Chapter 2
"Tiga hari lagi kesepakatan kita akan dimulai. Dan kau harus melepaskan keperawananmu itu dalam waktu tiga hari."
"Baiklah."
Sinar mentari mulai masuk ke celah celah kamar Hanbin. Laki laki itu mulai menggeliat dan membuka matanya perlahan.
"Selamat pagi, Hanbin."
Jinhwan tersenyum geli melihat rambut Hanbin yang berantakan. "Ayo bangun," Jinhwan mencubit pipi Hanbin pelan.
Hanbin bergumam tak jelas dan memindahkan kepalanya di pangkuan Jinhwan. Ia menenggelamkan wajahnya di perut wanita itu dan kembali memejamkan matanya.
"Minggu pagi yang cerah, kau harus bangun pagi, Hanbin."
Jinhwan memutar sebuah lagu dari ponselnya. IKON - #WYD.
"Cium..."
Hanbin bergumam dalam tidurnya. Jinhwan menyentil dahi laki laki itu keras.
"AW!" Hanbin memegang dahinya yang sakit. Ia membuka mata dan menyingkir dari pangkuan Jinhwan. Bibirnya cemberut.
"Setidaknya bangun, cuci muka, dan gosok gigi dulu, Bin."
Perlahan Hanbin bangun dari tidurnya lalu mencuri satu kecupan kilat di bibir Jinhwan sebelum ia masuk ke kamar mandi.
"Ya! Jorok sekali!" Jinhwan memekik sambil mengusap bibirnya kasar.
Jinhwan duduk di sofa ruang tengah dengan menyilangkan kakinya. Ia terlihat sedang melamunkan sesuatu.
"Noona," Hanbin duduk di sebelah Jinhwan dengan membawa setoples biskuit rasa cokelat. Jinhwan menoleh dan tersenyum tipis.
"Sedang melamunkan apa?" tanya Hanbin. Ia mengambil satu biskuit dan menyuapkan ke mulut Jinhwan. Jinhwan hanya menggigit sedikit.
"Tidak. Hanya bosan saja."
"Bosan?" tanya Hanbin heran, kemudian menganggguk-angguk.
"Sedang tidak ada tugas, Bin?" tanya Jinhwan mengalihkan pembicaraan. Ia mendekatkan posisi duduknya ke Hanbin. Meletakkan kedua kakinya di atas paha Hanbin.
"Syukurlah, tidak. Mau makan malam romantis?" Hanbin mendekatkan wajahnya.
"Boleh, dimana?" Jinhwan tertarik. Jika iya, ini menjadi makan malam pertama mereka semenjak pertemuan keluarga dua bulan yang lalu.
"Disini, aku yang akan menyiapkannya."
"Kau serius?"
"Meragukanku?"
"Euhmm... sebenarnya sih iya. Tapi aku percaya padamu," Jinhwan tersenyum dan mengelus pipi Hanbin.
"Oh ya," Hanbin mengambil sesuatu dari saku celana pendeknya. "Ambil ini, pergilah membeli gaun dan ke salon. Sementara itu aku akan menyiapkan makan malam itu untukmu."
Jinhwan menerima kartu kredit berwarna emas dari Hanbin. "Jinjja? Aku bisa membeli gaun mahal?"
Hanbin mendekatkan bibirnya ke telinga Jinhwan dan membisikkan sesuatu yang membuat Jinhwan bergidik.
"Aku ingin kau dandan yang cantik dan membuatku tidak bisa tidur semalaman karena memikirkan dirimu."
Jinhwan menaiki bis dan duduk di kursi paling belakang. Ia memasang earphone di telinganya dan membaca novel yang ia bawa di dalam tasnya.
Lima menit berlalu, Jinhwan masih asik dengan novel yang dibacanya. Ia tidak menyadari ada seseorang duduk di sampingnya. Memperhatikannya dengan tatapan tak wajar.
Jinhwan menghentikan kegiatan membacanya ketika menyadari ada tangan yang sedang menggerayai paha bagian dalamnya. Namun ia tak berani menoleh ataupun meneriaki orang yang duduk di sampingnya itu.
Jinhwan menggigit bibirnya ketika merasakan tangan itu mengelus sesuatu dari balik celana dalamnya. Sial sekali dirinya karena hari ini memakai rok pendek. Tangan itu semakin cepat menggosok sesuatu disana hingga tak sadar celana dalam Jinhwan basah dalam beberapa saat.
"Geumanhae," bisik Jinhwan.
Seolah tak mendengar, si pemilik tangan tak mau berhenti. Tangannya yang lain mengambil sesuatu dari saku kemejanya dan menyelipkan di dalam celana dalam Jinhwan.
Jinhwan sontak saja menjerit tertahan merasakan benda bergetar di dalam vaginanya. Ia menahan tangan di dalam roknya itu. Kepalanya menoleh.
"Goo Junhoe?"
"Apa kabar, saem?"
Jinhwan panik. Ia berusaha menyingkirkan tangan Junhoe.
