Cast : [YoonMin Couple] Min Yoongi a.k.a Suga, Park Jimin
Seme!Jimin , Uke!GS!Yoongi
Support Cast : Jung Hoseok a.k.a JHope
A/N : Hmm Well, ini adalah remake dari novel salah satu penulis terkenal Tante Santhy Agatha yang berjudul "A Romantic Story About Serena" ,disini aku Cuma mengubah pemeran jadi couple kesayangan hihihi Jalan ceritanya tetap seperti apa yang lahir dari ketikan Tante Santhy Agatha yaa makasih tante buat novelnya yang bagus banget dan maaf aku me-remake seenak jidat sendiri :3
Well ,aku bukan orang baru di ffn tapi jelas adalah orang baru dalam dunia FF Yoonmin atau BTS ,Well I'm just Fall in love with them lately(Too Late). Semoga pada suka dan aku diterima di fandom ini hehe
Happy reading
Chapter 1
Kenapa dia harus repot-repot menyuruhku menemuinya sendiri hanya untuk mengambil payung? Dia kan bisa menyuruh office boy untuk mengembalikannya, atau jika dia tak sempat, dia kan bisa menyuruh sekertarisnya untuk mengurus payung itu. Apalagi Yoongi tahu bosnya itu sangat sibuk, Gosip yang terdengar mengatakan Mr. Park Jimin adalah workaholic sejati yang menghabiskan waktu 20 jam sehari untuk bekerja. Atau, kenapa tidak dia buang saja payung itu? Toh aku juga tak akan berani menagihnya, pikir Yoongi sambil mengerutkan kening di dalam lift yang mengarah ke lantai 14, lantai khusus CEO mereka. Ini kali kedua dia ke ruangan ini, sungguh tak disangka, dua tahun bekerja disini dia hampir tak pernah bertatapan langsung dengan sang pemimpin tertinggi yang diagung-agungkan itu, tetapi sekarang, dua hari berturut-turut dia dipanggil menghadap Jimin.
Lift terbuka dan dia dihadapkan pada ruang tunggu yang nyaman dan mewah. Sekertaris yang sama, wanita setengah baya yang terlihat kaku dan efisien itu menatap Yoongi dengan skeptis, sepertinya dia juga bertanya-tanya kenapa pegawai rendahan macam ini sampai dua kali dipanggil menghadap langsung ke sang CEO, padahal setahunya Mr. Park Jimin hanya berkomunikasi dengan anggota direksi, manajer dan kepala bagian unit perusahaannya, itupun lewat meeting resmi perusahaan dan melalui seleksi janji temu yang rumit.
"Mr. Park sudah ada di dalam, beliau sudah menunggu anda, saya sudah menginformasikan kedatangan anda lewat intercom dan beliau mempersilahkan anda langsung masuk", gumam sekertaris itu dingin.
Jimin baru saja menyelesaikan meeting penting dan dengan segera kembali ke ruangannya. Mengingat alasan yang membuat dia begitu terburu-buru kembali, membuatnya mengerutkan dahi, dia sudah menelpon atasan Yoongi tadi pagi, menjelaskan alasan keterlambatan gadis itu. Dan atasan Yoongi begitu kegirangan karena teleponnya, hingga seolah-olah tak peduli lagi kenapa Yoongi sampai terlambat.
Yah mungkin setidaknya gadis itu akan berterimakasih padaku,...atau malah jengkel? Jimin tersenyum sinis, menilik sifat gadis itu, sepertinya Yoongi akan tambah jengkel dengannya. Setelah dengan serius mempelajari berkas-berkas yang diantarkan bagian personalia padanya, Jimin termenung.
Gadis itu tidak bohong, kedua orang tuanya memang telah meninggal, dan alamat tempat tinggalnya memang terdaftar sebagai rumah flat, bahkan gadis itu tidak mengisi nama saudara atau kerabat dekat yang bisa dihubungi, 'Saya tinggal sendirian', begitu ucapnya tadi.
Apakah gadis itu benar-benar sebatang kara seperti ceritanya. Kalau dia tanpa keluarga dan hanya tinggal di kamar flat, untuk apa dia meminjam uang sebesar 40 juta ke perusahaan yang harus dilunasi dengan memotong gajinya selama bertahun-tahun?
