Cast : [YoonMin Couple] Min Yoongi a.k.a Suga, Park Jimin
Seme!Jimin , Uke!GS!Yoongi
Support Cast : Jung Hoseok a.k.a JHope
A/N : Hmm Well, ini adalah remake dari novel salah satu penulis terkenal Tante Santhy Agatha yang berjudul "A Romantic Story About Serena" ,disini aku Cuma mengubah pemeran jadi couple kesayangan hihihi Jalan ceritanya tetap seperti apa yang lahir dari ketikan Tante Santhy Agatha yaa makasih tante buat novelnya yang bagus banget dan maaf aku me-remake seenak jidat sendiri :3
Well ,aku bukan orang baru di ffn tapi jelas adalah orang baru dalam dunia FF Yoonmin atau BTS ,Well I'm just Fall in love with them lately(Too Late). Semoga pada suka dan aku diterima di fandom ini hehe
Happy reading
Chapter 2
"Apakah... Apakah tidak ada cara lain ...?"
Dokter itu menarik napas prihatin.
"Hoseok dalam kondisi yang tidak lazim, dia dalam keadaan koma, dan apapun tindakan medis yang kami lakukan padanya memiliki resiko tinggi, Tapi akan lebih beresiko lagi jika kita tidak melakukan operasi itu, operasi itu harus dilakukan sesegera mungkin Yoongi"
Yoongi menarik napas dalam dalam, dan menatap dokter itu dengan penuh tekad.
"Baik dokter, lakukan operasi itu, apapun agar Hoseok selamat", suaranya mulai gemetar, "Berapa biaya yang harus saya siapkan untuk melakukan operasi tersebut dok?"
Seluruh tubuh Yoongi menegang, tangannya terkepal seolah olah menanti hukuman. Dokter itu menatapnya sedih, rasa kasihan tampak jelas di matanya ketika menjawab.
"Untuk prosedur operasi ginjal dan perawatan atas kemungkinan terjadi komplikasi lainnya, kau setidaknya harus memiliki Tiga ratus Juta, Yoongi"
Hujan turun lagi dengan derasnya, bahkan payung itupun tak bisa melindungi dirinya dari percikan air hujan. Tapi Yoongi tak peduli. Dimana Dia?!
Yoongi menatap sekeliling parkiran itu dengan panik, hari sudah gelap dan hampir tidak ada orang di parkiran itu, apalagi hujan turun dengan begitu derasnya sehingga tak akan ada orang yang begitu bodohnya berada diluar ruangan. Kecuali dirinya sendiri tentunya.
Ya Tuhan ... Dimana Dia?!
Yoongi menatap mobil mercedes mewah yang masih terparkir di tempat parker direksi yang tak kalah mewah dengan atap yang luas dan posisi yang lebih tinggi sehingga terlindung dari derasnya hujan. Lelaki itu pasti belum pulang, mobilnya masih terparkir dan semua orang bilang bahwa bos yang satu itu baru pulang setelah lewat jam 8 malam, dan lebih malam lagi pada hari Jumat karena besoknya akhir pekan. Sekarang hari jumat.
Dan Yoongi menunggu dengan cemas, bagaimana jika lelaki itu sebenarnya sudah pulang? Jika bukan hari ini, akal sehatnya akan kembali dan dia akan kehilangan keberanian.
Berbagai pikiran buruk berkelebat hingga Yoongi tidak memperhatikan derasnya hujan yang mulai membasahi tempat-tempat yang tidak terlindung oleh paying kecilnya, Lalu pintu lobby itu terbuka, dan sosok yang ditunggu-tunggu Yoongi melangkah keluar.
Seorang satpam membawa payung hitam besar dan memayunginya ketika Jimin melangkah menyeberangi jalan kecil yang membelah taman menuju parkiran direksi, Hujan deras membuatnya tidak menyadari kehadiran Yoongi. Tetapi ketika jarak mereka semakin dekat, Jimin menyadari bahwa Yoongilah yang berdiri dengan payung mungil ditengah hujan menunggunya, dan mulutnya menegang.
"Wah, ada apa gerangan sampai anda menyempatkan diri menunggu saya
disini?"
Sebenarnya Jimin sangat geram, tetapi dia menahan diri karena kehadiran satpam yang memayunginya.
"Ssaa...ssaya...ingin bicara dengan anda"
Jimin mengernyit menyadari suara Yoongi yang gemetar dan wajahnya yang pucat pasi, apakah gadis itu kedinginan ? berapa lama gadis itu menunggunya di luar sini?
TIba-tiba dorongan posesif membuatnya ingin meraih gadis itu, memeluknya dan menyalurkan kehangatan tubuhnya.
Jimin melangkah ke bawah atap tempat parkir direksi yang menaunginya dari hujan, lalu mengisyaratkan satpam itu untuk meninggalkan mereka. Setelah Satpam itu jauh, Jimin menatap Yoongi dengan gusar.
