Previous Chapter

Sejak hari itu, entah bagaimana, gosip tentang dirinya mulai tersebar di seolah. Sebagian orang yang dulunya mengaku sebagai teman-temannya mulai menghindarinya. Orang-orang mulai mentapnya dengan tatapan aneh. Tatatpan aneh meningkat menjadi sindiran sinis. Sindiran sinis berubah menjadi serangan verbal yang terang-terangan. Serangan verbal dengan cepat meningkat menjadi gangguan fisik. Hari-harinya di sekolah berubah menjadi mimpi buruk dalam sekejap mata.

Semua gara-gara Park Chanyeol. Laki-laki itulah yang memulai gosip tentang diri Kai dan dia sama sekali tidak merasa bersalah. Tidak sedikit pun. Bagaimana Kai bisa merasa yakin tentang hal itu? Well, kaki Kai pernah dijegal seseoang keika ia berjalan sambil membawa setumpuk kertas esai yang harus diserahkannya kepada guru. Ia jatuh terjerembab dan kertas-kertas esainya jatuh berserakan. Semua orang tertawa. Tidak ada seorang pun yang menolongnya. Park Chanyeol juga ada di sana. Dan dia iku tertawa.

Di bulan Desember di tahun pertama SMA-nya, Kai untuk pertama kalinya merasa hidupnya tidak berarti.

.

..

...

Title : In a Blue Moon

Cast: Kim Kai, Park Chanyeol, Wu (Kim) Yifan, Lee (Kim) Soohyuk, Park Yoochun, Kim Hyungsoo

Pairing: Chankai

Rated : T

Warning: GS for Kai

Remake Novel Ilana Tan dengan judul yang sama

Note: Kata-kata yang menggunakan Italic adalah Flashback

.

..

...

"Apa yang sedang kaupikirkan, Kai?"

Kai tersentak dan mengalihakan pandangan dari jendela ruang duduk apartemen kakeknya di West End Avenue. "Tidak ada, Gramps," ujarnya pelan sambil melemparkan seulas senyum kecil yang dipaksakan ke arah kakeknya.

"Kemarilah," kata kakeknya sambil menepuk sofa di sampingnya.

Kai menurut, duduk di samping kakeknya dan menyandarkan kepala ke bahu kakeknya yang kurus.

Saat itu mereka sedang menunggu kedatangan Kris sehingga mereka bisa makan siang bersama. Kakek mereka tinggal sendirian, jadi Kai dan kakak-kakaknya selalu menyempatkan diri datang mengunjungi kakek mereka sesering mungkin.

Setelah nenek mereka meninggal dunia dua tahun lalu, Kai dan kakak-kakaknya tidak ingin kakek mereka tinggal di Brooklyn. Namun, karena kakek mereka menolak tinggal bersama slah satu di antara mereka, mereka pun membujuk kakek mereka pindah ke kompleks apartemen fasilitas serbalengkap di Manhattan yang khususu diperuntukkan bagi para pensiunan dan orang-orang lanjut usia. Awalnya kakek mereka menolak, berkata bahwa ia tidak ingin tinggal di "panti jompo". Namun, setelah ia melihat sendiri apa kompleks apartemen yang dimaksud, terlebih setelah melihat daftar kegiatan harian yang bisa diikuti para penghuni untuk tetap menjalani hidup aktif, kakek mereka pun setuju.

"Kau tahu kan kau tidak perlu khawatir?" kata kakeknya. "Aku tidak akan memaksamu berhubungan dengan cucu Yoochun."

"Aku tidak khawatir," gumam Kai.

"Lagi pula, kalau aku memaksamu, aku harus berhadapan dengan kakak-kakakmu. Kau taahu aku sudah terlalu tua untuk menghadapi kedua anak nakal itu."

Kai tertawa. Hanya kakeknya yang menyebut Soohyuk dan Kris anak-anak walaupun usia mereka sudah di atas tiga puluh tahun. Tetapi untunglah Soohyuk dan Kris tidak ada di dekat mereka ketika Park Yoochun menyebut-nyebut tentang pertunangan Kai dengan Park Chanyeol kemarin malam. Kai tidak bisa membayangkan reaksi kakak-kakaknya apabila mereka mendengar komentar itu.

"Tapi, Gramps, kenapa Mr. Park bisa berkata seperti itu?" tanya Kai penasaran. "Bahwa aku dan cucunya sudah bertunangan."

