VVIP Thanks 2 :

minyoonie/mtxgdvtzk/leejegun/ROXX h/jun.hoejun/phanb/hopekies/anonym103/Park RinHyun-Uchiha/qweens/100BrightStars/sebutsaja.rana/MarkeuhyuckLee/aliciab.i/kiyo/jaehyun's bum/VashaDita127/Mocinlee99/Chichoo-chan

N makasih buat yg udah fav foll juga, lafyuuh..

Happy Reading~

.

~o0o~

Taeyong berjalan seorang diri menuju basecamp. Larut malam begini pastinya basecamp mereka sangatlah sepi. Apalagi ini adalah malam hari efektif sekolah. Hanya saja Taeyong ingin mencoba bermalam disana, tidak peduli dengan keadaannya yang sepi. Jika bertemu salah satu komplotannya maka itu merupakan suatu keberuntungan baginya.

Cklek

Seketika Taeyong membulatkan kedua matanya terkejut.

"Markie?"

"H-hyung?" Mark terkejut dengan kedatangan Taeyong. Mark mengira bahwa malam di hari efektif seperti ini tidak ada satupun komplotannya yang mengunjungi basecamp. Namun dugaannya salah.

"Ok. Mark please. My freaky boy. Saatnya kita berbicara"

"Freaky boy? Kau menganggapku sebagai orang aneh hyung?" Taeyong mengambil nafasnya dalam dalam.

"Takdir tidak berkata lain. Kebetulan sekali aku ingin bermalam disini"

"Aku sudah memesan satu wanita strippers untuk kutiduri malam ini. Disini. Sebentar lagi ia akan datang, dan kehadiranmu sekarang benar benar mengganggu hyung"

"What the..?! Tunggu. Apa aku tidak salah dengar? Selama kau berada dalam street gang ini kau belum pernah bercinta dengan strippers"

"Aku ingin melampiaskan emosiku selama ini hyung! Aku sudah tidak tahan lagi dengan sikapmu yang selalu tidak mengerti tentangku"

"Markie, kumohon jangan bercinta dengan wanita itu" Taeyong berjalan mendekati kekasihnya. Mark mendongakkan kepalanya menatap Taeyong dengan penuh harapan.

Sedikit penjelasan. Selama ini, kebiasaan remaja street gang adalah bermain dengan wanita strippers. Namun tidak dengan Mark, ia resmi menjadikan tubuhnya hanya untuk Taeyong semata.

Mark mencintai Taeyong bukan hanya untuk kesenangan sex. Ia begitu tulus mencintainya. Namun pandangan Taeyong dan Mark berbeda. Taeyong dan para kawanannya hanya menganggap para strippers itu seperti mainan. Maka dari itu, Taeyong merasa tidak bersalah jika ia sering mengirimkan video pornonya kepada Mark saat ia bercinta dengan strippers. Tanpa Taeyong sadari, hati kecil Mark begitu sakit dan menjerit.

Mark memang mengerti cara pandang kawanan street gang nya pada wanita strippers. Bahwa di mata mereka strippers hanyalah mainan rongsokan yang tidak ada artinya. Bahkan Kai pernah bercinta dengan strippers di depan kekasihnya yang sedang merekam aksi panas mereka berdua. Tidak ada masalah sedikit pun dengan hubungan mereka. Mereka tetap saling mencintai.

Namun entah mengapa Mark begitu berbeda. Ia tidak bisa diperlakukan seperti itu. Ia berharap bahwa Taeyong mengerti titik kelemahannya. Namun semua nihil.

"Apa alasanmu melarangku hyung?" Mark berharap bahwa Taeyong merasa cemburu. Itu yang ada di benaknya.

"Karena sebelumnya kau belum pernah bercinta dengan wanita Mark. Aku belum memberimu pengetahuan yang cukup. Lebih baik kau bercinta dengan vacuum cleaner saja daripada dengan seorang wanita. Aku bisa membelikanmu banyak vacuum cleaner untuk kau setubuhi"

Plakk!

"Aku tidak butuh vacuum cleaner hyung!! Katakan saja jika kau merasa cemburu karena aku bercinta dengan orang lain!" Mark benar benar diambang kesabarannya, ia menampar dengan keras pipi kekasihnya.

"C-cemburu? Hei, untuk apa aku cemburu? Ia hanya strippers Markie. Aku melarangmu bercinta dengannya bukan karena aku merasa cemburu. Melainkan kau belum berpengalaman sama sekali untuk menyentuh tubuh seorang wanita. Mengapa sebelumnya kau tidak bilang sayang? Asal main pesan saja. Kan aku bisa mengajarimu terlebih dahulu"

"Cukup hyung cukup!! Let's just break-"

Ting tong..

"Hello..Markie?" Terdengar suara wanita di ambang pintu basecamp. Memotong akhir kalimat Mark yang begitu kejam.

'Let's just break up' Batin Mark seraya menahan tangisnya sekuat tenaga. Setidaknya ia dapat melanjutkan akhir kalimatnya walau sebatas dalam hati.

Ekspresi Taeyong tetap datar seperti biasanya, bahkan wanita itu menyebut nama Mark dengan panggilan kesayangan yang selama ini ia pakai untuk memanggil Mark semata. Namun bagi Taeyong itu wajar saja.

Ia. Hanya. Pelacur. Sama sekali tidak ada masalah bagi remaja street gang seperti Taeyong.

"Pergilah hyung"

"Okay. Have fun. Ta ta for now" Taeyong beranjak keluar dari basecamp seraya melambaikan tangannya pada Mark. Rencananya untuk bermalam di basecamp kali ini gagal.

~o0o~

"John.." Jaehyun menyembulkan kepalanya saat membuka pintu ruang hobby. Seketika detak jantung Jaehyun berdetak tak karuan kala melihat Johnny tengah mengekspos dada bidangnya seraya melakukan barbell bench press

"Oh. Jaehyun hyung" Johnny berhenti dari aktifitasnya.

