Cast : [YoonMin Couple] Min Yoongi a.k.a Suga, Park Jimin
Seme!Jimin , Uke!GS!Yoongi
Support Cast : Jung Hoseok a.k.a JHope, Kim Taehyun ,GS!Kim Seokjin
A/N : Hmm Well, ini adalah remake dari novel salah satu penulis terkenal Tante Santhy Agatha yang berjudul "A Romantic Story About Serena" ,disini aku Cuma mengubah pemeran jadi couple kesayangan hihihi Jalan ceritanya tetap seperti apa yang lahir dari ketikan Tante Santhy Agatha yaa makasih tante buat novelnya yang bagus banget dan maaf aku me-remake seenak jidat sendiri :3
Well ,aku bukan orang baru di ffn tapi jelas adalah orang baru dalam dunia FF Yoonmin atau BTS ,Well I'm just Fall in love with them lately(Too Late). Semoga pada suka dan aku diterima di fandom ini hehe
Happy reading
Chapter 10
Seokjin sedang duduk di ruang tamu rumahnya, merenung. Ada yang mengganjal di pikirannya, terus mengganggu. Sesuatu yang diketahuinya sejak dulu tapi di lupakannya.
Sesuatu tentang Yoongi, dia merasa dia seharusnya mengetahui sesuatu tentang gadis itu, tapi apa?
Apa itu Seokjin ? Bukankah kau merasa sudah pernah mengenal gadis itu sebelumnya? Sebelum gadis itu bekerja di perusahaan ini ? Bukankah gadis itu terasa begitu familiar?
Dengan gelisah Seokjin berdiri, melangkah ke depan lemari putih yang terpajang rapi di ruang tamunya...
Sebenarnya dia punya firasat Yoongi berhubungan dengan masa lalunya, masa lalu yang ingin dilupakannya, karena terlalu pedih untuk diingatnya. Kenangan tentang almarhum suaminya, Namjoon...
Dengan gemetar Seokjin membuka laci lemari putih itu, lalu mengeluarkan sebuah kotak putih yang tidak pernah disentuhnya sejak dua tahun lalu. Hati-hati dibukanya kotak itu dan dikeluarkannya isinya, sebuah map tebal berisi berkas-berkas.
Seokjin duduk, menarik napas panjang dan membuka map itu, isinya adalah kliping, potongan berita-berita tentang tragedi dua tahun lalu. Tragedi kecelakaan beruntun di jalan tol yang menewaskan Namjoon suaminya.
Saat itu, dalam kesedihannya, Seokjin mengumpulkan semua berita yang memuat tentang tragedi itu, menjadikannya satu di dalam satu map besar, memasukkannya ke kotak, dan menyimpannya, menyimpannya bersama segenap kepedihan yang dia rasakan.
Sekarang dia membuka lagi kotak kepedihan itu, hatinya terasa nyeri, tangannya gemetar ketika membuka halaman demi halaman. Potongan artikel itu. Sampai kemudian dia menemukan apa yang dia cari.
Gambar sosok itu persis sama, meski terlihat muda, rapuh dan remuk redam, itu Yoongi yang sama, di gambar artikel itu, dia sedang menunduk mengenakan pakaian serba hitam di ruang tunggu sebuah rumah sakit,
SELURUH KELUARGA TEWAS MENJADI KORBAN TABRAKAN BERUNTUN
Begitu judul artikel itu, Disitu dijelaskan bagaimana Yoongi kehilangan kedua orang tuanya dan ditinggalkan sebatang kara sendirian. Sedangkan tunangannya, seorang pengacara bernama Rafi Ardyansyah terbaring koma tak sadarkan diri.
Tunangan? Koma?
Seokjin membaca artikel itu dengan teliti, lalu mengamati background rumah sakit pada gambar artikel Yoongi itu.
Dia tahu rumah sakit ini karena pernah praktek lapangan disana beberapa tahun
lalu.
Dengan segera dia menelephone rumah sakit itu, menggunakan berbagai koneksi profesi dokternya untuk memperoleh info dari dokter- dokter yang dikenalnya, Seokjin mencari informasi sebanyak-banyaknya, dan pada akhirnya menemukan kebenaran.
