Hari ini, Jisoo datang terlalu pagi ke sekolah.

Suasana sekolah masih sangat sepi, hanya segelintir anak yang baru sampai. Petugas Kebersihan masih hilir-mudik untuk membukakan pintu kelas yang dikunci, membuat para siswa yang sudah datang harus menunggu di lorong jika kelas mereka masih terkunci.

Mendapati fakta bahwa kelasnya berada di ujung lantai tiga membuat Jisoo menghela nafas berat. Kelasnya akan menjadi kelas paling terakhir yang terbuka pintunya. Pantas saja teman-teman sekelasnya malas jika disuruh datang lebih pagi.

Meski begitu, Jisoo sudah mendapati Jeon Wonwoo berdiri di depan lokernya.

Jisoo tidak terlalu dekat dengan Jeon Wonwoo, tetapi kejadian di jam pelajaran Sejarah lalu membuatnya sedikit bertekad untuk mengenal pemuda yang sedikit lebih muda (sekalipun mereka seangkatan) itu lebih jauh. Penghuni meja di sebelah mejanya ini unik, sekaligus misterius.

Loker Jeon Wonwoo kini terbuka.

Tidak ada surat-surat cinta yang berhamburan keluar dari lokernya, membuat Jisoo bingung. Padahal ia tahu, seaneh apapun Jeon Wonwoo tetap saja penggemarnya menumpuk. Ada saja minimal lima anak perempuan yang memasukkan surat cinta mereka ke celah di loker Jeon Wonwoo saat jam istirahat. Dan Jisoo tahu kalau tidak setiap hari semua anak di sekolahnya membuka loker mereka, paling hanya untuk mengambil buku kosong cadangan atau benda-benda lainnya.

Lagi-lagi Jisoo terperangah saat Jeon Wonwoo menarik satu tuas kecil yang menempel di balik pintu lokernya yang tersambung dengan sebuah kotak plastik berukuran tidak terlalu besar yang diletakkan tepat di bawah celah surat. Tuas telah ditarik, bagian bawah kotak plastik itu terbuka—menjatuhkan surat-surat cinta ke sebuah wadah di bawahnya. Wadah itu terbuat dari kain dan diletakkan di semacam rak yang berada di balik pintu loker Jeon Wonwoo bagian bawh.

Setelah surat-suratnya sudah terjatuh semua, Jeon Wonwoo menendang wadah kain tersebut dan secara mengejutkannya, wadah tersebut langsung tertutup. Jisoo menyipitkan pandangannya, sebelum menyadari bahwa wadah itu menggunakan magnet.

Perlahan, Jisoo mengalihkan tatapannya ke Jeon Wonwo yang sedang menaruh wadah kain tersebut ke dalam tasnya.

Demi Tuhan, apa yang selama ini ada di pikiran Jeon Wonwoo sampai-sampai bisa memodifikasi lokernya sendiri dengan sangat tidak terduga? Jisoo tidak bisa lagi heran pada fakta bahwa Jeon Wonwoo adalah pemegang peringkat pertama di angkatan dan juga kelasnya.

"Jeon Wonwoo…," Jisoo bahkan tidak yakin jika suaranya terdengar oleh lawan bicaranya. "Kau itu sebenarnya manusia apa?"

Tidak ada balasan dari Jeon Wonwoo. Jisoo mengerucutkan bibirnya. Ah, kalau seperti ini tadi seharusnya ia berangkat bersama Jeonghan saja. Suasananya sangat canggung di sini, dan Jisoo tidak suka.

"Wonwoo saja."

Suara berat itu kembali terdengar, membuat Jisoo menoleh ke sumber suara. Jeon Wonwoo menutup pintu lokernya dan kembali menguncinya, bersamaan dengan datangnya Petugas Kebersihan yang sudah mengarah ke kelas mereka untuk dibuka pintunya.

"Apa?" tanya Jisoo, merasa bahwa dua kata yang diucapkan Jeon Wonwoo agak sulit untuk ia proses.

"Panggil 'Wonwoo' saja."

Ketika Jeon Wonwoo menatap lurus ke matanya tanpa aura mengintimidasi, Jisoo langsung menggigit bibirnya tanpa ia sadari.

Jeo—maksudnya, Wonwoo, merupakan pemuda yang aneh. Aneh dan misterius, tetapi tampan juga cerdas.

