Cast : [YoonMin Couple] Min Yoongi a.k.a Suga, Park Jimin
Seme!Jimin , Uke!GS!Yoongi
Support Cast : Jung Hoseok a.k.a JHope, Kim Taehyun ,GS!Kim Seokjin
A/N : Hmm Well, ini adalah remake dari novel salah satu penulis terkenal Tante Santhy Agatha yang berjudul "A Romantic Story About Serena" ,disini aku Cuma mengubah pemeran jadi couple kesayangan hihihi Jalan ceritanya tetap seperti apa yang lahir dari ketikan Tante Santhy Agatha yaa makasih tante buat novelnya yang bagus banget dan maaf aku me-remake seenak jidat sendiri :3
Well ,aku bukan orang baru di ffn tapi jelas adalah orang baru dalam dunia FF Yoonmin atau BTS ,Well I'm just Fall in love with them lately(Too Late). Semoga pada suka dan aku diterima di fandom ini hehe
Happy reading
Chapter 9
4 jam
5 jam
6 jam
...
.
.
Napas Yoongi mulai terasa sesak, berkali kali dia melirik lampu di atas pintu ruang operasi. Tetapi tetap tidak ada gerakan di sana. Di setiap detik yang terlewatkan dengan begitu lambat, napas Yoongi terasa makin lama makin sesak.
Kenapa lama sekali? Apa yang terjadi? Apakah para dokter mengalami kesulitan? Bagaimana kondisi Hoseok disana?
Pertanyaan-pertanyaan itu berkecamuk di dalam benak Yoongi, membuatnya makin cemas dan ketakutan.
Suster Hana sudah berkali-kali menengok keadaan Yoongi di sela-sela tugas jaganya, membawakan Yoongi segelas teh dan makanan kecil karena Yoongi tidak mau makan.
"Makanlah dulu Yoongi. Aku tidak mau kau pingsan nantinya." gumam suster Hana sambil memijit lembut pundak Yoongi.
Dengan lemah Yoongi menggeleng. "Tidak bisa suster, aku terlalu cemas untuk makan."
"Kalau begitu minumlah tehmu, kau sama sekali belum makan sejak tadi, setidaknya teh manis bisa memberikanmu sedikit tenaga."
Dengan patuh Yoongi meneguk teh manisnya, lalu menatap ke pintu lagi dengan cemas.
"Kenapa lama sekali suster operasinya?"
Suster Hana menghela napas.
"Aku tidak tahu Yoongi, tapi Hoseok kan kasus khusus, para dokter harus benar-benar berhati-hati menanganinya, mungkin itu yang memerlukan waktu lebih
lama."
Pandangan Yoongi tetap tidak terlepas dari pintu ruang operasi. Ketegangannya semakin meningkat, ketika lampu di atas pintu ruang operasi menyala, tanpa sadar dia terlompat dari tempatnya berdiri dan setengah berlari menyongsong dokter.
Dokter itu tersenyum sebelum Yoongi bertanya, dia mengenal Yoongi, mengenal kegigihan gadis itu memperjuangkan kehidupan tunangannya. Dan tanpa sadar turut merasakan empati pada pasangan itu.
"Tidak apa-apa Yoongi, Hoseok lelaki yang kuat, operasinya berhasil."
Tubuh Yoongi langsung lunglai penuh rasa syukur hingga sang dokter harus menopangnya.
"Selamat Yoongi, kamu berhasil... Kalian berdua berhasil."
.
.
.
"Pulanglah dulu Yoongi, ini sudah hampir jam tiga pagi", Suster Hana yang masih setia menemani mengguncang pundak Yoongi.
Dia kasihan melihat gadis itu tertidur kelelahan di samping ranjang Hoseok, begitu Hoseok keluar dari ruang pemulihan dan kembali ke kamar perawatan intensif, Yoongi tak pernah beranjak dari sisi Hoseok, tidak makan, tidak minum. Hanya duduk disana mengenggam tangan Hoseok yang tidak terbalut infus, seolah olah akan ada keajaiban dimana Hoseok akhirnya sadarkan diri.
