VVIP Thanks 2 : minyoonie/duabumbusayur/anonym103/Park RinHyun-Uchiha/sebutsaja.rana/jaehyun's bum/daunlontar/VashaDita127/100BrightStars/albbi/exoL/Taeyuu/jun.hoejun/qweens/aliciab.i/hopekies/Mocinlee99/kiyo/MarkeuhyuckLee/ROXX h

N makasih buat yg udah fav foll juga, lafyuuh..

Happy Reading~

.

.

Jaehyun terbangun dari tidurnya. Hal pertama yang ia lihat adalah dada bidang seorang lelaki yang tengah merengkuh tubuh kecilnya. Jaehyun mendesis kesakitan merasakan bagian bawahnya yang terasa perih luar biasa dan becek tentunya. Tunggu. Ia juga merasakan terdapat beberapa tetes cairan yang keluar dari lubang analnya.

Jaehyun mengangkat sedikit kepalanya dan seketika ia menutup mulutnya terkejut. Cairan darah menetes sedikit demi sedikit dari lubangnya dengan konstan. Bahkan kejantanan Johnny masih belum juga terlepas dari tubuhnya. Jaehyun tak habis pikir bahwa sepanjang malam ia tertidur dengan kejantanan Johnny yang terus menancap pada lubangnya.

Sprei ranjang Johnny tampak lebih kotor dari semalam akibat darah keperawanan Jaehyun yang tak henti hentinya menetes keluar. Jaehyun mulai terisak merutuki tubuhnya yang kini sangatlah kotor. Lebih kotor dari para remaja street gang yang selama ini ia takutkan.

Jaehyun menatap wajah lelaki yang tengah tertidur dengan pulas di sampingnya. Dengan perlahan Jaehyun menarik pantatnya agar terlepas dari kejantanan Johnny di dalamnya.

"Ah.." Jaehyun merintih lemah saat merasakan lubangnya yang sedikit bergesekan dengan milik Johnny di dalamnya. Saat batang itu berhasil terlepas, sang pemilik menggeliat tak nyaman membuat Jaehyun sedikit dilanda oleh ketakutannya. Bagaimana respon Johhny saat ia terbangun nanti. Namun dugaannya salah, Johnny tetap saja mengeluarkan dengkuran halusnya. Ia tetap tertidur, tidak terganggu sedikit pun dengan pergerakan lelaki di sampingnya.

Jaehyun berusaha untuk duduk dan turun dari ranjang. Ia berdiri dan melangkah dengan tertatih untuk membersihkan diri. Namun apa yang terjadi, kedua kaki Jaehyun bergetar, tidak kuat untuk menopang berat badannya.

Brukk

"A-ah..appo" Jaehyun menutup kedua matanya erat erat merasakan sakit yang begitu mendalam saat pantatnya berbenturan langsung dengan lantai. Sebelumnya Jaehyun sama sekali belum pernah melakukan seks.

Seks pertamanya jatuh pada Johnny yang memperlakukannya dengan kasar tanpa foreplay dan akan wajar jika berhasil mencetak sebuah luka lebar dalam lubang Jaehyun tanpa sepengetahuan mereka berdua.

Kini lantai kamar Johnny juga ternodai oleh cairan merah yang berasal dari tubuh Jaehyun.

"J-John.." Pada akhirnya Jaehyun kelelahan dengan memaksakan tubuhnya untuk berdiri, mau tidak mau ia harus membangunkan Johnny.

"Hiks, awwh.." Jaehyun terus merintih dalam isakannya. Membuat sang pemilik kamar merasa terganggu dan mengerjapkan matanya. Ia terbangun. Jaehyun yang tengah terduduk di lantai membelakangi Johnny, tanpa sepengetahuannya, Johnny menatapnya dengan pandangan shocked.

"WHAT THE FUCK IS THIS?!!" Jaehyun tersentak dengan teriakan Johnny yang mengagetkannya. Seketika Jaehyun menoleh kebelakang dan mendapati Johnny yang menatapnya dengan tatapan horror.

Langsung saja tangisan Jaehyun pecah dan menghancurkan keheningan rumah bak istana itu.

"Hiks..hiks.."

Johnny panik dibuatnya, ia sama sekali tidak mengerti apa yang sudah terjadi. Yang diingatnya semalam bahwa ia menenggak habis dua botol Jack.D hingga ia ingin kencing ditempat, serta dirinya yang merengek untuk pergi menuju stripper's dressing room. Sebatas itulah ingatannya.

Johnny menatap spreinya yang kotor dipenuhi dengan darah dan cairan sperma yang mengering, seketika ia melompat dari kasur dan menyadari apa yang telah ia perbuat melihat kondisinya yang naked sama seperti Jaehyun. Johnny berjongkok di samping lelaki yang tak henti hentinya menangis.

