Cast : [YoonMin Couple] Min Yoongi a.k.a Suga, Park Jimin
Seme!Jimin , Uke!GS!Yoongi
Support Cast : Jung Hoseok a.k.a JHope, Kim Taehyun
A/N : Hmm Well, ini adalah remake dari novel salah satu penulis terkenal Tante Santhy Agatha yang berjudul "A Romantic Story About Serena" ,disini aku Cuma mengubah pemeran jadi couple kesayangan hihihi Jalan ceritanya tetap seperti apa yang lahir dari ketikan Tante Santhy Agatha yaa makasih tante buat novelnya yang bagus banget dan maaf aku me-remake seenak jidat sendiri :3
Well ,aku bukan orang baru di ffn tapi jelas adalah orang baru dalam dunia FF Yoonmin atau BTS ,Well I'm just Fall in love with them lately(Too Late). Semoga pada suka dan aku diterima di fandom ini hehe
Happy reading
Chapter 4
Yoongi meletakkan barang belanjaannya di meja dapur, tadi dia mampir sebentar ke supermarket untuk membeli bahan makanan. Kondisi Hoseok baik-baik saja dan cukup stabil, itu sudah membuatnya cukup tenang, Operasi sudah dijadwalkan 1minggu lagi, Sekarang Yoongi hanya bias berdoa dan menyerahkan semuanya pada Tuhan.
Dengan ragu, Yoongi memandang sekeliling apartemen, lalu menarik napas panjang, semua ini terlalu mewah, terlalu berlebihan untuknya tinggal seorang diri di tempat seluas dan semewah ini, tadi dia menyempatkan diri mengatur pakaiannya yang sedikit, sehingga hanya memerlukan waktu sebentar, setelah itu dia sempat terdiam lama bingung mau berbuat apa, apalagi ditempat yang luas begini, suasana terasa sangat lengang dan sendirian. Baru kemudian Yoongi menyadari bahwa dia belum sempat sarapan sejak tadi pagi, jadi dia memutuskan memasak makan malamnya.
Setelah mengatur belanjaannya yang sedikit itu di dalam lemari es raksasa, sehingga tampak menggelikan karena lemari itu terlihat kosong, Yoongi mengeluarkan beberapa butir telur, sedikit sosis dan sayuran, dikocoknya dengan pelan sambil berdendang, lalu dituangnya adonan omelet sederhana ini ke wajan mungil yang sudah diberi mentega. Aroma harum telur menyeruak ke seluruh dapur.
"Baunya enak sekali"
Suara itu terdengar begitu tiba-tiba, tak disangka dan sangat menegejutkan sehingga Yoongi hampir menjatuhkan mangkuk bekas adonan telurnya, Dengan gugup dia menoleh ke pintu dapur, Jimin bersandar di sana, mengenakan baju santai dan tampaknya habis mandi,
"I,,,iya, aku memasak makan malamku", jawabnya gugup lalu memusatkan perhatiannya lagi ke telurnya.
Jimin melangkah dengan santai masuk ke dapur, tak mempedulikan kegugupan Yoongi, dia berdiri dekat di belakang Yoongi, lalu menengok penggorengan.
"Apa itu?", tanyanya tertarik melihat masakan Yoongi.
"Eh, ini? Ini telur goreng kuberi campuran sosis dan sayuran", Yoongi berusaha bertingkah wajar,
"Seperti omelet?", kali ini Jimin tampak benar-benar tertarik.
"Ya seperti itu, tapi ini lebih sederhana. Yoongi menjawab sambil melirik ke ekspresi Jimin, baru sekarang Yoongi sadar, ternyata lelaki ini tertarik pada hal-hal baru yang belum pernah ditemuinya sebelumnya.
"Buatkan aku satu ya"
Yoongi menoleh mendengar permintaan Jimin, "Memangnya kamu mau?", tanyanya ragu.