Ia terkadang memperhatikan di jam pelajaran, tetapi jarang sekali fokus. Memperhatikan dengan fokus itu berbeda. Ada hal lain yang ia lakukan.

Dan Jisoo pun akhirnya ikut terlibat dalam keanehan 'tetangga' sebelahnya.

Di Sebelah Jeon Wonwoo

.

.

Inspired by manga 'Tonari no Seki-kun' © Morishige Takuma

.

.

Semua orang sudah tahu kalau Jeon Wonwoo itu aneh, tetapi Jisoo tidak pernah menyangka bahwa dia akan seaneh itu.

Membuat miniatur istana dari kartu? Bermain hoki sendiri dengan uang logam? Merubah meja menjadi papan rancangan? Jisoo sudah melihat semuanya.

.

Uang Logam, Lego, dan Gosip yang Timbul

.

.

Cuaca pagi ini agak dingin karena dini hari tadi turun hujan, dan Jisoo menyesal meminjamkan blazer-nya ke Soonyoung yang hendak mengambil foto untuk membuat ulang kartu pelajarnya. Ketua Klub Tari itu memang terkenal teledor dalam menjaga sesuatu, membuat Jisoo berdoa agar blazer-nya kembali tanpa cacat sedikit pun.

Akan tetapi, suhu udara kali ini agak sulit untuk ditoleransi dan membuat Jisoo tidak bisa menaruh atensi lebih ke pelajaran Pendidikan Lingkuhan Hidup. Hanya ia dan Jeo—maksudnya, Wonwoo yang tidak memakai blazer sekolahnya.

Jisoo mengerucutkan bibirnya sambil menatap blazer Wonwoo yang tersampir di kursi pemiliknya. Wonwoo sendiri tidak terlihat kedinginan, membuat Jisoo ingin meminjamnya jika saja Wonwoo tidak secara mendadak mengambil blazer-nya.

Jisoo kira Wonwoo akan mengenakan blazernya—atau bahkan menoleh ke Jisoo untuk meminjamkannya. Akan tetapi, harapan Jisoo langsung hancur berkeping-keping begitu Wonwoo malah membentangkan benda berwarna hitam itu di atas mejanya.

Mata Jisoo kini terarah ke Shin ssaem yang sepertinya masih asyik menjelaskan tentang ventilasi dan juga fungsinya bagi ruangan. Seingat Jisoo, Shin ssaem adalah guru bermata jeli yang tidak akan membiarkan satu pun anak muridnya tertidur atau tidak serius di saat jam pelajarannya.

"Pssst… Jeon Wonwoo."

Secara tidak sengaja, Jisoo kembali memanggil Wonwoo dengan nama lengkapnya. Yang dipanggil langsung merespon dengan mengalihkan pandangannya, sorot matanya gelap begitu juga dengan auranya. Jisoo mengerti, mendengar seseorang selalu memanggil nama lengkapmu saat berbicara sepertinya kurang menyenangkan. Jisoo pun menutup mulutnya dengan telapak tangannya lalu mengangguk tanda paham.

Wonwoo kembali menatap blazer di atas mejanya, dan Jisoo pun penasaran apa yang akan dilakukan penghuni meja di sebelahnya. Matanya melebar begitu Wonwoo mengeluarkan satu tempat mirip koper yang tidak terlalu besar, yang mengejutkannya adalah Jisoo tahu itu adalah tempat untuk menaruh peralatan kosmetik. Untuk apa Wonwoo membawa tempat kosmetik ke sekolah?

Ketika Wonwoo membuka tempat itu, alih-alih kosmetik malah terdapat banyak sekali kepingan Lego berbentuk manusia yang sudah terpasang. Jisoo benar-benar tidak mengerti pemuda ini, mengapa tempat kosmetik dipakai untuk menaruh Lego? Dan lebih-lebih, untuk apa dia membawa Lego ke sekolah dan sama sekali tidak terlihat ragu memainkannya di jam pelajaran?

Tiap-tiap Lego itu pun mulai disusun. Jisoo mengenali beberapa karakter Lego tersebut. Ada Spiderman, Batman, Green Lantern, Captain America, dan masih banyak lagi karakter komik dari Amerika lainnya. Wonwoo terlihat sangat tenang saat menyusunnya, sekalipun sayup-sayup terdengar suara Shin ssaem yang memarahi Seungcheol karena nyaris tertidur di dalam kelas.

Ngeri sekali.

