Cast : [YoonMin Couple] Min Yoongi a.k.a Suga, Park Jimin

Seme!Jimin , Uke!GS!Yoongi

Support Cast : Jung Hoseok a.k.a JHope, Kim Taehyun ,GS!Kim Seokjin

A/N : Hmm Well, ini adalah remake dari novel salah satu penulis terkenal Tante Santhy Agatha yang berjudul "A Romantic Story About Serena" ,disini aku Cuma mengubah pemeran jadi couple kesayangan hihihi Jalan ceritanya tetap seperti apa yang lahir dari ketikan Tante Santhy Agatha yaa makasih tante buat novelnya yang bagus banget dan maaf aku me-remake seenak jidat sendiri :3

Well ,aku bukan orang baru di ffn tapi jelas adalah orang baru dalam dunia FF Yoonmin atau BTS ,Well I'm just Fall in love with them lately(Too Late). Semoga pada suka dan aku diterima di fandom ini hehe

Happy reading

Chapter 7

Julukan bajingan menjijikkan saja belum pantas untukku.

Jimin merenung sambil menatap Yoongi yang terbaring telanjang,tertidur pulas berbantalkan lengannya. Obatnya mungkin sudah bereaksi, atau dia kelelahan gara-gara perbuatanmu dasar bajingan! Jimin mengutuk dirinya sendiri. Tega-teganya dia memuaskan nafsunya atas tubuh Yoongi yang sedang sakit!

Tapi kelembutan Yoongi saat membisikkan kalimat "tidak apa-apa" benar benar membuatnya lepas kendali. Jimin menggertakkan giginya, dia tidak boleh lepas kendali lagi!

Dengan lembut diletakkannya kepala Yoongi di bantal,dan diselimutinya tubuh telanjang Yoongi dengan selimut tebal. Saat itulah bel apartementnya berbunyi, Jimin mengernyit lalu meraih jubah tidurnya yang tersampir di kursi.

Ketika melihat dari lubang di atas pintu,dia melihat Seokjin dan Taehyung berdiri disana,dengan enggan dia membuka pintu apartemennya dan berkacak pinggang di pintu yang terbuka.

"Kenapa kalian bisa datang berdua disini?" tanyanya curiga.

Seokjin mengangkat alisnya, "Sungguh penyambutan tamu yang tidak sopan, kau kan yang meminta aku datang?"

Jimin menatap Seokjin sekilas lalu menatap Taehyung yang sedang tersenyum.

"Dan kau? Kenapa kemari?"

Taehyung hanya menunjukkan setumpuk berkas kepada Jimin.

Sambil menarik napas panjang Jimin membuka pintu lebar-lebar dan mempersilahkan masuk.

"Silahkan masuk kalau begitu. Taehyung, ijinkan aku berganti pakaian yang pantas sebelum melihat berkas-berkas itu, oya Seokjin, Yoongi masih tidur."

"Tidak hanya tidur kurasa", Seokjin memandang penampilan Jimin yang acak-acakan dengan tatapan mencela.

Dan ketika Jimin tidak membantah melainkan hanya tersenyum kecut, matanya membelalak tidak percaya.

"Maksudmu...kau..?", Seokjin kehilangan kata-kata, "astaga Jimin tidak kusangka kau menjadi maniak seks separah itu sampai tega-teganya meminta gadis yang sedang sakit untuk melayanimu!", serunya blak-blakkan, "mana dia? aku harusnya merekomendasikan dia dirawat di rumah sakit, bukannya disini, kalau disini bersamamu sepertinya dia bukannya sembuh malahan tambah parah!"

Taehyung tampak tidak peduli dengan pertengkaran dua orang di depannya, dia sibuk melihat-lihat ruangan apartement itu, "Wah, apartement yang bagus...mungkin aku bisa beli satu disini ", Gumamnya santai.

Jimin melotot ke arahnya, lalu dengan sebal melangkah ke kamar, Seokjin mengikutinya.

Yoongi sedang tertidur pulas saat Seokjin mendekat ke arahnya, dan menyentuh dahinya, "Panasnya seperti api, mungkin aku harus membawa sample darahnya ke Lab untuk memastikan dia tidak terkena demam berdarah..."

