Title : Happy Life

Story by Yerseoul

Genre : Family, Hurt, Comfort, Drama

Lenght : Oneshoot

Cast :

-Sehun

-Luhan (GS)

-Baekhyun (GS)

-other

Cerita ini asli dari pikiran saya, copycat nagajuseyo!

Hari ini adalah Minggu, hari yang telah ditunggu-tunggu oleh pasangan HunHan karena hari ini mereka akan mengunjungi pantu asuhan milik teman Chanyeol. Luhan tentu saja sangat gugup, ia takut jika sudah berada disana ternyata anak-anak disana tidak ada yang mampu merayu hatinya. Berbeda dengan sang Istri, Sehun malah sangat bersemangat untuk datang kesana, ia memikirkan untuk mengadopsi seorang anak laki-laki mungkin sekitar 4 tahun (jika ada) namun ia juga mengikuti pilihan Luhan karena nantinya Luhan yang akan merawat anak angkat mereka nanti.

"ya Tuhan Sehun aku sangat gugup sekali" Luhan menarik nafasnya dan menghembuskannya perlahan, ia merasa seperti kembali dimasa ia akan mengikat janji suci dengan Sehun.

"tidak ada yang perlu dicemaskan sayang, aku yakin kau akan suka" Sehun menyemangati Luhan.

"aku harap begitu…" Luhan melihat ke jendela yang menampakkan pepohonan hijau. Ia harus me-rilekskan dirinya.

Tiga puluh menit kemudian mereka telah sampai di sebuah rumah yang berukuran sedang dan ada palang kecil bertuliskan 'Panti Asuhan Jingnam'. yap. Mereka telah sampai di panti asuhan. Luhan membuka pintu mobilnya juga Sehun, Sehun menuju ke belakang mobil dan membuka pintu belakang untuk mengambil dua plastk besar berisi bingkisan untuk anak-anak di panti nanti.

"Halo Nyonya dan Tuan Oh, saya Kangnam dan selamat datang di panti asuhan kami" seorang laki-laki mungkin berumur sekitar dua puluh lima lebih menyambut Sehun dan Luhan.

"Halo Kangnam, senang bertemu denganmu" sapa Luhan, mereka berjabat tangan. Sehun menaruh dua plastik besar dan berjabat tangan juga dengan Kangnam.

"kami sangat senang untuk berkunjung disini Kangnam dan aku membawa bingkisan untuk anak-anak disini" Kangnam mengambil dua plastik besar tadi.

"terima kasih Tuan dan Nyonya Oh, kalian bisa masuk ke dalam. Ibu Jang sudah menunggu"

"kau bukan pemilik disini?" tanya Luhan

"saya adalah asisten disini" Luhan mengangguk.

"mari ikuti saya" Sehun dan Luhan mengikuti Kangnam masuk ke dalam rumah panti itu.

"tempat ini sangat bersih" Luhan berkata kepada Sehun.

"terima kasih atas pujiannya Nyonya Oh, kami memang setiap hari melaksanakan kerja bakti di dalam ruangan rumah dan disekitar pekarangan rumah" Luhan terkejut dengan ucapan Kangnam, padahal ia berbicara sangat pelan tapi entah mengapa Kangnam mendengar perkataannya.

"o-oh ya.." Jawab Luhan canggung.

"selamat datang Tuan Sehun dan Nyonya Luhan" Seorang wanita paruh baya menyapa Sehun dan Luhan di ruang tamu.

"apakah anda ibu Jang"

"benar sekali, saya adalah Ibu Jang pengurus panti asuhan ini" Sehun dan Luhan mengangguk.

"pasti kalian mencari anak-anak kan? Mohon maaf karena jam segini mereka masih tidur siang.

"oh benarkah? Sangat disayangkan sekali, padahal kami ingin melihat anak-anak disini"

"mungkin kalian bisa menunggu setengah jam lagi agar mereka semua terbangun, Kangnam bisa tolong ambilkan minuman untuk tamu kita?" Kangnam mengangguk lalu pergi untuk menyiapkan minuman untuk Luhan dan Sehun.

"silahkan duduk Tuan Sehun dan Nyonya Luhan" mereka duduk.

"jadi kalian ingin mengadopsi anak yang seperti apa?"

"um… saya sebenarnya ingin mencari anak laki-laki yang berusia sekitar dua sampai lima tahun, apakah ada Ibu Jang?" tanya Sehun.

