Disclaimer: seventeen's belongs to Pledis, but the storyline's belong to me. warning! homosexual theme.

© 2016 Oxydien Storyline


Seungkwan tahu betul alasan kenapa dia memilih lagu Utada Hikaru. Minggu lalu sewaktu dia selesai berdoa di gereja dekat kompleks rumahnya, Seungkwan tak sengaja melihat Seokmin keluar dari toko musik sambil menjinjing sebuah tas karton dengan gambar Utada Hikaru terpampang jelas disana. Jadi Seungkwan pikir, dia bisa memilih lagu yang sama dengan Seokmin agar kemauannya untuk berusaha menyaingi Seokmin semakin meningkat.

Junhui tahu hal tersebut karena hey, dia itu sahabat Seokmin dan juga Seungkwan. Seokmin teman satu kelasnya, sedangkan Seungkwan adalah teman sepermainannya bersama Soonyoung. Oleh sebab itulah, ketika Soonyoung, Seungkwan, Seungcheol, dan juga dirinya berkumpul di rumah Jihoon, Junhui mengabaikan ocehan Soonyoung tentang betapa ganasnya siswi di sekolah putri yang satu yayasan dengan sekolah putra tempatnya bersekolah, dan lebih memilih untuk memperhatikan Seungkwan yang sibuk mendengarkan lagu lewat earphone-nya.

"Kupikir itu bukan rencana yang bagus, Boo."

Seungkwan menatapnya Junhui heran, lalu melepas earphone-nya, "Apa barusan kamu bicara sesuatu, Junhwi hyung?"

"Kamu memakai lagu yang sama dengan Seokmin 'kan? Niat sekali sampai memata-matainya begitu," Junhui memakan potongan buah apel yang dipotong oleh Seungcheol, "dan kupikir itu bukan rencana yang bagus."

Mata Seungkwan menyipit. Memangnya dia merencanakan apa sih? Perasaan Seungkwan mengatakan kalau dia tidak melakukan apa-apa, apalagi memata-matai Seokmin. Cih, memikirkan itu saja membuatnya merinding sendiri. Seperti orang tidak punya kerjaan saja.

"Begini ya, hyung. Aku tidak paham apa maksud perkataanmu. Aku memang memilih lagu yang sama dengan Seokmin tapi bukan berarti aku merencanakan sesuatu yang buruk padanya. Oh ayolah, kamu benar-benar Moon Junhwi yang sudah berumur 18 tahun 'kan? Pemikiranmu sungguh jauh diluar ekspektasiku, hyung."

Tanpa kedua orang itu sadari, Soonyoung sudah berhenti mengoceh sejak awal Junhui memakan potongan buah apel, begitu juga dengan Seungcheol yang nampak lebih tertarik dengan pembicaraan kedua laki-laki itu daripada ocehan Soonyoung sebelumnya.

Seungkwan bangkit dari tempat duduknya, "Dan satu hal yang perlu kamu ketahui," matanya menatap tajam ke arah Junhui yang masih terlihat tenang di posisinya, "aku tidak pernah mematai-matai Seokmin."

Tepat setelah Seungkwan hendak berbalik untuk pergi dari ruang makan itu, Ia terkejut karena sosok Seokmin tiba-tiba muncul di hadapannya, dengan ekspresi yang tak bisa digambarkan oleh Seungkwan sendiri.

Kedua mata teduh Seokmin membentuk sebuah lengkungan, selaras dengan senyum lebar yang terpatri di wajahnya.

"Halo, Boo Seungkwan."


I Wanna Runaway! (2)

Hansol Vernon Chwe x Boo Seungkwan / VerKwan

Boys-love;Shonen-ai!, drama, AU!, friendship, school-life, romance, fluff, OOC!

FF ini ada kaitannya dengan FF JunHao 'Ice Ice Baby' yang ku-post sebelumnya. Bakal ada beberapa missing part yang bisa kalian cari di FF-ku yang itu. Happy reading!


Hansol memeriksa kantung belanjaannya, kemudian tersenyum lega ketika barang yang tadi Ia kira tertinggal ternyata masih ada di kantungnya. Besok adalah hari besar karena kakak misannya yang bernama Jeon Wonwoo akan berulang tahun. Dirinya telah bekerjasama dengan Minghao yang juga adalah teman dekat Wonwoo untuk menyiapkan sebuah pesta kecil-kecilan karena mereka sama-sama tahu kalau Wonwoo tidak suka keramaian; pesta besar-besaran. Begitu tiba di halte bus, Hansol langsung menaruh kantung belanjaannya di tanah, kemudian mengecek ponsel pintarnya yang baru saja bergetar—menandakan ada panggilan masuk.

"Yeoboseyo?"

"…."

"Ah! Ye, ahjussi! Aku akan segera kesana."

