Cast : [YoonMin Couple] Min Yoongi a.k.a Suga, Park Jimin

Seme!Jimin , Uke!GS!Yoongi

Support Cast : Jung Hoseok a.k.a JHope

A/N : Hmm Well, ini adalah remake dari novel salah satu penulis terkenal Tante Santhy Agatha yang berjudul "A Romantic Story About Serena" ,disini aku Cuma mengubah pemeran jadi couple kesayangan hihihi Jalan ceritanya tetap seperti apa yang lahir dari ketikan Tante Santhy Agatha yaa makasih tante buat novelnya yang bagus banget dan maaf aku me-remake seenak jidat sendiri :3

Well ,aku bukan orang baru di ffn tapi jelas adalah orang baru dalam dunia FF Yoonmin atau BTS ,Well I'm just Fall in love with them lately(Too Late). Semoga pada suka dan aku diterima di fandom ini hehe

Happy reading

Chapter 3

Yoongi menatap tubuh telanjangnya di cermin, air panas mengalir dari pancuran menimpa tubuhnya, kamar mandi itu beruap, sehingga bayangan tubuhnya terpantul samar-samar di cermin. Tadi Jimin tidak lembut, well meskipun tidak sampai menyakitinya, tetapi lelaki itu berbeda dari semalam, gairahnya liar dan tidak ditahan-tahan lagi, meluapluap seolah olah sudah bertahun-tahun laki-laki itu tidak melampiaskan hasratnya.

Tapi itu tidak mungkin kan? Yoongi tanpa sengaja mengerutkan dahinya, Jimin terkenal suka gonta ganti perempuan, parempuan yang dipacarinya selalu setipe, cantik bagaikan boneka, langsing, dari kelas atas dan terkenal, entah itu model, artis dan kebanyakan orang luar. Semua wanita itu rela menyerahkan dirinya pada Jimin dengan sukarela. Desas desus berkembang bahwa Jimin kekasih yang sangat bergairah dan murah hati, tetapi tidak tanggung-tanggung mendepak pasangannya dengan kejam, karena dia tak pernah memakai hati dalam berhubungan.

Kekasih terakhir Jimin, yang kemarin baru digandengya dalam acara pernikahan seorang anak direksi adalah artis film yang sedang naik daun, keturunan indo Jerman yang sangat cantik bernama Minah, tubuhnya tinggi langsing semampai dengan rambut cokelat bergelombang yang sangat halus bagaikan sutera,kulitnyapun tak kalah halusnya sepertu buah peach dan dia tampak sangat serasi, bergelayut manja di lengan Jimin dengan tatapan memuja.

Apakah Jimin juga akan melecehkan Minah seperti melecehkanku? Apa yang akan dilakukan Minah jika dia mengetahu semua ini? Tidak, apa yang akan dikatakan semua orang?

Yoongi mengernyit melihat bekas bekas ciuman memerah di pundak dan sekitar buah dadanya. Jimin lelaki yang suka meninggalkan tanda. Seperti singa jantan yang menandai betinanya, Yoongi tahu lelaki itu sengaja meninggalkan bekas-bekas ciuman di tubuhnya...bahkan ada yang di sekitar pinggulnya...

Astaga...apa yang telah kulakukan ya Tuhan? Apakah aku sudah melakukan keputusan yang paling benar? Yoongi sudah tidak dapat menangis lagi, air matanya sudah habis dan hatinya sekarang terasa amat hampa.

Dengan pelan Yoongi meraih handuk dan mengeringkan tubuhnya lalu meraih jubah mandi yang tadi ditemukannya tergeletak di karpet, sepertinya Jimin semalam melemparkannya ke lantai.

Dengan langkah pelan Yoongi keluar dari kamar mandi, bingung mau berbuat apa, dan bertanya-tanya dimanakah pakaiannya sekarang?

Tatapannya menuju ke arah sofa, di situ ada kemasan pakaian. Yoongi melangkah dan mengambil kemasan itu, ya, ini pakaian wanita, masih baru, dari butik ternama lengkap dengan pakaian dalamnya...Apakah ini untuknya? Yoongi memegang kemasan itu dengan ragu.

Tapi dia juga tak mungkin memakai jubah mandi dalam kondisi telanjang seharian kan?

