Cast : [YoonMin Couple] Min Yoongi a.k.a Suga, Park Jimin

Seme!Jimin , Uke!GS!Yoongi

Support Cast : Jung Hoseok a.k.a JHope, Kim Taehyun ,GS!Kim Seokjin

A/N : Hmm Well, ini adalah remake dari novel salah satu penulis terkenal Tante Santhy Agatha yang berjudul "A Romantic Story About Serena" ,disini aku Cuma mengubah pemeran jadi couple kesayangan hihihi Jalan ceritanya tetap seperti apa yang lahir dari ketikan Tante Santhy Agatha yaa makasih tante buat novelnya yang bagus banget dan maaf aku me-remake seenak jidat sendiri :3

Well ,aku bukan orang baru di ffn tapi jelas adalah orang baru dalam dunia FF Yoonmin atau BTS ,Well I'm just Fall in love with them lately(Too Late). Semoga pada suka dan aku diterima di fandom ini hehe

Happy reading

Chapter 13

"Aku menerima kalian di sini hanya demi Seokjin," gumam Jimin dingin, suasana hatinya benar-benar buruk saat itu.

Ketika sekertarisnya menelepon dan memberitahu bahwa Seokjin dan Taehyung ada di ruangan depan, ingin bertemu dengannya, Jimin hampir saja mengamuk seketika itu juga. Dia sudah menegaskan pada sekertarisnya bahwa dia sedang tidak ingin diganggu. Tetapi Seokjin memaksa, dan seperti biasanya, paksaannya berhasil.

"Kami harus memberitahumu sesuatu yang penting." gumam Seokjin penuh tekad, tidak peduli akan tatapan membunuh yang berkali-kali dihujamkan Jimin kepada Taehyung yang hanya duduk diam tanpa suara di belakangnya.

"Jimin," Seokjin mencoba menarik perhatian Jimin yang terus menerus mempelototi Taehyung. "Ada suatu fakta penting tentang Yoongi yang harus kau ketahui."

Jimin langsung tertarik. Fakta apa lagi? Sebuah kebohongan lagi yang belum diceritakan kepadanya? Sebuah kepalsuan lagi yang akan menyulut kemarahannya?

Dia diam dan menunggu, bersiap-siap untuk meledak lagi, kepalanya terasa berdenyut dan mulai nyeri.

"Jimin..." Seokjin mengernyit cemas ketika melihat Jimin tampak kesakitan,

"Kau tidak apa-apa?"

"Aku tidak apa-apa! Cepat selesaikan yang ingin kau katakan, dan bawa dia pergi dari ruangan ini!" Jimin bahkan tidak mau repot-repot menyebut nama Taehyung.

Seokjin menarik napas panjang.

"Kau...Kita...Mengambil kesimpulan yang salah tentang Yoongi." dengan cepat Seokjin membentangkan artikel itu di meja Jimin, "Baca ini."

Jimin melirik artikel itu, semuala tidak tertarik, tetapi kemudian mengenali gambar di artikel itu sebagai Yoongi, lebih muda beberapa tahun, tapi dia tak mungkin salah.

"Apa yang...Oh Tuhan!" baru separuh artikel yang dibacanya, tetapi dia pucat pasi. Dengan gemetar dia membaca artikel itu. Membacanya berulang-ulang kemudian, mencoba mencari kesalahan. Tapi kebenaran yang tertulis di sana tak terbantahkan lagi.

"Benar Jimin, keluarga Yoongi, kedua orangtuanya terenggut pada kecelakaan yang sama di jalan tol, kecelakaan yang sama yang menewaskan Namjoon", mata Seokjin berkaca-kaca ketika kenangan itu kembali.

"Oh Tuhan!" Jimin berpegangan pada meja untuk menopang tubuhnya, Ini sebabnya Yoongi selama ini sebatang kara dan sendirian?

"Kedua orang tua saya sudah meninggal dunia, saya hidup sendirian" itu jawaban Yoongi waktu gadis itu terpaksa menumpang mobilnya di pagi yang hujan. Lalu uang tiga ratus juta dan hutang puluhan jutanya di perusahaan itu... Sekali lagi Jimin mengernyit.

