Cast : [YoonMin Couple] Min Yoongi a.k.a Suga, Park Jimin
Seme!Jimin , Uke!GS!Yoongi
Support Cast : Jung Hoseok a.k.a JHope, Kim Taehyun ,GS!Kim Seokjin
A/N : Hmm Well, ini adalah remake dari novel salah satu penulis terkenal Tante Santhy Agatha yang berjudul "A Romantic Story About Serena" ,disini aku Cuma mengubah pemeran jadi couple kesayangan hihihi Jalan ceritanya tetap seperti apa yang lahir dari ketikan Tante Santhy Agatha yaa makasih tante buat novelnya yang bagus banget dan maaf aku me-remake seenak jidat sendiri :3
Well ,aku bukan orang baru di ffn tapi jelas adalah orang baru dalam dunia FF Yoonmin atau BTS ,Well I'm just Fall in love with them lately(Too Late). Semoga pada suka dan aku diterima di fandom ini hehe
Happy reading
Chapter 6
"Pingsan?!"
Jimin setengah berteriak kepada Taehyung yang menyampaikan kabar itu padanya.
"Kapan?! Dimana?!", Jimin mulai berdiri dari balik meja besarnya.
Taehyung hanya duduk santai di sofa kulit hitam di ruangan kantor Jimin, "Tadi dalam perjalanan ke sini aku kan mengambil arsip di sebelah klinik, ada keributan di luar, gadis itu sedang digendong salah seorang rekannya ke klinik dan di antar beberapa rekannya yang lain juga, dalam kondisi pingsan, dia pucat sekali seperti kelelahan ", tambah Taehyung penuh arti.
"Digendong?", kali ini wajah Jimin menegang karena marah, "laki-laki?"
Taehyung tiba-tiba saja tidak bisa menahan tawanya.
"Simpananmu pingsan dan kau meributkan siapa yang menggendongnya?", Tawa Taehyung kembali terdengar tak peduli pada wajah Jimin yang marah, " Tentu saja laki-laki, mana mungkin perempuan?"
Jimin mendengus marah dan hendak melangkah keluar ruangan, tapi Taehyung berdiri dan menahannya, "Kau pikir kau mau kemana Jimin?"
Jimin menatap tangan Taehyung yang menahan lengannya dengan marah, "Tentu saja melihat Yoongi!"
"Dan membuat kehebohan di luar? Seorang CEO perusahaan yang jarang terlihat saking sibuknya, yang bahkan untuk berkonsultasi dengannya harus melalui perjanjian temu yang sulit, tiba-tiba saja turun menjenguk seorang staff biasa? Kuulangi seorang staff biasa, yang tidak ada hubungan apapun dengannya", Taehyung menatap Jimin tajam, "dan bahkan dengan wajah pucat pasi lebih pucat dari yang pingsan kalau boleh kutambahkan", Taehyung mulai terkekeh geli.
Jimin melotot marah padanya, tapi kemudian menarik napas dan tersenyum skeptis, "Kau benar, aku tak bisa", dengan pelan dia melangkah dan duduk di sofa.
Taehyung menuangkan minuman untuknya dari meja bar kecil dan memberikan kepada Jimin yang langsung menyesapnya.
"Kau tak pernah begitu sebelumnya Jimin, dan tak kusangka kau sebegitu perhatiannya kepada gadis kecil ini, kukira kau hanya menganggapnya tubuh yang sudah kau beli?"
Jimin meletakkan gelasnya, lalu menatap tajam Taehyung
"Dan tubuh yang kau katakan itu yang sekarang terbaring pingsan."
Taehyung tersenyum dan duduk di sebelah Jimin.
"Kemarin aku baru saja bilang kalau gadis itu membuatmu lelah dan tidak berkonsentrasi, ternyata kau berbuat lebih parah padanya", Taehyung tak dapat menahan diri untuk tersenyum lebar, "Kau apakan saja gadis kecil itu Jimin?"
