Menjadikan hari ini lebih berkesan dari hari-hari sebelumnya adalah rencana Chanyeol, benar-benar khusus hari ini.

Ia sudah memikirkannya sejak pulang sekolah kemarin. Hampir tidak bisa tidur semalaman jika saja Chanyeol tidak memaksa dirinya sendiri. Bahkan dengan denyutan di kepalanya yang nyaris membuatnya putus asa karena begitu frustasi tidak membuat kerja otaknya melambat untuk membuat rencana.

Rupanya otaknya lebih berfungsi disaat-saat kritis.

Padahal rencananya hari ini begitu sederhana—atau bisa dibilang biasa-biasa saja. Khusus hari ini, dia akan memanggil Baekhyun dengan namanya. Khusus hari ini, dia akan menuruti perintah apapun yang dikatakan Baekhyun. Dia juga sudah mempertimbangkan keberanian dan resiko yang akan diambilnya.

Pagi itu, Chanyeol dengan rajinnya bangun lebih awal sekitar jam lima pagi—yang biasanya ia lakukan jam enam pagi. Membuat ibunya yang memasak di dapur menjadi terbengong-bengong melihat putra satu-satunya sudah rapi berseragam dan siap sarapan. Chanyeol memang sengaja bangun sepagi mungkin, karena semalam Baekhyun menelponnya melalui telepon rumah. Mengatakan bahwa Baekhyun akan berangkat jam enam pagi kurang sepuluh menit, dan sebenarnya Baekhyun juga menambahkan jika Chanyeol tidak bisa bangun jam segitu sama sekali tak masalah.

Tapi bagi Chanyeol itu adalah masalah.

Apapun yang terjadi, ia harus bangun awal untuk menemani Baekhyun berangkat sekolah bersama. Chanyeol memakan sarapannya secepat yang ia bisa, begitu pula ketika ia mengenakan sepatu. Dengan senyuman lebar khas dirinya dan tekad kuat untuk menjalankan rencana, ia berpamitan kepada ibunya.

Tetapi begitu kakinya melangkah keluar dari batas rumahnya, tepat di depan pagar, semangat empat-limanya lenyap.

Ia memandang pagar rumah Baekhyun yang terlihat di sudut matanya. Menghela napas sekali dan mensugesti dirinya sendiri, ia menuju pagar hitam itu. Dengan rapalan doa yang digumam lirih, ia menekan bel yang berada di dinding pembatas kanan pagar. Dengan perut melilit—entah karena gugup atau apa—ia menunggu seseorang muncul di balik pintu bercat cokelat. Tidak sampai satu menit, sosok yang mengganggu pikirannya sejak kemarin, muncul dengan tas disandang di bahu.

Kening Chanyeol berkerut ketika melihat benda berbentuk balok digenggaman tangan Baekhyun.

"Apa yang kau genggam?" tanya Chanyeol tanpa menyapa terlebih dahulu.

"Ini?" Baekhyun memperlihatkannya, "cuma kopi dengan krim. Aku kurang tidur karena harus mengepak barang-barangku, dan juga mengurus tugas OSIS." Baekhyun membuka pagar hitam di hadapannya dan menutupnya kembali. Kemudian ia menatap Chanyeol lurus-lurus. "Dan kenapa kau ada di sini? Kupikir kau tidak bisa berangkat sepagi ini."

Chanyeol tersenyum lebar. "Tentu saja memenuhi perintahmu untuk berangkat bersama jam segini. Mau kubawakan tas, Baekhyun?"

Baekhyun sempat menampilkan ekspresi bingung bercampur glitter senang sebelum merubah kembali ekspresinya menjadi datar, "Apa kepalamu terbentur sesuatu?" tas sudah berpindah tangan darinya.

"Huh?"

"Atau kau salah makan?" tambah Baekhyun.

Tangan Chanyeol menyampirkan tas Baekhyun di bahu. Ia makin tersenyum lebar ketika mengerti raut kebingungan yang begitu samar. "Ada yang salah denganku? Aku hanya bertugas sebagai asisten, right?" tangan Chanyeol bergerak, meraih tas biru gelap Baekhyun yang hanya disampirkan ke sebelah bahu.

"Iya, ada yang salah denganmu. Kau bangun lebih pagi hari ini, kau juga menemuiku untuk diajak berangkat bersama, tiba-tiba saja kau menawarkan diri untuk membawakan tasku, dan kau—kau menyebut namaku. Bukankah itu hal yang jarang kau lakukan?"

"Jadi.. kau hafal dengan rutinitasku, ya?" Chanyeol mengerling sekali.

Baekhyun berniat untuk siap-siap mengambil kantong kresek—mau muntah. "Sumpah deh, bisa nggak hilangkan kedipan mata diakhir kalimatmu?"

"Kemana kacamata onyx-mu? Kacamatamu ganti?" tanya Chanyeol mengalihkan topik.

Baekhyun refleks menyentuh kacamata amethyst-nya dan berpura-pura membetulkan letaknya yang padahal tidak menurun sama sekali. "Hanya mencoba kacamata baru,"

Chanyeol tersenyum lebar—untuk yang kesekian kalinya—karena Baekhyun terlihat semakin menarik dengan kacamata amethyst itu. Sambil menggamit tangan Baekhyun—tanpa izin—ia maju selangkah. "Jangan banyak omong, ketua dewan harus berangkat lebih pagi untuk mempersiapkan pensi supaya prima, kan?" Tanpa menoleh lagi, Chanyeol berjalan dengan tangan yang belum lepas dari tangan Baekhyun. Baekhyun tak memprotes untuk hal itu. Selagi ia menyamakan langkah lebar Chanyeol, ia memandangi sisi wajah Chanyeol yang terlihat dipandangannya.

"Park giant Chan freak Yeol." Lirih Baekhyun tanpa membuat si pemilik nama mendengarnya. "But—"

.

.

.

"—I like it."


.

.

.

.

.

Classmeeting

Pairing: Chanbaek / Baekyeol

Genre: Romance, Friendship

Shonen-ai / BL / AU / OOC / School-life

.

Sorry for typo(s)

.

.

.

.

.

.


Baekhyun sudah mengumumkan melalui radio siswa sekolah bahwa hari ini pensi akan dimulai jam dua siang—alias libur sekolah sejak pagi. Jadi, ketika jarum jam sudah menunjuk pukul sepuluh pagi tepat, sekolah masih dapat dibilang cukup sepi. Hanya kesibukan OSIS yang menata panggung dan menghias auditorium. Bahkan beberapa guru dan staff tata usaha pun juga tidak datang pagi itu. Tadinya diadakan rapat OSIS sekitar dua minggu yang lalu untuk mendapat kesepakatan menggelar pensi pada jam sembilan pagi, tapi berhubung panggung dan tata auditorium mereka belum siap—yah terpaksa mengundurnya.