"J—Wonwoo-ssi, kenapa kau tidak taruh mainanmu?" tanya Jisoo lagi, suaranya hampir tidak terdengar. Seungcheol sudah ketahuan, dan kini ia harus dihukum keluar kelas. Apa jadinya jika Shin ssaem malah mendapati anak peringkat satu paralel malah bermain-main di kelasnya?

Lego-lego itu kini disusun mengelilingi meja, dan Jisoo tidak bisa menahan dirinya untuk tidak penasaran. Keningnya kembali berkerut begitu Wonwoo mengeluarkan satu keping uang logam dari saku kemejanya. Uang logam itu diletakkan di tengah-tengah lingkaran lego.

Mungkinkah ia mau bermain sepak bola menggunakan uang logam tersebut? Saat masih kecil, Jisoo sering melakukan itu bersama sepupu-sepupunya—bermain sepak bola dengan jari menggunakan uang logam sebagai bolanya. Jisoo menghela nafas, sebelum kembali memperhatikan penghuni meja di sebelahnya yang kini mengambil beberapa Lego lagi dari tempatnya. Wonwoo menyematkan sesuatu semacam pipa kecil di tangan-tangan Lego yang tadi di ambilnya, kemudian menyusun kembali Lego tersebut dan membentuk formasi lapangan.

Wonwoo menggosok-gosokkan kedua tangannya, sebelum berkata dengan suara rendahnya, "Mulai."

Wonwoo menggerak-gerakkan Legonya, dan Jisoo mendadak paham.

Jeon Wonwoo tidak bermain sepak bola dengan uang logam. Ia bermain hoki dengan uang logam.

Jisoo mengamati terus permainan hoki Lego Wonwoo. Dan sepertinya dia mulai terbawa suasana. Ia mendukung tim kanan, di mana ada Lego Thor yang berada di formasi belakang. Jisoo tidak punya alasan khusus mengapa ia memilih tim tersebut, dia hanya menikmati permainan hoki tersebut. Lagipula, Wonwoo terlihat begitu serius dalam memainkan kedua belah pihak tim.

"Ya, tolong kalian buka buku paket halaman 73. Di sana ada pertanyaan, dan saya ingin menguji sampai mana kalian menguasai materi ini."

Mata Jisoo melebar. Ia buru-buru membuka buku paketnya, mengabaikan Wonwoo yang sepertinya masih asyik bermain hoki sendiri. Dia ingin mengingatkan Wonwoo, tetapi dirinya sendiri sedang berada dalam posisi genting. Terlebih lagi, Shin ssaem sudah mendaratkan tatapannya ke barisan paling belakang.

"Jeon Wonwoo, bisa beri kesimpulan mengenai materi yang kuterangkan tadi?"

Badan Jisoo membeku lalu ia menggigit bibirnya. Ia dan Wonwoo sedari tadi tidak memperhatikan apa yang Shin ssaem katakan. Rasanya Jisoo ingin mengerang saat menyadari kebodohan mereka. Shin ssaem pastilah menyadari bahwa ada dua murid yang tidak fokus pada pelajarannya.

Dengan takut-takut, Jisoo melirik Wonwoo. Meja pemuda itu kini sudah bersih, tidak ada arena permainan hoki lagi. Buku Pendidikan Lingkungan Hidupnya sudah terbuka di atas meja beserta dengan alat tulisnya, dan ia terlihat seperti murid unggulan yang sesungguhnya.

Sekuat tenaga Jisoo tidak meloncat terkejut ketika Wonwoo dapat menjawab pertanyaan Shin ssaem dengan sangat akurat. Ia buru-buru membolak-balikan buku paketnya dan menyadari bahwa Shin ssaem menjelaskan secara spesifik mengenai ruang lingkup hidup yang baik bagi kesehatan.

Ketika Jisoo kembali menoleh ke Wonwoo—begitu Shin ssaem beralih ke Jeonghan—dan menemukan Wonwoo tengah tersenyum samar ke Jisoo. Ia bisa merasakan wajahnya memanas, maka dari itu ia menurunkan pandangannya.

Di pangkuan Wonwoo terdapat blazer-nya yang terikat, Jisoo yakin isinya Lego yang tadi dimainkan. Dan di bawah kaki Wonwoo ada kotak Legonya.

Tanpa sadar Jisoo terkekeh kecil.

Dasar.

.

.

"Kau pasti sudah melihat kelakuan aneh Wonwoo hyung."