Jimin mengacak rambutnya bingung,
"Aku juga tidak menyangka bisa jadi begitu terobsesi kepadanya, kau tahu...rasanya tidak ingin berhenti, aku ingin terus menerus menyentuhnya, ingin terus menerus merasakannya...jadi tiap malam aku..aku.."
"Kau bermaksud bilang tiap malam kau hampir tidak pernah membiarkannya tidur?", kali ini alis Taehyung berkerut.
Jimin menghindari tatapan Taehyung,
"Aku baru beberapa hari bersamanya, aku masih belum merasa puas", gumamnya tak Jelas.
Taehyung menarik napas dalam,
"Jimin, aku tahu kau terbiasa dengan wanita dewasa yang berpengalaman, yang mungkin akan melayani marathon seksmu dengan senang hati kalau kau mau, tapi ini, seorang perawan, seorang gadis kecil tak berpengalaman, seharusnya kau lebih menahan dirimu."
"Aku tahu!", Jimin menyela dengan keras, frustasi kepada dirinya sendiri, "tapi...ah, kau tidak tahu rasanya Taehyung..."
"Betul aku tidak tahu, karena itulah aku tidak mengerti, kalau memang nafsumu sebegitu besarnya, kenapa kau tidak mencari wanita lain sebagai pelampiasan? Wanita lain yang lebih bisa mengimbangimu? Jadi kau tetap bisa menjaga kondisi tubuh gadis itu, tubuh yang kau beli seharga 100 juta", Taehyung mengingatkannya.
"Ah ya...ya, bisakah kau jangan menyebutnya sebagai 'gadis itu atau 'tubuh itu..? Dia punya nama Taehyung, namanya Yoongi."
"Baiklah, Yoongi ini, kalau kau tidak mau menyakitinya, seharusnya kau mencari wanita lain untuk mengimbangimu."
Jimin mengernyit, wanita lain? Sepertinya itu ide yang bagus, kalau hasratnya membuat tubuh Yoongi lemah, dia seharusnya menyalurkannya kepada wanita lain, tapi. Jimin tidak bisa membayangkan wanita manapun, dia mau Yoongi, hanya Yoongi yang membuat tubuhnya berhasrat sampai seperti ini.
"Tidak bisa kalau bukan dia Taehyung, kau tahu aku bukan maniak seks, bercinta selama ini menjadi kebutuhan nomor duaku, bahkan aku selalu mementingkan pekerjaan dibandingkan janji temuku dengan wanita-wanita itu, tapi Yoongi... Dia seperti ada magnet dalam tubuhnya yang mengubahku menjadi seperti ini" Taehyung menarik napas.
"Kalau begitu, kau harus belajar menahan diri Jimin dan lebih peka, kalau dia terlihat lelah, jangan memaksakan kehendakmu."
.
.
.
"Apa yang kau lakukan padanya?", gumam dokter Seokjin, janda berusia 33 tahun yang sangat cantik, yang kebetulan adalah sahabat Jimin juga, ketika melihat Jimin masuk ke ruangan klinik itu, suasana sudah sepi dan dokter Seokjin sudah mengusir rekanrekan kerja Yoongi dari klinik itu.
Jimin mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan Seokjin, "Kenapa kau langsung menuduhku seperti itu?", gumamnya pura-pura tersinggung.
Seokjin melirik ke arah Yoongi yang tertidur pulas, tadi Yoongi sempat bangun dan Seokjin sengaja memberinya obat yang membuatnya mengantuk agar gadis itu bisa beristirahat.
"Seorang staff rendahan pingsan dan beberapa waktu kemudian sang CEO perusahaan yang tidak pernah menginjakkan kakinya di klinik ini tiba-tiba datang? Kau pikir ini kebetulan?" Jimin tersenyum miring.
"Setidaknya kecerdasanmu tidak berubah Seokjin", Seokjin terkekeh pelan.
"Tentu saja aku sama sekali tidak menduga kalau gadis itu ada hubungannya denganmu, waktu memeriksa tubuhnya aku melihat bekas-bekas ciuman dari leher sampai ke perut, lalu aku berfikir, lelaki brengsek mana yang membiarkannya sampai pingsan kelelahan begitu", Seokjin mengangkat alisnya, " Dan tiba-tiba saja lelaki brengsek itu muncul."