"Demi Tuhan! tidak bisakah kau kemari berlindung di bawah atap ini? Payung
itu tak berguna, kau hampir basah kuyup!"
Sejenak Yoongi ragu, tapi Jimin benar, tubuhnya mulai basah kuyup karena hujan deras itu disertai tiupan angin kencang. Dengan hati-hati, dia melangkah ke bawah atap yang sama dengan Jimin. Lelaki itu menatapnya tajam, sama sekali tidak menyembunyikan kejengkelannya.
"Apa yang ingin kau bicarakan? Aku ada undangan makan malam, waktuku tak
banyak", gumamnya sombong.
Yoongi menatap Jimin penuh tekad meski gemetaran,
"Sa...Saya menawarkan diri kepada anda, anda boleh memiliki saya semau anda".
Jimin menyipitkan mata, menahan gumpalan kekecewaan yang menyeruak di hatinya karena semudah dan secepat itu gadis ini menyerahkan diri kepadanya.
"Kau pikir aku masih berminat padamu?", gumamnya mengejek
Wajah Yoongi pucat pasi, kata-kata Jimin bagaikan menamparnya keras. Tapi dia bertahan, Demi Hoseok, tekadnya dalam hati
"Anda boleh memiliki saya sepenuhnya, saya hanya meminta pembayaran di muka, setelah itu saya tak akan meminta apa-apa lagi"
"Memangnya kau terlibat hutang judi atau apa?!", Jimin membentak keras, gusar karena sikap penuh tekad Yoongi, dan gusar atas godaan dalam dirinya yang tak tertahankan untuk langsung menerima tawaran gadis itu.
Tapi ketika melihat Yoongi hampir terlonjak kaget karena bentakannya, spontan Jimin melembut, "Oke, Berapa?"
Yoongi mengerjapkan matanya mendengar pertanyaan tiba-tiba itu Jimin mendesah tak sabar,
"Cepat katakan berapa kau menjual dirimu, lalu aku akan menawar sebelum mencapai kesepakatan", dengan sengaja dia melirik jam tangannya seolah tak tertarik, "aku tak punya banyak waktu untukmu" Yoongi menelan ludah.
"Ti..Tiga ratus...juta.."
"Apa?", Jimin membelalakkan mata tak percaya.
"Tiga ratus juta", kali ini Yoongi berhasil terdengar mantap.
Jimin mengernyit jijik, "Kau bercanda?! Kau pikir kau pantas dihargai semahal itu?!"
"I..itu pembayaran lunas sepenuhnya, setelah itu anda memiliki saya dan saya tak akan meminta apapun lagi"
"Kau pikir aku bodoh atau apa?", desis Jimin, "Bagaimana aku bisa tahu kau tak akan mangkir dari perjanjian ini? Bagaimanapun melakukan pembayaran di muka itu beresiko"
"Kalau begitu anda bisa membuat surat perjanjian yang sah secara hukum untuk mengatur perjanjian ini"
Yoongi mengedarkan pandangan ke sekeliling dengan gugup, mulai merasa tidak nyaman dengan situasi ini, mereka mengobrolkan penjualan harga dirinya seolah olah mengobrolkan penjualan barang.
Jimin terdiam, tampak menimang-nimang usulan Yoongi, lalu wajahnya mengeras.
"Tidak, ini konyol, aku sudah tak tertarik, lagipula...", ia memandang Yoongi dengan tatapan menghina, "Baru tadi siang kau menolakku mentah-mentah dan aku berkata kau pasti akan merangkak memintaku menerimamu, sekarang kau hampir bisa disebut merangkak padaku dalam waktu kurang dari 24 jam"
Jimin hendak membalikkan badan meninggalkan Yoongi, "Lupakan saja, gadis yang terlalu murahan memadamkan gairahku"
Yoongi langsung panik melihat Jimin membalikkan tubuh mengarah ke mobilnya, Tidak! Oh Tidak ! Laki-laki itu tak boleh menolaknya! Dialah satusatunya harapan Yoongi untuk menyelamatkan nyawa Hoseok! Dengan setengah histeris, Yoongi melakukan tindakan yang pasti akan ditentang akal sehatnya jika dia dalam keadaan tak terdesak, Ditariknya lengan Jimin, dan ketika lelaki itu menoleh dengan marah, Yoongi berjinjit, merangkul kepala Jimin dan mencium bibirnya!
Tubuh Jimin kaku dengan rasa terkejut dan luar biasa, gadis itu dengan bibir yang lembut mencoba menciumnya dengan membabi-buta, jelas-jelas sangat tidak berpengalaman dan tanpa teknik ciuman yang memadai, tapi tetap saja gairah Jimin langsung meledak tak terkendali.