Dengan hati-hati Yoongi membuka kemasan itu, sebuah gaun santai berwarna merah muda dari bahan yang sangat halus, apakah ini sutra? Dan pakaian dalam senada, Yoongi melihat ukurannya dan semuanya pas, Jiminkah yang memesaannya?

Dengan gerakan pelan dan tanpa menimbulkan suara Yoongi memakai pakaian itu, gaunnya terasa sangat nyaman menempel ditubuhnya, sebuah gaun santai satu potong sepanjang bawah lutut yang sangat elegan.

Setelah itu selama beberapa lama Yoongi berdiri ditengah kamar itu tanpa berbuat apa-apa. Pandangannya mengarah ke arah ranjang yang seperti habis diserang badai, Dan tubuh Jimin terbaring disana, punggungnya tampak kecokelatan terlihat di balik selimut kamar yang putih bersih.

Lelaki itu berbaring tengkurap salah satu lengan membingkai kepalanya, dan tubuhnya diam tak bergerak, Kepalanya terbaring miring di atas bantal. Yoongi mendekat pelan kesisi ranjang tempat Jimin berbaring, wajahnya tampak damai sekali, kalau sedang tidur, dia tak tampak berbahaya.

Yoongi melirik ke arah jam dinding, satu jam lagi, seperti yang dikatakan oleh Jimin tadi, dia ada janji dengan pengacaranya... haruskah Yoongi membangunkannya? Tapi bagaimana nanti kalau Jimin marah dan menuduhnya berani mengganggunya karena ingin segera mendapatkan uang pembayaran?

Bukannya Yoongi tidak ingin segera mendapatkan uang itu, Semakin cepat dia bisa membayar ke rumah sakit, semakin cepat Hoseok bias dioperasi. Tetapi Jimin sudah cukup banyak memandang rendah dan melecehkannya...

Tiba-tiba handphone Jimin yang diletakkan di meja samping ranjang berbunyi keras, membuat Yoongi hampir terlonjak karena terkejut. Tubuh Jimin bergerak dan mata biru yang tajam itu terbuka,langsung menatap Yoongi. Meski baru bangun tidur, rupanya Jimin tipe lelaki yang langsung terjaga sepenuhnya detik itu juga.

Matanya langsung menelusuri tubuh Yoongi dari atas ke bawah tanpa satu incipun terlewatkan, tersenyum puas melihat penampilan Yoongi dengan baju barunya.

"Ternyata pilihanku tepat", desisnya parau sambil mengangkat telephone. Telephone itu dari pengacaranya. Jimin menyuruh Pengacara itu menunggu di restoran hotel satu jam lagi.

Ketika Jimin meletakkan telephonnya, Yoongi masih berdiri diam di tempatnya semula, tak tahu musti mengatakan apa.

"Pengacara akan datang sejam lagi", dengan santai Jimin berdiri dari ranjang, tak peduli dengan ketelanjangan tubuhnya, dan mengangkat alis tersenyum melihat Yoongi memalingkan muka.

Dengan sengaja dia mendekat berdiri di depan Yoongi dan mengangkat dagu Yoongi agar menghadapnya.

"Kenapa manis? Kau malu melihatku telanjang? Bukankah kita sudah menghabiskan waktu berjam-jam telanjang bersama?"

Wajah Yoongi merah padam, tapi dia tidak berkata apa-apa. Jimin mendengus lalu melepaskan Yoongi dan melangkah ke kamar mandi.

"Bagus kau sudah siap. Aku akan mandi setelah itu kita sarapan, lalu kita akan tandatangani kontrak perjanjian, setelah itu kau akan mendapatkan uangmu"

.

.

.

.

Yoongi mengaduk-aduk supnya dengan pikiran menerawang, dia memikirkan Hoseok, kemarin sore dia meninggalkannya dan menitipkannya pada Suster Hana, sore ini dia harus menjenguknya. Bagaimana kondisi Hoseok? dia habis mengalami serangan, bagaimana kalau dia mengalami serangan lagi? Jimin menatap Yoongi dari seberang meja, apa yang dipikirkan gadis itu? Kenapa dia tampak begitu tidak bahagia? Bukankah dia baru saja mendapatkan uang dalam jumlah banyak yang bebas digunakannya melakukan apapun?