"Well, siapa yang tahu apa yang dipikirkan Park Yoochun?" kakeknya balas bertanya. "Mungkin dia sangat terkesan padamu sampai dia ingin menjodohkanmu dengan cucunya."

"Hmm," gumam Kai datar.

"Tapi sepertinya kau tidak terkesan pada Park Chanyeol," tebak kakeknya.

"Tidak terkesan sama sekali," jawab Kai jujur.

"Jadi apa yang dilakukannya sampai membuatmu tidak terkesan padanya?" tanya kakeknya lagi, sama seperti pertanyaan Kris kemarin malam.

Kai mengangkat kepala dari pundak kakeknya dan mendesah. "Mungkin kedengarannya remeh apabila kuceritakan sekarang. Bagaimanapun, sepuluh tahun sudah berlalu." Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan, "Dia hanya salah satu anak populer menjengkelkan di sekolah yang hanya merasa bahagia apabila melihat orang lain menderita."

Kakeknya terdiam sejenak, berpikir, lalu bertanya, "Apakah dia pernah meminta maaf padamu?"

Kai menoleh menatap kakeknya dan tersenyum kecil. Ia tidak pernah tahu bagaimana kakeknya selalu bisa menarik kesimpulan yang tepat. "Tidak," gumamnya sambil menggeleng.

"Kalau dia meminta maaf sekarang?"

"Aku tidak menunggu permintaan maaf darinya, Gramps," kata Kai dengan nada melamun. "Lagi pula, permintaan maaf tidak akan mengubah apa yang sudah terjadi. Tidak akan menjadikan semuanya baik-baik saja."

Kakeknya meraih tangan Kai dan menepuk-nepuknya dengan sayang. "Tapi, asal kau tahu, Yoochun orang yang keras kepala," kakeknya memperingatkan.

Kai menarik napas panjang. "Jangan khawatir. Aku yakin tidak akan bertemu dengan Park Chanyel lagi. Selamanya, kalua perlu." Merasa perlu mengubah topik pembicaraan ke hal-hal yang tidak terlalu menyesakkan, ia berkata, "Omong-omong, di mana Kris dan cheeseburger yang dijanjikannya?"

.

..

...

Kai menggigil begitu ia menaiki tangga keluar dari stasiun kereta bawah tanah. Angin bulan Desember yang dingin menerpa wajahnya, membuat Kai harus berjalan dengan kepala ditundukkan. Ia menjejalkan kedua tangan ke saku jaket tebalnya dan berjalan cepat di sepanjang trotoar ke arah toko kuenya.

Lonceng kecil yang tergantung di atas pintu depan berdenting nyaring ketika ia mendorong pintu dan masuk ke toko kecil bergaya Prancis yang didominasi warna putih dan ungu pucat. Ia mengembuskan napas lega ketika rasa hangat di dalam toko mulai menjalari tubuhnya. "Hai, Yuri eonni," sapanya kepada salah seorang karyawan tokonya yang sedang menyusun cupcake di atas nampan bertingkat.

"Hei, Bos," balas gadis berambut hitam dikuncir yang disapa sambil menoleh ke arah Kai. "Bagaimana acara makan siangmu? Kakekmu baik?"

Kai melepaskan jaket dan syal dan menggantungkannya di dalam lemari penyimpanan. "Kakekku baik-baik saja, Kris tidak bisa tinggal lama karena mendapat panggilan mendadak dari rumah sakit." Ia berhenti sejenak, menelengkan kepala mendengar lagu yang mengalun di dalam toko. "Jon Robyns. Left Behind. Spring Awakening," katanya, menyebut nama penyanyi, judul lagu, dan pertunjukan musikal yang sudah tidak asing baginya.

Yuri menggemari pertunjukan teater, sama seperti Kai, dan selalu memasang lagu-lagu dari pertunjukan musikal di dalam toko. "Suara Yesung oppa sangat cocok untuk cuaca seperti ini, bukan?" tanya Yuri sambil tersenyum lebar.

Kai bergumam membenarkan. "Mendengar lagu ini membuat perasaanku lebih baik." Kemudian ia memandang berkeliling mencari dua orang karyawannya yang lain. "Omong-omong, dimana Bo ahjussi dan Kun?"

"Di dapur," sahut Yuri. "Tadi ada orang yang memborong tartlet kita, jadi mereka harus membuat lebih banyak lagi."