Refleks, Jisoo menjatuhkan bola basket yang tengah dipegangnya. Ini jam pelajaran Olahraga, dan kelasnya mendapat jam yang sama dengan kelas yang ditempati Kim Mingyu. Jisoo tidak akan seterkejut itu jika Mingyu hanya ingin meminjam bola basket yang dipegangnya, bukan untuk menanyakan perihal Wonwoo.

Mingyu memungut bola yang dijatuhkan Jisoo sementara Jisoo sendiri masih syok. Ini memang bukan pertama kalinya ia berbicara dengan Mingyu, tetapi topik pembicaraan mereka dulu selalu mengenai OSIS (Mingyu merupakan Wakil Ketua OSIS I sementara Jisoo sendiri hanya Sekretaris OSIS II, dia tidak secara langsung berkoordinasi dengan Mingyu karena dia bertanggung jawab pada Wakil Ketua OSIS II).

"Hyung?"

Wajah Jisoo langsung memerah padam begitu menyadari dia termenung terlalu lama. Mingyu sendiri sudah melayangkan cengiran andalannya, membuat para gadis yang berada di pinggir lapangan sekolah maupun di balkon kelas masing-masing memekik kegirangan.

Selalu seperti ini di tiap pelajaran Olahraga, para gadis rela membolos demi melihat duet maut Jeon Wonwoo-Kim Mingyu merenggangkan otot-otot mereka di pelajaran Olahraga.

"Aku baru menyadari keanehannya akhir-akhir ini," gumam Jisoo, menatap Mingyu dengan tatapan agak bingung. "Aku sudah sering mendengar desas-desus bahwa dia aneh, tetapi aku baru melihat keanehannya secara langsung."

Mingyu mengangguk-angguk. "Apa kau menemukan keanehan Wonwoo hyung sebagai sesuatu yang… Buruk?" tanya Mingyu lagi, suaranya terdengar tidak yakin.

Jisoo mengerjap sebentar, sebelum terkekeh. "Tidak, keanehannya tidak membuatnya menjadi buruk. Malahan, aku bisa melihat cara berpikirnya sangatlah berbeda. Itu menarik, kau tahu?" senyum Jisoo. Mingyu terlihat tengah memproses ucapannya. "Aku menyesal tidak sedari dulu dekat dengan Wonwoo. Dia tidak membosankan, sekalipun dia jarang sekali memgeluarkan suaranya."

"Wonwoo hyung itu pendiam tanpa alasan. Dia memang terlahir pendiam. Aku juga kurang mengerti mengapa ada orang sepertinya," Mingyu menghela nafas dan menolehkan kepalanya, menatap lurus Wonwoo yang malah duduk di pinggir lapangan sambil mengotak-ngatik sebuah Tamia. Tamia dari mana itu, Jisoo tidak bisa menemukan jawaban yang pas. "Menjadi sahabatnya selama ini cukup merepotkan, kuakui hyung. Tetapi, dia menyenangkan."

Alis Jisoo terangkat sebelah. "Apa maksudmu dengan membicarakan Wonwoo kepadaku?" tanya Jisoo. "Aku dengannya hanya teman sekelas, tidak lebih."

Mingyu menatap Jisoo dengan intens, sebelum seringai tipis terulas di wajahnya. Pemuda kelebihan hormon pertumbuhan itu pun mendekatkan bibirnya ke telinga Jisoo.

"Beberapa hari terakhir ini, Wonwoo hyung selalu menceritakan tentang 'pemuda manis bermata kucing yang mendadak selalu menengok ke arahku dan pemuda itu bernama Hong Jisoo'. Kebetulan, aku tahu Hong Jisoo yang ia maksud."

Begitu Mingyu menjauhkan tubuhnya dari Jisoo, Jisoo bisa merasakan wajahnya memanas dan seluruh pasang mata di lapangan olahraga kini menatap mereka berdua.

Wakil Ketua OSIS I dan Sekretaris OSIS II tengah mengobrol di pelajaran Olahraga, semua orang pasti curiga mengenai proker apa yang tengah mereka bahas. Pasti.

Iya, kan?

.

.

Jeonghan menatap Jisoo dengan sebal. "Kau pikir kami akan penasaran soal proker apa yang kalian bahas tadi? Tidak! Semua penasaran mengapa kalian berbicara dengan sangat personal seperti tadi, terlebih lagi dengan posisi yang… Agak mencurigakan." Mata Jeonghan memicing, membuat Jisoo menghela nafas.