Seokjin mengernyit menyadari Yoongi telanjang di balik selimutnya, "Aku masih tidak habis pikir kau menidurinya pada saat seperti ini...aku tak tahu dia siapamu Jimin, setahuku kau masih berpacaran dengan artis cantik itu dan sekarang tiba2 kau sudah tinggal serumah dengan karyawanmu sendiri..."

"Tidak tinggal serumah,aku tinggal di rumahku sendiri, apartemen ini kubelikan untuknya."

Seokjin mengangkat alisnya, "Oh ya? Kalau begitu berapa malam kau di rumahmu sendiri dan berapa lama kau tidur disini?", dengan cekatan, Seokjin memeriksa Kondisi Yoongi dan menyiapkan suntikan dari tas kerjanya untuk mengambil sample darah Yoongi. Sementara itu Jimin kehabisan kata-kata untuk menjawab pertanyaan Seokjin.

"Kau benar", Jimin mengangkat bahu, "Sejak tidur bersamanya pertama kali, aku tidak pernah membiarkannya tidur sendirian lagi tiap malam"

"Bagaimana ceritanya kalian bisa menjalin hubungan?, seingatku tingkat peluang pertemuan antara sang CEO dan staff biasa sangat kecil. Sebenarnya sampai sekarangpun aku masih bertanya-tanya Jimin, Taehyung juga tidak mau menjelaskan apapun, kukira..."

"Bukan urusanmu Seokjin, tidak ada yang aneh dalam hubungan ini, dua orang setuju untuk saling memenuhi kebutuhan itu saja, dan aku menolak menjawab apapun kepadamu", Jimin menjawab dengan tajam.

Seokjin mengangkat bahu lalu melanjutkan memeriksa Yoongi lalu menuliskan resep.

"Diagnosa awal hanya flu biasa, tapi lebih lanjut menunggu hasil tes darah. Aku akan menuliskan resep obat dan antibiotiknya. Tiga hari sekali Jimin, dan ingat, dia harus istirahat. Tahan nafsumu, jika kau tidak bisa menahannya, cari perempuan lain."

Yoongi terbangun dengan rasa mual dan sakit di sekujur tubuhnya. ketika dia membuka matanya, dia melihat perempuan yang sangat familiar di duduk di ranjang sebelahnya,

"Dokter Seokjin?"

Seokjin tersenyum, "Yah, Jimin memintaku datang memeriksamu. Dia dan Taehyung, para lelaki sedang membicarakan masalah bisnis di ruang depan dan aku memutuskan menunggumu sadar di sini, bagaimana kondisimu?"

Yoongi berusaha keras mengeluarkan suaranya, "Mual...pa...nas..", gumamnya serak, Seokjin memegang dahi Yoongi, panasnya seperti api.

"Kemari, aku akan membantumu meminum obat." dengan cekatan Seokjin membantu Yoongi meminumkan obatnya, lalu membaringkan Yoongi lagi dan merapikan selimutnya. Keduanya menyadari bahwa Yoongi telanjang di balik selimutnya, wajah Yoongi langsung merah padam.

Seokjin menatap Yoongi penuh pengertian.

" Dia memang kadang kadang sangat egois,kau tahu, terbiasa menjadi bos sejak dia lahir. Dia bisa dibilang masih keturunan aristokrat dari keluarga berpengaruh di Belanda, sejak dulu dia sudah terbiasa keinginannya dipenuhi..."

Seokjin mengedipkan sebelah matanya, "Kau tahu, saat pertama mengenalnya aku sangat tidak menyukainya"

Yoongi tersenyum malu-malu, "Saya juga ", jawabnya pelan.

Seokjin tertawa mendengarnya, "Tapi walau pun begitu kau tidak boleh menuruti kemauannya seperti itu, kau berhak menolak, kau tahu itu kan?"

Sebelum Yoongi sempat menjawab, Jimin, yang entah kapan sudah berada di ruangan itu berdehem keras, dengan sengaja.

"Seokjin, bukannya kau harus segera membawa sample darah itu ke lab?", gumam Jimin datar, tapi matanya memperingatkan.