Kai mengangguk-angguk. "Oh, baiklah. Aku akan ke dapur dan meminta Kun membantumu di sisni kalau perlu." Ia berdiri sejenak, membiarkan suara Yesung menenangkannya, dan mendesah senang. "Salah satu lagu kesukaanku. Tidak ada lagi yang bisa merusak suasana hatiku hari ini."

Mungkin ia terlalu cepat merasa yakin. Hidup tidak selalu berjalan seperti yang kita inginkan. Seharusnya Kai tahu itu.

Kai sedang memberikan sentuhan terakhir pada tartlet-tartlet-nya ketika Kun muncul di ambang pintu dalam dapur dan berkata, "Bos, telepon."

Kun adalah pemuda berusia dua puluh tahun yang pendiam. Ia tidak pernah mengikuti sekolah kuliner, tidak memilik ijazah apa-apa, namun ia sangat suaka membuat kue dan cita-citanya adalah menjadi patissier di restoran ternama atau hotel terkenal. Ia selalu rajin mengirim surat lamaran, namun sampai saat ini belum ada hasil berarti. Kai mengakui bakat Kun, karena itulah ia mempekerjakan Kun di toko kuenya agar pemuda itu bisa memperbanyak pengalaman.

Kai berjalan ke arah telepon yang tergantung di dinding dapur dan meraih gagangnya. "Halo?"

"Halo? Kai?"

"Ya, ini Kai," kata Kai sambil berusaha mengingat-ingat suara laki-laki di ujung sana.

"Aku Park Yoochun. Kuharap kau masih ingat padaku."

Mata Kai melebar. Namun, suaranya tetap tenang ketika ia berkata, "Oh, iya. Tentu saja, Mr. Park. Apa kabar?"

Park Yoochun tertawa. "Aku baik-baik saja, Nak. Terima kasih. Aku tadi sempat menghubungi ponselmu, tapi tidak diangkat."

Kai otomatis menoleh ke arah ruang kerja pribadinya, di mana ia meletakkan ponselnya tadi. "Maaf. Aku meninggalkan ponselku di meja ruang kerjaku, jadi..."

"Tidak apa-apa. Tidak apa-apa," sela Park Yoochun cepat. "Aku hanya ingin memberitahumu bahwa aku ingin mengajak kakekmu makan malam hari ini."

Kai mengerjap, tidak mengerti kenapa Park Yoochun merasa perlu memberitahunya. "Kurasa kakekku pasti akan senang," katanya.

"Dan aku ingin kau dan kakakmu ikut juga," lanjut Park Yoochun. "Aku akan mengajak cucuku, sehingga kalian anak-anak muda bisa saling mengobrol dan tidak akan bosan hanya mengobrol dengan orang-orang tua seperti kami."

Kai melotot menatap telepon. "Maaf, Mr. Park. Aku... sudah punya rencana lain malam ini," katanya, lalu memejamkan mata dan menggigit bibir. Ia tidak suka berbohong, terutama kepada orang tua. Hal itu membuat perasaannya tidak enak.

"Oh, begitu? Sayang sekali." Suara Park Chanyeol terdengar kecewa, membuat Kai merasa semakin bersalah.

"Mungkin Kris bisa menemani kalian," sela Kai cepat. Namun, kemudian ia teringat cerita Kris tentang jadwalnya yan padat di rumah sakit akir-akhir ii dan berkata menyesal, "Tapi mungkin sepertinya dia juga tidak sempat."

"Tidak apa-apa, kalau begitu," kata Park Yoochun. "Kau pasti sedang siabu sekarang. Maafkan aku karena sudah mengganggumu."

"Oh, tidak apa-apa, Mr. Park. Anda tidak mengganggu," balas Kai cepat, berusaha menenangkan orang tua itu. "Aku sama sekali tidak sibuk. Sungguh."

"Benarkah?" Suara Park Yoochun berubah riang. "Berarti kau bisa ikut minum teh bersama kami sekarang?"

Kai mengerjap terkejut. "Ap...?"

"Aku akan menjemput kakekmu dan Chanyeol akan menjemputmu di tokomu satu jam lagi. Oke? Sampai jumpa, Kai."

"Tnggu sebentar, Mr. Park. Mr... Halo?"

Kai melongo menatap gagang telepon di tangannya. Apa? Apa-apaan itu tadi? Pria tua itu menjebaknya. Ia tidak percaya ini. Kai mengerang dan mencengkeram gagang telepon dengan geram. Ia ingin melempar gagang telepon itu ke seberang runagan, namun ia berusaha menahan diri dan memaksa dirinya meletakkan gagang telepon kembali ke tempatnya dengan perlahan. Ia menempelkan kening ke dinding di samping telepon dan mengeluarkan suara setengah mengerang setengah terisak.