"Don't try to skip your breakfast" Jaehyun akan bersikap tegas jika sudah menyangkut tentang kesehatan.

"I'll have breakfast later-"

"Now.." Ujar Jaehyun penuh penekanan.

"Galak sekali" Johnny mengangkat kedua tangannya menyerah.

Jaehyun beranjak menuju dapur sementara Johnny membersihkan dirinya terlebih dahulu. Beberapa menit kemudian Johnny pun menyusul Jaehyun menuju dapur.

Tap tap tap

"Here you go" Jaehyun menyuguhkan kasha buatannya.

Jaehyun mengambil posisi duduknya lalu ia kembali menatap Johnny yang masih mematung di sisi lain meja makan.

"John? Mengapa tidak dimakan? Jangan katakan kau tidak menyukai kasha. Makanlah. Menu sarapan ini banyak mengandung serat dan protein yang sangat kau butuhkan"

Semenjak kejadian malam itu, belakangan ini Jaehyun memang sering merasa gugup ketika bertemu dengan Johnny. Namun Jaehyun akan kembali menjelma sebagai lelaki dewasa yang tegas apabila sudah menyangkut tentang kesehatan lelaki yang lebih muda itu. Mulai dari Jaehyun yang terus mengancam Johnny karena selalu melewatkan sarapan, Jaehyun yang menyuapi Johnny karena saat itu ia sedang mogok makan, bahkan larut malam pun Jaehyun selalu mengecek kamar Johnny apakah bocah 18 tahun itu sudah tertidur atau belum. Tidak jarang Jaehyun juga menyita ponsel dan paket playstation karena kebiasaan Johnny yang terus beraktifitas di depan sinar radiasi. Hal itu akan menurunkan angka kesehatan.

Terkadang Johnny sangat kesal dengan sifat keibuan Jaehyun padanya. Ia pun menanggalkan kaosnya dan beralasan menuju ruang hobby agar Jaehyun berhenti bersikap cerewet padanya dan berakhir dengan semburat merah yang tertanam sempurna pada pipi lelaki yang lebih tua. Namun sayangnya, Johnny tak pernah menyadari akan kehadiran semburat merah itu. Ia hanya sebatas tau bahwa itulah titik kelemahan Jaehyun. Jika ia sudah membuka bajunya, Jaehyun benar benar bungkam dan tidak berdaya.

Memang benar. Jaehyun lebih suka apabila Johnny menghabiskan waktunya di ruang hobby. Di samping kegiatan itu jauh lebih menyehatkan, Jaehyun tak henti hentinya merona hebat kala melihat Johnny keluar dari ruangan tersebut dengan tubuh atletisnya yang semakin hari kian terpahat sempurna.

Sebelumnya, Johnny sama sekali tidak mengerti apa penyebab Jaehyun selalu bungkam kala ia mengekspos tubuhnya. Tapi tidak untuk sekarang, Johnny mengetahui apa yang berada dalam benak Jaehyun. Namun ia sepenuhnya meragukan hal itu. Apa Jaehyun memiliki perasaan yang sama sepertinya? Johnny merasa semua berubah semenjak kejadian malam itu jatuh menimpa mereka berdua.

"Masih tidak mau makan? Akan kusuapi kalau begitu"

"Tidak hyung. Aku bisa makan sendiri. Tapi, aku akan makan setelah kau menyuapkan satu sendok kasha itu kedalam mulutmu" Jaehyun terdiam sejenak mencerna ucapan Johnny barusan.

"Mm..kau ada ada saja John. Tapi, baiklah" Jaehyun pun memasukkan satu sendok penuh olahan gandum dan jamur itu kedalam mulutnya. Dengan gerakan cepat Johnny beranjak dari duduknya dan mendekati Jaehyun yang tengah mengunyah. Ia membungkukkan badannya dan

Chu~

Jaehyun membulatkan matanya terkejut saat merasakan Johnny mengecup lalu melumat lembut bibirnya. Dengan reflek tangan kanan Jaehyun meremat salah satu bicep Johnny yang tertutup oleh almamater seragam sekolah. Satu tangan yang lain ia gunakan untuk meremat bahu lebar sang lelaki yang lebih muda.

Johnny menarik tengkuk Jaehyun agar dapat memperdalam ciumannya yang semakin panas. Salah satu tangannya ia gunakan untuk mengelus rahang Jaehyun, menambah sensasi aneh pada lelaki yang lebih tua. Johnny memasukkan lidahnya kedalam mulut Jaehyun yang masih penuh akan kasha yang setengah hancur. Johnny menggerakkan lidahnya menuntun kasha yang berada di dalam mulut Jaehyun agar berpindah ke mulutnya. Mengunyah olahan gandum dan jamur itu dalam rongga mulut lelaki yang lebih tua dan menelannya tanpa merasa jijik akibat saliva lawannya yang membasahi makanan tersebut. Johnny memiringkan kepalanya ke kiri dan ke kanan, menghabiskan kasha yang masih tersisa di mulut Jaehyun dengan lahap. Hingga menimbulkan suara kecipak dalam sunyinya suasana pagi di rumah itu.

Jaehyun mulai terbiasa dengan ciuman Johnny yang begitu menuntut. Perlahan ia memejamkan matanya dan mengalungkan lengannya pada bahu lebar lelaki yang lebih muda. Senyum penuh kemenangan terpatri pada bibir Johnny dalam ciumannya. Air liur membasahi sudut bibir mereka berdua. Jaehyun mulai membalas ciuman lapar Johnny semampunya. Lidah mereka saling tumpang tindih dengan pergerakan Johnny yang mendominasi, membuat lelaki yang lebih tua itu pasrah dalam ciumannya. Setelah dirasa semua kasha telah habis dan bersih, Johnny memberikan hisapan ringan pada bibir mungil itu.

