuali kalau kau memang mau mendapat..."

Baekhyun tak perlu menyelesaikan kalimatnya. Chanyeol sudah mengulum bibirnya ke dalam, menutupnya rapat-rapat. Meskipun sempat memikirkan penyelesaian kalimat Baekhyun di dalam benaknya, mendapat masalah, mendapat ajal, mendapat hukuman, barangkali—terserah.

"Bagus." Baekhyun tersenyum yang entah kenapa terlihat begitu menyeramkan di mata Chanyeol. Tangannya kembali ke posisi semula, "Sampai mana kita tadi? Oh ya, kita sedang membicarakan giliranmu. Jadi, bagaimana?"

"Apanya yang bagaimana?"

"Apa jawabanmu? Kenapa kau memberiku tatapan mengintimidasi sejak pagi tadi?"

Chanyeol menahan diri untuk tidak mengajukan alasan lagi yang bisa membuat keselamatan nyawanya terancam. Memancing amarah Baekhyun sama saja menggali kubur sendiri. "Itu karena kau, midget." tatapan matanya lurus ke iris Baekhyun.

"Yang lebih logis, dong!"

Chanyeol menarik napas, "Ekspresimu menggangguku. Maksudku, kau tiba-tiba saja ada di depan pagar rumahku, menungguku untuk diajak berangkat bersama ke sekolah. Itu saja sudah termasuk aneh, ditambah ekspresi wajahmu yang seolah... yah—menyembunyikan sesuatu." Chanyeol melihat Baekhyun yang siap menyela ucapannya untuk merespon, tapi Chanyeol segera menambahkan, "Bukannya aku bermaksud sok tahu, tapi wajahmu memang begitu adanya."

Chanyeol mengira bahwa Baekhyun akan segera menimpuknya dengan kain bekas mengelap kaca atau menenggelamkan wajahnya dengan paksa di air bekas mengepel atau setidaknya memberinya satu pelintiran di tangan karena sudah mengatakan hal seperti itu.

Tapi ketika Chanyeol memandang Baekhyun, lelaki itu justru memalingkan wajahnya. Mendadak tertarik dengan kakinya yang menapak di dua petak keramik di bawah tapak sepatunya. Chanyeol tidak bisa menebak reaksi Baekhyun atau apapun yang lelaki itu pikirkan, raut wajahnya tak terlihat karena terhalang bayangan—atau mungkin karena Baekhyun menunduk terlalu dalam.

"Segitu jelaskah gelagat yang kuperlihatkan?"

Chanyeol ragu untuk merespon.

Keheningan canggung menyeruak di antara mereka. Siku mereka tak lagi saling menempel, secara tak sadar Chanyeol sedikit membuahkan jarak di antara mereka. Seolah tubuhnya bergerak sendiri karena merasakan aura suram Baekhyun yang berpendar di sekelilingnya.

"Oh, lihatlah betapa menyedihkannya aku."

Baekhyun bergumam, sebelah tangannya bergerak menutup satu sisi wajahnya. Menjalar sampai jemarinya mencengkram helai-helai rambut yang menutupi dahinya.

Chanyeol tidak dapat mengartikan dengan jelas bagaimana pemikiran Baekhyun. Gerak tubuh dan kalimat Baekhyun merujuk hampir ke segala hal buruk yang mungkin baru saja dialaminya, entah pagi ini atau kapanpun itu. Yang ada di pikiran Chanyeol hanya satu—Baekhyun sedang dalam situasi frustasi berat. Sesuatu yang buruk menyudutkan dirinya, menekan batinnya, mengganggu akalnya.

"Apa kau tidak memiliki keinginan untuk mengabadikan momen ini? Kau bisa memajangnya dan menyematkan kalimat 'oh! Lihatlah! Ketua dewan kita yang galak itu sedang merenung frustasi! Bisa kalian lihat wajah konyolnya?'. Aku tahu pikiranmu pasti tidak jauh-jauh dari hal semacam itu." Cibir Baekhyun. Masih bertahan di posisinya.

Chanyeol seharusnya berpikir seperti itu. Ia selalu senang melihat rivalnya menderita. Didera dengan kefrustasian yang bisa menarik jatuh semangat hidup. Tapi Chanyeol menyadari, ada sesuatu yang berbeda. Tersemat rasa khawatir berlebih yang mendorongnya untuk menanyakan kabar Baekhyun, yang seumur hidupnya belum pernah berani ia lakukan.