Dengan kasar dirangkulnya pinggang Yoongi, setengah mengangkatnya agar merapat ke tubuhnya dan diciumnya bibir gadis itu habis-habisan. Ciuman Jimin sangat ganas dan penuh gairah, dan gadis itu meskipun bersusah payah, berusaha mengimbanginya. Tubuh Jimin menegang dan terasa nyeri, begitu menginginkan Yoongi. Dengan erangan yang parau, dia memperdalam ciumannya.
Entah berapa lama mereka berciuman di tempat parkir dengan diiringi derasnya hujan. Jimin benar-benar hanyut dalam kenikmatan dan dia menyadari kalau dia tak akan bisa menolak gadis ini. Jimin baru melepaskan ciumannya ketika menyadari napas Yoongi yang mulai megap-megap.
Mereka berdiri dengan rapat dan Jimin masih memeluk pinggang Yoongi, setengah mengangkat Yoongi, tangan gadis itu berpegangan pada pundaknya seolah-olah takut terjatuh. Jimin menatap Yoongi tajam, bibir gadis itu agak bengkak karena tekanan ciumannya yang panas dan habis-habisan, bibirnya pasti juga seperti itu karena rasa panas di bibirnya belum juga hilang, Well cium saja aku dan aku akan terbakar, geram Jimin dalam hati.
Dengan kaku diturunkannya pinggang Yoongi, lalu dilepaskan pegangannya, "Baik, aku akan membayarmu, besok pagi kau akan mendapatkan uang itu beserta surat perjanjian yang harus kau tandatangani"
Jimin menatap Yoongi geram, lalu membalikkan tubuhnya menuju mobilnya, "Masuk ke mobil! malam ini aku akan mencoba barang yang sudah kubeli".
Yoongi melirik Jimin agak ketakutan ketika lelaki itu membelokkan mobilnya ke areal hotel berbintang lima. Lelaki itu sama sekali tak mengajaknya bicara. Dia menyetir mobil dengan tenang tetapi rahangnya menegang seperti menahan marah. Apakah lelaki itu akan berbuat kasar padanya untuk melampiaskan kemarahannya?
Tadi siang dia sudah menghina lelaki itu dan dia menyadari bahwa ego seorang lelaki sangat mudah terluka. Dia ketakutan kalau Jimin akan melampiaskan kemarahannya dengan kasar, dia tidak pernah disentuh lelaki sebelumnya selain ciuman dan pelukan dari Hoseok yang tidak pernah melebihi batas.
Apakah dia harus memberitahu Jimin kalau dia masih perawan? Lelaki itu dari awal sudah beranggapan dia murahan, bagaimana jika... Yoongi terlonjak ketika pintu terbuka, ternyata Jimin sudah keluar dari mobil dan membukakan pintu penumpang.
Lelaki itu mengernyit ketika melihat wajah Yoongi yang pucat pasi, "Ayo", gumamnya kaku, dan meraih tangan Yoongi untuk membantunya keluar dari mobil.
Setelah Jimin menyerahkan kunci mobilnya kepada petugas hotel untuk diparkir, mereka berjalan bersisian memasuki lobby hotel yang sangat mewah. Resepsionis hotel menerima mereka dengan ramah dan memberikan kartu kamar yang dipilih Jimin, Bahkan di dalam liftpun mereka lewati dengan keheningan.
Kamar itu begitu luas dan sangat mewah sehingga Yoongi terpaku sambil terkagum-kagum akan keindahan interiornya. Jimin hanya berdiri di sana menatapnya.
"Kau pasti belum makan, aku akan memesan makan malam di kamar", lalu lelaki itu melirik Yoongi dengan sinis, "sementara itu, kupersilahkan kau mandi duluan, badanmu basah, kau bisa mandi dengan air hangat"
"Ta...tapi, saya tidak membawa baju..."
Jimin sengaja menatap Yoongi dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan begitu intens sehingga wajah Yoongi merah padam.
"Aku akan memesan pakaian di butik kenalanku, besok pagi pesanan akan diantarkan kemari. Bajumu yang basah letakkan ditempat yang disediakan di kamar mandi, petugas hotel akan mengambilnya untuk di laundry, sementara itu..."
Jimin sengaja menggantung kalimatnya dengan penuh arti, "malam ini kau tak perlu repot-repot memikirkan baju, toh kau tak akan sempat mengenakannya"
Kalau wajah Yoongi bisa lebih merah padam lagi, itu akan menunjukkan betapa malunya dia dengan kata-kata vulgar Jimin. Setelah menggumamkan beberapa kalimat tak jelas dengan gugup, Yoongi setengah berlari menuju kamar mandi.
Di dalam kamar mandi Yoongi merasa sedikit aman, disandarkannya punggungnya ke pintu dan dicobanya menarik napas dengan normal. Dia takut pada Jimin, lelaki itu seperti seekor singa yang menemukan domba lemah, lalu memutuskan untuk bermain-main dengannya dulu sebelum memakannya.
