Cast : [YoonMin Couple] Min Yoongi a.k.a Suga, Park Jimin

Seme!Jimin , Uke!GS!Yoongi

Support Cast : Jung Hoseok a.k.a JHope, Kim Taehyun ,GS!Kim Seokjin

A/N : Hmm Well, ini adalah remake dari novel salah satu penulis terkenal Tante Santhy Agatha yang berjudul "A Romantic Story About Serena" ,disini aku Cuma mengubah pemeran jadi couple kesayangan hihihi Jalan ceritanya tetap seperti apa yang lahir dari ketikan Tante Santhy Agatha yaa makasih tante buat novelnya yang bagus banget dan maaf aku me-remake seenak jidat sendiri :3

Well ,aku bukan orang baru di ffn tapi jelas adalah orang baru dalam dunia FF Yoonmin atau BTS ,Well I'm just Fall in love with them lately(Too Late). Semoga pada suka dan aku diterima di fandom ini hehe

Happy reading

Chapter 12

Pagi itu Jimin duduk di kantornya dengan muram. Hari masih pagi, para karyawan belum datang ke kantor, tapi Jimin sudah ada di situ. Dia tak tahan berada di kamar apartement itu sendirian.

Tanpa Yoongi.

Dia terbangun pagi-pagi sekali, karena terbiasa mencari Yoongi untuk dipeluk, tetapi yang ditemukannya hanya bantal kosong. Dengan marah Jimin langsung bangun dan murka.

Berani-beraninya pelacur itu meninggalkannya?

Tetapi kemudian, kertas yang diletakkan di bantal Yoongi itu agak meredakan kemarahannya. Sebuah pesan singkat sederhana yang ditulis dengan huruf yang sangat rapi.

Yoongi bilang "Sampai jumpa di kantor besok pagi" jadi Jimin menahan diri dari kemarahannya dan memutuskan bersiap-siap dan berangkat ke kantor saat itu juga.

Sekarang dia duduk sendirian di ruangannya, memikirkan perbuatannya semalam dan mulai merasa cemas. Ia terlalu kasar. Ia tahu itu. Ia terlalu kuat dan Yoongi terlalu rapuh untuk menahan kemarahannya.

Tapi tidak tahukah Yoongi kalau pemandangan Yoongi yang sedang dipeluk dan dicium oleh Taehyung itu benar-benar membuatnya marah? Seharusnya hanya dia yang boleh memeluk Yoongi ! Seharusnya hanya dia yang boleh mencium Yoongi!

Saat itulah pintu diketuk dengan pelan. Jimin terdiam penuh antisipasi, dia sudah menunggu. Siapa lagi yang datang sepagi ini kalau bukan Yoongi?

"Masuk."

Pintu itu terbuka pelan, dan Yoongi muncul disana. Hati Jimin langsung bagaikan dihantam oleh palu ketika melihat keadaan Yoongi. Gadis itu masih memakai pakaiannya yang semalam meskipun kelihatan segar setelah mandi. Tapi wajahnya kelihatan pucat dan rapuh. Dan bibirnya sedikit lebam akibat ciuman-ciuman kasarnya kemarin.

Kenapa kau pucat sekali sayang?

Jimin berdehem, menahan perasaannya.

Detik itu juga Jimin memutuskan dia akan memaafkan Yoongi. Dia tidak bias menyalahkan Yoongi karena merayu Taehyung, tidak ada yang bisa melarangnya kan? Tidak ada tertulis dalam perjanjian mereka bahwa Yoongi tidak boleh menjalin hubungan dengan lelaki lain, disitu hanya tertulis bahwa Jimin berhak memiliki Yoongi sesuka hatinya.

Oleh karena itu dia akan segera memastikan adanya klausul tambahan dalam perjanjian itu, bahwa Yoongi tidak boleh disentuh lelaki lain, bahwa tubuh Yoongi adalah hak eksklusifnya, miliknya.

Untuk sekarang, Jimin yakin Yoongi akan memohon maaf padanya, dan itu bukan masalah, Jimin siap memaafkan Yoongi atas pengkhianatannya semalam. Dia siap menerima Yoongi lagi. Dia belum mau melepaskan Yoongi.

"Duduk." perintahnya, berusaha sedatar mungkin.

Dengan patuh Yoongi duduk, tapi gadis itu tidak berkata apa-apa, hanya meremas tangannya dengan gelisah.

"Sebenarnya kau ingin bicara apa hingga harus menunggu sampai di kantor?"

Dimana kau tidur semalam? apakah kau baik-baik saja ? apakah aku menyakitimu? pertanyaan-pertanyaan itu yang bermunculan di benak Jimin,tetapi lelaki itu menahankannya.

Yoongi mendongakkan kepalanya, matanya tampak penuh tekad ketika menatap Jimin. Takut, tapi penuh tekad.