Ataukah dia menyesal sudah menyerahkan diri padaku? Pikiran buruk itu tiba-tiba menyergap otaknya. Dalam Kapasitas apa dia menyesali sudah menyerahkan diri padaku?

Jimin menggertakkan giginya, seharusnya wanita ini Bangga, aku, Park Jimin, orang yang sangat kaya dan berasal dari keturunan keluarga kaya terpandang di negaranya, yang bisa mendapatkan wanita manapun yang dia mau, bersedia menidurinya!

Jimin memikirkan semua keputusannya semalam. Ternyata ini bukan obsesi mau pun kegilaan sesaat, ternyata bahkan setelah percintaan marathon mereka semalam dan tadi pagi, dirinya masih menginginkan Yoongi. Amat sangat menginginkannya malahan, Setelah hasratnya terpuaskan pada tubuh Yoongi, bukannya semakin reda dia malahn makin ingin dan ingin lagi, gadis itu begitu polos tapi menggairahkan dan di dalam otaknya ini penuh dengan hasrat untuk mengajari gadis itu bagaimana cara memuaskannya.

Dengan kesal dia mengutuk pemikirannya itu, apakah aku sudah menjadi seorang maniak seks?

Jimin memikirkan jeda sejenak tadi, ketika dia menghubungi Taehyung pengacara kepercayaannya dan menyatakan niatnya serta minta dibuatkan draft surat perjanjiaannya. Taehyung adalah pengacara kepercayaannya sejak dulu, sekaligus sahabatnya.

Lelaki Korea ini telah menempuh pendidikan hukum di Belanda, dan disanalah mereka berkenalan. Beberapa tahun kemudian, setelah Taehyung pulang ke Korea, dia membangun karir menjadi pengacara yang hebat. Dan ketika Jimin memutuskan memimpin cabang di Korea, mereka bertemu lagi, lalu menjalin kerjasama kerja sekaligus persahabatan.

Jimin tahu Taehyung tidak akan bertanya apapun yang tidak perlu tentang keputusannya. Lelaki itu sudah terbiasa dengan keputusan dan rencana-rencana bisnis Jimin yang ekstrim. Tetapi saat Jimin membicarakan hal tersebut, ada kecemasan dalam suara Taehyung.

"Kau yakin? Ini memang surat jual beli, tapi ini ekstrin Jimin, jual beli manusia, jual beli pelayanan seks. kau bisa dibilang melanggar hukum malahan kalau suatu saat nanti terjadi masalah, apalagi mengingat kau warga negara asing"

Jimin tersenyum, Yoongi tidak akan berpikir sejauh itu, bukannya gadis itu bodoh, tapi dia terlalu polos, entah kenapa Jimin percaya bahwa Yoongi akan menepati janjinya.

"Buat saja Taehyung, selanjutnya biar aku yang menanggung", gumamnya yakin. Taehyung tidak mengatakan apa-apa lagi, tetapi Jimin yakin lelaki itu menunggu sampai mereka bertatap muka baru dia akan mengajukan pertanyaan mendetail.

Taehyung adalah lelaki yang sangat analisis, Jimin menahan senyumnya. Pikirannya kembali ke masa sekarang, dan menatap Yoongi yang seolah tidak selera makan.

"Kenapa kau tidak memakan makananmu?", desis Jimin, hanya sebuah desisan dan Yoongi terlonjak kaget, apakah dia sebegitu menakutkannya bagi Yoongi.

"Mr. Park", Yoongi menyebutkan nama Jimin dengan pelan, di telinga Jimin suaranya terdengar begitu merdu bagaikan ajakan bercinta.

"Sesuai perjanjian kemarin, aku akan selalu ada kapanpun kamu membutuhkanku", pipi Yoongi bersemu merah mengingat arti dari kata.

"Aku...bolehkah aku meminta waktu untuk diriku sendiri setiap harinya dari jam pulang kantor sampai jam sembilan malam?", suara Yoongi terdengar tertelan dan takut-takut.