"H-hyung, ssh..jangan menangis hyung. M-maafkan aku"

Jaehyun menepis tangan Johnny yang menyentuh bahunya, ia menggelengkan kepalanya frustasi. Matanya terlihat sembab dan bengkak karena semalam ia terus mengeluarkan air mata.

Johnny menjambak rambutnya frustasi melihat kondisi lelaki di sampingnya. Lebih frustasi lagi, saat Johnny mengetahui dirinya telah melakukan seks dengan seorang pria. Oke. Johnny memang hidup bersama Taeyong dan Mark yang memang mereka adalah sepasang kekasih sesama lelaki.

Tetapi tidak berpengaruh besar terhadap Johnny yang memang absolutely straight. Awal masa pertemanan mereka, Johnny masih merasa jijik dengan pemandangan Taeyong yang mencium pipi dan bibir Mark di tengah umum. Namun pada akhirnya Johnny terbiasa dengan hal itu, bahkan kini ia bersekongkol dengan Taeyong untuk memberikan tips mengenai seks dalam posisi seorang top. Namun tetap saja, Johnny adalah lelaki straight yang sebagian dirinya berada dalam lingkungan gay.

Kini Johnny benar benar merasa jijik, bukan merasa jijik kepada Jaehyun. Melainkan kepada dirinya sendiri. Ia telah mengotori nama baik seorang asisten pribadi yang setelah ini akan diangkat sebagai direksi perusahaan oleh ayahnya sendiri.

Ayahnya yang menjabat sebagai komisaris perusahaan diundang untuk mengadakan sebuah event di Los Santos, California. Membuat sang asisten ini tertarik untuk menggantikan posisinya sebagai ayah untuk Johnny, dan apa yang telah Jaehyun dapatkan dari Johnny sangatlah tidak layak.

Selama ini Johnny hanya menganggap Jaehyun sebagai kakaknya ataupun ayahnya, tidak lebih. Walau usia Jaehyun masih terlalu muda untuk menjadi seorang ayah, perlakuan manisnya membuat Johnny seperti anak kandungnya sendiri. Namun tidak dengan Jaehyun, semenjak kejadian semalam ia merasakan hal yang tidak biasa pada dirinya. Entahlah, Jaehyun juga tidak mengetahuinya.

Johnny menggelengkan kepalanya, menghapus semua fakta dalam pikirannya yang memberontak. Ia telah jatuh pada situasi yang tidak diinginkan, Johnny harus memakai akal sehat dalam menyikapinya.

Johnny merangkul punggung Jaehyun menggunakan lengan kirinya dan menekuk kedua lutut Jaehyun menggunakan lengan kanannya, mengangkat tubuh lelaki yang lebih tua dalam gendongannya.

"T-turunkan aku! Hiks, J-John" Johnny tak mengindahkan tangisan Jaehyun yang memprotes. Ia membawa tubuh itu menuju kamar mandi, dan mendudukkan Jaehyun dalam bath up.

"Bersihkan dirimu terlebih dahulu hyung, aku tau kau sangat kesusahan dalam berjalan. Panggil aku jika sudah selesai. Aku akan menunggu diluar sampai kau selesai mandi. Setelahnya, giliran aku yang membersihkan diri dan aku akan mengantarmu menuju dokter untuk memeriksa kondisimu"

"T-tidak! Kau tidak perlu menungguku. Bersihkan dirimu di kamar mandi yang lain, aku bisa berjalan sendiri. Dan, aku tidak ingin menuju dokter, itu memalukan John"

"Sayangnya aku menolak akan hal itu, jika dilihat lihat darahmu mengalir cukup banyak hyung. Aku mengkhawatirkan kondisimu, sudahlah hyung. Aku tau kau 6 tahun lebih tua dariku. Tapi, kumohon kali ini saja tolong turutilah permintaanku"

~o0o~

Jaehyun menggigit bibir bawahnya gugup saat melihat aktifitas sang dokter mengambil beberapa alat yang menurutnya sangat asing di matanya. Johnny duduk disamping ranjang tempat Jaehyun berbaring seraya menggenggam dan mengelus punggung tangan halus itu menenangkan.

"J-Johnny! A-aku takut.."

"Ssh..apa yang harus ditakutkan hyung? Hanya sekedar periksa.Take it easy okay? Everything will be alright" Johnny berbohong. Justru ia berkali kali lipat lebih takut. Bagaimana jika asisten pribadi ayahnya ini mengalami luka serius dan harus dirawat hingga ayahnya pulang dari California? Bisa jadi hari kiamat terburuk nantinya.

"Johnny-ssi, kau bisa melepas celana milik Jaehyun-ssi sekarang, aku akan memulai pemeriksaan" Ujar dokter tersebut seraya menyunggingkan senyum terbaiknya.

Johnny membuka mulutnya sepersekian detik lalu ia menuruti perintah dokter. Saat tangan Johnny mulai bergerak langsung saja dicekal kuat oleh Jaehyun. Wajahnya basah akan keringat dingin. Jaehyun benar benar takut. Pertama kalinya ia mengalami hal seperti ini.

