Cast : [YoonMin Couple] Min Yoongi a.k.a Suga, Park Jimin
Seme!Jimin , Uke!GS!Yoongi
Support Cast : Jung Hoseok a.k.a JHope, Kim Taehyun ,GS!Kim Seokjin
A/N : Hmm Well, ini adalah remake dari novel salah satu penulis terkenal Tante Santhy Agatha yang berjudul "A Romantic Story About Serena" ,disini aku Cuma mengubah pemeran jadi couple kesayangan hihihi Jalan ceritanya tetap seperti apa yang lahir dari ketikan Tante Santhy Agatha yaa makasih tante buat novelnya yang bagus banget dan maaf aku me-remake seenak jidat sendiri :3
Well ,aku bukan orang baru di ffn tapi jelas adalah orang baru dalam dunia FF Yoonmin atau BTS ,Well I'm just Fall in love with them lately(Too Late). Semoga pada suka dan aku diterima di fandom ini hehe
Happy reading
Chapter 8
Yoongi mulai sembuh, meskipun dia belum bekerja, Jimin tidak mengijinkannya. Laki-laki itu bersikeras bahwa Yoongi belum boleh bekerja, dan dia memerintahkan dokter Seokjin menghubungi langsung atasan Yoongi sehingga tidak masuknya Yoongi selama empat hari ini tidak akan menjadi masalah.
Well, besok dia harus masuk, dia sudah sehat, itu hanya flu biasa dan dengan perawatan Jimin yang sengat intensif disertai dengan obat dari dokter Seokjin yang sangat manjur, dia sudah merasa cukup kuat hari ini.
Dan Yoongi merindukan Hoseok, sudah empat hari dia tidak ke rumah sakit, kemarin tubuhnya masih terlalu lemah, tetapi sekarang dia sudah agak kuat dan tidak sabar ingin segera melihat Hoseok, Suster Hana menelephon dan menceritakan perihal Jimin yang mengangkat telephonnya pada waktu Yoongi tertidur, sekaligus meminta maaf jika dia sudah hampir membuka rahasia Yoongi.
Setelah itu, Yoongi bersikap hati-hati kepada Jimin, menunggu lelaki itu bertanya kepadanya. Tetapi Jimin besikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Jadi Yoongi berpikir Jimin tidak menganggap telepone dari Suster Hana itu sebagai sesuatu yang serius.
Yoongi sudah berpakaian rapi, saat itu jam lima sore, Jimin masih akan pulang jam sembilan malam, jadi dia masih punya waktu lebih dari cukup untuk menengok Hoseok.
Dengan riang karena akhirnya bisa berkunjung lagi ke rumah sakit, Yoongi berjalan dan membuka pintu keluar apartemennya, hanya untuk berhadapan dengan sosok Jimin yang akan membuka pintu untuk masuk, Jimin mengamati Yoongi yang berpenampilan rapi.
"Mau kemana?", tanyanya langsung.
Sejenak Yoongi terperangah tak menyangka akan berhadapan dengan Jimin, matanya mengerjap gugup.
"Yoongi?", Jimin mengulang pertanyaannya dalam matanya.
"Eh aku...", Yoongi mengerjap lagi, "aku mau membeli bahan makanan di supermarket", gumamnya, mengucapkan hal pertama yang terpikir di dalam benaknya.
Jimin mengernyit,
"Kau masih sakit, tidak boleh keluar-keluar, kau bisa membeli bahan makanan itu besok, lagipula aku sudah membawa makanan", Jimin menunjukkan kantong kertas di tangannya dan melangkah masuk lalu menutup pintu apartement, ketika dirasakannya Yoongi masih terpaku dia menoleh dan mengangkat kantong makanan itu.