Ia menyuruh Chanyeol agar meletakan tas mereka di dalam ruang OSIS. Dan setelah itu ia tenggelam dengan tanggung jawab dan kesibukannya. Chanyeol berusaha untuk tetap berdiri siap siaga di sampingnya, kalau-kalau Baekhyun membutuhkan bantuan Chanyeol.

Baekhyun berdiri di pinggir lapangan menuju ruang auditorium. Sengaja berdiri di sana agar melihat siapa-siapa saja baru datang di pintu gerbang sekolah.

"Itu tirai di sebelah kiri miring satu inchi—nah, begitu lebih baik. Tidak-tidak, posisi papannya belum sampai tengah! Daehyun, betulkan posisi papan itu. Hah? Apa? Tali untuk menyulut apinya putus? Astaga, Jongdae! Pergilah ke atap dan betulkan tali itu. Pembawa acara kita belum datang?! Oh sudah rupanya, tapi teksnya sudah jadi, kan? Duh, sekretaris kita mana? Nah, nah, kalau Yixing datang, cepat minta teksnya. Tunggu sebentar—Joonmyeon!" Baekhyun menghentikan rentetan kalimatnya dan berseru ketika melihat wakilnya baru melewati gerbang sekolah.

Joonmyeon berlari kecil ke arah Baekhyun sambil cengar-cengir tak jelas, "Maaf, apa aku terlalu lama perginya? Aku sudah membeli baterai dan semua yang dibutuhkan."

"Itu nggak penting. Sounds system-nya sudah benar? Kau tahu kan jangan mengotak-atik ekualisernya? Itu bagianku. Kau juga bilang kita kekurangan mic, apa itu sudah diatasi?" Baekhyun menodongkan serentetan pertanyaan.

"Iya, iya, dan tidak. Kita masih butuh satu atau dua mic cadangan lagi."

Baekhyun menarik napas sambil memijit pangkal hidungnya. "Cari Luhan, seret dia ke gudang di dekat perpustakaan dan coba temukan mic di sana."

Ketika Joonmyeon menghilang dari pandangan, Baekhyun melemaskan bahunya yang terasa pegal dan membetulkan letak kacamata yang menurun. Chanyeol mendekatinya dan menyerahkan botol minuman air mineral, "Jangan menolak. Kudengar kalau banyak minum air bisa menghilangkan kejenuhan dan menambah fokus otakmu."

Baekhyun menerimanya, "Terima kasih."

"Kalau kau memang kecapekan, lebih baik duduk dan istirahat saja dibalik panggung."

Baekhyun memandang Chanyeol dengan tatapan tak percaya. "Hei, aku ini yang mengarahkan mereka. Anggota lain butuh bantuanku, meskipun sebenarnya soal pensi begini sih tanggung jawab sekbid enam."

Chanyeol menggelengkan kepala. "Bukan, bukan itu maksudku. Kerja kerasmu itu sudah cukup kok, tinggal kau serahkan saja pada anggota yang lain. Dan tugasmu tinggal mengecek apakah tanggung jawab mereka terlaksanakan dengan baik."

"Tapi aku—"

"Kau terlalu memaksakan diri, kau menganggap keseluruhan pensi ini adalah tanggung jawabmu yang sama sekali tidak benar."

"Tapi kalau begitu aku jadi tidak punya kerjaan lain. Aku ingin melakukan sesuatu untuk mengisi waktu luangku. Setidaknya, aku tidak bisa hanya duduk diam dan memperhatikan dalam jangka waktu sepuluh menit." Baekhyun menyerahkan kembali botol minuman itu untuk dipegang Chanyeol. "Kau asistenku, tugasmu bukan mengkritik." Tambahnya.

Baekhyun kembali mengeluarkan perintah untuk anggota OSIS yang lain. Chanyeol berdiam diri di sana, memandangi punggung Baekhyun. Terkadang kalimat Baekhyun bagaikan pisau, kadang menebas, kadang menyayat, kadang menancap.

"Aku hanya tidak mau kau menanggung beban lebih berat lagi."

Lirihnya kepada diri sendiri.

.

.

.

.

.

.

Baekhyun memijit pangkal hidungnya, kepalanya agak pening karena kurang tidur dan mulutnya serasa penuh pasir karena kebanyakan bicara. Baekhyun memang orang yang irit bicara sebenarnya, dan banyak mengeluarkan kalimat dalam jangka waktu tertentu membuat suaranya agak sengau. Seharusnya bisa diatasi dengan banyak minum air putih agar kerongkongannya lega dan terasa lembab lagi, tapi jika melewatkannya, rasanya tidak bisa lembab kembali seperti semula. Dan Baekhyun menghabiskan waktu sampai ia jatuh tidur di ranjang dengan kerongkongan yang berdenyut sakit.

Pandangannya kembali terarah pada ekualiser di hadapannya. Ia menjadi seseorang yang bekerja dibalik panggung. Chanyeol masih setia berada di sampingnya. Tanpa perlu diseret terlebih dahulu untuk mengikuti Baekhyun kemana-mana.

Sepasang MC—yang tak lain adalah sekbid enam beserta wakilnya—sudah naik ke atas panggung sejak satu jam yang lalu. Membacakan sambutan, giliran kelas yang tampil, bertindak konyol seolah rumah sendiri, lawakan garing, jingkrak-jingkrak tidak jelas—tapi hebatnya, hal absurd itu justru menghibur para hadirin.

"Bahkan dari belakang panggung pun speaker-nya terdengar kencang." Komentar Chanyeol sambil melirik speaker yang memunggungi dirinya.

"Kupikir kau suka pensi. Semua orang suka pensi yang meriah dan berisik, semua orang ingin berpatisipasi untuk meramaikan. Tapi aku kelompok minoritas, jadi lebih memilih untuk berada di belakang panggung." Baekhyun menyahut dengan suara datar yang sayangnya gagal karena ditambah sengau.

Chanyeol mengernyit, "Suaramu kenapa?"

Baekhyun secara refleks menyentuh lehernya sebelum sadar dan menarik tangannya kembali ke pangkuan. "Efek kebanyakan bicara. Untuk info saja, aku memang selalu seperti itu."

Chanyeol diam sesaat, pikirannya jungkir balik memikirkan topik yang waras. Ia tersenyum dalam hati ketika menemukannya, "Kenapa kau tidak memberikan pidato sebelum acara dimulai? Kupikir itu tugas ketua OSIS—"

Baekhyun mengangkat bahu dengan kepala direndahkan—berjengit tegang. "Aku tidak bisa—Demi Neptunus, aku tidak mau berada di atas panggung itu!" Baekhyun menjawab dengan suara tegang, "Sudah kubilang aku suka bekerja di balik layar. Karena itu kuminta Joonmyeon untuk menggantikanku."

Chanyeol mengintimidasinya, "Kau demam panggung ya, midget?"