Jimin mengerutkan keningnya, sebenarnya itu bukan masalah, Jimin terbiasa bekerja sampai larut malam, biasanya jam sepuluh atau sebelas malam dia baru sampai di rumah.

"Bukan masalah, aku selalu pulang larut malam", Jimin berdehem, "tempat tinggalmu sekarang, apakah memperbolehkan lelaki masuk?"

Yoongi mengernyitkan kening.

"itu tempat flat perempuan satu kamar milik sebuah keluarga, tentu saja kau boleh masuk, ada ruang tamu yang disediakan"

"Ruang tamu?", Jimin mengangkat alis penuh arti dengan tatapan sedemikian rupa

"Oh", pipi Yoongi bersemu dan tak berani menatap Jimin ketika menyadari arti tatapannya.

"Aku tak mungkin bukan 'berkunjung' setiap malam ke tempatmu?", tatapannya tampak menahan senyum.

Dan Yoongi menyadari kebenaran kata-kata Jimin, tempat flatnya hanyalah sebuah kamar sederhana seadanya yang penting bisa tidur setiap malam. Bukan level Jimin untuk berada di sana, Yoongi melemparkan pandangan sekilas ke sekeliling ruangan.

"Aku tak mungkin membawamu setiap malam ke hotel, karena jam pulang kerjaku yang tak tentu, tidak mungkin pula menyuruhmu stand by di hotel setiap harinya", Jimin merenung

"Tak mungkin juga membawamu tinggal di rumahku, kalau sampai ada orang yang tahu bisa berbahaya buatmu juga"

Dengan santai Jimin menyesap kopinya, "Oke, nanti siang setelah bertemu dengan pengacaraku, kita cari apartement di dekat kantor"

Yoongi hampir menyemburkan teh yang disesapnya mendengarnya, lelaki ini bercanda? Apartemen? Di dekat kantor? Kantor mereka berada di kompleks perkantoran dan bisnis yang mewah, apartmen pun pasti juga kelas atas dan mahal, bagaimana lelaki itu bisa mengatakan tentang mencari apartemen semudah itu?

Jimin sepertinya mengetahui pemikiran Yoongi.

"Lebih mudah bagiku Yoongi, aku biasanya capek dan bertemperamen buruk setelah bekerja, aku tak mau repot-repot menjemput atau tetek bengek reservasi hotel jika malam-malam tiba-tiba aku menginginkan bersamamu"

Jimin tersenyum," apartemen akan memudahkan kita, bukan berarti aku akan mengunjungimu setiap malam", tambahnya cepat.

Yoongi mengangguk gugup, yah, dia kan hanya mahluk yang sudah dibeli, dia hanya bisa menuruti apapun kemauan Jimin. Setelah menghabiskan kopinya Jimin melirik jam tangannya.

"Well, pengacaraku pasti sudah menunggu di bawah, enjoy your time, aku akan menemuinya sebentar"

Dengan santai lelaki itu berdiri, lalu tanpa diduga-duga menarik Yoongi berdiri, mendorongnya ke tembok lalu menciumnya dengan penuh gairah, lama dan hangat dengan teknik yang sangat ahli, sehingga ketika dia melepas ciumannya, Yoongi hampir tak bisa berdiri membuat Jimin musti menahan tubuhnya, dengan lembut lelaki itu mendudukkan Yoongi di kursi.

"Sebenarnya sudah sejak tadi aku ingin melakukan itu", gumamnya dalam senyum puas sebelum pergi meninggalkan Yoongi.

.

.

.

.

.

"Kau benar-benar serius tentang ini Jimin?", Taehyung bertanya saat Jimin mempelajari salinan kontrak itu, Jimin mengangkat matanya dan menatap Taehyung, lalu menunjukkan kontrak itu.

"Kau pikir aku tidak serius? Perjanjian ini senilai tiga ratus juta man!"

"Aku tak habis pikir, kenapa seseorang sepertimu yang bisa mendapatkan wanita manapun yang kau mau, melakukan hal seperti ini demi seorang wanita? Wanita yang sangat murahan dan materialistis sehingga terang-terangan menjual dirinya padamu demi uang? Apa yang ada dipikiranmu Bos?"

Kening Jimin berkerut tidak suka mendengar kata-kata Taehyung, meskipun dia tahu itu semua benar.