"Kau tidak mau menatanya di piring sementara aku mandi?", tanyanya lembut,
Yoongi tergeragap, dan mengangguk, lalu menerima kantong itu dari Jimin, Ketika Jimin melangkah ke kamar dan mandi, Yoongi menata makanan di dapur dengan frustasi, kenapa Jimin sudah pulang sore-sore begini? Kenapa waktunya begitu tidak tepat?
.
.
.
Yoongi menyempatkan diri menghubungi Suster Hana dan menjelaskan perihal batalnya kunjungannya ke rumah sakit, untunglah Suster Hana mengerti lalu menjelaskan secara singkat kondisi Hoseok yang stabil sehingga kemungkinan operasi ginjalnya bisa dilakukan beberapa hari lagi. Yoongi merasa sangat lega mendengarnya, dengan cepat dipanjatkannya doa permohonan untuk Hoseok lalu melanjutkan menata makanan itu.
Semua masakan yang dibeli Jimin tampak hangat dan menggiurkan sehingga mau tak mau menggugah selera Yoongi.
"Kau pasti menyukainya, itu menu andalan dari restaurant favoritku", Jimin masuk kedapur dengan mengenakan pakaian santai, dia sudah bertransformasi dari pebisinis yang dingin ke lelaki yang lebih mudah didekati.
"Mana kopiku?", gumamnya disebelah Yoongi.
Jimin berdiri begitu dekat hingga membuat Yoongi gugup, dengan ceroboh dia hampir melompat menjauh dari Jimin, membuat lelaki itu mengangkat sebelah alisnya sambil menatap Yoongi.
"A...akan kubuatkan", gumam Yoongi dengan pipi merah padam.
"Tidak, nanti saja akan kubuat sendiri, kemarilah aku belum memeriksamu sejak tadi", Jimin merentangkan tanggannya sambil bersandar di meja dapur.
Yoongi memandang ragu-ragu ke tangan Jimin yang terentang, lalu beralih kemata Jimin yang menyiratkan perintah tanpa kata-kata. Dengan ragu dia melangkah mendekat ke arah Jimin, lelaki itu langsung merengkuhnya ke dalam pelukannya.
"Hmmmm kau harum seperti aroma bayi", gumam Jimin tenggelam disela sela rambut Yoongi.
Jimin juga harum, pikir Yoongi dalam hati, aroma sabun dan aftershave, aroma yang sudah familiar dengannya dan mau tak mau Yoongi merasa nyaman ada di dalam pelukan Jimin, Mereka berdiri sambil berpelukan beberapa lama, tanpa suara tanpa kata-kata, Ketika akhirnya Jimin mengangkat kepalanya dan menatap Yoongi, matanya tampak membara.
"Kau sudah tidak demam lagi", suaranya terdengar serak, dan Yoongi mengerti artinya, Jimin sudah terlalu lama menahan diri, lelaki itu tidak menyentuhnya selama tiga malam, dan mengingat besarnya gairah Jimin kepadanya, sepertinya itu sudah hampir mencapai batas maksimal pengorbanan Jimin.
Yoongi sangat mengerti.
"Iya, aku sudah tidak demam lagi", balas Yoongi lembut.
Jimin mengerang lalu menekankan tubuhnya makin rapat pada tubuh Yoongi, hingga kejantanannya yang sudah mengeras menekan Yoongi membuat pipi Yoongi memerah. Dengan lembut Jimin mengusap pipi Yoongi.
"Begitu liar di ranjang, tapi masih bisa memerah pipinya ketika kugoda", dengan lembut Jimin meniupkan napas panas di telinga Yoongi, membuat tubuh Yoongi menggelenyar.
"Apakah aku juga bisa membuat yang di bawah sana merona ketika kugoda?"
Tangan Jimin menyentuh Yoongi dengan lembut, membuat napas Yoongi terengah, jemari yang kuat itu menelusup ke dalam, menyentuh Yoongi dan menggodanya, membuatnya basah.