Wajah Baekhyun memerah malu, tangannya berkali-kali menyentuh kacamata amethyst-nya dengan gugup. "Dengar—itu sudah menjadi ra-rahasia umum. La-Lagipula memangnya ada orang yang tidak punya kelemahan?!"

Chanyeol berusaha menahan dirinya untuk tetap diam dan tidak tertawa agar Baekhyun tak marah-marah padanya. Tapi itu sulit dilakukan, menjahili Baekhyun sudah masuk daftar lima teratas di dalam daily activities. "Tapi kau berani menceramahi atau melerai siswa yang membuat keributan di depan banyak pasang mata. Itu hampir tak ada bedanya dengan pidato di atas panggung."

Baekhyun menutup separuh wajahnya, "Kau tidak mengerti..."

Chanyeol mengangkat tangan agar Baekhyun berhenti bicara. "Baiklah, aku memang tidak mengerti." Tangannya turun dan kedua bahunya diangkat acuh, "aku tidak akan tanya lebih jauh lagi."

Keheningan menyelimuti mereka lagi. Atau setidaknya situasi itu ditelan suara ribut musik yang berasal dari speaker dan seruan semangat para pelajar. Baekhyun melihat jam tangannya kemudian mengetuknya beberapa kali dengan ekspresi kebosanan setengah mati.

"Kenapa waktu berjalan lambat? Ini bahkan baru jam tiga lewat duapuluh menit, astaga berapa lama lagi aku di sini?"

Chanyeol mendengar gerutuan kesalnya secara jelas meskipun terganggu suara speaker. "Abaikan waktu, maka ia akan berjalan dengan cepat. Omong-omong tumben sekali kau bersikap lebay."

Baekhyun mengepalkan tangannya di depan wajah, "Mau makan ini? Aku bisa memberinya mentah-mentah padamu."

Chanyeol berjengit seolah kepalan tangan itu sudah mengenainya—yang kenyataannya belum sama sekali. "Nah, kan! Tumben sekali kau ingin meninjuku, biasanya memelintir tangan atau menginjak kaki—oh! Atau justru menendang tulang keringku."

Baekhyun bertanya-tanya dalam hati tentang kewarasan Chanyeol yang hari demi hari semakin menurun. Maka ia memutuskan untuk mengabaikannya.

"Apakah pengurus OSIS sudah tahu kalau kau akan pindah?" suara Chanyeol mengecil seolah ragu untuk menanyakannya. Suara speaker yang kencang harusnya bisa menenggelamkan suara Chanyeol. Tapi berhubung telinga Baekhyun tajam, jadi ia mendengarnya dengan agak samar.

"Tentu saja sudah tahu. Dan omong-omong soal kepindahanku, waktunya dimajukan."

Chanyeol melongo dengan wajah bodoh, "Hah?"

"Harusnya aku dan ayahku berangkat hari Senin. Tapi diubah, aku berangkat besok dan ayahku berangkat hari Kamis. Ayahku masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan."

Chanyeol tidak merespon apa-apa, itu membuat Baekhyun meneruskan kalimatnya. "Aku akan memberikan surat pengunduran diri kepada kepala sekolah hari ini."

"Hari ini?"

"Iya, hari ini."

Dan percakapan mereka putus. Baekhyun mengotak-atik ekualiser sementara Chanyeol membuang wajah untuk mengintip keramaian. Tak sadar waktu sudah berlalu cukup lama, Chanyeol melirik Baekhyun dengan sudut matanya. Ia menemukan Baekhyun yang membeku di tempat, wajahnya antara kaget dan kesal bercampur malu. Kemudian telinganya menangkap suara yang sudah familiar dari atas panggung.

Suara Daehyun yang kemarin bersikap terlalu menempel pada Baekhyun.

"—kami seluruh pengurus OSIS benar-benar berterima kasih pada ketua dewan kesayangan kita. Yang bekerja sangat—tolong, tekanan pada kata sangat—keras untuk mewujudkan pensi yang menghibur ini. Ia hampir mengambil alih semua pekerjaan karena beberapa sekbid terhambat untuk menyelesaikannya. Dia bahkan membantu mengetik proposal karena sekretaris sakit dan wakilnya sibuk, kalian ingat ketika terjadi keributan di dekat ruang OSIS tempo hari? Dia juga yang berhasil melerai siswa—duh, lihatlah perjuangan ketua dewan kita. Tidak peduli dijuluki galak, iblis, berparas hawa—"

Chanyeol melihat Baekhyun mengepalkan tangan di atas pangkuan, kepalan tangannya bergetar.

"—dan berbagai macam julukan lainnya. Ayo kita berikan tepuk tangan yang sangat, sangat, sangaaaaattt meriah untuknya di balik panggung."

Chanyeol bisa mendengar tepuk tangan yang lebih meriah, bersemangat, dan juga tulus dibandingkan tepuk tangan apresiasi setelah pentas. Sorakan meriah untuk ketua dewan yang membeku di sebelahnya.

Chanyeol memang tidak melihat wajah Daehyun, tapi ia bisa menebak kalau si sekbid enam itu tengah tersenyum luar biasa lebar di atas panggung saat ini. Suaranya kembali terdengar melalui speaker, "Apa kau dengar itu, Baekhyun? Kau mendengar semuanya kan dari balik panggung?"

"Daehyun sialan," gumam Baekhyun kemudian menenggelamkan wajahnya di telapak tangan. Tersenyum diam-diam dengan rasa malu berlebih.

Chanyeol ikut tersenyum di sampingnya, tangannya bergerak menepuk-nepuk bahu Baekhyun. "Apa itu ucapan terima kasih kembali untuk Daehyun? Wah, pasti dia senang sekali."

"Sarkas sekali kalimatmu." Baekhyun mengangkat wajahnya dan kembali mengepalkan tangan di atas pangkuan. "Dia terlalu berlebihan mengumbar semuanya. Terdengar seolah aku ini hebat dan bisa segalanya. Aku tidak seperti itu. Dan—urgh, dia membuatku malu!"

"Begitulah cara dia berterima kasih padamu," Chanyeol bicara sok tahu, "aku yakin, semua pengurus OSIS juga sangat berterima kasih padamu. Kau meng-handle segala pekerjaan. Mengurus ini itu, memberi saran, di tengah kesibukanmu juga sempat saja untuk mengurusi dua siswa berandal, bukankah terdengar bahwa kau bisa segalanya?"

"Mulai, kan." Baekhyun memberinya tatapan kesal, "Kau jadi ikut-ikutan."

Chanyeol menarik tangannya kembali, ia memberikan cengiran lebar. "Aku berbicara kenyataan—"

"Yang dilebih-lebihkan."

Chanyeol menatapnya sangsi, "Kau hanya terlalu segan untuk menerimanya."

Baekhyun memalingkan wajah menuju ekualiser, tangannya yang mengepal di atas pangkuan beralih diremas kuat. "Dasar giant sok tahu."