Kebenaran yang pasti akan menyentuh hati siapapun yang mendengarnya. Bahkan matanyapun berkaca-kaca karena terharu. Tiba-tiba Seokjin teringat akan kata-kata Taehyung ketika mereka makan siang bersama tadi, mengenai rencana lelaki itu untuk memberi Yoongi pelajaran...Malam ini...
Oh Tuhan!
Dengan segera, seolah tersadarkan, Seokjin segera meraih dompet dan kunci mobilnya, Dia harus mencegah Taehyung melakukan apapun rencananya untuk memberi pelajaran pada Yoongi!
Taehyung sudah salah paham, dan apapun yang dilakukan lelaki itu, dia pasti akan menyesal begitu mengetahui kenyataan yang sebenarnya! Seokjin harus mencegahnya sebelum terlambat!
.
.
.
Tamu penting itu akhirnya pulang juga, beres sudah, semua berjalan sesuai keinginannya.
Jimin mengacak rambutnya kesal, Kalau begitu kenapa dia tidak merasa lega?
Kau tahu kenapa
Bisik suara hatinya,
Ah ya, aku tahu kenapa.
Jimin mengakuinya.
Yoongi.
Cukup satu nama yang mewakili segalanya. Satu nama yang sedari tadi menghantui pikirannya.
Dia masih marah pada Yoongi, marah besar. Tapi bahkan meskipun dia marah, dia tak ingin membuat Yoongi sedih dengan kemarahannya. Sungguh ironis.
Jimin tersenyum sinis, menertawakan dirinya sendiri.
Tanpa terasa , gadis itu, Yoongi telah menjadi harta yang begitu berharga untuknya.
Tidak pernah dia secemas itu untuk siapapun, seperti yang dia lakukan untuk Yoongi kemarin malam,
Akuilah Jimin, kau menyayangi gadis itu.
Suara hatinya menekannya lagi. Dan Jimin tidak membantahnya, dia sudah terlalu lelah membantahnya.
Gadis itu dengan sifat polos, jujur dan kekanak-kanakannya telah menyentuh sisi hatinya yang tidak pernah diijinkan tersentuh oleh siapapun.
Ah ya, Yoongi pasti sudah menunggunya di ruangannya. Tamu penting yang datang mendadak ini membuatnya terpaksa menghubungi Taehyung agar menunggu di ruangannya kalau-kalau Yoongi datang.
Membayangkan Yoongi sedang menunggunya membuat Jimin tergesa melangkah menaiki lift, menuju lantai pribadinya.
Dengan tenang dia membuka pintu ruangannya. Pemandangan di depannya adalah pemandangan yang tidak disangkanya sekaligus pemandangan yang paling tidak disukainya.
Taehyung sedang berdiri menekan Yoongi ke tembok, memeluknya erat-erat dan menciumnya, tubuh Yoongi yang mungil tenggelam dalam pelukannya. Ketika menyadari pintu terbuka, Taehyung mengangkat kepalanya, dan menatap Jimin yang terpaku di pintu, membeku seperti batu.
"Oh, hai Jimin," Taehyung tersenyum, mengusap bibirnya yang sedikit bengkak karena berciuman dengan kasar, "Aku menawar gadismu ini dengan harga beberapa juta, dan dia bersedia menemaniku selama beberapa jam, boleh kan?"
Yoongi yang masih berada dalam cengkeraman Taehyung menjadi pucat pasi mendengar fitnah Taehyung yang begitu kejam.
Jimin tidak akan percaya kata-kata Taehyung kan? Jimin tidak akan percaya kan? Tapi ekspresi Jimin begitu susah dibaca, lelaki itu seperti membeku.
"Dan kau tahu Jimin, kau memang benar- benar tidak rugi", Taehyung menyambung, menyeringai menghina kepada Yoongi, "Ciumannya lumayan WOW"
"Tidak!", Yoongi akhirnya berhasil bersuara, mencoba membantah kata-kata Jimin, "Tidak! Ya Tuhan! Jimin!"
