Chanyeol tidak bisa menemukan kata-kata yang pantas diucapkan ketika ia melihat wajah Kai yang memucat setelah mendengar penjelasannya. Ia tidak pernah merasa seburuk ini sebelumnya. Ia ingin menarik kembali kata-katanya kalau bisa. Tetapi ia juga tahu ia harus mengatakan semuanya apabila ia ingin Kim Kai memaafkannya.

Hanya saja sepertinya Kim Kai tidak berencana memaafkannya.

Gadis itu berdiri denagn perlahan, mengernyit seolah-olah tertusuk ketika Chanyeol memanggil namanya.

Setelah beberapa saat, Kai membuka mulut dan berkata datar, "Seperti dugaanku tadi, aku sama sekali tidak merasa lebih baik setelah mendengar apa yang ingin kukatakan."

Chanyeol masih tidak bisa menemukan kata-kata yang pantas diucapkan. Jadi ia diam saja. Ia diam saja ketika Kai menjatuhkan selembar uang lima puluh dolar di atas meja untuk membayar bagiannya walaupun ia hanya menyesap tehnya sedikit dan sama skali tidak menyentuh kuenya. Ia masih diam ketika Kai mengucapkan selamat tinggal kepadanya dengan caranya yang dingin. Dan ketika Kai berbalik dan berjalan keluar dari kafe tanpa menoleh kebelakang lagi, Chanyeol tetap diam tidak bergerak.

.

..

...

Title : In a Blue Moon

Cast: Kim Kai, Park Chanyeol, Oh Sehun, Wu (Kim) Yifan, Lee (Kim) Soohyuk,

Pairing: Chankai

Rated : T

Warning: GS for Kai

Remake Novel Ilana Tan dengan judul yang sama

Note: Kata-kata yang menggunakan Italic adalah Flashback

.

..

...

"Katakan padaku," sela Chanyeol sambil memutar-mutar bolpoin di antara jemarinya. Kepalanya masih tetap tertunduk menatap setumpuk kecil CV yang ada di meja kerjanya.

Kim Jongdae, yang duduk di seberang meja kerja Chanyeol, menghentikan penjelasannya tentang kandidat-kandidat yang cocok untuk mengisi posisi kosong di Ramses. "Apa?" tanyanya.

Chanyeol mengangkat wajah dan menyandarkan punggung ke sandaran kursi putarnya. "Kalau kau sudah meminta maaf, tapi permintaan maafmu tidak diterima. Apa yang harus kau lakukan?"

Jongdae menatap Chanyeol sejenak, lalu mendesah keras. "Kau sama sekali tidak mendengar sepatah kata pun yang kuucapkan sejak tadi, bukan?" keluhnya. "Oh, baiklah. Kurasa kita harus menyelesaikan masalah yang mengganggumu dulu sebelum kau bisa memusatkan perhatian pada maslah pekerjaan. Coba ulangi pertanyaanmu."

"Kalau kau sudah meminta maaf, tapi permintaan maafmu tidak diterima. Apa yang harus kaulakukan?" ulang Chanyeol.

"Pria atau wanita?" tanya Jongdae langsung.

"Wanita."

Jongdae mengangkat bahu. "Kalau yang kau maksud Hyejin, well, aku yakin kau sudah sangat ahli dalam menghadapi Hyejin sehingga tidak membutuhkan saran dariku. Bukankah Hyejin bisa ditenangkan dengan bunga dan kata-kata manis?"

"Dia bukan Hyejin yang bisa ditenangkan dengan bunga dan kata-kata manis," gumam Chanyeol dengan alis berkerut. "Dia... galak."

Alis Jongdae terangkat. "Siapa dia?"

Chanyeol mengayun-ayunkan bolpoin yang masih dipegangnya. "Hyeong tidak kenal."

"Biasanya kau lebih suka bergaul dengan wanita-wanita manis dan periang seperti Hyejin," komentar Jongdae sambil tersenyum. "Sejak kapan kau bergaul dengan wanita-wanita galak?"

"Sejak kakekku memilihkan tunangan galak untukku," gerutu Chanyeol.

"Tunangan?" ulang Jongdae kaget. "Apa maksudnya ini? Kau sudah bertunangan?"

Chanyeol kembali mengibaskan bolpoinnya. "Itu menurut kakekku. Dia bahkan mengancam akan menyerahkan Ramses kepada sepupu jauhku kalau aku sampai tidak menerima perjodohan ini."

Ya, kakeknya memang sengaja tidak muncul di Oliver's Tea Parlor kemarin sore. Ia sengaja mempertemukan Chanyeol dengan Kai dengan harapan Chanyeo bisa memanfaatkan kesempatan itu. Ternyata Chanyeol gagal. Kim Kai masih membencinya.

"Apakah kakekmu benar-benar bisa melakukannya? Menyerahkan Ramses kepada orang lain, maksudku," tanya Jongdae.

Chanyeol mendengus. "Tentu saja tidak. Kau kira ini sinetron? Kakekku selalu bersikap dramatis dan aku sudah terbiasa. Jadi ancamannya tidak penting."

Jongdae mengerutkan kening tidak mengerti. "Kalau ancaman kakekmu tidak penting, kenapa kau masih berusaha mendekati gadis itu?"

"Karena aku ingin dia memberiku kesempatan untuk membuktikan..." Chanyeol tidak menyelesaikan kalimatnya. Ia memutar-mutar kursinya dengan pelan sambil mengetuk-ngetuk dagu dengan bolpoin. "Sebenarnya aku sudah punya gagasan. Aku hanya sedang mengumpulkan insentif tambahan yang bisa kutawarkan kepadanya."