"H-hyung?"

"Jaehyun-ssi, kau tidak perlu takut. Tidak akan sakit terlalu lama, tenang saja" Ujar dokter itu menenangkan seraya mengambil beberapa lembar tissue dan memberikannya pada Jaehyun yang sudah basah oleh peluh keringat di wajahnya.

Setelah pakaian bawah Jaehyun semua terlepas, dokter itu sedikit membuka kedua kaki Jaehyun dan menekuknya layaknya posisi seorang wanita yang akan melahirkan calon bayinya. Lelaki berpakaian putih itu mengecek hanya sekedar melalui visual. Jaehyun memejamkan kedua matanya dengan tangan kirinya yang menggenggam erat tangan Johnny yang menemani disampingnya.

Dokter itu mengangguk lalu mengambil sebuah pembalut yang biasanya dikenakan oleh kaum wanita dan meletakkannya di dekat lubang Jaehyun membuat Johnny mengerutkan dahinya kebingungan.

"Untuk apa itu dok?" Johnny mencoba untuk bertanya.

"Pemasukan speculum dalam lubang anal akan beresiko pendarahan. Berbeda dengan vagina yang akan berdarah hanya pada tahap pemasangan intrauterine. Selebihnya akan aman"

Terlihat dokter itu sedang mengenakan sarung tangan latex pada tangan kanannya lalu mendekatkan jarinya pada lubang anal milik Jaehyun. Namun tangannya dicekal kuat oleh tangan kanan Jaehyun yang bebas.

"Dok, apa yang akan kau lakukan?"

"Aku akan memasukkan dua jariku kedalam liang rektum terlebih dahulu. Memastikan dimana letak luka berada agar saat pemasukan speculum nanti tidak terjadi sudut pembukaan yang salah"

"Ssh tenang saja hyung" Johnny menuntun tangan kanan Jaehyun untuk melepaskan cengkramannya pada tangan sang dokter.

"Engh.." Jaehyun mulai merintih saat dokter itu memasukkan dua jarinya secara bergiliran.

Dokter itu mulai menggerakkan dua jarinya mencari titik yang bermasalah. Kedua kaki Jaehyun sedikit berjinjit saat salah satu jari panjang sang dokter menyentuh titik prostatnya. Beberapa menit kemudian sang dokter mengangguk lalu mengeluarkan dua jarinya secara perlahan.

"Terdapat buntal yang membesar pada bibir prostat, lalu kurasakan sesuatu yang mengganjal sepanjang dinding rektum" Dokter itu menggeleng iba melihat kondisi Jaehyun seraya mengambil sebuah speculum.

"Jaehyun-ssi, kau siap?"

Jaehyun menarik nafasnya dalam dalam kemudian ia mengangguk. Dokter itu mulai memasukkan alatnya perlahan.

"S-sakit hh" Jaehyun mendesis menahan sakit saat alat dingin itu dengan perlahan memasuki liang rektumnya.

"Awwh.."

"Tahan sebentar" Dokter itu dengan perlahan membuka speculum yang sudah berada dalam hole Jaehyun.

"Engh.." Jaehyun merintih lemah. Terasa perih dan ngilu luar biasa saat speculum itu perlahan terbuka dan melebarkan lubangnya. Johnny merasakan tangan kirinya mati rasa karena cengkraman Jaehyun yang kelewat kuat. Sementara tangan kanan Jaehyun yang sebelumnya terbebas, kini berpegangan erat pada kepala ranjang.

"Awwh..hiks" Lolos sudah air mata Jaehyun yang selama ini ia tahan sekuat tenaga.

"Ssh..tahan sebentar ne? Ssh.." Ujar dokter itu lembut layaknya seorang ibu yang menenangkan bayinya.

Johnny menghapus air mata yang sedikit mengalir dari pelupuk mata Jaehyun serta mengusap keringat yang membasahi dahinya.

Darah mulai mengalir keluar jatuh dan meresap pada pembalut yang berada di dekat lubang anal Jaehyun.

Johnny merasa tidak tega melihat wajah kesakitan lelaki di sampingnya, ia mengelus surai gelap yang basah oleh keringat itu menenangkan.

Saat lubang itu benar benar terbuka lebar dan menampakkan isinya, dokter itu sedikit terkejut.

"Terdapat dua luka robekan yang cukup lebar pada leher rektum serta buntal yang membengkak pada bibir prostat. Lalu..mengapa harus ada luka lecet? Apa aku tidak salah lihat?" Dokter itu menyipitkan matanya terus menatap isi lubang anal Jaehyun dengan tatapan yang sulit diartikan. Beberapa detik kemudian ia menatap Johnny dengan intense. Tatapan yang sangat aneh di mata Johnny.