"Aku memang memiliki niat seperti itu—"

Baekhyun segera memandangnya dengan tatapan setajam Medusa.

"—tapi itu dulu. Aku tidak tahu kenapa hasrat untuk melihatmu menderita benar-benar lenyap. Aku bukan lagi rivalmu, kan? Kita... berteman, tentu saja." Chanyeol menyebut secara paksa kata 'berteman'. Benak Chanyeol menginginkan lebih sekadar berteman.

Chanyeol sudah mengakuinya meskipun harus meruntuhkan ego alih-alih menyerupai dinding beton yang membatasi perasaan dan logikanya.

"Bukankah aku sudah pernah bilang? Jangan pernah tertutup denganku, kau bisa mempercayaiku. Kalau kau memang ada masalah, cerita saja padaku." Chanyeol mengatakannya dengan serius.

Permainan Truth or Dare mulai dianggap angin lalu. Chanyeol tak menemukan respon dari Baekhyun. Dia tak bereaksi apa-apa.

"Maaf," akhirnya Chanyeol yang mengambil tindakan. "Aku terlalu mendesakmu, aku hanya penasaran. Ayo kita lanjutkan permainannya—"

"Tidak usah berdalih permainan jika kau memang ingin mengetahui apa yang kusembunyikan," suara Baekhyun menyela dengan tenang.

Chanyeol menggigit lidahnya untuk menahan kata-kata yang ingin menyembur keluar.

"Lupakan permainan tadi. Sekarang, kau ingin bertanya apa padaku?"

Chanyeol menggigit lidahnya semakin keras saat beribu-ribu kata bermunculan di benaknya, mendesak untuk dikatakan, ditanyakan kepada Baekhyun. Ia menarik napas dan memunculkan satu pertanyaan, "Apa yang terjadi padamu?"

Mungkin satu pertanyaan itu mampu mewakili beratus-ratus pertanyaan di pikirannya.

Pada awalnya, Chanyeol mengira Baekhyun tak akan mau bercerita sepatah kata pun padanya. Melihat bagaimana tatapan tajam Baekhyun masih mengarah pada ujung sepatu warriornya membuat Chanyeol yakin. Tetapi Baekhyun membuka mulut,

"Ayahku berulah, lagi."

Delapan suku kata itu membuat Chanyeol bingung pada awalnya. Sebelum ia teringat akan cerita Baekhyun kemarin tentang ayahnya. Ia sudah dapat gambaran sedikit tentang ayah Baekhyun—yang pasti tegas dan sangat menegakkan peraturan, juga egois. Chanyeol tidak berani mengatakannya secara langsung. Ia berpikir, jika Baekhyun saja sudah benar-benar membuat siswa berandalan taubat karena ceramahnya, bagaimana dengan ayahnya?

Chanyeol mungkin lebih memilih untuk didorong ke jurang saja.

atau ke pelukan Baekhyun kelihatannya nyaman juga.

Chanyeol refleks menggelengkan kepalanya. Menyingkirkan jauh-jauh opininya yang mulai membelok ke topik lain. "Jadi... apa yang diperbuat ayahmu?" pertanyaan kedua diajukan.

Baekhyun terdiam cukup lama, seperti sedang mengurutkan atau memilih frasa yang tepat. Ia membenarkan letak kacamata yang terasa tidak nyaman. "Tidak banyak, tapi mutlak."

Teka-teki.

Baekhyun benar-benar mengajaknya bermain teka-teki setelah mengabaikan permainan Truth or Dare yang padahal lebih mudah dilakukan.

Chanyeol ikut memutar otak, mencoba mempertanyakan sesuatu yang lebih akurat agar Baekhyun tak perlu berteka-teki dengannya. Tapi otaknya yang tidak pernah lulus melewati rata-rata membentuk kalimat, ia menyerah. "Jadi? Apa yang dilakukannya?"

"Aku sendiri bingung karena ayahku begitu tiba-tiba memberitahu, bahwa aku akan—"

Suara benda jatuh yang cukup keras menyentak mereka berdua. Sontak dua kepala itu menoleh ke sumber suara, melihat Luhan—ketua sekbid 4 OSIS—baru saja tidak sengaja tersandung kakinya sendiri dan menjatuhkan sekotak kardus di tangannya. Kardus yang terbuka terletak di samping Luhan yang jatuh duduk, beberapa dari isinya tertumpah ke lapangan.

"Ya ampun, Luhan." Gumam Baekhyun. Ia bangkit dari kursi panjang dan berjalan menuju teman seperjuangannya.

