Chapter 2
Title : In a Blue Moon
Cast: Kim Kai, Park Chanyeol, Wu (Kim) Yifan, Lee (Kim) Soohyuk, Park Yoochun, Kim Hyungsoo
Pairing: Chankai
Rated : T
Warning: GS for Kai
Remake Novel Ilana Tan dengan judul yang sama
Note: Kata-kata yang menggunakan Italic adalah Flashback
Previous Chapter
"Kim Kai," gumam Chanyeol sambil mengulurkan tangan, "sudah lama tidak bertemu."
"Tunggu. Kalian sudah saling kenal?" tanya kakek Chanyeol dengan nada kaget dan heran.
"Kami dulu teman satu sekolah," sahut Chanyeol. Tangannya masih terulur dan tidak dijabat.
Kim Kai melirik tangan Chanyeol yang terulur, lalu kembali menatap wajah Chanyeol. Chanyeol tahu gadis itu menggertakkan gigi, melihat betapa kakunya wajah gadis itu Setelah menunggu beberapa detik, Kim Kai akhirnya menjabat tangan Chanyeol dengan cepat dan berkata, "Kami hanya bersekolah di SMA yang sama. Tidak bisa dibilang berteman."
"Astaga. Coba lihat ini, Hyungsoo. Kita berusaha memperkenalkan mereka berdua, tetapi ternyata mereka sudah saling kenal. Bukan ini kejutan yang menyenangkan?" lanjut Park Yoochun sambi tertawa gembira. Sepertinay ia tidak mendengar kata-kata Kim Kai yang terakhir. Atau ia sengaja mengabaikannya. "Duduklah, Kai. Duduklah."
Kim Kai tidak langsung duduk. Ia menatap kakek Chanyeol dengan ragu, lalu menoleh ke arah kakeknya sendiri. Chanyeol melihat Kim Hyungsoo menepuk kursi kosong di sampingnya dengan pelan, dan Kim Kai pun duduk.
Kakek Chanyeol mulai berbicara, tetapi Chanyeol tidak terlalu mendengarkan. Pikirannya dipenuhi satu pertanyaan: Apakah Kim Kai masih membencinya?
.
.
.
Chapter 2
"Jadi, Chanyeol yang bertanggung jawab mengurus Ramses di New York, sementara ayahnya mengurus Ramses di Chicago," jelas Yoochun dengan nada bangga.
"Oh, Ramses?" kata kakek Kai. "Kita juga pernah mencoba memesan meja di sana, bukan, Kai? Tapi tidak berhasil."
Kai memaksakan seulas senyum kecil untuk berbasa-basi. Mereka memang pernah ingin memesan meja di Ramses, tetapi itu sebelum Kai tahu siapa kokinya. Sekarang setelah ia tahu? Ha! Ia tidak sudi pergi ke sana lagi.
"Benarkah? Aku minta maaf," ujar Chanyeol. "Beritahu aku kapan kalian ingin datang, dan akan kupastikan kalian mendapat meja."
Kai ingin mendengus, tetapi ia menahan diri. Sebagai gantinya ia menyesap anggur merahnya dan memandang ke sekeliling ruangan. Di mana Kris Oppa ketika aku membutuhkannya?
Saat itu seorang pelayan menghampiri meja mereka dan menawarkan potongan-potongan kue pengantin.
"Omong-omong, Chanyeol, kau belum mencicipi kue pengantinnya, bukan?" lanjut Yoochun. "Kuenya enak sekali. Kai yang membuatnya. Dia membuka toko di... Di mana, Hyungsoo? Apakah di Madison Avenue?"
Kakek Kai membenarkan.
"Kalian benar. Kue ini benar-benar enak."
Kai menoleh dan mendapati Chanyeol menatapnya sambil tersenyum kecil.
"Aku ingat dari dulu kue buatanmu memang enak."