"Bos, kau tidak apa-apa?"

Dengan kening masih menempel di dinding, Kai memutar kepalanya dan melihat Bo sedang mengamatinya dengan heran.

Bo sudah bekerja di A Piece of Cake sejak toko ini dibuka dan ia adalah manajer di sini. Ia berumur 45 tahun, bertubuh tinggi gemuk, dan berepala botak. Dari penampila luar, ia lebih cocok berprofesi sebagai tukang pukul daripada manajer toko kue, namun ia sangat bisa diandalkan. Bo selalu bisa memastikan kegiatan adminstratif toko berjalan dengan mulus, sehingga Kai bisa memfokuskan diri pada sisi kreatifnya.

"Sempurna," guam Kai lesu. "Semuanya sempurna."

Bo mengangkat sebelah alis tidak percaya, tetapi ia tidak berkomentar lebih jauh. "Begini, Bos," katanya, "kami ingin mulai memasang hiasan Natal di toko. Kau mau ikut bergabung?"

Kai menjauhkan keningnya dari dinding dan menegakkan tubuh. Memasang hiasan Natal bersama sudah menjadi tradisi mereka sejak dulu, dan Kai tidak akan membiarkan sesuatu yang remeh seperti Park Chanyeol merusak tradisi menyenangkan itu. Lagi pula, ada kemungkinan laki-laki itu tidak akan datang. Ya, tulah yang diharapkan Kai.

"Tentu saja," ujarnya. "Ayo, bantu aku mengeluarkan hiasan Natal dari gudang."

Sebaiknya ia menyibukkan diri daripada menghabiskan waktu menyesali diri dan membayangkan segala bentuk tidakan kekerasan yang ingin dilakukannya apabila Park Chanyeol benar-benar menampakkan batang hidungnya di sini.

.

..

...

Kai sedang meluruskan rangkaian lampu-lampu Natal yang kusut di gudang ketika Yuri muncul dan berkata, "Bos, ada yang mencarimu."

Kai melingkarkan lampu yang sudah lurus ke leher dan terus bekerja melepaskan bagian yang kusut. "Siapa?" tanyanya sambil lalu.

"Katanya namanya Park Chanyeol."

Tangan Kai berhenti bergerak. Ia menarik napas dalam-dalam dan menggerutu, "Sudah waktunya. Baiklah."

Kai berputar dan berderap cepat keluar dari gudang ke bagian depan toko. Saat itu kegiatan hias-menghias dihentikan sementara akibat kedatangan beberapa orang pelanggan. Mata Kai langsung mendarat pada sosok laki-laki bertubuh jangkung dan berambut gelap yang sedang memunggunginya. Kai berhenti melangkah sejenak, mengertakan gigi, lalu kembali melgkah dan menghampiri laki-laki itu.

Seolah-olah bisa menyadari kedatangn Kai, Park Chanyeol berbalik sebelum Kai sempat mencapai dirinya. Sebelah alisnya terangkat menatap Kai. Setelah Kai berhenti dihadapannya, Park Chanyeol tersenyum dan langsung berkata, "Kau bisa menjadi pohon Natal yang bagus."

Kai mengerutkan kening, menunduk dan mengikuti arah pandang Park Chanyeol, dan terkesiap melihat rangkaian lampu-lampu Natal yang masih melingkari leher, bahu dan sekujur tubuhnya. Wajahnya memanas dengan cepat, tetapi ia berusaha menahan diri dan tidak menyentakkan lampu-lampu itu dari tubuhnya dengan kasar. Sebagai gantinya ia kembali mengangkat wajah menatap Park Chanyeol dengan tenang dan berkata, "Seperti yang kau, lihat aku sedang sibuk. Bagaiman kalau kau memberitahuku di mana kita akan bertemu dengan kakek-kakek kita, dan aku akan meyusul kalian ke sana kalau pekerjaanku sudah selesai."

Sebenarnya kai tidak berniat menyusul Park Chanyeol ke mana pun, tetapi laki-laki itu tidak perlu tahu.

Park Chanyeol mengangkat bahu. "Selesaikan saja dulu pekerjaanmu. Aku tidak keberatan." Ia menoleh ke arah sofa pendek bergaris-garis putih dan ungu di salah satu sisi ruangan. "Aku akan menunggumu di sana."