Jimin mendorong Yoongi ke atas meja dapur membuka pahanya, lalu dengan cepat membuka celananya dan menyatukan dirinya dengan Yoongi. Kerinduannya begitu dalam sehingga kenikmatan yang terasa begitu menyengat seakan-akan jiwanya dipukul dengan tabuhan percikan orgasme tanpa ampun.
Entah hati mereka saling berseberangan, tetapi ternyata tubuh mereka saling membutuhkan. Yoongi setengah terbaring di atas meja dapur dengan tubuh Jimin melingkupinya, Lelaki itu membutuhkannya dan Yoongi dengan caranya sendiri membutuhkan Jimin. Ketika paha mungil Yoongi melingkupi pinggang Jimin, Jimin menekankan dirinya kuat kuat, menggoda batas pertahanan Yoongi.
"Jimin...", Yoongi merintih, tanpa sadar mengucapkan nama Jimin, dan ucapan itu bagaikan musik hangat di telinga Jimin.
"Ya manis, katakan manis, kau ingin aku berbuat apa?", bisik Jimin parau disela tubuhnya yang bergolak untuk memuaskan Yoongi, di sela napasnya yang tersengal yang terpacu cepat. "Kau ingin aku memuaskanmu ya? Aku akan memuaskanmu manis, aku akan memuaskanmu sampai kau tidak akan pernah bias menemukan kepuasan yang sama dari siapapun.", Dengan posesif Jimin menekan Yoongi menyatakan kepemilikannya.
"Kau tidak akan pernah menemukan lelaki lain...", suara Jimin tercekat ketika hantaman orgasme melandanya, membawa Yoongi ikut dalam pusaran puncak kenikmatannya.
Dan akhirnya, mereka baru menyantap makan malam hampir lewat tengah malam.
.
.
.
Ruangan itu sangat sunyi, hanya suara alat-alat penunjang kehidupan yang berbunyi secara teratur.
Yoongi duduk disana, disamping ranjang Hoseok, menatap Hoseok yang terbaring dengan damai. Dua jam lagi operasi ginjal Hoseok akan dilaksanakan. Kau harus kuat bertahan ya? demi aku kau harus bertahan, kau harus bertahan, demi aku Hoseok...
Berkali-kali Yoongi merapalkan kata-kata itu seperti sebuah doa yang tidak ada putus-putusnya. Hoseok tampak lebih kurus, dan pucat, dan begitu diam, tetapi Yoongi meyakini masih ada kekuatan hidup yang tersembunyi di dalam tubuh Hoseok, Yoongi mempercayainya. Yoongi percaya kepada Hoseok, seluruh harapannya masih bertumpu kepada kepercayaannya itu.
Kemungkinan keberhasilan operasi itu adalah 40:60, dan Yoongi bergantung kepada 40% itu. Dia percaya Hoseok adalah lelaki yang kuat, buktinya dia sudah berhasil bertahan sampai sejauh ini.
Suster Hana masuk ke dalam ruangan, dan menyentuh pundak Yoongi.
"Kondisinya stabil Yoongi, aku yakin dia akan berhasil melalui ini semua."
"Iya suster, Hoseok pasti kuat."
Suster Hana mengecek denyut nadi Hoseok lalu menatap Yoongi seolah teringat sesuatu.
"Bagaimana kau berpamitan dengan Jimin?"
Yoongi merona.
.
.
.
"Aku bilang menemani teman yang akan melahirkan," gumamnya pelan, merasa
berdosa karena tidak biasa berbohong.
Hari ini hari minggu, Jimin kebetulan berencana melewatkan waktunya seharian dengan Yoongi. Tetapi dengan alasan palsu dan kebohongan yang terbata-bata, Yoongi berhasil membuat Jimin melepaskannya.
Meskipun dahi Jimin tampak berkerut curiga ketika Yoongi berpamitan tadi pagi.
"Kalau begitu kenapa kau tak mau kuantar?" kejar Jimin tadi pagi ketika Yoongi menolak tawarannya.