Jaehyun sama sekali belum menelan makanan tersebut. Namun kasha dimulutnya benar benar habis tak tersisa akibat tindakan Johnny padanya.

Johnny melepaskan tautannya. Ia menatap wajah Jaehyun yang entah sejak kapan sudah memerah padam. Deruan nafas mereka terdengar begitu memburu. Lalu berakhir dengan Johnny yang mengecup singkat bibir tipis itu dan kembali menuju posisi duduknya.

Johnny pun melahap kasha di piringnya yang sebelumnya belum tersentuh. Lelaki yang lebih tua itu menundukkan pandangannya. Wajahnya masih bersemu panas. Sesekali Jaehyun melirik Johnny yang tengah melahap masakannya. Tak ada perbincangan setelah ciuman itu. Hanya suara dentingan sendok dan piring Johnny yang bersinggungan.

Johnny selesai menghabiskan sarapannya. Ia menatap Jaehyun yang masih menundukkan kepalanya dan sepiring kasha di depan lelaki itu masih penuh.

"Kau selalu berkata padaku hyung. Kita tidak boleh melewatkan sarapan"

Jaehyun tetap diam. Terlampau malu untuk menatap lelaki di hadapannya yang tengah berbicara.

"Ini sudah hampir pukul 7, aku harus pergi ke sekolah. Sementara kau harus pergi bekerja. Tapi, mengapa saranpanmu masih utuh?"

Jaehyun tetap diam. Beberapa detik kemudian Johnny beranjak dari duduknya dan menghampiri lelaki di hadapannya. Ia mengangkat perlahan dagu Jaehyun agar dapat menatap manik mata elangnya. Rona merah masih menyelimuti wajah lelaki yang lebih tua. Johnny tersenyum tipis yang sialnya bagi Jaehyun terlihat begitu tampan.

"Engh" Jaehyun terlalu kaget dengan perlakuan Johnny yang menggigit lembut telinga kanannya.

"This is the best breakfast I've ever tasted" Bisik Johnny seductive lalu menjilat, mengulum dan melumat lembut daun telinga itu dengan hati hati. Jaehyun menggigit keras bibir bawahnya dalam nafasnya yang tertahan.

Cup

Johnny mengecup pipi berwarna merah muda itu sekilas.

Tap tap tap

"Bye bye now hyuuungg.." Johnny kembali pada suara khas bocah remajanya. Ia beranjak pergi meninggalkan Jaehyun yang masih mematung di meja makan bersama sepiring kasha miliknya yang masih utuh.

~o0o~

"Taeyong. How's going" Sapa Johnny dengan ceria.

"Oh. Hi. Jack of Legs"

"Kau terlihat murung"

"Kau terlihat senang"

"Semua karenamu"

"Huh?"

"Asisten pribadi ayahku, dia..err..menyita perhatianku. Kau tau? Ini semua karena sumpahan bodohmu itu. Aku jadi menyukai seorang pria. Ia bahkan 6 tahun lebih dewasa dariku"

Jika mood Taeyong kali ini sedang baik, mendengar pernyataan Johnny barusan pasti ia akan menertawakan lelaki jangkung itu dengan keras. Namun kali ini Taeyong hanya mendengus.

"As I told you before. Kau juga akan menyukai seorang pria. Dan kali ini harapanku terwujud" Taeyong tersenyum kecut dalam ucapannya.

"Hey, you look pretty down. What's the matter?"

"Oh. Don't even ask"

"Are things that bad?" Taeyong kembali mendengus kesal karena pertanyaan sahabatnya yang terkesan menuntut.

"It's about Mark" Johnny mengangguk pelan dan ia menepuk bahu sahabatnya itu seakan memberi semangat.

"Jika tidak keberatan, aku akan mendengarkan keluh kesahmu"

"Aku khawatir dengan Mark. Semalam ia bercinta dengan wanita strippers. Dan-

"Fuck!! Seriously?!"

"Dan aku terkejut. Bukankah sebelumnya ia selalu menolak ajakan kita untuk bermain di Strip Bar bersama strippers? Ia lebih suka menghabiskan tequila dibanding bercinta dengan mereka. Kau juga merasakannya bukan?"

"Tae. Sebagai kekasihnya, setidaknya kau harus mencari tahu penyebab ia melakukan hal seperti itu" Taeyong nampak berfikir keras. Pada akhirnya gelengan yang ia berikan.

"Dunno" Johnny memutar bola matanya kesal. Sampai kapan Taeyong terus tidak peka terhadap kekasihnya yang satu itu.

"Tapi John, ada satu kalimat darinya yang membuatku bingung. Ia melakukan hal itu dengan tujuan..err..aku dapat melihat garis wajahnya bahwa ia menginginkanku untuk merasa cemburu"

"Huh?! Jealous? Oh c'mon, you gotta be kidding. She's just strippers"

"Enough. Yang lebih mengejutkan lagi. He's absolutely gay as far as I see. Mark sering bercerita kepadaku. Sebelum ia mengenalku, ia tidak pernah sekalipun menyukai seorang wanita. Apalagi bermain seks dengan wanita, itu tidak ada dalam rencana hidupnya. Tapi sekarang-"

"HYUNG!!" Terdengar suara teriakan lelaki dari kejauhan memotong perbincangan mereka berdua. Lelaki itu setengah berlari menghampiri Johnny dan Taeyong yang tengah terduduk di tepi lapangan atletik.

"Mark? Bagaimana ia bisa lolos dari pagar gedung SC Classes?"