Yoongi melangkah telanjang ke kamar mandi lalu menyiram tubuhnya yang letih dan kedinginan karena kehujanan dengan shower air panas, Setelah selesai mencuci rambutnya, Yoongi menyandarkan kepalanya di tembok dan membiarkan punggungnya yang pegal tersiram shower air hangat.
Dia takut menghadapi masa depan dan ketika membayangkan Hoseok, air matanya menetes, mengalir bersama siraman shower, Maafkan aku Hoseok, setelah ini mungkin aku akan menjadi wanita kotor dan tak pantas untukmu, tapi hatiku tetap milikmu.
Ketika selesai membasuh muka dan menggosok gigi, Yoongi memandang bayangan dirinya dicermin, keadaannya sudah lebih baik pipinya sudah tidak pucat lagi, sudah ada rona merah disana setelah mandi air hangat. Ketukan di pintu hampir membuat tubuh Yoongi melonjak.
"Kau lama sekali, apa kau baik-baik saja disana?", tanya Jimin tak sabar
"Yyaaa...sebentar lagi saya selesai", Yoongi menjawab sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling.
Apakah aku harus keluar dari kamar mandi dalam keadaan telanjang? Matanya menatap tumpukan baju kotornya memikirkan kemungkinan mengenakan bajunya lagi, dan membayangkan mengenakan baju yang hamper basah kuyup itu membuatnya begidik.
Senyumnya muncul ketika menemukan tumpukan handuk berwarna biru tua di lemari samping wastafel, dan dia beruntung, bukan hanya handuk, tapi dia menemukan sepasang jubah mandi dengan warna yang sama. Yang satu berukuran besar dan yang satu berukuran kecil.
Dikenakannya jubah mandi ukuran kecil yang masih kebesaran ditubuhnya sambil mengernyit, bahkan perlengkapan kamar mandi ini seperti sengaja ditujukan untuk pasangan, sepasang jubah mandi, sepasang sikat gigi, dan sepasang handuk.
Ditatapnya bayangannya di cermin, wah lumayan, lebih dari lumayan malah, jubah itu menutup rapat dadanya dan karena kebesaran, panjangnya hamper mencapai mata kaki, dia kelihatan cukup sopan meski sebenarnya tidak mengenakan apa-apa lagi di balik jubah mandinya.
Ketika Yoongi keluar dari kamar mandi, Jimin sedang memberikan instruksi pada pelayan hotel yang menata makan malam di meja. Lelaki itu hanya mengangkat alis melihat akal Yoongi memakai jubah mandi,lalu memberikan tips pada pelayan sebelum dia pergi.
"Duduklah, makan dulu", Gumam Jimin mulai santai sambil menunjuk kursi di depannya.
Yoongi duduk dengan gugup di kursi dan menatap makanan yang tersaji di meja. Air liurnya langsung terbit melihat sajian yang kelihatannya lezat itu, ada sup krim yang sangat panas yang pasti rasanya sangat nikmat untuk orang yang habis basah kuyup kehujanan, lalu daging panggang dengan bumbu keju dan saus yang sangat menggunggah selera, salad buah-buahan dan cokelat panas yang pasti untuknya, karena Jimin sudah menyesap kopinya. Lelaki itu dengan penuh perhatian menuangkan sup di mangkuk dan menyodorkannya pada Yoongi.
Yoongi menatap Jimin ragu, dan untuk pertama kalinya hari itu, Jimin tersenyum lembut padanya, "Ayo makan, aku tahu kau lapar, aku sendiri lapar sekali."
Mereka mulai makan dalam keheningan, dari sudut matanya, Yoongi dengan hati-hati melirik Jimin dan menyadari lelaki itu mulai santai, jasnya sudah dilepas dan kancing kemejanya dibuka dua dengan dasi yang sudah dibuka begitu, cara makannya sangat elegan hingga membuat Yoongi malu.
"Yoongi?"
Suara itu menembus lamunannya dengan keras hingga membuat Yoongi hampir
melonjak karena terkejut. Matanya mengerjap menatap Jimin,
"a...apa?"
"Kau hanya mengaduk-aduk supmu, apa tidak enak?"
Dengan terburu-buru Yoongi menyuap sesendok sup dan menelannya, "Ti..tidak, ssayaa hanya sedang berpikir"
Jimin tersenyum, lalu sekali lagi menatap jubah tidur Yoongi, "Pintar sekali kau memakai jubah itu, jadi kau tak perlu tampil telanjang di depanku"
Komentar yang diucapkan dengan santai itu hampir saja membuat Yoongi tersedak, pipinya langsung merona merah. Jimin menyesap kopinya sambil tetap memandang Yoongi, lalu meletakkan cangkirnya.