"Kau kekasihnya?"

Deg

Walau dokter itu sedang bertanya pada Johnny, tapi pertanyaan itu serasa menghentikan detak jantung Jaehyun secara perlahan. Sepersekian detik dua insan itu terdiam. Sang dokter menatap bingung pada Johnny dan Jaehyun.

"Tidak" Jawaban Johnny memang benar. Ia bukan kekasih Jaehyun.

Kini Jaehyun benar benar tidak mengerti dengan jalan pikiran Johnny, ia hanya menunggu apa yang akan Johnny katakan pada dokter, ia tidak ingin ikut campur.

"Jika kau bertanya padaku apa aku adalah kekasihnya? Jawabannya adalah tidak. Tapi jika kau bertanya padaku, apa aku yang menyebabkan semua ini terjadi? Maka jawabannya adalah iya" Mendengar ucapan Johnny, dokter itu kembali menatap hole Jaehyun yang terbuka lebar lalu sedikit mengulum senyumnya.

Ia menutup speculum yang masih menancap pada lubang Jaehyun lalu menariknya keluar dengan perlahan. Meluruskan kedua kaki Jaehyun dan merapatkannya. Tak lupa dokter itu menutupi tubuh bagian bawah Jaehyun dengan selimut tebal.

"Jaehyun-ssi, kau bisa beristirahat sebentar. Tekan tombol panggilan dokter pada pinggir ranjang saat kau membutuhkan sesuatu. Johnny-ssi, ikutlah denganku"

Tap tap tap

Johnny hendak beranjak dari kursi samping ranjang dimana Jaehyun berbaring, namun cengkraman Jaehyun pada tangan kirinya semakin kuat.

"J-John"

"Ssh tenang saja hyung, dokter itu mungkin akan memberikan beberapa tips mengenai kesehatanmu. Sebentar hyung, aku janji tidak akan lama okay? Ssh tenang saja" Johnny menyibak poni berkeringat yang sempat menutupi dahi Jaehyun, mengelus surai itu menenangkan.

~o0o~

"Jarang sekali ada seorang dokter yang membawa pengunjung rumah sakit ke tempat seperti ini" Johnny membuka pembicaraan seraya menatap taman belakang rumah sakit. Dokter itu tersenyum miring dan mengusak gemas surai cokelat lelaki yang jauh lebih muda darinya, membuat Johnny terlonjak kaget seketika.

"Belum sampai seminggu ayahmu berada di Los Santos, California. Kau sudah berulah saja John. Kau memang berandal kecil yang penuh dengan kejutan" Terlihat dokter itu menyunggingkan senyum jahilnya.

"S-siapa kau? K-kau mengenalku?"

"Yeah, ayahmu adalah sahabat lamaku. Dulu saat perusahaanya belum sukses seperti sekarang, aku sering membantunya dengan menanamkan saham sebagai modal usaha tersebut. Beliau menikah di usia muda dan mendapat karunia yang bernama Johnny Seo. Saat itu usaha ayahmu sedang mengalami penurunan kurva pendapatan. Sementara istrinya terkenal dengan wanita yang mendamba akan materi dunia, Sehun bercerita padaku bahwa istrinya selalu memukulnya kala ia pulang tidak membawa uang yang cukup. Ia tidak diperlakukan layaknya seorang suami melainkan seperti budak pekerja keras yang tidak dibayar. Hingga mereka berdua dipertemukan dalam sebuah bar yang mana istrinya itu bekerja diam diam menjadi wanita penghibur banyak lelaki. Semenjak itu mereka saling membenci dan bercerai dengan sang istri yang tidak mau bertanggung jawab atas kehadiranmu. Maka dari itu Sehun membesarkanmu dan ia berjanji bahwa dirinya akan membuat hidupmu merasa bahagia dan tercukupi semua kebutuhanmu. Mungkin itu alasan ia selalu gila akan pekerjaan"

Blinked

"Oke. Kembali pada pembahasan. Jangan ulangi lagi kesalahanmu, saat aku memeriksa keadaan lelaki yang bernama Jung Jaehyun itu, ia mengalami luka yang cukup dalam. Dan aku sempat bertanya tanya, perihal apa yang menyebabkan luka seperti itu? Jika dilihat lihat, pembengkakan pada bibir prostat untuk usianya yang masih muda itu tak lain lagi ia telah mendapatkan pemerkosaan yang cukup kasar. Ditambah lagi dengan bekas lecet dimana mana. Ternyata biang nya adalah dirimu, nakal sekali" Dokter itu menyentil gemas telinga kiri Johnny dengan cukup keras. Johnny tetap diam tak berkutik.

"Kau terkejut? Aku memang berlagak seolah tak mengenalmu karena aku harus memeriksa kondisi Tuan Jung terlebih dahulu. Err..ini. Terimalah. Tuan Jung wajib meminumnya sebanyak tiga kali dalam seminggu, dan..jangan biarkan ia terlalu sering beraktifitas. Ia butuh istirahat yang cukup"

"Berapa yang harus kubayar?"