"umm… anak laki-laki umur segitu saya hanya mempunyai tiga anak karena biasanya banyak yang mengadopsi anak diumur segitu"

"apakah anda mempunyai anak bayi?"

"untuk saat ini kami tidak mempunyai anak bayi"

"ah sayang sekali…" Luhan menjawab kecewa.

"tidak apa-apa Luhan-ah, kita bisa mencari anak yang balita saja" Luhan hanya mengangguk.

"permisi, ini minumannya" Kangnam menaruh tiga cangkir di meja.

"terima kasih Kangnam-ssi"

"sudah menjadi kewajiban saya Tuan dan Nyonya Oh" Kangnam berdiri lalu membungkuk dan pergi.

Sekitar sepuluh menit Sehun, Luhan dan Ibu Jang mengobrol. Sehun dan Luhan baru tahu jika panti asuhan yang diurus Ibu Jang sudah menjadi pekerjaan turun-menurun, Luhan juga takjub dengan kemurahan hati Ibu Jang yang mampu merawat sekitar dua puluh anak dengan satu asisten saja. Saat mereka sedang mengobrol tiba-tiba mereka mendengar suara dari lantai atas.

"Ibu! Jinwoo menangis dan menendang lagi!"

"oh astaga Jinwoo-ah, maaf Tuan Sehun dan Nyonya Oh, saya haru pergi ke atas untuk melihat salah satu anak saya"

"bisakah saya ikut?" tanya Luhan.

"tentu saja boleh Nyonya Luhan, mari ikut saya" Ibu Jang berjalan duluan.

"aku ke atas okay?" Sehun mengangguk, Luhan mengikuti di belakang Ibu Jang ke lantai dua menuju ke kamar.

Luhan masuk ke dalam kamar dan arah pandangnya langsung menuju ke anak laki-laki yang bergerak tidak karuan dan menangis tetapi matanya masih tertutup.

"t-tidak! Jangan! Jangan pukul! Jinwoo tidak nakal!" Luhan mendengar suara dari anak itu.

"Jinwoo-ya, bangun sayang" Ibu Jang duduk disamping Jinwoo mencoba membangunkan anak laki-laki itu.

"tidak jangan pukul! Jinwoo takut! Jinwoo maaf!" Luhan mulai merasa sedih, apa yang anak kecil itu lalui sampai memiliki mimpi seburuk itu?

"oh Tuhan, Jinwoo-ya, bangun sayang, tidak ada yang memukulmu Ibu disini" Ibu Jang mulai memeluk Jinwoo tetapi Jinwoo langsung bergerak lebih keras tanda menolak pelukan Ibu Jang.

"Jinwoo tidak! jangan! Jinwoo takut! Jangan kurung!" Luhan mulai mencoba mendekati ke ranjang.

Ia duduk di sebelah Ibu Jang.

"Jinwoo-ya…"

"jangan menangis.."

"ibu disini"

Entah apa yang dipikirkan Luhan, ia mulai mengucapkan kata-kata tadi sambil mengelus kepala Jinwoo dengan lembut. Dengan ajaib, Jinwoo mulai berhenti bergerak namun masuk menyisakan isakan.

"Jinwoo takut…tidak pukul…" suara itu mulai memelan.

"tidak ada yang memukul Jinwoo..I-ibu disini" Luhan mulai merasa ada ikatan yang ada di dia dan anak yang ia elus kepalanya. Sepertinya ia sudah tahu anak yang akan ia adopsi.

Ibu Jang yang melihat interaksi Luhan dan Jinwoo hanya bisa tersenyum. Ia melihat dari cara Luhan mengelus kepala Jinwoo, ia yakin Luhan adalah perempuan yang tulus.

'apakah Nyonya Luhan akan memilih Jinwoo? Aku harap Jinwoo tidak salah mempunyai orang tua angkat lagi' harap Ibu Jang dalam hati.

"Luhan? Kau menangis…?"Sehun berdiri dan langsung memeluk Luhan setelah melihat istrinya yang turun dari atas dengan mata sembab.

"kenapa kau menangis?"

"a-aku baru saja merasakan sesuatu yang menyedihkan"

"h-huh?" Sehun bingung.

"tidak ada." Luhan melepas pelukan Sehun.

"apa maksudmu Lu?" tanya Sehun dengan wajah bingung

"tidak ada. Tapi aku sudah menentukan siapa yang akan aku adopsi"

"secepat itu? Kita tidak menunggu semua anak-anak bangun dulu?"