Taeyong dan Johnny adalah siswa SA Classes yang berarti kelas jurusan sains dan matematika. Sedangkan sisa dari mereka seperti Mark, Kris dan Kai berada pada kelas jurusan sosial. Dan kedua jurusan itu memang berbeda gedung namun tetap dalam satu kawasan. Taeyong berdiri menyambut kedatangan kekasihnya.

Plakk!!

Johnny mengalihkan pandangannya saat mendapati Taeyong yang terkena tamparan keras dari Mark.

"Hiks, hyung tegaaa..hiks. Semalam aku menaruh wajahku di pantat hyuungg.."

"M-maksudmu?"

"Aku malu hyuung..!! Kau sebelumnya tidak pernah bilang kepadaku kalau lubang wanita itu ada 3!! Huweee...hiks hiks"

"Ssstt..Mark jangan keras keras nangisnya! Sudah kukatakan, kau seharusnya bilang terlebih dahulu padaku sebelum memesan strippers itu"

"HYUNG JAHAT!! Hiks. Betapa aku sangat kebingungan dalam memilih ketiga lubang itu. Sementara penisku hanya satu. Aku salah lubang hyung!! Kumasukkan penisku kedalam lubang yang atas. Lalu wanita itu kesakitan dan melukai penisku! Ini semua salah hyung!!" Sontak Taeyong menepuk jidatnya.

"Itu namanya lubang kencing Markie. Lagipula itu sangat mustahil untuk dimasuki. Dimmo" Tanpa sadar Taeyong mengeluarkan umpatannya.

"Hyung menganggapku sebagai orang bodoh? Huweeee..hyung tidak cinta lagi dengan Mark hiks"

"Taeyong! Kau tidak seharusnya berkata kasar di depan Mark. Ia memang tidak pernah bercinta dengan wanita sebelumnya, itu wajar saja. Dan, Mark. Walaupun kau tidak pernah tertarik dengan wanita, setidaknya ada sisa rasa ingin tahumu terhadap bagian tubuh wanita bukan? Ya, anggap saja sebagai pengetahuan umum" Johnny berusaha menengahi mereka berdua.

Taeyong menghapus air mata lelaki yang lebih muda darinya. Namun dengan perlahan Mark menyingkirkan tangan besar itu dari wajahnya. Ia menarik nafas dalam dalam dan berusaha mengontrol tangisnya sekuat tenaga.

"Taeyongie hyung. Soal mesin penyedot debu itu. Aku berbohong padamu. Aku bercinta dengan vacuum cleaner itu bukan karena aku ingin menjadi seorang top. H-hanya saja, aku berusaha untuk menjaga perasaanmu hyung, untuk tidak sedikitpun menyentuh seorang wanita sekalipun ia adalah strippers murahan. A-aku berusaha untuk tetap tulus mencintaimu hyung. Walau sudah berapa bekas luka kau goreskan pada hati kecilku yang begitu rapuh. A-aku..hiks. Aku, mencoba untuk menutupi kepedihanku dengan caraku sendiri, yang mana itu terlihat begitu konyol di matamu. Aku menjadi gila semua karenamu. Setidaknya, bolehkah aku berharap bahwa kau mengerti perasaanku hyung? Hiks, ini lelucon. Bukan begitu?" Mark menghapus air matanya kasar.

Sepersekian detik Taeyong membuka mulutnya. Di balik semua kekonyolan yang Mark perbuat menyimpan makna yang begitu pedih. Taeyong berani bersumpah bahwa ia tidak akan memaafkan dirinya sendiri.

"Entahlah hyung. Mengapa aku terus memiliki harapan untukmu mengerti. Hiks. Karena bagiku, kau adalah lagu sedih pengantar tidurku" Ingin sekali Taeyong merengkuh tubuh kecil itu dalam tangis penyesalannya. Melantunkan berbagai kata maaf yang sama sekali tidak berarti. Namun sialnya semua terasa tercekat dalam tenggorokannya.

"Johnny hyung. Taeyongie hyung. A-aku pergi" Setidaknya, Mark merasa senang. Ia masih dapat mengeja panggilan sayang untuk kekasihnya.

Tap tap tap

Mark berjalan menjauhi keberadaan Johnny dan Taeyong. Ia tak dapat membendung tangisnya saat merasakan Taeyong yang sama sekali tidak mencegah kepergiannya. Taeyong tidak mengejarnya. Membiarkan lelaki yang lebih muda itu pergi bersama air matanya. Ingin sekali Taeyong berlari kencang menggapai lelaki itu, merengkuh tubuh ringkihnya dan berlutut padanya memohon maaf.

Namun sesuatu terasa membekukan pergerakannya. Berakhir dengan Taeyong yang berdiri mematung di atas kebodohannya sendiri. Setelahnya, hanya umpatan kasar lah yang ia dengar dari mulut sahabatnya. Biarlah umpatan itu memasuki kedua indra pendengarannya. Karena lantunan kata kotor itu memang pantas untuknya.

~o0o~

Jaehyun terus menggigit kuku ibu jarinya gugup. Sudah terlampau malam, namun Jaehyun terus diselimuti oleh kegugupannya. Sepasang kaki indahnya belum juga beranjak dari ruang kerja. Terlalu takut dalam rasa malu yang membuncah ketika ia berpulang bukan menuju apartemennya. Melainkan kedua kakinya yang menapak dalam sebuah rumah bak istana atasannya. Bertemu dengan seorang remaja street gang yang mampu menguasainya.

Tok tok tok

"Masuk" Seorang pria satpam menyembulkan kepalanya saat membuka pintu namun ia tidak memasuki ruang kerja lelaki 24 tahun tersebut.