"Ambil saja. Oh, jika ayahmu sudah berpulang dari Los Santos, titipkan salamku padanya" Dokter itu menyunggingkan senyumnya lalu melangkah pergi meninggalkan Johnny.

"Kau tidak akan mengadukan hal ini kepada daddy bukan? Aku berani bersumpah bahwa aku sedang mabuk saat itu. Terimakasih atas pertolonganmu pada Jaehyun hyung" Johnny kemudian membungkukkan badannya sopan kepada dokter itu dan pergi meninggalkannya. Dokter itu menoleh kebelakang dan mendapati punggung Johnny yang kian menjauh.

~o0o~

Johnny memapah tubuh Jaehyun menuju sofa ruang tengah dan mendudukkannya disana.

"Dokter memberikanku pil yang harus kau minum seminggu sebanyak tiga kali, agar lukamu secara perlahan dapat tertutup dengan sempurna. Err..apa masih terasa sakit hyung?"

Tanpa melihat siapa yang berbicara, Jaehyun mengangguk lemah. Johnny menuntun tangannya menarik tubuh lelaki yang lebih tua itu agar bersandar pada dadanya. Merengkuh tubuh yang lebih kecil darinya dalam kedua biceps nya. Johnny mengelus punggung Jaehyun dan berbagai kata maaf ia lontarkan. Tanpa Johnny ketahui, semburat merah muncul pada kedua pipi lelaki manis yang tengah menenggelamnkan wajahnya pada dada bidang Johnny.

Semenjak kejadian malam itu, entah mengapa Jaehyun merasakan sengatan yang begitu aneh dalam dirinya. Dimana Jaehyun dapat melihat secara langsung abs yang terbentuk sempurna hasil workout lelaki di atasnya, dua lengan kekar yang mengungkung tubuh kecilnya, dada bidang yang menggagahinya, serta aura mendominasi yang lapar akan darah keranuman tubuh perawannya.

Ditambah lagi Johnny yang setia menemaninya pergi ke rumah sakit hingga larut malam seperti ini, membuat Jaehyun merasakan hal yang berbeda. Benar sekali. Jaehyun terlebih dahulu jatuh hati pada anak pimpinan tertinggi usahanya sendiri tanpa berpikir terlalu panjang. Entah mengapa perasaan itu muncul begitu saja.

Jaehyun tidak ingin berpikir jauh mengenai Johnny yang straight atau tidak. Yang ia pikirkan adalah bolehkah ia menaruh hati pada salah satu remaja street gang ini? Bolehkah ia jatuh hati pada seorang anak dari atasannya sendiri? Jaehyun benar benar malu akan kondisinya yang telah dibutakan oleh perasaannya.

~o0o~

"John, kau tidak tidur?"

"Ini aku akan tidur hyung" Johnny merangkak ke atas ranjang Jaehyun.

"D-disini?"

"Tentu saja, bagaimana jika kau ingin kencing tengah malam hyung? Siapa yang akan memapah atau menggendongmu jika aku tidur di kamarku" Ujar Johnny seraya menanggalkan kaos nya. Seketika Jaehyun membulatkan kedua matanya melihat abs dan biceps yang terbentuk sempurna pada tubuh lelaki di hadapannya. Beruntung sekali, kondisi kamar Jaehyun saat ini hanya diterangi dengan lampu tidur proyektor yang temaram sehingga rona merah pada kedua pipi Jaehyun dapat tersamarkan.

"A-apa yang kau lakukan?"

"Melepas bajuku hyung, kebiasaanku saat tertidur. Hanya mengenakan celana jersey saja akan membuatku nyenyak dalam tidurku"

Jaehyun menatap Johnny yang sudah berbaring di ranjang dalam keadaan dada bidangnya yang terekspos, Jaehyun menggigit bibir bawahnya gugup.

"Kemarilah hyung" Johnny menepuk nepuk bicep kirinya yang ia luruskan agar menjadi bantal lelaki yang sedang terduduk di tepi ranjang. Oke. Johnny melakukan ini, agar Jaehyun tidak membencinya akibat kejadian semalam itu.

Jaehyun merebahkan dirinya perlahan namun ia tidak menyandarkan kepalanya pada lengan Johnny melainkan pada bantal yang asli membuat jarak mereka sedikit berjauhan.

"Aigoo" Johnny menarik pinggang Jaehyun dan mengarahkan kepala lelaki itu agar bersandar pada bicep nya. Seketika Jaehyun membalikkan tubuhnya membelakangi Johnny dengan pipi yang bersemu.