Apakah dia sakit? Memikirkan kemungkinan itu, Dada Jimin langsung merasa nyeri,
Tidak! Putusnya setelah termenung sejenak, gadis itu sehat, kalau tidak dia pasti tidak akan lolos seleksi test kesehatan yang sangat ketat untuk masuk ke perusahaan ini.
Kalau begitu, dia pasti gadis yang suka menghambur-hamburkan uang, Jimin menyimpulkan. Yeah, segalanya akan menjadi lebih mudah. Jimin rela memberikan uang sebanyak yang Yoongi mau asal Yoongi mau melayaninya. Ia sangat kaya, dan memiliki gadis seperti Yoongi yang benar-benar memacu hasratnya memang layak diberi sedikit pengorbanan.
Lamunannya terhenti ketika intercom berbunyi memberitahukan kedatangan Yoongi. Jimin menunggu penuh antisipasi, seperti seekor singa yang menanti mangsanya, Dia punya penawaran bagus, dan jika gadis itu seperti yang diduganya, Yoongi pasti tak akan mampu menolaknya.
"Kata Pak Kim anda memanggil saya untuk mengambil payung saya yang tadi tertinggal", gumam Yoongi sopan ketika Jimin mempersilahkannya duduk.
Jimin tidak menjawab hingga Yoongi menatap Jimin bingung, lelaki itu sedang menatapnya dalam seolah sedang berkonsentrasi pada sesuatu tetapi pikirannya seolah tak ada di situ.
"Mr. Park ?", Lelaki itu mengerjap.
"Oh! Payung" gumamnya seolah baru teringat akan hal itu, "ada di meja sekertarisku, kau bisa memintanya padanya",
Lalu kenapa sang CEO ini, yang katanya sangat sibuk menyuruhku menghadapnya? Yoongi mengerutkan kening, Ketika Pak Jimin sepertinya tidak akan berkata apa-apa lagi, Yoongi segera bangkit dari kursinya,
"Kalau begitu saya akan segera mengambilnya, terimakasih sudah merepotkan
anda, permisi Mr. Park", gumamnya setengah berbalik,
"Tunggu Min Yoongi",
Suara lelaki itu terdengar lembut, dan dengan enggan Yoongi membalikkan tubuh, Lelaki itu ternyata sudah bangkit dari kursinya, memutari meja dan berdiri berhadap-hadapan dengan Yoongi,
"Aku meralat ucapanku tadi pagi",gumamnya misterius. Yoongi mengerutkan keningnya.
"Tentang...?"
"Tentang kau bukan tipeku dan aku tidak mungkin tertarik padamu, sebenarnya selama ini aku memperhatikanmu karena tak tahu kenapa, kau membuatku sangat bergairah"
Mulut Yoongi ternganga dan dia tak mampu berkata-kata, pernyataan itu begitu mengagetkan bagaikan petir di siang bolong.
"Aku ingin kau menjadi kekasihku,...mmm...,bukan kekasih,...apa ya istilahnya di Koreanya? Wanita simpanan?"
Jimin tampak sangat bersemangat dengan tawarannya sehingga tidak memperhatikan ekspresi shock Yoongi,
"Kau hanya perlu melayaniku di ranjang, memuaskan aku", Suaranya menjadi rendah dan merayu, "Dan kau tak perlu kuatir akan rugi, kau tahu aku kekasih yang murah hati, aku akan membelikanmu apartemen mewah sehingga kau bias pindah dari tempat flat kecilmu itu, dengan begitu aku bisa leluasa mengunjungimu setiap malam, dan aku akan menanggung biaya kehidupanmu, apapun yang kau inginkan akan kuberikan, mobil mewah, perhiasan mahal ,baju-baju rancangan disainer terkenal, perawatan di salon terkemuka, aku tahu kau menyukainya Yoongi karena gaya hidupmu sepertinya sangat mahal sampai-sampai kau harus berhutang puluhan juta pada perusahaan. Bahkan mungkin kalau kau bisa menyenangkanku, hutangmu itu akan kulunasi. Bagaimana Yoongi? Aku akan memenuhi semua permintaanmu dan kau hanya harus ada saat aku membutuhkanmu",
Ketika Park Jimin akhirnya mengakhiri pidatonya, Yoongi sudah begitu pucat sampai tak bisa berkata-kata. Tawaran itu memang amat sangat menggoda, apabila ditawarkan pada pelacur atau wanita yang tidak punya harga diri! Tapi lelaki itu menawarkan kepadanya?! Kepadanya! Berani-Beraninya lelaki itu! Berani-beraninya dia merendahkannya sampai seperti ini!,
"Kenapa kau diam saja? Kau tak perlu sok malu-malu atau sok suci, aku tahu wanita seperti apa kamu dibalik sikapmu yang sok menjunjung moralitas..."