"Ceritamu membingungkan," keluh Jongdae.

Tiba-tiba Chanyeol mencondongkan tubuh dengan cepat dan kembali memusatkan perhatian pada CV-CV yang tersebar di meja. "Tidak apa-apa," katanya tegas. "Lanjutkan penjelasnmu tentang kandidat-kandidat ini."

Jongdae mendesah dan menggeleng-geleng. Ia baru hendak membuka mulut untuk memulai ketika Chanyeol mengangkat sebelah tanan untuk menghentikannya.

"Apa lagi?" tanya Jongdae.

"Lihat ini." Chanyeol mengetuk salah satu kertas dengan bolpoinnya.

Jongdae mencondongkan tubuh dan membaca nama yang tertera di CV yang ditunjuk. "Qian Kun. Kau mengenalnya?"

"Lihat di mana tempat bekerjanya sekarang," kata Chanyeol.

"Toko kue bernama A Piece of Cake. Di Madison Avenue. Lalu kenapa?"

Chanyeol menatap Jongdae ambil tersenyum kecil. "Ini bisa menjadi insentif tambahan yang kubutuhkan."

.

..

...

"Rahasia membuat brownie adalah mengeluarkannya dari oven tepat sebelum kalian berpikir brownie-nya sudah matang," jelas Kai kepada keenam peserta kelas membuat kue di Jump Start, yayasan amal di Brooklyn tempatnya mengajar kelas memasak sekali seminggu. "Bagian tengahnya harus lembut dan agak basah, bukan keras. Jangan khawatir kalau kalian melihat lengkungan di bagian tegah dan retakan di bagian atasnya. Brownie yang benar memang seperti itu. Brownie-nya akan mengeras apabila sudah didinginkan."

Keenam peserta kelasnya hari itu –dua orang anak laki-laki dan empat orang anak perempuan- berjongkok didepan oven di dapur kecil Jump Start dan mengamati brownie mereka masing-masing dengan penuh perhatian.

Jump Start adalah yayasan amal yang diperuntukkan untuk anak anak-anak yang berasal dari keluarga bermasalah atau keluarga tidak mampu. Selain sebagai tempat berkumul dan bermain bagi anak-anak, Jump Sart juga menawarkan banyak hal lain, mulai dari kelas-kelas keterampilan untuk anak-anak remaja yang putus sekolah sampai bantuan konseling untuk anak-anak bermasalah. Almarhum nenek Kai dulu adalah sukarelawan aktif di sini dan kadang-kadang juga mengajak Kai ikut membatu apabila Kai memiliki waktu luang. Setelah neneknya meninggal dunia, Kaipun meneruskan usaha neneknya, menjadi sukarelawan di sana dan mengajar kelas membuat kue sekali seminggu kepada anak-anak yang ingin belajar.

"Kai, punyaku terlihat aneh," keluh salah seorang anak perempuan berambuat kuning jagung bernama Wendy.

Kai membungkuk untuk mengintip ke dalam oven. Namun, sebelum ia sempat berkomentar, seseorang sudah menjawab terlebih dulu.

"Aku tidak melihat ada yang aneh."

Suara itu terdengar begitu dekat dengan Kai sampai Kai memekik dan langsung meleompat menjauh. "Kau!" serunya kaget ketika ia akhirnya melihat orang yang mengagetkannya.

Park Chanyeol menegakkan tubuh dan tersenyum polos. "Ya, aku," katanya. "Hai, Kim Kai."

Kai menatap laki-laki dengan jengkel. Ia sudah berhasil menghindari Park Chanyeol selama hampir seminggu, dan ia bahkan sudah nyaris melupakan keberadaan laki-laki itu sampai kemunculannya yang mendadak hari ini. "Sedang apa kau di sini?" tanya Kai tajam.

"Kata mereka aku bisa menemuimu di sini," jawab Park Chanyeol ringan.

"Mereka?" tanya Kai tidak mengerti.

"Kun, karyawan tokomu, memberikan alamat tempat ini kepadaku dan resepsionis ramah di depan sana menyuruhku langsung ke dapur untuk menemuimu," jelas Park Chanyeol.

Kai mngerutkan kening. Kenapa Park Chanyeol ingin menemuinya? Kenapa laki-laki itu datang mencarinya sampai ke Brooklyn? Dan berani-beraninya Kun memberitahu sembarang orang –ya, Park Chanyeol termasuk sembarang orang bagi Kai- di mana Kai berada?

"Kau tahu, wajahmu akan gampang keriput kalau kau memberengut terus seperti itu," kata Park Chanyeol sambil menggerak-gerakkan jari telunjuknya di depan wajah Kai.

Kai tetap memberengut dan menepis tangan laki-laki itu. "Singkirkan tanganmu," tukasnya. "Kun yang memberitahumu? Kun?"

"Ya. Kukatakan padanya aku ingin berbicara padamu tentang dirinya. Karena itulah dia bersedia memberikan alamat tempat ini kepadaku," kata Chanyeol santai. "Jadi kau boleh berhenti merencanakan kehancurannya dalam hati."

Ini membingungkan. Dan menjengkelkan. "Kenapa kau ingin berbicara denganku tentang Kun?" tanya kai curiga.

Park Chanyeol menatap berkeliling. "Kau mau kita bicara di sini saja?"