"Karena temanku ini mengenalmu sebagai bosku, nanti dia bisa mengetahui semuanya." jawab Yoongi cepat-cepat.
Lelaki itu mengerutkan keningnya lagi, tidak puas. "Apakah dia salah satu pegawaiku?"
"Bukan!"
Yoongi langsung menyela keras, karena setelah mengenal Jimin lebih dekat, Yoongi tahu, jika dia menjawab 'iya', maka Jimin pasti akan menyuruh salah satu staf personalianya untuk mengecek apakah benar ada karyawannya yang akan melahirkan, dan dia akan mendapati kalau Yoongi berbohong.
"Dia bukan pegawaimu, tapi dia banyak mengenal teman-teman kantor dan dia tahu tentangmu, jadi kalau dia melihatmu dia bisa bertanya-tanya kepada yang lain…."
"Oke, kalau begitu di Rumah Sakit mana?"
Yoongi kehilangan kata-kata, berusaha mencari jawaban.
"Eh...aku tidak tahu di Rumah Sakit mana."
Dengan cepat Jimin melangkah ke hadapan Yoongi yang berusaha menghindari tatapannya.
"Kau bilang akan menemani temanmu itu di Rumah sakit, bagaimana mungkin kau tidak tahu di mana rumah sakitnya?"
"A...aku...", dengan gugup Yoongi menelan ludah, "Aku akan menunggu di kost yang lama, suaminya akan menjemputku nanti" , disyukurinya jawaban yang terlintas cepat di otaknya, Dia jarang berbohong, dan tidak pandai berbohong, sementara Jimin terlihat seperti seorang detektif yang mencurigai tindakan kriminal yang dilakukan di belakangnya.
"Suaminya?"
Jawaban itu sepertinya membuat Jimin tidak senang karena ekspresi wajahnya semakin menggelap.
"Kau membiarkan suaminya menjemputmu? kalian hanya berdua di jalan?" Yoongi merasa gugup, tapi kemudian dia merasa ingin tertawa mendengar perkataan Jimin yang terasa aneh.
"Jimin," gumam Yoongi jengkel, " Dia seorang suami, dan isterinya akan melahirkan anaknya, apa yang ada di dalam pikiranmu?"
Perkataan itu membuat pipi Jimin merona, dan dia melangkah mundur.
"Ah ya...maaf," lalu lelaki itu menatap Yoongi tajam, " Kau boleh pergi, tapi begitu sampai di rumah sakit itu kau harus menghubungiku"
"Ya," jawaban Yoongi terlalu cepat sehingga Jimin menatapnya makin curiga.
"Kau harus menghubungiku, Oke?"
"Oke", jawab Yoongi terlalu cepat.
"Yoongi!" Suara Jimin terdengar jengkel.
"Oke, Aku janji." Jawab Yoongi akhirnya.
"Dan sebelum jam delapan malam kau harus pulang."
"Baik Jimin", Yoongi berjanji meski tidak tahu apakah dia bisa menepatinya.
Dan sekarang, dengan sengaja Yoongi mematikan ponselnya. Bagaimanapun kemarahan Jimin nanti akan ditanggungnya, sekarang yang paling penting adalah Hoseok.
"Sudah waktunya", gumam Suster Hana, membuyarkan lamunan Yoongi.
Dua perawat lain masuk ke ruangan dan mulai mempersiapkan mesin-mesin penunjang kehidupan untuk Hoseok. Lalu mulai mendorong tubuh Hoseok keluar ruangan.
Yoongi mengikuti di belakang, sampai Hoseok menghilang di pintu khusus ruang operasi.
Dengan lemah dia menoleh ke Suster Hana, "Berapa lama suster operasinya?" Suster Hana memeluk Yoongi lembut.
"Untuk operasi berat seperti ini, minimal 4 jam Yoongi."
TBC
P.S:
Langsung di next aja…special(pake telor) di malam minggu double update …