Luhan menepuk tangannya, membersihkan debu berupa pasir di telapak tangannya. "Astaga, lihat, betapa cerobohnya aku." Lirihnya tepat ketika Baekhyun berjongkok di depannya untuk merapikan barang-barang yang keluar dari kardus.

Baekhyun tak mengatakan sepatah kata pun, tetapi tangan gesitnya bergerak menyambar barang-barang yang berserakan di antara dirinya dan Luhan. Luhan segera menutup kotak dan berdiri. Lantas, Baekhyun ikut berdiri.

"Terima kasih, Baek."

"Ya, lain kali hati-hati."

Chanyeol menyusulnya, berdiri di belakang Baekhyun. Baekhyun berbalik, menatap Chanyeol dengan datar. "Kita lanjutkan,"

"Jadi?"

Baekhyun mengernyit, "Jadi apanya?"

Chanyeol mengangkat alis, "Katanya mau melanjutkan."

"Maksudku melanjutkan bersih-bersihnya. Ruang kelas 12 belum bersih semua tahu, atau kau mau membantuku membersihkan ruang OSIS? Eh, tapi ruang OSIS masih ramai, kita bersihkan kelas 12-D saja." Kemudian si ketua OSIS melesat pergi melewati Chanyeol.

Chanyeol sempat terbengong-bengong di tempatnya berdiri. Dengan decakan pelan—menyadari bahwa Baekhyun menghindar—ia berbalik dan menyusul langkah Baekhyun.

.

.

.

.

.

.

.

Menuruti perintah—maupun permintaan—Baekhyun sudah mutlak untuk diterima oleh Chanyeol. Suka ataupun tidak suka. Mau ataupun tidak mau. Menerima ataupun menolak. Jawaban Chanyeol tak akan didengar oleh Baekhyun. Saat itu, Chanyeol sedang sibuk mengisi air ke dalam ember melalui wastafel di depan kelas. Tepat ketika suara Baekhyun terdengar di balik punggungnya.

"Giant, setelah isi air, kau bantu aku menyapu."

"Tapi aku mau membersihkan jendela sisi satunya—"

"Memangnya aku peduli?"

Chanyeol menahan nafsunya untuk melempar ember ke arah Baekhyun. Atau mungkin, juga menahan hasratnya untuk mengguyur Baekhyun dengan air yang sudah mengisi penuh volume ember plastik itu.

"Cerewet, galak, mirip cewek pms aja, hih." Gerutu Chanyeol sambil menyumpah-nyumpah dalam hati. Tangannya bergerak mematikan keran air dan memegangi ember, bersiap masuk kembali ke dalam kelas.

"Tolong, ngaca dulu. Kau sendiri mengomel nggak jelas kayak cewek pms."

Ups, rupanya Baekhyun berada dalam jarak dengar kalimatnya.

"Jika kau berani mengatakan hal seperti itu lagi padaku, akan kumasukkan tanganku ke dalam mulutmu dan merobek pita suara lewat kerongkonganmu."

Chanyeol bergidik ngeri, matanya memandang Baekhyun dengan horror, ia nyaris menjatuhkan ember dari pegangannya. Secara refleks kakinya melangkah menjauhi Baekhyun sampai pinggangnya menempel pada wastafel. "T-Tatapanmu sangat serius!"

Baekhyun memandang Chanyeol dengan tampang tanpa dosa. "Memangnya aku terlihat sedang bercanda?"

Chanyeol masih belum merubah raut wajahnya, tatapannya semakin memandang horror lawan bicaranya. Keringat dingin mengalir dari pelipisnya. "Jadi kau benar-benar serius?!"

Baekhyun menaikkan satu alisnya, "Apa? Mau kurobek pita suaramu sekarang?"

Chanyeol melesat pergi lebih cepat dari yang Baekhyun kira. Sambil menghela napas, Baekhyun berbalik dan berjalan menyusul dengan pelan. "Giant stupid."

Chanyeol menyapu dengan kecepatan kilat, sungguh patut diacungi jempol. Meskipun ia melakukannya dibawah imajinasi bahwa Baekhyun akan merobek pita suaranya. Baekhyun tersenyum melihat lantai keramik yang sudah cukup bersih meskipun baru disapu.

"Kau sudah selesai menyapu, kan? Buang sampah sana, tong sampah sudah penuh tuh."