Kai juga ikut memandang berkeliling dan terkejut menyadari bahwa ia sudah lupa ahwa mereka tidak hanya berdua saja di dapur. Keenam peserta kelasnya masih berjongkok di depan oven, akan tetapi perhatian mereka semua kini tertuju pada Kai dan Park Chanyeol.

"Kai, dia pacarmu ya?" tanya Wendy sambil menatap Park Chanyeol dari ujung kepala ke ujung kaki.

"Bukan!" sergah Kai cepat. Menyadari jawabannya terlalu keras, Kai berusaha menenangkan diri dan menjawab sekali lagi dengan nada yang lebih tenang, "Bukan."

Park Chanyeol menimpali, "Bukan pacar, melainkan tunang... Aduh!"

Tangan Kai sudah melayang dan memukul lengan Park Chanyeol denan keras sebelum Kai benar-benar menyadari apa yang dilakukannya. "Demi Tuhan, tutup mulutmu!" bisiknya dengan gigi mengertak.

Namun, sudah terlambat. Wendy, seperti kebanyakan anak remaja dengan daya imajinasi tinggi, langsung menagkap maksud Park Chanyeol. Matanya melebar kagum. "Tunangan?"

Kai mengabaikan pertanyaan Wendy dan mengumumkan, "Brownie-nya boleh dikeluarkan lima menit lagi. Aku akan segera kembali." Kemudian ia menoleh mentap Park Chanyeol dan berkata, "Kau. Ikut aku."

.

..

...

Chanyeol mengikuti Kai yang berjalan cepat menyusuri koridor sempit tanpa karpet. Mereka melewati sederet ruang kecil yang terlihat seperti ruang kerja. Mereka juga berpapasan dengan orang yang menyapa Kai dengan akrab dan tersenyum ramah kepada Chanyeol. Kemudian Kai membuka pintu di sebelah kiri dan masuk.

Chanyeol menyusulnya dan melangkah memasuki ruangan yan ternyata sedang dalam proses renovasi. Dinding-dindingnya belum dicat sempurna. Dua kursi berlengan dan sebuah meja dikumpulkan di tengah-tengah ruangan dan ditutup plastik. Kaleng-kaleng cat, dan kertas-kertas koran tersebar di lantai.

Chanyeol mengangkat alis mengamati ruangan itu. Ia memang tidak berharap Kai akan mengajaknya ke ruang duduk yang nyaman agar mereka bisa berbicara dengan santai, tetapi ia juga tidak menduga gadis itu akan mengajaknya ke ruangan yang setengah jadi seperti ini.

Kai berjalan menghampiri satu-satunya jendela yang ada di dalam ruangan itu dan berbalik menghadap Chanyeol. "Bicaralah," katanya.

"Di sini?" tanya Chanyeol.

Kai mengangkat bahu acuh tak acuh. "Ruangan-ruangan lain sedang ditempati. Tidak ada orang yang akan masuk ke ruangan ini," sahutnya. "Jadi apa yang ingin kaubicarakan tentang Kun?"

Chanyeol mengangguk kecil dan menangkupkan kedua tangan ke belakang punggung. "Baiklah," desahnya. "Apakah kau tahu Kun mengirimkan surat lamaran ke Ramses?"

Kai berpikir sejenak, lalu mengerang dalam hati. Benar juga. Kun pernah mengirim surat lamaran ke Ramses ketika ia mendengar Ramses membutuhkan orang untuk mengisi posisi makan penutup. Ternyata itu sebabnya ia langsung memberitahu Park Chanyeol di mana Kai berada. Kai memang sudah tahu, dan ia juga mendukung Kun sepenuh hati. Tetapi itu sebelum ia tahu siapa pemilik laptop.

"Ya, aku tahu," katanya enggan. "Kenapa?"

"Aku hanya tidak ingin kau mendapat alasan tambahan untuk membenciku," sahut Chanyeol ringan. "Maksudku, kalau nanti ia berhenti bekerja untukku sebagai gantinya."

Alis Kai terangkat. "Apakah ini artinya ia diterima?" tanyanya.

"Belum," kata Chanyeol. "Semuanya tergantung apa yang akan kau katakan padaku."

Kali ini alis Kai berkerut. "Apa?"

"Aku ingin mendengar pendapatmu tentang dia," lanjut Chnayeol dengan nada serius. "Dia sudah bekerja di toko kuemu selama dua tahun terakhir, jadi kau tahu benar apa yang bisa dan tidak bisa dilakukannya. Apakah hasil pekerjaannya baik?"

"Sangat baik," gadis itu menjawab yakin.

"Cukup baik untuk restoran sebesar Ramses?"

"Kun sangat rajindan cerdas. Dia bisa mempelajari sesuatu dengan cepat. Aku yakin dia bisa bekerja dengan baik."

"Apakah dia bisa bekerja dalam tim?"

Kali ini Kai ragu sejenak, lalu berkata dengan hati-hati, "Dia... agak pendiam. Tapi kurasa kau juga tidak menginginkan orang yang banyak mulut dalam timmu."

Chanyeol mengangguk-angguk, namun tidak berkomentar.

"Jadi," tanya kai, "apakah dia diterima?"

Chanyeol tersenyum polos. "Seperti yang kukatakan tadi, semuanya tergantung apa yang kaukatakn padaku."

Gadis itu terlihat bingung. "Bukankah aku sudah menjawab semua pertanyaanmu?"

