Cast : [YoonMin Couple] Min Yoongi a.k.a Suga, Park Jimin

Seme!Jimin , Uke!GS!Yoongi

Support Cast : Jung Hoseok a.k.a JHope, Kim Taehyun ,GS!Kim Seokjin

A/N : Hmm Well, ini adalah remake dari novel salah satu penulis terkenal Tante Santhy Agatha yang berjudul "A Romantic Story About Serena" ,disini aku Cuma mengubah pemeran jadi couple kesayangan hihihi Jalan ceritanya tetap seperti apa yang lahir dari ketikan Tante Santhy Agatha yaa makasih tante buat novelnya yang bagus banget dan maaf aku me-remake seenak jidat sendiri :3

Well ,aku bukan orang baru di ffn tapi jelas adalah orang baru dalam dunia FF Yoonmin atau BTS ,Well I'm just Fall in love with them lately(Too Late). Semoga pada suka dan aku diterima di fandom ini hehe

Happy reading

Chapter 11

"Sakit", Taehyung mengernyit ketika Seokjin mengusap luka di bibirnya dengan kapas.

"Kau pantas mendapatkannya", gumam Seokjin tanpa perasaan, malah semakin kasar mengusap luka itu.

Mereka baru pulang dari rumah sakit, hidung Taehyung patah, dan tiga tulang rusuknya retak sehinga harus ditahan dengan perban. Belum lagi lebam lebam di tubuh dan mukanya. Mata Taehyung sudah mulai bengkak membiru. Pukulan pukulan yang diberikan Jimin benar-benar brutal.

"Aku kan cuma membantu Jimin dengan menunjukkan padanya kalau perempuan yang di peliharanya itu cuma pelacur kecil", Taehyung tampak kesusahan bicara, tapi ia masih membela diri.

"Jangan sebut dia pelacur! Kau mungkin lebih kotor darinya!", potong Seokjin marah, melemparkan kapas yang di celup alkohol itu ke samping, "Kau sudah bertindak kejam dan gegabah pada Yoongi...Astaga! Kau pasti akan menyesal begitu mengetahui semuanya!"

"Mengetahui apa?", kali ini Taehyung mulai cemas. Seokjin tampak begitu marah sekaligus begitu sedih. Bertahun-tahun dia mengenal Seokjin, tak pernah wanita itu tampak begitu dikuasai emosi. Kecuali pada saat pemakaman Namjoon...

"Aku mulai ketakutan", gumam Taehyung ketika Seokjin tidak berkata apa-apa.

"Mengetahui apa , Seokjin?"

"Kebenaran tentang Yoongi", jawab Seokjin lirih lalu mendesah seolah-olah tak mampu melanjutkan penjelasannya, "Mungkin kau harus melihat ini dulu." Seokjin mengambil bundelan artikel itu dari kotak putihnya, membukanya dan meletakkannya di pangkuan Taehyung.

Begitu melihat foto yang menyertai artikel itu Taehyung terhenyak, dan ketika membaca judul artikel itu yang ditulis dengan huruf besar-besar, keringat dingin mengalir di dahinya. Dan begitu selesai membaca keseluruhan artikel itu, wajahnya benar-benar pucat pasi.

"Astaga...", akhirnya Taehyung mampu berkata-kata, suaranya lemah dan diliputi shock yang mendalam.

"Ah ya, astaga". Gumam Seokjin mengejek, "sekarang kau mengerti kan kenapa aku begitu membela Yoongi?"

Taehyung memejamkan matanya, meringis merasakan matanya yang sakit. Hidungnya sakit, bibirnya sakit, sekujur tubuhnya sakit. Tapi yang paling sakit adalah hatinya. Penyesalan itu datang menghantamnya tanpa ampun sehingga yang bisa dilakukan Taehyung hanya diam dan menahankan sesak di dadanya.

Dia pantas mendapatkan ini!

"Jadi Yoongi melakukan ini semua karena itu...", suara Taehyung diwarnai kesakitan, lalu dia menatap Seokjin penuh harap, berharap kalau artikel ini salah. Sebab jika artikel ini benar, apapun yang dilakukan Taehyung tadi benar-benar tak termaafkan, "apakah kau sudah memastikan kebenaran artikel ini?"