"Oke, giliranku mandi, makanlah sepuasmu,lalu taruh saja disitu aku akan menelpon pelayan untuk membereskannya 30 menit lagi"
Dengan santai lelaki itu melenggang ke dalam kamar mandi, Setelah menyesap cokelatnya, Yoongi tidak tahu harus mengerjakan apa lagi, jadi dia duduk di pinggir ranjang dan menyalakan televisi, Beberapa saat kemudian pelayan datang dengan sopan dan membereskan makanan mereka. Yoongi hanya terdiam agak malu karena menyadari keadaannya yang hanya mengenakan jubah mandi.
Detik-detik berlalu dan terasa begitu mencekam bagi Yoongi, sangat kontras dengan Jimin yang sedang di kamar mandi, lelaki itu mandi dengan santai, bahkan Yoongi mendengar lelaki itu bersenandung di shower. Ketika Lelaki itu keluar dari kamar mandi, Yoongi sudah hampir tertidur di atas ranjang, pertarungan batin yang bertubi-tubi sudah membuat jiwa dan raganya kelelahan, sehingga berdiam diri berbaring di atas ranjang yang nyaman itu membuatnya merasa sangat mengantuk.
Jimin mengernyit sambil mengencangkan tali jubah mandinya, ditatapnya Yoongi yang berbaring miring membelakanginya dengan posisi meringkuk seperti janin di dalam kandungan, pemandangan itu membuat hatinya terasa sakit, entah kenapa, seperti ada dorongan untuk merengkuh gadis itu dan melawan seluruh dunia demi dirinya.
Kernyitan Jimin semakin dalam, tidak pernah dia merasa seperti itu sebelumnya pada seorang perempuan, gadis ini telah membangkitkan semacam hasrat liar yang selama ini tersembunyi rapat-rapat dalam jiwa Jimin, dan bukan hanya hasrat tapi dibarengi oleh rasa obsesif dan posesif yang mendalam.
Tidak! geram Jimin dalam hati, hasrat ini tidak boleh sampai membuat dirinya lemah, dia harus menunjukkan siapa yang berkuasa. Dengan pelan Jimin naik ke ranjang dibelakang Yoongi yang memunggunginya, lalu diraihnya pundak Yoongi, gadis itu terperanjat karena dibangunkan dari kondisi tidur-tidur ayamnya, dengan mata yang masih sayu setengah tidur ditatapnya Jimin.
Jimin melihat sekelumit ketakutan didalam mata itu, dan dengan sedikit kasar dibaliknya tubuh Yoongi menghadap dirinya
"Aku membayar kamar di hotel ini bukan hanya untuk tidur", geramnya parau lalu dikecupnya bibir Yoongi.
Dan...meledaklah, Jimin merasa hasrat langsung membakar tubuhnya sekaligus, menghanguskannya, sejenak dia merasa ragu melampiaskan hasratnya seratus persen karena dirinya cenderung kasar ketika sangat berhasrat, tapi mengingat bagaimana Yoongi menawarkan diri padanya hanya demi uang dan goresan rasa kecewa yang nyeri di hatinya karenanya membuat Jimin tak peduli lagi, toh gadis ini pasti sudah berpengalaman dan mungkin sudah lebih dari sekali dia menjual dirinya demi uang. Tapi benarkah gadis itu sudah berpengalaman?
Jimin teringat ciuman Yoongi yang tanpa teknik memadai di tempat parker tadi. Tidak! putusnya dalam hati, mungkin gadis itu hanya tidak pandai berciuman, Seorang pelacur harus diperlakukan seperti pelacur!
Yoongi masih terkejut ketika tiba-tiba saja tubuhnya dibalik dan dicium habishabisan, dia masih setengah tertidur tadi dan benar-benar tak berdaya, Jimin
sudah melampiaskan hasratnya tanpa ditahan-tahan, ciuman-ciumannya tanpa jeda seolah-olah lelaki itu tak tahan sedetikpun tidak berciuman dengannya. Ketika Jimin mengangkat kepalanya, matanya berkabut, pupil matanya membesar terlihat kontras dengan iris matanya yang berubah menjadi biru pucat.
"aku ingin bercinta, aku ingin memasukimu...Ah kau tidak tahu betapa aku...", suara Jimin tersengal, lalu melumat bibir Yoongi lagi dengan membabi buta.
Kata-kata vulgar Jimin itu membuat pipi Yoongi merona malu. Tidak terbayangkan, dia, perempuan yang tidak pernah intim dengan lelaki manapun, sekarang terbaring dengan jubah mandi yang sudah acak-acakan, ditindih oleh lelaki yang mungkin sampai beberapa hari yang lalu tidak dikenalnya dengan baik.
Tangan Jimin menelusup di balik jubah mandinya, menemukan payudaranya yang hangat dan lembut, lalu meremasnya. Sedikit terlalu bergairah sehingga Yoongi mengerang.
Jimin menghentikan gerakannya, lalu menatap Yoongi lembut, "Sakitkah?", bisiknya parau
Yoongi terpaku, suaranya seakan tertelan di tenggorokan, bagaimana dia harus menjawabnya?