"Kau tidak pernah sedekat itu dengan Mingyu, dan sebenarnya itu memang mencurigakan. Aku tahu kalian sedang tidak membicarakan proker," Soonyoung memakan es krimnya dengan tangan kiri menahan Seungcheol yang berusaha merebut es krimnya. "Tidak ada proker dalam waktu dekat ini."

"Dari mana kau tahu tidak ada proker dalam waktu dekat?" tanya Jisoo, heran mengapa Soonyoung mendadak peduli dengan acara-acara OSIS.

Pemuda bermata sipit yang pernah dikenakan skorsing tiga hari karena mengecat rambutnya dengan warna biru bergradasi putih itu berdecak. "Hei, kita berteman dengan Choi Seungcheol, Ketua OSIS paling diragukan sepanjang masa!" Seungcheol langsung menjambak rambut Soonyong, membuat si pemilik rambut mengaduh keras.

Jisoo pun mengangguk-angguk. Ya, Seungcheol yang dikenal karena kepribadian kacaunya ini adalah Ketua OSIS—sulit untuk dipercaya memang, tetapi namanya berada di peringkat pertama saat pemilihan Ketua OSIS di awal tahun ajaran lalu.

Itu membuat Jisoo teringat bahwa Wonwoo pernah mengajukan dirinya sebagai Ketua OSIS, sebelum pada Seleksi Tahap Akhir dia memilih untuk mundur dari Kepengurusan OSIS. Semenjak itu, nama Jeon Wonwoo mulai jarang terdengar prestasinya, selain Juara I Paralel.

"Jadi, Soo, hubunganmu dengan Mingyu itu apa?" tanya Jeonghan lagi, kini terdengar sedikit tidak sabaran. "Jangan-jangan, Mingyu naksir kau?!"

"Aish, kami hanya membicarakan sesuatu! Tidak terlalu penting," Jisoo menghabiskan sisa kuah sup jatah makan siangnya kemudian ia berdiri. Dia ingin kembali ke kelasnya, dan entah mengapa ingin berbicara dengan Jeon Wonwoo. "Aku duluan, ya. Ada sesuatu yang lupa kuurus. Kalian lanjutkan saja makan siangnya, kalau sempat nanti aku akan kembali." Dan ia langsung melesat menuju lorong kelasnya.

Meja yang dihuni teman-temannya hening, sebelum Seungcheol bersuara,

"Dia tidak sedang berkencan diam-diam dengan Kim Mingyu, kan?"

.

.

Wonwoo ada di mejanya, tengah membaca buku Fisika dengan ekspresi serius dan tangan menopang wajahnya.

Jika saja tidak ada yang Jisoo mau tanyakan, dia akan lebih memilih memperhatikan Wonwoo dari pintu kelasnya—karena pemandangan murid peringkat satu tengah sendirian di dalam kelas dengan timpaan sinar matahari itu cukup indah untuk dilihat. Terlebih lagi, Wonwoo itu tampan sebenarnya. Sangat, malahan.

Wajah Jisoo memerah begitu ia menyadari apa yang dia pikirkan. Dia langsung menggeleng, berusaha mengenyahkan pikirannya yang tidak-tidak. Mengagumi Jeon Wonwoo-nya nanti saja. Ada yang lebih penting untuk dibicarakan.

"Wonwoo-ssi."

Pemuda tinggi dengan garis wajah yang tajam itu menoleh, membuat Jisoo menelan ludahnya. Hatinya berdegup tidak karuan, padahal hanya ditatap biasa. Jisoo menarik kursi di meja sebelah Wonwoo—yang merupakan kursinya sendiri.

"Kau tidak makan siang?"

Malah pertanyaan konyol seperti itu yang keluar. Jisoo benar-benar ingin mengutuk dirinya sendiri. Ia yakin Wonwoo akan menganggapnya tidak penting, mengingat Wonwoo sangatlah cuek dan lumayan dingin pada orang yang tidak terlalu dekat dengannya.

"Tidak." Jawab Wonwoo singkat, kembali membaca buku Fisikanya. Jisoo cukup kagum, Wonwoo menghabiskan waktu istirahat dengan belajar. Bukan berarti Jisoo tidak pernah melakukannya, hanya saja Seungcheol dan Soonyoung pasti akan banyak mengeluh jika ia mulai membuka bukunya di jam makan siang.