Seokjin menatap Taehyung tajam, tampak puas dengan penyesalan Taehyung. "Aku sudah memastikan ke rumah sakit itu. Tunangannya, Jung Hoseok masih terbaring koma disana dan belum pernah sadarkan diri sejak dua tahun yang lalu. Kemarin Hoseok telah menjalani operasi ginjal - yang aku tahu biayanya amat mahal, hampir mencapai tiga ratus juta rupiah - dan sukses. Operasinya sukses, tapi lelaki itu masih belum sadar", Seokjin memalingkan wajah. Matanya tampak berkaca-kaca menahan haru.

"Aku bertanya tentang Yoongi kepada dokter-dokter di rumah sakit itu, dan rupanya kisah Yoongi dan Hoseok seolah menjadi legenda sendiri di sana. Kisah seorang wanita yang menunggu tunangannya terbangun tanpa putus asa selama bertahun-tahun..."

Jadi karena itu. Kebenaran itu menghantam Taehyung dengan telak. Jadi karena itu Yoongi menjual dirinya. Jadi karena itu Yoongi mempunya hutang begitu besar

diperusahaan, Taehyung menatap Seokjin nanar, lalu mengalihkan tatapannya lagi ke atikel di depannya, dia mengernyit, Jung Hoseok...

Sebuah kebenaran langsung menghantamnya sekali lagi, sangat keras dan tidak tanggung-tanggung.

"Aku mengenal Jung Hoseok", gumam Taehyung seolah kesakitan.

Seokjin langsung menatap Taehyung tajam.

"Kau mengenalnya?"

Taehyung mengangguk, lunglai.

"Dia… dia pengacara handal dan sukses dari sebuah firma hukum terkenal, reputasinya bagus, sangat jujur dan jarang kalah...Aku tidak begitu mengenalnya, hanya pernah beberapa kali bertemu di pengadilan, menangani kasus yang berbeda, tetapi dia terkenal sebagai pengacara muda berprospek paling cerah di antara kami...aku mendengar dia akan menikah, sampai kemudian dia menghilang begitu saja setelah kecelakaan itu,...ada berita cukup simpang siur setelahnya, katanya dia kecelakaan dan kemudian cacat lalu pindah ke luar negeri, bahkan banyak gossip bilang dia sudah meninggal akibat kecelakaan itu...aku...aku sama sekali tidak menyangka dia masih bertahan hidup...Dalam kondisi koma", Taehyung meremas rambutnya seperti tentara kalah perang, lalu menatap Seokjin, mengernyit,

"Kau bilang kapan operasi Hoseok tadi?"

"Kemarin malam", Seokjin melirik jam tangannya, sudah jam tiga pagi, "atau bisa dibilang sudah kemarin lusa?"

"Oh Tuhan!", Taehyung menutup wajahnya dengan kedua tangannya.

Oh Tuhan!...Apalagi yang bisa dia katakan? Itu sebabnya malam itu Yoongi menghilang tanpa kabar dan tidak bisa ditemukan dimana-mana. Perempuan itu pasti sedang menunggui operasi tunangannya! Dan apa yang dia katakana malam itu pada Yoongi? "Kau mungkin harus belajar lebih bertanggung jawab tuan putri!" , kata-kata yang sombong dan penuh tuduhan yang sekarang ia tahu, tak pantas ia ucapkan kepada Yoongi.

"Kau benar-benar lelaki paling bodoh dan gegabah yang pernah aku kenal", dengus Seokjin, masih marah atas tindakan Taehyung tadi. "Jika kau belum babak belur oleh Jimin, aku pasti akan menamparmu berkali-kali", Taehyung mengernyit mendengar ancaman Seokjin.

"Tapi kau tidak bisa begitu saja menyalahkanku, suatu hari Jimin menghubungiku untuk mengurus kontrak jual beli tubuh Yoongi senilai tiga ratus juta. Kau pikir apa yang bisa kupikirkan selain Yoongi adalah pelacur?"

"Jangan sebut-sebut kata pelacur lagi Taehyung!", potong Seokjin tajam. Taehyung bungkam lalu mengangkat bahu.

"Aku memang salah besar, tapi siapa yg tidak berpikit begitu? Jimin sangat kaya, dan gadis itu punya reputasi hutang besar diperusahaannya...tentu saja sebagai pengacara aku menilai ada niat jahat dari sisi Yoongi", Taehyung mencoba membela diri lagi karena dilihatnya Seokjin masih memelototinya dengan tajam.

"Sebagai seorang pengacara kau seharusnya melakukan penyelidikan", gumam Seokjin sinis.

Taehyung menarik napas panjang dan mengangguk.