"Bukan pertanyaan tadi yang kumaksud."

"Jadi pertanyaan yang mana?"

"Bersabarlah," kata Chanyeol ketika gadis itu mulai memberengut menyeramkan. "Aku ingin membahas tentang kejadian seminggu lalu lebih dulu."

"Kejadian minggu lalu?" ulang Kai datar.

"Aku ingin memberitahumu bahwa kakekku memang sengaja tidak datang ke Oliver's sore itu," jelas Chanyeol. "Dia juga tidak kebetulan bertemu dengan teman lamanya atau semacamnya."

"Aku tahu itu," desis Kai. "Kakekku sudah menceritakan apa yang sebenarnya terjadi hari itu. Kakekmu mengajak kakekku pergi dan menyuruh kakekku tidak menjawab telepon. Kakekmu menculik kakekku."

Chanyeol mengangkat kedua tangan untuk menenangkan gadis itu. "Kurasa 'menculik' adalah istilah yang terlalu ekstrem, tapi aku mengerti maksudmu," katanya cepat.

Kai bersedekap. "Kakekku juga mendapat kesan kakekmu ingin bertemu kakak-kakakku setelah kakak sulungku kembali dari bulan madunya. Kenapa?"

Chanyeol mengerutkan kening. "Terus terang saja, aku tidak tahu. Tapi sepertinya kakekku sedang merencanakan sesuatu," katanya. "Aku tahu kakekku sangat keras kepala. Kurasa sekarang kau juga sudah tahu. Dia sudah memutuskan menjodohkan kita dan aku yakin dia terus memaksakan keinginannya sampai... well, kau tahu maksudku."

Kai menyipitkan mata curiga. "Kakekmu tidak akan 'menculik' kakak-kakakku, bukan?"

Chanyeol tertawa hambar. "Entahlah. Tapi kurasa kita bisa mencegah kakekku ikut campur lebih jauh."

"Bagaimana caranya?"

Baiklah, ini dia. Mungkin gadis itu akan marah, mungkin gadis itu akan memukulnya, mungkin juga gadis itu hanya akanberjalan keluar dari ruangan ini tanpa berkata apa-apa. Chanyeol menguatkan diri menghadapi semua kemungkinan itu dan berkata, "Supaya kakekku tidak mempersulit keadaan bagi kita berdua dan keluargamu, kusarankan agar kita menuruti keinginannya. Untuk menyenangkan hatinya."

Hening sejenak, lalu, "Apa?"

Dan Chanyeol bertanya-tanya dalam hati bagaimana mungkin sepatah kata sederhana itu bisa terdengar begitu mengerikan.

.

..

...

PARK CHANYEOL sudah gila.

Itulah yang dipikirkan Kai sementara ia melotot menatap laki-laki yang berdiri tenang di hadapannya. "Kau pasti sudah gila kalau kau berpikir aku mau... bertunangan dengannmu hanya untuk menyenangkan hati kakekmu." Kai nyaris tersedak mengucapkan kata "bertunangan".

Park Chanyeol lagi-lagi mengangkat kedua tangan danmengacungkannya ke depan dada, seolah-olah ingin menahan serangan Kai. "Tungu sebentar. Aku tidak mengusulkan agar kita bertunangan. Oh, tidak," selanya buru-buru. "Bukan itu maksudku."

"Kalau begitu, jelaskan."

Chanyeol ragu sejenak, lalu menurunkan kedua tangannya, menarik napas, dan berkata dengan cepat, "Aku ingin mengusulkan agar kita saling bertemu aesekali dan menghabiskan waktu bersama selama kakekku masih berada di New Yeork. Kupikir kalau dia melihat kita bisa berteman dan hubungan kita baik-baik saja, dia tidak akan sibuk memutar otak mencari cara untuk mempertemukan kita. Artinya dia tidak akan 'menculik' kakekmu dan tidak akan merepotkan kakak-kakakmu. Kita semua bisa hidup tenang."

Kai tidak langsung berkomentar. Ia hanya menatap Park Chanyeol dengan curiga. Sementara Park Chanyeol menatapnya dengan ragu, seolah-olah ia takut Kai akan mencakarnya atau semacamnya. Akhirnya Kai bertanya, "Apa untungnya rencana ini bagimu?"

Park Chanyeol mengangkat sebelah bahu. "Kakekku tidak merecokiku lagi dan tidak akan mengancam menyerahkan Ramses kepada sepupu jauhku," sahutnya ringan.

Kai masih merasa ada alasan lain yang ingin dikatakan laki-laki itu, jadi ia pun diam dan menunggu.

Park Chanyeol meliriknya sekilas, lalu akhirnya menambahkan, "Dan aku juga ingin diberi kesempatan bahwa aku bukan lagi remaja bodoh dan egois seperti dulu."

Kai tertegun. Tiba-tiba saja kenangan menyakitkan dari masa lalu kembali terbayang. Siapa yang menyangka kejadian sepuluh tahun yang lalu masih bisa terasa menyakitkan?

Suara Park Chanyeol menyela jalan pikirannya. "Apakah kau bersedia menerima usulku kalau aku merima Kun bekerja di Ramses setelah Tahun Baru dengan masa percobaan tiga bulan?"

Kai mendengus pelan dan menggeleng-geleng. Jadi Park Chanyeol berpikir ia bisa membujuk Kai dengan menerima Kun bekerja di Ramses? Kai memang menyukai Kun tetapi tidak sampai tahap di mana ia rela mengorbankan diri dan membuat dirinya sendiri tersiksa hanya supaya Kun bisa bekerja di Ramses. Kai bukan martir.