Setelah sambungannya terputus, buru-buru Hansol menekan tombol dial di ponselnya yang otomatis membuatnya terhubung ke nomor ponsel kekasih kakak misannya itu. Kakinya Ia ketukan ke tanah, tak sabar karena matahari sudah mulai terbenam di ufuk barat, menandakan malam akan segera tiba. Hansol harus tiba di rumah sebelum malam tiba kalau tidak mau mendapat omelan dari Ibunya nanti.

"Oh hei, Mingyu! Apa kau sedang sibuk?"

"…."

Sebuah helaan nafas lega tanpa sadar meluncur dari bibir Hansol, "Baguslah. Kalau begitu tolong cepat jemput aku di Halte Bus dekat jalan xxx daerah gang-nam. Akan kujelaskan nanti kalau kau sudah sampai. Kutunggu 10 menit. Bye." Dan memutus sambungannya secara sepihak. Hansol tak perlu terlalu menjaga sikapnya di hadapan Mingyu karena pada dasarnya Wonwoo sendiri yang menyuruhnya untuk tidak terlalu sopan dengan si boss cilik itu. Katanya sih biar Mingyu tidak menjadi orang yang sombong saat dewasa nanti. Ck, apalah itu, Hansol tidak perduli soal itu, yang penting dia tidak melanggar omongan Wonwoo saja.

Benar saja, Mingyu datang menjemput Hansol dengan mobil sport silvernya dalam waktu hampir 10 menit.

Sementara Hansol memakai sabuk pengamannya, di kursi pengemudi Mingyu terlihat melebarkan senyum kekanakannya, "Jadi kita mau kemana, Vernon hyung?" tanyanya antusias.

"Ke tempatku bekerja sampingan."

"Oh dan ingat, jangan mengebut. Aku gampang mabuk darat."

Mingyu diam-diam tersenyum jenaka, dan Hansol menyadarinya. Tapi sepertinya Ia terlambat karena sebelum Ia sempat memperingati yang lebih muda, badannya sudah tertarik ke belakang, hasil gravitasi yang disebabkan oleh kecepatan mobil Mingyu. Pada akhirnya Hansol harus menahan kalimat kasar dalam bahasa Inggrisnya selama perjalanan menuju tempat kerjanya. Kalau nanti Hansol muntah, ingatkan dia untuk muntah tepat di wajah Kim Mingyu.


Pemuda dengan rahang tegas dan hidung bangir itu masih setia pada posisi duduk tegapnya. Jangan lupakan juga mata tajamnya yang seolah mampu menembus benda apa saja yang di tatapnya, termasuk wajah pemuda lainnya yang berpipi tembam di hadapannya itu. Helaan nafas –untuk kesekian kalinya— keluar dari bibir tipis pemuda itu, tapi kali ini pemuda itu akhirnya berdiri.

"Kamu serius masih dendam padaku karena kejadian setahun yang lalu, Kwan-ah?"

Yang berpipi tembam—Seungkwan—hanya diam membisu. Dan pemuda ber-rahang tegas itu menyimpulkannya 'iya' sebagai jawabannya.

"Seok—"

"Diam, Wen."

Junhui diam, akan tetapi otaknya terus berputar memikirkan bagaimana caranya agar dia bisa membantu. Bagaimana pun juga, sahabat mana yang mau melihat kedua sahabatnya bertikai karena masalah sepele begitu? Pada akhirnya, Junhui memutuskan bahwa bantuan yang paling tepat untuk saat ini adalah diam; namun tetap bersikap siaga, siapa tahu pertikaian itu berubah menjadi adu jotos.

"Boo Seungkwan. Kali ini aku ingin agar semuanya jelas dan tuntas. Aku tidak ingin lulus dengan membawa masalah ini. Kamu tahu 'kan, aku tidak pernah ada niatan untuk mencari musuh di sekolah? Apalagi bermusuhan dengan teman seperjuanganku di dunia tarik suara. Apa kamu masih tidak paham situasinya, Kwan-ah?"

Untuk pertama kalinya, Seungkwan mendongak, memperlihatkan kedua iris mata hazelnya yang begitu bersinar diterpa cahaya matahari yang mulai terbenam. Seungkwan membuka mulutnya, namun menutupnya sepersekian detiknya disusul dengan kepala yang kembali tertunduk. Dan yang keluar dari bibirnya hanyalah sebuah cicitan, "Maaf.." dalam, penuh penyesalan.