"Benar, aku terlalu gegabah mengambil tindakan. Sebenarnya aku sudah bertekad tidak akan ikut campur hubungan Jimin dan Yoongi, tapi malam itu, ketika Yoongi menghilang tanpa kabar, Jimin mencarinya seperti orang gila, hampir kehilangan akal sehat karena mencemaskan Yoongi. Jimin berubah karena gadis itu, dia begitu emosional. Tidak lagi berkepala dingin dan tenang".

Taehyung menarik napas dalam, "Aku takut Yoongi makin lama akan makin membawa pengaruh buruk bagi Jimin, maka aku memutuskan untuk membuat mereka terpisah sesegera mungkin."

"Memangnya apa yang kau lakukan tadi sampai Jimin menghajarmu dengan begitu brutalnya?"

Wajah Taehyung tampak memerah malu.

"Aku menciumnya dengan paksa, melecehkan Yoongi dan memastikan agar Jimin melihat itu semua," gumamnya pelan.

Seokjin langsung melotot marah mendengarnya.

"Apa?"

Taehyung memalingkan mukanya, tidak tahan menghadapi tatapan tajam Seokjin. "Dan aku...", kata-kata itu seolah susah payah keluar dari mulut Taehyung, "Dan aku...memfitnahnya, aku bilang Yoongi mau kubayar untuk bercumbu denganku selama beberapa jam...",

"Oh Tuhan, Taehyung!", Seokjin mengerang tak habis pikir dengan perlakukan Taehyung, "Pantas saja Jimin menghajarmu habis-habisan, kalau aku ada disana waktu itu, aku pasti akan memberi semangat padanya agar menghajarmu lebih keras",

Taehyung menganggukkan kepalanya,

"Aku...aku pantas menerimanya...", lelaki itu menghela napas panjang, "Tapi Seokjin...Setelah aku mengetahui semua kebenaran ini, dan melihat tatapan mata Jimin ketika menyeret Yoongi pulang tadi, entah kenapa aku...cemas. "

Wajah Seokjin mendadak pucat pasi.

"Astaga! aku hampir saja lupa, Jimin selalu mempercayai kata-katamu! bagaimana kalau Jimin menyangka bahwa Yoongi benar-benar menjual dirinya kepadamu? Kalau melihat betapa posesifnya Jimin pada Yoongi, aku tidak berani membayangkan betapa marahnya Jimin! kita harus menjelaskan semua kepada Jimin sebelum dia melakukan sesuatu yang nantinya akan dia sesali," Seokjin langsung meraih gagang telephone dan memencet nomor Jimin.

Lama ia mencoba tanpa hasil, ahkirnya menarik napas panjang dan menyerah. "Semua nomornya tidak aktif, kita juga tak bisa menyerbu ke apartemennya begitu saja karena ini sudah dini hari", Dengan pasrah Seokjin meletakkan gagang telephone, "Kita harus menunggu sampai besok pagi, dan jika...dan jika ternyata semuanya sudah terlambat..."

Seokjin melemparkan tatapan tajam ke arah Taehyung yang balas menatapnya penuh rasa bersalah, "Aku akan membuatmu membayar semua kekacauan yang telah kau buat Taehyung."

.

.

.

"Seorang pelacur harus diperlakukan seperti pelacur."

Kata-kata Jimin yang diucapkan dengan nada dingin dan ketenangan menakutkan itu seolah-olah bergaung di ruangan yang hening itu. Lelaki itu sudah melepaskan kemejanya, dan membuka ikat pinggangnya lalu meletakkannya di ujung ranjang. Matanya begitu dingin, ekspresi wajahnya tenang, terlalu tenang, hingga membuat Yoongi gemetar cemas.

"Kau...Harus...Mendengarkan." Yoongi masih mencoba, meskipun melihat ekspresi wajah Jimin, ia tahu ia tidak akan berhasil.

Jimin terlalu marah, dia terlalu dibutakan oleh kemurkaannya.

"Lepaskan kemejamu Yoongi." gumam Jimin datar.

"Jimin..." wajah Yoongi langsung pucat pasi mendengar perintah yang diucapkan tanpa ekspresi.

"Lepaskan."

Nada suara Jimin begitu menakutkan. Mungkin Yoongi akan lebih berani menghadapi jika Jimin berteriak-teriak marah dan membentaknya. Tetapi lelaki ini begitu tenang hingga menakutkan.

Dengan gemetar Yoongi melepas kancing demi kancing kemejanya. Menatap Jimin dengan wajah memohon, tetapi lelaki itu tidak terpengaruh. Setelah seluruh kancing kemeja Yoongi terlepas, dia berdiri sambil menggenggam kemejanya yang terbuka dengan kedua tangannya erat-erat, berlutut di ranjang itu, memohon belas kasihan kepada lelaki yang berdiri di tepi ranjang dan tampak kejam.