"tidak"

"baiklah…." Sehun pasrah mengikuti kemauan Luhan.

"Ibu Jang saya ingin mengadopsi anak yang tadi" Luhan mantap berkata kepada Ibu Jang.

"apakah anda serius Nyonya Luhan? Anda tidak ingin menunggu anak-anak lain bangun, saya tidak bermaksud menyinggu tapi… um Jinwoo sedikit memiliki trauma dan saya takut anda tidak sanggup merawatnya"

"tidak ada keraguan di kamusku Ibu Jang"

"Jinwoo?" Tanya Sehun ke Luhan tapi Luhan tidak menjawabnya.

Ibu Jang mendesah pasrah, ia hanya mengikuti kemauan dari dua pasangan ini saja.

"baiklah Tuan Sehun dan Nyonya Luhan bisa ikut ke ruangan saya untuk registrasi" Luhan menarik tangan Sehun untuk mengikuti Ibu Jang ke ruangannya.

"nama anak yang Luhan inginkan Jinwoo? Trauma? Oh semoga saja Luhan tidak menyesal" harap Sehun dalam hati.

=Happy Life=

"terima kasih telah berkunjung ke panti asuhan kami Tuan Sehun dan Nyonya Luhan, kami akan mengantar Jinwoo dua hari lagi." Sehun dan Luhan membungkuk sebagai tanda ucapan terima kasih, mereka masuk ke dalam mobil. Luhan membuka jendelanya dan melambai ke Ibu Jang dan Kangnam.

Selama di perjalanan, Luhan terus saja tersenyum dan disadari oleh suaminya. "kenapa kau tersenyum terus? Kau kemasukan hantu di panti" Luhan melunturkan senyumnya dan menatap tajam Sehun.

"ya aku kerasukan hantu disana dan aku akan membunuhmu sekarang" dengan sigap Luhan mencubit pinggang Sehun yang membuat Sehun kaget dan memutar stir mobilnya, untung saja jalanan sepi jadi Sehun dan Luhan terhindar dari kecelakaan.

"astaga Luhan! kau hampir saja membuat kita celaka"

"salahmu sendiri" Luhan melipat lengannya di dada.

"ya aku tahu, maafkan aku okay?"

"tidak akan kumaafkan jika kau tidak membelikanku bubble tea taro dan cheesecake stroberi" Sehun mendesah, sifat istrinya membuat Sehun gemas minta ampun.

"baiklah…. aku akan membelikannya saat kita di kota"

"yes! Aku mencintaimu suamiku" oh well kejadian setelah Luhan berkata seperti itu tidak terduga, kalian mau tahu apa yang Luhan lakukan? Ia mencium cepat pipi Sehun dan membuat Sehun merona. Lebih baik kita meninggalkan pasangan ini untuk waktu berkualitas mereka hehehe.

[dipercepat ke hari Selasa]

Sehun terpaksa tidak masuk kerja hari ini karena perintah Luhan. Hari ini calon anaknya datang, dan Luhan sudah menyiapkan kamar khusus untuk anak yang bernama Jinwoo. Luhan mendesain kamar Jinwoo dengan tema luar angkasa dan pastinya Sehun yang membayar semua biaya untuk membuat kamar itu. Luhan juga membelikan satu lemari penuh pakaian Jinwoo (setelah bertanya kepada Ibu Jang ukuran baju Jinwoo) dan sepatu-sepatu anak yang sedang ngetren.

"Sehun-ah aku sangat gugup, apakah anak itu akan menyukaiku?"

"eh? Bukannya kau sudah melihatnya dipanti?"

"aku melihatnya saat ia sedang tidur jadi kami tidak memiliki interaksi sama sekali"

"APA?! astaga Lu, seharusnya kau melakukan pendekatan dengan anak itu apalagi um…saat Ibu jang bilang…anak itu…trauma…" Sehun tidak habis pikir apa yang sudah Luhan lakukan itu benar-benar sangat gegabah, ia maklum karena istrinya benar-benar ingin mempunyai anak tapi bukannya istrinya itu harus melakukan pendekatan?.

"tidak boleh berbicara seperti itu kepada anakmu sendiri Oh Sehun! Akan kuhajar kau nanti" Luhan mengepalkan tangannya di depan Sehun.

"ya maafkan aku" Sehun singkat meminta maaf.

Luhan mau membalas perkataan Sehun tapi tiba-tiba suara bel rumah berbunyi.

