Cast : [YoonMin Couple] Min Yoongi a.k.a Suga, Park Jimin

Seme!Jimin , Uke!GS!Yoongi

Support Cast : Jung Hoseok a.k.a JHope, Kim Taehyun ,GS!Kim Seokjin

A/N : Hmm Well, ini adalah remake dari novel salah satu penulis terkenal Tante Santhy Agatha yang berjudul "A Romantic Story About Serena" ,disini aku Cuma mengubah pemeran jadi couple kesayangan hihihi Jalan ceritanya tetap seperti apa yang lahir dari ketikan Tante Santhy Agatha yaa makasih tante buat novelnya yang bagus banget dan maaf aku me-remake seenak jidat sendiri :3

Well ,aku bukan orang baru di ffn tapi jelas adalah orang baru dalam dunia FF Yoonmin atau BTS ,Well I'm just Fall in love with them lately(Too Late). Semoga pada suka dan aku diterima di fandom ini hehe

Happy reading

Chapter 14

Ruangan itu hening terletak di lorong paling ujung. Dan Yoongi hanya berdiri di depan ruang perawatan sambil menatap melalui jendela kaca lebar yang membatasinya dengan Hoseok, saat ini bukan jam besuk dan Yoongi tidak boleh masuk.

Pikiran Yoongi terasa berat, dia tidak punya pekerjaan sekarang. Suster Hana dan yang lain-lain bilang akan membantu, tetapi Yoongi tidak mungkin menggantungkan hidupnya pada bantuan orang lain terus menerus, apalagi dengan biaya perawatan Hoseok yang begitu mahal yang harus ditanggungnya setiap bulannya...

Dengan sedih Yoongi menatap Hoseok, lelaki itu masih terbaring dalam kedamaian yang sama, begitu pucat, hanya bunyi mesin-mesin penunjang kehidupan itulah yang menunjukkan kalau masih ada harapan hidup yang tersimpan di sana.

Yoongi mengusap air mata di sudut matanya. Ah Hoseok... Sampai kapan kau tertidur begini? Aku merindukanmu kau tahu. Aku membutuhkanmu. Saat ini aku tidak mengerti dengan perasaanku sendiri, aku takut jika kau tidak segera bangun nanti aku akan...

Saat itulah Jimin masuk, diantarkan oleh Suster Hana di belakangnya. Perasaan sedih yang aneh menyeruak di dada Jimin ketika dia melihat Yoongi menatap Hoseok yang terbaring di balik kaca dengan tatapan sendu.

"Yoongi..." Jimin bergumam pelan, mendadak dikuasai keinginan yang dalam untuk mengalihkan perhatian Yoongi dari Hoseok.

Suaranya seperti menyentakkan Yoongi hingga gadis itu menoleh kaget. Wajahnya langsung pucat pasi, tidak menduga bahwa Jimin akan muncul di sini, matanya menatap Suster Hana meminta pertolongan.

"Dia datang disini untuk berbicara Yoongi, dan dia sudah berjanji tidak akan melakukan atau mengatakan sesuatu yang akan menyakitimu," gumam Suster Hana lembut, menyadari kegelisahan yang dirasakan Yoongi, dia lalu mengamit lengan Yoongi, "Mari, kuantar kalian ke ruanganku di mana kalian bisa berbicara dengan tenang, aku akan meninggalkan kalian di sana."

Seperti kerbau yang di cocok hidungnya, Yoongi hanya mengikuti ketika di tuntun ke ruangan Suster Hana, sedangkan Jimin hanya mengikuti di belakang dalam diam.

.

.

.

Ruangan tetap hening lima menit kemudian ketika Suster Hana menutup pintu ruangan dari luar.

"Aku minta maaf." gumam Jimin dengan lembut akhirnya.

Yoongi bersedekap, seolah ingin melindungi dirinya.

"Ya...Sudah di maafkan...Sekarang...Sekarang bisakah kau pergi?" Yoongi mulai menahan tangisnya. Jimin telah benar-benar melukai hatinya, kehadiran lelaki itu sekarang, berdiri di depannya, menatapnya dengan begitu lembut, benar-benar membuat emosinya bergejolak.