"Hmmh..kau harum sekali hyung" Johnny menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher Jaehyun dari belakang. Tak lupa lengan kanannya merangkul pinggang ramping yang berbalut sweater roundhand, membuat warna merah pada pipi lelaki yang lebih tua itu semakin pekat. Jaehyun berusaha untuk memejamkan kedua matanya, menyamankan kepalanya pada lengan kekar lelaki yang lebih muda.

Tiba tiba sengatan ketakutan kembali melanda Jaehyun tatkala ia merasakan deruan nafas panas Johnny menyapu ceruk lehernya. Lelaki di belakangnya itu sedikit menggeram dengan suara rendahnya bagai harimau yang kelaparan.

'Shit! Hanya sekedar mencium aroma tubuhnya, juniorku tegang seperti ini? Oh dick! Hei, dia itu pria' Johnny merutuk dalam dirinya, sebelumnya ia tidak pernah merasa tegang sangat cepat dengan para wanita strippers yang sudah telanjang di depannya. Namun ini berbeda, hanya dengan mencium semerbak wangi dari tubuh lelaki yang ada dalam rengkuhannya ini, membuat libido nya merengek untuk dilayani.

"J-John, kau baik baik saja?" Ucapan Jaehyun sedikit bergetar. Johnny hanya mengangguk tetap pada posisi wajahnya yang bersinggungan langsung dengan ceruk leher putih itu.

'I'm okay..I'm okay..John Thomas please don't torture me like this' Batin Johnny saat merasakan ketegangan 'milik'nya yang begitu menyiksa.

Disamping menahan nafsunya, Johnny berpikir keras. Ia tidak boleh terlalu lama dalam posisi seperti ini. Jaehyun baru saja diperiksa dari rumah sakit dan kondisinya sangat mengenaskan. Johnny tidak ingin hal itu terulang kembali.

Dengan perlahan Johnny mengangkat kepala Jaehyun yang menjadikan bicep kirinya sebagai bantal. Ia juga melepaskan rengkuhannya pada pinggang ramping lelaki yang tidur membelakanginya.

"John?" Jaehyun sedikit menoleh kebelakang melihat aksi Johnny yang benar benar membuatnya kebingungan. Yang sebelumnya Johnny mendekapnya erat, dan sekarang ia melepas pelukannya dan terduduk di atas ranjang.

"Hyung, aku akan tidur di sofa samping ranjangmu. Jika kau ingin ke kamar mandi atau apa, bangunkan aku okay?"

"T-tapi John, mengapa kau tiba tiba ingin tidur di sofa?"

"Hanya saja, aku..err.." Johnny sedikit memiringkan kepalanya kikuk.

"Tiba tiba ingin saja hyung" Jawaban yang sungguh kekanak kanakan bagi Johnny, namun tidak bagi Jaehyun. Wajar saja, Jaehyun yang telah memiliki perasaan khusus pada Johnny, diperlakukan seperti itu pasti akan membuatnya sedikit kecewa.

Johnny beranjak menuju sofa dan merebahkan dirinya, walau kakinya harus ditekuk karena sofa itu tidak muat untuk ukuran tubuh jangkungnya.

~o0o~

Brakk

"Taeyong!!"

Byuuurr

Seketika Johnny reflek menutup kedua matanya saat merasakan wajahnya tersembur air soda dari mulut lelaki di hadapannya.

"Ohh..shit! Jack of Legs, you startled me dude! Bisakah bersikap biasa saja tanpa menggebrak mejaku?" Taeyong mengusap mulutnya sementara Johnny mengusap wajahnya yang basah. Kali ini Johnny tidak ingin menghabiskan tenaganya dengan marah marah hanya karena semburan air soda.

"What are looking at? You looked like a drunken duck"

Taeyong mendengus mendengar hinaan Johnny padanya, namun setelahnya ia mengeluarkan sebuah evil smirk.

"Lihat ini, ohh fuck! Bercinta dengan lelaki jauh lebih menyenangkan dibanding wanita strippers murahan itu" Taeyong menunjukkan layar ponselnya yang sedang memutar sebuah video dimana Mark memejamkan matanya seraya menggelinjang mendesah nikmat. Suara tusukan demi tusukan yang terdengar becek meramaikan suasana video panas tersebut. Johnny menelan ludahnya, sayangnya saat ia sedang bercinta dengan Jaehyun ia tak dapat melihat pemandangan indah itu karena kondisi nya yang sedang tidak sadar.

"Ok, Tae. Ceritakan bagaimana bisa kau menjadi seorang gay. Apakah kau dilahirkan dalam kondisi gay?