Seokmin menatapnya iba, tapi cepat-cepat Ia menghapuskan perasaan iba itu. Kalau Ia melepeskan Seungkwan sekarang, dapat dipastikan masalah ini tidak akan pernah terselesaikan; karena Seungkwan akan enggan bertemu dengannya walau itu di sekolah sekalipun. Jadi, Seokmin mendudukkan dirinya di sebelah Seungkwan, menatap lurus pada dedaunan pohon cemara yang hidup subur di bagian belakang rumah keluarga Seungcheol. Soonyoung dan Seungcheol tidak ingin ikut campur dalam permasalahan antar sahabat itu, dan lebih memilih untuk main game online bersama di dalam rumah Seungcheol. Sementara Junhui, entah kenapa ditugaskan oleh Seungcheol untuk menemani Seokmin dan Seungkwan, jaga-jaga kalau misalnya mereka berdua melakukan hal-hal yang diluar batas; tanpa disuruh pun sebenarnya Junhui akan tetap menemani mereka.

Jemari kurus Seokmin mengeratkan syal merah maroon yang dikenakan oleh Seungkwan, lalu beralih mengeratkan miliknya sendiri. "Aku tidak masalah kalau kamu masih dendam padaku, tapi boleh tidak aku minta satu hal?"

Kedua tangan Seungkwan mulai tidak bisa diam, menandakan bahwa sang empunya tangan sedang gusar atau tidak nyaman dengan situsasi itu sekarang, tapi Seokmin tidak memperdulikannya. Tanpa adanya jawaban, Seokmin melanjutkan ucapannya sendiri, "Aku minta agar kamu bersikap biasa saja padaku. Tidak apa-apa kalau itu berarti kamu bermuka dua di depanku, aku lebih memilih kamu bermuka dua daripada menjauhiku selama setahun penuh seperti ini. Ini membuatku frustasi, kalau kamu mau tahu saja."

"Aku tidak mau menghabiskan waktu terakhirku di masa Sekolah Menengah Atas bersama dengan masalah ini. Aku ingin kita berteman seperti dulu, bersaing seperti dulu. Bukankah sosok Boo Seungkwan yang pertama kali kukenal tidak memiliki kata menyerah dalam kamus hidupnya?"

Kepala Seungkwan mendongak, menampilkan matanya berkaca-kaca dengan hidung memerah seperti menahan tangis. Junhui menahan tawanya mati-matian ketika melihat ekspresi yang lebih muda, sementara Seokmin tampak masih tenang.

Tangan kanan Seokmin terulur ke arah kepala Seungkwan, mengacaknya gemas. "Kita harus berjuang dan bersaing bersama ya, Kwannie. Janji?" Seokmin mengarahkan jari kelingkingnya yang dibalas dengan tatapan penuh arti dari Seungkwan. Matanya mengerjap polos sebelum jari kelingkingnya mengait pada jari kelingking milik Seokmin, dan setelahnya tangis Seungkwan pun pecah.

Soonyoung dan Seungcheol muncul dari balik pintu belakang rumah, menatap Junhui bingung, sementara yang ditatap hanya mengisyaratkan bahwa semuanya baik-baik saja. Junhui di sisi lain hatinya tidak bisa untuk tidak merasa lega karena semuanya berjalan hangat.

"Yaampun, Boo Seungkwan cengeng sekali."


Laki-laki dengan hoodie hitam itu berjalan cepat menuju halte bus, berusaha menghalau dingin yang menyergapnya ketika malam menjelang. Hansol, nama laki-laki itu kemudian duduk di dalam halte dengan tenang. Ia mengecek ponselnya, dan disitu tertera 4 panggilan masuk dari Ibunya, 2 dari Minghao, dan 1 dari Mingyu, oh lupakan dari Mingyu ternyata itu hanya salah pencet; Mingyu mengiriminya pesan kalau dia salah pencet. Hansol kemudian memilih untuk mengirim pesan pada Ibunya bahwa dia akan pulang sedikit terlambat karena ada urusan, lalu menekan tombol dial yang terhubung langsung dengan nomor ponsel Minghao.

Sambil menunggu teleponnya diangkat, Hansol mengedarkan pandangannya ke jalanan Seoul yang masih ramai, matanya berkeliaran kesana kemari, hingga Ia menemukan sosok orang yang dikenalnya sedang berjalan menuju dirinya.

"Halo, ada apa, Minghao hyung?" Hansol berbicara di teleponnya, namun matanya masih memperhatikan sosok bertubuh sedikit berisi itu berjalan lambat ke arahnya.

"…"

"Oh, belanjaannya sudah kutitipkan pada Mingyu. Dia akan datang ke rumahmu besok pagi."

Sosok itu sudah dekat, membuat Hansol menyadari ada sesuatu yang janggal padanya. Dia habis menangis?

"…."