Lelaki itu mengangkat bahunya,
"Siapa tahu? Lagipula aku lapar sekali, setelah menyelesaijan urusan rumah, aku langsung kemari, kau kan masih penyesuaian diri disini, jadi aku ingin melihat kondisimu."
Dasar perayu ulung, Yoongi memaki dalam hati, orang seperti Jimin tidak segan-segan memanipulasi pikiran perempuan agar mau melakukan apapun yang dia inginkan, pura-pura mengkuatirkanku, huh!
Jimin masih berdiri di belakangnya, napasnya terasa hangat di ubun-ubunnya karena Jimin memang jauh lebih tinggi dibanding Yoongi, tiba-tiba saja, tangan lelaki itu ,mencengkeram pundak Yoongi mendekatkannya ke belakang, kepalanya turun dan bibirnya mengecup leher Yoongi dari samping dengan kecupan selembut bulu dan panas, sehingga tubuh Yoongi bagaikan diestrum dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Aku menunggu di sofa ya, kita makan disana saja", gumam Jimin pelan, lalu melangkah pergi meninggalkan Yoongi di dapur, yang mencoba menetralkan nafasnya.
.
.
.
.
Lelaki itu makan seperti biasa, dengan elegan. Sedangkan Yoongi tidak bias berkonsentrasi pada makanannya, dia tidak bisa mengalihkan tatapannya dari Jimin.
Ternyata Jimin suka masakan biasa, dari penampilan dan gayanya, kelihatannya lelaki itu hanya mau makan makanan tertentu dan yang pasti kelas atas, tak disangka dia bisa duduk santai di sofa menikmati sepiring omelet sederhana.
"Kenapa?", Jimin tiba-tiba menatap tajam setelah suapan terahkirnya, dia merasakan tatapan Yoongi selama dia makan, Yoongi langsung menundukkan kepalanya gugup.
"Eh...tidak, tidak apa-apa."
Jimin tersenyum, "Pasti kau heran kenapa aku mau makanan rumahan kan?"
Dia lalu meletakkan piringnya, "Aku juga manusia Yoongi, kita tidak ada bedanya, kadangkala penampilan seseorang membuat kita berpikir bahwa manusia yang satu berbeda dengan yang lain"
Jimin mengangkat bahunya, "kuakui memang aku menyukai makanan berkualitas dan bercitarasa tinggi, tapi kadangkala, aku bosan, masakan sederhana buatan sendiri terasa lebih nikmat"
Dengan santai lelaki itu berdiri lalu menuang kopi dari poci di atas meja minuman, dan menyesapnya ringan.
"Dan suka minum kopi"
Tanpa sadar Yoongi mengomentari kebiasaan Jimin, sejak kemarin, diamatinya Jimin selalu meminum kopi setiap ada kesempatan.
Lelaki itu tertawa mendengar komentar Yoongi.
"Ya, kopi berkualiatas juga", gumamnya sambil mengedipkan sebelah matanya. Yoongi menunduk, entah kenapa Jimin yang santai dan ramah ini lebih membuatnya merasa nyaman, dibandingkan Jimin yang kaku dan dingin di kantor.
"Habiskan makananmu, setelah itu kita pindah ke ruang baca, kau bisa membaca atau melihat televisi, ada beberapa pekerjaan lagi yang musti kubereskan"
Yoongi segera menyelesaikan makannya dan mencuci piring sementara Jimin membuat secangkir kopi lagi, sekaligus secangkir teh untuk Yoongi,dan membawanya ke ruang baca.
Dengan enggan Yoongi menyusul ke ruang baca, Jimin sedang duduk di sofa, menghadap notebooknya dan tampak Serius, dia hanya melihat sekilas pada Yoongi.
"Duduklah, minum tehmu", gumamnya, lalu kembali serius lagi menghadap notebooknya.
Yoongi sebenarnya mengantuk, tapi dia tidak enak kalau harus masuk kamar duluan, apalagi apartemen ini hanya mempunyai satu kamar yang luas, kamar lain hanya kecil dan diperuntukkan sebagai kamar pembantu, Yoongi tidak tahu, apakah Jimin akan menginap ataupun pulang, dia sama sekali tidak mengatakan rencananya.