Kalau ia menerima usul Park Chanyeol, itu karena ia tidak ingin kakak-kakaknya diganggu. Soohyuk baru saja menikah dan Kai tidak ingin kakaknya itu diganggu karena maalah dirinya. Kris juga sudah punya cukup banyak pasien yang harus dicemaskan tanpa perlu mencemaskan Kai. Jadi alasannya bukan karena Kun. Dia sudah pasti bukan karena ia bersedia memberi kesempatan kepada Park Chanyeol untuk membuktikan diri.

"Baiklah," kata Kai setelah berpikir cukup lama.

Mata Park Chanyeol melebar, seolah-olah tidak menyangka Kai akan setuju. Namun, ia cepat-cepat mengendalikan diri dan berkata, "Baiklah. Kau boleh menentukan waktu pertemuan kita untuk minggu ini." Ia merogoh saku bagian dalam jasnya, mengeluarkan secarik kartu nama Ramses dan bulpoin. Ia menuliskan sederet angka di bagian belakang kartu dan menyodorkannya kepada Kai. "Kalau kau sudah menetapkan waktu dan tempat, kau bisa menghubungi nomer telepon Ramses, atau nomer ponselku yang kutulis di bagian belakang."

Kai menerima kartu itu dan membolak-balikkannya. Ia mengangkat wajah dan bertanya, "Bagaimana kalau sekarang?"

"Sekarang?" ulang Park Chanyeol kaget.

Kai mengangguk. "Kau sudah ada di sini. Kenapa harus mencari waktu lain?" katanya tak acuh. "Kau punya acara lain setelah ini?"

Park Chanyeol melirik jam tangan dan berkata, "Aku harus kembali ke Ramses jam lima nanti."

"Sempurna," ujar Kai. "kita masih punya waktu dua jam lebih. Itu sudah lebih dari cukup, bukan?"

"Baiklah. Apa rencanamu?"

Kai mulai melangkah ke arah pintu. "Sudah saatnya membuat camilan sore," katanya. "kau mungkin adalah koki di restoran terkenal, tapi kuharap kau masih ingat cara membuat sandwich yang sederhana."

.

..

...

"Bukan ini yang kubayangkan ketika aku meyebut kata 'sederhana'," gumam Kai sambil memasukkan seloyang sandwich rumit yang sudah siap dipanggang ke dalam oven, sesuai intruksi Park Chanyeol.

"Aku adalah Park Chanyeol. Kata 'sederhana' tidak ada dalam kamus masakanku," kata Park Chanyeol sambil menyibukkan diri dengan sandwich jenis kedua yang harus dibakar. "Lagi pula, kau sudah berhasil menghadirkan koki kepala dari Ramses di sini. Memangnya kau mau anak-anak di sini hanya memakan sandwich selai kacang?"

Ketika Kai mengajak Park Chanyeol ke dapur satu setengah jam yang lalu untuk membuat sandwich, laki-laki itu langsung memeriksa perlengkapan dapur dengan seksama dan memeriksa isi lemari bahan makanan. Kemudian ia menoleh menatap Kai dan berkata, "Tunggu di sin. Aku akan segera kembali."

Kai tidak sempat bertanya apa-apa, hanya bisa menatap heran sementara Park Chanyeol berderap keluar dari dapur.

Setengah jam kemudian, Park Chanyeol kembali sambl membawa banyak kantong belanja -dibantu tiga orang anak laki-laki- berisi bahan makanan yang menurutnya sangat dperlukan dalam membuat sandwich. Ia tidak medapat kesulitan mengumpulkan orang-orang ang bersedia membantuya, dan kegiatan membuatcamilan sore untuk anak-anak pun berubah menjadi kelas mebuat sandwich dadakan.

Park Chanyeol menghadapi semua itu dengan sangat baik. Ia menjawab pertanyaan dengan sabar, memberikan petunjuk-petunjuk dengan jelas, dan sesekali melontarkan lelucon yang membuat semua orang tertawa. Semua orang menyukai Park Chanyeol. Kecuali Kai.

Kekesalan Kai terbit. Ini tidak adil. Kenapa hanya Kai yang tahu siapa Park Chanyeol sebenarnya? Kenapa orang-orang lain tidak bisa melihat apa yang dilihat Kai? Rasanya tidak adil Park Chanyeol bisa dengan mudah mendapatkan perhatian dan rasa suka semua orang mengingat apa yang pernah dilakukannya pada Kai dulu.

"Hei, kenapa berhenti? Ayo, teruskan pekerjaanmu."

Suara Park Chanyeol menyadarkan Kai. Ia menoleh dan melihat laki-laki itu menatapnya dengan alis terangkat.

"Bukankah kau harus kembali ke Ramses?" Kai balas bertanya. Nada suaranya terdengar ketus walaupun ia sudah berusaha mengendalikan diri.

Park Chanyeol tersenyum kecil. "Apakah aku diusir?"

Kai tidak tahan lagi. "Kau boleh tetap di sini kalau kau mau. Aku pergi dulu."

Tanpa menunggu reaksi laki-laki itu, Kai melepaskan celemek dengan cepat, mengucapkan selamat tinggal kepada rekan-rekannya sesama sukarelawan, dan melesat keluar dari dapur secepat kilat.