Meskipun sekilas, Chanyeol berhasil menangkap fitur wajah Baekhyun yang memerah. Maka ia memutuskan untuk tak melanjutkan percakapan lebih jauh dan memilih untuk tersenyum diam-diam. Tapi Baekhyun mengajaknya bicara lagi.

"Giant,"

"Mhm?"

"Menurutmu... siapa itu Byun Baekhyun?"

Chanyeol mengalihkan pandangan, menatap tirai-tirai yang menutupi tempat mereka berada. "Menurutku..." pandangannya beralih kabel yang bergulung-gulung di sisi tirai. "..Byun Baekhyun adalah seorang siswa pintar, ketua OSIS angkatan 31, menjunjung tinggi tata krama beserta peraturan-peraturan yang tertulis maupun tidak, tersenyum sebagai bentuk sopan santun."

Baekhyun melekatkan matanya pada ekualiser. "Kesimpulannya?"

Chanyeol dengan berani plus muka menantang, menoleh dan menatap Baekhyun intens. "Byun Baekhyun adalah aktor yang sangat handal."

Baekhyun tersenyum dan balas menatapnya, tapi yang Chanyeol lihat bukan senyuman palsu ataupun senyuman tulus. Tatapannya bukan tatapan datar ataupun mengintimidasi seperti biasanya, tatapan itu merefleksikan bagaimana Baekhyun mengingat karakternya yang dibuat secara paksa. Senyum yang membuat kita goyah, setiap melihat langsung ke arah matanya membuat kita ingin mengalihkan pandangan dengan cepat-cepat. Baekhyun tersenyum dengan ekspresi seperti ingin menertawakan dirinya sendiri ketika mendengar jawaban Chanyeol.

"Next question,"

Chanyeol memasang telinganya baik-baik. Sebelum Baekhyun mengajukan pertanyaannya, tatapannya kembali melekat pada ekualiser.

"Menurutmu, siapa itu aku?"

Chanyeol mengernyit dalam, "Aku? Yang kau maksud dengan 'aku' itu dirimu sendiri?"

"Aku memberimu pertanyaan untuk menerima jawaban. Bukan pertanyaan lagi." Baekhyun bersikap menyebalkan seperti biasa. Senyum mengejeknya dilempar pada asistennya yang akan segera lepas jabatan beberapa jam lagi.

Chanyeol melihat langit-langit tenda seperti melihat jutaan bintang di langit malam, pandangannya menerawang jauh. "Bagiku.. kau hanyalah seseorang yang ingin bebas, tetapi dituntut oleh ayahmu untuk menjadi yang terbaik. Menurutku... sebenarnya kau sangat baik dan ramah, kau akan lebih bahagia jika keluar dari zona yang sudah kau buat sendiri."

Baekhyun menjauhkan tangannya dari ekualiser. Kedua matanya tetap dibuat fokus menatap benda di hadapannya, "Oh."

Kemudian keheningan canggung mengisi atmosfer.

Chanyeol bertanya-tanya dalam hati, kenapa Baekhyun memberinya pertanyaan semacam itu, kenapa Baekhyun harus bertanya padanya?

"Pertanyaan terakhir."

Jeda dengan begitu menegangkan.

Chanyeol menarik oksigen di atmosfer dengan bernafsu.

"Bagimu, aku itu siapa?"

Chanyeol hampir-hampir tidak dengar. "Tunggu sebentar" —tapi suaranya tidak keluar. Chanyeol bahkan hanya membuka mulutnya tanpa dapat bersuara.

"Byun Baekhyun atau aku? Siapa yang kau pilih?"

Otak Chanyeol berdengung.

Baekhyun sempat melihat wajah melongo Chanyeol. "Tidak, abaikan saja pertanyaanku." Tambah Baekhyun sambil mengusap sebagian wajahnya.

"Tapi kenapa kau bertanya seperti itu padaku?"

"Tidak apa-apa. Aku menanyakan hal itu kepada teman-temanku hari ini. Bahkan semua anggota OSIS satu persatu."

Chanyeol mendadak lesu. Ia selalu berharap tinggi kalau Baekhyun juga memperhatikannya seperti ia memperhatikan Baekhyun.

Ah, ini namanya friendzone ya? –hati Chanyeol tersayat.

Seandainya saja Chanyeol tahu kalau jawaban terakhir Baekhyun sebelum keheningan canggung muncul adalah kebohongan belaka. Hasil rekayasa yang menimbulkan efek negatif bagi keduanya.

.

.

.

.

.

.

.

Di belakang panggung semakin banyak langkah kaki yang mondar-mandir melesat kesana kemari. Baekhyun sendiri adalah pusat tujuan dari langkah kaki itu. Beberapa orang baru saja melesat pergi setelah mendengar perintahnya. Chanyeol duduk di salah satu sudut tenda, memperhatikan Baekhyun dari jauh sekalian cari angin adalah posisi yang prima.

"Ketua, kau kedatangan tamu."

Baekhyun memutar leher ke samping, menatap sumber suara, Kim Jongdae. Berdiri di belakang Jongdae, adalah seorang siswa yang akan segera meninggalkan sekolah. Siswa kelas 12-B, kakak kelas mereka, dan mantan ketua OSIS sebelum Baekhyun.

Baekhyun tersenyum sebagai bentuk sopan santun. "Hai, Kak Minseok. Selamat atas kelulusannya."

Mantan ketua OSIS—Kim Minseok—itu tersenyum hangat, "Terima kasih. Omong-omong, kudengar dari Jongdae ada yang sedikit berbeda dari pensi kali ini dengan pensi dimasa jabatanku."

Baekhyun melirik Jongdae sekilas, tak ada satu detik. "Oh, Jongdae terlalu baik hati untuk memberitahukan semuanya padamu, Kak."

Jongdae nyengir tak bersalah. "Jangan sarkas begitu, dong."

Minseok tertawa pelan. Dari dulu, Kim Minseok adalah panutan bagi Baekhyun. Bagaimana ketika Minseok berdiri di depan semua murid sebagai ketua OSIS sungguh sangat berwibawa. Tapi ia berubah menjadi sebagaimana dirinya sendiri ketika berada di lingkup kecil yang membuatnya nyaman. Minseok selalu bisa menyesuaikan diri dengan baik—yang artinya sulit bagi Baekhyun untuk dilakukan. Baekhyun menjadikannya panutan karena hal itu, karena ia ingin seperti Minseok. Bebas, tak terikat apapun, lebih terbuka, dan banyak teman. Minseok bisa menjadi dirinya sendiri di depan semua orang, tidak tertutup senyum palsu seperti yang biasa Baekhyun lakukan.

