Title : Happy Life
Story by Yerseoul
Genre : Family, Hurt, Comfort, Drama
Lenght : Oneshoot
Cast :
-Sehun
-Luhan (GS)
-Jinwoo
-other
Cerita ini asli dari pikiran saya, copycat nagajuseyo!
"s-siapa kau!?" Luhan menatap Jinwoo kaget, ia kira Jinwoo masih di alam bawah sadarnya.
"Jinwoo-ya, aku adalah ibumu" jawab Luhan lembut
"tidak! Ibu Jinwoo hanya Ibu Jang, Jinwoo tidak ingin Ibu, Jinwoo ingin pulang" Jinwoo langsung menangis keras, Luhan yang belum berpengalaman dengan anak kecil langsung bingung bagaimana caranya menenangkan Jinwoo.
Pintu kamar Jinwoo terbuka dan muncullah Sehun, "ada apa?" Luhan menatap Sehun cemas.
"Jinwoo-ya, jangan menangis" Sehun dengan perlahan berjalan menuju ranjang Jinwoo dan duduk di samping Luhan.
"t-tidak! Pergi! Jinwoo ingin pulang!" sambil terisak, Jinwoo memberontak, ia mengambil bantal disampingnya dan melemparkannya ke Luhan dan Sehun.
Sehun melindungi Luhan dari lemparan bantal itu.
"apakah kita harus mengembalikannya ke panti asuhan Lu? Aku takut ia berbuat yang lebih dari ini" bisik Sehun ke Luhan, Luhan langsung mendelik tajam. "ini hanya lemparan bantal Hun, percaya padaku ia akan betah, hanya bersabar"
Luhan mulai mendekati Jinwoo lagi.
"Jinwoo-ya…. jangan menangis… ibu ada disini" Jinwoo masih tetap menangis.
'aku harus melakukan ini' Luhan menyemangati dirinya di dalam hati.
Luhan dengan sigap memeluk Jinwoo erat, Jinwoo menggeliat dipelukannya bahkan ia menggigit lengan Luhan tapi tidak Luhan perdulikan karena ia tahu anak yang ia peluk masih dalam masa traumanya.
"Jinwoo-ya…. jangan menangis, kau ingin apa? Bilang kepada ibu"
Luhan mengelus punggung Jinwoo dengan lembut, ia tidak memperdulikan rasa sakit di lengannya karena digigit Jinwoo.
"Jinwoo-ya, jangan menggigit ibumu okay? Apakah kau ingin es krim? Ayah punya banyak dibawah" Sehun coba menenangkan Jinwoo yang masih menggigit lengan Luhan.
"kau ingin eskrim kan Jinwoo?" bisik Luhan ke Jinwoo.
Dengan perlahan Jinwoo melepas gigitannya dan mendongak menatap Luhan, "j-jinwoo mau eskrim"
Luhan tersenyum. "bilang kepada Ayah kalau Jinwoo ingin eskrim" Jinwoo menunduk lalu menggeleng.
"tidak apa-apa, Ayah akan senang jika kau meminta langsung kepadanya, ia akan memberikanmu banyak eskrim" Luhan mengelus kepala Jinwoo.
Jinwoo mendongak lagi dan melihat ke belakang bahu Luhan, menatap Sehun.
"a-ayah… Jinwoo ingin eskrim" Sehun yang mendengar suara Jinwoo meminta eskrim kepadanya pun kaget lalu tersenyum.
"benarkah? ayok kita kebawah mengambil eskrim" Sehun bangki dari ranjang Jinwoo berjalan ke samping Luhan yang memeluk Jinwoo, ia membuat gaya tangannya seperti ingin menggendong, tanpa penolakkan Jinwoo berpindah dari pelukan Luhan ke gendongan Sehun. Jinwoo memeluk leher Sehun dan meletakkan kepalanya dipundak lebar Sehun. Luhan mengikuti Sehun dari belakang menuju dapur.