Tetapi Jimin tidak memerlukan jawaban, lelaki itu tersenyum, lalu menggerakkan tangannya lagi menyentuh payudara Yoongi, dengan ahli dia menyingkirkan jubah mandi Yoongi yang menghalangi, dan menemukan keindahan ranum di baliknya,
"Oh Indahnya", bisik Jimin serak, membiarkan Yoongi memalingkan muka dengan malu dibawah tatapan tajam dan memuja lelaki itu.
Lalu bibir Jimin yang panas menelungkupi puting payudaranya, lidahnya bermain di sana terasa panas, membakar seluruh tubuh Yoongi, membuatnya terpaksa merintih. Bingung dengan gejolak yang menyebar di seluruh tubuhnya. Jimin begitu ahli sedang Yoongi sama sekali tidak berpengalaman, dan lelaki itu tampaknya tidak merasa perlu menahan dirinya.
Entah kapan, mereka sudah telanjang bersama di atas tempat tidur itu, Tubuh Jimin yang keras, melingkupi tubuh Yoongi yang mungil di bawahnya, menggodanya, menggeseknya dengan kekuatannya, membawa gairah Yoongi makin naik, sedikit demi sedikit ke puncaknya. Kemudian Yoongi merasakan kejantanan Jimin, yang tidak terhalang apapun menyentuh pusat dirinya. Pelan, tapi membuatnya terkesiap. Yoongi membuka matanya yang terpejam, menatap Jimin di atasnya. Lelaki itu menatapnya dengan tajam, matanya berkabut, napasnya terengah, dan sejumput rambut tampak jatuh di dahinya, membuatnya tampak begitu liar.
"Ah, ya manis...Kau pasti akan sangat menyukainya", geram Jimin pelan, lalu mulai mendorong, menekan dan menyentuh Yoongi, "Kau sudah siap", erang Jimin, "Kau sudah basah dan panas, siap untuk diriku..."
Jantung Yoongi berdegup kencang, beriringan dengan detak jantung Jimin yang bahkan lebih parah. Dengan perlahan, Yoongi memejamkan matanya, melepaskan hatinya, Demi kamu Hoseok, bisiknya dalam hati bagaikan mantra yang menyelamatkan jiwanya.
Ini adalah sensasi baru bagi Yoongi, merasakan kejantanan seorang lelaki yang mencoba memasukinya, menyatu dengannya. Rasanya panas dan membuat seluruh saraf ditubuhnya menggila, membuatnya begitu sensitif oleh kebutuhan yang sampai saat ini tidak pernah diketahuinya, kebutuhan untuk mencapai puncak.
Hingga rasa sakit yang menyengat tiba-tiba menyentakkannya ke alam sadar, Yoongi mengerang kesakitan, tubuhnya mengejang, dengan panic dicengkeramnya pundak Jimin dan menggeleng-gelengkan kepala ketakutan atas usaha Jimin untuk menyatu semakin dalam dengannya.
Dan ketika merasakan sesuatu yang menghalanginya, mendengar erangan Yoongi yang jelas-jelas kesakitan serta pandangan ketakutan yang membayangi mata Yoongi, Jimin sadar bahwa semua prasangkanya itu salah, meski tetap tak bisa menjelaskan kenapa Yoongi dengan mudahnya menjual dirinya, tapi ini sudah menunjukkan bahwa Yoongi bukan wanita gampangan, Jimin adalah lelaki pertamanya.
Menyadari kesakitan yang mendera Yoongi, Jimin mengalihkan perhatian Yoongi denga cumbuannya dengan segenap keahliannya, rasa senang tak tertahankan membanjiri pikirannya ketika menyadari dirinya adalah lelaki pertama gadis itu.
Diciumnya bibir Yoongi dengan lembut, bibir ranum yang sekarang menjadi miliknya. Napas Yoongi terengah-engah dan Jimin melihat di matanya, ada ketakutan dan kesakitan. Jimin tidak pernah bercinta dengan perawan sebelumnya, dia tidak tahu seperti apa rasa sakitnya, dia tidak mengerti bagaimana meredakannya. Tetapi Jimin tidak suka melihat rasa sakit itu mendera di mata Yoongi.
"Sssh...Sayang, aku tidak bermaksud menyakitimu", Dengan lembut Jimin menelusurkan tangannya di sisi tubuh Yoongi, lalu berhenti di pinggul Yoongi, menahan pinggangnya yang sedikit meronta, mencegah tubuh mereka yang sudah setengah menyatu supaya tidak terpisah.
"Mungkin akan sedikit sakit tapi semua akan baik, tubuhmu akan menerimaku seutuhnya...", Suara Jimin terhenti ketika dia mendorong dengan kuat, menembus batas keperawanan Yoongi dan menyatukan tubuhnya sepenuhnya dengan Yoongi.