"Kenapa?" tanya Jisoo lagi, tanpa bisa ditahan. "Kau tidak takut sakit?"

Lagi-lagi Wonwoo menjawab, "Tidak."

Jisoo menghela nafas. "Kau harus makan, banyak orang akan repot jika kau sakit," gumam Jisoo, turun dari bangkunya dan berjongkok di depan tas Wonwoo yang diletakkan di lantai. "Aku pernah melihatmu membawa bekal sekali, dan kuyakin kau sebenarnya membawa bekal hari ini. Sebaiknya kau izinkan aku untuk mengambil bekalmu dari tasmu da—"

Jemari Jisoo baru akan membuka resleting tas Wonwoo begitu sebuah tangan menggenggam pergelangan tangannya dengan erat. Nafas Jisoo tercekat begitu ia menyadari siapa pemilik tangan itu.

Ia mengadahkan kepalanya, menemukan Wonwoo tengah menatapnya tajam.

Terlalu dekat, terlalu dekat….

"Aku bisa mengambil bekalku sendiri."

Dan Jisoo pun mengangguk-angguk layaknya orang bodoh begitu Wonwoo melepaskan genggamannya pada pergelangan tangan Jisoo, membuka tasnya sendiri dan mengeluarkan kotak makan berwarna cokelat. Kotak makan tersebut terlihat normal, dan itu membuat Jisoo lega.

Wonwoo membuka kotak makannya, mengambil sumpit yang ada di sana. "Ibuku membawakanku beef teriyaki. Kau mau?"

Butuh sedikit waktu bagi Jisoo untuk memprosesnya.

Jeon Wonwoo… Tidak benar-benar sedang menawarkan bekal makan siangnya, kan?

"Mingyu bilang masakan ibuku sangat enak. Kau mau coba?" Wonwoo menyumpitkan nasi dengan potongan beef teriyaki bertabur wijen dan menyodorkannya ke Jisoo yang masih berjongkok di lantai. "Dan tidak sopan, makan sambil berjongkok seperti itu, Jisoo."

Dengan kaku karena canggung, Jisoo bangkit dari posisinya dan kembali duduk di kursinya. Ia menerima tawaran Wonwoo dan mengunyahnya, harus ia akui bahwa masakan ibu Wonwoo lumayan enak.

"Kau orang pertama yang kusuapi, kau tahu?" dan Wonwoo tersenyum—bukan senyum tipis ataupun sinis yang biasa ia tunjukkan pada dunia.

Ingatkan Jisoo, ini pertama kalinya ia mendengar Jeon Wonwoo berbicara panjang lebar dan bukan karena menjawab pertanyaan guru. Suaranya berat, tetapi juga terdengar halus.

"Wonwoo-ssi."

Wonwoo yang tengah menyantap bekalnya, kembali menoleh ke Jisoo. Dia tidak menjawab secara verbal, tetapi tatapannya cukup menjadi jawaban dari panggilan Jisoo.

"Kau baik."

Sumpit di tangan Wonwoo pun diletakkan dengan hati-hati oleh pemiliknya.

"Jangan panggil aku dengan embel-embel lagi, Soo."

Rasanya kaget mendengar Wonwoo memanggil namanya dengan sangat akrab, tetapi Jisoo hanya tersenyum lebar menanggapinya.

"Baiklah, Wonwoo."

.

.

A/N : Aku kembali dengan cerita nyentrik ini! Dan get well soon, uri Jeon Wonwoo… Aku kangen ngeliat muka emonya pas lagi perform atau di acara realiti bareng 12 makhluk lainnya—tapi selama dia bisa beristirahat total, gak masalah. Kita gak bisa maksa juga kalau demi kebaikan dirinya, kan? :D

Dan aku suka banget poster Shining Diamond-nya Dino, Woozi, dan , mereka kelihatan makin 'wah'. Tapi aku juga masih suka Joshua. Dan poster Shining Diamondnya Wonwoo… Kesese re-upload zaman Boys Be. Aku berharap saat mereka Asia Tour, rambut Wonwoo balik ke jaman Boys Be karena menurutku dia paling ganteng (dan paling emo /gak) dengan potongan rambut itu.

(Tapi Wonwoo digimanain juga ganteng, kok.)

