Cast : [YoonMin Couple] Min Yoongi a.k.a Suga, Park Jimin
Seme!Jimin , Uke!GS!Yoongi
Support Cast : Jung Hoseok a.k.a JHope, Kim Taehyun
A/N : Hmm Well, ini adalah remake dari novel salah satu penulis terkenal Tante Santhy Agatha yang berjudul "A Romantic Story About Serena" ,disini aku Cuma mengubah pemeran jadi couple kesayangan hihihi Jalan ceritanya tetap seperti apa yang lahir dari ketikan Tante Santhy Agatha yaa makasih tante buat novelnya yang bagus banget dan maaf aku me-remake seenak jidat sendiri :3
Well ,aku bukan orang baru di ffn tapi jelas adalah orang baru dalam dunia FF Yoonmin atau BTS ,Well I'm just Fall in love with them lately(Too Late). Semoga pada suka dan aku diterima di fandom ini hehe
Happy reading
Chapter 5
"Kau tampak senang"
Taehyung menatap Jimin yang sedang memeriksa berkas kontrak kerja mereka dengan supplier baru. Jimin mengalihkan tatapannya dari berkas di mejanya dan menatap Taehyung muram.
"Bukannya itu bagus? Tapi kenapa aku mendengar nada mencela dari suaramu?"
Taehyung mengangkat bahu.
"Aku cuma tak ingin kau mabuk kepayang dan melakukan hal-hal yang akan kau sesali nanti."
Tatapan Jimin berubah tajam, "Aku?,,,, Mabuk kepayang?... Apakah kau sedang bercanda?"
"Bukan begitu maksudku, tapi sepertinya kau agak berubah, kau tahu, agak tidak fokus, bahkan kata sekertarismu tadi pagi kau terlambat, pertama kalinya, katanya."
"Dan kau kira itu karna aku mabuk kepayang pada Yoongi, begitu?...baik ! Memang aku terlambat karena terlalu asyik bercinta dengan Yoongi, lalu kenapa? Perusahaan ini sebagian besar milikku! Apakah seorang pemilik tidak diperbolehkan terlambat?, toh keterlambatanku tidak merugikan perusahaan ini!"
"Jimin", Taehyung berusaha meredakan emosi Jimin, "Aku tidak bermaksud
membuatmu marah, aku hanya mencemaskanmu."
Sejenak Jimin tidak berkata-kata, tatapannya menyala-nyala, matanya bagaikan api biru yang membakar. Tapi kemudian dia berhasil mengendalikan emosinya. Dihelanya napas keras-keras.
"Kau benar, maafkan aku Taehyung."
Sebelum Taehyung dapat menjawab, ponsel Jimin berdering, Jimin meliriknya dan dahinya berkerut melihat siapa yang menelponnya.
"Ada apa Minah?"
Mendengar nama Minah disebut, Taehyung langsung berdiri dan memberi isyarat berpamitan pada Jimin, Jimin mengangguk mempersilahkan dan Taehyung berjalan keluar ruangan.
Di seberang, suara Minah yang lembut dan elegan terdengar mengalun.
"Aku bertanya-tanya, kenapa kau tak menghubungiku sayang, sabtu kemarin kau mendadak membatalkan acara makan malam kita, dan kemudian aku sama sekali tak bisa menemukanmu, apakah ada pekerjaan mendadak yang menyulitkanmu?"
Wajah Jimin berubah dingin, dia sama sekali tidak pernah menjalin komitmen dengan Minah. Mereka diperkenalkan pada suatu acara makan malam, setelah itu Minah menghubunginya, mengajak makan malam berdua karena ingin mengenal lebih dekat. Jimin tidak menolaknya. Baginya Minah cukup cantik dan saat wanita itu mendekatinya, kenapa tidak? Pertemuan mereka berlanjut ke pertemuan-pertemuan berikutnya, Tetapi di saat awal Jimin sudah menegaskan kepada Minah bahwa hubungan yang mereka jalin adalah hubungan tanpa ikatan. Saat Minah mengundangnya ke tempat tidurnyapun Jimin sudah menegaskan itu dia lakukan tanpa ikatan dan tanpa cinta.