"Jaehyun-ssi, ini hampir pukul 10 malam. Saya hendak mengunci semua ruangan. Namun salah satu pegawai di luar mengatakan bahwa anda masih berada di dalam"

"Ah. B-baiklah. Maaf untuk sebelumnya"

~o0o~

"I'm home.." Johnny menggumam lirih seraya melepas sepatu kets nya asal. Mood nya benar benar buruk malam ini. Ia merasa empati dengan Mark. Begitupun sahabatnya sendiri, walau sempat terjadi pertengkaran kecil dengan Taeyong karena Mark. Johnny tetap menyayangi sahabatnya seakan masalah mereka juga jatuh menimpanya.

Cklek, Cklek

"Terkunci?!"

Bagai tersengat listrik, Johnny ingat akan ayahnya. Ingat akan semua momen kekanakan dalam dirinya tentang kesunyian rumahnya pada malam hari. Ingat akan perihal yang mampu menyulut emosinya seketika.

"Fuckhead!! Semua lelaki dewasa sama saja! Seo Sehun! Jung Jaehyun! Dick!" Jika Taeyong dan Mark tidak berada dalam masalah tadi, mungkin Johnny masih bisa memaklumi Jaehyun yang belum berpulang dari kerja.

Seperti biasa ia mengambil kunci rumah dalam tasnya yang memang sudah digandakan.

Cklek

Johnny memasuki rumahnya dan melempar tasnya asal. Ia bergegas menuju kamar Jaehyun dengan langkah lebarnya.

Bruk

Johnny melemparkan tubuh jangkungnya di atas ranjang kamar Jaehyun tanpa melepas almamater sekolahnya. Johnny mengubah posisinya dari telentang menjadi telungkup. Membenamkan wajahnya pada kain sprei. Mencium semerbak wangi khas aroma tubuh Jaehyun yang menempel pada ranjang tersebut. Johnny terus mengendus kain sprei itu tak lupa dengan geraman kecil yang terdengar dari bibirnya. Membuat sesosok lelaki yang tengah mematung di ambang pintu kamar itu bergidik seketika.

"J-John?" Johnny terlepas dari aktifitasnya, menatap sendu lelaki yang tengah berdiri di ambang pintu. Sebelumnya Jaehyun menduga, bahwa bocah remaja itu akan menanyainya mengapa ia pulang terlalu malam dan sebagainya. Namum dugaannya salah.

"How's your ass? Does it feels better?" Johnny bertanya dengan suara rendahnya, jauh sekali dari suara khas bocah remaja. Ia terduduk di tepi ranjang. Menatap lelaki yang lebih tua dengan tatapan yang sulit diartikan.

Perlahan Jaehyun mengangguk kaku. Lelaki yang lebih muda itu berdiri, menghampiri pintu kamar. Memegang gagang pintu, menutup dan menguncinya.

Blam

"A-apa yang kau lakukan? Mengapa kau mengunci pintu kamarku?"

"Agar desahanmu dapat terdengar indah hanya sebatas kedua telingaku" Semua kamar tidur dalam rumah bak istana itu memang dirancang kedap suara. Jika kamar itu terkunci rapat, maka suara dari dalam kamar itu akan terdengar lebih jelas dan tidak terdengar sedikitpun dari luar. Johnny memiringkan senyumnya seraya berjalan perlahan memojokkan lelaki yang lebih tua.

"J-John, kumohon jangan seperti ini" Kali ini Jaehyun berdiri terpojok dengan kedua lengan kekar Johnny yang mengurungnya. Dengan Jaehyun yang masih berbalut jas kerjanya. Serta Johnny yang masih utuh dengan almamater sekolahnya. Sepersekian detik dua pasang manik mata itu bertemu. Tangan kanan Johnny melepaskan kungkungannya, ibu jarinya memberikan usapan lembut pada sudut bibir lelaki yang lebih tua.

"Let me love you tonight"

"Hmmph.." Seketika Jaehyun membulatkan matanya dan meremat bahu lebar lelaki yang lebih muda. Johnny berhasil menyambar bibirnya dan melumatnya lembut namun terasa menuntut. Semakin lama, ciuman Johnny padanya semakin beringas.

Jaehyun benar benar tidak tahu apa yang sedang merasukinya. Dengan senang hati ia membuka mulutnya kala Johnny menggigit bibir bawahnya cukup keras. Meminta lebih. Perlahan Johnny dengan lancang menyelipkan tangan dinginnya ke dalam jas kerja yang dikenakan oleh Jaehyun.

Dengan reflek Jaehyun menurunkan cengkraman tangannya pada kedua bahu lebar tersebut. Berpindah untuk menahan satu tangan besar yang mulai nakal menjamah tubuhnya, mencegahnya agar tidak berbuat lebih. Namun semua terasa melemas saat salah satu tangan Johnny yang lain memainkan nipple dibalik jasnya dengan gerakan sensual.

Jaehyun merasa dirinya begitu kacau. Sentuhan Johnny pada tubuhnya seakan membuatnya candu. Otak dan hatinya berbeda arah. Perlahan Jaehyun memejamkan matanya dan mulai membalas ciuman panas itu semampunya. Kedua lidah itu saling bergulat dengan gerakan Johnny yang mendominasi. Jaehyun mulai melemas. Ia memukul dada bidang Johnny berkali kali meminta pasokan oksigen. Namun lelaki yang lebih muda itu seakan tak mengindahkan permohonannya. Ia terus menyecap bibirnya semakin ganas.

"Engh.." Dengan sekuat tenaga Jaehyun menjambak rambut lelaki yang lebih muda. Johnny pun melepaskan tautannya dan menggeram kesal. Tampaklah saliva mereka yang masih terhubung.

Johnny terkekeh melihat pemandangan di depannya. Paras cantik yang memerah padam, dua belah bibir yang terbuka dan membengkak seksi, serta sleepy eyes yang tengah menatapnya menggoda. Menantang libido nya untuk berbuat lebih. Perlahan kedua tangan Johnny meremas pantat kenyal Jaehyun yang berhasil membuat sang empunya mendongak dan menggigit bibir bawahnya. Berusaha menahan desahannya.

