NCT drabble! aren't you guys excited? /wht
Karena masa depan NCT dan smrookies masih remang – remang(?), susunan otp saya juga masih remang – remang. Gonta – ganti tergantung mood saya dan tergantung moment fanservice mereka *slapped* Jadi bisa Yuten, Johnsol, Taeten, Taetae(?), JohnTae, Markhyuck *ini apa*, Winkun, Dojae, Jaeten, flexible lah pokoknya. All x all, saya tipe yang bebas(?)
.
Berdasarkan pertimbangan saya melihat review – review emejing kalian, dengan ini saya memutuskan untuk membuat fanfiksi dengan pasangan...someone x Yuta! Mengapa? Karena saya sedang tergoda feromon(?) yang dikeluarkan Yuta jauh sebelum NCT Life in Seoul ada.
Dan mengapa someone x Yuta? Karena saya berusaha untuk tidak memberitahu bagaimana ending cerita ini, hohoho. AH! Dan fiksi ini akan lebih panjang dari chapter sebelumnya, seneng ngga? Harus seneng ya, hahaha
Next pair review aja *winks* Ingat, ini drabble, jadi diusahakan jangan menuntut penulis untuk memanjangkan cerita, karena semua sudah jelas, drabble itu lebih singkat dan tidak sekompleks cerpen.
.
.
Innocence (Yuta version)
.
Hidup sebagai trainee di SM memang butuh kesabaran ekstra, terlebih untuk mereka yang berasal dari luar Korea, seperti Yuta, Ten, Winwin dan Kun. Ah– sepertinya hanya Yuta, Winwin dan Kun, karena teman seperjuangannya itu sudah lebih dulu debut sebagai NCT U. Johnny tidak termasuk, karena setidaknya ia masih memiliki garis keturunan Korea dan berkewarganegaraan Korea Selatan.
Yuta merasa asing di sana, hampir setiap hari, ketika trainee yang lain sibuk berbincang dengan 'sesamanya', membicarakan hal yang tidak seluruhnya Yuta mengerti. Seperti Winwin yang ternyata lebih talkactive saat bersama Kun, dan Johnny yang memiliki bright personality sehingga dengan mudah bergaul dengan trainee Korea yang lain. Meski Yuta mampu berbahasa Korea, namun lahir dan besar di Jepang lah yang membuatnya merasa berada di luar jangkauan yang lain.
Tiba – tiba perasaan Yuta menjadi kelabu, Ia rindu kampung halamannya, rindu teman – teman masa kecil dan remajanya, rindu orang tuanya.
Saat break makan siang, Yuta lebih memilih untuk menyendiri di ruang latihan vocal, tempatnya yang tidak seluas ruang dance membuatnya merasa lebih nyaman. Ia menyambungkan handphone-nya dengan WiFi. Belasan pesan baru masuk ke SNS pribadinya, yang keseluruhan berasal dari teman – temannya di Jepang.
Dari sapaan singkat seperti 'hey, apa kabarmu Yuta?' hingga sebuah foto teman – temannya yang sedang menikmati musim panas di pantai dan dengan tulisan penyemangat untuk Yuta –yang sangat merindukan mereka– 'semangat Nakamoto! Kembalilah ke sini ketika kamu sudah menjadi orang yang lebih baik! Kita merindukanmu'
Terasa ada yang meremas dadanya, air mata Yuta tidak terbendung lagi. Ia telah memutuskan untuk pergi ke Korea Selatan untuk meraih mimpinya. Dan sekarang, mimpi itu di depan mata, Ia tidak mau membuat keluarga dan teman – temannya bersedih.
Yuta memutuskan untuk berlatih lebih giat dari siapapun.
.
Pintu ruang vocal tersebut terbuka secara tiba – tiba, sosok Ji Hansol yang tinggi muncul di hadapan Yuta,
"di sini kamu rupanya, cepatlah kembali. Pelatih sudah mencarimu sejak tadi" Yuta hanya membalasnya dengan anggukan, berharap Hansol tidak menyadari air mata yang belum sempat Ia hapus di pipinya.
"kau menangis?"
Yuta membeku di tempat, tidak berani menatapnya karena belum siap menerima apa yang Hansol akan katakan. 'dasar cengeng' atau kalimat – kalimat lain yang mampu membuat semangatnya pudar, ia belum siap.
Hansol menghela nafas panjang,
"kalau begitu jangan sampai pelatih tahu, pergi lah ke toilet dan cuci muka, kamu terlihat sangat berantakan" ia mengakhiri kalimat dengan tepukan pelan di kepala Yuta dan tersenyum, sebelum melangkah keluar ruangan dan kembali menutup pintunya.
Yuta yang masih terkejut atas perlakuan Hansol hanya mengedipkan matanya, Ia tidak menyangka Hansol mampu membuat jantungnya berdetak tidak karuan.
.
.
Malam hari, saat para trainee sudah kembali ke dorm, Yuta yang sedang menonton televisi di ruang santai dikejutkan oleh Taeyong, sosok yang saat ini paling dekat dengannya karena mereka trainee pada waktu yang hampir bersamaan.
"nonton apa sih? Serius gitu" Taeyong memposisikan duduknya di sebelah Yuta
"tidak tahu..." Yuta yang sejak tadi melamun tidak benar – benar sedang menonton rupanya
Taeyong merasa jengkel, ia memperhatikan tangan Yuta yang menggenggam handphone dengan erat, kemudian merampasnya
"Semuanyaa! Yuta sedang jatuh cintaaa!"
.
.
Hari ini Yuta diberitahu bahwa sang pelatih sedang menunggunya di atap gedung. Dengan tanda tanya besar di kepala, ia berusaha secepat mungkin sampai ke tempat yang dimaksud.