Kai melotot. Ia membuka mulut untuk mengatakan sesuatu, tetapi tidak ada suara yang keluar.

"Kakekku suah menyuruhku menjemputmu, jadi aku tidak berani muncul di hadapannya tanpa dirimu," lanjut Park Chanyeol, masih sambil menyunggingkan senyumnya yang menjengkelkan itu.

Setelah berkata begitu, Park Chanyeol langsung berjalan ke arah sofa yang dimaksud dan duduk di sana. Kai tetap berdiri dan menatapnya dengan perasaan dongkol. Saat ini ada dua hal yang bisa dilakukannya. Satu, ia bisa mengatakan pada Park Chanyeol dengan tegas bahwa ia tidak akan ikut dengan laki-laki itu ke mana pun. Dua, ia bisa menghajar kepala Park Chanyeol dengan nampan kue dan memberitahunya dengan tegas bahwa ia tidak akan ikut dengannya ke mana pun.

Namun tentu saja Kai tidak akan melakukan kedua hal itu. Ia harus memikirkan kakeknya. Ia tidak mungkin mempermalukan kakeknya di depan Park Yoochun. Kedua orang tua itu berteman baik. Kai tidak ingin merusak persahabatan itu hanya gara-gara ia membenci Park Chanyeol. Ia mendesah keras dan memijat-mijat pelipisnya yang berdenyut.

"Bos, orang itu mengganggumu?" tanay Bo yang mendadak sudah berdiri di dekatnya. "Kau ingin aku mengusirnya?"

Bayangan Park Chanyeol yang dilempark keluar dari toko oleh Bo benar-benar menggoda, tetapi Kai menggeleng. "Tidak perlu," desahnya. Ia melepaskan rangkaian lampu Natal dari tubuhnya dan menjatuhkannya ke pelukan Bo. "Teruskan menghias kalau tidak ada pelanggan. Aku pergi dulu. Tidak akan lama."

Kai berjalan ke bagian belakang konter, mengeluarkan jaket, syal, dan tas tangannya dari lemari penyimpanan, lalu berjalan menghampiri Park Chanyeol. Laki-laki itu sedang membaca salah satu brosur yang tersedia di meja kaca bulat di samping sofa. Ia berhenti tepat di depan laki-laki itu dan berkata ketus, "Ayo."

Park Chanyeol mendongak menatapnya. "Sudah selesai? Kupikir..."

Tanpa menunggu laki-laki itu menyelesaikan ucapannya, Kai berbalik dan berjalan dengan langkah lebar keluar dari toko.

.

..

...

Gadis itu sama sekali belum mengucapkan sepatah kata pun sejak mereka masuk ke dalam mobil Chanyeol lima belas menit yang lalu. Keheningan di dalam mobil terasa mencekam dan membuat Chanyeol gelisah. Merasa perlu melakukan sesuatu untuk meredakan ketegangan, Chanyeol berdeham dan membuka percakapan, "Sudah berapa lama kau tinggal di New York?"

Kim Kai masih menatap ke luar jendela samping mobil. Setelah beberapa detik, ia menoleh menatap Chanyeol dan menjawab, "Sejak orang tuaku meninggal dunia." Lalu ia kembali memalingkan wajah dan menatap ke luar jendela.

Oke. Tidak berhasil. Akhirnya Chanyeol pun memilih bersikap bijak dan menutup mulutnya rapat-rapat.

Setengah jam kemudian -yang bagi Chanyeol terasa seperti ssetengah hari kemudian- mereka tiba di Oliver's Tea Parlor, tidak jauh dari Chelsea Park. Kafe kecil itu memiliki kesan zaman daulu, dengan lantainya yang berlapis kayu dan tertutup karpet, foto-foto pemandangan hitam putih yang tergantung di dinding, dan perabotan antik yang tertata rapi. Perapian besar menyala riang di ujung ruangan, membuat semua orang yang melangkah masuk merasa hangat dan nyaman.

"Aku tidak melihat kakek-kakek kita," kata Kim Kai sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan.

"Aku juga tidak," Chanyeol membenarkan. Kafe itu bertingkat dua, tetapi Chanyeol yakin kakeknya tidak sudi naik tangga. Pinggulnya benci tangga. Lagi pula, di lantai dara masih tersisa meja-meja kosong. Chanyeol melihat meja kosong di dekat perapian dan berkata, "Bagaimana kalau kita duduk dulu sementara menunggu mereka?"