Ia bisa melihat bagaimana ketika beberapa anggota OSIS yang berada di balik panggung kala itu segera mendekat. Menanyakan kabar mantan ketua OSIS itu, ucapan selamat atas kelulusan, bertanya iseng tentang gebetan, berjabat tangan, high-five dengan senyum ceria, dan hal-hal lain yang jarang dilakukan mereka kepada Baekhyun. Rasa sesak menekannya. Ia tahu perangainya yang tegas dan terkesan datar membuat respon orang didekatnya ingin segera pergi.

Itulah yang menyebabkannya sedikit terisolasi dan memiliki sedikit teman.

Baekhyun mundur pelan-pelan dari kerumunan kecil tapi heboh itu. Rasanya menenangkan ketika tahu ia berhasil menyingkir.

Hanya Chanyeol yang menyadari bahwa Baekhyun mundur diam-diam. Chanyeol awalnya hanya berspekulasi kalau Baekhyun kurang suka keramaian. Tapi ketika matanya menangkap fitur wajah Baekhyun, jelas sekali kalau Baekhyun iri dengan pemandangan itu.

Baekhyun mundur selangkah dan hampir tersandung kabel sounds system. Sambil mengusap dada karena terkejut, ia melangkah mundur lagi, tapi malah menabrak sesuatu. Bukan, bukan sesuatu, tapi seseorang. Baekhyun berbalik dengan cepat dan mengangkat wajah untuk melihat, "K-Kenapa kau berdiri di belakangku?"

"Kau belum makan siang, midget."

Baekhyun tahu Chanyeol mengalihkan topik. Tapi ia hanya membasahi bibir tanpa mengomel, kedua matanya dialihkan menuju jam tangan. "Aku bahkan tidak lapar." Ucapnya meskipun tidak yakin.

"Oh ya? Setelah memaksakan dirimu bekerja sangat keras sampai kurang tidur dan minum kopi, sekarang masih saja tidak mau makan siang? Lengkap sudah, besok pasti ambruk dan tiduran seharian di kamar. Kemudian kau tidak akan jadi pindah ke Jepang karena sakit menghalangi."

Baekhyun benar-benar yakin ada yang aneh dengan Chanyeol sejak tadi pagi. "Kau benar-benar menyuruhku makan agar besok aku bisa pindah?" Baekhyun tidak tahu kenapa pertanyaannya sendiri menohok hatinya, "Sebegitu inginkah kau agar aku segera pindah?"

Chanyeol menutupi reaksi aslinya dengan muka tembok. "Sungguh, siapapun tidak ada yang mau melihatmu sakit. Ini sudah hampir jam setengah lima sore. Kau sangat dibutuhkan dimana-mana, kau sendiri yang pernah bilang kalau tidak mau melempar tanggung jawab kepada orang lain."

Baekhyun semakin merasa tidak baik dengan jawaban itu.

"Aku hanya ingin kau memakan makananmu. Bukankah Kyungsoo si bendahara itu sudah repot-repot memesan katering?" dalih Chanyeol yang sebenarnya khawatir betul dengan kesehatan Baekhyun.

Baekhyun berbalik arah, berjalan menuju tumpukan kotak makan yang terjejer di atas meja. Baru saja membuka kotak dan ingin menyuap, seseorang berjalan tergesa ke arah Baekhyun.

"Baek, kurasa ada yang salah dengan ekualisernya."

Baekhyun segera berdiri. Tapi Chanyeol berjalan lurus ke arah mereka dan menatap siswa di hadapan Baekhyun yang ternyata Luhan ketua sekbid empat OSIS.

"Maaf, tapi Baekhyun harus makan siang dulu. Dia belum makan siang dari tadi."

"Chanyeol, berani-beraninya kau melarangku—"

"Kau tahu resiko orang yang meninggalkan jam makan selama itu bukan? Ketua dewan tidak bisa diganggu dulu."

Luhan membekap mulutnya dengan satu tangan untuk mencegah tawa. Ayolah, Chanyeol terlihat seperti pacar yang protektif, atau seorang ayah kalau mau. "Oh ya, tentu saja—hmpph—kau benar." Luhan mengerling sekali pada Baekhyun, mencoba mengirimkan sinyal bahwa ia sedang meledek Baekhyun.

"Aku bisa makan nanti—"

"Tidak. Lebih baik jangan, makan saja sekarang. Nanti diomeli pacar protektifmu lho, Baekhyun."

Baekhyun mendelik, "Siapa yang punya pacar?!"

Luhan tertawa tertahan, ia segera berbalik arah. "Aku akan mencari Joonmyeon saja. Ah ya, Chanyeol! Awasi ketua untuk memakan makanannya sampai habis ya."

"Tanpa disuruh pun aku akan melakukannya."

Luhan menolehkan kepalanya, "Aiiih tipe pacar yang perhatian sekali."

"Luhan!" Baekhyun berseru dengan wajah hampir memerah pekat.

"Baik, baik, aku pergi."

Punggung Luhan menghilang dibalik kerumunan kecil yang tak berpindah dari tengah tenda. Baekhyun menunduk, menyendok sesuap nasi ke dalam mulutnya. "Tolong abaikan ucapan Luhan, selera bercandanya tidak lucu."

"Aku malah berharap ia tidak bercanda," gumam Chanyeol.

"Apa? Kau mengatakan sesuatu?"

"Tidak. Tidak ada apa-apa."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Baekhyun keluar dari tenda di balik panggung, diikuti oleh Chanyeol yang sedikit bingung. "Kenapa kita berjalan keluar tenda?"

Baekhyun menangkap lengan Chanyeol dan menariknya, meminta untuk jalan lebih cepat melalui isyarat. "Sudah waktunya, matahari akan tenggelam. Dan kita pergi ke atap sekarang."

Chanyeol melirik tangan Baekhyun yang menempel erat di lengannya, kemudian berpindah pada tangan yang satunya lagi. "Kenapa kau membawa walkie talkie?"

"Bukan urusanmu, giant."

Mereka menyelinap dibalik kerumunan siswa yang berada di samping panggung. Langkah Baekhyun yang cepat berhasil membuat mereka lolos dari sana. Mereka menaiki tangga dengan terburu. Mereka berpapasan dengan Luhan di sana.

"Kenapa kau ada disini? Katanya mau mencari Joonmyeon."

Luhan tersenyum ceria seperti khasnya. "Hanya berpatroli. Siapa tahu ada murid yang masih kecantol disini, lumayan bisa mendamprat mereka."

Baekhyun memutar mata, "Dasar kekanakan. Turun ke bawah sana, bantu Jongdae siapkan sesuatu untuk menyulut api. Dan mana walkie talkie bagianmu?"

Mata Luhan berbinar kesenangan, ia mengangkat walkie talkie di tangan kirinya. "Sudah waktunya kah? Asik!"

Kemudian ia berlari turun ke bawah dengan semangat berlebih. Baekhyun dan Chanyeol meneruskan langkah mereka. Ketika menginjak atap sekolah, Baekhyun segera merogoh kantong blazernya dan mengeluarkan dua buah pemantik api. Ia melemparnya satu pada Chanyeol yang ditangkap dengan benar.