"OH?! ANAK KITA SUDAH DATANG SEHUN!" Luhan berjalan cepat menuju pintu depan rumahnya. Ia dengan senang membuka pintu rumahnya dan di depannya hadir Kangnam dengan calon anaknya yang sedang tertidur digendongan Kangnam.

"halo Nyonya Oh" sapa Kangnam.

"halo juga Kangnam, silahkan masuk, kau pasti lelah perjalanan dari sini"

"itu tidak masalah bagiku nyonya Oh, apakah kamar Jinwoo sudah siap? Ia kelelahan sampai tidur dan tidak bangun sampai sekarang"

"ya kami sudah menyiapkannya, ikuti aku" Kangnam masuk ke dalam rumah Luhan sambil membawa Jinwoo yang tertidur pulas. Kangnam takjub dengan isi rumah Luhan yang bisa dibilang mewah, well ia sudah takjub saat ia memasuki pagar pekarangan rumah Luhan.

Kangnam masuk ke dalam kamar yang bernuansa angkasa, Kangnam langsung yakin jika Jinwoo akan betah disini.

"baringkan dia disini" Kangnam membaringkan Jinwoo di kasur empuk dengan seprai berwarna biru tua dengan motif bintang dan bulan. Luhan menyelimuti Jinwoo.

"mari kita tinggalkan Jinwoo, aku sudah menyiapkan makan siang untukmu" Kangnam mengangguk dan mengikuti Luhan keluar dari kamar baru Jinwoo menuju ruang makan yang salah satu tempat duduknya sudah ditempati Sehun.

"Halo Tuan Oh, senang bertemu dengan anda lagi" Sehun berdiri menjabat tangan Kangnam.

"senang bertemu denganmu lagi Kangnam-ssi, silahkan duduk, Luhan sudah menyiapkan makanan untukmu"

"terima kasih Tuan Oh" Kangnam duduk di depan Sehun.

Luhan keluar dari dapur membawa makanan di kedua tangannya.

"silahkan nikmati tuan-tuan" Sehun dan Kangnam mengambil piring dan mengambil makanan yang ada di depan mereka sementara Luhan hanya meminum air putih.

"umm Kangnam-ssi, maaf mengganggu makanmu tapi pertanyaan ini sudah berada di dalam kepalaku dan ingin dikeluarkan"

"tidak apa-apa Nyonya Oh, silahkan bertanya" Kangnam mengelap mulutnya dengan serbet.

"Ibu Jang pernah bercerita jika Jinwoo mengalami trauma yang berat, apakah kau tahu trauma apa yang di derita Jinwoo?"

Kangnam meneguk airnya sebentar lalu meletakkan gelasnya,

"Jinwoo diberikan kepada panti asuhan ketika umurnya baru lima hari, ia masih menjadi bayi mungil merah karena lahirnya yang prematur dan ketika berumur tiga bulan dengan beruntungnya ia mendapat seorang pasangan baik yang mau mengadopsinya tetapi selang setahun, Jinwoo harus kembali ke panti asuhan karena pasangan itu cerai dan mereka berdua tidak mau merawat Jinwoo. Setelah berumur dua tahun ia diadopsi kembali tetapi kami harus menariknya kembali ke panti asuhan."

"kenapa?" tanya Luhan bingung.

"kami mendapat laporan kalau orang tua kedua yang mengadopsi Jinwoo melakukan kekerasan terhadap Jinwoo" Sehun dan Luhan terkejut mendengar ucapan Kangnam tentang anak angkat mereka.

"ke-kerasa seperti a-apa?"

"Jinwoo yang berumur dua tahun saat itu disuruh mengurus rumah mereka dan diperlakukan layaknya pembantu oleh mereka, Jinwoo selalu disiksa oleh mereka dan saat di bawa ke panti asuhan ia membawa trauma dan juga luka memar di sekujur tubuhnya" seketika Luhan mati rasa, Ia mengepalkan tangan kanannya di bawah meja, ia sangar marah terhadap orang tua angkat Jinwoo yang sebelumnya, bagaimana tidak marah kalau orang tua itu memperlakukan Jinwoo layaknya budak bukan memperlakukannya anak.

"astaga" Sehun sontak kaget mendengar penderitaan anak angkatnya. Ingin rasanya ia memutar balikkan waktu dan mengadopsi Jinwoo saat masih bayi agar ia tidak mengalami hal yang tidak seharusnya anak seumurannya alami.