Ia tahu Kai akan menolak, membantah, atau mengatakan sesuatu yang pada dasarnya untuk menolak dan membantah, jadi Chanyeol bergegas berjalan mendahului gadis itu ke arah meja yang dimaksud. Diam-diam ia mengembuskan napas lega ketika Kai mengikutinya.

Chanyeol melepakan jaket dan menggantungkannya tiang gantungan di samping perapian. Kai tidak melakukan hal yang sama. Gadis itu duduk bersedekap di salah satu dari empat kursi berlengan empuk yang mengelilingi meja kaca antik berbentuk bulat. Ia masih mengenakan jaket dan syalnya. Bahkan tasnya masih tergantung di bahunya. Bahasa tubuhnya menunjukkan bahwa ia sama sekali tidak berniat berlama-lama di sana.

Seseorang pelayan menghampiri meja mereka dan menanyakan pesanan. Chanyeol melihat kai hendak menggeleng, jadi ia cepat-cepat menyela dan memesan teh dan beberapa macam kue untuk mereka. Setelah si pelayan pergi, Chanyeol melihat gadis itu melotot ke arahnya.

"Kita tidak menunggu kakekmu dulu sebelum memesan?"

Chanyeol memilih kursi di hadapan gadis itu dan duduk bersandar. "Kakekku pasti tidak keberatan apabila kita memesan lebih dalu. Lagi pila aku agak lapar. Mereka membuat scone yang enak di sini. Walaupun, tentu saja, aku yakin scone buatanmu lebih enak."

Kai menatapnya dengan tajam, namun tidak berkomentar apa-apa. Ia merogoh tas, mengeluarkan ponsel, menyentuh layarnya beberapa kali, lalu menempelkannya ke telinga.

Chanyeol mengambil kesempatan itu untuk mengamati gadis yang duduk di hadapannya. Waktu sepuluh tahun telah mengubah Kim Kai. Wajahnya yang dulu kurus kekanak-kanakan kini terlihat dewasa dan tajam, gerak-geriknya yang dulu canggung seperti kebanyakan anak remaja, kini terlihat anggun dan terkendali, mata hazelnya yang dulu polos dan berkilat-kilat riang kini terlihat serius dan dingin. Perasaan Chanyeol tidak enak memikirkan bahwa dirinyalah yang mungkin telah melenyapkan kehangatan di mata hazel itu.

Kai menurunkan ponsel dari telinga dan berkata tanpa menatap Chanyeol, "Kakekku tidak menjawab telepon. Coba telepon kakekmu. Aku ingin tahu mereka sudah sampai mana."

Chanyeol tidak langsung bereaksi. Ia menatap Kai sambil berpikir. Setelah beberapa saat, ia memutskan menayakan apa yang sudah ingin ditanyakan kepada Kim Kai sejak kemarin

"Apa kau masih membenciku?" tanyanya, dan melihat tubuh gadis itu berubah kaku di hadapannya.

.

..

...

Kai mendengar pertanyaan itu namun ia tidak menjawab. Apakah Park Chanyeol benar-benar tidak tahu jawaban atas pertanyaan itu? Menurut Kai, jawabannya sudah sangat jelas. Ia menatap Park Chanyeol dan berkata, "Telepon kakekmu."

"Setelah kau menjawab pertanyaanku," balas Park Chanyeol. Matanya yang biru gelap menatap Kai lurus-lurus. "Apakah kau masih membenciku?"

Mata hitam seperti mata Park Chanyeol termasuk langka. Sudah banyak anak perempuan di sekolahnya yang terpesona karena mata itu. Kai mengernyit mengingat ia dulu juga termasuk orang yang merasa warna mata laki-aki itu sangat unik. Namun, setelah ia tahu orang seperti apa Park Chanyeol sebenarnya, mata biru gelap itu kehilangan pesonanya.

"Ya," jawab Kai tanpa ragu. "Aku heran kau merasa perlu bertanya."

Park Chanyeol mengangkat bahu dengan ragu. "Kukira setelah sepuluh tahun, kau mungkin sudah memaafkanku."

Alis Kai terangkat. "Kau terlalu optimistis," gumamnya datar.

"Kalau aku meminta maaf sekarang?"

Kai menelengkan kepala sedikit tanpa mengalihkan tatapan dari Park Chanyeol. "Telepon kakekmu," katanya.