Tiba-tiba saja kekesalan Kai memuncak. Cengkeramannya di gelas anggurnya semakin kencang. Ia yakin apabila ditambah sedikit tekanan lagi, gelas itu pasti hancur berkeping-keping. Ia sama sekali tidak suka melihat Chanyeol duduk di sana dan berbicara seolah-olah mereka adalah teman lama. Mereka bukan teman. Mereka tidak pernah bertaman. Mereka...
Tepat pada saat itu seseorang menyentuh pundaknya dan sentuhan yang tidak asing itu dengan cepat meredakan ketegangan Kai. Ia mendongak dan tersenyum.
"Halo, Adik Kecil," kata Kim Yifan ketika Kai mendongak menatapnya.
"Ah, ini cucuku, Yifan atau biasa dipanggil Kris," kata kakek Kai.
Kris menyunggingkan senyumnya yang menawan sambil senyumnya yang menawan sambil berjabat tangan dengan Chanyeol dan kakeknya.
"Selamat atas pernikahanmu," kata Chanyeol ketika ia menjabat tangan Kris.
"Oh, pengantin prianya bukan aku, melainkan kakakku, Woobin. Dan kau Park Chanyeol dari Ramses? Senang bertemu denganmu," balas Kris ramah. "Kuharap kalian tidak keberatan aku menculik Kai sebentar. Dia sudah berjanji akan berdansa denganku malam ini."
"Ke mana saja Oppa dari tadi?" gerutu Kai ketika mereka sudah bergabung bersama pasangan-pasangan lain di lantai dansa. "Oppa tidak tahu pipiku nyaris retak karena harus memaksa diri tersenyum terus."
Kris memutar Kai dan mereka pun mulai berayun mengikuti irama musik dengan mudah. "Aku melihatmu," sahutnya tenang. "Karena itulah aku datang menyelamatkanmu sebelum kau menyemburkan api—atau minumanmu—ke wajah Park Chanyeol.
Kai meringis.
"Apa yang sudah dilakukan Park Chanyeol sampai kau terihat seolah-olah ingin mencakarnya? Kau bukan jenis orang yang membenci seseorang pada pertemuan pertama."
Kai tahu ia tidak bisa membohongi kakak-kakaknya, tetapi itu tidak berarti ia harus menceritakan segalanya saat ini juga. Jadi ia memilih versi yang jauh lebih singkat dan sederhana. "Kami dulu bersekolah di SMA yang sama. Dia pernah menggangguku, dan karena itulah aku tidak menyukainya."
Kris menatap Kai dengan mata disipitkan, seolah-olah berusaha membaca pikiran Kai yang sebenarnya. Lalu wajahnya mendadak berubah serius. "Apakah dia yang dulu mengganggumu karena kau anak adopsi? Orang yang membuatmu menangis setiap hari setiap kali kau pulang dari sekolah?"
"Oh, sst! Pelankan suaramu," sela Kai sambil melotot. "Kejadian itu sepuluh tahun yang lalu. Dan aku tidak menangis setiap hari."
"Aku tidak peduli itu kejadian hari ini, kemarin, atau sepuluh tahun yang lalu. Kalau ada orang berani membuat adikku menangis, dia harus menanggung akibatnya." Kris yang dingin dan santai kini berubah menjadi Kris yang serius dan protektif, yang tanpa ragu akan menghajar siapa pun yang berani mengganggu adiknya.
Kai menempelkan kedua telapak tangannya ke bahu Kris, untuk menenangkannya sekaligus menahannya. "Dengar, aku baik-baik saja. Aku bisa mengurus masalah ini sendiri. Lagipula, apakah kau benar-benar ingin menghajarnya di tengah-tengah pesta pernikahan Soohyuk Oppa?"
"Kris ingin menghajar siapa di pesta pernikahnku?"
Kai dan Kris seretak menoleh ke arah kakak sulung mereka yang mendadak sudah berdiri di samping mereka.
"Tidak ada," Kai menjawab dengan cepat. Ia kembali menatap Kris dan berkata penuh tekanan, "Kita baik-baik saja, bukan, Kris Oppa?"