Tapi sekarang Minah sepertinya besar kepala karena Jimin saat itu tidak dekat dengan wanita lain selain dirinya, dalam otaknya dia mengira bahwa dirinya telah berhasil menaklukkan Jimin dan membuat lelaki itu setia padanya, Dia tidak tahu bahwa saat itu pikiran Jimin sedang terpaku untuk mendapatkan wanita lain, Yoongi.
Sekarang Jimin merasa muak dengan tingkah Minah yang bertindak seolaholah mereka sepasang kekasih, yang harus selalu mengetahui kegiatan Jimin dan merasa berhak mengatur-atur Jimin.
"Sayangku, Jimin? Kau masih disana?"
"Minah, maafkan aku sedang sibuk sekali."
Terdengar helaan napas dramatis di sana, sudah pasti wanita ini tidak akan menyerah, dia terbiasa dikejar kejar dan dipuja lelaki, penolakan hanya membuatnya lebih gigih mengejar.
"Begini sayang, aku ada undangan pesta di rumah Richard, kau tau kan pelukis terkenal itu? Dia mengadakan pesta di pembukaan pameran lukisannya...Aku belum punya pasangan untuk datang ke sana, kau mau kan menemaniku?"
Jimin menghela napas keras.
"Minah, sudah kubilang aku sibuk, aku tak bisa menemanimu ke pesta manapun, lebih baik kau ajak kekasihmu atau laki laki lain, pasti mereka dengan senang hati akan menemanimu."
"Tapi Jimin, aku mencintaimu dan aku ingin kamu..."
"Aku bukan kekasihmu Minah, dan tak akan pernah, ingat itu, jadi jangan meminta macam-macam dariku, Oke ?", Jimin langsung menyela dengan kesal.
"Oke, Oke !" Minah setengah menjerit, "kau sudah pernah mengatakan itu berulang kali padaku, tapi tidakkah kebersamaan kita selama ini..."
"Minah, aku sibuk. Maaf!", Jimin langsung menutup percakapan, menyudahinya karena dia yakin Minah tidak akan menyerah dengan segera.
.
.
.
.
Yoongi baru saja membuka pintu apartemen ketika teleponnya berdering, dia segera mengangkatnya dan langsung terdengar suara Jimin diseberang sana.
"Kau suka masakan cina?"
"Hah?", Yoongi terperangah mendengar sapaan pertama Jimin yang tanpa basa-basi, baru ketika Jimin mengulang pertanyaannya dia mengerti, dan tanpa sadar mengangguk.
"Yoongi?"
Mendengar pertanyaan Jimin Yoongi baru sadar kalau dari tadi dia hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Eh...iya...iya.."
"Oke, kalau begitu jangan memasak malam ini, kubawakan dua porsi untuk kita."
Telepon ditutup. Meninggalkan Yoongi yang yang masih terperangah. Satu jam kemudian, ketika Yoongi menyeduh kopi, Jimin datang, langsung ke dapur, masih mengenakan jas resminya, tapi dengan dasi yang sudah dikendorkan. Dia meletakkan Kantong kertas berisi makanan yang masih panas, berlogokan nama hotel bintang lima.
"Tadi ada undangan pertemuan dengan kilen di sana, hanya minum kopi, tapi aku lalu ingat kalau masakan cina di hotel ini terkenal enaknya, dan aku ingat kamu."
Jimin mengedipkan sebelah matanya, "Siapkan ya, aku mandi dulu."
Dengan langkah anggun Jimin membalikkan badan menuju kamar. Yoongi mengatur masakan berbau harum itu pada piring saji, sambil mengatur poci kopi di nampan untuk Jimin, untuk dirinya dia menyeduh secangkir teh. Jimin muncul di dapur setengah jam kemudian, dengan piyama sutra hitam, lali duduk di kursi di meja dapur.
"Aku lapar sekali, tadi jalanan macet."
Yoongi duduk di hadapan Jimin, memperhatikan lelaki itu mulai menyantap hidangannya dengan penuh minat.