"Aku bilang lepaskan kemejamu, Yoongi," suara Jimin tetap lembut dan terkendali, tapi entah kenapa Yoongi makin gemetar mendengarnya, dengan sudah payah dia melepaskan kemejanya dan menjatuhkannya ke kasur, menatap Jimin tanpa daya.

"Sekarang roknya." sambung Jimin setelah mengamati tubuh Yoongi tanpa malu-malu, membuat seluruh wajah dan tubuh Yoongi merah padam.

"Tidak...!" Yoongi berusaha membantah, dia tidak mau dilecehkan seperti ini, dipaksa membuka baju dihadapan laki-laki yang sama sekali tidak menghargainya.

"Aku bilang roknya!" suara Jimin sedikit naik, tetapi tetap tenang. Matanya menatap tajam tak terbantahkan, hingga mau tak mau Yoongi bergerak melepaskan roknya, air mata mulai mengalir di mata Yoongi.

Hening cukup lama, Jimin terdiam sambil menatap Yoongi tajam. Dan Yoongi berlutut di ranjang itu dengan tubuh gemetaran, berusaha memeluk tubuhnya sendiri dengan kedua tangannya yang kecil.

"Lepas pakaian dalammu."

"Tidak!" dengan was-was Yoongi berseru, tanpa sadar tubuhnya beringsut ke ujung ranjang, ketakutan.

Sikapnya itu malah menyalakan api kemarahan di wajah Jimin, lelaki itu sudah tidak setenang tadi.

"Kenapa tidak Yoongi? Pelacur cilikku? sudah tak terhitung berapa kali aku melihatmu telanjang, dan kau melakukan semuanya dengan sukarela kan? Demi uang tiga ratus juta...", Suara Jimin terdengar jijik, dia melangkah maju mendekati ranjang dan secara otomatis Yoongi langsung beringsut mundur menjauh.

"Aku membeli tubuhmu seharga tiga ratus juta, seharusnya tubuhmu itu bias kupergunakan semauku, tetapi aku terlalu baik padamu, memberimu kemewahan, tidak menyentuhmu di saat kamu sakit, merawatmu...itu semua terlalu baik untukmu," Mata Jimin tampak menyala, "Dan kau dasar pelacur cilik tak bermoral! bukannya mensyukuri kebaikan hatiku, kau malah merayu sahabatku...!"

"Kau salah paham Jimin." Yoongi mulai menangis terisak. Tetapi Jimin tetap mengeraskan hatinya.

"Aku tidak mungkin salah paham dengan apa yang kulihat dengan mata kepalaku sendiri."

Dengan gerakan secepat kilat Jimin meraih kedua lengan Yoongi, sebelum Yoongi sempat menghindar dan menempelkan tubuh Yoongi ke tubuhnya sendiri.

"Kalian berciuman! kau membiarkan dia menciummu! menjijikkan sekali dimataku."

Napas Jimin mulai terengah-engah, lalu mendorong Yoongi ke bantal membuatnya terbanting kasar disana. Yoongi berusaha menghindar, berusaha melepaskan diri dari tindihan badan Jimin yang keras dan berat, berusaha melepaskan diri dari cengkeraman tangan Jimin yang kuat dan tanpa ampun. Tetapi lelaki itu terlalu kuat, terlalu marah, bahkan tidak menyadari kalau kekasarannya melukai tubuh Yoongi yang rapuh.

Lelaki itu seperti kerasukan setan. Matanya menyala penuh kebencian ketika dia menatap Yoongi. Dengan ketakutan yang amat sangat, Yoongi berusaha memberontak dan turun dari ranjang, tetapi Jimin menangkapnya, membantingnya di ranjang lagi dengan kasar, lalu menindihnya. Yoongi mengernyit merasakan cengkeraman tangan Jimin yang kasar di tangannya.

"Sakit Jimin...kumohon..."

"Diam!" seru Jimin marah, dan ketika Yoongi meronta ketakutan, hal itu makin mendorong kemarahan Jimin, lelaki itu merobek baju Yoongi dan mencoba membuka pahanya.

Yoongi berteriak ketakutan, dia tidak siap dan Jimin pasti akan melukainya. Tetapi Jimin tidak peduli. Ketika merasakan Yoongi tidak basah dan tidak siap, lelaki itu tetap menyatukan dirinya.