=Happy Life=
"apakah eskrimnya enak jinwoo-ya?" tanya Luhan memandang Jinwoo memakan eskrimnya.
Jinwoo mengangguk.
"a-apakah Jinwoo boleh memakan eskrim lagi?" tanya Jinwoo setelah menghabiskan dua cup eskrim.
Sehun menggeleng, "tidak boleh, kau hanya boleh memakan dua cup saja okay?"
Jinwoo menunduk "ma-maafkan Jinwoo"
"Jinwoo boleh memakan eskrim itu tiga hari lagi, jika Jinwoo terlalu banyak memakan eskrim, Jinwoo akan sakit perut dan gigi Jinwoo akan sakit. Apakah Jinwoo ingin sakit dan tidak bisa memakan eskrim lagi?" jelas Luhan agar Jinwoo tidak sedih.
"Jinwoo tidak ingin sakit, Jinwoo ingin memakan eskrim"
"pintar sekali, jadi Jinwoo berjanji akan memakan eskrim tiga hari lagi?"
"iya Jinwoo berjanji"
"pintarnya anak ibuu" Luhan mengelus kepala Jinwoo dengan lembut.
Jinwoo merasakan hal aneh di dalam tubuhnya saat dielus oleh Luhan, ia baru pertama kali dielus oleh orang lain selain Ibu Jang dan Kangnam. Entah kenapa Jinwoo berharap ia mendapat kasih sayang seperti ini terus.
"Jinwoo-ya, besok kau ingin kemana? Ayah dan Ibu akan mengantarmu" tanya Sehun.
"be-benarkah?"
"iya sayang"
"bolehkah Jinwoo pergi ke taman bermain?" seumur hidup Jinwoo, ia hanya merasakan bermain bersama anak-anak panti saja. Sudah dua kali diadopsi tapi ia tidak merasakan namanya Taman Bermain.
"tentu saja boleh sayang" Jinwoo mulai tersenyum.
Luhan ingin menangis bahagia melihat senyum Jinwoo.
"te-terima kasih ibu dan ayah"
"apa saja untukmu sayang" Luhan membalas.
Sebenarnya Luhan merasa aneh dengan bahasa Jinwoo yang sedikit dewasa karena diumurnya yang baru menginjak tiga tahun setengah tapi bicaranya sudah seperti orang dewasa. Pikiran itu segera Luhan tepiskan saat melihat Jinwoo yang menguap.
"apakah kau ingin tidur lagi?" Jinwoo mengangguk.
Sehun bangkit dari kursinya dan menggendong Jinwoo. Jinwoo meletakkan kepalanya di pundak Sehun lalu memejamkan matanya.
Luhan berjalan disamping Sehun menuju kamar Jinwoo.
"aku pikir Jinwoo akan susah dibujuk tapi ternyata ia seperti anak kecil pada umumnya" Sehun berbicara sambil meletakkan Jinwoo di ranjangnya dan menyelimutinya.
"kau benar tapi aku merasa bahasa ia sedikit dewasa dari umur sebenarnya"
"yeah, aku menyadarinya tapi setidaknya ia masih memiliki sifat anak-anak walau ia banyak melewati cobaan yang berat" Luhan mengangguk.
"aku ingin tidur disini malam ini" ucap Luhan.
"huh? Apa ?" tanya Sehun, ia ingin memastikan apa yang ia dengar tadi.
"aku ingin tidur disini Oh Sehun"
"apa?! tidak-tidak, aku mohon nanti saja kau tidur disini, aku tidak bisa tidur tanpamu Lu" Luhan mendelik ke Sehun.
"jangan seperti anak kecil Tuan Oh, aku ingin mendekatkan diri kepada Jinwoo"
Sehun mendesah pasrah, ia harus tidur memeluk guling malam ini.
'ck dasar anak beruntung' Sehun melihat iri Jinwoo yang tertidur pulas.
[skip time]
Luhan, Sehun, dan Jinwoo pergi ke taman bermain hari ini. Luhan mencari tempat untuk berteduh sementara Sehun dan Jinwoo pergi bermain.