"Tunangannya, Hoseok, masih terbaring koma sejak kecelakaan itu. Yoongi berjuang mati-matian untuk mempertahankan hidupnya. Hutang-hutangnya di rumah sakit mungkin untuk membiayai biaya perawatan Hoseok, dan hutangnya kepadamu tiga ratus juta mungkin karena gadis itu putus asa," Seokjin memandang Jimin, dan tiba-tiba merasa kasihan, Jimin tampak hancur berkeping-keping, "Aku menelepon rumah sakit tempat Hoseok dirawat Jimin, Hoseok saat itu harus menjalani operasi pengangkatan ginjal karena salah satu ginjalnya rusak akibat obat-obatan yang terus menerus...biaya operasi itu sangat mahal, hampir mencapai tiga atus juta rupiah...Mungkin itu alasan Yoongi menjual dirinya padamu, gadis itu putus asa."

Jimin memejamkan matanya, mengingat hari berhujan dimana Yoongi membuat penawaran gila itu padanya. Bagaimana mungkin dia dulu tak menyadarinya? Waktu itu Yoongi memang terlihat putus asa, panik dan putus asa.

"Taehyung bercerita bahwa Yoongi hilang seharian di hari minggu dan kalian mencarinya kemana-mana," Seokjin mengedikkan bahunya pada Taehyung yang hanya diam dan menundukkan kepalanya, "Itu hari di mana operasi Hoseok dilaksanakan."

Sebuah hantaman lagi yang menerjang Jimin. Dia mengernyit, rasanya berat sekali ketika dia sudah berpegang teguh pada suatu keyakinan bergitu lama tapi kemudian dihancurkan begitu saja.

Yoongi gadis baik-baik. Dia bukan gadis bermoral rendah seperti dugaannya selama ini. Pantas saja waktu itu dia masih perawan. Keperawanan yang seharusnya untuk tunangan yang dicintainya dikorbankannya. Jimin langsung disengat rasa cemburu yang tajam. Yoongi pasti begitu mencintai tunangannya kalau sampai berjuang mati-matian seperti itu.

"Kecelakaan itu terjadi hanya beberapa hari sebelum pernikahan mereka Jimin," Seokjin menoleh secara terang-terangan kepada Taehyung, "Biarkan Taehyung yang menjelaskan sisanya kepadamu."

Jimin menoleh kepada Taehyung dengan muram, masih terbayang adegan ciuman waktu itu di matanya. Dan kemarahannya langsung membara, kalau begitu kenapa Yoongi ada di pelukan Taehyung dan Taehyung bilang Yoongi rela menjual diri padanya?

"Waktu itu semua sudah kurencanakan, Jimin," gumam Taehyung pelan seolah bisa membaca pikiran Jimin, lalu mengernyit ketika menerima tatapan menusuk itu lagi, "Aku... Waktu aku mendampingimu mencari Yoongi yang menghilang waktu itu, aku melihat betapa emosionalnya dirimu, itu menggangguku karena kau berubah, tidak seperti biasanya, aku berpikir Yoongi telah menimbulkan pengaruh buruk padamu...Jadi aku mengambil keputusan...aku merekayasa semuanya...Ciuman itu adalah paksaan dariku...Yoongi sama sekali tidak sukarela, dia menolakku sekuat tenaga. Dia memanggil namamu..."

Jimin langsung merangsek maju dengan marah, tanpa diduga. Langsung meraih kerah kemeja Taehyung. Tak peduli tubuh Taehyung yang memar dan lebam akan kesakitan menerima sentuhan seringan apapun.

"Brengsek kau Taehyung! Brengsek kau! Aku mempercayaimu!" Jimin menggeram di antara ke dua giginya, "Kau tahu malam itu aku memperlakukannya sebagi pelacur rendahan?! Aku memperkosanya!"

"Jimin, tenanglah dulu", gumam Seokjin hati-hati, berusaha membuat Jimin melepaskan cengkeramannya dari kerah baju Taehyung, "Kau menyakiti Taehyung, tidakkah kau sadar kau sudah cukup menyakitinya kemarin? Lepaskan dia Jimin", bujuknya lembut.

Jimin bergeming, sejenak seolah-olah akan menghajar Taehyung, tapi kemudian dia melepaskan lelaki itu dengan kasar.