Kasihan sekali kau nak, Suster Hana menggumamkan rasa tersentuhnya dalam hati. Yoongi berusaha mengumpulkan kesadarannya, tanpa terasa tadi dia tertidur karena kelelahan.
"Kamu harus pulang Yoongi, ingat, mungkin Jimin kebingungan mencarimu."
Astaga! Astaga! Astaga! Ya Tuhan, Yoongi benar-benar lupa, Jimin!
Astaga, lelaki itu pasti akan mencarinya dan sekarang dia pasti sedang marah
besar!
Dengan gugup Yoongi bangkit dari kursinya, sedikit gemetar membayangkan kemarahan Jimin nantinya.
"Aku meminta supir rumah sakit mengantarmu pulang, jadi kamu tidak perlu naik taksi dini hari begini", Suster Hana berusaha meredakan kegugupan Yoongi.
Dengan cepat Yoongi mengecup tangan Hoseok yang masih ada dalam genggamannya, memeluk Suster Hana dan setengah berlari keluar.
.
.
.
Ruangan itu gelap.
Gelap dan sunyi, hingga bunyi klik ketika Yoongi menutup pintu terdengar begitu
keras. Dengan gugup Yoongi menelan ludah.
Kenapa sepi? Kemana Jimin?
Apa Jimin mungkin pulang ke rumahnya? Apa mungkin dia tidak tahu kalau Yoongi belum pulang? Syukurlah kalau begitu kejadiannya.
Yoongi berusaha menenangkan dirinya, tapi tetap saja tidak bias menyembunyikan rasa gugupnya menghadapi apa yang akan terjadi, seperti hitungan mundur penantian sebuah bom yang akan meledak saja.
Dan bom itu memang meledak.
Dalam hitungan beberapa menit pintu depan terbuka, tidak, bukan terbuka, tapi terdorong dengan kasarnya, lampu-lampu menyala. Jimin tampak begitu menakutkan, matanya menyala-nyala, rambutnya acakacakan, bahkan pakaiannya yang biasanya selalu elegan dan rapi tampak kusut masai. Yang pasti, lelaki itu kelihatan begitu murka mendapati Yoongi berdiri di ruang tamu apartemen itu, hanya menatapnya.
Dengan gerakan kasar dia meraih pundak Yoongi dan mengguncangnya begitu keras sampai Yoongi merasa pusing,
"Kemana saja KAU?!", teriak Jimin, lepas kendali.
Yoongi berusaha menjawab, tetapi kepalanya terasa pusing karena Jimin masih mengguncangnya.
"Aku mencarimu ke segala penjuru, kau tahu?! ", Jimin masih berteriak.
"Semua rumah sakit bersalin di kota ini aku datangi satu persatu, tapi tidak ada kamu! Kemana saja KAU?"
"Jimin, kalau kau terus mengguncangnya seperti itu, dia akan muntah sebentar lagi", sebuah suara tenang terdengar di belakang Jimin, membuat lelaki itu terpaku, seolah-olah baru menyadari kehadiran sosok di belakangnya.
Taehyung berdiri dengan santai sambil menyandarkan tubuhnya di dinding dekat pintu, sepertinya menikmati pemandangan Yoongi yang didamprat oleh Jimin. Jimin menarik napas dalam-dalam beberapa kali, berusaha mengontrol emosinya.
Sialan benar Yoongi! Sialan benar gadis ini! Tidak tahukah dia begitu cemas tadi ketika sampai malam Yoongi tidak juga pulang? Tak tahukah dia betapa hati Jimin dicengkeram ketakutan yang amat sangat ketika mencoba menghubungi Yoongi dan menemukan bahwa ponselnya mati?
Beribu pikiran buruk tadi berkecamuk di dalam benak Jimin, bagaimana kalau Yoongi kecelakaan? Atau dia menjadi korban kejahatan?! Bagaimana kalau gadis itu terluka parah dan tidak dapat datang kepadanya untuk meminta pertolongan?