Yoongi menghirup tehnya, lalu duduk di sofa di seberang Jimin, dia mengambil sebuah majalah dan membacanya sambil menenggelamkan tubuhnya di sofa. Bacaan itu menarik, dan keheningan itu membuatnya merasa nyaman, hingga lama-lama dia tak bisa menahan kantuknya.
.
.
.
.
Yoongi merasa ada yang mengusap lembut rambutnya, lalu tubuhnya terangkat dan terasa dipeluk hangat, dia merasakan tubuhnya terayun-ayun. Ketika dia membuka matanya yang berat, dia menyadari Jimin sedang menggendongnya ke kamar, lelaki itu tak menyadari Yoongi membuka matanya, dengan langkah pelan dan hati-hati, dia berjalan ke arah kamar, Yoongi langsung pura-pura memejamkan matanya lagi begitu Jimin dengan lembut membaringkan tubuhnya di ranjang dan menyelimutinya.
Setelah itu tak ada gerakan, tetapi Yoongi masih belum berani membuka matanya, Apakah Jimin memutuskan pulang atau tinggal? Lalu ada gerakan di ranjang di belakangnya, ternyata lelaki itu menginap disini, Yoongi menyadari dari selimut yang tersingkap dan gerakan tubuh lelaki itu menyelinap di balik selimut.
Kemudian, tubuh hangat Jimin mendekat dan merengkuh Yoongi dari belakang, Pertama kali Yoongi merasa tidak nyaman, tapi kemudian rasanya hangat ditengah kamar yang dingin itu, dan dia terlelap.
.
.
.
.
Yoongi terbangun dengan rasa haus yang amat sangat, biasanya sebelum tidur dia meminum air putih, tapi tadi malam dia tidak melakukannya. Dengan tak nyaman dia bergerak gerak gelisah.
"Ada apa Yoongi?", sosok yang memeluknya dari belakang bertanya, suaranya sangat segar.
Tidakkah dia tidur? Gumam Yoongi dalam hati,
"Haus", ahkirnya Yoongi bisa bersuara meskipun parau.
Jimin langsung bergerak turun dari ranjang dan menuang segelas air di meja minum, lalu mengitari ranjang berdiri di samping sisi Yoongi terbaring, lelaki itu tampak tinggi menjulang, hanya menggunakan celana piyama sutra hitam dan telanjang dada.
"Duduk, minum."
Dengan pelan Yoongi duduk dan menerima gelas besar berisi air putih itu, masih setengah minuman tersisa, Jimin mengambil gelas itu.
"Apakah kau sudah bangun?", Yoongi mengernyit karena suara Jimin sekarang menjadi parau.
Dengan masih bingung dia menganggukkan kepalanya. "Bagus", Jimin menenggak sisa air putih di gelas Yoongi sampai tandas lalu setengah membantingnya di meja samping ranjang.
Kemudian dengan gerakan tiba-tiba, dia mendorong Yoongi hingga terbaring di ranjang dan menindihnya, napasnya terasa hangat di atas tubuh Yoongi, dan mata birunya tampak berkabut dengan pupil yang mengecil sehingga tampak hitam, di tengah-tengah mata birunya.
Yoongi agak terperanjat setengah membelalak memandang wajah Jimin yang sangat dekat di atasnya, napasnya terangah-engah penuh antisipasi, ketika kemudian Jimin mengecup bibirnya dengan sangat intim, semula hanya ciuman biasa, bibir dengan bibir, itupun sudah membuat Yoongi panas dingin karena begitu ahlinya Jimin.
Menggerakkan bibirnya, Setelah sebuah ciuman yang lama dan panas Jimin mengangkat wajahnya dan tersenyum,Yoongi bisa merasakannya karena bibir Jimin hanya berjarak beberapa inci dari bibirnya.