"Pakai itu untuk menyulut api di tali, bersiap di sisi kiri atap, aku mengurun bagian satunya. Tunggu aba-abaku, kita menunggu matahari tenggelam."

Chanyeol mengangguk mengerti. Ide Baekhyun untuk membuat langit setelah sunset menjadi penuh kembang api adalah ide briliant. Chanyeol siap di posisinya, bertumpu lutut di dekat pagar pembatas setinggi tulang iga. Ia melihat bagaimana matahari hampir tenggelam sepenuhnya melalui celah-celah besi selebar lima sentimeter. Dibanding dirinya, Baekhyun lebih fokus dan konsentrasi menanti sunset berakhir.

Chanyeol melirik Baekhyun, dilihatnya bagaimana fitur wajah manis yang berekspresi datar itu ditempa sinar oranye kemerahan. Beberapa helai rambut cokelat Baekhyun bergerak sesuai arah angin. Baekhyun menyeka keringat di dahinya dengan lengan seragam sebelum mengangkat walkie talkie ke depan mulut.

"Siap di posisi kawan-kawan, aku akan menghitung mundur." Kemudian matanya beralih pada Chanyeol, tatapan mereka bertemu.

Chanyeol mengerti, itulah aba-abanya. Ia konsen pada tali yang tersambung dengan banyak kembang api. Tangannya berada tepat di ujung tali, matanya teralih lagi untuk menatap Baekhyun yang masih menatap lurus ke arahnya.

"Sepuluh,"

Suara Baekhyun terdengar sampai ke telinga Chanyeol meskipun ketua dewan itu mengirim aba-aba pada beberapa anggota OSIS di bawah yang juga bersiap menyulut api.

"Sembilan,"

Tatapan mereka sama sekali tidak terputus.

"Delapan,"

Chanyeol berharap ia bisa memandang Baekhyun setiap hari sebagaimana ia memandangnya kali ini.

"Tujuh,"

Meskipun mustahil jika Baekhyun tetap pindah esok hari.

"Enam,"

Kenapa kau harus pindah, Baekhyun? –Chanyeol tak pernah berani bertanya.

"Lima,"

Aku bahkan sama sekali tidak siap. Chanyeol selalu menjadi pecundang.

"Empat,"

Memangnya salah kalau ia menginginkan Baekhyun tetap disisinya? Tapi itu sungguh egois.

"Tiga,"

Setidaknya, jika ia mengatakan perasaannya—

"Dua,"

—mungkin ada kesempatan untuk berharap Baekhyun akan menerimanya.

"Satu!"

Chanyeol menyulut api bersamaan dengan Baekhyun. Tatapan mereka sama sekali tidak beralih. Tanpa melihat kerlap-kerlip indah di atas sana, tanpa mendengarkan sorak sorai dari bawah sana, tanpa mempedulikan waktu dan ruang, mereka berdua berjalan mendekat dan berhenti ketika berhadapan.

"Apakah kembang api bisa mengabulkan permohonan seperti bintang jatuh?"

Baekhyun mengernyit. "Pertanyaan konyol, sejak kapan bintang jatuh bisa mengabulkan keinginan? Kau konyol sekali, Chanyeol."

Kembang api dari lapangan menyusul satu.

Chanyeol berhasil tersenyum, "Kau menyebut namaku."

"Kau tidak perlu sebahagia itu. Anggap saja sebagai salam perpisahan."

Tenggorokan Chanyeol menyempit. "Aku berharap kau tidak akan melupakanku, melupakan semua temanmu disini ketika kau pindah. Itu permohonanku."

Kembang api kembali saling menyusul, berasal dari lapangan dimana teman-teman Baekhyun bekerja. Pada akhrinya mereka berdua tertarik untuk melihat keindahan itu, Baekhyun yang pertama kali memutuskan pandangan. Chanyeol tidak sempat melihat raut kekecewaan Baekhyun ketika mendengar permohonan itu.

"Aku menyukainya," Baekhyun berkata tiba-tiba.

Chanyeol mengernyit, bingung yang antusias. Menyukai apa? Menyukai permohonannya barusan?

"Kembang apinya indah sekali." Lanjut Baekhyun tanpa melihat wajah Chanyeol.

Pisau menancap di hati Chanyeol. Uh, dasar PHP—Pemberi Harapan Palsu. Suara kembang api memenuhi udara, kerlipnya memenuhi langit ungu kehitaman, tapi Baekhyun dan Chanyeol merasa sunyi senyap.

Baekhyun berhasil membuka mulut, "Aku akan turun sekarang."

Chanyeol memfokusnya pupil matanya pada ledakan kembang api yang belum padam.

"Menuju ruang kepala sekolah. Sudah saatnya untuk mengajukan surat pengunduran diri." Kemudian Baekhyun berbalik menuju pintu besi dan menghilang. Bersamaan dengan kembang api yang padam. Anggota OSIS sibuk memasang kembang api lagi di bawah sebelum menyulut apinya.

Chanyeol menahan rasa sesak, tenggorokannya semakin menyempit seolah sedang tercekik. Matanya tidak sengaja menangkap walkie talkie Baekhyun di dekat pagar pembatas. Rupanya tertinggal di sana. Chanyeol berjongkok, meraih walkie talkie dan menyadari ada seseorang yang bicara jauh di sana.

("Baek? Baekhyun? Kau dengar aku? Aku memutuskan sambungan yang lain, sekarang hanya kita berdua yang bicara.")

Chanyeol rasanya kenal suara ini. Ia memutuskan untuk membalas, "Maaf, ini siapa? Baekhyun meninggalkan walkie talkie-nya di atap bersamaku."

Hening sesaat.

("Apa itu kau, Park Chanyeol? Ah, aku Kyungsoo si ketua bendahara OSIS. Dan apa maksudmu Baekhyun meninggalkan walkie talkie-nya bersamamu? Dia sudah tidak ada di atap?")

"Iya," Chanyeol menjawab dengan pahit, "dia turun menuju ruang kepala sekolah untuk menyerahkan surat pengunduran diri."

("ASTAGA! Memangnya kau tidak mencegahnya begitu?")

"Apa maksudmu—"

("Kau harapan terakhirnya, Chanyeol!")

Chanyeol membeku.

("Ayahnya memberinya pilihan, ikut bersama ayahnya atau tetap tinggal di sini. Tapi Baekhyun pikir jika ia tetap di sini dan berakhir tanpa perasaan terbalas lebih baik pergi. Ia menyukaimu tahu! Dan sekarang ia pasti kecewa sekali padamu, kenapa kau tidak menyatakan perasaanmu? Aku tahu kau juga menyukainya.")

Chanyeol merasa begitu bodoh.