"Tadi, di pertemuan tidak ada makan malam?", setahu Yoongi pertemuan bisnis di hotel seperti itu selalu disertai dengan jamuan makan malam.
"Ada, tapi aku menolaknya, hanya minum kopi tadi", Jimin menatap Yoongi dengan tiba-tina hingga Yoongi kaget, "Kenapa tidak kamu makan ? ayo, enak lho."
Dengan gugup Yoongi menyantap makanannya, memang enak sekali, guman Yoongi pada suapan pertama, Tanpa sadar dia makan dengan lahap, dan baru berhenti ketika menyadari Jimin menatapnya geli, pipinya langsung bersemu merah.
Jimin langsung terkekeh geli.
Yoongi baru mengetahui kepribadian Jimin yang seperti ini, santai dan penuh tawa, berbeda sekali dengan apa yang ditampilkannya di kantor. Selesai makan seperti biasa Jimin minta ditemani saat mengerjakan tugas kantornya, lelaki itu tampak serius mengahadapi notebooknya, sambil sesekali menyesap kopi, sementara Yoongi menyibukkan diri denga menonton chanel masak memasak di TV kabel. Benaknya berkecamuk, apakah Jimin akan bercinta dengannya lagi? Bodoh! Tentu saja, kalau bukan untuk itu buat apa lelaki itu menginap disini?
"Kau bisa memasak yang seperti itu?" Suara celetukan Jimin hampir membuat Yoongi terlonjak karena kaget.
Yoongi menatap ke arah Jimin, lelaki itu sudah bersandar di sofa, dengan santai menyesap kopinya sambil menatap televisi. Notebooknya sudah tertutup dan berkas-berkasnya sudah tersusun rapi, Astaga...berapa lama tadi dia melamun? Sudah berapa lama Jimin menyelesaikan pekerjaannya?
Dengan buru buru Yoongi menoleh ke televisi, adegan disana menampilkan cara memasak sup jagung dengan berbagai modifikasinya.
"Bisa...aku pernah membuatnya meski tidak persis seperti itu." Jimin tersenyum.
"Aku jadi ingat saat aku sakit waktu kecil dulu, ibuku selalu membuatkanku sup jagung, tidak ada yang mengalahkan rasa sup buatannya."
Yoongi ikut tersenyum mengenang.
"Ibu dulu membuatkanku bubur ayam. Rasanya tidak enak hingga aku selalu ingin memuntahkannya."
Jimin tertawa geli mendengarnya.
"Aku belum pernah menemui wanita sepertimu sebelumnya", gumamnya dalam tawa.
Yoongi menoleh pada Jimin dengan bingung.
"Wanita sepertiku...?"
"Polos, jujur dan tidak berusaha memanipulasiku", senyum Jimin berubah sensual," dan masih bisa tersipu sampai memerah di sekujur kulitnya,padahal sudah berkali-kali kusentuh."
Kali ini Yoongi hampir tersedak tehnya,dengan cepat diletakkannya cangkirnya dan ditatapnya Jimin dengan waspada. Lelaki itu juga sedang menyesap kopinya, tapi mata birunya yang tajam itu menatap serius pada Yoongi.
"Kau seperti kelinci yang terjebak ketakutan", gumam Jimin sambil menyipitkan matanya, "apakah cara bercintaku menyakitimu?"
Pipi Yoongi langsung memerah mendengar pertanyaan Jimin yang blak-blakan itu,
"Ti...tidak, bukan begitu...saya...saya hanya belum...terbiasa..."
Yoongi menelan ludah ketika Jimin beranjak dari sofanya dan berdiri di depan Yoongi,lalu menarik Yoongi berdiri dan langsung mencium bibirnya dengan lembut.
"Kalau begitu, tidak ada yang bisa kulakukan selain membuatmu terbiasa bukan?", suara Jimin berubah serak, lalu dengan cepat mengangkat Yoongi dan membawanya ke kamar.
.
.
.
.