Yoongi berteriak kencang merasakan pedih yang amat sangat ketika Jimin menembusnya, jemarinya tanpa sadar mencengkeram pundak Jimin dengan keras. Tetapi Jimin tidak berhenti karena dia sadar kalau dia berhenti dia akan menyakiti Yoongi. Dengan perlahan, Jimin menggerakkan tubuhnya. Oh Tuhan !
Sekujur tubuhnya terasa nyeri menahan diri. Yoongi terlalu rapat, terlalu basah, terlalu panas, mencengkeram tubuhnya di bawah sana. Dia hampir-hampir tidak tahan dan dorongan untuk memuaskan diri dengan brutal di tubuh Yoongi semakin menyiksa.
Tetapi Jimin sadar, ini pengalaman pertama bagi Yoongi, dia harus membuatnya seindah mungkin, dia tidak boleh menyakiti Yoongi. Karena itu sambil menggertakkan diri menahan gairahnya, Jimin mencoba bergerak selembut mungkin, menarik tubuhnya pelan dari balutan sutra basah dan panas itu, untuk kemudian menghujamkannya lembut. Lagi dan lagi.
Lalu ketika desah napas Yoongi menjadi pendek-pendek serta pegangannya pada pundak Jimin makin kencang, Jimin sadar, dia telah membuat Yoongi mencapai orgasme pertamanya. Pemandangan ekspresi wajah Yoongi saat itu sungguh tak tergantikan, mendorongnya terlempar menuju puncak kepuasan yang sangat tinggi, sangat tak tertahankan seolah-olah dunia melededak dibawahnya. Dan Jimin benar-benar meledak di dalam tubuh Yoongi.
Orgasme ini terasa begitu dasyat, sebuah pelepasan dari akumulasi gejolak yang ditahannya selama ini. Kenikmatan yang luar biasa ini membuat Jimin merasa sedikit sesak napas,seolah olah dia terhanyut dalam pusaran gairah yang tak tertahankan terus menerus menghantamnya tanpa henti,erangan parau keluar dari bibirnya ketika dia menenggelamkan wajahnya dalam-dalam di sisi leher Yoongi.
Ketika usai, mereka berbaring berpelukan sambil berusaha menormalkan napasnya.
"Wow"
hanya itu yang terlintas dipikiran Jimin, dan dia tak sadar telah mengucapkannya keras setelah menyadari rona merah yang merayap di leher Yoongi.
Dengan lembut dikecupnya leher Yoongi,,,diangkatnya kepalanya, dan mereka bertatapan, mata biru yang tajam,yang agak berkabut setelah mencapai orgasme terhebat sepanjang eksistensi kehidupannya bertemu dengan mata hitam yang berkaca-kaca.
"Apakah kau...", Jimin berdehem ketika menyadari suaranya sangat parau,"apakah kau baik-baik saja?"
Yoongi tampak tidak tahan ditatap dengan sedemikian intens apalagi dalam posisi yang sangat intim, dipalingkannya kepalanya setelah mengangguk menarik napas pelan, kemudian dengan hati-hati, sangat berhatihati, dia mengangkat tubuhnya dari atas Yoongi dan bergeser ke samping, menyadari kernyitan tidak nyaman di wajah Yoongi ketika dia menarik diri.
Tanpa sadar Jimin bersikap begitu lembut, sikap yang tidak pernah ditunjukkannya ketika usai bercinta dengan wanita-wanita yang lain. Direngkuhnya tubuh mungil Yoongi, diletakkannya kepalanya di lengannya, gadis itu tampak pasrah, mungkin sudah terlalu lelah, kasihan, kasihan Yoonginya yang masih suci. Ternyata selama ini dia salah paham, gadis ini benar-benar masih suci.
Kepuasan seksual yang luar biasa masih mempengaruhi pikirannya yang berkabut, tangannya dengan santai mengelus punggung Yoongi yang bergelung dipelukannya, sampai lama kemudian disadarinya pundak Yoongi berubah santai dan napasnya mulai teratur pelan. Gadis itu tertidur. Jimin mengatur posisinya dengan lebih nyaman. tak pernah sebelumnya dia seintim ini setelah bercinta, gadis ini benar-benar mempengaruhinya...
Yoongi merasakan seluruh tubuhnya sakit dan pegal. Dengan mengerutkan dahi dia mencoba menggerakkan badannya. Oh...memang pegal sekali rasanya, pelan pelan dibukanya matanya, cahaya kamar masih tampak redup, suasana kamar terasa sejuk dan menyenangkan.
"Selamat pagi"
Sapaan itu begitu mengejutkan, menembus kesadarannya yang masih berkabut, hingga badan Yoongi terlonjak duduk,lalu selimutnya turun sampai ke pinggang dan barulah Yoongi menyadari kalau dia telanjang. Dengan gugup ditariknya selimut menutup dadanya. Matanya langsung bertatapan dengan Jimin yang duduk disofa,tepat dihadapannya. Sedikit senyum tersirat di sana melihat kegugupan Yoongi.