Ia baru saja menyusuri trotoar di depan gedung Jump Start ketika ia mendengar pintu depan terbuka lagi dan suara Park Chnayeol yang memanggil namanya.

"Kai, tunggu."

Laki-laki itu pasti sudah gila kalau ia berpikir Kai mau menuruti kata-katanya begitu saja. Kai mempercepat langkah. Namun, tiba-tiba ia merasa sikunya ditarik dan tubuhnya berputar di luar kehendaknya.

"Apa?" tukas Kai ketika akhirnya berhadapan dengan Park Chanyeol.

Park Chanyeol melepaskan cengkeramannya di siku Kai dan menjejalkan kedua tangan ke saku jaket. "Apakah aku melakukan kesalahan lagi?" tanyanya dengan alis berkerut bingung.

Kai mengembuskan napas dengan kesal. "Tidak," jawabnya singkat.

"Kalau begitu, kenapa kau tiba-tiba ingin pergi?" tanya Park Chanyeol tidak mengerti. "Bukankah semuanya baik-baik saja? Bukankah semua orang bersenang-senang?"

"Karena semuanya baik-baik saja," sahut Kai datar. "Karena semua orang bersenang-senang."

"Aku tidak mengerti," gumam Park Chanyeol.

"Aku membencimu," kata Kai tajam.

Raut wajah Park Chanyeol berubah dan otot rahangnya berkedut. "Aku tahu," katanya kaku. "Kau sudah mengatakannya sangat jelas kemarin."

"Aku membencimu," sembur Kai sekali lagi. Kekesalannya semakin besar dan ia tidak bisa mengendalikan mulutnya. "Tapi mereka semua menyukaimu. Kenapa mereka menyukaimu? Kenapa hanya aku yang membencimu? Apakah aku salah? Apakah kau sebenarnya tidak seburuk seperti yang kuduga? Tiba-tiba saja aku merasa buruk karena menjadi satu-satunya orang yang membencimu. Kemudian aku harus mengingatkan diriku sendiri bahwa aku tidak salah. Aku punya alasan membencimu. Aku berhak membencimu. Aku membencimu atas apa yang pernah kaulakukan padaku dan aku membencimu karena membuatku meragukan diriku sendiri!"

Kai terengah-engah di akhir semburan kata-katanya. Napasnya berubah menjadi kepulan uap puih yang dengan cepat menghilang di udara.

.

..

...

"Aku membencimu atas apa yang pernah kaulakukan padaku dan aku membencimu karena membuatku meragukan diriku sendiri!"

Kata-kata tajam gadis itu menghujam dada Chanyeol, membuatnya nyaris melangkah mundur. Namun, ia tidak bisa bereaksi.

Selama beberapa saat tidak terdengar apa pun di sekeliling mereka, selain desiran angin yang samar dan suara klakson mobil di kejauhan. Jalanan sepi, tidak ada mobil yang lewat. Hanya ada mereka berdua dan seorang pejalan kaki di trotoar seberang jalan.

"Merasa lebih baik?" tanya Chanyeol pada akhirnya.

Kai menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya dengan perlahan. "Ya," gumamnya singkat. "Aku pergi dulu."

Tangan Chanyeol langsung terangkat menahan lengan ketika gadis itu hendak berbalik.

"Apa lagi?" desah Kai dan menatap Chanyeol dengan alis berkerut sebal.

"Dengar, anak laki-laki yang dulu membuat hidupmu susah memang aku," kata Chanyeol sambil menatap Kai lurus-lurus. Kemudian ia menunjuk ke arah gedung Jump Start dan melanjutkan, "Tapi orang yang tadi kaulihat di dalam sana juga aku. Manusia bisa berubah, Kai."

Kai memalingkan wajah dan mendecakkan lidah dengan pelan. "Rasanya tidak adil anak bodoh dan egois itu sudah menghilang sebelum aku sempat memberinya pelajaran," gumamnya.

Chanyeol berpikir sejenak, lalu berkata, "Baiklah. Kau boleh..." ia menggerak-gerakkan sebelah tangannya dengan enggan, "...memukulku."

Kai menatapnya dengan alis terangkat tinggi. "Apa?"

"Mungkin setelah itu kau bisa memaafkanku?" kata Chanyeol penuh harap sambil mengangkat bahu.

Kai mendengus, namun seulas senyum samar tersungging di bibirnya. "Kau terlalu optimistis."

Senyum sekilas itu menerbitkan harapan Chanyeol. Senyum itu pertanda baik, bukan? Walapun senyum itu muncul dan menghilang dalam waktu seperkian detik. Walaupun senyum itu mungkin hanya hasil imajinasi Chnyeol sendiri.

"Pulanglah, Park Chanyeol," kata Kai sambil mengembuskan napas. "Aku tidak akan memukulmu. Kau kubiarkan lolos hari ini."

Ha! Gadis itu menyebut nama Chanyeol untuk pertama kalinya. Itu juga pertanda baik. Merasa ingin mencoba keberuntungannya, Chanyeol pun bertanya, "Mau kuantar sampai tokomu?"

Kai menatapnya dengan mata disipitkan. "Berurusan denganmu selama dua jam terakhir ini sudah cukup menguras tenaga. Aku tidak ingin menyiksa diri lebih lama," katanya.

Kali ini Chanyeol tidak menghentikannya ketika Kai berbalik dan mulai berjalan menyusuri trotoar. Teringat sesuatu, Chanyeol berseru memanggilnya, "Kau lupa memberikan nomer teleponmu kepadaku."