"Aku...ingin melunasi semua hutangku dan mengakhiri perjanjian kontrak kita."

Jimin tertegun.

Rasanya seperti seluruh aliran darahnya dihentikan seketika. Ini adalah jawaban yang sama sekali tidak disangkanya. Jimin begitu terkejut hingga membatu seperti patung. Tetapi ketika keterkejutannya usai. Kemarahan langsung merayapinya. Seperti api yang membakar pelan-pelan, makin lama makin berbahaya.

"Apa?" desis Jimin di antara giginya, tangannya terkepal.

Dengan sedikit gemetar, Yoongi meletakkan sebuah kertas di meja Jimin.

"Ini cek sebesar tiga ratur empat puluh juta, untuk melunasi hutangku sebesar tiga ratus juta, dan hutang ke perusahaan sebesar empat puluh juta, dan ini..." Yoongi meletakkan sebuah amplop di meja, "Surat pengunduran diriku dari perusahaan ini."

Hening cukup lama. Jimin hanya duduk di situ, mengamati Yoongi dengan mata yang menyala-nyala. Kemudian lelaki itu memajukan tubuhnya dan menatap Yoongi sambil tersenyum dingin.

"Lunas sepenuhnya? Jadi malam-malam selama kau melayaniku itu kau anggap service gratis untukku?"

Wajah Yoongi pucat pasi mendengar hinaan tersirat itu.

"Aku...Aku hanya ingin melepaskan diri dari perjanjian itu..."

Jimin mendesis gusar, lalu mengambil cek itu dan mengamatinya, alisnya terangkat, kemarahan tampak semakin membakarnya.

"Kau bisa memperoleh uang sebanyak ini dalam semalam, apakah kau menemukan korban lain yang bisa memberimu uang untuk melepaskan diri dariku?"

Yoongi membelalakkan matanya tak percaya akan kesimpulan negatif yang di ambil Jimin, "Jangan menuduhku serendah itu! Aku...aku bukan pelacur seperti yang kau kira!"

"Kau pernah dengan sukarela menjadi pelacurku demi uang tiga ratus juta! Bagaimana bisa aku tidak berpikir kau bersedia melacurkan diri pada orang lain demi melepaskan diri dariku hah?!" Jimin menggebrak meja dengan begitu kerasnya, hingga Yoongi terlonjak kaget dari tempat duduknya.

Lalu tanpa di duganya. Jimin mengambil surat pengunduran dirinya di meja. Dan merobek-robeknya bersama dengan cek yang diberikannya. Yoongi hanya ternganga, kaget dengan tindakan tak terduga Jimin itu.

Sementara lelaki itu berdiri di sana, menatapnya dengan tatapan mengancam sambil merobek-robek surat dan cek itu menjadi serpihan-serpihan kecil. Ketika Jimin mulai mendekati Yoongi, Yoongi langsung berdiri menjauh, waspada.

"Kenapa kau merobek cek dan surat itu?" tanya Yoongi gugup, takut akan suasana hati Jimin yang begitu muram.

Jimin makin mendekat. Lalu berhenti dan tersenyum sinis ketika melihat Yoongi mundur lagi menjauhinya.

"Aku tidak akan melepaskanmu begitu mudah Yoongi, kau pikir aku akan diam saja kau bodohi? Aku akan membuatmu menerima balasan setimpal sebelum akhirnya melepaskanmu..."

Tiba-tiba Jimin bergerak cepat meraih Yoongi sebelum dia bisa menghindar. Yoongi mencoba meronta, tapi ia sadar dari pengalamannya bahwa percuma saja dia melawan kekuatan dan kemarahan Jimin, jadi dia hanya diam dengan wajah pucat pasi ketakutan.

"Katakan padaku Yoongi...Pria yang membayari hutangmu itu...Apakah dia sudah menidurimu?" mata Jimin menggelap penuh kemurkaan, "Apakah dia sudah menyentuhmu?" napas Jimin mulai memburu, "Apakah ciumannya sebaik ciumanku? Atau dia hanya pria bodoh yang tertipu oleh kepolosan palsumu yang..."

"Lepaskan aku!" entah darimana Yoongi seperti mendapatkan kekuatan untuk mendorong Jimin dan melangkah menjauh. "Aku sudah membayar hutangku. Aku sudah tidak terikat denganmu! Kau tidak berhak melecehkanku lagi!"

"Melecehkan katamu? Kau bilang itu pelecehan? Kau menyambutku dengan hangat setiap aku mendatangimu dan kau bilang itu pelecehan?"

PLAK!

Tangan Yoongi tanpa disadari melayang sendiri menampar pipi Jimin sekeras mungkin, kata-kata Jimin yang luar biasa menghina itu sangat menyakiti hatinya. Jimin berdiri disana mengusap pipinya lalu tersenyum jahat.

"Kenapa menamparku? Apakah kau merasa malu karena kekotoran moralmu terungkap disini?" gumamnya sinis.