PLAAAKKK!
Tamparan itu begitu keras sampai kepala Jimin terlempar ke belakang, suara tamparan itu menggema di ruangan yang luas itu,
"Berani-beraninya anda!," napas Yoongi terengah-engah, "Berani-beraninya anda menawarkan sesuatu yang begitu menjijikkan kepada saya! Anda piker saya wanita macam apa? Anda benar-benar sesuai dengan apa yang saya pikirkan, lelaki tak bermoral, bejat, menjijikkan dan..." suara Yoongi terhenti melihat ekspresi Jimin.
"Menjijikkan katamu?", jika tadi Jimin tak marah karena tamparan Yoongi, sekarang dia benar-benar marah,"jika menurutmu aku menjijikkan...",
Lelaki itu mengepalkan kedua tangannya sampai buku-buku jarinya memutih, "Jika menurutmu aku menjijikkan..."
Entah bagaimana Yoongi mengetahui kapan kendali diri lelaki itu lepas, dengan panik dan takut Yoongi setengah berlari menuju pintu, Tapi terlambat, Jimin bergerak secepat kilat menerjangnya, Yoongi berhasil membuka pintu sedikit ketika dengan kasar Jimin mendorongnya kembali tertutup.
Lelaki itu menghimpitnya dipintu, desah napas mereka bersahutan, yang satu ketakutan, yang lain bergairah,
"Le…. lepaskan saya!, atau saya akan berteriak dan menuntut anda atas pelecehan..."
Jimin tak peduli, lagipula ruangan itu kedap suara. Dengan gerakan impulsif, dibaliknya tubuh Yoongi, bibir Jimin mencari-cari bibir Yoongi, tubuhnya makin menekan Yoongi ke pintu, Yoongi menggelengkan kepala menghindar dengan membabi buta hingga bibir Jimin hanya menempel di rahangnya, dia mencoba meronta melepaskan diri tapi tubuh Jimin menghimpitnya ke pintu dan tangannya mencengkeram kedua tangan Yoongi di kiri dan kanan kepalanya. Mereka bergulat beberapa saat, tetapi Jimin tak mau menyerah dari perlawanan Yoongi. Sampai kemudian ketika Yoongi membuka mulut untuk berteriak, Jimin memagut bibir itu.
Ciuman itu dari awal sudah sangat sensual karena bibir mereka terbuka, Jimin melumat bibir Yoongi seolah sudah tak ada lagi hari esok. Mulutnya sangat liar dan lapar mengecap, melumat dan menikmati bibir Yoongi yang selembut madu. Yoongi terpana merasakan ciuman yang sangat intim ini, yang baru pertama kali dirasakannya. Dan hal itu memberi kesempatan Jimin untuk mencium semakin dalam, seluruh tubuhnya menempel ditubuh Yoongi, makin mendorong Yoongi ke pintu, setelah menjelajahi dan mencicipi seluruh rasa bibir Yoongi, lidah Jimin mulai mencecap dan mencoba-coba mulai membelai masuk ke dalam bibir Yoongi.
Yoongi mengerang mencoba menolak, dia tidak pernah berciuman seperti itu! Tapi Jimin begitu lembut dan begitu lidahnya masuk ciumannya menjadi makin bergairah,lidahnya menjelajah masuk, menikmati seluruh rasa dan manisnya mulut Yoongi, Jimin mengerang dalam ciumannya, oh ya Tuhan nikmat sekali! Erangnya dalam hati, dan gairahnya naik begitu cepat bagaikan roket, Gadis itu terasa begitu nikmat, begitu manis dan menggairahkan, sekujur tubuh Jimin menginginkan gadis itu, sangat menginginkannya! Tangannya merayap naik dan menyelinap di antara jari Yoongi sehingga Jari-jari mereka saling bertautan, Jimin mencengkeramnya erat-erat seolah itu pegangannya untuk hidup.