Kris kembali menyipitkan mata menatap Kai. "Ya, kita baik-baik saja. Untuk sementara ini," desahnya. Lalu dengan suara yang lebih pelan, ia menambahkan, "Tapi jangan berpikir aku akan melupakan masalah ini, Adik Kecil."
Soohyuk meraih tangan Kai yang ada dalam genggaman Kris dan memutar Kai ke hadapannya. "Berdansalah denganku, Kai. Kau tahu aku lebih jago berdansa daripada Kris."
Kai tertawa dan membiarkan dirinya ditarik ke arah kakak sulungnya.
"Oh, baiklah," desah Kris sambil mengangkat kedua tangannya tanda menyerah dan mengerdip ke arah Kai. "Kalau begitu aku akan berdansa degan istrimu yang kau abaikan, Hyeong."
Sepeninggal Kris, Soohyuk menunduk menatap Kai sambil tersenyum. "Jadi apa yang kalian bicarakan tadi, Adik Kecil?"
"Tidak ada yang penting," balas Kai tertawa.
Soohyuk dan Kris masing-masing berusia delapan dan enam tahun lebih tua darpada Kai. Apabila melihat dari penampilan lua, semua orang pasti tahu bahwa Kai bukan saudara kandung mereka. Soohyuk dan Kris bertubuh jangkung, berambut cokelat terang, dan bermata abu-abu. Tetapi, walaupun mereka bukan kakak-kakak kandung Kai, mereka selalu memperlakukan Kai seperti adik kandung mereka sendiri.
Ketika orangtua mereka meninggal dunia dalam kecelakaan lalu lintas, Kai yang masih duduk di bangku SMA pun pindah dari Chicago ke New York untuk tinggal bersama kakek dan neneknya. Saat itu Soohyuk baru mulai bekerja di perusahaan iklan New York dan Kris masih menjalani kuliah kedokterannya di Pennsylvania, namun mereka berdua memastikan Kai melanjutkan sekolah dan kuliahnya di New York. Mereka jugalah yang pada akhirnya membantu mewujudkan ipian Kai membuka toko kue.
"Apakah Oppa bahagia?" tanya Kai kepada Soohyuk sementara mereka berdansa dengan ringan. Almarhum orangtua mereka dulu suka berdansa, dan kesukaan itu sepertinya menurun kepada anak-anak mereka.
"Melihat adikku bahagia," balas Soohyuk. Lalu ia menambahkan dengan nada yang lebih serius, "Dengar, Kai, aku ingin kau tahu bahwa pernikahanku ini tidak mengubah apa-apa. Kau tetap orang terpenting bagiku. Kau mengerti?"
"Oh, Oppa," desah kai sambil tersenyum sayang. "Kau beruntung Jenna wanita yang baik." Tidak semua wanita bersedia menerima kenyataan bahwa dirinya bukan wanita paling penting bagi suaminya.
"Ya, dia memamng wanita yang baik," Soohyuk membenarkan. "Tapi aku bersungguh-sungguh, Kai. Tidak ada yang berubah. Apa pun yang kaubutuhkan..."
"Kau akan menggerakkan langit dan bumi untuk mewujudkannya," sela Kai. "Aku tahu, Oppa. Karena itu aku sangat menyayangimu. Tapi hari ini adalah hari pernikahnmu, jadi sebaiknya Oppa memikirkan dirimu sendiri dan bersenang-senang. Jangan cemaskan aku. Oke?"
Soohyuk terlihat ragu.
"Oppa, nikmati pesta pernikahanmu," Kai menegaskan sekali lagi.
Akhirnya Soohyuk mengembuskan napas dan tersenyum. "Baiklah, Adik Kecil. Baiklah."
.:In a Blue Moon:.
"Penyihir itu menempatkanku di kelompok hiasan sulam!" seru Toby tertahan dari sebelah kanan Chanyeol setelah mereka keluar dari kantor si penyihir yang disebut-sebut tadi, alias Miss Fleming, guru bahasa Inggris mereka. "Hiasan Natal! Kedengarannya mengerikan."