"A-ayah… Jinwoo boleh bermain itu?" Jinwoo menujuk salah satu permainan perosotan.
"tentu boleh" Jinwoo tersenyum semangat lalu berlari dan menaiki tangga perosotan. Ia meluncur dari perosotan dan ditangkap oleh Sehun. Luhan tersenyum melihat suami dan anaknya bermain dengan sangat bahagia.
Setelah bermain di taman bermain, Sehun mengendarai mobilnya kerumah orang tuanya, mereka tidak sabar mengenalkan Jinwoo kepada orang tuanya. Dua puluh menit berada diperjalanan akhirnya keluarga kecil itu sampai di pekarangan rumah orang tua Sehun. Sehun dan Luhan keluar dari mobil, Sehun membuka pintu penumpang dan menggendong Jinwoo.
Luhan membunyikan bel tanpa menunggu lama seorang wanita paruh baya membuka pintu, itu adalah Ibu Sehun.
"Ibu" Luhan memeluk Ibu Sehun.
"aku kira kalian sudah lupa jalan kerumahku" Luhan tertawa canggung.
"kami berdua sibuk Bu" jelas Sehun.
"ya ya aku tahu" Ibu Sehun melihat anaknya menggendong anak kecil
"dia Jinwoo?" Luhan tersenyum lalu mengangguk.
"oh, biarkan aku menggendongnya" Ibu Sehun semangat melihat Jinwoo.
Sehun ingin memberikan Jinwoo kepada Ibu Sehun namun tidak bisa karena Jinwoo menahannya dengan memegang erat baju Sehun.
"itu nenek Jinwoo" Sehun berbisik kepada Jinwoo namun Jinwoo menguburkan kepalanya dileher Sehun.
"tidak apa-apa Sehun, ia masih asing denganku, cepat masuk ke dalam aku yakin Ayahmu sangat senang bertemu dengan cucunya."
Sehun, Luhan, Jinwoo, dan Ibu Sehun masuk ke dalam rumah.
"wah liat siapa yang datang" Ayah Sehun muncul dari pintu halaman belakang.
"maafkan kami Ayah baru bisa mengunjungimu sekarang, kami berdua sangat sibuk"
"tidak apa-apa Lu, oh, apakah itu Jinwoo?"
"iya Ayah"
"apakah ia malu?"
Luhan mengangguk.
"biar aku atasi" Ayah Sehun mendatangi Sehun yang menggendong Jinwoo.
"hey Jinwoo, apakah kau tidak ingin bertemu kakek?" Jinwoo masih tidak bergeming.
"kau ingin melihat taman bunga?" tidak direspon.
Ibu Sehun ingat sesuatu. Ia yakin cara ini berhasil.
"Jinwoo-ya, nenek ingin membuat es krim dan kue manis, kau ingin membantu nenek?" Jinwoo dengan perlahan mengangkat kepalanya. Melihat kearah Ibu Sehun dan bilang "Jinwoo mau"
Ibu Sehun senang bukan main, ia akhirnya melihat wajah cucunya.
"sini nenek gendong" Ibu Sehun menggendong Jinwoo lalu pergi ke dapur.
"aku selalu bisa tahu kalau ibumu akan selalu menang" Ayah Sehun pergi dengan wajah masam. Sementara Sehun dan Luhan tertawa.
Itulah kebahagiaan kecil dari keluar Oh, Sehun dan Luhan selalu yakin jika Tuhan selalu berada bersama mereka dan membantu mereka menyelesaikan masalah.
Sadly END :)
maaf banget aku ngaret publish chapternya karena aku keluar kota terus gak ada ide sama sekali wkwkwk. aku tahu para HHS lagi bersedih karena berita kemarin. sama kok aku juga sedih :') tapi kita harus menerimanya dengan lapang dada guys, gak mungkin kan Luhan selamanya jomblo. semangat ya guys jangan pada pantang menyerah daripada sedih terus mending vote EXO di MWAVE dan AAA