Park Chanyeol tersenyum kecil, meraih ponselnya dan menghubungi kakeknya. "halo, Pop," katanya setelah menungg sesaat denga ponsel ditempelkan ke telinga. "Kami sudah tiba di Oliver's. Kau ada di mana?"

Sementara Park Chanyeol mendengarkan jawaban kakeknya, pelayan yang tadi kembali menghampiri mereka mengantarkan kue-kue dan sepoci teh. Kai tersenyum kecil untuk berterima kasih kepadanya sebelum pelayan itu pergi.

"Apa?" Park Chanyeol mencondongkan tubuh dan sebelah tangannya terangka mengusap alis. "Begitukah? Baiklah... Akan kusampaikan padanya."

"Apa kata kakekmu?" tanya Kai cepat setelah Park Chanyeol menurunkan ponselnya dari telinga.

"kalau aku meminta maaf sekarang?" Park Chanyeol balas bertanya, mengingatkan Kai tentang pertanyaannya tadi.

Kai mengembuskan napas kesal "Permintaan maaf hanya akan membuat perasaanmu lebih baik, bukan perasaanku. Jadi lupakan saja."

Chanyeol tertegun sejenak, lalu mengangguk kecil. "Baiklah," gumamnya. Ia meraih poci teh dan menuangkan isinya ke dalam cangkirnya dan cangkir Kai. "Kakekku dan kakekmu bertemu dengan seorang teman lama dan mereka memutuskan minum teh bersama dan mengobrol tentang masa lalu yang bahagia."

Kai menyipitkan mata. "Jadi mereka tidak akan datang ke sini?"

Chanyeol menggerakkan tangannya menunjuk cangkir Kai. Kai memutar bola matanya, namun ia meraih cangkir itu dan menyesap tehnya yang harum.

"Jadi mereka tidak akan datang ke sini?" Kai mengulangi pertanyaannya setelah ia meletakkan kembali cangkirnya di meja.

Chanyeol juga menyesap tehnya. "Tidak," jawabnya.

Kai mengembuskan napas dan berdiri. "Baiklah, kalau begitu."

Ia baru hendak berbalik ketika pergelangan tangannya tiba-tiba ditahan. Ia menoleh dan melihat Park Chanyeol juga sudah ikut berdiri dan sedang memegang pergelangan tangannya.

"Tunggu sebentar," gumam laki-laki itu sambil melepaskan pegangan. "Duduklah dulu."

Kai menoleh ke arah pintu keluar, lalu kembali menatap Park Chanyeol. Setelah berpikir beberapa detik, ia mendecakkan lidah dan dan mengempaskan tubuh kembali ke kursi. "Baiklah, ada apa?" tanyanya tidak sabar.

Chanyeol juga duduk kembali, mencondongkan tubuh ke depan, menopangkan kedua siku di lutut, dan kedua tangannya saling meremas. Ia terlihat resah dan gugup. Setelah menarik napas panjang, ia berkata, "Aku tahu kau tidak menginginkan permintaan maaf dariku, tapi aku tetap ingin meminta maaf. Atas semua yang pernah kulakukan dulu."

Kai menaapnya dengan alis berkerut tidak percaya. "kau tahu permintaan maaf tidak akan mengubah apa yang sudah terjadi," gumamnya datar.

Chanyeol mengangguk. "Aku tahu. Tapi aku tetap ingin meminta maaf."

"Kau melakukannya untuk membuat perasaanmu lebih baik. Mungkin untuk mengurangi perasaan bersalahmu," lanjut Kai tak terpengaruh. "Tapi aku sendiri tidak merasa lebih baik setelah mendengar permintaan maafmu."

Kata-kata Kai yang tajam membuat Chanyeol mengernyit samar.

"Baiklah," lanjut Kai sambil bersendekap. "Karena aku sudah ada di sini, katakan apa yang ingin kaukatakan. Apakah kau akan memberikan alasan untuk membenarkan perbuatanmu dulu?"

"Tidak," sahut Chanyeol. "Saat itu aku hanyalah remaja bodoh yang berusaha menyelamatkan mukaku sendiri."

Kai tidak mengerti, tetapi ia memilih diam dan membiarkan laki-laki itu menjelaskan.

Chanyeol menarik napas dalam-dalam, seolah-olah ingin menguatkan diri, lalu kata-katanya meluncur dengan cepat. "Seharusnya aku mendekati Byun Baekhyun, tapi aku malah menghabiskan waktu bersamamu hampir sepanjang waktu. Teman-temanku curiga dan mulai bertanya. Jadi a-aku... aku melakukan apa yang kupikir bisa mencegah mereka menggosipkan hal yang tidak-tidak tentang diriku."