"Kau tidak biasa berciuman ya?"
Yoongi memalingkan mukanya dengan pipi memerah mendengar pertanyaan blak-blakan itu, tapi Jimin meraih dagunya dan menempelkan bibir mereka lagi.
"Tirulah apa yang kulakukan padamu", bibir Jimin bergerak di bibir Yoongi, dan ketika Yoongi mengikutinya, Jimin mengerang senang, "ya...ya bagus, begitu...tidak,,,jangan gigit...bagus...bagus...buka mulutmu...ah sayang..."
Jimin terus memberikan instruksi di sela sela ciumannya yang makin panas dan bergairah, dan Yoongi menurutinya, lebih dikarenakan ingin tahu, ketika Jimin membuka mulutnya Yoongi mengikutinya,ketika lumatan Jimin makin dalam dan belaian lidahnya membelai Yoongi dengan ahli, Yoongi mengikutinya dengan tersendat-sendat, meskipun sepertinya itu cukup memuaskan bagi Jimin karena lelaki itu mengerang lagi dan memperdalam ciumannya, ciuman dengan bibir terbuka dan permainan lidah yang begitu panas dan seolah tidak akan berahkir, Yoongi bahkan tidak pernah menyadari bahwa sebuah ciuman bisa dilakukan dengan sedalam dan seintim itu!
Lama kemudian Jimin mengangkat kepalanya, hanya sedikit seolah olah ingin tetap berdekatan dengan Yoongi, matanya tampak berkabut dan napasnya terasa bergemuruh di dadanya.
"Itu tadi yang namanya french kiss...",gumamnya lembut, lalu tangannya mulai bergerak dengan ahli membuat Yoongi melengkungkan punggungnya merasakan sengatan kenikmatan yang tidak diantisipasinya.
Tubuh telanjang mereka berdua bergesekan. Dengan lembut Jimin mengajari Yoongi bagaimana cara menyentuhnya, bagaimana cara memuaskannya. Lelaki itu suka disentuh dimana-mana, dia akan mengeluarkan erangan pendek tertahan ketika Yoongi menyentuhnya.
Dan itu mempesona Yoongi, seorang lelaki yang begitu dominan dan jantan seperti Damien, mengerang nikmat di bawah sentuhannya. Dengan takut-takut Yoongi menyusuri bagian dalam lengan Jimin yang kekar, membuat napas Jimin terengah.
"Kau akan membunuhku dalam kenikmatan", bisik Jimin Serak, lalu melumat bibir Yoongi penuh gairah, "Dan aku akan mati bahagia", desahnya.
Jimin menyatukan dirinya dengan lembut, melihat reaksi Yoongi, dan ketika dia yakin tidak ada kesakitan lagi, dia mendesak perlahan, menembus kehangatan yang langsung membungkusnya rapat, membuatnya tergila-gila.
"Bagus sayang, jangan ditahan, aku akan mengajarimu...ah...kau begitu hangat dan siap untukku..."
Suara Jimin tenggelam di sela sela cumbuannya yang sangat ahli, menghanyutkan Yoongi kedalam pusaran gairah yang selama ini tidak pernah dikenalnya. Dan ketika Jimin membuat Yoongi mencapai puncak kenikmatan untuk kesekian kalinya. Lelaki itupun menyerah dalam beberapa hujaman tajam, mengejar kenikmatannya sendiri.
.
.
.
.
Yoongi terbangun merasakan sinar matahari menerpanya, dia mengernyitkan alisnya dan membuka matanya pelan-pelan, Sinar matahari memang sudah mengintip malu malu dari balik gorden jendela balkon kamar apartemen itu, Yoongi menyadari ada tangan kekar yang memeluk perutnya dengan posesif, Jimin masih tidur, napasnya terasa naik turun dengan teratur di punggung Yoongi.