Dan sekarang, menemukan gadis itu berdiri di ruang tamu apartemennya, tanpa kekurangan suatu apapun, membuat Jimin dibanjiri perasaan lega yang amat sangat, lega sekaligus murka, murka karena gadis itu telah membuatnya kacau balau, murka karena gadis itu telah membuatnya berubah dari Jimin yang tenang menjadi Jimin yang kacau, murka karena gadis itu telah menumbuhkan sebentuk perasaan yang tidak dia kenal sebelumnya.
"Pro... Proses melahirkan temanku bermasalah... Dia... Dia eh... Harus... Dioperasi...", Yoongi masih berusaha mengumpulkan nafasnya, diguncang dengan begitu kerasnya membuat pandangannya berkunang-kunang.
Tangan Jimin yang masih berada di pundaknya mencengkeramnya kuat.
"Kalau begitu, apa susahnya meneleponku?! Kenapa kau matikan ponselmu hah?!",
Yoongi mengerjapkan matanya gugup. "Baterai ponselku... Habis..."
"Memangnya tidak ada cara lain buat menghubungiku?! Aku hampir gila memikirkan kau ada dimana! Apa kau pikir aku tidak mencemaskanmu? Kau tahu aku hampir melaporkan kehilanganmu ke kantor polisi! "
"Jimin, sudahlah, toh dia sudah pulang dengan selamat", Taehyung menyela, berusaha lagi meredakan kemarahan Jimin.
Dengan tajam Jimin menoleh kepada sahabatnya itu, "Cukup Taehyung, kau boleh pulang, terima kasih sudah menemaniku tadi."
Taehyung hanya mengangkat bahu menghadapi pengusiran halus itu, dia menepuk-nepuk kemejanya yang juga kusut, lalu melangkah keluar pintu.
"Kau harus menenangkan otakmu, kalau kau seperti ini, makin lama aku makin tidak mengenalmu", kata-kata Taehyung ditujukan kepada Jimin, tapi matanya menatap tajam ke arah Yoongi, menyalahkan.
"Dan kau, Tuan Putri, lain kali belajarlah sedikit bertanggung jawab!", sambungnya dingin sebelum melangkah keluar dan menutup pintu di belakangnya.
Ruangan itu menjadi begitu hening sepeninggal Taehyung.
Jimin diam.
Dan Yoongi juga diam, menilai emosi Jimin, takut salah berbicara atau bertindak yang mungkin bisa menyulut emosi Jimin semakin parah. Setelah mengamati dengan hati-hati, Yoongi menarik kesimpulan kalau kemarahan Jimin sudah mulai mereda, matanya sudah tidak menyala lagi seperti api biru, dan napasnya sudah teratur, hanya tatapan tajam dan bibirnya yang menipis itu yang menunjukkan masih ada sisa kemarahan di sana.
"Maafkan aku," bisik Yoongi pelan, takut-takut.
Sejenak Jimin tampak akan mendampratnya lagi, tetapi lelaki itu menarik napas panjang, berusaha menahan diri.
"Sudahlah", gumamnya, melangkah melewati Yoongi memasuki kamar.
Dengan gugup Yoongi berusaha mengejar langkah Jimin yang begitu cepat.
"Maafkan aku, aku tidak berpikir kamu akan secemas itu", tersengal Yoongi berusaha menjajari langkah Jimin menuju kamar. "Aku... aku terlalu terfokus pada operasi temanku lalu aku...Jimin!", Yoongi setengah berseru karena lelaki itu berjalan terus tanpa memperhatikannya.
Jimin berhenti melangkah, menatap Yoongi, tampak begitu dingin. "Yang penting kau sudah pulang dengan selamat", jawabnya datar.
"Jimin...?"
Yoongi merasa ragu mendengar nada dingin di dalam suara Jimin.
"Sudah! Aku mau tidur!" geram Jimin marah sambil melangkah ke arah ranjang.
.
.
.