"Aku disuruh membantu kelompk pembuat kartu Natal," timpal Max dari sebuah kiri Chanyeeol sambil memberengut jijik. "Itu lebih mengerikan lagi. Reputasiku di mata para cewek pasti akan jatuh, seiring dengan harga diriku."
Chanyeol menatap kedua temannya bergantian dengan jengkel. "Semua ini gara-gara kalian, dasar bodoh! Kenapa kalian melepas tikus-tikus itu di kelas Miss Fleming?"
"Aku tidak melepas mereka!" bantah Toby. "Mereka lepas sendiri."
Penggagas ide konyol untuk "menghidupkan kelas" yang membosankan adalah Max. Toby kemudian melontarkan ide melepaskan tikus-tikus putih peliharaannya di dalam kelas. Dan Chanyeol mengusulkan mereka melakukannnya di kelas sejarah, karena Mr. Boone, guru sejarah mereka yang sama membosankannya seperti mata pelajaran yang diajarnya, buka tipe guru yang suka marah-marah. Dia hanya akan mengeluh dan memijat-mijat pelipisya melihat kelakuan anak-anak. Jadi mereka pasti aman dari hukuman.
Tetapi entah bagaimana, tikus-tikus Toby berhasil melepaskan diri dari kandang dan menimbulkan keributan besar di tengah-tengah kelas bahasa Inggris. Para anak perempuan menjerit-jerit, beberapa anak laki-laki juga ikut berteriak-teriak ketakutan dan naik ke meja. Dalam hal jerit-menjerit, Miss Fleming-lah pemenangnya. Itu pertama kalinyaChanyeol melihat guru bahasa Inggris-nya yang bertubuh tinggi besar menjerit begitu keras ketika seekor tikus melesat ke arahnya dengan membabi buta.
"Ini semua idemu, dan itu dalah tikus-tikusmu," kata Chanyeol sambil menunjuk Max, alu Toby. "Aku tidak mengerti kenapa aku juga ikut dihukum."
"Karena kau yang tertawa paling keras, Teman," sahut Max ringan.
"Kau nyaris berguling-guling di lantai dan sesak napas karena tertawa terlalu keras," timpal Toby sambil terkekeh.
Chanyeol memberengut jengkel. Ya, tadi ia memang merasa kejadian itu sangat lucu. Tetapi Miss Fleming tidak sependapat. Dengan wajah merah padam kaena marah, Miss Fleming meyeret mereka bertiga ke kantaornya, mengomeli mereka habis-habisa, dan memberikan hukuman sadis kepada mereka. Mereka harus ikut membantu persiapan bazar Natal yang akan diadakan oleh sekolah mereka akhir pekan ini.
"Baiklah, Chanyeol, silahkan langsung mulai bekerja,"kata Miss Jenkins sambil bertepuk tangan, tanpa menjelaskan lebih jauh. Sepertinya ia berharap Chanyeol langsung tahu apa yang harus dilakukannya tanpa perlu diberitahu.
Chanyeol kembali mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. Ia tidak mengenal sebagian besar anggota kelompok pembuat kue itu. Ada beberapa wajah yang pernah dilihatnya karena mereka berasal dari angkatan yang sama dengannya, tetapi ia memilih menjaga jarak dari mereka karena mereka termasuk "orang-orang aneh sebaiknya dijauhi". Akhirnya Chanyeol memilih menghampiri seorang anak perempuan berambut merah keriting dan wajah berbintik-bintik. Adik-adik kelas jauh lebih mudah didekati dan lebih mudah dibuat terpesona.
"Hai, ada yang bisa kubantu?" tanya Chanyeol ringan.
Anak perempuan itu terkesap dan matanya melebar menatap Chanyeol. Menurut Chanyeol, melongo seperti itu sangat tidak sopan, tetapi ia sudah terbiasa melihat anak-anak perempuan yang tidak berkutik di hadapannya.
"Aku... itu..." Anak perempuan itu teragap-gagap. Lalu tiba-tiba matanya beralih menatap ke belakang Chanyeol dan ia langsung tersenyum lega.