"Beautiful" Johnny mengangkat tubuh yang lebih kecil darinya itu menuju ranjang.

"John hentikan" Ketakutan kembali melanda Jaehyun saat dirasa Johnny membaringkan tubuhnya di atas ranjang secara perlahan dan mengungkungnya. Melonggarkan dasi kerjanya. Melepasnya. Dan mengikatkan dasi itu pada kedua tangannya.

Johnny merengkuh tubuh kecil yang berada di bawahnya. Membenamkan wajahnya pada perpotongan leher putih Jaehyun.

"Sepulang kerja masih tercium harum saja. Hmmhh..takkan kubiarkan orang lain menyecap aroma tubuhmu hyung hmmh.." Jaehyun merasakan sensasi aneh dan geli saat Johnny menggesekkan hidungnya dan mulai menjilat ceruk lehernya.

Jaehyun menggigit keras bibirnya. Ia belum siap mendengar suara menjijikkan yang berasal dari mulutnya. Johnny melepaskan kancing jas yang dikenakan oleh Jaehyun, sekaligus kancing kemeja sebagai pertahanan terakhir tubuh atasnya. Menampakkan dua gundukan dada berwarna pink kemerahan. Jaehyun menutup kedua matanya terlampau malu.

"Hngh.." Lolos sudah satu desahan kecil dari mulut lelaki yang lebih tua tatkala Johnny mulai menghisap kuat nipple kirinya. Sebelah tangan Johnny bermain pada nipple kanan Jaehyun, memelintir dan mencubitnya gemas. Tanpa sadar Jaehyun melengkungkan punggungnya karena sensasi aneh pada kedua puting susunya. Membuat Johnny semakin beringas dalam menyecap daerah sekitar dua gundukan itu hingga meninggalkan bekas merah keunguan disana. Johnny merasakan tubuhnya memanas. Ia mengambil remote pendingin ruangan yang tak jauh dari mereka dan menyalakannya tanpa melepaskan kuluman mulutnya pada salah satu gundukan tersebut.

"J-Johnny!" Jaehyun memekik nyaring saat Johnny menggigit keras dada kirinya yang berisi. Meninggalkan segores luka disana. Jaehyun tidak dapat melakukan apapun karena kedua tangannya yang diikat kuat oleh dasi seragam kerjanya. Lelaki yang lebih muda itu menggesekkan bagian selatan mereka berdua sebagai tanda perkenalan. Jaehyun menggeleng pelan dan beringsut menjauh. Namun dengan sigap Johnny menarik pinggangnya dan kembali mengungkungnya.

Lelaki dominan itu kembali mengendus, menjilat dan menghisap daerah sekitar dua gundukan dada Jaehyun yang berisi. Dengan terus menggesekkan bagian selatan mereka hingga kecepatan penuh. Tak lupa kedua tangan nakalnya yang meremas bongkahan pantat kenyal Jaehyun dibawah sana.

"Ahh.."

"Say my name, sweetheart"

"J-John ngh.." Jaehyun menggelinjang indah di bawah kendali lelaki yang lebih muda. Seketika ia lupa akan dirinya. Lupa akan semua latar belakang lelaki yang sekarang tengah menyetubuhinya.

Johnny terkesiap saat merasakan kedua kaki jenjang melingkar sempurna pada pinggangnya. Johnny mengangkat sebelah alisnya dan menatap gelap lelaki dibawahnya yang tengah memejamkan mata serta kedua pipinya yang tiada henti bersemu panas.

"Mulai menikmatinya hmm?" Perlahan Johnny melepas ikatan dasi yang melilit kedua tangan Jaehyun. Kedua tangan besarnya mulai menelanjangi tubuh lelaki dibawahnya. Membuang berbagai lembar pakaian itu ke sembarang tempat. Baik pakaian atas maupun pakaian bawah. Jaehyun benar benar tak dapat menyembunyikan rasa malunya ketika merasakan udara dingin membelai tubuh telanjangnya.

Jaehyun membuka matanya perlahan saat merasakan sesuatu menggelitik ujung penisnya. Paras cantiknya semakin memerah padam kala melihat Johnny yang masih utuh dengan almamater sekolahnya sementara dirinya sudah telanjang dengan mulut lelaki yang lebih muda itu mengulum bagian privasinya.

"J-John!" Jaehyun memekik tertahan saat Johnny menghisap penisnya begitu kuat.

"Ahh..p-please.." Jaehyun meremas rambut Johnny yang tanpa sadar mendorong kepala itu untuk semakin dalam menghisapnya. Johnny menyeringai dalam kulumannya, ini pertama kalinya ia menyentuh tubuh lelaki dalam keadaan sadar. Jauh lebih menggairahkan dari ekspetasinya.

"S-stop please hh..I'm close" Johnny merasakan penis itu berkedut dalam mulutnya. Tak lama kemudian Jaehyun memuntahkan laharnya pada mulut lelaki yang lebih muda.

"Ahh.."

Johnny menerimanya, namun tidak menelannya. Ia ingin menelan cairan cinta itu bersama Jaehyun. Johnny pun menyambar bibir lelaki yang lebih tua bersama cairan sperma Jaehyun yang membasahi kedua bibir mereka yang bertemu. Perlahan Jaehyun menelan sedikit demi sedikit cairan yang diberikan oleh Johnny pada mulutnya.

"Hngh..hh..hoek" Jaehyun muntah dalam ciumannya. Cairan sperma yang ia telan barusan menyembur rongga mulut lelaki yang lebih muda karena muntahannya. Tanpa merasa jijik Johnny menelan muntahan sperma itu dan berakhir dengan kecupan singkat pada bibir bengkak lelaki di bawahnya.