Seokjin tersenyum miring, lalu mengangkat bahu dan tersenyum pada Yoongi, "Sepertinya dokter sudah diusir, obatnya ada di meja Jimin beserta cara pakai, kutinggalkan resep kalau2 obatnya habis, besok aku akan mengabarimu tentang hasil labnya"

Seokjin mengangguk pada Yoongi mengangkat tasnya dan berjalan pergi, pada saat berhadapan dengan Jimin di pintu keluar, dia menatap tajam, "Ingat Jimin, dia harus istirahat kalau mau sembuh", gumamnya tegas sebelum melangkah pergi.

Jimin menatap pintu yang tertutup di belakangnya lalu mengangkat bahu dan tersenyum pada Yoongi, "Kadang-kadang aku merasa dia masih membenciku sampai sekarang."

Yoongi tersenyum lemah pada Jimin yang menuang segelas air dari teko di meja samping ranjang.

"Apakah kau haus ? ayo, aku akan membantumu minum."

Dengan cekatan Jimin membantu Yoongi duduk, beberapa kali selimut melorot dari dada Yoongi, hingga Yoongi harus mencengkeramnya, tapi Jimin mengabaikannya, sama sekali tidak melirik ketelanjangan Yoongi, rupanya lakilaki itu bertekad untuk membiarkan Yoongi beristirahat.

Setelah membantunya minum, Jimin menyentuh dahi Yoongi dengan lembut, dan mengernyit karena badannya sangat panas.

"Maaf", Yoongi tiba-tiba merasa bersalah, dia jarang sakit, tapi kali ini sekalinya sakit sangat parah sehingga harus bergantung pada belas kasihan Jimin,

Wajah Jimin melembut, "Minta maaf karena sakit ?", Jimin menarik napas, "kau benar-benar gadis aneh", Jimin tersenyum miris.

"Oke, obat itu akan membuatmu mengantuk, aku akan memesan makanan, jd begitu bangun kau bisa makan."

Yoongi mengernyit mendengar kata makan karena dia merasa sangat mual, Jimin menatap Yoongi dengan tatapan tegas seperti seorang ayah memarahi anaknya.

"Kau harus makan", gumamnya tegas, "Tidurlah", lalu lelaki itu berbalik dan melangkah keluar kamar.

Yoongi meringkuk dibalik selimut, obat itu membuatnya nyaman dan mengantuk, sangat mengantuk.

Jimin duduk di tepi ranjang, dan mengamati Yoongi, panasnya sudah agak turun dan gadis itu tidur seperti bayi, entah kenapa dan sejak kapan dia merasa kalau gadis kecil ini menjadi begitu penting baginya. Mungkin karena kedekatan mereka selama ini, Jimin tidak pernah membiarkan orang lain sedekat dengan dirinya.

Tiba-tiba bunyi getaran disamping ranjang mengejutkan Jimin, ponsel kecil itu bergetar dan Jimin mengernyitkan keningnya, ponsel milik Yoongi? Dia baru pertama melihatnya, karena Yoongi tidak pernah menggunakannya di depannya. Dan yang terlintas pertama kali di otak Jimin ketika melihat ponsel itu adalah, dia harus membelikan Yoongi ponsel yang lebih baik.

Ponsel itu terus bergetar, rupanya penelpon di seberang sana tidak mau menyerah, Jimin meraih ponsel itu karena tidak mau getarannya mengganggu Yoongi yang sedang tertidur lelap.

Suster Hana? Jimin mengernyit membaca nama penelphon di ponsel itu, sebelum mengangkatnya.

"Yoongi?", suara diseberang telephone langung menyahut cemas, "maafkan aku karena menelephone,aku cemas karena kau sudah dua hari tidak kemari dan tidak ada kabar sama sekali darimu, padahal kau tidak pernah melewatkan satu haripun, apakah kau baik baik saja?"

Jeda sejenak, Jimin ragu untuk bersuara, tetapi kemudian dia bersuara, "Maaf, Yoongi sedang tidur", ketika Jimin bersuara, dia mendengar suara terkesiap diseberang sana, sepertinya lawan bicaranya sangat terkejut mendengar dia yang menyahut.

"Oh...maaf...", Suster Hana tampak kehilangan kata-kata.

"Yoongi sedang sakit, dua hari ini dia demam tinggi, mungkin besok saya akan memberitahunya kalau anda menelephone", lanjut Jimin tenang dan tanpa memperkenalkan dirinya, tentu saja dia tidak berniat memperkenalkan dirinya.