Chanyeol berbalik dan melihat seorang anak perempuan berwajah Asia, bertubuh kurus kecil dengan rambut panjang dikepang berjalan menghampiri mereka sambil membawa sebuah kantong belanjaan yang terlihat berat.
"Hei, Anne-Mrie, apakah kau bisa..."
Ucapan anak perempuan itu langsung dipotong oleh temannya yang gagap tadi. "Kai! Ini..." Ia menunjuk Chanyeol.
Chanyeol memutar bola matanya. Menunjuk seseorang juga sangat tidak sopan.
"Anak perempuan berwajah sia itu menatap Chanyeol dengan bingung. "Ya?" tanyanya. "Ada yang bisa kubantu?"
Anak perempuan ini tidak gagap. Walaupun bertubuh kecil, nada suaranya terdengar dewasa. Chanyeol mengangkat bahu dan berkata, " Justru aku yang ingin bertanya apakah ada yang bisa kubantu. Aku ditugaskan membantu di sisi."
"Oh, begitu. Baiklah. Kau bisa mulai membantu dengan membawa ini ke meja yang di sebelah sana," kata anak perempuan itu sambil mendorong kantong belanjaannya kepada Chanyeol.
Chanyeol menerima kantong belanjaan yang disodorkan dan menyadari bahwa kantong itu memang seberat yang dilihat. "Wow," gumam Chanyeol sebelum ia sempat menahan diri.
Anak perempuan itu mengangkat alis. "Terlalu berat?"
Chanyeol menegerjap. "Tidak. Temtu saja tidak," katanya cepat. Untuk membuktikan ucapannya ia memeluk kantong belanjaan itu dengan tangan kiri dan mengulurkan tangan kanannya ke arah anak perempuan itu. "Omong-omong, namaku Chanyeol."
Anak perempuan itu menjabat tangan Chanyeol dengan tegas dan tersenyum lebar. "Hai, Chanyeol. Aku Kai dan itu Anne-Marie," katanya. "Ayo, kira mulai bekerja."
Di bulan desember di tahun terakhir SMA-nya, Chanyeol pertama kalinya bertemu dengan Kim Kai.
.:In a Blue Moon:.
"Cuaca dingin sialan."
Gerutuan kakeknya membuyarkan lamunan Chanyeol. Ia mengangkat wajah dan melihat kakekny berjalan memasuki dapur apartemennya dengan balutan jubah tidur yang tebal dan langkah tertaih-tatih. "Selamat pagi, Pop. Tidurmu nyenyak?" sapanya, lalu menyesap kopinya yang ternyata sudah dingin. Astaga, sudah berapa lama ia duduk melamun di meja sarapan?
"Tidurku baik-baik saja," sahut kakeknya serak. "Kau tidak menyalakan pemanas di sini?"
"Sudah," kata Chanyeol sambil memandang berkeliling. Seluruh apartemennya terasa hangat dan nyaman. "Kau masih merasa kedinginan?"
"Aku benci cuaca dingin," gerutu kakeknya sambil duduk dengan susah payah di hadapan Chanyeol di meja sarapan. "Tuangkan secangkir kopi untukku, Nak."
Chanyeol menurut, dengan cepat menuangkan kopi panas ke dalam cangkir dan mendorong cangkir itu ke seberang meja ke arah kakeknya. Lalu ia menuangkan secangkir kopi panas lagi untuk dirinya sendiri.
"Jadi bagaimana menurutmu?" tanya kakeknya tiba-tiba.
"Apa?" Chanyeol balas bertanya, kemudian menyesap kopi panasnya dengan perasaan lega.
"Apa pendapatmu tentang Kai? Aku sudah memberimu waktu semalaman untuk memikirkannya."