Kai bergeming. Sementara otaknya mencerna kata-kata Chanyeol, ia merasa debar jantungnya melambat dan seolah-olah berhenti berdebar sama sekali.

Sesuatu menusuk dadanya dan membuat Kai mengernyit. "Jadi kau menjelek-jelekanku dan memulai gosip jahat tentang diriku hanya agar dirimu sendiri tidak menjadi bahan gosip?" gumamnya lirih.

Park Chanyeol mengalihkan pandangan. "Seperti yang kukatakan tadi, dulu aku hanya seorang remaja bodoh."

Rasa bersalah terlihat jelas di wajah laki-laki itu, tetapi Kai tidakpeduli sedikit pun. Di dunia ini memang ada orang-orang yang tega dengan sengaja menyakiti orang lain emi menyelamatkan diri sendiri. Dan Park Chanyeol adalah orang seperti itu. Well, itu bukan sesuatu yang mengejutkan, bukan?

"Kai."

Kai tidak sadar dirinya sudah berdiri sampai Park Chanyeol memanggil namanya. Kai mengernyit, tidak suka mendengar Park Chanyeol memanggil namanya seolah-olah mereka adalah teman.

"Seperti dugaanku tadi, aku sama sekali tidak merasa lebih baik setelah mendengar apa yang ingin kaukatakan," kata kai pelan tanpa menatap Park Chanyeol. Suaranya terdengar seperti suara orang lain di telinganya sendiri. Ia mengeluarkan secarik uang lima puluh dolar dan menjatuhkannya ke atas meja. Setelah itu ia mengangkat wajah menatap laki-laki itu. "Sebaiknya kita tidak bertemu lagi."

.

..

...

Chanyeol tidak bisa menemukan kata-kata yang pantas diucapkan ketika ia melihat wajah Kai yang memucat setelah mendengar penjelasannya. Ia tidak pernah merasa seburuk ini sebelumnya. Ia ingin menarik kembali kata-katanya kalau bisa. Tetapi ia juga tahu ia harus mengatakan semuanya apabila ia ingin Kim Kai memaafkannya.

Hanya saja sepertinya Kim Kai tidak berencana memaafkannya.

Gadis itu berdiri denagn perlahan, mengernyit seolah-olah tertusuk ketika Chanyeol memanggil namanya.

Setelah beberapa saat, Kai membuka mulut dan berkata datar, "Seperti dugaanku tadi, aku sama sekali tidak merasa lebih baik setelah mendengar apa yang ingin kukatakan."

Chanyeol masih tidak bisa menemukan kata-kata yang pantas diucapkan. Jadi ia diam saja. Ia diam saja ketika Kai menjatuhkan selembar uang lima puluh dolar di atas meja untuk membayar bagiannya walaupun ia hanya menyesap tehnya sedikit dan sama skali tidak menyentuh kuenya. Ia masih diam ketika Kai mengucapkan selamat tinggal kepadanya dengan caranya yang dingin. Dan ketika Kai berbalik dan berjalan keluar dari kafe tanpa menoleh kebelakang lagi, Chanyeol tetap diam tidak bergerak.

TBC

Maafkan Lyn yang amat sangat mengabaikan fanfic ini karena Lyn dihadapkan oleh Ujian Nasional kemarin, sebelumnya mau diupdate tapi belum ada kuota. Hehehe. Terus saat ada kuota malah di desa Lyn lampu mati waktu mau diupdate dan laptop Lyn baterainya soak -,- jadi agak repot ditambah LCD-nya mati nyala mati nyala.

Oh ya, Lyn mau nanya. Chapter ini udah panjang belum? Kalo sekiranya belum, moho sarannya kira-kira para reader inginnya minta berapa words-nya? Bakal Lyn panjangin soalnya.

Terakhir, mohon reviewnya *bow

See you next chapter ya reader sekalian.

Big thanks to:

Chapter 1: ohkim9488, hunexohan, Kim Jongin Kai, calista94, byvn88, KkaiOlaf, askasufa, steffifebri, hnana, moekai, hunkailovers, Kim Min Soo 10, thedolphinduck.

Chapter 2: Kim Jongin Kai, Taomio, sejin kimkai, steffifebri, askasufa, Kim Min Soo10, ohkim9488, GaemCloud357, hunkailovers, yousee, cute, jumeeee, 21hana.