Jimin mengerutkan alisnya lalu terkekeh, "Sayangnya kata-kata tajammu juga tidak berubah, yah aku memang lelaki brengsek itu"
Jimin mengangkat bahu, lalu menatap ke arah Yoongi yang terbaring pucat di ranjang klinik itu.
" bagaimana kondisinya?", wajahnya berubah serius.
Seokjin menarik napas, "Aku tak mau bertanya apapun itu kehidupan pribadimu", Seokjin menatap tajam ke arah Jimin," gadis itu kelelahan, kurang tidur dan tekanan darahnya rendah sekali, kondisi tubuhnya lemah dan karena itu dia demam, sepertinya gejala flu."
Jimin mengernyitkan allisnya, menerima tatapan tajam Seokjin. "Baik, baik semua salahku, Taehyung sudah mengatakannya padaku, sekarang bisakah kau meninggalkan kami sendirian sebentar?"
Seokjin melirik ke arah pintu, "Taehyung ada di luar? Bagaimana jika nanti ada karyawan yang kebetulan ke klinik?"
"Itulah gunanya Taehyung di luar, tapi kalau sampai terjadipun aku akan bilang kalau aku sedang mencarimu meminta resep."
Seokjin mengangguk.
"Aku akan bergabung dengan Taehyung di luar, jangan berbuat macam-macam ya!"
Jimin tersenyum mendengar ancaman Seokjin. Wanita itu adalah istri dari sahabatnya, dan merekapun ahkirnya bersahabat. Sayangnya suami Seokjin meninggal dalam kecelakaan tragis di jalan tol beberapa tahun lalu, sejak itu Seokjin membentengi diri dengan mulut tajam dan sifatnya yang ketus, padahal sebenarnya dia adalah wanita penyayang, sikap ketusnya itu tidak mempan pada Jimin dan Taehyung, Jimin melirik keluar, seandainya saja Seokjin bisa melirik Taehyung, bagus sekali kalau sahabat-sahabatnya itu bersatu.
Dengan langkah pelan Jimin melangkah ke tepi ranjang berdiri di samping Yoongi yang tertidur pulas, Benar, wajahnya pucat sekali, kenapa Jimin tidak menyadarinya dari semalam? Tangan Jimin menyentuh dahi Yoongi, gadis ini demam! Badannya panas sekali...
.
.
.
"Jadi kau ingin mengantar pulang Yoongi?"
Seokjin tiba-tiba bersuara di pintu dengan agak keras, sengaja memberi peringatan kepada Jimin. Jimin langsung menjauh dan berdiri di depan meja kerja Seokjin.
Pintu terbuka dan salah seorang laki-laki, rekan kerja Yoongi tapi Jimin lupa namanya, masuk membawa tas Yoongi yang tertinggal di ruangannya, disusul oleh Seokjin dan Taehyung di belakangnya.
Rekan kerja Yoongi itu tampak sangat kaget mengetahui Jimin, CEO perusahaan yang hanya pernah dia lihat dari foto, sekarang berdiri langsung di depannya, wajahnya langsung pucat pasi.
"Aaaa...aaandaa...", lelaki itu bahkan tak sanggup berkata-kata karena kagetnya, Jimin menatap sekilas seolah tak peduli.
"Ya, Saya memang benar Park Jimin", dipasangnya ekspresi paling dingin.
"Saya ada urusan dengan dokter Seokjin, tapi silahkan selesaikan urusan anda dulu, saya bisa menunggu"
"Jongsuk hanya ingin menjemput rekannya yang pingsan dan mengantarkannya
pulang Jimin"
Taehyung menyela di belakang Seokjin tapi matanya menatap Jimin penuh peringatan.
Pulang? Jimin mengernyit, tapi Yoongi kan sekarang tinggal di apartement mewah yang dia belikan, tidak mungkin dia membiarkan Jongsuk mengantar Yoongi pulang!