Chanyeol sudah tahu kakeknya tidak mungkin melupakan masalah yang satu itu. Kemarin ketika Chanyeol mengantarnya pulang, kakeknya sama sekali tidak mengungkit tentang Kim Kai. Sepanjang perjalanan, kakeknya membicarakan hal-hal lain: cuaca dingin bulan Desember di New York yang membuat tulang-tulangnya ngilu, lalu lintas New York yang membuatnya nyaris selalu membuatnya mengalami serangan jantung, orangtua Chanyeol yang sudah tidak sabar ingin Chanyeol kembali ke Chicago untuk merayakan Natal bersama.
Karena Chanyeol tidak menjawab, kakeknya melanjutakan, "Dia manis, bukan? Kau harusnya berterima kasih kepadaku karena aku sudah memilihkan tunangan semanis Kai."
Chanyeol mendesah keras. "Kalau kau begitu menyukainya, kenapa bukan kau saja yang bertunangan dengannya?"
"Ha! Seandainya saja aku lima puluh tahun lebih muda."
"Seandainya saja Nana mendengarmu berbicara seperti ini," balas Chanyeol.
"Jangan bawa-bawa nenekmu ke dalam masalah ini. Aku yakin almarhum nenekmu pasti menyetujui pilihanku untukmu."
"Dengar, Pop," kata Chanyeol serius. "Aku mungkin sudah terbiasa dengan selera umormu yang aneh, tapi Kai tidak. Jadi sebaiknya kau tidak mengungkit masalah pertunanagan di depannya."
Kakeknya mengangkat bahu. "Tapi dia sudah tahu."
"Apa?"
"Kemarin ketika kau pergi mengambil minuman untukku, Kai kembali ke meja setelah berdansa dengan kakaknya," kakeknya menjelaskan. "Aku berkata padanya bahwa seharusnya kau mengajaknya berdansa mengingat kalian sudah bertunangan."
"Apa?!"
"Dia menatapku seolah-olah aku gila."
"Tentu saja di berpikir kau sudah gila! Dia... kau... aku..." Chanyeol menggerak-gerakkan tangannya dengan liar, tidak bisa menemukan kata-kata yang tepat. Akhirnya ia menghela napas keras dan mengempaskan punggung ke sandaran kursi. "Demi Tuhan, Pop, dia sudah cukup membenciku tanpa perlu diberi alasan tambahan."
"Kenapa kau berpikir ia membencimu?" tanya kakeknya dengan alis berkerut.
Chanyeol menatap kakeknya, lalu memalingkan wajah. Ia yakin apabila ada orang yang dibenci Kim Kai di dunia ini, Chanyeol-lah orangnya setelah berpikir beberapa detik, ia berkata enggan, "Aku... mungkin pernah membuatnya tersinggung dulu."
"Membuatnya tersinggung?" ulang kakeknya curiga. "Jelaskan."
"Aku.. mungkin pernah mengatakan hal-hal yang seharusnya tidak kukatakan."
Kerutan di kening kakeknya semakin dalam. "Apakah kau dulu pernah menyinggung latar belakang dan etnisnya?"
"Eh, tidak?" Chanyeol mengucapkan sepatah kata itu dengan suara ditarik dan nada ragu.
"Bagus kalau begitu," kata kakeknya sambil mengangguk. "Aku yakin ibumu akan sangat kecewa kalau kau sampai mengolok-olok temanmu hanya karena gara-gara latar belakang dan etnis."
Chanyeol mengernyit. Ibunya adalah orang Korea berkebangsaan Amerika, namun dari segi fisik, Chanyeol jauh lebih mirip ayahnya, dengan tubuh jangkung, kulit putih, rambut cokelat dan mata biru gelap.
"Kalau begitu yang ahrus kaulakukan adalah meminta maaf," kata kakek Chanyeol lagi. "Kau sudah pernah meinta maaf kepadanya?"
"Tidak sempat," sahut Chanyeol enggan. "Tidak lama setelah itu kudengar orangtuanya meninggal dunia dan dia harus pindah dari Chicago."
"Minta maaflah kepadanya sekarang," kata kakeknya. "Setelah itu semuanya akan baik-baik saja."
Chanyeol saja penyelesaiannya semudah itu.