Bulu kuduk Jaehyun meremang seketika kala merasakan sesuatu membelai lubang analnya. Rintihan kecil mulai terdengar bersamaan dengan satu jari panjang Johnny yang menyelinap masuk. Berusaha merenggangkan liang rektumnya yang luar biasa ketat.

"A-awwh.." Rintihan lemah kembali terdengar ketika Johnny menambah satu jari lagi kedalam lubang lelaki yang tengah berbaring pasrah dibawahnya. Dengan reflek Jaehyun mencekal pergelangan tangan sang dominan. Berusaha menahannya agar tidak menyentuh lebih dalam daerah privasinya.

"Ngh..hiks" Jaehyun merasakan tangannya melemas seketika beriringan dengan tangisan kecil yang mulai membasahi sudut matanya. Melepaskan cengkraman itu pada pergelangan tangan yang lebih muda. Membiarkan Johnny menjamah lebih dalam bagian privasinya. Jaehyun menggelinjang pelan bersamaan dengan kedua jari Johnny yang mengobrak abrik isi tubuhnya terlampau berantakan.

"Ahh" Semburan cairan putih itu kini mengotori almamater yang Johnny kenakan. Jaehyun menatap sayu lelaki yang lebih dominan, mengatur kembali nafasnya diselingi air mata yang tak hentinya menetes.

"Hh..maafkan aku, akan kucuci seragammu besok" Johnny menggeleng. Persetan dengan seragamnya yang berselimutkan sperma. Ia melepas semua pakaiannya. Jaehyun memalingkan wajahnya yang bersemu kala ia melihat pahatan tubuh sempurna lelaki di atasnya.

Johnny mengangkat salah satu kaki Jaehyun ke atas pundaknya. Membenamkan wajah tampannya mencium aroma tubuh itu melalui paha dalam lelaki yang lebih tua. Jaehyun bergidik seketika, nafas panas Johnny pada daerah itu membuatnya kembali dilanda oleh rasa takutnya. Walau sebelumnya, Jaehyun sangat menikmati sentuhan Johnny yang terlampau memanjakannya.

"Hmmh..I want you" Johnny memejamkan matanya menikmati semerbak wangi yang menggelitik indra penciumannya.

Jaehyun tetap menitikkan air matanya dan terus terisak dalam diam. Ia tak memiliki nyali untuk menatap mata elang dominannya.

"Hey..it's okay. Jika kau belum siap maka aku tak akan melakukannya hyung" Johnny kembali mengungkung tubuh kecil itu dan mengecup dahi Jaehyun singkat. Tak lupa kedua tangan besarnya mengamit jari jari lentik lelaki di bawahnya.

Jaehyun menatap mata elang sang lelaki dominan dengan kedua mata angelic nya yang berkaca kaca. Johnny menghapus lembut air mata yang mulai jatuh membasahi pipi mulus lelaki di bawahnya.

"Hiks. Tell me. Will you love me tomorrow? Like you love me tonight" Jaehyun benar benar tidak tahu apa yang sedang merasukinya. Yang ia inginkan adalah cinta tulus dari lelaki di atasnya, bukan cinta buta akan kesenangan sex semata.

Jaehyun merasa sangat takut. Takut akan perasaannya. Ia terlalu berani jatuh pada seorang street gang yang selama ini ia takutkan. Seorang anak dari pimpinan tertinggi perusahaannya. Air mata terus menggenangi paras cantiknya.

Johnny menuntun salah satu tangan halus Jaehyun agar dapat menyentuh dada bidangnya.

"You can feel my heartbeat. I can hear this pair of heartbeats in tune in a beautiful melody"

Jaehyun menitikkan air matanya semakin deras. Ia tak dapat menyembunyikan rasa harunya. Jaehyun menjerit dalam hati selaras dengan air mata bahagia yang terus menetes.

"I" Johnny mengecup kening Jaehyun.

"Do" Turun mengecup hidungnya.

"Love" Mengecup kedua pipinya yang merona.

"You" Mengecup bibir mungilnya yang membengkak.

"Jung Jaehyun" Berakhir dengan kecupan hangat pada dua gundukan dada yang menjadi bagian favoritnya.

Jaehyun tersenyum lembut pada lelakinya. Perlahan ia mengalungkan lengannya pada leher Johnny. Menarik halus tengkuk sang dominan dan mencium bibirnya singkat. Hingga satu lantunan kalimat Jaehyun kembali menguji libido lelaki yang lebih muda.

"Love me till I'm getting hurt"

"I do. Let's take it all the way"

Jaehyun memejamkan matanya. Membiarkan Johnny meraup bibirnya sekali lagi. Membawa dua insan itu ke sesi ciuman panas mereka. Jaehyun semakin pasrah dalam ciumannya kala merasakan tangan besar menuntun kedua kaki jenjangnya agar melingkar sempurna pada pinggang lelaki di atasnya.

Ciuman mereka semakin beringas dengan lidah yang membelit. Jari jari lentik Jaehyun tak hentinya memainkan surai coklat lelakinya. Hingga belaian lembut pada surai itu berubah menjadi rematan keras kala merasakan sesuatu mulai merobek liang rektumnya secara perlahan.

"Ngh..hiks" Jaehyun menangis dalam ciumannya. Johnny menggigit gemas bibir lelaki di bawahnya, melumatnya agar tangisan Jaehyun dapat teredam dalam ciumannya. Tak lupa Johnny terus melesakkan secara perlahan penisnya ke dalam lubang ketat yang serasa menjepitnya sempurna.

Jaehyun hampir saja menjerit jika saja Johnny tidak meraup lebih dalam rongga mulutnya. Kejantanan Johnny seakan membelah tubuhnya. Lelaki yang lebih muda itu melepas tautannya. Menatap paras cantik lelaki di bawahnya yang masih menahan sakit karena ukuran miliknya. Memberikan waktu pada Jaehyun sejenak sebelum menusuknya lebih dalam.