Perintah kedua. Chanyeol menurutinya dengan cepat tanpa berkata apa-apa. Belum ada lima menit dan Chanyeol sudah siap siaga di hadapan Baekhyun.

"Oh, sudah kembali. Nah, sekarang bantu aku mengelap kaca jendela."

Perintah ketiga. Tangan Chanyeol bergerak seperti mode autopilot. Dan Baekhyun mengira bahwa Chanyeol benar-benar menganggap candaan ekstrem tadi serius. Ketika mereka selesai membersihkan kelas 12-D, Chanyeol berdiri menghadapnya.

"Ada tugas lagi?" tawar Chanyeol setengah hati setengah tertekan.

Baekhyun tanpa sadar memberinya tatapan galak, "Jangan memandangku seperti itu." Kemudian ekspresinya kembali datar. "Yang tadi itu aku hanya bercanda kok, jangan dianggap serius."

Chanyeol nyaris mau mengibarkan bendera merah putih tanda merdeka—sebelum ia ingat kalau dia kewarganegaraan Korea.

"Oh, ya, besok hari terakhirmu menjadi asistenku."

Tapi untuk yang ini, Chanyeol bahkan tidak bersorak dalam hati.

"Pasti senang sekali ya bisa bebas tugas dariku. Tapi kalau kau melanggar peraturan, aku akan memberimu hukuman lagi."

Chanyeol justru didesak rasa ingin melanggar peraturan. Chanyeol tahu, dia sudah tidak ingin jauh-jauh lagi dari Baekhyun. Ia justru ingin selalu berada di dekat Baekhyun untuk memastikan bahwa Baekhyun tersenyum lagi padanya, bahwa Baekhyun benar-benar bahagia karenanya. Terbesit selintas di kepala Chanyeol tentang mengatakan bahwa dia ingin hubungan lebih dari sekadar teman.

Tapi Chanyeol belum seberani itu untuk menaklukan Baekhyun.

Ketika Chanyeol memecahkan lamunannya sendiri, ia mendapati Baekhyun tengah berbicara dengan Jongdae.

"Kau bercanda? Kenapa tidak suruh Joonmyeon saja yang pasang?"

"Baek, kau tahu kan kalau Joonmyeon sudah dapat bagian menata panggung. Aku mau kau yang mengurus 'kejutan kecil' di akhir acara pensi kita."

Baekhyun terlihat masih kurang terima, "Lalu kau menyuruhku untuk pergi ke atap sekolah dan memasangnya, begitu?"

Jongdae terlihat gugup selama sesaat, "Bukannya aku berani menyuruhmu—"

"Setelah kupikir lagi, memang seharusnya aku saja yang memasangnya. Lagipula 'kejutan kecil' itu kan ideku." Sela Baekhyun.

Jongdae menghela napas lega. "Benar, itu ide brilliant-mu."

"Jongdae," Baekhyun terdengar sedikit kesal, "semua orang bisa saja memikirkan hal itu. Tidak perlu mengatakan hal yang berlebihan."

Jongdae nyengir. Ia pamit untuk melanjutkan tugasnya lagi. Baekhyun berbalik, tanpa mengatakan apapun, ia menggamit tangan Chanyeol dan menariknya pergi. Baekhyun mulai bersuara ketika mereka menaiki tangga menuju lantai atas. "Pokoknya kau menemaniku. Sore nanti anggota OSIS baru pulang, tepat ketika semua persiapan sudah selesai. Dan artinya, kau juga pulang bersamaku sore nanti."

Perintah keempat. Chanyeol menyanggupinya sepenuh hati.

.

.

.

.

.

.

.

.

Chanyeol memperhatikan lapangan dengan senyum lebarnya. "Aku tidak pernah tahu sekolah kita punya tempat seperti ini."

Baekhyun ikut duduk di sampingnya, dekat pagar besi yang membatasi pinggiran atap sekolah mereka. "Itu karena kerjaanmu hanya melanggar peraturan."

Chanyeol menekuk alis kesal, "Apa hubungannya?"

"Tidak ada. Tapi aku suka saja menghinamu karena kau sering melanggar peraturan." Kemudian Baekhyun tersenyum mengejek yang kali ini tidak lagi terlihat mengesalkan di mata Chanyeol seperti dulu. Melainkan terlihat—entahlah, yang pasti Chanyeol tidak kesal lagi dengan senyum itu. Chanyeol menyukai semua bentuk senyuman Baekhyun. Pengecualian khusus untuk senyum Baekhyun yang mengartikan mau-dibunuh-dengan-cara-cepat-atau-cara-perlahan.