"Kau tahu bagaimana rasanya ketika melihat seorang perempuan, dan tiba-tiba seluruh tubuhmu menginginkannya?", Jimin tersenyum melihat ekspresi skeptis Taehyung , tentu saja Taehyung tidak tahu, dia sendiri merasa aneh dengan perasaannya

"Yang pasti aku menginginkannya, dan aku masih belum bosan, tiga ratus juta tak ada artinya buatku"

"Tapi kau orang yang sangat pembosan, seminggu lagi kau pasti akan mencampakkannya, dan menyesali kontrak ini"

"Dan aku tetap akan merasa puas karena setidaknya aku tidak penasaran lagi", jawab Jimin yakin.

Taehyung mengangkat bahu, "Aku tetap tidak setuju, tapi ini semua keputusanmu, serahkan kontrak pada wanita itu, pastikan dia tandatangan, beri salinannya, lalu serahkan yang asli padaku",

Taehyung menyandarkan tubuhnya dikursi, "Min Yoongi ini, apakah aku pernah melihatnya sebelumnya?"

Jimin menggeleng.

"Dia hanya pegawai biasa, seorang supervisor lapangan, kau tidak mungkin pernah melihatnya", jawabnya tegas.

"Apakah dia gadis mungil dengan rambut sebahu dan wajah polos dan tatapan seperti anak kecil yang ada di area pameran mendampingi bosnya yang penjilat waktu itu?"

Jimin langsung bersiaga, Kenapa Taehyung ingat pada Yoongi? Apakah Taehyung juga memperhatikan Yoongi? Apakah dia juga tertarik padanya? Insting posesifnya langsung menyeruak keluar. Taehyung tertawa melihat tatapan tajam Jimin.

"Hey hey jangan menatapku seperti itu, aku memperhatikannya karena waktu itu kau memandangnya dengan begitu intens, tatapanmu seolah-olah tak bisa lepas darinya, seperti pemburu yang ingin melahap mangsanya", Taehyung mengangkat bahu.

"Orang lain mungkin tak akan menyadarinya, tapi aku sudah mengenalmu sejak lama, dan aku tahu betapa intensnya kau jika sudah berkonsentrasi pada satu hal, malam itu kau kehilangan konsentrasimu, gadis itu menarik seluruh perhatianmu, kau sulit berkonsentrasi pada hal lain selain itu"

Taehyung menarik napas panjang, "Well jika dengan gadis yang sama ini kau terlibat, semoga Tuhan memberkatimu sahabatku."

.

.

.

.

Semua terjadi begitu cepat, Jimin langsung mendapatkan apartemen yang diinginkannya, sebuah apartemen yang sangat mewah dengan privasi yang sangat terjamin, Yoongi tidak berani membayangkan berapa harganya, tapi Jimin bersikap sangat santai, katanya itu semua hanyalah investasi.

Dengan sangat efisien Jimin membantu Yoongi membereskan barangbarangnya yang tentu saja tidak banyak, untuk dipindahkan ke aprtement, lalu menyelesaikan pembayaran flat dan sekaligus berpamitan dengan induk semangnya.

Mereka berdua berdiri di tengah ruang tamu apartemen yang sangat mewah itu, Jimin tersenyum pada Yoongi yang berdiri kaku di tengah ruangan.

"Well anggap saja ini rumahmu sendiri", dia lalu melirik jam tangannya, "Aku harus kembali rumahku, pengurus rumah tanggaku pasti bertanya-tanya apa yang kulakukan sampai aku tidak memberi kabar, dia akan kebingungan menjawab telepon yang masuk, kau, silahkan atur apartemen ini sesuai seleramu, jika ada yang kurang ata kau ingin menambah sesuatu, bilang saja"

Yoongi memandang sekeliling apartemen yang penuh dengan interior mewah dan elegan itu, penataannya saja terlalu mewah dan mungkin berlebihan untuknya, tidak, dia mau mengganti apalagi?

"Sementara kau pergi,,,,bolehkah aku keluar sebentar? Kau ingat? Sedikit waktu untuk diriku sendiri seperti yang kaujanjikan?"

Jimin mengangkat bahu, "Silahkan", dia mengeluarkan dompetnya,"Kau butuh uang?"