("Baekhyun hanya membutuhkan pernyataanmu dan ia akan membatalkan keberangkatannya. Ia tak akan pindah. Ia akan tetap di sini, bersekolah di sini, bersama kita. Dan terlebih ia akan bersamamu terus.")

Pisau di hati Chanyeol menekan lebih dalam. Suara seseorang menyadarkan Chanyeol dari pikirannya.

"Hei, giant, maaf aku meninggalkan walkie talkie-ku di sini."

Baekhyun kembali.

Ketua dewan itu berjalan mendekat ke arah Chanyeol yang membeku di tempat. Chanyeol menjatuhkan walkie talkie di tangannya ke lantai dengan acuh dan menghadap Baekhyun dengan tatapan mata penuh harap.

"Hey! Walkie talkie-ku jatuh—"

Chanyeol mencengkram kedua bahu Baekhyun. "Kau belum ke ruang kepala sekolah, kan?"

Baekhyun mengernyit, "Aku—tunggu, apa maksudmu?"

"Kutanya, kau belum ke ruang kepala sekolah, kan?" ulang Chanyeol dengan cepat, terkesan tak sabaran.

"Tentu saja belum, aku baru sampai di lantai dua ketika menyadari ada yang tertinggal. Jadi aku memilih untuk naik dulu sebelum ke ruang kepala sekolah."

Mata Chanyeol berbinar penuh harap dan rasa lega. "Puji Tuhan! Terima kasih, astaga."

Baekhyun semakin mengernyit dalam. "Kau kenapa sih? Apa yang salah denganmu—"

"Aku menyukaimu, Baekhyun."

Keadaan mendadak hening.

Baekhyun seharusnya sudah mengomeli Chanyeol karena ucapannya berkali-kali terpotong. Tapi untuk sekedar mengeluarkan suara lirih saja Baekhyun tak mampu. Rasa terkejut merayap hingga ke tulang belakangnya.

"Aku tidak bisa romantis, kau tahu itu. Aku ini siswa berandalan dan kau ketua dewan. Tapi siapa yang peduli? Pertanyaanmu di tenda saat itu, tentang aku untuk memilih kau atau Byun Baekhyun... aku tidak akan memilih siapapun. Aku hanya ingin memilihmu untuk menjadi dirimu sendiri. Seaneh apapun itu, sedatar apapun itu, itu pilihanku."

Mulut Baekhyun terbuka kecil dan hanya berfungsi untuk menarik napas terkejut.

"Aku menyukaimu, lebih dari sekedar teman, lebih dari sekedar pernghormatan terhadap ketua dewan. Aku benar-benar menyukaimu, aku ingin mendampingimu terus, aku ingin memilikmu." Chanyeol kalap sendiri dengan kalimatnya, ia mulai berkeringat. "kumohon, jangan pindah dari sini. Jangan meninggalkanku."

Baekhyun dapat mendengar jelas apa yang dikatakan di tengah keheningan itu. Chanyeol merendahkan kepalanya, sedikit membungkuk untuk menyentuhkan keningnya di atas bahu Baekhyun. Tangan Chanyeol merosot dari bahunya dan berpindah ke kedua lengannya, mencengkram erat.

"Kumohon," lirihnya dengan perasaan takut kehilangan. Uap samar menerpa wajah Baekhyun yang dingin karena angin malam. Tangan Chanyeol berpindah lagi untuk memeluk Baekhyun tanpa izin.

Wajah Baekhyun tertutup setengah oleh bahu lebar Chanyeol. Hidungnya tepat berada di atas bahu Chanyeol, matanya terasa panas seolah ingin menangis yang pada kenyataannya panas karena ia tak berkedip sama sekali. Baekhyun hampir bisa bernapas normal, tapi tidak disaat jantungnya memukul tulang rusuknya dengan sangat keras dan cepat. Dan itu membuatnya berkeringat. Napasnya naik turun sesuai dengan Chanyeol yang tengah menghilangkan gengsi dan gugup.

Sesuai insting, Chanyeol mengangkat kepalanya, masih dengan posisi rendah, sementara Baekhyun sedikit mendongakkan wajah.

Disaat yang sama kembang api muncul lagi di langit. Persiapan OSIS ternyata begitu cepat. Meledak susul menyusul seolah tak ada habisnya.

Kemudian bibir dingin itu bertemu.

Saling mencari kehangatan. Bibir itu menekan sepanjang garis bibir Baekhyun yang selalu datar, tapi selalu tersenyum bahagia kepadanya, menyenggeol saraf-saraf sensitif bibir atas dan bibir bawah yang tidak pernah disentuh siapapun. Baekhyun tidak tahu harus meletakan tangan dimana, tapi secara refleks tangan itu sudah mencengkram lengan atas Chanyeol. Chanyeol menghisap lembut seolah tengah mencicipi rasa bibir Baekhyun. Membuat bibir Baekhyun basah dengan sedikit sapuan lidah.

Ciuman itu terlepas dalam kurun waktu kurang dari semenit dan Baekhyun masih belum bisa bernapas normal. Tidak percaya dengan instingnya yang mengambil alih akan mewujudkan hal itu. Kedua matanya menatap lurus ke arah Chanyeol.

Tanpa mengucapkan sepatah katapun, mereka melepaskan diri. Baekhyun berdiri di samping Chanyeol, keduanya sama-sama menengadah melihat langit yang masih dihiasi kembang api.

"Jadi, apa kau menyukaiku?" tanya Chanyeol.

Baekhyun menghembuskan napas, "Aku suka—"

Chanyeol berbinar lega.

"—pada kembang apinya."

Chanyeol lesu, "Kau benar-benar menggantungku, midget. Dasar PHP."

Baekhyun menoleh padanya, "Kau sungguh konyol, tahu. Tentu saja aku menyukaimu, giant."

"Kau berjanji untuk membatalkan kepergianmu besok? Serius, aku tidak akan pernah siap." Ucap Chanyeol masih diselubungi kecemasan.

"Aku mungkin tidak berjanji."

Chanyeol keringat dingin. Disaat yang bersamaan, kembang api sudah padam.

"Maksudku, aku tidak akan pindah. Tapi... mungkin hari Senin nanti kau harus menemui ayahku dan berbicara padanya untuk mendapat persetujuan."

"A-Apa?"

"Resikomu, giant." Jawab Baekhyun dengan raut wajah tak peduli.

Doakan saja semoga Chanyeol diterima oleh ayah mertua.

.

.

.

.

.

.

.

.


END


a/n: Saya harap endingnya tidak mengecewakan ;;;A;;;; YOSH AKHIRNYA SELESAI.

berusaha secepat mungkin menyelesaikan sebelum UTS hmph. Dan akhirnya jadi juga, TARAAAAAA~! Ayolah, segarkan pikiran dulu sebelum membaca buku-buku numpuk yang menunggu untuk dihapal—eh bagi yang masih sekolah.

Terima kasih yang sudah mengikuti fic ini dari awal sampai akhir atau dari tengah-tengah juga nggak masalah.