Lelaki itu marah, marah besar padanya.
Yoongi bisa merasakannya dari suasana pagi itu, ketika mereka bersiap-siap
berangkat ke kantor. Semalaman Yoongi tidak bisa tidur, dan Yoongi yakin Jimin juga tidak tidur, karena lelaki itu bergerak dengan gelisah sepanjang malam.
Suasana tegang di waktu sarapan pagi itu terasa seperti kawat berduri yang
direntangkan, siap putus dan melukainya. Ia tidak menyukai suasana seperti ini, lebih baik Jimin meledak-ledak marah seperti kemarin, setidaknya semua kemarahannya terlampiaskan, tidak seperti sekarang.
Lelaki itu murka, tetapi menyimpannya sehingga membuat seluruh dirinya tegang dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"Kita berangkat bersama", desis Jimin setelah membanting serbet makannya ke meja.
Tangan Yoongi yang menyuapkan roti ke mulutnya berhenti di tengah-tengah.
"Apa?"
"Kita berangkat bersama-sama", ulang Jimin datar.
"Tapi..."
"Tidak ada tapi Yoongi," sela Jimin kasar lalu berdiri dengan marah ke pintu,
"Ayo cepat!"
Dengan gusar lelaki itu membukakan pintu mobil buat Yoongi, dan membantingnya ketika Yoongi sudah duduk di kursi, tanpa dapat membantah, tanpa dapat memberikan perlawanan.
Sepanjang jalan, lelaki itu menyetir dengan sangat kasar, seolah-olah melampiaskan kemarahannya. Yoongi hanya duduk berdiam, tidak mau melakukan apapun yang dapat memancing kemarahan Jimin.
"Nanti kau pulang denganku! Kau dengar itu? Kau datang ke ruanganku setelah jam kantor, kita pulang bersama!", gumam Jimin tanpa mau dibantah ketika menurunkan Yoongi di lobi kantor.
.
.
.
Hari ini berlalu dengan amat lambat bagi Yoongi, perasaannya tidak enak, sampai kapan Jimin akan marah padanya? Sampai kapan Jimin akan bersikap seperti ini kepadanya?
Dia tahu dia bersalah, tapi dia kan sudah meminta maaf? Lagipula kenapa permasalahan kecil semacam ini begitu dibesar-besarkan oleh Jimin? Pemikiran itu masih berkecamuk di kepalanya ketika keluar dari lift yang mengantarkannya ke ruangan pribadi CEO perusahaan.
Sebenarnya Yoongi tadi bermaksud pulang sendiri dan mampir ke rumah Sakit menengok Hoseok, memanfaatkan waktu bebasnya yang dijanjikan oleh Jimin pada waktu perjanjian awal mereka.
Tapi dengan ancaman Jimin tadi pagi, Yoongi tidak punya pilihan lain selain menuruti permintaan Jimin untuk menemuinya di ruangannya sepulang kerja. Meja sekertaris Jimin sudah kosong, dengan pelan Yoongi melangkah ke pintu besar ruangan Jimin, mengetuknya pelan.
"Masuk."
Sebuah suara mempersilahkannya dari dalam. Yoongi masuk dan menutup pintu di belakangnya, ketika membalikkan badannya dia terpaku. Bukan Jimin yang ada di sana, tetapi Taehyung, lelaki itu sedang duduk santai di sofa, menyesap segelas brendy, menatap Yoongi dengan penilaian santai yang sedikit kurang ajar.
"Mr. Park menyuruh saya kesini jam pulang kantor.", jelas Yoongi terbata.
Taehyung tersenyum, masih duduk santai di sofa sambil menatap brendynya yang tinggal seperempat gelas.
"Aku tahu, Jimin menyuruhku menunggumu di sini, dia sedang menemui tamu penting dari Jerman di ruang pertemuan."
"Oh."
Yoongi tidak tahu harus berkata apa, suasana terasa sangat canggung. Entah karena Yoongi memang tidak kenal dekat dengan Taehyung, atau karena sikap santai palsu yang ditunjukkan Taehyung.