"Harusnya kubunuh saja kau sekalian!", desisnya geram sambil mengacak rambutnya,

Lalu sebuah pertanyaan merasuk di benaknya.

"Kenapa harus Yoongi yang menanggung seluruh biaya perawatan Hoseok? Kenapa bukan keluarga Hoseok?"

"Hoseok tidak punya keluarga." Taehyung yang menyahut setelah berhasil meredakan napasnya yang terengah karena perlakuan kasar Jimin tadi, "Dia pengacara juga, kebetulan aku mengenalnya", suaranya tertelan melihat tatapan bermusuhan Jimin, tapi dia bertekad melanjutkan, " Sebenarnya aku tidak begitu mengenalnya, tetapi Hoseok cukup terkenal di kalangan profesi kami karena reputasi baiknya, aku... Eh... Melakukan penyelidikan singkat tadi dan mendapati bahwa Hoseok dibesarkan di panti asuhan, dia sebatang kara...karena itulah kabar setelah kecelakaan yang menimpanya menjadi simpang siur, dia menghilang begitu saja dan gosip yang beredar mengatakan Hoseok sudah meninggal, tidak ada yang tahu bahwa sebenarnya Hoseok masih hidup dan ada dalam kondisi koma", Taehyung menatap Jimin sungguh-sungguh.

"Aku menyesal dan aku meminta maaf Jimin. Aku memang bodoh dan gegabah, aku juga menyesal setengah mati"

Jimin tercenung. Lama tidak mengatakan apa-apa. Sejenak ruangan itu begitu hening.

"Jimin, mungkin lebih baik kita melepaskan Yoongi, sudah cukup berat beban yang dia tanggung," gumam Seokjin pelan memecah keheningan. Lalu dia berubah ragu-ragu dan berhati-hati dengan reaksi Jimin, "mengenai hutang-hutang Yoongi baik kepadamu dan kepada perusahaan, aku bersedia menggantinya."

"Tidak."

"Tidak?" Seokjin mengernyit mendengar gumaman pelan Jimin itu.

"Tidak akan kulepaskan. Aku tidak peduli dengan uang itu. Yoongi tidak akan kulepaskan."

"Jimin!", Seokjin mengernyit jengkel. "Hentikan! Kau tidak tahu betapa banyak penderitaan yang ditanggung Yoongi selama ini! tidak bisakah kita biarkan dia tenang bersama tunangannya? Lagipula kau bisa mencari wanita lain untuk memuaskanmu bukan? Kau bisa mendapatkan pengganti Yoongi dalam beberapa menit!"

Jimin mengusap wajahnya, tampak begitu menderita,

"Tidak, aku tidak bisa Seokjin." erangnya parau.

Mata Seokjin melebar melihat ekspresi Jimin, tidak pernah sebelumnya Seokjin melihat Jimin begitu penuh emosi. Apakah ini berarti Jimin benar-benar mencintai Yoongi?

"Dia punya tunangan Jimin, jangan lupa, semua yang dilakukannya adalah demi menyelamatkan Hoseok."

Kebenaran itu menyakiti hati Jimin, sengatan cemburu itu kembali melukainya.

"Kalau begitu aku akan membuatnya memilihku," mata Jimin penuh tekad,

"Dimana alamat rumah sakitnya?"

.

.

.

"Dimana ruangan tempat perawatan Jung Hoseok?" Jimin berdiri di depan resepsionis.

Resepsionis itu mendongak dan ternganga. Terpesona melihat penampilan dan ketampanan Jimin.

"Ruangan perawatan Jung Hoseok?" Jimin mengulang jengkel karena resepsionis itu hanya menatapnya seperti orang bodoh.

"Oh...Untuk Hoseok...Anda...Anda mungkin harus menemui Suster Hana dulu, beliau suster kepala penanggung jawabnya."

"Dimana?" gumam Jimin tak sabar.

"Lantai tiga, ruangan perawat nomor dua."

Tanpa basa-basi Jimin meninggalkan resepsionis yang masih ternganga itu. Pintu itu tertutup rapat dan Jimin mengetukknya.

"Masuk" sebuah suara yang tegas terdengar dari dalam. Jimin masuk dan langsung berhadapan dengan Suster Hana.