Johnny bernafas lega ketika ia tidak menemukan cairan darah yang menetes keluar dari lubang lelaki cantik di bawahnya.

"M-move" Johnny perlahan menggerakkan pinggulnya perlahan namun pasti.

Rintihan lemah kembali terdengar seperti rengekan terlampau manja. Membuat libido Johnny semakin gencar menggenjotnya lebih dalam.

"Ngh..hiks, sakit.." Jaehyun meremat punggung lelakinya begitu erat.

Genjotan Johnny yang kian brutal membuat tubuh ringkih di bawahnya tersentak pasrah di atas ranjang. Kedua tangan Jaehyun terkulai lemas tak mampu mengalung sempurna pada leher lelakinya. Membirkan tangan itu menganggur di atas ranjang yang berdecit. Kejantanan Johnny yang menusuk titik prostatnya seakan dapat menghancurkan organ dalamnya saat itu juga.

"Hngh..John hh.." Desahan lemah Jaehyun bagai bahan bakar lelaki di atasnya untuk terus menumbuknya lebih brutal dan menyakitkan. Jaehyun merintih menahan perih kala dirasa lubangnya semakin becek dan terasa lecet karena liang rektumnya yang dipaksa membuka lebar. Namun semua tertutupi oleh kabut kenikmatan yang mana Johnny mulai memberikan berbagai sentuhan liar pada tubuh bagian atasnya.

"Ahh..John I wanna ahh.." Jaehyun terlebih dahulu mencapai puncak orgasme nya. Cairannya membasahi lekuk otot yang terbentuk sempurna pada perut lelaki di atasnya. Jaehyun benar benar lelah. Sementara Johnny masih terus bersikukuh menghantam prostatnya berulang kali. Tubuh Jaehyun terasa lebih sensitif setelah mengejar kabut klimaksnya.

Lubangnya yang berkedut hebat seakan memijat dan menjepit lebih dalam kejantanan Johnny pada tubuhnya.

"Arghh..it's getting tighter than ever" Lelaki yang lebih muda itu menggeram rendah. Desahan lemah Jaehyun serta berbagai tusukan yang terdengar becek mengiringi sunyinya malam itu.

Johnny merasakan penisnya yang mulai berkedut. Ia mengeluarkan kejantanannya pada lubang lelaki di bawahnya. Membuat Jaehyun melengguh kecewa merasakan liangnya yang mendadak kosong. Johnny menuntun kejantanannya ke hadapan Jaehyun.

"Suck it" Jaehyun mengangguk lemah, ia mulai menjulurkan lidahnya yang terasa kelu. Namun belum sampai lidahnya menyentuh ujung penis itu, dengan brutal Johnny mengocok miliknya sendiri dengan kecepatan penuh. Hingga cairan sperma itu menyembur dan mengotori paras cantik lelaki di bawahnya. Di samping itu Johnny juga menyemburkan cairannya ke atas dua gundukan dada Jaehyun yang berisi.

Dengan gerakan cepat Johnny mengungkung tubuh kecil itu dan menjilat semua cairannya di wajah Jaehyun. Tak lupa lidahnya juga menyapu cairannya sendiri di atas dua gundukan dada favoritnya. Menghisapnya lembut dan menelan semua cairan itu hingga bersih.

"Thanks for tonight, princess" Johnny mengecup bibir merekah itu sekilas dan membaringkan tubuhnya di samping Jaehyun.

Johnny merasakan jari jari lentik bermain pada lekuk otot perut juga dada bidangnya. Johnny menatap lelaki di sampingnya dan terkekeh geli.

"Kau boleh memilikinya. Tidurlah" Ujar Johnny seraya menepuk nepuk dada bidangnya. Jaehyun tersenyum lembut lalu ia beringsut untuk tidur dengan posisi tubuhnya telungkup menindih lelaki dominannya.

"Tidak apa apa aku tidur menindihmu? Aku berat John" Jaehyun menatap Johnny dengan pandangan khawatir. Lelaki yang lebih muda itu hanya terkekeh dan mengecup lembut kening lelaki cantik di atasnya.

Tangan kanannya menarik kepala belakang Jaehyun agar bersandar nyaman pada dada bidangnya. Lengan kirinya ia gunakan untuk merangkul pinggang ramping lelaki yang kini tertidur di atasnya. Dengan nakal Johnny mencuri kesempatan meremas bongkahan pantat kenyal itu dan lengguhan pun kembali terdengar. Johnny terkekeh mendengarnya. Kedua kaki mereka saling membelit membawa dua insan itu untuk bertemu dalam mimpi indahnya.

"Good night. My barbie boy" Tanpa Johnny sadari Jaehyun tengah memajukan bibirnya imut bersamaan dengan pukulan ringan pada dada bidang yang menjadi bantal tidurnya. Namun tetap tak memudarkan warna merah pada kedua pipi manisnya.

Jaehyun menyamankan kepalanya pada dada bidang lelaki di bawahnya. Ia dapat mendengar degup jantung Johnny seirama dengan miliknya. Dada bidang yang menahan kepala Jaehyun itu naik turun bernafas dengan konstan. Jaehyun tersenyum lembut ketika mendengar sebuah dengkuran halus berasal dari lelaki yang lebih muda.

"Good night. Johnny"

TBC

Clove sampe bosen naenanya kelamaan ih gua ngetik tuh pasang wajah flat campur freaky2 gmn gtu, ini kapan selesainya? Itu yg ada dlm benak gua wkwk tp moga aja readers suka ini fic M abal2

Sorry buat Mark yg gua bikin ngenes disini, emang sengaja bikin itu kapel jd complicated hehe

Review please~