"Saa ...saya hanya sebentar, saya akan mengangkat Yoongi dan mengantar pulang, kebetulan saya ada janji temu dengan kilen di dekat tempat flatnya jadi sekalian, mohon maaf, silahkan dokter jika ada urusan dengan Mr, Park"
Jongsuk cepat-cepat membalikkan tubuh tak tahan menghadapi tatapan tajam
Jimin, memang benar gosip yang beredar, Mr. Park Jimin CEO mereka ini terkenal sangat dingin dan tidak berperasaan, bahkan aslinya lebih menakutkan, wajahnya sangat rupawan tapi aura membunuh disekelilingnya sangat kental.
Jimin masih terpaku di situ, tempat flat? Si bodoh ini pasti masih mengira Yoongi masih tinggal di tempat flatnya yang lama. Dan.. Apa yang dilakukan lelaki itu ? Dia menyentuh tubuh Yoongi ?!
Jimin hampir menyeberangi ruangan untuk menepiskan tangan Jongsuk yang mencoba menggendong Yoongi ketika Suara Seokjin menyela dengan cepat, menyadari gawatnya situasi yang terjadi.
"Jangan Jongsuk", perintahnya membuat Jongsuk meletakkan tubuh Yoongi kembali dan menatap Seokjin penuh tanda Tanya.
"aku memberi obat tidur untuknya supaya dia bisa beristirahat, kalau kau pulangkan dia ke flatnya dalam kondisi seperti itu, siapa yang akan menjaganya nanti? Lebih baik biarkan dia beristirahat dan tidur di sini dulu"
Jongsuk menyadari kebenaran perkataan dokter Seokjin dan cepat-cepat menyetujuinya. Lagipula dia ingin cepat-cepat keluar dari ruangan ini. Sang CEO hanya berdiri membatu di sudut ruangan tapi tatapan matanya mengerikan, seperti akan membunuhnya dengan tangan kosong!
Ah, mungkin dia hanya sedang tidak enak badan, Jongsuk berusaha menenangkan dirinya, lalu mengangguk.
"Baiklah saya akan meninggalkannya dulu, nanti kalau dia sadar saya akan menjemputnya lagi" gumamnya sambil meletakkan tas Yoongi di kursi dan hampir melonjak kaget ketika Jimin berseru dalam bahasa Belanda yang tidak dimengertinya.
Seokjin agak menahan senyum karena dia tahu arti kata-kata Jimin, 'Langkahi
dulu mayatku', itu artinya
"Tidak usah Jongsuk, biar aku yang mengantarnya sekalian pulang nanti"
Jongsuk mengangguk, sebenarnya dia ingin membantah, dia ingin mengantar Yoongi, sebenarnya sejak dulu dia sudah suka pada Yoongi tetapi belum berani mengungkapkannya karena Yoongi terlihat begitu tertutup, kejadian ini dianggapnya sebagai kesempatan mendekati Yoongi, tapi mengingat aura tak nyaman di ruangan ini, Jongsuk memutuskan menyerah, mungkin lain kali, putusnya Lalu melangkah ke luar setelah mengangguk pada semuanya, tak bias menahan untuk mempercepat langkahnya keluar dari situ.
"Aku yang akan membawanya pulang", Jimin bergumam memecah keheningan.
"Kau ada rapat satu jam lagi Jimin", sela Taehyung tajam.
"Batalkan, mereka akan menyesuaikan jadwalnya denganku"
Seokjin dan Taehyung hanya bisa berpandangan, lalu mengangkat bahu.
.
.
.
Ketika Yoongi membuka mata dia sudah ada di ranjangnya, mengenakan salah satu piyama sutra hitam milik Jimin, lelaki itu sedang duduk di ranjang di sebelahnya,bersila dengan menghadap notebooknya, wajahnya serius sekali.
Yoongi merasa pusingnya sudah hilang, tapi rasa nyeri di tubuhnya belum hilang juga, sepertinya dia masih demam. Seolah merasakan gerakan Yoongi, Jimin menoleh, dan tersenyum.