"Oh, baiklah, terimakasih", suara diseberang terdengar sangat gugup, lalu telephone ditutup dengan begitu cepat sehingga Jimin mengernyit.

Ada yang aneh, wanita diseberang itu memang kaget mendengar suaranya, tetapi tidak ada kesan bertanya-tanya mendengar suara Jimin yang menjawab telephone. Apakah wanita diseberang itu mengetahui siapa Jimin ? Dan apa yang dimaksud dengan datang setiap hari dan tidak pernah melewatkan satu haripun? Datang kemana? Untuk apa?

Pertanyaan-pertanyaan itu memenuhi kepala Jimin dan membuatnya menyadari bahwa dia tidak tahu apa-apa tentang Yoongi.

Seokjin sedang duduk di bar bersama dengan Taehyung, lalu mengernyit,

"menurutmu apakah bos kita itu sudah main hati?"

Taehyung menyesap minumannya.

"Apa maksudmu?"

"Gadis kecil itu, Yoongi"

Hening sejenak dan Taehyung menyesap minumannya lagi,

"Menurutku Jimin sudah gila", gumamnya dengan nada tidak setuju," Dia sudah bertindak di luar kehati-hatiannya yang biasa menyangkut gadis itu."

Seokjin menolehkan kepalanya ke Taehyung dengan penuh rasa ingin tahu,

"sebenarnya aku sangat penasaran dengan hubungan mereka, menurutku Jimin menyimpan perasaan yang dalam..."

"Ralat, nafsu yang dalam", sela Taehyung, "Jimin sudah merasakan nafsu yang dalam ketika melihat gadis itu pertama kalinya dan menginginkannya. Dan gadis itu, Yoongi, dia memanfaatkan itu dengan menjual dirinya kepada Jimin", gumamnya jijik.

Seokjin mengernyit lagi,

"Yoongi tidak kelihatan seperti gadis yang sengaja menjual dirinya"

"Dia menjual dirinya seharga tiga ratus juta. Aku sendiri yang membuatkan kontrak perjanjian jual beli yang konyol itu, setelah itu Jimin masih membelikan apartemen untuk tempat dia tinggal, dan bahkan berencana melunasi hutang gadis itu yang hampir 40juta di perusahaan, aku sudah menasehatinya kalau dia mulai berlebihan, tapi Jimin tidak peduli", gumam Taehyung frustasi.

Seokjin merenung dengan serius, tiga ratus juta? Itu uang yang tidak sedikit untuk perempuan seumuran Yoongi. Dan gadis itu juga berhutang 40 juta di perusahaan, sungguh pengeluaran fantastis untuk gadis dengan penampilan sederhana seperti Yoongi.

"Menurutmu untuk apa uang itu? Kalau untuk bermewah-mewah sepertinya tidak mungkin, gadis itu tinggal di tempat kost sederhana, pakaian dan barangbarangnya tidak ada yang bermerk, dia juga selalu naik kendaraan umum ke kantor", gumam Seokjin pelan.

Taehyung menoleh dan mengangkat alisnya.

"Untuk seorang dokter perusahaan, tampaknya kau tahu banyak"

Seokjin tertawa pelan, "Tentu saja, aku banyak berhubungan dengan karyawan kau tahu. Taehyung, tampaknya kau tidak boleh terlalu berprasangka dulu pada Yoongi", Seokjin berubah serius, "Jimin bukan orang bodoh, dia tidak akan membiarkan dirinya dimanfaatkan, kecuali dia melakukannya dengan sukarela"

"Dia mabuk kepayang, lelaki yang mabuk kepayang tidak akan menggunakan akal sehatnya, dan kalau hal itu mulai keterlaluan, aku sendiri yang akan memperingatkan Yoongi", gumam Taehyung dengan penuh tekat.

Seokjin diam saja, memahami betapa dalamnya rasa persahabatan antara Taehyung dan Jimin, dan betapa Taehyung sangat ingin menjaga sahabatnya itu. Tetapi ada sesuatu yang mengganggu pikirannya, sesuatu tentang Yoongi, gadis itu terasa familiar tetapi Seokjin tidak bisa mengingatnya, kapan? Dimana?

TBC

P.S:

Ketika kuliah semakin berat…. :"(((

Semoga review di chapter ini bisa memulihkan moodku..

.

.

Mind u ?