"Kau- lepaskan tanganmu, ini di tempat umum..."
Junhoe lantas menyingkirkan tangannya, tetapi tetap membiarkan benda bergetar itu bersarang di dalam celana Jinhwan.
Jinhwan risih, ia bergerak tak nyaman di tempat duduknya. Sedangkan Junhoe mengamati pergerakannya.
"Ini apa?" Jinhwan bergumam sendiri.
Entah kenapa, Jinhwan memaju-mundurkan pinggulnya. Ia merasakan sensasi luar biasa di bawah sana. Jemarinya meremas tempat duduknya.
"Euhmm... ah-"
Jinhwan memejamkan matanya. Ia menggigit bibir bawahnya untuk menahan desahannya namun percuma.
"Ige mwoya?"
Junhoe mengendikkan bahunya. Tangannya melingkari bahu Jinhwan. Membatasi gerakan wanita itu yang semakin liar.
"Jangan banyak bergerak, saem. Orang orang bisa mencurigaimu."
Jinhwan menggelengkan kepalanya. Ia memeluk leher Junhoe dan menenggelamkan wajahnya disana. Sensasi luar biasa baru saja menghampirinya. Rasanya sama seperti saat ia dan Hanbin lakukan beberapa hari yang lalu.
Junhoe kembali menyelipkan jarinya di dalam rok Jinhwan dan mengambil vibrator kecil itu. Ia membisikkan sesuatu di telinga Jinhwan, "Aku menunggumu, dua hari lagi."
Jinhwan memasuki butik itu dan disambut oleh pramuniaga disana. "Aku ingin gaun untuk makan malam dengan tunanganku."
"Model seperti apa yang anda sukai, agasshi?"
"Ehmm... mini dress yang terkesan seksi dan manis?" Jinhwan menjawab dengan ragu.
Si pramuniaga tersenyum. Ia menunjukkan Jinhwan dimana deretan gaun mewah yang tentunya mahal digantung. Pandangan Jinhwan menyusuri deretan gaun gaun itu. Pandangannya berhenti sebuah gaun berwarna merah maroon.
"Aku ingin mencoba itu."
Setelah menerima gaun itu, Jinhwan mencobanya di kamar pas. Ia melihat pantulan dirinya di cermin besar itu. Dress sebatas paha dengan sebuah pita di bahu kanan.
"Apa Hanbin akan menyukainya? Apa tampilanku akan menggodanya?"
Jinhwan menyentuh payudaranya. "Apa ini cukup memuaskan untuknya?"
Jinhwan mengambil selca dari ponselnya. Menampilkan gaun miliknya sebatas leher sampai ke pinggang. Kemudian ia mengirimkan selca itu ke Hanbin.
'Mwohae?'
Sembari menunggu balasan, Jinhwan melepas gaun itu dan mengganti dengan pakaiannya kemudian keluar dari ruang pas.
"Bagaimana agasshi?"
"Aku ingin melihat gaun yang lain dulu," kata Jinhwan sambil menyerahkan gaun itu.
Pramuniaga itu mengambil gaun lain di etalase dan menyerahkan ke Jinhwan,
"Aku merekomendasikan ini padamu, agasshi. Gaun ini akan terlihat sangat cantik dan manis di tubuh anda."
Jinhwan menerima gaun itu kemudian mencobanya di kamar pas.
Ting!
Ponsel Jinhwan berbunyi, satu pesan masuk dari Hanbin.
Aku menyiapkan kejutan spesial untukmu.
Lalu di bawahnya ada sebuah selca dimana Hanbin memakai apron berwarna baby blue yang pernah ia belikan dulu.
Jinhwan tersenyum geli. Tubuh Hanbin terlihat cocok memakai apron itu.
Jinhwan melihat pantulan dirinya lagi di cermin. Ia terlihat puas dan sudah menemukan gaun yang cocok untuknya.
Setelah membayar gaun itu dengan kartu kredit Hanbin, Jinhwan keluar dari butik itu kemudian berjalan beberapa ruko dan memasuki sebuah salon besar. Ia berkonsultasi dengan pegawai disana tentang dandanan apa yang akan ia lakukan kemudian duduk di kursi salon.
Dua pegawai menghampiri Jinhwan. Seorang menata rambut Jinhwan dan seorang lagi memberikan sentuhan make up di wajah Jinhwan.
"Kulitmu sangat bagus, agasshi." Puji pegawai salon yang menangani make up Jinhwan.
"Kau akan terlihat eksotis jika mewarnai rambutmu dengan warna terang," saran pegawai salon yang menata rambut Jinhwan.
"Mungkin bagus, tapi aku adalah seorang guru, jadi akan tidak pantas kalau aku mewarnai rambutku dengan warna tidak natural."
"Kau bisa mewarnainya khusus malam ini, nona. Warnanya bisa hilang bila kau mencuci rambutmu."
"Sungguh?"
Pegawai salon itu mengangguk.
"Bagaimana kalau blonde?"
Kedua pegawai salon itu tersenyum dan saling memberi tatapan penuh arti.
tbc