"Tadi aku mencari piyama untukmu, ternyata kau tak punya piyama ataupun gaun tidur ya? Aku tidak tahu sebelumnya karena aku selalu menelanjangimu sebelum tidur"
Wajah Yoongi memerah, bisa bisanya Jimin memilih kata-kata itu sebagai kalimat sapaan pembukanya.
"Kenapa aku tiba-tiba sudah di rumah? Jam berapa ini?"
Jimin mengangkat alisnya.
"Kau tidak tahu? Tadi pagi kau pingsan lalu dokter Seokjin menyuntikmu dengan obat yang membuatmu tidur, tapi aku harus mengajukan komplain karena sepertinya dosisnya terlalu besar, kau tertidur hampir sepuluh jam...sekarang sudah jam delapan malam"
Yoongi terperangah.
"Jam delapan malam?"
Jimin tersenyum.
"Besok-besok kalau kau merasa tidak enak badan jangan memaksakan diri untuk masuk, kau sangat merepotkanku, aku terpaksa pulang setengah hari untuk menjagamu"
Wajah Yoongi memucat, dia telah mengganggu kesibukan Jimin! Padahal lelaki itu punya jadwal yang sangat padat dan terpaksa meninggalkannya hanya gara-gara dia pingsan.
"Ma...maafkan aku...", suara Yoongi terdengar lemah, penuh penyesalan.
Jimin menoleh mendengar nada suara Yoongi, lalu menutup notebooknya dan meletakkannya di meja samping ranjang.
"Aku tidak memarahimu, lagipula sudah lama aku tidak mengambil cuti", dengan lembut Jimin meletakkan tangannya di dahi Yoongi, "sudah mendingan, tadi kau panas sekali tahu, aku sampai mengkompresmu dengan air es"
Yoongi memejamkan matanya merasakan tangan Jimin yang sejuk di dahinya, kenapa lelaki ini begitu lembut dan penuh perhatian? Sudah lama sekali rasanya sejak ada yang memperhatikan dirinya. Setelah kedua orang tuanya meninggal, Yoongi selalu berjuang sendirian, tidak pernah sama sekali mengijinkan dirinya menjadi lemah. Sekarang, perhatian yang begitu lembut dari Jimin entah kenapa membuat dadanya sesak.
"Kau sudah bisa minum obatnya? Dokter Seokjin membawakan obat untuk kau minum, tunggu sebentar"
Jimin bangkit dari ranjang dan melangkah keluar kamar,tak lama kemudian dia kembali membawa nampan, meletakkannya di meja samping ranjang dan membantu Yoongi duduk.
"Kau harus makan dulu sebelum minum obat"
Aroma kuah yang sangat menggoda itu benar benar membuat air liur menetes, Yoongi menoleh ke atas nampan yang diletakkan di pangkuannya, semangkuk sup jagung dan daging yang masih panas dengan aroma yang sangat enak.
"Itu bukan bubur ayam, jadi kuharap kau tidak memuntahkannya", ada nada geli dalam suara Jimin.
Mau tak mau Yoongi tersenyum karena ternyata Jimin masih teringat percakapan mereka kemarin.
Dengan pelan dia berusaha mengangkat sendok sup itu, tapi Jimin menahannya,
"Aku suapi", gumamnya sambil mengambil sendok itu.
Wajah Yoongi memerah canggung, tapi ketika Jimin mengarahkan sendok itu ke mulutnya ahkirnya dia membuka mulutnya pelan, Dengan tenang Jimin menyuapi Yoongi, setelah selesai dia meletakkan mangkuk kosong itu ke sebelah ranjang,
"Ada yang menempel di bibirmu", tanpa disangka Jimin mendekatkan wajahnya, lalu menjilat sudut bibir Yoongi dengan lembut, "sekarang sudah bersih", Jimin terkekeh melihat wajah Yoongi yang merah padam.
"Te...terimakasih" gumam Yoongi terbata-bata.