"Aku tidak tahu tentang semua ini Yoongi, baru tadi Seokjin mengungkapkan kebenaran di depanku. Aku tidak tahu. Tidakkah itu bisa membuat semuanya sedikit dimaklumi?" sambung Jimin pelan.

"Selama ini aku salah paham, aku berpikiran buruk tentangmu dan semakin memupuknya dari hari ke hari. Itu... Itu juga menyiksaku, antara dorongan untuk menyayangimu atau menghukummu karena jauh dilubuk hatiku aku mengira aku hanya dimanfaatkan," Jimin mengerjapkan matanya pedih, "Kalau aku tahu tentang semua ini, segalanya akan berbeda Yoongi."

Yoongi memejamkan matanya. Mau tak mau permintaan maaf Jimin yang begitu tulus itu mulai menyentuh hatinya. Jimin memang tidak bias disalahkan. Dia tidak tahu. Lagipula apa yang harus dipikirkan Jimin tentang gadis yang melemparkan diri padanya demi uang selain bahwa gadis itu adalah pelacur?

"Aku...Aku mengerti...tidak apa-apa, pilihanku juga untuk tidak mengatakan ini semua kepadamu," suara Yoongi terdengar serak. "Dan apapun konsekuensinya aku sudah bersedia menanggungnya...Jadi kita impas."

Jimin menatap Yoongi sedih.

"Yoongi... Aku..." Jimin mengulurkan tangan hendak meraih Yoongi, tapi lalu tertegun ketika Yoongi mundur seperti ketakutan.

Kesadaran itu menghancurkan Jimin, kesadaran bahwa Yoongi takut dengan sentuhannya, mungkin akibat kekasarannya semalam. Jimin mengusap rambutnya dengan kasar.

"Aku... Mungkin semua sudah terlambat. Tapi aku harus mengatakannya...Aku mencintaimu Yoongi, mungkin kau bertanya-tanya kenapa. Tapi aku juga tidak bisa menjawabnya. Aku juga baru menyadarinya. Itu terjadi begitu saja,"

Jimin menatap Yoongi yang hanya termangu dengan wajah pucat pasi, "Tapi sekarang itu tak penting lagi bukan? Kesalahanku tidak bisa di maafkan semudah itu. Dosaku terlalu besar."

Dengan ragu Jimin melangkah ke arah pintu, terdiam sejenak.

"Semua hutangmu anggap saja sudah lunas. Aku tidak akan menuntut apapun darimu, aku akan menjauh darimu dan kau tidak perlu takut harus menghadapiku lagi. kau bebas sebebas-bebasnya. Dan kalau kau masih mau bekerja di perusahaanku. Aku akan sangat senang...Tapi aku tidak akan memaksa. Aku sudah terlalu sering memaksakan kehendakku padamu. Sekarang tidak akan lagi," punggung Jimin tampak tegang.

"Selamat tinggal Yoongi." gumamnya pelan sebelum membuka handle pintu.

Yoongi termangu menatap punggung yang begitu tegang itu. Pernyataan cinta Jimin begitu mengejutkannya hingga dia tidak bisa mengatakan apa-apa, memang Jimin telah menyakitinya, tapi ada saat-saat dimana Jimin berhasil membuat hatinya terasa hangat. Dan kalau dipikir-pikir, selama kebersamaan mereka itu. Tidak pernah sekalipun Jimin menyakitinya dengan sengaja, kecuali saat kemarahan menguasainya kemarin.

Sekarang ketika Yoongi menatap punggung Jimin, yang tampak begitu tegang sekaligus rapuh. Sebuah perasaan hangat menyeruak ke dalam hatinya, sebuah perasaan yang bertumbuh pelan tanpa dia sadari.

"Jimin," Yoongi bergumam pelan, tapi cukup untuk membuat Jimin membatu di tempat. Tetapi lelaki itu tidak menoleh, hanya berdiri di sana.

Membeku seperti patung.

"Jimin." kali ini Yoongi mengulang lagi, lebih lembut sehingga Jimin menoleh menatap Yoongi.