Sumpah, demi apapun, itu horror.

"Aku suka cara Jongdae menyebut hal ini sebagai 'kejutan kecil'." Ucap Chanyeol. Ia merubah posisi duduknya menjadi sila.

Baekhyun menggelengkan kepalanya pelan, "Dia terlalu berlebihan, dan kau jangan mengikutinya."

Chanyeol nyengir lebar sebagai balasan. Dengan gerakan luwes, ia berbaring dengan tangan yang berada di belakang kepalanya sebagai bantal. Baekhyun tak mengubah posisi duduknya, masih meluruskan kaki dan menatap lurus ke gedung-gedung yang menjulang di sekitar sekolah mereka.

Chanyeol memejamkan mata, sesaat terasa begitu santai, tentram, aman, dan damai sentosa.

Baekhyun melirik ke arahnya. Mengira bahwa Chanyeol akan ketiduran jika mereka berdua berlama-lama di atap sekolah. Tapi Baekhyun pikir ulang, tidak ada salahnya untuk istirahat sebentar. Setelah hampir sepuluh menit berlalu, dan Chanyeol masih memejamkan mata, Baekhyun benar-benar mengira bahwa tebakannya benar. Tetapi suara Chanyeol merangsek masuk ke telinganya.

"Hei, kau belum memberitahuku tentang masalahmu."

Baekhyun tidak perlu bertanya masalah apa yang dimaksud. "Lalu? Kau ingin aku melakukan apa?"

"Beritahu sekarang. Lanjutkan kalimatmu, kalau tidak salah, bahwa kau akan..?"

Baekhyun menolehkan kepalanya, mendapati Chanyeol sudah membuka mata dan menatap lurus padanya. Dengan helaan napas pelan, Baekhyun membentuk senyum palsu yang langsung tertangkap jelas oleh Chanyeol.

"Bahwa aku akan ikut ayahku ke Jepang dan pindah dari sini."

Butuh waktu limabelas detik bagi Chanyeol untuk mencernanya.

W-WHAT THE—?!

Kurang lebih, begitulah raut wajah Chanyeol sekarang. Ia bangkit duduk dengan gerakan kilat. "A-APA? T-tunggu sebentar! Kau baru saja bilang 'pindah dari sini'? Itu artinya—"

"Pindah." Baekhyun mengulanginya dengan enggan, "artinya pergi dari sini, meninggalkan sekolah ini, berada diluar jangkauan negara ini."

Chanyeol hendak mengatakan sesuatu—tapi kata-kata dalam pikirannya terbuyarkan. Otaknya tidak bisa memusatkan pikiran, tidak bisa berkonsentrasi.

"Aku akan pindah di hari Senin bersama ayahku, tepat setelah pengumuman kenaikan kelas." tambah Baekhyun.

"Kenapa... mendadak sekali?" Chanyeol menelan batu liur di kerongkongannya dengan susah payah, "Dan apa yang kau maksud dengan 'bersama ayahku'? Bagaimana dengan ibumu—"

"Kalau yang kau maksud 'ibu' sama dengan 'mantan istri' ayahku, tentu saja dia tinggal disini."

"H-Hah?"

"Orang tuaku kan sudah bercerai lima tahun yang lalu."

Dan aku baru mengetahuinya sekarang! –jerit Chanyeol dalam hati. "L-Lalu bagaimana dengan pemilihan ketua OSIS yang baru? Kau... kau digantikan oleh Joonmyeon untuk mengurus tanggung jawab ketua OSIS, begitu?"

Baekhyun tidak menjawab.

"B-Bagaimana dengan... dengan—eh, bahwa kau akan sering-sering berpatroli ke kelasku jika kita tidak satu kelas nanti?"

"Kau bilang kau sangat menantikanku untuk lepas jabatan." Jawab Baekhyun santai.

Chanyeol menggigit lidahnya keras.

"Selamat. Keinginanmu terwujud lebih awal. Karena saat tahun ajaran baru nanti, aku sudah tidak bersekolah di sini lagi. Aku sudah berada di Jepang dan menemukan sekolah baru di sana."

Perasaan kalut yang berlebih melanda Chanyeol. "Baek, katakan padaku kalau kau hanya bercanda."

"Kau baru saja memanggil namaku, tadi?" Baekhyun terlihat terkejut.