Sejenak Yoongi merasakan matanya gelap, semua ini begitu aneh dan mengejutkan, dan ciuman ini begitu asing dan tak terduga, rasa ciuman ini...Ya Tuhan , Hoseok tidak pernah menciumnya dengan cara sekurang ajar ini, Hoseok...Ya Tuhan!
Yoongi mengerahkan segenap kekuatan dan seluruh kendali dirinya untuk melepaskan bibirnya dari pagutan Jimin, Mulut Jimin yang lapar masih mencari-cari, masih memagutnya sekali lagi, Yoongi mendorongnya kuat kuat hingga bibir mereka terlepas.
Suasana Ruangan itu begitu hening, hanya desah napas memburu bersahutan, Yoongi bahkan tak tahu itu napas siapa. Jimin masih mencengkeram kedua tangannya di sisi kepalanya, Bibirnya begitu dekat dengan bibir Yoongi, hingga napasnya yang panas menyatu dengan napas Yoongi. Mata Jimin tampak berkabut, tapi ketika menatap mata Yoongi sinarnya begitu tajam.
"Kau menikmatinya kan? Aku merasakan dari bibirmu yang melembut ketika lidahku melumatmu, kau bisa berbohong dengan kata-kata, tapi tubuhmu tak bisa berbohong..."
Dengan tiba-tiba Yoongi mendorong Jimin hingga mundur beberapa langkah, ditatapnya Jimin dengan mata marah menyala-nyala,
"Dasar bajingan!, kau bermimpi kalau aku menginginkanmu, kau tak akan pernah bisa menyentuh tubuhku lagi!, kau begitu menjijikkan!"
Suara Yoongi semakin serak karena menahan tangis,...jangan..., jangan! Kau tak boleh menangis Yoongi! Nanti dia akan semakin merendahkanmu! Desisnya dalam hati.
Jimin memandang Yoongi dengan pandangan tajam merendahkan.
"Saat ini kau boleh menghina dan menolakku, tapi aku yakin, nanti kau akan datang padaku, merangkak dan memohon agar aku mau menerimamu."
"Lebih baik aku mati!"
Yoongi setengah berteriak ketika buru-buru melangkah keluar dan membanting pintu di belakangnya.
Sang sekertaris memandangnya sambil mengerutkan kening, dan Yoongi yakin saat itu penampilannya patut dipertanyakan, rambutnya kusut masai dan mukanya merah padam dengan mata berkaca-kaca menahan tangis. Tapi Yoongi tak peduli lagi, yang dia inginkan hanya menjauh secepatnya dari tempat terkutuk itu! Dengan langkah berderap, Yoongi memasuki lift meninggalkan ruangan itu.
Jimin mengusap mulutnya yang terasa panas, dia merasa sedikit bodoh, karena bertindak begitu impulsif di kantor, di mana banyak orang bias menyebarkan gosip.
Jimin menarik napas dalam-dalam dan berusaha menghilangkan getaran di tubuhnya. Ciuman tadi terasa begitu nikmat, sudah lama sekali Jimin tidak merasakan ciuman yang begitu membakar gairahnya sampai ke tulang sunsum. Hanya sebuah ciuman dan dia terbakar, Jimin mengernyit, tidak begitu menyukai kenyataan itu. Selama ini dia dikenal sebagai kekasih yang sangat ahli di ranjang, selalu mampu mengendalikan pasangannya dan tidak pernah lepas kendali.
Dan sekarang, dia lepas kendali, semudah itu. Titik.
Masih mengernyit Jimin menghempaskan tubuhnya ke kursi. Tapi jika gadis itu seperti yang kupikirkan, kenapa dia semarah itu? Seharusnya gadis itu bahagia bukan kepalang atas tawaran yang dia berikan. Apakah dia salah? Dan apakah dia telah menyinggung gadis itu?