Jam dua pagi, ketika Jimin terbangun dan menyadari ada tubuh hangat dalam pelukannya. Yoongi berbaring meringkuk di dadanya, tubuhnya begitu mungil hingga Jimin merasa bisa meremukkannya dalam sekejap kalau dia mau. Damn! Kadangkala karena Yoongi begitu mungilnya jika dibandingkan dengan tubuhnya yang tinggi besar, Jimin seperti merasa sedang melakukan pelecehan seksual pada anak di bawah umur.
Tanpa sadar tangan Jimin mengelus punggung polos Yoongi, dan dalam tidurnya, Yoongi bergumam tidak jelas, lalu meringkuk makin rapat ke dada Jimin. Tidak! Mungkin ukuran tubuhnya seperti anak-anak, tapi tubuhnya benar-benar tubuh wanita dewasa. Jimin tidak pernah merasa begitu bergairah sekaligus begitu terpuaskan selain dengan Yoongi. Tubuh mungil itu telah memberikan kepuasan yang sangat dalam bagi Jimin.
"Aku mungkin tak akan pernah melepaskanmu" guman Jimin di kegelapan,
"kau milikku Yoongi"
Seolah mendengar ancaman Jimin di alam bawah sadarnya, alis Yoongi berkerut dan menggumam tak jelas. Jimin tertawa geli melihatnya, lalu dikecupnya dahi Yoongi dengan lembut. Anak kecil ini benar-benar tidak terduga, tidak disangka dia akan menyerah dipelukan gadis seperti ini.
"Ho...seok"
Jimin langsung menoleh secepat kilat ke arah Yoongi, Apa? Tadi gadis itu bilang apa?!
"Hoseok", kali ini gumaman Yoongi terdengar lebih jelas. Bahkan Jimin melihat ada air mata di sudut matanya.
Rahang Jimin menegang karena marah, siapa lelaki yang disebut Yoongi itu? Kenapa dia tidak pernah mendengarnya? Dia sudah menyelidiki Yoongi bukan? Selama ini Yoongi tidak pernah dekat dengan lelaki manapun, dia bahkan masih perawan!
Dengan gusar Jimin menghapus air mata di sudut mata Yoongi, lalu mengguncang tubuh Yoongi pelan. Dan mata lebar yang polos itu terbuka menatap Jimin dengan bingung karena dibangunkan tiba-tiba.
"Berani-beraninya kau!" desis Jimin dengan tatapan membara.
"Berani-beraninya kau menyebut nama lelaki lain dan menangis untuknya di atas
ranjangku!"
Yoongi benar-benar tidak siap ketika Jimin menyerangnya dengan cumbuan yang sangat hangat dan menggelora. Kali ini Jimin berbeda dengan biasanya,dia seperti...seperti membara, seolah olah tidak ditahan-tahan lagi, ada apa? Ada apa sebenarnya? Tapi Yoongi sudah tidak dapat berpikir lagi karena Jimin sudah menenggelamkan kesadarannya dengan cumbuan dan belaian jemarinya yang sangat ahli. Sungguh nikmat...dan Yoongi ahkirnya menyerah dalam pelukan Jimin.
.
.
.
.
Yoongi terbangun sendirian di ranjang itu. Jimin sudah tidak ada. Yah lelaki itu mungkin sudah pergi pagi-pagi sekali kembali kerumahnya sebelum berangkat ke kantor. Dia kan punya rumah, tidak mungkin kan dia terus-terusan berada di apartement ini?
Tapi entah mengapa Yoongi merasa ada yang kosong, setelah beberapa kali dia terbangun dengan Jimin di sisinya, entah kenapa ada yang kurang saat dia terbangun sendirian sekarang.
Bodoh! Apa yang kau pikirkan Yoongi? Kau hanyalah wanita simpanannya, yang dibelinya untuk memuaskan nafsunya! Jangan pernah berpikir macam-macam. Lagian masih ada Hoseok yang harus kau cemaskan.
Sambil membungkus tubuhnya dengan seprai, Yoongi melangkah ke kamar mandi, tubuhnya terasa agak nyeri, karena entah kenapa pagi tadi Jimin bercinta seolah-olah kesetanan dan tidak menahana-nahan diri.