Hansol tidak lagi fokus pada suara yang diseberang, perhatiannya terpusat pada sosok orang yang ternyata adalah laki-laki bernama Boo Seungkwan yang beberapa hari lalu datang ke tokonya. Seungkwan mendudukkan dirinya di kursi halte dengan jarak yang cukup jauh dengan tempat Hansol. Kepalanya masih menunduk, hanya menampilkan rambut hitam kecoklatan miliknya dengan poni yang mulai panjang menjuntai di sisi depannya.

"Vernon Chwe!" suara di seberang teleponnya berteriak, membuat kesadaran Hansol kembali.

"Nanti aku akan menghubungimu lagi, hyung. Aku ada urusan. Bye." Memutus panggilannya secara sepihak.

Seungkwan tiba-tiba menoleh ke arahnya, membuat pandangannya dan Seungkwan bertemu. Dan disana Hansol tahu betul kalau Seungkwan benar-benar habis menangis. Hansol berdiri dan duduk di sebelah Seungkwan tanpa meminta persetujuan dari yang lebih tembam.

"Bernon Chwe ya?" tanya Seungkwan setelah memperhatikan Hansol dengan lekat.

"Yup! Lebih tepatnya Vernon Chwe, tapi kalau kamu merasa Bernon Chwe lebih gampang diucapkan panggil saja aku begitu." Kata Hansol seraya menyusupkan kedua tangannya ke dalam kantung jaketnya. Ia menoleh sekilas ke arah Seungkwan lalu tertawa singkat.

"Apa ada yang lucu?"

"Tidak ada," sergah Hansol cepat, "aku hanya merasa aneh karena dengan tidak tahu malunya duduk di sebelahmu. Biasanya aku selalu menghindari orang baru." Lanjutnya tenang.

"Tidak apa-apa, aku justru malah senang berteman dengan orang yang tidak tahu malu." Seungkwan tertawa di sela-sela ucapannya, membuat Hansol sweatdrop. Tadinya Ia hanya bercanda tapi sepertinya candaannya itu dianggap serius oleh Seungkwan; dan dia merasa diejek.

"Aku benar-benar kelihatan tidak tahu malu ya?"

Seungkwan tersenyum lebar, lalu mengangguk, dan tertawa karena Hansol langsung cemberut setelahnya. Hansol tidak tahu apa yang terjadi pada jantungnya yang berdegup kencang, hanya satu hal yang dia tahu, tawa Seungkwan membuat dirinya merasa sangat tenang, dan dia menyukai hal itu.

Hansol mengeluarkan ponsel serta earphone-nya dari kantung jaketnya. "Aku mencari tahu tentang lagu Utada Hikaru yang mempunyai makna sangat bagus. Kamu mau dengar lagunya tidak?" Seungkwan menjawabnya dengan mengangguk pelan. Otaknya masih terlalu lamban untuk mencerna kenapa Hansol tahu tentang penyanyi yang Seungkwan akan nyanyikan lagunya nanti di Festival Hangsan.

Seungkwan berjengit saat Hansol memasukkan salah satu earphone ke telinganya. "Oh maaf." Ucap Hansol sambil tersenyum canggung. Seungkwan balas tersenyum, lalu memasangkan earphone ke telinganya dengan benar. Beberapa detik kemudian, sebuah lagu mengalun di telinganya.

(#NowPlaying Utada Hikaru – Comeback To Me)

Baby comeback to me.

I'll be everything you need.

Baby comeback to me.

You're one in a million.

.

Pemuda berpipi tembam itu terbangun dari tidurnya setelah bus yang Ia tumpangi sampai di halte dekat rumahnya. Ia kemudian berjalan keluar bus dengan sedikit terhuyung. Matanya menatap kosong jalan setapak di depannya. Tak lama kemudian, sebuah senyum terukir di wajah lelahnya.

"Walaupun kamu baru pertama kali mendengarnya, tapi aku harap kamu akan menyukai lagu ini, sama seperti aku yang menyukaimu."

Pemuda tembam itu tertawa kecil dalam perjalanan pulangnya.

"Apa-apaan laki-laki tadi. Dia tidak normal ya?"

.

To Be Continued

0 – aku suka banget ngebahas masalah persahabatan jadinya ff ini gak bakal terlalu fokus di genre romance aja. Maaf banget buat yang kecewa TT

00 – aku nyoba buat ngasi pembatas di setiap perpindahan cerita, dan aku ngerasa ini bukan style-ku. Tapi untuk ff ini karena partnya cukup panjang (#bocoran) aku bakal kasi pembatasnya biar rapi dan gak bikin bingung.

000 – aku berpikir buat ngasi sesuatu berbau rated M di ff ini, tapi masih bingung mau make pair mana. (pengennya sih crack pair biar dramatis gitu ya lol #gakwoy)

0000 – aku bakal update ff setiap minggu ini kalau banyak yang minat. So, mind to RnR?

00000 – terimakasih sudah mau membaca ff ini! Lovelove!