"Damn of course I'm not! Tetapi semua berubah saat aku mengambil posisi batter dalam bermain bola kasti. Tidak kusangka, batting ku ternyata sangat keren hingga bola jauh melambung dengan keras melewati pitcher di hadapanku. Aku pun berlari melewati para base. Ternyata pukulanku sangat jauh dan keras hingga mengenai kemaluan seorang lelaki yang menjadi baseman paling ujung. Ia mengerang begitu hebatnya yang entah mengapa itu membuatku semakin agresif dalam berlari. Hingga aku mendapatkan homerun pertamaku, berkat erangan lelaki itu. Usai permainan aku meminta maaf pada lelaki itu karena pukulanku yang tepat mengenai batang kemaluannya, ia merasa malu dan salah tingkah karena aku menyadari kejadian itu. Aku pun berkenalan dengannya. Mark Lee. Since that accident, I'm in love with a man for the first time. And hopefully will be my last too" Taeyong mulai terbawa suasana, ia menatap langit langit kelas tak lupa dengan senyuman anehnya.

"Menurutku..hati seorang lelaki jauh lebih lembut dibanding dengan wanita"

"Issh..karena kau sekarang sedang menjalani hubungan dengan lelaki Tae. Kau kira aku bodoh apa?"

"Geez..aku berani bersumpah suatu saat nanti kau akan mencintai seorang lelaki John" Taeyong kembali menenggak kaleng sodanya. Tak peduli dengan tatapan tajam lelaki di depannya.

"Err..semalam aku merasakan hal yang aneh. Kau tau kan, asisten pribadi ayahku yang sekarang tinggal bersamaku? Hanya dengan mencium aroma tubuhnya, John Thomas milikku benar benar terbangun dari tidurnya"

Byuuur

"Damn it! Sudah berapa kali kau menyemburkan air sodamu ke wajah tampanku huh?!" Kesabaran Johnny mulai hilang, ia mencengkram kerah seragam Taeyong dengan kuat.

"Okay okay dude, Jack of Legs. Damn I'm so sorry. Easy okay? Habisnya aku terkejut. Kau sama sepertiku, itu pertanda bahwa kau mulai tertarik dengan lelaki John"

"Bagaimana bisa?"

"Sepulang sekolah ikutlah denganku menuju kediaman Mark"

"Hell no! Aku pasti akan menjadi penonton gratisan melihat aksimu dengan Mark"

Taeyong memutar kedua bola matanya kesal.

"Akan kuberikan gambaran mengenai boyslove"

~o0o~

"Oohh..fuckkhh..damn is hh so tightt..ahh" Mark terus mendesah nikmat saat lubang sempit vacuum cleaner itu menjepitnya. Mark memaju mundurkan pinggulnya. Tanpa sadar, jari jari nakal Mark yang tengah menggerayangi tubuh vacuum cleaner tersebut tanpa sengaja menekan tombol On.

Zwiiiingggg

"Oh God!! No! Awwh..ahhh you sucked meehhh..so hh baadd..ahh" Mark mulai menitikkan air matanya di sela sela kabut kenikmatannya. Batang kejantanannya benar benar disedot kuat oleh vacuum cleaner itu. Rasa ngilu dan nikmat menjadi satu.

Ting tong..

Mark benar benar tidak bisa bergerak, ia mengabaikan bel rumahnya yang berbunyi.

"Markie..?" Terdengar suara lelaki yang amat dicintainya di luar sana.

"Hhh..hyuung hhh..hh helppp mm mee hh.." Mark benar benar tak bisa menarik kejantanannya dari lubang itu. Serasa tersangkut akibat mesin penyedot debu itu berada pada volume tinggi. Menyedot kejantanannya kelewat kuat tanpa ampun.

[Sementara di tempat lain]

"John, aku punya perasaan buruk pada Mark"

"Dobrak saja pintunya"

"Kau gila"

Grep

"JOHNNY!!"

Brakkk

Begitu pintu terbuka, seketika dua insan itu membulatkan matanya terkejut melihat pemandangan di depannya. "Blimey Mark!! Gosh.."

"Aahhh..I wannaa hhh cuumm..ahh" Mark pun memuntahkan laharnya pada perut vacuum cleaner tersebut.

"Kau itu kekasih jadi jadian atau apa?!! Cepat tolong Mark!! Penisnya tersangkut bodoh!!"

[Skip]

"Hiks..hyuung..jangan marah padaku hyuung..sekali kali aku juga ingin menjadi seorang top, hiks"

"Tapi tidak dengan memperkosa vacuum cleaner seperti itu Markie.."

"Hiks..hyung maafkan aku.."

"Kenapa dari dulu kau tidak bilang padaku huh?! Lihat saja isi alat itu sekarang, lengket akan cairan sperma milikmu. Sepertinya vacuum cleaner itu sudah rusak"

Johnny hanya memperhatikan dengan malas dua insan yang tengah berkicau itu tanpa memedulikan kehadirannya.

"Tapi hyung kan jauh lebih dominan dariku, hyung tidak pantas menjadi bottom"

"Sudah tau begitu kenapa kamu menerima cintaku Mark? Sementara kau secara diam diam tidak suka menjadi bottom. Apa posisiku sebagai seorang top kurang memuaskanmu?"

"Aiih bukan begitu hyung..hiks, jangan marah padaku hyung.."