"Kalau begitu mungkin saya akan menunggu di luar saja", gumam Yoongi cepat-cepat, ingin segera meninggalkan ruangan itu.
"Bagaimana rasanya?"
Pertanyaan tiba-tiba Taehyung itu menghentikan gerakan tangan Yoongi membuka pegangan pintu.
"Apa?"
"Bagaimana rasanya menjadi wanita simpanan taipan kaya seperti Jimin?",Taehyung bangkit berdiri dari sofa dan menghampiri Yoongi.
Yoongi tidak suka mendengar nada melecehkan dalam suara Taehyung, dia ingin segera keluar dari ruangan ini.
"Eh, mungkin saya harus menunggu di luar," Yoongi berhasil membuka pintu sedikit, tapi dengan lengannya Taehyung mendorong pintu itu tertutup lagi.
"Aku bertanya padamu Tuan Putri", ulang Taehyung sinis.
Yoongi menatap Taehyung tajam.
"Saya tidak akan membiarkan anda merendahkan saya," desisnya pelan.
Ucapan itu membuat Taehyung tertawa, penuh penghinaan.
"Merendahkan katamu?, bukannya kau yang datang merangkak meminta dijadikan pelacur oleh Jimin?", ejeknya kasar, lalu mencekal lengan Yoongi tak kalah kasar, tak peduli Yoongi mulai meronta-ronta.
"Kau adalah wanita paling rendah, paling murahan yang pernah kukenal, kau mungkin berhasil merayu Jimin dengan tubuhmu", Taehyung menyeringai sinis,
"Tak kusangka Jimin bisa bertekuk lutut pada perempuan sepertimu, tapi kau tentu sudah tahu kan? Jimin terbiasa dikelilingi perempuan-perempuan dewasa yang berpengalaman, jadi citra polos dan kekanak-kanakanmu tentu saja menjadi hal baru yang menyegarkan untuknya."
"Anda salah ! Saya tidak begitu", Yoongi berusaha menyela, berusaha melepaskan diri dari cekalan tangan Taehyung, tapi genggaman lelaki itu seperti capit besi, dan dari napasnya yang berbau brendy, sepertinya lelaki itu setengah mabuk.
"Kau tidak bisa membohongiku pelacur cilik!", Taehyung menggeram pelan,
"Meski dulu aku terpaksa membuatkan kontrak tiga ratus juta yang konyol itu, jangan kira aku akan membiarkanmu menyetir Jimin untuk membuat kekonyolan lain yang merugikannya!"
"Anda salah paham!", Yoongi setengah berteriak, semakin meronta dari cengkeraman Taehyung yang sangat keras.
"Kau pelacur cilik yang menjual tubuhmu seharga tiga ratus juta", Taehyung mulai merapat ke tubuh Yoongi.
"Aku mulai bertanya-tanya, apakah hargamu sepadan dengan pelayananmu?"
"Tidaaak! Lepaskan saya!", Yoongi mulai berteriak membabi buta, berusaha melepaskan diri dari Taehyung yang semakin gelap mata.
Lelaki itu mencengkeramnya kuat, mendorongnya ke tembok dan berusaha menciumnya dengan kasar Yoongi meronta membabi buta, berusaha menghindari ciuman itu sekuat tenaga, memalingkan kepalanya seperti orang gila, dia tak mau disentuh Taehyung, dia tidak mau!
Jimin! Jimin! Tolong aku!
TBC
P.S:
Malam ini sengaja double update sebagai permintaan maafku karna lama banget update huhu mari sama-sama kita menyalahkan para dosen dan organisasi yang memberikan tugas kepadaku tanpa kenal lelah :" rasanya pengen lari kepelukan yoongi aja
AS ALWAYS ,segala bentuk terimakasih untuk semua yang udah mau review sangat berate sekali setiap kata yang kalian tinggalkan untukku :"))
:
Menjelang ultahnya baby-yoongi ,should I make special fic then ?
For this one ,mind to review ?