Ketika mengaca dan menurunkan selimutnya Yoongi mengernyit. Dari Leher, buah dada sampai perutnya, semuanya penuh dengan bekas ciuman Jimin. Lelaki itu seolah sengaja meninggalkan jejak di mana-mana. Warnanya merah di sekujur tubuh Yoongi, dan Yoongi yakin tak lama lagi akan berubah menjadi ungu.
Dasar Jimin! Siapapun yang melihat akan tahu kalau ini bekas ciuman, di bagian dada bisa dia sembunyikan, tapi yang di leher?
Yoongi belum pernah mendapatkan bekas ciuman seperti ini di tubuhnya sebelumnya. Percintaannya dengan Hoseok selalu sopan dan tidak pernah sepanas itu sehingga Hoseok bisa meninggalkan bekas-bekas ciuman di kulitnya. Tapi Yoongi tahu bekas ciuman seperti ini butuh beberapa hari untuk hilang.
Dasar Jimin bodoh! Gerutunya sambil mencari cari turtle neck yang dapat menutupi tubuhnya sampai ke leher lalu memadankannya dengan blazer, Yoongi hanya menyapukan bedak tipis ke mukanya, lalu segera melangkah keluar, jangan sampai dia terlambat ke kantor lagi.
Ketika berdiri di tepi jalan menanti kendaraan umum, Yoongi merasakan sengatan sakit yang tiba-tiba di kepalanya.
Aduh! Di saat seperti ini migrainnya kambuh. Tapi tentu saja hal itu terjadi, dia belum sarapan, dan dia kurang tidur gara-gara Jimin hampir tidak pernah membiarkan tidur nyenyak tiap malam.
Dengan memaksakan diri Yoongi naik ke dalam bus menuju kantornya.
.
.
.
.
"Wajahmu pucat sekali", salah seorang temannya memandang Yoongi dengan cemas ketika Yoongi mendudukkan diri di kursinya. Tadi dia hampir terlambat dan setengah berlari ke mesin absen.
Yoongi memegang pipinya, memang terasa agak panas, apakah dia demam? Dan kepalanya juga pusing sekali. Tapi tetap dipaksakannya tersenyum.
"Engga apa-apa kok, mungkin karena belum sarapan, nanti setelah minum the hangat pasti agak baikan."
Tapi ternyata tidak, rasa pusing itu makin menusuk nusuk di kepalanya terasa nyeri,bahkan untuk menolehkan kepalanya saja terasa sangat sakit, badannya juga sama saja, rasanya nyeri di sekujur tubuh seperti habis dipukuli. Yoongi bertahan dengan tidak bergerak di kursinya, tapi rasa sakitnya makin tak tertahankan.
"Yoongi coba kesini sebentar, lihat draft pemasaran ini bagaimana menurutmu?", salah seorang rekannya memanggilnya.
Dengan mengernyit Yoongi mencoba berdiri, tubuhnya limbung sejenak, tapi dia berdiri dan bertahan sambil berpegangan di tepi meja. Lalu setelah menarik napas dalam-dalam, dia melangkahkan kaki ke meja rekannya. Tapi tiba-tiba rasa nyeri tak tertahankan menyerang kepalanya dan semuanya menjadi gelap.
TBC
P.S: BACK! Okee mulai dari sini emosinya bakal up&down macam lagu EXID yaa ,ini aku sambil ngedit aja bapernya kebangetan :" Dan maafkan untuk typo di chapter sebelumnya yaa….
As always, BIG THANKS untuk setiap review dari kalian sangat berarti sekali….buat para silent reader mari silahkan review sebelum review dikenai biaya /?/
.
Dan aku sedang mencoba untuk membuat remake lain masih dari tante shanty ,mind to read ? bisa langsung ke Profilku hihi
.
Btw ,kalau aku bikin Vkook pada minat gak yaa ? dan aku masih sedikit bingung dengan ,"Who is the bottom on Vkook/KookV ?"
.
So, mind to review ?