"Tidak...!", Yoongi menjawab tegas, uang Tiga ratus juta yang ditransfer Jimin tadi siang sudah lebih dari cukup, dia tidak butuh uang apa-apa lagi dari lelaki itu, Jimin sepertinya bisa membaca pikiran Yoongi.

"Uang yang kuberi tadi, itu murni untukmu silahkan kau gunakan sesuka hatimu, tetapi untuk sehari-hari, aku sudah berjanji akan membiayaimu, ingat kan penawaranku di ruangan kerjaku dulu?"

Jimin mengeluarkan kartu berwarna keemasan dari dompetnya, "Ini kartu debit, isinya lebih dari cukup jika kau ingin membeli sepuluh mobil sekalipun", dia lalu menyebutkan nomor PIN nya dan menyuruh Yoongi mengingatnya baik-baik. Yoongi sebenarnya ingin menolaknya, tapi dia tak ingin berlama-lama berdebat dengan Jimin disini, lagipula dia tinggal menyimpannya di dompet dan tak akan pernah memakainya, toh Jimin tidak akan tahu.

Jimin memakai jasnya , puas karena Yoongi menerima kartu debitnya, "Kita akan buat kartu kredit atas namamu besok. Nanti malam, kalau tak ada urusan aku akan kesini", Tatapan Jimin ketika mengucapkan 'nanti malam' begitu intens, membuat pipi Yoongi memerah.

.

.

.

.

Sepeninggal Jimin, Yoongi segera memakai jaket, membawa tas tangannya dan melangkah pergi, lobyy apartemen yang begitu mewah itu benar-benar membuatnya minder, apalagi penjaga pintu menyapanya dengan begitu penuh hormat ketika dia melangkah keluar.

"Anda ingin dipanggilkan taxi, miss?", sapanya dengan sopan.

Yoongi cepat-cepat menggeleng, tidak mungkin kan dia bilang kalau dia mau menunggu kendaraan umum di depan perempatan sana?

"Tidak", jawabnya," saya menunggu jemputan, di depan", gumamnya singkat, lalu sebelum penjaga pintu itu bertanya-tanya lagi, Yoongi segera mengangguk sopan dan melangkah pergi.

.

.

.

.

Perjalanan ke rumah sakit tidak berlangsung lama, mungkin karena hari minggu jadi jalanan tidak begitu macet, Yoongi berpapasan dengan Suster Hana ketika dia hendak memasuki ruangan perawatan Hoseok.

"Kau tidak apa-apa Yoongi? kau kelihatan pucat"

Yoongi meraba pipinya, benarkah? Apakah dia tampak berbeda sekarang? Setelah dia menyerahkan...

"Aku,,, aku mencari uang untuk biaya operasi Hoseok", gumamnya gugup.

Suster Hana menatap Yoongi sedih, "Yoongi uang tiga ratus juta itu sangat banyak, aku juga tahu kalau kau masih menanggung hutang di perusahaan sebanyak empat puluh juta, begini nak, aku punya simpanan sekitar lima puluh juta, mungkin itu bisa membantu, dan kalau aku bisa menaruh surat tanahku di bank untuk mengajukan pinjaman, mungkin kita bisa mendapat beberapa tambahan..."

"Suster, saya sudah mendapatkan uangnya", Yoongi bergumam lemah.

Kata-kata Suster Hana langsung terhenti seketika.

"Apa?...Sudah mendapatkan uangnya? Apa maksudmu nak? Darimana...?", kata-katanya langsung terhenti melihat Yoongi mulai menangis.

"Ada apa nak? Ceritakan padaku jika itu bisa membantu, mungkin itu bias membuatmu lega"

"Mungkin setelah ini suster akan jijik pada saya", Yoongi terisak pelan.

Suster Hana mengelus rambut Yoongi dengan lembut, "Tidak akan anakku, aku menyayangimu seperti anakku sendiri, dan seorang ibu pasti akan menerima anaknya apa adanya"

Yoongi menarik napas panjang, dia memang sangat membutuhkan tempat untuk berbagi cerita, dan amat sangat bersyukur ada Suster Hana yang mau mendengarkannya, lalu meluncurlah cerita itu dari bibirnya.