Sekali lagi Yoongi benar-benar malu, Jimin sudah tampil sangat rapi dan elegan dengan pakaian santai dan sedang menyesap kopi sambil membaca koran paginya, penampilannya benar-benar sempurna di pagi hari, sedangkan Yoongi...Astaga, jam berapakah ini?
"Ini masih pagi sekali, masih gelap, tadi aku bangun dan memutuskan mandi air dingin, kalau tidak aku tidak akan bisa menahan diri untuk membangunkanmu dan bercinta lagi denganmu"
Suara lelaki itu datar seperti sedang membicarakan acara televisi favoritnya, tak dipedulikannya wajah Yoongi yang memerah.
"Bukannya aku tidak bisa, tapi sepertinya aku harus menghormati virginitasmu yang baru hilang"
Tatapan Jimin berubah tajam, seperti yang selalu dilakukannya di saat meeting di saat dia membuat lawan-lawan bisnisnya mengekeret ketakutan.
"Kenapa kau yang masih perawan itu bisa dengan mudahnya menjual diri padaku? Apa tujuanmu sebenarnya" Tanya Jimin tanpa ampun.
Yoongi duduk disana dalam kondisi paling tidak siap dan Jimin melemparkan pertanyaan paling sulit untuk di jawab, apakah laki-laki itu sengaja? Tentu saja Jimin sengaja! Seru Yoongi dalam hati, lelaki seperti dia tak akan sesukses ini dalam bisnis jika tidak tahu cara menyerang lawannya di titik lemah.
Sekarang dia harus menjawab apa? Yoongi benar-benar kebingungan. Kalau dia menceritakan seluruh kisahnya, akankah Jimin percaya? Lagipula dia tidak ingin melibatkan Hoseok disini, jangan sampai Jimin tahu tentang Hoseoknya, dia harus melindungi Hoseok dari lelaki kejam seperti Jimin, siapa yang tahu apa yang akan dilakukan Jimin kepada Hoseok hanya untuk memerasnya nanti?
Dengan tegar Yoongi menegakkan dagunya,
"Saya rasa alasan saya melakukan ini bukan urusan anda, yang penting saya tidak akan merugikan diri anda."
Rahang Jimin mengeras mendengar jawaban Yoongi tadi. Sejenak tadi dia merasa Yoongi patut diberi kesempatan, mungkin saja Yoongi melakukan itu untuk membiayai saudaranya atau apa, Tetapi ternyata dia salah, bodohnya dia, wanita dimanapun sama saja.
Yoongi mungkin hanya menunggu kesempatan untuk menjual keperawanannya dengan harga mahal, bukan bermaksud menjaganya. Bodohnya dia sempat berpikir untuk mempercayai gadis itu.
"Oke, bussiness is bussiness, aku tidak akan bertanya lagi tentang tujuanmu, asal jangan sampai kau merugikanku...", mata Jimin menyipit kejam, "kalau kau berani berani melakukannya, aku akan membuatmu menderita."
Yoongi tanpa sadar beringsut menjauh, ketakutan dengan nada suara dan tatapan kejam Jimin.
Tiba-tiba saja laki-laki itu berdiri dari duduknya setelah membanting gelas kopinya di meja, Yoongi menatap lelaki itu dengan cemas, apa yang salah dari ucapannya? Kenapa lelaki itu tampak begitu marah padanya? Jimin melirik jam tangannya,
"Aku sudah membuat janji dengan pengacaraku tiga jam lagi, akan kubuat kontrak hitam di atas putih atas perjanjian jual beli kita ini, dan selama aku menunggu jam itu..."
Mata Jimin menelusuri tubuh Yoongi yang berusaha menutupinya dengan selimut. Tatapan matanya sangat melecehkan.
"Well kurasa sudah cukup kan penghormatanku atas virginitasmu?"
Lalu Jimin naik ke ranjang dan merenggut tubuh Yoongi. Membawanya ke tempat tidur bersamanya. Kali ini tidak ada kelembutan. Lelaki itu tidak menahan-nahan diri lagi. Dan dia sudah siap. Dengan kasar dibukannya paha Yoongi dan tanpa basa basi dia menyatukan tubuhnya dengan Yoongi, yang entah kenapa sudah siap menerimanya.
Jimin menyatukan tubuhnya dalam-dalam, sebuah erangan nikmat lolos dari mulutnya ketika dia merasakan kenikmatan yang menyengat, lelaki itu menatap Yoongi, antara bingung dan marah tercampur di dalam matanya.
"Kau...Sungguh membuatku tergila-gila", Erangnya kasar sebelum bergerak dengan begitu ahlinya, membawa Yoongi menuju puncak kenikmatan.
TBC
P.S: FULL RATED ,ketir-ketir editnya nih. So,review ?