Chanyeol mendecak kesal. "Lupakan! Sekarang, katakan padaku kalau kau hanya bercanda." Ulang Chanyeol dengan nada yang sedikit meninggi.

"Tapi aku tidak bercanda."

Chanyeol berharap Baekhyun mengatakan hal sebaliknya. Meskipun tatapan serius Baekhyun justru menegaskan bahwa dia bersungguh-sungguh. Dengan wajah yang tersirat keterpurukan, ia mengeluarkan suara dengan pelan dan sedikit tersendat, "Itu artinya... besok adalah... pensi terakhir untukmu?" Chanyeol ingin mengatakan bahwa besok adalah hari terakhir mereka bersama. Bersama sebagai ketua dewan dengan ajudannya.

Baekhyun mengangguk muram meskipun wajahnya tetap sedatar talenan. Chanyeol mengepalkan tangannya begitu kuat. Rasa kalut dan takut kehilangan memenuhi seluruh tubuhnya. Menusuk begitu kuat sampai ke tulangnya.

Chanyeol takut kehilangan Baekhyun.

Karena Chanyeol baru saja meruntuhkan dinding egonya untuk menerima kenyataan bahwa dia menyukai si ketua dewan. Suka dalam bentuk lebih dari sekadar teman. Tapi kenyataan yang ini justru memporak-porandakan hatinya.

.

.

.

.

.

.


FINISH—for the fifth day


a/n: ga nyangka next chapter sudah chap terakhir :') mungkin kalau sempet bakalan saya buat chapter 7, bonus story atau sequel gitu. Kalo sempet sih...

sumpah saya sibuk banget akhir-akhir ini. Tugas sekolah—individu & kelompok, mading kelas, adipura sekolah, les sampai jam delapan malem, latihan sebagai petugas upacara dari jam dua sampai jam lima sore, apalagi saya padus—suara rasanya mau abis toloooong-

sip, abaikan keluh kesah hati di atas. Ga penting kok.

Oh, ya, kemarin itu ada yang nanyain line saya ya... OCHA991004,kan?

Hmm...

Hhmmmmm...

Hhhmmmmmmm...

Line saya 01, umur empatbelas tahun (agak-agak gimana gitu kalau dipanggil kakak sama reviewer), kelas sembilan alias tiga SMP—dan karena saya sudah kelas tiga jadi sibuk sama tugas dan persiapan UN, mau mati saja rasanya tolong-

Oke, sekali lagi, abaikan keluh kesah hati di atas.

Saya sempetin ngetik lanjutan kok, entah tanggal merah atau hari minggu. Padahal tanggal tujuhbelas Agustus yang merah juga saya masuk sekolah buat tugas upacara :'D. Terima kasih yang sudah setia /bahasanya duh/ menunggu dan repot-repot me-review di chap kemarin, seneng banget lihat satu-satu review kalian.

Chan Banana, chanbaek1 (aminin aja semoga mereka bersatu di hari ketujuh), OCHA991004, hunniehan, 7firda614, Lala Gypsophila (serem amat, kak, capsloknya kena samurai kaguro... KAKAK JUGA SEMANGAT BACA FICNYA DAN REVIEWNYA YA /ha), indrisaputri (kamu keseringan nonton naruto ya... saya juga—eh, tsundere itu bahasa kerennya gengsi), yayahunnie, SHINeexo (salam kenal juga), lolamoet, HoshinoChanB, BabyWolf Jonginnie'Kim, myhunhann, littlechanbaek (cie curhat, uhuk), habyunie25 (salam kenal juga), byunnie, parkchanyeol . chanyeol . 35, Ndowclow (oh iya, makasih yaa. Saya salah tulis waktu itu, hehe), Restikadena, ooh, Fione Maple (belum end kok, iyaaaa saya otaku :v silahkan kalau mau tanya sesuatu /berasa resepsionis/), Nori (YAAMPUN MAKASIH KAK, reviewnya menjabarkan alasan saya ngebuat fic ini. Karena saya rasa kalau alurnya aja udah pendidikan SMA tapi ternyata kasusnya berat abis, ga kuat bacanya...), hunhankid, baebaebaekhyun, shnyeoli27, BLUEFIRE0805, realbaekhyunee, Iyel, winda . ii . 5, alysaexostans

Dan semua yang sudah fav atau alert atau siders. SELAMAT TANGGAL TUJUHBELAS AGUSTUS! /telat duh/ MERDEKA~! /peluk tiang bendera/

Terima kasih sudah membaca :)

review please?