Entah karena mata Yoongi yang menatapnya penuh kelembutan, Entah karena Jimin pada akhirnya sudah tidak bisa menahan perasaannya lagi. Yoongi tidak tahu, yang pasti ekspresi Jimin berubah seketika.

Dia membalikkan tubuh. Menatap Yoongi ragu-ragu. Dan ketika dilihatnya Yoongi membuka lengan menyambutnya, Jimin mengerang. Kemudian melangkah tergesa ke arah Yoongi, tersandung-sandung menghampiri Yoongi.

Sejenak mereka berdiri berhadapan. Lalu Jimin jatuh berlutut dan memeluk pinggang Yoongi, membenamkan wajahnya di perut Yoongi. Napasnya tersengal menahan perasaan.

Dengan lembut Yoongi memeluk dan mengelus rambut Jimin.

"Aku mencintaimu," Jimin berbisik dengan suara parau, wajahnya masih terbenam di perut Yoongi, "entah sejak kapan aku mencintaimu. Mungkin sejak pertama kali aku melihatmu, aku..." napas Jimin tersengal, "Aku mungkin manusia paling kejam, paling jahat...tapi aku...Aku tidak..."

"Jimin," sekali lagi Yoongi berbisik lembut. Jimin mendongakkan wajahnya dan menatap Yoongi, wajah Yoongi penuh air mata, dan tiba-tiba mata Jimin terasa panas.

"Jangan menangis," Tiba-tiba Jimin berdiri dan merengkuh Yoongi ke dalam pelukannya, memeluknya erat-erat, "Jangan menangis lagi, aku bersumpah tidak akan pernah membiarkanmu menangis lagi."

Yoongi memeluk Jimin erat-erat. Permintaan maaf Jimin dan kelembutan sikapnya meluluhkan hatinya, menumbuhkan perasaan baru di dalam hatinya mereka telah begitu dekat selama ini, kedekatan yang dipaksakan, tetapi mau tak mau telah membuka pembatas yang selama ini ada di hati Yoongi.

Lama mereka berpelukan, dalam keheningan. Yoongi menumpahkan tangisnya di pelukan Jimin dan lelaki itu memeluk Yoongi erat-erat, membenamkan wajahnya di rambut Yoongi.

Setelah tangis Yoongi mereda, Jimin mengangkat dagu Yoongi agar menghadap ke arahnya, mengusap air mata di pipi Yoongi dengan lembut.

"Pulanglah bersamaku, kembalilah bersamaku Yoongi, bukan karena uang tiga ratus juta itu. Aku ingin kau melupakan masalah hutang itu, aku ingin kau bersamaku karena kemauanmu sendiri. Pulanglah bersamaku Yoongi, kita mulai lagi semuanya dari awal...Dan jika...Dan jika..." Jimin menarik napas, menahan perasaannya.

"Jika kau memang belum mencintaiku, aku akan menunggu. Bahkan aku tidak akan menyentuhmu kalau kau tidak mau, aku tidak akan memaksakan kehendakku, kau bisa tenang. Aku... Aku hanya ingin kau ada di tempat dimana aku bisa melihatmu setiap hari."

Yoongi menatap Jimin, dan melihat ketulusan di sana, melihat cinta di sana yang tidak di tahan-tahan lagi.

Dia baru membuka mulutnya untuk menjawab ketika pintu ruangan itu terbuka. Suster Hana membuka pintu, terlalu panik dan terengah-engah untuk merasa malu ketika menemukan Jimin dan Yoongi sedang berpelukan.

"Yoongi!" Suster Hana berusaha menormalkan nafasnya, dia tadi setengah berlari ke sini, "Cepat! Cepat ikuti aku ke ruang perawatan! Hoseok sadar! Dia terbangun dari komanya!"

TBC

P.S: kan udah kujanjikan bakal update sampe selesai and…I do own my word :)

Terimakasih untuk setiap review yang kalian berikan ,selalu ku bilang bahwa aku membaca tiap kata yg masuk dikotak review walau gak bisa ku jawab satu persatu karna ,juju raja buat update aja aku harus mencuri waktu :(

And for some review ,especially for "ANON"

SAYA TIDAK MELAYANI KOMENTAR PENCUNDANG TANPA AKUN HIHIHI

Show urself and I'll give what you want