"Aku bisa membantumu mendekatinya," kakeknya menawarkan diri.
"Tidak," seragah Chanyeol cepat. "Aku bisa mengurus masalah ini sendiri."
"Baiklah. Terserah kau saja," gumam kakekna sambil mengangkat bahu.
Chanyeol menatap kakeknya dengan curiga. Kakeknya tidak mungkin menyerah secepat itu, tetapi ia tidak berkomentar. "Kau ingin sarpan panekuk, Pop?" tanyanya sebagai gantinya dan bangkit menghampiri lemari makanan.
"Boleh," sahut kakeknya singkat.
Chanyeol pun menyibukkan diri menyiapkan adonan panekuk.
Suasana terasa damai selama beberapa menit, lalu, "Kau tahu, dia punya toko kue di Madison Avenue."
Astaga, kita mulai lagi, erang Chanyeol dalam hati.
"Nama tokonya A Piece of Cake."
"Sanagt orisinil."
"Dia selalu ada di sana kalau kau ingin menemuinya."
"Pop."
"Dan jangan mengajaknya nonton bioskop. Dia lebih suka menonton pertunjukan teater."
Chanyeol mendesah. Sepertinya pagi ini akan menjadi pagi yang sangat panjang.
.:In a Blue Moon:.
Kai sedang berjalan menyusuri koridor sekolah sambil membawa sekeranjang kue kering ke ruang serbaguna di mana bazar sedang berlangsung ketika ia mendengar permbicaraan itu.
"...lalu kenapa kau menempel terus pada Kim Kai?"
Langkah kaki Kai berhenti begitu mendengar namanya di sebut-sebut. Suara yang tida dikenalnya itu berasal dari ruang kelas kosong di sebelah kanannya. Kai menoleh dan melihat pintu ruangan it tidak tertutup rapat.
"Omong kosong apa itu? Kapan aku menempel padanya?"
Rasa penasaran Kai terbit begitu mendengar suara Park Chanyeol, anak laki-laki yang ditugaskan membantu kelompoknya selama bazar. Kai ragu sejenak, namu akhirnya kakinya melangkah pelan mendekati pintu. Ia mengintip melewati celah pintu dan melihat Park Chanyeol bersama dua orang anak laki-laki yang tidak dikenalnya. Park Chanyeol bedirir bersedekap sementara salah seorang temannya duduk merokok di samping jendela yang terbuka sedikit, dan temannya yang lain duduk berselonjor di salah satu kursi sambil menguap lebar.
"Aku melihatmu, Chan," kata temannya yang menguap tadi. "Kau terus bersama anak aneh itu sejak bazar berlangsung. Kau bahkan tidak melihat Byun Baekhyun ketika dia melenggang di depanmu."
"Aku mencium sesuatu yang mencurigakan di sini," senandung anak laki-laki yang merokok sambil tersenyum lebar. "Apakah Park Chanyeol tertarik pada si kecil Kai? Aw... Apakah Park Chanyeol jatuh cnta?"
"Tutup mulutmu," tukas Chanyeol tajam. "Kalian pasti sudah gila kalau kalian berpikir aku tertarik pada anak kurus bermuka datar itu."
Napas Kai tersekat dan kakinya otomatis mundur selangkah.
"Kau benar-benar tidak tertarik adanya? Atau kau hanya malu mengakuinya?"
"Apakah kalian tahu dia anak adopsi dan dia tidak tahu siapa orangtua kandungnya?" Chanyeol balas bertanya. "Pakai otak kalian dan coba pikir, bagaimana mungkin aku akan tertarik pada seseorang yang entah memiliki masalah kejiwaan dalam keluarganya atau tidak."
"Dia anak adopsi?"
"Ya!" Suara Chanyeol terdengar berapi-api. "Dan dia sendiri tidak tahu siapa orangtua kandungnya. Mungkin saja orangtua kandungnya kriminal. Penjahat, pembunuh, dan sebagainya. Kita tidak pernah tahu, bukan?"