"Arrghh..dan kau John! Kau membanting tubuhku untuk mendobrak pintu sialan itu. Kau tidak tau apa itu sakit huh?! Memangnya badanku ini pengungkit apa?!" Taeyong mulai mengomel layaknya bebek mabuk yang dikatakan oleh Johnny saat mereka di kelas.

"Oke. Maafkan aku, oh. Ternyata rasanya sakit ya? Bukankah kau itu pria baja Tae? Ehm..baiklah. Tuan dan Nyonya Lee yang terhormat, sebaiknya kalian berdua berhenti bertengkar. Nyonya Lee? Berhenti menangis okay?" Johnny hendak menghapus air mata Mark namun tangannya ditepis dengan keras oleh Taeyong.

"Jangan sentuh kekasihku" Sungut Taeyong penuh penekanan.

"Habisnya kau menjadi kekasihnya tidak peka sekali. Mark dalam bahaya penisnya yang tersangkut begitu, kau malah diam saja. Kini ia tengah menangis, kau cuek saja. Seharusnya kau memeluknya, menghapus air matanya, menciumnya, kalau bisa masuki saja pantatnya sekaligus" Johnny berada di ambang kesabarannya. Rona merah muncul pada pipi Mark saat mendengar kalimat terakhir dari Johnny.

"Oh. Uang kas gang kita lebih dari cukup untuk membeli vacuum cleaner yang baru. Jadi kau tenang saja Mark. Dan, Taeyong. Kuharap masalah kalian cepat selesai. Aku pamit dulu. Pertengkaran kalian barusan sudah menunjukkan gambaran kepadaku mengenai boyslove. Terimakasih atas pengarahannya Tae. Ta ta ta for now"

Taeyong cengo saja melihat punggung Johnny yang menjauh keluar dari kediaman Mark. Ia terlihat seperti unta yang sakit pinggang. Johnny lelah sekali rasanya. Tidak jauh dengan Taeyong yang kepalanya berdenyut tak karuan maratapi uke tercintanya yang luar biasa.

~o0o~

Johnny berjalan gontai menuju rumah. Ia melepas sepatu sekolahnya dan membuka pintu rumah.

Tap tap tap

Seketika mood Johnny membaik kala melihat sosok bak malaikat tengah beraktifitas di dapur dengan celemek yang melilit pinggang rampingnya. Johnny menyandarkan kepalanya pada tembok dapur, menatap sosok itu dengan seksama. Namun sosok itu sama sekali tak menyadari kehadirannya.

Johnny bersiul merdu layaknya remaja lelaki yang tengah menggoda seorang gadis cantik. Sosok itu pun tersentak dari aktifitas mencicipi curry buatannya dan menoleh ke sumber suara.

"O-oh, Johnny" Jaehyun sedikit salah tingkah karena Johnny yang hadir di belakangnya dengan tiba tiba.

Johnny mencoba untuk mengeluarkan senyum terbaiknya. Sepersekian detik mereka saling bertemu mata, Johnny menyadari sesuatu. Sesuatu yang sedikit berbeda.

Sebelumnya, senyuman Jaehyun padanya terkesan tegas dan berwibawa layaknya seorang lelaki dewasa. Namun semenjak kejadian malam itu, Jaehyun sedikit berubah. Entah perasaan Johnny sendiri atau apa. Jaehyun menjadi bersikap malu malu, pendiam, dan terkadang ia mengeluarkan senyuman yang terkesan menggemaskan.

Dan apa yang Johnny lihat saat ini bukanlah mimpi. Johnny menyadari kehadiran semburat merah pada kedua pipi lelaki manis di hadapannya. Johnny menjerit dalam hati. Apa Jaehyun menyukainya?

Johnny menggelengkan kepalanya, detak jantung Johnny seirama dengan lelaki dihadapannya. Sekilas Johnny merasa kesal, apa ini sebuah karma dari Taeyong yang menyumpahinya akan menyukai seorang lelaki?

"Hyung, curry nya sudah mendidih"

"A-ah iya" Warna merah pada pipi Jaehyun belum juga hilang, bahkan kini semakin pekat.

Tiba tiba, terbesit sebuah pikiran. Johnny tidak ingin ayahnya kembali dari California. Untuk selamanya.

TBC

Chap ini JohnJae blm clove bikin yg enak2 sampe kak Jae nya sembuh dulu, ntr klo udh sembuh biar dimakan ama dedek John sampe kenyang.

Oke ini curhatan ga penting, ga dibaca jg gpp. Jd buat dunia kedokterannya kyk pemasukan spekulum dll itu gua bikin ini ff sambil ngga lepas mata dari buku kesehatan punya nya mama/ketawan nyolong deh/

Sorry klo ff ini banyak slang nya, krn gua skrg lg demen ama slang nya gta5. So sorry bgt klo ada sebagian yg ga ngerti hehe

Review please~