Sesampainya di sana, ia tidak menemukan siapapun. Mendengar suara langkah kaki mendekat, Yuta membalikkan badannya "selamat sore pe–"
.
.
Hansol kembali tidak dapat menemukan sosok Yuta di tempat latihan, Ia bertanya pada Johnny– yang sedang memakan cemilannya– namun hanya mendapat gelengan kepala sebagai jawaban.
"Kau ingin aku membantumu mencarinya?"
"Tentu saja! Sebelum pelatih kembali dari ruang meeting" Hansol menarik lengan Johnny tiba – tiba, namun Johnny tetap tidak bergeming
"Tidak bisakah kita di sini saja? Kalau kau ingin aku membantumu, beri aku satu ciuman, hyung"
Hansol melepas tautannya di tangan Johnny dan menatapnya serius.
"Kupikir kita sudah tidak ada hubungan apa pun lagi, Seo Youngho" kemudian ia meninggalkan Johnny sendiri di ruangan tersebut
"argh! Fine, I'll help you, Ji Hansol!"
.
.
Bibir Yuta bergetar hebat, ia merasa tidak berdaya di hadapan tiga trainee laki - laki yang saat ini sedang menghujatnya dengan kalimat – kalimat kasar yang menyakiti hatinya. Ia menggigil kedinginan, rambut dan pakaiannya dalam keadaan basah kuyub saat ini. Disiram tiba – tiba dengan air es benar – benar membuat Yuta pucat. Ia menatap nanar handphone-nya yang dibanting tidak jauh dari posisinya.
'H-hansol hyung, maafkan aku' Yuta yakin saat ini pasti Hansol sedang kebingungan mencarinya
Kedua trainee di hadapannya, yang baru Yuta ketahui adalah penggemar Lee Taeyong, dan seorang pemimpin mereka –otak dari serangan ini– rupanya dulu adalah calon member Smrookies, yang tergantikan oleh kehadiran Yuta dan membuatnya kembali menjadi trainee biasa.
"Nakamoto Yuta, bukankah sebaiknya kamu kembali ke Jepang?"
"Atau karena di sana kehadiranmu tidak diakui, makanya mengadu nasib di negara orang?"
"Ya! Bicaralah!" Salah seorang dari mereka menampar pipi kiri Yuta
"Apa yang kamu lakukan? Sudah kubilang jangan ada kekerasan fisik!" pemimpin mereka berteriak pada salah seorang yang telah menampar Yuta
.
.
"Apa yang kamu lakukan?"
Hansol yang sedang berlari diikuti Johnny di belakangnya berhenti sejenak, jari telunjuk ia arahkan ke bibirnya, mengisyaratkan Johnny untuk diam
"Sudah kubilang jangan ada kekerasan fisik!"
Hansol yakin suara tersebut berasal dari atap gedung yang berada tidak jauh dari posisi mereka saat ini. Tanpa pikir panjang ia membuka pintu menuju atap dan tidak percaya akan apa yang ada di depan matanya.
"Nakamoto Yuta!"
.
.
Beberapa hari ini Yuta tidak ingin keluar dari kamarnya, membuat seluruh member NCT dan para trainee khawatir. Lagi – lagi kasus bullying terjadi, dan kali ini korbannya adalah teman mereka sendiri. Rasa bersalah menghantui mereka yang tidak mampu menjadi teman baik, merasa bahwa selama ini tidak terlalu dekat dengan Yuta, dan itu semua salah mereka.
Seorang psikiater yang baru saja keluar dari kamar Yuta segera dihujani berbagai pertanyaan seputar Yuta oleh Hansol, Taeyong dan Taeil. Sedangkan member lainnya hanya duduk di sofa dengan rasa bersalah membebani pundak mereka
Pasalnya, selama tiga hari ini pula Yuta tidak dapat berbicara.
.
.
"Yuta-ssi, apa kamu mau menceritakan apa yang terjadi?" psikiater wanita paruh baya yang hampir setiap hari memberikan pertanyaan yang sama padanya saat ini sedang tersenyum lembut di sebelah ranjangnya.
Sebuah gelengan pelan dari Yuta tidak membuat wanita tersebut putus asa
"Apakah Yuta-ssi... Tidak ingin berbicara?"
Kembali, sebuah gelengan sebagai jawaban
'tidak- bukan begitu... aku sangat ingin berbicara!' Yuta meremas selimut yang menutupi separuh tubuhnya.
"Kalau begitu... apakah Yuta-ssi tidak bisa berbicara?"
Sebuah anggukan cepat Yuta berikan untuk wanita itu.
Sempat tertegun beberapa detik, kemudian secara perlahan, wanita tadi memberi Yuta sebuah handphone baru –yang teman – temannya belikan–
Mengetahui maksud wanita di sebelahnya itu, Yuta pun menerima handphone tersebut dan mengetikkan sesuatu di sana.
.
"Jika aku berbicara, perutku akan terasa sangat sakit"
.
.
-tbc-
.
Yaaa... kali ini drabble(?) yang ber part, hahaha *slapped* ada yang tau saya terinspirasi dari movie apa setelah membaca baris terakhir? Kkkk
Karena kalau dilanjut jadinya bukan drabble, maka dari itu saya jadikan twoshoot ya! Jangan bersedih hati karena updatenya ngga molor kok (mungkin)/?
Kali ini dengan cast Yuta, semoga kalian suka! Dan terima kasih buat reviewnya, kritik, saran dan semangatnya! (yang beberapa hanya berisi request pair, aku rapopo kok)
Untuk author tercinta, Aurelia Witch dan PikaaChuu (yang juga author favorite saya, lol, kita memfavorite-kan satu sama lain rupanya) saya tunggu fanfiksi DoJae nya lagi ya!
.
.
Thanks for reading guys! Jangan lupa review-nya