"Aku tidak pernah berpikir sejauh itu."
"Mulailah berpikir. Apakah kalian masih berpikir aku akan tertarik padanya?"
"Baiklah, baiklah. Kami percaya padamu." Terdengar bunyi jendela ditutup. "Kurasa sebaiknya kita kembali ke pos masing-masing sebelum ada orang yang menyadari kita menghilang."
Kai mendengar bunyi langkah kai menghampiri pintu. Ia tahu ia harus segera menyingkir, tetapi kata-kata Chanyeol masih terngiang-ngiang di telinganya, membuatnya tidak bisa bergerak.
Pintu ruang kelas terbuka dengan cepat dan Kai bertatapan dengan Chanyeol. Mata biru gelap laki-laki itu melebar melihat Kai dan ia langsung berhenti di ambang pintu.
"Oh, sialan," gerutu teman Chanyeol yang tadi dilihat Kai merokok di samping jendela. Ia melangkah ke depan melewati Chanyeol dan mengacungkan jari telunjuknya ke arah Kai. "Kau tidak melihatku merokok. Mengerti?" katanya.
Kai menatap ketiga anak laki-laki itu bergantian, lalu tanpa berkata apa-apa, ia memaksa dirinyaberbalik dan kembali berjalan menyusuri koridor. Selangkah demi selangkah.
"Dasar anak aneh. Dia bisu atau apa? Kurasa kau benar, Chan. Pasti ada sesuatu yang tidak beres dengan otaknya."
Kai mendengarnya, namun ia tetap memaksa diri berjalan dengan kepala terangkat tinggi. Ia tidak akan menangis di hadapan mereka. Tidak akan.
Walaupun begitu, seteytes air mata sempat jatuh mengenai tangannya yang mencekeram erat keranjang kue sampai buku-buku jarinya memutih.
Sejak hari itu, entah bagaimana, gosip tentang dirinya mulai tersebar di seolah. Sebagian orang yang dulunya mengaku sebagai teman-temannya mulai menghindarinya. Orang-orang mulai mentapnya dengan tatapan aneh. Tatatpan aneh meningkat menjadi sindiran sinis. Sindiran sinis berubah menjadi serangan verbal yang terang-terangan. Serangan verbal dengan cepat meningkat menjadi gangguan fisik. Hari-harinya di sekolah berubah menjadi mimpi buruk dalam sekejap mata.
Semua gara-gara Park Chanyeol. Laki-laki itulah yang memulai gosip tentang diri Kai dan dia sma sekali tidak merasa bersalah. Tidak sedikit pun. Bagaimana Kai bisa merasa yakin stentang hal itu? Well, kaki Kai pernah dijegal seseoang keika ia berjalan sambil membawa setumpuk kertas esai yang harus diserahkannya kepada guru. Ia jatuh terjerembab dan kertas-kertas esainya jatuh berserakan. Semua orang tertawa. Tidak ada seorang pun yang menolongnya. Park Chanyeol juga ada di sana. Dan dia iku tertawa.
Di bulan Desember di tahun pertama SMA-nya, Kai untuk pertama kalinya merasa hidupnya tidak berarti.
TO BE CONTINUED
Maaf ya readers sekalian, maafkan saya yang baru update sekarang karena di sisi lain saya di sibukkan oleh banyak tugas dan tanggal 2 April kemarin saya baru selesai Ujian Sekolah. Ditambah lagi dengan berita Kai dating dengan Krystal yang mebuat saya menunda untuk me-update FF ini, jujur saya kehilangan semangat saat mengerjakan soal Ujian Sekolah tapi berhubung mata pelajarannya tidak terlalu sulit jadinya saya bisa mengerjakan soal dengan lancar ya walaupun saya tidak terlalu fokus dengan soal. Saya butuh waktu buat nenangin diri, dan untung saja nggak butuh waktu yang cukup lama. Nah, sekian cuap-cuap dari saya. Terima kasih ada yang baca cuap-cuap saya #bow. Terakhir, mohon reviewnya.