Tiba-tiba saja Jimin meraih pundak Yoongi dan menciumnya, ciuman yang sangat dalam dan membakar, seolah-olah ingin melumat bibir Yoongi sampai habis, lama sekali Jimin mencium Yoongi, sampai napas mereka berdua terengah-engah ketika Jimin melepaskan ciumannya.
"Sama-sama", gumam Jimin dengan parau kemudian, "kalau begitu minum obatmu, setelah itu kau harus tidur lagi."
Dengan patuh Yoongi berbaring lagi di ranjang dan membiarkan Jimin menyelimutinya. Lelaki itu lalu duduk di ranjang di samping Yoongi dan menyalakan notebooknya lagi, lalu mulai tenggelam dalam pekerjaannya.
Yoongi termenung agak lama, Jimin tidak menyentuhnya malam ini, tetapi lelaki ini tetap bermalam di apartement ini untuk merawatnya. Ternyata di balik sikap kejam dan arogannya, Masih ada sisi baik di jiwanya.
Dengan pemikiran seperti itu, Yoongi kembali tertidur lelap.
.
.
.
Paginya dia terbangun dengan kondisi demam yang lebih parah, sepertinya pertahanan tubuhnya sedang berperang melawan virus yang menyerang tubuhnya. Jimin sedang mengenakan dasinya, tapi dia segera menghampiri Yoongi yang mengerang karena panas tubuhnya tak tertahankan.
Dengan cemas, dia meletakkan tangannya di dahi Yoongi, astaga! Panas sekali, dengan cepat dia meraih handphonenya dan memencet nomor Seokjin, dijelaskannya secara terperinci tentang kondisi Yoongi, lalu diletakkannya termometer di tubuh Yoongi sesuai instruksi Seokjin.
"39 derajat!", Jimin berteriak tanpa sadar, "Seokjin ! Dia panas sekali, kenapa obat yang kau berikan kemarin tidak membuat kondisinya membaik?!"
Didengarnya instruksi-instruksi Seokjin di seberang sana, "Baik! Akan kuminumkan lagi, apa? seka seluruh tubuhnya dengan air dingin? Oke, kapan kau bisa kesini untuk mengecek kondisinya? Aku takut dia harus dibawa ke rumah sakit, baik...baik, kutunggu!"
Jimin mengahkiri pembicaraan, lalu memencet nomor-nomor lain, menelpon Taehyung dan jajaran direksinya, lalu memberikan serentetan instruksi pekerjaan sebelum menutup telepon.
Dengan pelan dilonggarkan dasinya, dan digulungnya lengan kemejanya, lalu dia berusaha mengguncang tubuh Yoongi.
"Bangun Yoongi, kau harus mandi, badanmu panas sekali." Jawaban Yoongi hanya berupa erangan tak jelas dan seperti kesakitan, tentu saja, gadis ini badannya sangat panas!
Jimin melepas kancing piyama Yoongi pelan-pelan lalu melepas piyama itu, sampai Yoongi telanjang. Kulit gadis itu memerah karena suhu tubuhnya yang panas, dengan hati-hati dia mengangkat tubuh Yoongi ke kamar mandi, meletakkannya ke bathtub, lalu menyalakan keran air dingin. Tubuh Yoongi langsung berjingkat ketika air dingin mengenai tubuhnya, tapi Jimin menahan.
"Dingin", erang Yoongi dalam kondisi setengah sadar.
"Tidak apa-apa,tahan,nanti kau akan ku selimuti", bujuk Jimin lembut.
Setelah selesai Jimin mengeringkan tubuh Yoongi lalu memakaikan piyamanya yang lain untuknya, dan mengangkat Yoongi kembali ke tempat tidur,lalu menyelimutinya dengan selimut yang tebal. Setelah itu dia memaksa Yoongi meminum obat yang rasanya pahit dan dengan lembut meminumkan air untuknya.
Dalam kondisi setengah sadar, Yoongi mengamati keadaan Jimin, kemejanya setengah basah dengan dasi yang sudah dilepas dan beberapa kancing yang terbuka sementara jasnya tergeletak begitu saja di sofa.