Gadis itu berbalik menghadap Chanyeol, kakinya tetap melangkah mundur. "Aku memng tidak bermaksud memberikannya," balasnya, lalu berputar kembali memunggungi Chanyeol.

Chanyeol tersenyum kecil. "Lalu apakah kau yang akan meneleponku?" desaknya.

Tanpa menoleh ke belakang, gadis itu berseru, "Jangan memaksakan keberuntunganmu."

Chanyeol mengangkat sebelah tangan ke sisi mulutnya dan berseru, "Akan kutunggu teleponmu, Kim Kai!"

Kali ini gadis itu hanya melambaikan sebelah tangan tanpa menjawab. Chanyeol tetap berdiri di tempat dan tersenyum memandangi punggung gadis itu sampai menghilang di sudut jalan.

.

..

...

Dia tidak menelepon.

Chanyeol menatap ponnselnya yang tergeletak di meja sarapan dan mendesah. Dua hari sudah berlalu dan sejak pertemuan mereka di Jump Start dan gadis itu belum menelepon. Tetapi, apakah hal itu mengejutkan? Sama sekali tidak. Chanyeol tidak tahu kenapa ia berharap Kim Kai meneleponnya, padahal ia yakin gadis itu tidak akan menelepon.

Chanyeol mendecakkan lidah, meraih surat kabar pagi, lalu menyesap kopinya. Awalnya ia ingin membiarkan gadis itu yang menentukan langkah selanjutnya, karena Chanyeol tidak ingin mengambil risiko membuat kesalahan apa pun. Tetapi kini, setelah melihat Kim Kai sepertinya tidak berniat melakukan apa-apa, mungkin Chanyeol harus mengambil tindakan lebih dulu.

"Tuangkan secangkir kopi untukku, Nak. Dan berikan surat kabarnya padaku."

Chanyeol mengangkat wajah dan melihat kakeknya yang terbungkus jubah tidur tebal seperti biasa melangkah masuk ke dapur dengan langkah tertatih-tatih. Chanyeol melipat kembali surat kabar yang sedang dibacanya dan menyodorkannya kepada kakeknya setelah kakeknya duduk di hadapannya di meja sarapan.

"Jadi," kata kakeknya sambil menerima secangkir kopi panas yang dituangkan Chanyeol untuknya, "Kai belum menelepon?"

"Belum," sahut Chanyeol.

Kakeknya mendecakkan lidah. "Apa saja yang sudah kaulakukan? Ketika aku seumurmu, Nak, aku bisa dengan mudah mendapatkan gadis mana pun yang kuinginkan."

"Aku yakin begitu," gumam Chanyeol dan kembali menyesap kopinya.

"Kupikir setelah kau menemuinya di Hop Scotch..."

"Jump Start," koreksi Chanyeol.

"...hubungan kalian suda membaik," lanjut kakeknya, sama sekali tidak mendengarkan kata-kata Chanyeol. "Apakah aku salah?"

"Tidak, kau tidak salah," sahut Chanyeol cepat. "Kami sudah mencapai semacam kesepakatan. Jadi kami aik-baik saja."

"Tapi dia belum meneleponmu," kata kakeknya. "Kenapa kau tidak meneleponnya saja? Aku punya nomor teleponnya. Kau mau..."

"Tidak, tidak, tidak, Pop," sela Chanyeol sambil menggoyang-goyangkan jari telunjuknya. "Aku tidak butuh bantuanmu. Aku bisa mengurus masalah ini sendiri. Aku tahu apa yang harus kulakukan."

Kakeknya mendengus. "Apa maksudmu kau tahu apa yang harus kaulakukan? Kau bahkan tidak isa mendapatkan nomor teleponnya," gerutunya.

Chanyeol baru hendak membalas ketika ponselnya mendadak berdering. Ia merampas ponselnya dengan cepat dan membaca nama yang muncul di layar. Bahunya melesak. Ternyata bukan telepon yang ditunggu-tunggunya.

"Hai, Hyejin," katanya tak acuh setelah menempelkan ponsel ke telinga.

Mendengar nama Hyejin, kakek Chanyeol langsung berdeham dan membaca surat kabar dengan wajah memberengut. Chanyeol hanya tersenyum kecl melihat sikap kakeknya.

"Jam berapa kau akan menjemputku, Chanyeol?" tanya Hyejin di telepon.

"Menjemputmu? Kenapa?" tanya Chanyeol heran.

"Kau lupa? Bukankah temanmu mengundang kita mengahdiri pembukaan pameran lukisannnya? Pembukaannya har ini, bukan? Di Williamsburg?"

Chanyeol ingat Simon Art, temannya yang berprofesi sebagai pelukis kontemporer, pernah menyebut-nyebut tentang pameran lukisannya. Ia memang mengudang mereka, tetapi Chanyeol tidak pernah berkata ia akan hadir, terlebih lagi bersama Hyejin. Lagi pula, sebenarnya ia malas pergi ke mana-ana, lebih memilih menyibukkan diri ke Ramses.

Tetapi ketika ia melirik ke arah kakeknya yang pura-pura membaca surat kabar namun sbenarnya sedang menguping pembicaraannya, Chanyeol pun memutskan mengganggu kakeknya sedikit.

"Baiklah, Hyejin. Aku kan menjeputmu jam tujuh," katanya kepada Hyejin.

"Kau mau pergi bersama wanita bernama Hyejin itu?" tanya kakeknya tidak senang ketika Chanyeol menutup telepon.