Tidak! Dengan cepat Jimin menyingkirkan keragu-raguannya. Semua gadis sama saja, Jimin tidak pernah salah, Beri gadis-gadis itu kemewahan dan dia akan takluk padamu.
Mungkin tawarannya masih kurang bagi Yoongi, Jimin mungkin harus menambahkan akomodasi penuh jalan-jalan keliling eropa misalnya.
Atau mungkin, Yoongi hanya mencoba jual mahal. Wajah Jimin menggelap mengingat kata hinaan Yoongi barusan, Menjijikkan katanya ?
"Lihat saja Yoongi, Setelah kau menyadari betapa banyaknya yang bisa kuberi padamu, kau akan datang merangkak padaku dan aku yang akan mempermalukanmu", sumpah Jimin dalam hati.
Suasana hati Yoongi benar-benar buruk hari itu. Kemarahan, rasa terhina, kebencian bahkan kesedihan karena dia begitu tidak berdaya campur aduk dalam hatinya. Yoongi merasa tubuhnya begitu kotor akibat pelecehan yang dilakukan Park Jimin tadi siang, dan dia masih menahan tangis ketika memasuki ruang perawatan intensif di Rumah Sakit itu, yang sudah sangat familiar dengannya. Apapun yang ada dipikirannya tadi langsung buyar begitu melihat Suster Hana menyongsongnya dengan wajah pucat pasi,
"Kemana saja kau nak?!, aku mencoba menghubungimu sejak dua jam tadi, tapi
kau tak bisa dihubungi!"
Wajah Yoongi langsung berubah seputih kapas, secepat kilat dia berlari menelusuri lorong menuju kamar tempat Hoseok dirawat. Suster Hana tergopoh-gopoh berlari mengikuti di belakangnya.
Yoongi terpaku di depan ruangan Hoseok dengan napas terengah-engah, dokter dan perawat masih ada di ruangan itu, sedang berusaha menstabilkan kondisi Hoseok, Suster Hana tiba dibelakang Yoongi dan menyentuh pundaknya lembut, mencoba menenangkannya,
"Dia sudah tidak apa-apa Yoongi, kondisinya sudah stabil. Tadi dia mengalami serangan lagi tapi dokter sudah menanganinya dengan cepat, kenapa kau tadi tidak bisa dihubungi? Aku mencoba menghubungimu saat Hoseok dalam kondisi paling kritis, saat itu kau pasti ingin bersamanya",
Air mata mengalir di pipi Yoongi. Tadi baterainya habis dan karena sibuk dengan pikirannya, dia tak sempat mengisinya. Astaga, betapa bodohnya dia. Hoseok kelihatan stabil dan baik-baik saja dan Yoongi mulai lengah, melupakan bahwa serangan bisa terjadi setiap saat. Ya Tuhan, seandainya tadi Hoseok...
Yoongi memejamkan mata rapat-rapat, air matanya mengalir semakin deras, dia tak berani membayangkan semua itu. Suster Hana memeluknya dengan penuh keibuan sementara Yoongi menumpahkan air matanya.
Ketika dokter datang, tatapan hati-hatinya malah membuat hati Yoongi makin cemas,
"Bagaimana kondisinya dokter?", suara Yoongi gemetar, ketakutan Dokter itu menarik napas panjang
"Hoseok pria yang kuat, sungguh suatu keajaiban dia mampu bertahan sampai sekarang, tetapi kecelakaan itu telah merusak organ dalamnya. Kami berusaha memperbaikinya dengan obat-obatan dan penanganan medis terbaik, tapi hal itu berakibat pada ginjalnya, kami harus mengoperasi ginjalnya Yoongi",
"Mengoperasi ginjalnya?", Yoongi mengulang pernyataan dokter itu dengan histeris, "Mengoperasi ginjalnya?! Ya Tuhan!"
Tubuh Yoongi menjadi lunglai, untung Suster Hana menyangganya, air mata mengalir semakin deras dipipinya.
TBC
P.S: well ,sebenernya dalam sehari aku bias aja update berkali-kali tergantung mood(dan review ,of course). So ,banyak review yaaa banyak updatenya wkwk suka aja bayangin Yoongi yg punya peran manis-manis-galak aww