"Kau...ti..dak ..ke kan..tor?", tanya Yoongi lemah.
Jimin yang sedang membuka kancing kemeja dan melepaskan kemejanya yang basah menoleh dan tersenyum tipis.
"Bagaimana mungkin aku meninggalkanmu dalam kondisi seperti ini sendirian?"
"Aa...aaku tidak mau...merepotkan...mu", gumam Yoongi lagi, "i..ni Cuma demam bia..sa..nanti juga sembuh"
Jimin mengganti kemejanya dengan t-shirt santai,lalu duduk di tepi ranjang,
"Kau sekarang milikku Yoongi, kau tanggung jawabku, kalau terjadi apa-apa denganmu,aku juga yang akan kesusahan bukan?", gumamnya lembut tapi penuh makna.
Wajah Yoongi memerah,dan memalingkan wajah, tapi itu membuat Jimin tidak dapat menahan diri, diraihnya dagu Yoongi menghadapnya, tubuhnya setengah menindih tubuh Yoongi, lalu dilumatnya bibir Yoongi dengan dalam dan penuh gairah, nafas mereka menjadi panas.
Dan Jimin hampir kehilangan kendali diri, dengan sekuat tenaga diangkatnya bibirnya, napasnya terangah-engah. Tubuhnya menegang, berteriak ingin dipuaskan kebutuhannya, tapi Jimin menahan diri.
Demi Tuhan ! Gadis ini sedang sakit!
Yoongi merasakan gairah Jimin yang bangkit, semalam lelaki ini menahan diri untuk tidak menyentuhnya, padahal Yoongi tahu Jimin punya kebutuhan fisik yang sangat besar. Melihat lelaki ini menahan diri sampai menggertakkan gigi menyentuh hati Yoongi.
Tanggannya menyentuh pipi Jimin, tak disangka Jimin langsung memejamkan mata menempelkan pipinya
"Tidak apa-apa", gumam Yoongi lembut.
Mata itu terbuka bagaikan api biru yang menyala-nyala, "Kau sedang sakit!" geramnya.
Yoongi tersenyum lalu merangkulkan lengannya ke leher Jimin, "Tidak apa-apa."
Dan Jimin menyerah pada gairahnya, sambil mengerang dilumatnya bibir Yoongi lagi, dan mereka pun tenggelam dalam gairah yang panas.
Panas tubuh Yoongi karena demam, menyatu dengan panas tubuh Jimin karena gairah, tubuh mereka menyatu ketika Jimin menghujamkan dirinya dengan lembut, mengerang karena merindukan kenikmatan itu, kenikmatan ketika tubuh Yoongi yang selembut sutra melingkupinya, meremas kejantanannya, membuatnya melayang.
Jimin tidak pernah kehilangan kontrol sebelumnya. Dia tidak pernah tidak bias menahan dirinya untuk bercinta dengan seorang perempuan. Tidak pernah. Sampai dia bertemu Yoongi. Gadis mungil ini menjungkirbalikkan dunianya. Mengancamnya akan kehilangan kendali diri. Dan Jimin tahu dia sudah tidak bisa melepaskan dirinya lagi.
TBC
P.S: mic check 1 2 ,1 2…
Me is back. Well ,kali ini karna kemaren aku terima PM yang sedikit menyakitkan. aku udah janji bakalan menyelesaikan remake ini dan tak perlu khawatir. I TAKE FULL RESPONSIBILITY OF MY WORD :'))
Aku sudah kembali ke dunia kuliah jadi gak mungkin update secepat sebelumnya tapi juga bukan berarti ini akan aku terlantarkan yaa.
BIG THANKS AS ALWAYS teruntuk semua terkasih yang mau meninggalkan jejak via kotak review walaupun jumlah followers dan faversnya taksebanyak review nya huhu termasuk juga terimakasih kepada dirimuu yang sudah mau PM aku ,aku tau kamu sayang sama fic ini *kutjup basah for all*
Dan ini lanjutannya untuk yang kangen sama uri minimini cupid duo…
Mind to review ?