"Ya," saht Chanyeol ringan. "Kami akan menghadiri pameran lukisan."

"Bagaimana dengan Kai?"

"Memangnya ada apa dengan Kai?"

"Bukankah sedang beruah mendekatinya?" tanya kakeknya. "Bagaimana kau bisa mendekatinya kalau kamu malah pergi bersama wanita lain?"

Chanyeol tersenyum polos. "Jangan khawatir, Pop. Dia tidak keberatan aku pergi bersama wanita lain. Sama seperti aku tidak keberatan dia pergi bersama pria lain. Kami sepakat menjalin hubungan terbuka seperti itu. Lebih menyenangkan."

Kakekna melotot menatapnya, lalu berdeham dan kembali memusatkan perhatian pada surat kabarnya. "Aku akanberpura-pura tidak mendengar apa yang baru saja kaukatakan," gerutunya.

Senyum Chanyeol melebar puas. Satu angka untuknya.

.

..

...

Namun, kepuasan Chanyeol tidak bertahan lama.

Ia berusaha memasang raut wajah tertarik menatap lukisan tidak jelas bebercak-bercak hitam dan dan berbintik-bintik kuning yang tergantung di idnding di hadapannya, padahal sebenarnya ia merasa bosan setengah mati. Sungguh, ia tidak mengerti kenapa orang-orang bisa menyukai lukisan aneh seperti ini. Ia termasuk orang yang emnghargai keindahan lukisan-lukisan Rembrant dan Vermeer. Namun, seni kontemporer? Ia tidak pernah bisa mengerti.

Melihat banyaknya orang yang menghadiri acara pembukaan pameran lukisan ini, sepertinya Simon Art cukup sukses dan karya-karyanya cukup dikagumi. Namun, jujur saja, Chanyeol tidak akan datang ke acara seperti ini kalua bukan gara-gara Hyejin.

"Temanmu sangat berbakat," puji Hyejin yang berdiri di sampingnya sambil ikut lukisan bercak dan berbintik yang sedang ditatap Chanyeol. "Aku yakin ada makna yang mendalam di balik lukisan ini."

Chanyeol melirik Hyejin dengan alis terangkat. "Aku tidak pernah tahu kau penggemar seni kontemporer," komentarnya.

Hyejin tertawa kecil dan menggeleng-geleng. "Aku pernah memberitahumu," katanya ringan, tetapi seoerti kebanyakan laki-laki, kau tidak pernah memperhatikan."

"Chanyeol! Senang sekali kau bisa hadir."

Chanyeol dan Hyejin serentak menoleh ke arah suara. Simon Art menghampiri mereka dengan langkah lebar dan senyum yang sama lebarnya. Wajahnya yang bulat dan riang terlihat kemerahan, entah karena ruangan yang terlalu hangat karena banyaknya orang yang hadir atau karena ia sudah minum terlalu banyak.

"Selamat atas pameranmu, Simon. Banyak juga orang yang mengagumi hasil karyamu," kata Chanyeol sambil menjabat angan Simon. "Dan kurasa kau masih ingat pada Hyejin? Dia sangat menyukai lukisan di belakang kami ini."

Simon Art menglihkan perhatiannya kepada Hyejin. "Ah, Hyejin yang cantik. Tentu saja aku masih ingat padamu," katanya. "Apa pendapatmu tentang lukisan..."

"Maaf, aku pergi mengambil minuman sebentar, sela Chanyeol sebelum kedua orang itu muai mengobrol tetang lukisan. "Silahkan lanjutkan obrolan kalian."

Chanyeol berjalan ke arah bar kecil yang ditempattkan di salah satu sisi ruang depan galeri. "Gin and Tonic," katanya kepada bartender. Hari ini ia tidak mengemudi, jadi minum sedikit tidak apa-apa. Sementara ia menunggu bartender menyiapkan minuman, ia mendengarkan percakapan orang-orang di sekelilingnya.

"...lukisannya luar biasa, bukan?"

"...seniman baru yang naik daun... pandangan baru..."

"...mengunjungi MoMA minggu lalu. Mengesankan..."

"...anak laki-lakiku baru lulus dari NYU..."

"...pertunjukkan baru di Broadway... sangat bagus..."

"...toko kue itu menjual tartlet yang sangat enak..."

"...perkenalkan, ini kekasihku, Kim Kai."

Tangan Chanyeol yang terulur hendak menerima minumannya dari bartender berhenti mendadak. Siapa? Ia menoleh dengan cepat dan mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan, mencari-cari. Beberapa detik kemudian matanya menemukan sosok yang dicarinya.

Kim Kai berdiri di antara sekelompok orang tiidak jauh dari bar. Gaun hitam pendeknya berpotongan sederhana namun sanagt sesuai untuk tubuhnya yang kecil. Chanyeol melihatnya berjabat tangan dengan beberapa orang sambil tersenyum sopan. Pria bertubuh tinggi dan berwaja Asia yang berdiri tepat di samping Kai menempelkan telapak tangannya di bagian bawah punggung Kai, lalu mencondongkan tubuh untuk mengatakan sesuatu di telinga Kai.

Mata Chanyeol menyipit.

"Sir? Minuman Anda."

Chanyeol menoleh kembali ke arah si bartender yang masih memegang minumannya. Ia menerima gelas itu, menggumamkan terima kasih, dan kembali menatap Kai dan pria yang masih menyentuhnya.

Apa katanya tadi? Kekasih?

TBC