Oke, abaikan rambling di atas. Bagaimana menurut kalian tentang chapter ini? XD masih ingat kan, dengan fakta bahwa Kim Mingyu di sini tetap lebih muda daripada 95&96l, hanya saja dia murid akselerasi. Ya kali aja ada yang lupa, kuingatkan lagi :D

Mind to review? :9

.

.

Bonus #1

Soonyoung mendecakkan lidahnya begitu menyadari bahwa pintu kelasnya terblokir oleh manusia raksasa penghuni kelas tetangga.

"Mingyu, awas. Aku mau masuk."

Pemuda tinggi itu tidak juga menyingkir dari pintu kelas Soonyoung. Yang mengherankan lagi, dia tampak tenang menatap ke dalam kelasnya, membuat Soonyoung penasaran sekaligus geram.

"Kim Mingyu! Kenapa kau tidak kembali ke kelasmu dan—"

"Jangan berisik kau, Kwon. Aku hanya di sini sebentar."

Perempatan muncul di kening Soonyoung. Kurang ajar. Ia tahu anak di depannya ini akselerasi satu tahun sehingga bisa seangkatan dengannya, tetapi dengan kurang ajarnya raksasa malah memanggilnya 'Kwon'.

"Kau sedang ngapain sih, memangnya?!"

Akhirnya Soonyoung berjinjit juga untuk melihat ke dalam kelasnya. Nihil. Bahu pemuda di depannya menghalangi pemandangan, membuat Soonyoung menghela nafas nerat sebelum menarik blazer Kim Mingyu dengan kuat.

"Aw!" pekik Mingyu, suaranya pelan. Soonyoung baru akan melangkah masuk, jika saja Mingyu tidak menahan lengannya. "Jangan masuk."

Soonyoung mengangkat alisnya. "Ada apa si—"

Di dalam kelasnya, ada Jisoo yang tengah duduk di mejanya. Sebenarnya, itu hal yang normal jika saja kursi Jisoo tidak menghadap ke Jeon Wonwoo. Jeon Wonwoo sendiri sedang memakan bekalnya dengan khidmat. Tidak ada percakapan di antara mereka berdua, tetapi entah kenapa Soonyoung merasa tersentuh dengan pemandangan tersebut.

"Sejak kapan Jisoo dan Jeon Wonwoo dekat?" tanya Soonyoung tanpa menoleh ke Mingyu. "Bukankah kemana-mana Jeon Wonwoo bersamamu, Mingyu?"

Mingyu sendiri hanya menggeleng. "Aku tidak tahu sejak kapan mereka dekat, tetapi lihatlah. Aku rasanya sangat bangga mengetahui Wonwoo hyung punya teman lain," dan Mingyu mengangkat bahunya. "Ngomong-ngomong, kebiasaannya masih berlanjut, ya?"

"Kebiasaan apa?"

"Tidak suka jika orang lain memanggilnya dengan nama panggilannya saja," gumam Mingyu. "Dia masih meminta dipanggil Jeon Wonwoo, iya kan?"

Soonyoung mengangguk. "Temanmu aneh, Mingyu," katanya, kembali menatap Wonwoo yang tengah menawarkan bekalnya ke Jisoo. "Tapi aku tahu dia anak yang baik."

Dan keduanya saling bertukar pandang lalu tersenyum samar, mengamati dua orang lainnya yang masih asyik di dalam kelas tanpa menyadari bahwa mereka diperhatikan.

.

Bonus #2

JeonghanY1004 changed group name to 'MINGYU-JISOO DATING?' (19:33)

Hoshi_KSY: Guys, Jisoo tidak berkencan dengan Mingyu. Tadi aku menanyakannya langsung ke Mingyu (19:51)

Scoups_Choi: O_O (19:52)

Scoups_Choi: Benarkah? (19:52)

Hoshi_KSY: Tanyakan saja sendiri ke orangnya (19:53)

JoshuaHong: Aku tidak berkencan ataupun berpacaran dengan siapapun (19:55)

JoshuaHong: (: (:

Wjunhui96: Sebaiknya, Jeonghan, kau ganti saja nama grup ini (19:56)

Wjunhui96: Jihoon mengamuk-ngamuk karna mengira raksasa yang ia taksir diambil si anak rajin ke gereja (19:57)

LJhoon_: Aku benci kau, Wen Junhui (20:00)

LJhoon_: Kupastikan kau tidak bisa menari besok (20:00)

Ljhoon_ left the group. (20:01)

JeonghanY1004 changed group name to 'GyuHoon Shippers' (20:03)