"Aku tidak menyalahkanmu Yoongi, yang aku tidak habis pikir, betapa bejatnya bosmu itu memanfaatkan kondisimu untuk kepuasan dirinya!", geram Suster

Hana.

Yoongi buru-buru mencegah kemarahan Suster Hana.

"Bukan suster, sampai sekarang Jimin tidak tahu kalau aku memerlukan uang itu untuk biaya perawatan Hoseok, dia mengira aku perempuan muda dengan gaya hidup berfoya-foya yang punya banyak hutang karena gaya hidupku, jadi dia tidak segan-segan mengambil atas pembayarannya"

Suster Hana mengerutkan keningnya, "Kenapa kau tidak mengatakannya Yoongi? setidaknya dia bisa lebih menghargaimu jika tahu alasanmu yang sebenarnya"

Yoongi menggelengkan kepalanya, "Tidak suster, aku tidak mau Jimin mengetahui tentang Hoseok, lelaki itu tidak mudah ditebak, tidak tahu apa yang akan dilakukannya jika tahu tentang Hoseok nanti"

Suster Hana menarik napas, "Setidaknya dia tidak brengsek seperti lelaki hidung belang yang mungkin nantinya akan menjerumuskanmu", tiba-tiba tatapan Suster Hana berubah intens dan hati-hati.

"Apakah dia berbuat kasar atau tidak Yoongi?"

Yoongi saat itu sedang melamun sehingga tidak menyadari maksud kata-kata Suster Hana.

"Eh? Apa Suster?"

Suster Hana tampak salah tingkah, "Apakah dia bertindak kasar semalam Yoongi?, maksudku itu kan pertama kalinya, kebanyakan wanita akan merasa tidak nyaman, apalagi jika pasangannya bertindak kasar",

Wajah Yoongi langsung merah padam, "Tidak, Jimin tidak kasar...Oh Tuhan!", Yoongi menutup mukanya dengan kedua tangannya,"Aku malu sekali suster, tiap kali aku memandang diriku di cermin aku merasa seperti perempuan yang sangat tidak berharga."

Suster Hana menepuk pundak Yoongi lembut, menenangkannya, "Yoongi, kita semua tahu alasanmu melakukan ini, aku sendiri dapat mengerti dan menerimanya, pengorbananmu demi Hoseok sudah luar biasa besarnya, aku yakin Tuhan pasti akan mengerti", tiba-tiba wajahnya berubah professional.

"Yoongi aku yakin, Mr. Jimin ini akan 'mengunjungimu' secara berkala bukan? Mungkin pertanyaan ini mengganggumu, tapi aku harus bertanya,apakah kemarin dia menggunakan pengaman?"

Yoongi memandang Suster Hana dengan bodoh,

"Pengaman?"

Barulah ketika Suster Hana menatapnya dengan intens dan penuh arti, Yoongi menangkap maksudnya, wajahnya memerah lagi,

"Oh, itu...", suara Yoongi hilang, "kemarin dia memakainya" Suster Hana berdehem.

"Baik, kalau begitu dia lelaki yang cukup bertanggung jawab, bagaimana kondisi tubuhmu sayang?"

"Eh, aku baik-baik saja Suster"

"Kalau begitu mari kita bicarakan tentang kontrasepsi, kau juga perlu membicarakan ini dengan Jimin "

TBC

P.S: Holla I'm back~ hihi terharu banget baca semua review nya ,makasih yaaa dah mau menyempatkan diri menulis beberapa kata buat author abal satu ini dan maaf juga karna tak bisa membalas satu persatu huhu BUT ,love you all (ketjup basaaah)

Well ,menjawab beberapa pertanyaan aja nih.

Q: kayak pernah baca ni ff ?

A: di awal tiap chapter selalu ku cantumkan bahwa ini remake ,jadi mungkin anda sekalian pernah melihat cerita asli ataupun remake dgn chapter lain. Tp apa yg tertulis disini asli hasil EDITAN aku pribadi lhooo hehe

.

Q: Susah bedain POV

A: Dari novel aslinya memang sudah begini ,aku hanya mencoba menjaga ke-asli-an nya sesuai kemampuanku hehe

.

So ,mind to review ?