Suster Hana langsung menyadari siapa yang berdiri di hadapannya. Dia tidak mungkin salah mengenali. Penggambaran Yoongi sangat akurat. Lelaki ini memang benar-benar luar biasa tampan dengan keangkuhan yang sudah seperti satu paket dengan auranya.

"Apakah anda akhirnya berhasil menemukan kebenaran?" gumam Suster Hana langsung tanpa basa-basi.

Jimin mengernyit mendengar sapaan pertama Suster Hana yang sama sekali tidak diduganya. Tapi dia lalu teringat telelepon di tengah malam yang tanpa sengaja dia angkat. Penelepon itu mengatakan dirinya adalah Suster Hana...

"Ya," Jimin mengakuinya pelan, "Anda sudah tahu semuanya?"

"Semuanya, dan pertama, sebelum anda menghina Yoongi lagi. Saya akan jelaskan kepada anda, semalam Yoongi datang kepada saya, dengan kondisi mengenaskan. Mental dan fisik yang rapuh, dan dia bilang ingin melepaskan diri dari anda, menurut saya itu wajar mengingat perlakuan anda padanya," Suster Hana menatap Jimin dengan pandangan mencela yang terang-terangan hingga

wajah Jimin merona, "Uang yang dia pakai untuk melunasi anda, itu adalah uang pinjaman dari saya dan beberapa staff rumah sakit lain, bukan uang hasil menjual dirinya kepada lelaki lain seperti apa yang anda tuduhkan kepadanya tadi pagi."

Sebuah kebenaran lagi. Lebih keras daripada tamparan di pipi, lidah Jimin terasa kelu.

"Saya ingin bertemu Yoongi" gumam Jimin akhirnya.

Suster Hana mengangkat alisnya.

"Untuk apa? Ketika hubungan hutang piutang itu lunas. Tidak ada lagi perlunya kalian bertemu, lagi pula saya tidak yakin Yoongi bersedia menemui anda."

"Tidak ada hubungannya dengan uang! Saya tidak peduli dengan uang!" Jimin hampir berteriak, lalu berdehem berusaha meredekan emosinya, "Saya harus bertemu dengan Yoongi, meminta maaf, saya tahu selama ini saya salah..."

"Anda bisa menyampaikan permintaan maaf anda melalui saya" sela Suster Hana tegas.

Jimin mengernyit,

"Saya mohon...Saya harus bertemu dengan Yoongi, saya butuh bertemu dengan Yoongi."

Suster Hana mengamati lelaki yang berdiri di hadapannya. Lelaki ini terlalu tampan, terlalu kaya sehingga wajar dia tampak begitu arogan. Tapi sekarang Jimin tampak begitu menderita, dan dia rela memohon agar bisa bertemu Yoongi. Suster Hana menarik napas, ketika sebuah kesimpulan muncul di benaknya.

Lelaki ini sedang jatuh cinta.

Bagaimana mungkin dia menolak permintaan Jimin? Kalau saja Jimin hanya lelaki sombong yang menginginkan bayaran setimpal atas apa yang diberikannya kepada Yoongi, Suster Hana akan mengusirnya tanpa ragu. Tapi Jimin yang ada di depannya ini tampak begitu kesakitan menanggung rasa bersalah, tampak remuk redam di dera perasaannya sendiri. Lelaki ini sama menderitanya dengan Yoongi. Bagaimana mungkin Suster Hana tega mengusirnya?

"Tapi tolong jangan menyakiti Yoongi lagi jika kalian bertemu nanti, jangan memaksanya..." mata Suster Hana melembut membayangkan Yoongi, "sudah cukup beban yang ditanggung anak itu."

"Saya berjanji." Jimin menjawab yakin.

Sekilas Suster Hana mencuri pandang ke arah Jimin. Dan tersenyum ketika mendapati ekspresi Jimin ikut melembut karena membayangkan Yoongi.

Ah Yoongi, Lelaki ini benar-benar sedang jatuh cinta...

TBS

P.S: UPDATE~ yaa udah ku bilangkan reviewernya berkurang dan aku jadi males update secepat dulu tapi fic ini bakal tetep ku lanjutkan hingga akhir kok hihi

Dan aku yakin semuanya sedang dalam tahap speechless dengan perubahan yoonmin di young forever. WHY?! WHY?! Mereka tambah imut gaququ :"((

.

So ,review ?