Mereka berbaring miring seperti sendok dan garpu, dengan Yoongi membelakangi Jimin berbantalkan salah satu lengan Jimin, sementara lengannya yang lain memeluk Yoongi erat, menempelkan punggung Yoongi sedekat mungkin dengan dadanya.
Mereka telanjang, dan selimut tebal yang seharusnya menyelimuti mereka sudah tertendang oleh Jimin entah kemana, Seharusnya Yoongi kedinginan, tapi tidak, karena Jimin memeluknya dengan begitu eratnya. Tiba-tiba sengatan rasa bersalah seperti memukulnya, disinilah dia berbaring nyaman dalam pelukan laki-laki yang membelinya sementara Hoseok...
Helaan napas Yoongi pasti membangunkan Jimin karena lelaki itu terasa mulai bergerak, lalu sebuah kecupan lembut mendarat di pelipis Yoongi.
"Selamat pagi", suara lelaki itu terdengar serak tapi sarat dengan kepuasan sensual yang dalam. Tentu saja lelaki itu puas, dia hampir tidak membiarkan Yoongi tidur semalaman.
Yoongi tidak menjawab, tetapi berusaha menarik selimut yang terlempar jauh di kakinya untuk menutupi ketelanjangannya. Usahanya gagal karena Jimin mempererat pelukannya di pinggangnya sehingga Yoongi tidak bisa bergerak.
"Tidak perlu selimut sayang, aku sudah mengenal setiap jengkal tubuhmu secara intim, tak ada yang terlewatkan...begitu juga sebaliknya hmmm?"
Wajah Yoongi memerah sampai semerah-merahnya, bahkan telinganyapun memerah dan Jimin terkekeh melihatnya, Lalu tiba tiba tawa itu hilang dan Yoongi merasakan gairah Jimin bangkit lagi.
Dengan bingung dia menolehkan kepalanya dan langsung bertatapan dengan mata biru Jimin yang menyala penuh gairah,
"Lagi?", Yoongi tanpa sadar mengucapkan ketakjubannya, sebegitu cepat Jimin menginginkannya lagi setelah semalam?, hanya Tuhan dan dirinya yang tahu bagaimana bergairahnya Jimin semalam, Yoongi pikir Jimin sudah terpuaskan, tetapi sepertinya dia salah.
"Aku juga tidak menyangka", gumam Jimin parau, "Sepertinya kau akan menjadi penyebab kematianku"
Kemudian Jimin meraih Yoongi lagi ke dalam pelukan penuh gairahnya.
.
.
.
.
Yoongi hampir saja terlambat kerja, dia menarik napas panjang melihat jam absennya...hanya kurang satu menit. Dengan segera dia melangkah masuk ke mejanya, teman-teman seruangannya sudah mulai sibuk bekerja. Yoongipun mulai berkonsentrasi, tapi matanya hanya menatap kosong ke layar komputer, pikirannya mengingat ke kejadian semalam dan dia mengernyit, Dia merasa murahan sekali, menjual diri kepada laki-laki itu tetapi terlena dengan rayuannya. Mau bagaimana lagi, lelaki itu adalah jelmaan Eros penakluk wanita dengan segala pengalaman dan keahliannya, sementara Yoongi baru pertama kalinya bercinta.
Tuhan, ampunilah dosa-dosaku. Yoongi memejamkan matanya dan menundukkan kepalanya sebelum mulai menenggelamkan diri dalam pekerjaan.
"Iya, aku juga tidak menyangka", suara berbisik dua rekan disebelahnya menarik perhatian Yoongi, "Rasanya seperti bukan Mr. Park."
Mendengar nama lelaki itu disebut mau tak mau Yoongi menajamkan telinganya,
mendengarkan.
"Tadi kami serombongan habis sarapan berpapasan dengan Mr. Park, kami hanya menunduk karena biasanya Bos besar itu hanya melirik dari sudut matanya, mengangguk selama sedetik lalu pergi dengan acuh tak acuh."