Padahal saya udah niat banget buat cepet-cepet nyentuh garis finish, tapi ternyata malah tertinggal satu bulan lebih. Maaf :') and then, terima kasih bagi yang sudah me-review di chap sebelumnya;

Yayahunnie, littlechanbaek, chanbaek1, Lala Gypsophila (Kak, saya bukan titan yang selalu ditebas pake manuver 3D. TAPI KALO DITEBAS SAMA MBAK HANJI JUGA GA PAPA LAH, SAYA IKHLAS /lah. MAKASIH SUDAH MENYEMANGATI SAYA KAK!), vietrona chan, chanmeeh (Kimjong itu sudah dapat pasangan yosh), lolamoet, Ndowclow, parkchanyeol . chanyeol . 35, yeolinbaek, hunniehan, chazaurel, indrisaputri, Chan Banana, Fione Maple, kimkaaaii (sabar kak /eh), habyunnie25, OCHA991004, Mihun, yuuyo, EXO12LOVE, KimTaeJin, pinkpurple94, HoshinoChanB, Rsetikadena, BLUEFIRE0805, stranana, chankypark (maaf lho kalo waktu itu tulisannya menganggu, makasih sudah diingatkan), ooh, SeiraCBHS, sunsehunee (kejutannya kembang api, yeheeet), annkg, RHLH17 (maaf dek, kaka updatenya telat, ini ratih kan? saya kenal), Iyel (nggak perlu minta maaf, nggak review juga ga papa, yang penting dibaca hehe), rachel suliss, BC'baek (kita Cuma beda dua bulan kok, neraka dunia berkedok UN /hiks), Aleyna614 (maaf, saya nggak punya ig), Guest, Nutrijellujell, L'amour-chan

Untuk beberapa orang yang nanya socmed saya sih... sebenernya ada facebook, ask . fm, sama twitter, tapi yang aktif cuma twitter. Saya orangnya agak introvert sih kalau di socmed, jadi males buat bbm atau line atau ig. Kalau mau difollow silahkan, tapi jangan kaget kalau isinya enampuluh persen anime—saya otaku—empatpuluh persen korea, hehe.

Unamenya, silver _ 11b (hapus spasinya).

.

.

.


Omake

"Aku nggak mau ikutan, aku masih polos, aku juga jomblo, nanti rasanya seperti tertusuk garpu." Ucap Jongdae merana sambil menyulut api pada tali.

"Kau sendirian saja, Jongdae? Anggota OSIS yang bertugas menyulut api di lapangan mana lagi?"

Suara Minseok terdengar di samping Jongdae. Jongdae menoleh untuk mendapati wajah kakak kelasnya. Minseok akhirnya ikut berjongkok di sebelah Jongdae. Jongdae menjawab dengan lesu, "Mereka pergi setelah sesi kembang api pertama berakhir, mengatakan supaya aku yang mengurus semuanya. Apalagi Luhan yang sibuk mengintip ketua dewan di atap sekolah."

Minseok terkikik geli, "Ah, pasti siswa tinggi itu yang jadi sasaran. Tapi, daripada kau sendirian, bukankah lebih baik aku temani? Tidak keberatan, kan?"

Wajah Jongdae memerah, "Tidak kok, Kak Minseok. Aku senang malah."

Nun jauh di sisi lapangan sana, ada Jongin yang duduk sendirian sambil melihat kerumunan orang. Tidak jadi bergabung dengan Jongdae—sesama jomblo—ketika melihat objek sudah bersama orang lain. Jongin merasa terkhianati, sebagai sebangsa jomblo malah jadi dia sendiri. Tapi wajahnya yang tertekuk itu berganti ketika melihat seseorang dengan wajah kuyu nan manis memegang pemantik api.

Eh, nggak salah tuh, muka unyu tapi mainannya pemantik api?

Sekiranya begitulah yang ada dipikiran Jongin. Ia mendekati orang itu. "Hei, jangan mainan api, nanti kebakaran gimana."

Wajah unyu, mata bulat, dan bibir hati itu menoleh pada Jongin yang disemen di tempat. "Tapi aku anggota OSIS yang kebagian tugas menyulut api untuk kembang api. Sebenarnya menggantikan Luhan, sih." Suara kuyu itu menjawab dengan polos.

Jongin terpana. "E-Eh, gimana kalau aku menemanimu? S-Soalnya kalau terjadi apa-apa seperti tanganmu tiba-tiba kena api aku yang paling pertama menolong."

Ia tersenyum manis. "Terima kasih. Dan rasanya aku pernah melihatmu—"

Jongin mengulurkan tangan, "Jongin. Kim Jongin. Dan siapa namamu?"

"Do Kyungsoo, ketua bendahara OSIS. Salam kenal." Tangan itu diterima Kyungsoo dan dijabat dengan erat. Jongin yakin, ia akan segera melepas title jomblonya tak lama lagi.

Dan nan jauh di sana, dibalik pintu besi atap sekolah terlihat dua orang berbeda tinggi badan tengah mengintip. Yang satu tinggi dan kalem, sedangkan yang satu lagi pendek dan heboh sendiri.

"Oh, oh, oh, lihat! Mereka romantis sekali. Astaga sudah dari awal aku berspekulasi kalau mereka itu cocok!" Luhan berbisik dengan agak keras.

Di sebelahnya, Sehun, mengedikkan bahu. "Kau berisik tahu. Kalau ketahuan bagaimana? Mau dihukum sama Baekhyun? Ini kan privasinya."

"Masa bodoh—eh, tapi kenapa kau ada di sini? Dan kau itu siapa?"

Sehun berdiri tegak setelah sedikit membungkuk untuk ikut mengintip lewat celah pintu. "Oh Sehun. Aku di sini karena tadi melihatmu berjalan mengendap-endap dengan mencurigakan. Aku mengikutimu, kupikir kau siswa yang dengan begitu berani naik ke lantai sini dan melanggar aturan sementara seharusnya ada di lapangan."

Luhan mendelik, "Tapi aku itu anggota OSIS! Ketua sekbid empat—bidang olah raga, jahat sekali tidak mengenaliku."

"Mana mungkin kenal kalau belum kenalan." Jawab Sehun dengan modus terselubung.

"Kau benar," Luhan mengulurkan tangan, "aku Xi Luhan, sekali lagi tolong diingat, aku ketua sekbid empat."

Sehun menyambutnya dengan jabatan begitu erat, "Aku sudah menyebut namaku tadi. Tapi aku tidak keberatan untuk mengulangnya, namaku Oh Sehun."

Hell, yeah. Memangnya cuma Chanyeol yang bisa dapat mangsa. –hati Sehun penuh kemodusan.

Hmp, ada juga yang mendapatkan keuntungan selain Baekhyun dan Chanyeol.


.

.

.

Terima kasih sudah membaca :)

review please?