Suara Yoongi berubah menjadi jeritan ketika dengan secepat kilat tanpa di dugaduga, Jimin menerjang Taehyung. Menarik laki-laki itu dengan kasar dari Yoongi, lalu menyarangkan pukulan keras di rahang Taehyung, kemudian di perutnya sampai Taehyung terbungkuk-bungkuk menahan sakit, Tetapi Jimin masih belum puas. Dia menyarangkan lagi pukulan telak bertubitubi ke semua bagian tubuh Taehyung, tanpa memberi Taehyung kesempatan melawan,
"Jimin! Stop! Kumohon! Kau bisa membunuhnya!", Yoongi berteriak panic ketika Jimin menghajar Taehyung seperti kesetanan.
Dan terus menghajarnya, terus tanpa henti tidak peduli Taehyung sudah terkulai tanpa memberikan perlawanan. Aura membunuh memancar dari mata Jimin, menakutkan.
"Jimin!", Yoongi menjerit sekuat tenaga, berusaha mengembalikan akal sehat lelaki itu.
Kali ini berhasil, Jimin berhenti. Matanya nyalang, napasnya terengah-engah. Sedangkan kondisi Taehyung sungguh mengenaskan, lelaki itu berbaring tak berdaya, wajahnya penuh darah, mungkin hidungnya patah. Dan sepertinya dia tidak sadarkan diri.
"Astaga." sebuah suara tercekat yang berasal dari pintu membuat Yoongi dan Jimin menoleh bersamaan, Seokjin berdiri di sana, pucat pasi.
Seolah disadarkan, Jimin langsung berdiri, menghampiri Yoongi dengan bara kemarahan yang membuat Yoongi beringsut menjauh. Lelaki itu tidak peduli, dengan kasar dia menarik lengan Yoongi, setengah menyeretnya keluar ruangan.
"Sakit Jimin", Yoongi merintih karena perlakuan kasar Jimin, tetapi lelaki itu tidak peduli, seolah tidak mendengar apa yang diserukan Yoongi.
Seokjin berusaha menghentikan langkah Jimin, "Jimin, kau harus mendengar penjelasanku, semua ini..."
"Diam!", teriakan Jimin yang menggelegar membuat suara Seokjin tertelan kembali," Kau urus saja bajingan disana itu sebelum dia mati kehabisan darah! Dan begitu dia sadar, katakan padanya bahwa dia dipecat!"
Jimin menggeram marah sambil menyeret Yoongi menaiki lift. meninggalkan Seokjin yang masih berdiri terpaku, bingung.
.
.
.
"Jimin! Semua yang Taehyung katakan itu bohong!", Yoongi berusaha menjelaskan ketika mereka sampai di apartemen, dan lelaki itu masih menggelandangnya dengan kasar.
Tubuh Yoongi dihempaskan dengan sangat kasar ke tempat tidur. "Dia bohong Jimin...", Yoongi tersengal, putus asa mencoba meyakinkan Jimin.
"Taehyung tidak pernah berbohong padaku", jawab Jimin datar, tangannya bergerak membuka kancing bajunya.
"Dia bohong...Percayalah", air mata mulai mengalir di sudut mata Yoongi.
"Tidak ada untungnya baginya berbohong padaku."
"Ada!", jerit Yoongi, "Dia membenciku, dia ingin menyingkirkanku..."
"Wah...Kau pikir kau seberharga itu? Kau tidak lebih dari pelacur kecil dengan tampilan tanpa dosa...Berapa dia membayarmu untuk sebuah ciuman hah?! Sepuluh juta? Dua puluh juta? Kau pikir kau bisa mendapatkan uang keuntungan dari kami berdua ya?"
"Kumohon Jimin, kau tahu dia berbohong...Kumohon...Kumohon...Percayalah padaku...", Yoongi mulai panik ketika Jimin melepas kemejanya, "Ke... Kenapa kau melepas pakaianmu?"
Dengan takut Yoongi beringsut di ranjang mencoba sejauh mungkin dari Jimin.
"Yah...Aku sudah pernah bilang kan?", lelaki itu tersenyum kejam sambil mulai melepas ikat pinggangnya, tatapan matanya tak lepas dari Yoongi yang meringkuk ketakutan seperti sekor mangsa yang menghadapi predator kejam.
"Seorang pelacur harus diperlakukan seperti pelacur!", desis Jimin penuh penghinaan.
TBC
P.S: Aku masih dalam masa berduka atas kepergian seseorang. Semoga kalian masih mau bersabar menunggu update-anku…