Bagi Yoongi itu adalah kesakitan yang luar biasa, sakit di tubuhnya dan sakit di hatinya, diperlakukan seperti pelacur rendahan yang tak ada harganya. Seluruh tubuhnya terasa tersobek-sobek oleh gesekan tubuh Jimin, tapi Yoongi menahan diri, digigitnya bibirnya hingga hamper berdarah, di tahankannya air matanya meskipun matanya terasa begitu perih. Dan di tekannya hatinya dalam dalam yang mulai hancur menjadi serpihan berkeping-keping.

.

.

.

Yoongi berbaring memunggungi Jimin, matanya nanar, penuh airmata. Napasnya sesak karena isakan yang ditahannya. Setelah semua usai, Jimin menjauh dari tubuhnya dan berbaring hening di sebelahnya, sampai napas yang terengah berubah menjadi tenang dan hening.

Yoongi tahu Jimin tidak tidur, lelaki itu masih berbaring nyalang di sebelahnya, terlentang menatap langit-langit kamar. Tetapi Yoongi langsung membalikkan badan dan berpura-pura tertidur.

Dirasakannya Jimin bolak-balik menghadap ke arahnya, seperti ingin mengajaknya bicara tetapi kemudian ragu dan mengehentikan dirinya di detik terakhir.

Saat-saat hening itu terasa menyiksa. Tubuh Yoongi tegang meskipun dia berakting sudah tidur dengan baik, dijaganya agar nafasnya teratur, dijaganya agar tubuhnya tidak bergerak sama sekali.

Lama-lama dia merasakan tubuh Jimin berangsur-angsur santai dan lelaki itu tertidur. Yoongi menanti menit demi menit, menyakinkan diri kalau Jimin sudah terlelap, dan setelah cukup yakin, pelan-pelan dia bergerak.

Tubuhnya terasa sakit. Itu tadi benar-benar perkosaan, dan Jimin sama sekali tidak mau repot-repot bersikap lembut. Bibir Yoongi memar akibat ciuman yang terlalu kasar, lengannya sedikit lebam karena genggaman yang terlalu keras, dan masih ada kesakitan-kesakitan lainnya. Di seluruh tubuhnya, di dalam tubuhnya.

Tetapi yang paling sakit adalah hatiku.

Air mata mengalir tanpa suara dari pipi Yoongi, tapi dia menahan isakan dengan menggigir bibirnya yang sakit. Dengan hati-hati Yoongi duduk di tepi ranjang, mengamati pakaiannya yang berserakan di lantai, dan pakaiann dalamnya yang setengah dirobek oleh Jimin saat lelaki itu melepaskannya dengan marah tadi. Pelan-pelan, agar tidak menimbulkan gerakan di ranjang tempat Jimin berbaring miring dan tertidur pulas, Yoongi bangkir berdiri dan memungut pakaiannya satu persatu. Langkahnya goyah, dan tubuhnya gemetar, tapi Yoongi menguatkan diri.

Dipakainya pakaiannya pelan-pelan sambil menatap ranjang dengan was-was, bersiap-siap jika ada satu gerakan sesedikit apapun dari Jimin. Tetapi lelaki itu tidur dengan tenang sampai Yoongi selesai berpakaian. Yoongi lalu mengambil tas kerjanya dan melangkah keluar, tetapi di pintu dia ragu-ragu, menoleh dan menatap Jimin yang masih tertidur pulas.

Jimin pasti akan maklum jika dia pergi begitu saja. Setelah perkosaan brutal dan kejam itu, Jimin pasti maklum jika Yoongi menjauh darinya. Tapi kemudian Yoongi mengernyit, teringat kemarahan Jimin ketika Yoongi menghilang tanpa pamit untuk menunggui Hoseok di rumah sakit hari minggu lalu.

Kalau aku pergi tanpa pamit, apa yang akan dilakukan Jimin? apalagi dengan perjanjian tiga ratus juta itu...

Ketakutan mewarnai perasaan Yoongi, menahan langkahnya. Lalu Yoongi mengeluarkan kertas dan menulis.

Maaf Jimin, aku harus pergi sementara. Butuh waktu sendirian.

Tapi Kau bisa tenang, aku tidak akan melarikan diri dari hutang-hutangku.

Aku tidak serendah itu kau tahu.

Sampai jumpa di kantor besok pagi

Yoongi.

TBC

P.S:

Terimakasih buat semua yang udah menunggu dan selalu review :" aku selalu baca dan selalu terharu sama setiap kata kalian….

Be patient ,karna aku udah menyiapkan beberapa fic lain.

So ,review ?