Wanita itu menghembuskan napas takjub, "tapi tadi,,,, astaga! Mr. Park bahkan berhenti, tersenyum ramah dan menanyakan kabar kita semua...", suaranya terpekik hampir histeris, "Dan senyumnya yang sangat jarang itu,,,bukannya menjawab semuanya malah terpesona dengan mulut menganga, ada yang mencoba menjawab tp yang keluar hanya suara tercekik", lanjutnya menggebu-gebu.
"Mr. Park sama sekali tidak merasa terganggu dengan sikap konyol kami. Dia
malah tertawa geli dan melambaikan tangan ramah sebelum pergi...benar-benar anugerah tak terlupakan! Menurutmu..."
Yoongi beranjak berdiri ke kamar mandi, tak tahan mendengarkan pemujaan pemujaan terhadap laki-laki itu. Tapi tetap saja dia ikut bertanya tanya, Yoongi terpekur di depan pintu kamar mandi. Dia berpikir mengenai perubahan sikap Jimin dikantor, bosnya itu memang selalu memasang wajah dingin, ketus dan jarang bicara, banyak wanita di sini yang takut sekaligus memujanya karena sikapnya itu...tapi kenapa dia berubah ramah?
"Memikirkanku?"
Suara yang diucapkan dengan pelan dan lembut itu membuat Yoongi membalikkan tubuhnya mendadak dengan terlonjak kaget dan hampir menabrak orang yang berdiri dibelakangnya.
Matanya langsung bertatapan dengan mata birunya yang tajam, obyek pikirannya. Dan kenapa si bos ada di sini? Di lorong menuju kamar mandi lantai 3 padahal dia punya kamar mandi sendiri di ruangannya?
Tanpa sadar Yoongi mengucapkan pertanyaannya keras-keras, Jimin tertawa.
"Aku sedang menemui kepala personalia di lantai yang sama, tiba tiba ingin ke toilet, tidak bolehkah?", suaranya makin melembut, lalu matanya berubah tajam.
Dan Yoongi mengenali tatapan itu, tatapan kalau...
"Damn! Aku sudah amat sangat merindukanmu!"
Dengan cepat Jimin meraih Yoongi,lalu menciumnya, dengan gairah menggebu-gebu seolah-olah sudah lama tidak berciuman, padahal baru tadi pagi mereka...
Suara percakapan yang sayup-sayup mendekat membuat Yoongi terperanjat,dengan secepat kilat didorongnya Jimin dan dia setengah berlari masuk ke toilet perempuan.
Didengarnya suara Jimin dengan ramah membalas sapaan orang-orang yang baru datang ke toliet, Suaranya terdengar biasa saja bahkan sedikit kegembiraan kecil terselip di sana. Apakah lelaki itu geli atas sikapnya?
Sialan dia! Tak sadarkah dia kalau menyergapnya seperti itu di toilet kantor benar-benar tindakan nekat? Jantungnya masih berdentam-dentam dengan kuatnya seakan ingin meloncat dari tempatnya...
Tapi...Yoongi mengernyit, apakah jantungnya berdetak keras karena ketakutan...ataukah karena ciuman spontan yang tidak diduganya itu...?
TBC
P.S: Me is Back ! AWAWAWA makin terharu baca tiap coment yang masuk ke kotak review aku uuuuu LOVE YOU ALL (ketjup basaah). Meskipun aku ga bisa bales satu per satu tapi aku menjamin membaca tiap review yang masuk kok *peluk yoongi*
And still ,di chapter ini yaa Mesum-Jimin sangat Berjaya~
Btw, mari ber-shipper-ria yuuk di twitter ,find me jininyeol hehe
Dan untuk menjawab satu pertanyaan dan harapan yang paling banyak muncul di kotak review "jangan digantung yaa remake nya ,lanjut terus"
A: TENANG ,ini bahkan udah siap publish sampe epilognya wkwk Jadi ,semakin aku seneng dengan banyaknya review dan repon yang masuk semakin sering aku update HAHA
.
So, mind to review ?