"sudah beberapa bulan trauma Jinwoo belum bisa disembuhkan, ia masih tidak bisa bermain dengan anak-anak di panti asuhan dan tidak ada psikiater yang bisa menyembuhkannya, ia merasa dihantui denga traumanya"

"oh Jinwoo ku"

"jadi Tuan dan Nyonya Oh saya harap anda menyayangi Jinwoo seperti anak kalian sendiri dan saya harap trauma Jinwoo sembuh"

"tentu saja Kangnam-ssi, aku sudah lama menantikan seorang anak dan aku sudah mendapatkan anak yang sangat spesial dan aku tidak akan melepaskannya" janji Luhan kepada Kangnam. Kangnam tersenyum mendengar perkataan Luhan

'aku sangat yakin Jinwoo akan mendapatkan kasih sayang berlebih disini' yakin Kangnam dalam hati.

=Happy Life=

"terima kasih atas jamuannya Tuan dan Nyonya Oh, jika kalian mempunyai masalah dengan mengurus Jinwoo mohon hubungi panti asuhan karena kami selalu aktif" Kangnam berjabat tangan dengan Sehun dan Luhan.

"terima kasih Kangnam sudah mau mengantar Jinwoo dan aku akan menghubungimu kalau kita ada kesulitan" ucap Sehun diikuti anggukan Luhan.

"sampai jumpa tuan dan nyonyah Oh" Sehun dan Luhan melambai ke Kangnam yang masuk ke dalam mobil dan menjalankan mobilnya.

Setelah kepergian Kangnam, Sehun dan Luhan kembali masuk ke dalam rumah mereka.

"Sehun, aku ke ruangan Jinwoo ya" belum sempat Sehun menjawab Luhan langsung pergi menuju kamar anaknya.

"ck, belum satu hari Jinwoo disini tapi aku sudah dibuat cemburu olehnya" Sehun pura-pura kesal dan ia memilih menonton televisi di ruang keluarga sambil menunggu Luhan membawa Jinwoo.

Luhan membuka pelan kamar Jinwoo dan mendesah lega karena Jinwoo masih tertidur. Ia perlahan berjalan sampai disamping tempat tidur Jinwoo, ia mengambil kursi kecil dan duduk disebelah Jinwoo yang terlelap.

"semoga kau bahagia dengan kami ya Jinwoo sayang" Luhan perlahan mengelus dahi Jinwoo, ia mencium dahi Jinwoo lama lalu tersenyum. Luhan lega karena salah satu permintaannya sudah dituruti walaupun Jinwoo bukan dari rahimnya tapi ia berjanji akan merawat Jinwoo seperti anak yang terlahir dari rahimya.

Luhan tiba-tiba menguap menandakan ia lelah, ia melipat tangannya dan menumpukan kepalanya disamping Jinwoo. Ia menutup matanya dan mulai tenggelam di alam bawah sadar.

"t-tidak! Sakit! Jinwoo tidak suka pukul! Huweeee!" Luhan langsung bangun dari tidurnya saat mendengar Jinwoo mulai berteriak.

"hei Jinwoo sayang" Luhan menepuk pelan pipi Jinwoo yang berkeringat.

"sa-sakit…Jinwoo tidak nakal lagi" Luhan langsung menarik Jinwoo dalam pelukannya, ia mulai menitikkan air matanya. Kenapa anak sekecil Jinwoo harus menerima beban yang berat.

"Jinwoo takut…Ibu…" Jinwoo masih menjerit ketakutan di pelukan Luhan.

"h-hey Jinwoo sayang jangan takut, Ibu ada disini" Luhan dengan sabar mengelus punggung Jinwoo.

Tanpa Luhan sadari, dengan perlahan Jinwoo membuka matanya dan melihat seorang perempuan memeluknya yang ia yakini bukan Ibu Jang. Tubuhnya mulai bergerar ketakutan dan dengan cepat mendorong perempuan di depannya.

Pelukan Luhan tiba-tiba terlepas karena orang yang ia peluk mendorongnya, ia menatap anak yang terisak itu.

"S-siapa kau!"

TBC

Author note :

Niat pertama aku kan mau bikin twoshoot nih ternyata chapter kedua ini banyak banget (menurut aku) dan tiba-tiba aku stuck dan terpaksa aku lanjutin. Maaf banget updatenya lama karena beberapa minggu ini jadwal kegiatan aku di sekolah padat banget dan gaada kesempatan buat buka laptop dan nulis. Jangan lupa review ya guys dan terima kasih untuk semua yang sudah review di chapter sebelumnya *love*~ see you in next chapter