Dengan bergegas Yoongi melangkah ke pintu, sedikit lega karena Jimin tidak mengikutinya.

"Aku akan mengirimkan lagi cek yang baru, berikut surat pengunduran diriku...Bagiku semua sudah lunas di antara kita" gumamnya lirih.

"Bagiku belum," desis Jimin tenang, "Kau boleh kabur kemanapun Yoongi, dan aku bersumpah akan mendapatkanmu. Dan ketika itu terjadi aku tidak akan main-main lagi, aku bahkan akan merantaimu di kamar jika perlu. Dan tak usah repot-repot mengirimkan cek ataupun surat apapun, aku akan merobekrobeknya lagi."

Tangan Yoongi yang memegang gagang pintu gemetaran.

"Kenapa kau begitu kejam padaku...?" Rintihnya putus asa, matanya berkacakaca.

Sejenak Jimin terpaku. Yoongi tampak begitu hancur, begitu luluh, hingga seketika itu juga Jimin ingin memeluk Yoongi dan menghiburnya, meminta maaf atas kata-kata kasarnya. Tapi akal sehatnya segera mengambil alih. Itu akting, teriaknya pada diri sendiri, jangan tertipu, gadis ini pandai memanipulasi orang dengan berpura-pura rapuh. Kau sendiri sudah merasakannya bukan?

"A...Aku tetap akan pergi..." Yoongi bergumam ketika Jimin hanya berdiam diri, "Kau boleh memaksaku semaumu, tapi aku akan melawanmu sekuat tenaga."

Dengan cepat Yoongi membuka handel pintu. Lalu menolehkan kepalanya untuk menatap Jimin, mungkin untuk yang terakhir kalinya.

Diserapnya sosok itu baik-baik, sosok dingin yang berdiri kaku, menatap Yoongi dengan penuh kebencian. Disimpannya sosok itu baik baik, dan tiba-tiba saja hatinya terasa teriris. Air mata mulai menetes dari sudut matanya, dan dengan segera Yoongi melangkah keluar dari ruangan itu. Setengah berlari dia memasuki lift tanpa mempedulikan tatapan bingung sekertaris Jimin.

.

.

.

Di lobby, Suster Hana yang menunggu dengan gelisah dari tadi langsung berdiri

begitu melihat Yoongi muncul di lift.

"Bagaimana...?"

Pertanyaannya tak terjawab karena Yoongi langsung mengajaknya keluar dari lobby menuju parkiran, menaiki mobil jemputan rumah sakit yang diminta suster Hana mengantar mereka ke sini tadi.

Di mobil air mata Yoongi tak terbendung lagi dan Suster Hana langsung memeluknya untuk menenangkannya.

"Ssshhh...Semuanya tak berjalan baik ya?"

"Dia...Dia tidak mau menerima uang itu..." Yoongi tersedak oleh tangisan yang dalam, "Dia...Dia menuduhku menjual diriku kepada lelaki lain demi mendapatkan uang itu..." tangis Yoongi meledak lagi dengan kuatnya.

Dan Suster Hana langsung memeluknya. Matanya sendiri berkaca-kaca melihat penderitaan Yoongi.

"Apakah...kau mencintainya, Yoongi?" tanya Suster Hana hati-hati. Yoongi langsung tersentak, menatap Suster Hana dengan pandangan nanar.

"Apa...? Itu...Itu tidak mungkin..."

"Yoongi, mungkin kau tidak menyadarinya, tapi kebersamaan kalian selama ini mungkin saja menumbuhkan sesuatu yang dalam di antara kalian..." Suster Hana menatap Yoongi lembut, "Dan kau...Tidak mungkin menangis semenderita ini jika kau tidak punya perasaan apa-apa kepada Jimin, sayang."

Yoongi hanya termangu. Air matanya masih mengalir, hatinya sakit sekali. Dan memang benar, penghinaan dan perlakuan kasar Jimin telah menyakitinya lebih daripada yang seharusnya. Tapi Yoongi tidak mau memikirkan kemungkinan apapun. Dia tidak mau, dan tidak bisa. Ada Hoseok di sisinya bukan? Suster Hana mendesah melihat kediaman Yoongi.

"Yah, setidaknya, suatu saat ketika Jimin menyadari kesalahannya, dia akan menyesal dan kuharap aku ada di sana ketika dia memohon maaf padamu."

.

.

.

Suster Hana benar, Jimin memang menyesal. Tidak perlu waktu lama, hanya selang satu jam dari kepergian Yoongi.

TBC

P.S: UUUhhhhhh maafkan segala typo di chapter sebelum-sebelumnya. Disini chim asli kejemnya yak. Pasti semua pengen meluk yoongi huhu.

Kok reviewernya makin berkurang yaa ? kan semangatku jadi ikut berkurang huhu….

So, for this one ? review ?